Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI HISTOLOGI HEWAN

PENGAMATAN ANATOMI EKSTERNAL DAN INTERNAL TIKUS (Rattus norvegicus)

Oleh: Dinia Rizqi Dwijayanti 105090100111005

LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2011

LEMBAR PERNYATAAN

PENGAMATAN ANATOMI EKSTERNAL DAN INTERNAL TIKUS (Rattus norvegicus) Dwijayanti, Dinia R., Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya. Malang. 2011 ABSTRAK Mamalia merupakan vertebrata yang meliliki kelenjar mammae. Mamalia terdiri dari 5.487 spesies dari 46 ordo. Rattus norvegicus merupakan familia Muridae dari kelompok mamalia. Spesies ini berperilaku menggali lubang ditanah dan hidup di lubang tersebut. Metode yang digunakan dalam praktikum ini yaitu metode inspectio yang merupakan metode untuk mempelajari anatomi eksternal mamalia dan metode sectio atau pembedahan yang merupakan metode untuk mempelajari anatomi mamalia secara internal. Kata kunci : Anatomi, Rattus norvegicus, eksternal, inspectio, internal, sectio

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Zim et. al. (2001), mamalia merupakan vertebrata yang meliliki kelenjar mammae. Mamalia tergolong hewan berdarah panas atau suhu tubuhnya tetap. Pada umumnya, mamalia melahirkan keturunannya dengan cara beranak atau melahirkan. Ada beberapa mamalia yang bertelur, seperti ikan guppy dan hiu martil. Menyusui dan memiliki kelenjar susu pada betina tadi merupakan ciri utamanya. Hewan mamalia memiliki beberapa ciri, misalnya memunyai jantung dengan empat ruang, tubuhnya ditutupi bulu, ujung telinganya bercuping (lancip), memiliki kelenjar keringat, dan bernafas melalui paru-paru. Mamalia terdiri dari 5.487 spesies dari 46 ordo. Diketahui saat ini hampir 25 persen spesies mamalia terancam punah. Sedikitnya 1.141 spesies menyusut drastis. Di sisi lain, hewan mamalia merupakan hewan yang dikenal paling dapat bertahan dari perubahan lingkungan sehingga berumur panjang. Hal ini disebabkan karakter hewan ini paling variatif. Mamalia tersebar sebagai hewan darat, air, dan udara. Ukurannya yang beraneka ragam, terkecil berkisar antara 2,5-12 cm hingga terbesar berkisar antara 33 meter. Dapat tinggal di tempat dengan berbagai karakter dan cuaca. Mulai dari gua, lubang, tempat sempit, laut, gurun pasir, hingga padang rumput. Beberapa hewan lain yang termasuk jenis mamalia di antaranya adalah harimau, orang utan, rusa, ikan paus, tikus, hiu, kelinci, kanguru, kelelawar, tapir, dan unta. Diketahui enam dari 10 hewan paling cerdas berasal dari kelompok mamalia (McEvoy, 2002). Mengingat begitu banyaknya jumlah spesies mamalia, maka seorang bioloyst penting untuk mempelajari anatomi eksternal dan internal mamalia agar dapat membedakan antara satu spesies dangan spesies yang lain. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi dilaksanakannya Praktikum Anatomi Eksternal dan Internal Tikus (Rattus norvegicus).

1.2 Tujuan Tujuan pelaksanaan praktikum Anatomi Eksternal dan Internal Tikus (Rattus norvegicus) adalah untuk mengetahui, mempelajari dan memahami bentuk, struktur, fungsi serta susunan alat tubuh pada mamalia. 1.3 Rumusan Masalah Bagaimanakah anatomi eksternal dan anatomi internal pada Rattus norvegicus? 1.4 Manfaat Manfaat dari praktikum ini adalah praktikan dapat memahami dan menjelaskan anatomi eksternal dan internal tikus (Rattus norvegicus) dengan baik ketika terjun ke tengah masyarakat. Jika kelak praktikan menekuni bidang mamalia, maka dengan mengetahui anatomi eksternal dan internal tikus juga akan sangat membantu bidang yang ditekuni praktikan. Disamping itu, dengan mempelajari anatomi eksternal dan internal tikus akan memudahkan praktikan jika praktikan membuka usaha peternakan tikus. Apabila terjadi kelainan anatomi eksternal tikus maka praktikan akan segera tahu dan dapat melakukan tindakan lebih lanjut. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mamalia Mamalia merupakan salah satu kelas dari hewan bertulang belakang yang mempunyai rambut dan mempunyai kelenjar susu. Mamalia mampu bertahan hidup pada kondisi cuaca yang ekstrem, Mempunyai saraf tunjang. mempunyai cuping telinga, dan mempunyai 4 ruang jantung yang sempurna. Mamalia betina melahirkan dan menyusui anaknya kecuali mamalia primitif Platypus dan Echidna. Mamalia bernafas melalui paru-paru dan bersifat homoiterm atau berdarah panas. Pada kulit terdapat kelenjar keringat dan kelenjar minyak. Otak berkembang dengan baik. Reproduksinya dengan fertilisasi secara internal (Zim et al., 2001).

2.2 Rattus norvegicus Menurut McEvoy (2002), tikus merupakan familia Muridae dari kelompok mamalia (hewan menyusui). Para ahli zoologi sepakat untuk menggolongkannya ke dalam ordo Rodensia (hewan yang mengerat), subordo Myomorpha, famili Muridae, dan sub famili Murinae. Anggota Muridae ini dominan di sebagian kawasan di dunia. Potensi reproduksi tikus sangat tinggi dan ciri yang menarik adalah gigi serinya beradaptasi untuk mengerat. Gigi seri ini terdapat pada rahang atas dan bawah, masing-masing sepasang. Gigi seri ini secara tepat akan tumbuh memanjang sehingga merupakan alat potong yang sangat efektif. Tidak mempunyai taring dan graham (premolar). Karakteristik lainnya adalah cara berjalannya dan perilaku hidupnya. Semua Rodensia komensal berjalan dengan telapak kakinya. Beberapa jenis Rodensia adalah Rattus norvegicus, Rattus diardi, Mus musculus. Rattus norvegicus (tikus got) berperilaku menggali lubang ditanah dan hidup di lubang tersebut. Bantalan telapak kaki jenis tikus ini disesuaikan untuk kekuatan menarik dan memegang yang sangat baik. Hal ini karena pada bantalan telapak kaki terdapat guratan-guratan beralur, sedang pada Rodensia penggali bantalan telapak kakinya halus (McEnery, 2008). 2.3 Anatomi Eksternal Rattus norvegicus Menurut McEnery (2008), Rattus norvegicus memiliki berat berkisar antara 150-600 gram. Hidung tumpul dengan badan besar dan pendek. Panjangnya sekitar 18-25 cm. Ekor Lebih pendek dari kepala dan badan. Bagian atas lebih tua dan warna muda pada bagian bawahnya dengan rambut pendek kaku sepanjang 16-21 cm. Telinga relatif kecil, separoh tertutup bulu, jarang lebih dari 20-23 mm. Bulu bagian punggung abu-abu kecoklatan, keabu-abuan pada bagian perut. Berikut adalag gambar anatomi eksternal Rattus norvegicus.

Gambar 2.1 Anatomi eksternal Rattus norvegicus (novartis.com, 2008) 2.4 Anatomi Internal Rattus norvegicus Anatomi internal Rattus norvegicus terdiri atas beberapa sistem organ, diantaranya sistem pernafasan, sistem kardiovaskuler, sistem, pencernaan, sistem reproduksi, sistem ekskresi, sistem skeleton, dan sistem syaraf. Berikut adalah gambar anatomi internal Rattus norvegicus.

Gambar 2.2 Anatomi internal Rattus norvegicus (naver.com, 2009)

2.4.1 Sistem Respiratorium Selama respirasi, udara masuk melalui eksternal nares dan bagian nasal ke nasopharinx kemudian turun melalui glottis ke dalam larinx. Dari larinx, udara ke trachea yaitu suatu pipa berlubang yang didukung oleh cincin-cincin kartilago. Trache yang merupakan bagian trachea dari larinx ke rongga thoraks yang bercabang menjadi dua bronchi utama. Bronchi tersebut masuk ke paru-paru, bercabang lagi menjdai banyak (branchiolus), dan berakhir di alveoli yang menjadi tempat pertukaran gas (Lytle dan John, 2005). 2.4.2 Sistem Cardiovascular Umumnya, sistem peredaran darah pada Rattus norvegicus sama dengan manusia. Peredaran darahnya paling kompleks dan sempurna dibandingkan hewan lain. Alat peredaran darahnya terdiri dari jantung dan pembuluh darah. Sistem peredaran darahnya merupakan sistem peredaran darah tertutup (Saktiyono, 2004). Jantung pada Mammalia terbagi menjadi empat bagian, yaitu atrium dexter yang merupakan tempat bermuaranya vena cava, atrium sinister yang merupakan tempat bermuaranya vena pulmonalis, ventrikel sinister yang merupakan tempat keluarnya aorta, dan ventrikel dexter yang merupakan tempat keluarnya arteri pulmonalis. Pembuluh darah pada mamalia terdiri atas pembuluh darah vena dan pembuluh darah balik (McEvoy, 2002). 2.4.3 Sistem Digestorium Menurut Lytle dan John (2005), sistem digestorium terdiri dari mulut, rongga mulut, pharinx, esophagus, perut, usus kecil, usus besar, dan rektum serta berakhir di anus. Esophagus berupa pipa silndris yang utama dari pharinx ke perut dan memasuki bagian perut yang berkelok-kelok. Kelokan perut besar menuju ke permukaan lateral yang cembung dan besar. Perut berada diantara hati pada bagian kiri

dari abdomen dan terdiri dari tiga bagian yaitu perut terluar (fundus) yang berfungsi sebagai penyimpanan makanan sementara, bagian tengah adalah kelenjar yang mensekresikan mukus, asam hidroholic, dan pepsin, serta bagian belakang yang kecil (daerah pyloric) dengan klep pyloric yang mengontrol bahan makanan yang masuk ke dalam usus kecil. Menurut Zim (2001), usus kecil terdiri dari tiga daerah khusus yaitu duodenum yang merupakan bagian awal usus kecil dan sebagai saluran dari hati dan pankreas, jejenum merupakan usus terpendek, dan ileum yang merupakan bagian belakang usus kecil. Sari-sari mkanan dari ileum masuk ke dalam usus besar (kolon). Pada batas antara ileum dan kolon terdapat caecum. Caecum dan kolon penting dalam penyerapan kembali ion dan air. Bagian akhir dari kolon adalah otot rektum yang menuju ke anus. 2.4.4 Sistem Urogenital Organ ekskretori dan reproduktif tikus keduanya berhubungan secara embrio dan anatomi serta biasanya dijadikan sebagai komponen dari suatu sistem yang disebut sistem urogenital. Menurut Linzey (2001), komponen utama dari sistem ini adalah ginjal, ureter, urinary bladder, dan uretra. Sepasang ginjal yang saling berhubungan bergantung pada dinding dorsal dengan lapisan peritoneum yang terpisah dari rongga abdominal. Ginjal berfungsi untuk tempat pembuangan sari-sari nitrogen dari metabolisme dan produksi urin. Organ reproduksi jantan terdiri dari testes yang berfungsi untuk memproduksi sperma. Selama masa perkembangbiakan, testes terletak di dalam skrotum yaitu kantung besar yang terletak ventral ke anus. Selain itu, terdapat epididimis yang merupakan saluran pembuluh dekat dengan permukaan testes di mana sperma matang telah disimpan, vas deferens yang merupakan saluran terkecil berperan untuk membawa sperma dari epididimis ke uretra. Uretra

berfungsi untuk membawa sperma dari dua vasa deferentia ke penis (Lytle dan John, 2005). 2.4.5 Sistem Nervosum Sistem saraf pada mamalia dibagi menjadi tiga, yaitu saraf otak, saraf sumsum tulang belakang, dan saraf tepi. Saraf otak dan saraf sumsum tulang belakang adalah saraf pusat. Saraf tepi adalah saraf yang menghubungkan antara saraf pusat dengan indera dan otot. Sistem saraf sendiri merupakan cabang dari sistem koordinasi selain sistem hormon dan sistem otot (Linzey, 2001). Menurut Saktiyono (2004), sebagai pusat adalah otak dan medula spinalis (sumsum tulang belakang). Pada otak terdapat 12 nervi cranialis dan dari medula spinalis pada tiap-tiap ruas akan keluar nervi spinalis yang yang memberi persyarafan pada tiap-tiap segmen tubuh ke perifer. Badan-badan atau simpul sistem simpatis terletak di sebelah ventral dari vertebrae. BAB III METODE PRAKTIKUM 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum pengamatan anatomi eksternal dan internal dari reptilia dilaksanakan pada tanggal 18 April 2011 pukul 12.05-14.05 WIB. Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya. 3.2 Alat dan Bahan Adapun peralatan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah satu set alat bedah, papan seksi, sarung tangan bedah, masker, jarum pentul, tissue, kapas, alat tulis dan kertas untuk menggambar. Bahan yang digunakan adalah seekor tikus (Rattus norvegicus).

3.3 Inspectio Rattus norvegicus Dilakukan dislokasi tulang belakang Diletakkan di atas papan seksi Diamati struktur morfologisnya Gambar anatomi internal Rattus norvegicus

3.4 Sectio Rattus norvegicus Ditelentangkan dan anggota gerak difiksasi Rambut linea mediana dipotong Dipotong kulit linea mediana dari sternum sampai ke cranial hingga di bawah mandibula dan caudal di dekat organa genitalia externa Diangkat kulit linea mediana Dibuka dinding perut dan difiksasi Dipotong dari symphisis hingga processus xiphideus sterni Dipotong lateral mengikuti arcus costarum Diamati dan digambar anatomi dalamnya Gambar anatomi internal Rattus norvegicus DAFTAR PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisa Prosedur Spesimen yang digunakan adalah Rattus norvegicus bukan Mus musculus karena ukuran tubuh Rattus norvegicus lebih besar daripada Mus musculus sehingga anatomi eksternal dan internalnya lebih mudah diamati. Metode inspectio adalah suatu metode pengamatan anatomi bagian luar tubuh makhluk hidup (FKUI, 2010). Pada metode

inspectio, Rattus norvegicus diletakkan di atas papan bedah kemudian diamati anatomi eksternalnya dan digambar di lembar pengamatan. Tujuannya adalah untuk mengetahui anatomi eksternal Rattus norvegicus dan mengetahui letak organ luarnya secara sistematis. Metode sectio adalah suatu metode pengamatan anatomi bagian dalam tubuh makhluk hidup dengan melakukan proses pembedahan terlebih dahulu (FKUI, 2010). Pada metode sectio yaitu pembedahan, Rattus norvegicus didislokasi terlebih dulu. Tujuannya adalah untuk memudahkan dilakukannya pembedahan dan tidak terjadi perlawanan dari spesimen. Di samping itu dislokasi dilakukan agar spesimen tidak merasa sakit saat dilakukan pembedahan karena spesimen sudah mati. Setelah spesimen mati, maka siap dilakukan pembedahan. Kulit linea mediana dipotong dari sternum sampai ke cranial hingga di bawah mandibula dan caudal di dekat organa genitalia externa. Kulit linea mediana diangkat. Dinding perut dibuka dan difiksasi. Symphisis hingga processus xiphideus sterni dipotong lateral mengikuti arcus costarum. Anatomi internal Rattus norvegicus digambar pada lembar pengamatan untuk mengetahui anatomi internal Rattus norvegicus serta bentuk organ dan letaknya secara sistematis. 4.2 Analisa Hasil 4.2.1 Anatomi Eksternal Berdasarkan pengamatan anatomi eksternal Rattus norvegicus diperoleh hasil bahwa tubuh Rattus norvegicus terdiri dari tiga bagian utama yaitu caput (kepala), truncus (badan), dan cauda (ekor). Pada bagian caput Rattus norvegicus terdapat auriculae (daun telinga), porus acusticus externa (lubang telinga), organon visus (mata), nares (lubang hidung), rima oris (mulut). Truncus berbentuk bulat lonjong, diliputi rambut-rambut halus berwarna putih yang menutupi seluruh tubuhnya. Bagian truncus terdiri atas thorax (dada), dorsum (punggung), abdomen (perut), glutea (pantat), perineum (daerah antara alat kelamin luar dan anus). Pada thorax terdapat sepasang extrimitas cranialis, dan pada abdomen terdapat sepasang ekstrimitas caudalis. Pada bagian cauda

terdapat ekor berbentuk silindris kecil berukuran panjang. Mammalia adalah organisme yang memiliki kelenjar susu (glandula mammae) yang dapat menghasilkan susu dan memiliki daun telinga untuk membantu pendengaran. Mammalia juga mempunyai rambut yang menutupi seluruh bagian tubuhnya (Kant, 2001). Menurut Radiopoetra (1996), sebagian besar tubuh mamalia memiliki bagian utama yaitu caput (kepala), truncus (badan), cauda (ekor) dan extrimitas liberae (alat gerak). Pada bagian caput terdapat auriculae (telinga), porus acusticus externa, organon visus, nares (lubang hidung), fibrisae dan rima oris. Auricularae telah berkembang dengan sempurna memiliki daun telinga yang membantu untuk proses pendengaran. Rima oris pada Rattus norvegicus terdapat insisivus (gigi seri) yang termodifikasi sebagai hewan pengerat. Berikut adalah gambar anatomi eksternal Rattus norvegicus berdasarkan pengamatan.

Gambar 4.1 Anatomi eksternal Rattus norvegicus


Keterangan gambar 4.1 1. Auricularia 2. Porus acusticus externa 3. Organon visus 4. Nares 5. Rima oris 6. Thorax 7. Abdomen 8. Glutea 9. Cauda 10.Dorsum

Organon visus pada Rattus norvegicus ukurannya besar dan berwarna merah. Bagian dari organon visus yang diamati adalah bulbus oculi, palpebra superior, palpebra inferior, dan plica semilunaris. Plica semilunaris terletak di sudut mata. Organon visus dari mamalia berbentuk hampir bulat sempurna dengan lensa yang sedikit konveks bila dibandingkan dengan reptilia dan aves. Palpebra superior berukuran lebih besar dan mudah digerakkan daripada palpebra inferior. Membran nictitan tidak terkembang dengan baik dan pada Rattus norvegicus dan beberapa spesies lain yang baru lahir, matanya tertutup untuk beberapa hari dan akan membuka nantinya. Kelenjar air mata terletak di externodorsal dari organon visus dan kelenjar Harderian terletak di sepanjang batas ventral dari palpebra. Choroid dari mata mamalia memiliki banyak jaringan darah dan warna dari iris organon visus bervariasi (Linzey, 2001). Berikut adalah gambar organon visus Rattus norvegicus berdasarkan pengamatan.
Keterangan gambar 4.2 1. Palpebra superior 2. Bulbus oculi 3. Palpebra inferior 4. Plica semilunaris

Gambar 4.2 Organon visus Rattus norvegicus Berdasarkan pengamatan, rima oris terletak di bagian paling anterior dari caput. Strukturnya lunak dan terdiri atas maksila dan mandibula. Menurut Storer dan Ursinger (1995), cavum oris dibatasi oleh rima oris yang tipis dan halus yang sudah terkembang dengan baik. Pada bagian medial rima oris superior terdapat lekukan yang membagi rima oris tersebut menjadi dua, yang disebut philtrum. Anterior dari philtrum terdapat nares. Ciri khas dari tikus yang termasuk dalam rodentia adalah adanya dentes incisivus yang besar

dan tajam. Dentes ini berjumlah 2 pasang dan terletak di maxila 1 pasang dan mandibula 1 pasang. Kedua pasang gigi ini akan terus tumbuh selama hidupnya. Tikus tidak memiliki dentes caninus dan dentes premolar dan molar berada di bagian dalam cavum oris. Di bagian superior dari rima oris adalah nares. Lateral dari nares, terdapat rambut-rambut yang memanjang yang biasa diketahui sebagai kumis. Menurut Lytle dan Meyer (2005), fungsi dari kumis atau vibrissae adalah memberikan tikus sebuah organ sensorik yang sangat peka, terutama pada sentuhan. Saat tikus akan memasuki sebuah lubang, vibrissae akan memberikan informasi yang akurat bagi tikus apakah lubang tersebut dapat dilalui oleh tikus ataupun tidak. Pada bagian dorsocauda caput terdapat auriculae (daun telinga) yang berjumlah sepasang, dekster dan sinister. Di bagian medial dari setiap auriculae terdapat porus acusticus externus (lubang telinga) yang berbentuk lubang. Menurut Lytle dan Meyer (2005), organ phonoreseptor ekternal dari tikus terdiri dari auriculae dan porus acusticus externus. Auriculae atau pinna adalah lipatan eksternal dari jaringan caput yang membantu mengarahkan gelombang suara ke dalam porus acusticus externus. Caput terhubung dengan truncus dengan cerviks yang pendek dan tebal. Bagian truncus Rattus norvegicus berukuran besar dan diselimuti oleh bulubulu. Pada truncus Rattus norvegicus merupakan tempat melekatnya extermitas dari tikus, yaitu yang berupa ekstrimitas liberae cranialis dan caudalis. Pada bagian cauda dari truncus terdapat organ reproduksi sekunder betina yang terlihat, yaitu vulva dan clitoris pada bagian ventral vulva dan juga terdapat anus pada bagian caudal vulva yang dipisahkan oleh suatu tonjolan yang disebut perineum. Selain itu terdapat papillae mammae yang terletak di sepanjang linea mediana sinister dan dekster. Jika Rattus norvegicus yang dibedah berkelamin jantan, maka pada bagian

cauda akan terdapat scrotum yang akan berisi sepasang testis dan penis pada bagian ventralnya. Extermitas dari Rattus norvegicus adalah bagian tubuh yang digunakan untuk bergerak dengan cara berjalan dengan 4 kaki. Pada pengamatan, terdapat 1 pasang ekstrimitas cranialis yang terletak dekat dengan caput dan 1 pasang ekstrimitas caudalis yang terletak dekat dengan caudal. Ekstrimitas cranialis memiliki 4 digiti berfalcula sedangkan ekstrimitas caudalis memiliki 5 digiti berfalcula. Tidak seperti bagian tubuh lainnya, ekstrimitas dari Rattus norvegicus diselimuti oleh rambut hanya pada bagian yang dekat dengan truncus, selebihnya hingga digiti tidak diselimuti oleh rambut. Ekstrimitas cranialis terbagi menjadi beberapa bagian, bagian atas, bagian bawah dan bagian yang mirip dengan tangan. Ektrimitas caudalis menjadi paha, betis dan bagian yang mirip kaki. Struktur dari tulang pada ekstrimitas Rattus norvegicus homolog dengan yang ada pada lengan manusia. Pada ekstrimitas cranialis terdapat humerus pada bagian atas, radius dan ulna pada bagian bawah, carpal dan metacarpal pada bagian mirip tangan. Pada ekstrimitas caudalis terdapat femur, patella, fibula, tarsal dan metatarsal. Pada tiap ujung dari ekstrimitas terdapat digiti yang memiliki falcula berzat tanduk. Pada bagian telapak, terdapat bantalan jalan. Tidak seperti keluarga kucing yang terkembang dengan baik, bantalan jalan pada Rattus norvegicus tidak terkembang dengan baik, karena Rattus norvegicus cenderung berjalan dengan tumpuan digiti daripada keseluruhan telapaknya (Lytle dan Meyer, 2005). Hampir seluruh tubuh dari Rattus norvegicus terselimuti oleh rambut-rambut yang halus berwarna putih. Rambut-rambut ini menempel pada integumen yang halus dan tipis di bawahnya. Bagian yang tidak diselimuti oleh rambut adalah caudal dan bagian bawah hingga digiti tiap ekstrimitas. Tiap rambut tumbuh dari folikel rambut yang terdapat pada integumen. Folikel tersebut memiliki

kelenjar sebasea atau minyak yang kecil yang mengeluarkan minyak untuk melumasi rambut dan otot erector untuk mendirikan rambut. Rambut adalah produk epidermal yang tidak hidup dan nantinya akan rontok pada waktu-waktu tertentu. Warna dari rambut berasal dari granula pigmen pada korteks di lapisan luar (Storer dan Ursinger, 1955). Salah satu ciri lain dari mamalia adalah adanya kelenjar susu atau kelenjar mammae. Kelenjar ini adalah kelenjar necrobiotic sebasea yang memiliki metode pengeluaran yang berada di tengah-tengah antara kelenjar keringat dan kelenjar sebasea. Aparatus mammae tidak hanya terdiri dari kelenjar mammae itu sendiri, tetapi juga papilla mammae yang terlihat di luar dan payudara atau mammae yang merupakan integumen yang membengkak karena pembesaran kelenjar mammae di bawah integumen. Susu yang dihasilkan adalah makanan bagi bayi mamalia. Susu tersebut terdiri dari air yang didapat dari aliran darah, lemak, gula susu, albumin dan garam dalam komposisi yang tepat. Kelenjar mammae dapat tumbuh di berbagai tempat di integumen mamalia. Normalnya, kelenjar ini tersusun menjadi 2 baris pada bagian ventral tubuh (Walter dan Sayles, 1949). 4.2.2 Anatomi Internal Berdasarkan pengamatan, anatomi internal Rattus norvegicus terlihat terdapat beberapa organ. Organorgan tersebut meliputi hepar, pharink, trachea, pulmo, ren, intestinum tenue, intestinum crasum, lien, dan cor. Hepar terdiri dari 5 lobus dengan pembgian bagian dexter 3 lobi dan bagian sinister 2 lobi. Cor terbagi menjadi empat ruang yaitu atrium dexter, atrium sinister, ventrikel sinister, dan ventrikel dexter. Pada bagian urogenitalnya terdapat ovarium, oviduct dan vesica urinaria. Bagian internal mamalia sebagian besar memiliki struktur yang hampir sama yaitu terdapat organ-organ vital yang meliputi hepar, cor, ren, vesica fellea, ventriculus, lien, intestinum tenue, intestinum crasum,

coccum, dan vesica urinaria. Hepar mamalia memiliki 5 lobi, 3 lobi hepar dexter dan 2 lobi hepar sinister. Cor terletak di dekat pulmo dan pada posisi sebelah thorax bagian sinister. Vesica fellea dan ventriculus terletak di caudal hepar. Lien berbentuk pipih lonjong dan menempel pada ventriculus. Intestinum merupakan saluran yang panjang berbelit-belit dengan dindingnya yang sangat tebal dan mengandung vili-vili. Terdapat dua macam intestinum yaitu intestinum tenue (usus halus) dan intestinum crasum (usus besar). Intestinum crasum biasanya disebut coecum yang terdiri dari incisurae (kolon naik), haustrae (kolon mendatar), dan taeniae (kolon menurun). Untuk proses ekskresinya yang berupa urine terdapat organ vesica urinaria (Kardong, 2002). a. Systema Respiratorium Sistem pernapasan Rattus norvegicus termodifikasi lebih sempurna. Terdapat bagianbagian yang menyusun sistem ini, yaitu nares anteriores, cavum nasi, nares posteriores, larynx, trachea, bronchus, dan pulmo. Masuknya udara pertama melalui nares anteriores yang kemudian diteruskan ke larynk yang disokong oleh cartilago. Trachea yang juga disokong oleh cincin-cincin cartilago. Dari trachea akan menjadi bronchus yang mencabang menjadi 2 dan percabangannya disebut bifucartio trachea. Tiap cabang bronchus akan memasuki pulmo. Pulmo berjumlah sepasang, dexter dan sinister. Sistem respiratorium Rattus norvegicus berdasarkan pengamatan dapat dilihat padagambar 4.6.
Keterangan gambar 4.6 1. Nares anteriores 2. Cavum nasi 3. Nares posteriors 4. Larynx 5. Trachea 6. Bronchus 7. Pulmo dexter dan sinister

Gambar 4.6 Sistem respiratorium Rattus norvegicus

Menurut Linzey (2001), ronggga larynx disebut auditus laringis, sedangkan celah yang berhubungan dengan pharynx disebut rima glotiiidis (persimpangan dua saluran). Pada larynx terdapat cartilage (tulang rawan) yang terdiri dari : 1. Tyroidea, tunggal, terletak ventrolateral 2. Cricoidea, tunggal, terletak di caudal thyroidea 3. Arythenoidea, sepasang, terletak di cranial cartilage cricoidea dan dorsal cartilage thyroidea 4. Santorini, sepasang, berukuran kecil, terletak pada puncak cartilage arythenoid 5. Epiglottis, berbentuk pipih terletak dorsacranial cartilaogo thyroidea Trachea disusun dari cincin cartilage annulus thacealis yang sebelah dorsal tidak menutup, terletak di sebelah ventral esophagus. Bronchus tersusun atas cincin cartilage annulus branchialis yang menutup sempurna. Pulmo berjumlah sepasang, pulmo dexter terdiri dari 3 lobi dan pulmo sinister terdiri dari 2 lobi. Tiga lobi pada bagian dexter meliputi lobus superius, medius, dan inferius, sedangkan bagian sinister terdiri dari lobus superius dan inferius (McEnery, 2008). Udara dari luar akan masuk ke porus nares terlebih dahulu, melewati cavum nasi dan nares anteriores yang terletak di dorsal palatum. Setelah itu akan melewati glottis dan ke larynk. Udara akan disaring dan dihangatkan saat melewati saluran ini dan udara juga dapat menggetarkan pita suara di dinding lateral larynk yang digunakan untuk komunikasi. Dari larynk, udara akan memasuki trachea yang tersokong oleh cincin kartilago yang belum sempurna dan mencabang menjadi 2 bronchus primer dan masuk ke dalam pulmo. Bronchus akan mencabang-cabang lagi menjadi branchiolus dan mencabang menjadi alveolus. Alveolus berdinding tipis dan banyak dialiri oleh kapiler darah sehingga memudahkan untuk pertukaran gas (Lytle dan Meyer, 2005).

Pertukaran udara pada tikus dan mamalia lainnya dilakukan dengan pergantian volume rongga thorak. Inspirasi dan ekspirasi dari tikus dilakukan dengan kontraksi dan relaksasi dari otototot tulang rusuk dan diafragma. Saat melakukan inspirasi, diafragma akan berkontraksi (lurus) sedangkan otot tulang rusuk akan relaksasi sehingga rongga thorak akan membesar dan udara masuk. Saat ekspirasi, diafragma akan relaksasi (melengkung) dan otot tulang rusuk akan kontraksi sehingga rongga thorak mengecil dan udara akan terdorong keluar (Lytle dan Meyer, 2005). Berikut adalag gambar pulmo pada mamalia.

Gambar 4.7 Pulmo mamalia (University of Winnipeg, 2006) b. Systema Cardiovascular Sistem kardiovaskular dari tikus memiliki pola dasar yang sama dengan mamalia lainnya. Terdapat 2 fitur utama dalam sistem ini, yaitu cor (jantung) yang terdiri dari 4 ruang dan 2 divisi terpisah untuk sirkulasi darah, divisi pulmonalis atau peredaran darah ke paru-paru dan divisi

sistemik atau peredaran darah ke seluruh tubuh. Pola ini menunjukkan adanya perkembangan pada mamalia daripada vertebrata rendah lainnya yang memungkinkan pencampuran kedua jenis darah (kaya oksigen dan minim oksigen). Cor Rattus norvegicus dapat dilihat pada gambar 4.8.
Keterangan gambar 4.8 1. Atrium sinister 2. Ventrikel sinister 3. Ventrikel dexter 4. Atrium dexter

Gambar 4.8 Cor Rattus norvegicus Menurut Kardong (2002), cor (jantung) pada tikus memiliki 4 ruang, atrium dexter, atrium sinister, ventrikel sinister dan ventrikel dexter dan masing-masing telah memiliki septa atau sekat yang sempurna. Bagian dexter cor menerima darah minim oksigen dari seluruh tubuh melalui vena cava dan memompanya ke sistem pulmonalis melalui arteri pulmonalis untuk pengeluaran CO2 dan pengangkutan O2 dan kembali ke cor melewati vena pulmonalis ke bagian sinister cor. Bagian sinister memompa darah penuh oksigen dari sistem pulmonalis ke sistem sistemik melalui aorta yaitu ke seluruh organ tubuh kecuali paru-paru. Aorta memanjang dari cor yang keluar dari ventikel sinister, melengkung ke kiri membentuk lengkung aorta yang bercabang 5. 2 cabang pertama merupakan arteri coronaria yang menyuplai darah ke otot-otot cor. Cabang pertama dari 3 cabang selanjutnya adalah arteri brachiocephalic yang terbagi lagi menjadi arteri common carotid dexter yang menyuplai otak dan caput, arteri subclavian dexter yang menyuplai ekstrimitas cranialis dexter dan bahu. Cabang kedua adalah arteri common carotid sinister yang

menyuplai cerviks bagian kiri dan kepala. Cabang terakhir adalah arteri subclavian sinister yang menyuplai extrimitas cranialis sinister, dada dan cerviks. Posterior dari cor, aorta berubah menjadi dorsal aorta yang memanjang di dinding dorsal dan menyuplai abdomen dan bagian posterior tubuh dan memanjang hingga caudal dan berubah menjadi arteri caudal (Linzey, 2001., Lytle dan Meyer, 2005). Menurut Lytle dan Meyer (2005), pada sistem vena, terdapat 4 pola utama, yaitu vena dari pulmo, vena dari caput dan bagian anterior tubuh, vena dari abdomen dan bagian posterior tubuh dan vena porta hepatica. Vena pulmo membawa darah kaya oksigen dari pulmo ke cor melalui vena pulmonalis. Vena yang membawa darah minim oksigen dari bagian caput dan anterior tubuh disebut vena cava cranial. Vena cava tersebut merupakan gabungan 3 vena, vena jugular internal yang menerima darah dari trachea, larynk dan cerviks, vena jugular eksternal yang menerima darah dari bahu dan caput dan vena subclavian yang menerima darah dari ekstrimitas cranialis dan bahu. Vena yang membawa darah dari bagian abdomen dan posterior tubuh disebut dengan vena cava caudal yang merupakan gabungan dari vena hepatica, vena phrenic, vena renal, vena gonad, vena illiac dan vena common illiac. Vena porta hepatica adalah vena yang memperoleh darah dari tractus digestivus dan membawa nutrisi ke hepar. Di dalam hepar, nutrisi tersebut sebagian akan disimpan dan diubah sebelum dilepaskan ke dalam aliran darah. Vena porta akan bergabung dengan vena cava caudal dan akhirnya kembali ke jantung. Pada sistem kardiovaskular, terdapat 2 kelenjar tambahan yang penting, yaitu spleen dan thymus. Spleen terletak melekat pada ventrikulus dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan sel darah merah dan imunitas karena spleen adalah bagian dari sistem limfa. Thymus pada Rattus norvegicus

terletak pada bagian distal trachea dan esophagus di dalam cerviks. Fungsinya adalah untuk memproduksi sel darah putih dan ukurannya akan mengecil seiring dengan umur tikus. Thymus disusun oleh jaringan limfatik yang berfungsi sebagai penyedia imunitas dan kekebalan tubuh terhadap agen-agen penginfeksi (Saktiyono, 2004., Lytle dan Meyer, 2005). Berikut adalah gambar sistem peredaran darah mamalia.

Gambar 4.9 Sistem kardiovaskuler mamalia (Harun Yahya, 2008) c. Systema Digestorium Sistem pencernaan dari Rattus norvegicus terdiri dari 2 jenis, tractus digestivus dan glandula digestoria. Tractus digestivus dibentuk oleh cavum oris (rongga mulut), pharynk (faring), esophagus, proventriculus (lambung kelenjar), ventriculus (lambung), intestinum tenue (usus halus),

intestinum crasum (usus besar), rectum dan cloaca. Glandula digestoria terdiri dari salivary gland, hepar (hati), dan pankreas. Sistem digestorium Rattus norvegicus berdasarkan pengamatan dapat dilihat pada gambar 4.10.
Keterangan gambar 4.10 1. Lingua 2. Cavum oris 3. Pharynx 4. Esophagus 5. Ventriculus 6. Hepar 7. Vesica fellea 8. Lien 9. Pankreas 10. Intestinum tenue 11. Intestinum crasum 12. Anus

Gambar

4.10

Sistema digestorium norvegicus

Rattus

Menurut Lytle dan Meyer (2005), sistem pencernaan pada mamalia dibedakan menjadi dua yaitu tractus digestivus (saluran pencernaan) dan glandula digestoria (kelenjar pencernaan). Tractus digestivus disusun oleh cavum oris, lingua, pharynk, esophagus, ventrikulus, intestinum tenue, coecum, intestinum crasum, dan anus. Cavum oris terdiri dari palantum durum (langit-langit keras), palantum molle (langit-langit lunak) dan dentes. Dentes terdapat empat macam yaitu dens insisivus, dens caninus yang berkembang tereduksi, dens praemolare, dan dens molare. Diantara dens insisivus dan praemolare terdapat celah yang dinamakan diastema. Pada lingua

terdapat lingua yang mempunyai banyak papillae (tonjolan kecil) yang berfungsi sebagai indra perasa. Kemudian makanan dilanjutkan ke pharynx dan esophagus. Esophagus merupakan saluran yang panjang menyerupai pipa tetapi elastis dan pada bagian ini terjadi gerak peristaltik. Ventrikulus merupakan tempat bermuaranya makanan dan terjadi pencernaan secara kimiawi. Di dalam ventrikulus ini akan dikeluarkan berbagai enzim pencernaan seperti enzim pepsin, rennin dan HCl. Setelah dari ventrikulus, makanan menuju intestinum tenue untuk penyerapan sarisari makanan. Intestinum tenue dibagi menjadi tiga yaitu duodenum, jejunum, dan ileum. Kemudian sisa-sisa makanan diserap airnya di intestinum crasum dan berakhir pada rectum. Ketika rectum terasa penuh, maka rectum berkontraksi untuk mengeluarkannya melalui lubang yang disebut anus. Glandula digestoria terdiri dari hepar (hati) yang berwarna merah coklat, vesica fellea (kantong empedu), dan pancreas yang terdapat pada mesentrium. Intestinum tenue dibagi menjadi 3 bagian. Pada bagian anterior disebut duodenum dengan panjang 25-30 cm dan terdapat ductus dari hepar dan pancreas. Duodenum merupakan tempat pencernaan terjadi. Distal dari duodenum terdapat jejunum. Bagian terakhir disebut dengan ileum yang berdinding tidak halus karena terdapat nodus limfe yang berfungsi dalam penyerapan lipid. Pada pertemuan antara ileum dengan intestinum crasum terdapat caecum. Caecum adalah kantung yang memanjang ke arah posterior dari katup ileocolic diantara ileum dan intestinum crasum. Pada herbivora seperti Rattus norvegicus caecum besar karena caecum berfungsi sebagai tempat fermentasi dari tanaman yang dimakan. Dari katup ileolic dilanjutkan menjadi intestinum crasum atau colon. Colon yang memanjang ke arah anterior disebut ascending colon. Colon yang melintasi

rongga abdomen disebut dengan transverse colon. Colon yang terdapat di bagian posterior dari transverse colon disebut dengan descending colon. Dari colon akan tersambung dengan rectum dan akhirnya akan ke anus (Linzey, 2001., Lytle dan Meyer, 2005) Hepar dari Rattus norvegicus memiliki 4 lobus yang terletak posterior dari diafragma. Saluran empedu dari tiap lobus akan bersatu dan menjadi saluran yang membawa garam empedu ke duodenum. Fungsinya adalah sebagai tempat penyimpanan glikogen, memecah sel darah merah, menyeimbangkan aliran nutrisi dalam darah, menawar racun, membunuh bakteri, memproduksi buangan bernitrogen yang nantinya disalurkan ke ren dan memproduksi empedu untuk pencernaan. Pankreas pada Rattus norvegicus bukan merupakan organ konkrit, namun berupa tonjolan-tonjolan berwarna pink atau coklat pada mesentery (Lytle dan Meyer, 2005). Berikut adalah gambar sistem pencernaan mamalia.

Gambar 4.11 Sistema digestorium mamalia (University of Winnipeg, 2006)

d. Systema Urogenitale Sistem urogenitalia terdiri atas 2 sistem, yaitu sistem uropoetica dan sistem genitalia. Sistem uropoetica terdiri dari ren (ginjal), ureter, vesica urinaria dan urethra. Pada sistem genitalia terdapat testis, vesicular seminalis, ductus deferens, dan penis. Sistema urogenital Rattus norvegicus berdasarkan pengamatan dapat dilihat pada gambar 4.12.
Keterangan gambar 4.12 1. Ren 2. Ureter 3. Vesicula urinaria 4. Uretra 5. Epididimis 6. Testis 7. Vesicula seminalis 8. Dictus deferens 9. Penis

Gambar 4.12 Sistema urogenital Rattus norvegicus Menurut Linzey (2001), ren pada tikus terletak pada dinding dorsal dan diikat oleh lapisan peritoneum yang memisahkan kedua ren dari rongga abdomen. Bila dipotong secara melintang, ren mamalia adalah organ berongga dengan ketebalan yang tidak sama pada bagian cekung dan cembungnya. Rongga tersebut merupakan tempat keluar dari ureter dan pada bagian dalamnya berbentuk seperti corong. Dinding yang lebih tebal adalah bagian dari ren tersebut, berisi nefridia, pembuluh darah dan jaringan pengikat. Ren pada tikus termasuk pada unipyramidal karena hanya memiliki satu papilla saja dan tidak berlobus.

Vesica urinaria berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara dari urin. Urin akan dikeluarkan melewati urethra. Urethra pada jantan akan bersatu dengan saluran genitalianya di dalam penis, sedangkan pada betina memiliki lubang tersendiri di dekat clitoris. Urin yang dikeluarkan berbentuk cair dan merupakan sisa buangan metabolisme bernitrogen terkonsentrasi. Kopi dengan susu yang memiliki efek dieuretik tidak mempengaruhi urin dari tikus baik pada volume, warna, kejernihan, pH, berat jenis dan kandungan glukosa pada urin (Bistani, 2007). Organ genital dari tikus kurang lebih sama dengan vertebrata lain. Pada jantan, spermatozoa dihasilkan di sepasang testis yang berbentuk oval. Saat musim kawin, kedua testis akan berada di dalam scrotum, suatu kantung besar yang terletak ventral dari anus dan saat tidak musimnya akan berada di posterior rongga abdomen. Sperma yang dewasa akan bergerak ke epididymis, suatu saluran berkelok-kelok yang terdapat pada permukaan testis. Setelah itu akan memasuki vas deferens dan akhirnya akan ke urethra yang berada di dalam organ kopulasi, penis. Sperma akan tersuspensi dalam cairan seminal yang disebut dengan semen yang disekresikan oleh beberapa kelanjar di urethra dan penis (Lytle dan Meyer, 2005). e. Systema Nervosum Menurut Linzey (2001), sistem saraf pada mamalia dibagi menjadi tiga, yaitu saraf otak, saraf sumsum tulang belakang, dan saraf tepi. Saraf otak dan saraf sumsum tulang belakang adalah saraf pusat. Saraf tepi adalah saraf yang menghubungkan antara saraf pusat dengan indera dan otot. Sistem saraf sendiri merupakan cabang dari sistem koordinasi selain sistem hormon dan sistem otot. Sebagai pusat adalah otak dan medula spinalis (sumsum tulang belakang). Pada otak

terdapat 12 nervi cranialis dan dari medula spinalis pada tiap-tiap ruas akan keluar nervi spinalis yang yang memberi persyarafan pada tiap-tiap segmen tubuh ke perifer. Badan-badan atau simpul sistem simpatis terletak di sebelah ventral dari vertebrae. Berikut adalah gambar sistem syaraf mamalia.

Gambar 4.14 Sistem nervosum mamalia (Supersuga, 2008) 4.2.3 Comparative Anatomy Ditinjau dari anatomi eksternal, mulai dari aves hingga mamalia terdapat perbedaan bentuk organ yaitu mulai dari sederhana menuju organ yang lebih sempurna. Mata ikan, amphibi, dan aves terdapat membrane nictitans sedangkan reptile dan mamalia tidak memiliki. Hal itu disesuaikan dengan habitat organisme tersebut. Membrana nictitans dan amphibi berfungsi untuk mengurangi gesekan mata dengan air, sedangkan pada aves berfungsi untuk menghindari gesekan dengan udara saat terbang. Mata ikan lebih sederhana yaitu tidak memiliki palpebra sedangkan mata amphibi, reptile, aves, dan mamalia terdapat palpebra. Mata mamalia yang paling kompleks karena memiliki plica semilunaris. Integumen

Pisces dan reptile diliputi oleh sisik, amphibi memiliki integument yang licin dan mengandung banyak pembuluh darah. Integumen aves diliputi oleh bulu sedangkan pada mamalia diliputi oleh bulu. Ditinjau dari anatomi internal, ginjal pisces dan amphibi bertipe mesonefros yakni masih berupa saluran sederhana sedangkan pada reptile hingga mamalia memiliki ginjal bertipe metanefros yang merupakan tipe ginjal paling modern yaitu sudah berupa organ seperti biji kacang beserta salurannya. Hepar pisces dan mamalia terdiri atas tiga lobi sedangkan pada amphibi, reptile, dan aves terdapat dua lobi. Jantung pisces hanya berupa satu organ kecil. Jantung amphibi terdiri atas tiga lobus. Jantung reptile terdiri dari empat lobus dengan sekat tidak sempurna. Jantung aves dan mamalia terdiri dari empat lobus dengan sekat sempurna. Pada alat reproduksi, pisces dan amphibi jantan tidak memiliki penis sebagai alat copulasi karena fertilisasinya adalah fertilisasi eksternal. Reptil melakukan fertilisasi internal, sehingga memiliki organ kopulasi berupa hemipenis. Hemipenis merupakan sepasang alat kopulasi yang berupa tonjolan di dinding kloaka, terdiri dari dua penis yang dihubungkan oleh satu testis yang dapat dibolak-balik seperti jari-jari pada sarung tangan karet. Pada aves dan mamalia terdapat penis sebenarnya. BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan pada anatomi eksternal, tubuh Rattus norvegicus meliputi caput (kepala), truncus (badan), cauda (ekor), dan extremitas (anggota gerak). Sedangkan untuk bagian dalam internal Rattus norvegicus yang diamati secara sectio meliputi cor, ren, pulmo, hepar (hati), ventriculus, lien, intestinum tenue (usus

halus), intestinum crassum (usus besar), coecum, lien dan bagian-bagian dari diaphragma. 5.2 Saran Praktikan diharapkan menguasai teknik dislokasi supaya tikus tidak merasa kesakitan. Selain itu, praktikan harus menguasai teknik cara menseksi atau membedah Rattus norvegicus secara benar agar tidak merusak organ-organ vital yang terdapat di dalam tubuh tikus tersebut. DAFTAR PUSTAKA Kant, G. C., R. K. Carr.2001. Comparative of the Anatomy Vertebrates Ninth Edition. Mc Graw Hill Companies Inc. New York Kardong, K.V. 2002. Vertebrates Comparative Anatomy, Function, Evolution. McGraw-Hill. Companies, Inc. North America. Linzey, D. W. 2001. Verterbrate Biology. Mc Graw-Hill Education. New York Lytle, C., J. R. Meyer. 2005. General Zoology Laboratory 14th edition. Mc. Graw Hill Higher Education. New York McEnery, J. 2008. Rattus Norvegicus. Lulu Press. London McEvoy, P. 2002. Mammals. Blake Education. London Radiopoetra. 1996. Zoology. Erlangga. Jakarta Saktiyono. 2004. Biologi. Erlangga. Jakarta Storer, Tracy L. dan Robert L. Usinger. 1955. Element of Zoology. McGraw-Hill Book Company. New York Zim, H. S., D. F. Hoffmeister, dan J. G. Irving. 2001. Mammals. St. Martins Press. USA