Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS DISKUSI II Seorang Perempuan dengan Keluhan Sering Pilek

Kelompok 9 Riska Ruswanti Rizki M Rum Rizky Syarif Lubis Rizqi Suganda Rose Tio Bunga Rosmana Apolla Putera Septiana Mirra Pratiwi Saphira Evani Savina Umar Bakadam Selvi Dyah Ayu Hendriyani Shabila Shamsa Sheila Sesarya Junya Sherly Malini Soraya Iriyanti F Stantley Suci Wulandari Susanti ( 03012233 ) ( 03012235 ) ( 03012237 ) ( 03012239 ) ( 03012241 ) ( 03012243 ) ( 03012245 ) ( 03012247 ) ( 03012249 ) ( 03012251 ) ( 03012253 ) ( 03012255 ) ( 03012257 ) ( 03012259 ) ( 03012261 ) ( 03012263 ) ( 03012265 )

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI 2013

BAB I PENDAHULUAN

Sebagian besar infeksi virus penyebab pilek dapat menyebabkan suatu sumbatan pada hidung, yang akan hilang dalam beberapa hari. Namun jika terjadi peradangan pada sinusnya dapat muncul gejala lainnya. Sinus atau sering pula disebut dengan sinus paranasalis adalah rongga udara yang terdapat pada bagian padat dari tulang tenggkorak di sekitar wajah, yang berfungsi untuk memperingan tulang tenggkorak. Rongga ini berjumlah empat pasang kiri dan kanan. Rasa sakit di bagian dahi, pipi, hidung atau daerang diantara mata terkadang dibarengi dengan demam, sakit kepala, sakit gigi atau bahan kepekaan indra penciuman kita merupaan salah satu gejala sinusitis. Terkadang karena gejala yang kita rasakan tidak spesifik, kita salah mengartikan gejala-gejala tersebut dengan penyakit lain sehingga membuat penyakit sinusitis yang diderita berkembang tanpa diobati. Penyebab sinusitis dapat virus, bakteri atau jamur. Selain itu dapat juga disebabkan oleh rhinitis akut, infeksi faring yaitu faringitis, adenoiditis dan tonsillitis. Penyebab lainnya ialah infeksi gigi rahang atas (Molar), berenang, menyelam dan trauma. Untuk lebih mengenal lagi tetang sinusitis dan pengobatannya, berikut uraiannya.

BAB II LAPORAN KASUS


Judul : Seorang perempuan dengan keluhan sering pilek Seorang wanita usia 30 tahun datang dengan keluhan sering pilek hilang timbul sejak 1 tahun yang lalu. Selain itu ia merasakan tersumbat pada kedua sisi hidungnya yang semakin lama semakin berat disertai dengan gangguan penciuman. Ia sering merasakan adanya lendir dari hidung yang turun ke tenggorok pada saat menelan. Pasien juga mengeluh rasa berat pada wajah terutama jika menunduk. Riwayat sering bersin pada waktu pagi disangkal. Riwayat pernah mimisan disangkal. Pemeriksaan tanda vital didapatkan suhu 37,8c dan tanda vital lainnya dalam batas normal. Pada pemeriksaan THT didapatkan: Kedua telinga dalam batas normal Hidung (rinoskopi anterior) cavum nasi kiri dan kanan sempit, mukosa konka nasalais tampak hiperemis dan edema, terdapat banyak sekret mukopurulen berasal dari meatus medius, tidak didapatkan deviasi septum ataupun massa. (rinoskopi posterior) terdapat sekret purulen dar kedua meatus medius kanan dan kiri, tidak tampak adanya massa. Adenoid tidak membesar, atap nasofaring tidak didapatkan adanya massa. Leher dan tenggorok dalam batas normal. Pemeriksaan laboratorium didapatkan kesan lekositosis, lainnya dalam batas normal. Sebagai dokter anda menegakkan diagnosis rinosinusitis kronis.

BAB III PEMBAHASAN


3.1 Anamnesis , Pemeriksaan Fisik, Pemeriksaan Laboraturium dan Diagnosis Identitas Nama Umur :: 30 tahun

Jenis kelamin : Wanita Masalah Pasien Merasa pilek hilang timbul sejak 1 tahun yang lalu Merasakan adanya sumbatan pada kedua sisi hidungnya yang semakin berat. Gangguan penciuman. Adanya Postnasal drip (adanya lendir dari hidung yang turun ke tenggorokan pada saat menelan. Merasa berat pada wajah terutama jika menunduk.

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Hidung (Rinoskopi anterior) cavum nasi kanan dan kiri sempit,mukosa konka nasalis tampak hiperemis dan edema,karena adanya penumpukan cairan (sekret), terdapat sekret mukopurulen yang berasal dari meatus medius. Sekret mukopurulen adalah sekret yang mengandung mukus dan purulen (nanah) dan dapat berbau busuk bila sudah terlalu parah. Timbulnya sekret paling umum disebabkan oleh karena adanya inveksi. Pada rinoskopi posterior terdapat sekret purulen dari kedua meatus medius kanan dan kiri,karena adanya inveksi virus yang menumpuk yang menyebabkan keluarnya sekret purulent.

Pemeriksaan Laboraturim Permeriksaan laboratorium didapatkan kesan lekositosis, yaitu keadaan dimana jumlah leukosit dalam darah meningkat,melebihi normal, hal ini terjadi pada penderita rinosinusitis karena peredaran darahnya terganggu akibat adanya penyumbatan pada saluran perdarahan. 3.2 Anatomi Hidung Ada 3 struktur penting dari anatomi hidung, yaitu : Dorsum nasi (batang hidung) Septum nasi Kavum nasi

Dorsum Nasi (Batang Hidung) Ada 2 bagian yang membangun dorsum nasi, yaitu : Bagian kaudal dorsum nasi. Bagian kranial dorsum nasi.

Bagian kaudal dorsum nasi merupakan bagian lunak dari batang hidung yang tersusun oleh kartilago lateralis dan kartilago alaris. Jaringan ikat yang keras menghubungkan antara kulit dengan perikondrium pada kartilago alaris. Bagian kranial dorsum nasi merupakan bagian keras dari batang hidung yang tersusun oleh os nasalis kanan & kiri dan prosesus frontalis ossis maksila. Septum Nasi Fungsi septum nasi antara lain menopang dorsum nasi (batang hidung) dan membagi dua kavum nasi. Ada 2 bagian yang membangun septum nasi, yaitu : Bagian anterior septum nasi.

Bagian posterior septum nasi.

Bagian anterior septum nasi tersusun oleh tulang rawan yaitu kartilago quadrangularis. Sedangkan bagian posterior septum nasi tersusun oleh lamina perpendikularis os ethmoidalis dan vomer. Kelainan septum nasi yang paling sering kita temukan adalah deviasi septi. Kavum Nasi Ada 6 batas kavum nasi, yaitu : Batas medial kavum nasi yaitu septum nasi. Batas lateral kavum nasi yaitu konka nasi superior, meatus nasi superior, konka nasi medius, meatus nasi medius, konka nasi inferior, dan meatus nasi inferior. Batas anterior kavum nasi yaitu nares (introitus kavum nasi). Batas posterior kavum nasi yaitu koane. Batas superior kavum nasi yaitu lamina kribrosa. Batas inferior kavum nasi yaitu palatum durum.

3.3 Anatomi Sinus Paranasal Ada 2 golongan besar sinus paranasalis, yaitu : Golongan anterior sinus paranasalis, yaitu sinus frontalis, sinus ethmoidalis anterior, dan sinus maksilaris. Golongan posterior sinus paranasalis, yaitu sinus ethmoidalis posterior dan sinus sfenoidalis. 1. Sinus Maksila Pada waktu lahir sinus maksila hanya berupa celah kecil disebelah medial orbita. Mula-mula dasarnya lebih tinggi daripada dasar rongga hidung, kemudian terus

mengalami penurunan, sehingga pada usia 8 tahun menjadi sama tinggi . Perkembangannya berjalan kearah bawah, bentuk sempurna terjadi setelah erupsi gigi permanen. Perkembangan maksimum tercapai antara usia 15 dan 18 tahun. Sinus maksila atau Antrum Highmore, merupakan sinus paranasal yang terbesar, bentuk piramid ireguler dengan dasarnya menghadap ke fosa nasalis dan puncaknya kearah apeks prosessus zygomaticus os maksila. 2. Sinus Frontal Perkembangan sinus frontal dimulai pada bulan keempat kehamilan kemudian berkembang kearah atas dari hidung pada bagian frontal reses . Sinus frontal terletak pada tulang frontal dibatas atas supraorbital dan akar hidung. Sinus ini dibagi dua oleh sekat secara vertikal dibatas midline dengan ukuran masingmasing yang bervariasi. Sinus frontal sangat berhubungan erat dengan tulang etmoid anterior . Dinding posterior dari sinus ini melebar secara inferior obliq dan posterior dimana nantinya akan bertemu dengan atap dari orbita. Ostium alami dari sinus ini terletak di anteromedial dari dasar sinus. Sel-sel infraorbita bisa terobstruksi dan membentuk mukokel yang terisolasi dari ostium dan sinus etmoid . 3. Sinus Etmoid Sel-sel etmoid mulai terbentuk pada bulan ketiga dan keempat setelah kelahiran yang merupakan invaginasi dari dinding lateral hidung pada daerah meatus medial (etmoid anterior) dan meatus superior (etmoid posterior). Saat setelah lahir, biasanya tiga atau empat sel baru tampak. Anatomi dari sinus etmoid ini cukup kompleks, bervariasi dan merupakan subjek penelitian yang baik. Sinus etmoid memiliki dinding yang tipis dengan jumlah dan ukuran yang bervariasi. Pada bagian lateral berbatasan dengan dinding medial orbita

(lamina papyracea) dan bagian medial dari kavum nasi . Sinus ini terletak di inferior dari fossa kranial anterior dekat dengan midline. Beberapa sel melebar mengelilingi frontal sfenoid dan tulang maksila. Kelompok sel anterior kecil-kecil dan banyak, drainasenya melalui meatus media, sedangkan sel-sel posterior drainasenya melalui meatus superior . 4. Sinus Sfenoid Sinus sfenoid mulai berkembang saat bulan ketiga setelah kelahiran yang merupakan invaginasi dari mukosa bagian superior posterior dari kavum nasi, yang juga dikenal sebagai sphenoethmoidal recess . Pneumatisasi sfenoid ini terjadi selama pertengahan usia kanak-kanak dan mengalami pertumbuhan yang cepat saat berusia 7 tahun. Sinus ini mengalami pertumbuhan maksimal dan terhenti setelah berusia 12 sampai 15 tahun.

Sumber : Anatomy and Function of Nasal Cavity http://www.sinus-cure.com.au/nasanat.htm

3.4 Fungsi Sinus Paranasal Pengkondosian udara dan penahan suhu sebagai termoregulator. Membantu keseimbangan kepala dan meringankan tulang wajah Resonansi suara Peredam tekanan dan frekuensi udara Membantu produksi mukus untuk membersihkan rongga hidung

3.5 Sinusitis 3.5.1 Definisi Sinusitis adalah radang pada mukosa sinus paranasal. Peradangan ini meliputi sinus maxillaris, sinus frontalis, sinus etmoidalis, dan sinus spenoidalis. Sinusitis yang paling sering terjadi adalah sinusitis maxillaris dan sinusitis etmoidalis. 3.5.2 Patofisiologi Sinusitis Kesehatan sinusitis di pengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klirens mukosiliar di dalam KOM. Mucus juga mengandung antimicrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara pernapasan. Organorgan yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa yang saling berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif di dalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serous. Kondisi ini bisa di anggap sebagai rinosinusitis non-bacterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Bila kondisi ini menetap, secret yang terkumpul dalam sinus merupakan media baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Secret menjadi purulen. Keadaan ini di sebut rinosinusitis akut bacterial dan memerlukan terapi antibiotik.

Jika terapi tidak berhasil (misalnya kerena faktor predisposisi), inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri anaerob berkembang. Mukosa makin membengkak dan ini merupakan rantai siklus yang terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertropi, polipoid atau pembentukan polip dan kista. Pada keadaan ini mungkin di perlukan tindakan operasi.

Sumber : Chronic Sinusitis Pain http://www.howtocopewithpai n.org/blog/3735/chronicsinusitis-pain/

3.5.3 Faktor Predisposisi 1. Gangguan fisik akibat kekurangan gizi, kelelahan atau penyakit sistemik 2. Kelainan anatomi yang menyebabkan gangguan saluran: a. Atresia atau strenosis koana b. Deviasi septum c. Hipertrofi konka media d. Polip yang dapat terjadi pada 30 % anak yang menderita fibrosis kistik e. Tumor atau neoplasma f. Hipertrofi adenoid g. Udem mukosa karna infeksi atau alergi

h. Benda asing 3. Kelainan imunologi seperti imunodefisiensi karna leukemia dan imunosupresi karna obat 4. Kelainan akar gigi rahang atas pada gigi molar.

3.5.4 Klasifikasi Sinusitis Berdasarkan waktu : 1. Akut Yaitu kurang dari 12 minggu, frequensi serangan/eksaserbasinya kurang dari 4x dalam 1 tahun, mukosanya dapat sembuh dengan sempurna. 2. Kronis Lebih dari 12 minggu, frequensi serangan/eksaserbasinya lebih dari 4x dalam 1 tahun, mukosanya abnormal jadi tidak sembuh dengan sempurna. Berdasarkan lokasi : 1. Sinus frontal 2. Sinus maxila 3. Sinus sfenoid 4. Sinus etmoid Berdasarkan jumlah sinus yang terkena : 1. Multisinusitis Peradangan yang mengenai mukosa beberapa sinus paranasal. 2. Pansinusitis Peradangan yang mengenai mukosa seluruh sinus paranasal. 3.5.5 Gejala Sinusitis Gejala utama pada sinusitis ialah pilek, dan lebih dari 2 minggu pada

rinosinusitis kronis. Gejala lainnya ialah mengalami demam dan badan terasa lesu, adanya gangguan penciuman, adanya lender dari tenggorokan (post nasal drip) dan terdapat rinopuluren. Gejala penyertanya berupa rasa nyeri dan rasa berat pada wajah.

3.5.6 Pemeriksaan fisik dan penunjang Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan : 1. Rinoskopi Anterior dan Posterior 2. Pemeriksaan Nasoendoskopi Pemeriksaan ini sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Pemeriksaan penunjang yang penting, yaitu antara lain : 1. Foto Polos atau CT Scan Foto polos pada posisi Waters, PA dan lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus sinus besar seperti sinus maksila dan frontal. Kelainan akan terlihat perselubungan, batas udara cairan ( air fluid level ) atau penebalan mukosa. CT scan sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena mampu menilai anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasannya. Namun karena mahal hanya dikerjakan sebagai penunjang diagnosis sinusitis kronik yang tidak membaik dengan pengobatan atau pra operasi sebagai panduan operator saat melakukan operasi sinus. 2. Pemeriksaan Transiluminasi Sinus Pada pemeriksaan transiluminasi sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan ini sudah jarang digunakan karena sangat terbatas

kegunaannya. 3. Pemeriksaan Mikrobiologik Pemeriksaan ini dilakukan serta tes resistensi dilakukan dengan mengambil sekret dari meatus medius / superior, untuk mendapat antibiotik yang tepat guna. Lebih baik lagi bila diambil sekret yang keluar dari pungsi sinus maksila. 4. Sinuskopi Ini dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila melalui meatus inferior, dengan alat endoskop bisa dilihat kondisi sinus maksila yang sebenarnya, selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi. 3.5.7 Penatalaksanaan 1. Antibiotika Meskipun tidak memegang peran penting, antibiotika dapat diberikan sebagai terapi awal. Pilihan antibiotika harus mencakup -laktamase seperti pada terapi sinusitis akut lini ke II, yaitu amoksisillin klavulanat atau ampisillin sulbaktam, sefalosporin generasi kedua, makrolid, klindamisin. Jika ada perbaikan antibiotik diteruskan mencukupi 10 14 atau lebih jika diperlukan Jika tidak ada perbaikan dapat dipilih antibiotika alternatif seperti siprofloksasin, golongan kuinolon atau yang sesuai dengan kultur. Jika diduga ada bakteri anaerob, dapat diberi metronidazol . Jika dengan antibiotika alternatif tidak ada perbaikan, maka eveluasi kembali apakah ada faktor predisposisi yang belum terdiagnosis dengan pemeriksaan nasoendoskopi maupun CT-Scan. 2. Anti inflamasi

Anti inflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang disebabkan bukan karena mikroorganisme (non infeksi).. 3. Analgesik Analgesik diberikan untuk rasa sakit kepala atau rasa sakit disekitar sinus, Ketiga pengobatan diatas diberikan selama 2-3minggu. Jika selama 2-3minggu tidak sembuh sakit tersebut berarti terjadi sinusitis kronis dan mukosa dalam keadaan abnormal. Maka tindakan yang diberikan selanjutnya dilakukan : 1. Operasi Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF). Keuntungan BSEF adalah penggunaan endoskop dengan pencahayaan yang sangat terang, sehingga saat operasi kita dapat melihat lebih jelas dan rinci adanya kelainan patologi dirongga-rongga sinus. Fungsinya untuk mengembalikan fungsi yang terganggu. Indikasinya sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi adekuat. 3.5.8 Komplikasi

Osteomielitis dan abses subperiostal Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral atau fistula pada pipi. Kelainan Intrakranial Dapat berupa meningitis, abses ektradural, abses otak dan trombosis sinus kavernosus. Kelainan Paru Seperti bronkitis kronis dan brokiektasis. Adanya kelainan sinus paranasal kelainan paru ini disebut sinobronkitis. Selain itu dapat juga timbul asma bronkial yang sukar dihilangkan sebelum sinusitis disembuhkan. Diare dan Polip

Diare sering terjadi pada anak kecil apabila mucus masuk ke kerongkongan dan tertelan. Polip juga bisa terjadi akibat sinusitis.

BAB IV KESIMPULAN

Dari penjelasan penjelasan sebelumnya dan dari hasil anamnesis yang kami dapatkan dari pasien seperti hidung tersumbat, gangguan penciuman dan sering

merasakan adanya lender yang turun ke tengorok pada saat menelan, serta dari hasil dari pemeriksaan penunjang, maka disimpulkan bahwa pasien tersebut menderita Rinosinusitis kronis. Prognosis untuk Rinosinusitis kronik yaitu Dubia Ad bonam, jika dilakukan pengobatan, tindakan dan pasien mentaati pengobatan dan anjuran dokter serta

kontrol kembali setelah operasi maka akan mendapatkan hasil yang baik.

BAB V DAFTAR PUSTAKA

Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Rostuti RD. Buku ajaran ilmu kesehatan THT-K.edisi 6.Jakarta:Balai penerbit FKUI;2007 Soedjak S, Rukmini S, Herawati S, Sukesi S. Teknik Pemeriksaan Telinga, Hidung & Tenggorok. 2000. Jakarta : EGC Lane. A.P, Kennedy. D.W. Sinusitis and Polyposis. In Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 16th edition. B.C Decker 2003 : p. 760-87 Busquets. J.M, Hwang. P.M. Nonpolypoid Rhinosinusitis: Classification, Diagnosis and Treatment. In Head and Neck Surgery Otorhinolaryngology. 4th edition. Lippincott Williams and Wilkins. Philadelphia 2006 : p. 405-16 Clary RA, Cuningham. MJ, Eavery. RD. Orbital Complications of Acute Sinusitis : Comparison of Computed Tomography Scan and Surgical Finding, Am Otorhinolaryngol. 1992 (101) : 598-600