Anda di halaman 1dari 3

Kebutuhan bahan pangan masyarakat Indonesia semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.

Keadaan tersebut mendorong pencarian dan pengembangan sumber usaha perluasan aneka bahan pangan, agar kondisi rawan pangan dapat dihindari. Radiasi surya merupakan faktor penting bagi tanaman baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung radiasi dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan perkembangan dan secara tidak langsung radiasi dimanfaatkan dalam proses fotosintesis. Diharapkan pada akhirnya tanaman ini dapat terus dikembangkan, sehingga dapat menjadi salah satu komoditas pertanian di Indonesia. Kapasitas tanaman dalam mengintersepsi radiasi matahari ditentukan oleh indeks luas daun (leaf area index atau LAI), yaitu luas helai daun per satuan luas permukaan tanah. Semakin besar LAI maka semakin besar pula radiasi surya yang dapat diintersepsi untuk dimanfaatkan oleh tumbuhan. Pengukuran LAI secara konvensional didasarkan pada nisbah antara luas daun dengan luas bidang tegakan yang diproyeksikan tegak lurus terhadap penutupan tajuk. Menurut (Prawiranata et al. 1981 dalam Nofrianil dkk, 2011), menambahkan bahwa prinsip dasar dari produksi tanaman pertanian adalah konversi energi sinar matahari (energi surya) menjadi energi kimia (senyawa organik) dan dapat diambil oleh manusia dalam bentuk biji, buah, bunga, daun, batang, akar dan sebagainya. Produksi senyawa organik yang dihasilkan oleh proses fotosintesis tergantung pada tersedianya air, CO2, energi matahari dan tidak terdapatnya senyawa toksik disekitar tanaman. Organ fotosintetik yang berperan dalam proses fotosintesis adalah stomata dan klorofil. 1.2. Tujuan Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui indeks luas daun, intersepsi radiasi matahari, indeks perendeman dan Jumlah klorofil a, b dan total pada tanaman padi varietas mekongga dengan jarak tanam 30 X 30 cm. II. TINJAUAN PUSTAKA Salah satu sifat morfologi yang banyak mendapat perhatian adalah yang berhubungan dengan penerimaan kuanta radiasi matahari. Ini didasarkan atas kenyataan bahwa jumlah kuanta radiasi matahari yang diintersepsi tanaman sering merupakan factor pembatas tanaman. Sesungguhnya fluks (curahan) kuanta radiasi datang tidak merupakan factor pembatas, sehingga intersepsi radiasi yang terbatas berhubungan dengan sifat tanaman itu sendiri (Sitompul dan

Guritno, 1995). Leaf Area Index (LAI) merupakan salah satu indikator untuk menentukan intensitas radiasi yang dapat diserap oleh tanaman untuk proses fotosintesis. LAI juga sebagai peubah struktur tunggal yang banyak digunakan untuk menghitung karakteristik pertukaran energi dan massa pada sebuah ekosistem terestrial seperti intersepsi, transpirasi, fotosintesis netto dan asimilasi kanopi. Tajuk tanaman yang memperhatikan konsep LAI optimum atau LAI kritis menujukan nilai Crop Growth Rate (CGR) bersama dengan meningkatkanya LAI, sampai tercapai nilai LAI pada saat penyerapan radiasi matahari paling besar (Gardner, et al. 1991). Koefisien pemadaman tajuk dapat diperoleh dengan menurunkan persamaan Hukum Beer untuk transmisi. Pola pemadaman tajuk sesuai dengan hokum absorbsi Lambert Beer yang menyatakan bahwa setiap lapisan yang tebalnya sama akan menyerap bagian radiasi yang sama dan yang melewatinya. Untuk tajuk tanaman, lapisan yang sama tebalnya didasarkan pada satuan LAI. Jadi jumlah cahaya matahari yang menembus melalui tajuk dipengaruhi oleh LAI dan pola penempatan daun. Koefisien pemadaman (k) memberikan petunjuk numerikal penipisan cahaya dalam tajuk (Awal et al. 2006 dalam Ariyani 2011). Klorofil merupakan pigmen hijau tumbuhan dan merupakan pigmen yang paling penting dalam proses fotosintesis. Sekarang ini, klorofil dapat dibedakan dalam 9 tipe : klorofil a, b, c, d, dan e. Bakteri klorofil a dan b, klorofil chlorobium 650 dan 660. klorofil a biasanya untuk sinar hijau biru. Sementara klorofil b untuk sinar kuning dan hijau. Klorofil lain (c, d, e) ditemukan hanya pada alga dan dikombinasikan dengan klorofil a. bakteri klorofil a dan b dan klorofil chlorobium ditemukan pada bakteri fotosintesin. (Devlin, 1975 dalam Pratama, 2009). Menurut Dwidjoseputro (1983), kloropil tidak larut dalam air, melainkan larut dalam etanol, methanol eter, aceton, bensol dan kloroform. Untuk memisahkan kloropil a dan kloropil b beserta pigmen-pigmen lain seperti karotin, xantofil, orang menggunakan suatu tehnik yang disebut kromatografi, dimana larutan klorofil dilewatkan suatu tabung berisi bubukan sukrosa yang halus.

Ariyani, 2011. Transmisi Radiasi Surya Dan Koefisien Pemadaman Tajuk Tanaman Kentang (Solanum Tuberosum L.) Di Galudra, Cipanas Jawa Barat Departemen Geofisika Dan Meteorologi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Dwidjoseputro, D. 1983. Pengantar Fisologi Tumbuhan. Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Brawijaya. Penerbit PT. Gramedia. Jakarta. Gardner, F.P. ; Pearce, R.B dan Mitchell, R.L. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya diterjemahkan oleh Herawati Susilo. Pendamping Subiyanto. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. Nofrianil ; Widyawati, I ; Gromikora. M dan Engelbert, M. 2011. Pengamatan Stomata pada tanaman C3, C4 dan CAM. Program Studi Agronomi dan Hortikultura, Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Pratama, A.T. ; Makhzuni, R. ; Gumninar ; Desriningsih ; Dewi, S.R. dan Ayu, P.R. 2009. Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan Pigmen Fotosintetik. Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas. Padang. Sitompul. S.M. dan Guritno B, 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Fakultas Pertanian Univertas Brawijaya. Gajahmada University Press. Yogyakarta. Witham, F. H. ; Blaydes, D.F dan Devlin, R.M. 1971. Experiments in plant physiology. Van Nostrand Reinhold Company Regional Office. New York.