Anda di halaman 1dari 18

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

MEDIASI SEBAGAI ALTERNATIF PENYELESAIAN PERKARA PERDATA


Anggreany Arief Dosen Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia Abstract This social interaction starting from the simplest level to the larger and complex stage. The application of social interaction in the life of society is not always go in tune and harmony. Often what happens is the difference of thought, opinion, and a desire among humans with one another. Mediation is one of the ways of disputing resolution through a process of negotiations to obtain the agreement among the parties with the assisted of mediator. The implementation of mediation in the court state of Makassar has generally been running in accordance with the applicable procedures of the Supreme Court Ordinance No. 1 of 2008 about the mediation procedure in the courts. Kata Kunci : Mediasi, Alternatif Penyelesaian Perkara, Perdata

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

305

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

PENDAHULUAN

anusia merupakan makhluk sosial yang hidup berinteraksi satu dengan yang lainnya. Interaksi sosial ini dimulai dari tingkat yang paling sederhana sehingga ke tahap yang lebih besar dan kompleks. Hal tersebut terwujud dalam bentuk kehidupan bermasyarakat yang beradab dan terus berkembang dari masa ke masa. Perkembangan peradaban tersebut terjadi karena pada setiap diri manusia dilengkapi oleh daya cipta, rasa,dan karsa. Penerapan interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat tidak selamanya berjalan selaras dan harmonis. Seringkali yang terjadi adalah perbedaan pemikiran, pendapat, dan keinginan antar manusia yang satu dengan yang lain. Perbedaan ini kemudian menjadi cikal bakal lahirnya sengketa atau konflik dalam masyarakat. Konflik ini pun senantiasa berkembang mengikuti perkembangan peradaban masyarakat atau suatu bangsa. Hal tersebut kemudian mendorong bagi yang mulai berpikir modern untuk membentuk suatu mekanisme penyelesaian konflik (sengketa) mulai dari bentuk yang paling sederhana hingga menjadi suatu sistem yang kini disebut sebagai sistem peradilan yang senantiasa mengacu pada hukum positif dan norma-norma atau kaidah-kaidah dalam masyarakat. Sistem peradilan yang dimiliki oleh setiap negara dipandang sebagai jalan terbaik dalam menyelesaikan sengketa. Sehingga setiap kali muncul konflik maka yang timbul dalam pikiran adalah penyelesaiannya harus melalui pengadilan (litigasi) padahal dalam proses pengadilan terdapat banyak tahap dan segudang aturan main yang harus dipenuhi. Belum lagi apabila kasus tersebut berlarutlarut dan berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi. Tentu saja penyelesaiannya memakan waktu yang lama dan biaya yang besar bagi setiap pencari keadilan. Dari beberapa permasalahan tersebut, muncullah pemikiran untuk melahirkan sebuah bentuk alternatif dispute resolution (ADR), termasuk di Indonesia. Hadirnya ADR tersebut bukan untuk mengacaukan pelaksanaan hukum acara sebagai hukum formil dari hukum publik dan hukum privat yang berlaku. Hal tersebut membuka pintu baru bagi masyarakat selaku pencari keadilan, agar setiap sengketa tidak selalu diproses di pengadilan dengan waktu yang lama dan biaya yang mahal serta untuk tetap membantu pencapaian tujuan hukum (keadilan, kepastian, dan kemanfaatan.) Maka dikeluarkanlah beberapa peraturan yang secara khusus mengatur tentang alternative penyelesaian sengketa. Misalnya undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa. Dalam pasal 1 angka 10 dan alinea kedua dari penjelasan undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 menjelaskan bahwa masyarakat dimungkinkan memakai alternatif lain dalam usaha penyelesaian sengketa, antara lain dengan cara : konsultasi, negosiasi, mediasi, dan konsiliasi atau penilaian ahli. Hal ini kemudian semakin dipertegas dengan dikeluarkannya peraturan 306
Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

Mahkamah Agung (Perma) Nomor 1 Tahun 2008 tentang prosedur mediasi di pengadilan. Pada dasarnya kehadiran ADR secara langsung membantu kerja hukum acara, khususnya Hukum Acara Perdata sehingga dapat meminimalkan beban yang terlampau padat yang ditanggung oleh pengadilan negeri. Bila ditinjau dari prosedur dan sistem peradilan, dapat dikatakan bahwa sistem peradilan di Indonesia masih kalah dengan sistem peradilan Prancis. Sistem peradilan Prancis mempunyai kemampuan ekonomi dan sarana-sarana peradilan yang jauh lebih maju dibandingkan peradilan di Indonesia. Baik itu jumlah hakim, panitera dan staf-staf kepaniteraan yang seimbang dengan jumlah perkara yang masuk ke pengadilan1. Berbeda halnya dengan peradilan di Indonesia yang masih dapat dikatakan mengalami banyak kekurangan sarana pengadilan, terutama dalam hal jumlah hakim yang sangat tidak seimbang dengan jmlah perkara yang masuk ke pengadilan. Mengenai pengertian Hukum Acara Perdata sendiri, Wirjono Prodjodikoro mengatakan : "Hukum Acara Perdata adalah rangkaian peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana orang harus bertindak terhadap dan di muka pengadilan dan cara bagaimana pengadilan itu harus bertindak, satu sama lain untuk melaksanakan berjalannya peraturan-peraturan hukum perdata".2 Sedangkan Sudikno Mertokusumo menuliskan: "Hukum acara perdata adalah peraturan hukum yang mengatur bagaimana cara menjamin ditaatinya hukum perdata materil dengan perantara hakim, atau peraturan hukum yang menentukan bagaimana caranya menjamin pelaksanaan hukum perdata materil. Konkretnya : "hukum acara perdata mengatur tentang bagaimana caranya mengajukan tuntutan hak, memeriksa serta memutuskan dan melaksanakan daripada putusannya."3 Dari 2 definisi tersebut, dapat kita lihat bahwa penerapan dan pelaksanaan hukum acara perdata sangat luas dan rumit. Terlebih kalau kita melihat langsung kenyataan yang terjadi di pengadilan. Kesan yang timbul adalah penyelesaian perkara perdata di pengadilan cendrung berlarut-larut dan memakan waktu yang lama, biaya mahal, serta tidak efektif dan tidak efesien. Atas dasar pemikiran tersebut maka penulis tertarik untuk mengkaji secara khusus bagaimana alternative dispute resolution (ADR), khususnya mediasi dalam lingkup Pengadilan Negeri Makassar dapat berperan dalam penyelesaian perkara perdata. Para pihak yang berperkara juga mendapat banyak keuntungan,
Lintong Olooan Siahaan, Jalannya Peradilan Prancis Lebih Cepat Dari Peradilan Kita. (Bogor: Ghalia Indonesia)h.114. 2 M.Taufik Makarao, Hukum Acara Perdata (Surabaya: Kencana, 2009) h.12
1 3

Ibid. h. 13 Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

307

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

selain waktu yang cepat dan biaya yang ringan serta adanya jaminan kepastian hukum dari akta perdamaian yang disepakati oleh kedua belah pihak. Akta perdamaian tersebut berupa akta yang mememuat isi kesepakatan perdamaian yang menjelaskan syarat-syarat yang disepakati oleh kedua belah pihak dan putusan hakim yang menguatkan kesepakatan perdamaian tersebut yang tidak tunduk pada upaya hukum biasa maupun luar biasa. Hasil penyelesaian sengketa melalui mediasi tersebut. Selain itu, penulis juga berusaha mengetahui apakah penyelesaian perkara melalui mediasi, yang dilaksanakan pada Pengadilan Negeri Makassar telah sesuai dengan prosedur pelaksanaan mediasi sebagaimana tertuang dalam Perma Nomor 1 Tahun 2008. Serta mencari tahu hal-hal apa saja yang dapat mempengaruhi kelancaran proses mediasi pada Pengadilan Negeri dan sejauh mana daya dukung ADR terhadap efektifitas dan efisiensi mediasi pada Pengadilan Negeri makassar. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, penulis mencoba mengkaji lebih dalam tentang pelaksanaan penyelesaian sengketa melalui proses mediasi pada tingkat Pengadilan Negeri sebagai bagian dari ADR sehingga perwujudan peradilan yang sederhana dan ringan dapat terlaksana secara maksimal. PEMBAHASAN 1. Asas-Asas Hukum Perdata a. Peradilan Bebas Campur Tangan Pihak-pihak di Luar Kekuasaan Kehakiman. Kebebasan dalam melaksanakan wewenang judusial menurut UU No. 14/1970 tidak mutlak sifatnya, karena tugas daripada hakim adalah untuk menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan pancasila dengan jalan menafsirkan hukum dan mencari dasar hukum serta asas-asas yang jadi landasannya, melalui perkara yang dihadapkan kepadanya, sehingga keputusannya mencerminkan perasaan keadilan bangsa dan rakyat Indonesia. b. Asas Objektivitas. Semua putusan pengadilan harus memuat alasan dan dasar putusan tersebut, memuat pula pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. Alasan-alasan yang dimaksud itu adalah sebagai pertanggungjawaban hukum kepada rakyat, karena itu memiliki nilai obyektif. c. Asas Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan. Yang dimaksud dengan sederhana adalah acara yang jelas, mudah dipahami, dan tidak berbelit-belit. Kata cepat menunjuk pada jalannya peradilan. Dalam hal ini bukan hanya jalannnya peradilan dalam pemeriksaan di muka sidang saja, tetapi juga penyelesaian pada berita acara pemeriksaan di 308
Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

persidangan sampai pada penandatanganan putusan oleh hakim dan pelaksanaannya. Pengadilan yang cepat namun sederhana dan ringan akan meningkatkan kewibawaan pengadilan dan menembah kepercayaan masyarakat kepada pengadilan. Biaya ringan yaitu dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Biaya perkara yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pihak yang berkepentingan enggan mengajukan tuntutan haknya ke pengadilan. d. Keaktifan Hakim dalam Pemeriksaan Selaku pimpinan sidang, hakim harus aktif memimpin pemeriksaan perkara dan harus berusaha mengatasi segala hambatan demi tercapainya keadilan. Jika menurut pertimbangan hakim ketua supaya persidangan berjalan baik dan teratur, ketua berwenang memberikan nasihat kepada mereka tentang upaya hukum dan alat bukti yang dapat mereka gunakan. Hakim dianggap bijaksana dan tahu akan hukum sehingga menjadi tumpuan harapan para pihak dalam memecahkan masalah. e. Persidangan yang Terbuka untuk Umum Sidang pemeriksaan pengadilan pada dasarnya terbuka untuk umum, Bilamana hakim lupa mengucapkan sidang terbuka untuk umum mengakibatkan putusan batal demi hukum. kecuali dalam alasan-alasan tertentu yang disebutkan dalam undang-undang menentukan lain, maka persidangan dapat dilakukan dalam pintu tertutup. Namun pada saat pembacaan putusan, sidang harus dinyatakan terbuka untuk umum. f. Mendengarkan Kedua Belah Pihak. Dalam hukum acara kedua belah pihak wajib diperlakukan sama, tidak memihak dan didengar bersama-sama. Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membedakan orang (pasal 5 (1)UU.14/ 1970). Hal tersebut berarti bahwa pihak yang berperkara harus sama-sama diperhatikan, berhak atas perlakuan yang sama dan adil serta masing-masing harus diberi kesempatan untuk mengeluarkan alasan-alasan dan pemdapatnya. g. Berperkara Dikenakan Biaya Untuk berperkara perdata dikenakan biaya. Mereka yang tidak mampu membayar biaya perkara dapat mengajukan perkara dengan cuma-cuma dengan jalan mengajukan permohonan izin kepada Ketua Pengadilan Negeri, yang disertai pula dengan surat keterangan tidak mampu dari seorang pejabat, lurah atau camat. h. Para Pihak dapat Meminta Bantuan atau Mewakilkan Kepada Seorang Kuasa. Adanya seorang wakil atau kuasa hukum mempunyai manfaat. Orang (pihak) yang buta hukum sama sekali biasanya gugup menghadap hakim sehingga kehadiran kausa hukum dapat memperlancar pemeriksaan perkara. Dengan bantuan seorang kuasa hukum, hakim dapat mengetahui lebih jelas persoalan/ perkara tersebut. i. Inisiatif Berperkara Diambil oleh Pihak yang Berperkara
Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

309

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

Dalam hukum acara perdata, inisiatif yaitu ada atau tidak adanya suatu perkara harus diambil oleh seorang atau beberapa orang (penggugat) yang merasa bahwa haknya atau hak mereka dilanggar. Oleh karena itu penggugat mempunyai pengaruh yang besar terhadap jalannya perkara, ia dalam batas-batas tertentu dapat mengubah atau mencabut kembali gugatannya. 2. Pengertian dan Dasar Hukum Mediasi a. Pengertian Mediasi Sebagai bentuk dari alternative Dispute Rosolutian (ADR), terdapat devinisi yang beragam tentang mediasi yang dikemukakan oleh para pakar hukum. Namun secara umum, banyak mengakui bahwa mediasi adalah proses untuk menyelesaikan sengketa dengan melakukan bantuan pihak ketiga. Peran pihak ketiga itu adalah dengan melibatkan diri dari bantuan para pihak dalam mengidientifikasi masalah-masalah yang disengketakan. Dalam Perma No. 1 Tahun 2008, pengertian mediasi disebutkan pasal 1 butir 7, yaitu: Mediasi adalah cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator. Berdasarkan uraian tersebut, mediasi merupakan suatu proses yang ditunjukan untuk memungkinkan para pihak yang bersengketa mendiskusikan perbedaan-perbedaan mereka dengan bantuan pihak ketiga yang netral. Tugas utama dari pihak yang netral tersebut (mediator) adalah menolong para pihak memahami pandangan pihak lain sehubungan dengan masalah yang disengketakan. Selanjutnya mediator membantu mereka melakukan penilaian yang objektif dari seluruh situasi untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima oleh kedua belah pihak, guna mengakhiri sengketa yang terjadi. b. Dasar Hukum Mediasi Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa dasar hukum yang mengatur pengintegrasian mediasi kedalam sistem peradilan pada dasarnya bertitik tolak pada ketentuan pasal 130 HIR maupun pasal 154 R.Bg. Untuk lebih memberdayakan dan mengefektifkannya, Mahkamah Agung menuangkan ketentuan tersebut ke dalan suatu bentuk yang bersifat memaksa, yaitu dengan mengaturnya kedalam UU No. 2 Tahun 2003 tentang prosedur mediasi. Namun belakangan Mahkamah Agung menyadari bahwa Perma tersebut kurang teraplikasikan sebagai landasan hukum mediasi karena tidak tampak perubahan sistem dan prosedural perkara masih berlangsung secara konvensional melalui proses litigasi. Hal tersebut kemudian mendorong dikeluarkannya Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2008 tentang prosedur mediasi. Perma No. 1 Tahun 2008 tersebut merupakan penyempurna dari Perma No.2 Tahun 2003.

310

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

3. Jenis- Jenis Mediasi Secara umum, mediasi dapat dibagi kedalam dua jenis yakni Mediasi dalam Sistem Peradilan dan Mediasi di Luar Pengadilan. Mediasi yang berada di dalam pengadilan diatur oleh Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No. 1 Tahun 2008 yang mewajibkan ditempuhnya proses mediasi sebelum pemeriksaan pokok perkara perdata dengan mediator terdiri dari hakim-hakim Pengadilan Negeri tersebut sedangkan mediasi di luar pengadilan ditangani oleh mediator swasta, perorangan, maupun sebuah lembaga independen alternatif penyelesaian sengketa. a. Mediasi dalam Sistem Peradilan Dalam pasal 130 HIR dijelaskan bahwa mediasi dalam sistem peradilan dilaksanakan dalam bentuk perdamaian yang menghasilkan produk berupa akta persetujuan damai (akta perdamaian). Hukum di Indonesia mengatur bahwa hasil mediasi harus dalam bentuk tertulis. Hal tersebut tidak hanya berlaku untuk mediasi dalam lingkup pengadilan tetapi juga bagi mediasi di luar pengadilan. Dalam Perma No. 1 Tahun 2008 disebutkan bahwa: jika mediasi menghasilkan kesepakatan, para pihak dengan bantuan mediator wajib merumuskan secara tertulis kesepakatan yang dicapai dan ditandatangani oleh para pihak. Kesepakatan tersebut wajib memuat klausul-klausul pencabutan perkara atau pernyataan perkara telah selesai [pasal 17 ayat (1) dan (6)]. b. Mediasi di Luar Pengadilan Pada dasarnya dalam kehidupan sehari-hari, mediasi yang berlangsung di luar pengadilan sering terjadi dalam kehidupan masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya peraturan hukum adat yang melekat dan mendarah daging pada kebanyakan masyarakat Indonesia. Misalnya seorang kepala adat atau kepala kerabat bertindak sebagai penengah dalam memecahkan sebuah masalah/ sengketa dan memberi putusan terhadap masalah tersebut. Karena mediasi di luar pengadilan ini merupakan bagian dari adat istiadat atau budaya daerah tertentu maka penyebutan dan tata cara pelaksanaannya juga berbada-beda sesuai dengan budaya yang berlaku pada masyarakat dan daerah tersebut. Sampai saat ini, perkembangan mediasi sudah sangat baik. Masyarakat modern yang dulunya cendrung memilih bentuk penyelesaian perkara melalui litigasi, sekarang sudah berubah memilih mediasi. Hal tersebut dapat dilihat dari pengintegrasian proses mediasi kedalam bentuk perundang-undangan. Misalnya Undang-undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian perselisihan Hubungan Industrial, Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan lain sebagainya. c. Mediasi Arbitrase

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

311

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

Mediasi- Arbitrase adalah bentuk alternatif penyelesaian sengketa yang merupakan kombinasi antara mediasi dan arbitrase. Dalam bentuk ini, seorang yang netral diberi kewenangan untuk mengadakan mediasi, namun demikian ia pun mempunyai kewenangan untuk memutuskan setiap isu yang tidak dapat diselesaikan oleh para pihak. Sedangkan menurut Priyatna Abdurrasyid bahwa mediasi-arbitrae dimulai dengan mediasi, dan jika tidak menghasilkan penyelesaian dilanjutkan dengan arbitrase yang putusannya final mengikat. d. Mediasi Ad-Hoc dan Mediasi Kelembagaan Dengan mengacu pada ketentuan pasal 6 ayat 4 undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, mediasi adhoc terbentuk dengan adanya kesepakatan para pihak dalam hal menentukan mediator untuk menyelesaikan perselisihannya, yang mempunyai sifat tidak permanen. Jenis ini bersifat sementara atau temporer saja, karena dibentuk khusus untuk menyelesaikan perselisihan tertentu sesuai dengan kebutuhan saat itu dan ketika selesai maka mediasi ini akan bubar dengan sendirinya. Sebaliknya, mediasi kelembagaan merupakan mediasi yang bersifat permanen atau terbentuk secara institusional/ melembaga, yakni suatu lembaga mediasi yang menyediakan jasa mediator untuk membantu para pihak. 4. Tugas dan Fungsi Mediator Berdasarkan Perma Nomor 2 Tahun 2008 tentang Prosedur mediasidi Pengadilan , pasal 1 ayat 6 menyebutkan bahwa: Mediator adalah pihak netral yang membantu para pihak dalam proses perundingan guna mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian, dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada setiap proses mediasi, mediator memegang peranan yang sangat penting. Mediasi tidak akan terlaksana tanpa usaha seorang mediator untuk mempertemukan keinginan para pihak dan mencari solusi yang sama-sama menguntungkan atas permasalahan yang terjadi. Dalam praktik, mediator sangat membutuhkan kemampuan personal yang memungkinkannya berhubungan secara menyenangkan dengan para pihak. Kemampuan pribadi yang terpenting adalah sifat tidak menghakimi, yaitu dalam kaitannya dengan cara berfikir masing- masing pihak. Dengan bekal berbagai kemampuan yang dimilikinya, mediator diharapkan dapat menjalankan peranannya untuk menganalisis dan mendiagnosa sengketa yang ada. Kemudian mendisain dan mengendalikan proses mediasi untuk menuntun para pihak mencapai suatu kesepakatan. Adapun hal-hal yang perlu dilakukan oleh seorang mediator dalam praktik, antara lain sebagai berikut: a. Melakukan diagnosis konflik b. Mengidientifikasi masalah serta kepentingan-kepentingan kritis para pihak

312

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

Menyusun agenda Memperlancar dan mengendalikan komunikasi Mengajar para pihak dalam proses dan keterampilan tawar- menawar Membantu para pihak mengumpulkan informasi penting, dan menciptakan pilihan-pilihan untuk memudahkan penyelesaian problem. Dalam kaitannya dengan itu, tugas mediator adalah mengarahkan dan memfasilitasi lancarnya komunikasi dan membantu para pihak agar memperoleh pengertian tentang perselisihan secara keseluruhan sehingga memungkinkan setiap pihak membuat penilaian yang objektif. Dengan bantuan dan bimbingan mediator, para pihak bergerak kearah negosiasi penyelesaian sengketa mereka. Menurut Fuller4 salah seorang pakar hukum menyebutkan bahwa fungsi dari seorang mediator ada 7, yakni: a. Sebagai katalisator, mengandung pengertian bahwa kehadiran mediator dalam proses perundingan mampu mendorong lahirnya suasana yang konstruktif bagi diskusi. b. Sebagai pendidik, berarti seorang harus berusaha memahami aspirasi, prosedur kerja, keterbatasan politis, dan kendala usaha dari para puhak. c. Sebagai penerjemah, berarti mediator harus berusaha menyampaikan dan merumuskan usulan pihak yang satu kepada pihak yang lainnya melalui bahasa atau ungkapan yang baik dengan tanpa mengurangi sasaran yang dicapai oleh pengusul. d. Sebagai nara sumber berarti seorang mediator harus mendayagunakan sumber-sumber informasi yang tersedia. e. Sebagai penyandang berita jelek, berarti seorang mediator harus menyadari bahwa para pihak dalam proses perundingan dapat bersikap emosional. Untuk itu, mediator harus mengadakan pertemuan terpisah dengan pihak-pihak terkait untuk menampung berbagai usulan. f. Sebagai agen realitas, berarti mediator harus berusaha memberikan pengertian secara jelas kepada salah satu pihak bahwa sasarannya tidak mungkin/ tidak masuk akal tercapai melalui perundingan. g. Sebagai kambing hitam, berarti seorang mediator harus siap disalahkan, misalnya dalam membuat kesepakatan hasil perundingan. 5. Proses Mediasi di Pengadilan Negeri Dalam Perma nomor 1 Tahun 2008, prosedur pelaksanaan mediasi dibagi dalam dua tahap sebagaimana yang diatur dalam Bab II, yaitu: Tahap Pramediasi dan tahap mediasi . Tahap-tahap tersebut mencakup hal-hal sebagai berikut: a. Tahap Pramediasi
4 Suyud Margono, Alternative Dispute Resolution (ADR) dan Arbitrase . Cetakan ke-2 (Jakarta: Ghalia Indonesia 2004.) ,h. 60-61.

c. d. e. f.

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

313

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

Tahap pramediasi merupakan tahap persiapan kea rah proses tahap mediasi, yang terdiri atas:5 1) Hakim Memerintahkan Menempuh Mediasi Langkah pertama yang dilakukan seorang hakim pada tahap pramediasi adalah sebagai berikut a) Memerintahakan lebih dahulu menempuh mediasi Perma telah memberikan fungsi dan kewenangan kepada hakim sebagai berikut: (1) Memerintahkan para pihak yang berperkara wajib lebih dahulu menempuh penyelesaian melalui proses mediasi (2) Kewajiban menempuh lebih dahulu penyelesaian proses mediasi bersifat imperative, dan bukan regulative sehingga harus ditaati oleh para pihak. (3) Saat hakim penyampaian perintah pada siding pertama, berarti keberadaan dan fungsi siding pertama hanya acara tunggal, yaitu memerintahkan para pihak wajib lebih dahulu untuk menempuh proses mediasi. b) Syarat Menyampaikan Perintah Syarat yang harus dipenuhi agar penyampaian perintah yang mewajibkan para pihak mesti lebih dahulu menempuh mediasi, diatur dalam pasal 2 ayat 3. 2) Hakim Wajib Menunda Persidangan Tindakan selanjutnya yang harus dilakukan oleh seorang hakim dalam tahap ini diatur dalam pasal 7 ayat (2), yaitu: a) Hakim Wajib Menunda Persidangan Bersamaan dengan perintah yang mewajibkan para pihak lebih dahulu menempuh mediasi, hakim wajib menunda persidangan perkara. Secara mutlak hakim dilarang melakukan pemeriksaan perkara tetapi harus menundanya. b) Memberi Kesempatan Menempuh Mediasi Pada saat hakim menyampaikan perintah agar para pihak harus lebih dahulu menempuh mediasi dibarengi dengan menuda pemeriksaan perkara, hakim harus menjelaskan bahwa meksud penundaan itu adalah dalam rangka member kesempatan kepada para pihak menempuh proses mediasi. 3) Hakim Wajib Memberi Penjelasan tentang Prosedur dan Biaya Mediasi Tindakan berikutnya yang harus dilakukan oleh seorang hakim yaitu: a) Wajib Memberi Penjelasan Prosedur Mediasi

5 Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian dan Putusan Pengadilan.( Jakarta: Sinar Grafika,2004), hlm 251-259.

314

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

Pada sidang pertama hakim juga wajib memberi penjelasan tata cara dan prosedur mediasi yang meliputi tata cara pemilihan mediator, cara pertemuan, perundingan, jadwal pertemuan, tenggang waktu berkenaan dengan pemilihan mediator, proses mediasi dan penendatanganan hasil kesepakatan. b) Menjelaskan Biaya Mediasi Hakim juga wajib menjelaskan hal-hal yang brekenaan dengan biaya mediasi, terutama biaya yang disebut dalam pasal 10 ayat (3) dan (4), yaitu: (a) Bila mediasi dilakukan ditempat lain, biaya ditanggung oleh para pihak berdasarkan kesepakatan. (b) Bila mediator yang disepakati bukan hakim tetapi berasal dari luar lingkup daftar mediator yang ada di pengadilan, biaya mediator tersebut ditanggung oleh para pihak berdasarkan kesepakatan para pihak. 4) Wajib memilih mediator Tata cara pemilihan mediator diatur dalam pasal 8 yaitu: a. Para pihak berhak memilih mediator. Para pihak berhak memilih mediator di antara pilihan-pilihan berikut: a. Hakim bukan pemeriksa perkara pada pengadilan yang bersangkutan; b. Advokat atau akademisi hukum; c. Profesi bukan hukum yang dianggap para pihak menguasai atau berpengalaman dalam pokok sengketa; d. Hakim majelis pemeriksa perkara; e. Gabungan antara mediator yang disebut dalam butir a dan d, atau gabungan butir b dan d, atau gabungan butir c dan d. Jika dalam sebuah proses mediasi terdapat lebih dari satu orang mediator, pembagian tugas mediator ditentukan dan disepakati oleh para mediator sendiri. b. Tidak tercapai kesepakatan Apabila para pihak atau kuasa mereka tidak menghasilkan kesepakatan dalam memilih mediator sampai batas waktu yang telah ditetapkan, para pihak wajib memilih mediator dari daftar pengadilan yang telah tersedia. Hak para pihak untuk memilih mediator dari luar pengadilan telah tertup. c. Ketua majelis berwenang menunjuk mediator Jika para pihak gagal memilih mediator dari daftar maupun luar daftar mediator yang disediakan pengadilan, kemudian gagal pula memilih mediator dari daftar pengadilan dalam waktu satu hari kerja sebagai tindak lanjut dari kegagalan pertama maka penunjukan mediator dilimpahkan kewenangannya kepada ketua majelis hakim yang memriksa perkara secara ex-officio, yang dituangkan ke dalam penetapan. 1. Proses Mediasi oleh Mediator Luar Perlakuan khusus proses mediasi yang menggunakan mediator di luar daftar mediator yang dimiliki pengadilan. Perlakuan tersebut mengenai hal-hal sebagai berikut:
Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

315

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

a. Proses mediasinya 40 hari b. Tindakan para pihak selanjutnya adalah menghadap kembali pada hakim yang memeriksa perkara dan meminta penetapan akta perdamaian atau menyatakan pencabutan gugatan apabila proses mediasi mengahasilkan kesepakatan. I. Tahap Mediasi Tahap mediasi terdiri atas:6 1. Para Pihak Wajib Menyerakan Foto Kopi Dokumen Setelah mediator terpilih atau ditunjuk, para pihak wajib menyerahkan foto kopi dokumen yang memuat duduk perkara dan fotokopi surat-surat yang diperlukan paling lambat dalam jangka waktu tujuh hari kerja terhitung dari tanggal para pihak memilih mediator atau ketua mejelis menunjuk mediator. Penyerahan dokumen ini tidak hanya kepada mediator tetapi juga kepada pihak lain, artinya para pihak secara timbale balik saling menyerahkan dikumen dan surat-surat yang dimaksud. 2. Kewajiban dan Peran Mediator Setelah para pihak saling memberikan dokumen perkara, selanjutnya adalah mediator menentukan jadwal pertemuan yang benar-benar realistis dan harus dihadiri oleh para pihak dengan atau tanpa di dampingi oleh kuasa hukum mereka. Mediator juga dapat melakukan kaukus apabila dianggap perlu dan mengundang ahli dengan syarat-syarat disetujui oleh para pihak. 3. Sistem Proses Mediasi Sistem proses mediasi dibedakan kedalam 3 sistem, yaitu: a. Tertutup untuk umum Sistem ini merupakan prinsip dasar. dalam pasal 6 disebutkan: proses mediasi pada asasnya tertutup untuk umu, kecuali para pihak menghendaki lain. b. Terbuka untuk umum atas persetujuan para pihak Kebolehan melakukan proses pertemuan mediasi terbuka untuk umum, menurut pasal 6 pula, yakni kecuali para pihak menghendaki lain. Dalam arti para pihak menyetujui dan kehendak atau persetujuan itu harus dinyatakan dengan tegas. 4. Mediasi Mengahasilkan Kesepakatan Apabila mediasi menghasilkan kesepakatan, maka para pihak wajib merumuskan kesepakatan secara tertulis dengan dibantu oleh mediator dan ditandatangani oleh para pihak setelak kesepakatan tersebut diperiksa oleh mediator untuk menghindari terjadinya kesepakatan yang betentangan dengan hukum. Dalam kesepakatan ini, wajib dicantumkan klausula-klusula pencabutan perkara atau pernyataan perkara telah selesai. 5. Proses Mediasi Gagal
6

Yahya Harahap, Ibid, h.259-268. Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

316

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

Apabila proses mediasi gagal, yaitu dalam jangka waktu yang telah ditentukan (40 hari kerja) dan telah dipenpanjang selama 14 hari atas namun mediasi tidak menghasilkan kesepakatan maka mediator wajib memberitahukan kegagalan tersebut kepada hakim secara tertulis. Setelah menerima pemberitahuan tersebut maka hakim segera melanjutkan pemeriksaan perkara sesuai dengan ketentuan hukum acara yang berlaku. 6. Karakteristik ADR ADR merupakan alternative penyelesaian sengketa yang dilakukan diluar pengadilan malalui proses negosiasi, mediasi, dan arbitrase. Negosiasi dan arbitrase merupakan bagian dari proses penyelesaian sengketa secara komparatif dengan tujuan memecahkan masalah bersama. Pengembangan ADR dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan lembaga selain pengadilan yang dapat m embantu menyelesaikan sebuah sengketa dengan cepat dan murah, serta keputusan yang tidak bersifat memaksa dan dapat diterima oleh para pihak. Disamping itu dikembangkannya ADR di Indonesia adalah adanya faktor ekonomis, yakni ADR memiliki potensi sebagai sarana penyelesian yang lebih ekonomis, baik dari sudut pandang waktu maupun biaya, serta adanya factor pembinaan hubungan baik diman ADR mengandalkan cara-cara penyelesian kooperatif yang sangat cocok bagi mereka yang menekankan pentingnya. Disamping itu ada juga alasan ruang lingkup, ADR memiliki kemampuan untuk membahas secara lebih luas, komperhensif, dan fleksibel. Hal tersebut dapat terjadi karena aturan main dari dikembangkan dan ditentukan oleh para pihak yang bersengketa sesuai dengan kepentingan dan kebutuhannya. Adapun pengambilan keputusan ADR disebut dengan Cooperative Decision Making yakni prosedur dimana para pihak meriniatif sendiri tanpa bantuan pihak ketida. Yang termasuk prosedur ini antara lain adalah: 1. Konsiliasi. Berguna untuk membangun hubungan social yang pasif di antara para pihak yang terlibat. Para pihak bias saling bertemu dan membuka dialog untuk saling mengenal, membangun persepsi yang positif, meningkatkan rasa saling percaya, dan menawarkan saling terbuka. 2. Pertemuan pertukaran informasi (Information Axchange Meeting). Para pihak bertemu unutk saling bertukar data dan mengemukakan persepsi dari masing-masing masalah, kepentingan, posisi, dan motivasi dalam usaha untuk meminimalkan konflik. 3. Negosiasi. Merupakan cara di mana para pihak secara sukarela bergabung dalam suatu hubungan yang bersifat sementara untuk saling memberikan keterangan tentang kebutuhan dan kepentingan masing-masing.

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

317

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

ADR memiliki potensi untuk menyelesaiakan konflik-konflik yang sangat rumit yang disebabkan oleh substansi kasus yang berat dengan persoalanpersaoalan ilmiah. ADR mempunyai daya tarik khusus di Indonesia karena kerahasiaanya dengan sistem budaya-sosial berdasarkan musyawarah mufakat. Dengan musyawarah dan mufakat yang dilakukan untuk menyelesaikan sengketa tersebut mampu mendatangkan bernagai keuntungan baik itu misalnya keuntungan dari segi waktu, biaya dan tenaga yang dibutuhkan ubtuk menyelesaikan suatu sengketa. Adapun beberapa hal-hal yang merupakan keuntungan yang sering muncul dalam ADR antara lain:7 1. Sifat kesukarelaan dalam proses. Para pihak percaya bahwa ADR memberikan jalan keluar yang potensial untuk menyelesaikan masalah dengan lebih baik dibandingka dengan prosedur litigasi dan prosedur lainya yang melibatkan para pembuat keputusan dari pihak ketiga. Secara umum, tidak seorang pun dipaksa unutk menggunakan prosedur ADR. 2. Prosedur yang cepat. Karena prosedur ADR bersifat Informal, pihak-pihak yang terlibat mampu untuk menegosiasikan syarat-syarat penggunannya. Hal ini mencegah terjadinya penundaan dan mempercepat proses penyelesaian sengketa. 3. Keputusan non yudisial. Wewenang untuk membuat keputusan tetap berada pada pihak-pihak yang terlibat atau tidak didelegasikan kepada pembuat keputusan dari pihak ketiga. Hal ini berarti bahwa pihak-pihak terlibat mempunyai lebih banyak control terhadap hasil-hasil sengketa dan mampu meramalkan. 4. Kontrol tentang kebutuhan organisasi. Prosedur ADR menempatkan keputusan ditangan orang yang mempunyai posisi tertentu (penting), baik unutk menafsirkan tujuan-tujuan jangka panjang dan jangka pendek dari organisasi yang terlibat maupun menafsirkan dampak-dampak positif dan negative dari setiap pilihan penyelesaian masalah tertentu. Pihak ketiga dalam membuat keputusan yang mengikat suatu isu sering kali meminta bantuan seorang hakim, juri, atau arbiter. 5. Prosedur rahasia. Prosedur ADR memberikan jaminan kerahasiaan bagi para pihak dengan porsi yang sama. Pihak-pihak dapat menjajaki pilihan-pilihan sengketa yang potensial dan hak-hak mereka dalam mempresentasikan data untuk menyerang balik tetap dilindungi. 6. Fleksibilitas dalam merancang syarat-syarat penyelesaian masalah. Prosedur ADR memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi parameter isu yang
7 Suyud Margono, Alternatif Dispute Resolution dan Arbitrase, (Cet XI; Bogor: Galia Indonesia, 1993), h.42-43.

318

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

sedang didiskusikan dan cakupan dari penyelesaian masalah. Disamping itu, memungkinkan pengembangan cara penyelesaian yang lebih komperhensip untuk membahas penyebab persengketaan. Prosedur ini dapat menghindari kendala prosedur yudisial yang sangat terbatas pada pembuatan keputusan pengadilan didasarkan pada titik sempit hukum, seperti apakah prosedur yang resmi sudah diikuti atau belum. 7. Hemat Waktu. Selama ini proses penyelesaian masalah sering mengalami hambatan yang cukup berarti dalam menunggu kepastian tanggal persidangan. Prosedur ADR menawarkan kesempatan yang lebih cepat untuk menyelesaikan sengketa tanpa harus menghabiskan waktu bertahuntahun untuk melakukan litigasi. Dalam banyak hal waktu adalah uang dan penundaan penyelesaian masalah memerlukan biaya yang sangat mahal. Penyelesaian sengketa yang dikembangkan melalui penggunaan prosedur ADR merupakan alternatif penyelesaian masalah yang tepat. 8. Hemat biaya. Besarnya biaya biasa ditentukan oleh lamanya waktu yang dipergunakan. Pihak ketiga yang netral rata-rata memasang tarif yang lebih rendah untuk mengganti waktu mereka dibandingkan apabila membayar para pengacara hukum. 9. Pemeliharaan Hubungan ADR menghasilhan kesepakatan-kesepakatan yang dinegosiasikan dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan pihak yang terlibat. Dengan kata lain, ADR mampu mempertahankan hubunganhubungan kerja yang sedang berjalan maupun untuk masa depan. 10. Tingginya kemungkinan untuk melaksanakan kesepakatan. Dalam ADR, para pihak yang telah mencapai kesepakatan cendrung untuk memenuhi syarat-syarat atau isi kesepakatan yang telah diambil oleh keputusan(pihak ketiga). Factor ini membantu para pihak yang terlibat untuk meghindari litigasi yang tidak efektif. 11. Kontrol dan lebih mudah memperkirakan hasil. Pihak-pihak yang menegosiasikan sendiri sengketanya mempunyai lebih banyak control terhadap hasil-hasil penyelesaian sengketa. Cara penyelesaian melaui negosiasi atau mediasi lebih meudah memperkirakan keuntungan dari kerugian dibandingkan jika kasus tersebut ndiselesaikan melalui arbitrase atau didepan hakim. 12. Keputusan bertahan sepanjang waktu. Keputusan penyelesaian sengketa dengan prosedur ADR cendrung bertahan sepanjang waktu. Jika di kemudian hari persengketaan itu menimbilkan masalah, pihak-pihak terlibat lebih memanfaatkan bentuk pemecahan masalah yang kooperatif dibandingkan penerapan pendekatan adversial atau pertentangan.

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

319

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

PENUTUP Pelaksanaan mediasi dipengadilan Negeri Makassar secara umum telah berjalan sesuai dengan prosedur yang berlaku yaitu Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2008 tentang prosedur Mediasi di pengadilan. Namun, sebagian besar perkara perdata yang masuk tidak berhasil didamaikan melalui proses mediasi, hingga dipengadilan negeri Makassar belum terlalu mewujudkan asas sederhana, cepat dan biaya ringan. Faktor yang mempengaruhi penerapan sistem ADR di Pengadilan Negeri Makassar dibagi dalam 2 kategori. Dalam faktor internal, terletak pada para pihak yang berperkara sendiri yang ingin berdamai melalui mediasi atau tidak. Sedangkan dalam faktor ekternal, terletak pada peranan para advokat/pengacara dan hakin yang turut mendorong terlaksananya proses mediasi. ADR yang dipandang sebagai mitra dari lembaga peradilan sudah cukup berjalan dengan baik namun ADR masih kurang didukung dengan sarana pengadilan hingga masih kurang mewujudkan asas sederhana, cepat, dan biaya ringan hingga pelembagaan diterapkannya ADR perlu ditingkatkan. Kepada Pengadilan Negeri Makassar agar menyiapkan daftar mediator beserta riwayat hidup dan pengalaman kerjanya, baik mediator dari dalam pengadilan maupun mediator yang dari luar pengadilan. Hal ini dimaksud agar para pihak yang akan menempuh mediasi dapat mengetahui kemampuan mediatir tersebut. Pengadilan Negeri Makassar agar menyediakan ruang khusus untuk proses mediasi agar para pihak dapat lebih leluasa menyampaikan semua keinginannya, sehingga proses mediasi yang dilakukan dapat berjalan lebih lancar. Pengadilan Negeri Makassar dan Mahkamah Agung RI agar lebih banyak mengadakan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada sosialisasi keberadaan penyelesaian sengketa khususnya melalui jalur mediasi baik dalam bentuk seminar, diskusi, pembagian brosur dan sebagainya, agar pemahaman masyarakat dapat selaras dengan tujuannya. Harapan kepada Pengadilan Negeri Makassar dan Mahkamah Agung RI agar membentuk lembaga pengawas pelaksanaan mediasi serta mewajibkan setiap pengadilan negeri di seluruh Indonesia melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan mediasi setiap tahun dan melaporkan hasil tersebut ke Mahkamah Agung.

320

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

DAFTAR PUSTAKA Abbas Syahrizal. 2009. Mediasi dalam Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat, dan Hukum Nasional. Pranada Media Grup, Jakarta. Adinugroho Susanti. 2008. Proses Penyelesaian Sengketa Konsumen ditinjau dari Hukum Acara Perdata serta Kendala Implementasinya. Kencana, Jakarta. Ali Muhammad. 1985. Penelitian Pendidikan Prosedur dan Strategi. PT Aksara, Bandung. Arikunto Suharsmini. 1993. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Bumi Aksara, Jakarta. Gatot Soemartono. 2006. Arbitrase dan Mediasi di Indonesia. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Harahap, M. Yahya. 2005. Hukum Acara Perdata tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian dan Putusan Pengadilan. Sinar Grafika Offset, Jakarta. Hilman Hadikusuma H. 2003. Pengantar Ilmu Hukum Adat. Mandar Maju, Bandung. Huala Adolf. 2002. Arbitrase Komersial Indonesia (Edisi Revisi). PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Marwan, S.H. 2002. Kamus Hukum Dictionary Of Law Complete Edition. Reality Publisher, Surabaya. Moh. Taufik Makarao. 2004. Pokok- Pokok Hukum Acara Perdata. PT.Rineka Cipta, Jakarta. Oloan Lintang. 1981. Jalannya Peradilan Prancis Lebih Cepat Dari Peradilan Kita. Ghalia Indonesia, Bogor. Rasaid Nur. 2003. Hukum Acara Perdata. Sinar Grafika, Jakarta. Rahardjo Sujipto. 2006. Ilmu Hukum. Citra Aditya Bakti, Bandung. R. Soesilo. 1995. RIB/RBG dengan Penjelasan. Politeia, Bogor. Subekti. 2001. Pokok- Pokok Hukum Perdata. PT.Intermasa, Jakarta. Suyud Margono. 2004. Proses Pelembagaan dan Aspek Hukum . Ghalia Indonesia, Bogor. Sutantio Retnowulan. 1997. Hukum Acara Perdata dalan Teori dan Praktek. Mandar Maju, Bandung.

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012

321

Mediasi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Perdata

Anggreany Arief

Soeparmono. 2005. Hukum Acara Perdata dan Yurisprudensi. Mndara Maju, Bandung. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta. Widjaja Gunawan. 2001. Alternatif Penyelesaian Sengketa. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Website: www.hukumonline.com/detail.asp?id=11774&cl=Berita,2010 www.hukumonline.com/detile.asp?id=17157&cl=Berita,2010 Peraturan Perundang-undangan : Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

322

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 2 Nopember 2012