Anda di halaman 1dari 22

BAB I KEJANG DEMAM

I. Definisi Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstra kranium, biasanya terjadi pada anak yang berumur 6 bulan sampai 5 tahun. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang disertai demam pada bayi berumur kurang dari satu bulan (empat minggu) tidak termasuk kejang demam. II. Epidemiologi Kejang demam terjadi pada 2-4% populasi anak usia 6 bulan-5 tahun. 1 Kejang demam paling sering pada usia 17-23 bulan, dimana 70-75% kasus kejang demam adalah kejang demam sederhana, sedangkan 20-25% nya adalah kejang demam kompleks. Penelitian oleh Farrel dan Goldman menunjukkan bahwa kejang fokal muncul pada 4% dari semua kejang demam, kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit pada 8% kasus, dan lebih dari 30 menit pada 4-5% kasus. Kejang berulang yang terjadi dalam 24 jam muncul pada 16% kasus.

III. Etiologi dan Faktor Risiko Berdasarkan definisi, kejang demam didahului oleh timbulnya demam. Demam sering disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas seperti faringitis, otitis

media, pneumonia, gastroenteritis, infeksi saluran kemih dan penyakit virus. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang sangat tinggi, kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi sudah dapat menyebabkan kejang. Bila kejang telah terjadi pada demam yang tidak begitu tinggi, anak mempunyai risiko tinggi untuk berulangnya kejang. Resiko terjadinya kejang demam lebih tinggi pada famili tertentu dibanding yang lain. Riwayat anggota keluarga yang pernah kejang demam dapat ditemukan pada kira-kira 25-40% pada pasien kejang demam. Kejang demam diturunkan secara autosomal dominan, dan banyak kasus penderita kejang demam yang orang tua atau saudaranya menderita penyakit yang sama. Adanya kejang demam tidak memprediksi akan terjadinya epilepsi di kemudian hari, dimana seorang anak dengan kejang demam simpleks memiliki kemungkinan sebesar 98% untuk tidak menjadi epilepsi, begitupun dengan anak dengan kejang demam kompleks memiliki kemungkinan sebesar 85-95% untuk tidak menjadi epilepsi.

IV. Klasifikasi Ikatan Dokter Anak Indonesia dalam Konsensus Penanganan Kejang Demam 2006 telah mengklasifikasi kejang demam. menjadi dua, yaitu: 1. Kejang demam simpleks (Simple febrile seizure) Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak berulang

dalam waktu 24 jam. Kejang demam sederhana merupakan 80% di antara seluruh kejang. 2. Kejang demam kompleks (Complex febrile seizure) Kejang demam dengan ciri (salah satu di bawah ini): Kejang lama, lebih dari 15 menit Kejang fokal atau parsial pada satu sisi, atau kejang umum yang didahului kejang parsial Kejang berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam, yaitu keadaan dimana kejang terjadi 2 kali atau lebih dalam 24 jam dan anak sadar diantara 2 serangan kejang.

V. Patofisiologi Demam terjadi karena penglepasan pirogen dari dalam leukosit yang sebelumnya telah terangsang oleh pirogen eksogen yang dapat berasal dari mikroorganisme atau merupakan suatu hasil reaksi imunologik yang tidak berdasarkan suatu infeksi. Dewasa ini diduga bahwa pirogen adalah suatu protein yang identik dengan interluekin-1. Di dalam hipotalaus zat ini merangsang pelepasan asam arakidonat serta mengakibatkan peningkatan sintesis prostaglandin E2 yang langsung dapat menyebakan pireksia. Faktor yang dapat menjelaskan mekanisme terjadinya kejang yaitu zat yang dikenal sebagai gama-aminobutyric acid (GABA). GABA adalah salah satu jenis neurotransmitter inhibisi utama di susunan saraf pusat. Ketidakseimbangan antara eksitasi dan inhibisi di otak serta penurunan fungsi GABA dapat menimbulkan terjadinya kejang.

Menurunnya hambatan potensial aksi oleh GABA disebabkan karena beberapa faktor tertentu, yang meliputi : 1. Menurunnya kecepatan pelepasan GABA, misalnya karena

menurunnya enzim pembentuk GABA 2. Menurunnya efisiensi GABA oleh karena perubahan lingkungan seperti demam atau anoksia. 3. Meningkatnya bahan eksogen dan endogen yang memblok aksi pasca sinaps GABA dan hambatan lepas muatan Hambatan atau penurunan dari GABA dapat secara langsung menginduksi terjadinya ledakan lepas muatan yang menyebabkan kejang. Neurotransmitter eksitatori akan membuka saluran ion natrium sehingga meningkatkan pemasukan natrium, hal ini menyebabkan depolarisasi dan meningkatkan kecepatan lepas muatan. Neurotransmitter inhibitori, dalam hal ini GABA akan membuka saluran ion klorida, menyebabkan pemasukan ion klorida, menimbulkan hiperpolarisasi dan menurunkan kecepatan lepas muatan neuron. Kenaikan suhu 10C pada keadaan demam akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan oksigen 20%. Akibatnya terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel otak. Dalam waktu singkat terjadi lepasan muatan listrik. Lepasnya muatan listrik yang cukup besar dapat meluas ke seluruh sel di dekatnya dengan bantuan neurotransmitter, sehingga terjadi kejang. Di tingkat membran sel, fokus kejang memperlihatkan beberapa fenomena biokimiawi, seperti berikut : Instabilitas membran sel saraf, sehingga sel lebih mudah mengalami pengaktifan.

Neuron-neuron hipersensitif dengan ambang untuk melepaskan muatan menurun dan apabila terpicu akan melepaskan muatan secara berlebihan.

Kelainan polarisasi yang disebabkan oleh kelebihan asetilkolin atau defisiensi GABA.

Ketidakseimbangan ion yang mengubah keseimbangan asam-basa atau elektrolit, yang menggangu homeostasis kimiawi neuron sehingga terjadi kalinan pada depolarisasi neuron. Gangguan keseimbanagn ini

menyebabkan peningkatan berlebihan neurotransmiter eksitatorik atau deplesi neurotransmiter inhibitorik.

VI. Diagnosis Anamnesis Diagnosis kejang demam dapat dipikirkan apabila ditemukan kejang pada anak, terutama yang berusia 6 bulan sampai 5 tahun, yang mengalami demam dan tidak memiliki riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.8 Hanya sedikit anak yang mengalami kejang demam pertama sebelum berumur 5-6 bulan atau setelah berumur 5-8 tahun. Biasanya setelah berumur 6 tahun pasien tidak kejang demam lagi, walaupun pada beberapa pasien masih dapat mengalami sampai umur lebih dari 5-6 tahun. Dalam menegakkan diagnosis kejang demam diperlukan anamnesis yang jelas karena seringkali kejang yang dialami anak tidak disaksikan langsung oleh tenaga medis atau anak datang dalam keadan tidak kejang.. Hal yang perlu untuk diperhatikan antara lain adalah : 1. Tipe kejang dan durasi kejang.

Hal ini penting untuk membedakan antara kejang demam simpleks dan kejang demam kompleks. Pada kejang demam simpleks umumnya kejang menyeluruh, berupa serangan kejang klonik atau tonik klonik bilateral, berlangsung singkat (kurang dari 15 menit) dan seringkali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti, anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau beberapa menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. Sedangkan pada kejang demam kompleks dapat terjadi kejang fokal, yaitu kejang parsial pada satu sisi atau kejang umum yang didahului oleh kejang parsial yang berlangsung lebih 15 menit. Selain tipe dan durasi kejang, perlu juga ditanyakan berapa kali kejang berulang sebelum dibawa ke rumah sakit. 2. Riwayat demam Sangatlah penting untuk memastikan bahwa kejang yang dialami anak didahului oleh demam. Pada umumnya kejang berlangsung pada permulaan demam akut atau diawal terjadinya peningkatan suhu yang biasanya lebih tinggi dari 38,50C. Tak jarang orang tua baru mengetahui anak mengalami demam ketika telah terjadi kejang. Penyakit-penyakit yang mungkin mendasari terjadinya demam juga penting untuk ditelusuri. 3. Riwayat kejang tanpa demam sebelumnya, kelainan neurologis, riwayat trauma, kemungkinan infeksi susunan saraf atau adanya riwayat epilepsi dalam keluarga penting untuk menyingkirkan penyebab lain dari kejang.

Pemeriksaan Fisik Dari pemeriksaan fisik, hal yang harus diperhatikan antara lain adalah: 1. 2. Temperatur dan tingkat kesadaran. Pemeriksaan terhadap penyakit dasar yang mendasari terjadinya demam, seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), OMA (Otitis Media Akut), ISK (Infeksi Saluran Kemih), dll. 3. Pemeriksan tanda-tanda rangsangan meningeal, yaitu kaku kuduk, Brudzinski I, Brudzinski II, Kernig sign, untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis. 4. Pemeriksaan tanda-tanda trauma untuk menyingkirkan kemungkinan terjadinya cedera kepala. 5. Tanda peningkatan tekanan intracranial seperti edema papil dan ubun-ubun besar menonjol 6. Pemeriksaan neurologi, seperti tonus, motorik, refleks fisiologis, refleks patologis. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis kejang demam, namun biasanya penting untuk analisis penyakit yang mendasari terjadinya demam. 2. Lumbal Pungsi Pemeriksaan ini penting untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis. Pada bayi kecil seringkali sulit untuk menegakkan atau menyingkirkan

diagnosa meningitis karena manifestasi klinisnya tidak jelas. Oleh karena itu, lumbal pungsi dianjurkan pada : Bayi kurang dari 12 bulan, sangat dianjurkan untuk dilakukan. Bayi antara 12-18 bulan, dianjurkan untuk dilakukan. Bayi lebih dari 18 bulan, tidak rutin dilakukan.

Bila yakin bukan meningitis secara klinis maka tidak perlu dilakukan pungsi lumbal. 3. EEG Pemeriksaan EEG tidak dapat untuk memprediksi berulangnya kejang atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam, oleh karena itu tidak direkomendasikan. Akan tetapi dapat dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas. 4. Studi Imaging Pencitraan otak tidak dianjurkan setelah kejang demam simpleks. Pemeriksan X-ray, CT scan dan MRI dilakukan terhadap: Kelainan neurologi fokal yang menetap (hemiparesis) lebih dari beberapa jam Paresis nervus VI Papiledema

VII. Diagnosis Banding Infeksi susunan saraf pusat Adanya infeksi susnan saraf pusat dapat disingkirkan dengan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan cairan serebrospinal. 8

Kejang karena proses intrakranial Kejang demam yang berlangsung lama kadang-kadang diikuti oleh hemiparesis sehingga sulit dibedakan dengan kejang karena proses intrakranial.

VIII. Penatalaksanaan Tujuan pengobatan kejang demam pada anak adalah untuk mencegah kejang demam berulang, epilepsi dan atau retardasi mental serta normalisasi kehidupan anak dan keluarga. Penatalaksanaan kejang demam meliputi 3 hal, yaitu pengobatan fase akut, mencari dan mengobati penyebab, pengobatan profilaks terhadap berulangnya kejang demam. 1. Pengobatan fase akut Kejang terkadang dapat berhenti sendiri. Meskipun begitu, ketika kejang terjadi hal-hal sebagai berikut perlu diperhatikan, yaitu : Perhatikan agar jalan nafas tetap terbuka dan bebaskan sumbatan bila ada, agar oksigenasi tetap terjamin. Berikan oksigen, lakukan penghisapan secara teratur, dan intubasi bila perlu. Semua pakaian yang ketat dibuka. Apabila terjadi muntah, pasien dimiringkan untuk mencegah aspirasi Atasi kepanikan keluarga

Tanda vital sebaiknya selalu diawasi, seperti: kesadaran, suhu, tekanan darah, pernafasan dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan melakukan pengompresan air hangat dan pemberian anti piretik, seperti asetaminofen/parasetamol oral 10-15 mg/KgBB sebanyak 4 kali sehari atau Ibuprofen dapat diberikan peroral dengan dosis 5-10 mg/kgBB sebanyak 3-4 kali sehari. Pemberian antipiretik tidak dapat mencegah berulangnya kejang demam. Diazepam merupakan obat pilihan utama untuk mengatasi kejang demam fase akut, hal ini dikarenakan diazepam mempunyai masa kerja yang pendek. Obat ini dapat diberikan secara intravena ataupun rektal. Apabila anak datang dalam keadaan kejang, maka obat yang paling cepat untuk menghentian kejang adalah diazepam yang diberikan secara intravena. Apabila diazepam diberikan secara intramuskular, maka absorpsinya akan lambat.

Alur tatalaksana kejang adalah : Anak dalam serangan kejang Berikan diazepam rektal, dengan dosis 0,5-0,75 mg/kgBB, atau sebanyak 5 mg untuk berat badan dibawah 10 kg, dan 10 mg untuk berat badan diatas 10 kg. Selain itu, bisa juga diberikan dengan dosis 5 mg untuk usia di bawah 3 tahun atau 7,5 mg untuk usia di atas 3 tahun atau disuntikkan diazepam intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB pelan-pelan kecepatan 1-2 mg/menit atau lebih dari 2 menit dengan dosis maksimal 20 mg

10

Apabila kejang masih berlanjut, diulangi pemberian diazepam rektal pada 5 menit berikutnya dengan dosis yang sama.

Apabila tetap kejang, sebaiknya pasien dibawa ke RS dan berikan diazepam intravena dengan dosis dan lama pemberian yang sama

Apabila kejang masih berlanjut, berikan fenitoin bolus intravena sebanyak 10-20 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 0,5-1 mg/kgBB/menit, atau kurang dari 50 mg/menit.

Apabila tetap kejang setelah pemberian fenitoin maka transfer ke ICU, sedangkan apabila kejang berhenti adalah 4-8 mg/kgBB/hari setelah 12 jam.

2. Mencari dan mengobati penyebab. Pada pasien kejang demam yang pertama, perlu dicurigai demam terjadi karena meningitis. Bila perlu lakukan lumbal pungsi untuk mengetahui adanya meningitis. Perlu juga ditelusuri adanya sumber infeksi lain yang dapat menyebabkan demam. 3. Pengobatan rumat. Setelah kejang diatasi harus disusul dengan pengobatan rumat oleh karena daya kerja diazepam sangat singkat maka harus diberikan obat antikonvulsan dengan daya kerja lama, seperti fenobarbital. Fenobarbital diberikan langsung setelah kejang berhenti oleh diazepam, dengan loading dose secara intramuskuler. Dosis loading dose fenobarbital

11

untuk neonatus adalah 30 mg, untuk anak umur 1 bulan 1 tahun adalah 50 mg, dan untuk anak umur 1 tahun keatas adalah 75 mg. Setelah pemberian loading dose maka dilanjutkan dengan dosis rumat secara oral dengan dosis 2 hari pertama fenobarbital 8-10 mg/kgBB/hari dan 2 hari kedua fenobarbital 4-5 mg/kgBB/hari. Lanjutan dari pengobatan dosis rumat ini tergantung dari keadaan klinis pasien. Kejang demam perlu dicegah agar tidak berulang. Cara profilaks yang diberikan dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu : a. Profilaks intermitten. Anti konvulsan hanya diberikan pada waktu pasien demam dengan syarat orang tua mengetahui dengan cepat adanya demam pada pasien. Anti konvulsan yang diberikan adalah diazepam, karena dari hasil penelitian tidak didapatkan hasil yang memuaskan dengan pemakaian fenobarbital. Digunakan diazepam intrarektal apabila suhu tubuh 38,5 0C atau lebih dengan ketentuan sebagai berikut : sebanyak 5 mg. sebanyak 10 mg. Dapat juga digunakan diazepam secara oral dengan dosis 0,5 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis pada waktu pasien demam. Efek samping yang timbul dari penggunaan diazepam dapat terjadi depresi nafas sampai henti nafas, hipotensi, ataksia, kantuk dan hipotonia. Berat Badan > 10 kg, digunakan tiap 8 jam Berat Badan < 10 kg, digunakan tiap 8 jam

12

b.

Profilaks terus menerus dengan anti konvulsans tiap hari. Profilaks terus menerus berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat yang dapat menyebabkan kerusakan otak, tapi tidak dapat mencegah terjadinya epilepsi pada waktu mendatang. Untuk mencegah berulangnya kejang, dapat diberikan fenobarbital 4-5 mg/kgBB/hari dengan kadar darah sebesar 16 g/ml dan diwaspadai efek samping dari fenobarbital yaitu hiperaktivitas, irritabilitas, gangguan kognitif dan perubahan pola tidur. Disamping itu dapat pula digunakan asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari dengan efek samping mual, muntah, anoreksia, amenorea, sedasi, tremor, alopesia dan toksisitas hepar. Fenitoin dan karbamazepin tidak efektif dalam mengurangi kejang demam. Pengobatan profilaks hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri sebagai berikut (salah satu): a) Kejang lama > 15 menit b) Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya hemiparesis, paresis Todd, Cerebral Palsy, retardasi mental dan hidrosefalus. c) Kejang fokal d) Pengobatan rumat dipertimbangkan bila : 24 jam 12 bulan Kejang demam 4 kali/ per tahun. Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari Kejang berulang dua kali atau lebih dalam

13

Pengobatan profilaks ini diberikan selama 1 tahun bebas kejang dan diberhentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.

IX. Prognosis Ada dua risiko yang secara signifikan berhubungan dengan kejang demam yaitu berulangnya kejang demam dan terjadinya epilepsi di kemudian hari. Faktor risiko menjadi epilepsi adalah : 1. Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologis atau kelainan perkembangan yang jelas 2. Kejang berlangsung lama lebih dari 15 menit atau kejang fokal 3. Ada riwayat kejang tanpa demam (epilepsi) pada orang tua atau saudara kandung. Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi 23%, kombinasi dari faktor risiko meningkatkan kemungkinan epilepsi menjadi 13%.9 Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat rumat pada kejang demam.

14

BAB II ILUSTRASI KASUS 2.1 Identitas Penderita Nama : DP Umur : 2 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Islam Suku : Minang/ Indonesia Alamat : Banuhampu-Cingkariang MRS tgl : 14 Maret 2013 No Register : 33.66.67 Dikirim oleh: Datang sendiri 2.2. Anamnesa Diberikan oleh : Ibu pasien Keluhan utama : Kejang sejak 15 menit sebelum masuk Rumah sakit 15

Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien kejang sejak 15 menit sebelum masuk rumah sakit. Pasien kejang mendadak pada seluruh tubuh, tangan dan kaki kaku, dan mata melirik ke atas. Kejang berlangsung selama 5 menit, dan setelah kejang pasien langsung menangis. Ini merupakan kejang kedua kalinya. Kejang pertama 12 jam yang lalu, mendadak terjadi pada seluruh tubuh, mata melirik ke atas, tangan dan kaki kaku. Lama kejang 5 menit. Pasien dibawa ke klinik terdekat. Pasien panas tinggi dan menggigil sejak 17 jam yang lalu, oleh ibu pasien diberikan obat paracetamol sirup, panas tidak turun. Batuk berdahak sejak dua hari yang lalu. Muntah menyemprot tidak ada. BAB konsistensi kuning encer, frekuensi 3 x sebelum masuk rumah sakit, tidak ada ampas. BAK warna, jumlah dan konsistensi biasa.

Riwayat Penyakit Dahulu Pasien tidak pernah mengalami kejang dengan atau tanpa demam sebelumnya. Tidak ada riwayat trauma kepala.

Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang menderita kejang dengan atau tanpa demam. Riwayat pekerjaan, sosial,ekonomi,kejiwaan, kebiasaan Pasien belum bersekolah

Riwayat Kehamilan Tidak ada masalah selama kehamilan.

Riwayat Persalinan

16

Lahir spontan, cukup bulan, di tolong bidan, BBL 3500 gram, PBL 50 cm.

Riwayat Imunisasi Imunisasi lengkap menurut umur.

2.3 Pemeriksaan fisik Keadaan umum Kesadaran Nadi Nafas Suhu Keadaan gizi BB TB Kepala/leher Rambut Leher Mata Thorax Jantung : Inspeksi Palpasi Perkusi : Ictus cordis tidak terlihat : Teraba pada RIC V Linea Mid Clavicula Sinistra. : Batas atas RIC II line sternalis Batas Kanan RIC IV linea parasternal dekstra Batas kiri RIC V linea mid clavikula sinistra Auskultasi Paru : Inspeksi Palpasi Perkusi : Simetris kiri dan kanan : Fremitus kiri sama dengan kanan : Sonor : Bunyi jantung, regular,murmur (-) : Tampak sakit sedang : Komposmentis : teraba kuat, irama teratur frekuensi 120 x/menit : teratur, frekuensi 24 x/menit : 38,5 C : baik : 14 kg : 98 cm : Normochepal : Hitam, jarang, tidak mudah dicabut : Pembesaran kelenjar getah bening (-), Distensi vena (-). : anemis (-), ikterik (-) : Tampak simetri

Edema tidak ada, anemis tidak ada, ikterik tidak ada.

17

Auskultasi Abdomen : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Alat kelamin Anus Ekstremitas

: Vesikuler, Ronkhi (-), Wheezing (-) : distensi tidak ada : Supel, turgor kembali cepat, hepar dan lien tidak teraba. : Timpani : Bu (+) N : Tidak dilakukan pemeriksaan : Colok dubur tidak dilakukan : Akral hangat, perfusi baik, Sianosis tidak ada, reflek fisiologis +/+, reflek patologis -/-

2.4 Diagnosa kerja Kejang Demam Kompleks + Gastroenteritis + ISPA 2.6 Anjuran pemeriksaan - Pemeriksaan darah lengkap Hasil : Hb Leukosit Trombosit : 11,4 gr/dl : 7100 : 247.000

- Pemeriksaan urine dan feses Urine : Kuning muda, leukosit dan eritrosit 0-1/lpb Feses :Kuning kehijauan, leukosit dan eritrosit +3, Entamoeba Histolityca + 2.7 Anjuran terapi - Dumin per rectal 125 mg - Diazepam 3 x 1,75 mg - Sanmol 3 x 150 mg - Rinofet tablet GG tablet

18

Ambroxol 1/3 tablet m f pulv no XII S 3 dd pulv I Follow up tanggal 14-03-2013 S/ Demam (+), mual (-), muntah (-), berak-berak encer (+) frekuensi 3 kali. O/ Nadi 116 x/menit Nafas 24 x /menit Temperatur 38,3 C Mata : Konjungtiva tidak naemis, sclera tidak ikterik Cor dan Pulmo : dalam batas normal Abdomen : Supel, turgor kembali cepat, Hepar dan lien tidak teraba Ekstremitas : Akral hangat, perfusi baik Diagnosa : Kejang demam komplek + Gastroenteritis + ISPA Terapi : Diazepam 3 x 1,75 mg Rinofet tablet GG tablet Ambroxol 1/3 tablet m f pulv no XII S 3 dd pulv I Lacto B 2 x 1 Sanmol 3 x 150 mg

Follow up tanggal 15 Maret 2013 S/ Demam (+), mual (-), muntah (-), berak-berak encer (+) frekuensi 3 kali. O/ Nadi 112 x/menit Nafas 24 x /menit Temperatur 36 C Mata : Konjungtiva tidak naemis, sclera tidak ikterik Cor dan Pulmo : dalam batas normal Abdomen : Supel, turgor kembali cepat, Hepar dan lien tidak teraba

19

Ekstremitas : Akral hangat, perfusi baik Diagnosa : Kejang demam komplek + Gastroenteritis + ISPA Terapi : Diazepam 3 x 1,75 mg Rinofet tablet GG tablet Ambroxol 1/3 tablet m f pulv no XII S 3 dd pulv I Lacto B 2 x 1 Sanmol 3 x 150 BAB III PEMBAHASAN Penderita adalah anak laki-laki berusia 2 tahun dengan berat badan 14 kg, datang ke RSUD Achmad Moechtar pada tanggal 14 Maret 2013. Pasien datang dengan kejang. Dari hasil anamnesa yang diberikan oleh ibu didapatkan keterangan bahwa pasien kejang 15 menit sebelum masuk rumah sakit. Pasien kejang mendadak pada seluruh tubuh, dan mata melirik ke atas. Kejang berlangsung selama 5 menit, dan setelah kejang pasien langsung menangis. Sebelumnya pasien juga kejang 12 jam dari kejang yang kedua. Sebelum kejang yang pertama pasien panas tinggi, oleh ibu pasien diberikan obat paracetamol sirup, panas tidak turun kemudian pasien kejang . Pasien segera dibawa ke klinik pengobatan terdekat. Batuk ada sejak dua hari yang lalu, berdahak. BAK warna dan jumlah biasa. BAB kuning encer, frekuensi 3 x, tidak berampas. Riwayat muntah menyemprot tidak ada. Riwayat trauma kepala tidak ada. Riwayat kejang sebelumnya tidak ada. Riwayat kehamilan dan persalinan ibu normal. Pasien mendapatkan imunisasi sesuai umurnya. Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum yang baik. Dari tanda vital, didapatkan nadi 120 x per menit reguler, pernafasan 24 x per menit regular dan suhu aksiler 38,5 C. Dari pemeriksaan toraks tidak didapatkan ronki pada

20

kedua lapangan paru. Abdomen, genitalia dan ekstremitas dalam batas normal, turgor kembali dengan cepat. Dari pemeriksaan neurologis, tidak didapatkan kelainan. Kaku kuduk tidak ditemukan, Reflek fisiologis positif, reflek patologis dan meningeal sign negatif. Status antropometri dalam batas normal dengan status gizi baik. Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik dapat ditegakkan diagnosa yaitu kejang demam kompleks (Complex febrile seizure). Karena, Kejang demam dengan ciri (salah satu di bawah ini): Kejang lama, lebih dari 15 menit Kejang fokal atau parsial pada satu sisi, atau kejang umum yang didahului kejang parsial Kejang berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam, yaitu keadaan dimana kejang terjadi 2 kali atau lebih dalam 24 jam dan anak sadar diantara 2 serangan kejang.

21

DAFTAR PUSTAKA 1. IDAI. Konsensus Penanganan Kejang Demam. 2005. Jakarta : Badan Penerbit IDA. 2. IKA FK UNAIR. Pedoman Diagnosis dan Terapi. 2006. Surabaya : Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 3. ILAE, Commission on Epidemiology and Prognosis. Epilepsia. 1993;34;592 B Ismael S. KPPIK-XI, 1983 4. Maytal dan Shinnar. Febrile Status Epilepticus. Pediatry 1990;86:611-7 5. Soetomenggolo T. Buku Ajar Neurologi Anak, 1999 6. Staf Pengajar IKA FKUI. Buku Ajar Kesehatan Anak. 1995. Jakarta Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

22