Anda di halaman 1dari 13

1

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat TUHAN YANG MAHA ESA, karena hanya dengan bimbingan karunianyalah sehingga kami dapat menyusun makalah ini yang sudah menjadi tugas sebgai mahasiswa dan sebagai calon perawat. Dalam pembuatan makalah ini, saya sistematika penulisan, yang untuk memperoleh hasil yang diinginkan, baik saya pribadi ataupun orang lain. Sehubungan dengan pembuatan makalah ini, kami mendapatkan informasi dari berbagai literature, yang berhubungan yang sesuai dengan apa yang sudah disarankan demi untuk memperoleh hasil yang optimal. Tidak henti-hentinya kami ucapkan banyak terima kasih atas segala kesempatan. Semoga pembuatan makalah ini bisa bermanfaat dengan bertambahnya pengetahuan khususnya bagi calon perawat.

Manado, juni 2012 KELOMPOK 3

DAFTAR ISI

Kata pengantar ........................................................................................................... 1 Daftar isi..................................................................................................................... 2 Bab I : pendahuluan ................................................................................................... 3 a. Latar belakang .......................................................................................... 3 b. Tujuan penulisan ...................................................................................... 3 c. Manfaat penulisan .................................................................................... 3

Bab II : pembahasan................................................................................................... I. Konsep dasar teori ................................................................................... 4 A. Pengertian ................................................................................................ 4 B. Macam-macam ruptur uteri...................................................................... 4 C. Etiologi ................................................................................................... 5 D. patofisiologi ............................................................................................. 6 E. Manifestasi klinik..................................................................................... 7 F. Tes diagnostik .......................................................................................... 7 G. Penanganan ............................................................................................. 7 II. Asuhan keperawatan ................................................................................ 9 1. Pengkajian ............................................................................................... 9 2. Diagnosa keperawatan ............................................................................ 10 3. Intervensi ................................................................................................. 10 4. Rancana asuhan keperawatan .................................................................. 10 Bab III : penutup ........................................................................................................ 12 a. Kesimpulan

Daftar pustaka ............................................................................................................ 13

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Persalinan sering kali mengakibatkan perlukaan jalan lahir. Luka-luka biasanya ringan, tetapi kadang-kadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya. Setelah persalinan harus selalu dilakukan pemeriksaan vulva dan perinium. Pemeriksaan vagina dan serviks dengan spekulum perlu dilakukan setelah pembedahan pervaginam. Sebagai akibat persalinan, terutama pada seorang primipara, bisa timbul luka pada vulva di sekitar introitus vagina yang biasanya tidak dalam akan tetapi kadang-kadang bisa timbul perdarahan banyak, khususnya pada luka dekat klitoris. B. Tujuan penulisan Tujuan dari pada makalah ini untuk mengetahui bagaimana cara pemberian asuhan keperawatan pada pasien ruptur uteri C. Manfaat penulisan Mahasiswa dapat mempeerluas khasanah ilmu yang lebih luas terutama dalam menangani pasien dengan kasus perlukaan jalan lahir.

BAB II PEMBAHASAN I. Konsep Dasar Teori

A. Pengertian Ruptur uteri adalah robeknya dinding uterus pada saat kehamilan atau dalam persalinan dengan atau tanpa robeknya perioneum visceral. ( Obstetri dan Ginekologi ). Ruptur uteri adalah pelepasan insisi yang lama disepanjang uterus dengan robeknya selaput ketuban sehingga kavum uteri berhubung langsung dengan kavum peritoneum ( Cunningham, 1995). Ruptur uteri atau robekan uteri merupakan peristiwa yang sangat berbahaya, yang umumnya terjadi pada persalinan, kadang-kadang juga pada kehamilan tua. B. Macam-macam ruptur uteri 1. ic Ruptur uteri spontan. - Terjadi spontan dan sebagian besar pada persalinan. - Terjadi gangguan mekaniame persalinan sehingga menimbulkan ketegangan segmen bawah rahim yang berlebihan. Ruptur uteri traumatic. - Terjadi pada persalinan. - Timbulnya ruptur uteri karena tindakan seperti ekstraksi vakum, ekstraksi forsep. - Ruptur uterus pada bekas luka parut. - Terjadinya spontan. - Bekas seksio sesarea. - Bekas operasi pada uterus. 2. Menurut robeknya uterus dibagi atas. Ruptur uteri kompleta. - Jaringan peritoneum ikut robek. - Janin terlempar ke dalam abdomen. - Terjadi perdarahan kedalam ruang abdomen. - Mudah terjadi infeksi. Ruptur uteri inkompleta. - Jaringan peritoneum tidak ikut robek. - Janin tidak terlempar ke ruang abdomen. - Tidak terjadi perdarahn dalam ruang abdomen. - Perdarahan dapat menuju keliang senggama (vagina). - Perdarahan dapat dalam bentuk hematoma. 3. Menurut lokasinya, dibagi atas. Korpus uteri Biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi, seperti seksiosesarea klasik atau miomektomi

Segmen bawah rahim. Biasanya terjadi pada partus yang sulit dan lama. SBR tambah lama, tambah regang dan tipis dan akhirnya terjadi ruptur uteri. Serviks uteri. Biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forsep atau versi dan ekstraksi, sedang pembukaan belum lengakp. Kolpoporeksis-kolporeksis. Robekan-robekan diantar serviks dan vagina. 4. Menurut gejala klinis, dibagi atas. Ruptur uteri imminens (membakat = mengancam), penting untuk diketahui. Ruptur uteri sebenarnya. C. Etiologi Ruptur uteri yang terjadi secara spontan, disebabkan oleh. - Panggul yang terlalu sempit. - Tumor pada jalan lahir. - Malposisi kepala. - Faktorpredisposisi (multiparita, tekanan keras pada fundus uteri, stimulus oksitosin). - Janin letak lintang. - Hidrosefalus. Ruptur uteri traumatic, disebabkan oleh. - Kecelakan (jatuh, tabrakan). - Manual plasenta. - Embriotomi. - Trauma tumpul atau trauma tajam dari luar. - Stimulus oksitosin. - Dorongan pada fundus uterus yang terlalu keras (biasanya dilakukan oleh dukundalam menyelesaikan persalinan). - Dystosia. - Usaha vaginal untuk melahirkan janin. - Penyakit rahim misalnya udenomiosis. Ruptur uteri pada bekas luka parut. Ruptur uteri ini terdapat paling serimg pada parut bekas seksio sesarea, peristiwa ini jarang timbul pada uterus yang telah dioperasi untuk mengangakat mioma (miomektomi). Penyebabnya sama dengan ruptur uteri yang terjadi secara spontan.

D. Patofisiologi a.) Ruptur uteri spontan. Ruptur uteri ini terjadi secar spontan pada uterus yang utuh (tanpa parut). Faktor pokok disini adalah bahwa persalinan tidak dapat berjalan dengan baik karena ada halangan misalnya: panggul yang sempit, hidrosefalus, janin yang letak lintang, dll. Sehingga segmen bawah uterus makin lama makin diregangkan. Pad suatu saat regangan yang terus bertambah melampaui batas kekuatan jaringan miometrium, maka terjadilah ruptur uteri. Faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya ruptur uteri adalah multiparitas, stimulus oksitosin, dll. Disini ditengah-tengah miometrium sudah terdapat banyak jaringan ikat yang menyebabkan kekuatan dinding uterus menjadi kurang, sehingga regangan lebih mudah menimbulkan robekan. Pada persalinan yang kurang lancar, dukun-dukun biasanya melakukan tekanan keras kebawah terus-menerus pada fundus uterus, hal ini dapat menambah tekanan pada segmen bawah uterus yang sudah regang dan mengakibatkan terjadinya ruptur uteri. Pemberian oksitosin dalam dosis yang terlalu tinggi / indikasi yang tidak tepat bisa menyebabkab ruptur uteri. b.) Ruptur uteri traumatic. Ruptur uteri yang disebabkan oleh trauma dapat terjadi karena jatuh, kecelakaan. Robrkan ini yang bisa terjadi pada setiap saat dalam kehamilan, jarang terjadi karena rupanya otot uterus cukup tahan terhadap trauma dari luar. Yang lebih sering terjadi adalah ruptur uteri yang dinamakan ruptur uteri violenta. Disini karena dystosia sudah ada regangan segmen bawah uterus dan usaha vaginal untuk melahirkan janin mengakibatkan timbulnya ruptur uteri. Hal itu misalnya terjadi pada versi ekstraksi pada letak lintang yang dilakukan bertentangan dengan syarat. Kemungkinan besar yang lain adalah ketika melakukan embriotomi. Selain itu perlu dilakukan pemeriksaan kavum uteri dengan tangan untuk mengetahui terjadinya ruptur uteri.. c.) Ruptur uteri pada luka bekas parut. Diantar parut-parut bekas seksio sesarea, parut yang terjadi sesudah seksio sesarea klasik lebih sering menimbulkan ruptur uteri dari pada parut bekas seksio sesarea profunda. Hal ini disebabkan karena luka pada segmen bawah uterus yang menyerupai daerah uterus yang lebih tenang dalam masa nifas dapat sembuh dengan lebih baik, sehingga parut lebih kuat. Ruptur uteri pad bekas parut sesarea klasik juga lebih sering terjadi pad kehamilan tua sebelum persalinan dimulai, sedang peristiwa tersebut pada parut bekas seksio sesarea profunda umumnya terjadi waktu persalinan. Ruptur uteri pasca seksio sesarea bisa menimbulkan gejala-gejala seperti telah diuraikan lebih dahulu, akan tetapi bisa juga terjadi tanpa banyak menimbulkan gejala. Dalam hal yang terakhir ini tidak terjadi robekan secara mendadak, melainkan lambat laun jaringan disekitar bekas luka menipis untuk akhirnya terpisah sama sekali dan terjadilah ruptur uteri. Disini biasanya peritoneum tidak ikut serta sehingga terdapat ruptur uteri inkompleta. Pada peristiwa ini ada kemungkinan arteri besar terbuka dan timbul perdarahan yang sebagian berkumpul di ligametum dan sebagian

keluar. Biasanya janin masih tinggal dalam uterus dan his kadang-kadang masih ada. Sementar itu penderita merasa nyeri spontan atau nyeri pada perabaan tempet bekas luka. Jika arteria besar terluka, gejal-gejal perdarahan, anemia dan syok, janin dalam uterus meningggal pula. E. Manifestasi klinik Gejala ruptur uteri mengancam (RUM). - Pasien nampak gelisah, ketakutan disertai dengan perasaan nyeri di perut. - Padz setiap datangnya his pasien memegang perutnya dan mengerang kesakitan. - Pernapasan dan denyut nadi lebih cepat dari biasanya. - Ada tanda dehidrasi pada partus yang lama yaitu mulut kering, lidah kering dan haus, badan panas (demam). - His lebih lama, lebih kuat dan lebih sering bahkan terus-menerus. - Pada waktu datang his, korpus uteri teraba keras sedangkan SBR teraba tipis dan nyeri kalau ditekan. - Perasaan sering mau kencing karena kandung kemih juga tertarik dan teregang keatas, terjadi robekan-robekan kecil pada kandung kemih sehingga pada kateterisasi ada hematuria. - Pada auskultasi terdengar bunyi jantung janin tidak teratur (asfiksia). - Pada pemeriksaan dalam dapat kita jumpai tanda-tanda dari obstruksi seperti edema porsio, vagina, vulva. F. Tes diagnostik Laparoscopy : untuk menyikapi adanya endometriosis atau kelainan bentuk panggul / pelvis. Pemeriksaan laboratorium. hapusan darah : HB dan hematokrit untuk mengetahui batas darah HB dan nilai hematikrit untuk menjelaskan banyaknya kehilangan darah. HB < 7 g/dl atau hematokrit < 20% dinyatakan anemia berat. SDM : untuk mengidentifikasikan tipe anemia. Urinalisis : hematuria menunjukan adanya perlukaan kandung kemih. Tes prenatal : untuk memastikan polihidramnion dan janin besar. G. Penanganan Tindakan pertama adalah mengatasi syok, memperbaiki keadaan umum penderita dengan pemberian infus cairan dan transfusi darah, kardiotonika, antibiotika,dll. Bila keadaan umum mulai membaik, tindakan selanjutnya adalah melakukan laparatomi dengan tindakan jenis operasi : 1. Histerektomi, baik total maupun subtotal. Histerektomi total dilakukan khususnya bila garis robekan longitudinal. Tindakan histerektomi lebih menguntungkan dari penjahitan laserasi. 2. Histerorafia, yaitu tepi luka dieksidir lalu dijahit sebaik-baiknya. 3. Konservatif, hanya dengan tamponade dan pemberian antibiotik yang cukup.

Tindakan mana yang akan dipilih, tergantung pada beberapa faktro antar lain: Keadaan umum penderita (syok dan sangat anemis). Jenis ruptur, inkompleta, atau kompleta. Jenis luka robekan. Tempat luka apakah pada serviks, korpus atau segmen bawah rahim. Perdarahn dari luka sedikit atau banyak. Umur dan jumlah anak yang hidup. Kemampuan dan keterampilan penolong.

II.

Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian. a. Anamesisi Gejala saat ini. Nyeri abdomen dengan tiba-tiba, tajam seperti disayat pisau, kontraksi uterus yang intermiten, kuat dan berhenti dengan tiba-tiba dan pasien mengeluh nyeri yang menetap. - Perdarahan pervagina. - Syok dengan nadi kecil dan cepat. - Nyeri bahu. - Pada saat his yang kuat sekali, pasien merasa kesakitan. - Gelisah, takut, pucat, keluar keringat dingin, kolaps dan tak sadarkan diri. - Pernapasan dangkal dan cepat. - Kadang-kadang ada perasaan nyeri menjalar ke tungkai. Riwayat penyakit dahulu. Riwayat paritas tinggi. Pembedahan uterus sebelumnya. Seksio sesarea. Miomektomi atau reseksi kornu.

b. Data obyektif. Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan umum : TTV : suhu panas, nadi kecil dan cepat, TD menurun dan ireguler dan pernapasan dangkal dan cepat. - Inspeksi. Kelihatan haus, muntah-muntah, perdarahan pervagina dan kontraksi uterus biasanya hilang. - Palpasi. Teraba suatu krepitasi pada kulit perut menandakan adanya emfisema subkutan, jika kepala janin belum turun mudah dilepaskan dari pintu atas panggul / inlet, apabila janin sudah keluar dari kavum uteri berada di rongga perut maka akan teraba bagian-bagian janin langsung dibawah kulit perut dan disampingnya biasa teraba uterus sebagai suatu yang keras seperti bola dan nyeri tekan pada perut terutama pada tempat yang robek. - Auskultasi . Biasanya denyut jantung janin (DJJ) sulit atau tidak terdengar lagi beberapa manit setelah ruptur. Pemeriksaan abdomen. Fundus uteri dapat berkontraksi dan bagian-bagian janin yang terpalpasi dekat dinding abdomen diatas fundus yang berkontraksi. Kontraksi uterus dapat berhenti dengan mendadak dan bunyi jantung janin tiba-tiba hilang.

10

Pemeriksaan pelvis. Menjelang kelahiran bagian presentasi mengalami regresi dan tidak lagi terpalpasi melalui vagina bila janin telah mengalami ekstrusi kedalam rongga peritoneum, dan perdarahan pervagina mungkin hebat. Apabila terjadi robekan lengkap jarijari pemeriksa dapat melalui tempat ruptur langsung kedalam rongga peritoneum, melalui permukaan serosa uterus yang halus dan licin. Kateterisasi. Hematuria yang hebat menandakan adanya robekan pada kandung kemih. 2. Diagnosa keperawatan 1.) Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus 2.) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit : dehidrasi b. d hipovolemik. 3. Intervensi Rencana keperawatan No. 1. Diagnosa keperawatan Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus Tujuan Nyeri burkurang selama dalam perawatan kriteria hasil : dalam 1 jam pasien mengatakan nyeri berkurang dan terkontrol pasien tampak rileks dan tidak menunjukan wajah kesakitan. Intervensi 1. kaji keluhan nyeri, lokasi dan observasi petunjuk nyeri non verbal misalnya posisi tubuh, ekspresi wajah dan enggan bergerak. Rasional 1. Nyeri yang terjadi bagi setiap orang dapat menunjukan persepsi individual. Petunjuk non verbal yang dapat membantu mengevaluasi nyeri dan keefektifan terapi. 2. Mendorong relaksasi dan memberikan klien cara mengatasi dan mengontrol tingkat ketidaknyamanan. 3. Meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan dan ansietas dan meningkatkan koping dan kontrol.

2. Tinjau ulang / berikan instruksi dalam teknik pernapasan sederhana.

3. Berikan tindakan kenyamanan misalnya masase, gosok punggung, sandaran bantal, pemberian kompres sejuk). 4. Kolaborasi untuk

11

pemberian obat analgesik narkotik (morphin, neperidin) atau non narkotik seperti asetaminofen atau sedatif (hidroksin). 2. Gangguan keseimbangan 2. dan cairan elektrolit : dehidrasi b. d hipovolemik. Klien akan mempertahankan hidrasi yang adekuat. Kriteria Hasil : Tanda-tanda vital stabil, nadi perifer teraba, pengisisan kapiler baik dan membran mukosa lembab. 1. awasi intake dan output

4. Obat analgesik menekan sarag pusat untulk mengurangi rasa nyeri.

1. Indicator keseimbangan cairan dan kebutuhan pengganti. Pada irigasi kandung kemih, awasi pentingnya perkiraan kehilangan dara dan secara akurat mengkaji urin.

12

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Ruptur uteri dapat terjadi sebagai akibat cedera atau anomali yang sudah ada sebelumnya, atau dapat menjadi komplikasi dalam persalinan dengan uterus yang sebelumnya tanpa parut. Akhir-akhir ini, penyebab ruptur uteri yang paling sering adalah terpisahnya jaringan parut akibat seksio sesarea sebelumnya dan peristiwa ini kemungkinan semakin sering terjadi bersamaan dengan timbulnya kecenderungan untuk memperbolehkan partus percobaan pada persalinan dengan riwayat seksio sesarea. Faktor predisposisi lainnya yang sering ditemukan pada ruptur uteri adalah riwayat operasi atau manipulasi yang mengakibatkan trauma seperti kuretase atau perforasi. Stimulasi uterus secara berlebihan atau kurang tepat dengan oksitosin, yaitu suatu penyebab yang sebelumnya lazim ditemukan, tampak semakin berkurang. Umumnya, uterus yang sebelumnya tidak pernah mengalami trauma dan persalinan berlangsung spontan, tidak akan terus berkontraksi dengan kuat sehingga merusak dirinya sendiri.

13

DAFTAR PUSTAKA
http://asuhankeperawatans.blogspot.com/2011/03/asuhan-keperawatan-ruptur-uteri.html http://eszenhillda.blogspot.com/2012/06/askep-ruptur-uteri.html http://vethy-vethyrusdiani.blogspot.com/2012/01/askep-ruptur-uteri.html