Anda di halaman 1dari 138

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Formasi Yogyakarta 1 Laboratorium Penilaian

Program Studi Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional " Veteran" Yogyakarta

BUKU PANDUAN PRAKTIKUM PENILAIAN FORMASI


Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

LABORATORIUM PENILAIAN FORMASI


Buku Panduan Praktikum Penilaian Formasi
Daftar Buku & Publikasi

Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta Fakultas Teknologi Mineral Program Studi Teknik Peminyakan

LD Reza Humar Dhani, Priastoto Abib Wijanarko, Ferdian Rinaldo, Ade Yohana K., Taufan Y. S., Ardiyanto, Dewi Asmorowati, Dian Islami, Merry Liana Putra, Avianto Kabul P

2006 : Cetakan I
DedyKristanto, VDCahyokoAji

2012 : Cetakan II (Revisi)

Cetak Oleh : Laboratorium Penilaian Formasi Timesnewroman-12 spasi-1.2 A4-hal-138

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat ALLAH SWT atas rahmat dan hidayah sehingga Buku Petunjuk Praktikum Penilaian Formasi ini dapat diselesaikan sesuai dengan rencana. Buku ini dimaksudkan untuk memenuhi sarana bagi terselenggaranya Praktikun Penilaian Formasi untuk mahasiswa Program Studi Teknik Perminyakan, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Sedangkan sasaran akhir dari praktikum ini adalah diharapkan mahasiswa dapat memahami, mengerti dan mengevaluasi parameter-parameter reservoar dari hasil analisa cutting dan interpretasi logging serta mengaplikasikannya. Ucapan terima kasih saya ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu tersusunnya Buku Petunjuk Praktikum ini. Akhirnya semoga buku ini dapat bermanfaat .

Ka. Lab. Penilaian Formasi

Dr. Ir. Dedy Kristanto, MT.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

TATA TERTIB PRAKTIKUM PENILAIAN FORMASI PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN

Setiap praktikan diwajibkan memenuhi tata tertib Praktikum Penilaian Formasi, sebagai berikut: 1. Selama praktikum berlangsung, praktikan diharuskan : a. Menyelesaikan urusan administrasi laboratorium sebelum praktikum dimulai. b. Mengikuti test yang diadakan sebelum acara praktikum dimulai. c. Menepati jadwal praktikum yang telah ditetapkan dan sedapat mungkin tidak pindah plug. d. Membuat laporan mingguan praktikum / tugas yang telah diikuti dan dikumpulkan pada acara praktikum berikutnya. e. Praktikan tidak diperbolehkan makan, minum, merokok dan membuat keributan didalam ruangan selama praktikum berlangsung. 2. Bagi yang tidak menyerahkan laporan mingguan pada saat acara praktikum, dianggap tidak mengikuti praktikum pada acara tersebut. 3. Terlambat lebih dari 10 menit dari jadwal praktikum yang telah ditetapkan, tidak diijinkan mengikuti praktikum. 4. Praktikan yang tidak mengikuti acara praktikum lebih dari dua kali dinyatakan gugur, kecuali disertakan surat keterangan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.................................................................................... 3 TATA TERTIB .............................................................................................. 4 DAFTAR ISI .................................................................................................. 5 FORMAT LAPORAN ................................................................................... 6 BAB I. Deskripsi ............................................................................................ 8
Analisa Cutting Mud Log Core Analysis Koreksi Lubang Bor

BAB II. Log Listrik ........................................................................................ 38


SP Log Resisitivity Log Induction Log

BAB III. Log Radioaktif ................................................................................ 44


Gamma Ray Log Neutron Log Density Log Neutron - Density Log

BAB IV. Log Tambahan ............................................................................... 53


Sonic Log Caliper Log

BAB V. Lithology Logging ............................................................................ 60


Kombinasi Gamma Ray Neutron Density Log M-N Litology Plot MID Lithology Plot

BAB VI. Kombinasi Log .............................................................................. 73


Log Litologi Log Resisitivity Log Porosity Penentuan Saturasi Air HFU (Hydraulic Flow Unit)

BAB VII. Penentuan Cadangan ................................................................... 85


Log Interpretation Teknik Pemetaan Penentuan Cadangan

Daftar Pustaka ............................................................................................... 110 Lampiran ........................................................................................................ 111

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

FORMAT LAPORAN 1. Lembar Judul ( jarak A = disesuaikan )


A = 5 cm LAPORAN PRAKTIKUM PENILAIAN FORMASI

Oleh : Nama No. Mhs Plug/klp

: : :

B = 3 cm PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN UNIVERSITAS PEMBAGUNAN NASIONAL VETERAN YOGYAKARTA 2012 C = 5 cm

2. Lembar Pengesahan ( Jarak A = B )

5 cm JUDUL A LAPORAN RESMI PRAKTIKUM PENILAIAN FORMASI B Disetujui untuk Laboratorium : Praktikum Penilaian Formasi, Oleh :

7 cm

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

3. Format Pengetikan 1.5 cm


ABSTRAK - Diketik 1 spasi Huruf Times New Roman 11 pcs

ISI - Diketik 1,2 spasi Huruf Times New Roman 11 pcs Kertas HVS A4 ( Tabel 1 spasi, Gambar 1 spasi )

ISI - Diketik 1,2 spasi Huruf Times New Roman 11 pcs Kertas HVS A4 ( Tabel 1 spasi, Gambar 1 spasi )

4. Isi Laporan (Paper)


Halaman Judul Halaman Pengesahan Daftar Isi Bab I . Pendahuluan Bab II. Tinjauan Pustaka Bab.III Preparasi Data Bab.IV Analisa Data dan Interpretasi Bab.VI Pembahasan Bab.VII Kesimpulan Lampiran Daftar Pustaka

Praktikum Penilaian Formasi

1.5 cm

1.5 cm

1.5 cm

1.5 cm

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

BAB I

DESKRIPSI (Analisa Cutting, Mud Log, Core Analysis, Koreksi Lubang Bor)
Tujuan Analisis Pekerjaan analisa cutting ini dilakukan dalam kerangka pekerjaan Mud Logging yang terutama digunakan untuk mengidentifikasikan saturasi Hidrokarbon dan mengestimasikan karakteristik batuan reservoar. Analisis Lithologi Dan Porositas Pada saat ini analisa cutting untuk mengestimasi karakteristik reservoar harga dititik beratkan pada analisa lithologinya. Analisa Lithologi Analisa lithologi dimaksudkan untuk menggambarkan macam-macam batuan untuk tiap kedalaman pedoman dalam pendiskripsian lithologi, yaitu: a. Shale Warna : merah dan hijau Tekstur : seperti lilin, beludru dan kertas Kekerasan : lunak, sedang, kuat, keras, sangat keras dan rapuh. Lapisan : massive, blocky, fossile dan splentary Pabrikasi : laminasi, pecahan, berlapis, dapat dibelah Mineral tambahan : bentonite, sandy, calcareous dan carbonnaceous b. Sand Warna : coklat, abu-abu Tekstur : sangat halus, halus, medium kasar dan sangat kasar Bentuk butir : bulat, agak bulat dan bersudut Pemilahan/sortasi : baik, sedang dan jelek Tingkat sementasi : gampang pecah (friable), padat (dense) Porositas : tidak tampak, jelek, sedang dan baik c. Limestone dan Dolomite Warna : putih, coklat, abu-abu dan hitam Tekstur : sangat baik, baik, sedang, butir kasar, padat, chalky, oolitic, sucrosic, colicastic. Butiran : sucrosa, crystal, chalky Accessory : oolite, sandy,silty, calcite, pyrite dan argillaceous Kilap : suram, seperti tanah, dasar

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

Setelah dilakukan pendiskripsian lithologi selanjutnya adalah menentukan batas lithologinya dimana dalam penentuan batas-batas lithologinya ada 2 (dua) metode, yaitu: 1. Metode Prosentase Secara visual diperkirakan prosentasi dari cutting tiap macam batuan yang ada dalam satu kantong cutting. Biasanya ada 2 atau 3 macam batuan, dimana shale merupakan komponen yang sering ada. Dengan memplot prosentase dari setiap macam batuan untuk setiap interval atau kantong, maka dengan melihat hasil keseluruhannya akan dapat diperkirakan batas lithologinya. 2. Metode yang Pertama Muncul Metode ini didasarkan pada adanya lithologi baru yang terlihat pertama kali dari rangkaian cutting yang sedang dianalisa pada pertambahan kedalaman. Kedalaman sample cutting yang baru merupakan batas atas lapisan lithologi. Analisa Porositas. Untuk penentuan porositas batuan dari analisa cutting bersifat kualitatif. Caranya dengan memeriksa cutting dibawah lensa binokuler. Istilah yang digunakan adalah: Tidak jelas (trace) : porositas 0-10 % Agak jelek (show) : porositas 10- 20 % Jelas (good) : porositas > 20 % Analisa Indikasi hidrokarbon Dan yang akan dilakukan dalam analisa indikasi hidrokarbon adalah penampakan noda (staining), bau (odour) dan pemeriksaan hidrokarbon. 1. Penampakan Noda Pada batuan jenis hidrokarbon berat (residu, tar) akan memberikan noda yang lebih nyata. Jika kadar hidrokarbon dalam batuan cukup tinggi akan terlihat kesan berupa cucuran.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

10

Tabel Kapasitas Penampakan Noda Berdasarkan Penyebaran Dalam Batuan Kualitas Penampakan Prosentasi Distribusi dalam Batuan Sangat baik >75% Baik 50-75% Sedang 25-50% Buruk <25% 2. Bau (Odour) Biasanya batuan yang mengandung hidrokarbon mempunyai bau yang spesifik. Kekuatan baunya tergantung dari jenis dan kadar kuantitas kandungan hidrokarbon didalam batuan. Bau wangi biasanya berasal dari minyak parafine dan naftanik, sedangkan bau busuk berasal dari minyak aromatik. 3. Pemeriksaan Indikasi hidrokarbon pada Cutting Dalam praktikum digunakan analisa pemeriksan fluoroscopic (ultraviolet). Dilakukan dengan memasukkan sample cutting dalam fluroscope untuk melihat ada tidaknya fluoresensi. Biasanya hidrokarbon cair atau minyak memberikan warna tertentu terhadap sinar ultraviolet, sedangkan gas dan minyak residu kadang-kadang tidak berfluorensi. Tabel Warna fluoresensi Masing-masing Minyak Jenis Minyak Warna Fluorescensi Residu Coklat gelap - tidak berwarna Minyak Berat Coklat - kuning tua Minyak Medium Putih - kuning cerah Minyak Ringan Putih biru - biru cerah Kondensat Ungu - biru cerah Tabel Jenis Mineral atau Material yang Memberikan Gangguan Pada Pengamatan Warna Fluoresensi Residu Warna Fluoresensi Batu gamping / dolomite Kuning/ kekuning-kuningan Batu gamping pasiran Coklat-coklat tua Paper shale Kuning- coklat kopi Fosil Kuning putih kuning coklat

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

11

Napal Grase atau Gemuk Solar Kulit kumbang

Kuning tua abu-abu coklat Putih susu Putih terang Biru

Kualitas penampakan fluoresensi ditentukan dari distribusi fluoresensi dalam contoh batuan, yaitu Tabel Penampakan Fluorosensi Contoh Batuan Kualitas Penampakan Prosentase Distribusi dalam Batuan Sangat baik (excellent) > 75 % Baik (good) 50 75 % Sedang (fair) 25 50 % Buruk (poor) < 25 %

Gambar Directly Fluoresence Under Ultraviolet Box Sample fluorescence Color : from brown through green, gold, blue, yellow, to white; in most instances, the heavier oils have darker fluorescence. Distribution : even, spotted, or mottled Intensity : bright, dull, pale, and faint

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

12

Gambar Cut Fluorescence Under UV Box (Solvent Chloroform) Solvent Cut Fluorescence Cut speed : an indication of both the solubility of the oil and the permeability of the sample. Cut nature : the solvent with dissolved oil may occur in uniform, streaming or blooming. A streaming cut also indicates low oil mobility. Cut color and intensity: After observing the sample under UV light observe the sample under natural light. The cut color observed in natural light is just called cutcolor(example: very light brown cut color or no cut color) Cut Residue :The solvent dissolves rapidly under the heat of the UV light, sometimes leaving a residue of oil around the cutting on the spot plate. The true color of the oil can then be observed. The intensity and opacity of color, especially of the residue, is an indicator of the oil density and the quantity of oil originally in the cutting Mud Log Mud Log adalah pemeriksaan dan analisis informasi geologi yang terkandung dalam cutting (hancuran batuan) dan lumpur pengeboran untuk menentukan indikasi minyak dan gas yang ditemukan selama proses pengeboran sebuah sumur (penembusan batuan/formasi). Mud log terdiri dari wellsite beserta unitnya yang terdiri dari laboratory unit, control panel dan peralatan monitoring. Mud Logger bertugas menganalisis data geologi dan parameter pengeboran serta mengidentifikasi dan menghitung cadangan hidrokarbon pada lapisan yang mempunyai potensi produktif, porositas formasi bawah permukaan. Mud Logger juga menganalisis

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

13

parameter pengeboran hubungannya dengan analisis formasi dalam rangka memberikan rekomendasi tingkat pengeboran, biaya dan keselamatan. Logging sensor pada Mud Log monitoring terdiri dari : Monitoring Drilling Speed, Monitoring Standpipe Pressure, Monitoring Hookload, Monitoring Rotary Speed, Monitoring Rotary Torque, Monitoring Stroke Speed, Monitoring Mud Flow Out, Monitoring Mud Temperate in/out, Monitoring Mud Conductivity in/out, Monitoring Mud Weight in/out, Monitoring Pit Volume and H2S, Monitoring Gas Chromatographs and Gas Detector

Gambar Skema Lokasi Sensor Mud Logger

Gambar Grain Size Card

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

14

Gambar Klasifikasi Ukuran Standart Butiran

Gambar Chart Identifikasi Warna

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

15

Gambar Shape of the Cutting

Gambar Terminologi Kontak Antar Butiran A. Point Contact, B. Long Contact, C. Concavo-Convex, D. Sutured

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

16

Gambar Drilling Well Track Report Parameter teknis yang merupakan hasil dari analisa Mud Logger diantaranya : Total Depth, ROP, WOH, Hook Speed, Hook Height, WOB, RPM, Rotary Torque, Stand Pipe Press, Wellhead Press, SPM Stroke, Lag Time, Flow in/out, Temp in/out, Mud Weight in/out, Resistively in/out, Conductivity in/out, Mud Volume,Total Gas and Chromatography, H2S / CO2 Analisa Core Persamaan Analitik Regresi Hubungan linier antara dua kelompok data, dapat ditentukan dengan analisa regresi, yang memberikan persamaan regresi sebagai berikut : 1. Regresi linier : Y = a + bx 2. Regresi eksponensial : Y = aebx, dimana a > 0 3. Regresi logaritmik : Y = a + b log x 4. Regresi power : Y = a xb, dimana a > 0 Dengan teknik regresi ini, maka konstanta a dan b dari persamaan-persamaan di atas dapat ditentukan. Secara umum persamaan untuk menentukan konstanta-konstanta Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

17

tersebut adalah sebagai berikut : dimana harga A, B, xi dan Yi tergantung dari jenis regresi yang digunakan, ditunjukkan pada tabel berikut : Regresi Linier Eksponensial Logaritmik Power xi xi xi Log xi Log xi Yi Yi Ln Yi Yi Log Yi a A eA A 10A b B B B B

Untuk menilai apakah analisa regresi yang dipilih cukup mewakili data yang dianalisa, perlu dihitung koefisien regresi (R2). Koefisien tersebut dihitung dengan persamaan berikut :

Apabila analisa regresi yang dipilih memberikan harga R21 ini berarti bahwa hampir semua titik data terletak pada persamaan regresi. Jika diperoleh R2<1, berarti banyak titik data yang di luar persamaan regresi. Dengan perkataan lain, makin kecil harga R2, titik data makin terpencar. Mengetahui besaran-besaran core yang diukur oleh uji yang dilakukan di laboratorium. Analisa core terdiri dari Analisa Core Rutin (Routine Core Analysis) Core yang dianalisa meliputi conventional core dan sidewall core. Besaran-besaran yang diukur pada uji ini adalah : 1. Porositas. 2. Permeabilitas terhadap udara (air permeability - kair) dan permeabilitas yang ekivalen terhadap liquid (kL). 3. Permeabilitas horisontal terbesar (maksimum). 4. Permeabilitas horisontal tegak lurus terhadap permeabilitas horisontal maksimum. 5. Permeabilitas vertikal. 6. Berat jenis butiran.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

18

Analisa Core Spesial (Special Core Analysis - Scal) Besaran-besaran yang diukur dan diperoleh dari uji ini adalah : 1. Permeabilitas liquid ekivalen sebagai fungsi dari volume throughput. 2. Permeabilitas terhadap udara (air permeability) dan porositas core plug dan full diameter core yang dilakukan pada beberapa harga confining stress. 3. Kompresibilitas formasi (pore volume compressibility) dari core plug dan full diameter core sebagai fungsi dari tekanan overburden efektif. 4. Faktor resistivitas formasi (F), faktor sementasi (a) dan eksponen sementasi (m). 5. Indeks resistivitas (RI), saturasi air (Sw) dan eksponen saturasi (n). 6. Permeabilitas relatif (kr)sebagai fungsi saturasi. 7. Tekanan kapiler. 8. Waterflood Susceptibility Penentuan Parameter Reservoir Rata-Rata Mengolah hasil analisa batuan inti (core), yaitu porositas, permeabilitas dan saturasi untuk digunakan dalam menentukan perhitungan cadangan dan perhitungan teknik reservoir lainnya dengan menggunakan analisa statistik. Dalam analisa diperlukan : Diperlukan hasil analisa batuan inti serta interpretasi log untuk harga porositas dan saturasi. Harga batas , k dan Sw. Perhitungan Porositas Rata-Rata (statistik) 1. Siapkan data porositas terhadap kedalaman dari hasil analisa batuan inti dan interpretasi log sumur. 2. Plot porositas hasil analisa batuan inti terhadap porositas hasil interpretasi log untuk kedalaman yang sama. Tarik garis yang mewakili titik-titik tersebut. Dengan persamaan garis. 3. Siapkan data porositas hasil interpretasi log terhadap kedalaman sumursumur yang tidak dilakukan pengintian. 4. Dengan menggunakan hasil plot dari langkah 2, tentukan harga porositas batuan inti ekuivalen dari harga-harga porositas di langkah 3. 5. Kumpulkan semua data porositas dari analisa batuan inti dan porositas ekivalen dengan urutan membesar 6. Tentukan harga cut-off porositas dan sisihkan data porositas yang lebih kecil dari cut-off tersebut. (tentukan harga cut off) 7. Tentukan jumlah selang data dengan menggunakan persamaan berikut : S = 1 + 3.3 log n Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

19

Keterangan : S = jumlah selang minimum n = jumlah data 8. Tentukan jumlah data porositas yang termasuk di dalam masing-masing selang. 9. Hitung frekuensi masing-masing selang, yaitu jumlah data pada suatu selang dibagi dengan jumlah data seluruhnya. 10. Plot selang porositas terhadap frekuensi. Porositas sebagai sumbu ordinat dan frekuensi sumbu absis. 11. Tentukan harga-tengah porositas untuk masing-masing selang. 12. Porositas rata-rata dihitung sebagai berikut :

Keterangan : fi = frekuensi pada suatu selang i = harga-tengah porositas pada selang Perhitungan Permeabilitas Rata-Rata 1. Siapkan data porositas dan permeabilitas hasil analisa batuan inti terhadap kedalaman. 2. Plot porositas terhadap permeabilitas untuk kedalaman yang sama pada kertas grafik semi log. Permeabilitas pada sumbu log dan porositas pada sumbu linear. Tarik garis lurus yang mewakili titik-titik tersebut. Garis ini dapat ditentukan secara lebih baik dengan menggunakan analisa regresi (persamaan garis). 3. Siapkan data porositas hasil interpretasi log untuk sumur-sumur yang tidak dilakukan pengintian. 4. Tentukan harga cut off porositas dan sisihkan data porositas di langkah 3, yang lebih kecil dari harga cut-off tersebut (tentukan harga cut off) 5. Tentukan harga permeabilitas ekivalen dari porositas hasil log, berdasarkan persamaan garis di langkah (2). 6. Tentukan semua data permeabilitas dari analisa batuan inti maupun permeabilitas ekivalen dengan urutan membesar. Berdasarkan harga cut-off permeabilitas, sisihkan harga permeabilitas yang lebih kecil dari harga cut-off tersebut. 7. Kumpulkan semua data permeabilitas ekivalen dari analisa batuan inti maupun permeabilitas ekivalen dengan urutan membesar. Berdasarkan harga

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

20

cut off permeabilitas, sisihkan harga permeabilitas yang lebih besar dari harga cut off tersebut untuk keperluan analisa. 8. Tentukan harga permeabilitas awal (dalam hal ini harga permeabilitas cut off dapat digunakan sebagai harga permeabilitas awal), kemudian batas selang dengan menggunakan persamaan berikut : Kj = 2j ki Keterangan : J = 1, 2, 3, 4, .... kj = batas selang permeabilitas ki = permeabilitas awal 9. Tentukan jumlah data permeabilitas yang termasuk di dalam masing-masing selang. 10. Hitung frekuensi masing-masing selang (fj) dengan menggunakan hubungan berikut :

11. Hitung frekuensi kumulatif setiap selang : 12. Dalam setiap selang, hitung permeabilitas rata-rata secara aritmatik (kA)j,

yaitu : Keterangan : n = jumlah data permeabilitas dalam selang ki = harga-harga permeabilitas dalam selang 13. Permeabilitas rata-rata secara geometrik dan seluruh contoh dapat dihitung dengan menggunakan persamaan

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

21

Penentuan Data Tekanan Kapiler Rata-Rata Membuat data tekanan kapiler rata-rata yang representatif untuk suatu reservoir dari sejumlah hasil analisis batuan inti (core analysis). Metode yang digunakan adalah korelasi Leverett J-function dan korelasi Guthrie. Metode Korelasi Leverett J - Function Data tekanan kapiler didapatkan dari analisis batuan inti di laboratorium. Analisis contoh tersebut merupakan bagian yang sangat kecil untuk dapat mewakili reservoir atau formasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, seluruh data tekanan kapiler yang diukur dari contoh batuan inti yang berasal dari reservoir tersebut digabungkan dan kemudian ditentukan kurva tekanan kapiler yang mewakili atau representatif untuk reservoir tersebut. Ada dua metode untuk memperoleh kurva tekanan kapiler yang representatif : Metode Leverett (Leverett J - function) Metode Statistik - Guthrie Metode Leverett Leverett membuat fungsi korelasi yang didefinisikan sebagai berikut :

Keterangan : Pc k = tekanan kapiler = tegangan permukaan = permeabilitas = porositas

Dapat ditambahkan bahwa apabila digunakan satuan lain yang cocok kecuali di atas, hanya akan menggeser kurva pada sumbu Y. Beberapa penulis melibatkan cos , dimana adalah sudut kontak, sehingga fungsi korelasi Leverett menjadi :

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

22

Gambar Contoh J(Sw) terhadap Sw Metode Statistik - Guthrie Tekanan kapiler merupakan fungsi permeabilitas dan saturasi. Dari berbagai pengamatan, Guthrie mendapatkan bahwa pada suatu harga tekanan kapiler, hubungan antara k dan Sw adalah sebagai berikut : Sw = a log k + C Walaupun Sw pada suatu harga Pc juga merupakan fungsi porositas, namun untuk tujuan-tujuan praktis, hubungan persamaan di atas cukup baik untuk digunakan. Dari hubungan tersebut di atas, dapat dibuat plot k terhadap Sw untuk berbagai harga Pc dari contoh batuan yang dianalisis. Hubungan tersebut akan merupakan garis lurus pada kertas semi-log untuk setiap harga Pc tertentu. 1. Siapkan data pendukung. Perlu analisis laboratorium atas beberapa batuan inti yang menghasilkan parameter berikut : Tekanan kapiler (Pc) terhadap saturasi air (Sw) dari masing-masing batuan inti. Tegangan permukaan (). Permeabilitas masing-masing batuan inti (k) dan harga rata-ratanya (k). Porositas masing-masing batuan inti () dan harga rata-rata (). Sudut kontak (). Biasanya tersedia pengukuran cos. 2. Hitung harga J(Sw) dari masing-masing batuan inti :

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

23

3. Plot J(Sw) terhadap Sw pada sistem sumbu kartesian. 4. Buat kurva yang mewakili plot J(Sw) terhadap Sw dengan metode least square. 5. Berdasarkan hasil kurva rata-rata J(Sw) pada langkah 4, maka tentukan harga Pc rata-rata sebagai fungsi dari Sw dengan menggunakan , untuk permeabilitas dan porositas digunakan harga ratarata. Metode Korelasi Statistik Guthrie 1. Siapkan data pendukung. Perlu analisis laboratorium atas beberapa batuan inti yang menghasilkan parameter berikut : Tekanan kapiler (Pc) terhadap saturasi air (Sw). 2. 3. 4. 5. 6. Permeabilitas masing-masing batuan inti dan harga rata-rata (k). Plot Pc terhadap Sw untuk setiap harga k yang berbeda pada satu kertas grafik kartesian. Tarik kurva Pc (Sw) untuk masing-masing harga k. Untuk suatu harga Pc, baca harga k dan Sw. Plot Sw terhadap log k untuk berbagai harga Pc. Tarik garis lurus rata-rata k(Sw) untuk masing-masing harga Pc. Pada hasil plot di langkah 5 tariklah garis sejajar dengan sumbu Sw untuk k = k. Garis ini akan memotong kumpulan garis linear k(Sw) pada Sw dan Pc tertentu. Plot Pc terhadap Sw dari hasil langkah 5 yang merupakan Pc(Sw) rata-rata.

7.

Daftar Simbol J(Sw) k Pc Sw

= Leverett J-Function, tak bersatuan = permeabilitas, cm2 atau mD = tekanan kapiler, dyne/cm2 atau psi = saturasi air, fraksi = porositas, fraksi = tegangan permukaan, dyne/cm = sudut kontak, derajat

Penentuan Kurva Permeabilitas Relatif Rata-Rata Apabila dilakukan pengukuran permeabilitas relatif (kr terhadap S) dari sejumlah analisis contoh batuan inti yang berasal dari reservoir yang sama, hampir selalu didapatkan harga titik akhir (end points : Swc, Swi, Sor, Sgr) yang berbeda untuk setiap analisis core sehingga akan menghasilkan bentuk kurva kr terhadap S yang berbeda pula. Sebuah kurva kr(S) yang representatif untuk suatu reservoir diperoleh

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

24

dengan cara normalisasi dan de-normalisasi harga-harga titik akhir analisis core. Adapun harga yang dinormalisasi adalah sebagai berikut : Table End Point Normalisasi

Berdasarkan harga titik akhir tersebut di atas, kurva kr terhadap S yang diperoleh dari hasil pengukuran dinormalisasikan berdasarkan rumus berikut Tabel Normalisasi Titik Akhir

Perhitungan di atas dilakukan terhadap data yang didapatkan dari setiap analisis core. Kemudian plot seluruh harga kr* dan S* yang didapat seperti pada berikut

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

25

Gambar Kurva Normalisasi (S* vs kr*) Seluruh Sampel Karena titik kr* (S*) tersebar, maka kurva normalisasi rata-rata harus diperkirakan. Untuk melakukan de-normalisasi, yaitu menentukan kurva kr(S) yang mewakili atau representatif, lakukan perata-rataan harga "end points" seluruh hasil analisis core yang ada dengan formula sebagai berikut :

dimana end point adalah harga-harga Swc, Swi, Sor, Sgr, dan lain-lain dari setiap sampel dan N adalah jumlah sampel yang diukur. Langkah terakhir untuk mendapatkan kurva kr(S) adalah menghitung harga kr dan S dengan menggunakan rumus pada Tabel Normalisasi Titik Akhir dimana harga S* dan kr* dibaca dari kurva kr* (S*) rata-rata pada (Gambar Kurva Normalisasi (S* vs kr*) Seluruh Sampel.) Menentukan kurva kr versus S rata-rata yang representatif untuk suatu reservoir atau formasi dari sejumlah analisa contoh batu inti (core analysis). Metode yang digunakan adalah normalisasi - denormalisasi sejumlah kurva kr terhadap S dari suatu formasi.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

26

Langkah Kerja 1. Siapkan data pendukung yang tersedia untuk : a. Sistem Air - Minyak Tabel atau kurva kro dan krw terhadap Sw Dari Tabel atau Kurva tersebut baca harga titik akhir (end points) : kro @ Swc kro @ Sor krw @ Swc krw @ Sor b. Sistem Gas - Minyak Tabel krg dan kro terhadap saturasi cairan (SL) Data harga titik akhir : kro @ Swc kro @ Sgr krg @ Swc krg @ sgr c. Sistem Gas - Air Tabel krg -krw versus Sw. Data harga titik akhir : krw @ Swc krw @ Sgr krg @ Swc krg @ Sgr 2. Lakukan prosedur normalisasi untuk setiap kurva kr ternadap S dengan menyiapkan tabel berikut : a. Sistem Air - Minyak Buat tabel Sw, kro, krw, Sw*, kro*, krw* seperti pada contoh, dimana

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

27

b. Sistem Gas Minyak Buat table SL, kro, krg, SL*, kro*,krg* seperti pada contoh dimana

c. Sistem Gas Air Buat table Sw, krg, krw, Sw*, krg*, krw* seperti pada contoh dimana

3. Buat Kurva S* terhadap kr* untuk seluruh contoh batuan. 4. Tentukan kurva kr* (Sw*) rata-rata seperti diperlihatkan pada 5. Lakukan denormalisasi dari kurva kr* (Sw*) rata-rata dari langkah 4 sebagai berikut : a. Sistem Air - Minyak Buat tabel Sw*, kro*, krw*, Sw, kro dan krw seperti pada contoh, dimana : Kro* dan krw* dibaca dari kurva di langkah 4 untuk setiap harga Sw* .

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

28

b. Sistem Gas Minyak Buat table SL* kro* krg* SL, kro dan krg dimana kro* dan krg* dibaca dari kurva di langkah 4 untuk setiap harga SL*

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

29

c. Sistem Gas Air Buat table Sw* krg* krw* Sw krg dan krw dimana krg* dan krw* dibaca dari kurva di langkah 4 untuk setiap harga Sw.

Plot Kr terhadap S hasil de-normalisasi Daftar Simbol kr krg kro krw S Sg Sgr SL Sor Sw Swc krg @ Sgr krg @ SL krg @ Sw kro @ SL kro @ Sw kro @ Swc krw @ Sgr krw @ Sor krw @ Sw

= permeabilitas relatif = permeabilitas relatif gas = permeabilitas relatif minyak = permeabilitas relatif air = saturasi = saturasi gas = saturasi gas residu = saturasi cairan = So + Swc = saturasi minyak residu = saturasi air = saturasi air konat, dianggap sama dengan Swi = permeabilitas relatif gas pada Sgr = permeabilitas relatif gas pada SL = permeabilitas relatif gas pada Sw = permeabilitas relatif minyak pada SL = permeabilitas relatif minyak pada Sw = permeabilitas relatif minyak pada Swc = permeabilitas relatif air pada Sgr = permeabilitas relatif air pada Sor = permeabilitas relatif air pada Sw

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

30

Koreksi Lubang Bor Koreksi lubang bor adalah besaran koreksi yang digunakan pada pengukuran log yang harus disesuaikan, dengan tujuan untuk menghilangkan pengaruh lubang bor. Pengukuran yang dilakukan pada operasi logging, mengalami penyimpangan dengan keadaan sebenarnya. Hal ini disebabkan oleh kondisi sumur yang diameternya tidak seragam, pengaruh lumpur pemboran dan lain sebagainya. Penyesuaian harus dilakukan pada pengukuran log untuk mengembalikannya pada kondisi standard, yang sesuai dengan peralatan yang digunakan. Pengukuran yang berbeda membutuhkan koreksi yang berbeda pula. Tidak semua koreksi memberikan perubahan signifikan pada setiap kondisi. Koreksi dapat dilakukan dengan melakukan perhitungan secara manual, menggunakan chart atau menggunakan software. Secara umum, koreksi dilakukan sesuai dengan urutan-urutan tertentu, sebagai contoh pertama-tama dikoreksi terhadap lubang bor, kemudian dikoreksi terhadap invasi. Pada situasi tertentu, seperti kombinasi dari deep invasion dan high apparent dip, pada pengukuran resistivity, koreksi sangat tergantung pada urutannya, untuk memperoleh hasil yang akurat. Borehole Compensation Borehole compensation adalah penyesuaian transducer ke atas maupun ke bawah pada alat logging, yang pada umumnya bertujuan untuk menyesuaikan kesalahan pembacaan yang diakibatkan oleh variasi ukuran lubang bor atau kesalahan pada posisi sonde. Teknik ini digunakan untuk pengukuran yang berdasarkan pada kelakuan gelombang, seperti sonic (gelombang suara), resistivity dan pengukuran elektromagnetik. Propagation log Propagation log berdasarkan pada pengukuran perbedaan sifat gelombang pada dua buah penangkap (receiver). Lubang bor mempengaruhi perbedaan ini bila alat mengalami perubahan posisi atau bila ada gerowong pada posisi yang berlawanan pada salah satu receiver. Efek tersebut dapat diatasi dengan menggunakan dua buah transmitter yang meradiasi pada arah yang berlawanan. Pada kondisi ideal, efek dari perubahan posisi receiver atau gerowong selalu berlawanan untuk kedua buah transmitter, jadi nilai rata-rata dari keduanya memberikan hasil yang tepat. Borehole compensation ini berbeda dengan dengan borehole correction (koreksi lubang bor). Step Profile Dengan melihat pada proses invasi, perubahan yang ekstrim dapat terjadi pada peralihan dari flushed zone ke undisturbed zone, tanpa adanya transition zone

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

31

(annulus). Step Profile, adalah model sederhana yang digunakan secara umum untuk menyatakan log resistivity (yang lama), sejak digunakan tiga parameter untuk mendefinisikan resistivity, yaitu : resistivity pada flushed zone, resistivity pada undisturbed zone dan diameter invasi. Model ini mengasumsikan kedalaman invasi yang sama untuk semua arah. Jenis log yang baru, menginterpretasikan model invasi yang kompleks. Pengaruh Gerowong Pengaruh gerowong yang dimaksud di sini adalah perubahan drastis pada diameter lubang bor, misalnya yang disebabkan oleh gerowong (gua), pada log induksi (induction log). Pada lubang bor yang bagus dengan diameter konstan, pengaruh lubang bor dapat dihitung dan dikoreksi. Tetapi, pembesaran drastis pada diameter pada interval yang kecil dapat menimbulkan pembacaan yang berbeda pada sensor tertentu dibandingkan dengan yang lain. Sinyal ini tidak dapat dikoreksi dengan menggunakan koreksi lubang bor yang normal, tetapi dengan melakukan perubahan koreksi pada titik log tersebut. Perubahan ini biasanya signifikan pada saat resistivity tinggi dan terdapat perbedaan yang besar antara resistivity formasi dan resistivity lubang bor. Perbedaan antara bagian luar alat logging dan dinding lubang bor mempunyai pengaruh yang penting terhadap respon dari beberapa pengukuran logging.

Gambar Skema Terbentuknya Mud Cake

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

32

Gambar Mud-Filtrate Invasion and Terminology (Baker Atlas) Tabel Kondisi Daerah di Sekitar Lubang Sumur (Bateman, 1985)

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

33

Gambar Perbandingan Depth of Investigation untuk Berbagai Alat Log Penyesuaian dan koreksi harus dilakukan pada pengukuran log untuk mengembalikannya pada kondisi standard, yang sesuai dengan peralatan yang digunakan. Koreksi yang dilakukan terdiri dari : Koreksi Gamma Ray Koreksi Deep Induction Log Koreksi Deep Laterolog Koreksi Laterolog7 terhadap Koreksi Medium Induction Log Koreksi Medium Laterolog (LLS) Koreksi 16 normal (R16) Koreksi Spherically Focused Log (SFL) Koreksi Micro-Spherically Focused Log (MSF) Koreksi Micro-Laterolog (MLL) Koreksi Compensated Neutron Log (CNL) Koreksi Formation Density Compensated Log (FDC) Koreksi Invasi untuk Induction Logs. Koreksi Invasi untuk Laterologs. Perhitungan Diameter Invasi. Induction Log Laterologs

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

34

Koreksi Gamma Ray terhadap Efek Lubang Sumur GR = GR(1+ 0.04(MW 8.3))(1+ 0.06 (CAL 8)) c Bila CAL = 0 maka CAL = HOLE SIZE Bila MW = 0 maka c GR =GR Koreksi Deep Induction Log terhadap Efek Lubang Sumur Bila CAL 12 maka G =(0.0001 CAL) 0.0011. Bila CAL >12 maka G =(0.00073 CAL) 0.0092

Koreksi Deep Laterolog terhadap Efek Lubang Sumur

Bila X < 1 maka X = 1 Bila X > 4 maka X = 4 Bila X 0 maka Rdeepc = Rdeep 0.83

Koreksi Laterolog7 terhadap Efek Lubang Sumur.

Koreksi Medium Induction Log terhadap Efek Lubang Sumur Bila CAL 8 maka G = (0.0001CAL) 0.0004 Bila CAL >16 maka G = 0.0091 selain itu, G = (0.001125CAL) 0.0091

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

35

Koreksi Medium Laterolog (LLS) terhadap Efek Lubang Sumur

Bila X < 1 maka X = 1 Bila X > 4 maka X = 4 Bila X 0 maka R = R (1.07 + 0.29 X (CAL 10.2)) medc med Bila X <1 maka R = R (1.03+ 0.03(X.6)(CAL 10.2))

Selain dari itu,

Koreksi 16 normal (R16) terhadap Efek Lubang Sumur.

Koreksi Spherically Focused Log (SFL) terhadap Efek Lubang Sumur

Koreksi Micro-Spherically Focused Log (MSF) terhadap Efek Lubang Sumur

Koreksi Micro-Laterolog (MLL) terhadap Efek Lubang Sumur.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

36

Koreksi Compensated Neutron Log (CNL) terhadap Efek Lubang Sumur.

Koreksi Formation Density Compensated Log (FDC) terhadap Efek Lubang Sumur. Bila CAL 9 maka FDC FDC c = Selain diatas, FDC FDC 0.096 0.014CAL 0.00033CAL2 Koreksi Invasi untuk Induction Log Bila RESD < RESM dan bila RESM < RESS ,

Selain nilai di atas, maka G = 1 R t= G x RESD Koreksi Invasi untuk Laterolog

Perhitungan Diameter Invasi. Induction Log

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

37

Laterologs

Daftar Simbol CAL = pembacaan ukuran lubang dari caliper log (in.) RM = resistivity lumpur pada temperature formasi (F) RMC = resistivity mudcake pada temperatur formasi (F) MW = berat lumpur (lb/gal) Hole Size = diameter sumur GR = pembacaan log gamma ray (API units) GRC = koreksi gamma ray corrected terhadap ukuran lubang sumur dan berat lumpur (API units) TF = temperatur formasi (F) SAL = salinity air formasi (ppm)/1000 PSI = tekanan pada kedalaman tertentu (pounds/in2) CNLC = koreksi CNL CNL = original CNL FDCC = koreksi FDC FDC = original FDC Di = diameter invasi (in) Rdeepc = koreksi deep Rdeep = original deep Rmedc = koreksi medium Rmed = original medium Rm Rmed = original medium Rshc = koreksi shallow Rsh = original shallow RESD = pembacaan log deep Rt = koreksi pembacaan log deep untuk invasi RESM = pembacaan log medium i RESS = pembacaan log shallow i RESD = pembacaan deep RESDC = koreksi pembacaan deep untuk invasion

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

38

BAB II

LOG LISTRIK (Spontaneous Potensial Log, Resistivty Log, Induction Log)


Spontaneous Potensial Log (SP log) Merupakan rekaman mengenai perbedaan arus listrik DC dalam millivolts antara potensial natural karena pergerakan elektroda dalam lubang bor dengan elektroda yang ditempatkan di permukaan. Harga SP log untuk serpih cenderung konstan (shale base line), lapisan permeabel ditandai dengan adanya defleksi SP log dari shale base line. Defleksi kurva SP log yang tergambar pada slip log akan memberikan bentuk-bentuk sebagai berikut: 1. Lurus dan biasa disebut dengan shale base line 2. Untuk lapisan yang permeabel (air asin), kurva SP log berkembang negatif (ke kiri) dari shale base line 3. Untuk lapisan permeabel (hidrokarbon), kurva SP log akan berkembang negatif (ke kiri) dari shale base line 4. Untuk lapisan permeabel (air tawar), kurva SP Log akan berkembang positif (ke kanan) dari shale base line Jenis log induksi yang sering digunakan adalah Induction Electrical Survey (IES). Alat ini dapat mendeteksi dengan baik konduktivitas formasi yang selanjutnya dikonversikan dalam satuan resistivity. Dengan demikian setiap pengukuran akan menghasilkan kurva-kurva: SP Log untuk menentukan lithologi Short normal resistivity (SN) untuk menentukan Rxo Induction Log resistivity (RIL) untuk menentukan Rt Prinsip dari log induksi (log resistivitas) adalah mengukur tahanan jenis formasi batuan dan fluida yang dikandungnya terhadap arus listrik yang melaluinya. Bentuk-bentuk kurva yang dihasilkan log induksi adalah: 1. Defleksi kurva RIL yang jauh lebih tinggi dari pada kurva SN menunjukkan bahwa salinitas air formasi lebih rendah dari pada air filtrat, sehingga kemungkinan mengandung gas. 2. Deflesi kurva RIL lebih besar sedikit atau lebih kecil sedikit ataupun sama juga dengan kurva SN, menunjukkan adanya minyak. 3. Bila kurva RIL jauh lebih rendah dari kurva SN serta mendekati garis shale (resistivity shale) berarti menunjukkan air asin, namun demikian harus

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

39

ditunjang dengan defleksi SP apakah positif atau negatif. Dimana defleksi positif berasosiasi dengan kandungan air tawar. SP Log dapat digunakan untuk menghitung atau mengetahui : Harga RW, Ketebalan lapisan porous, Korelasi Batuan, Evaluasi Vclay Resistivity log Resistivity Log adalah suatu alat yang dapat mengukur tahanan batuan formasi beserta isinya, yang mana tahanan ini tergantung pada porositas efektif, salinitas air formasi dan banyaknya hidrokarbon dalam pori-pori batuan. Induction Log Tujuan dari induction log adalah mendeteksi lapisan-lapisan tipis yang jauh untuk menentukan harga Rt dan korelasi, tanpa memandang jenis lumpur pemborannya. Langkah Kerja 1. Tentukan ketebalan yang dianalisa (per interval kedalaman) 2. Hitung temperatur formasi (Tf) (atau dengan grafik GEN-6) Tf = Ts +
BHT TS x Depth depth BHT

Gambar GEN 6

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

40

3. Tentukan Rm,Rmf dari log resistivity (18,8 normal) kemudian koreksi harga Rm dengan temperatur formasi Rmf = R chart x

TS Tf

Rmf corr = 0.75 x Rmf 4. Tentukan shale base line dari kurva SP log 5. Tentukan besarnya harga maksimum SP log sebagai ESP 6. Tentukan harga Ri dengan chart (Amp 18.8 N) 7. Dari harga
Ri Rmchart

diameter (di), ketebalan formasi

Tentukan faktor koreksi (Chart SP 4) untuk ESP, sehingga harga ESSP dapat dicari dengan persamaan: ESSP = ESP x Faktor koreksi

Gambar SP 4 8. Tentukan harga Kc Kc = 61 + (0.133 x Tf ) 9. Tentukan RWeq dengan menggunakan persamaan: Rmfc RWeq = ( ESSP / Kc ) 10 10. Tentukan Rw dengan menggunakan Chart SP-2

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

41

Gambar SP 2 11. Tentukan ASP dari chart (per interval kedalaman) 12. Tentukan nilai Vclay dengan persamaan : Vclay = 1 ASP ESSP

13. Tentukan Rm @ tf dengan persamaan : Rm @ tf = Rm @ Ts x

TS Tf

14. Tentukan Ri ( Ri = R 18.8 AMP )/ Rm chart 15. Tentukan

Ri corr Rm

dengan menggunakan (Chart SP 4)

16. Tentukan Rxo (resistivism pada invazed zone) dengan persamaan: Rxo =

Ri corr Rm

x Rm chart

17. Tentukan RIL dari chart dengan skala 0-20 18. Tentukan RIL corr dari grafik Rcorr-5

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

42

Gambar Rcorr 5 19. Tentukan Ca track dari chart dengan skala 0-1000 20. Tentukan CMGM dari grafik Rcorr-4 21. Tentukan Cin dengan persamaan: Cin = Ca track CMGM 22. Tentukan Rin dengan persamaan : 100 Rin = Cin 23. Tentukan Gxo dari (grafik 2-28) 24. Tentukan Rt dengan persamaan:

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

43

Rt =

1 G xo 1 RILcorr G xo R xo

Tabulasi Tabulasi Perhitungan Spontaneous Potensial Log (1) No. (2) Depth (ft) (3) Rm =R18.8" (m) (4) Rmf (m) (5) Rmfc (m) (6) Ri = R18.8"AMP (m) (7) K

Tabulasi Perhitungan Spontaneous Potensial Log (lanjutan) (8) ESP (Mv) (9) ESSP (Mv) (10) Kc (11) Rweq (m) (12) Rw (m) (13) ASP (14) Vclay

Tabulasi Perhitungan Log Induksi (1) Rm@Tf (m) (2) (Ri=R18.8")/Rm (m) (3) Ricorr/Rm (m) (4) Rxo (m) (5) RIL (6) RILcorr

Tabulasi Perhitungan Log Induksi (lanjutan) (7) Ca track (Mv) (8) CMGM (9) Cin (10) Rin (m) (11) Gxo (12) Rt (m)

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

44

BAB III

LOG RADIOAKTIF (Gamma Ray, Neutron, Density)


Gamma Ray Gamma Ray Log adalah suatu kurva yang menunjukkan besaran intensitas radioaktif yang ada dalam formasi. Prinsip kerja dari Gamma Ray log, yaitu alat mula-mula dimasukkan sampai ke dasar lubang bor, hal ini dilakukan untuk mengecek supaya tidak terjadi hambatan atau sangkutan. Kemudian alat ditarik ke atas secara perlahan-lahan dan detector menangkap radiasi sinar radioaktif alamiah yang dipancarkan batuan formasi. Di dalam detector sinar radioaktif (sinar gamma) tidak dapat diukur secara langsung tetapi melalui proses ionisasi (pelepasan elektronelektron dari atom yang sebelumnya netral, dimana pelepasan electron ini akan menimbulkan arus listrik yang dideteksi oleh alat). Sinar radioaktif disebabkan oleh disintegrasi unsur-unsur radioaktif, seperti: Uranium (U238), Thorium (Th232), Potassium (K40). Fungsi dari Gamma Ray Log , antara lain: 1. Membedakan lapisan shale dan non shale pada sumur open hole atau closed hole dan juga pada kondisi ada lumpur maupun tidak. 2. Sebagai pengganti SP log untuk pendeteksian lapisan permeable, karena untuk formasi yang tidak terlalu resesif (Rw/Rmf) hasil SP log tidak akurat. 3. Untuk korelasi batuan. 4. Untuk mengetahui prosentase kandungan shale pada lapisan permeable. 5. Untuk mendeteksi mineral-mineral radioaktif. 6. Untuk menentukan kedalaman perforasi yang telah diinjeksi air. Neutron Bertujuan untuk menentukan porositas total batuan, yang diisi hidrokarbon atau air formasi. Log ini dapat digunakan pada Cased hole maupun Open hole, umumnya digunakan pada open hole, untuk penggunaan cased hole harus dilakukan koreksi. Log ini dapat digunakan untuk semua jenis lumpur dan gas filled hole. Ukuran lubang bor dan semen di belakang casing akan mengurangi ketelitian Neutron log. Fungsi dari Neutron Log, antara lain: 1. Untuk menentukan porositas ( ) total. 2. Untuk mendeteksi adanya formasi gas setelah dikombinasikan dengan porosity tool 3. Untuk penentuan korelasi batuan.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

45

Log neutron adalah log pororitas yang mengukur konsentrasi ion hidrogen dalam formasi. Pada formasi bersih (clean formation) yang bebas dari shale, dimana porositasnya terisi oleh air atau minyak, log neutron akan mengukur porositas dari bagian yang terisi fluida. Neutron dibuat dari bahan kimia yang biasanya adalah campuran americium dan beryllium yang akan terus-menerus memancarkan neutron. Neutron-neutron ini akan bertabrakan dengan atom-atom dari material formasi, dan mengakibatkan neutron akan kehilangan sebagian energinya. Karena massa atom hidrogen hampir sama dengan neutron, kehilangan energi terbesar akan terjadi bila keduanya bertabrakan. Kehilangan energi terbesar adalah fungsi (pengaruh) dari konsentrasi hidrogen dalam formasi. Karena hidrogen dalam formasi berada di poripori yang terisi fluida, kehilangan energi akan berhubungan dengan porositas formasi. Bila pori-pori terisi oleh gas, maka porositas neutronnya akan lebih kecil dibandingkan bila pori-pori terisi oleh minyak atau air. Hal ini terjadi karena konsentrasi hidrogen pada gas lebih kecil dibandingkan yang terdapat pada minyak maupun air. Penurunan porositas neutron yang disebabkan oleh gak ini disebut efek gas. Respon dari log neutron bervariasi, tergantung pada : 1. Perbedaan tipe detektor, 2. Jarak antara sumber neutron dan detektor 3. Litologi, misalnya sandstone, limestone dan dolomit. Dengan adanya perbedaan ini, maka digunakan chart yang berbeda, sesuai dengan alat dan kondisi yang ada. Interpretasi harus dilakukan pada chart yang spesifik karena log neutron tidak dikalibrasi pada kondisi fisik alat yang standard, seperti alat-alat lainnya. Log neutron modern pertama adalah Sidewall Neutron Log (SNL) memiliki sepasang sumber (source) dan detektor yang kedua pasang alat tersebut diletakkan bertolak belakang satu sama lain. Compensated Neutron Log (CNL) memiliki sebuah source dan dua buah detektor. Keuntungan dari CNL dibandingkan SNP adalah lebih sedikit terpengaruh oleh ketidakseragaman lubang bor. Kedua alat tersebut dapat merekam porositas dalam satuan apparent limestone, sandstone maupun dolomit. Bila formasi yang kita ukur adalah limestone dan log neutron mengukur porositas dalam satuan apparent limestone, maka apparent limestone tersebut sama nilainya dengan porositas yang sesungguhnya. Akan tetapi, bila ternyata litologi dari formasi tersebut berupa sandstone atau dolomit, porositas apparent limestone harus dikoreksi menjadi porositas sesungguhnya dengan menggunakan chart yang bersesuaian

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

46

Gambar Sidewall Neutron Log (SNL)

Gambar Compensated Neutron Log (CNL) Log Density Log Density menunjukkan besarnya densitas (bulk density) dari batuan yang ditembus lubang bor, berguna untuk menentukan besarnya porositas. Prinsip kerja

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

47

dari log Density, yaitu: Sumber dan dua detector dipasang pada suatu pad dan ditempelkan pada dinding lubang bor. Sinar gamma yang kuat dipancarkan ke formasi. Sinar gamma ray akan bertabrakan dengan elektron, kemudian dipantulkan kembali dan terekam dalam log. Banyaknya energi yang hilang akibat tumbukan dengan elektron dalam formasi menunjukkan densitas elektron dalam batuan. Fungsi dari formation Density Log, antara lain : 1. Untuk mengukur porositas () batuan. 2. Untuk mengidentifikasi mineral batuan. 3. Untuk mengevaluasi shally sand dan litologi yang kompak. Peralatan log density adalah alat yang terdiri atas source gamma-ray yang memancarkan gamma-ray ke formasi. Sumbernya dapat berupa Cobalt-60 atau Cesium-137. Gamma ray bertabrakan dengan elektron di dalam formasi yang menyebabkan hilangnya energi dari partikel gamma-ray). Untuk menentukan densitas porositas, baik dengan menggunakan chart maupun dengan perhitungan, membutuhkan data tipe fluida dalam lubang bor. Persamaan untuk menghitung densitas porositas, adalah sebagai berikut: D = Keterangan :
D

ma b f

= porositas yang diperoleh dari densitas = densitas matriks (Tabel) = densitas bulk formasi = densitas fluida (1.1 salt mud, 1.0 fresh mud dan 0.7 gas)

Bila terjadi invasi yang dangkal pada formasi, rendahnya densitas hidrokarbon pada formasi akan meningkatkan porositas density. Keberadaan minyak tidak memberikan efek yang signifikan pada porositas density, akan tetapi gas memberikan efek yang besar (efek gas). Tabel Densitas matriks pada litologi

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

48

Gambar Chart untuk melakukan konversi densitas bulk (b) Menjadi porositas ( ) menggunakan nilai yang diambil dari log density Kombinasi Neutron-Density Log kombinasi neutron-density Log adalah kombinasi dari log porositas. Selain digunakan sebagai pengukur porositas, digunakan juga untuk menentukan litologi dan mendeteksi zona gas. Kedua log neutron dan density, umumnya direkam dalam satuan porositas limestone. Porositas sebenarnya dapat ditentukan dengan cara : Baca porositas limestone apparent dari kurva neutron dan density. Nilai-nilai tersebut di plot silang (cross plot) pada chart porositas neutrondensity untuk memperoleh porositas yang benar. Porositas dari log neutron-density dapat ditentukan dengan cara matematis. Salah satu alternatif dalam penentuan porositas density adalah dengan menggunakan persamaan akar rata-rata (root mean square) sebagai berikut :

Keterangan
N D N D

= porositas neutron density = porositas neutron density (unit limestone) = porositas density (unit limestone)

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

49

Bila log neutron-density merekam porositas density yang bernilai lebih kecil dari 0.0 (nilai yang umum dijumpai pada reservoir anhydritic dolomite), gunakan persamaanberikut ini :

Gambar Contoh kombinasi log neutron-density dengan log gamma-ray dan kaliper.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

50

Gambar Chart untuk melakukan koreksi porositas dari log neutron-density terhadap litologi, dimana digunakan fresh water-based drilling mud

Gambar Chart untuk melakukan koreksi porositas dari log neutron-density terhadap litologi, dimana digunakan salt water-based drilling mud Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

51

Langkah Kerja Gamma Ray Log 1. Tentukan ketebalan lapisan yang di analisa (per interval kedalaman) 2. Tentukan besarnya GRmax. 3. Membaca nilai GRmax dan GRmin dari slip log gamma ray. 4. Membaca besarnya defleksi kurva GRlog sebagai GRread untuk setiap interval kedalaman yang dianalisa. 5. Tentukan besarnya volume clay dengan persamaan : GRread GRmin Vclay = GRmax GRmin , kemudian plot dalam track log Neutron Log 1. Tentukan ketebalan lapisan yang dianalisa (per interval kedalaman) 2. Tentukan besarnya defleksi kurva neutron log (Nlog) untuk setiap interval kedalaman. 3. Tentukan besarnya harga Nclay. 4. Tentukan besarnya porositas neutron (N) dengan persamaan : N = (1,02 x Nlog) + 0,00425 5. Hitung Ncorr dengan persamaan : Ncorr = N ( Vclay x Nclay ), kemudian plot dalam track log Density Log 1. Pada ketebalan lapisan dan interval ketebalan yang sama, Tentukan b dari defleksi kurva density log untuk setiap interval kedalaman. 2. Tentukan ma = 2,71 gr/cc untuk limestone, Sandtone 2.648 gr/cc, Dolomit 2.876 gr/cc, Anhydrit 2.977 gr/cc, Salt 2.032 gr/cc, f = 1,1 gr/cc (saltwater), 3. Tentukan FDL dengan persamaan : FDL =
ma ma b f

4. Tentukan Dclay dengan clay = 2,6 gr/cc (berdasarkan kurva density log): Dclay =
ma ma clay f

5. Tentukan harga FDLcorr dengan persamaan: FDLcorr = FDL (Vclay x Dclay) 6. Tentukan porositas rata-rata dari neutron log dan density log dengan persamaan :

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

52

= Tabulasi

N corr 7 9

FDLcorr

, kemudian plot dalam track log

Tabulasi Perhitungan Log Radioaktif


(1) No. (2) Kedalaman (ft) (3) GRmax (API) (4) GRmin (API) (5) GRread (API) (6) Vclay (7) Nclay (8) Nlog (9) N

Tabulasi Perhitungan Log Radioaktif (lanjutan)


(10) No. (11) Kedalaman (ft) (12) Ncorr (13)
b

(14) clay

(15) Dclay

(16) FDL

(17) FDLcorr

(18) *

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

53

BAB IV

LOG TAMBAHAN (Sonic Log, Caliper Log)


Sonic Log Sonic log adalah log porositas yang mengukur interval transite time (t) dari gelombang suara yang melewati setiap feet dari formasi. Sonic Log menggunakan pemancar dan penerima yang dipisahkan pada jarak tertentu. Prinsip kerja dari Sonic log, adalah sebuah transmitter melepaskan gelombang suara ke formasi, setelah melewati formasi diterima dua receiver. Perbedaan waktu tiba gelombang (two way travel time = t) diukur dan dibagi dengan jarak (s/m). Melakukan hal serupa untuk arah yang sebaliknya untuk menghilangkan efek lubang bor. Nilai besarnya (Interval Transit Time - t) yang melalui beberapa matriks dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel Nilai besarnya (Interval Transit Time-t) yang melalui beberapa matriks

Faktor-faktor mempengaruhi pengukuran (t), yaitu : 1. Shale, batuan shale mempunyai porositas besar, walaupun permeabilitasnya mendekati harga nol. Sehingga batuan yang mengandung shale mempunyai harga t semakin besar. 2. Kekompakan Batuan, kekompakan batuan akan memperkecil porositas, sehingga kurva t akan semakin rendah. 3. Kandungan air, adanya kandungan air dalam batuan menyebabkan kurva t cenderung mempunyai harga yang semakin besar. 4. Kandungan minyak, air (terutama air asin) mempunyai sifat penghantar suara yang lebih baik dibanding dengan minyak, sehingga adanya minyak dalam batuan akan berpengaruh memperkecil harga t. 5. Kandungan gas, gas (hidrokarbon ringan) akan membuat transite time menjadi lebih besar, sehingga seringkali sonic log juga digunakan sebagai indikator yang cukup bagus untuk mendeteksi adanya gas.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

54

Acoustic Log Lithology

Gambar Hasil Pencatatan Litologi dengan Acoustic Logging (1. Sandstone, 2. Anhydrite, 3. Shale, 4. Salt) Sonic log memiliki kegunaan antara lain : 1. Kalibrasi data seismik 2. Evaluasi porositas sekunder (dikombinasikan dengan neutron log/density log). 3. Menghitung porositas pada lapisan yang diketahui jenis lithologinya. Caliper Log Caliper Log adalah alat untuk mengukur bentuk dan diameter lubang bor. Alat ini terdiri dari 2, 4, atau lebih lengan. Lengan dapat bergerak menyesuaikan lubang bor pada saat diturunkan dan ditarik, terdapat apotentiometer yang berfungsi untuk mengubah pengukuran menjadi sinyal listrik. Perekaman log ditampilkan dalam track 1 dari log bersamaan dengan ukuran bit. Skala pada umumnya diberikan dalam inci, yang standar untuk mengukur ukuran bit.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

55

Gambar Caliper Track Log dan Bit Track Log Record (2 lengan)

Gambar Caliper Track Log dan Lubang Bor Track Log Record (4 lengan) Perbedaan tekanan hidrostatik lumpur dengan tekanan formasi, mengakibatkan terjadinya mud cake dan filtrat lumpur. Semakin porous suatu lapisan maka mud cake akan semakin tebal. Mud cake akan memperkecil diameter lubang bor dan ini akan direkam oleh Caliper log. Record Caliper log akan terlihat jelas diameter lubang bor pada lapisan permeabel akan lebih kecil dari pada ukuran pahat yang digunakan, sedangkan pada lapisan shale/clay kondisi lubang bornya lebih besar dari pada ukuran pahatnya, ini menunjukan bahwa pada lapisan shale sering terjadi keruntuhan.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

56

Adapun manfaat dari caliper log, antara lain : 1. Menentukan atau memperkirakan lithologi batuan 2. Untuk perhitungan kecepatan lumpur di annulus, dalam hubungannya dengan pengangkatan cutting 3. Menentukan letak dari setting packer yang tepat pada operasi DST 4. Membantu interperasi log listrik dengan memberikan ukuran lubang bor yang tepat, karena ukuran lubang bor yang digunakan pada interpretasi log listrik biasanya diasumsikan sama dengan ukuran pahatnya. 5. Untuk estimasi ketebalan mud cake di depan zone permeabel yang akan memberikan dukungan pada analisa logging secara kualitatif. Berikut beberapa tabulasi faktor-faktor yang mempengaruhi analisa dan jenis indikasi litologi serta respon yang diperoleh dari caliper log Tabel Faktor yang Mempengaruhi Respon Caliper Log

Gambar Bentuk Respon Caliper Log untuk Beberapa Variasi Litologi Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

57

Langkah Kerja Sonic Log (Analitik) 1. Tentukan ketebalan yang dianalisa (per interval kedalaman) 2. Tentukan lapisan prospek 3. Membaca besarnya interval transite time (
t

) dari defleksi kurva sonic log

untuk setiap interval kedalaman yang dianalisa (symbol : tlog) 4. Tentukan jenis formasinya ( tma ) dan jenis fluidanya( t f ). 5. Hitung besarnya porositas dari sonic log ( s) dengan menggunakan persamaan

t log
S

t ma t ma

tf

6. Mentabulasikannya , kemudian plot dalam track log Sonic Log (Grafik) Untuk Analisa Sonic Log dengan pendekatan menggunakan grafik, dapat dipakai Tabel Interval Transit Time dan Chart Por-3. Chart Por-3 digunakan untuk mengkonversikan interval waktu transit (t) pada log sonik menjadi porositas ( ). Ada dua set garis pada chart tersebut, yang berwarna biru diperoleh dari weightedaverage transform, sedang yang merah berasal dari observasi empiris. Untuk keduanya, fluida yang tersaturasi diasumsikan sebagai air dengan velocity 5300 ft/sec atau 1615 m/sec. 1. Masukkan t dari log sonik pada bagian bawah chart. 2. Tarik garis ke atas hingga bertemu dengan matrix velocity atau litologi yang bersesuaian, lalu baca porositasnya pada bagian kiri chart. 3. Untuk batuan campuran seperti sandstone yang mengandung limestone (limy sandstone) maupun cherty dolomites, diperlukan garis-garis diantara matriks yang telah ditunjukkan. Ketika menggunakan weighted-average transform pada unconsolidated sand harus dibuat koreksi kompaksi (Bcp). 1. Masukkan t, tarik ke atas hingga bertemu dengan garis koreksi kompaksi yang bersesuaian 2. Baca porositas pada bagian kiri chart, kemudian plot dalam track log 3. Bila koreksi kompaksi tidak diketahui, dapat ditentukan dengan cara kebalikannya, dari lapisan clean water sand yang porositasnya telah diketahui

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

58

Gambar Por-3 Caliper Log 1. Tentukan ketebalan yang dianalisa (per interval kedalaman) 2. Tentukan besarnya diameter bit yang digunakan. 3. Baca besarnya defleksi kurva capiler untuk setiap interval kedalaman yang dianalisis. 4. Hitung besarnya tebal mud cake (tmc) setiap kedalaman dengan persamaan :

t mc

bit size caliper 2

5. Hitung volume lubang bor dengan persamaan Vh = (Dh2/2) + 1.2% (dalam satuan liter per meter) 6. Hitung volume semen yang dibutuhkan dengan persamaan Vsemen = 0.5 x (dh2 - d2casing) + 1% (dalam satuan liter per meter)

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

59

Tabulasi Tabulasi Perhitungan Jenis Log Lainnya (Sonic Log dan Caliper Log) (1) No (2) Depth (ft) (3) tma (sec/ft) (4) tf (sec/ft) (5) tlog (sec/ft)

Tabulasi Perhitungan Jenis Log Lainnya (Sonic Log dan Caliper Log) (lanjutan) (6) No (7) Depth (ft) (8) s (%) (9) Bit Size (inchi) (10) Caliper (inchi) (11) tmc (inchi) (12) Vh (lt/m) (13) Vsemen (lt/m)

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

60

BAB V

LITOLOGI LOGGING

Dalam penilaian formasi hampir tidak ada analisa litologi dan besaran pengukuran formasi secara langsung sehingga diperlukan solusi simultan untuk memperkirakan litologi. Pendekatan dilakukan dengan merepresentasikannya dalam bentuk plot silang (cross-plot), terutama neutron density cross-plot dan berbagai plot lainnya (M-/N plot oleh Burke et. al. (1969) atau MID plot oleh Clavier & Rust (1976)) yang menambahkan pula sonic travel time untuk mengidentifikasi volume mineral. Seperti halnya plot M-N, plot MID (Matrix Identification) adalah sebuah teknik plot silang yang membantu mengidentifikasikan litologi, gas dan secondary porosity. Plot MID ini juga membutuhkan data dari log neutron, density dan sonic. Plot Litologi M - N Plot M-N membutuhkan log sonic yang digabungkan dengan log neutron dan density. Nilai M dan N tidak bergantung pada porositas matriks (sucrosic dan intergranular). Plot silang dari kedua variabel ini akan menghasilkan litologi yang lebih baik. Nilai M dan N dihitung dengan menggunakan persamaan:

Keterangan tf = waktu interval transit dari fluida (189 untuk fresh mud dan 185 untuk salt mud) t = waktu interval transit dari log t = densitas fluida (1.0 untuk fresh mud dan 1.1 untuk salt mud) b = densitas bulk formasi N = porositas neutron formasi dari log Compensated Neutron atau log Sidewall Neutron Porosity Nf = porositas neutron fluida (gunakan 1.0) Bila digunakan parameter matriks tma, ma, Nma, maka nilai M dan N dapat ditentukan untuk berbagai jenis mineral seperti pada tabel berikut :

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

61

Tabel Koefisien Matriks Batuan dan Fluida untuk Beberapa Mineral dan Tipe Porositas (Lubang Bor Terisi Cairan)

Tabel Harga Konstanta M* dan N*, dihitung berdasarkan Beberapa Mineral

Plot Litologi MID Tabel berikut ini digunakan untuk densitas fluida, f (selain 1.0 g/cm3), mengkoreksi apparent total porosity dengan faktor pengali pada tabel sebelum dimasukkan ke dalam angka densitas pada analisa MID Plot. Tabel Faktor Koreksi
Kerapatan Jenis Fluida (f) Faktor Pengali

1 1.05 1.1 1.15

1 0.98 0.95 0.93

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

62

Langkah pertama dalam membuat plot MID adalah menentukan nilai dari porositas total apparent, ta, dengan menggunakan log neutron-density yang bersesuaian dan ditentukan secara empiris dengan menggunakan plot silang neutron-sonic (Chart CP1 dan CP-2 Schlumberger).

Keterangan b t f tf ta c = densitas batuan dari log density = waktu interval transit dari log sonic = densitas fluida dalam pori = waktu transit fluida dalam pori = porositas totoal apparent = konstanta (68.0c).

Porositas total apparent biasanya tidak sama untuk setiap persamaan. Untuk digunakan dalam persamaan tmaa, nilainya ditentukan dari plot silang neutron-sonic (Chart CP-2). Untuk penggunaan dalam maa, nilai porositas total apparent ditentukan dari plot silang neutron-density (Chart CP-1). Chart CP-14 dapat digunakan untuk memperoleh nilai maa secara grafis dan untuk memperoleh nilai tmaa menggunakan hubungan waktu transit terhadap porositas berdasarkan pengamatan di lapangan. Bagian kanan atas dari chart digunakan untuk menentukan waktu interval transit batuan, tmaa. Bagian kiri bawah, untuk menentukan densitas apparent batuan, maa.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

63

Gambar Penentuan Parameter Matriks Apparent dari Densitas Bulk / Waktu Interval Transit dan Total Porositas Apparent Densitas Fluida = 1 (CP-14) Plot silang dari waktu interval transit batuan dan densitas apparent batuan pada plot MID akan mengidentifikasikan mineralogi batuan berdasarkan kedekatannya pada titik-titik pada plot yang telah di beri label. Pada Chart CP-15, mineral matriks yang umum dijumpai (quatrz, calcite, dolomite, anhydrite) telah diplot di dalamnya. Kecenderungan litologi dapat dilihat dengan melakukan plot pada banyak level pada suatu zona dan melihat kecenderungan mengumpulnya titik-titik mineral pada chart. Kehadiran gas menggeser titik yang telah diplot ke arah kanan atas plot MID. Adanya secondary porosity akan menggeser titik ke arah berkurangnya nilai tmaa, yaitu ke arah kiri. Untuk log SNP, shale biasanya diplot pada bagian sebelah kanan anhydrite pada plot MID. Untuk log CNL, shale biasanya diplot pada bagian atas daerah titik anhydrite. Plot sulfur berada diluar plot, pada 122tmaa dan 02.2maa. Arah dari titik sulfur dari grup quartz, calcite, dolomite, anhydrite, kira-kira searah dengan pergeseran akibat kehadiran gas. Gipsum di plot pada bagian kiri bawah plot MID.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

64

Gambar Plot MID (Matrix Identification) Konsep plot MID ini serupa dengan plot M-N. Sebagai alternatif menghitung nilai M dan N, nilai maa dan tmaa dapat ditentukan dengan menggunakan Chart CP-14. Untuk memperoleh hasil yang lebih akurat, pembacaan log harus disesuaikan dan dikoreksi terhadap pengaruh lubang bor, dan lainnya. Plot MID maa vs Umaa Teknik plot silang lain yang digunakan untuk mengidentifikasikan litologi adalah dengan menggunakan log Litho-Density. Plot ini menyilangkan matrix grain density, maa, dan apparent matrix volumetric cross section, Umaa (dalam satuan barns per sentimeter kubik). Chart CP-1 dan CP-14 digunakan untuk penentuan ini. Apparent matrix volumetric cross section dihitung dari indeks photoelectric cross section dan pengukuran densitas bulk

Keterangan Pe = Indeks photoelectric absorption cross section

e = densitas elektron ta = porositas total apparent

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

65

Porositas total apparent dapat diestimasikan dari plot silang density-neutron, bila formasi terisi fluida. Chart CP-20 digunakan untuk memperoleh hasil Umaa secara grafis.

Gambar Plot Matrix Identification maa vs Umaa (CP-20) Tabel dibawah adalah daftar indeks photoelectric absorption cross section, densitas bulk dan volumetric cross section untuk mineral dan fluida yang umum. Untuk mineral, nilai daftar adalah matrix value Uma, ma untuk fluida, daftarnya adalah Uf, f. Chart-21 menunjukkan lokasi mineral-mineral pada plot silang maa vs Umaa. Segitiga menunjukkan tiga buah matriks yang umum, yaitu quartz, calcite dan dolomite, yang diskalakan berdasarkan persentasi mineral tersebut. Sebagai contoh, titik yang berada pada apparent matrix grain density 2.76 gr/cm2 dan volumetric cross section 10.2 barns/cm3, pada plot silang didefinisikan sebagai 40% calcite, 40% dolomite dan 20% quartz, sehingga tidak terdapat mineral lain dan pori-pori terisi fluida. Pada plot silang ini, saturasi gas menggeser titik ke arah atas chart dan mineral berat menggeser titik ke arah kanan. Plot clay dan shale berada dibagian bawah titik dolomite.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

66

Tabel Indeks Photoelectric Absorption Cross Section, Density Bulk dan Volumetric Cross Section Untuk Mineral dan Fluida yang Umum

Gambar Plot MID (Matrix Identification)

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

67

Tabel Analisa Kimia Mineral Lempung

Gambar Deskripsi Litologi Menggunakan Kombinasi Log Porositas Metode Analisa dan Perhitungan M - N plot MID plot Litho - Density - Neutron Plot PLOT MID maa vs Umaa

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

68

Untuk M-N dan MID plot diperlukan data dari Density, Neutron dan Sonic Log, untuk Litho-Density-Neutron Plot diperlukan data dari Litho, Density dan Neutron. Langkah Kerja Data pendukung : Kerapatan jenis fluida (f ) Porositas neutron fluida (Nf ) Jenis lumpur yang digunakan Waktu perambatan gelombang suara di dalam fluida (tf) Metode M-N Plot 1. Baca defleksi Log Density (b), Log Neutron (N) dan Log Sonic (t) 2. Hitung harga M dan N berdasarkan rumus berikut M = 0.01 N= t, b dan N adalah harga t, b dan N pada langkah 2. Harga f = 1.0 , Nf = 1.0 dan tf = 189 sec/ft untuk lumpur bor dengan dasar air tawar. Harga f = 1.1, Nf = 1.0 dan tf = 185 sec/ft untuk lumpur bor dengan dasar air asin. 3. Gunakan (dari buku Schlumberger Log Interpretation Charts, 1997 CP8) yaitu hasil plot M dan N untuk mengidentifikasi campuran mineral pembentuk batuan dan komposisinya. 4. Plot harga M dan N pada M-N Plot Tentukan perbandingan komposisi mineral pembentuk batuan tersebut berdasarkan posisinya di dalam mineral triangle yang dibentuk oleh kombinasi mineral dolomit, kalsit, anhidrit atau dolomit, kalsit, silika. o Jika plot M-N jatuh pada garis sisi segitiga, maka batuan tersebut mempunyai komposisi yang terdiri atas dua mineral dengan besarnya prosentase ditentukan oleh letak titik tersebut terhadap ujung-ujung sisi segitiga tersebut. o Jika plot M-N jatuh di dalam segitiga maka batuan tersebut mempunyai komposisi yang terdiri dari tiga mineral dengan prosentase masingmasing mineral ditentukan oleh jarak relatif jauh dekatnya terhadap

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

69

sudut segitiga yang menyatakan komposisi tunggal (100%) mineral yang bersangkutan. o Jika plot M-N jatuh diluar mineral triangle penentuan mineral pembentuk batuan ditentukan dari jarak terdekat terhadap salah satu sudut mineral triangle dan daerah tertentu di dalam Chart CP 8. 5. Plot hasil analisa litologi dalam track log

M-N Plot (CP 8), M = 0.84 dan N = 0.48. Metode MID Plot 1. Baca defleksi Log Density-Neutron dan Log Neutron-Sonic. 2. Tentukan total apparent porosity (ta ) dengan menggunakan salah satu cara penentuan ta (lihat penentuan Porositas berdasarkan NDS), sesuai dengan data macam log yang tersedia pada langkah 1. 3. Tentukan harga kerapatan jenis (density), matrik batuan terbaca (maa) dengan menggunakan Chart CP 14. Masukkan harga b pada sumbu tegak disebelah kiri kemudian tarik garis mendatar sampai pada harga porositas total terbaca (ta); baca harga (maa) pada sumbu mendatar bawah. 4. Tentukan harga travel time gelombang suara dalam matrik terbaca (tmaa) dengan menggunakan Chart CP 14. Masukkan harga t pada sumbu tegak sebelah kanan Chart CP 14, kemudian tarik garis mendatar sampai harga porositas total terbaca (ta); baca harga (tmaa) pada sumbu mendatar atas.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

70

5. Plot harga (maa) dari langkah 3 dan harga (tmaa) dari langkah 4 pada MID plot Chart CP 15. Baca komposisi mineral pembentuk batuan dan plot hasil analisa dalam track log, contoh perhitungan: Lapisan 1 Lapisan 2 t = 67 sec/ft t = 63 sec/ft 3 b = 2.04 g/cm b = 2.46 g/cm3 CNL = -3 CNL = 24 p.u. didapat aND = -1 f = 1.0 g/cm3 aNS = -1 didapat aND = 21 dan tmaa = 66 sec/ft aNS = 21 3 maa = 2.03 g/cm dan tmaa = 43.5 sec/ft maa = 2.85 g/cm3 Sehingga komposisi untuk Lapisan 1 adalah garam, dan Lapisan 2 adalah dolomite

MID Plot Perhatikan alur plot untuk Lapisan 1 dan Lapisan 2 (CP 14)

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

71

Gambar MID Plot, CP 15, Plot untuk menentukan komposisi mineral Metode Litho Density - Neutron Plot 1. Siapkan data pendukung 2. Baca defleksi Log Litho (Pe), Log Density (b ) dan Log Neutron (N) 3. Masukkan harga N dan b pada salah satu gambar dari cara penentuan (ta) yang sesuai dan baca harga porositas total terbaca (ta) (penentuan Porositas berdasarkan NDS). 4. Tentukan harga densitas matrik batuan terbaca (maa) dengan menggunakan Chart CP 14 seperti pada langkah 3. 5. Baca harga apparent index absorbtion (Umaa) dari Chart CP 20). dengan memasukkan harga Pe, b kemudian ta (hasil langkah 3) seperti terlihat pada urutan arah panah di dalam Chart CP 20. 6. Dengan harga (Umaa) dari langkah 5 dan harga (maa) dari langkah 4, plot kedua besaran tersebut - U plot Chart CP 21. 7. Tentukan komposisi mineral pembentuk sebagai berikut : Jika hasil plot langkah 6 terletak di dalam segitiga komposisi, % komposisi masingmasing mineral dapat dibaca berdasarkan jarak relatif terhadap efeknya. Jika hasil plot jatuh di luar segitiga komposisi, secara kualitatif tidak dapat ditentukan komposisi mineralnya. Komposisi secara kualitatif

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

72

ditentukan berdasarkan letak hasil plot terhadap mineral-mineral di sekitarnya, contoh perhitungan: Pe = 3.65 b = 2.52 g/cm3 (f = 1.0 g/cm3) ta = 16% maa = 2.81 g/cm3 (CP 14) Dengan menggunakan Chart CP 20, didapat Umaa = 10.9, kemudian harga maa = 2.81 g/cm3 dan Umaa = 10.9 diplot ke Chart CP 21, didapat perkiraan komposisi adalah 60% dolomit dan 40% batugamping

Gambar Penentuan Apparent Index Absorbtion (Umaa) (CP 20)

Gambar Plot Identifikasi Litologi, CP 21, komposisi batuan 8. Plot hasil analisa litologi per interval kedalaman dalam track log

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

73

BAB VI

KOMBINASI LOG
Dalam melakukan kombinasi log, hal yang perlu diperhatikan adalah pemilihan jenis log yang akan dikombinasikan, sehingga dapat memperoleh hasil yang akurat. Kombinasi log yang optimum merupakan kombinasi log sumuran yang komposisi atau jumlah minimal, tetapi mampu menghasilkan data pengukuran yang akurat. Untuk mendapatkan suatu kombinasi log sumuran yang optimum, maka perlu dilakukan pemilihan terhadap berbagai jenis log sumuran yang tersedia di lapangan. Faktorfaktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan kombinasi logging open hole yang optimum adalah : 1. Jenis fluida (lumpur) pemboran yang digunakan (salt mud, water base mud, oil base mud). 2. Jenis formasi batuan yang ditembus lubang bor (sandstone, carbonat, vulcanic/tuff). 3. Karakteristik invasi filtrat lumpur. 4. Kondisi lubang bor (diameter lubang bor, cased hole, dan lain sebagainya). 5. Ketebalan lapisan batuan yang akan diukur logging. 6. Distribusi porositas dan resistivitas batuan. 7. Kondisi optimum dari setiap peralatan logging sumur yang ada. Komposisi kombinasi log minimal harus meliputi tiga jenis log, yaitu: 1. Log lithologi 2. Log resistivitas 3. Log porositas Dari ketiga kelompok log di atas, yang paling banyak dipengaruhi oleh fluida pemboran adalah log resistivitas (listrik). Dan alat logging dipergunakan untuk memperoleh data yang diperlukan dalam evaluasi formasi serta menentukan potensial produktivitas yang dimiliki. Potensial produksi dilakukan dengan cara pengujian terhadap lapisan yang diperkirakan mempunyai prospek kandungan hidrokarbon. Penilaian suatu lapangan ditujukan pada penentuan paramater fisik yang terdiri dari ketebalan lapisan, permeabilitas, porositas, dan kandungan minyak. Metode interpretasi log ada dua : 1. Metode kualitatif. 2. Metode kuantitatif (Quick look dan Detailed Evaluation).

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

74

Tujuan Analisis Kombinasi log dapat digunakan untuk : 1. Menentukan lapisan yang mengandung unsur hidrokarbon. 2. Menentukan permeabilitas batuan. 3. Menentukan porositas. 4. Mendapatkan kepastian jenis formasinya. Kombinasi log ini merupakan gabungan dari aplikasi log listrik, log induksi dan log radioaktif. Dalam metode Kuantitatif, tujuan yang akan dicapai adalah: 1. Ketebalan lapisan porous dan permeable (SP log, Caliper dan GR log). 2. Kandungan fluida dalam batuan (IES, FDC-CNL). 3. Jenis lithologi (Density log, Neutron log dan Sonic log). Penentuan Saturasi Air Metode yang digunakan terdiri dari : 1. Saturasi air dari metode Archie 2. Saturasi air dari metode Simandoux 3. Saturasi air dari metode Waxman-Smits (CEC) 4. Saturasi air dari metode Waxman-Smits-Juhasz 5. Saturasi air dari bulk volume water 6. Persamaan Indonesia Water Saturation untuk dispersed shaly sand 7. Saturasi air dari metode Ratio 8. Saturasi air dari metode Poupon untuk laminated sand 9. Saturasi air dari metode Modified Simandoux untuk laminated sand 10. Water saturation Smoothing Saturasi Air dari Metode Archie

Sw Rw Rt a m n

= saturasi air dari zona uninvaded (metode Archie) = resistivity formasi air pada temperatur formasi = true resistivity dari formasi (koreksi invasi dari ILd R atau LLd R ) = porositas = faktor turtuosity = eksponen sementasi = eksponen saturasi, bervariasi dari 1.8 hingga 2.5. Nilai normalnya 2.0

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

75

Saturasi air pada zona univaded (Sw), yang dihitung dengan menggunakan persamaan Archie, adalah parameter paling fundamental dalam evaluasi log. Tapi, walaupun saturasi zona air diketahui, informasi itu tidak cukup untuk mengevaluasi potensi produktivitas suatu zona. Harus diketahui pula: 1. Saturasi air cukup rendah untuk dilakukan komplesi bebas air (water-free completion) 2. Fluida hidrokarbon yang ada dapat bergerak (movable) 3. Zona permeabel 4. Cadangan hidrokarbon yang ada ekonomis dan dapat diproduksikan (recoverable)

Sxo Rmf Rxo a m n

= saturasi air dari flushed zone (metode Archie) = resistivity formasi air pada temperatur formasi = shallow resistivity dari Laterolog-8, Microspherical Focused Log atau Microlaterolog = porositas = faktor turtuosity = eksponen sementasi = eksponen saturasi, bervariasi dari 1.8 hingga 2.5. Nilai normal 2

Saturasi air pada flushed zone (Sxo) dapat digunakan sebagai indikator dapat bergeraknya hidrokarbon (hydrocarbom moveability). Contohnya, bila nilai Sxo lebih besar dari Sw , maka hidrokarbon di flushed zone kemungkinan telah didorong dari dekat lubang bor oleh fluida pemboran yang menginvasi formasi. Saturasi Air dari Metode Simandoux Untuk formasi pasir dan clay, Simandoux menyarankan untuk menggunakan pesamaan konduktivitas sebagai berikut:

Cc

= konduktivitas dispersed clay

Bila digunakan eksponen saturasi sebesar n = 2.0, diasumsikan terbentuk sebuah persamaan parabolik, yang dapat ditulis sebagai

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

76

Dengan beberapa modifikasi matematis dan disubstitusikan ke dalam persamaan Tixier, menghasilkan persamaan saturasi air sebagai berikut:

Saturasi Air dari Metode Waxman-Smits (CEC) Metoda ini digunakan untuk dispersed clay, sebagai berikut:

dengan Q v dari persamaan Waxman & Thomas, sebagai berikut:

Keterangan Qv

= konsentrasi ion dalam air formasi yang kontak dengan clay (meg/ml) CEC = Cation Exchange Capacity (meg/gm) B = ekuivalen konduktansi untuk clay exchange sebagai fungsi dari Rw Metoda Waxman-Smits ini berlaku untuk berbagai salinitas air formasi Saturasi Air dari Metode Waxman-Smits-Juhasz

Bila Sw2 seperti di atas.

kemudian kembali lakukan perhitungan

Persamaan ini menormalisasi CEC dan membutuhkan iterasi untuk menemukan solusinya. keterangan : Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

77

d sh m n Rsh Rd Vsh Rwtf Sw 2

= porosity dari log density, belum dikoreksi terhadap shale = porositas shale total dari log density = eksponen sementasi, tanpa satuan = eksponen saturasi, tanpa satuan = resistivity pada shale bersih = pembacaan log deep resistivity = volume shale, fraksi = resistivity air pada temperatur formasi = saturasi air dengan metoda Juhasz, fraksi

Saturasi Air dari Volume Air Bulk (Bulk Volume Water) Hasil dari saturasi air formasi dan porositas () adalah volume air bulk (BVW), sebagi berikut:

Keterangan BVW = volume bulk air Sw = saturasi air di uninvaded zone (persamaan Archie) = porositas Bila hasil perhitungan untuk volume air bulk dilakukan disuatu formasi pada beberapa kedalaman, memberikan hasil yang konstan atau dengan perbedaan yang sangat kecil, mengindikasikan zona tersebut homogen dan berada pada saturasi air irreducible (irreducible water saturation, Swirr). Bila suatu zona berada pada saturasi air irreducible, air yang terhitung di zona uninvaded (Sw) tidak akan bergerak, karena tertahan di dalam batuan oleh tekanan kapiler. Akibatnya, produksi hidrokarbon dari zona pada saturasi air irreducible akan bebas air. Formasi yang tidak berada pada kondisi saturasi air irreducible akan memiliki nilai saturasi air bulk yang bervariasi. Karena jumlah air yang dapat ditampung dalam batuan berbanding terbalik dengan ukuran grain, maka volume air bulk akan berbanding terbalik dengan ukuran grain. Indonesian Water Saturation Untuk Dispersed Shaly Sands

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

78

Keterangan a m n e Rd Rsh Rwtf Swi Vsh = eksponen tortuosity, tanpa satuan = eksponen sementasi, tanpa satuan = eksponen saturasi, tanpa satuan = porositas efektif, fraksi = pembacaan log deep resistivity = resistivity shale (ohm-m) = resistivity air pada temperatur formasi = saturasi air toal (fraksi) = volume shale (fraksi)

Saturasi Air dari Metode Ratio

Keterangan n Rd Rxo Rmf@ft Rw@ft Swr = eksponen saturasi, tanpa satuan = pembacaan log deep resistivity, (ohm-m) = pembacaan log shallow resistivity, (ohm-m) = resistivity filtrat lumpur pada temperatur formasi = resistivity air pada temperatur formasi = saturasi air dari metode ratio

Ketika tidak ada data porosity yang tersedia, saturasi dapat diperoleh dengan membandingkan log shallow resistivity dan deep resistivity. Formula ini belum terkoreksi terhadap shale Metode ini adalah cara terakhir untuk memperoleh saturasi bila tidak tersedia log porosity. 3.8. Saturasi Air dari Metode Poupon Untuk Laminated Sands Pada sistem laminated sandstone, Vsh = p

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

79

Keterangan a m n e Rd Rsh Rwtf Swi Vsh = eksponen tortuosity, tanpa satuan = eksponen sementasi, tanpa satuan = eksponen saturasi, tanpa satuan = porositas efektif, fraksi = pembacaan log deep resistivity = resistivity shale (ohm-m) = resistivity air pada temperatur formasi = saturasi air total (fraksi) = volume shale (fraksi)

Saturasi Air dari Metode modified Simandoux Untuk Laminated Sands

Keterangan a m n e Rd Rsh Rwtf Sw Sw1 Vsh = eksponen tortuosity, tanpa satuan = eksponen sementasi, tanpa satuan = eksponen saturasi, tanpa satuan = porositas efektif, fraksi = pembacaan log deep resistivity = resistivity shale (ohm-m) = resistivity air pada temperatur formasi = saturasi air total (fraksi) = saturasi air iterasi (fraksi) = volume shale (fraksi)

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

80

Water Saturation Smoothing Schlumberger penyarankan fungsi smoothing untuk mengurangi kesalahan statistikal pada data saturasi pada bagian atas dan bawah dari data tersebut

bila 0.75 < < 0.25 S w , nilai S w tidak berubah Keterangan Sw = saturasi air dari metode mana pun (fraksi) Hydraulic Flow Unit Kriteria pembagian atau pemilahan lapisan oleh ahli geologi biasanya didasarkan pada pengenalan facies yang mengidentifikasi batuan berdasarkan genesanya. Unit genesa yang didefinisikan oleh ahli geologi ini kadang-kadang sesuai dengan kebutuhan operasional bagi ahli reservoir karena batas batasnya bersesuaian dengan perubahan drastis kelakuan hidroliknya. Meskipun demikian hal initidak selalu terjadi sehingga diperlukan penajaman perhatian pada kelakuan hidrolik yang lebih rinci. Perlunya pemisahan pendekatan geologi dan engineering ini menggunakan konsep hydraulic flow unit. Flow unit didefinisikan sebagai suatu zona reservoir yang memiliki kemenerusan lateral, dimana didalamnya terkandung sifat geologi tentang aliran fluidanya konsisten dan berbeda dengan unit sekitarnya. Pada dasarnya yang memberi ciri aliran fluida pada batuan adalah besarnya pore-throat. Dengan demikian lebih spesifik lagi flow unit dapat diartikan sebagai zona yang didominasi oleh jari-jari pore-throat yang relatif serba sama, sehingga menunjukkan kelakuan aliran fluida yang konsisten. Mestinya flow unit dapat dicirikan dari kurva tekanan kapiler yang diukur pada contoh batuan inti atau pendekatan (approximation) rasio permeabilitas / porositas pada batuan non-granular. Pada bagian reservoir yang airnya tidak ikut terproduksi (water-free reservoir zone), penentuan flow unit dapat juga didasarkan pada perubahan drastis saturasi air irreducible yang mencerminkan perubahan drastis ukuran pore-throat-nya. Karena jarang tersedianya pengukuran tekanan kapiler dan data pore-throat, maka pemilahan flow unit seringkali didasarkan pada log wireline logs. Kandungan shale yang diukur dari log sinar Gamma atau log lain yang sensitif terhadap keberadaan shale umum Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

81

dipakai sebagai panduan pada reservoir klastik, tetapi menjadi kurang berperan pada reservoir karbonat. Untuk itu biasanya faktor photoelectric dapat dipakai untuk memerikan unit limestone dan dolomit yang menjadi tumpuan pemilahan flow unit. Persamaan Flow unit didasarkan pada persamaan modifikasi Kozeny-Carmen dan Konsep Radius Hidrolik Rata-rata (Mean Hydraulic Radius). dalam menganalisa flow unit dibutuhkan data dari core dan well log Langkah Kerja Prosedur yang digunakan dalam perhitungan ini menggunakan metode detailed evaluation yaitu dengan menggunakan schlumberger/indonesian equation. 1. Tentukan ketebalan lapisan yang dianalisa. 2. Tentukan Tf : Tf = Ts +

BHT Ts xDepth Analisa Depth BHT


Tukur 6,77 T f 6,77

3. Tentukan Rmf@Tf : Rmf@Tf = Rmf@Tukur x 4. Tentukan SSP dari SP Log 5. Tentukan Rw : SSP = -K Log

Rmfe R we

; dengan

Rmfe Rwe

Rmf Rw

SSP K
Rmf Rw
Rw =

Log
10
SSP K

Rmf Rw

Rmf 10
SSP K

Rw =

Rmf
SSP Tf 460 70 , 7 77 460

10 6. Tentukan Vclay a. Vshale Gamma Ray GRlog GRmin Vclay GR = GRmax GRmin
Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

82

b. Vclay SP Vclay SP = 17. Tentukan D : D =


ma ma b f

SP SSP

8. Tentukan DC: DC = D (Vclay x Dclay) Dclay =


ma ma clay f

9. Tentukan N: N = 1,02 Nlog + 0,0425 10. Tentukan NC: NC = N (Vclay x Nclay) 11. Tentukan porositas FDL-CNL (*):
*

NC

7 9

DC

12. Tentukan Sxo:


S XO R xo Vclay 1
Vclay 12 *

R clay

a R mf

Rxo dari chart LLS (short normal) Rclay dari chart LLD (Rt minimum) 13. Tentukan Shr: Shr = 1-Sxo 14. Tentukan porositas FDL-CNL *c
* C

NC

7 9

DC

1 0,1 S hr
1

15. Tentukan Sw:


Sw Rt Vclay
Vclay 12 * C

R clay

a Rw

16. Plot hasil analisa dalam track log

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

83

Langkah Kerja 1. Siapkan data permeabilitas (k), porositas (), tekanan kapiler (Pc) dan mineralogi 2. Lakukan perhitungan terhadap z, RQI, FZI dan R dengan persamaan berikut Z =

3. Plot antara log RQI vs log Z, log k vs log R, log k/ vs log R

4. Tentukan jumlah unit yang mengerjakan aplikasi statistik berikut ini: Histogram Test for normality Cluster analysis Error analysis 5. Karakterisasi unit-unit hidrolik Secara mineralogi dan secara tekstur Sensitivitas tekanan Pore throat geometry Modified J-function 6. Tampilkan hubungan antara variabel diatas dengan FZI 7. Hitung k

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

84

8. Plot ulang log k vs 9. Plot hasil analisa dalam track log Tabulasi 1 2 No Depth (m)

3 Tf (F)

4 SP

5 SSP

6 Rw

Vshale SP GR

9 10 D DC

11 Dsh

12 N

13 Nsh

14 NC

15 *

16 Rxo

17 Rsh

18 Shr

19 *corr

20 Sw

21 Z

22 RQI

23 FZI

24 R

25 k

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

85

BAB VII PENENTUAN CADANGAN

Log Interpretation (Clean Sand & Shaly Sand) Interpretasi Log Clean Sand Menentukan lapisan permeabel, lapisan mengandung hidrokarbon, untuk mencari harga-harga porositas batuan (), saturasi air (Sw) dan ketebalan efektif lapisan (h). Metode yang dipergunakan dengan menggunakan kualitatif dan kuantitatif, dibutukan rekaman log yang terdiri dari : a. Log SP dan/atau Log Gamma Ray b. Log shallow investigation, microlog (ML), proximity log (PL), c. microlaterolog (MLL), atau micro spherically focused log (MSFL). d. Log jangkauan menengah (medium investigation); short normal (R16), spherically focused log (SFL) dan LL8 e. Log jangkauan dalam (deep investigation); Log normal (R64), Induction log (LLD, 6FF40), atau laterolog (LL7, LL3, LLD), dan f. Log Sonic, log neutron atau log density. Batuan bersih (clean formation) adalah batuan endapan (sediment) termasuk dalam tipe quartzose yang tidak mengandung mineral lempung. Meskipun ada batuan pasir halus, limestone, dolomite, atau kapur yang mengganjal di pori-pori antar butir, masih dapat dikategorikan sebagai batuan bersih dalam interpretasi log, karena fokus disini adalah kelakuan bahan dalam kaitannya dengan kelistrikan (electricity). Dalam konteks ini lempung dianggap sebagai pengotor (impurities) karena kelakuan kelistrikannya berbeda dengan mineral mineral diatas. Dari log batuan demikian dapat dikenali dengan menilik bentuk dan alur defleksi SP yang dapat dijelaskan dengan teori elektro kimia. Pengenalan menurut log dapat dilakukan dengan melihat defleksi SP sesuai dengan teori elektrokimia. Secara fisik, batuan-bersih (clean formation) adalah batuan endapan (sediment), termasuk dalam tipe quartzose yang tidak mengandung mineral lempung. Meskipun sebenarnya dalam komposisi mengandung sandstone, limestone, dolomite, atau kapur yang mengganjal di poripori antar butir, mineral ini masih dapat dikategorikan sebagai batuan-bersih dalam interpretasi log, karena yang menjadi fokus disini adalah kelakuan mineral dalam kaitannya dengan kelistrikan (electricity). Dalam konteks ini lempung dianggap sebagai pengotor (impurities) karena kelakuan kelistrikannya berbeda dengan mineral lainnya. Dari log batuan demikian dapat dikenali dengan menilik bentuk dan alur defleksi SP yang dapat dijelaskan dengan teori elektro kimia

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

86

Langkah Kerja Metode Kualitatif 1. Dari rekaman log SP periksa apakah lapisan yang bersangkutan permeabel: o Tentukan garis shale (shale base line) dengan menarik satu garis yang menghubungkan harga-harga SP pada lapisan shale. Kemudian tentukan garis pasir bersih (clean sand line) dengan menarik garis lurus yang sejajar dengan lubang bor, dimulai pada formasi pasir dengan harga simpangan SP tertinggi (Penentuan Garis Shale dan Garis Pasir Bersih dari SP Log)

Penentuan Garis Shale dan Garis Pasir Bersih dari SP Log o Harga SP pada garis shale menunjukkan lapisan tidak porous dan permeabel. Penyimpangan harga SP kearah kiri atau kanan dari garis ini menunjukkan lapisan pasir atau lapisan karbonat yang porous dan permeabel. (Catatan : syarat-syarat untuk terjadinya penyimpangan SP dipenuhi) 2. Periksa bentuk dan kwalitas kurva SP untuk menentukan tipe batuan, dan proses pengendapan (tipe endapan).

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

87

Klasifikasi bentuk Kurva SP, Melihat Pola pengendapan

Tipikal Pola Log SP untuk Berbagai Jenis Endapan Sedimen

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

88

Tipikal Pola Log SP Pada Fasies Delta yang Bersifat "Constructional"

Tipikal Pola Log SP Pada Fasies Delta yang Bersifat "Destructional" 3. Jika tersedia rekaman Gamma Ray Log, tipe batuan dapat ditentukan berdasarkan rekaman masing-masing lapisan.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

89

Tipikal Respon Gamma Ray untuk Berbagai Mineral 4. Amati log resistivity jangkauan dalam (R64, 6FF40, ILD dan sebagainya). Harga resistivitas yang relatif tinggi bisa jadi petunjuk adanya lapisan yang mengandung hidrokarbon atau sebaliknya merupakan lapisan dengan porositas rendah. Harga resistivitas yang rendah menunjukkan lapisan mengandung air (salt water bearing formation). 5. Bandingkan ketiga log jangkauan dangkal (misalnya LL8), jangkauan menengah (misalnya ILM) dan jangkauan dalam (misalnya ILD) untuk melihat kedalaman invasi air-tapisan (filtrat) kedalam formasi (lihat tabel perbandingan invasi filtrat lumpur kedalam formasi) Tabel Perbandingan Invasi Filtrat Lumpur Kedalam Formasi

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

90

6. Perkirakan harga saturasi air (Sw) dari rumus berikut :

Ro adalah resistivitas formasi pada zona air, dibaca dari log resistivity jangkauan dalam. 7. Jika lapisan tidak ada zona airnya hitung Sw berdasarkan rumus berikut

Metode Kuantitatif 1. Tentukan tebal lapisan (h) dari log SP, dengan mengukur jarak antara titik belok defleksi awal dan titik belok defleksi akhir dari kurva SP. 2. Tentukan harga resistivitas air formasi (Rw) dari SP log. 3. Tentukan harga porositas batuan () 4. Tentukan harga resistivitas batuan (Rt) 5. Tentukan harga F dengan rumus berikut : Untuk Lapisan (formasi) lunak

Untuk lapisan (formasi) keras

m = 1.4 2.8 atau bukan berdasarkan Chart Por-1.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

91

Gambar Chart Por-1 Harga F dapat pula ditentukan dengan persamaan :

untuk lapisan yang hanya mengandung air, dan

Tentukan harga Rxo 6. Hitung harga Sw berdasarkan rumus berikut :

atau dengan menggunakan nomograph Gambar Chart Sw-1

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

92

Gambar Chart Sw-1 7. Hitung harga Sxo berdasarkan rumus berikut

8. Hitung harga saturasi minyak yang dapat bergerak (Shm)

9. Hitung recoverable oil setiap acre-ft STB.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

93

10. Atau hitung recoverable gas setiap acre-ft dalam MMSCF

Daftar Simbol Bo = faktor volume formasi, bbl/STB F = faktor formasi m = faktor sementasi = porositas batuan, fraksi Rmf = resistivitas air lapisan, ohm-m Rxo = resistivitas daerah terkuras, ohm-m RW = resistivitas air formasi, ohm-m Rt = resistivitas batuan, ohm-m Sor = saturasi minyak tersisa, fraksi SW = saturasi air formasi, fraksi Shr = saturasi hidrokarbon tersisa, fraksi Shm = saturasi hidrokarbon yang dapat bergerak, fraksi Sxo = saturasi minyak di flushed zone, fraksi RF = faktor perolehan, fraksi Pf = tekanan formasi, F Tf = temperatur formasi, F Z = faktor deviasi gas Interpretasi Log Shally Sand Adanya batuan shale atau clay di dalam batuan pasir mempersulit interpretasi rekaman log,untuk menentukan jumlah minyak di dalam pori batuan. Pengaruh adanya clay di dalam pori batuan akan memperkecil porositas efektif, permeabilitas batuan dan membuat persamaan Archie tidak berlaku. Clay terdapat di dalam batuan dapat berbentuk laminasi, structural atau dispersed, seperti terlihat pada (Gambar Bentuk distribusi clay didalam sedimen). Keistimewaan shale atau batuan lempung adalah memiliki bidang permukaan yang sangat luas, sehingga dapat mengikat air dalam jumlah yang cukup besar pada permukaannya. Air ini akan mempengaruhi konduktivitas elektrik batuan tetapi tidak mencerminkan konduktivitas kandungan cairan sebenarnya di dalam. Penggunaan formula standar Archie untuk lapisan shaly sand yang mengandung minyak akan memberikan harga saturasi air yang lebih besar sehingga sukar untuk menentukan kepastian adanya minyak pada lapisan tersebut. Hadirnya clay di dalam batuan pasir yang cukup banyak akan merugikan karena akan memperkecil permeabilitas batuan.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

94

Bentuk distribusi clay didalam sedimen Dengan adanya pengaruh shale terhadap interpretasi log standar maka muncul modelmodel untuk interpretasi batuan pasir yang mengandung shale. Metode tersebut adalah : 1. Metode kompensasi otomatis (The Automatic Compensation Method). 2. Metode berdasar Dispersed Clay. 3. Metode berdasar Simandoux Model. 4. Metode berdasar Dual Water Model. Persyaratan 1. Metode Automatic Compensation Tersedia SP log, Porosity log (Sonic log atau Density atau Neutron log) dan Induction log Batu-pasir mengandung dispersed clay Porositas batuan antara medium sampai high (>15%) 2. Metode Dispersed Clay Tersedia 2 log porosity: Log Sonik dan Log Density Batu-pasir mengandung authigenic clay (dispersed) Lapisan tidak mengandung gas 3. Metode Simandoux Tersedia 2 jenis log porositas, yaitu Log Density dan Log Neutron 4. Metode Dual-Water Diperlukan q-log, jika tidak ada gunakan log yang dapat berfungsi sebagai shale indicator untuk menghitung Vsh Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

95

Langkah Kerja Metode Automatic Compensation 1. Siapkan data pendukung : Resistivitas lumpur bor (Rm@Ta) Resistivitas mud cake (Rmc@Ta) Resistivitas air tapisan (Rmf@Ta) 2. Baca tebal lapisan dari SP log 3. Baca defleksi SP, RIND, Sonic atau Density Neutron Log pada lapisan yang bersangkutan dan lapisan shale di dekatnya. 4. Tentukan harga Rw 5. Tentukan harga Rt 6. Tentukan harga S tanpa koreksi adanya shale 7. Tentukan harga VSH 8. Hitung harga e dengan rumus berikut :

9. Jika porosity log yang digunakan adalah log density atau log neutron, tentukan harga D atau N (uncorrected), hitung e dengan rumus :

10. Hitung harga saturasi air (Sw) dengan rumus berikut :

Jika Density dan Neutron log yang digunakan

di mana

Metode Dispersed Clay 1. Siapkan data pendukung resistivitas lumpur bor (Rw@Ta)

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

96

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

resistivitas kerak lumpur bor (Rmc@Ta) resistivitas air tapisan (Rmf@Ta) Baca tebal lapisan dari SP log Baca defleksi SP, Sonic Density dan Induction log (deep) pada lapisan yang bersangkutan dan lapisan shale di dekatnya. Tentukan harga Rw Tentukan harga Rt Tentukan harga porositas S dan D Tentukan harga VSH. Hitung porositas efektif e dengan rumus

9. Hitung harga q dengan rumus

10. Hitung saturasi air (SW) dengan rumus berikut :

Metode Simandoux 1. Siapkan data pendukung : resistivitas lumpur bor (Rm@Ta) resistivitas kerak lumpur bor (Rmc@Ta) resistivitas air tapisan (Rmf@Ta) 2. Baca tebal lapisan (h) dari SP log 3. Baca defleksi log SP, log resistivity, log density dan neutron log pada lapisan yang bersangkutan, dan pada lapisan shale di dekatnya. 4. Tentukan harga resistivitas air formasi (RW) 5. Tentukan harga resistivitas batuan formasi (Rt) 6. Tentukan harga porositas D dan N pada lapisan yang bersangkutan dan pada lapisan shale di dekatnya DSH dan NSH 7. Tentukan harga VSH 8. Lakukan koreksi porositas D dan N terhadap shale sebagai berikut :

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

97

9. Hitung harga porositas efektif berdasarkan rumus

10. Hitung harga saturasi air (Sw) a. Menggunakan rumus atau Monograp (Saturasi Air Simandoux Chart 1 and 2 - Dresser)

Keterangan : C = 0.4 untuk batu pasir, C = 0.45 untuk batu gamping b. Menggunakan rumus (berikut) untuk formasi di Indonesia

Keterangan : harga m = n = 2 dan a berkisar antara 0.8 sampai 1.0

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

98

Gambar Saturasi Air (Simandoux Chart 1 - Dresser)

Gambar Saturasi Air (Simandoux Chart 2 - Dresser)

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

99

Metode Dual Water 1. Siapkan data pendukung : resistivitas lumpur bor (RW@Ta) resistivitas kerak lumpur bor (Rmc@Ta) resistivitas air tapisan (Rmf@Ta) 2. Baca tebal lapisan (h) dari log SP untuk lapisan yang bersangkutan 3. Baca defleksi log SP, log resistivity, log gamma ray, log density dan log neutron untuk lapisan yang bersangkutan, lapisan pasir bersih di dekatnya dan lapisan shale di dekatnya. 4. Tentukan harga resistivitas batuan (Rt), resistivitas pasir bersih (RCL) dan resistivitas shale di dekatnya (RSH) 5. Tentukan harga porositas D, N dan NSH. 6. Hitung harga VSH 7. Lakukan koreksi porositas terhadap shale dengan rumus berikut :

Perhatikan apakah ada gas yaitu apabila NC < DC 8. Hitung porositas efektif (e) :

9. Tentukan porositas total pada lapisan shale terdekat

dimana mempunyai harga antara 0.5 sampai 1 10. Hitung harga porositas total (t) dan saturasi air dalam ikatan shale (SB) dengan rumus :

11. Hitung harga resistivitas air formasi (Rw) batuan pasir bersih terdekat dengan rumus

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

100

12. Hitung harga resistivitas air dalam ikatan shale pada lapisan shale terdekat dengan rumus

13. Hitung resistivitas air formasi apparent dalam lapisan yang bersangkutan (Rwa) dengan rumus:

14. Hitung saturasi air formasi total

15. Hitung saturasi air efektif dalam lapisan yang bersangkutan (Swe) dengan rumus

Daftar Simbol a = konstanta, tak bersatuan h = tebal lapisan, ft m = faktor sementasi batuan, tak bersatuan n = konstanta, tak bersatuan = porositas, fraksi CL = porositas lapisan pasir bersih, fraksi D = porositas dari density log, fraksi DC = D dikoreksi terhadap shale , fraksi DSH = D pada lapisan shale, fraksi DN = porositas rata-rata antara D dan N, fraksie e = porositas efektif, fraksi N = porositas dari neutron log, fraksi NC = N dikoreksi terhadap shale, fraksi NSH = N pada lapisan shale, fraksi S = porositas dari sonic log, fraksi SSH = S pada lapisan shale, fraksi

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

101

t tSH q Q RB RCL Rm Rmc Rmf Rind Rt Rw Rwa SB SP Sw Swe Swt Ta T Vsh

= porositas total, fraksi = t pada lapisan shale, fraksi = bagian pori batuan pasir bersih yang ditempati oleh clay, fraksi = Cation Exchange Capacity, meq/cc = resistivitas air dalam ikatan shale, ohm-m = resistivitas batuan pasir bersih, ohm-m = resistivitas lumpur bor, ohm-m = resistivitas kerak lumpur, ohm-m = resistivitas air lapisan, ohm-m = resistivitas dari induction log, ohm-m = resistivitas batuan, ohm-m = resistivitas air formasi, ohm-m = Rw apparent, ohm-m = saturasi air yang terikat dalam shale, ohm-m = spontaneous potensial, mv = saturasi air formasi, fraksi = saturasi air efektif, fraksi = saturasi air total, fraksi = temperatur permukaan, F = temperatur, F = volume shale, Of

Teknik Pemetaan 1. Interval kontur, perbedaan nilal antara dua garis kontur yang berdekatan. Interval selalu merupakan angka konstan untuk seluruh peta. Perbedaan nilai ini dapat bersifat angka perbedaan hitung ataupun ratio/perbandingan. 2. Pemilihan nilai kontur, hubungannya dengan Ketelitian data dalam titik kontrol Kecepatan perubahan nilai secara lateral atau antara (spacing) Jika perubahan terlalu cepat maka interval harus besar sehingga spacing tidak terlalu rapat Dalam pemilihan nilai 3. Titik kontrol, titik kontrol adalah setiap lokasi dalam peta dimana data didapatkan. Titik ini dapat berupa sumur pemboran (kering ataupun yang menghasilkan minyak) ataupun berupa sumur pemboran disebut kontrol sumur Prinsip Penggambaran Garis Kontur 1. Prinsip interpolasi/prinsip titik kontrol, garis kontur dengan nilai tertentu digambarkan diantara titik-titik kontrol. Nilai garis kontrol harus berada diantara nilai yang tercantum pada kedua titik control. 2. Prinsip ekstrapolasi atau prinsip keseragaman antara (spacing), penggambaran garis kontur dapat diteruskan diluar titik kontrol dengan Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

102

3.

4.

5. 6.

7.

memelihara keseragaman spacing dan bentuk. Spacing dari garis kontur dapat secara perlahan-lahan melebar atau merapat ke arah ekstrapolasi. Garis kontur tidak mungkin bercabang, hal inl merupakan prinsip dari segi estetika. Jika keadaan memaksa, gambarkan dua garis kontur dengan nilai yang sama sejajar dan berdekatan. Garis kontur tidak mungkin berpotongan, sama halnya jika keadaan memaksa, gambarkan dua garis kontur terpisah yang sama nilainya yang saling menyerempet. Jika nilainya tidak sama hal ini tidak mungkin terjadi kecuali dalam kontur struktur suatu antiklin rebah (overluned), maka gambarkan garis yang ada di sebelah bawah sebagai garis terputus-putus. Satu garis kontur tidak dapat bertindak sebagai nilai maksimum, Prinsip keseragaman bentuk, dari segi estetika dan geologi penarikan garis kontur harus dibimbing sedemikian rupa sehingga bentuknya serupa, seragam atau subpararel. Sesuaikan dengan bentuk geologi (struktur, ketebalan sedimen, dan sebagainya) seperti terdapat secara alamiah. Sesuaikan bentuk garis kontur dengan bentuk ideal geologi yang dipetakan. Jika yang dipetakan adalah struktur geologi atau bentuk tektonik, maka harus dapat kita bayangkan bentuk-bentuk lipatan, struktur, antiklin, sumbu-sumbu lipatan, patahan dan sebagainya, yang akan membimbing kita dalam memberikan bentuk pada garis kontur. Jika yang dipetakan adalah fasies sedimen, maka harus dapat kita bayangkan asal transport sedimen, garis pantai, batas energi gelombang, bentuk cekungan, penebalan sedimen.

Tahapan Pembuatan Petageologi Bawah Permukaan

Gambar Korelasi dan Penampang Depth Structure

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

103

1. Peta Top Structure , peta ini menunjukkan penyebaran puncak suatu lapisan di bawah permukaan. Penyebaran puncak lapisan dapat berupa sinklin, antiklin, ataupun datar. Peta ini didapatkan dengan mencatumkan satuan meter bawah permukaan laut (mbpl) top lapisan pada setiap sumur. Nilai-nilai ini sebagai acuan untuk membuat kontur struktur. 2. Peta Bottom Structure, peta ini menunjukkan penyebaran lapisan bawah pada suatu lapisan di bawah permukaan. Penyebaran bawah lapisan dapat berupa sinklin, antiklin ataupun datar. Peta ini didapatkan dengan mencatumkan satuan meter bawah permukaan laut(mbpl) bottom lapisan pada setiap sumur. Nilai-nilai ini sebagai acuan untuk membuat kontur struktur. 3. Peta Isopach, peta ini menggambarkan garis-garis yg menghubungkan titiktitik suatu formasi/lapisan dengan ketebalan yang sama. Dalam peta bawah permukaan peta ini merupakan peta batas OWC/GOC yang diplotkan dan dioverlay pada top structure dan bottom structure. 4. Peta Gross Sand, mekanisme pembuatan peta gross sand sama dengan pembuatan peta top structure, namun data yang dlgunakan dalam pembuatan peta ini adalah ketebalan dari suatu lapisan. Peta gross sand tidak berhubungan dengan ketinggian atau kedalaman tetapi peta ini menggambarkan penyebaran tebal tipisnya lapisan. 5. Peta Net Sand, peta ini menggambarkan akumulasi ketebalan batupasir, tidak termasuk akumulasi pengotor seperti batulempung dan sebagainya yang ada dalam suatu lapisan. Sama halnya dengan peta gross sand, peta ini tidak berhubungan dengan ketinggian melainkan menggambarkan ketebalan. 6. Peta Net pay, peta ini menggambarkan ketebalan batupasir yang mengandung hidrokarbon. Lain halnya dengan peta net isopach yang menginformasikan ketebalan batupasir secara keseluruhan. Informasi yang dapat dilihat pada peta ini adalah pola penyebaran lapisan yang ditunjukkan oleh kontur struktur, penyebaran ketebalan batupasir yang ditunjukkan dengan kontur net isopach dan WOC ataupun OGC. Dengan demikian peta net pay merupakan gabungan dari peta isopach dan peta net sand. Prosedur Pembuatan Petakontur Struktur Tentunkan horison dan tentukan datum Korelasikan horison tersebut dari sumur ke sumur Data yang perlu diperhatikan pada log header adalah kelly bushing rotary table dan baca kedalaman horison tersebut Kurangkan angka kedalaman horison dengan permukaan tanah/datum dari permukaan air laut Nilai hasil dapat diplot pada peta

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

104

Gambar Overlay Peta Top Structure dan Bottom Structure

Gambar Peta Net Pay, Overlay Peta Isopach dan Peta Net Sand Penentuan Cadangan Cadangan (reserves) adalah akumulasi minyak dan gas yang telah dibuktikan keberadaannya dengan pemboran eksplorasi atau sebagai jumlah (volume) minyak atau gas didalam reservoar yang telah diketemukan. Volume minyak dan gas yang semula terakumulasi di dalam reservoar disebut volume minyak awal ditempat atau Stock Tank Oil Initially In Place (STOIP) atau biasa juga disebut Originally Oil In Place (OOIP). Dapat ditulis dengan persamaan: IOIP = 7758 Vb (1-Sw),bbl IGIP = 43560 Vb (1-Sw),cuft Keterangan Vb Sw = volume bulk = porositas = saturasi air

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

105

Gambar Peta Net Pay Dalam praktikum kali ini digunakan metode volumetris dengan anggapan bahwa data produksi sumur yang bersangkutan belum lengkap. Metode volumetris menggunakan peta sub surface dan isopach yang didasarkan data elektrik WT, Core, DT dan test produksi, serta peta kontur yang disiapkan untuk membuat peta isopach dimana terdapat data-data WOC dan GOC. Volume reservoir produktif diperoleh dengan menggunakan Planimeter. Berdasarkan pembacaan maka volume zone produktif dapat ditentukan dengan menggunakan metode-metode : 1. Metode pyramidal, merupakan metode yang digunakan bila perbandingan luas garis kontur kurang dari 0,5. Dengan persamaan sebagai berikut: h Vb = (An + An+1 + An An 1 ) 3 Keterangan : Vb = volume batuan An, An+1 = luas permukaan h = ketebalan 2. Metode trapezoidal, merupakan metode yang digunakan bila perbandingan luas garis kontur lebih besar atau sama dengan 0,5. Dengan persamaan sebagai berikut: h Vb = (An + An+1) 2 Keterangan : Vb = volume batuan An, An+1 = luas permukaan h = ketebalan

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

106

Untuk menunjang hasil yang akurat dalam perhitungan dengan menggunakan metode volumetrik, maka dapat digunakan metoda cut off reservoir. Metoda cut off reservoir dapat didefinisikan sebagai suatu harga tertentu dimana dibawah atau diatas harga tersebut parameter reservoir tidak berlaku lagi untuk dipertimbangkan. Terdapat beberapa parameter dari cut off antara lain: a. Cut off porositas didefinisikan sebagai suatu harga porositas dimana hargaharga porositas dibawah harga tersebut tidak berlaku lagi untuk dipertimbangkan. b. Cut off permeabilitas didefinisikan sebagai suatu harga permeabilitas dimana dibawah harga tersebut permeabilitas sudah tidak berlaku lagi untuk dipertimbangkan dalam perhitungan. c. Cut off saturasi air didefinisikan sebagai harga saturasi air, dimana harga saturasi air diatas harga tersebut tidak lagi dipertimbangkan. d. Cut off Vclay didefinisikan sebagai harga Vclay dimana Vclay diatas harga tersebut tidak lagi dipertimbangkan. Manfaat penentuan cut off untuk memperkirakan cadangan reservoar akan menghasilkan jumlah yang akurat. Penentuan Bidang-Bidang Batas Minyak/Air Dan Gas/Air Batas antara zona minyak dan zona air atau zona gas dan zona air, masing-masing disebut sebagai Water Oil Contact (WOC) dan Gas - Water Contact (GWC), perlu diketahui dalam upaya menghitung atau memperkirakan volume minyak atau gas mula-mula di tempat (Original Oil In Place atau Original Gas In Place). Batas antara zona gas (gas cap) dan zona minyak disebut Gas-Oil Contact (GOC). Penentuan atau perkiraan batas (contact) dimaksud dapat dilakukan dengan menggunakan data atau kombinasi data yang ada berikut ini : 1. Data/hasil interpretasi logs (electric log, Neutron-Density log). 2. Data Repeat Formation Tester (RFT), yaitu data gradien tekanan statik pada masing-masing zona. 3. Data analisa fluida reservoir, terutama sifat-sifat fisik dan kimiawinya. 4. Data analisa batuan inti (Conventional dan Special Core Analysis). Bilamana semua data tersebut ada, maka penentuan WOC atau GWC harus terintegrasi. Pada situasi tertentu mungkin saja hanya sebagian data yang tersedia dan ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Perlu dicatat bahwa bila ada data RFT, maka perpotongan garis gradien tekanan minyak atau gas dengan garis gradien tekanan air merupakan posisi atau kedalaman Free Water Level (FWL), bukan WOC

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

107

atau GWC, kecuali threshold Pressure-nya PCT = 0. Bila harga PCT . 0 (dari data capillary pressure), maka WOC atau GWC berada di atas FWL sejauh :

Semua parameter dalam kondisi reservoir dan h, PCT masing-masing dalam satuan feet, psi dan lb/cuft Metode Adcap Ada situasi tertentu saat WOC atau GWC tidak atau belum tertembus oleh satu atau lebih sumur yang sudah dibor. Bila pada situasi ini WOC atau GWC harus iperkirakan, maka ada cara estimasi (metode Adcap) memperkirakan posisi FWL di bawah base sand (terutama untuk reservoir yang relatif homogen) sebagai berikut : 1. Data yang diperlukan : permeabilitas absolut (Kgas) porositas (), saturasi air (Sw) vs depth danPc vs Sw 2. Tentukan displacement pressure (Pd)

dimana Pd dalam satuan Psi, k dalam milidarcy dan dalam fraksi 3. Hitung faktor geometri pori - pori (Fg)

4. Hitung Pc untuk harga Sw di (dekat) base sand

5. Perkirakan FWL dari base sand ke bawah sejaun hFWL (dalam satuan feet)

atau reservoir gas

6. Bila ada data tekanan kapiler, maka posisi WOC atau GWC di bawah base sand adalah

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

108

Hasil estimasi di atas perlu dicek terhadap kedalaman spill point-nya, konsultasikan dengan geologist apakah posisi kedalaman WOC melebihi spill point-nya atau tidak. Juga, cek tebal kolom hidrokarbon (minyak dan/atau gas) hHC dan ini perlu data tekanan kapiler dari cap rock atau seal :

Keterangan : Pds Pdr water HC hHC = displacement pressure dari seal, Psi = displacement pressure dari reservoir, Psi = densitas air formasi, gr/cc = densitas minyak atau gas, gr/cc = tebal kolom minyak atau gas dalam reservoir, feet

Langkah Kerja 1. Baca skala peta yang akan dihitung. 2. Gunakan planimeter pada luasan di peta isopach, kemudian baca berapa konstanta yang ditunjukkan oleh planimeter. 3. Hitung ratio dan tentukan metode luasan yang diukur. 4. Tentukan ketebalan dari luasan. 5. Hitung volume batuan (Vb) dengan menggunakan planimeter. 6. Tentukan ketebalan bersih, dilakukan sebagai berkut: a. Tentukan Sw rata-rata b. Tentukan porositas () rata-rata. c. Tentukan harga Qekonomik limit dan nilai K (diasumsikan). Dengan persamaan :
Q 0,00708 K h Pe Pwf ln re rw

d. Subtitusikan nilai K untuk mendapatkan harga cut off. e. Plot harga *corr dan Sw (hasil interpretasi), Subtitusikan nilai cut off yang didapat dan memotong kurva sehingga diperoleh harga Sw cut off. f. Buat chart *corr vs depth yang dianalisa dan Sw vs depth yang dianalisa. g. Plot harga cut off pada chart, *corr vs depth dan Plot Swcut off pada chart, Sw vs depth. h. Tarik harga masing-masing nilai cut off ke bawah sehingga memotong kurva *corr vs depth dan Sw vs depth. i. Tentukan zona yang mempunyai harga *corr yang lebih besar dari cut off dan Tentukan zona yang mempunyai Sw lebih kecil dari Sw cut off.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

109

j. Matchingkan kedua zona tersebut untuk mendapatkan ketebalan bersih (dimana sebagai pengontrolnya adalah Sw) karena yang mengisi pori ditunjukkan oleh harga Sw-nya, tebal tipisnya bervariasi tergantung dari harga cut off. k. Tentukan SwAveg dan Aveg dari ketebalan bersih. 7. Tentukan nilai N, dengan persamaan: 6,28 Vb 1 Sw N Boi 8. Tentukan banyaknya minyak yang terproduksi dengan persamaan: 0,00708 K h Pe Pwf Q ln re rw

Tabulasi Buat tabulasi Average Weighted ( dan Sw) No Depth (ft) Sw * corr

K (mD)

Buat grafik Porositas vs Permeabilitas Buat grafik Porositas vs Saturasi Buat grafik match Saturasi vs Porositas

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

110

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. Amyx J. W. et.al, Petroleum Reservoir Engineering Physical Properties ,.1960 Crafd B.C and Howkins M.F, Applied Petroleum Reservoir Engineering , 1960. Hariyadi, Ir., Kristanto dedy,Msc., Penilaian Formasi, Diktat Kuliah, Jurusan Teknik Perminyakan, UPN VETERAN Yogyakarta, Yogyakarta 1999. Haryoko, R. Dasar Interpretasi Log (Suatu Pedoman Praktis) Log Analysis, Production Geologist Pertamina, 1983. Ir., Setyowiyoto Jarot,Msc., Analisis Data Logging Evaluasi Formasi, Yogyakarta 2002. ____________, Petunjuk Praktikum Penilaian Formasi , Laboratorium Penilaian Formasi, jurusan Teknik Perminyakan, UPN Veteran , Yogyakarta, 2005.

4. 5. 6.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

111

LAMPIRAN
Menentukan Harga Resistivity Air Formasi (RW) 1. Metode SP, lapisan bersih (clean formation), Lapisan yang bersangkutan mempunyai defleksi SP, Tersedia rekaman resistivity jangkauan dalam dan jangkauan dangkal 2. Metode Rt, lapisan bersih, Lapisan mempunyai zone air, Tersedia rekaman resistivity jangkauan dalam dan dangkal 3. Metode Resistivity Porosity Cross Plot 4. Metode Rxo terhadap Rt Cross Plot Langkah kerja Metode SP 1. Siapkan data pendukung : Diameter lubang bor (dh), Gradien temperatur (G), Resistivity lumpur (Rm) Bila tersedia gunakan juga : Resistivity filtrat lumpur (Rmf), Resistivity kerak lumpur (Rmc), Kerapatan jenis lumpur ( m) 2. Tentukan temperatur lapisan (TR) menggunakan Gambar GEN-6 dan hitung harga Rm pada temperatur tersebut dengan rumus :

Rm @ TR

Rm @ Ta

Ta TR

GEN 6

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

112

3. 4. 5. 6.

Tentukan tebal lapisan (h) dari SP log dengan mengukur jarak antara titik belok (inflection point) awal deflekesi dan titik belok akhir defleksi. Tentukan garis shale (shale base line), garis ini merupakan harga rata-rata SP lapisan lapisan shale. Garis tersebut merupakan garis referensi SP = 0 Tentukan harga SP lapisan dengan membaca harga skala log dimulai dari shale base sampai garis rata-rata defleksi SP-nya (-mv) Hitung harga Rmf, Rmfeq, Rmc pada temperatur formasi sebagai berikut : Gunakan Gambar GEN-9 untuk mendapatkan harga Rmf @ TR a. Jika harga Rmf @ Ta > 0.1 ohm-m hitung harga Rmfeq dengan hubungan berikut : Rmfeq = 0.85 Rmf b. Jika harga Rmf @ Ta < 0.1 ohm-m, gunakan Gambar SP-2 untuk mendapatkan harga Rmfeq :

Rmc @ TR

Rmc @ Ta

Ta TR

GEN 9

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

113

7.

Apabila tidak ada pengukuran langsung, hitung harga Rmf dan Rmc dari persamaan berikut :

Rmf
Rmc

K m Rm

1.07
2.65

0.69 Rmf

Rm Rmf

Km tergantung densitas kerapatan jenis (density) lumpur seperti terlihat pada Tabel GEN-7. Baca Rmf dari Gambar SP-2 GEN 7

SP 2 8. 9. Baca dari log resistivity harga Rxo, Ri, di, Rs, dan Rt (lihat pembacaan Rxo, pembacaan Ri dan Rt) Hitung harga

Rs Rxo Ri Rxo h d , , , , dan i Rm Rm Rm Rt d h dh

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

114

10. Dari harga SP langkah 5 dan data yang diperoleh dari langkah 8 dan 9 gunakan Gambar SP-3 atau SP-4 untuk menentukan harga SP. ESSPcor = ESP x

E SP

1 / E SPcor

ESP = ESP x Faktor Koreksin, ESP adalah harga SP hasil langkah 5

SP 3

SP 4

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

115

11. Tentukan harga Rweq dengan menggunakan Gambar SP-1 Masukkan harga SP pada sumbu datar, tarik garis tegak lurus sehingga memotong kurva dengan temperatur lapisan yang sesuai. Dari titik potong ini tarik garis mendatar sampai memotong sumbu tegak untuk menentukan harga Rmfeq / Rweq. Dari harga Rmfeq/Rweq tersebut tarik garis lurus melalui harga Rmfeq sehingga diperoleh Rweq

SP 1 12. Dengan harga Rweq hasil langkah 10, gunakan gambar SP-2 untuk menentukan harga RW.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

116

Metode Rt 1. Siapkan data pendukung Gradien temperatur (G) Resistivity lumpur bor (Rm) Kerapatan jenis lumpur bor ( m) Bila tersedia gunakan juga : Resistivity filtrat lumpur (Rmf) Resistivity kerak lumpur (Rmc) 2. Tentukan temperatur lapisan (TR) menggunakan Gambar GEN-6, kemudian hitung harga Rm pada temperatur tersebut dengan rumus:

R m @ TR
3.

Rm @ Ta

Ta TR

Hitung harga Rmf, Rmfeq, Rmc pada temperatur formasi sebagai berikut : Gunakan Gambar GEN-9 untuk mendapatkan harga Rmf @ TR a. Jika harga Rmf @ Ta > 0.1 ohm-m Hitung harga Rmfeq dengan hubungan berikut : Rmfeq = 0.85 Rmf b. Jika harga Rmf @ Ta > 0.1 ohm-m, gunakan Gambar SP-2 untuk mendapatkan harga Rmfeq :

Rmc @ TR

Rmc @ Ta
1.07

Ta TR

4. Apabila tidak ada pengukuran langsung, hitung harga Rmf dan Rmc dari persamaan berikut

Rmf
Rmc

K m Rm

0.69 Rmf

Rm Rmf

2.65

atau untuk air lumpur garam

Rmf = 0.75 Rm Rmc = 1.5 Rm Km tergantung kerapatan jenis lumpur seperti terlihat pada Tabel GEN-7. 5. Tentukan harga ROS, biasanya ROS diambil antara 10-20% atau sesuai pengalaman lapangan. 6. Pada lapisan yang mengandung 100% air tentukan harga Ro dan Rxo dari rekaman resistivity log (lihat untuk menentukan harga Rxo) Ro adalah Rt lapisan yang mengandung 100 % air. 7. Hitung RW berdasarkan rumus :

RW

Ro Rmf Rxo (1 ROS ) 2

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

117

Penentuan Rt

Pembacaan Langsung Dilakukan dengan pembacaan langsung pada rekaman log normal atau lateral. Untuk normal 16 inci, hasil pembacaan perlu dikoreksi lagi terhadap pengaruh lubang bor menggunakan kurva khusus. Metode Grafis Dilakukan terhadap kombinasi log resistivity jangkauan dalam, sedang dan dangkal, untuk mengoreksi pengaruh keadaan lubang bor, tebal lapisan dan invasi filtrat lumpur. Macam kombinasi yang dipakai dewasa ini antara lain: Dual Induction - Laterolog 8 Dual Induction - SFL Dual Induction - Laterolog 8 - Rxo Dual Induction - SFL - Rxo Dual Laterolog - Rxo Dual Induction - Rxo Petunjuk kerja ini menerangkan penentuan harga Rt untuk kombinasi Induction Log (RID, RIM) dan laterolog 8 (RLL8). Cara yang sama dapat diterapkan untuk kombinasi lain dengan menggunakan kurva yang sesuai. Langkah Kerja Pembacaan Langsung 1. Persiapkan data diameter lubang sumur (dh), ketebalan lapisan (h), resistivity lumpur (Rm), resistivity lapisan sekitarnya (Rs). Koreksi harga Rm terhadap temperatur lapisan (lihat pembacaan Rm). 2. Pilih pada tabel petunjuk cara pembacaan Rt yang sesuai bagi data dari langkah 1. 3. Khusus untuk normal 16, gunakan Gambar Rcor-8 : masukkan data tegak, pilih diameter lubang sumur sesuai data dan dapatkan harga Harga Rt = R16 corr

R16 pada sumbu Rm


.

R16 corr Rm

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

118

Rcor 8 Metode Grafis 1. Persiapkan data diameter lubang sumur (dh), stand off, resistivity lumpur (Rm), resistivity lapisan sekitarnya (Rs). Koreksi harga Rm terhadap temperatur lapisan Koreksi pengaruh lubang bor : a. Untuk Laterolog 8: Grafik Rcor-1. Masukkan data

R LL8 pada sumbu mendatar dan pilih diameter lubang sumur serta Rm

Rm yang mendekati data, kemudian dapatkan harga

RLL8 corr RLL8

RLL8 corr =

RLL8 corr RLL8

x RLL8

b. Untuk Induction log : grafik Gambar Rcor - 4a : Masukkan data diameter lubang sumur pada sumbu mendatar, pilih stand off sesui data dan dapatkan barehole geometrical factor. Tarik garis lurus dari titik borehole geometrical factor melalui harga resistivity factor (Rm) untuk mendapatkan Hole Signal (dalam satuan Conductivity). Konversikan harga resistivity (RIM) hasil pembacaan menjadi Conductivity

C IM

1000 , kemudian kurangi dengan Hole RIM

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

119

Signal, diperoleh Conductivity terkoreksi (C), yang dapat dikonversikan menjadi Resistivity terkoreksi R IM Corr mengkoreksi RID.

1000 . Cara yang sama dapat dilakukan untuk C

Rcor 1

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

120

Rcor 4a 2. Lakukan koreksi terhadap ketebalan lapisan atas harga RIM dan RID hasil langkah 2b menggunakan Gambar Rcor-6 : Pilih kurva untuk Rs yang sesuai. Tarik garis tegak lurus dari data ketebalan lapisan pada sumbu mendatar, sehingga berpotongan dengan kurva Ra*) yang sesuai. Baca harga RIM terkoreksi pada sumbu tegak. *) Ra = RIM atau RID pada langkah 2b. Cara yang sama dapat dilakukan untuk mengkoreksi RID hasil 2b menggunakan Gambar Rcor-5.

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

121

Rcor 6

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

122

Rcor 5 3. Koreksi pengaruh invasi menggunakan Gambar Rint-2. Dari hasil langkah sebelumnya, hitung

RIM RID

serta

RLLS . Gunakan hasil gambar RID


dan di (jarak interval)

tersebut pada Gambar Rint-2a sehingga diperoleh

Rt Rxo , Rt RID

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

123

Hitung Rt

Rt RID

RID Disamping itu diperoleh harga Rxo : Rxo Rxo RID RID

Gambar Chart Rint 2 Daftar Simbol Rxo Rt dh h Rm Rs R16 R16 Corr RLL8 RLL8 corr RIM CIM RIM corr RID

= Resisitivity Flushed Zone (ohm-m) = Resisitivity lapisan sebenarnya (ohm-m) = diameter lubang bor (kaki) = tebal lapisan (kaki) = Resisitivity lumpur (ohm-m) = Resisitivity batuan sekitar (ohm-m) = Resisitivity Induction Log 16 Inci (ohm-m) = Resisitivity Induction Log 16 Inci terkoreksi (ohm-m) = Resistivity Laterolog-8 (ohm-m) = Resistivity Laterolog-8 terkoreksi (ohm-m) = Induction Resistivity, medium investigation (ohm-m) = Induction Conductivity, medium investigation (mhos) = Induction Resistivity, medium investigation terkoreksi (ohm-m) = Induction Resistivity, deep investigation (ohm-m)

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

124

Penentuan Rxo Menentukan Harga Resistivity Batuan Di Dalam Flushed Zone Menggunakan alat jangkauan pengamatan pendek : - Microlog - Proximity log - Microlaterolog - Micro Spherically Focused log Menggunakan kombinasi alat : - Dual induction - Laterolog 8 - Dual induction (DIL) Spherically Focused Log Persyaratan 1. Microlog dan proximity log hanya digunakan dalam lubang bor dengan lumpur dasar air tawar (fresh water base mud) atau Rmf > 2 Rw dan resistivity batuan tidak lebih dari 200 ohm-m (Rt < 200 Ohm-m). 2. Microlaterolog dan Micro Spherically Focused Log hanya digunakan dalam lubang bor dengan lumpur dasar air asin (salt water based mud) atau Rmf < 2 Rw dan resisitivity batuan (Rt) lebih besar dari 200 ohm-m. 3. Petunjuk kerja ini menggunakan alat dan chart interpretasi Schlumberger. Untuk alat dari perusahaan lain chart interpretasi yang digunakan harus disesuaikan. Langkah Kerja Siapkan data pendukung - diameter lubang bor (dh) - resistivity kerak lumpur (Rmc @ Ta) - gradien temperatur (G) - ketebalan kerak lumpur, kalau ada (hmc) Penentuan Rxo Dari Microlog 1. Baca kedalaman lapisan dan tentukan temperatur formasi serta hitung resistivity kerak lumpur Rmc pada temperatur tersebut dengan rumus :

Rmc @ TR
2.

Rmc @ Ta

Ta TR

Untuk lapisan bersangkutan baca harga rata-rata resistivity rekaman microlog 1 ( R1 1 ) dan harga rata-rata resistivity rekaman microlog 2 (R2).

3. Hitung harga 4. Koreksi harga

R1 1 Rmc

dan

R2 Rmc

R1 1 Rmc

terhadap diameter lubang bor dengan mengalikan terhadap faktor

korelasi berikut :

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

125

Diameter lubang bor 8 4 6 10

Faktor koreksi 1.00 1.15 1.05 0.93

5. Dengan menggunakan gambar Rxo-1 (microlog interpretation chart), masukkan harga

R1

Rmc

pada sumbu tegak dan

R xo R2 pada sumbu mendatar dan tentukan harga serta Rmc Rmc

ketebalan kerak lumpur (hmc). Dengan menggunakan harga Rmc yang diketahui, hitung harga Rxo. 6. Apabila ketebalan kerak lumpur (hmc) yang diperoleh dari Gambar Rxo-1 tersebut berbeda dari hmc yang diperoleh dari log kaliper atau pengukuran langsung maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. Dari harga

R xo tarik garis dengan sudut kemiringan 45 hingga memotong kurva Rmc R xo R yang benar serta 2 . Hitung harga Rxo dari rumus berikut, Rmc Rmc

ketebalan kerak lumpur sebenarnya. b. Baca harga

Rxo

R2

Rxo / Rmc R2 / Rmc

Penentuan Rxo Dari Proximity Log 1. Siapkan data pendukung. Harga ketebalan kerak lumpur hmc harus diketahui. 2. Hitung Rmc pada temperatur lapisan Rmc @ TR

Rmc @ Ta

Ta TR

3. Untuk lapisan bersangkutan baca harga rata- rata proximity Log (Rp) 4. Hitung harga Rp/Rmc 5. Dengan menggunakan gambar Rxo-2 masukkan harga Rp/Rmc pada sumbu mendatar dan tarik garis tegak lurus hingga memotong kurva dengan ketebalan kerak lumpur (hmc) Baca harga Rp corr/Rp pada sumbu tegak. Hitung harga Rxo dengan rumus berikut:

Rxo

R p corr Rt

Rp

Penentuan Rxo Dari Microlaterolog 1. Siapkan data pendukung 2. Hitung Rmc pada temperatur lapisan

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

126

Rmc @ TR

Rmc @ Ta

Ta TR

3. Untuk lapisan bersangkutan baca harga resistivity microlaterolog (RMLL) 4. Hitung harga RMLL/Rmc 5. Dengan menggunakan gambar Rxo-2, masukkan harga RMLL/Rmc pada sumbu mendatar dan tarik garis tegak lurus hingga memotong kurva untuk ketebalan kerak lumpur ( hmc). Baca harga RMLLcorr/Rp. Hitung harga Rxo dengan rumus berikut:

Rxo

RMLL corr RMLL

RMLL

Penentuan Rxo Dari Microspherically Focused Log (MSFL) 1. Siapkan data pendukung 2. Hitung Rmc pada temperatur lapisan Rmc @ TR

Rmc @ Ta

Ta TR

3. Untuk lapisan bersangkutan baca harga rata-rata resistivity MSFL (RMSFL) 4. Hitung harga RMSFL/Rmc 5. Masukkan harga RMSFL/Rmc pada Gambar Rxo-3, (untuk standar MSFL) baca RMSF corr/RMSFL. Hitung Rxo dengan rumus berikut:

Rxo

RMSFL corr RMSFL

RMSFL

Bila digunakan Slimhole MSFL gunakan Gambar Rxo-3 (Slim MSFL) untuk mendapatkan RMSFLcorr/RMSFL Daftar Simbol hmc = tebal kerak lumpur, in Rm = resistivity lumpur bor, ohm-m RMLL = resistivity Mikro Laterolog RMLLcorr = resistivity batuan pembacaan Mikro Laterolog, ohm-m RMSFLcorr = resistivity batuan pembacaan Mikro Spherically Focused Log (MSFL) yang dikoreksi, ohm-m R1x1 = resistivity batuan pembacaan micro inverse, ohm-m R2 = resistivity batuan pembacaan micro normal, ohm-m Rp = resistivity batuan pembacaan Proximity Log, ohm-m Rp corr = resistivity batuan pembacaan Proximity Log yang dikoreksi, ohm-m Rmc = resistivity kerak lumpur, ohm-m Rt = resistivity batuan didaerah yang tidak terganggu, ohm-m Rxo = resistivity batuan di flushed zone, ohm-m Ta = temperatur pemukaan, F TR = temperatur formasi, F

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

127

Gambar Summary dari Interpretasi Microlog

Gambar Rxo-1

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

128

Gambar Rxo-2

Gambar Rxo-3

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

129

Lithology Symbol

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

130

Lithology Description from Mud Log Analysis

Tekstur Components of Rock Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

131

Logging Tool Response in Sedimentary Minerals

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

132

Logging Tool Response in Sedimentary Minerals (lanjutan)

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

133

Simbol dan Deskripsi Litologi

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

134

Simbol dan Deskripsi Litologi (lanjutan)

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

135

Simbol dan Deskripsi Litologi (lanjutan)

Distribusi Fluida di kondisi Reservoir Water Wet Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

136

Quick Look to Rw from SP Log

Quick Guide to Rt from Dual Induction Logs Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

137

Quick Guide to Rt from the Dual Lateralog

Pressure Gradient Around the Oil/Water Contact

Praktikum Penilaian Formasi

Program Studi Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta

138

Integrated Formation Evaluation

Praktikum Penilaian Formasi