Anda di halaman 1dari 2

SULFONAMIDA Sulfonamida merupakan salah satu antimikroba tertua yang masih digunakan.

Preparat sulfonamida yang paling banyak digunakan adalah Sulfametoksazol yang dikombinasikan dengan trimetoprim yang lebih dikenal dengan nama Kotrimoksazol. Mekanisme kerja sulfametoksazol adalah dengan menghambat sintesis asam folat, sedangkan trimetoprim menghambat reduksi asam dihydrofolat menjadi tetrahydrofolat sehingga menghambat enzim pada alur sintesis asam folat. Kombinasi yang bersifat sinergis ini menyebabkan pemakaian yang luas pada terapi infeksi community-acquired seperti sinusitis, otitis media akut, infeksi saluran kencing. Aktivitas antimikroba yang dimiliki kotrimoksazol meliputi kuman gram-negatif seperti e. coli, klebsiella, enterobacter sp, M morganii, P. mirabilis, P.vulgaris, H. Influenza, salmonella serta gram-positif seperti S. Pneumoniae,Pneumocystis carinii., serta parasit seperti Nocardia sp. Dalam (http://id.scribd.com/doc/57249911/40/SULFONAMIDA diakses pada 25 oktober 2012 pukul
10:00 WIB.)

Mekanisme kerja sulfnamida adalah sebagai penghambat metabolisme sel. Senyawa ini umumnya disebut antimetabolit karena menghambat metabolisme (dengan menghambat reaksi yang dikatalisis enzim) dari organisme target tapi bukan host. Kelompok obat yang masuk kategori ini : sulfonamida. Sebelum perkembangan penisilin, sulfonamida merupakan obat pilihan untuk melawan penyakit infeksi. Saat ini sebagian besar sudah digantikan oleh penisilin. Namun karena perkembangan resistensi obat, sulfonamida mulai digunakan untuk melawan penyakit infeksi seperti oftalmik, saluran urin, membran mukosa, infeksi saluran cerna. Sulfonamide berperan sebagai inhibitor kompetitif enzim yang mensintesis prekursor biosintesis asam folat. Asam folat merupakan prekursor untuk tetrahidrofolat, yang diperlukan untuk proses biokimiawi sel, meliputi biosintesis asam nukleat. Penghambatan terhadap jalur ini akan menghentikan pembelahan sel, jadi mikroorganisme yang sensitif terhadap sulfonamid adalah yang perlu mensintesis sendiri asam folat. Sel mamalia tidak dipengaruhi karena membutuhkan pra-asam folat. Sulfonamid mempunyai efek penghambatan karena secara kompetitif berikatan pada sisi aktif enzim. Dalam (http://rinaherowati.files.wordpress.com/2011/11/senyawa-antibakteri.pdf diakses pada 25
oktober 2012 pukul 10:26 WIB.) Sulfonamida merupakan salah satu kemoterapeutika yang pertama kali digunakan secara sistematik. Pengguaanya cepat meluas. Derivat golongan ini dapat pula dimanfaatkan untuk pengobatan diabetes, diuretika, lepra, dan lain-lain. Aktivitas antimikroba: golngan sulfonamida mempunyai spektrum AM yang cukup luas, meliputi kokus gram positif dan gram negatif, serta basilus gram negatif. Pada umumnya, sulfonamida bersifat bakteristatik dan dalam dosis besar dapat bersifat bakterisid. Mikroba yang sensitif terhadap sulfonamida adalah Streptococcus pyogenes group A, pneumokokus, Bacillus anthracis, Corynebacterium diphtheriae, H. Influenzae, H. Ducreyi, brusela, Vibrio cholerae, dan Pasteurella pestis. Efek sinergistik: efektivitas kerja sulfonamida dapat diperkuat oleh AM bakteriostatik lainnya, seperti golongan tetrasiklin dan golongan kloramfenikol. Efek antagonis: kerja sulfonamida akan terhambat bila diberikan bersama : 1. Golongan basa purin. 2. Anestesi lokal. 3. Makanan yang benyak mengandung PABA (misalnya telur). 4. Nanah, darah, debris yang banyak mengandung substansi timidin, purin, metionin, dan serin.

Resistensi: penggunaan sulfonamida sering menimbulkan resistensi kuman. Resistensi ini dapat timbul karena : 1. Perubahan sistem enzimatik kuman sendiri. 2. Perubahan metabolik pathway. 3. Peningkatan prduksi antagonis. 4. Kemampuan sistesis PABA oleh bakteri yang banyak jumlahnya dan persisten. Efektifitas sulfonamida: ini bergantung pada: 1. Kadar total obat dalam tubuh. 2. Potensi sulfnamida sendiri. 3. Keadaan daya tahan tubuh penderita, daya tahan tubuh yang lemah dapat mengurangi efektivitas sulfnamida yang diberikan. 4. Faktor yang menghambat kerja obat. Dalam (staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2008. Kumpulan Kuliah Farmakologi, Ed.2. Jakarta: EGC.) Sulfonamida bersifat bakeriostatik yang aktif terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Mekanisme kerjanya menghambat pertumbuhan asam folat (pteroyglutamat) yang merupakan komponen dalam vitamin B complex. Banyak bakteri memerlukan asam folat untuk pertumbuhannya, yang mereka sintesis sendiri dengan menggunakan bahan para amino benzoic acid (PABA). Dengan diganggunya sintesis asam folat, maka kehidupan bakteri akan terganggu. Mengingat sifat kerja dari sulfonamida ini, maka selama pengobatan dengan sulfa tidak boleh diberikan obat lain yang mempunyai rumus dasar PABA seperti benzokain dan prokain. Obat ini dapat mengurangi preparat sulfa yang secara oral harus disertai dengan banyak minum dan sebaiknya disertai dengan pemberian Na bicarbonat untuk menghindari terjadinya kristalisasi (penghabrulan) pada saluran kencing, kecuali preparat sulfa yang digunakan pada infeksi saluran kencing. Untuk mengurangi bahaya kristalisasi ini, mengurangi terjadinya resistensi terhadap kuman, mengurangi toksisitas dan mencapai efek terapi yang besar kadang-kadang digunakan suatu kombinasi dari preparat sulfa. Contoh : tablet trisulfa ini harus disertai juga banyak minum air, meskipun tidak perlu ladi disertai dengan NaHCO3. Pada kombinasi antara sulfonamida dengan antibiotika, misalnya kombinasi antara trisulfa dengan penisilin hanya berkhasiat untuk menaikkan efek terapi. Pada pengobatan dengan sulfonamida harus diperhatikan dosisnya seperti halnya pada penggunaan kemoterapeutica sistemik lainnya, sebab pada dosis yang cukup, konsentrasi di dalam darah cukup efektif untuk memberantas bakteri. Dalam (Dra. V. Nuraini Widjajanti Apt. Obat-Obatan. KANISIUS.)