Anda di halaman 1dari 13

RECOVERY KUBIKEL OUTGOING GI WONOSARI TRAFO 1-60 MVA di PT PLN AREA PENGATUR DISTRIBUSI JATENG & DIY

Laporan Kerja Praktek Program Studi Diploma III Teknik Elektro

Oleh: ERINA CHARISMA PUTRI 21060110083005

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013
1

BAB I PENDAHULUAN

3.1 PT. PLN (Persero) APD JATENG & DIY Kantor PT PLN (Persero) Area Pengatur Distribusi Jateng & DIY berkedudukan di Jalan Gatot Subroto No. 5 Semarang dan mempunyai wilayah kerja di seluruh wilayah kerja PLN (Persero) Distribusi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Wilayah kerja APD Jateng & DIY saat ini terdiri dari 11 Area dan 71 Gardu Induk dan akan berkembang ke arah jaringan distribusi. Seluruh penyulang di wilayah APD Jateng & DIY telah dilengkapi fasilitas SCADA dengan 3 sistem Master SCADA yaitu Survalent, Ropo dan IDAS. APD Jateng & DIY memiliki tugas untuk menjaga dan meningkatkan keandalan sistem jaringan distribusi tegangan menengah 20 kV. Gardu induk sisi 20 kV , yang berisi kubikel 20 kV, merupakan wewenang penuh dari kantor APD. Tidak seperti kator PLN Area yang memiliki konsumen umum, APD Jateng dan DIY hanya memiliki satu konsumen, yaitu kantor Area. 3.2 Gardu induk Gardu Induk merupakan sub sistem dari sistem penyaluran (transmisi) tenaga listrik, atau merupakan satu kesatuan dari sistem penyaluran (transmisi). Penyaluran (transmisi) merupakan sub sistem dari sistem tenaga listrik. Berarti, gardu induk merupakan sub-sub sistem dari sistem tenaga listrik. Sebagai sub sistem dari sistem penyaluran (transmisi), gardu induk mempunyai peranan penting, dalam pengoperasiannya tidak dapat dipisahkan dari sistem penyaluran (transmisi) secara keseluruhan. Trafo-trafo daya beserta perlengkannya yang terletak disuatu wilayah disebut Gardu Induk. Gardu induk berfungsi untuk mentransformasikan daya listrik,

pengukuran, pengawasan operasi, serta pengaturan pelayanan beban. Gardu induk dapat dibedakan berdasarkan besar tegangannya, pemasangan
2

peralatanya, fungsinya, isolasinya, dan sistem rel nya. Gardu induk terdiri dari dua komponen utama yaitu switchyard/switchgear (berisi trafo, pmt, ct, vt, la, ds, dll) dan gedung kontrol (berisi panel kontrol, sumber dc, kubikel 20 kV, dll). 3.3 Kubikel 20 kV Kubikel merupakan seperangkat panel hubung bagi dengan tegangannya 20.000 Volt yang dipasang dalam gardu induk berfungsi sebagai pembagi, pemutus, penghubung, pengontrol dan proteksi system penyaluran tenaga listrik ke pusat pusat beban. Berdasarkan penggunaanya kubikel dapat dibedakan menjadi kubikel incoming, outgoing, pengukuran, pemakaian sendiri, kopel, dan interface. Secara garis besar, kubikel terdiri atas empat kompartemen yaitu kompartemen busbar, kompartemen low voltage, kompartemen pmt, dan kompartemen kabel power. Pada kubikel terpasang beberapa peralatan listrik seperti busbar, pmt (circuit breaker), trafo arus, isolator, heater, kabel power, relay proteksi, dan lain-lain. Tiap-tiap peralatan memiliki fungsi yang saling berkesinambungan untuk menjaga keandalan sistem 20 kV.

3.4 Pemeliharaan kubikel 20 kV Kegiatan pemeliharaan kubikel 20 kV merupakan kegiatan

mempertahankan atau mengembalikan kondisi baik suatu kubikel sehingga sistem penyaluran tegangan menengah 20 kV tetap terjamin kontinuitasnya. Pemeliharaan kubikel 20 kV dapat dibedakan menjadi tiga macam,yaitu pemeliharaan preventif, pemeliharaan prediktif, dan pemeliharaan korektif. Kegiatan pemeliharaan kubikel 20 kV meliputi pembersihan peralatan kubikel dari debu, pengukuran tahanan isolasi, pengukuran tahanan kontak, keserempakan pmt, kejenuhan CT, dan lain-lain.

BAB II PERMASALAHAN

Timbul panas

Timbul titik-titik air di udara

Kubikel beroperasi

Kondensasi

Peralatan menjadi lembab

Higroskopis, tahanan isolasi menurun

breakdown

korosi, partial discharge

2.1 Skematik proses breakdown pada kubikel Kubikel alstom 20 kV merupakan peralatan hubung bagi yang menurut standar IEC 60298 dan 60694 didesain untuk pemasangan di dalam ruangan. Dalam pengoperasiannya, suhu ruangan tidak boleh melebihi dari 40C dan kelembabannya tidak boleh melebihi 95%. Kubikel alstom 20 kV juga harus diletakkan pada ruangan yang lantainya benar-benar rata dan udara di dalam ruangan tersebut tidak boleh tercemar oleh debu, gas korosif, ataupun garam. Pada kenyataan di lapangan, gardu induk Wonosari terletak tepat di depan areal persawahan, dimana dengan lokasi seperti itu dapat di pastikan kondisi udaranya memiliki kelembaban yang tinggi. Meskipun kubikel alstom 20 kV diletakkan di dalam ruangan, namun ruangan tersebut tidak sepenuhnya tertutup sehingga kondisi udara di dalam ruangan sama dengan kondisi udara di luar ruangan (udara di ruangan 20 kV terkontaminasi). Ketika beban puncak suhu udara di dalam kubikel mengalami kenaikan sehingga terdapat perbedaan suhu yang signifikan antara suhu di dalam kubikel, dengan suhu di luar kubikel. Suhu yang tinggi saat beban puncak di

tambah dengan adanya udara lembab yang masuk ke dalam kubikel melalui ruang kabel power menyebabkan terjadinya proses kondensasi. Proses kondensasi ini menimbulkan titik-titik air pada udara yang menyebabkan peralatan menjadi lembab atau bahkan basah. Kelembaban ini pada bahan isolasi menyebabkan penurunan nilai tahanan isolasi yang mendukung terjadinya partial discharge. Partial discharge (dalam bentuk treeing dan conducting path)

menyebabkan turunnya kualitas isolasi/ breakdowm peralatan. Sehingga ketika ada kenaikan tegangan/arus akibat gangguan, maka titik lemah dari isolasi ini menjadi rusak/meledak/terbakar. Selain itu, kelembaban juga menyebabkan korosi pada busbar (pada kubikel alstom busbar tidak dilengkapi dengan isolasi) ataupun konduktor yang tidak dilindungi. Korosi menyebabkan tahanan kontak suatu konduktor menjadi lebih besar sehingga loses yang ditimbulkanpun juga besar.

BAB III PENYELESAIAN

Untuk mengembalikan kondisi kubikel alstom menjadi seperti kondisi seperti semula dan aman untuk beroperasi maka dilakukan kegiatan pemeliharaan prediktif terhadap kubikel alstom GI Wonosari. Kegiatan

pemeliharaan tersebut meliputi: 3.1 Pengukuran Awal Setelah beban pada kubikel alstom dilimpahkan dan kubikel aman untuk dilakukan pemeliharaan, dilakukan pelepasan peralatan yang terpasang pada kubikel (rack out pmt , pelepasan spout bushing, dan pelepasan busbar). Masing-masing alat tersebut dilakukan pengujian tahanan isolasi, tahanan kontak, dan kebocoran arus (pada pmt). Hasil uji sebagai berikut: Tahanan Isolasi Busbar Alat ukur: Kyoritsu 3125 Titik Ukur Phasa-Ground (M) Phasa-Phasa (M) Tahanan Isolasi PMT Alat ukur: Kyoritsu 3125 Titik Ukur Atas-Bawah Atas-Ground Bawah-Ground Phasa-Ground

R 40 50

S 40 35 Hasil ukur: M S 0 0 0 0

T 20 31

R 0 0 0 0

T 0 0 0 0

Kebocoran Arus PMT Alat ukur: Vanguard VBT80P R Test voltage : 10 kV Test limit : 300A 0 Test time : 5s

Hasil ukur: A S 0

T 0

Tahanan kontak PMT Alat ukur: Vanguard ATO400P Titik Ukur R Inject arus 100 A 124 Inject arus 400 A 109,4

hasil ukur: S 150,6 138,9

T 84,2 98,1

3.2 Pembersihan peralatan yang lembab Setelah melakukan pengujian awal (kondisi peralatan setelah gangguan) maka dilakukan pembersihan terhadap peralatan-peralatan yang lembab. Untuk membersihkan busbar pada tahap awal di bersihkan menggunakan alkohol lalu dilakukan silver platting pada busbar agar busbar tidak mudah korosi. Sedangkan pada housing vacuum, dilakukan pencucian

menggunakan deterjen lalu dikeringkan. Hasil uji setelah proses ini adalah sebagai berikut: Tahanan Isolasi Busbar Alat ukur: Kyoritsu 3125 Titik Ukur Phasa-Ground (M) Phasa-Phasa (M) Tahanan Isolasi PMT Alat ukur: Kyoritsu 3125 Titik Ukur Atas-Bawah Atas-Ground Bawah-Ground Phasa-Ground

R 20 46

S 23 28 Hasil ukur: M S 1.890 215.000 354.000 335.000

T 10 33

R 1.400 69.900 54.900 70.200

T 1.200 110.000 108.000 107.000

Kebocoran Arus PMT Alat ukur: Vanguard VBT80P R Test voltage : 10 kV Test limit : 300A 23,90 Test time : 5s

Hasil ukur: A S 11,09

T 15,03

3.3 Pengeringan peralatan yang breakdown Ketika tahap pembersihan selesai, tahap akhir adalah pengeringan dengan menjemur serta mengeringan dengan menggunakan dryer bersuhu 80C. setelah tahap ini hasil uji adalah sebagai berikut: Tahanan Isolasi Busbar Alat ukur: Kyoritsu 3125 Titik Ukur Phasa-Ground (M) Phasa-Phasa (M) Tahanan Isolasi PMT Alat ukur: Kyoritsu 3125 Titik Ukur Atas-Bawah Atas-Ground Bawah-Ground Phasa-Ground

R 3110 6190

S 1070 3290 Hasil ukur: M S 19600 546000 582000 349000

T 1370 5850

R 7940 97500 107000 105000

T 599000 662000 491000 334000

Kebocoran Arus PMT Alat ukur: Vanguard VBT80P R Test voltage : 10 kV Test limit : 300A 14,05 Test time : 5s

Hasil ukur: A S 9,36

T 3,45

3.4 Tahap akhir Pada tahap akhir ketika semua peralatan yang mengalami breakdown akibat lembab telah lolos pengujian, pada busbar diberikan isolasi berupa pemasangan heat shrink. Sementara housing vacuum dan spout bushing busbar yang terbuat dari bahan resin epoksi disemprotkan insulating vernish agar bahan isolasi tersebut memiliki sifat higroskopi yang rendah. Spout bushing busbar tidak di perbaiki maupun dilakukan pemeliharaan, karena pada spout bushing sudah terjadi adanya elektrikal treeing dan retakan. Karena tidak mungkin diperbaiki maka dilakukan penggantian spout bushing. Dilakukan pengukuran nilai tahanan kontak setelah korosi pada konduktor dihilangkan. Hasil uji adalah sebagai berikut:

Tahanan kontak Busbar Alat ukur: Vanguard ATO400P Titik Ukur R Inject arus 100 A 62,8 Inject arus 400 A 39,5 Tahanan kontak PMT Alat ukur: Vanguard ATO400P Titik Ukur R Inject arus 100 A 65,1 Inject arus 400 A 65

hasil ukur: S 71,8 71,9

T 70,2 70,2

hasil ukur: S 58,2 58

T 65,9 65,9

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan Setelah melakukan praktek kerja di PT. PLN (Persero) APD Jateng & DIY dengan ikut serta dalam menanggulangi permasalahan, dapat disimpilkan bahwa: Trafo daya beserta peralatan lainnya yang terletak disuatu wilayah disebut gardu induk Pemeliharaan berguna untuk meningkatkan keandalan sistem. Pemeliharaan dapat dibedakan menjadi pemeliharaan preventif, prediktif, dan korektif Kubikel merupakan peralatan hubung bagi yang berfungsi sebagai proteksi, pembagi, pemutus, serta pengontrol pada sistem jaringan tegangan menegah 20 kV Breakdown pada kubikel terjadi akibat peralatan yang lembab karena udara pada kubikel terkontaminasi Kelembaban dapat menurunkan nilai tahanan isolasi dan menimbulkan korosi pada konduktor. Tahanan isolasi yang rendah menyebabkan timbulnya partial discharge dan electrical treeing. Sementara korosi pada busbar memperbesar tahanan kontak sehingga losesnya juga besar Pembersihan dan pengeringan peralatan mampu meningkatkan tahanan isolasi dan menurunkan nilai tahanan kontak. Heater hanya berfungsi untuk mempertahankan suhu ruangan, tidak bisa mengurangi kelembaban.

4.2. Saran Untuk lebih meningkatkan keandalan sistem serta mengurangi frekuensi terjadinya breakdown pada kubikel alstom maka perlu dilakukan :

10

Pengaturan sistem sirkulasi udara pada kubikel sehingga udara panas dapat tersalurkan keluar (menjaga suhu pada kubikel) dengan pemasangan exhaust. Pemberian alumina untuk mengurangi efek kelembaban Mengganti heater dengan kapasitas yang lebih besar dan pengaturan ulang suhu heater

11

DAFTAR PUSTAKA

Hadi, Abdul(Ed).1991.Sistem Distribusi Tenaga Listrik.Jakarta: Erlangga. http:// heatshrinktokorobot.blogspot.com/Heat Shrink/ISOLASI BAKAR: Isolasi bakar / Heat Shrink 1mm /m.diunduh tanggal 12 April 2013. http://shekilltwogirl.files.wordpress.com/2012/10/evaluasi-perbaikan-tahananisolasi-kubikel-alstom-power-25.pdf. diunduh tanggal 6 Maret 2013. PT. PLN (Persero) Area Pengatur Distribusi Semarang.Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan Pada Instalasi Listrik Tegangan Menengah 20 kV. PT. PLN (Persero) Area Pengatur Distribusi Semarang Gardu Induk.Standard Operating Procedure (SOP). Tobing, Bonggas L.2003.Peralatan Tegangan Tinggi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

12

KUBIKEL WSI 2 BREAKDO WN KARENA LEMBAB

PMT WSI 2 LEMBAB TAHANAN ISOLASI ZERO

13