Anda di halaman 1dari 8

A. Pengertian Striktur urethra adalah penyempitan atau konstriksi dari lumen urethra akibat adanya obstruksi (long,1996).

Striktur urethra adalah penyempitan akibat dari adanya pembentukan jaringan fibrotik (jaringan parut) pada urethra atau daerah urethra. (UPF Ilmu Bedah, 1994) B. Penyebab Berdasarkan penyebab/etiologinya striktur dibagi menjadi 3 jenis : 1. Struktur urethra congenital Striktur ini bisanya sering terjadi di fossa navikularis dan pars membranase, sifat striktur ini adalah stationer dan biasanya timbul terpisah atau bersamaan dengan anomalia saluran kemih yang lain. 2. Struktur urethra traumatic Trauma ini akibat trauma sekunder seperti kecelakaan, atau karena instrumen, infeksi, spasmus otot, atau tekanan dari luar, atau tekanan oleh struktur sambungan atau oleh pertumbuhan tumor dari luar serta biasanya terjadi pada daerah kemaluan dapat menimbulkan ruftur urethra, Timbul striktur traumatik dalam waktu 1 bulan. Striktur akibat trauma lebih progresif daripada striktur akibat infeksi. Pada ruftur ini ditemukan adanya hematuria gross. 3. Struktur akibat infeksi Struktur ini biasanya disebabkan oleh infeksi veneral. Timbulnya lebih lambat daripada striktur traumatic. C. Manifestasi Klinis Kekuatan pancaran dan jumlah urin berkurang Gejala infeksi Retensi urinarius Adanya aliran balik dan mencetuskan, prostatitis dan pielonefritis (C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468) Derajat penyempitan uretra: a. Ringan: jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen. b. Sedang: oklusi 1/3 s.d 1/2 diameter lumen uretra. c. Berat: oklusi lebih besar dari diameter lumen uretra.

Ada derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis. (Basuki B. Purnomo; 2000 hal 126 ) D. Pencegahan Elemen penting dalam pencegahan adalah menangani infeksi uretral dengan tepat. Pemakaian kateter uretral untuk drainase dalam waktu lama harus dihindari dan perawatan menyeluruh harus dilakukan pada setiap jenis alat uretral termasuk kateter. (C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468) E. Penatalaksanaan a. Filiform bougies untuk membuka jalan jika striktur menghambat pemasangan kateter. b. Medika mentosa Analgesik non narkotik untuk mengendalikan nyeri. Medikasi antimikrobial untuk mencegah infeksi. c. Pembedahan Sistostomi suprapubis Businasi ( dilatasi) dengan busi logam yang dilakukan secara hati-hati. Uretrotomi interna : memotong jaringan sikatrik uretra dengan pisau otis/sachse. Otis dimasukkan secara blind ke dalam bulibuli jika striktur belum total. Jika lebih berat dengan pisau sachse secara visual. Uretritimi eksterna: tondakan operasi terbuka berupa pemotonganjaringan fibrosis, kemudian dilakukan anastomosis diantara jaringan uretra yang masih baik. (Basuki B. Purnomo; 2000 hal 126 dan Doenges E. Marilynn, 2000 hal 672) F. pemeriksaan penunjang a. Urinalisis : warna kuning, coklat gelap, merah gelap/terang, penampilan keruh, pH : 7 atau lebih besar, bakteria. b. Kultur urin: adanya staphylokokus aureus. Proteus, klebsiella, pseudomonas, e. coli. c. BUN/kreatin : meningkat d. Uretrografi: adanya penyempitan atau pembuntuan uretra. Untuk mengetahui panjangnya penyempitan uretra dibuat foto iolar (sisto) uretrografi. e. Uroflowmetri : untuk mengetahui derasnya pancaran saat miksi

f. Uretroskopi : Untuk mengetahui pembuntuan lumen uretra (Basuki B. Purnomo; 2000 hal 126 dan Doenges E. Marilynn, 2000 hal 672)

ASUHAN KEPERAWATAN STRIKTUR URETRA

A. Pengkajian 1. Sirkulasi Tanda: peningkatan TD ( efek pembesaran ginjal) 2. Eliminasi Gejala: penurunan aliran urin, ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekurnsi berkemih Tanda: adanya masa/sumbatan pada uretra 3. Makanan dan cairan Gejala; anoreksia;mual muntah, penurunan berat badan 4. Nyeri/kenyamanan Nyeri suprapubik 5. Keamanan : demam Penyuluhan/pembelajaran 6. Inspeksi : Memeriksa uretra dari bagian meatus dan jaringan sekitarnya Observasi adanya penyempitan, perdarahan, mukus atau cairan purulent ( nanah ) Observasi kulit dan mukosa membran disekitar jaringan Perhatikan adanya lesi hiperemi atau keadaan abnormal lainnya pada penis, scrotom, labia dan orifisium Vagina. Iritasi pada uretra ditunjukan pada klien dengan keluhan ketidak nyamanan pada saat akan miksi. 7. Pengkajian Psikososial : Respon emosional pada p b enderita sistim perkemihan, yaitu : menarik diri, cemas, kelemahan, gelisah, dan kesakitan. Respon emosi pada pada perubahan masalah pada gambaran diri, takut dan kemampuan seks menurun dan takut akan kematian. 8. Pengkajian Diagnostik Sedimen urine untuk mengetahui partikel-partikel urin yaitu sel, eritrosit, leukosit,

bakteria, kristal, dan protein. Urine kultur

B. Pengkajian post operasi Sachse Pengkajian ini dilakukan setelah klien menjalani operasi, yang meliputi: 1. Keluhan utama Keluhan pada klien berbeda beda antara klien yang satu dengan yang lain. Kemungkinan keluhan yang bisa timbul pada klien post operasi Sachse adalah keluhan rasa tidak nyaman, nyeri karena spasme kandung kemih atau karena adanya bekas insisi pada waktu pembedahan. Hal ini ditunjukkan dari ekspresi klien dan ungkapan dari klien sendiri. 2. Keadaan umum Kesadaran, GCS, ekspresi wajah klien, suara bicara.. 3. Sistem sirkulasi Yang dikaji: nadi ( takikardi/bradikardi, irama ), tekanan darah, suhu tubuh, monitor jantung ( EKG ). 4. Sistem gastrointestinal Hal yang dikaji: Frekuensi defekasi, inkontinensia alvi, konstipasi / obstipasi, bagaimana dengan bising usus, sudah flatus apa belum, apakah ada mual dan muntah. 5. Sistem neurology Hal yang dikaji: keadaan atau kesan umum, GCS, adanya nyeri kepala. 6. Sistem muskuloskleletal Bagaimana aktifitas klien sehari hari setelah operasi. Bagaimana memenuhi kebutuhannya. Apakah terpasang infus dan dibagian mana dipasang serta keadaan disekitar daerah yang terpasang infus. Keadaan ekstrimitas. 7. Sistem eliminasi Apa ada ketidaknyamanan pada supra pubik, kandung kemih penuh . Masih ada gangguan miksi seperti retensi. Kaji apakah ada tanda tanda perdarahan, infeksi. Memakai kateter jenis apa. Irigasi kandung kemih. Warna urine dan jumlah produksi urine tiap hari. Bagaimana keadaan sekitar daerah pemasangan kateter.

8. Terapi yang diberikan setelah operasi 9. Infus yang terpasang, obat obatan seperti antibiotika, analgetika, cairan irigasi kandung kemih. C. Diagnosa sebelum operasi . Nyeri sehubungan dengan penyumbatan saluran kencing sekunder terhadap struktur urethra. D. Diagnosa setelah operasi Perubahan eliminasi urine sehubungandengan obstruksi sekunder dari Sachse bekuan darah odema. E. Perencanaan Setelah merumuskan diagnosis keperawatan, maka intervensi dan aktifitas keperawatan perlu di tetapkan untuk mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan klien. Tahap ini disebut sebagai perencanaan keperawatan yang terdiri dari: menentukan prioritas diagnosa keperawatan, menetapkan sasaran ( goal ), dan tujuan (obyektif ), menetapkan kriteria evaluasi, merumuskan intervensi dan aktivitas keperawatan. Selanjutnya dibuat perencanaan dari masing masing diagnosa keperawatan sebagai berikut : Sebelum operasi: 1. Nyeri sehubungan dengan penyumbatan saluran kencing sekunder terhadap striktur urethra. Tujuan : Klien menunjukan bebas dari ketidaknyamanan Kriteria hasil : Klien melaporkan nyeri hilang / terkontrol Ekspresi wajah klien rileks Klien mampu untuk istirahat dengan cukup Tanda-tanda vital dalam batas normal Rencana tindakan : 1. Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas ( skala 1-10 ), dan lamanya. 2. Beri tindakan kenyamanan, contoh: membantu klien melakukan posisi yang nyaman, mendorong penggunaan relaksasi / latihan nafas dalam.

3. Beri kateter jika diinstruksikan untuk retensi urine yang akut : mengeluh ingin kencing tapi tidak bisa. 4. Observasi tanda tanda vital. 5. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat sesuai indikasi, contoh: kaltrofen ( Dumerol ) Rasional : Memberi informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan Intervensi. Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping. Retensi urine menyebabkan infeksi saluran kemih, hidro ureter dan hidro nefrosis Mengetahui perkembangan lebih lanjut. Untuk menghilangkan nyeri hebat / berat, memberikan relaksasi mental dan fisik. Sesudah operasi 1. Perubahan pola eliminasi urine sehubungan dengan obstruksi sekunder dari Sachse: bekuan darah, edema. Tujuan: Eliminasi urine normal dan tidak Kriteria hasil: Klien akan berkemih dalam jumlah normal tanpa retensi. Klien akan menunjukan perilaku yang meningkatkan kontrol kandung kemih. Tidak terdapat bekuan darah sehingga urine lancar lewat kateter. Rencana tindakan: 1. Kaji output urine dan karakteristiknya Pertahankan irigasi kandung kemih yang konstan selama 24 jam pertama Pertahankan posisi dower kateter dan irigasi kateter. Anjurkan intake cairan 2500-3000 ml sesuai toleransi. Setalah kateter diangkat, pantau waktu, jumlah urine dan ukuran aliran. Perhatikan keluhan rasa penuh kandung kemih, terjadi retensi urine.

ketidakmampuan berkemih, urgensi atau gejala gejala retensi. Rasional: F. Implementasi Pelaksanaan adalah realisasi dari perencanaan keperawatan oleh perawat dan klien, baik sebelum operasi dan sesudah operasi. Beberapa petunjuk pada implementasi adalah sebagai berikut: a. Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah divalidasi. b. Keterampilan interpersonal, intelektual, teknikal, dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat. c. Keamanan fisik dan psikologis dilindungi. d. Dokumentasi intervensi dan respon klien. G. Evaluasi Semua tahap proses keperawatan ( diagnosis, tujuan, intervensi ) harus dievaluasi. Tujuan evaluasi adalah untuk apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang . Ada tiga alternatif yang dapat dipakai perawat dalam memutuskan, sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai, yaitu tujuan tercapai, tujuan tercapai sebagian dan tujuan tidak tercapai. Untuk dapat menilai maka dilihat dari perilaku klien sebagai berikut: 1. Tujuan tercapai jika klien telah mampu menunjukkan perilaku, dan seluruhnya sesuai dengan pernyataan tujuan yang telah ditentukan . 2. Tujuan tercapai sebagian jika klien telah mampu menunjukkan perilaku, tetapi tidak seluruhnya sesuai dengan pernyataan tujuan yang telah ditentukan . 3. Tujuan tidak tercapai jika klien tidak mampu atau tidak mau sama sekali menunjukkan perilaku yang diharapkan, sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Evaluasi adalah bagian akhir dari proses keperawatan . Mencegah retensi pada saat dini. Mencegah bekuan darah karena dapat menghambat aliran urine. Mencegah bekuan darah menyumbat aliran urine. Melancarkan aliran urine. Mendeteksi dini gangguan miksi.