Anda di halaman 1dari 10

Adiponektin dan Leptin Serum dalam Hubungannya dengan Risiko Preeklamsia: Hasil dari Penelitian Kasus Kontrol Besar

Maria Dalamagaa,*, Sindhu K. Srinivasb, Michal A. Elovitzb, John Chamberlandc,d, Christos S. Mantzorosc,d

ABSTRAK Kondisi yang mengakibatkan resistensi insulin, begitu juga dengan gangguan metabolisme, imun, dan angiogenik, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko preeklamsia (PE). Tujuan kami adalah untuk menilai apakah hormon adiponektin yang disekresikan oleh jaringan adiposa, yang dapat memodulasi imunitas, metabolisme, dan komponen angiogenik, serta leptin, yang mencerminkan keseluruhan massa lemak, berkaitan dengan risiko PE. Kami melakukan penelitian dengan desain kasus kontrol dalam suatu kohort berbasis rumah sakit dari 368 ibu hamil (106 dengan PE dan 262 kontrol; usia rata-rata, 26,6 6,8 tahun; rata-rata usia kehamilan saat penerimaan, 38,2 2.8weeks) antara Maret 2005 dan Agustus 2007 di Rumah Sakit University of Pennsylvania. Adiponektin dan leptin serum diukur dengan radioimunoassay. Analisis statistik data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi sederhana dan multipel. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada kadar adiponektin atau leptin antara wanita hamil dengan preeklampsia dan kontrol yang muncul dalam analisis univariat (P = .57 dan P = .15, masing-masing). Di antara wanita dengan preeklampsia, juga tidak ada perbedaan kadar adiponektin antara mereka dengan penyakit ringan dan berat. Adiponektin dan leptin serum tidak terkait dengan risiko PE yang lebih tinggi sebelum dan setelah penyesuaian usia maternal, ras, primigravida, status merokok, indeks massa tubuh saat skrining, usia kehamilan saat penerimaan, riwayat PE, hipertensi kronis, dan diabetes gestasional (rasio odds, 0,93; interval kepercayaan 95%, 0.83-1,04 dan odds ratio, 1; 95% confidence interval, 0,97-1,03). Kadar adiponektin dan leptin serum ibu, yang diambil pada saat diagnosis PE, tidak terkait dengan PE.
1.

Pendahuluan

Preeklampsia (PE) ditandai dengan onset tekanan darah tinggi dan proteinuria setelah 20 minggu kehamilan [1]. Hal ini terjadi pada sekitar 5% hingga 10% dari seluruh kehamilan dan menghasilkan morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi yang bermakna [1,2]. Wanita preeklampsia berada pada peningkatan risiko untuk mengalami gangguan koagulasi gangguan, edema paru, pendarahan otak, kebutaan, kejang, gagal hati dan / atau gagal ginjal, dan penyakit

kardiovaskular di kemudian hari [1,2], sedangkan bayi yang lahir dari wanita dengan preeklamsi rentan terhadap prematuritas dan lebih cenderung kecil terhadap usia kehamilan [1,2]. Etiologi penyakit ini tetap tidak jelas. Beberapa faktor genetik, plasenta, metabolisme, dan imunitas yang menimbulkan remodeling abnormal dari pembuluh darah plasenta, iskemia, dan disfungsi sel endotel telah terlibat dalam etiopathogenesis PE yang termasuk resistensi insulin [2-4]. Beberapa kondisi yang berhubungan dengan resistensi insulin seperti hiperinsulinemia, intoleransi glukosa, diabetes gestasional, sindrom ovarium polikistik, obesitas ibu, serta kenaikan berat badan yang berlebihan selama kehamilan dapat mempengaruhi wanita hamil terhadap peningkatan risiko PE [5-8]. Jaringan adiposa kini secara luas diakui sebagai organ endokrin dan parakrin yang berfungsi mensekresi beberapa adipokin bioaktif, yang mengatur proses fisiologis dan patologis, seperti nafsu makan, sensitivitas dan resistensi insulin, inflamasi, imunitas, hematopoiesis, dan angiogenesis [9]. Dua hormon yang disekresi oleh adiposit yang bersirkulasi dalam konsentrasi tertinggi dalam darah yang paling baik dipelajari yaitu leptin dan adiponektin. Leptin memiliki beberapa fungsi fisiologis, terutama dalam keadaan kekurangan energi, dalam modulasi rasa kenyang dan homeostasis energi, tetapi juga dalam biologi reproduksi, mulai dari angiogenesis plasenta hingga regulasi perkembangan dan pertumbuhan janin [5,10-14]. Adiponektin adalah adipokin pleiotropik, yang mensensitisasi insulin, anti-inflamasi, dan antiaterogenik; dan hipoadiponektinemia dikaitkan dengan obesitas, resistensi insulin, diabetes mellitus tipe 2, hipertensi [15], dan malignansi yang disebabkan obesitas [6,16,17] Sampai saat ini, beberapa penelitian, terutama dengan desain cross-sectional tanpa penyesuaian terhadap faktor risiko PE yang diketahui dan dengan jumlah peserta yang terbatas (yaitu, mulai dari 37 hingga 200) pada trimester kehamilan yang berbeda, telah mengevaluasi perubahan adiponektin dan leptin serum pada wanita preeklampsia dan menimbulkan hasil yang bertentangan [18-22]. Karena tidak ada penelitian besar sebelumnya yang bersama-sama mengevaluasi adiponektin dan leptin dalam kaitannya dengan PE yang memperhitungkan faktor risiko PE lainnya yang diketahui, kami berusaha untuk menyelidiki apakah hormon yang disekresi jaringan adiposa ini berkaitan dengan risiko PE. Kami memiliki hipotesis bahwa hipoadiponektinemia mungkin dijumpai pada PE karena kadar adiponektin yang lebih rendah akibat resistensi insulin, gangguan vasodilatasi vasodilatasi dependen endotel, dan berkurangnya aliran darah, dan memprediksi risiko hipertensi [15]. Sebenarnya, bukti sebelumnya dari

penelitian kasus-kontrol yang dilakukan pada kohort besar pada wanita hamil menunjukkan hubungan yang kuat antara hipoadiponektinemia trimester pertama dengan risiko gangguan hipertensi berikutnya termasuk PE [23]. Dalam penelitian kasus-kontrol ini, kami meneliti peran kadar adiponektin dan leptin serum dalam etiopatogenesis PE dengan menggunakan model multivariat dengan penyesuaian usia ibu, ras, primigravida, status merokok, indeks massa tubuh (BMI), usia kehamilan saat penerimaan, riwayat PE, hipertensi kronis (CHTN), dan diabetes gestational.

2. Bahan dan Metode


Kami melakukan penelitian desain kasus kontrol dalam kohort berbasis rumah sakit dari 368 wanita hamil antara Maret 2005 dan Agustus 2007 di Rumah Sakit University of Pennsylvania. Kasusnya adalah wanita hamil dengan PE. Kontrolnya adalah wanita yang datang untuk bersalin saat aterm ( 37 minggu) tanpa PE. Semua wanita yang diterima oleh Labor and Delivery dengan PE yang memenuhi syarat untuk pendaftaran diundang untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Wanita dengan serum yang tersedia, yang diambil pada saat diagnosis saat persalinan, dilibatkan dalam penelitian ini, dimasukkan ke dalam penelitian secara keseluruhan. Kasus diidentifikasi berdasarkan kriteria ibu terhadap PE. Preeklampsia ringan didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah (140/90 mmHg atau lebih besar pada 2 kali pengukuran yang diperoleh dengan waktu terpisah 6 jam atau lebih, atau 160/105 mmHg atau lebih pada saat penerimaan) dengan proteinuria yang +1 pada dipstik urin [1,24]. Preeklamsia berat didefinisikan sebagai tekanan darah 160/105 mm Hg dengan lebih dari +1 pada dipstik urin atau setidaknya 140/90 mmHg pada 2 kali pengukuran dengan waktu terpisah 6 jam dan salah satu dari berikut: trombosit kurang dari 120.000/mL, aspartat aminotransferase lebih besar dari 45 U / L, alanin aminotransferase lebih besar dari 60 U/ L, dan / atau kreatinin lebih besar dari atau sama dengan 1 mg / dL [1,24]. Penyakit parah juga termasuk wanita yang didiagnosis dengan sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver Enzymes, Low Platelets) atau eklampsia; wanita yang memerlukan obat antihipertensi intravena sebelum persalinan, untuk mengatasi nilai tekanan darah yang menetap dalam kisaran yang berat, atau wanita yang menjalani persalinan prematur iatrogenik (<37 minggu) karena tingkat keparahan penyakitnya [1,24].

Kami mengidentifikasi 106 kasus selama masa penelitian yang memenuhi semua kriteria inklusi dan eksklusi. Dua ratus enam puluh dua ibu hamil (kontrol) secara prospektif terdaftar selama periode yang sama dari wanita yang datang untuk persalinan aterm ( 37 minggu) yang dijadwalkan untuk induksi persalinan, penjadwalan persalinan sesar, pecah ketuban spontan, atau persalinan aterm. Penting untuk dicatat bahwa semua pasien yang terdaftar pada saat diagnosis PE bertepatan dengan waktu persalinan untuk mayoritas dari mereka. Jika diagnosis PE ditegakkan saat preterm, maka ibu hamil diikuti hingga bersalin. Tidak ada kriteria eksklusi baik untuk kasus maupun kontrol dalam keseluruhan penelitian. Pasien dengan kehamilan ganda atau hipertensi gestasional (tekanan darah 140/90 mmHg pada 2 kali pengukuran dengan waktu terpisah 6 jam tanpa proteinuria) atau tidak ada serum yang tersedia yang dieksklusikan dari penelitian kasus-kontrol ini. Semua peserta penelitian sepenuhnya memberi informasi dan persetujuan tertulis terhadap partisipasi mereka. Persetujuan University of Pennsylvania Institutional Review Board diperoleh sebelum pendaftaran. Perawat penelitian terlatih mengumpulkan informasi mengenai tinggi, ras, etnis, riwayat CHTN, dan riwayat keluarga dari wawancara pasien pada saat pendaftaran. Riwayat lainnya termasuk informasi obstetri, demografi, persalinan prenatal, dan neonatal dikumpulkan dari abstrak grafik prenatal dan rumah sakit oleh abstraktor perawat penelitianyang terlatih. Individu secara terpisah melakukan entri data. Peneliti utama (SKS) meninjau semua lembar data untuk kelengkapan, konsistensi, dan akurasi. Kecil untuk usia kehamilan didefinisikan dengan menggunakan berat lahir sebenarnya dan kurva pertumbuhan Alexander yang menentukan persentil pertumbuhan janin terhadap usia kehamilan [25]. Darah lengkap (whole blood) ibu dikumpulkan dari setiap subyek dalam waktu 24 jam dari pendaftaran. Setelah sentrifugasi, sampel serum aliquoted dan ditempatkan pada suhu -80 C. Untuk setiap subyek, tes yang tersedia secara komersial digunakan untuk mengukur kadar adiponektin dan leptin oleh personel yang tidak mengetahui (blinded) status kasus-kontrol. Adiponektin serum ditentukan dengan radioimmunoassay (LINCO Research, St Charles, MO) dengan sensitivitas 1 ng / mL, koefisien variasi intraassay dari 1,8% hingga 6,2%, koefisien variasi interassay 6,9% hingga 9,3%, dan tingkat pemulihan 99% hingga 103% untuk adiponektin. Kadar leptin serum diukur dengan menggunakan radioimmunoassay (LINCO Research). Untuk leptin, sensitivitas assay adalah 0,5 ng / mL, dengan koefisien variasi intraassay dari 3,4% hingga 8,3% dan koefisien variasi interassay 7,0% hingga 9,3%.

2.1. Analisis

statistik

Analisis statistik data dilakukan dengan menggunakan SPSS (Chicago, IL) versi 17 untuk Windows statistical software package. Data awal dinilai melalui tabulasi silang sederhana dan dengan menggunakan uji 2 dan Fisher exact test untuk variabel kategori, uji t untuk variabel yang terdistribusi normal, dan Mann-Whitney U test untuk variabel yang tidak terdistribusi normal. Normalitas hipotesis diuji dengan uji Kolmogorov- Smirnov, ukuran asimetri, dan uji Shapiro-Wilk. Untuk membandingkan rata-rata kasus di antara subkelompok yang berbeda, dilakukan uji analisis varians 1-arah untuk variabel terdistribusi secara normal atau Uji Kruskal Wallis untuk variabel yang tidak berdistribusi normal. Perbandingan Post hoc berpasangan dilakukan dengan menggunakan metode Bonferroni. Analisis kovarians digunakan untuk menentukan apakah kasus dan kontrol berbeda dalam kadar leptin atau adiponektin serum setelah memperhitungkan usia kehamilan dan / atau kenaikan berat badan selama kehamilan. Koefesien Pearson atau Spearman (r) digunakan untuk pengukuran korelasi untuk variabel kontinu yang terdistribusi normal atau biasanya tidak terdistribusi normal. Analisis regresi logistik multivariabel dilakukan untuk mengevaluasi prediktor independen PE (terutama adiponektin atau leptin), dengan hasil yang dilaporkan sebagai odds ratio (OR) dengan interval kepercayaan 95% (CI). Untuk semua uji yang dilakukan, nilai P 2 sisi <.05 dianggap sebagai signifikan.
3.

Hasil

Karakteristik klinis dan demografis dari 106 pasien PE dan 262 pasien kontrol digambarkan pada Tabel 1. Usia ibu dan proporsi ras Afrika Amerika adalah serupa antara kasus dan kontrol. Terdapat lebih sedikit wanita primigravida dengan PE dibandingkan kontrol (P = 0,009). Kasus memiliki tekanan darah sistolik (SBP) lebih tinggi secara signifikan pada kunjungan pertama (kunjungan prenatal care-skrining) dibandingkan kontrol (P=.03), namun tidak ada perbedaan yang signifikan pada tekanan darah diastolik (DBP) dan mean blood pressure (MBP). Indeks massa tubuh, tinggi badan, berat badan, serta pertambahan berat badan selama kehamilan tidak berbeda antara kasus dan kontrol (>.05). Wanita pada kelompok PE memiliki usia kehamilan rata-rata lebih rendah pada persalinan dan oleh karena itu melahirkan bayi lebih kecil terhadap usia kehamilan dan berat lahir yang lebih rendah jika dibandingkan dengan wanita hamil kontrol (P <.001, P = 0,027, dan P <.001). Preeklamsi wanita lebih mungkin untuk memiliki riwayat PE

(P = .001), diabetes gestational (P = .02), dan penyakit ginjal (P = .03) dibandingkan dengan kontrol. Konsentrasi leptin dan adiponektin serum dalam kelompok PE dan pada kelompok kontrol tidak berbeda secara signifikan (9,3 4,4 vs 9,6 5,2 mg / mL untuk adiponektin, P = . 57; 21 15,9 vs 23,8 18,1 ng / mL untuk leptin, P = .15). Leptin dan adiponektinserumserupa pada kedua kelompok setelah disesuaikan untuk usia kehamilan (Untuk leptin: estimated marginal mean [EMM] standard error [SE], 21,4 1,9 untuk kasus vs 23.6 2.16 ng / mL untuk kontrol, F = 0,92, P = .34; untuk adiponektin: EMM SE, 9.11 0.55 untuk kasus vs 9,6 0.32 mg / mL untuk kontrol, F = 0,65, P = .42). Leptin dan adiponektin serum tidak berbeda secara signifikan antara kasus dan kontrol setelah disesuaikan usia kehamilan dan berat badan selama kehamilan (untuk leptin: EMM SE, 21.25 2.04 untuk kasus vs 23,9 1,21 ng / mL untuk kontrol, F = 1,16, P = 0,28; untuk adiponektin: EMM SE, 9.06 0.55 untuk kasus vs 9,53 0,31 mg / mL untuk kontrol, F = 0,51, P = .48). Ketika mengkategorikan wanita preeklampsia menjadi wanita dengan preeklampsi ringan (n = 23) dan berat (n = 83), ada perbedaan yang signifikan dalam adiponektin atau leptin serum (9,7 4,7 mg / mL pada PE ringan vs 9,2 4,3 mg / mL pada PE berat untuk adiponektin, P = .51; 20,3 16 ng / mL padaPE ringan vs 21.2 15,9 ng / mL pada PE berat untuk leptin, P = .72). Di antara kasus, tidak ada korelasi yang signifikan yang diamati antara adiponektin dan leptin atau parameter lainnya seperti BMI; berat badan; tinggi; dan SBP, DBP, dan MBP skrining. Hanya kadar adiponektin serum yang berkorelasi negatif dengan berat badan lahir bayi (r = -0.2, P = .04). Di antara kontrol, leptin serum berkorelasi positif dengan DBP skrining (r = 0,21, P = .001) dan MBP skrining (R = 0,183, P = 0,004). Selain itu, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kadar adiponektin dan leptin yang muncul ketika kami mengkategorikan wanita preeklampsia menjadi kelebihan berat badan / obesitas (BMI 25) dan berat badan normal (BMI <25). Ketika mengkategorikan semua wanita hamil menjadi kelebihan berat badan / obesitas (BMI 25) dan berat badan normal (BMI <25), hanya leptin secara signifikan lebih tinggi pada wanita dengan kelebihan berat badan / wanita gemuk dibandingkan pada wanita hamil berat badan normal (24,7 18,02 ng / mL pada wanita hamil dengan kelebihan berat badan vs 19,8 17.07 ng / mL pada wanita hamil dengan berat badan normal, P = 0,016). Tabel 2 merangkum OR untuk risiko PE oleh konsentrasi adiponektin dan leptin, dengan dan tanpa penyesuaian kovariat. Wanita hamil dengan peningkatan konsentrasi leptin tidak

memiliki peluang lebih tinggi untuk mengalami PE sebelum (OR, 0,99, 95% CI, 0,98-1, P = .18) dan setelah penyesuaian usia ibu, ras, primigravida, status merokok, BMI saat skrining, usia kehamilan saat penerimaan, riwayat PE, CHTN, diabetes gestational, dan adiponektin serum (OR, 1, 95% CI, 0,97-1,03, P = .96). Sebaliknya, subyek dengan konsentrasi adiponektin yang lebih tinggi cenderung untuk memiliki peluang lebih rendah untuk risiko PE (meskipun tidak signifikan pada 0,05) setelah penyesuaian untuk kovariat tersebut termasuk leptin serum (OR, 0,93; 95% CI, 0,83-1,04, P = .21). Hanya riwayat PE dan usia kehamilan saat penerimaan yang menjadi prediktor signifikan risiko PE (OR, 3,6, 95% CI, 1,12-11,3, P = .03 dan OR, 0,53, 95%, CI 0,36-0,78; P <.001).

4. Diskusi
Kami berusaha untuk menentukan apakah adiponektin serum berhubungan dengan peningkatan risiko PE setelah disesuaikan kadar leptin yang mencerminkan massa lemak tubuh, usia ibu, ras, primigravida, status merokok, BMI saat skrining, usia kehamilan usia saat penerimaan, riwayat PE, CHTN, dan diabetes gestasional. Hasil penelitian saat ini menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara adiponektin serum dan PE. Pengamatan penting lainnya adalah bahwa leptin tidak berhubungan dengan PE dan bahwa baik adiponektin maupun leptin berbeda secara signifikan antara kasus-kasus ringan dan berat. Kami juga telah menemukan bahwa riwayat PE dan usia kehamilan menjadi prediktor signifikan untuk risiko PE dengan persetujuan terhadap bukti sebelumnya yang menunjukkan asosiasi dengan PE [1,2,7]. Peningkatan risiko PE telah diperhatikan berkaitan dengan beberapa kondisi yang berhubungan dengan resistensi insulin, termasuk diabetes gestasional, sindrom ovarium polikistik, obesitas ibu, dan berat badan yang berlebihan selama kehamilan [8]. Patofisiologi yang menghubungkan obesitas ibu dengan PE dan hipertensi yang diinduksi kehamilan merupakan subyek intensif penelitian dengan resistensi insulin yang memainkan peran penting [26]. Meskipun resistensi insulin meningkat dalam aktivitas normal kehamilan untuk memfasilitasi pengalihan glukosa ke janin dan mendukung pertumbuhan pesat janin dan plasenta [8], peningkatan resistensi insulin di luar titik tertentu dapat bersifat merusak, memberikan kontribusi bagi terjadinya diabetes gestasional, hipertensi akibat kehamilan, dan PE [26]. Laporan terbaru menunjukkan bahwa sinyal insulin dan angiogenesis berhubungan erat [27] dan penyimpangan dalam angiogenesis dan resistensi insulin dapat menyebabkan perubahan dalam

fungsi kritis seluler, cedera sel endotel, dan akibatnya peningkatan risiko untuk mengalami PE [21]. Resistensi insulin pada kehamilan dan komplikasi kehamilan terutama dikaitkan dengan hormon plasenta dan peningkatan adipositas ibu, tetapi mekanisme yang mendasari tetap sepenuhnya harus dijelaskan [26]. Adiponektin, protein jaringan adiposa yang paling melimpah, adalah adipokin pleiotropik, mensensitisasi insulin, anti-inflamasi, dan antiaterogenik [17]. Nilai adiponektin serum lebih rendah pada keadaan resistensi insulin, termasuk diabetes mellitus tipe 2, obesitas, malignansi akibat obesitas, dan penyakit arteri koroner [16,17]. Adiponektin memainkan peran penting dalam angiogenesis dan menunjukkan sifat anti-inflamasi yang kuat: menghambat jaringan sitokin inflamasi terlepas-mengatur tumor necrosis factor-- menginduksi ekspresi molekul adhesi endotel, ekspresi tumor necrosis factor- dalam makrofag dan jaringan adiposa, transformasi makrofag menjadi foam cell , dan proliferasi otot polos [28]. Selain itu, ia menggunakan apoptosis sel endotel yang dimediasi oleh kaspase, menggarisbawahi kemungkinan peran adiponektin dalam PE yang umumnya terkait dengan kerusakan sel endotel [6]. Dalam penelitian ini, kami memiliki hipotesis bahwa adiponektin yang rendah mungkin dijumpai pada PE karena hipoadiponektinemia dikaitkan dengan gangguan vasodilatasi dependen endotelium dan penurunan aliran darah, dan merupakan faktor risiko independen untuk hipertensi [15]. Dalam penelitian kami, meskipun wanita preeklamsi menunjukkan kadar adiponektin yang sedikit lebih rendah dari kelompok kontrol, kita tidak mengamati perbedaan adiponektin serum secara statistik antara kasus dan kontrol baik dalam analisis univariat maupun setelah penyesuaian untuk kemungkinan pembaur. Temuan ini sesuai dengan 2 penelitian lebih kecil sebelumnya yang menunjukkan tidak ada perubahan dalam nilai-nilai adiponektin [29,30]. Namun data kontroversial dijumpai dalam literatur mengenai adiponektin sebagai penanda prediktif PE. Penurunan [18,22,23], tidak ada perubahan [29,30], dan bahkan peningkatan kadar adiponektin ibu telah dilaporkan [18,19,31]. Selain itu, dalam penelitian kecil pada wanita yang berbeda pada trimester kehamilan yang berbeda, Herse dkk [32] menemukan bahwa adiponektin serum meningkat selama kehamilan normal tetapi lebih rendah pada wanita dengan PE. Hasil penelitian kami mungkin disebabkan oleh (a) desain kasus kontrol dalam penelitian kohort berbasis rumah sakit (sebagian besar penelitian sebelumnya crosssectional); (b) ukuran yang lebih besar dari penelitian kami (N = 368), sedangkan penelitian lain memiliki sejumlah peserta

mulai dari 37 hingga 200, dan (c) kemungkinan, persentase yang lebih besar dari wanita hamil Afrika Amerika dalam penelitian kami dibandingkan dengan laporan sebelumnya. Namun, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kadar adiponektin mungkin tidak menjadi kontributor penting patogenesis PE. Apakah sintesis dan sekresi adiponektin plasenta berkontribusi atau tidak terhadap kadar adiponektin serum ibu masih harus dijelaskan mengingat bahwa ekspresi plasenta dari messenger RNA adiponektin ditemukan lebih lemah daripada di jaringan adiposa [18]. Apakah jumlah relatif isoform adiponektin berubah dalam gangguan hipertensi terkait kehamilan tidak diketahui dan masih harus dijelaskan, tapi kami telah menunjukkan tidak ada perbedaan besar dalam hal resistensi insulin [33]. Kami tidak menemukan perbedaan dalam kadar leptin serum antara wanita preeklampsia dan kontrol baik dalam analisis univariat dan setelah mengendalikan pembaur potensial. Hal ini sesuai dengan penelitian lain yang tidak mendeteksi adanya perbedaan yang signifikan [18,34]. Kami juga menemukan kadar leptin yang serupa pada ibu hamil dengan PE ringan atau berat yang sesuai dengan penelitian sebelumnya [34]. Plasenta preeklampsi ditandai dengan beberapa perubahan vaskular dan berhubungan dengan stres hipoksia [2]. Telah dipertimbangkan bahwa leptin mengalami upregulasi dalam PE, yang mencerminkan respon kompensasi yang diinduksi untuk meningkatkan pengiriman nutrisi ke plasenta yang mengalami kekurangan perfusi dan hipoksia [2]. Namun, tampaknya bahwa tidak ada konsensus mengenai kadar leptin pada PE: beberapa peneliti menemukan tidak ada perubahan [18,34], sedangkan yang lain mendeteksi peningkatan [18,32,35,36] dan bahkan pengurangan [37]. Namun demikian, dalam beberapa penelitian cross-sectional, hasil tidak disesuaikan terhadap BMI ibu dan faktor penting risiko PE yang diktehui lainnya, atau kadar leptin yang diukur selama awal kehamilan. Secara khusus, bahkan jika peserta dari beberapa penelitian sebelumnya cocok untuk usia dan BMI, hasil adipokin tidak disesuaikan dalam model multivariat terhadap pembaur penting seperti usia kehamilan, ras, paritas, riwayat PE, CHTN, diabetes gestasional, dll. Temuan kami harus ditafsirkan dalam konteks desain penelitian. Bila menggunakan desain kasus-kontrol, ada potensi bias seleksi, khususnya dalam pemilihan kontrol. Hal ini menimbulkan kesulitan untuk mencocokkan semua kovariat, dan mungkin perbedaan antara kelompok yang tidak terkontrol dapat menutupi suatu hubungan adipokin dengan PE. Kontrol kami datang dari dasar penelitian yang sama seperti kasus kami. Hal ini, serta pilihan acak dari kontrol, mengurangi bias seleksi. Selanjutnya, kekuatan metodologis lainnya dari penelitian ini

termasuk (1) ukuran sampel yang lebih besar (N = 368) dibandingkan dengan penelitian lain terhadap adipokin dan PE, (2) kriteria yang ketat untuk memasukkan subyek kasus dan kontrol, dan (3) penyesuaian terhadap banyak faktor risiko potensial yang diketahui untuk PE, yang selanjutnya memperkuat asosiasi nol yang diamati. Penilaian adiponektin dan leptin tersebut dibuat dengan menggunakan teknologi state-of-the-art dan secara blinded yang juga menghilangkan pembaur yang tidak terkendali dari sumber ini. Singkatnya, hasil penelitian kasus-kontrol kami tidak mendukung hubungan antara 2 adipokin terkenal, adiponektin dan leptin, dan risiko untuk mengalami PE. Penelitian lebih lanjut, termasuk penelitian mekanistik, prospektif, dan longitudinal, diperlukan untuk menentukan dengan tepat jika dan kapan adiponektin dan konsentrasi leptin berubah dalam PE dan apakah adiponektin per se dan / atau isoformnya dan / atau leptin dapat memainkan peran kausal dalam patogenesis PE.