Anda di halaman 1dari 17

CHAPTER I INTRODUCTION

1.1. Background

Tumbuhan merupakan sumber utama senyawa-senyawa kimia yang digunakan untuk industri farmasi, industri makanan, minyak wangi. Banyak dari senyawa tersebut diekstrak dari tumbuhan tropis, namun karena ketersediaan, biaya yang mahal serta struktur senyawa tersebut yang sangat kompleks, hal ini menjadi tidak ekonomis. Plants are the main source of chemical compounds that are used for the pharmaceutical industry, food industry, perfume. Many of the compounds are extracted from the tropical plant, but due to availability, high cost and structure of these compounds are very complex, it is becoming uneconomical. Metabolit sekunder tanaman dihasilkan dari proses metabolisme respirasi dan melalui kultur jaringan dapat ditingkatkan kandungan metabolit sekunder bahkan dari yang tidak ada menjadi ada dengan penambahan senyawa-senyawa yang merupakan prekursor. Plant secondary metabolites produced from the metabolic processes of respiration and through tissue culture can be improved even from the content of secondary metabolites that does not exist with the addition of compounds that are precursors. Dalam usaha menghasilkan metabolit sekunder untuk skala besar, sangat diperlukan pemahaman yang besar tentang tingkah laku sel, biosintesis metabolit sekunder didalam tubuh tanaman tersebut. Oleh karena itu, biosintesis metabolit sekunder dengan menggunakan kultur jaringan menjadi alternatif pilihan dan akhirnya menjadi tujuan yang berharga. Namun dari banyak penelitian dan usaha komersial, masih banyak menghadapi kendala. In an effort to produce secondary metabolites for large scale, it is required a great understanding of the behavior of cells, the biosynthesis of secondary metabolites in the plant body. Therefore, the biosynthesis of secondary metabolites using tissue culture to be an alternative choice and eventually become a valuable purpose. But of the many research and commercial efforts, still face many obstacles. Peranan biteknologi dalam budidaya, multipikasi, rekayasa genetika dan skrining mikroba endofit yang dapat menghasilkan metabolit sekunder sangat penting dalam
1

rangka pengembangan bahan obat yang berasal dari tanaman bat ini. Bahkan dengan kemajuan yang pesat dalam bidang bioteknologi ini telah dapat diihasilkan beberapa jenis tanaman transgenik yang dapat memproduksi vaksin rekombinan. Biteknologi role in cultivating, multipikasi, genetic engineering and screening endophytic microbes that can produce secondary metabolites is essential in order to develop a drug substance derived from the plant's bat. Even with the rapid advances in biotechnology have to diihasilkan several types of transgenic plants to produce recombinant vaccines. Salah satu bentuk perkembangan bioteknologi adalah proses peningkatan produksi terhadap produksi metabolit sekunder. Hal ini dilakukan untuk dapat menghasilkan suatu produk metabolit sekunder yang bersifat unggul dan jumlahnya melimpah. One form of the development of biotechnology is the process of increasing production to the production of secondary metabolites. This is done in order to produce a product of secondary metabolites that are superior and abundant.

1.2. Purpose The purpose of writing this paper is as follows: 1.2.1. To know and understand about animal cells Untuk mengetahui dan memahami tentang sel hewan 1.2.2. To know and understand about plant cells Untuk mengetahui dan memahami tentang sel tumbuhan 1.2.2. To know and understand the difference between animal cells and plant cells Untuk mengetahui dan memahami perbedaan antara sel hewan dan sel tumbuhan

1.3. Benefits of Writing The importance of the existing problems to be answered through writing this paper is expected to provide scientific information about " Animal and Plant Cells" which

useful as reference material for students or the academic community who will learn about the materials. Pentingnya permasalahan yang ada untuk dijawab melalui penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah tentang Sel Hewan dan Tumbuhan sehingga bermanfaat sebagai bahan rujukan bagi para pelajar atau masyarakat akademis yang akan mempelajari tentang materi tersebut.

CHAPTER II LITERATURE REVIEW

2.1.

Pengertian Metabolit Sekunder Senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang umumnya mempunyai kemampuan bioaktifitas dan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan tersebut dari gangguan hama penyakit untuk tumbuhan itu sendiri atau lingkungannya. Secara umum kandungan metabolit sekunder dalam bahan alam hayati dikelompokkan berdasarkan sifat dan reaksi khas suatu metabolit sekunder dengan pereaksi tertentu. Concentration of secondary metabolites are chemical compounds that generally have the ability bioaktifitas and functions as a plant protection from nuisance insects and diseases to the plant itself or the neighborhood. In general, the content of secondary metabolites in biological material are grouped according to the nature of nature and a typical reaction of secondary metabolites with specific reagents.

Hutan tropis yang kaya dengan berbagai jenis tumbuhan (biodiversity) merupakan sumber daya hayati dan sekaligus sebagai gudang senyawa kimia ( chemodiversity) baik berupa senyawa kimia hasil metabolisme primer yang disebut juga sebagai senyawa metabolit primer seperti protein, karbohidrat, lemak yang digunakan sendiri oleh tumbuhan tersebut untuk pertumbuhannya, maupun sebagai sumber senyawa metabolit sekunder seperti terpenoid, steroid, kumarin, flavonoid dan alkaloid. senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang umumnya mempunyai kemampuan bioaktifitas dan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan tersebut dari gangguan hama penyakit untuk tumbuhan itu sendiri atau lingkungannya.
Tropical forests are rich with a variety of plant species (biodiversity) is the biological resources as well as a repository of chemical compounds (chemodiversity) in the form of chemical compounds of primary metabolism is also known as primary metabolites such as proteins, carbohydrates, fats are used by the plant for growth, as well as a source of secondary metabolites such as terpenoids, steroids, coumarins, flavonoids and alkaloids. Secondary metabolites are chemical compounds that generally have the ability to function as a protective bioactivity and plants from pests to plant disease itself or the environment.

Senyawa kimia sebagai hasil metabolit sekunder telah banyak digunakan sebagai zat warna, racun, aroma makanan, obat-obatan dan sebagainya serta sangat banyak jenis tumbuh- tumbuhan yang digunakan obat-obatan yang dikenal sebagai obat tradisional sehingga diperlukan penelitian tentang penggunaan tumbuh- tumbuhan berkhasiat dan mengetahui senyawa kimia yang berfungsi sebagai obat. Senyawasenyawa kimia yang merupakan hasil metabolisme sekunder pada tumbuhan sangat beragam dan dapat diklasifikasikan dalam beberapa golongan senyawa bahan alam yaitu terpenoid, steroid, kumarin, flavonoid dan alkaloid.
Chemical compounds as a result of secondary metabolites or metabolites sekumder has been widely used as dyes, poisons, the smell of food, medicines and so on and so many different types of plants used medicines known as traditional medicine so that the necessary research on the use of growth-nutritious plants and know the chemical

compounds that function as drugs. Chemical compounds are the result of secondary metabolites in plants are very diverse and can be classified in several classes of compounds of natural ingredients that terpenoids, steroids, coumarins, flavonoids and alkaloids.

2.1.1. Manfaat Senyawa Metabolit Sekunder


Sebagian besar tanaman penghasil senyawa metabolit sekunder memanfaatkan senyawa tersebut untuk mempertahankan diri dan berkompetisi dengan makhluk hidup lain di sekitarnya. Tanaman dapat menghasilkan metabolit sekunder (seperti: quinon, flavonoid, tanin, dll.) yang membuat tanaman lain tidak dapat tumbuh di sekitarnya. Hal ini disebut sebagai alelopati. Berbagai senyawa metabolit sekunder telah digunakan sebagai obat atau model untuk membuat obat baru, contohnya adalah aspirin yang dibuat berdasarkan asam salisilat yang secara alami terdapat pada tumbuhan tertentu. Manfaat lain dari metabolit sekunder adalah sebagai pestisida dan insektisida, contohnya adalah rotenon dan rotenoid. Beberapa metabolit sekunder lainnya yang telah digunakan dalam memproduksi sabun, parfum, minyak herbal, pewarna, permen karet, dan plastik alami adalah resin, antosianin, tanin, saponin, dan minyak volatil.

Most of the plants producing secondary metabolites utilizing such compounds to defend themselves and to compete with other living beings in the vicinity. Plants can produce secondary metabolites (such as quinone, flavonoids, tannins, etc..) That makes other crops can not be grown in the vicinity. This is referred to as alelopati. A variety of secondary metabolites have been used as a medicine or a model to create new drugs, such as aspirin are made based on salicylic acid that is naturally found in certain plants. Another benefit of secondary metabolites is as pesticides and insecticides, for example, is rotenon and rotenoid. Several other secondary metabolites that have been used in producing soaps, perfumes, herbal oils, dyes, gum, and natural plastics are resin, anthocyanins, tannins, saponins, and volatile oils.

CHAPTER III DISCUSSION

3.1 SENYAWA METABOLIT SEKUNDER


3.1.1 Alkaloid Definisi Alkaloid merupakan senyawa yang mengandung atom nitrogen yang tersebar secara terbatas pada tumbuhan. Alkaloid kebanyakan ditemukan pada Angiospermae dan jarang pada Gymnospermae dan Cryptogamae. Senyawa ini cukup banyak jenisnya dan terkadang memiliki struktur kimia yang sangat berbeda satu sama lain, meskipun berada dalam satu kelompok. definition Alkaloids are compounds containing nitrogen atoms in a limited spread in plants. Alkaloids are found mostly in Angiospermae and rare in Gymnosperms and Cryptogamae. These compounds are quite a lot of its kind and sometimes has a chemical structure very different from one another, even within a single group. Klasifikasi Pengelompokan alkaloid biasanya didasarkan pada prekursor pembentuknya. Kebanyakan dibentuk dari asam amino seperti lisin, tirosin, triptofan, histidin dan ornitin. Sebagai contoh, nikotin dibentuk dari ornitin dan asam nikotinat. Beberapa kelompok alkaloid disajikan dalam tulisan ini. Diantaranya adalah kelompok alkaloid benzil isoquinon, seperti: papaverin, berberin, tubokurarin dan morfin. Jenis alkaloid yang banyak terdapat pada famili Solanaceae, tergolong ke dalam kelompok alkaloid tropan, seperti: atropin, yang ditemukan pada Atropa belladona dan skopolamin. Kokain yang berasal dari tumbuhan koka, Erythroxylon coca, juga termasuk ke dalam kelompok ini, meskipun koka tidak termasuk anggota famili Solanaceae. Alkaloid dengan struktur inti berupa indol, dikelompokkan sebagai alkaloid indol, 6

seperti: strikhnin dan quinin yang berasa pahit dan merupakan senyawa penolak makan bagi serangga. Kelompok alkaloid pirrolizidin merupakan ester alkaloid pada genus Senecio, seperti: senecionin. Kelompok lain dari alkaloid yang berasal asam amino lisin adalahquinolizidin yang sering disebut sebagai alkaloid lupin karena banyak terdapat pada genus Lupinus. Alkaloid polihidroksi memiliki stereokimia yang mirip dengan gula, sehingga mengganggu kerja enzim glukosidase. Kelompok alkaloid polihidroksi merupakan penolak makan bagi serangga. Beberapa jenis alkaloid merupakan derivat dari asam nikotinat, purin, asam antranilat, poliasetat dan terpenes. Mereka dikelompokkan ke dalam alkaloid purin, seperti: kafein. classification Grouping is usually based on the precursor alkaloid constituent. Mostly made up of amino acids such as lysine, tyrosine, tryptophan, histidine and ornithine. For example, nicotine is formed from ornithine and nicotinic acid. Several groups of alkaloids are presented in this paper. Among them are a group of alkaloids benzyl isoquinon, such as: papaverin, berberine, tubokurarin and morphine. Alkaloid found in many Solanaceae family, belonging to the group tropan alkaloids, such as atropine, which is found in Atropa Belladona and scopolamine. Cocaine is derived from coca plants, coca Erythroxylon, also included in this group, although not including coca Solanaceae family members. Alkaloid core structures such as indole, indole alkaloids are classified as such as: strikhnin and quinine that taste bitter and are food for insect repellent compounds. The group is an ester alkaloid pirrolizidin the genus Senecio alkaloids, such as: senecionin. Another group of alkaloids derived amino acid lysine which is often referred to as adalahquinolizidin lupine alkaloids due in large part to the genus Lupinus. Polyhydroxy alkaloids have similar stereochemistry with sugar, thereby disrupting the enzyme glucosidase. Polyhydroxy alkaloid group is food for insect repellent. Several types of alkaloids are derivatives of nicotinic acid, purine, amino antranilat, poliasetat and terpenes. They are grouped into purine alkaloids, such as caffeine.

3.1.2 Terpenoid Definisi Terpenoid merupakan kelompok metabolit sekunder terbesar. Saat ini hampir dua puluh ribu jenis terpenoid telah teridentifikasi. Kelompok ini merupakan derivat dari asam mevalonat atau prekursor lain yang serupa dan memiliki keragaman struktur yang sangat banyak. Struktur terpenoid merupakan satu unit isopren (C5H8) atau gabungan lebih dari satu unit isopren, sehingga pengelompokannya didasarkan pada jumlah unit isopren penyusunnya. definition Terpenoids are the largest group of secondary metabolites. Currently, nearly twenty thousand kinds of terpenoids have been identified. This group is a derivative of mevalonic acid or other similar precursors and have a diversity of structure very much. Terpenoid structure is an isoprene units (C5H8) or a combination of more than one isoprene unit, so the classification is based on the number of isoprene units constituent. Klasifikasi Monoterpenoid umumnya bersifat volatil dan biasanya merupakan penyusun minyak atsiri. Monoterpenoid memberikan aroma yang khas pada tumbuhan. Monoterpenoid dikelompokkan sebagai a). asiklik, contoh: geraniol, b). monosiklik, contoh: limonene dan c). bisiklik, contoh: pinene. Untuk mencegah terjadinya keracunan diri (autotoxicity), tumbuhan membentuk tempat penyimpanan khusus. Kelompok terbesar dari terpenoid adalah sesquiterpen yang juga merupakan penyusun minyak atsiri. Contoh yang cukup dikenal dari kelompok ini adalah poligodial dan warburganal yang merupakan zat penolak makan berbagai jenis serangga. Diterpenoid, seperti asam resin (misalnya: asam abietat) dari tumbuhan keluarga pinus-pinusan dan klerodan (misalnya: ajugarin dari tumbuhan Ajuga remota) merupakan zat penolak makan bagi serangga. Triterpenoid merupakan senyawa 8

metabolit sekunder yang tersebar luas dan beragam. Perwujudan dari senyawa ini dapat berupa resin, kutin maupun semacam gabus. Termasuk ke dalam kelompok ini adalah limonoid (misalnya: azadirachtin), lantaden, dan cucurbitacin (misalnya: cucurbitacin B). Azadirachtin terkenal sebagai zat penolak makan yang sangat kuat bagi serangga. Demikian juga dengan cucurbitacin. classification Monoterpenoid generally are volatile and are usually a constituent of essential oils. Monoterpenoid gives a distinctive aroma to the plant. Monoterpenoid classified as a). acyclic, eg geraniol, b). monocyclic, eg limonene and c). bicyclic, eg pinene. To prevent self-poisoning (autotoxicity), plants form a special storage area. The largest group of terpenoids are sesquiterpenes which is also a constituent of essential oils. Examples of well-known of these groups is poligodial and warburganal which is repellent substances eat different kinds of insects. Diterpenoid, such as resin acids (eg abietat acid) family of plants and pine-pinusan klerodan (eg ajugarin Remota also roasted the snake plant) is a substance eaten for insect repellent. Triterpenoids are secondary metabolites that are widespread and diverse. Embodiment of these compounds can be resin, cork kutin and kind. Included in this group are limonoids (such as azadirachtin), lantaden, and cucurbitacin (eg: cucurbitacin B). Azadirachtin as a substance known to eat a very strong repellent to insects. Similarly with cucurbitacin.

3.1.3 Fenolik Definisi Fenolik merupakan senyawa yang banyak ditemukan pada tumbuhan. Fenolik memiliki cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus hidroksi (OH-) dan gugus-gugus lain penyertanya. Senyawa ini diberi nama berdasarkan nama senyawa induknya, fenol. Senyawa fenol kebanyakan memiliki gugus hidroksi lebih dari satu sehingga disebut sebagai polifenol. Fenol biasanya dikelompokkan berdasarkan jumlah atom karbon pada kerangka penyusunnya. 9

definition A phenolic compound found in many plants. Phenolic have aromatic rings with one or more hydroxyl group (OH-) and other groups penyertanya. These compounds are named by the name of the parent compound, phenol. Phenolic compounds mostly have more than one hydroxyl group that is referred to as polyphenols. Phenols are usually grouped based on the number of carbon atoms in the framework of the constituent. Kelompok terbesar dari senyawa fenolik adalah flavonoid, yang merupakan senyawa yang secara umum dapat ditemukan pada semua jenis tumbuhan. Biasanya, satu jenis tumbuhan mengandung beberapa macam flavonoid dan hampir setiap jenis tumbuhan memiliki profil flavonoid yang khas. Kerangka penyusun flavonoid adalah C6C3C6. Inti flavonoid biasanya berikatan dengan gugusan gula sehingga membentuk glikosida yang larut dalam air. Pada tumbuhan, flavonoid biasanya yaitu: The largest group of phenolic compounds are flavonoids, which are compounds that can generally be found on all types of plants. Typically, the types of plants contain some kind of flavonoid and almost every type of plant has a distinctive flavonoid profile. The framework is a constituent flavonoid C6-C3-C6. Flavonoid nucleus usually binds to a cluster of sugar to form a water-soluble glycosides. In plants, flavonoids are usually stored in the cell vacuole. In general, flavonoids are further grouped into smaller groups (sub-group), namely: (1) flavon, example: luteolin, (2) flavanon, example: naringenin, (3) flavonol, example: kaempferol, (4) antosianin and (5) calkon. Beberapa jenis flavon, flavanon dan flavonol menyerap cahaya tampak, sehingga membuat bunga dan bagian tumbuhan yang lain berwarna kuning atau krem terang. Sedangkan jenis-jenis yang tidak berwarna 10 disimpan dalam vakuola sel. Secara umum, flavonoid dikelompokkan lagi menjadi kelompok yang lebih kecil (sub kelompok),

merupakan zat penolak makan bagi serangga (contoh: katecin) ataupun merupakan racun (contoh: rotenon). Rutin, yang merupakan glikosida flavonol yang tersebar di hampir semua jenis tumbuhan, juga merupakan zat penolak makan yang kuat bagi serangga polifagus, seperti Schistocerca americana. Sementara itu paseolin, dilaporkan merupakan glikosida flavonol yang paling efektifsebagai zat penolak makan bagi serangga. Pada percobaan dengan kumbang pemakan akar, Costelytra zealandica, paseolin memberikan nilai FD50 yang sangat rendah, yaitu 0.03 ppm. Several types of flavones, flavanones and flavonols absorb visible light, thus making flowers and other plant parts are yellow or light beige. While the species is not colored food for insect repellent substances (eg katecin) or are toxic (eg rotenon). Routine, which is a flavonol glycosides are scattered in almost all plants, is also a powerful substances repellent to insects eating polifagus, such as Schistocerca americana. Meanwhile paseolin, reported a flavonol glycosides most efektifsebagai food for insect repellent substances. In experiments with root-eating beetles, Costelytra zealandica, paseolin give FD50 very low at 0.03 ppm. Tanin merupakan senyawa polifenol dengan berat molekul antara 500 sampai dengan 20000 dalton. Pada sel tumbuhan, tanin selalu berikatan dengan protein sehingga disebut merupakan zat yang menurunkan nilai nutrisi dari jaringan tumbuhan bagi pemakannya. Tannins are polyphenolic compounds with a molecular weight between 500 to 20 000 daltons. In plant cells, the tannins bind the protein so it is always called a substance that lowers the nutritional value of plant tissues for its eaters.

3.1.4 Glukosinolat dan sianogenik (Glucosinolates and cyanogenic Glukosinolat Glukosinolat merupakan metabolit sekunder yang dibentuk dari 3 beberapa asam amino dan terdapat secara umum pada Cruciferae (Brassicaceae). Glukosinolat dikelompokkan 11 menjadi setidaknya

kelompok, yakni: (1). glukosinolat alifatik (contoh: sinigrin), terbentuk dari asam amino alifatik (biasanya metionin), (2) glukosinolat aromatik (contoh: sinalbin), terbentuk dari asam amino aromatik (fenilalanin atau tirosin) dan (3) glukosinolat indol, yang terbentuk dari asam amino indol (triptofan). Keragaman jenis glukosinolat tergantung pada modifikasi ikatannya dengan gugus lain melalui hidroksilasi, metilasi dan desaturasi. Hidrolilis dari glukosinolat terjadi karena adanya enzim mirosinase, sehingga menghasilkan beberapa senyawa beracun seperti isotiosianat, tiosianat, nitril, dan epitionitril. Senyawa-senyawa tersebut merupakan racun bagi serangga yang bukan spesialis pemakan tumbuhan Cruciferae, dan merupakan zat penolak makan bagi ulat kilan, Trichoplusiani. glucosinolate Glucosinolates are secondary metabolites formed from several amino acids and are generally in the Cruciferae (Brassicaceae). Glucosinolates are grouped into at least three groups, namely: (1). aliphatic (eg sinigrin), formed from aliphatic amino acids glucosinolates

(methionine usually), (2) aromatic glucosinolates (eg sinalbin), formed from the aromatic amino acids (phenylalanine or tyrosine) and (3) indole glucosinolates, which are formed from amino amino indole (tryptophan). Diversity of glucosinolate modification depends on its ties with other groups through hydroxylation, methylation and desaturation. Hidrolilis of glucosinolates occur because mirosinase enzyme, resulting in some toxic compounds such as isothiocyanates, thiocyanates, nitriles, and epitionitril. These compounds are toxic to insects that are not specialist herbivores Cruciferae, and are food for caterpillars repellent substance span, Trichoplusiani. Sianogenik Semua jenis tumbuhan mempunyai kemampuan untuk mensintesis glikosida sianogenik. Namun, tidak semua jenis tumbuhan mengumpulkan senyawa ini dalam sel-selnya. Pada famili Rosaceae, senyawa ini disimpan pada vakuola. Pada saat sel tumbuhan dirusak, glikosida sianogenik akan dihidrolisis secara enzimatis menghasilkan asam sianida. 12

cyanogenic All plants have the ability to synthesize cyanogenic glycosides. However, not all plants accumulate these compounds in cells. To the family Rosaceae, these compounds are stored in the vacuole. At the damaged plant cells, cyanogenic glycosides be hydrolyzed enzymatically produced hydrogen cyanide. (HCN) yang sangat beracun dan merupakan zat penolak makan serangga dengan spektrum yang luas. (HCN), which is highly toxic and eating insect repellent is a substance with a broad spectrum.

CHAPTER CLOSING 4.1. Conclusion

IV

The conclusion that can be drawn from the discussion are as follows: Cell is the smallest unit of organization is the basis of life in the biological sense. All the functions of life are organized and take place in the cell. Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan adalah sebagai berikut: Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti biologis. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel. There are two cell types, namely: a. prokaryote cells and b. eukaryotic cells Terdapat dua tipe sel yaitu: a. sel prokariot dan b. sel eukariot.

13

The difference in plant and animal cell organelles


No. Cell Parts Cell wall 1 Plant Cell There, strong cell walls Animal Cell No plasma membrane thin and flexible and do not have thickening Exist Exist

thickened and composed of cellulose (wood fiber)

Cell membrane Cytoplasm

Exist Exist

Mitochondria 4

Exist

Exist

5 6 7

Lisosom Ribosom Golgi Bodies Sentrosom

No Exist Exist No (except for low levels in plants)

Exist Exist Exist Exist

9 10

Plastids Microtubulus

Exist No

No (except protozoa) Exist

14

11

Vacuoles Reticulum

Exist (big) Exist

No (small) Exist

12

endoplastik (RE) Nucleus Exist Exist

13

Table 4.1. The difference in plant and animal cell organelles

4.2. Suggestion From the above exposition we need to enrich the material further because there are a lot of things - things related titles tumbuahn animal cells and cells that have not been discussed specifically. In order to validtan material above should also be more relevant references. In accordance with the description above suggestions can be useful if only the tumbuahan animal cells and is closely associated with the cell so we should be able to learn what are the differences of the two cells also function in order to know them better.

Dari pemaparan materi diatas perlu kita perkaya lagi karena masih banyak hal hal yang terkait judul sel hewan dan sel tumbuahn yang belum di bahas secara spesifik. Demi ke validtan materi di atas perlu juga referensi yang lebih relevan. Sesuai dengan uraian diatas saran-saran yang sekiranya dapat berguna yaitu sel hewan dan tumbuahan sangat erat kaitannya dengan sel sehingga kita harus dapat mempelajari apa saja perbedaan dari kedua sel tersebut juga fungsinya agar dapat mengetahuinya secara lebih baik.

15

REFERENCES

Arbayah S, 1990. Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan; Persiapan Perkuliahan Program Lanjutan MIP. Biologi Sel. Bandung : FMIPA-ITB. Campbell,N.A.,Reece,J.B,danMitchell,L.G.2002.Biologi.Jilid 3. Jakarta : Erlangga. Goenarso,Darmadi.2005.Fisiologi Hewan.Jakarta : UT. Isnaeni,Wiwi.2006.Fisiologi Hewan.Yogyakarta:Kanisius. Iswari, Retno Sri & Ari Yuniastuti. 2006. Biokimia. Yogyakarta : Graha Ilmu Kastawi,Yusuf.Zoologi Avertebrata. Malang : FMIPA UM. Kimball. 1992. Biologi Edisi kelima. Jakarta: Erlangga Suwarno. 2009. BSE Panduan Pembelajaran Biologi Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional Toha, Abdul Hamid A.. 2005. Biokimia : Metabolisme Biomolekul. Bandung : Alfabeta . Wirahadikusumah, Muhamad. 2001. Biokimia protein, enzim, dan asam nukleat. ITB : Bandung. Yazid, Estien. dan Nursanti, Lisda. 2006. Penuntun Praktikum Biokimia untuk Mahasiswa Analis. Yogyakarta: Andi. Yogyakarta. Poedjiadi, Anna dan Supriyanti, Titin. 2005. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : Universitas Indonesia Press.
16

17