Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Imobilisasi merupakan salah satu masalah yang cukup besar di bidang geriatri yang timbul sebagai akibat penyakit atau masalah psikososial yang diderita. Di ruang rawat inap geriatri RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tahun 2000 didapatkan prevalensi imobilisasi sebesar 33,6% dan pada tahun 2001 sebesar 31,5% (Setiati dan Roosheroe, 2007). Imobilisasi dapat menimbulkan komplikasi yang akan memperberat kondisi pasien, memperlambat proses penyembuhan, serta dapat

menyebabkan kematian. Oleh karena itu, penting bagi para mahasiswa kedokteran untuk memahami berbagai hal mengenai imobilisasi dan komplikasi yang ditimbulkannya. Berikut dipaparkan skenario yang dibahas dalam diskusi tutorial. Mbah Suro Mogok Makan Mbah Suro, 80 tahun dibawa ke UGD RS Moewardi karena tidak mau makan, lemas, dan nampak gelisah. Sudah 5 hari tidak mau buang air besar. Hampir 2 minggu, mbah Suro tiduran terus karena lemas dan batuk, berdahak, tidak berdarah, tidak demam, tidak didapatkan nyeri dada. Dan tidak mau dibawa berobat. Dari pemeriksaan didapatkan kesadaran apatis, TD 120/70 mmHg, RR 30x/menit, T 360 C, HR 108x/menit. Pada pemeriksaan paru sebelah kanan didapatkan ronkhi basah kasar, suara dasar bronkhial, dan fremitus raba meningkat. Tampak luka pada punggung bawah berukuran 4x5 cm dengan dasar luka kemerahan. Skor norton 9. Hasil laboratorium leukosit 7500. Foto thorax menunjukkan kesuraman homogen pada paru sebelah kanan. Di UGD diberikan oksigenasi, antibiotik, dan terapi cairan. Kemudian dirawat di ruang rawat geriatri dengan medikasi dan kasur dekubitus. Direncanakan konsul ke rehabilitasi medik.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hubungan faktor resiko usia 80 tahun dengan gejala klinis yang dialami pasien? 2. Bagaimana patofisiologi dari gejala klinis yang dialami pasien pada skenario ? 3. Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada pasien? 4. Apakah yang dimaksud dengan imobilisasi dan apa saja komplikasinya ? 5. Bagaimana patofisiologi dan komplikasi ulkus dekubitus ? 6. Bagaimana patofisiologi pneumonia dan penatalaksaannya? 7. Bagaimana patofisiologi penurunan kesadaran ? 8. Bagaimana penatalaksanaan pada pasien dalam skenario ?

C. Tujuan 1. Mahasiswa mengetahui hubungan faktor resiko usia 80 tahun dengan gejala klinis yang dialami pasien. 2. Mahasiswa mengetahui patofisiologi dari gejala klinis yang dialami pasien pada skenario. 3. Mahasiswa mengetahui interpretasi hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada pasien. 4. Mahasiswa mengetahui konsep imobilisas dan komplikasinya. 5. Mahasiswa mengetahui patofisiologi, komplikasi, dan penatalaksanaa ulkus dekubitus. 6. Mahasiswa mengetahui patofisiologi pneumonia dan penatalaksannya, terutama yang berhubungan dengan pasien geriatri. 7. Mahasiswa mengetahui patofisiologi penurunan kesadaran. 8. Mahasiswa mengetahui penatalaksanaan yang seharusnya diberikan pada pasien

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Perubahan Fisiologis pada Lansia Dengan makin bertambahnya usia seseorang, maka

kemungkinan terjadinya penurunan anatomik dan fungsional atas organ-organ tubuhnya makin besar. Penurunan anatomik dan fungsional dari organ-organ pada lansia akan mempermudah timbulnya penyakit pada organ tersebut (Martono, 2009). Berbagai perubahan tersebut antara lain : 1. Sistem Panca Indra Terdapat perubahan morfologi yang bersifat pada panca

indra. Perubahan fungsional

degeneratif ini,

memberi manifestasi pada morfologi berbagai organ panca indra tersebut baik pada fungsi melihat, mendengar, keseimbangan

ataupun perasa dan perabaan. Pada keadaan yang ekstrim dapat bersifat patologik, misalnya terjadi ekstropion/entropion, ulkus kornea,

glaucoma, dan katarak pada mata, sampai keadaan konfusio akibat penglihatan yang terganggu. Pada telinga, dapatterjadi tuli konduksi dan sindroma Meniere (keseimbangan). 2. Sistem gastrointestinal Mulai dari gigi sampai anus terjadi perubahan morfologik degeneratif, antara lain perubahan atrofik pada rahang, sehingga gigi lebih mudah tanggal. Perubahan atrofik juga terjadi pada mukosa, kelenjar, dan otot-otot pencernaan. Berbagai perubahan morfologi k akan meyebabkan perubahan fungsional sampai perubahan patologik, yang meliputi gangguan mengunyah dan menelan, penurunan nafsu makan, konstipasi, serta berbagai penyakit sistem

gastrointestinal.

3. Sistem respirasi Sistem respirasi sudah mencapai kematangan pertumbuhan pada usia 2025 tahun, setelah itu mulai menurun fungsinya. Elastisitas paru menurun, kekakuan dinding dada meningkat, kekuatan otot dada menurun. Semua ini mengakibatkan turunnya rasio ventilasi-perfusi dibagian paru yang tak bebas dan pele baran gradient alveolar arteri untuk oksigen. Disamping itu, pada sistem respirasi jugaterjadi penurunan gerak silia di dinding sistem respirasi, penurunan refleks batuk dan refleks fisiologik lain, yang menyebabkan peningkatan kemungkinan terjadinya infeksi akut pada saluran nafas bawah. Berbagai penurunan morfologik dan fungsional tersebut akan mempermudah terjadinya berbagai keadaan patologik diantaranya PPOK (penyakit paru obstruktif kronis),

penyakit infeksi paru akut/kronis, dan keganasan pada paru-bronkus. 4. Sistem persendian Pada sinovial sendi terjadi perubahan berupa tidak ratanya permukaan sendi, fibrilasi, dan pembentukan celah dan lekukan di

permukaan tulang rawan. Erosi tulang rawan hialin menyebabkan eburnasi tulang dan pembentukan kista di rongga subkondra dan sumsum tulang. Semua perubahan ini serupa dengan yang terdapat pada osteoartrosis. Keadaan tersebut baru bisa dikatakan patologik bila terdapat stres tambahan, misalnya bila terjadi trauma atau pada sendi penanggung beban. Diantara penyakit sendi yang sering terdapat pada usia lanjut adalah osteoartritis, rematoid artritis, gout dan pseudogout, artritis monoartikuler senilis dan rematika polimialgia. 5. Infeksi dan imunologi Pada usia lanjut timus mengalami resorbsi. Jumlah sel T dan sel B tidak berubah, walaupun secara kuantitatif terjadi perubahan berupa tanggapan terhadap stimulasi artifisial. Pada usia lanjut pembentukan autoantibodi pun meningkat sehingga insidensi penyakit autoimun

meningkat. Pengenalan d a n p e n ye r a n g a n terhadap sel-sel tumor juga menurun, menyebabkan insidensi penyakit neoplasma meningkat. Tanggapan makrofag dan imunitas bawaan yang lain, misalnya sel mukosa, sel kulit, silia di system respirasi, serta

pembentukan protein fase akut sehingga meningkatkan faktor predisposisi terhadap terjadinya penyakit infeksi. Peningkatan predisposisi pada infeksi tersebut penting pada lansia,

karena pada usia lanjut infeksi cenderung menjadi berat, bahkan menyebabkan kematian. Infeksi saluran nafas

bawah (pneumonia dan bronkhopneumonia) serta infeksi saluran kemih merupakan infeksi penting pada usia lanjut, yang bisa berlanjut lebih berat. Faktor-faktor yang memperberat infeksi tersebut diantaranya adalah imobilisasi, instrumentasi, serta iatrogenik. 6. Sistem saraf pusat dan otonom Terjadi penurunan berat otak sekitar 10 % pada penuaan antara umur 30 sampai 70 tahun. Disamping meningen menebal, giri dan sulci otak berkurang kedalamannya. Akan tetapi kelainan ini tidak menimbulkan kelainan patologik yang berarti. Pada semua sitoplasma sel juga terjadi deposit lipofusin yang sering disebut pigmen wear and tear . Yang bersifat patologis adalah adanya degenerasi pigmen substansia nigara, kekusutan

neurofibriler dan

pembentukan badan-badan Hirano. Keadaan

ini sesuai dengan proses terjadinya patologi pada sindrom Parkinson dan demensia tipe Alzeimer. Pada pembuluh darah terjadi penebalan tunika intima dan tunika media sehingga sering terjadi gangguan vaskularisasi otak yang berakibat terjadinya TIA, stroke, dan demensia vaskuler. Vaskularisasi yang menurun pada daerah hipotalamus

menyebabkan terjadinya gangguan saraf otonom, disamping mungkin sebagai akibat pengaruh berkurangnya berbagai beurotransmiter.

Penyakit metabolik seperti diabetes, hipotiroid, dan hipertiroid dapat

menyebabkan gangguan pada sususna saraf tepi, baik yang bersifat otonom atau tidak. 7. Sistem kulit dan integumen Terjadi atrofi epidermis, kelenjar keringat, folikel rambut, serta berubahnya pigmentasi dengan akibat penipisan kulit, fragil seperti selaput (seperti kulit ari buah salak). Warna kulit berubah dan terjadi pigmentasi yang tidak merata. Kuku

menipis dan mudah patah, rambut rontok sampai terjadi kebotakan. Lemak subkutan berkurang menyebabkan

berkurangnya bantalan kulit, sehingga daya tahan terhadap tekanan dan perubahan suhu menjadi berkurang. Akibatnya pada lansia mudah terjadi dekubitus, hipotermia. Penipisan kulit tersebut menyebabkan kulit mudah terluka dan terjadi infeksi kulit. 8. Otot dan tulang Otot-otot mengalami atrofi karena berkurangnya aktivitas, gangguan metabolik, atau denervasi saraf. Dengan

bertambahnya usia, proses berpasangan ( coupling ) penulangan yaitu perusakan dan pembentukan tulang melambat, terutama pembentukannya. Hal ini selain akibat menurunnya aktivitas tubuh, jugaakibat penurunan hormon estrogen (pada wanita), vitamin D (terutama orang yangkurang terkena sinar matahari) dan beberapa hormon lain seperti kalsitonin dan parathormon. Tulang-tulang terutama trabekulae menjadi lebih berongga -

rongga,mikroarsitektur berubah dan sering berakibat patah tulang baik akibat benturanringan maupun spontan. 9. Badan Menyeluruh Pada lansia terjadi penurunan tinggi badan (postur bungkuk karena kifosis), berat badan menurun, rasio lemak atau BB bersih meningkat, dan air tubuh total juga menurun.

B. Pneumonia Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis, yang mencakup bronkiolus respiratorius, alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan pertukaran gas setempat. Etiologi dari pneumonia adalah : 1. Bakteri Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organsime gram positif seperti Streptococcus pneumonia, S. aureus dan S. pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, Klebsiella pneumonia dan P.Aeruginosa. 2. Virus Disebabkan oleh virus influenza yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyabab utama pneumonia virus. 3. Jamur Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah serta kompos. 4. Protozoa Menimbulkan terjadinya pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami imunosupresi Manifestasi klinis pneumonia berupa (1) kesulitan dan sakit pada saat bernafas, (2) nyeri pleuritik, nafas dangkal dan mendengkur, takipnea (3) bunyi krekels, ronkhi, egofoni di atas area yang mengalami konsolidasi, (4) gerakan dada tidak simetris, (5) menggigil dan demam 38,8-41,1C, delirium (6) batuk kental, produktif, serta (7) sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan/berkarat. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan antara lain: 1. Sinar X, untuk mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses luas/infilrat, emfiema (staphylococcus); infiltrat

menyebar atau terlokalisasi (bakterial); atau penyebaran/perluasan infiltrat nodul (virus). 2. GDA. Nilai tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada 3. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah, diambil dengan biopsi jarum, aspirasi transtrakheal, bronkoskopi fiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab 4. JDL, leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada infeksi virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial 5. Pemeriksan serologi; titer virus atau legionella, aglutinin dingin Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien pneumonia berupa kemoterapi. Pemberian kemoterapi harus berdasarkan petunjuk penemuan kuman penyebab infeksi (hasil kultur sputum dan tes sensitivitas kuman terhadap antibodi). Bila penyakitnya ringan antibiotik diberikan secara oral, sedangkan bila berat diberikan secara parenteral. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal akibat proses penuaan, maka harus diingat kemungkinan penggunaan antibiotik tertentu perlu penyesuaian dosis. Selain itu diberika pula pengobatan umum, terapi oksigen, hidrasi (bila ringan hidrasi oral, tetapi jika berat dehidrasi dilakukan secara parenteral), fisioterapi, serta tirah baring.

C. Mobilisasi dan Imobilisasi Mobilisasi atau kemampuan seseorang untuk bergerak bebas

merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi.Tujuan mobilisasi adalah memenuhi kebutuhan dasar (termasuk melakukan aktifitas hidup sehari-hari dan aktifitas rekreasi), mempertahankan diri (melindungi diri dari trauma), mempertahankan konsep diri, mengekspresikan emosi dengan gerakan tangan non verbal. Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Faktor yang mempengaruhi mobilisasi antara lain (1)

sistem neuromuskular, (2) gaya hidup, (3) ketidakmampuan, (4) tingkat energi, dan (5) tingkat perkembangan (Leahy dan Kizilay, 1998). Imobilisasi didefinisikan sebagai keadaan yang tidak bergerak/tirah baring selama tiga hari atau lebih dengan gerakan anatomik tubuh menghilang akibat perubahan fungsi fisiologik. Berbagai faktor fisik, psikologis, dan lingkungan dapat menyebabkan imobilisasi pada usia lanjut. Penyebab utama imobilisasi adalahadanya rasa nyeri, lemah, kekakuan otot, ketidakseimbangan, dan masalah psikologis. Osteoartritis merupakan penyebab utama kekakuan pada usia lanjut. Gangguan fungsi kognitif berat seperti pada demensia dan gangguan fungsimental seperti depresi juga menyebabkan imobilisasi. Kekhawatiran keluarga yang berlebihan dapat menyebabkan orang lanjut usia terus-menerus berbaring ditempat tidur baik di rumah maupun di rumah sakit. Tatalaksana umum pada pasien imobilisasi membutuhkan kerjasama tim medis interdisiplin dengan partisipasi pasien, keluarga, dan pramuwedha. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai bahaya tirah baring lama, pentingnya latihan bertahap dan ambulasi dini, serta mencegah

ketergantungan pasien dengan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari sendiri, semampu pasien. Dilakukan pengkajian geriatri paripurna, perumusan target fungsional, dan pembuatanrencana terapi yang mencakup perkiraan waktu yang diperlukan untuk mencapai target terapi, kenali dan berikan terapi bila terjadi infeksi, malnutrisi, anemia, gangguan cairan dan elektrolit yang mungkin terjadi pada kasus imobilisasi, serta penyakit/kondisi penyerta lainnya. Evaluasi seluruh obat-obatan yang dikonsumsi.Obat-obatan yang dapat menyebabkan kelemahan atau kelelahan harus diturunkan dosisnya atau dihentikan bila memungkinkan.Berikan nutrisi yang adekuat, asupan cairan dan makanan yang mengandung serat, sertasuplementasi vitamin dan mineral. Program latihan dan remobilisasi dimulai ketika kestabilan kondisi medis terjadi meliputi latihan mobilitas di tempat tidur, latihan gerak sendi (pasif, aktif, dan aktif dengan bantuan), latiahan penguat otot-otot (iosotonik, isometrik, isokinetik) latihan koordinasi/keseimbangan, dan ambulasi

terbatas. Bila diperlukan, ajarkan cara penggunaan alat-alat bantu berdiri dan ambulasi. Manajemen miksi dan defekasi.Pada keadaan-keadaan khusus konsultasikan kondisi medik kepada dokter spesialis yangkompeten. Lakukan remobilisasi segera dan bertahap pada pasien-pasien yang mengalami sakit atau dirawat di rumah sakit dan panti wredha untuk mobilitas yang adekuat bagi usia lanjut yang mengalami disabilitas permanen. (Carpenito, 1999) Komplikasi pada pasien pasien imobilisasi antara lain: 1. Trombosis vena dalam Trombosis vena dalam merupakan salah satu gangguan vaskular perifer yang penyebabnya multifaktorial, meliputi faktor genetik dan lingkungan. Terdapat tiga faktor yang meningkatkan risko trombosis vena dalam yaitu karena adanya luka di vena dalam karena trauma atau pembedahan,sirkulasi darah yang tidak baik pada vena dalam, dan berbagai kondisi yang meningkatkan risiko pembekuan darah. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan sirkulasi darah tidak baik di vena dalam meliputi gagal jantung kongestive, imobilisasi lama, dan adanya gumpalan darah yang telah timbul sebelumnya. Gejala trombosis vena bervariasi, dapat berupa rasa panas, bengkak, kemerahan, dan rasa nyeri pada tungkai. 2. Emboli paru Emboli paru dapat menghambat aliran darah ke paru dan memicu refleks tertentu yang dapat menyebabkan panas yang mengakibatkan nafas berhenti secara tiba-tiba. Sebagian besar emboli paru disebabkan oleh emboli karena trombosis vena dalam. Berkaitan dengan trombosis vena dalam, emboli paru disebabkan oleh karena trombosis yang biasanya berlokasi pada tungkai bawah yang pada gilirannya akan mencapai pembuluh darah paru dan menimbulkan sumbatan yang dapat berakibat fatal. Emboli paru akibat trombosis merupakan penyebab kesakitan dan kematian pada pasien lanjut usia.

10

3. Kelemahan otot Imobilisasi akan menyebabkan atrofi otot dengan penurunan ukuran dan kekuatan otot. Penurunan kekuatan diperkirakan 1-2%

sehari.Kelemahanotot pada pasien dengan imobilisasi sering kali terjadi berkaitan dengan penurunan fungsional, kelemahan, dan jatuh. 4. Kontraktur otot dan sendi Pasien yang mengalami tirah baring lama berisiko mengalami kontraktur karena sendi-sendi tidak digerakkan.Akibatnya timbul nyeri yang menyebabkan seseorang semakin tidak mau menggerakkan sendi yang kontraktur tersebut. 5. Osteoporosis Osteoporosis timbul sebagai akibat ketidak seimbangan antara reabsorpsi tulang dan pembentukan tulang. Imobilisasi meningkatkan resabsorpsi tulang, meningkatkan kalsium serum, menghambat sekresi PTH, dan produksi vitamin D3 aktif.Faktor utama yang menyebabkan kehilangan massatulang pada imobilisasi adalah meningkatnya resorpsi tulang. 6. Ulkus Dekubitus Luka akibat tekanan merupakan komplikasi yang paling sering terjadipada pasien usia lanjut dengan imobilisasi. Jumlah tekanan yang dapat mempengaruhi mikro sirkulasi kulit pada usia lanjut berkisar atara 25 mmHg. Tekanan lebih dari 25 mmHg secara terus-menerus pada kukitatau jaringan lunak dalam waktu lama akan menyebabkan kompresi pembuluh kapiler. Kompresi pembuluh dalam waktu lama akan mengakibatkan trombosis intra arteri dan gumpalan fibrin yang secara permanen mempertahankan iskemia kulit. Relief bekas tekanan mengakibatkan pembuluh darah tidak dapat terbuka dan

akhirnyaterbentuk luka akibat tekanan. 7. Hipotensi Postural Hipotensi postural adalah penurunan tekanan darah sebesar 20 mmHg dari posisi berbaring ke duduk dengan salah satu gejala klinik yang

11

sering timbul adalah iskemia serebral, khususnya sinkop.Pada posisi berdiri, secara normal 600-800 ml darah dialirkan ke bagian tubuh inferior terutama tungkai.Penyebaran cairan tubuh tersebut

menyebabkan penurunan curah jantung sebanyak 20%, penurunan volume sekuncup 35%, dan akselerasi frekuensi jantung sebanyak 30%. Pada orang normal sehat, mekanisme kompensasi menyebabkan vasokonstriksi dan peningkatan denyut jantung yang menyebabkan tekanan darah tidak turun. Pada lansia, umumnya fungsi baroreseptor menurun. Tirah baring total selama paling sedikit 3 minggu akan mengganggu kemampuan seseorang untuk menyesuaikan posisi berdiri dari berbaring pada orang sehat, hal iniakan lebih terlihat pada lansia. 8. Pneumonia dan Infeksi Saluran Kencing (ISK) Akibat imobilisasi, retensi sputum dan aspirasi lebih mudah terjadi pada pasien geriatri.Pada posisi berbaring otot diafragma dan interkostal tidak berfungsi dengan baik sehingga gerakan dinding dada juga menjadi terbatas yang menyebabkan sputum sulit keluar dan pasien mudah terkena pneumonia.Aliran urin juga terganggu akibat tirah baring yang kemudian menyebabkan infeksi saluran kemih.

Inkontinensia urin juga sering terjadipada usia lanjut yang mengalami imobilisasi yang disebabkan ketidakmampuan ke toilet, berkemih yang tidak sempurna, gangguan status mental, dan gangguan sensai kandung kemih. 9. Gangguan nutrisi (hipoalbuminemia) Imobilisasi akan mempengaruhi sistem metabolik dan sistem endokrin yang akibatnya akan terjasi perubahan terhadap metabolisme zat gizi. Salah satu yang terjadi adalah perubahan metabolisme protein. Kadar plasma kortisol lebih tinggi pada usia lanjut yang mobilisasi sehingga menyebabkan metabolisme menjadi katabolisme. Keadaan tidak beraktifitas dan imobilisasi selama 7 hari akan meningkatkan ekskresi nitrogen urin sehingga terjadi hipoproteinemia.

12

10. Konstipasi dan Skibala Imobilisasi lama akan menurunkan waktu tinggal feses di kolon. Semakin lama feses tinggal di usus besar, absorbsi cairan akan lebih besar sehingga feses akan menjadi lebih keras (Craven dan Hirnle, 2000).

D. Skor Norton Skor Norton adalah skala pengkajian dekubitus untuk memprediksi timbulnya dekubitus pada pasien usia lanjut. Skala ini diciptakan berdasarkan pengalaman klinik yang mencakup lima variabel yaitu kondisi fisik, kondisi mental, aktifitas, mobilitas dan inkontinensia. Maksimum skor yang dapat dicapai pada skala ini adalah 20. Skore lebih dari 18 berarti risiko dekubitus masih rendah, 14-18 risiko sedang, 10-13 risiko tinggi dan kurang dari 10 termasuk kategori sangat tinggi. Validitas skala ini juga sudah diteliti oleh beberapa studi dengan menampilkan sensivitas dan spesifikasi pada area yang berbeda-beda. Keunggulan skala ini adalah karena sangat simpel untuk digunakan dan tidak memerlukan waktu yang lama untuk menggunakannya. Dengan evaluasi skor ini dapat dilihat perkembangan penderita. Berikut disajikan tabel skor norton. Nama Penderita Kondisi fisik - Baik - Lumayan - Buruk - Sangat Buruk Kesadaran - Kompos mentis - Apatis - Konfus/soporus - Stupor/koma Aktivitas - Ambulan - Ambulan dengan bantuan - Hanya bisa duduk - Tiduran Skor Tanggal

13

Mobilitas - Bergerak bebas - Sedikit terbatas - Sangat terbatas - Tak bisa bergerak Inkontinensia - Tidak - Kadang-kadang - Sering inkontinensia urin - Inkontinensia alvi dan urin

E. Dekubitus Dekubitus berasal dari bahasa latin decumbree yang berarti merebahkan diri yang didefenisikan sebagai suatu luka akibat posisi penderita yang tidak berubah dalam jangka waktu lebih dari 6 jam (Sabandar, 2008). Potter & Perry (2005) mengatakan dekubitus merupakan nekrosis jaringan lokal yang cenderung terjadi ketika jaringan lunak tertekan diantara tonjolan tulang dengan permukaan eksternal dalam jangka waktu lama. Terjadi gangguan mikrosirkulasi jaringan lokal dan mengakibatkan hipoksia jaringan. Jaringan memperoleh oksigen dan nutrisi serta membuang sisa metabolisme melalui darah. Beberapa faktor yang mengganggu proses ini akan mempengaruhi metabolisme sel dengan cara mengurangi atau menghilangkan sirkulasi jaringan yang menyebabkan iskemi jaringan. Faktor yang menjadi predisposisi terjadinya luka dekubitus pada pasien yaitu: 1. Gangguan Input Sensorik Pasien yang mengalami perubahan persepsi sensorik terhadap nyeri dan tekanan, beresiko tinggi menggalami gangguan integritas kulit daripada pasien yang sensasinya normal. Pasien yang mempunyai persepsi sensorik yang utuh terhadap nyeri dan tekanan dapat mengetahui jika salah satu bagian tubuhnya merasakan tekanan atau nyeri yang terlalu besar,

14

sehingga ketika pasien sadar dan berorientasi mereka dapat mengubah atau meminta bantuan untuk mengubah posisi (Potter dan Perry, 2005). 2. Gangguan Fungsi Motorik Pasien yang tidak mampu mengubah posisi secara mandiri beresiko tinggi terhadap dekubitus. Pasien tersebut dapat merasakan tekanan tetapi tidak mampu mengubah posisi secara mandiri untuk menghilangkan tekanan tersebut. Hal ini meningkatkan peluang terjadinya dekubitus. Pada pasien yang mengalami cedera medulla spinalis terdapat gangguan motorik dan sensorik. Angka kejadian dekubitus pada pasien yang mengalami cedera medula spinalis diperkirakan sebesar 85%, dan komplikasi luka ataupun berkaitan dengan luka merupakan penyebab kematian pada 8% populasi ini (Potter dan Perry, 2005). 3. Perubahan Tingkat Kesadaran Pasien bingung, disorientasi, atau mengalami perubahan tingkat kesadaran tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari luka dekubitus. Pasien bingung atau disorientasi mungkin dapat merasakan tekanan, tetapi tidak mampu memahami bagaimana menghilangkan tekanan itu. Pasien koma tidak dapat merasakan tekanan dan tidak mampu mengubah ke posisi yang labih baik. Selain itu pada pasien yang mengalami perubahan tingkat kesadaran lebih mudah menjadi binggung. Beberapa contoh adalah pada pasien yang berada di ruang operasi dan untuk perawatan intensif dengan pemberian sedasi (Potter dan Perry, 2005). 4. Gips, Traksi, Alat Ortotik dan Peralatan Lain Gips dan traksi mengurangi mobilisasi pasien dan ekstermitasnya. Pasien yang menggunakan gips beresiko tinggi terjadi dekubitus karena adanya gaya friksi eksternal mekanik dari permukaan gips yang bergesek pada kulit. Gaya mekanik kedua adalah tekanan yang dikeluarkan gips pada kulit jika gips terlalu ketat dikeringkan atau ekstremitasnya bengkak. Peralatan ortotik seperti penyangga leher digunakan pada pengobatan pasien yang mengalami fraktur spinal servikal bagian atas. Luka dekubitus

15

merupakan potensi komplikasi dari alat penyangga leher ini (Potter dan Perry, 2005). 5. Nutrisi Buruk Pasien kurang nutrisi sering mengalami atrofi otot dan jaringan subkutan yang serius. Akibat perubahan ini maka jaringan yang berfungsi sebagai bantalan diantara kulit dan tulang menjadi semakin sedikit. Oleh karena itu efek tekanan meningkat pada jaringan tersebut (Potter & Perry, 2005). Pasien yang mengalami malnutrisi mengalami defisiensi protein dan keseimbangan nitrogen negatif dan tidak adekuat asupan vitamin C. Status nutrisi buruk dapat diabaikan jika pasien mempunyai berat badan sama dengan atau lebih dari berat badan ideal. Pasien dengan status nutrisi buruk biasa mengalami hipoalbuminunea (level albumin serum dibawah 3g/100 ml) dan anemia (Potter dan Perry, 2005). Albumin adalah ukuran variable yang biasa digunakan untuk mengevaluasi status protein pasien. Pasien yang albumin serumnya dibawah 3g/100 ml beresiko tinggi. Selain itu, level albumin rendah dihubungkan dengan lambatnya penyembuhan luka. Walaupun kadar albumin serum kurang tepat memperlihatkan perubahan protein viseral, tapi albumin merupakan prediktor malnutrisi yang terbaik untuk semua kelompok manusia (Potter dan Perry, 2005). Level total protein juga mempunyai korelasi dengan luka dekubitus, level total protein dibawah 5,4 g/100 ml menurunkan tekanan osmotik koloid, yang akan menyebabkan edema interstisial dan penurunan oksigen ke jaringan. Edema akan menurunkan toleransi kulit dan jaringan yang berada di bawahnya terhadap tekanan, friksi, dan gaya gesek. Selain itu, penurunan level oksigen meningkatkan kecepatan iskemi yang

menyebabkan cedera jaringan (Potter dan Perry, 2005). Nutrisi buruk juga mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit. Pada pasien yang mengalami kehilangan protein berat, hipoalbuminimea menyebabkan perpindahan volume cairan ekstrasel kedalam jaringan sehingga terjadi edema. Edema dapat meningkatkan resiko terjadi

16

dekubitus di jaringan. Suplai darah pada suplai jaringan edema menurun dan produk sisa tetap tinggal karena terdapatnya perubahan tekanan pada sirkulasi dan dasar kapiler (Potter dan Perry, 2005). Tiga elemen yang menjadi dasar terjadinya dekubitus yaitu 91) intensitas tekanan dan tekanan yang menutup kapiler, (2) durasi dan besarnya tekanan, dan (3) toleransi jaringan. Dekubitus terjadi sebagai hasil hubungan antar waktu dengan tekanan. Semakin besar tekanan dan durasinya, maka semakin besar pula insidensinya terbentuknya luka (Potter dan Perry, 2005). Kulit dan jaringan subkutan dapat mentoleransi beberapa tekanan. Tapi pada tekanan eksternal terbesar dari pada tekanan dasar kapiler akan menurunkan atau menghilangkan aliran darah ke dalam jaringan sekitarnya. Jaringan ini menjadi hipoksia sehingga terjadi cedera iskemi. Jika tekanan ini lebih besar dari 32 mmHg dan tidak dihilangkan dari tempat yang mengalami hipoksia, maka pembuluh darah kolaps dan trombosis. Saat tekanan dihilangkan sebelum titik kritis maka sirkulasi pada jaringan akan pulih kembali melalui mekanisme fisiologis hiperemia reaktif, karena kulit mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk mentoleransi iskemi dari otot, maka dekubitus dimulai di tulang dengan iskemi otot yang berhubungan dengan tekanan yang akhirnya melebar ke epidermis (Potter dan Perry, 2005). Pembentukan dekubitus juga berhubungan dengan adanya gaya gesek yang terjadi saat menaikkan posisi klien di atas tempat tidur. Area sakral dan tumit merupakan area yang paling rentan. Efek tekanan juga dapat di tingkatkan oleh distribusi berat badan yang tidak merata. Seseorang mendapatkan tekanan konstan pada tubuh dari permukaan tempatnya berada karena adanya gravitasi. Jika tekanan tidak terdistribusi secara merata pada tubuh maka gradien tekanan jaringan yang mendapatkan tekanan akan meningkat dan metabolisme sel kulit di titik tekanan mengalami gangguan (Potter & Perry, 2005). Salah satu cara yang paling sesuai untuk mengklasifikasikan dekubitus adalah dengan menggunakan sistem nilai atau tahapan.

17

1. Derajat I: Eritema tidak pucat pada kulit utuh, lesi luka kulit yang diperbesar. Kulit tidak berwarna, hangat, atau keras juga dapat menjadi indikator. 2. Derajat II: Hilangnya sebagian ketebalan kulit meliputi epidermis dan dermis. Luka superficial dan secara klinis terlihat seperti abrasi, lecet, atau lubang yang dangkal. 3. Derajat III: Hilangnya seluruh ketebalan kulit meliputi jaringan subkutan atau nekrotik yang mungkin akan melebar kebawah tapi tidak melampaui fascia yang berada di bawahnya. Luka secara klinis terlihat seperti lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya. 4. Derajat IV: Hilangnya seluruh ketebalan kulit disertai destruksi ekstensif, nekrosis jaringan; atau kerusakan otot, tulang, atau struktur penyangga misalnya kerusakan jaringan epidermis, dermis, subkutaneus, otot dan kapsul sendi (Potter dan Perry, 2005). Komplikasi sering terjadi pada luka dekubitus derajat III dan IV, walaupun dapat terjadi pada luka yang superfisial. Menurut Sabandar (2008) komplikasi yang dapat terjadi antara lain (1) infeksi, umumnya bersifat multibakterial baik aerobik maupun anaerobik, (2) keterlibatan jaringan tulang dan sendi seperti periostitis, dan osteotitis (3) septikimia, (4) anemia, dan (5) kematian. Menurut Potter dan Perry (2005) daerah tubuh yang sering terkena luka dekubitus adalah 1. Pada penderita pada posisi terlentang: pada daerah belakang kepala, daerah tulang belikat, daerah bokong dan tumit. 2. Pada penderita dengan posisi miring: daerah pinggir kepala (terutama daun telinga), bahu, siku, daerah pangkal paha, kulit pergelangan kaki dan bagian atas jari-jari kaki. 3. Pada penderita dengan posisi tengkurap: dahi, lengan atas, tulang iga, dan lutut.

18

Tindakan yang berguna baik untuk pencegahan maupun setelah terjadinya dekubitus adalah: 1. Meningkatkan status kesehatan penderita. Meningkatkan status kesehatan dapat dilakukan dengan cara

memperbaiki dan menjaga keadaan umum penderita, misalnya anemia diatasi, hipoalbuminemia dikoreksi, nutirisi dan hidarasi yang cukup, vitamin (vitamin C) dan mineral (Zn) ditambahkan, mengatasi/mengobati penyakit-penyakit yang ada pada penderita, misalnya DM. 2. Mengurangi/memeratakan faktor tekanan yang mengganggu aliran darah. Alih posisi/alih baring/tidur selang seling, paling lama tiap dua jam. Kekurangan pada cara ini adalah ketergantungan pada tenaga perawat yang kadang-kadang sudah sangat kurang, dan kadang-kadang

mengganggu istirahat penderita bahkan menyakitkan. 3. Kasur khusus, untuk lebih membagi rata tekan yang terjadi pada tubuh penderita, misalnya kasur dengan gelembung tekan udara yang naik turun, kasur air yang temperatur airnya dapat diatur. 4. Regangan kulit dan lipatan kulit yang menyebabkan sirkulasi darah setempat terganggu, dapat dikurangi antara lain menjaga posisi penderita, apakah ditidurkan rata pada tempat tidurnya atau duduk dikursi. Dapat juga menggunakan bantuan balok penyangga kedua kaki, bantal-bantal kecil utuk menahan tubuh penderita. Di luar negeri sering digunakan kulit domba dengan bulu yang lembut dan tebal sebagai alas tubuh penderita (Hidayat et. al., 2009). Bila sudah terjadi dekubitus, tentukan stadium dekubitus dan tindakan medik menyesuaikan apa yang dihadapi. 1. Dekubitus derajat I Dengan reaksi peradangan masih terbatas pada epidermis, kulit yang kemerahan dibersihkan hati-hati dengan air hangat dan sabun, diberi lotion, kemudian dimassase 2-3 kali/hari.

19

2. Dekubitus derajat II Dimana sudah terjadi ulkus yang dangkal, perawatan luka harus memperhatikan syarat-syarat aseptik dan antiseptik. Daerah bersangkutan digesek dengan es dan dihembus dengan udara hangat bergantian untuk merangsang sirkulasi. Dapat diberikan salep topikal, mungkin juga untuk merangsang tumbuhnya jaringan muda/granulasi. Penggantian balut dan salep ini jangan terlalu sering karena malahan dapat merusakkan pertumbuhan jaringan yang diharapkan. 3. Dekubitus derajat III Dengan ulkus yang sudah dalam, menggaung sampai pada bungkus otot dan sering sudah ada infeksi.Usahakan luka selalu bersih dan eksudat disusahakan dapat mengalir keluar. Balut jangan terlalu tebal dan sebaliknya transparan sehingga permeabel untuk masukknya

udara/oksigen dan penguapan. Kelembaban luka dijaga tetap basah, karena akan mempermudah regenerasi sel-sel kulit. Jika luka kotor dapat dicuci dengan larutan NaCl fisiologis. diperlukan. 4. Dekubitus derajat IV Dengan perluasan ulkus sampai pada dasar tulang dan sering pula diserta jaringan nekrotik. Semua langkah-langkah diatas tetap dikerjakan dan jaringan nekrotik harus dibersihkan sebab akan menghalangi Antibiotik sistemik mungkin

pertumbuhgan jaringan/epitelisasi. Beberapa preparat enzim coba diberikan untuk usaha ini, dengan tujuan mengurangi perdarahan, dibanding tindakan bedah yang juga merupakan alternatif lain. Setelah jaringan nekrotik dibuang dan luka bersih, penyembuhan luka secara alami dapat diharapkan.Beberapa usaha

mempercepat adalah antara lain dengan memberikan oksigenisasi pada daerah luka. Tindakan dengan ultrasono untuk membuka sumbatansumbatan pembuluh darah dan sampai pada transplantasi kulit setempat. Angka mortalitas dekubitus derajat IV ini dapat mencapai 40% (Hidayat et. al., 2009).

20

F. Acute Confusional State (ACS) ACS adalah sindrom mental organik yang ditandai oleh gangguan kognitif global, kesadaran menurun, perubahan aktivitas psikomotor dan gangguan siklus tidur yang terjadi akut serta berfluktuasi. Gejala awal (prodormal) biasanya berupa perasaan kelelahan, gelisah, cemas, kesulitan berpikir koheren insomnia, mimpi buruk, serta halusinasi yang hilang timbul. Sesuai definisi, terdapat gangguan kognitif global yang terdiri dari proses berpikir, memori dan persepsi. Gejala yang pertama, utama dan terakhir adalah disorientasi waktu. Pada keadaan lebih berat dapat timbul disoroentasi tempat dan orang. Gangguan memori terutama short term memory. Seringkali pasien tidak dapat membedakan halusinasi dari mimpi. Pasien juga mengalami kesulitan memusatkan perhatian, sulit berkonsentrasi, sehingga dapat terjadi kesulitan komunikasi. Gangguan kesadaran dapat timbul berupa hilangnya kesadaran akan dirinya sendiri dan lingkungan. Respon terhadap rangsangan dari luar menurun, dan tidak mampu mengkorelasikan dengan pengalaman sebelumnya sehingga pasien tidak mampu menangkap maknanya. Siklus tidur juga terganggu. Pada malam hari, pasien merasa tidak dapat tidur dan gelisah, sedangkan pada siang hari mengeluh pusing dan mengantuk. Aktivitas psikomotor dapat meningkat (hiperaktif) seperti agitatif, selalu terjaga (hyperalert) disertai halusinasi. Dapat pula terjadi keadaan hipoaktif seperti hypoalert dan lunglai. Penyakit Alzheimer, gangguan kognitif sebelumnya, pemakaian obat neuroleptik dan narkotik, fraktur (femur) saat masuk rumah sakit serta hipoalbuminemia dikatakan sebagai faktor predisposisi ACS. Selain itu, stress psikologis, kurang tidur, serta kondisi overload juga memudahkan timbulnya ACS. Pencetus ACS dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu penyakitpenyakit primer di otak, penyakit sistemik yang mempengaruhi otak, intoksikasi, dan akibat putus obat. Penyakit primer di otak misalnya berbagai

21

neoplasma atau infeksi pada susunan saraf pusat serta penyakit pembuluh darah otak (terutama hemisfer kanan) dan epilepsi. Berbagai penyakit sistemik dapat mempengaruhi otak secara sekunder antara lain uremia pada gagal ginjal kronik, gagal jantung, pneumonia, infeksi saluran kemih, berbagai penyakit kolagen, gangguan keseimbangan asam-basa,

hiponatremia, hipokalemia, dan bahkan dehidrasi. Intoksikasi obat-obat antikolinergik dan putus obat hipnotik-sedatif juga dapat mencetuskan delirium. Identifikasi pencetus delirium merupakan langkah awal yang harus dikerjakan. Sangat mungkin ditemukan lebih dari satu pencetus, mengingat multipatologi merupakan salah satu cirri pasien geriatric. Anamnesisi merupakan modalitas yang cukup ampuh untuk menapis faktor predisposisi tersebut. Tindakan pengobatan tentu tergantung penyebab dan kondisi klinis pasien saat itu. Selain terapi kausal, terapi suportif seperti mencegah polifarmasi, haloperidol (0,5 5,0 mg per dua kali sehari) serta penghentian obat antikolinergik juga perlu dipertimbangkan. Pengobatan suportif lain seperti memberikan cairan elektrolit, imbangan nutrisi, dan vitamin juga harus diperhatikan.

G. Rehabilitasi Medik Tujuan rehabilitasi medik secara umum adalah untuk mengurangi resiko terjadinya kecacatan, mencegah kecacatan dan serangan berulang, meningkatkan kemandirian pasien dan meminimalisir ketergantungan pasien terhadap orang lain. Terapi rehabilitasi medik mencakup tiga aspek utama, yaitu aspek medis, aspek psikososial dan aspek edukasional-vokasional. Rehabilitasi medik yang diberikan pada pasien ulkus dekubitus memiliki beberapa tujuan, antara lain: 1. Pemeliharaan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal, yang termasuk pengkondisian program latihan harian baik kontraksi otot isometrik dan isotonik, aktivitas penguatan aerobik, nutrisi untuk meningkatkan anabolisme protein dan pembentukan tulang.

22

2. Pemeliharaan fleksibilitas sendi yang terlibat dalam latihan rentang gerak, posisi yang tepat dengan mengatur posisi tungkai dengan ketergantungan minimal (misalnya meninggikan tungkai diatas dudukan kaki) mencegah pengumpulan darah pada ekstremitas bawah. 3. Pemeliharaan sirkulasi yang adekuat. Hal ini bisa dilakukan dengan terapi penyinaran (infra red, short wave diatermy) dan pengurutan atau massage. 4. Pemeliharaan fungsi urinaria dan usus yang normal bergantung pada dukungan nutrisi dan struktur lingkungan serta rutinitas-rutinitas untuk memfasilitasi eliminasi. 5. Edukasi pasien bisa diberikan berupa edukasi bed positioning, mobilisasi aktif untuk memelihara fungsi gerak dan meminimalisir faktor resiko terjadinya ulkus dekubitus. Sedangkan terapi rehabilitasi medik untuk pasien pneumonia utamanya bertujuan untuk pemeliharaan ventilasi yang normal meliputi hiperinflasi dan mobilisasi serta menghilangkan sekresi.

23

BAB III PEMBAHASAN

Diskusi tutorial skenario 3 blok geriatri ini mengajak mahasiswa untuk memikirkan permasalahan kompleks yang terjadi pada pasien geriatri sebagai dampak dari kondisi imobilisasinya. Berdasarkan skenario diketahui bahwa ada seorang pasien laki-laki usia 80 tahun yang diantar ke UGD RS Moewardi karena sudah beberapa hari tampak lemas, tidak mau makan, serta sering terlihat gelisah. Dari hasil aloanamnesis didapatkan informasi bahwa sudah 5 hari ini pasien tidak buang air besar (BAB) dan selama 2 minggu ini pasien hanya dapat berbaring saja. Selain itu juga diperoleh informasi bahwa pasien mengalami batuk yang berdahak tetapi tidak berdarah, tanpa disertai demam maupun nyeri dada. Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran apatis, TD 120/70 mmHg, RR 30x/menit, suhu 36oC, HR 108x/menit, suara nafas tambahan ronki basah kasar, suara nafas dasar bronchial, fremitus meningkat, skor Norton 9, dan ditemukan luka pada punggung bawah berukuran 4x5 cm dengan dasar kemerahan. Sementara hasil pemeriksaan lab menunjukkan leukosit 7500, kesuraman homogen paru kanan pada foto thorax. Usia pada pasien yang sudah termasuk dalam golongan pasien geriatri memberikan dampak pada terjadinya perubahan fungsional dan morfologik sistem organ serta penurunan dari respon imunitasnya. Perubahan morfologik berupa atrofi rahang dan atrofi mukosa esophagus disertai dengan perubahan fungsional berupa penurunan kepekaan terhadap rangsang bau dan sensitifitas pengecapan terutama untuk rasa asin dan manis menyebabkan penurunan nafsu makan pada pasien dalam skenario. Karena kondisi penurunan nafsu makan pada pasien maka jumlah asupan untuk pemenuhan kebutuhan energi dan metabolisme dalam tubuh juga semakin menurun, akibatnya badan pasien menjadi semakin lemas. Selain itu penurunan intake makanan juga menyebabkan kondisi tidak BAB selama 5 hari pada pasien, yang mana seharusnya pada intake dan kondisi normal seseorang dapat BAB minimal 2x dalam 1 minggu.

24

Imobilisasi yang terjadi pada pasien dalam skenario dapat diketahui dari hasil anamnesis yang mana disampaikan bahwa selama 2 minggu pasien hanya dapat berbaring. Kondisi imobilisasi ini memiliki berbagai dampak yang dapat semakin memperburuk kondisi klinis pasien, diantaranya: penurunan motilitas total usus dan aktivitas motorik kolon menyebabkan terjadinya konstipasi, penumpukan hasil sekresi dari traktus respiratorius sehingga dapat menyebabkan peningkatan usaha refleks batuk, dan peningkatan resiko terjadinya ulkus dekubitus akibat penekanan yang terlalu lama pada bagian tubuh tertentu. Resiko yang tinggi terhadap terjadinya ulkus dekubitus pada pasien juga tampak dari hasil skor Norton yang hanya mendapat 9, dimana skor <12 sudah menunjukkan peningkatan resiko 50 kali lebih besar. Selain sebagai mekanisme fisiologis tubuh untuk pengeluaran sekret akibat imobilitasnya, batuk berdahak yang dialami pasien terjadi karena usaha untuk mengeluarkan sisa-sisa peradangan akibat infeksi pneumonia yang dialaminya. Nyeri dada yang tidak didapatkan pada gambaran klinis pasien ini menunjukkan bahwa infeksi tidak mengenai pleura pasien dan juga menunjukkan bahwa tipe gangguan pernafasan pada infeksi pneumonianya berupa gangguan restriktif. Gangguan pernafasan restriktif menyebabkan penurunan kemampuan alveoli untuk menampung O2 akibat dari penumpukan cairan yang mengurangi volume pada alveoli, hal ini tentu semakin menurunkan saturasi O2 pada tubuh lansia yang memang seharusnya sudah menurun akibat dari perubahan fisiologis dan morfologik dari sistem respirasi pada penuaan. Akibat dari menurunnya kadar O2 dalam darah maka tubuh mengkompensasi dengan meningkatkan kecepatan pernafasan yang tampak dari hasil pemeriksaan RR 30x/menit (RR normal: 1620x/menit), selain itu kondisi saturasi O2 yang rendah juga dapat menyebabkan penurunan kuantitas kesadaran pasien menjadi apatis. Pneumonia pada pasien geriatri sering menyebabkan terjadinya kondisi dehidrasi, yang mana pasien pada skenario juga sudah mengalami dehidrasi. Kondisi dehidrasi pada pasien tampak dari penurunan kesadaran, penurunan tekanan darah menjadi 120/70 mmHg (TD normal: 140/80 mmHg), peningkatan heart rate menjadi 108x/menit (HR normal: 60-100x/menit) dan fremitus raba

25

sebagai mekanisme kompensasi akibat curah jantung yang menurun, serta penurunan suhu tubuh menjadi 36oC yang mana seharusnya pada pneumonia dewasa muncul gejala klinis demam. Tidak terjadinya demam pada pneumonia geriatri disebabkan oleh kondisi dehidrasi yang mengakibatkan berkurangnya darah yang bertugas menghantarkan panas dari sentral ke perifer. Gambaran pemeriksaan lain yang menunjukkan adanya infeksi pneumonia, diantaranya: kesuraman homogen paru kanan pada foto thorax, suara nafas bronkial, dan suara nafas tambahan ronkhi basah kasar yang menunjukkan penumpukan cairan pada bronkus dan parenkim paru. Jumlah leukosit pada pemeriksaan laboratorium yang tidak meningkat meskipun sudah terjadi infeksi disebabkan oleh karena sudah terjadinya penurunan respon dan efektifitas imunitas akibat dari proses penuaan. Luka berukuran 4x5 cm dengan dasar kemerahan yang ditemukan pada punggung bawah pasien merupakan gambaran sudah terjadinya ulkus dekubitus derajat II. Imobilitas pasien menyebabkan terjadinya penekanan pembuluh darah untuk jangka waktu yang cukup lama, sehingga terjadi gangguan sirkulasi diikuti dengan kematian kulit dan jaringan setempat. Penatalaksanaan pada pasien ini berupa oksigenasi yang bertujuan untuk membantu meningkatkan saturasi O2 dalam tubuh pasien, pemberian antibiotik untuk pengobatan dari infeksi pneumonia yang diderita pasien, terapi cairan untuk memperbaiki kondisi dehidrasi pada pasien, dan medikasi serta kasur dekubitus untuk memperbaiki kondisi dekubitusnya. Pemberian antibiotik untuk pneumonia harus didasarkan dari hasil uji resistensi, tetapi apabila hasilnya belum keluar dapat digunakan antibiotik spectrum luas terlebih dahulu. Sementara untuk dekubitus derajat II belum dibutuhkan antibiotik, melainkan lebih

memprioritaskan pada perawatan dan penyembuhan luka. Selain terapi tersebut, pasien juga perlu menjalani terapi rehabilitasi medik untuk memperbaiki kondisi imobilitasnya.

26

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Berbagai faktor, seperti faktor fisik, psikologis, dan lingkungan dapat menyebabkan terjadinya imobilisasi pada lansia. Pada skenario,

imobilisasi yang terjadi pada pasien disebabkan karena kondisi pneumonia yang telah diderita dan menurunnya status kesadaran pasien. 2. Pasien geriatri dalam skenario mengalami beberapa komplikasi akibat kondisi imobilisasi, yaitu dekubitus derajat II dan gangguan buang air besar. Pneumonia juga diperparah karena adanya imobilisasi. 3. Selain dekubitus dan gangguan buang air besar, komplikasi yang ditimbulkan imobilisasi dapat berupa trombosis, emboli paru, kelemahan otot, kontaktur otot dan sendi, osteoporosis, hipotensi postural, ISK, serta gangguan nutrisi (hipoalbuminemia). 4. Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien dalam skenario berupa oksigenasi, hidrasi, penggunaan kasur dekubitus, dan perawatan serta penyembuhan luka. Pada dekubitus derajat II belum dibutuhkan antibiotik. Selain itu dijadawalkan terapi rehabilitasi medik pada pasien.

B. Saran 1. Pengkajian geriatri paripurna, perumusan target fungsional, pembuatan rencana terapi yang mencakup perkiraan waktu yang diperlukan untuk mencapai target terapi, dan berbagai upaya pencegahan komplikasi lanjutan sebaiknya segera dilakukan untuk mengatasi kondisi pasien. 2. Edukasi mengenai bahaya tirah baring lama, pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta latihan bertahap dan ambulasi dini untuk mencegah komplikasi lebih lanjut perlu diberikan kepada pasien dan keluarganya. 3. Terapi rehabilitasi medik sebaiknya diberikan secara rutin pada pasien.

27

DAFTAR PUSTAKA

Craven, RF, Hirnle CJ, (2000).Fundamentals of nursing: Concepts, process, and practice. Edisi ke 5. California: Addison, Wesley Publishing Co. Hidayat D, Sjaiful FD, Mochtar H, (2009). Geriatri. Edisi ke 2. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Leahy JM, Kizilay PE. (1998). Foundation of nursing practice: A nursing approach. USA: WB Saunders Company. Martono, HH (2009) Aspek Fisiologik dan Patologik Akibat P r o s e s M e n u a . D a l a m : Martono, H.H. dan Pranarka, K. (eds). Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Edisi ke-4. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas KedokteranUniversitas Indonesia. Hal : 56-74. Potter PA dan Perry A. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, proses, dan praktik. Edisi ke 4. Jakarta: EGC Sabandar AO (2008). Ulkus Dekubitus. http://Alfonso de Oncrotte.Ulkus Dekubitus.mht. Diakses 10 April 2013 Setiati S dan Roosheroe AG (2006) Imobilisasi pada Usia Lanjut. Dalam: Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., dan Setiati, S. (eds). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III, Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal : 1388-90.

28