Anda di halaman 1dari 11

Moluskum Kontagiosum

I.

Definisi

Moluskum kontagiosum adalah sebuah penyakit kulit infeksi yang disebabkan oleh virus. Virus penyebab moluskum kontagiosum adalah virus poks.1-5 Penampakan klinis dari penyakit ini berupa papul, dimana pada permukaannya terdapat lekukan yang berisi massa yang mengandung moluskum.1,2

II.

Epidemiologi

Proses transmisi penyakit ini secara kontak langsung dan secara otoinokulasi. Moluskum kontagiosum angka kejadiannya paling sering terjadi pada anak-anak tetapi terkadang penyakit ini juga terjadi pada orang dewasa.1,2,3 Pada orang dewasa penyakit ini terjadi karena adanya kontak seksual yang terjadi sehingga dapat menimbulkan lesi berupa moluskum kontagiosum. 1,3 Prevalensi penyakit ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki jika dibandingkan dengan perempuan, pada anak kecil daerah yang paling sering terkena adalah wajah, badan dan ekstrimitas. Pada orang dewasa daerah yang paling sering terkena adalah daerah pubis dan genitalia eksterna.1,5 Pada sebuah fakta dan penelitian, angka kejadian penyakit ini pada anakanak meningkat pada anak sering berenang di kolam renang. 2,6 Pada orang dengan imunodefisiensi dan keganasan angka terjadi penyakit ini dapat meningkat 7

III.

Gejala Klinis

Lesi pada moluskum kontagiosum dapat berukuran diameter 3-6 mm tetapi dapat berukuran lebih besar dari pada itu.
2,3,4

Kelainan yang terjadi pada kulit berupa papul dengan ukuran miliar

sampai lentikular, berwarna putih menyerupai lilin, berbentuk seperti kubah yang ditengahnya terdapat lekukan (delle).1,4,7 Masa inkubasi dapat berlangsung satu hingga beberapa minggu. 1,4 pada penyakit ini dapat terjadi infeksi sekunder yang pada akhirnya akan timbul supurasi.1

Gambar 1. Gambaran lesi pada moluskum kontagiosum 7

IV.

Diagnosis

Diagnosis moluskum kontagiosum pada sebagian besar kasus sudah dapat ditegakkan melalui pemeriksaan fisik melalui gejala klinis yang tampak. Pemeriksaan histopatologi melalui biopsi diperlukan untuk menegakkan diagnosis pada beberapa kasus dengan gejala klinis yang tidak khas. Pemeriksaan histopatologi pada moluskum kontagiosum akan menunjukkan gambaran proliferasi sel-sel stratum spinosum yang membentuk lobulus disertai central cellular dan viral debris. Lobulus intraepidermal akan dipisahkan oleh septa jaringan ikat dan didapatkan badan moluskum di dalam lobulus, berupa sel berbentuk bulat atau lonjong yang mengalami degenerasi keratohialin. Pada lapisan stratum basalis akan dijumpai gambaran mitosis sel dengan pembesaran nukleus basofilik. Sedangkan pada fase lanjut akan ditemui sel yang mengalami proses vakuolisasi sitoplasmik dan didapatkan globi eosinofilik. Beberapa kasus lesi moluskum kontagiosum dengan infeksi sekunder, didapatkan gambaran inflamasi predominan limfosit dan neutrofil pada pemeriksaan histopatologi. 8, 9

Gambar 2. Gambaran Histopatologi

V.

Tatalaksana

Pada umumnya prinsip pengobatan pada moluskum kontagiosum adalah mengeluarkan massa yang mengandung badan moluskum dengan menggunakan alat seperti ekstraktor komedo, jarum suntik atau kuret. Beberapa cara lain yang dapat dilakukan seperti elektrokauterisasi atau bedah beku dengan CO2, N2, dan sebagainya.1 Pada orang dewasa yang mengalami penyakit ini terapi diberikan juga pada pasangan seksualnya.1 Pemberian terapi pada penyakit ini dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan yang meliputi kebutuhan pasien, rekurensi penyakit serta kecenderungan pengobatan yang cenderung meninggalkan lesi pigmentasi atau jaringan parut. Pilihan terapi terbaru mencakup pemberian antivirus dan agen imunomodulator. Berikut ini merupakan beberapa pilihan terapi yang umum digunakan dalam penatalaksanaan moluskum kontagiosum.10

Tabel. Tatalaksana pada moluskum kontagiosum 11

Kuretase

Prinsip tatalaksana ini adalah mengeluarkan massa yang mengandung badan moluskum dengan menggunakan kuret.

Gambar 3. Proses pengeluaran massa pada moluskum kontagiosum 12

Cantharadin Cantharidin adalah agen keratolitik yang berupa larutan 0,9% collodian dan aceton. Pemberian cantharidin telah menunjukkan hasil yang memuaskan untuk terapi moluskum kontagiosum. Pemberian bahan ini terbatas pada puncak lesi, didiamkan selama 4 jam sebelum lesi dicuci. Bila pasien mampu menoleransi bahan ini,terapi dapat diulang sekali seminggu sampai lesi hilang. Efek samping pemberian terapi meliputi eritema, pruritus serta rasa nyeri dan terbakar pada daerah lesi. Kontraindikasi penggunaan Cantharidin pada lesi moluskumkontagiosum didaerah wajah.

Gambar 4. Pemberian Cantharadin pada moluskum kontagiosum 13

Gambar 5. Beberapa komplikasi yang terjadi setelah pemberian cantharidin 13

Cryosurgery (bedah beku) Cryosurgery adalah terapi yang umum dan efisien digunakan dalam pengobatan moluskum kontagiosum, terutama pada lesi dengan predileksi perianal dan perigenital. Pada terapi ini bahan yang digunakan adalah nitrogen cair. Lesi diolesi selama 10-15 detik. Pemberian terapi dapat diulang dengan interval selama 2-3 minggu. Efek samping yang dapat terjadi meliputi rasa nyeri saat pemberian terapi, erosi, ulserasi serta terbentuknya jaringan parut hipopigmentasi maupun hiperpigmentasi. Eviserasi Eviserasi merupakan metode mudah dilakukan untuk menghilangkan lesi. Cara ini dilakukan dengan mengeluarkan inti u m b i l i k a s i s e n t r a l m e l a l u i p e n g g u n a a n i n s t r u m e n s e p e r t i skalpel, ekstraktor komedo dan jarum suntik. Penggunaan metode ini mungkin tidak dapat ditoleransi oleh anak-anak. Podofilin dan Podofilotoksin Penggunaan podofilin dapat dengan menggunakan lidi kapas, dibiarkan selama 1-4 jam kemudian dilakukan pembilasan dengan menggunakan air bersih. Pemberian terapi ini dapat diulang sekali seminggu. Efek samping lokal yang dapat terjadi meliputi erosi pada permukaan kulit normal, sehingga akan timbul jaringan parut. Efek samping sistemik akibat penggunaan secara luas akan mengakibatkan neuropati saraf perifer, gangguan ginjal, ileus, leukopeni dan trombositopenia. Podofiloksin adalah suatu alternatif yang aman jika dibandingkan dengan podofilin. Podofilotoksin 5% sebanyak 0,05 diaplikasikan pada lesi 2x sehari selama 3 hari. Kontraindikasi absolut kedua bahan ini pada wanita hamil. Imiquimod Mekanisme kerja imiquimod sampai sekarang masih belum diketahui secara pasti. Pemberian imiquimod secara topikal dapat merangsang respon imun seluler dan respon imun lokal melalui stimulasi monosit, makrofag dan sel dendritik di jaringan perifer untuk memproduksi sitokin proinflamasi, hal inilah yang diduga terjadi pada terapi dengan imiquimod.

Imiquimod tersedia dalam bentuk krim 1% dan 5%, bermanfaat dalam penanganan kelainan infeksi maupun neoplasma dermatologi. Imiquimod digunakan 3 kali/minggu, digunakan pada malam hari sampai lesi hilang secara menyeluruh, dengan penggunan maksimal selama 16 minggu. Dioleskan pada tiap lesi dan didiamkan selama 6-10 jam. 8, 9 Pemakaian krim imiquimod 5%, 5 hari dalam seminggu selama 16 minggu memberikan perbaikan lesi pada 15 pasien anak dengan moluskum kontagiosum. Penggunaan krim imiquimod secara umum cukup dapat ditoleransi. Efek samping minimal berupa rasa gatal, nyeri dan terbakar pada kulit. Pada beberapa kasus pernah dilaporkan terjadinya efek samping berupa eritema, indurasi, erosi danulkus. Efek samping sistemik berupa sakit nyeri kepala, nyeri otot dan flu likesymptoms didapatkan pada beberapa kasus.Tidak didapatkan bukti timbulnya efek samping sistemik maupun toksik pada anak-anak. Antivirus Antivirus yang umum digunakan dalam pengobatan moluskum kontagiosum adalah Cidofovir. Cidofovir merupakan analog nukleosida deoxytidine monophosphate yang memiliki aktivitas antivirus terhadap sejumlah besar DNA virus seperti citomegalovirus (CMV), virus herpes simplex (HSV), Human Papiloma Virus (HPV) dan Molluscum Contagiosum Virus (MCV). 9,14 Di dalam tubuh host, cidofovir mengalami 2 fase fosforilasi melalui jalur monofosfat kinase dan piruvat kinase. Melalui kedua fase fosforilasi tersebut akan terbentuk cidofovir difosfat yang merupakan metabolit aktif cidofovir. Cidofovirdifosfat bekerja sebagai inhibitor kompetitif terhadap DNA polimerase virussehingga mampu menghambat sintesis DNA virus.14 Cidofovir tersedia dalam bentuk krim 3% , solusio intravena dan intralesi. Beberapa studi menunjukkan hasil memuaskan penggunaan cidofovir topikal maupun injeksi intralesi pada pengobatan penyakit kulit yang disebabkan oleh virus. Resolusi lesi moluskum kontagiosum didapatkan 2-6 minggu setelahpemberian terapi. 14 Sebuah laporan kasus menyebutkan efektifitas pemberian krimcidofovir 3% sekali sehari selama 8 minggu pada pengobatan 2 penderita moluskum kontagiosum anak dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Efek samping lokal pemberian terapi cidofovirmencakup reaksi inflamasi pada daerah sekitar lesi, sedangkan efek samping sistemik meliputi nefrotoksik, neutropenia dan asidosis metabolik.15

VI.

Pencegahan

a) Menghentikan semua penggunaan obat penekan imun topikal (misalnya, tacrolimus). b) Tidak memakai peralatan secara bergantian. c) Menghindari kontak langsung dengan penderita moluskum kontagiosum d) Menghindari barganti-ganti pasangan sexual

VII. Prognosis
Prognosis pada penyakit ini umumnya baik jika dilakukan tatalksana dengan tepat. Dengan cara menghilangkan lesi yang terjadi pada kulit, pemyakit ini tidak atau jarang residif.1

Daftar pustaka 1. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kelima. 2007. Balai Penerbit FKUI, Jakarta. Hal 114-115. 2. Freedberg M, Eisen A, et al. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. Fifth Edition. 1999. McGraw-Hill, United States of America. Hal 2478-81. 3. Bondi E, Jegasothy B, Lazarus G. Dermatology Diagnosis and Therapy. First Edition. 1991. Prentice-Hall International Inc, United States of America. Hal 103-104. 4. Champion R, Burton J, Ebling F. Textbook of Dermatology. Volume 2. 1992. Blackwell Scientific Publications, United States of America. Hal 876-879. 5. Moschella S, Hurley H. Dermatology. Third Edition. 1992. W.B Saunders Company, United States of America. Hal 807-808. 6. Gellis S. Warts and Molluscum Contagiosum in Children. Pediatric Annals. 1987. ProQouest Science Journals. pg 73. 7. Gould D. An overview of Molluscum Contagiosum: a viral skin condition. Nursing Standard. 2008. ProQouest Nursing & Allied Health Source. pg 45-47. 8. Crowe, Mark A. Molluscum Contagiosum . http://emedicine.medscape.com/article/910570-overview. Diunduh pada tanggal 1 Maret 2013 pada pukul 13.00 WIB. 9. Kauffman, Lisa C. Molluscum Contagiosum. http://emedicine.medscape.com/article/762548-overview. Diunduh pada tanggal 1 Maret 2013 pukul 13.10 WIB 10. Diunduh pada tanggal 1 Maret 2013 pukul 13.20 WIB
10

http://www.scribd.com/doc/24494539/PENATALAKSANAAN-MOLUSKUMKONTAGIOSUM 11. Coloe J, Burkhart C, Morrell D. Molluscum Contagiosum: Whats New and True. Pediatric Annals 2009. CME. pg 323. 12. Gonnering L, Kronish J. Treatment of Periorbital Molluscum contagiosum by Incision and Curettage. 1988. ProQuest Science Journals. pg 326. 13. Mathes E, Frieden I. Treatment of Molluscum Contagiosum with Cantharidin: A

Pratical Approach. 2010. Pediatric Annals. pg 126-128. 14. Zabawsky, Edward J. Review of Topical and Intralesional Cidofovir. Dermatology Online Journal. Vol. 6. 2000, No.1. hal 1-16. http://dermatology.cdlib.org/DOJvol6num1/therapy/cidofovir/zabawsky.html. Diunduh pada tanggal 1 Maret 2013 pukul 17.00. 15. Hanson, Daniel, Dayna G. Molluscum Contagiosum.Dermatology Online Journal.2003,9:1-11.http://dermatology.cdlib.org/92/reviews/molluscum/diven.html. Diunduh pada tanggal 1 Maret 2013 pukul 17.20

11

Anda mungkin juga menyukai