Anda di halaman 1dari 14

TUGAS PAPER

POLITIK BISNIS INTERNASIONAL

Hambatan dan Tantangan Fair Trade

di Negara Berkembang

(Studi Kasus: Indonesia)

NAMA : AMANDA AFIANTARI KUSWANDI

NPM : 2006330015

KELAS : C

DOSEN : Aknolt Kristian Pakpahan, S.IP., M.A.

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN

2008
Hambatan dan Tantangan Fair Trade

di Negara Berkembang

(Studi Kasus: Indonesia)

Logo-logo Fair Trade "Perdagangan yang Adil" kini marak ditemui di banyak produk di
pasar swalayan berbagai negara Eropa termasuk Belanda. Para konsumen nampak juga sudah
akrab dengan label baru tersebut. Tapi sekalipun akrab, masih banyak yang tidak tahu lebih
jauh soal perdagangan yang adil itu. Beberapa orang mendasari konsep Fair Trade terbatas
pada tidak mempekerjakan buruh anak, beberapanya lagi merasa patut membeli produk kopi
dari petani yang mendapatkan harga yang pantas. Di luar itu masih ada orang yang
memusatkan perhatiannya pada produk ramah lingkungan.

Paper ini dibuat dengan tujuan mengetahui makna dari konsep Fair Trade serta
menganalisis hambatan dan tantangan yang dialami oleh negara-negara berkembang, dalam
hal ini Indonesia, di dalam menerapkan prinsip-prinsip Fair Trade.

A. Definisi Fair Trade

Fair Trade adalah perdagangan yang berdasarkan pada dialog, keterbukaan dan saling
menghormati, yang bertujuan menciptakan keadilan, serta pembangunan berkesinambungan.
Melalui penciptaan kondisi perdagangan yang lebih fair dan memihak pada hak-hak
kelompok produsen yang terpinggirkan, terutama di negara-negara miskin akibat praktek
kebijakan perdagangan internasional1

Fair trade bertujuan untuk perbaikan penghidupan produsen melalui hubungan dagang
yang sejajar, mempromosikan peluang usaha dan kesempatan bagi produsen lemah atau
termarjinalisir meningkatkan kesadaran konsumen melalui kampanye fair trade,
mempromosikan model kemitraan dalam perdagangan yang adil, mengkampanyekan
perubahan dalam perdagangan konvensional yang tidak adil, melindungi HAM, pendidikan

1
http://www.ffti.info/about-fair-trade, diakses pada 8 Desember 2008
konsumen dan melakukan advokasi bagi terciptanya kondisi yang lebih baik, khususnya yang
berpihak kepada produsen kecil sehingga mereka dapat berpartisipasi di pasar.2

B. Sejarah Fair Trade

Bibit-bibit gerakan fair trade lahir di dunia barat akhir tahun ’40-an. Gerakan dilandasi
semangat solidaritas dunia barat terhadap negara dunia ketiga. Perintisnya adalah kelompok
keagamaan dan LSM. Ten Thousand Villages dan SERRV International adalah dua LSM
yang memulai pengembangan rantai perdagangan fair trade di negara berkembang.
Produknya—anyaman dan rajutan—dijual di gereja atau bazar di Amerika. Saat itu, gerakan
ini dipandang sebagai donasi dunia barat bagi penduduk miskin negara berkembang3

Inisiatif ini terus berkembang, bahkan konsep dasarnya mengalami pergeseran. Tak hanya
sebagai donasi, ketika sebagian kecil masyarakat dunia barat menilai telah terjadi eksploitasi
harga dalam perdagangan antara negara mereka dan negara dunia ketiga, mereka ingin
memperbaikinya dengan memberi harga lebih adil. Sekitar tahun ’70-an, sejumlah petani
kopi skala kecil di Meksiko yang sangat bergantung pada pihak lain (pengumpul, pedagang,
dan pengolah) dalam rantai perdagangan kopi mengembangkan label/sertifikasi fair trade
untuk kopi mereka. Nama yang diberikan adalah Max Havelaar. Dalam percobaan awal ini,
dibuka hubungan langsung antara pengolah kopi dan pengecer di Belanda dengan koperasi
petani kopi di Meksiko. Kini selain sebagai sebuah gerakan, fair trade populer sebagai
label/sertifikat yang disematkan pada produk yang dijual. Ini menjadi semacam jaminan dan
transparansi lebih bagi konsumen bahwa produsen skala kecil mendapatkan harga yang adil.
Dari sisi produsen, sertifikasi memperbesar akses mereka terhadap pasar ekspor.

Sejak pertengahan ‘80-an, gerakan fair trade telah berkembang secara signifikan di dunia
barat yang menjadi pasar utamanya. Tahun 2005, penjualan produk fair trade di tingkat global
mencapai 1,1 milyar euro4. Ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 30 persen lebih selama
tahun 2004. Saat ini, produk-produk berlabel fair trade tak hanya dijual di toko khusus tetapi
mulai juga dipajang di rak supermarket. Jenis produknya pun makin beragam. Meski
permintaan untuk produk-produk berlabel fair trade lebih banyak tumbuh di dunia barat, saat

2
http://118.98.213.22/aridata_web/how/k/konsumen/9_dagang_prod_organis.pdf, diakses pada 8 Desember
2008
3
http://www.oxfamamerica.org, diakses pada 8 Desember 2008
4
http://www.fairtrade.net/, diakses pada 8 Desember 2008
ini kita bisa melihat bahwa pada pasar lokal di seluruh dunia sudah mulai ada upaya
menciptakan perdagangan yang lebih adil bagi produsen.

Pada periode yang sama, pasar produk organik juga mengalami pertumbuhan yang stabil.
Perdagangan barang-barang organik dengan label fair trade sering disebut sebagai fair and
green trade.

C. Prinsip-prinsip Fair Trade

Fair trade sebagai sebuah alternatif menawarkan kondisi perdagangan yang lebih baik
bagi produsen kecil dan melindungi hak mereka yang selama ini terpinggirkan. Fair trade
membantu produsen kecil untuk memperoleh kehidupan yang layak melalui peningkatan
pendapatan, melindungi hak produsen kecil atas akses ke pasar, menyalurkan aspirasi &
pendapat mereka, tidak diskriminatif terhadap perempuan yang selama ini menjadi warga
kelas dua dan korban langsung atas perdagangan yang tidak adil, juga melindungi lingkungan
dari kerusakan karena minimnya penggunaan bahan-bahan kimiawi.

Dengan mekanisme fair trade, konsumen bersedia menghargai jerih payah produsen yang
selama ini tidak pernah diperhitungkan (misal: pemeliharaan tanaman, mengusir burung,
menjemur padi, dsb) sebagai komponen biaya produksi dalam sistem perdagangan
konvensional. Sebagai salah satu bentuk apresiasi konsumen atas jerih payah produsen,
mereka tidak keberatan untuk membeli harga premium (yang meliputi biaya produksi
ditambah biaya untuk reinvestasi) yang ditawarkan oleh produsen.

Sebaliknya, produsen juga menghargai kepedulian & kepercayaan yang diberikan oleh
konsumen dengan selalu memberikan informasi sebenarnya mengenai produk mereka
(kondisi, waktu panen, varietas) dan menjaga kualitas/kuantitas produknya. Produsen juga
melakukan pertemuan rutin untuk membahas dan mencari jalan keluar tentang masalah yang
mereka hadapi, khususnya yang berkaitan dengan pola perdagangan yang adil.

Diperlukan sebuah kemitraan perdagangan yang dilandaskan pada dialog, transparansi


dan respek yang bertujuan untuk mencapai kesetaraan yang seimbang (bagi Dunia Ketiga) di
dalam perdagangan internasional. Fair trade memberikan sumbangan bagi pembangunan
yang berkelanjutan dengan menawarkan kondisi perdagangan yang lebih baik dan melindungi
hak dari produser dan buruh yang terpinggirkan, terutama di Selatan.
Sebagai gerakan, fair trade terwujud dalam bentuk organisasi International Federation of
Alternative Trade (IFAT). Organisasi payung gerakan fair trade sedunia ini bermain di
advokasi kebijakan internasional. Pada pertemuan tahunan World Trade Organisation (WTO),
IFAT selalu muncul. Sejak di Cancun Mexico hingga di Hongkong tahun lalu mereka hadir
sebagai suara alternatif untuk mewujudkan perdagangan yang lebih adil.

Dalam halaman situs International Fair Trade Association, Asosiasi Internasional


Perdagangan yang Adil menyebut sembilan syarat5 agar sebuah perdagangan dapat disebut
adil.

1. Membuka peluang bagi produsen dari kalangan ekonomi lemah

2. Transparan dan dapat dipertanggungjawabkan

3. Meningkatkan keahlian produsen

4. Mendorong terbentuknya perdagangan yang adil dan merata

5. Pembayaran dengan harga yang pantas melalui dialog dan prinsip partisipasi sesuai
dengan perkembangan pasar

6. Menghormati kesetaraan gender

7. Membentuk situasi dan kondisi lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi pekerja
dan masyarakat

8. Tidak melibatkan pekerja anak

9. Tidak merusak lingkungan hidup dan memberikan dampak bagi pembangunan lokal,
secara berkala mengurangi tingkat ketergantungan impor dan membudidayakan
produk lokal.

D. Aplikasi Fair Trade di Indonesia

Meski lahir di dunia barat, konsep fair trade bukan sesuatu yang mengawang-awang. Fair
trade juga sesuai diterapkan di Indonesia karena tujuannya adalah memperbaiki taraf hidup
produsen skala kecil, dalam hal ini petani. Inisiatif menciptakan fair trade atau perdagangan

5
http://www.ranesi.nl/tema/jendelaantarbangsa/tema_fairtrade/, diakses pada 8 Desember 2008
adil atau perdagangan berkeadilan di tingkat lokal sangat perlu dilakukan. Ini mengingat,
banyak lembaga pengatur harga bentukan pemerintah—seperti BULOG—gagal menjalankan
tugasnya dengan baik. Saat ini, ketika harga pangan di dunia mengalami kenaikan sangat
signifikan, harga beli gabah di tingkat petani kebanyakan masih jauh di bawah harga pasar
yang ditetapkan sendiri oleh pemerintah.

Saat ini di Indonesia, istilah fair trade mungkin baru dikenal oleh kalangan lembaga
swadaya masyarakat (LSM), eksportir, dan produsen komoditas ekspor saja. Fair trade, yang
sering diterjemahkan menjadi perdagangan adil atau perdagangan berkeadilan, adalah
gerakan sosial dengan pendekatan berbasis pasar yang bertujuan mengurangi kemiskinan di
tingkat global dan mempromosikan sistem perdagangan berkelanjutan. Fair trade
memperjuangkan adanya jaminan harga pembelian yang adil, sekaligus memperbaiki kondisi
sosial dan lingkungan bagi komunitas produsen. Gerakan ini umumnya berfokus membuka
pasar ekspor dari negara dunia ketiga/negara berkembang ke dunia barat. Contoh produk
yang diperdagangkan adalah kerajinan, kopi, coklat, gula, teh, pisang, madu, dan kapas.

Pengembangan fair trade di tingkat lokal membantu petani. Mengingat prosedur dan
proses sertifikasi fair trade untuk pasar ekspor biasanya rumit dan perlu biaya besar,
penerapan fair trade di tingkat lokal bisa dilakukan dengan menyederhanakan prosedur,
walau tak berarti mengorbankan kualitas. Jadi, petani tak perlu menganggarkan dana besar
untuk memperoleh sertifikasi atau menyediakan fasilitas baru guna memenuhi
standar/volume produksi yang disyaratkan. Yang lebih dibutuhkan untuk mengembangkan
fair trade di Indonesia adalah transparansi dan kesadaran tiap pihak dalam rantai perdagangan
untuk menempatkan produsen sebagai mitra sejajar dalam proses jual beli. Selain itu, petani
juga perlu berusaha meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di bidang pemasaran dan
pascapanen.

Gerakan Fair Trade sudah dimulai di Indonesia di tahun 1980-an. diawali dengan
perdagangan diantara para produsen kerajinan tangan. Dalam pertumbuhannya, mekanisme
Fair Trade meluas ke perdagangan produk-produk yang lain seperti pertanian organik dan
produk pakaian.6

Inisiatif memperjuangkan perdagangan yang adil sebaiknya lebih banyak dilakukan oleh
komunitas petani atas dasar kebutuhan bersama. Karena inisiatif yang digalang “dari bawah”
oleh mereka yang membutuhkan biasanya lebih solid dan lebih bisa bertahan ketimbang
6
http://www.ffti.info/about-ffti, diakses pada 8 Desember 2008
inisiatif yang diperkenalkan orang dari luar komunitas. Tumbuhkan semangat bahwa petani
kecil pun mampu memulai upaya untuk menolong dirinya sendiri tanpa harus menunggu
datangnya bantuan dari pihak lain.

Di sisi lain, konsumen pun harus mulai dididik agar lebih memikirkan produk yang
mereka konsumsi. Dari mana produk itu berasal, bagaimana produk tersebut dihasilkan, dan
apakah produsennya memperoleh harga yang layak. Lebih baik lagi jika konsumen bersedia
menanggung sebagian biaya produksi di muka karena petani umumnya mengalami kesulitan
permodalan. Inisiatif yang disebut “Pertanian dengan Dukungan Komunitas” (Community
Supported Agriculture).

– Yayasan Mitra Bali7

Didirikan pada tahun 1993 oleh Agung Alit, seorang Sekretaris Jenderal Forum
Fair Trade Indonesia Bermodal Rp 7 juta, pemberian dari orang Jepang yang simpati
dengan idenya, Gung Alit mendirikan yayasan pendampingan perajin tersebut. Dua
tahun kemudian dia mendirikan PT Teduh Mitra Utama sebagai badan usaha di bawah
Yayasan Mitra Bali agar lebih mudah melakukan perdagangan kerajinan. Usahanya
sempat megap-megap antara hidup dan mati. Hingga 1997, Gung Alit hanya
mendapat kerajinan dari lima perajin.

Ketika terjadi krisis ekonomi pada 1997, Mitra Bali justru mendapat banyak
keuntungan. Sebab pembayaran dari pembeli dalam bentuk dolar. Kurs rupiah yang
melemah justru jadi berkah. Tujuan ekspornya pun tidak hanya Jepang, tapi meluas ke
Inggris, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, Spanyol, Austria, dan Kanada. Luasnya
pasar itu didukung oleh jaringan Gung Alit di bidang gerakan fair trade.

Pada awalnya, Gung Alit yang pada tahun 1991 bekerja sebagai pekerja lapangan
Yayasan Pekerti Jakarta di Bali sering bertemu perajin dan tahu masalah yang mereka
hadapi. Gung Alit melihat praktik tidak adil itu terjadi pada perajin-perajin Bali.
Perajin hanya menghasilkan produk dan dijual pada pengusaha yang menjualnya lagi
pada konsumen. Perajin tidak pernah tahu berapa kerajinan mereka dihargai pembeli.
Di sisi lain pembayaran pun sering terlambat. Namun praktik paling menyedihkan

7
http://www.mitrabali.com/, diakses pada 8 Desember 2008
bagi Gung Alit adalah potongan harga hingga 40 persen bagi pemandu wisata yang
membawa tamu untuk membeli kerajinan tersebut.

– Forum Fair Trade Indonesia8

Di Tahun 2002, Forum Fair Trade Indonesia didirikan sebagai payung untuk
Organisasi-Organisasi Fair Trade di Indonesia. Sasaran utamanya adalah untuk
berpartisipasi secara aktif dalam mempromosikan praktek-praktek Fair Trade yang
bertujuan sebagai berikut:

1. Sebagai media koordinasi untuk jaringan Fair Trade di Indonesia


2. Untuk mengkampanyekan Fair Trade ke seluruh dunia pada umumnya dan
Indonesia pada khususnya
3. Untuk meningkatkan taraf hidup produsen-produsen kecil

Sebagai organisasi Fair Trade di yang di support oleh Oxfam, tentunya FFTI
telah mempunyai program kerja yang telah di rencanakan seperti kampanye dan
advokasi di tingkat nasional, pendidikan Fair trade kepada publik, sebagai pusat
informasi Fair Trade yang terpercaya, dan lain sebagainya. Serta fokus kegiatan
seperti kampanye Fair Trade di Indonesia, koordinasi di tingkat nasional antar
organisasi Fair Trade, dan dokumentasi dan Penyebaran Informasi fair Trade yang
tersistematis

FFTI yang memiliki motto Akan menjadi klise bicara Fair Trade bila tidak
diawali dengan empati pada ketertindasan ini berusaha mencapai sasaran dan tujuan
melalui organisasi anggota, rekan-rekan jaringan, dan individu dengan cara:

1. Mendukung, menstimulasi dan berpegang teguh pada kerjasama dan


pertukaran informasi diantara para anggota terkait perihal pemasaran, riset
pasar, dan pengembangan produk.
2. Koordinasi kampanye dan advokasi di tingkat nasional.
3. Menjalin Kerjasama dengan pihak luar.

8
http://www.ffti.info, diakses pada 8 Desember 2008
Fair Trade Outlet

Fair Trade Outlet adalah sebuah Galery dan outlet yang menampilkan produk-
produk Fair Trade dari member FFTI, anda bisa mendapatkan koleksi dari produk-
produk Fair Trade terbaik yang diproduksi oleh produsen-produsen yang selama ini
menjadi bagian dan tumbuh bersama Organisasi Fair Trade di Indonesia.

Berlokasi di daerah strategis yang mudah dijangkau, di daerah Sanur yang


terkenal sebagi daerah pariwisata, tepat di pinggir jalan utama By Pass Ngurah Rai,
sangat dekat dengan pantai Sanur (Bali Beach) dan pertokoan yang akan
memudahkan anda mengakses tempat ini.

E. Hambatan dan Tantangan Fair Trade di Indonesia


Tantangan gagasan pemasaran berkeadilan adalah untuk menterjemahkan idaman
sosial menjadi tujuan, aktifitas yang dapat dicapai dengan metode terapan yang seimbang
dengan kelayakan komersial dalam menjalankan bisnis. Gagasan ini ditunjukkan melalui:
(a) Mensosialisasikan gagasan fair trade ke publik,
(b) Jenis dan ketersediaan produk organis yang dipasarkan,
(c) Proyek sosial kemasyarakatan yang petani laksanakan,
(d) Jenis skema berbagi keuntungan atau tata cata pelaksanaan bisnis. Memastikan bahwa
petani kecil mendapatkan harga yang 'fair' bagi usahanya.

Bila memasarkan produk/jasa, satu aspek yang perlu dipertimbangkan adalah kualitas
dan nilai produk/jasa. Agar menumbuhkan dukungan konsumen, setiap tambahan nilai perlu
diterjemahkan sebagai penambahan kualitas/nilai yang berhubungan dengan produk/jasa.
Menambahkan nilai pada produk/jasa untuk menawarkan manfaat dan bentuk yang lebih
baik. Biasanya digunakan untuk menunjukkan penambahan keuntungan langsung kepada
konsumen. Dalam hal prioritas dan kualitas alternatif, manfaat mungkin tidak dialami
langsung oleh konsumen, seperti "tambahan" bagi pengelolaan lingkungan dan
tanggungjawab sosial yang ingin diemban.Nilai-nilai baru harus membuktikan diri sendiri
untuk dapat menerima nilai-nilai aliran besar yang biasanya disertai dengan perubahan dalam
peraturan dan norma baru yang berhubungan dengan pasar. Artinya, tujuan gagasan alternatif
tidak tinggal sebagai sebuah alternatif, tetapi akan menjadi aliran utama mengenai nilai-nilai
pasar.
Kualitas dan nilai menjadi identitas produk yang nyata. Bagaimana penambahan nilai
tersebut menjadi nyata dan menjadi identitas dari produk organis yang berkeadilan. Produk
pertanian organis menetapkan perbedaan dibandingkan produk konvensional dalam kategori
yang berhubungan dengan proses dan dampaknya. Tergantung dari metode produksi dan
sistem sosial yang bekerja, produk pertanian organis berhubungan dengan:
(a) hasil dari metode produksi yang lebih aman, berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan,
(b) hasil dari sistem ketenagakerjaan yang tidak ekploitatif dan adil secara sosial,
(c) hasil dari pertanian sebagai cara hidup dan jasa. Produk dalam hal ini tidak dijual
tetapi ditukarkan untuk pembayaran yang disetujui demi mendukung kehidupan
produsen.
Berhubungan dengan kualitas produk terlihat pada produk, proses dan dampak yang
berhubungan dengan kualitas pada umumnya dan tidak mudah terlihat. Cara sederhana untuk
menciptakan identitas produk dan menjadi bukti bahwa produk tersebut memenuhi criteria
fair trade adalah pelabelan. Maka perlu dibuat standard fair trade yang sesuai dengan kondisi
lokal.9
• Konsumen

Tantangan terbesar untuk memperkenalkan fair trade kepada konsumen Indonesia


adalah fakta bahwa mereka masih sangat peka terhadap harga, sementara gerakan fair
trade bertujuan memberikan harga yang lebih adil/lebih tinggi bagi produsen. Namun
dengan pendidikan konsumen yang tepat dan upaya membuka relasi yang dekat antara
produsen dan konsumen, tantangan ini niscaya bisa dihadapi. Kunjungan konsumen
ke lahan petani adalah contoh upaya menciptakan relasi yang lebih dekat antara
produsen dan konsumen. Dengan melihat secara langsung, selain menumbuhkan
kepercayaan konsumen, mereka juga belajar menghargai proses produksi yang
dilakukan petani.10

9
http://118.98.213.22/aridata_web/how/k/konsumen/9_dagang_prod_organis.pdf, diakses pada 8 Desember
2008
10
http://salam.leisa.info/index.php?url=getblob.php&o_id=210002&a_id=211&a_seq=0, diakses pada 8
Desember 2008
KESIMPULAN

Fair Trade adalah perdagangan yang berdasarkan pada dialog, keterbukaan dan saling
menghormati, yang bertujuan menciptakan keadilan, serta pembangunan berkesinambungan.
Melalui penciptaan kondisi perdagangan yang lebih fair dan memihak pada hak-hak
kelompok produsen yang terpinggirkan, terutama di negara-negara miskin akibat praktek
kebijakan perdagangan internasional

Meski lahir di dunia barat, konsep fair trade bukan sesuatu yang mengawang-awang. Fair
trade juga sesuai diterapkan di Indonesia karena tujuannya adalah memperbaiki taraf hidup
produsen skala kecil, dalam hal ini petani. Inisiatif menciptakan fair trade atau perdagangan
adil atau perdagangan berkeadilan di tingkat lokal sangat perlu dilakukan. Ini mengingat,
banyak lembaga pengatur harga bentukan pemerintah—seperti BULOG—gagal menjalankan
tugasnya dengan baik. Saat ini, ketika harga pangan di dunia mengalami kenaikan sangat
signifikan, harga beli gabah di tingkat petani kebanyakan masih jauh di bawah harga pasar
yang ditetapkan sendiri oleh pemerintah.

Gerakan Fair Trade sudah dimulai di Indonesia di tahun 1980-an. diawali dengan
perdagangan diantara para produsen kerajinan tangan. Dalam pertumbuhannya, mekanisme
Fair Trade meluas ke perdagangan produk-produk yang lain seperti pertanian organik dan
produk pakaian

Tantangan terbesar untuk memperkenalkan fair trade kepada konsumen Indonesia adalah
fakta bahwa mereka masih sangat peka terhadap harga, sementara gerakan fair trade
bertujuan memberikan harga yang lebih adil/lebih tinggi bagi produsen. Namun dengan
pendidikan konsumen yang tepat dan upaya membuka relasi yang dekat antara produsen dan
konsumen, tantangan ini niscaya bisa dihadapi.

DAFTAR PUSTAKA

• http://www.ffti.info/about-fair-trade, diakses pada 8 Desember 2008


• http://118.98.213.22/aridata_web/how/k/konsumen/9_dagang_prod_organis.pdf, diakses
pada 8 Desember 2008

• http://www.oxfamamerica.org, diakses pada 8 Desember 2008

• http://www.fairtrade.net/, diakses pada 8 Desember 2008

• http://www.ranesi.nl/tema/jendelaantarbangsa/tema_fairtrade/, diakses pada 8 Desember 2008

• http://www.mitrabali.com/, diakses pada 8 Desember 2008

• http://www.ffti.info, diakses pada 8 Desember 2008

• http://salam.leisa.info/index.php?url=getblob.php&o_id=210002&a_id=211&a_seq=0, diakses
pada 8 Desember 2008