Anda di halaman 1dari 4

INSEKTARIUM

Insectarium adalah sampel jenis serangga hidup yang ada di kebun binatang, atau museum atau pameran tinggal serangga. Insectariums sering menampilkan

berbagai jenis serangga dan arthropoda yang mirip, seperti laba-laba, kumbang, kecoa, semut, lebah, kaki seribu, kelabang, jangkrik, belalang, serangga tongkat, kalajengking dan belalang sembah. Mahasiswa yang sedang melakukan pengawetan serangga diberi keterampilan untuk membuat spesimen serangga baik awetan kering maupun awetan

basah. Beberapa matakuliah mengharuskan mahasiswa mengoleksi serangga sesuai dengan mata kuliahnya, misalnya matakuliah entomologi dasar salah satu tugas mahasiswa yang mengambil matakuliah ini adalah melakukan koleksi segala macam serangga dan membuat awetan basah dan kering serta mengidentifikasinya sampai tingkat famili. Selain matakuliah entomologi dasar matakuliah pengendalian hayati menghendaki mahasiswanya mengoleksi dan mengawetkan serangga-serangga, musuh alami, koleksi dan awetan serangga hama pascapanen untuk mata kuliah pascapanen. Pada umumnya mahasiswa cukup terampil dalam melakukan koleksi dan membuat awetan serangga secara mandiri. Hasil koleksi tersebut disimpan di laboratorium dan digunakan untuk kepentingan praktikum taksonomi serangga. Praktikum ini membutuhkan bagian-bagian tubuh serangga yang khas untuk diketahui hingga familinya dan juga digunakan untuk responsi beberapa mata kuliah dan praktikum yang berhubungan dengan entomologi. Gambar disamping adalah salah satu contoh spesimen kupu-kupu hasil praktikum mahasiswa pada matakuliah entomologi dasar. Pengawetan kupu-kupu adalah dengan cara menusuk dengan jarum serangga pada bagian garis tengah mosthorax untuk serangga dewasa; mengatur kedua sayapnya dengan ketentuan sayap depan bagian posterior tegak lurus dengan badan, sayap kedua menyesuaikan. Pengaturan posisi sayap dilakukan pada span block. Serangga yang dikoleksi oleh mahasiswa selain kupu-kupu adalah kumbang, belalang, jengkerik, semut, lebah, lalat buah, lalat sehari, kepik, dan ngengat. Di laboratorium entomologi dasar juga terdapat koleksi beberapa arthropoda selain serangga, yaitu arachnida (laba-laba), akarina (tungau), diplopoda (kaki seribu), chilopoda (kelabang), xiphosura (mimi), dan crustacea (kepiting, lobster, dan udang).

A. Membuat awetan kering awetan kering tumbuhan disebut herbarium, sedang awetan insekta disebut insektarium. Hewan vertebrata dapat diawetkan dengan membuang otot dagingnya sehingga tinggal kilit dan rangkanya. Selanjutnya hewan di isi dan dibentuk sesuai aslinya. Awetan demikian disebut taksidermi. Cara membuat herbarium (awetan kering tumbuhan) a) jika memungkinkan, kumpulkan tumbuhan secara lengkap, yaitu akar, batang, daun dan bunga. Tubuhan berukuran kecil dapat diambil seluruhnya secara lengkap. Tumbuhan beukuran besar cukup diambil sebagian saja, terutama ranting, daun, dan jika ada, bunganya. b) semprotlah dengan alcohol 70% untuk mencegah pembusukan oleh bakteri dan jamur. c) sediakan beberapa kertas koran ukuran misalnya 32 48 cm. d) atur dan letakkan bagian tumbuhan diatas koran. Daun hendaknya menghadap ke atas dan sebagian menghadap ke bawah terhadap kertas koran tersebut. Agar posisinya baik, dapat dibantu dengan mengikat tangkai/ranting dengan benang yang dijahitkan ke kertas membentuk ikatan. e) tutup lagi dengan koran. Deikian seterusnya hingga kalian dapat membuat beberapa lembar. f) terakhir tutup lagi dengan koran, lalu jepit kuat-kuat dengan kayu/bamboo, ikat dengan tali. Hasil ini disebut specimen. g) simpan selama 1-2 minggu ditempat kering dan tidak lembab. Catatan: a) di udara lembab, specimen dijemur dibawah terik matahari atau didekat api. b) secara periodic gantilah kertas koran yang lembab/basah dengan yang kering beberapa kali. Kertas yang lembab dapat dijemur untuk digunakan beberapa kali. c) jangan menjemur dengan membuka kertas koran yang menutupinya. Menjemur specimen tidak boleh terlalu lama sebab proses pengeringan yang terlalu cepat hasilnya kurang baik. d) jika telah kering, ambil specimen tumbuhan dan tempelkan di atas kertas karton ukuran32 48 cm. Caranya harus pelan-pelan dan hati-hati. Bagian-bagian tertentu dapat diisolasi agar dapat melekat pada kertas herbarium. e) buatlah tabel yang memuat: nama kolektor, nomor koleksi (jika banyak), tanggal, nama specimen (ilmiah, daerah), nama suku/famili dan catatan khusus tentang bunga, buah atau ciri lainnya.

f) tutup herbarium dengan plastic. g) jika disimpan, tumpukan herbarium harus diberi kapur barus (kamfer).

B. Cara membuat insektarium a. tangkaplah serangga misal(kupu-kupu atau capung) dengan menggunakan jaring serangga. Hati-hati terhadap serangga berbahaya. b. matikan serangga dengan jalan memasukkan kedalam kantong plastic yang telah diberi kapas yang dibasahi kloroform. c. serangga yang sudah mati dimasukkan kedalam kantong tersendiri/stoples. Kupukupu dan capung dimasukkan kedalam amplop dengan hati-hati agar sayapnya tidak patah. d. suntiklah tubuh/badan serangga dengan formalin 5%. Sapulah bagian tubuh luar dengan formalin 5%. e. sebelum mongering, tusuk bagian dada serangga dengan jarum pentul. f. jika menggunakan belalang, rentangkan salah satu sayap kearah luar. Jika menggunakan kupu-kupu, sayapnya direntangkan pada papan perentang atau kertas tebal, sehingga tampak indah. Demikian pula jika menggunakan capung. g. pengering cukup dilakukan di dalam ruangan pada suhu kamar. Tancapkan jarum pentul pada busa. h. setelah kering, serangga dimasukkan ke dalam kotak insektarium (dari karton atau kayu). Ke dalam kotak insektarium dimasukkan kapur barus (kamfer). i. beri label (tempelkan di sisi luar kotak) yang memuat: nama kolektor, nomor koleksi, tanggal pembuatan, nama serangga (ilmiah, daerah) nama suku/familia dan catatan khusus lainnya. Taksidermi Taksidermi adalah hewan hasil pengawetan, biasanya golongan vertebrata yang dapat dikuliti. Pada pembuatan taksidermi, hewan dikuliti, organ-organ dalam dibuang, untuk selanjutnya dibentuk kembali seperti bentuk aslinya. Hewan-hewan vertebrata yang sering dibuat taksidermi misalnya berbagai jenis mamalia, kadal atau reptil, dsb. Taksidermi seringkali dipergunakan sebagai bahan referensi untuk identifikasi hewan vertebrata, juga menunjukkan berbagai macam ras yang dimiliki suatu spesies. Selain itu, tentu saja taksidermi dapat dijadikan sebagai media pembelajaran biologi.

Alat dan bahan yang diperlukan antara lain: (1) bak bedah; (2) alat-alat bedah seperti gunting dan pinset; (3) alat-alat dan bahan pembius misal kloroform dan sungkup; (4) kawat, benang, kapas, dan jarum jahit; (5) zat pengawet seperti boraks atau tepung tawas, formalin; (6) air. Cara pembuatan taksidermi adalah sebagai berikut: 1. Potong otot-otot paha dan pisahkan tulang paha dari persendian dan pangkal paha, keluarkan bagian ini. 2. Potonglah otot-otot pada tumit, keluarkan jaringan lunak pada telapak kaki dengan jalan mengirisnya. Keluarkan semua bagian kaki lainnya yang masih tertinggal di dalam kulit. 3. Ulangi langkah pertama dan kedua di atas untuk bagian tangan, dan ekor. 4. Untuk bagian kepala, lepaskan kulit secara hati-hati, sertakan telinga, kelopak mata pada kulit. Jaga jangan sampai robek. Potonglah tulang rawan hidung dan biarkan melekat pada kulit. Potonglah bagian kepala dan leher, bersihkan bekas-bekas otak dengan cara menyemprotkan air. 5. Balikkan kulit dan bersihkan dari sisa daging dan lemak. 6. Basuh bagian permukaan dalam kulit tubuh dengan boraks, demikian pula untuk ekor, kaki, tangan dan tengkorak kepala. 7. Sebagai pengganti mata, gunakan bola mata tiruan. Bentuk tubuh hewan kembali dengan menggunakan kapuk dan kawat, lalu jahit dengan rapi. 8. Atur posisi hewan sebagaimana kebiasan hewan sewaktu masih hidup. 9. Pajang taksidermi pada tempat-tempat yang aman dan terhindar dari serangan serangga, bersih dan kering. Insektisida, atau kamper (naftalen) dapat ditambahkan untuk mencegah serangan jamur. Ada baiknya taksidermi disimpan dalam boks kaca.