Anda di halaman 1dari 16

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CONTINOUS AMBULATORY PERITONEAL DYALISIS (CAPD)

OLEH : SGD 8

Ni Luh Gede Prabayati Ni Ketut Rahajeng Intan Handayani Ni Luh Putu Susi Mardi Lestari Gede Dodik Keristianto Made Ratih Khrisna Nurpeni Ni Kadek Kusuma Dewi I Gusti Bagus Jelantik Darma Putra Luh Putu Citra Dewi Jayanti Luh Putu Meylan Marta Putri Ni Wayan Lisnayanti Indah Dewi Rachmawati

(1002105007) (1002105016) (1002105026) (1002105035) (1002105037) (1002105048) (1002105050) (1002105071) (1002105082) (1002105084) (1002105090)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2012

LEARNING TASK SISTEM PERKEMIHAN 1 OKTOBER 2012 tn. A(50th) mempunyai riwayat CKD. Tn. A tampak pucat, mengalami anuria selama 7 hari, kulit kekuningan dan kering, dan mempunyai riwayat anoreksia. Tn. A akan mendapatkan terapi dyalisis (pengganti fungsi ginjal) data penunjang : K serum 8 mEq/L, ureum darah 400mg/dl,Ph darah 6 CAPD (continous ambulatory peritoneal dyalisis) (SGD 5-8) 1. Definisi 2. Epidemiologi 3. Tujuan 4. Indikasi tindakan 5. Kontraindikasi 6. Faktor yang mempengaruhi CAPD 7. Konsep fisiologi tindakan CAPD 8. Prosedur tindakan CAPD 9. Keuntungan dan kelemahan dari CAPD 10. Alat yang digunakan untuk CAPD 11. Komplikasi 12. Konsep dasar asuhan keperawatan (pre dan post CAPD) 13. Pendidikan kesehatan yang diberikan pada klien ini

1. DEFINISI CAPD CAPD (Continous Ambulatoru Peritoneal Dialysis) merupakan metode pencucian darah dengan mengunakan peritoneum (selaput yang melapisi perut dan pembungkus organ perut). Selaput ini memiliki area permukaan yang luas dan kaya akan pembuluh darah. Zat-zat dari darah dapat dengan mudah tersaring melalui peritoneum ke dalam rongga perut. Cairan dimasukkan melalui sebuah selang kecil yang menembus dinding perut ke dalam rongga perut. Cairan harus dibiarkan selama waktu tertentu sehingga limbah metabolic dari aliran darah secara perlahan masuk ke dalam cairan tersebut, kemudian cairan dikeluarkan, dibuang, dan diganti dengan cairan yang baru. CAPD bersifat kontinyu dan biasanya dapat dilakukan sendiri. Metode ini bisa dikerjakan di rumah oleh pasien. Tehniknya disesuaikan dengan kebutuhan fisiologis pasien akan terapi dialysis dan kemampuannya untuk mempelajari prosedur ini. Metode ini harus dapat dipahami oleh pasien dan keluarga, serta diperlukan petunjuk yang adekuat untuk menjamin agar mereka merasa aman dan yakin dalam melaksanakannya Dialysis peritoneal (DP) adalah salah satu bentuk dialysis untuk membantu penanganan pasien GGA (Gagal Ginjal Akut) maupun GGK (Gagal Ginjal Kronik), menggunakan membrane peritoneum yang bersifat semipermeable. Melalui membrane tersebut darah dapat difiltrasi. (Sudoyo W, Aru. 581) 2. EPIDEMIOLOGI CAPD Dialisis peritoneal sudah lama dikenal. Sarjana pertama yang melakukan DP di klinik pada seorang pasien uremia karena obstruksi ureter akibat kanker kandungan adalah Ganter (1923). Perkembangan selanjutnya memakan waktu cukup lama dan baru Maxwell (1959) mengajukan teknik dialysis intermiten yang merupakan modifikasi dari teknik yang diajukan Grollman, dkk (1951).sampai saat ini teknik ini masih tetap terpakai. Perkembangan selanjutnya ditunjang dengan terseddianya antibiotic serta cairan dialisat komersial. Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) sebagai salah satu alternative terapi pengganti pada Penyakit Ginjal Tahap Akhir (PGTA) telah diintroduksikan sejak tahun 1975 oleh Popovich dan Monchief (Thomas, 2003). Beberapa tahun berselang Negara-negara di Asia mulai menerapkan program CAPD. Demikian juga di Indonesia sejak awal tahun 1980an telah dilakukan CAPD secara insidentil (Tambunan, 2007). Meskipun telah tiga decade sejak dikenalkan CAPD dan telah diupayakan pelatihan dan symposium keperawatan sejak

awal tahun 1990-an, namun CAPD belum menjadi suatu pilihan terapi pengganti PGTA di Indonesia. 3. TUJUAN CAPD Tujuan dari CAPD adalah mengidentifikasi status kualitas hidup pasien HD dan CAPD serta menganalisis perbedaan kualitas hidup di antara kedua metode tersebut. 4. INDIKASI TINDAKAN CAPD CAPD merupakan terapi pilihan bagi pasien yang ingin melaksanakan dialysis sendiri di rumah, indikasi CAPD adalah pasien-pasien yang menjalani HD rumatan (maintenence) atau HD kronis yang mempunyai masalah dengan cara terap yang sekarang, seperti gangguan fungsi atau kegagalan alat untuk akses vaskuler, rasa haus yang berlebihan, hipertensi berat, sakit kepala pasca dialysis dan anemia berat yang memerlukan tranfusi. Penyakit ginjal stadium terminal yang terjadi akibat diabetes sering dipertimbangkan sebagai indikasi untuk dialkukan CAPD karena hipertensi, uremia dan hiperglikemia lebih mudah diatasi dengan cara ini dari pada HD. Pasien lansia dapat memanfaatkan teknik CAPD dengan baik jika keluarga atau masyarakat memberikan dukungan. Pasien yang aktif dalam penanganan penyakitnya, menginginkan lebih banyak kebebasan dan memiliki motivasi serta keinginan untuk melaksanakan

penanganan yang diperlukan sangat sesuai dengan terapi CAPD. Selain kemampuan pasien, dukungan dari keluarga untuk melaksanakan CAPD harus dipertimbangkan ketika memilih terapi ini. Pasien memilih CAPD agar bebas dari ketergantungan pada mesin, mengontrol sendiri aktifitasnya sehari-hari, menghindari pembatasan makanan, menigkatkan asupan cairan, menaikkan nilai hematokrit serum, memperbaiki control tekanan darah, bebas dari keharusan pemasangan jarum infuse (venipucture) dan merasa sehat secara umum meskipun CAPD memberi kesan pasien tampak bebas, terapinya berlangsung secara kontinyu sehingga pasien harus menjalani dialysis selama 24 jam/ hari setiap hari. Sebagian pasien menganggap cara ini membatasi kebebasannya dalam memilih HD yang lebih bersifat intermiten. 5. KONTRAINDIKASI Dialisa peritoneal tidak boleh dilakukan pada penderita yang: a. Menderita infeksi dinding perut

b. Perlengkatan akibat pembedahan atau penyakit inflamasi sistemik sebelumnya. Perlekatan akan mengurangi klirens solute. c. Nyeri punggung kronis yang rekuren disertai riwayat kelainan pada diskus intervertebralis dapat diperburuk oleh tekanan cairan dialisat dalam abdomen yang kontinyu d. Adanya riwayat kolostomi, ileostomi, nefrostomi atau ilealconduit dapat meningkatkan resiko peritonitis walaupun tindakan operasi tersebut bukan kontraindikasi absolute untuk CAPD. e. Pasien dengan pengobatan imunosupresif akan mengalami komplikassi akibat kesembuhan luka yang buruk pada lokasi pemasangan kateter. f. Diverkulitis mengingat CAPD pernah disertai adanya rupture divertikulum. g. Pasien dengan atritis atau kekuatan tangan menurun karena akan memerlukan bantuan dalam melaksanankan pertukaran cairan h. Memiliki hubungan abnormal antara dada dan perut i. Baru saja menjalani pencangkokkan pembuluh darah buatan di dalam perut j. Memiliki luka baru di perut. Pada peritoneal dialisa, yang bertindak sebagai penyaring adalah peritoneum (selaput yang melapisi perut dan membungkus organ perut). Selaput ini memiliki area permukaan yang luas dan kaya akan pembuluh darah. Zat-zat dari darah dapat dengan mudah tersaring melalui peritoneum ke dalam rongga perut. Cairan dimasukkan melalui sebuah selang kecil yang menembus dinding perut ke dalam rongga perut. Cairan harus dibiarkan selama waktu tertentu sehingga limbah metabolik dari aliran darah secara perlahan masuk ke dalam cairan tersebut. Kemudian cairan dikeluarkan, dibuang dan diganti dengan cairan yang baru. Biasanya digunakan selang karet silikon yang lembut atau selang poliuretan yang berporipori, sehingga cairan mengalir secara perlahan dan tidak terjadi kerusakan. 6. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI Faktor yang mempengaruhi CAPD adalah : a. Kualitas membrane b. Ukuran & karakteristik larutan c. Volume dialisat d. Fungsi ginjal yang masih terpisah

e. Kecepatan produk limbah tersebut diproduksi 7. KONSEP FISIOLOGIS CAPD Pada peritoneal dialisa, yang bertindak sebagai penyaring adalah peritoneum (selaput yang melapisi perut dan membungkus organ perut). Selaput ini memiliki area permukaan yang luas dan kaya akan pembuluh darah. Zat-zat dari darah dapat dengan mudah tersaring melalui peritoneum ke dalam rongga perut. Cairan dimasukkan melalui sebuah selang kecil yang menembus dinding perut ke dalam rongga perut. Cairan harus dibiarkan selama waktu tertentu sehingga limbah metabolik dari aliran darah secara perlahan masuk ke dalam cairan tersebut. Kemudian cairan dikeluarkan, dibuang dan diganti dengan cairan yang baru. Biasanya digunakan selang karet silikon yang lembut atau selang poliuretan yang berporipori, sehingga cairan mengalir secara perlahan dan tidak terjadi kerusakan. Cairan dialysis 2 L dimasukkan dalam rongga peritoneum melalui catheter tunchoff, didiamkan untuk waktu tertentu (6 8 jam) dan peritoneum bekerja sebagai membrane semi permeable untuk mengambil sisa-sisa metabolisme dan kelebihan air dari darah. Osmosis, difusi dan konveksi akan terjadi dalam rongga peritoneum. Setelah dwell time selesai cairan akan dikeluarkan dari rongga peritoneum melalui catheter yang sama, proses ini berlangsung 3 4 kali dalam sehari selama 7 hari dalam seminggu. Difusi Membrane peritoneum menyaring solute dan air dari darah ke rongga peritoneum dan sebaliknya melalui difusi. Difusi adalah proses perpindahan solute dari daerah yang berkonsentrasi tinggi ke daerah yang berkonsentrasi rendah, dimana proses ini berlangsung ketika cairan dialisat dimasukkan ke dalam rongga peritoneum. Konsentrasi cairan CAPD lebih rendah dari plasma darah, karena cairan plasma banyak mengandung toksin uremik. Toksin uremik berpindah dari plasma ke cairan CAPD. Osmosis Osmosis adalah perpindahan air melewati membrane semi permeable dari daerah solute yang berkonsentrasi rendah (kadar air tinggi) ke daerah solute berkonsentrasi tinggi (kadar air rendah). Osmosis dipengaruhi oleh tekanan osmotic dan hidrostatik antara darah dan cairan dialisat.

Osmosis pada peritoneum terjadi karena glukosa pada cairan CAPD menyebabkan tekanan osmotic cairan CAPD lebih tinggi (hipertonik) dibanding plasma, sehingga air akan berpindah dari kapiler pembuluh darah ke cairan dialisat (ultrafiltrasi)

Kandungan glucose yang lebih tinggi akan mengambil air lebih banyak. Cairan melewati membrane lebih cepat dari pada solute. Untuk itu diperlukan dwell time yang lebih panjang untuk menarik solute. 8. PROSEDUR TINDAKAN CAPD CAPD bekerja berdasarkan prinsip-prinsip yag sama seperti pada bentuk dialisis lainnya, yaitu difusi dan osmosis. Tetapi karena CAPD merupakan terapi dialisis yang kontinyu, kadar produk limbah nitrogen dalam serum berada dalam keadaan yang stabil. Nilainya bergantung pada: fungsi ginjal yang masih terpisah volume dialisa setiap hari Kecepatan produk limbah tersebut diproduksi Fluktuasi hasil-hasil laboratorium ini pada CAPD tidak begitu ekstrim dibandingkan dengan dialisis peritoneal intermiten, karena proses dialisis berlangsung secara konstan. Kadar elektrolit biasanya tetap berada dalam kisaran normal. Semakin lama waktu retensi, klirens molekul yang berukuran sedang semakin baik, molekul ini merupakan toksin uremik yang signifikan. Dengan CAPD kliren molekul ini meningkat. Substansi dengan berat molekul rendah, seperti ureum, akan berdifusi lebih cepat dalam proses dialisis dari pada molekul berukuran sedang, meskipun pengeluaranya selama CAPD lebih lambat daripada selama hemodialisis. Pengeluaran cairan yang berlebihan pada saat dialisis peritoneal dicapai dengan menggunakan larutan dialisat hipertonik yang memiliki konsentrasi glukosa yang tinggi sehingga tercipta gradien osmotik. Larutan glukosa 1,5%, 2,5% dan 4,25% harus tersedia dengan beberapa ukuran volume, mulai dari 500 ml 3000 ml, sehingga memungkinkan pemilihan dialisat yang sesuai dengan toleransi, ukuran tubuh dan kebutuhan fisiologik pasien. Semakin tinggi konsentrasi glukosa, semakin besar gradien osmotik dan semakin banyak air yang dikeluarkan. Pasien harus diajarkan cara memilih larutan glukosa yang tepat berdasarkan asupan makanannya.

Prinsip kerja dari CAPD cukup sederhana. Dialisis Peritoneal diawali dengan memasukkan cairan dialisat (cairan khusus untuk dialisis) ke dalam rongga perut melalui selang kateter, lalu dibiarkan selama 4-6 jam. Ketika dialisat berada di dalam rongga perut, zat-zat racun dari dalam darah akan dibersihkan dan kelebihan cairan tubuh akan ditarik ke dalam cairan dialisat. Zat-zat racun yang terlarut di dalam darah akan pindah ke dalam cairan dialisat melalui selaput rongga perut (membran peritoneum) yang berfungsi sebagai alat penyaring, proses perpindahan ini disebut Difusi. Cairan dialisat mengandung dekstrosa (gula) yang memiliki kemampuan untuk menarik kelebihan air, proses penarikan air ke dalam cairan dialisat ini disebut Ultrafiltrasi.

Gb.prinsip kerja CAPD

Proses penggantian cairan dialysis dalam prosesnya tidak menimbulkan rasa sakit dan hanya membutuhkan waktu singkat ( 30 menit). Proses tersebut terdiri dari 3 langkah: 1. Pengeluaran cairan Cairan dialisat yang sudah mengandung zat-zat racun dan kelebihan air akan dikeluarkan dari rongga perut dan diganti dengan cairan dialisis yang baru. Proses pengeluaran cairan ini berlangsung sekitar 20 menit.

2. Memasukkan cairan Cairan dialisat dialirkan ke dalam rongga perut melalui kateter. Proses ini hanya berlangsung selama 10 menit.

3. Waktu tinggal Sesudah dimasukkan, cairan dialisat dibiarkan ke dalam rongga perut selama 4-6 jam, tergantung dari anjuran dokter.

Pertukaran biasanya dilakukan tiga kali sehari yang berlangsung kontinyu selama 24 jam/hari dan dilakukan dalam 7 hari dalam seminggu. Pasien melaksanakan pertukaran dengan interfal yang didistribusikan disepanjang hari ( misalnya pada pukul 06.00 pagi, 16.00 sore dan 24.00 malam ). Setiap pertukaran memerlukan waktu 30 hingga 60 menit atau lebih tergantung pada lamanya waktu retensi yang ditentukan oleh dokter. Lama waktu penukaran terdiri atas 5 atau 10 menit periode infus (pemasukan dialisa), 20 menit periode drainase (pengeluaran cairan dialisa) dan waktu retensi selama 10 menit, 30 menit atau lebih.

9. KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN CAPD Keuntungan CAPD dibandingkan HD : a. Dapat dilakukan sendiri di rumah atau tempat kerja b. Pasien menjadi mandiri (independen), meningkatkan percaya diri c. Simpel, dapat dilatih dalam periode 1-2 minggu. d. Jadwal fleksibel, tidak tergantung penjadwalan rumah sakit sebagaimana HD e. Pembuangan cairan dan racun lebih stabil f. Diit dan intake cairan sedikit lebih bebas g. Kebutuhan akan suplemen zat besi dan eritropoietin (EPO) jauh lebih sedikit h. Kadar kalium darah lebih terkontrol

i. Tekanan darah pasien lebih terkendali j. Cocok bagi pasien yang mengalami gangguan jantung k. Pemeliharaan residual renal function lebih baik pada 2-3 tahun pertama

Kelemahan CAPD : a. Resiko infeksi Peritonitis Exit site Tunnel b. BB naik karena glukosa, pada cairan CAPD diabsorbsi c. Lebih banyak protein yang hilang dari tubuh selama berlangsungnya proses dialisis peritoneal 10. ALAT-ALAT CAPD Perlengkapan untuk terapi dialysis peritoneal cukup sederhana : a. peritoneal perfusion set : Cateter (kateter) Titanium adapter

b. larutan dialisat c. perlengkapan untuk operasi kecil

11. KOMPLIKASI CAPD Kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi pada CAPD adalah :

1) Peritonitis Merupakan komplikasi yang paling sering terjadi dan paling serius, yaitu antara 60-80 % dari pasien yang menjalani peritoneal dialisis. Hal ini disebabkan oleh adanya kontaminasi dari Staphylokokus epidermidis yang bersifat aksidental, dan

Staphylococcus aureus dengan angka morbiditas tinggi, prognosis lebih serius serta lebih lama. Manifestasi dari peritonitis yaitu cairan dialisat yang keruh, nyeri abdomen yang difus, hipotensi serta tanda-tanda syok lainnya, hal ini jika penyebabnya S. Aureus. Pemeriksaan cairan drainage untuk penghitungan jumlah sel, pewarnaan Gram, dan pemeriksaan kultur untuk tahu penyebab mikroorganisme dan arahan terapi.

Penatalaksanaan Peritonitis di rumah sakit apabila pasien dalam kodisi parah dan tak mungkin melakukan terapi pertukaran dirumah, dengan menjalani dialisis peritoneal intermitten selama 48 jam atau lebih atau sepenuhnya dihentikan selama dapat terapi suntikan antibiotik. Jika gejalanya ringan ditangani secara rawat jalan dan terapi antibiotik ditambahkan dalam cairan dialisat serta dapat AB peroral selama 10 hari. Infeksi akan menghilang dalam waktu 2-4 hari . AB harus diberikan dengan cermat dan tidak bersifat nefrotoksik agar tidak memperparah fungsi ginjal yang tersisa. Intervensi bedah mungkin diperlukan jika peritonitis akibat adanya kebocoran dari usus. Pada infeksi persisten di tempat keluar kateter pelepasan kateter permanen diperlukan untuk mencegah peritonitis. Peritonitis dengan hasil kultur cairan peritoneal positif juga merupakan indikasi pelepasan kateter. Untuk sementara menggunakan HD selama satu bulan sampai dilakukan pemasangan kateter yang baru. Pasien dengan peritonitis akan kehilangan protein melalui peritoneum dalam jumlah besar, malnutrisi akut, serta kelambatan penyembuhan.

2) Kebocoran Kebocoran cairan dialisat yang biasa terjadi melalui luka insisi atau luka pemasangan kateter setelah kateter terpasang. Kebocoran akan berhenti spontan jika terapi dialisis ditunda selama beberapa hari sampai luka insisi dan tempat keluarnya kateter sembuh. Faktor yang dapat memperlambat kesembuhan adalh aktifitas abdomen yang tidak

semestinya atau mengejan pada saat buang air besar. Kebocoran dapat dihindari dengan memulai infus cairan dialisat dengan volume kecil (100-200 ml) dan secara bertahap meningkatkan volume mencapai 2000 ml.

3) Perdarahan Cairan drainage dialisat yang mengandung darah dapat terlihat khususnya pada wanita yang sedang haid. Hal ini disebabkan karena cairan hipertonik menarik darah dari uterus lewat orificium tuba falopii yang bermuara ke dalam kavum peritoneal. Kejadian ini dapat terjadi selama beberapa kali penggantian cairan mengingat darah akibat prosedur tersebut tetap berada pada rongga abdomen.

Penyebab lain adanya perdarahan karena pergeseran kateter dari pelvis serta pada pasien yang habis menjalani pemeriksaan enema atau mengalami trauma. Adapun intervensi yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan pertukaran cairan lebih sering untuk mencegah obstruksi kateter oleh bekuan darah.

4) Komplikasi lainnya adalah a) Hernia abdomen karena peningkatan tekanan intra abdomen yang terus menerus. Tipe hernia yang terjadi adalah insisional, inguinal, diafragmatik, dan umbilikal. Tekanan intra abdomen yang persisten meningkat juga dapat memperburuk gejala hernia hiatus dan hemoroid. b) Hipertrigliseridemia sehingga memberi kesan dapat mempermudah aterogenesis. Penyakit Kardiovaskuler tetap merupakan penyebab utama kematian pada populasi pasien ini. c) Nyeri Pun ggung bawah dan anoreksia karena cairan dalam rongga peritoneum selain rasa manis yang selalu tarasa pada indra pengecap juga berkaitan dengan absorpsi glukose. d) Pembentukan bekuan dalam kateter peritoneal dan konstipasi.

12. ASUHAN KEPERAWATAN a. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal yang dilakukan sebeum perumusan diagnose keperawatan serta intervensi keperawatan pada klien. Adapun pengkajian yang dilakukan pada klien dengan tindakan CAPD antara lain: 1. Sebelum dialisa a) b) c) d) e) Tinjau kembali catatan medis untuk menentukan alasan perawatan di rumah sakit. Ketidakpatuhan terhadap rencana tindakan. Fistula tersumbat bekuan. Pembuatan fistula Menanyakan tipe diet yang digunakan dirumah, jumlah cairan yang diijinkan, obat-obatan yang saat ini digunakan, jadwal hemodialisa, dan jumlah haluaran urin. f) Kaji kepatenan fistula bila ada. Bila paten, getaran (pulsasi) akan terasa desiran akan terdengar dengan stetoskop di atas sisi. Tak adanya pulsasi dan bunyi desiran menandakan fistula tersumbat. g) Kaji terhadap manifestasi klinis dan laboratorium tentang kebutuhan tentang dialisa : Peningkatan berat badan 3 pon atau lebih diatas berat badan pada tindakan dialisa terakhir. h) Rales, pernafasan cepat pada saat istirahat, peningkatan sesak nafas dengan kerja fisik maksimal. i) j) k) Kelelahan dan kelemahan menetap. Hipertensi berat Peningkatan kreatinin, BUN, dan elektrolit khususnya kalium. Kemungkinan perubahan EKG pada adanya hiperkalemia.

2. Sesudah dialisa Kaji terhadap hipotensi dan perdarahan. Volume besar dari pembuangan cairan selama dialisa dapat mengakibatkan hipotensi ortostatik dengan menggunakan anti koagulan selama tindakan menempatkan pasien pada resiko perdarahan dari sisi akses dan terhadap perdarahan internal.

b. Diagnosa Keperawatan Pre CAPD 1. PK Anemia 2. PK Asidosis Respiratory 3. Gangguan Eliminasi urin berhubungan dengan penyebab multiple Post CAPD 1. Resiko ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan proses dialisa terus menerus 2. Risiko ketidakseimbangan volume cairan b.d bedah abdomen dalam proses dialisa 3. Risiko infeksi b/d imunitas tubuh primer menurun, prosedur invasive, adanya luka 13. PENDIDIKAN KESEHATAN 1. Menyampaikan informasi dasar tentang CAPD 2. Anatomi dan fisiologi Proses penyakit Prosedur pertukaran Komplikasi yang potensial terjadi Teknik memeriksa tanda-tanda vital Perawatan kateter Orang perlu dihubungi jika timbul masalah

Menjelaskan terapi diet Mengkonsumsi makanan tinggi potein Meningkatkan asupan serat untuk menghindari konstipasi Membatasi asupan karbohidrat untuk menghindari kenaikan berat badan yang berlebihan Biasanya tidak diperlukan pembatasan asupan kalium, natrium, ataupun cairan

3.

Menjelaskan pentingnya perawatan tindak lanjut Mengingatkan kembali teknik aseptic untuk menghindari infeksi Mengganti selang jika diperlukan Mengevaluasi hasil pemeriksaan kimia darah Memberikan umpan balik

4.

Memberikan kesempatan untuk bertanya dan mendapat pengajaran tambahan

Memberikan kesempatan dan semangat kepada pasien untuk mengungkapkan keprihatinan, keraguan, dan kecemasannya. (Brunner and Suddarth, 2002, 1412)

DAFTAR PUSTAKA

Aini

Nur

Suchi.

2012.

Continuous

Ambulatory

Peritoneal

Dialisis.

(online)

http://www.scribd.com/doc/47883297/CONTINUOUS-AMBULATORY-PERITONEALDIALISIS. (diakses, 28 September 2012)

Amnrie. 2012. Askep CAPD.(online) http://www.scribd.com/doc/59449861/askep-CAPDAmRiE. (diakses, 28 September 2012)

Anonim.2012.BAB

Pendahuluan

CAPD.http://dc435.4shared.com/doc/PSYQrZVP/preview.html (Diaksestanggal : 30 September 2012)

Dochterman, Joanne. 2000. Nursing Intervention Clasification (NIC), Ed4. Amerika : Mosby Elsevier

Dtenorzein. 2012. Definisi CAPD. (online) http://www.scribd.com/doc/84885661/DefinisiCAPD. (diakses, 28 September 2012)

Guyton dan Hall. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Swanson, Elizabeth. 2004. Nursing Outcome Classification (NOC), Ed4. Amerika : Mosby Elsevier Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2009-2011.

Price, Sylvia A, 2003. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Suddart, & Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Anda mungkin juga menyukai