Anda di halaman 1dari 10

INFERTILITAS DAN SOLUSINYA

Wahyu Purwaningsih Dosen Program Studi Diploma III Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah Surakarta

Intisari : Anak merupakan dambaaan bagi pasangan suami istri yang baru saja membentuk
sebuah keluarga sebagai tanda cinta dan pengikat keduanya serta pelengkap dalam sebuah rumah tangga. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan mengenai fungsi reproduksi pria maka pentingnya faktor dari pria pada kasus infertilitas, sejak beberapa tahun terakhir meningkat. Oleh karena itu, faktor pria atau suami memegang kontribusi 50% pada pasangan infertil atau dengan kata lain baik suami maupun istri mempunyai kontribusi yang sama. Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil/menghamili setelah 1 tahun menikah tanpa penggunaan alat kontrasepsi. Infertilitas dapat disebabkan oleh Faktor seksual, Infeksi urogenital, Kelainan bawaan, Faktor dapatan, Varicocele, Gangguan hormone, factor imunologi.. Penanganan infertilitas meliputi melibatkan pihak suami maupun istri

Kata kunci: Infertilitas , penyebab

PENDAHULUAN Setiap pasangan umumnya mendambakan kehadiran seorang buah hati sebagai tanda cinta dan pengikat keduanya. Namun jika si kecil tak kunjung hadir, maka setiap pasangan sebaiknya bijaksana untuk bersama-sama berkonsultasi dengan konsultan fertilitas, melakukan pemeriksaan fisik maupun laboratorium. Seiring dengan

bertambahnya pengetahuan mengenai fungsi reproduksi pria maka pentingnya faktor dari pria (suami) pada kasus infertilitas (ketidaksuburan) sejak beberapa tahun terakhir meningkat. Dahulu perhatian terfokus hanya pada pihak wanita saja sebagai penyebab ketidaksuburan pasangan. Saat ini diketahui kelainan pada pria memberikan kontribusi 30% dan 20% disebabkan kelainan kedua belah pihak pasangan. Oleh karena itu, faktor pria atau suami memegang kontribusi 50% pada pasangan infertil atau dengan kata lain

baik suami maupun istri mempunyai kontribusi yang sama. (Wikipedia. Infertility. 23 May 2006 )

PENGERTIAN Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil/menghamili setelah 1 tahun menikah tanpa penggunaan alat kontrasepsi. Infertilitas (Infertility) adalah keadaan di mana seseorang tidak dapat hamil secara alami atau tidak dapat menjalani kehamilannya secara utuh. (Wikipedia. Infertility. 23 May 2006 ) Definisi standar infertilitas adalah ketidakmampuan untuk menjadi hamil dalam satu tahun setelah secara teratur menjalani hubungan intim tanpa kontrasepsi. ( MedicineNet. Infertility. Diakses 24 Mei 2006 )

PENYEBAB Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi fungsi reproduksi pria adalah

gonadotoksin. Gonadotoksin berkaitan dengan lingkungan seperti paparan panas, merokok, radiasi, logam berat, larutan organik dan pestisida. Peningkatan suhu yang sedang pada kantung skrotum dapat menimbulkan efek samping terhadap pembentukan sperma sehingga densitas dan motilitas sperma menurun. Pemakaian celana yang terlampau ketat, berendam air panas, spa dan pekerjaan yang terlalu lama duduk dapat menurunkan kesuburan. Merokok atau pemakaian marijuana, konsumsi alkohol dan kokain dapat menurunkan kualitas semen dan konsentrasi testosteron. Beberapa obatobatan juga mempunyai efek gonadotoksin seperti; cimetidine, spironolactone, nitrofurans, sulfasalazine, erythromycin, tetracyclines dan agen kemoterapi. Gaya hidup memegang peran dalam menyumbang angka kejadian infertilitas. Kondisi jiwa yang stress bisa menyebabkan gangguan reproduksi. Prof Dr Samsul Hadi SpOG dari Klinik Fertilitas Graha Amerta RSU Dr Soetomo menjelaskan bahwa penyebab infertilitas adalah 40% dari faktor suami, 40 % dari faktor istri dan 20% adalah karena faktor hubungan di antara keduanya. Jika ditinjau dari perubahan sosial yang terjadi pada zaman ini, ternyata gaya hidup memegang peran dalam menyumbang angka kejadian infertilitas, yaitu sebesar 15-20%. Salah satu komponen gaya hidup yang

berpengaruh adalah peranan faktor kejiwaan terhadap kesuburan. Kondisi jiwa yang stress bisa menyebabkan gangguan ovulasi, gangguan spermatogenesis, spasme tuba fallopi, dan disfungsi seksual yaitu menurunnya frekuensi senggama. Banyaknya pasutri yang mengkonsumsi alkohol tentunya berpengaruh pula terhadap kesuburan. Pada wanita, alkohol menekan produksi hormon estrogen dan progesteron serta meningkatkan prolaktin. Hal ini akan menghambat terjadinya proses ovulasi. Sedangkan pada pria, alkohol akan menyebabkan penurunan ukuran testis, menurunkan volume semen (air mani), dan menurunkan konsentrasi, motilitas serta morfologi normal dari spermatozoa. Pemakaian ganja, kokain, dan heroin ditengarai menyebabkan gangguan sekresi gonadotropin dan prolaktin sehingga bisa menghambat ovulasi. Sedangkan pengaruh obat-obat golongan opiat secara umum pada kesuburan pria adalah menekan sekresi gonadotropin yang berujung pada menurunnya biosintesa testosteron. Dengan kualitas dan kuantitas testosteron yang menurun, maka dapat dipastikan kualitas sperma juga bisa menurun. Gemar melakukan hubungan seks berganti pasangan juga bisa menimbulkan infeksi di organ genitalia baik wanita maupun laki-laki. Setelah infeksi biasanya akan terbentuk perlekatan di organ tersebut. Selain itu bisa terbentuk pula jaringan ikat yang mengganti jaringan fisiologis. Jika sudah terjadi demikian, fungsi organ genitalia secara anatomis akan terganggu baik dalam proses fertilisasi hingga berlangsungnya kehamilan. Merokok bagi wanita, sungguh mengancam kesuburan. Pengaruhnya tergantung pada jumlah rokok yang dihisap setiap harinya. Wanita perokok sedang yaitu yang merokok kurang dari 20 batang per hari kesuburannya menurun hingga tinggal 75 % dibanding dengan yang tidak merokok. Sedangkan pada wanita perokok berat yaitu yang merokok lebih dari 20 batang setiap harinya, kesuburannya jauh menurun hingga tinggal 57%. Kandungan nikotin pada rokok berdampak pada meningkatnya amplitudo gelombang uterotuba sehingga angka kejadian kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim) akan meningkat. Selain itu merokok juga menyebabkan meningkatnya kejadian abortus dan kelainan kongenitas khususnya sindroma down. Pada percobaan hewan coba, nikotin bisa mempengaruhi desidualisasi, menghambat pembelahan sel, menghambat pembentukan blastocyst, mengganggu masuknya buah kehamilan ke rongga rahim, bahkan mencegah implantasi sehingga menurunkan angka keberhasilan bayi tabung.

Bagi calon ibu yang gemar mengkonsumsi kopi dan soft drinks, harap hatihati. Kafein yang banyak terkandung dalam kopi, teh dan soft drinks merupakan stimulan yang dicurigai menurunkan kesuburan jika diminum lebih dari 7 cangkir per hari. Hubungannya masih kontroversial. Jadi disarankan jika ingin hamil, jangan minum kopi lebih dari satu cangkir kopi per harinya. Olahraga penting artinya bagi kesehatan. namun olahraga yang berlebihan akan mengganggu siklus haid berupa pemendekan siklus luteal dan amenorhea sekunder. Olahraga yang berlebihan bisa menyebabkan seorang wanita menjadi sulit hamil. Mekanismenya masih belum jelas. Diduga karena penurunan produksi gonadotropin, peningkatan produksi endorfin dan kortisol. Bahan kimia tertentu serta polutan yang terpapar secara terus menerus selama bekerja dapat meningkatkan resiko infertilitas. Sebagai contoh, bahan pestisida, solvent yang dipakai pada industri dry cleaning, thinner, logam berat misalnya cadmium dan mercury, serta gas anestesi. Radiasi dalam dosis besar serta jangka panjang atau berulang akan meningkatkan kejadian infertilitas. Obat-obatan yang paling sering dikonsumsi untuk meredakan sakit kepala, nyeri haid, dan nyeri sendi yaitu golongan NSAID ternyata turut pula menyumbang kejadian infertilitas. Pasalnya, obat-obat ini menyebabkan luteinized unrupted follicle syndrome, yakni kegagalan folikel untuk melepaskan sel telur. Lain lagi dengan obat untuk epilepsi, berdasarkan penelitian menyebabkan wanita yang mengkonsumsinya mengalami gangguan haid, polikistik ovari dan peningkatan kadar hormon testosteron. Pada wanita yang mendapat terapi kanker khususnya obat-obatan kemoterapi, dapat menyebabkan kerusakan ovarium sehingga kadar hormon yang diperlukan untuk mengontrol siklus haid menjadi terganggu. Sedangkan obat golongan dopamin agonist seperti metoclopramide (anti mual), metil dopa (antihipertensi), cimetidine (H2 antagonist) dan haloperidol menyebabkan peningkatan kadar prolaktin sehingga menekan sekresi gonadotropin releasing hormon (GnRH). Dampaknya bisa tidak terjadi ovulasi. (Niederberger C and Meacham ,2006; 461-480) Dr Aucky Hinting PhD, Sp.And, ahli andrologi dan bayi tabung menjelaskan bahwa pada pria penyebab infertilitas 25% disebabkan oleh varikokel, infeksi 10%,

faktor imunologis 5% dan 20% lain-lain termasuk endokrin, iatrogenik, trauma, sistemik dan seksual . Penyebab terjadinya infertilitas pada pria menurut data dari WHO Faktor Penyebab Angka (%) Faktor seksual Infeksi urogenital Kelainan bawaan Faktor dapatan Varicocele Gangguan hormon Faktor imunologi Kelainan lain Sindrom Oligozoospermia, Asthenozoospermia 1.7 6.6 2.1 2.6 12.3 0.6 3.1 3 dan 75.1 kejadian

Teratozoospermia PEMERIKSAAN UNTUK MENENTUKAN INFERTILITAS Keadaan penyebab infertilitas tersebut dapat diketahui dengan cara pemeriksaan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik, kemudian dilanjutkan

pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium merupakan bagian penting untuk dapat mengetahui kemungkinan terjadinya kelainan pada setiap proses reproduksi. Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan untuk evaluasi kesuburan pria adalah sebagai berikut: 1. Analisa sperma Kehamilan terjadi karena adanya sperma dari pria yang membuahi sel telur (ovum) wanita. Agar dapat membuahi sel telur, sperma harus berkualitas baik. Artinya, jumlahnya cukup, kualitas yang meliputi bentuk, gerakan dan kecepatannya harus baik. Sperma yang kurang baik tidak akan mampu membuahi sel telur yang letaknya cukup jauh dari vagina. Ejakulasi yang kuat saja tidak cukup, sebab

kemampuan membuahi tergantung pada kualitas dan kuantitas sperma. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan analisa sperma yang akurat, maka pasien tidak boleh mengalami ejakulasi baik melalui aktivitas seksual, masturbasi ataupun pengeluaran sperma pada saat mimpi dalam waktu 2-7 hari sebelum pemeriksaan. Paling tidak perlu dilakukan 2-3 kali pemeriksaan analisa sperma dalam waktu yang berbeda sebelum menentukan normal atau tidak. Berdasarkan hasil analisa sperma dapat diketahui kelainan kelainan pada sperma seperti :
a.

Oligospermia : jumlah sperma lebih kecil dari normal, normalnya jumlah sperma adalah lebih dari 40 juta/ ejakulasi

b.

Asthenozoospermia : motilitas sperma kurang dari normal, motilitas sperma yang normal menurut World Health Orgaization (WHO) adalah lebih dari 50%

c.

Teratozoozpermia : sperma normal kurang dari 14%

Pada pemeriksaan kesuburan pria, analisis sperma merupakan sperma merupakan hal yang penting. Analisis sperma meliputi volume, konsentrasi, motilitas, dan morfologi. Volume sperma yang normal pada sekali ejakulasi saja minimal adalah 2 ml. Jika kurang dari jumlah tersebut, maka disebut aspermia yang berarti tidak ada semen. Konsentrasi sperma pada ejakulat yang normal paling sedikit adalah 20 juta/ml. Bila kurang, disebut oligozoospermia. Atau jika sperma tidak ditemukan sama sekali pada cairan ejakulat, disebut azoospermia. Motilitas sel sperma yang normal, baik yang lemah dan yang cepat adalah lebih dari 50%, atau >25% sel sperma yang bergerak cepat, jika kurang, disebut asthenozoospermia. Pada morfologi yang normal tidak didapatkan kelainan bentuk. Namun jika bentuk normal dijumpai kurang dari 15%, maka termasuk teratozoospermia. Uji-uji lain selain analisis sperma adalah Uji MAR yaitu untuk menguji adanya penyakit autoimun dimana didapatkan antibodi antisperma. Uji lain adalah uji viabilitas sperma, penghitungan leukosit, kultur bakteri, uji Chlamidya PCR, dan interaksi sperma dengan lendir serviks

2. Urinalisis Pemeriksaan urinalisis membantu dalam evaluasi infertilitas pria karena dengan pemeriksaan ini dapat melihat apabila ada retrogade ejaculation (ejakulasi balik) selain dapat mengetahui infeksi prostat dan saluran kemih. Retrogade ejaculation adalah suatu keadaan di mana terjadi kelainan pada saluran keluarnya sperma mengakibatkan sperma tidak keluar sebagaimana mestinya melainkan masuk dan keluar melalui saluran kemih. 3. Hormon (LH, FSH, Prolaktin dan Testosteron) Pemeriksaan hormon di dalam evaluasi infertilitas bermanfaat untuk mengetahui apabila terdapat kelainan hormon yang mempengaruhi reproduksi pria. Misalnya apabila terjadi peningkatan LH diatas normal dapat berguna sebagai petunjuk terhadap kemungkinan :
a. b. c.

Gagal testis primer Seminiferous tubule dysgenesis (sindrom klinifelter) Sertoli cell failure

Contoh lain adalah prolaktin, apabila prolaktin tinggi pada pria maka dapat menghambat dikeluarkannya hormon-hormon seks (testosteron, LH, FSH) yang berakibat pada terganggunya pembentukan sperma (spermatogenesis) atau dapat pula menyebabkan impotensi. 4. Antibodi anti-sperma Pada kasus infertilitas akibat adanya antibodi anti-sperma ini awalnya adalah karena terbentuknya antibodi terhadap sperma pada laki-laki. Antibodi terhadap sperma merupakan fenomena autoimun, karena sistem imun membentuk antibodi terhadap antigen tubuhnya sendiri yaitu sperma. Antibodi terhadap sperma dapat ditemukan dalam darah, cairan semen maupun pada permukaan sperma sehingga sperma mati sebelum dapat membuahi sel telur. Antibodi terhadap sperma ini biasanya dijumpai

pada

beberapa

pria

dengan

penyakit

testikular

dan

penyakit

autoimun

spermatogenesis. Masih ada secercah harapan bagi pria yang dinyatakan secara medis infertil. Saat ini berbagai teknik dan teknologi kedokteran dikembangkan untuk mengatasi gangguan reproduksi pada pria. Beberapa pria infertil yang menjalani pengobatan maupun pembedahan dapat mengalami perbaikan dan dapat melakukan konsepsi alami. Di lain pihak kelainan sperma dapat diatasi dengan inseminasi intrauterin. Ketika semua usaha tersebut sudah tidak lagi bermanfaat maka teknologi modern seperti Assisted Reproductive Technologies (ART) masih memberikan harapan untuk berhasil. Fertilisasi invitro atau bayi tabung menggunakan Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) melibatkan sperma tunggal yang secara langsung disuntikkan pada sel telur yang matang sehingga masih memberi harapan pria infertil untuk memiliki anak. Inseminasi buatan menggunakan donor sperma, merupakan pilihan terakhir untuk pasangan dengan pria infertil. (bellaonline, 2007). SOLUSINYA Penanganan infertilitas meliputi melibatkan pihak suami maupun istri. Keduanya tergantung dari apa penyebabnya masing-masing. Pada prinsipnya penanganan infertilitas ada dua macam, yaitu dengan pengobatan konvensional, atau dengan teknologi reproduksi berbantu. Pengobatan konvensional diantaranya adalah dengan pemberian obat-obatan baik untuk tujuan menghilangkan faktor penyebab, memicu produksi sperma, memperbaiki pematangan sperma, memperbaiki transpor sel, dan mencegah kerusakan sel sperma. Misalnya jika terdapat infeksi di saluran ejakulasi maka diberikan antibiotik. Tahap pengobatan konvensional selanjutnya adalah pembedahan. Misalnya jika terdapat varicocele atau pembuntuan saluran ejakulasi. Selain kedua cara di atas, cara pertama yang pasti harus ditempuh adalah dengan konseling masalah seksual, masa subur, menghindari obesitas dan memperbaiki gaya hidup menjadi gaya hidup yang lebih sehat. Untuk gangguan kesuburan akibat kerusakan atau kelainan anatomi di saluran telur bisa ditangani dengan operasi dan menunggu dalam jangka waktu 18 - 24 bulan. Jika gagal, maka bisa dicoba dengan teknik reproduksi bantuan baik melalui inseminasi atau bayi tabung.

Pada inseminasi dilakukan preparasi sel telur maupun sperma. Preparasi sel telur dilakukan controll ovarii hiperstimulasi sehingga terjadi ovulasi. Sperma dimasukkan saat sel telur siap difertilisasi. Untuk mendukung jalannya kehamilan, ibu hamil diberi hormon HCG dan progesteron sebagai luteal support. Cara inseminasi sendiri ada 3 macam, yaitu intra uterine dimana semen dicuci dari sperma, intraservikal, dan para servikal dimana sperma masih mengandung semen. Bayi tabung sebagai alternatif terakhir, dilakukan bila ada kelainan faktor infertilitas yang berat, umur istri sudah lanjut, dan faktor infertilitas ganda. Gagal pengobatan juga merupakan salah satu indikasinya. Untuk infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya dan telah ditangani lebih dari satu tahun, bayi tabung juga merupakan salah satu alternatif yang patut diperhitungkan. Namun bayi tabung sangat tergantung dari usia pihak wanita, semakin tua pihak wanita keberhasilannya semakin berkurang ( Speroff L and Fritz MA, 2006 : 1135-1164). SIMPULAN Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil/menghamili setelah 1 tahun menikah tanpa penggunaan alat kontrasepsi. Infertilitas dapat disebabkan oleh Faktor seksual, Infeksi urogenital, Kelainan bawaan, Faktor dapatan, Varicocele, Gangguan hormone, factor imunologi.. Penanganan infertilitas meliputi melibatkan pihak suami maupun istri. Untuk dapat menentukan seseorang infertile atau tidak perlu dilakukan pemeriksaan diantaranya: analisa sperma, urinalisa, hormone dan antibody antisperma. Penanganannya yaitu dengan pengobatan konvensional, atau dengan teknologi reproduksi berbantu.

DAFTAR PUSTAKA http://www.bellaonline.com/articles/art29799.asp MedicineNet. Infertility. Diakses 24 Mei 2006 Niederberger C, Joyce GF, Wise M and Meacham RB. Chapter 14: Male Infertility. Urologic Disease in America 2006; 461-480.

Speroff L and Fritz MA. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility. Seventh edition. Chapter 30: Male Infertility; 1135-1164. Wikipedia. Infertility. 23 May 2006