Anda di halaman 1dari 28

Anda telah pelajari Pembiasan Cahaya yang terbagi atas tiga kegiatan.

Mudah-mudahan Anda dapat memahami keseluruhan uraian yang ada pada setiap kegiatan tersebut. Sebab memahami pembiasan cahaya, merupakan syarat untuk mempelajari modul selanjutnya, yakni tentang Alat-alat Optik. Lagi pula pembiasan cahaya merupakan peristiwa yang sering kita jumpai di dalam kehidupan kita sehari-hari. Memahaminya berarti kita dapat menjelaskan peristiwa yang sering kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari itu. Sekarang, marilah kita ulangi secara ringkas, apa sebenarnya yang telah Anda pelajari! Pembiasan cahaya adalah pembelokan cahaya ketika berkas cahaya melewati bidang batas dua medium yang berbeda indeks biasnya. Indeks bias mutlak suatu bahan adalah perbandingan kecepatan cahaya di ruang hampa dengan kecepatan cahaya di bahan tersebut. Indeks bias relatif merupakan perbandingan indeks bias dua medium berbeda. Indeks bias relatif medium kedua terhadap medium pertama adalah perbandingan indeks bias antara medium kedua dengan indeks bias medium pertama. Pembiasan cahaya menyebabkan kedalaman semu dan pemantulan sempurna. Pada balok kaca, prisma dan lensa, berkas cahaya mengalami dua kali pembiasan. Pembiasan menyebabkan berkas sinar yang masuk pada balok kaca mengalami pergeseran saat keluar dari balok kaca tersebut. Pada prisma berkas cahaya mengalami deviasi atau penyimpangan dengan besar sudut deviasi yang bergantung pada sudut datang berkas cahaya dan sudut bias saat berkas cahaya itu keluar dari prisma tersebut. Pembiasan pada permukaan lengkung menyebabkan bayangan tampak lebih besar atau lebih kecil dari yang sesungguhnya. Lensa tipis merupakan salah satu bentuk permukaan lengkung yang memiliki dua bidang batas dengan ketebalan yang diabaikan. Lensa tipis dibedakan berdasarkan kemampuannya mengumpulkan atau menyebarkan berkas sinar yang melewatinya. Dikenal adanya lensa positif (lensa cembung atau lensa konvergen) dan lensa negatif (lensa cekung atau lensa divergen). Bayangan sebuah benda di depan lensa dapat bersifat nyata atau maya, tegak atau terbalik, diperbesar atau diperkecil bergantung posisi benda dan jenis lensanya. Dalil Esbach membantu kita untuk menentukan posisi bayangan yang dibentuk oleh lensa tipis dengan cara menjumlahkan nomor ruang benda dan nomor ruang bayangan. Bayangan yang dibentuk oleh lensa kadang tidak tajam atau buram karena adanya cacat lensa. Beberapa cacat lensa antara lain aberasi sferis, distorsi dan aberasi kromatis. Persamaan-persamaan yang ada pada modul ini: 1. Persamaan indeks bias mutlak n= 2. Persamaan indeks bias relatif n21 =

= n21

3. Persamaan pemendekan semu

4. Persamaan sudut batas (sudut kritik) sin ik = 5. Persamaan pergeseran sinar pada balok kaca t 6. Persamaan sudut pembias prisma = r1 + i2 7. Persamaan sudut deviasi prisma D = (i1 + r2) Dm = 2 i1

= (n2-1 1)
8. Persamaan permukaan lengkung

9. Persamaan lensa tipis

10. Persamaan fokus lensa gabungan

http://110.138.206.53/bahan-ajar/modul_online/fisika/MO_90/penutup.htm

MAKALAH PEMANTULAN DAN PEMBIASAN CAHAYA

PEMANTULAN DAN PEMBIASAN CAHAYA

ABSTRAK Pada percobaan pemantulan dan pembiasan cahaya ini bertujuan untuk memahami pemantulan dan pembiasan pada : plan pararel , prisma segitiga dan prisma setengah lingkaran, menentukan nilai indeks biasdan pergeseran pada plan pararel,menentukan nilai indeks bias dan deviasi minimum pada prisma segitiga, memahami pemantulan internal. Bila seberkas cahaya mengenai bidang batas antara dua medium transparan maka pada keadaan tertentu sebagian dari cahaya akan dipantulkan dan sebagian yang lain akan masuk ke medium yang kedua, di mana berkas cahaya tersebut akan dibelokan mendekati atau menjauhi garis normal. Fenomena pembelokan atau perubahan arah yang dialami berkas cahaya di medium yang kedua inilah yang disebut pembiasan cahaya. Diperoleh besarnya indeks bias pada plan pararel dengan perhitungan 1, 453 dan dengan grafik 1, 478 , dimana berbeda dengan teori dimana indeks bias kaca 1,5. Sudut deviasi pada deviasi minimum pada prisma segitiga 42 o pada perhitungan sedangkan pada gambar 50 o. Sudut pantul pada prisma setengah lingkaran sama dengan sudut pantulnya sebesar 42 o. Key Word: Pemantulan dan Pembiasan

A. PENDAHULUAN

Cahaya termasuk gelombang elektromagnetik. Karena itu cahaya dapat merambat baik melalui medium ataupun tanpa medium (vakum). Ilmu fisika yang mempelajari tentang cahaya disebut optika, yang dibagi menjadi dua : optika geometris dan optika fisis. Optika geometris mempelajari tentang pemantulan dan pembiasan , sedangkan optika fisis mempelajari tentang polarisasi, interferensi , dan difaraksi cahaya. Diketahui bahwa ketika cahaya mengenai bidang batas antara dua medium (misalnya udara dan prisma), cahaya akan dibelokkkan . Peristiwa pembelokakan cahaya ketika mengenai pembatas medium inilah yang disebut pembiasan. Dan sebagian cahaya akan dipantulkan, cahaya yang dipantulkan akan memiliki sudut pantul yang sama dengan sudut sinar datangnya.

Berbagai peristiwa dalam kehidupan sehari -hari mengenai pembiasandan pe mantulan antara lain : Saat mencelupkan pensil pada air di gelas, pensil akan tam pak

patah dipermukaan air. Saat meliat kolam renang yang airny a tampak tenang maka akan terlihat dangkal pada dasar kolam. Peristiwa peristiwa tersebut adalah salahsatu dari peristiwa pembiasan cahaya. Seperti pada balok kaca prisma merupakan benda bening yang terbuat dari kaca. Kegunaannya antara lain untuk mengarahkan berkas sinar, mengubah dan membalik letak bayangan serta menguraikan cahaya putih menjadi warna spektrum (warna pelangi). Dengan menggunakan prisma segitiga maka akan diperoleh sudut deviasi, sudut pantul dan sudut bias. Sedangkan dengan plan pararel akan diperoleh sudut bias dan jarak sinar bias terhadap sinar datang dan sudut pantulnya, serta yang terakhir menggunakan prisma setengah lingkaran menentukan sudut pantulnya.

B. TUJUAN

1. Memahami pemantulan dan pembiasan pada: plan pararel, prisma segitiga dan prisma setengah lingkaran. 2. Menentukan nilai indeks biasdan pergeseran pada plan pararel. 3. Menentukan nilai indeks bias dan deviasi minimum pada prisma segitiga. 4. Memahami pemantulan internal.

C. TINJAUAN PUSTAKA PEMANTULAN Pemantulan cahaya terdiri dari dua jenis, yaitu pemantulan baur dan pemantulan teratur. Pemantulan cahaya pada permukaan datar seperti cermin, atau permukaan air yang tenang, termasuk pemantulan teratur. Sedangkan pemantulan cahaya pada permukaan kasar seperti pakaian, kertas dan aspal jalan, termasuk dalam pemantulan baur. a. Pemantulan Teratur (Pada permukaan rata)

b. Pemantulan Baur (Pada permukaan tidak rata)

Hukum Pemantulan cahaya dapat diilustrasikan dengan gambar berikut ini : Berdasarkan gambar di atas, sinar yang menuju cermin ( P ), diketahui sebagai sinar datang ( i ), sedangkan yang meninggalkan cermin ( Q ) diketahui sebagai sinar pantul ( r ).Pada titik dimana sinar mengenai cermin, sebuah garis dapat digambarkan tegak lurus terhadap permukaan cermin,

garis ini diketahui sebagai garis normal. Garis normal membagi sudut antara sinar datang dan sudut sinar pantul menjadi dua sudut yang sama. Berdasarkan uraian di atas, maka hukum pemantulan cahaya dapat dinyatakan sebagai berikut : 1. Sinar datang, sinar pantul, garis normal berpotongan pada satu titik dan terletak pada satu bidang datar. 2. Sudut datang = sudut pantul

Jika seberkas cahaya mengenai sebuah cermin datar, maka cahaya tersebut akan dipantulkan secara teratur. Peristiwa pemantulan cahaya pada cermin datar dapat menyebabkan pembentukan bayangan benda di dalam cermin. Bayangan benda yang terbentuk pada cermin datar mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : 1. Bayangan bersifat maya (tidak dapat ditangkap oleh layar) 2. Tegak dan menghadap berlawanan arah terhadap bendanya 3. Bayangan sama besar dengan bendanya 4. Jarak bayangan ke cermin sama dengan jarak benda ke cermin. Perhatikan pembentukan bayangan pada cermin datar dalam gambar berikut ini !

Berdasarkan gambar di atas, bayangan benda pada cermin datar terbentuk di belakang cermin dan tidak dapat dilalui atau dilewati oleh cahaya yang sesungguhnya sehingga bayangan tidak dapat ditangkap oleh layar. Bayangan benda yang seperti ini disebut bayangan maya.Jika sebuah benda ditempatkan di depan sebuah cermin datar, maka akan terbentuk sebuah bayangan yang sama besar di dalam cermin. Lalu bagaimana jika sebuah benda terletak didepan dua buah cermin datar yang mengapit sudut tertentu ? Perhatikan gambar di bawah ini :

Sebuah obyek di depan dua cermin yang membentuk sudut 80, didapat jumlah bayangan sebanyak 4 buah. Dari ilustrasi di atas maka, persamaan untuk menentukan jumlah bayangan yang dibentuk oleh dua buah cermin datar yang membentuk sudut tertentu sebagai berikut

PEMBIASAN

Kaca plan pararel atau blok kaca adalah keping kaca tiga dimensi yang kedua sisinya dibuat sejajar Berdasarkan gambar di atas, cahaya yang mengenai kaca planparalel akan mengalami dua pembiasan, yaitu pembiasan ketika memasuki kaca planparalel dan pembiasan ketika keluar dari kaca plan paralel. Pada saat sinar memasuki kaca :

Sinar datang ( i ) dari udara (medium renggang) ke kaca (medium rapat) maka akan dibiaskan ( r ) mendekati garis normal ( N ).

Pada saat sinar keluar dari kaca:

Sinar datang ( i' ) dari udara (medium renggang) ke kaca (medium rapat) maka akan dibiaskan ( r' ) menjauhi garis normal ( N ) Selain itu, sinar yang keluar dari kaca palnparalel mengalami pergeseran sejauh t dari arah semula, dan besarnya pergeseran arah sinar tersebut memenuhi persamaan berikut : Keterangan : d = tebal balok kaca, (cm) i = sudut datang, () r = sudut bias, () t = pergeseran cahaya, (cm)

b. Prisma Prisma adalah zat bening yang dibatasi oleh dua bidang datar. Apabila seberkas sinar datang pada salah satu bidang prisma yang kemudian disebut sebagai bidang pembias I, akan dibiaskan mendekati garis normal. Sampai pada bidang pembias II, berkas sinar tersebut akan dibiaskan menjauhi garis normal.

Kita dapatkan persamaan sudut puncak prisma,

= sudut puncak atau sudut pembias prisma r1 = sudut bias saat berkas sinar memasuki bidang batas udara-prisma i2 = sudut datang saat berkas sinar memasuki bidang batas prisma-udara Secara otomatis persamaan di atas dapat digunakan untuk mencari besarnya i2 bila besar sudut pembias prisma diketahui.

Persamaan sudut deviasi prisma :

Keterangan : D = sudut deviasi ; i1 = sudut datang pada bidang batas pertama r2 = sudut bias pada bidang batas kedua berkas sinar keluar dari prisma = sudut puncak atau sudut pembias prisma

Hasilnya disajikan dalam bentuk grafik hubungan antara sudut deviasi (D) dan sudut datang pertama i1 :

dalam grafik terlihat devisiasi minimum terjadi saat i1 = r2

Persamaan deviasi minimum : a. Bila sudut pembias lebih dari 15

Keterangan : n1 = indeks bias medium

n2 = indeks bias prisma Dm = deviasi minimum = sudut pembias prisma

b. Bila sudut pembias kurang dari 15

Keterangan = deviasi minimum untuk b = 15 n 2-1 = indeks bias relatif prisma terhadap medium = sudut pembias

D. METODELOGI a. Alat dan Bahan Blok Kaca: o Plan pararel o Prisma Segitiga o Prisma Setengah Lingkaran Laser pointer Penggaris Busur derajad Jarum pentul Bolpen warna Alas steroform b. Cara Kerja

1buah 1buah 1buah 1buah 1buah 1buah secukupnya 3buah 1buah

1. Alat-alat percobaan disusun sesuai dengan gambar. 2. HVS diletakkan dibawah blok yang beralaskan steroform. 3. Keberadaan sinar pantul dan bias diamati pada tiap blok : Gambar 1 : Blok yang digunakan adalah plan pararel, kemudian dihitung nilai d ( jarak antara sinar pantul dan sinar bias) dan sudut bias dengan variasi sudut datang dari 10o 80o. Gambar 2 : Blok yang digunakan prisma segitiga, kemudian dihitung sudut bias dan sudut deviasi dengan 3 variasi sudut datang. Serta menetukan sudut internal/ sudut pantulnya. Gambar 3 : Blok yang digunakan adalah prisma setengah lingkaran, dihitung sudut internal/ sudut pantulnya. 4. Ketika percobaan digunakan jarum pentul untuk menandai sinar bias dan sinar pantul sehingga tidak bergeser. 5. Lukis setiap sinar datang, sinar pantul dan sinar bias pada HVS yang digunakan sebagai media alas.

E. DATA PERCOBAAN

a. Plan Parael: Lebar ; 0,1m

NO 1 2 3 4 5 6 7 8

Sudut Datang(i) 10 o 20 o 30 o 40 o 50 o 60 o 70 o 80 o

Sudut Bias (r) 7o 13,5 o 18 o 25 o 31 o 35 o 39 o 42 o

Jarak (m) 0,008 0,023 0,026 0,027 0,035 0,049 0,066 0,073

b. Prisma Segitiga

A (sudut prisma) = 90o

NO 1 2 3

Sudut Datang(i) 12 o 19 o 24 o

Sudut Bias (r) 13 o 20 o 16 o

Sudut deviasi 66 o 53 o 50 o

Sudut internal/ sudut pantul = 47o c. Prisma Setengah Lingkaran Sudut internal/ sudut pantul = 42o

F. ANALISA DATA : Pada percobaan pemantulan dan pembiasan cahaya ini bertujuan untuk memahami pemantulan dan pembiasan pada: plan pararel, prisma segitiga, dan prisma setengah lingkaran. Fungsi dari masing-masing alat pada percobaan ini antara lain: Blok (plan pararel, prisma segitiga, dan prisma setengah lingkaran) sebagai bidang/ medium rapat. Laser pointer sebagai sinar datang. Busur derajad sebagai alat mengukur sudut. Jarum pentul untuk menandai sinar bias atau sinar pantul agar tidak bergeser. Prinsip kerja dari percobaan ini adalah seberkas cahaya mengenai bidang batas antara dua medium transparan maka pada keadaan tertentu sebagian cahaya akan dipantulkan dan sebagian cahaya akan masuk ke medium kedua. Percobaan pertama mengukur sudut bias dan jarak antara sinar datang dan sinar bias (d) pada blok plan pararel. Untuk lebih memudahkan mengukur agar blok tidak bergeser posisinya, blok plan

pararel digambar pada HVS yang dipasang dibawah blok sesuai dengan pola blok serta garis normalnya. Sinar yang datang divariasi dengan 8 sudut variasi dari 10 o -80 o. Kemudian diamati jarak antara sinar datang dan sinar bias, kemudian diukur berapa jaraknya dengan menggunakan gambar berkas sinar. Selain dengan menghitung jarak melalui gambar berkas sinar, jarak dapa dihitung dengan persamaan: Hasil yang diperoleh melalui perhitungan dan gambar berbeda, dikarenakan dalam melukis berkas sinar tidak teliti dan jarumpentul bergeser. Ketika sinar datang divariasi 8 kali dihasilkan sudut bias yang sebanding dengan sudut datangnya, dimana sudut datang semakin besar maka sudut biasnya juga semakin besar pula. Kemudian mencari indeks bias pada plan pararel dengan menggunakan perhitungan grafik (sin i Vs sin r) dimana sumbu x adalah (sin r ) sudut bias dan sumbu y adalah (sin i) sudut datang. Sehingga diperoleh persamaan y = mx +c , m adalah gradien garis yaitu nilai indeks biasnya. Grafik yang terbentuk adalah grafik linier yang mana nilai sinus sudut dtang sebanding dengan sinus sudut biasnya. Untukmencari nilai indeks bias dengan perhitungan menggunakan persamaan snellius :

Sehingga terdapat 8 indeks bias tiap sudut,kemudian didapat indeks bias rata-rata sebesar 1,453. Lalu dibandingkan dengan nilai indeks bias dengan menggunakan gradien persamaan grafik y = 1,478x + 0,009. Sehingga indeks bias pada grafik 1,478. Indeks bias kaca secara teori 1,5 tetapi setelah dilakukan percobaan berbeda dengan teori baik dalam perhitungan dan persamaan grafik, ini disebabkan karena ketika melihat sudut bias kurang teliti dan ketika menandai sudut biasnya jarum pentul ditancapkan kurang tepat atau bergeser. Pada percobaan kedua mengukur sudut bias, sudut deviasi, sudut pantul dan indeks bias pada prisma segitiga. Sudut sinar datang divariasi tiga kali yaitu 12, o 19 o, dan 24 o. Sudut deviasi pada gambar diperoleh hasil 66 o, 53 o, dan 50 o. Sedangkan ketika dilakukan perhitungan dengan persamaan:

Diproleh hasil sudut deviasinya 66 o, 52 o,dan 42 o. Terlihat jika gambar dan perhitungan berbeda, ini disebabkan karena kurang teliti ketika mengamati sinar bias dan saat menandai sinar bias jarum pentul tergeser.Sedangkan indeks bias dihitung dengan menggunakan persamaan : Didapat indeks bias sebesar 0,294.Ketika sinar datang dipantulkan dan membentuk sudut pantul, sudut pantul besarnya sama dengan sudut datangnya sebesar 47 o. Sesuai dengan teori jika sinar yang terpatulkan memiliki sudut pantul yang sama dengan sudut datangnya. Pada percobaan yang terakhir menggunakan prisma setengah lingkaran, pada prisma ini hanya mencari sudut pantul, apakah sama dengan sudut datangnya. Kemudian ketika dilakukan percobaan sudut datang sebesar 42o, dann ketika sinar dipantulkan membentuk sudut yang sama pula. Sehingga pada percobban ini sesuai dengan teori dimana sinar yang dipantulkan memiliki sudut datng yang sama dengan sudut pantulnya.

G. KESIMPULAN 1. Plan Pararel :

NO 1 2 3 4 5 6 7 8

n (indeks bias) 1,42 1,106 1,618 1,521 1,487 1,509 1,493 1,472

d (pergeseran) meter 0,005 0,012 0,022 0,029 0,038 0,052 0,066 0,082

2. Prisma Segitiga: Sudut deviasi pada perhitungan: 1. 1 = 66 o 2. 2 = 52 o 3. 3 = 42 o min = 42 o Indeks bias = 0,294 Sudut internal/ sudut pantul = 47o 3. Prisma Setengah Lingkaran : 1. 1 = 66 o 2. 2 = 53 o 3. 3 = 50 o min = 50 o Sudut deviasi pada gambar:

Sudut internal/ sudut pantul = 42o 4. Pemantulan adalah seberkas cahaya mengenai permukaan bidang datar yang rata dimana sudut datang sama dengan sudut pantulnya. Pembiasan adalah pembelokkan cahaya ketika berkas cahaya melewati bidang batas dua medium yang berbeda indeks biasnya.

1. LAMPIRAN Perhitungan Grafik Gambar

2. DAFTAR PUSTAKA

Giancoli Douglas C. 2001. Fisika Edisi Kelima Jilid 2. Erlangga : Jakarta

Hidayat, Lirik. 2004. Kamus Fisika Bergambar . Bandung:

Pakar RayaSutrisno. 1994. Fisika Dasar Gelombang dan Optik . Bandung : ITB

Anonim . 2011. Pemantulan Cahaya. http://fisikasemesta.blogspot.com/2011/03/pemantulancahaya.html Anonim. 2011. Pembiasan Cahaya. http://fisikasemesta.blogspot.com/2011/04/pembiasancahaya.html http://ajengridho.blogspot.com/2012/01/makalah-pemantulan-dan-pembiasan-cahaya.html
Lensa adalah benda bening yang dibatasi oleh dua permukaan dan minimal salah satu permukaannya itu merupakan bidang lengkung. Lensa tidak harus terbuat dari kaca yang penting ia merupakan benda bening (tembus cahaya) sehingga memungkinkan terjadinya pembiasan cahaya. Oleh karena lensa tipis merupakan bidang lengkung, ada baiknya sebelum kita membahas lensa tipis, kita bahas terlebih dahulu pembiasan pada bidang lengkung secara umum. A. Pembiasan Pada Bidang Lengkung/Sferis Perlu Anda pahami bahwa hukum Snellius tentang pembiasan, tidak hanya berlaku untuk bidang datar yang bening, namun hukum ini berlaku juga untuk bidang lengkung seperti pada gambar 16 di bawah ini.

Gambar 16. Pembiasan cahaya pada bidang lengkung yang bening. Pada gambar 16 di atas benda A berada pada medium 1 dengan indeks bias mutlak n 1 di depan sebuah permukaan cembung bening yang indeks bias mutlaknya n 2. Sinar-sinar yang dekat sumbu utama datang melalui benda A menuju permukaan lengkung itu dan tiba di titik P lalu dibiaskan sehingga terbentuk bayangan benda A yakni di titik Bayangan ini bersifat nyata sebab dapat ditangkap oleh layar yang ditempatkan di titik tersebut. Sekarang, Anda perhatikan segi tiga APP', segi tiga CPP' dan segi tiga A'PP'.

tan =

tan =

tan = untuk sinar-sinar paraksial (sudut kecil) harga tan = , tan = dan tan = serta jarak t = 0 sehingga tiga persamaan di atas berubah menjadi

tan = tan = tan =

Selanjutnya, bila Anda perhatikan sudut i, nampak sudut datang ini bertolak belakang dengan sudut ( + ) sehingga kita dapatkan i=+ atau

i= dan sudut bias r yang besarnya r = sama dengan

r= Hukum Snellius untuk permukaan lengkung ini adalah n1 sin i = n2 sin r namun karena i dan r merupakan sudut-sudut kecil, maka besar sin i = i dan sin r = r, sehingga persamaan di atas dapat diubah menjadi

Pada persamaan ini d ada di ruas kiri dan kanan persamaan sehingga dapat dihilangkan dari persamaan, kita dapatkan

dan bila kita tata ulang persamaan di atas akan kita peroleh

Persamaan permukaan lengkung dengan n1 = indeks bias medium di sekitar permukaan lengkung n2 = indeks bias permukaan lengkung s = jarak benda s' = jarak bayangan R = jari-jari kelengkungan permukaan lengkung Seperti pada pemantulan cahaya, pada pembiasan cahaya juga ada perjanjian tanda berkaitan dengan persamaan-persamaan pada permukaan lengkung seperti dijelaskan dalam tabel berikut ini. s+ ss'+ s'Benda sejati (di depan permukaan lengkung) Benda maya (di belakang permukaan lengkung) Jika benda nyata (di belakang permukaan lengkung) Jika bayangan maya (di depan permukaan lengkung)

R+ R-

Jika permukaan cembung dilihat dari letak benda Jika permukaan cekung dilihat dari letak benda

Pembiasan pada permukaan lengkung tidak harus menghasilkan bayangan yang ukurannya sama dengan ukuran bendanya. Jadi istilah perbesaran (M) yang Anda temukan sewaktu mempelajari modul pemantulan cahaya, Anda jumpai kembali di sini dan persamaannya dapat ditentukan dengan bantuan gambar 17 di bawah ini.

Gambar 17. Pembentukan bayangan benda di depan permukaan cembung. Pada gambar 17, tampak 3 sinar yang melalui benda AB dan menuju permukaan lengkung dibiaskan sedemikian oleh permukaan tersebut sehingga terbentuk bayangan A'B'. Bila tinggi benda AB = h dan tinggi bayangan A'B' = h', kita dapatkan

tan i = tan r =

atau h = s tan i

atau h = - s tan r (tanda s negatif karena bayangan terbalik) Perbesaran yang terjadi adalah

Bila i dan r merupakan sudut-sudut kecil, maka harga tan i = sin i dan tan r = sin r sehingga

dengan memasukkan harga-harga sin r dan sin i pada persamaan sebelumnya, maka didapat

Persamaan perbesaran pada permukaan lengkung Contoh: 1. Jari-jari salah satu ujung permukaan sebuah silinder kaca (nkaca = 1,5) setengah bola adalah 2 cm. Sebuah benda setinggi 2 mm ditempatkan pada sumbu silinder tersebut pada jarak 8 cm dari permukaan itu. Tentukan jarak dan tinggi bayangan bila silinder berada:

a) di udara (nudara = 1) b) di air (nair = )

Penyelesaian: a. Diketahui : n1 = nu = 1 n2 = nkaca = 1,5 s = 8 cm h = 2 mm = 0,2 cm R = +2 cm (R bertanda positif karena permukaan cembung) Ditanya : s' dan h' Jawab :

s' = 1,5 x 8 = 12 cm Jadi jarak bayangan bernilai positif, yakni 12 cm di sebelah kanan permukaan lengkung, berlawanan pihak dengan sinar datang. Sementara itu perbesaran bayangan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan perbesaran pada permukaan lengkung,

= -1
Perbesaran -1 berarti bayangan terbalik dan tingginya sama dengan tinggi bendanya, yakni 2 mm.

b. Diketahui :

n1 = nair = n2 = nkaca = 1,5 s = 8 cm h = 2 mm = 0,2 cm R = + 2 cm (R bertanda positif karena permukaan cembung)

Ditanya : s' dan h' Jawab :

s' = -1,5 x 12 = -18 cm Jadi jarak bayangan bernilai negatif, yakni 18 cm di sebelah kiri permukaan lengkung, sepihak dengan sinar datang. Sementara itu sama dengan jawaban a, perbesaran bayangan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan perbesaran pada permukaan lengkung,

= +2
Perbesaran +2 berarti bayangan tegak dan tingginya 2 kali tinggi bendanya, yakni 4 mm.

Contoh: 2. Sebuah balok gelas (n = 1,5) salah satu ujungnya cekung dengan jari-jari 18 cm. Sebuah benda tegak berada 24 cm dari permukaan lengkung itu pada sumbu balok kaca itu. Tentukan letak dan perbesaran bayangan!

Diketahui :

Penyelesaian: n1 = nkaca = 1,5 (benda ada di dalam permukaan lengkung) n 2 = nu = 1 s = 24 cm R = +18 cm (R bertanda positif karena permukaan cembung) Ditanya : s dan h

Jawab :

Jadi jarak bayangan bernilai negatif, yakni 11,08 cm di sebelah kiri permukaan lengkung, sepihak dengan sinar datang. Sementara itu perbesaran bayangan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan perbesaran pada permukaan lengkung,

= +0,69 Perbesaran +0,69 berarti bayangan tegak dan besar atau tingginya 0,69 kali besar atau tinggi bendanya.

Contoh: 3. Seekor ikan berada di dalam akuarium berbentuk bola dengan jari-jari 30 cm. Posisi ikan itu 20 cm dari dinding akuarium dan diamati oleh seseorang dari luar akuarium pada jarak 45 cm dari dinding akuarium. Bila indeks bias air akuarium jarak orang terhadap ikan menurut a) orang itu b) menurut ikan. Penyelesaian: Data soal akan berbeda menurut orang dan ikan. Menurut orang berkas sinar datang dari ikan ke orang. Menurut ikan, berkas sinar datang dari orang ke ikan. Karenanya data soal ditulis untuk setiap pertanyaan. tentukanlah

a. Menurut orang (Orang melihat ikan. Sinar datang dari ikan ke mata orang)

Diketahui :

n1 = nair = n2 = n u = 1 s = 20 cm R = -30 (R bertanda negatif karena sinar datang dari ikan menembus permukaan cekung akuarium ke mata orang)

Ditanya : s Jawab :

= -18 cm
Jadi, jarak bayangan ikan atau jarak ikan ke dinding akuarium menurut orang hanya 18 cm (bukan 20 cm!). Tanda negatif pada jarak s menyatakan bahwa bayangan ikan yang dilihat orang bersifat maya. Sedangkan jarak orang ke ikan menurut orang adalah 45 cm ditambah 18 cm, yaitu 63 cm (bukan 65 cm!).

b. Menurut orang (Ikan melihat orang. Sinar datang dari orang ke mata ikan) Diketahui : n1 = nu = 1 n2 = nair = s = 45 cm R = +30 (R bertanda positif karena sinar datang dari orang menembus permukaan cekung akuarium ke mata ikan) Ditanya : s Jawab :

= -120 cm

Jadi, jarak bayangan orang atau jarak orang ke dinding akuarium menurut ikan bukan 45 cm melainkan 120 cm. Tanda minus pada jarak bayangan menyatakan bahwa bayangan bersifat maya. Jarak orang ke ikan menurut ikan sama dengan 20 cm ditambah 120 cm, yakni 140 cm. Ikan pada soal di atas hanya contoh saja sebab kita tidak tahu apakah ikan benarbenar melihat kita seperti halnya kita melihatnya. Bagaimana? Mudah-mudahan tiga contoh soal di atas dapat Anda pahami dengan baik. Tentu saja asal Anda serius dalam mempelajarinya. Cobalah kerjakan latihan soal di bawah ini. Gunakan cara yang sama seperti pada Contoh 3 di atas. Bila Anda benar akan Anda dapatkan jawaban untuk pertanyaan (a) 126 cm dan bayangan bersifat maya, untuk pertanyaan (b) bayangan juga bersifat maya berjarak 280 cm. Latihan Sebuah akuarium berbentuk bola dengan jari-jari 60 cm berisi air yang indeks biasnya . Seekor ikan di dalam akuarium itu berada pada jarak 40 cm dari dinding akuarium dan diamati oleh orang di luar akuarium 90 cm dari dinding akuarium tersebut. Tentukanlah jarak orang ke ikan: a) menurut orang b) menurut ikan Selamat mencoba!

Fokus Permukaan Lengkung

Gambar 18. (a) Fokus pertama permukaan lengkung; (b) Fokus kedua permukaan lengkung. Permukaan lengkung mempunyai dua titik api atau fokus. Fokus pertama (F1) adalah suatu titik asal sinar yang mengakibatkan sinar-sinar dibiaskan sejajar. Artinya bayangan akan terbentuk di jauh tak terhingga (s = ~) dan jarak benda s sama dengan jarak fokus pertama F1 (Gambar 18.a) sehingga dari persamaan permukaan lengkung

kita dapatkan

berapapun besar indeks bias bila dibagi tak terhingga hasilnya akan nol, sehingga

atau Sehingga kita dapatkan,

Persamaan fokus pertama permukaan lengkung/sferis Fokus kedua (F2) permukaan lengkung adalah titik pertemuan sinar-sinar bias apa bila sinar-sinar yang datang pada bidang lengkung adalah sinar-sinar sejajar (Gambar 18.b). Artinya benda berada jauh di tak terhingga (s = ) sehingga dengan cara yang sama seperti pada penurunan fokus pertama di atas, kita dapatkan fokus kedua permukaan lengkung.

Persamaan fokus kedua permukaan lengkung


Contoh: 4. Tentukan jarak fokus suatu permukaan lengkung dari kaca (nkaca = 1,5) yang berjari-jari 15 cm di udara. Penyelesaian: Jari-jari permukaan bertanda positif berarti permukaan cembung. Anggaplah sinar datang seperti pada gambar 18.a sehingga jarak fokus yang dimaksud sama dengan jarak benda dan bayangan di titik tak terhingga,

Jadi, jarak fokus pertama permukaan lengkung positif 30 cm.

http://110.138.206.53/bahan-ajar/modul_online/fisika/MO_90/kb3_1.htm

seberkas cahaya datang pada salah satu permukaan sisi prisma kaca (indeks bias n2) yang terletak di udara (indeks bias n1), seperti di tunjukkan pada gambar. Prisma memiliki sudut puncak atau sudut pembias . Perhatikan lintasan sinar sebelum memasuki prisma dan setelah memasuki prisma.

Mula-mula sinar datang dari udara memasuki prisma dari sisi sebelah kiri. Sinar ini di biaskan mendekati garis normal N1. Di dalam prisma, sinar merambat menuju sisi kanan prisma. Di sisi kanan prisma, sinar ini mengalami pembiasan lagi ke udara. Pada pembiasan yang kedua, sinar datang dari medium rapat (prisma) ke medium renggang (udara) sehingga sinar di biaskan menjauhi garis normal N2. Jika sinar datang pada permukaan pertama prisma dan sinar bias pada permukaan kedua prisma di perpanjang ke dalam prisma, maka kedua garis ini akan berpotongan di satu titik dengan membentuk sudut tertentu (lihat gambar). Sudut ini di kenal sebagai sudut deviasi prisma, dengan simbol . Jadi, sudut deviasi prisma didefinisikan sebagai sudut yang terbentuk oleh perpanjangan sinar datang dan perpanjangan sinar bias. berapakah besar sudut deviasi ? Untuk menentukan deviasi , terlebih dahulu perhatikan gambar. Jumlah sudut dalam segitiga BPC adalah 180o. jadi, BPC + + = 180o, BPC = 180o ( + ). Selanjutnya, BPC + = 180o BPC = 180o - Dua persamaan di atas menghasilkan 180o ( + ) = 180o =+ pada titik B berlaku = i1 - r1, sedangkan pada titik C berlaku = r2 - i2. Dengan demikian, persamaan di atas menghasilkan = (i1 r1) + (r2 i2) atau = (i1 + r2) - (r1 + i2) o jumlah sudut dalam segitiga BCQ adalah 180 . Jadi, BQC + r1 + i2 = 180o atau BQC = 180o (r1 + i2) Selanjutnya, BQC + = 180o atau BQC = 180o Kedua persamaan di atas menghasilkan 180o (r1 + i2) = 180 - = r1 + i 2 substitusi persamaan = r1 + i2 ke = (i1 + r2) - (r1 + i2) memberikan sudut deviasi : = i 1 + r2 dengan i1 sudut datang pada permukaan pertama, r2 sudut bias pada permukaan kedua dan sudut pembias prisma. Jika sudut datang i1 diubah-ubah, sudut deviasi juga berubah-ubah. Akan tetapi, kita dapat memperoleh nilai sudut deviasi yang paling kecil atau deviasi minimum min. berapakah nilai

min ? persamaan = i1 + r2 menunjukkan bahwa sudut deviasi bergantung pada i1 , r2 dan . Akan tetapi, tetap sehingga hanya bergantung pada i1 dan r2. Oleh karena it, min terjadi ketika i1 = r2. Dengan kata lain, sudut deviasi minimum prisma terjadi jiak sudut datang pada permukaan yang pertama sama dengan sudut bias pada permukaan kedua. Substitusi i1 = r2 ke persamaan = i1 + r2 menghasilkan min = i1 + i1 - = 2i1 i1 = ( min + ) / 2 Jika i1 = r2, maka i2 = r1 dan persamaan = r1 + i2 menjadi = r1 + i1 = 2r1s r1 = / 2 persamaan i1 = ( min + ) / 2 dan r1 = / 2 berturut-turut menunjukkan sudut datang dan sudut bias pada permukaan pertama prisma. Dengan menggunakan hukum snellius, di peroleh n1 sin i1 = n2 sin i2 n1 sin (( min + )/2) = n2 sin(/2) n2/n1 = n21 = sin(( min + )/2) / sin(/2) perhatikan bahwa n21 = n2/n1 menunjukkan indeks bias relatif medium 2 terhadap medium 1. Jika prisma dengan indeks bias n2 = n terletak di udara (n1 = 1), persamaan n2/n1 = n21 = sin(( min + )/2) / sin(/2) menjadi n = sin(( min + )/2) / sin(/2) jika sudut pembias prisma kecil ( < 10o), harga sinus sudut mendekati nilai sudutnya (dalam radian). Jadi, untuk sudut pembias kecil persamaan n2/n1 = n21 = sin(( min + )/2) / sin(/2) menjadi : n21 = ( min + )/2) / (/2) = ( min + ) / min = (n21 1) Contoh soal : Menentukan sudut deviasi prisma Sebuah prisma dengan sudut pembias = 60o dan di buat dari bahan gelas (n = 1,6) terletak di udara. Sinar datang pada salah satu sisi prisma membentuk sudut 53o. hitunglah: (a) Sudut sinar bias yang keluar dari prisma (b) Sudut deviasi prisma Penyelesaian : (a) Untuk menyelesaikan soal ini, kita akan gunakan gambar skema di atas. Pembiasan pada permukaan pertama, kita mempunyai n1 = 1, dan n2 = 1,6 dan i1 = 53o. Hukum snellius pada permukaan pertama menghasilkan n1 sin i1 = n2 sin r1 sin r1 = (n1 sin i1) / n2 = (1 sin 53o)/ 1,6 = 0,5 r1 = 30o untuk menentukan sudut datang pada permukaan kedua yaitu i2, di gunakan persamaan : = r1 + i 2 i2 = r1 = 60o 30o = 30o jadi, untuk pembiasan pada permukaan kedua, kita mempunyai n1 = 1,6 ; n2 = 1 ; dan i2 = o 30 . Hukum snellius pada permukaan kedua ini menghasilkan n1 sin i2 = n2 sin r2 sin r2 = ( n1 sin i2)/n2 = (1,6 sin 30o)/1 = 0,8 r2 = 53o 1. (b) Untuk menghitung sudut deviasi di gunakan persamaan :

= i1 + r2 = 53o + 53o 60o = 46o. 2. Menentukan sudut deviasi minimum prisma Sebuah prisma dengan sudut pembias = 60o dan di buat dari bahan gelas (n = 1,6) terletak di udara. jika sudut datang pada permukaan pertama prisma sama dengan sudut bias pada permukaan kedua, hitunglah sudut deviasi minimum prisma. Penyelesaian : Karena sudut datang pada permukaan pertama prisma sama dengan sudut bias pada permukaan kedua, maka terjadi deviasi minimum. Sudut pembias = 60o > 10o sehingga untuk menemukan sudut deviasi minimum di gunakan persamaan : n = sin(( min + )/2) / sin(/2) 1,6 = sin(( min + 60o)/2) / sin(60/2) 1,6 sin 30o = sin(( min + 60o)/2) 0,8 = sin(( min + 60o)/2) 53o = ( min + 60o)/2 min = 106o 60o = 46o.
http://syakir-berbagiilmu.blogspot.com/2012/04/pembiasan-pada-prisma.html

Prisma adalah zat bening yang dibatasi oleh dua bidang datar. Apabila seberkas sinar datang pada salah satu bidang prisma yang kemudian disebut sebagai bidang pembias I, akan dibiaskan mendekati garis normal. Sampai pada bidang pembias II, berkas sinar tersebut akan dibiaskan menjauhi garis normal. Pada bidang pembias I, sinar dibiaskan mendekati garis normal, sebab sinar datang dari zat optik kurang rapat ke zat optik lebih rapat yaitu dari udara ke kaca. Sebaliknya pada bidang pembias II, sinar dibiaskan menjahui garis normal, sebab sinar datang dari zat optik rapat ke zat optik kurang rapat yaitu dari kaca ke udara. Sehingga seberkas sinar yang melewati sebuah prisma akan mengalami pembelokan arah dari arah semula. Marilah kita mempelajari fenomena yang terjadi jika seberkas cahaya melewati sebuah prisma seperti halnya terjadinya sudut deviasi dan dispersi cahaya. 1. Sudut Deviasi

Gambar 2.1 menggambarkan seberkas cahaya yang melewati sebuah prisma. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa berkas sinar tersebut dalam prisma mengalami dua kalipembiasan sehingga antara berkas sinar masuk ke prisma dan berkas sinar keluar dari prisma tidak lagi sejajar. Sudut yang dibentuk antara arah sinar datangdengan arah sinar yang meninggalkan prisma disebut sudut deviasi diberi lambang D. Besarnya sudut deviasi tergantung pada sudut

datangnya sinar. D = i1 + r2 B .... (2.1) Keterangan : D = sudut deviasi i1 = sudut datang pada prisma r2 = sudut bias sinar meninggalkan prisma B = sudut pembias prisma Besarnya sudut deviasi sinar bergantung pada sudut datangnya cahaya ke prisma. Apabila sudut datangnya sinar diperkecil, maka sudut deviasinya pun akan semakin kecil. Sudut deviasi akan mencapai minimum (Dm) jika sudut datang cahaya ke prisma sama dengan sudut bias cahaya meninggalkan prisma atau pada saat itu berkas cahaya yang masuk ke prisma akan memotong prisma itu menjadi segitiga sama kaki, sehingga berlaku i1 = r2 = i (dengan i = sudut datang cahaya ke prisma) dan i2 = r1 = r (dengan r = sudut bias cahaya memasuki prisma). Sudut deviasi minimum dapat dinyatakan:

dengan : n1 = indeks bias medium di sekitar prisma n2 = indeks bias prisma B = sudut pembias prisma Dm = sudut deviasi minimum prisma 2. Dispersi Cahaya Dispersi yaitu peristiwa terurainya cahaya putih menjadi cahaya yang berwarna-warni, seperti terjadinya pelangi. Pelangi merupakan peristiwa terurainya cahaya matahari oleh butiranbutiran air hujan. Peristiwa peruraian cahaya ini disebabkan oleh perbedaan indeks bias dari masing-masing cahaya, di mana indeks bias cahaya merah paling kecil, sedangkan cahaya ungu memiliki indeks bias paling besar. Cahaya putih yang dapat terurai menjadi cahaya yang berwarna-warni disebut cahaya polikromatik sedangkan cahaya tunggal yang tidak bisa diuraikan lagi disebut cahaya monokromatik. Peristiwa dispersi juga terjadi apabila seberkas cahaya putih, misalnya cahaya matahari dilewatkan pada suatu prisma.

Cahaya polikromatik jika dilewatkan pada prisma akan terurai menjadi warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Kumpulan cahaya warna tersebut disebut spektrum. Lebar spektrum yang dihasilkan oleh prisma tergantung pada selisih sudut deviasi antara cahaya ungu dan cahaya merah. Selisih sudut deviasi antara cahaya ungu dan merah disebut sudut dispersi yang dirumuskan : 0 = Du - Dm .... (2.4) Jika sudut pembias prisma kecil (<15o) dan n menyatakan indeks bias prisma serta medium di sekitar prisma adalah udara, maka besarnya sudut dispersi dapat dinyatakan : 0 = (nu nm) B .... (2. 5) dengan 0 Dm Du nm nu B : dispersi merah ungu merah ungu prisma.

= = = = = = sudut sudut indeks indeks sudut

sudut deviasi deviasi bias bias

cahaya cahaya cahaya cahaya pembias

3. Prisma Akromatik

Prisma akromatik adalah susunan dua buah prisma yang terbuat dari bahan yang berbeda, disusun secara terbalik yang berfungsi untuk meniadakan sudut deviasi yang terjadi pada prisma tersebut. Misalkan sebuah prisma terbuat dari kaca kerona yang mempunyai indeks bias untuk sinar merah nm, sinar ungu nu dan sudut pembiasnya B disusun dengan prisma yang terbuat dari kaca flinta yang memiliki indeks bias untuk sinar merah nm, sinar ungu nu dan sudut pembiasnya B' maka pada prisma akromatik berlaku bahwa besarnya sudut deviasi pada prisma flinta dan prisma kerona adalah sama. Karena pemasangan yang terbalik, sehingga kedua sudut deviasi saling meniadakan sehingga berkas sinar yang keluar dari susunan prisma tersebut berupa sinar yang sejajar dengan berkas sinar yang masuk ke prisma tersebut.

Pada prisma akromatik berlaku :

4. Prisma Pandang Lurus Prisma pandang lurus yaitu susunan dua buah prisma yang disusun untuk menghilangkan sudut deviasi salah satu warna sinar, misalnya sinar hijau atau kuning. Sebagai contoh sebuah prisma yang terbuat dari kaca flinta dengan indeks bias untuk sinar hijau nh dan sudut pembiasnya B disusun dengan prisma yang terbuat dari kaca kerona dengan indeks bias sinar hijau nh dan sudut pembiasnya B'. Untuk meniadakan sudut dispersi sinar hijau maka akan berlaku :

http://masteropik.blogspot.com/2010/05/pembiasan-cahaya-pada-prisma.html

Anda mungkin juga menyukai