Anda di halaman 1dari 15

TUGAS KMB II TRAKEOSTOMI CARE

Disusun oleh:

JIMI STEVEN NIM: PO.62.20.1.09.060 KEPERAWATAN REGULER XII B Dosen pengajar : Ns. ESTER INUNG SYLVIA, M.Kep.,Sp.MB, CWCC
NIP

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALANGKA RAYA JURUSAN KEPERAWATAN TAHUN 2010/2011

TRAKEOSTOMI CARE Trakeostomi adalah prosedur dimana dibuat lubang pada dinding depan/anterior trakea untuk bernapas . Ketika selang indweling dimasukan kedalam trakea , maka istilah trakeostomi digunakan . trakeostomi dapat menetap atau permanen . Menurut letak stoma, trakeostomi dibedakan letak yang tinggi dan letak yang rendah dan batas letak ini adalah cincin trakea ke tiga. Sedangkan menurut waktu dilakukan tindakan takeostomi dibagi dalam 1) trakeostomi darurat dan segera dengan persiapan sarana sangat kurang dan 2) trakeostomi berencana (persiapan sarana cukup) dan dapat dilakukan secara baik.

Indikasi trakeostomi : 1. Mengatasi obstruksi pernapasan akut, stenosis laring dan trakea, trauma trakea, untuk terapi pengobatan jangka panjang, dan sebagai prosedur awal untuk pembedahan yang lebih luas. 2. Mengurangi ruang rugi (dead air space) di saluran nafas bagian atas seperti daerah rongga mulut, sekitar lidah dan faring. Dengan adanya stoma maka seluruh oksigen yang dihirupnya akan masuk ke dalam paru, tidak ada yang tertinggal di ruang rugi itu. Hal ini berguna pada pasien dengan kerusakan paru, yang kapasitas vitalnya berkurang. 3. Mempermudah pengisapan sekret dari bronkus pada pasien yang tidak bisa mengeluarkan secara fisiologik, misalnya pada pasien dalam koma. 4. Untuk memasang respirator (alat bantu pernapasan). Untuk mengambil benda asing dari subglotik, apabila tidak mempunyai fasilitas untuk bronkoskopi.

Alat-alat trakeostomi : Alat yang perlu dipersiapkan untuk melakukan trakeostomi ialah semprit dengan obat analgesia (novokain), pisau (skalpel), pinset anatomi, gunting panjang yang tumpul, dilator trakea, sepasang pengait tumpul, kait trakea Jackson dan kait saraf cushing, klem arteri, gunting kecil yang tajam serta kanul trakea yang ukurannya cocok untuk pasien.

Pertimbangan keperawatan perioperatif : Prosedur dapat dilakukan di bawah anestesi local dan anastesi umum, bergantung pada indikasi pembedahan. Prosedur dapat dilakukan dengan selang endotrakea atau bronkoskop. Persiapan praoperatif yang lengkap merupakan hal yang sangat penting dan harus mencakup perawatan trakeostomi pascaoperatif dan diskusi mengenai bagaimana pasien dapat terus berkomunikasi segera setekah operasi (mis. Dengan sebuah papan tulis ). Peralatan pengisap, oksigen, dan peralatan resusitasi harus selalu disiapkan. Pasien harus selalu membawa sebuah selang trakeostomi tambahan dengan ukuran yang sama dengan yang diterima pasien. Semua peralatan harus disiapkan sebelum prosedur dilakukan. Pasien diletakkan pada posisi terlentang ditempat tidur ruang operasi, leher diekstensikan dan bahu diangkat dengan sebuah gulungan atau bantal. Keseluruhan leher, bahu, dan dada anterior atas dibersihkan serta ditutup duk seperti pada tiroidektomi. Tehnik trakeostomi : Pasien tidur terlentang, bahu diganjal dengan bantal kecil sehingga memudahkan kepala untuk diekstensikan pada persendian atlanto oksipital. Dengan posisi seperti ini leher akan lurus dan trakea akan terletak digaris median dekat permukaan leher. Kulit daerah leher dibersihkan secara aseptis dan anti septis dan ditutup dengan kain steril. Obat anestetikum (novokain) disuntikkan di pertengahan krikoid dengan fosa suprasternal secara infiltrasi. Sayatan kulit dapat vertical di garis tengah leher mulai di bawah krikoid sampai fosa suprasternal atau jika membuat sayatan horizontal dilakukan pada pertengahan jarak antara kartilago krikoid dengan fosa suprasternal atau kira-kira 2 jari dibawah krikoid orang dewasa. Sayatan jangan terlalu sempit, dibuat kira-kira 5 cm. Dengan gunting panjang yang tumpul kulit serta jaringan di bawahnya dipisahkan lapis demi lapis dan ditarik ke lateral dengan pengait tumpul, sampai tampak trakea yang berupa pipa dengan susunan cincin-cincin tulang rawan yang berwarna putih. Bila lapisan kulit dan jaringan di bawahnya di buka tepat di tengah maka trakea ini mudah ditemukan. Pembuluh darah yang tampak ditarik ke lateral. Ismus tiroid yang ditemukan ditarik keatas supaya cincin trakea jelas terlihat. Jika tidak mungkin, ismus tiroid di klem pada dua tempat dan dipotong ditengahnya. Sebelum klem ini dilepaskan ismus tiroid diikat kedua tepinya dan disisihkan ke lateral. Perdarahan dihentikan dan jika perlu diikat. Lakukan aspirasi dengan cara menusukkan jarum pada membran antara cincin trakea dan akan terasa ringan waktu ditarik. Buat stoma dengan memotong cincin trakea ke tiga dengan gunting yang tajam. Kemudian dipasang kanul trakea dengan ukuran yang sesuai. Kanul difiksasi dengan tali pada leher pasien dan luka operasi ditutup dengan kasa. Hal-hal yang perlu diperhatikan, sebelum membuat lubang pada trakea, perlu dibuktikan dulu yang akan dipotong itu benar-benar trakea dengan cara mengaspirasi dengan semprit yang

berisi novokain. Bila yang ditusuk itu adalah trakea maka pada waktu dilakukan aspirasi terasa ringan dan udara yang terisap akan menimbulkan gelembung udara. Untuk mengurangi refleks batuk dapat disuntikkan novokain sebanyak 1 cc ke dalam trakea. Untuk menghindari terjadinya komplikasi perlu diperhatikan insisi kulit jangan terlalu pendek agar tidak sukar mencari trakea dan mencegah terjadinya emfisema kulit. Ukuran kanul harus sesuai dengan diameter lumen trakea. Bila kanul terlalu kecil, akan menyebabkan kanul bergerak gerak sehingga terjadi rangsamgan pada mukosa trakea dan mudah terlepas keluar. Bila kanul terlalu besar, sulit untuk memasukkannya ke dalam lumen dan ujung kanul akan menekan mukosa trakea dan menyebabkan nekrosis dinding trakea. Panjang kanul harus sesuai pula. Bila terlalu pendek akan mudah keluar dari lumen trakea dan masuk ke dalam jaringan subkutis sehingga pasien asfiksia. Bila kanul terlalu panjang maka mukosa trakea akan teriritasi dan mudah timbul jaringan granulasi.

Langkah penting: 1. Dapat dibuat dua jenis insisi: Horizontal atau Vertikal. Insisi kulit digaris tengah dibuat dari bagian tengah tulang rawan tiroid ke tekik sternum. Setelah insisi kulit, sisa prosedur lainya hampir seluruhnya dikerjakan dengan elektrokauter atau diseksi tumpul melalui jaringan lemak subkutis, fasia servikalis, dan otot sternohioideus. 2. Ismus kelenjar tiroid diretraksi untuk memperlihatkan cincin trakea kedua, ketiga,dan keempat. Pada beberapa kasus, ismus mungkin perlu dipotong. 3. Dengan menggunakan sebuah jarum hipodemik, dapat disuntikkan beberapa tetes anestesik topical ke dalam lumen trakea untuk mengurangi refleks batuk. 4. Sebuah mata pisau kemudian digunakan untuk memotong sebuah jendela dengan ukuran yang sama dengan garis tengah selang trakeostomi secara langsung diatas cincin trakea yang dipilih. Lubang kedalam trakea biasanya dibuat tepat pada atau dibawah cincin trakea kedua; jika tidak, maka dapat terjadi stenosis subglotis. 5. Selang trakeostomi dimasukan, obstruktor dicabut, dan jalan napas diperiksa sebelum selang endotrakea atau bronkoskop yang terpasang dilepaskan. 6. Tepi-tepi luka sedikit diaproksimasi. selang diikatkan ke kulit; pita diikat dengan sampul mati dan diikat di belakang leher. 7. Selang bagian dalam dimasukkan. Di sekitar selang trakeostomi dipasang pembalut kasa.

Prosedur : prosedur trakeostomi dilakukan di ruang operasi atau di unit perawatan intensif, dimana ventilasi pasien dapat dikontrol dengan baik dan tehnik aseptik yang optimal dapat dipertahankan. Suatu lubang dibuat pada cincin trakea kedua dan ketiga. Cuff trakeostomi adalah perlekatan yang dapat mengembang pada trakeostomi yang dirancang untuk menyumbat ruang antara dinding trakea dengan selang untuk memungkinkan ventilasi mekanis yang efektif. Selang trakeostomi dipasang di tempatnya dengan plester pengencang mengelilingi leher pasien. Biasanya, kasa segi empat steril diletakan diantara selang dan kulit untuk menyerap drainase dan mencegah infeksi.

Komplikasi : komplikasi dapat terjadi dini atau lanjut dalam perjalanan penatalaksanaan selang trakeostomi. Komplikasi bahkan dapat terjadi bertahun-tahun setelah selang trakeostomi dilepas. Komplikasi dini yang terjadi segera setelah trakeostomi dilakukan mencakup perdarahan, pneumotoraks, embolisme udara, aspirasi, emfisema subkutan atau mediastinum, kerusakan saraf laring kambuhan, atau penetrasi dinding trakea posterior. Kompllikasi jangka panjang termasuk obstruksi jalan nafas akibat akumulasi sekret atau protrusi cuff diatas lubang selang, infeksi, ruptur arteri inominata, disfagia, fistula trakeoesofagus, dilatasi trakea, atau iskemia trakea dan nekrosis. Stenosis trakea dapat terjadi setelah selang dipasang.

Intervensi keperawatan pascaoperatif : pasien membutuhkan dan pengkajian kontinu. Lubang yang baru saja dibuat harus dijaga agar tetap paten dengan pengisapan sekresi yang sesuai. Setelah tanda-tanda vital stabil, pasien dibaringkan dalam posisi semi-fowler untuk memudahkan ventilasi, menggalakkan drainase, meminimalkan edema, dan mencegah regangan pada garis sutura. Obat-obat analgesik dan sedatif diberikan dengan hati-hati karena efek merugikannya yang menekan refleks batuk. Sasaran utama asuhan keperawatan trakeostomi adalah untuk mengurangi kegelisahan pasien dan memberikaan suatu cara komunikasi yang efektif. Penanganan akan membantu mengusir ketakutan akan asfiksia jika pasien tidak mampu untuk meminta pertolongan. Kertas dan pensil atau magic slate dan lampu pemanggil pasien disimpan dalam jangkauan pasien untuk memastikan cara berkomunikasi.

PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI


Perawatan pasca trakeostomi sangatlah penting, karena secret dapat menyumbat, sehingga akan terjadi asfiksia. Oleh karena itu sekret di trakea dan kanul harus sering dihisap ke luar, dan kanul dalam dicuci sekurangnya 2 kali sehari, lalu segera dimasukkan lagi kedalam kanul luar. Pasien dirawat di ruang perawatan trakeostomi sangatlah penting. Bila kanul harus dipasang untuk jangka waktu lama, maka kanul luar harus dibersihkan 2 minggu sekali. Kain kasa di bawah kanul harus diganti setiap basah, untuk menghindari terjadinya dermatitis.

PERAWATAN TRAKEOSTOMI
1. Pengisapan trakea (selang trakeostomi atau endotrakea). Pengisapan selang trakea dilakukan ketika bunyi nafas tambahan terdeteksi atau ketika terdapat sangat banyak sekresi. Pengisapan yang tidak diperlukan menyebabkan bronkospasme dan menyebabkan trauma pada mukosa trakea. Semua peralatan yang kontak langsung dengan jalan nafas bawah pasien harus steril untuk mencegah infeksi paru dan sistemik yang membahayakan. Peralaan Kateter pengisap Sarung tangan Goggles untuk pelindung mata Spuit 5-10 ml Normal salin steril yang dituangkan kedalam cangkir untuk irigasi Bag yang dapat mengembang sendiri milik pasien (resuscitator tanagan) dengan oksigen suplemental(kantung diganti setiap hari untuk mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi). Mesin pengisap (suction) Prosedur Jelaskan prosedur pada pasien sebelum memulai dan berikan ketenangan selama pengisapan, karena mungkin pasien gelisah berkenaan dengan tersedak dan ketidakmampuan untuk berkomunikasi. Mulai dengan mencuci tangan secara menyeluruh. Hidupkan sumber mesin pengisap (tekanan tidsk boleh melebihi 120 mmHg). Buka kit kateter pengisap. Isi basin dengan normal salin steril. Ventilasi pasien dengan bag resusitasi manual dan aliran oksigen yang tinggi. Kenakan sarung tangan pada tangan yang dominan. Ambil kateter pengisap dengan tangan yang mengenakan sarung tangan dan hubungkan dengan pengisap. Hiperinflasi atau hiperoksigenasikan paru-paru pasien selama beberapa kali nafas dalam dengan kantung yang dapat mengembang sendiri. Masukan kateter sejauh mungkin sampai ujung selang tanapa memberikan isapan, cukup untuk menstimulasi refleks batuk. Beri isapan sambil menarik kateter, memutar kateter dengan perlahan 360 derajat (tidak lebih dari 10 detik sampai 15 detik, karena pasien dapat menjadi hipoksik dan mengalami disritmia, yang dapat mengarah pada henti jantung).

Reoksigenasikan dan inflasikan paru-paru pasien selama beberapa kali nafas. Masukkan 3 sampai 5 ml normal salin kedalam jalan nafas hanya jika refleks batuk tertekan. Ulangi empat langkah sebelumnya sampai jalan nafas bersih. Bilas kateter dalam basin dengan normal salin steril antara tindakan pengisapan bila perlu. Hisap kavitas orofaring setelah menyelesaikan pengisapan trakeal. Bilas selang pengisap. Buang kateter, sarung tangan, dan basin.

2. Penatalaksanaan balon Sebagai aturan umum, balon pada selang endostrakea atau trakeostomi harus mengembang. Tekanan di dalam balon harus serendah mungkin sehingga memungkinkan pengiriman volume tidal yang adekuat dan mencegah aspirasi pulmunal. Biasanya tekanan dipertahankan dibawah 25 cm H2O untuk mencegah cidera dan diatas 20 cm H2O untuk mencegah aspirasi. Tekanan cuff harus dipantau sedikitnya setiap 8 jam dengan menempelkan diameter tekanan genggam pada pilot balon selang atau melalui teknik penggunaan volume kebocoran minimal atau volume oklusi minimal. Dengan intubasi jangka panjang, tekanan yang lebih tinggi diperlukan untuk mempertahankan penutupan yang adekuat.
3. Perawatan trakeostomi

Perawatan trakeostomi : Cuff trakeostomi a) Selang balon (udara disuntik kedalam cuff) diperlukan selama ventilasi mekanis yang lama Rasional : Tujuan dari penggunaan selang balon adalah untuk mencegah kebocoran udara selama ventilasi tekanan-positif dan untuk mencegah aspirasi trakea dan kandungan lambung. Seal yang adekuat diperlukan karena kebocoran udara dari mulut atau trakeostomi yang tidak tampak atau halus, bunyi gurgling udara yang datang dari tenggorokan yang tidak tampak. b) Cuff tekanan rendah

Rasional : Cuff tekanan rendah mengeluarkan tekanan minimal pada mukosa trakea dan dengan demikian mengurangi bahaya ulserasi trakea dan striktura.

Selang trakeostomi dan perawatan kulit a. Inspeksi balutan trakeostomi terhadap kelembaban atau drainase. Rasional : Balutan trakeostomi diganti sesuai kebutuhan untuk menjaga kulit tetap bersih dan kering. Jangan biarkan balutan basah tetap terpasang di atas kulit. b. Cuci tangan Rasional : Pencucian tangan mengurangi bakteri pada tangan. c. Jelaskan prosedur pada pasien Rasional : Pasien dengan trakeostomi tampak gelisah dan membutuhkan penanganan dan dukungan terus menerus. d. Kenakan sarung tangan, lepaskan balutan yang basah dan buang Rasional : Dengan mengamati isolasi subtansi tubuh dengan balutan yang terkontaminasi mengurangi kontaminasi-silang. e. Siapkan peralatan steril, termasuk hydrogen peroksida, normal salin atau air steril, aplikator berujung kapas, balutan. Rasional : Dengan menyiapkan bahan dan peralatan yag diperlukan memungkinkan prosedur diselesaikan dengan efektif. f. Kenakan sarung tangan steril. Rasional : Meminimalkan transmisi flora permukaan pada saluran pernapasan yang steril. g. Bersihkan luka dan lempeng selang trakeostomi dengan aplikator steril yang dibasahi dengan hidrogen peroksida. Bilas dengan normal salin.

Rasional : Hidogen peroksida efektif untuk mencairkan sekresi yang mongering. Pembilas mencegah residu kulit. h. Gunakan salep bakteriostatik pada pinggiran luka trakeostomi jika diresepkan. Rasional : Memberikan perlindungan bakteriostatik topical. i. Jika tali yang lama sudah basah, letakkan tali twill dalam posisinya untuk mengamankan selang trakeostomi. Masukkan satu ujung tali melalui lubang samping kanula terluar. Lingkarkan tali tersebut sekeliling leher pasien dan ikatkan tali tersebut melalui lubang yang berlawanan dari kanula terluar. Kumpulkan kedua ujungnya sehingga keduanya bertemu pada satu sisi leher. Amankan dengan simpulan. Kencangkan sampai hanya dua jari yang dapat menyusup diantara tali tersebut. Rasional : Ini akan memberikan ketebalan ganda pada tali sekitar leher. Selang trakeostomi dapat terlepas dengan gerakan atau batuk yang kuat jika dibiarkan tidak diikat. Akan sulit untuk memasukkan selang trakeostomi kembali, dan gawat nafas dapat terjadi jika selang trakeostomi terlepas. j. Lepaskan tali yang lama dan buang k. Gunakan balutan trakeostomi steril, dan paskan dengan baik dibawah tali twill dan flange selang trakeostomi sehingga insisi tertutup. Rasional : Balutan yang dapat terlepas-lepas benangnya tidak digunakan di sekitar trakeostomi karena bahaya dari material, kain tiras, atau benang yang dapat masuk kedalam selang trakea, sehingga menyebabkan obstruksi atau pembentukan abses. Balutan khusus yang tidak mempunyai kecenderungan terlepas-lepas benangnya digunakan untuk keperluan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Gruendemann, Barbara J. Fernsebner, Billie. 2006:100-101. Buku Ajar Keperawatan Perioperatif volume 2 praktik.Jakarta. EGC. Smeltzer, Suzanne C. Bare, Breenda C. 2002:653-656. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner dan Suddarth edisi 8. Jakarta EGC. Soepardi, Efiaty A. Iskandar, Nurbaiti. 2001:204-209. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga-Hidung-Tenggorokan-Kepala Leher edisi ke lima. FKUI. Jakarta.