Anda di halaman 1dari 7

Akibat Shabu-shabu

Shabu-shabu : Bubuk kristal ini sangat berbahaya karena langsung merusak otak terutama otak yang mengendalikan pernafasan, suatu saat pecandu akan mengeluh sakit asma(sesak nafas) dan lama kelamaan jika tetap memakai shabu-shabu, akan meninggal begitu saja karena kehabisan nafas, karena syaraf otak yang mengendalikan pernafasan sudah tidak berfungsi, dan tidak ada lagi instruksi untuk bernafas. Kristal ini dipakai dengan cara dibakar lalu dihisap dengan alat khusus yang disebut Bong, dengan mediator air. Tetapi , didalam tubuh kristal ini mengkristal kembali, sehingga paru-paru bisa berubah menjadi mengeras seperti batu sehingga umumnya keluhan pemakai shabu-shabu adalah sesak nafas. Sakauw Shabu-shabu : Gelisah, tidak bisa berpikir, tidak bisa bekerja, tidak bisa tenang, cepat lelah, mudah marah, tidak bisa beraktivitas dengan baik, tidak ada semangat, depresi berat, rasa lelah berlebihan, gangguan tidur, mimpi buruk. Habis pakai shabu-shabu: Mata seperti bendul, terlihat garis hitam, badan terasa panas terbakar, sehingga minum terus menerus, dan kemana-mana selalu membawa botol air. Kuat tidak makan dan tidak tidur sampai ber-hari-hari, bicara terus tapi suaranya tidak jelas.Bersemangat, gariah seks meningkat, paranoid, tidak bisa diam/tenang, selalu ingin menambah terus, tidak bisa makan, tidak bisa tidur Pernah dicoba betapa ganasnya kristal ini, ambil daging mentah dan taruh kristal ini diatasnya dan kristal ini bisa menembus masuk kedalam daging ini, bayangkan kristal seperti ini dimasukkan kedalam tubuh. Akibat : Merusak organ-organ tubuh terutama otak, dan syaraf yang mengatur pernafasan,, otak suah dipakai berpikir dan konsentrasi,paranoid, jet lag dan tidak mau makan.Rasa gembira / euforia, Rasa harga diri meningkat, banyak bicara, kewaspadaan meningkat, denyut jantung cepat, pupil mata melebar, tekanan darah meningkat, berkeringat/rasa dingin, mual/muntah, (Dalam waktu 1 jam setelah konsumsi pemakai akan gelisah),delirium/kesadaran berubah (pemakai baru, lama, dosis tinggi), perasaan dikejar-kejar, perasaan dibicarakan orang, agresif dan sifat bermusuhan, rasa gelisah, tak bisa diam, (Dalam waktu 24 jam).Gangguan irama detak jantung, hiperpireksia atau syok pada pembuluh darah jantung yang berakibat meninggal Intisari : Tahun 1990-an, Indonesia diserbu obat-obatan berbahan dasar amphetamine seperti ekstasi dan shabu. Dalam dunia kedokteran, amphetamine dipakai sebagai obat perangsang. Salah satunya untuk mengatasi depresi ringan. Akibat penyalahgunaan, ekstasi yang berbahan dasar MDMA (Methylenedioxymethamphetamine) dan shabu dipakai untuk memperoleh rasa gembira dan tidak mengenal lelah. Dan untuk mempertahankan kondisi ini, pemakai akan menambah dosis hingga tanpa disadari sudah melampau batas. Bahayanya, tidak ada yang bisa memastikan apa sisa kandungan obat-obatan tersebut selain amphetamine. Begitu pula risiko atau efek samping apa yang bakal menghadang. Ekstasi dan shabu merangsang sistem saraf pusat (otak) hingga pemakainya tampak tak kehabisan enerji. Jika sedang on memang akan terasa enak tapi sesudahnya badan akan terasa letih, depresi berat, lesu, dan yang paling parah ingin mencelakakan diri sendiri dan bunuh diri. Gejala fisik lainnya, pupil akan melebar, tekananan darah meninggi, berkeringat tapi merasa kedinginan, mual atau muntah, dan kesadaran menurun. OBAT NARKOBA

Kombinasi Formula Bunga (HF) berperan sebagai Obat Narkoba untuk pengobatan kecanduan narkoba. Obat Narkoba ini tidak hanya bekerja untuk mengobati sistem kelenjar syaraf namun obat narkoba ini juga bekerja untuk mengobati organ tubuh. Obat Narkoba ini merupakan hasil penemuan Prof.Dr.Diana Mossop dari Inggris. Obat Narkoba ini sebaiknya digunakan selama minimal 3 bulan pengobatan untuk pemulihan sistem syaraf dan organ tubuh. Pada bulan pertama dan kedua, Obat Narkoba ini bekerja dengan mengeluarkan racun-racun yang mengendap pada batang otak dan organ ; pada bulan ketiga dan keempat, Obat Narkoba ini bekerja dengan memperbaiki sel-sel yang mengalami kerusakan. Formula Bunga 1 adalah obat narkoba yang bekerja pada sisitem Saraf Pusat

Formula Bunga 2 adalah obat narkoba yang bekerja pada sistem kelenjar Pineal dan Pituitri dalam otak Formula Bunga 4 adalah obat narkoba yang bekerja pada sistem kelenjar Hipotalamus dalam otak Formula Bunga5 adalah obat narkoba yang bekerja pada sistem kelenjar Limbic dalam otak Formula Bunga 8 adalah obat narkoba yang bekerja pada sistem Medulla Oblongata pada batang otak Formula Bunga 9 adalah obat narkoba yang bekerja pada sistem Kelenjar Tiroid pada leher Formula Bunga10 adalah obat narkoba yang bekerja pada sistem Organ Paru untuk pernafasan Formula Bunga13 adalah obat narkoba yang bekerja pada Kelenjar Anak Ginjal untuk mengontrol hormon Adrenalin Formula Bunga 18 adalah obat narkoba yang bekerja pada sistem sirkulasi darah baik pada pembuluh arteri maupun pembuluh vena Reaksi setelah konsumsi Formula Bunga : Pada bulan pertama (Minggu ke-1 sd Minggu ke-5) : Racun-racun narkoba yang terdapat pada batang otak dan kelenjar syaraf akan dibersihkan dan dinetralisir untuk menghilangkan efek adiksi/kecanduan Pada bulan kedua (Minggu ke-5 sd Minggu ke-10) : Racun-racun narkoba yang terdapat dalam organ tubuh seperti jantung, paru, lambung,liver/hati, limpa dan usus halus akan dibuang dan dinetralisir untuk memperbaiki fungsi fisiologis tubuh. Pada bulan ketiga dan keempat (Minggu ke-10 sd Minggu ke-15) : Formula bunga melakukan pemulihan sel-sel syaraf, kelenjar-kelenjar tubuh seperti pineal,pituity, hipotalamus, dan organ tubuh. Biasanya setelah bulan ketiga, kecanduan akan hilang dan apabila si pasien tersebut hendak mengkonsumsi lagi/mencoba-coba lagi narkoba, tubuh akan melakukan penolakan/perlawanan seperti mual, muntah dan pusing http://obatantinarkoba.blogspot.com/2011/10/akibat-shabu-shabu.html

Skizofrenia akibat Ganja


Skizofrenia adalah bahasa medis untuk gangguan jiwa yang oleh banyak orang dinamai gila. Sering berhalusinasi, paranoia dan seolah bicara dengan dengan pihak lain adalah satu ciri Skizofrenia. Peneliti menemukan pengguna rokok ganja dalam jangka panjang berisiko kena Skizofrenia. Ganja merupakan zat terlarang yang paling sering disalahgunakan dan sering dipakai

dengan cara dihisap seperti rokok. Sedangkan paranoia adalah salah satu efek samping yang paling tidak menyenangkan dari ganja. Penelitian yang dilakukan Steven Laviolette di University of Western Ontario, Kanada menunjukkan bahwa aktivitas di otak amigdala basolateral terlibat dalam pengaruh ganja terhadap paranoia. Hal tersebut berarti ganja sebenarnya meningkatkan rasa takut yang menyebabkan otak melompat pada pengalaman tertentu yang berhubungan dengan rasa takut. Seperti dilansir dari Epharmapedia, Senin (26/9/2011), hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of Neuroscience. Menariknya, para peneliti juga menemukan ganja juga dapat mencegah rasa takut. Mekanisme kerja obat mirip ganja tersebut dengan menonaktifkan aktivitas di wilayah yang disebut korteks prefrontal sebelum mengeksposnya terhadap kejutan. Korteks prefrontal merupakan tingkat otak yang lebih tinggi dan merupakan daerah yang terlibat dalam fungsi eksekutif seperti perencanaan, pengambilan keputusan, tanggapan, mengendalikan, dan impuls. Para peneliti menunjukkan bahwa kedua daerah otak yang dipelajari merupakan daerah yang terlibat dalam patologi dari skizofrenia. Dan bahwa pemahaman interkoneksi daerah tersebut dapat mengarah pada pengobatan yang lebih baik untuk gangguan ini. "Kami tahu ada kelainan di kedua amigdala dan korteks prefrontal pada pasien yang memiliki skizofrenia, dan kita sekarang tahu daerah-daerah otak yang sama sangat penting untuk efek dari ganja dan obat cannabinoid lainnya pada pengolahan emosional," kata Laviolette. Penelitian tersebut dilakukan pada tikus-tikus laboratorium. Ketika tikus diberi obat yang dapat meningkatkan aktivitas reseptor cannabinoid, bahkan ketika menerima kejutan kecil sudah cukup untuk menyebabkan tikus-tikus tersebut terdiam. OBAT NARKOBA
Kombinasi Formula Bunga (HF) berperan sebagai Obat Narkoba untuk pengobatan kecanduan narkoba. Obat Narkoba ini tidak hanya bekerja untuk mengobati sistem kelenjar syaraf namun obat narkoba ini juga bekerja untuk mengobati organ tubuh. Obat Narkoba ini merupakan hasil penemuan Prof.Dr.Diana Mossop dari Inggris. Obat Narkoba ini sebaiknya digunakan selama minimal 3 bulan pengobatan untuk pemulihan sistem syaraf dan organ tubuh. Pada bulan pertama dan kedua, Obat Narkoba ini bekerja dengan mengeluarkan racun-racun yang mengendap pada batang otak dan organ ; pada bulan ketiga dan keempat, Obat Narkoba ini bekerja dengan memperbaiki sel-sel yang mengalami kerusakan. Formula Bunga 1 adalah obat narkoba yang bekerja pada sisitem Saraf Pusat

Formula Bunga 2 adalah obat narkoba yang bekerja pada sistem kelenjar Pineal dan Pituitri dalam otak Formula Bunga 4 adalah obat narkoba yang bekerja pada sistem kelenjar Hipotalamus dalam otak Formula Bunga5 adalah obat narkoba yang bekerja pada sistem kelenjar Limbic dalam otak Formula Bunga 8 adalah obat narkoba yang bekerja pada sistem Medulla Oblongata pada batang otak

Formula Bunga 9 adalah obat narkoba yang bekerja pada sistem Kelenjar Tiroid pada leher Formula Bunga10 adalah obat narkoba yang bekerja pada sistem Organ Paru untuk pernafasan Formula Bunga13 adalah obat narkoba yang bekerja pada Kelenjar Anak Ginjal untuk mengontrol hormon Adrenalin Formula Bunga 18 adalah obat narkoba yang bekerja pada sistem sirkulasi darah baik pada pembuluh arteri maupun pembuluh vena Reaksi setelah konsumsi Formula Bunga : Pada bulan pertama (Minggu ke-1 sd Minggu ke-5) : Racun-racun narkoba yang terdapat pada batang otak dan kelenjar syaraf akan dibersihkan dan dinetralisir untuk menghilangkan efek adiksi/kecanduan Pada bulan kedua (Minggu ke-5 sd Minggu ke-10) : Racun-racun narkoba yang terdapat dalam organ tubuh seperti jantung, paru, lambung,liver/hati, limpa dan usus halus akan dibuang dan dinetralisir untuk memperbaiki fungsi fisiologis tubuh. Pada bulan ketiga dan keempat (Minggu ke-10 sd Minggu ke-15) : Formula bunga melakukan pemulihan sel-sel syaraf, kelenjar-kelenjar tubuh seperti pineal,pituity, hipotalamus, dan organ tubuh. Biasanya setelah bulan ketiga, kecanduan akan hilang dan apabila si pasien tersebut hendak mengkonsumsi lagi/mencoba-coba lagi narkoba, tubuh akan melakukan penolakan/perlawanan seperti mual, muntah dan pusing.

GANGGUAN MENTAL KARENA ALKOHOL DAN ZAT PSIKOAKTIF


Penegakan diagnosis Identifikasi dari zat psikoaktif yang digunakan dapat dilakukan berdasarkan - data laporan individu, - analisis objektif dari spesirnen urin, darah, dan sebagainya - bukti lain (adanya sampel obat yang ditemukan pada pasien, tanda dan gejala klinis, atau dari laporan pihak ketiga). Selalu dianjurkan untuk mencari bukti yang menguatkan lebih dari satu sumber, yang berkaitan dengan penggunaan zat. Analisis objektif memberikan bukti yang paling dapat diandalkan perihal adanya penggunaan akhir-akhir ini atau saat ini, namun data ini mempunyai keterbatasan terhadap penggunaan zat di masa lalu atau tingkat penggunaan saat ini. Banyak pengguna obat menggunakan lebih dari satu jenis obat, namun bila mungkin, diagnosis gangguan harus diklasifikasi sesuai dengan zat tunggal (kategori dan zat) yang paling penting yang digunakannya (yang menyebabkan gangguan yang nyata), sedangkan kode F19

(gangguan akibat penggunaan obat multipel) hanya digunakan bila pola penggunaan zat psikoaktif benar-benar kacau dan sembarangan atau berbagai obat bercampur-baur. Penyalahgunaan obat lain selain zat psikoaktif, seperti pencahar atau aspirin, harus diberi kode F55.- (penyalahgunaan zat yang tidak menyebabkan ketergantungan), dengan karakter ke 4 menunjukkan jenis zat tersebut. Kasus gangguan mental (terutama delirium pada usia lanjut) akibat zat psikoaktif, tetapi tanpa salah satu gangguan dalam blok ini (misalnya, penggunaan yang merugikan atau sindrom ketergantungan) harus dimaksudkan dalam kode F00-F09. Bila keadaan delirium bertumpangtindih dengan suatu gangguan dalam blok ini, maka harus diberi kode Flx.3 atau FIx.4. Tingkat keterlibatan alkohol dapat ditunjukkan dengan menggunakan kode tambahan dari Bab XX ICD-10 : Y90- (ditetapkan dari kadar alkohol dalam darah) atau Y91- (ditetapkan dengan derajat intoksikasinya).

Diagnosis Banding Gangguan mental yang sudah ada terselubung oleh pengguanaan zat dan yang muncul kembali setelah pengaruh zat tersebut menghilang (misalnya anxietas fobik, gangguan depresif, skizofrenia atau gangguan skizotipal). Gangguan psikotik akut dan sementara Cedera organik atau retardasi mental ringan atau sedang yang terdapat bersama dengan penyalahgunaan zat psikoaktif. Gangguan psikotik residual atau onset lambat

Epidemiologi Diseluruh dunia terdapat 1.100.000.000 orang yang mengalami ketergantungan nikotin, 250.000.000 orang yang mengalami ketergantungan alkohol, dan 15.000.000 orang yang mengalami ketergantungan zat psikoaktif lain. Penggunaan zat psikoaktif terdapat pada semua golongan umur, pada kedua gender, pada semua golongan etnik, dan pada semua tingkat sosial ekonomi. Namun demikian, terdapat kecenderungan tertentu seperti angka prevalensi yang berbeda-beda pada golongan umur, atau zat psikoaktif tertentu lebih banyak penggunanya pada kelompok tertentu.

Faktor Risiko

Usia kelompok usia yang mengkonsumsi alkohol paling tinggi (20-35 tahun) Jenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada wanita Riwayat masa kanak-kanak Sosial dan kultural beberapa lingkungan sosial menyebabkan minum yang berlebihan Kebiasaan dalam keluarga Genetik

Opiat dan opioid Efek perilaku eforia, mengantuk, anoreksia, penurunan dorongan seksual, hipoaktivitas, perubahan kepribadian. Efek fisik miosis, pruritus, mual, bradikardia, konstipasi, jejak jarum di lengan, tungkai, bokong Temuan laboratorium ditemukan dalam darah sampai 24 jam setelah dosis terakhir Terapi untuk penghentian secara bertahap : metadon, nalokson, dan oksigen Amfetamin dan simpatometik lain termasuk kokain Efek perilaku terjaga, banyak bicara, eforia, hiperaktivitas, agresivitas, agitasi, keenderungan paranoid, impotensi halusinasi liat dan raba Efek fisik midriasis, tremor, halitosis, mulut kering, taikardia, hipertensi, penurunan berat badan, artmia, demam kejang, perforasi septum hidung (kokain) Temuan laboratorium ditemukan dalam darah dan urin Terapi agitasi : diazepam i.m atau per os, takiaritmia : propanolol per os dan vit. C

Depresan SSP : barbiturat, metakualon, meprobramat, benzodiazepin, glutetimid Efek perilaku mengantuk, konfusi, tidak ada perhatian Efek fisik diaforesis, ataksia, hipotensi, kejang, delirium, miosis Temuan laboratorium ditemukan dalam darah Terapi barbiturat : fenobarbital, diazepa. Benzodiazepin : diazepam

Alkohol Efek perilaku pertimbangan buruk, banyak bicara, agresi, gangguan atensi, amnesia Efek fisik nistagmus, muka kemerahan, ataksia, bicara cadel Temuan lab. tidak ada Terapi delirium : diazepam, vit. B kompleks dan hidrasi. Halusinosis : haloperidol

Komplikasi - toleransi dan ketergantungan - gangguan dan perubahan mood - gangguan daya ingat dan perhatian