Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN I.

LATAR BELAKANG Indonesia adalah suatu negara kepulauan yang memiliki hutan tropika terbesar kedua di dunia, kaya dengan keanekaragaman hayati dan dikenal sebagai salah satu dari 7 (tujuh) negara megabiodiversity kedua setelah Brazilia. Distribusi tumbuhan tingkat tinggi yang terdapat di hutan tropis Indonesia lebih dari 12 % (30.000) dari yang terdapat di muka bumi (250.000). Lepas dari itu, tumbuhan lain seperti epifit, tumbuhan menjalar, perdu, semak dan herba juga melimpah di hutan Indonesia. Tak terkecuali hutan tropis buatan yang terletak di desa Kalitirto Berbah Sleman. Disana terdapat bermacam-macam jenis tumbuhan, mulai tumbuhan tingkat tinggi, sampai ke herba. Hutan selain digunakan sebagai paru-paru kota, penghasil berbagai macam kayu, sarana rekreasi, sarana pertahanan dan perlindungan peperangan, juga digunakan sebagai sumber pembelajaran bagi para ilmuwan Untuk itu, studi tentang vegetasi di salah satu hutan tropis di Indonesia yaitu hutan buatan di desa Kalitirto Berbah Sleman perlu dilakukan, mengingat pentingnya fungsi hutan bagi manusia, maupun bagi mahluk hidup lain..

II.

PERMASALAHAN ILMIAH A. Metode apa yang bisa digunakan untuk analisis vegetasi yang dilakukan di hutan buatan desa Kalitirto Berbah? B. Bagaimana keanekaragaman jenis tumbuhan yang ditemukan disana? C. Bagaimana struktur vegetasi yang ada di hutan buatan desa Kalitirto Berbah Sleman?

III.

TUJUAN A. Tujuan Umum Praktikan dapat menganalisis ekosistem hutan vegetasi pada ekosistem tumbuhan bawah B. Tujuan Khusus

1. Praktikan dapat menerapkan metode pengambilan data pada studi ekologi, khususnya pada studi vegetasi dengan teknik plotting (Quadrat Sampling Technique) atau releve 2. Praktikan dapat mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan 3. Praktikan dapat menganalisis struktur vegetasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. KONSEP EKOSISTEM Konsep ekosistem di perkenalkan oleh Sir Artur Tesley seorang ahli ekologi di Britain pada tahun 1935. Istilah "ekosistem" berasal dari bahasa Yunani oikos yang artinya rumah atau tempat tinggal. Ekosistem merujuk kepada satu sistem dimana dua komponen, yaitu mahluk hidup dan bukan hidup saling bertindak balas, komponen hidup terdiri dari manusia, hewan, dan tumbuhan termasuk mikroorganisme. Komponen bukan hidup terdiri dari unsur-unsur udara, cahaya, air, dan tanah. Semua komponen itu mempunyai fungsi tertentu. Setiap unsur saling bergantungan satu sama lain untuk mewujudkan keadaan seimbang. Bagi komponen hidup dalam ekosistem, individu suatu spesies yang berkumpul dikenali sebagai populasi. Populasi-populasi spesies berlainan mewujudkan komunitas. Kelompok-kelompok komunitas seperti hutan, padang rumput, burung, ikan, dan komponen kehidupan lain, serta komponen bukan hidup merupakan alam fisik yang disebut sebagai habitat . (Anonim, 2009) II. ANALISIS VEGETASI Dalam kegiatan penelitian ekologi tumbuhan, terkadang sering terjadi kekacauan istilah dalam penyebutan tumbuhan, flora dan vegetasi. Tumbuhan adalah mahluk hidup yang mempunyai kemampuan menangkap, mengikat, dan mengubah energi sinar matahari menjadi energi bentuk lain yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan sendiri dn mahluk hidup lain. Flora adalah kumpulan jenis tumbuhan yang terdapat dalam suatu wilayah, sedang vegetasi adalah masyarakat tumbuhan yang terbentuk oleh berbagai populasi jenis tumbuhan yang terdapat di dalam satu wilayah atau ekosistem serta memiliki variasi pada setiap kondisi tertentu (Fachrul, 2008). Untuk penelitian, data yang paling diperlukan adalah mengenai vegetasi dengan informasi variabelnya, misalnya pengelompokkan vegetasi pada ekosistem hutan.

Untuk mengetahui segi-segi menyeluruh dari vegetasi tersebut, digunakan istilah hutan jati, padang rumput, sabana, dll. Namun dengan hanya istilah tersebut belum bisa menjelaskan variabel-variabel data vegetasi secara jelas dan detail. Maka itu diperlukan adanya analisis vegetasi (Fachrul, 2008). Dalam melakukan analisis vegetasi ini dibutuhkan suatu teknik pengambilan sampel penelitian. Tujuan sampling vegetasi pada ekosistem alami maupun pada ekosistem yang sudah terganggu, pada umumnya adalah untuk melakukan identifikasi jenis potensial atau untuk mengetahui besarnya tingkat kerusakan vegetasi dan perubahan komunitas yang terjadi. Perhitungan dan analisis data yang diambil secara langsung di lapangan meliputi komposisi, struktur dan jenis vegetasi, nilai INP (indeks nilai penting), H (indeks keanekaragaman jenis), dan IS (indeks kesamaan komunitas) (Fachrul, 2008). Beberapa metode analisis vegetasi yang bisa digunakan adalah metode quadrat sampling, metode transek, metode loop, serta metode titik. Pemilihan metode ini digunakan berdasarkan pada pengukuran area yang akan diamati mencakup tumbuhan yang ada di dalamnya. Teknik sampling kuadrat sendiri merupakan suatu teknik survey vegetasi yang sering digunakan dalam semua tipe komunitas tumbuhan. Caranya adalah dengan membuat petak-petak contoh berbentuk persegi, persegi panjang atau lingkaran. Petak-petak contoh yang dibuat dapat diletakkan secara random atau beraturan sesuai dengan prinsip-prinsip teknik sampling. Bentuk petak contoh yang dibuat tergantung pada bentuk morfologis vegetasi dan efisiensi sampling pola penyebarannya. Sehubungan dengan efisiensi sampling banyak studi yang dilakukan menunjukkan bahwa petak bentuk segi empat memberikan data komposisi vegetasi yang lebih akurat. (Widhiastuti, 2006). Menurut Soerionegara dan Indrawan (1980), analisis vegetasi dalam ekologi tumbuhan adalah cara untuk mempelajari struktur vegetasi dan komposisi jenis tumbuhan. Komposisi ekosistem tumbuhan dapat diartikan variasi jenis flora yang menyusun suatu komunitas. Komposisi jenis tumbuhan merupakan daftar floristik dari jenis tumbuhan yang ada dalam suatu komunitas (Misra, 1980). Sedang, struktur tumbuhan merupakan hasil penataan ruang oleh komponen penyusun tegakan dan bentukan hidup, stratifikasi dan penutupan vegetasi. Selanjutnya menurut Keershaw (1973), struktur vegetasi dibatasi oleh 3 komponen, yaitu susunan jenis tumbuhan secara vertikal (stratifikasi), susunan jenis tumbuhan secara horizontal (sebaran individu) dan kemelimpahan jenis.

Ewusie (1992) dalam Mayor (1997), menyatakan bahwa vegetasi suatu komunitas dapat diukur secara kualitatif maupun kuantitatif. Ciri kualitatif yang terpenting pada komunitas antara lain adalah susunan flora dan fauna serta pelapisan berbagai unsur dalam komunitas. Ciri kuantitatifnya meliputi beberapa parameter yang dapat diukur seperti kekerapan (frekuensi), kepadatan dan penutupan. Menurut Kusmana (1997), parameter kuantitatif vegetasi dari suatu tipe komunitas tumbuhan adalah: Kerapatan adalah jumlah individu suatu jenis tumbuhan dalam suatu luasan tertentu. Kedua, frekuensi suatu jenis tumbuhan adalah jumlah petak contoh dimana ditemukan jenis tersebut dari sejumlah petak contoh yang dibuat. Biasanya frekuensi dinyatakan dalam besaran persen. Ketiga adalah penutupan yaitu proporsi permukaan tanah yang ditutupi oleh proyeksi tajuk tumbuhan. Pemahaman tentang struktur vegetasi penting dalam kegiatan penelitian ekologi hutan. Kesalahan identifikasi struktur akan menyebabkan kesalahan dalam memahami kondisi hutan yang sebenarnya. Struktur hutan yang dimaksudkan adalah komponen penyusun hutan itu sendiri. Penjelasan tentang masing-masing struktur vegetasi adalah sebagai berikut: 1. Pohon : Tumbuhan dengan diameter lebih dari 20 cm. Pengukuran yang akan dilakukan untuk pohon adalah diameter batang. tinggi pohon serta jumlah individu dan jenis pohon. Pengukuran diameter batang dilakukan pada ketinggian 1,3 meter atau 20 cm di atas akar papan jika akar papan lebih tinggi dari 1,3 meter. Pengukuran tinggi pohon adalah tinggi bebas cabang. Rekaman hasil pengukuran dicatat dalam tally sheet yang telah disiapkan. Ukuran petak (kuadran) untuk pengukuran pohon adalah 20 x 20 meter. 2. Tiang : Tumbuhan dengan diameter antara 10-20 cm. Pengukuran dilakukan pada petak sub-kuadran berukuran 10 x 10 in. Sama dengan pohon. maka parameter pengukuran adalah diameter tiang, tinggi tiang bebas cabang. jumlah tiang dan jumlah jenis. Pengukuran diameter batang juga dilakukan pada ketinggian 1,3 meter. Rekaman hasil pengukuran dicatat pada sheet yang telah disiapkan 3. Pancang : Pancang adalah regenerasi pohon dengan ukuran lebih tinggi dari 1,5 meter serta diameter batang kurang dari 10 cm. Ukuran petak pengamatan yang digunakan untuk pengukuran pancang ini adalah 5x5 meter. Tidak seperti tiang dan pohon, diameter pancang tidak diukur. Pengukuran hanya dilakukan pada jumlah mdividu dan jumlah spesies. Karena pada tahap pertumbuhan pancang, yang penting untuk diketahui adalah kerapatan dan frekuensi 4. Semai / anakan : Anakan pohon adalah regenerasi awal dari pohon dengan ukuran ketinggian kurang dari 1,5 meter. Ukuran petak yang digunakan untuk pengukuran anakan adalah 2x2 meter. Sebagaimana pancang, tahap pertumbuhan anakan hanya dihitung individu serta jenis anakan saja. Tidak perlu dilakukan pengukuran diameter batang. 5. Liana : Liana adalah tumbuhan yang biasanya tumbuh melilit atau memanjat pohon (woody climbers). Pengenalan jenis liana ini agak rumit sehingga jika tidak dimungkinkan

spesimen yang terdiri dari batang. daun dan bunga/biji (jika ada) perlu untuk diambil dan dilakukan penomoran spesimen (misal: Liana sp1. Liana sp2.). Petak contoh untuk pengamatan liana berukuran 5x5 meter. 6. Epifit : Epifit adalah tumbuhan yang menempel di pohon lain atau yang menjadikan pohon lain sebagai inangnya. Pengukuran terhadap epifit dilakukan terhadap jumlah individu dan spesies, jika bisa diidentifikasi oleh pengenal pohon karena biasanya jenis epifit sulit untuk dikenali, kecuali oleh ahli epifit. Pengukuran terhadap epifit dilakukan pada petak 5x5 meter. 7. Tumbuhan Bawah : Tumbuhan bawah adalah semua tumbuhan yang hidup di lantai hutan kecuali regenerasi pohon (anakan dan pancang). Beberapa tumbuhan bawah diantaranya adalah: (1) keluarga palma. jika tingkatan pohon dewasanya lebih tinggi dari 1,5 meter; (2) pandan. tidak ada kategori untuk jenis tumbuhan bawah ini: (3) paku-pakuan: dan (4) semak atau herba lainnya. Sebagaimana liana dan epifit jika tidak dimungkinkan pengenalan jenis, penomoran spesimen/contoh (Palma sp1.. Paku-pakuan sp1., Herba sp1., dst). Ukuran petak contoh pengamatan tumbuhan bawah berukuran 5x5 meter.

III.

HIPOTESIS A. Studi vegetasi dengan metode plotting dapat digunakan sebagai metode pengambilan data vegetasi di lokasi praktikum, yaitu ekosistem tumbuhan bawah di desa Kalitirto Berbah Sleman. B. Keanekaragaman jenis tumbuhan di hutan buatan desa Kalitirto Berbah Sleman cukup bervariasi. C. Struktur vegetasi di hutan buatan desa Kalitirto banyak didominasi oleh vegetasi bawah, seperti semak dan herba

BAB III METODE PENELITIAN I. LOKASI DAN WAKTU Lokasi praktikum dilaksanakan di hutan buatan desa Sumberkidul, Kalitirto, Berbah, Sleman. Wilayah ini berada pada ketinggian rata-rata m dpl. Lokasi ibu kota kecamatan Berbah terletak di 7.80254 LS dan 110.44290 BT, berada pada ketinggian 194 meter di atas permukaan laut. Topografi kawasan rata dengan berbagai macam tumbuhan yang ada disana.

Praktikum Lapangan analisis vegetasi dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 20 April 2013, pukul 08.30-12.00 WIB.

II.

ALAT DAN BAHAN A. Patok B. Tali rafia C. Meteran D. Kantong plastik E. Kertas label F. Koran + kardus G. Alat tulis + gunting H. Kamera Digital I. J. Soiltester Thermometer tanah

K. Luxmeter L. GPS (Global Positioning System

III.

CARA KERJA A. Menentukan lokasi dan batas-batas wilayah studi B. Menentukan luas minimal plot 1. Secara acak tentukan kuadran 1 dengan panjang sisi 1 x 1 m atau 1 m2 2. Identifikasi spesies dan hitung jumlah individunya 3. Perluas kuadran 1 menjadi 2 kali lipat luasnya, yang disebut kuadran 2 (1 x 2) m atau 2 m2 4. Catat dan hitung jumlah individu dari spesies yang belum ditemukan di kuadran 1 5. Perluas kuadran 2 menjadi dua kali lipatnya, menjadi 2 x 2 m atau 4 m 2, yang kemudian disebut kuadran 3. 6. Pada kuadran ini, kelompok kami tidak menemukan spesies yang berbeda dari kedua kuadran terdahulu

7. Perluas kuadran menjadi 2 kali lipat luasannya, menjadi 2 x 4 m atau 8 m 2, sehingga disebut kuadran 4, untuk membuktikan kekonstanan data 8. Membuat grafik berdasar data yang diperoleh dengan ketentuan sumbu x adalah luas kuadran, dan sumbu y adalah jumlah kumulatif spesies 9. Tentukan titik pada sumbu x seharga 10% dari luas kuadran terbesar, dan titik pada sumbu y seharga 10% dari jumlah kumulatif sspesies 10. Buat garis ordinasi melalui titik temu 10% masing-masing sumbu 11. Buat garis sejajar dengan garis ordinasi 10% yang menyinggung grafik harga jumlah kumulatif spesies 12. Proyeksikan titik singgung antara garis ordinasi dan grafik pada sumbu y, maka ditemukan luas minimum plot yang dimaksud C. Pengamatan spesies dan menghitung individu pada plot minimum D. Melakukan perhitungan data untuk dapat menentukan nilai penting setiap spesies yang terdiri dari densitas (densitas dan absolut), dominansi (densitas dan absolut), dan frekuensi (densitas dan absolut). E. Pengukuran faktor abiotik/ parameter lingkungan

IV.

PERHITUNGAN DATA Rumus-rumus yang digunakan untuk menghitung data adalah :

V.

ANALISIS DATA Pengambilan data di kebun desa Kalitirto Berbah dilakukan dengan menggunakan metode Quadrat Sampling Techniques. Analisis data yang dilakukan hanya untuk indeks nilai penting :

Hasil yang diperoleh dibuat dalam bentuk tabel yang sesuai dengan tanaman yang telah diidentifikasi, cara mengidentifikasi dengan menggunakan buku identifikasi, atlas tumbuhan, dan situs plantamor.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN I. HASIL PENELITIAN A. Tabel1. Tabel sebaran tumbuhan di hutan buatan desa Kalitirto Berbah Sleman
luas minimum plot (m) 1.5 8 8 2 5 2 3 4 3 6 9 2 11 9 21 15

Spesies A B E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Sp A Polygorum caespilosum Sp E Elephantopus scaber Biophytum sensitivum Sp H Panicum malabaricum Andropogon conthortus Borreria alata Aksonopus compressus Sp M Ageratum conyzoides Galinsoga parviflora Lepidagathus parviflora Salvia sp Triumveta indica Sp S Malvastrum coromandelianum Takapal mata Amorphophallus albus Podocarpus Sp. Isachne miliacea Tectona grandis Vitex sp Desmodium sp Mimosa pudica

1 9 9 1

4 1 4 4

41

2 7

2 180

70

120

200 29 1 9 44

30

60 12

1 5 5 3 4 10 4 26 70 2 37 5 24 3 1 1 1 1 10 1 1 2 56 4

72 13 9 10

2 5

27 16

56 6

4 2 4

Eupatorium sp Streblus asper Cocos nucifera Cyanotis axillaris Mangifera indica Nephelium lappaceum Lantuna sp Costus sp.

2 1 1 3

1 1 16 342

B. Tabel2. Tabel parameter lingkungan


Komponen yang diukur Suhu udara (0C) Kelembaban udara (%) Intensitas cahaya (Lux) PH Suhu tanah (OC) Kelembab tanah (%) Plot I 28 44 175 X 10 6.2 28 40 66 II III 29 66 523 X 10 6.8 29 60 IV 28 60 421 X 10 6,7 29 60 V 33 71 731 ,2 6,6 30 60 VI 30 55 388 X 10 6.2 30 50 VII 29 66 1.6 X 10 6 29 60 74 VIII IX 29 66 1.6 X 10 6 29 60 X 29 66 1,6 X 10 6 29 60 (rata") 29.4 63.4

Udara

194 6.9 28 65

481 7 31 61

337.5 6.4 29.2 57.6

Tanah

C. Tabel3. Tabel densitas relatif, dan densitas absolut


Densitas Absolut 0.008 0.032 0.012 0.028 0.021 0.027 0.883 0.055 0.001 0.013 0.034 0.250 0.009 0.074 0.201

Kode A B E F G H I J K L M N O P Q

Spesies Sp A Polygorum caespilosum Sp E Elephantopus scaber Biophytum sensitivum Sp H Panicum malabaricum Andropogon conthortus Borreria alata Aksonopus compressus Sp M Ageratum conyzoides Galinsoga parviflora Lepidagathus parviflora Salvia sp

Densitas Relatif 0.340 1.416 0.510 1.246 0.907 1.190 38.754 2.436 0.057 0.567 1.473 10.992 0.397 3.229 8.839

R S T U V W X

Triumveta indica Sp S Malvastrum coromandelianum Takapal mata Amorphophallus albus Podocarpus Sp. Isachne miliacea Tectona grandis Vitex sp Desmodium sp Mimosa pudica Eupatorium sp Streblus asper Cocos nucifera Cyanotis axillaris Mangifera indica Nephelium lappaceum Lantuna sp Costus sp. Jumlah

0.077 0.005 0.031 0.004 0.001 0.001 0.001 0.005 0.013 0.001 0.005 0.013 0.001 0.001 0.004 0.001 0.001 0.021 0.441 2.277

3.399 0.227 1.360 0.170 0.057 0.057 0.057 0.227 0.567 0.057 0.227 0.567 0.057 0.057 0.170 0.057 0.057 0.907 19.377 100.000

D. Tabel4. Tabel frekuensi sbsolut dan frekuensi relatif


Frekuensi Absolut 20 50 10 40 40 10 80 30 10 20 10 50 20 40 70 80 10 10 Frekuensi Relatif 2.439 6.098 1.220 4.878 4.878 1.220 9.756 3.659 1.220 2.439 1.220 6.098 2.439 4.878 8.537 9.756 1.220 1.220

Kode A B E F G H I J K L M N O P Q R S T

Spesies Sp A Polygorum caespilosum Sp E Elephantopus scaber Biophytum sensitivum Sp H Panicum malabaricum Andropogon conthortus Borreria alata Aksonopus compressus Sp M Ageratum conyzoides Galinsoga parviflora Lepidagathus parviflora Salvia sp Triumveta indica Sp S Malvastrum

coromandelianum U V W X Takapal mata Amorphophallus albus Podocarpus Sp. Isachne miliacea Tectona grandis Vitex sp Desmodium sp Mimosa pudica Eupatorium sp Streblus asper Cocos nucifera Cyanotis axillaris Mangifera indica Nephelium lappaceum Lantuna sp Costus sp. Jumlah 10 10 10 10 30 10 10 30 30 10 10 10 10 10 10 10 820 1.220 1.220 1.220 1.220 3.659 1.220 1.220 3.659 3.659 1.220 1.220 1.220 1.220 1.220 1.220 1.220 100

II.

PEMBAHASAN Pada kegiatan praktikum ini dilakukan untuk mengetahui struktur dan komposisi vegetasi, serta spesies yang mempunyai peran penting dalam ekosistem hutan buatan desa Kalitirto Berbah Sleman yang berada pada ketinggian + 115 m dpl. Adapun cara yang digunakan dalam pengambilan data adalah dengan teknik ploting (Quadrat Tecnique). Dimana pada teknik ini perluasan plot yang dibuat adalah kuadrat dari plot sebelumnya dan perluasan plot di hentikan apabila jumlah spesies pada plot terakhir cenderung tetap (tidak berarti lagi). Praktikum ini dilakukan secara berkelompok, dimana setiap kelompok menempati plot yang berbeda-beda, sehingga dihasilkan data kelompok. Namun, untuk mengetahui struktur dan komunitas vegetasi secara keseluruhan digunakan data kelas untuk bahan analisisnya. Selama praktikum, semua plot dipasang pada ketinggian yang sama, karena daerah tersebut memiliki ketinggian yang hampir sama. Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan diketahui bahwa spesies terbanyak adalah Panicum malabaricum dengan nilai densitas absolut 0,883 dan densitas relatifnya 38,754%. Sedangkan spesies yang ditemukan dalam jumlah paling sedikit adalah Borreria alata, Amorphopallus albus, Podocarpus sp., Isachne milliacea, Streblus asper, Cocos nucifera, Mangifera indica, Nephelium lappaceu dengan nilai densitas absolutnya 0,001 dan densitas relatifnya 0,057% sama untuk tiap spesies. Nilai

densitas absolute ini menunjukan besarnya suatu spesies menutupi area tertentu. Panicum malabaricum termasuk famili Poaceae (rumput-rumputan), yang cocok tumbuh di daerah dengan topografi rata dan parameter lingkungan yang sesuai pula. Sedangkan untuk spesies-spesies yang ditemukan dalam jumlah kecil, dimungkinkan karena kondisi lingkungan yang kurang cocok sebagai tempat untuk tumbuh. Spesies-spesies itu kemungkinan akan tumbuh pada daerah yang memiliki salah satu atau beberapa parameter lingkungan yang berbeda dari hutan di desa Kalitirto ini. Kemungkinan lain dikarenakan adanya kompetisi antar vegetasi yang tumbuh di kawasan hutan tersebut. Dimana tumbuhan yang memiliki daya adaptasi yang tinggi serta laju pertumbuhan yang cepat yang akan mendominasi. Nilai penting dari spesies ditentukan oleh densitas relatif, dominansi relatif dan frekuensi relatif. Tetapi dalam praktikum ini tidak dilakukan perhitungan terhadap dominansi relatif. Spesies yang mempunyai nilai densitas relatif, dominansi relatif, dan frekuensi relatif tinggi akan mempunyai nilai penting yang tinggi pula. Nilai penting berguna untuk menentukan dominansi jenis tumbuhan terhadap jenis tumbuhan lainnya. Sehingga dapat diketahui spesies yang mempunyai nilai penting paling besar adalah Panicum malabaricum karena memiliki nilai densitas relatif dan nilai frekuensi relatif yang tinggi pula. Dalam praktikum ini juga ditentukan luas plot minimal dengan cara membuat grafik dari data hasil pengamatan. Pembuatan grafik ini dilakukan oleh masing-masing kelompok. Langkah pembuatan seperti pada cara kerja, dan setelah dibuat proyeksi terhadap sumbu y didapatkan luas minimal plot adalah 2 m2, untuk kelompok 5B atau 10. Angka ini menunjukan bahwa luas plot sesungguhnya adalah 2 m2, dengan ukuran 2 x 1 m. Sesuai dengan tabel komponen abiotik, dapat diketahui bahwa parameter lingkungan diantaranya kelembapan udara di setiap plot berbeda. Perbedan ini diakibatkan oleh tingkat ketinggian tanah, walaupun secara kasat mata kawasan hutan memiliki tanah yang rata. Selain itu, ada tidaknya penutupan/ coverage dari pohonpohon besar di kawasan hutan juga mempengaruhi kelembapan yang diteliti. Perbedaan kelembapan inilah yang akan memberikan pengaruh pada jumlah tanaman dan jenis tanaman yang ada. Selain kelembapan udara, kelembapan pada tanah juga diukur. Kelembapan tanah ini juga mempengaruhi jenis dan struktur vegetasi disana. Pada tanah yang memiliki kelembapan yang tinggi, jenis tumbuhan yang dtemukan juga akan bervariasi.

Komponen abiotik lain yang diukur adalah pH dan suhu. pH tanah yang tidak terlalu asam dan tidak terlalu basa memungkinkan semua jenis tumbuhan untuk tumbuh ditempat tersebut dengan baik. Sedangkan suhu, diukur pada suhu tanah dan suhu udara. Dimana kemungkinan keduanya tidak terlalu mempengaruhi tumbuhan yang tumbuh disana, sebab baik suhu usara maupun suhu tanah di semua plot hampir sama, dengan rata-rata suhu udara 29,4OC, sementara pada suhu tanah 29,9OC, kondisi suhu diluar batas toleransi biasanya merupakan factor pembatas dalam distribusi populasi tertentu dan juga merupakan penentu seleksi bagi sub-kelompok tersebut. Sebagian besar vegetasi memiliki mekanisme khusus untuk mampu bertahan dari suhu ekstrim lebih lama, dikenal sebagai kriptobiosis.(Sambas, 2003). Intensitas cahaya juga merupakan komponen abiotik hutan yang sangat penting yang juga turut berpengarh pada jenis vegetasi yang tumbuh. Dimana jenis tumbuhan semak dan perdu yang banyak tumbuh di daerah dengan intensitas cahaya yang redup.

BAB V PENUTUP Dari kegiatan praktikum yang dilakukan di kebun desa Kalitirto Berbah Sleman, dengan menggunakan teknik ploting (Quadrat sampling techniques) kita dapat menganalisis ekosistem tumbuhan bawah yang ada di daerah tersebut. Jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan tergolong kompleks, terlihat dari data yang diperoleh. Tumbuhan yang mendominasi adalah spesies Panicum malabaricum , yaitu famili rumput-rumputan yang memang cocok tumbuh di daerah dataran rendah. Keanekaragaman jenis di hutan butan ini sangat tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan ditemukannya jenis tumbuhan tingkat tinggi/pohon, tiang, pancang, semai/ anakan, serta semak. Namun, dominansi tertinggi oleh anggota semak, sebab memiliki densitas dan frekuensi relatif paling tinggi pula. Struktur vegetasi dipengaruhi oleh faktor abiotik yang meliputi suhu tanah, suhu udara, kelembapan udara, Ph tanah, intensitas cahaya, dan kelembapan tanah, sehingga hutan buatan desa Kalitirto Berbah Sleman termasuk hutan dataran rendah, dimana terletak pada ketinggian + 115 m dpl.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2009. Ekosistem Alam. Diakses melalui http://members.tripod.com pada tanggal 29 April 2013. Dr. Retno Widhiastuti. 2006. Ekologi Tumbuhan. Diakses melalui http://ecourse.usu.ac.id/course/course.php?id=13&app=textbook.pdf. Pada tanggal 29 April 2013 Fachrul, Dr. Melati F. 2008. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta : PT. Bumi Aksara. Misra, R. 1973. Ecology Work Book. New Delhi: Qxford & IBH Publishing Co Muhammad Mansur. 2003. Analisis Vegetasi Hutan di Desa Salua dan Kaduwaa Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Diakses pada tanggal 29 April 2013. Soeriatmaja, I dan A. Indrawan. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB : Bogor Wirakusumah, Sambas. 2003. Dasar-Dasar Ekologi Bagi Populasi dan Komunitas. UI Press: Jakarta

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI


(ACARA 1) ANALISIS VEGETASI METODE RELEVE

Nama NIM Kelompok Asisten Prodi

: Anida Fitri : 10680028 : V B (10) : Anggi : Pendidikan Biologi

LABORATORIUM BIOLOGI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2013