Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KIMIA ANALITIK KI-2221

Percobaan 3 Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

Nama NIM Kelompok Tanggal Percobaan Tanggal Laporan Asisten Praktikum

: Nisrina Rizkia : 10510002 :1 : 28 Februari 2012 : 06 Maret 2012 : Kak Violeta

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2012
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

I.

Tujuan

Menentukan secara kuantitatif kafein dalam berbagai jenis minuman ringan denga teknik kromatografi cair kinerja tinggi.

II.

Dasar Teori Teknik HPLC banyak digunakan secara luas adalah adalah teknik kromatografi fasa terbalik. Dalam HPLC fasa terbalik, kolom diisi dengan butiran padatan yang merupakan fsa diam dan fasa geraknya dialirkan melewati partikel padat tersebut. Fasa diam pada teknik ini memungkinkan untuk memperoleh hasil pemisahan yang sempurna dari campuran dengan jumlah pelarut yang sedikit dalam beberapa menit. Untuk itu dibutuhkan pompa dengan tekanan tinggi untuk mendorong fasa geraknya Apabila fasa diam polar dan kepolaran fasa geraknya kurang bila dibandingkan dengan fasa diamnya disebut kromatografi fasa normal. Fasa diam yang berupa fasa terikat di mana partikel silica ditutupi dengan lapisan senyawa silena, maka dapat digunakan fasa gerak yang sifatnya polar, dan disebut kromatografi fasa terbalik. Dalam percobaan ini dilakukan penyuntikan suatu sampel yang terlarut atau jika terdapat bahan yang tidak larut, sampel disring terlebih dahulu sebelum disuntikkan. Karena absorban sebanding dengan konsentrasi, bentuk kromatogramnya akan sebanding dengan jumlah kafein total yang terdapat di dalam sampel.

III.

Cara Kerja A. Pembuatan Fasa Gerak (eluen)


140 ml aquabides + 1,4 ml H3PO4 5% + 60 ml metanol

- dihilangkan gas terlarut dengan menggunakan ultrasonic bath

B. Penyiapan Larutan Standar


Larutan standar 500 ppm kafein 20 ppm 5 20 ppm 5 20 ppm 5 20 ppm 5 20 ppm 5

-dilakukan pengenceran dengan eluen yang sudah dibuat

C. Penyiapan Larutan Sampel


Minuman jenis cola

-dihilangkan gas terlarut dengan ultrasonic bath -dilakukan pengenceran 5x dalam labu takar 10 Ml dengan eluen

D. Analisis

Larutan standar dan sampel

-direkam kromatogram masing-masing larutan -dicatat parameter peralatan kromatograf: laju alir eluen, tekanan, jenis kolom, panjang gelombang detector, kecepatan kertas perekam

IV.

Data Pengamatan Data kromatogram pada: - Standar 20 ppm


[mV] std 20 ppm ( k el 2 senin) 6

4 Voltage

2.883

10 Time

15

20 [min.]

Reten. Time (minute s) 2.883 total

Area (mV.s)

Height (mV)

Area (%)

Heigh t (%)

w 05 (min)

42.810 42.810

5.462 5.462

100.0 100.0

100.0 100.0

0.12 0.12

- Standar 40 ppm
[mV] std 20 ppm ( kel 2 senin) std 40 ppm ( kel 2 senin) 8 2.857 6 Voltage 4 2 0 0 5 10 Time 15 20 [min.]

Reten. Time (minute s) 2.857 total

Area (mV.s)

Height (mV)

Area (%)

Heigh t (%)

w 05 (min)

66.670 66.670

8.316 8.316

100.0 100.0

100.0 100.0

0.12 0.12

- Standar 60 ppm

[mV] 15 std 20 ppm ( kel 2 senin) std 40 ppm ( kel 2 senin) std 60 ppm ( kel 2 senin) 2.873 10 Voltage 5 0 0 5 10 Time 15 20 [min.]

Reten. Time (minute s) 2.873 total

Area (mV.s)

Height (mV)

Area (%)

Heigh t (%)

w 05 (min)

108.803 108.803

13.604 13.604

100.0 100.0

100.0 100.0

0.12 0.12

- Standar 80 ppm
[mV] std 20 ppm ( kel 2 senin) std 40 ppm ( kel 2 senin) 20 2.900 std 60 ppm ( kel 2 senin) std 80 ppm ( k el 2 senin)

15

Voltage

10

0 0 5 10 Time 15 20 [min.]

Reten. Time (minute s) 2.900 total

Area (mV.s)

Height (mV)

Area (%)

Heigh t (%)

w 05 (min)

161.254 161.254

20.572 20.572

100.0 100.0

100.0 100.0

0.12 0.12

- Standar 100 ppm


[mV] std 20 ppm ( kel 2 senin) std 40 ppm ( kel 2 senin) 20 2.893 std 60 ppm ( kel 2 senin) std 80 ppm ( kel 2 senin) std 100 ppm ( kel 2 s enin)

15

Voltage

10

5 2.290 0 0 5 10 Time 15 20 [min.]

Reten. Time (minute s) 2.290 2.893 total

Area (mV.s)

Height (mV)

Area (%)

Heigh t (%)

w 05 (min)

14.351 162.393 176.744

1.450 20.891 22.341

8.1 91.9 100.0

6.5 93.5 100.0

0.11 0.12

- Sampel Cola
[mV] std 20 ppm ( kel 2 senin) std 40 ppm ( kel 2 senin) 20 std 60 ppm ( kel 2 senin) std 80 ppm ( kel 2 senin) std 100 ppm ( kel 2 senin) sam ple cola ( kel 2 senin) 15

Voltage

10

5 1.543 2.530 2.963

0 0 5 10 Time 15 20 [min.]

Reten. Time (minutes)

Area (mV.s)

Height (mV)

Area (%)

Height (%)

w 05 (min)

1.543 2.530 2.963 Total

5.552 1.703 12.600 19.855

0.504 0.281 1.590 2.375

28.0 8.6 63.5 100.0

21.2 11.8 67.0 100.0

0.18 0.10 0.13

- Sampel Teh

[mV] std 20 ppm ( kel 2 senin) std 40 ppm ( kel 2 senin) 20 std 60 ppm ( kel 2 senin) std 80 ppm ( kel 2 senin) std 100 ppm ( kel 2 senin) sample cola ( kel 2 senin) 15 sample teh ( kel 2 senin)

Voltage

10

5 0.450

0 0 5 10 Time 15 20 [min.]

Reten. Time (minute s) 0.450 2.227 total

2.227

Area (mV.s)

Height (mV)

Area (%)

Heigh t (%)

w 05 (min)

5.534 230.578 236.112

0.509 2.655 3.164

2.3 97.7 100.0

16.1 83.9 100.0

0.14 1.30

V.

Pengolahan Data Dari data pengamatan tersebut dapat dibuat kurva berdasarkan data tersebut:

C (ppm)

Area (mV.s) 42.810 66.670 108.803 161.254 162.393

Height (mV)

20 40 60 80 100

5.462 8.316 13.604 20.572 20.891

Dari data tersebut dapat dibuat kurva , untuk menentukan kadar kafein dalam cola dan teh.

Untuk sampel Cola Waktu retensi kafein 2,9 menit y = 1.668x + 8.261 y : luas area (12.600 ; cola) x : konsentrasi kafein 12.600 = 1.668x + 8.261 x = 2.6 ppm konsentrasi kafein = 2.6 x 5 = 13 ppm Untuk sampel Teh y = 1.668x + 8.261 y : luas area (230.578 ; teh) x : konsentrasi kafein 230.578 = 1.668x + 8.261 x = 133.28 ppm konsentrasi kafein = 133.28 x 5 = 666.4 ppm

Untuk sampel Cola y = 0.215x + 0.834 y : tinggi (1.590 ;cola) x : konsentrasi kafein 1.590 = 0.215x + 0.834 x = 3.516 ppm konsentrasi kafein = 3.516 x 5 = 17.58 ppm Untuk sampel Teh y = 0.215x + 0.834 y : tinggi (2.655 ;teh) x : konsentrasi kafein 2.655 = 0.215x + 0.834 x = 8.47 ppm konsentrasi kafein = 8.47x 5 = 42.35 ppm

VI.

Pembahasan Dalam kasus HPLC dimana menggunakan prinsip kromatografi fasa terbalik, ukuran kolom sama, namun silika dimodifikasi menjadi nonpolar melalui perekatan rantai-rantai hidrokarbon panjang pada permukaannya secara sederhana pada permukaannya baik berupa karbon 8 atau 18. Dalam kasus ini aka nada interaksi yang kuat anatar pelarut polar dengan molekul polar dalam campuran yang melalui kolom. Oleh karena itu, molekul-molekul polar dalam campuran akan menghabiskan waktunya untuk bergerak bersama dengan pelarut. Berbeda dengan senyawa nonpolar , cenderung akan membentuk interaksi dengan fasa diam. Oleh karena itu, senyawa-senyawa ini akan menghabiskan waktu lama dalam larutan dan akan bergerak lebih lambat dalam kolom.

Instrumentasi dalam KCKT adalah pertama, fasa gerak, berupa zat cair dan disebut juga eluen atau pelariut. Dalam HPLC , fasa gerak selain berfungsi membawa komponen-komponen campuran menuju detector, juga berinteraksi dengan solute. Oleh karena itu, fasa gerak dalam HPLC merupakan salah satu factor penentu keberhasilan proses pemisahan. Kedua, Pompa, berfungsi untuk mengalirkan fasa gerak cair melalui kolom yang berisi serbuk halus. Ketiga, Unit Sistem Penyuntikan atau Penginjeksian Sampel, cuplikas yang dimasukkan harus sekecil mungkin , beberapa puluh mikroliter. Keempat, Kolom, Kolom HPLC biasanya terbuat dari

stainless steel walaupun ada juga yang terbuat dari gelas berdinding tebal. Kolom utama berisi fas diam, tempat terjadinya pemisahan campuran menjadi komponenkomponennya. Kelima, detector, syarat untuk detektoryang baik adalah ( cukup sensitive, stabilitas dan keterulangan tinggi, respon linear terhadap solute, waktu respon pendek sehinggatidak bergantung kecepatan alir, realibilitas tinggi dan mudah digunakan, tidak merusak cuplikan. Detector berdasarkan absorpsi UV merupakan detector HPLC yang paling banyak digunakan. Cara kerja HPLC adalah pertama-tama solven diambil melalui pompa. Kemudian masuk ke dalam katup injeksi berbutar, yang dipasng tepat pada sampel loop. Dengan bantuan mikrorising, sampel dimasukkan ke dalam sampel loop yang kemudian bersama-sama dengan solven masuk ke dalam kolom. Hasil pemisahan akan dideteksi oleh detector, yang penampakannya ditunjukkan oleh perekam. Tekanan solven diatur dengan pengatur dan pengukut tekanan. Pompa pemasuk solven pada tekanan konstan hingga tekanan kurang lebih 4500 psi dengan laju alir rendah, yaitu beberapa milliliter per menit. Rekorder menghasilkan krmatogram zat-zat yang dipisahkan dari suatu sampel. Detektor yang banyak digunakan adalah detector yang menggunakan serapan sinar ultraviolet.

Jumlah cahaya yang diserap bergantung pada jumlah senyawa yang melewati berkas pada waktu itu. Misalnya, metanol, menyerap pada panjang gelombang dibawah 205 nm dan air pada gelombang dibawah 190 nm. Jika anda menggunakan campuran metanol-air sebagai pelarut, anda sebaiknya menggunakan panjang gelombang yang lebih besar dari 205 nm untuk mencegah pembacaan yang salah dari pelarut. Output akan direkam sebagai puncak-puncak, di mana masing-masing puncak mewakili satu

senyawa dalam campuran yang melalui detector dan menyerap sinar ultraviolet. Dengan adanya waktu retensi kita dapat mengidentifikasi senyawa yang diperoleh, dengan sebelumnya mengukur senyawa murninya. Untuk mengukur kunatitas dari senyawa yang dihasilkan dapat menggunakan puncak yang dihasilkan.

VII. Kesimpulan Dari kurva luas puncak terhadap konsentrasi diperoleh konsentrasi kafein untuk sampel cola adalah 13 ppm dan untuk sampel teh adalah 666,4 ppm . Sedangkan dari kurva tinggi puncak terhadap konsentrasi diperoleh konsentrasi kafein dalam sampel cola adalah 17,58 ppm dan konsentrasi kafein untuk sampel teh adalah 42,35 ppm. Konsentasi kafein rata-rata dari sampel cola adalah 15,29 ppm dan untuk sampel teh adalah 354,375 ppm. VIII. Daftar Pustaka http://www.chem-istry.org/materi_kimia/instrumen_analisis/kromatografi1/kromatografi_cair_kinerja _tinggi_hplc/ (diakses tanggal 04 Maret 2012 pkl 15.11) http://yi2ncokiyute.blogspot.com/2010/12/blog-post.html (diakses tanggal 04 Maret 2012 pkl 15.23)