Anda di halaman 1dari 4

Halaman ini terselenggara atas kerja sama Republika dengan INSISTS Dewan Redaksi: Hamid Fahmy Zarkasyi, Adian

Husaini, Adnin Armas, Syamsuddin Arif, Nirwan Syafrin, Nuim Hidayat, Henri Shalahuddin, Budi Handrianto, Tiar Anwar Bachtiar.

JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA


5
KAMIS, 23 SEPTEMBER 2010

MENYERANG

ALQURAN
D
Ir Akmal MPdI
Alumnus Program Kader Ulama DDII Baznas

alam waktu singkat, nama Pastor Terry Jones terdengar di seluruh belahan dunia. Tidak tanggung-tanggung, Jones menyerukan sebuah gerakan internasional Burn a Koran Day yang sedianya akan digelar pada tanggal 11 September 2010. Mudah bagi siapa pun untuk melihat hubungan antara pemilihan tanggal ini dengan peristiwa runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) di New York pada tahun 2001 silam. Kebencian Jones pada Alquran dan Islam tidak main-main. Sebelum menyerukan hari pembakaran Alquran, ia sudah dikenal luas karena perkataannya: Islam is of the devil, (Islam berasal dari ajaran Iblis). Kata-kata ini terpampang jelas di depan bangunan gereja yang dipimpinnya di Florida. Dua orang anak remaja yang merupakan jemaat gereja Jones sempat dipulangkan oleh sekolahnya karena mengenakan kaos bertuliskan katakata ini ke sekolah. Burn a Koran Day menuai kecaman internasional. Tidak hanya dari kalangan umat Islam, tapi juga dari pemerintah Amerika Serikat sendiri. Jenderal David Patraeus, komandan pasukan AS di Afghanistan, barangkali adalah orang yang paling keras mengecam rencana tersebut karena dikhawatirkan akan memicu reaksi keras dari seluruh dunia Islam terhadap properti dan warga AS di negara-negara seperti Afghanistan. Barack Obama, Presiden AS dan peraih Nobel Perdamaian 2009, juga menyatakan keprihatinannya atas rencana Pastor Jones. Akan tetapi, posisinya sebagai kepala sebuah negara sekuler memaksanya untuk mengambil sikap ambigu sekularisme terhadap agama-agama. Hasilnya, pemerintah AS hanya mampu mengeluarkan imbauanimbauan semata. Meskipun akhirnya Terry Jones mengurungkan niatnya dan Burn a Koran Day tak pernah terlaksana, cita-citanya diteruskan juga Bob Old dan Danny Allen dari Tennessee. Ketika prosesi pembakaran dilakukan, tiga orang perempuan yang memiliki keluarga dan kerabat yang tengah bertugas sebagai prajurit di luar negeri mengadakan

aksi protes di luar kediaman Old. Jones, Old dan Allen bukan orang pertama dalam sejarah Barat yang terang-terangan menyatakan kebenciannya pada Alquran. Ekspresi kebencian kaum Kristen terhadap Alquran telah muncul sejak awal mula wahyu Allah ini diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Itu bisa dimaklumi. Sebab, Alquran adalah satu-satunya Kitab Suci yang isinya membongkar habis-habisan dasardasar kepercayaan kaum Kristen, khususnya terhadap konsep Ketuhanan Yesus. Pakar Studi Alquran dari INSISTS, Adnin Armas, dalam bukunya, Metodologi Bibel dalam Studi Alquran (2005), telah menguraikan sejarah panjang penyerangan kaum Yahudi dan Kristen terhadap Alquran. John of Damascus, misalnya, seorang tokoh Kristen terkemuka (m 700 M), telah menyerang otentisitas Al-Quran sebagai wahyu Tuhan. Karena menyinggung dogma-dogma dalam ajaran Kristen, maka Alquran dicap tidak otentik. John of Damascus tidak ragu menyebut Islam sebagai sebuah sekte bidah dan Alquran banyak memuat cerita-cerita bodoh. Peter Venerabilis (Peter the Venerable) (1094-1156), tokoh Kristen dari Biara Cluny, Peancis, menyebut Alquran tidak terlepas dari para setan. Setan telah mempersiapkan Muhammad, orang yang paling nista, menjadi anti-Kristus. Setan telah mengirim informan kepada Muhammad, yang memiliki kitab setan (diabolical scripture). Ricoldo da Monte Croce (12431320) juga menyebut bahwa pengarang Alquran bukanlah manusia tetapi setan. Dengan kejahatannya serta izin Tuhan, Muhammad telah berhasil memulai karya AntiKristus. Martin Luther, (1483-1546), juga menulis, The devil is the ultimate author of the Quran. Luther menyebut Paus dan orang-orang Muslim sebagai jelmaan setan. Alquran, kata Luther, mengajarkan kebohongan, pembunuhan, dan tidak menghargai perkawinan.

Studi Alquran
Salah satu cara yang lebih halus untuk menyerang Alquran dilakukan oleh kaum Yahudi dan Kristen dengan melakukan studi Alquran. Pada abad ke-12 M, Alquran untuk pertama kalinya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Robert of Ketton. Martin Luther menerje-

mahkan karya Ricoldo (Confutatio Alcorani) ke dalam bahasa Jerman, 1542). Luther tidak percaya ada manusia yang mau mempercayai ketololan dan ketakhayulan Alquran. Luther juga menulis kata pengantar untuk karya Theodore Bibliander (1504-1564) tentang Alquran (Vorrede zu Theodor Bibliandus Koranausgabe). Cara-cara kasar dalam menyerang al-Quran seperti itu kemudian disadari tidak banyak membawa hasil. Umat Islam tidak tergoyahkan keyakinannya terhadap kebenaran dan keotentikan Alquran. Sejak abad ke-19, mulai muncul bentuk baru dalam penyerangan Alquran. Caranya lebih halus dan berbungkus metode ilmiah (scientific method). Salah satu pelopor dalam studi ini adalah Abraham Geiger, seorang tokoh Yahudi liberal. Ia menulis buku What did Muhammad borrow from Judaism (Apa yang Muhammad pinjam dari Yahudi). Kata Geiger, Banyak kata dalam Alquran berasal dari bahasa Hebrew (Ibrani). Karena itu, Alquran terpengaruh agama Yahudi. Cara pandang Yahudi-Kristen dalam Studi Bibel kemudian diaplikasikan dalam studi Alquran. Berbagai penelitian tentang Alquran dengan kerangka pikir Yahudi-Kristendiaplikasikan, terutama dalam studi-studi teks Alquran. Theodore Nldeke (m. 1930) memenangkan sebuah kompetisi penulisan sejarah kritis tekstualitas Alquran pada 1857. Karyanya diterbitkan tahun 1860 dengan judul Geschichte des Qorans. Edisi kedua dari buku itu kemudian dilanjutkan oleh muridnya, Friedrich Schwally, sedangkan edisi ketiganya ditulis oleh Gotthelf Bergstrsser dan Otto Pretzl. Geschichte des Qorans, yang dikerjakan beramai-ramai dalam kurun waktu puluhan tahun, hingga kini masih menjadi referensi penting dalam pembahasan sejarah kritis penyusunan Alquran di kalangan orientalis. Dengan semangat untuk membuktikan ketidakotentikan Alquran, Gustav Flgel menerbitkan sebuah mushhf tandingan sebagai hasil kajian filologi yang dilakukannya. Mushhf itu kemudian dinamakan Corani Textus Arabicus. Kemudian datanglah Arthur Jeffery, seorang orientalis berkebangsaan Australia yang meneruskan usaha

Bergstrsser dan Pretzl. Jeffery bertekad merestorasi teks Alquran berdasarkan bacaan-bacaan dalam beberapa mushhf tandingan (rival codices). Hanya saja, proyek Jeffery terpaksa dihentikan karena perpus takaannya dibom oleh pasukan Sekutu pada Perang Dunia II.

Pengaruh Yahudi-Kristen?
Salah satu isu klasik yang selalu diangkat oleh kaum orientalis adalah mengenai pengaruh Yahudi, Kristen, Zoroaster dan sebagainya terhadap Alquran dan ajaran Islam secara umum. Reynold A Nicholson, seorang orientalis Inggris, pernah berkomentar, Muhammad picked up all his knowledge of this kind [i.e. al-Quran] by hearsay and makes a brave show with such borrowed trappings largely consisting of legends from the Haggada and Apocrypha. Jadi, selain berkeyakinan bahwa Alquran adalah karangan Muhammad SAW. (bukannya wahyu Allah), Nicholson juga menegaskan bahwa Muhammad SAW. telah menyalin mitos-mitos lokal untuk dimuat di dalam Alquran. Belakangan, muncul seorang dari kalangan misionaris-orientalis yang menggunakan nama samaran Christoph Luxenberg. Dalam bukunya, Luxenberg mengklaim bahwa: (1) bahasa Alquran sebenarnya bukan bahasa Arab, dan karenanya harus merujuk pada bahasa SyroAramaik yang konon menjadi lingua franca pada masa itu, (2) selain bahasanya, ajaran dalam Alquran pun diambil dari kitab suci Yahudi dan Kristen-Syria, (3) karenanya, Alquran yang ada sekarang tidaklah otentik dan perlu diedit kembali. Pada umumnya, kajian orientalis terhadap Alquran memang berkisar seputar masalah yang itu-itu saja. Karena isnd tidak dianggap penting oleh kaum orientalis, maka riwayat yang lemah dianggap setara dengan yang shahh. Pendapat-pendapat yang cacat, nyeleneh dan ditolak oleh jumhur ulama justru dikedepankan. Ada yang ingin mengubah susunan ayat dan surah Alquran secara kronologis, mengoreksi bahasa Alquran ataupun mengubah redaksi ayatayatnya. Semuanya bersumber dari ketidakyakinan mereka akan Alquran, karena menerima Alquran sama dengan menolak agamanya sendiri. Selain kerap berpegang pada

isu-isu sampingan (yang sebenarnya telah dipecahkan oleh para ulama), kaum orientalis juga telah melakukan kesalahan dengan menganggap Alquran sebagai dokumen tertulis atau teks, dan bukannya sebagai hafalan yang dibaca. Oleh karena itu, mereka seringkali menganggap bahwa catatan-catatan pinggir yang dibuat oleh para sahabat Rasulullah saw. dalam arsiparsip pribadinya sebagai teks-teks tandingan. Padahal, Alquran dibukukan dengan mengacu pada hafalan, bukan sebaliknya. Mushhf Utsmani adalah mushhf standar yang dibuat untuk memfasilitasi semua qiraat yang disepakati keshahihan periwayatannya dari Nabi Muhammad saw. Studi Alquran para orientalis itu lazimnya didasarkan pada penolakan terhadap kenabian Muhammad saw. Mereka tidak mengakui Muhammad saw sebagai Nabi yang telah menerima wahyu dari Allah. Studi-studi teks biasanya dilakukan dengan dalih studi kritis terhadap teks yang didahului dengan proses Desakralisasi Alquran. Melanjutkan misi awal semangat keraguan dan kebencian terhadap Alquran, banyak di antara pengkaji Alquran di kalangan orientalis, yang memulai kajian mereka berawal dari keraguan dan berakhir dengan keraguan. Respons kaum Muslim terhadap pembakaran Alquran di AS sangat luar biasa dan menggembirakan. Seyogyanya, kaum Muslim terutama para sarjana Alquran juga sangtat serius dalam merespon upaya penyerangan Alquran yang dilakukan dengan berkedok studi ilmiah. Sebab, upaya jenis ini jauh lebih halus caranya, dan sering menjebak. Pembakaran mushhf Alquran, meskipun kita kecam juga, tidaklah lebih gawat dibandingkan dengan penistaan terhadap kesucian kandungan Alquran. Umat Islam marah saat Alquran dibakar di AS, yang dilakukan pemuka agama Kristen. Tetapi, kita tidak melihat respons yang memadai dari umat Islam Indonesia, saat seorang dosen di Surabaya berulang kali menginjak-injak lafaz Allah di dalam kelas. Padahal, beritanya juga tersebar di media massa. Umat Islam Indonesia juga seperti tenang-tenang saja, saat puluhan jurnal dan buku yang menyerang Alquran secara sengaja diterbitkan di Indonesia.

JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA

KAMIS, 23 SEPTEMBER 2010

Jawaban Ilmiah, Bentengi Alquran

T
Adian Husaini
Peneliti INSISTS

ahun 2007 lalu, Fahmi Salim Zubair MA, seorang sarjana Alquran lulusan Unjiversitas alAzhar Kairo, menorehkan prestasi penting dalam studi Alquran. Ia lulus sebagai master dalam bidang tafsir di Universitas al-Azhar Kairo dengan predikat Summa Cum Laude (Penghargaan Tingkat Pertama), setelah berhasil mempertahankan Tesis-nya yang berjudul KHITHABAT DAWA FALSAFAT ALTAWIL AL-HERMENUTHIQI LI AL-QURAN; ARDL WA NAQD (Studi analitis-kritis diskursus filsafat Hermeneutika Alquran). Fahmi menyelesaikan tesisnya di bawah bimbingan dua guru besar Tafsir dan Ilmu-ilmu Alquran, yaitu Prof Dr Abdul Hayyi Husein AlFarmawi dan Prof Dr Abdul Badi Abu Hasyim. Adapun para penguji tesis Fahmi Salim adalah: Prof Dr Salim Abdul Kholik Abdul Hamid (Guru besar Tafsir dan ilmu-ilmu Alquran) dan Prof Dr Ali Hasan Sulaiman (Guru besar dan Ketua Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu Alquran, Fakultas Dirasat Islamiyah, Univ AlAzhar). Tesis Fahmi Salim itu sekarang sudah terbit menjadi sebuah buku berjudul Kritik terhadap Studi Alquran kaum Liberal (2010). Buku ini membedah model pemahaman teks ala Barat yang menjadi alat buldoser paling efektif dalam upaya sekularisasi dan liberalisasi masyarakat Muslim. Di tangan para pemasok dan pengecer paham sekularisme dan liberalisme, penggunaan metode hermeneutika dalam menafsirkan Alquran digunakan untuk menggusur ajaran-ajaran Islam yang baku dan permanen (tsawabit), agar compatible dengan pandangan alam (worldview) dan nilai-nilai modernitas Barat sekuler yang ingin disemaikan ke tengah-tengah umat Islam. Menurut Fahmi, ia tertarik mengkaji masalah hermeneutika tersebut, semenjak digelindingkannya upaya sistematis untuk meliberalkan kurikulum Islamic Studies di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia. Sederet nama para penganjur dan pengaplikasi hermeneutika untuk studi Islam tiba-tiba menjadi super stars dalam kajian Islam di Perguruan Tinggi Islam Indonesia. Sebut saja misalnya: Hassan Hanafi (hermeneutikafenomenologi), Nasr Hamid Abu Zayd (hermeneutika sastra kritis), Mohammad Arkoun (hermeneutika-antropologi nalar Islam), Fazlur Rahman (hermeneutika double movement), Fatima Mernissi-Riffat Hassan-Amina A Wadud (hermeneutika gender), Muhammad Syahrur (hermeneutika linguistik fiqih perempuan), dan lain-lain yang cukup sukses membius mahasiswa dan para dosen di lingkungan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia baik negeri maupun swasta, hingga kini. Bahkan beberapa tahun silam, munculnya Counter Legal Draft (CLD) Kompilasi Hukum Islam yang merombak dan melucuti banyak

aspek-aspek yang qathi dalam sistem hukum Islam meski telah ditolak dan digagalkan telah mengindikasikan suatu upaya serius untuk menjadikan produk tafsir hukum ala hermeneutika ini sebagai produk hukum Islam positif yang mengikat seluruh umat Islam di tanah air. Itulah salah satu dampak terburuk dari tafsir model hermeneutika ini yang berkaitan dengan hajat hidup umat Islam Indonesia dalam soal pernikahan, perceraian, pembagian harta waris, pengasuhan anak, dan lain-

lain. Dewasa ini, gagasan dan tuntutan untuk melakukan pembacaan sekaligus pemaknaan ulang teks-teks primer agama Islam disuarakan dengan lantang. Tujuannya adalah agar teks-teks primer Islam, yang telah menjadi pedoman dan panduan lebih dari satu miliar umat Islam, dapat ditundukkan untuk mengikuti irama nilai-nilai modernitas sekuler yang didiktekan dalam berbagai bidang. Seruan itu disuarakan serempak oleh para

pemikir liberal baik di Timur-Tengah maupun di belahan lain dunia Islam, termasuk Indonesia. Berbagai seminar, workshop dan penerbitan buku hasil kajian dan penelitian digiatkan secara efektif untuk mengkampanyekan betapa mendesaknya pembacaan kritis dan pemaknaan baru teks-teks Al-Quran dan Sunnah Rasul. Berbagai produk olahan isu-isu pemikiran yang diimpor dari Barat seperti sekularisme, liberalisme, pluralisme agama, dan pengarusutamaan gender telah menjadi menu sajian yang menggoda untuk dihidangkan kepada komunitas muslim. Kita patut curiga dan bertanya: apakah tidak sebaiknya upaya pembacaan dan pemaknaan ulang wacana agama itu diarahkan sebagai pembaruan metode dakwah Islam dan revitalisasi sarana-sarana pendukungnya di era kontemporer ini, sesuai dengan perkembangan zaman? Kita sangat memerlukan pemikiran segar dan cemerlang untuk mendakwahkan prinsip-prinsip dan pandangan hidup Islam dengan metode yang cocok dengan kemajuan zaman. Jika ini yang terjadi, maka kita dengan senang hati menyambut seruan itu, ujarnya. Namun, menurut Fahmi, kadangkala yang terjadi bukan seperti itu. Di lapangan, yang terjadi adalah adanya upaya untuk mengkaji ulang bahkan sampai pada taraf mengubah prinsip dan pokok-pokok agama dengan dalih keluar dari kungkungan ideologis nash-nash Alquran dan Sunnah, membatalkan keabsolutan nash Alquran dengan analisa historisitas teks atau relativisme teks. Juga, dibagian lain mereka ingin melakukan studi kritik literatur dan sejarah seperti yang dipraktekkan kalangan liberal Yahudi dan Kristen atas Bible sejak tiga abad silam. Bahkan, ada yang terang-terangan memunculkan pandangan bahwa nash Alquran dan Sunnah telah out of date dan hanya menghalangi proses integrasi umat Islam dengan nilai-nilai globalisasi kontemporer. Jika seperti ini yang terjadi di lapangan pemikiran, maka logika semacam ini harus ditolak mentah-mentah, baik keseluruhan maupun rinciannya, kata Fahmi. Melihat fakta semacam itu, Fahmi mengaku berusaha serius untuk mengkaji dasar-dasar hermeneutika, menelusuri akar sejarahnya, sampai penerapannya sebagai pengganti metodologi tafsir dan takwil Alquran yang khas dalam tradisi keilmuan Islam. Kajian Fahmi Salim tentang hermeneutika ini semakin membuka cakrawala baru dalam upaya membendung arus besar liberalisasi Alquran melalui penggunaan hermeneutika dalam studi Alquran. Semoga, upaya membentengi Alquran dari berbagai serangan yang berbungkus studi ilmiah seperti ini dapat terus dilanjutkan. Sebab, upaya untuk menyerang Alquran juga tidak akan pernah berhenti, meskipun senantiasa serangan itu berujung kepada kesia-siaan.

Orientalis dan Misi Kristen

S
Adnin Armas, MA Peneliti INSISTS

alah seorang orientalis yang sangat intensif dalam mengkaji Alquran adalah Arthur Jeffery (m 1958). Setelah menyelesaikan studi S-2 di University of Melbourne, Jeffery berangkat ke India untuk menjalankan misi kristenisasi. Jeffery berprofesi sebagai dosen di kolej Kristen Madras (Madras Christian College), India. (John S. Badeau, Arthur Jeffery-A Tribute, The Muslim World 50 (1960)). Di kolej tersebut, Jeffery bertemu sekaligus berteman akrab dengan dosen sekaligus Misionaris yang lebih senior, yaitu Pastor Edward Sell (1839-1932). Jeffery mengakui bahwa gagasannya tentang Alquran Edisi Kritis terinspirasi dari Edward Sell. (Arthur Jeffery, Progress in the Study of the Koran Text, Editor oleh Ibnu Warraq di buku The Origins of the Koran (New York: Prometheus Books, 1998) Sell menyeru kalangan misionaris Kristen ketika mengkaji Islam, supaya fokus kepada historitas al-Quran. Menurut Sell, kajian kritishistoris al-Quran bisa dilakukan dengan menggunakan metodologi analisa bibel (biblical criticism). Merealisasikan idenya, Sell sendiri sudah menggunakan metodologi higher criticism, ketika mengkaji historisitas al-Quran di dalam karyanya Historical Development of the Quran. Higher criticism adalah satu bagian dari metodologi kritik Injil (Biblical criticism) yang memfokuskan pada pengarang, penanggalan dan asal mula teks. (Canon Sell, Studies in Islam (Delhi: BR Publishing Corporation, 1985; pertama kali terbit tahun 1928). Gagasan Sell untuk mengkaji Alquran secara kritis-historis bukanlah gagasan orisinal. Sell sangat memanfaatkan hasil kajian yang dilakukan oleh Theodor Nldeke (18361930), yang pada usia 20 tahun (tahun 1856), sudah menulis sebuah monograf dalam bahasa Latin tentang asal mula penyusunan Alquran. Gagasan kritis-historis Alquran semakin menggeluti pemikiran Jeffery ketika ia berada di Kairo. Jeffery berada di sana karena mendapat kesempatan menggiurkan pada tahun 1921 dari Dr Charles R Watson, President

pertama Universitas Amerika (American University), Kairo untuk menjadi salah seorang staf di fakultas School of Oriental Studies (SOS), yang didirikan pada 1921. Selain Jeffery, staf-staf lain di fakultas S.O.S terdiri dari para orientalis terkemuka, seperti Earl E Elder, Canon Temple Gairdner dan Samuel Marinus Zwemer, pendiri jurnal The Moslem World. Persahabatannya dengan Zwemer menjadikan Jeffery, yang masih bergelar MA, diangkat sebagai seorang Pembantu Editor (Associate Editor) jurnal The Moslem World pada tahun 1922. Jeffery memperoleh gelar Doktor dari Universitas Edinburgh pada tahun 1929 dengan anugerah istimewa (with special honors). Universitas tersebut juga menganugerahkan Jeffery dengar gelar Doktor dalam kesusastraan (D Litt) dengan summa cum laude pada tahun 1938. Jeffery termasuk penulis produktif. Tulisannya mengenai Alquran terbit di Jurnal The Muslim World tahun 1935 dengan Judul Progress in the Study of the Koran Text. Dua tahun setelah itu, yakni pada tahun 1937, buku Jeffery berjudul Materials for the History

of the Text of the Quran: The Old Codices (Bahan-bahan untuk Sejarah Teks al-Quran: Mushaf-mushaf Lama) terbit. Setahun setelah itu, yaitu pada tahun 1938, buku Jeffery yang berjudul The Foreign Vocabulary of the Quran (Kosa-kata Asing Alquran) terbit di India. Buku ini merupakan perluasan dari tesisnya Jeffery yang ditulis sekitar tahun 1925-1926. Pada tahun yang sama (1938), Jeffery dengan bantuan Otto Pretzl mendapatkan manuskrip yang ada di Berlin tentang Fadail Alquran karya Abu Ubaid. Jeffery menerjemahkan satu bagian dari karya Abu Ubaid mengenai ayat-ayat yang hilang dari al-Quran ke bahasa Inggris dan diterbitkan di The Muslim World pada 1938. Setahun sesudahnya, hasil penelitian Jeffery tentang ragam bacaan al-Fatihah dipublikasikan di Jurnal The Muslim World. Tahun 1940, Jeffery me-review dengan cukup panjang bukunya Nabia Abbot, The Rise of the North Arabic Script and its Kuranic Development, with a full description of the Kuranic Manuscripts in the Oriental Institute (Chicago: University of Chicago 1939). Pada tahun 1942, Jeffery bersama I. Mendelsohn mengkaji fotografi Mushaf al-Quran dari Samarqand, yang berada di perpustakaan Universitas Colombia. Hasil kajian tersebut dipublikasikan di Journal of the American Oriental Society 62 (1942) dengan judul The Orthography of the Samarqand Quran Codex. Pada tahun 1950, Jeffery juga mempublikasikan empat serial tulisannya tentang The Quran as Scripture di Jurnal the Muslim World. Tulisan ini kemudian dibukukan dan diterbitkan pada tahun 1952 dengan judul yang sama. Pada tahun 1951, Jeffery memodifikasi kembali karyanya tentang Sejarah Teks al-Quran dengan judul Index of Quranic Verses to the English Part of Material for the History of the Text of the Quran (Leiden: EJ Brill, 1951). Jeffery menyimpulkan bahwa kitab suci Alquran adalah wahyu progressif. (Arthur Jeffery, The Quran as Scripture, Muslim World 40 (1950)). Maksudnya, ide mengenai kitab suci dalam Islam adalah lanjutan dari

konsep yang sudah lama berkembang dalam Yahudi, Kristen dan juga agama lain. Karena itu, sejarah al-Quran sama juga dengan sejarah kitab-kitab suci lainnya. Alquran berkembang melalui berbagai tahap sejarah teks sehingga muncul menjadi teks standar yang selanjutnya dianggap suci. Jeffery menolak pendapat kaum Muslim yang mengatakan ketika Rasullullah saw wafat, teks Alquran sudah tetap, sekalipun belum dihimpun dalam sebuah mushaf. Ia memfokuskan penelitiannya kepada keragaman mushaf. Menurutnya, terdapat 15 mushaf primer dan 13 mushaf sekunder. Ia tidak mempercayai Mushaf Uthmani itu sebagai teks asli (Urtext). Jeffery mengutip pendapat yang menyebutkan bahwa ketika Utsman mengirim teks standart ke Kufah dan memerintahkan supaya teks-teks yang lain dibakar, Ibnu Masud menolak menyerahkan mushafnya. Di sini jelas Jeffery tidak jujur dalam menulis sejarah Alquran. Ia tidak mengkaji sikap menyeluruh dari Abdullah ibnu Masud. Padahal, Kitab alMasahif yang disuntingnya menunjukkan bahwa Ibnu Masud meridhai kodifikasi yang dilakukan Utsman ra Ibnu Masud merevisi pendapatnya yang awal dan kembali kepada pendapat Utsman dan para Sahabat. Ibnu Masud menyesali dan malu dengan apa yang telah dikatakannya. Banyak kesalahan dalam studi Arthur Jeffery dan para orientalis lain terhadap Alquran. Tampak, mereka juga tidak netral dalam studinya, sebab sudah berangkat dari asumsiasumsi tertentu. Ironisnya, di Indonesia, kini bermunculan jurnal dan buku-buku yang kata mereka mengkaji al-Quran secara kritis. Padahal, mereka terbukti menjiplak begitu saja pendapat orientalis, tanpa kritis. Lebih ironis lagi, kini di sejumlah Perguruan Tinggi mulai dikembangkan studi Alquran, yang mengarahkan mahasiswa agar tidak mensucikan Alquran. Dengan bangga metode orientalis diterapkan. Katanya ilmiah dan demi kemajuan. Padahal, sadar atau tidak, mereka telah bertaklid kepada orientalis ketimbang para ulama Islam yang alim dan shalih.

JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA

KAMIS, 23 SEPTEMBER 2010

Lima Konsep Islamisasi Sains

I
Budi Handrianto Mahasiswa S-3 Pendidikan Islam Univ Ibn Khaldun Bogor

stilah Islamisasi sains sudah pernah nyaring bergema di Indonesia pada era 1980an. Tapi, kemudian redup, sejalan dengan ketidakjelasan konsep dan pengembangannya. Bahkan, sering timbul kesalahpahaman. Apa sebenarnya Islamisasi sains? Secara umum, ada lima arus utama wacana Islamisasi sains. Pertama, Islamisasi sains dengan pendekatan instrumentalistik, yaitu pandangan yang menganggap ilmu atau sains hanya sebagai alat (instrumen). Artinya, sains terutama teknologi sekedar alat untuk mencapai tujuan, tidak memperdulikan sifat dari sains itu sendiri selama ia bermanfaat bagi pemakainya. Pendekatan ini muncul dengan asumsi bahwa Barat maju dan berhasil menguasai dunia Islam dengan kekuatan sains dan teknologinya. Karena itu, untuk mengimbangi Barat, kaum Muslim harus juga menguasai sains dan teknologi. Jadi, Islamisasi di sini adalah bagaimana umat Islam menguasai kemajuan yang telah dikuasai Barat. Islamisasi sains dengan pendekatan ini sebenarnya tidak termasuk dalam islamisasi sains yang hakiki. Banyak muslim yang ahli sains, bahkan meraih penghargaan dunia, namun tidak jarang dia makin jauh dari Islam. Meski demikian, pendekatan ini menyadarkan umat untuk bangkit melawan ketertinggalan dan mengambil langkah mengembangkan sains dan teknologi. Kedua, Islamisasi sains yang paling menarik bagi sebagian ilmuwan dan kebanyakan kalangan awam adalah konsep justifikasi. Maksud justifikasi adalah penemuan ilmiah modern, terutama di bidang ilmu-ilmu alam diberikan justifikasi (pembenaran) melalui ayat Alquran maupun Al-Hadits. Metodologinya adalah dengan cara mengukur kebenaran Alquran dengan fakta-fakta objektif dalam sains modern. Tokoh paling populer dalam hal ini adalah Maurice Bucaille. Menurut dokter asal Perancis ini, penemuan sains modern sesuai dengan Alquran. Hal ini membuktikan bahwa Alquran, kitab yang tertulis 14 abad yang lalu, adalah wahyu Tuhan, bukan karangan Muhammad. Ilmuwan lain yang mengembangkan Islamisasi dengan pendekatan justifikasi ini adalah Harun Yahya, Zaghlul An-Najjar, Afzalur Rahman dll. Namun, konsep ini menuai banyak kritik, misalnya dari Ziauddin Sardar yang mengatakan bahwa legitimasi kepada Alquran dalam kerangka sains modern tidak diperlukan oleh Kitab suci.

Meskipun bukan termasuk dalam kategori Islamisasi sains yang hakiki, pendekatan konsep ini sangat efektif mudah diterima oleh banyak Muslim serta meningkatkan kebanggaan mereka terhadap Islam. Namun demikian proses tersebut tidak cukup dan harus dikembangkan ke dalam konsep yang lebih mendasar dan menyentuh akar masalah kemunduran umat. Ketiga, konsep Islamisasi sains berikutnya menggunakan pendekatan sakralisasi. Ide ini dikembangkan pertama kali oleh Seyyed Hossein Nasr. Baginya, sains modern yang sekarang ini bersifat sekular dan jauh dari nilai-nilai spiritualitas sehingga perlu dilakukan sakralisasi. Nasr mengritik sains modern yang menghapus jejak Tuhan di dalam keteraturan alam. Alam bukan lagi dianggap sebagai ayat-ayat Alah tetapi entitas yang berdiri sendiri. Ia bagaikan mesin jam yang bekerja sendiri. Ide sakralisasi sains mempunyai persamaan dengan proses islamisasi

sains yang lain dalam hal mengkritisi sains sekular modern. Namun perbedaannya cukup menyolok karena menurut Nasr, sains sakral (sacred science) dibangun di atas konsep semua agama sama pada level esoteris (batin). Padahal Islamisasi sains seharusnya dibangun di atas kebenaran Islam. Sains sakral menafikan keunikan Islam karena menurutnya keunikan adalah milik semua agama. Sedangkan islamisasi sains menegaskan keunikan ajaran Islam sebagai agama yang benar. Oleh karena itu, sakralisasi ini akan tepat sebagai konsep Islamisasi jika nilai dan unsur kesakralan yang dimaksud di sana adalah nilai-nilai Islam. Keempat, Islamisasi sains melalui proses integrasi, yaitu mengintegrasikan sains Barat dengan ilmuilmu Islam. Ide ini dikemukakan oleh Ismail Al-Faruqi. Menurutnya, akar dari kemunduran umat Islam di berbagai dimensi karena dualisme sistem pendidikan. Di satu sisi, sistem pendidikan Islam mengala-

mi penyempitan makna dalam berbagai dimensi, sedangkan di sisi yang lain, pendidikan sekular sangat mewarnai pemikiran kaum Muslimin. Mengatasi dualisme sistem pendidikan ini merupakan tugas terbesar kaum Muslimin pada abad ke-15 H. Al-Faruqi menyimpulkan solusi dualisme dalam pendidikan dengan islamisasi ilmu sains. Sistem pendidikan harus dibenahi dan dualisme sistem pendidikan harus dihapuskan dan disatukan dengan jiwa Islam dan berfungsi sebagai bagian yang integral dari paradigmanya. Al-Faruqi menjelaskan pengertian Islamisasi sains sebagai usaha yaitu memberikan definisi baru, mengatur data-data, memikirkan lagi jalan pemikiran dan menghubungkan data-data, mengevaluasi kembali kesimpulan-kesimpulan, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan dan melakukan semua itu sehingga disiplin-disiplin itu memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cita-cita Islam.

Kelima, konsep Islamisasi sains yang paling mendasar dan menyentuh akar permasalahan sains adalah Islamisasi yang berlandaskan paradigma Islam. Ide ini yang disampaikan pertama kali secara sistematis oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas. Menurut al-Attas, tantangan terbesar yang dihadapi kaum Muslim adalah ilmu pengetahuan modern yang tidak netral telah merasuk ke dalam praduga-praduga agama, budaya dan filosofis yang berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman manusia Barat. Oleh karena itu islamisasi sains dimulai dengan membonkar sumber kerusakan ilmu. Ilmu-ilmu modern harus diperiksa ulang dengan teliti. Itu sebabnya al-Attas mengartikan Islamisasi sebagai, Pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belenggu paham sekular terhadap pemikiran dan bahasa. Juga pembebasan dari kontrol dorongan fisiknya yang cenderung sekular dan tidak adil terhadap hakikat diri atau jiwanya ... Islamisasi adalah suatu proses menuju bentuk asalnya... (Islam dan Sekularisme, 2010). Oleh karena dalam hal ini ada dua cara metode Islamisasi yang saling berhubungan dan sesuai urutan. Pertama ialah melakukan proses pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat. Kedua, memasukkan elemen-elemen Islam dan konsep-konsep kunci ke dalam setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan. Dengan demikian Islamisasi sains akan membuat umat Islam terbebaskan dari belenggu hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Tujuannya adalah wujudnya keharmonisan dan kedamaian dalam dirinya (fitrah). Islamisasi melindungi umat Islam dari sains yang menimbulkan kekeliruan dan mengembangkan kepribadian muslim yang sebenarnya. Oleh karena itu islamisasi sains tidak bisa tercapai hanya dengan menempeli (melabelisasi) sains dengan prinsip Islam. Hal ini hanya akan memperburuk keadaan selama virusnya masih berada dalam tubuh sains itu sendiri. Jadi, Islamisasi sains tidak sesederhana, misalnya, tidak sekedar menyalakan lampu dengan terlebih dahulu membaca basmalah. Islamisasi sains adalah sebuah konsep dasar yang berkaitan dengan worldview seorang muslim untuk mengembalikan Islam menuju peradaban dunia yang berjaya.

Menyatukan Fisika dan Metafisika

M
Wendi Zarman
Dosen Fisika, Mhs S3 Pendidikan Islam UIKA Bogor

enurut Prof SM Naquib al-Attas, masalah kekeliruan ilmu (corruption of knowledge) adalah merupakan masalah yang paling mendasar dalam kehidupan masyarakat modern. (al-Attas, Islam dan Sekularisme, 2010). Kekeliruan ini muncul akibat menyusupnya paham sekuler yang dibawa oleh peradaban Barat ke dalam ilmu-ilmu kontemporer. Ilmu yang keliru melahirkan tindakan manusia yang keliru pula. Inilah yang disebut oleh alAttas, pakar Filsafat Sains, sebagai loss of adab, yaitu hilangnya kemampuan manusia melakukan tindakan yang benar karena bersandar pada ilmu yang keliru. Tindakan yang keliru ini pada akhirnya bukanlah memberikan kebahagiaan, melainkan kesengsaraan kepada manusia. Buktinya, disaat sains dan teknologi sedemikian maju saat ini, umat manusia bukannya berhasil meraih kebahagiaan. Sebaliknya, berbagai keresahan dan kekeringan jiwa serta kerusakan alam terus meruyak. Kerusakan lingkungan, wabah penyakit yang tiada henti, bencana alam, degradasi moral, kriminalitas, dan peperangan, dating silih berganti. Ironisnya, paham sekuler inilah yang banyak dijadikan landasan bagi pengembangan ilmu pengetahuan masa kini yang kemudian diajarkan di sekolah-sekolah. Hampir tidak ada disiplin ilmu alam atau sosial yang tidak terpengaruh oleh ideologi sekular. Salah satu buktinya adalah ditolaknya wahyu sebagai sumber ilmu, sehingga semua ilmu ini dibangun dalam kerangka rasionalisme dan empirisisme. Ilmu Fisika sebagai ilmu yang sangat penting di era modern juga tidak lepas dari pengaruh paham sekular ini. Oleh karena itu, Ilmu Fisika perlu diislamkan. Apanya yang diislamkan? Saat bicara Islamisasi Fisika, maka harus

dimulai dari hal-hal yang paling asas dari Ilmu Fisika, bukan dari kulit luarnya. Islamisasi Ilmu Fisika bukanlah mengislamkan teori Newton atau teori relativitas Einstein sehingga menghasilkan suatu teori gerak baru yang Islami. Islamisasi juga bukan berarti mencocokkan Alquran dengan temuan fisika modern terkini. Misalnya, mengaitkan teori Big Bang dengan Alquran surat al-Anbiya ayat 30 yang berbicara tentang penciptaan alam semesta. Islamisasi yang dimaksud dalam hal ini adalah Islamisasi filsafat sains yang melatarbelakangi lahirnya teori-teori fisika tersebut. Hal ini karena teori-teori fisika tidaklah lahir dari ruang kosong, tapi berangkat dari suatu sandaran metafisika mengenai hakikat alam semesta. Sebagaimana telah disebut di atas, sandaran metafisika sains modern yang paling utama adalah paham sekular. Menurut Prof. Naquib al-Attas, salah satu dimensi dari sekularisasi adalah penghilangan pesona alam (disenchantment of nature). Artinya, alam hanyalah materi yang tidak memiliki makna spiritual. Oleh karena itu manusia berhak memperlakukannya sesuai dengan kemauan manusia. Dari sini kita dengan mudah mengidentifikasi mengapa masalah kerusakan lingkungan merupakan masalah paling pelik di abad modern. Sekularisasi juga telah menyebabkan penelitian fisika hanya menyibukkan diri dengan fenomena lahiriah (empiris) dan melepaskan kaitannya dengan Realitas Mutlak (Tuhan). Islamisasi tidak mempermasalahkan formulasi F=ma dalam teori gerak Newton, tetapi tafsiran filsafat sains yang menganggap dinamika alam sebagai sesuatu yang mekanistik. Layaknya mesin, alam bekerja sendiri berdasarkan mekanisme sebab dan akibat sehingga menegasikan kehadiran Tuhan. Sekiranya

Tuhan memang ada (sesuatu yang diragukan oleh banyak fisikawan dunia), Ia tidak punya peran dan kendali terhadap kejadian-kejadian di alam. Lalu manusialah yang kemudian menjadi tuhan yang mengendalikan alam. Di sinilah manusia mencabut unsur metafisika religius dari ilmu fisika.

Berbeda dengan paham sekular, semua konsep Islam dibangun dalam kaitannya dengan Tuhan. Oleh karena itu semua urusan di dalam Islam adalah religius. Demikian juga pandangan-Islam mengenai alam. Di dalam Islam, alam bukanlah sekedar materi tanpa makna, melainkan tanda (ayat) dari kehadiran dan kebesaran Allah. Oleh karena itu ketika seseorang meneliti dan mempelajari fisika ia berarti sedang berusaha mengenal Tuhannya. Hal ini ditegaskan dalam Alquran surat Ali Imran 191 : Yaitu orangorang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi seraya berkata, Wahai Tuhan kami, tidaklah engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, maha suci Engkau maka peliharalah kami dari siksa api neraka. Ayat di atas menegaskan bahwa kegiatan ibadah (mengingat Allah) berjalan bersamaan dengan kegiatan penelitian alam (memikirkan penciptaan langit dan bumi). Sedangkan ujung dari kedua kegiatan ini adalah mengenal semakin dekat dan mengenal Allah SWT. Pada titik inilah fisika dan metafisika Islam merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan (tauhid). Oleh karena itu di dalam Islam tidak dikenal istilah fisika untuk fisika, artinya penelitian fisika bukanlah untuk sekadar kesenangan memecahkan misteri alam. Itu sebabnya di sepanjang sejarah Islam kita tidak mengenal ada ilmuwan Muslim yang

menjadi anti Tuhan setelah menguasai ilmu fisika, atau ilmu apa pun, karena landasan mempelajarinya berangkat dari keimanan dan pengabdian kepada Allah. Bahkan, para ilmuwan di dunia Islam masa lalu biasanya juga dikenal sebagai orang yang faqih dalam ilmu agama. Sebaliknya di Barat, tidak sedikit ilmuwan yang semakin tahu tentang alam semakin meragukan keberadaan Tuhan, bahkan menjadi anti Tuhan. Laplace, seorang ahli astronomi Perancis abad ke-18, ketika ditanya Napoleon tentang pemeliharaan Tuhan terhadap alam semesta menjawab, Yang Mulia, saya tidak menemukan dimana tempat pemeliharaan Tuhan itu. Sementara Hawking, fisikawan yang dianggap paling tahu soal kosmologi, sampai sekarang pun masih saja bertanya apakah alam ini memiliki Pencipta, dan kalau ada apakah Ia juga mengatur alam semesta (Brief History of Time). Di negeri Muslim seperti Indonesia, walaupun tidak sampai meragukan Tuhan, umumnya ilmuwan Muslim kurang menguasai ilmu agama. Sekularisasi telah menyebabkan timbulnya kepribadian ganda (split personality) dalam diri ilmuwan tersebut. Hal itu karena visi sekular selalu memandang realitas secara dikotomis. Sains adalah sains, sedangkan agama adalah agama. Keduanya tidak berkaitan, sehingga wahyu tidak ada hubungannya dengan sains yang rasional dan empiris. Inilah perbedaan utama antara pandangan Islam dan sekular. Melalui sekularisasi, Ilmu Fisika diceraikan dari metafisika Islam. Sedangkan Islamisasi adalah mengembalikan metafisika Islam sebagai ruh Ilmu Fisika, sehingga ilmu ini menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan semata-mata memuaskan keingintahuan manusia terhadap alam.

JURNAL PEMIKIRAN ISLAM REPUBLIKA

KAMIS, 23 SEPTEMBER 2010

Menepis Dikotomi Dai dan Ilmuwan


Hidayat MT, Wendi Zarman MSi
Peneliti PIMPIN Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan Bandung

DR IR IMADUDDIN ABDULRAHIM

ang Imad, begitu dia biasa disapa. Namanya sangat tidak asing lagi bagi para intelektual Muslim di Indonesia. Kiprahnya dalam dunia dakwah di kampus sangat fenomenal. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di Malaysia. Banyak mahasiswa dan sarjana berubah pikiran setelah mendengar ceramah Bang Imad atau membaca tulisannya. Bang Imad! Nama lengkapnya adalah Muhammad Imaduddin Abdulrahim. Ia lahir di Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara, pada 21 April 1931/ 3 Zulhijjah 1349H. Ayahnya, Haji Abdulrahim, adalah seorang ulama yang juga tokoh Masyumi di Sumatera Utara. Sedangkan ibunya, Syaifiatul Akmal, seorangwanita yang merupakan cucu dari sekretaris Sultan Langkat. Bang Imad dibesarkan dalam tradisi pendidikan Islam yang kuat. Sejak kecil ayahnya sendiri yang langsung mengajarnya Alquran, berupa tajwid dan tafsir setiap usai shalat subuh. Dalam mengkaji Alquran, ayahnya sering menyelipkan berbagai cerita tentang tokoh-tokoh besar Islam. Cara itu sangat membekas dalam diri Bang Imad, sehingga membentuk semangat perjuangan Islam. Ayahnya juga menyediakan banyak buku dan majalah keislaman di rumah sebagai sumber bacaan baginya. Sementara ibunya berulang-ulang mengingatkan, Imaduddin itu berarti penegak tiang agama. Ia mengingatkan, agar anaknya selalu menegakkan shalat. Didikan kuat sejak kecil, berbekas dalam diri Imaduddin, sehingga tidaklah mengherankan, sejak muda Imaduddin telah memiliki ghirah keislaman yang menyala-nyala. Semangat ini kemudian membawanya berkecimpung dalam berbagai kegiatan dakwah dan perjuangan Islam. Meskipun aktif dalam kegiatan Islam sejak muda, Imaduddin tidak meneruskan pendidikannya dalam bidang ilmu-ilmu keislaman. Ia justru memilih kuliah Teknik Elektro di ITB. Pilihan ini didukung oleh ketekunan dan kecerdasannya semasa di bangku sekolah.Sejak HIS hingga SMA ia selalu berusaha menjadi yang terbaik di kelasnya. Demikianlah yang diajarkan ayahnya untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqulkhairat). Meskipun belajar di perguruan tinggi secular, semangat perjuangan Islam Bang Imad

bukannya luntur, tapi malah semakin membara. Begitu diterima sebagai mahasiswa, ia langsung bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Bandung dan menggalakkan kegiatan mengkaji Alquran dan tafsirnya di kalangan para aktivis. Tahun 1963 Bang Imad berangkat keluar negeri melanjutkan S2-nya di Iowa State University, Ames, Iowa, AmerikaSerikat. Tahun 1965 ia menyelesaikan S2-nya dan langsung melanjutkan S3-nya di Chicago. Baru dua bulan di Chicago Bang Imad mendapat kabar tentang terjadinya pemberontakan PKI. Beberapa diindikasikan terlibat sehingga terjadi penangkapan terhadap sejumlah dosen ITB. Akibatnya, terjadi kekosongan pengajar di berbagai jurusan. Bang Imad kemudian diminta pulang untuk membantu mengatasi kelangkaan pengajar tersebut. Sebagai aktivis, Bang Imad memberanikan diri menjadi dosen Agama Islam, disamping juga mengajar pada mata kuliah lain di DepartemenTeknik Elektro. Konsistensinya dengan

ajaran Tauhid membuatnya tidak segan-segan mengritik hal-hal yang dirasanya tidak sesuai dengan Alquran dan alHadits. Termasuk pihak penguasa, tak luput dari kritik kerasnya. Tidak mengherankan banyak orang menganggap dirinya sebagai tokoh garis keras. Buku Tauhid yang dikarang oleh Bang Imad, telah menginspirasi ribuan generasi muda Muslim di Indonesia. Tanggal 23 Mei 1978, seusai memberikan ceramah di Masjid Salman ITB, sekelompok orang berpakaian preman datang ke rumahnya. Ia lalu dijebloskan ke penjara di samping Taman Mini Indonesia Indah, selama empat bulan. Akhirnya, Prof Dr Dodi Tisna Amidjaya datang, meminta kepada Pengkopkamtib Sudomo, waktu itu, agar membebaskan Bang Imad. Kiprah Bang Imad dalam dakwah sampai menembus dunia internasional. Ia aktif di lembaga-lembaga International Islamic Federation of Student Organization (IIFSO) danWorld Assembly Moslem Youth (WAMY). Tahun 1970, setelah hubungan Indonesia dengan

Malaysia kembali normal, Bang Imad menjadi dosen tamu di Universitas Teknologi Malaysia. Di sini, ia terus menggalakkan dakwah. Saat merancang kurikulum, ia sengaja memasukkan pelajaran agama sebagai mata kuliah wajib agar mahasiswa yang dibentuk di sana bukan hanya menguasai sains modern tetapi juga memahami agama dengan baik. Mulanya hal ini ditentang oleh rektor karena tidak masuk dalam program pemerintah. Namun Bang Imad bersikeras dan mengancam pulang ke Indonesia jika usulannya ditolak. Dalam kuliah pertama yang juga dihadiri rektor, dosen, dan mahasiswa, Bang Imad meyakinkan bahwa agama Islam tidak bertentangan dengan sains dan teknologi. Ceramah ini ditanggapi positif dan menginspirasi banyak orang Malaysia. Kuliah-kuliah yang disampaikan Bang Imad ternyata memberi kesan yang dalam bagi mahasiswa dan dosen, sehingga beberapa di antaranya meminta Bang Imad membuat pelatihan sejenis Latihan Mujahid Dakwah (LMD) seba-

gaimana yang pernah dilakukannya di ITB. Jika di Indonesia, pelatihan ini diberi nama LMD, di Malaysia pelatihan ini digelari LatihanTauhid. Peserta pelatihan ini diwajibkan membawa Alquran ke kampus. Pelatihan ini membawa perubahan besar di kalangan mahasiswa Malaysia. Sebagai contoh, mahasiswa yang sebelumnya merasa malu membawa Alquran dan membungkusnya kedalam majalah, setelah pelatihan ini menjadi bangga membawa Alquran ke kampus. Meskipun sempat tertunda, Bang Imad akhirnya meraih Doktor Filsafat Teknik Industri dan Engineering Valuation dari Iowa State University. Jasanya dalam dunia dakwah sangatlah besar. Pada 2 Agustus 2008, Bang Imad dipanggil Allah SWT. Bang Imad telah berjasa besar dalam upaya mendekatkan antara sains dengan Islam, antara pribadi saintis Muslim dengan Islam itu sendiri. Bang Imad telah melakukan rintisan besar dalam dunia dakwah di kampus. Generasi berikutnya berkewajiban melanjutkan perjuangannya.

Misykat

ALQURAN

B
Dr Hamid Fahmy Zarkasyi
Direktur INSISTS

rad Thor, seorang penulis novel yang produkif. Tulisannya yang agak mutakhir berjudul The Last Patriot, Thriller. Detail mengenai novel ini tidak penting. Tapi yang aneh karya fiksi ini memasukkan fakta-fakta sejarah Islam yang difiksikan atau dikarangnya sendiri. Ia misalnya menulis bahwa pada bulan juni 632 Nabi Muhammad menerima wahyu terakhir. Dalam beberapa hari (kemudian) ia terbunuh. Selain itu ia juga menyatakan bahwa wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad hilang. Tapi, di akhir buku itu, dalam Authors Note ia menulis bahwa pendapat tentangnya hilangnya wahyu Muhammad itu adalah karangan saya dan pendapat tentang terbunuhnya Muhammad oleh sahabatnya itu adalah rekayasa saya (meskipun ada bukti bahwa Muhammad itu dibunuh Dalam novel itu Brad Thor mengaku bahwa diantara yang menjadi konsultannya adalah tentang Islam adalah Daniel

Pipes dan Robert Spencer. Kedua konsultan ini banyak menulis Islam secara negatif. Robert Spencer menulis buku berjudul Islam Unveiled (Di-Indonesiakan dan diterbitkan oleh Paramadina menjadi Islam Ditelanjangi). Di dalam buku ini ia menggambarkan bahwa Alquran tidak punya konsep damai dengan kafir and musyrik. Ia juga menyitir ayat-ayat perang terhadap kafir dan juga ahlul kitab. Itu berarti bahwa inti dari ajaran Islam, yakni Alquran memang sudah memusuhi orang kafir. Bahkan dia menolak pernyataan Harun Yahya bahwa Alquran bukan sumber kekerasan. Kisah-kisah pembunuhan di zaman Nabi terhadap musuh-musuh Islam ((yang berlum jelas kesahihannya) dibeberkan. Masih banyak lagi. Selain mengorek apakah Islam itu agama damai, ia juga memojokkan Islam dalam soal HAM dan soal perempuan. Pendek kata Spencer melihat secara khusus sisi negatif Islam dari pemahamannya sendiri dan tidak menyebut

sisi positifnya. Ini seperti memberi tahu orang Barat bahwa Islam adalah masalah besar bagi Barat. Solusi yang ditawarkan Robert secara implisit muncul dalam bentuk pertanyaan: Apakah Islam kompatibel dengan Demokrasi Liberal? Dapatkah Islam Disekularkan, Dicocokkan dengan Pluralisme Barat? Apakah Islam toleran terhadap non-Muslim? Jawaban dari dua pertanyaan pertama adalah positif, sedangkan jawaban pertanyaan terakhir adalah negatif. Artinya, solusi masalahnya, Islam harus di Baratkan, disekularkan atau diliberalkan. Robert Spencer seperti menegaskan bahwa masalah terbesar hubungan Islam dan Barat adalah Alquran itu sendiri. Dan mustahil terjadi rekonsiliasi dengan Islam. Jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah mem-Barat-kan, mensekularkan, meliberalkan Muslim. Dan ini sudah berhasil di beberapa kasus. Sejatinya, pembakaran Alquran oleh

John Terry atau siapapun tidak berdampak apa-apa bagi Muslim. Orang masih bisa mencetak lagi. Kita perlu marah karena ghirah kita, karena keimanan kita dan karena merusak sesuatu yang kita sucikan. Jangankan Alquran bendera kita dibakar pun mengundang demo besar-besaran. Bagi yang tidak demo akan dicap rendah jiwa patriotismenya dan lemah nasionalismenya. Memang mendemo pembakar Quran perlu, supaya tahu arti kitab suci bagi Muslim. Namun, yang lebih perlu adalah mendemo tulisan orientalis dan muridmuridnya yang merusak aqidah, menafikan syariah dan merendahkan status Alquran dari wahyu menjadi sekedar karangan Nabi Muhammad. Karena menyerang ajaran Alquran itu lebih dahsyat dari sekedar membakar mushaf Alquran. Alquran adalah ilmu dan ilmu itu cahaya, karena itu cahaya itu harus diperjuangkan agar tetap hidup dalam diri kita.