Anda di halaman 1dari 6

Laporan Kimia Analitik KI-3121 SPEKTROFOTOMETRI EMISI ATOM

Nama : Ansori Muchtar NIM : 10510071 Kelompok : 07 Tanggal Praktikum : 09 November 2012 Tanggal Laporan : 23 November 2012 Asisten: Bang Han

Laboratorium Kimia Analitik Program Studi Kimia Fakultas Matematika Dan IPA Institut Teknologi Bandung 2012

SPEKTROFOTOMETRI EMISI ATOM

I.

Tujuan Menentukan konsentrasi Na dan K dalam sampel dengan menggunakan Spektrofotometri Emisi Atom.

II.

Teori Dasar Analisis dengan metode spektrofotometri emisi atom atau

spektrofotometri nyala didasarkan pada emisi energi sinar dengan panjang gelombang tertentu oleh atom-atom netral yang tereksitasi dari zat yang dianalisis. Di dalam nyala, selain terjadi pengatoman, juga terjadi eksitasi atom-atom dari unsur yang akan memancarkan energi sinar dengan panjang gelombang tertentu, yang karakteristik bagi masing-masing unsur, pada saat atom tersebut kembali ke keadaan energi azas. Kekarakteristikan dari panjang gelombang sinar yang diemisikan adalah yang menjadi dasar analisis kualitatif suatu unsur logam dengan metode spektrofotometri nyala. Besarnya intensitas sinar yang diemisikan tersebut sebanding dengan banyaknya atom yang terdapat di dalam nyala, jadi juga sebanding dengan konsentrasi unsur tersebut dalam suatu cuplikan. Dengan mengalurkan besarnya intensitas sinar yang diemisikan terhadap konsentrasi dari beberapa larutan standar, maka konsentrasi unsur dalam suatu larutan cuplikan dapat ditentukan. Prinsip kerja filter fotometer nyala adalah eksitasi atom. Oleh karena setiap atom memiliki konfigurasi elektron yang berbeda, maka energi yang dibutuhkan setiap atom untuk tereksitasi juga berbeda. Besarnya energi yang digarap oleh atomatom kemudian yangdibebasakan kembali dalam bentuk pancaran (emisi), inilah yang disebut dengan prinsip kerja dari alat ini. Semua atom dapat menyerap energi (kalor), namunkalor ini disesuaikan dengan tingkat energi eksitasi agar tidak terjadi ionisasi.

III.

Data Pengamatan Emisi Larutan Na+ [Na] (ppm) 2 4 6 8 10 sampel Intensitas Pancar 50.67 67.67 117.3 153.0 184.7 64.67

Emisi Larutan K+ [K] (ppm) 5 10 15 20 25 sampel Intensitas Pancar 19.93 16.63 28.53 62.13 77.23 32.80

IV.

Pengolahan Data Penentuan konsentrasi Na dalam sampel

Kurva Intensitas Sinar terhadap y = 17,67x + 8,651 R = 0,984 Konsentrasi Na+


Intensitas Sinar Kurva Intensitas Sinar terhadap Konsentrasi Na Linear (Kurva Intensitas Sinar terhadap Konsentrasi Na) Konsentrasi Na+ (ppm)

y I

= 17,67x + 8,651 = 17,67.CNa + 8,651 = 3,170 ppm

64,67 = 17,67 ppm-1.CNa + 8,651 CNa

Penentuan konsentrasi K dalam sampel

Kurva Intensitas Sinar terhadap =+ 3,202x - 7,14 Konsentrasi yK R = 0,868


Intensitas Sinar

Kurva Intensitas Sinar terhadap Konsentrasi K Linear (Kurva Intensitas Sinar terhadap Konsentrasi K)

Konsentrasi K+ (ppm)

y I

= 3,202x 7,14 = 3,202.CK 7,14 = 12,47 ppm

32,80 = 3,202 ppm-1.CK 7,14 CK

V.

Pembahasan Prinsip pengukuran Spektrofotometri Emisi Atom (AES) adalah sampel dipanaskan dengan sumber nyala, kemudian tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi, kembali lagi ke ground state menghasilkan panjang gelombang yang mempunyai intensitas tertentu, Spektrofotometri Emisi Atom mengukur intensitas sinar yang diemisikan.

Sumber Nyala Sampel Nyala

Monokromator

Detektor

Gambar 1. Skema Alat Spektrofotometri Serapan Atom Dalam Spektrofotometri Absorpsi Atom, atom-atom dipanaskan dalam api untuk membebaskan mereka dari pelarutnya dan mengubah pembentukan garam menjadi atom netralnya, namun tidak cukup untuk memompa elektron ke tingkat elektron yang tereksitasi. Atom bebas yang berada pada tingkat elektron ground state, siap menyerap cahaya pada energi yang sesuai untuk memompa elektron ke tingkat elektronik tereksitasi. Perlu diketahui bahwa atom tidak mempunyai mode vibrasional (hanya terdapat pada molekul), menyerap dan mengemisikan pada pita cahaya yang sempit. Konsentrasi atom yang semakin tihnggi dalam sampel, semakin sedikit sisa cahaya dari sumber sinar yang sampai ke detektor. Hal tersebut sebanding dengan besar cahaya yang diserap dalam pengukuran konsentrasi atom tertentu pada sampel. Instrumen Spektrofotometri Serapan Atom membutuhkan sumber sinar yang cocok dengan pita cahaya yang sempit dan spesifik pada penyerapan atom tertentu. Sumber sinar yang digunakan adalah lampu katoda berongga (HCL). Selain itu terdapat juga sistem modulasi dengan menggunakan chopper, supaya emisi atom yang terjadi pada Spektrofotometri Serapan Atom dapat ditahan, dan detektor hanya mengukur sumber sinar yang diteruskan. Spektrofotometri Serapan Atom digunakan dalam menganalisis kuantitatif berbagai unsur logam. Dalam Spektrofotometri Emisi Atom, tujuan dari pemanasan sampel tidak hanya membebaskan atom-atom dari pelarut dan pembentukan

garam, tetapi menyediakan energi yang cukup dalam memompa elektron ke tingkat elektron yang tereksitasi. Ketika elektron turun kembali ke keadaan energi dasar, elektron akan mengemisikan panjang gelombang yang spesifik. Selain penggunaan Spektrofotometri Emisi Atom untuk analisis kuantitatif, dasar analisis kualitatif juga dapat digunakan di Spektrofotometri Emisi Atom karena emisi panjang gelombang yang bersifat spesifik untuk suatu atom. Banyaknya cahaya yang terdeteksi pada panjang gelombang yang sama menunjukkan konsentrasi dari unsur tersebut, semakin banyak cahaya yang terdeteksi semakin banyak unsur tersebut dalam sampel. Spektrofotometer Emisi Atom tidak memerlukan sumber sinar. Plasma dapat muncul pada temperatur yang sangat tinggi (hampir sama dengan temperatur permukaan matahari), dan dipakai dalam Spektrofotometri Emisi Atom. Spektrofotometer Emisi Atom tidak memakai sistem modulasi (chopper), karena pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran panjang gelombang yang diemisikan oleh atom. Spektrofotometer Emisi Atom spesifik digunakan untuk menganalisis atom dalam alkali dan alkali tanah.

VI.

Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan diperoleh konsentrasi Natrium dalam sampel adalah 3,170 ppm dan konsentrasi kalium dalam sampel adalah 12,47 ppm.

VII.

Daftar Pustaka Harvey, David. 1996. Modern Analytical Chemistry. Prentice Hall. p. 417-421. Robinson, James W. 2011. Atomic Spectroscopy 2nd edition. Marcell Decker Inc. p. 1-10.