Anda di halaman 1dari 15

LEARNING OBJECTIVE 1. Jelaskan mengenai Anatomi kaki Kuda ? 2. Sebutkan abnormalitas konformasi kaki Kuda ? 3.

Sebutkan jenis dan teknik Anastesi Lokal ?

PEMBAHASAN 1. ANATOMI KAKI KUDA Gambar 1. Anatomi ekstremitas kuda bagian depan dan belakang Bagian kaki kuda terdiri dari epidermal hoof, jaringan corium (dermis), digital cushion, phalang ke 3 (coffin bone), kartilago distal phalang, distal interphalang (coffin joint), phalang ke 2 (pastern bone), tulang sesamoid (tulang navicular), podothrochlear bursa (bursa navicular ), ligament, tendon, otot extensor dan fleksor, pembuluh darah, saraf, dan kulit diantara heels (Stashak, 2001).

Gambar 2. Susunan tulang pada kaki kuda

1|NON RUMINANSIA

Pertumbuhan kuku kuda berasal dari coronary band. Lokasinya berada tepat di atas hoof dan dilindungi oleh kulit dan rambut yang tebal. Pada kaki yang sehat, kuku akan tumbuh sekitar 3/8 inchi setiap bulan. Perubahan pertumbuhan kuku dapat disebabkan oleh intensitas latihan dan kondisi kesehatan kuda secara umum. Adanya luka pada coronary band dapat menyebabkan pertumbuhan kuku yang tidak rata. Biasanya kuku bagian belakang lebih cepat tumbuh dibandingkan kuku bagian belakang. Kuku kuda disusun oleh dinding kuku, sole, dan frog. Dinding kuku adalah bagian terluar kuku yang membungkus phalank ke 3 atau coffin bone, terdiri dari toe (bagian depan), quarters (bagian samping) dan heel. Sementara itu, sole adalah bagian yang melindungi bagian dalam kaki, berstruktur kuat, agak cekung, dan tidak menyentuh tanah. Selain itu, terdapat pula frog yang merupakan bentukan V pada bagian tengah sole. Frog memiliki struktur yang kenyal, fleksibel, dan digunakan untuk menahan bobot tubuh.

Gambar 3. Bagian-bagian pada hoof Pada heels, terdapat struktur flexible yang disebut digital cushion. Struktur ini berfungsi sebagai shock absorber pada kaki. Digital cushion akan menjadi datar ketika kaki menginjak tanah dan akan mengembang kembali ketika kaki diangkat dari tanah. . Gambar 4. Digital cushion akan menjadi datar ketika kaki menginjak tanah dan akan mengembang kembali ketika kaki diangkat dari tanah.

2|NON RUMINANSIA

Secara mikroskopis, hoof tersusun oleh beberapa lapisan sebagaimana yang tercantum dalam gambar 3.

Gambar 5. Hoof tersususn atas dinding kuku, lamella primer, lamella sekunder, dan laminar corium. Lamina adalah struktur yang menyerupai daun yang membungkus dan menyatukan coffin bone dengan dinding hoof. Lamina terdiri dari lamina primer dan lamina sekunder. tiap lamina tersebut memiliki cabang yang akan melekatkan coffin bone dengan dinding kuku, menggantung coccin bone dan membantu coffin bone dalam menyangga bobot tubuh. Pada bagian dalam hoof, terdapat kartilago yang memanjang dan membungkus bagian phalank ke 3. Kartilago ini bersifat fleksibel, namun seiring bertambahnya umur kuda, kartilago ini biasanya akan terosifikasi dan tergantikan oleh tulang. Diantara phalang ke 2 dan ke 3 terdapat tulang kecil yang disebut navicular bone. Navicular bone beserta navicular bursa (sac berisi cairan) berfungsi mengurangi friksi antara tendon dan tulang.

Gambar 6. Kartilago lateral membungkus bagian phalank ke 3

3|NON RUMINANSIA

A. Konformasi bentuk kaki kuda

Gambar 7. Struktur anatomi kaki kuda bagian depan dan belakang Pada kaki kuda baik bagian depan maupun belakang, terdapat beberapa deviasi dan abnormalitas yang sering terjadi, diantaranya: a. Base wide berdiri b. Base narrow berdiri c. Toe in d. Toe out : ujung kuku/hoof menyudut ke bagian medial tubuh : ujung kuku/hoof menyudut ke lateral tubuh, disebut juga splay footed : kaki bagian bawah (dimulai dari fetlock/phalang 1) menyempit ketika kuda : kaki bagian bawah (dimulai dari fetlock/phalang 1) melebar ketika kuda

4|NON RUMINANSIA

Gambar 8. Beberapa contoh abnormalitas pada kaki depan tampak depan dan belakang

Beberapa abnormalitas konformasi digambarkan pada gambar dibawah ini:

juga biasa terjadi pada kaki belakang

sebagaimana

Gambar 9. Beberapa gambaran abnormalitas kaki belakang

5|NON RUMINANSIA

Cara Berjalan dan Berlari

6|NON RUMINANSIA

Cara Berdiri

B. Laminitis dan Vesicular Disease Etiologi Definisi sederhana dari laminitis adalah suatu proses inflamasi yang melibatkan lapisan dermal dan epidermal dari kuku, atau suatu penyakit yang disebabkan oleh kegagalan pertautan antara distal phalanx (coffin bone) dan dinding kuku dalam. Seekor kuda menderita laminitis waktu lamellae pada dinding kuku dalam, yang biasanya menangguhkan distal phalanx dari permukaan dalam kapsul kuku, mengalami degenerasi dan gangguan. Tanpa kedudukan distal phalanx yang semestinya, maka berat kuda dan arah pergerakkan tulang akan terdorong ke dalam kapsul kuku. Proses ini akan memotong arteri dan vena serta menghancurkan lapisan corium dari sole dan coronet, sehingga menyebabkan rasa sakit yang sangat dan kepincangan yang khas. Pada dasarnya laminitis dapat disebabkan oleh faktor metabolik dan fisikal, seperti kelebihan karbohidrat dalam pakan (terlalu banyak pemberian biji-bijian dan rumput), kelebihan berat badan, masalah pada saluran pencernaan (radang usus), endotoxemia, kolik, stress/shock, 7|NON RUMINANSIA

terlalu lelah bekerja maupun pemberian konsumsi air dingin yang terlalu banyak saat kehausan. Peradangan pada lamina sensitif, namun dapat sering kali disebabkan kelebihan pakan dan kurangnyaexercise pada kelompok kuda poni, dan pada kuda betina biasanya setelah melahirkan. Laminitis seringkali terjadi hanya pada kaki depan saja, walaupun terkadang kaki depan juga bisa (Bone, 1963).

Patogenesis Perubahan pakan mendadak, ketidakseimbangan konsentrat dan serat yang disertai penyakit lain (radang ambing dan endometritis sesudah melahirkan) akan

menyebabkan tubuhmengalami asidosis dan mengeluarkan antihistamin sebagai reaksi asing adanya perubahan, ketidakseimbangan dan penyakit. Kondisi ini memicu pembuluh darah untuk mengalami vasokontriksi. Vasokonstriksi pembuluh darah akan berakibat jelas pada daerah kaki dan kuku karena kaki dan kuku merupakan penyangga berat tubuh sehingga akan tertekan pada daerah tersebut. Semakin lama, darah yang beredar ke daerah tersebut berkurang dan bahkan berhenti sehingga pembuluh darah akan mengalami nekrosa yang berdampak yang pada

perubahan fisik jaringan disekitarnya.

Akhirnya

terjadilah

laminitis

ditandai

dengan kepincangan parah yang disertai pertumbuhan kuku yang tidak normal. Laminitis merupakan penyakit akibat banyak faktor.

Penerapan manajemen kandang merupakan faktor risiko laminitis. Terdapat dua langkah pencegahan terpenting untuk mengurangi laminitis berhubungan dengan luka terkait

dengan pakan dan kandang. Untuk mencegah laminitis, kandang ternak harus dibuat nyaman dengan menghindari penggunaankandang yang beralaskan beton karena dapat berpengaruh negatif pada kesehatan kuku. Sebaiknya kandang dibuat beralaskan karet untuk mengurangi perlukaan kuku. Kebanyakan kasus laminitis berawal dari proses pencernaan yang buruk. Ketika makanan tidak tercerna sempurna pada bagian hindgut seekor kuda, asam dan toksin yang dihasilkan akan masuk dalam tubuh dan melalui aliran pembuluh darah menyebabkan kerusakan organ diseluruh tubuh. Bila pembuluh darah dan sel pada kaki terkena maka hal ini akan mengakibatkan penurunan aliran darah pada laminae dan akan menjadi bengkak (beberapa teori menyatakan bahwa toksin sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan lapisan tanduk kuku dan hal inilah yang paling banyak menjadi penyebab laminitis). Kebengkakan atau inflamasi dari laminae berarti bahwa laminae tidak dapat melakukan fungsinya secara maksimal dalam menahan pedal bone pada posisinya sehingga mengakibatkan rasa sakit yang sangat. Sewaktu kondisi menjadi sangat buruk dan aliran toksin tidak dapat dikurangi kemudian kerusakan

8|NON RUMINANSIA

laminae akan menjadi lebih karena pertumbuhan tulang kaki yang terus menuju pada bagian sole dan pada akhirnya harus dilakukan euthanasia apabila sudah tidak dapat disembuhkan lagi demi kesejahteraan satwanya. Pada tahap awal pendiri akut dapat dilihat bahwa 'rotasi' falang distal pada kenyataannya merupakan kebalikan dari rotasi kuku dalam kaitannya dengan falang distal. Setelah peregangan dan detasemen obligasi antar-laminar extravasates cairan ke dalam ruang dibuat antara lamina dermal dan epidermis. Hubungan paralel antara korteks dorsal falang distal dan dinding kuku punggung hilang. Namun penyelarasan tiga falang tidak berubah yakni, tidak ada rotasi benar. Akumulasi perdarahan dan serum di bawah dinding kuku berada di bawah tekanan dan menciptakan rasa sakit yang hebat. Sebuah prosedur dinding punggung pemboran akan mengeluarkan cairan ini. Dalam beberapa kasus laminitis otot fleksor mendalam digital tampaknya menjadi kejang atau sebenarnya mempersingkat. Hal ini kemudian menjadi mungkin untuk kembali menyelaraskan kolom phalangeal dengan berjalan kaki ganti. Divisi Bedah ligamen cek inferior atau tendon fleksor mendalam digital akan diperlukan. Gejala Klinis Pada laminitis akut, biasanya kedua kaki depan diestensikan di depan tubuh sehingga berat badan ditopang pada bagian belakang teracak (Hills). Pada kuda yang sedang rebahan biasanya terjadi kesulitan untuk bangun tidur kembali. Terkadang laminitis akut ditandai dengan gejala sistemik, seperti peningkatan suhu tubuh, kesulitan bernapas, anoreksia, dan depresi. Pada laminitis kronis, yang biasanya diakibatkan kuda obesitas dengan exercise yang terbatas. Gejala klinisnya lebih ringan daripada ksus akut. Tetapi kaki belakang biasanya ditempatkan di bawah tubuh. Biasanya, bila dipalpasi adanya kaki berasa panas, dan ada pulsasi arteri digitalis yang meningkat. Eksudat radang biasanya terlihat dan pakan memperlemah perlekatan antara lamina sensitif dan lamina ygh kasar. Sehingga ujung depan tilang jari kan jatuh di atas permukaan sol, sehingga ketika dilihat dari bawah, permukaan teracak yang seharusnya cekung menjadi cembung (Bone, 1963). Terapi Dapat dilakukan anestesi intraartikular untuk memblok nervus plantaris sehigga rasa sakit akibat radang dapat dihilangkan untuk sementara. Dapat dilakukan juga pemberiaan antihistamin yang dikombinasikan dengan fenilbutazon sebagai antiinflamasi. Pemberian obat suportif juga disarankan dengan menjaga kaki tetap dingin dan lembab, perbaikan pakan, dan manajemen perkandangan yang baik, seperti pemberian serbuk kayu sebagai alas kandang (Bone, 1963).

9|NON RUMINANSIA

Navicular Disease Etiologi Navicular disease adalah penyakit yang menyerang tulang navicular yang berada pada bagian belakang coffin joint. Pada tulang navicular sering kali mengalami tekanan yang sangat tinggi yang berasal dari phalank ke-2. Hal ini dapat menyebabkan perubhan posisi ke arah belakang dari tempat seharusnya. Posisi ini akan memperbesar kemungkinan terjadi fraktur terutama pada bagian tulang yang paling lemah. Navicular disease biasanya ditandai dengan osteitis kronis disertai kartilago artikular yang makin kasar dan adanya produksi osteofit atau deposit kalsium yang berproliferasi, terkadang juga terjadi kalsifikasi pada ligamen tulang navicular. Penyakit ini dapat disebabkan akibat hereditas, konformasi kaki kuda yang tidak sempurna biasanya pada bagian pastern. Sebab lain diantaranya luka yang berprenetrasi pada bagian kuneus, hills yang berkontraksi, osifikasi ligamentum suspensorium pada bagian samping tulang navicular (Bone, 1963). Gejala Klinis Gejala klinis yang menciri yakni terjadi kepincangan yang terjadi secara bertahap yang akan terdeteksi ketika kuda berjalan pada permukaan yang kasar. Gejala yang sangat menciri lainnya yakni kuda akan menempatkan salah satu kaki yang terasa sakit di depan kaki lainnya sehingga seolah menunjuk posisi yang sakit. Diagnosis dapat didasari oleh gejala klinis, rekording, pemeriksaan hoof tester dan radiografi. Pada hasil pencitraan X-ray dapat diidentifikasi kerusakan navicular tetapi sangat sulit untuk menginterpretasikan perubahan yang terjadi pada navicular dan pada jaringan lunak seperti ligament (Casey, 2011). Diagnosa Untuk itu perlu dilakukan percobaan Spat, yakni : Kaki belakang yang diduga sakit diflexio pada persendian tarsus selama lima menit Kemudian dilarikan Maka jika positif Spat, terlihat pada lima langkah pertama Diperhatikan apakah kaki diabduksi, adduksi, diseret, terantuk, atau diangkat. Selain ketiga cara di atas, ada cara lain sebagai tambahan pemeriksaan yaitu jalan berputar/melangkah berputar, bisa ke kanan atau ke kiri. Hoof tester memiliki beberapa desain yang berbeda-beda. Model yang lama berbentuk seperti tang besar, bulat, dan cukup panjang (12-18 inci). Desain yang lebih baru dapat disesuaikan dengan ukuran kuku. Ada pula model yang yang dapat diseauaikan dengan jangkauan, tebuat dari stainless steel. Pemeriksaan kuku harus sistematis, konsisten, dan harus mencakup semua bagian kuku.

10 | N O N R U M I N A N S I A

Urutan yang sebenarnya dari pemeriksaan ini tidak terlalu penting, yang penting adlah penerapannya harus sama dari waktu ke waktu sehingga tidak ada yang terlewatkan. Tekanan yang diberikan pada kuku harus sama. Respon positif berupa refleks penarikan kaki. Hal ini harus dibedakan dengan refleks gugup atau kesal. Kuncinya adalah konsistensi. Respon nyeri sejati adalah respon yang dihasilkan dengan stimulus yang sama berkali-kali pada tempat yang sama dengan hasil yang sama pula. Sebaliknya penarikan karena respon gugup tidak akan terjadi kembali walaupun dilakukan berulang-ulang pada tempat yang sama (Smith, 2000).

3. Anestesi Lokal Anestesi lokal adalah obat yang mampu menghambat konduksi saraf (terutama nyeri) secara reversibel pada bagian tubuh yang spesifik. Anestetika lokal terdiri dari 3 bagian, gugus amin hidrofilik yang dihubungkan dengan gugus aromatik hidrofobik oleh gugus antara. Gugus antara dan gugus aromatik dihubungkan oleh ikatan amida atau ikatan ester. Berdasarkan ikatan ini, anestetika lokal digolongkan menjadi : - senyawa ester (prokain, tetrakain, benzokain, kokain) - senyawa amida (lidokain, dibukain, mepivakain, prilokain) (Wahyudiono, 2011). Mekanisme Kerja Cara kerja obat anestetik local dan regional adalah dengan menghambat transmisi saraf dari neumuskular ke ganglia. Pada saat obat anestesi local mengenai saraf perifer, maka transmisi dalam serabut tersebut dihambat, sebagai akibatnya rasa nyeri hilang untuk sementara, diawali dari serabut tidak bermielin kemudian serabut bermielin, hal ini terjadi karena sel saraf bermielin lebih tahan dibanding sel saraf tidak bermielin. (Sardjana, 2004)

Farmakokinetik Struktur obat anestetika lokal mempunyai efek langsung pada efek terapeutiknya. Semuanya mempunyai gugus hidrofobik (gugus aromatik) yang berhubungan melalui rantai alkil ke gugus yang relatif hidrofilik (amina tertier). Kecepatan onset anestetika lokal ditentukan oleh: - kadar obat dan potensinya - jumlah pengikatan obat oleh protein dan pengikatan obat ke jaringan lokal - kecepatan metabolisme - perfusi jaringan tempat penyuntikan obat.

11 | N O N R U M I N A N S I A

Pemberian vasokonstriktor (epinefrin) + anestetika lokal dapat menurunkan aliran darah lokal dan mengurangi absorpsi sistemik. Vasokonstriktor tidak boleh digunakan pada daerah dengan sirkulasi kolateral yang sedikit dan pada jari tangan atau kaki dan penis. Golongan ester (prokain, tetrakain) dihidrolisis cepat menjadi produk yang tidak aktif oleh kolinesterase plasma dan esterase hati. Bupivakain terikat secara ekstensif pada protein plasma (Wahyudiono, 2011). Farmakodinamik Onset, intensitas, dan durasi blokade saraf ditentukan oleh ukuran dan lokasi anatomis saraf. Saluran Na+ penting pada sel otot yang bisa dieksitasi seperti jantung. Efeknya terhadap saluran Na+ jantung adalah dasar terapi anestetika lokal dalam terapi aritmia tertentu (biasanya yang dipakai lidokain). Anestetika lokal umumnya kurang efektif pada jaringan yang terinfeksi dibanding jaringan normal, karena biasanya infeksi mengakibatkan asidosis metabolik lokal, dan menurunkan pH. Efek Samping Efek sistem saraf pusat : depresi, stimulasi, atau keduanya, tergantung jalur saraf yang dipengaruhi anestetika lokal. Overdosis anestetika lokal dapat menyebabkan : - penurunan transmisi impuls pada neuromuscular junction dan sinaps ganglion - mengakibatkan kelemahan dan paralisis otot (Wahyudiono, 2011).

Metode yang umum digunakan untuk anestesi lokal: 1. Anestesi Topikal Anestesi ini diberikan pada mukosa/selaput lendir permukaan tubuh. Dapat di mukosa hidung, mulut, dan mata (Widyananta, 2011). 2. Anestesi Intrasynovial Diberikan pada sendi, bursa dan pelinsung tendon. Digunakan untuk diagnosis kepincangan atau untuk menghilangkan rasa nyeri. Anestetisi lokal yang digunakan iritasi minimal dan dijaga sterilitas karena infeksi pada daerah ini mudah terjadi. 3. Anestesi Infiltrasi Merupakan anestesi Line Block. Suntik kulit, otot, peritoneum. Jarum 20G atau kurang untuk kulit : 2,5 cm, jarum 18 G untuk lapisan di bawah kulit 7,510 cm. 50 ml Lidocaine 2%

12 | N O N R U M I N A N S I A

0,5-1 ml tiap 1-2cm (Widyananta, 2011). 4. Anestesi Spinal Anestesi spinal dibagi menjadi 2 tipe: a. Anestesi epidural (extradural) menempatkan anestetik lokal ke daerah extradural. Jarum masuk melewati canal spinal, namun tidak mempenetrasi meninges. Anestetik terbatas hingga canal di sebelah luar duramater. b. True spinal anesthesia tentang akses subaracnoid dimana jarum mempenetrasi duramater dan analgesic di injeksi ke cairan cerebrospinal. 5. Anestesi Regional a. Inverted L-block Target: laparatomy flank/ laparatomy paramedial.Vertical: sepanjang costae terakhir (T13). Horisontal: L1-L4 100 ml Lidocaine 2%, jarum 18G. b. Paravertebral / Paralumbal Block Target: kulit, fascia, muskulus, peritoneum dari flank. Paravertebral: T13, L1, L2. Paralumbal : L1, L2, L3 (Widyananta, 2011). 6. Anestesi Intraartikular Dilakukan pada sendi kaki kuda (Widyananta, 2011).

Anastesi Regional (Intra Articular) Teknik anestesi intraartikular ditujukan untuk memblokade saraf ektremitas untuk membantu diagnosis kepincangan pada kuda dan operasi neurektomi. Blokade ini ditujukan pada saraf sensoris yang menginrvasi regio tertentu. Untuk injeksi intraartikular, penempatan yang benar dari jarum di ruas sendi dapat ditunjukkan dari tetesan cairan senofial pada jarum atau dapat diperoleh dari aspirasi jarum. Bagian yang biasanya diinjeksikan terletak pada celah antara tendon fleksor profunda dengan ligamentum suspensorium sekitar 2 inci di atas fetlog joint dan berdekatan dengan percabangan nervus. Jika yang teraspirasi pada jarum adalah darah maka jarum harus diposisikan ke arah caudal. Blokade pada bagian ini menganastesi regio teracak dan pastern joint. Pada anestesi ini dibutuhkan jarum sepanjang 1 inci dan ukuran gauge 20. Jenis anestesi yang diberikan berupa lidokain, prokain, prilokain, dan mepivakain. Sebelumnya perlu dilakukan deinfeksi pada tempat yang akan dianestesi. Terkadang setelah anestesi terjadi edema lokal yang dapat diminimalisasi dengan perban selama 24-48 jam paska injeksi (Bone, 1963).

13 | N O N R U M I N A N S I A

Gambar lokasi Injeksi Intra-Artikular

14 | N O N R U M I N A N S I A

DAFTAR PUSTAKA

Stashak, T. 2001. Adams' Lameness in Horses. Williams & Wilkins, London. Smith, B.P. 2001. Large Animal Internal Medicine: fourth edition. Mosby, London. Bone, J. F, 1963, Equine Medicine and Surgery, American Veterinery Publication; California. Casey, James M., 2011, Navicular Disease in Horse. Diakses pada tanggal 13 April 2011,www.equinehorsevet.com.

Widyananta, B. J. 2011. Lokal dan Regional Anestesia. Diakses http://mokhamad10.student.ac.id 13 April 2011

15 | N O N R U M I N A N S I A