Anda di halaman 1dari 27

Modul Hukum Agama dan Moral Kelompok 3 Seorang Pasien Yang Menolak Pengobatan

Agung Alit DK Angelika Antonius Verdy T Bathin Bonia Sari Brilli Bagus Dipo Mirad Aditya M. Satrio Faiz M. Haikal Bakry Monica Olivine Monica Windy Sally Kartika

030.09.004 030.09.020 030.09.027 030.09.044 030.09.049 030.10.179 030.10.180 030.10.181 030.10.182 030.10.183 030.10.244

Sang Ayu Praba Amandari S 030.10.245 Satria Adji Hady P Selly Fauziah Septi Rahadian 030.10.247 030.10.248 030.10.249

Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta, 14 Januari 2013

Daftar isi Daftar isi ..................................................................................................................................2 Pendahuluan .............................................................................................................................3 Kasus ........................................................................................................................................4 Masalah 6 Pembahasan masalah Dari segi agama ...............................................................................................7 Dari segi etika dan moral .............................................................................................13 Dari segi hukum ..........................................................................................................15

Kesimpulan .............................................................................................................................18 Daftar Pustaka..........................................................................................................................19

BAB I PENDAHULUAN

Dalam kehidupan di dunia kedokteran,terdapat beragam pasien yang dapat kita temui. Dari semua pasien tersebut terdapat sebuah kesamaan,yaitu,memiliki hak sebagai pasien yang merupakan kewajiban dari dokter,dan memiliki kewajiban yang merupakan hak dari seorang dokter yang menanganinya. Dalam hal ini salah satu dari hak pasien adalah menolak pengobatan dan salah satu dari kewajiban dokter adalah memberikan informasi yang sejelasjelasnya kepada pasien tentang segala sesuatu tindakan yang akan di lakukan. Dewasa ini, banyak sekali dokter yang mungkin tidak terlalu mengindahkan hal-hal tersebut diatas,sehingga terkadang kurang teliti atau bahkan dapat melewatkan pemeriksaan yang seharusnya dilakukan dan hal itu dapat menyebabkan kerugian, baik terhadap pasien maupun terhadap dirinya. Hal-hal seperti ini seharusnya dapat di hindari dengan memperhatikan hak-hak dan kewajiban-kewajiban dari dokter dan pasien.

BAB II LAPORAN KASUS

Skenario 1 Ny.S, 35 tahun, datang berobat ke sebuah klinik bedah dengan keluhan utama tidak dapat buang air kecil. Setiap kali ingin bak, perlu ditolong dengan memakai kateter. Setelah dilakukan pemeriksaan lengkap, termasuk dengan kolonoskopi, ditemukan adanya tumor pada daerah kolon yang mendesak vesika urinaria sehingga mengakibatkan kesulitan bak. Dokter menganjurkan untuk dilakukannya tindakan pembedahan pengangkatan tumor mengingat tumornya belum seberapa besar. Ny.S dan keluarganya setuju saran dokter dan menandatangani informed consent. Skenario 2 Saat pembedahan dilakukan, dokter menemukan banyak terjadi perlengketan dan ternyata karsinoma primernya ada pada ovarium kiri. Dihadapkan pada kenyataan yang ada saat itu dan kondisi pasien yang tampak melemah, dokter segera memutuskan untuk melakukan reseksi kolon dan mengangkat ovariumnya tanpa konsultasi dulu dengan dokter obgyn. Setelah operasi,kondisi pasien tampak membaik dan dokter segera memberikan kemoterapi serta penyinaran. Akibat efek samping kemoterapi dan penyinaran itu,NY.S, merasakan penderitaan yang luar biasa, tidak bisa makan karena sangat mual dan nyeri yang kadangkadang hampir tidak tertahankan. Ny.S, akhirnya mengambil keputusan untuk menolak terapi apapun dan memilih tinggal di rumah bersama keluarganya. Ia menyadari bahwa penyakitnya tidak bisa diobati dan hidupnya tidak akan lama lagi. Skenario 3 Sikap Ny.S, yang menolak semua terapi dari dokter, berdampak pada kondisi fisiknya yang semakin kurus. Atas saran teman-temannya dan juga desakan dari keluarga, Ny.S lalu mencoba berobat ke pengobatan alternaive. Ramuan jamu dari pengobatan alternatif, ternyata tidak memberikan perbaikan pada kondisi kesehatannya. Kondisi Ny.S semakin parah dan sekarang malah sering merasakan sakit yang luar biasa yanghampir-hampir tidak tertahankan. Melihat keadaan Ny.S, suaminya lalu minta bantuan dokter di dekat rumahnya untuk mengatasi rasa sakitnya. Dokter lalu memberikan suntikan morfin. Akibat suntikan morfin itu,Ny.S tertidur dan kelihatannya rasa sakitnya bisa diredakan. Namun setelah efek morfin itu hilang, Ny.S tampak kesakitan kembali sehingga dokter terpaksa harus

memberikan suntikan morfin beberapa kali dengan dosis yang semakin bertambah. Pada akhirnya nyawa Ny.S tidak dapat dipertahankan, ia akhirnya meninggal.

BAB III PEMBAHASAN


Dari skenario kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa masalah yang dapat kami tinjau retrospektif dari segi perspektif Medis (Ilmu Kedokteran), Bioetika dan Moral, Hukum dan Agama, yaitu:

1. Penetapan diagnosis tumor di daerah kolon oleh dokter bedah, anjuran dilakukannya tindakan pembedahan dan pengangkatan tumor, serta penandatanganan inform consent.

Dari perspektif Medis (Ilmu Kedokteran): Dokter bedah sudah melakukan tindakan sesuai standar profesi medis, dimana unsur utama dari suatu tindakan yang sesuai standar profesi medis telah dipenuhi dokter, yaitu ada indikasi medis dan standart medis. Namun, jika dirinci lebih dalam, maka standart profesi medis sesungguhnya harus memiliki unsur terpenting yaitu bebas dari kelalaian, jadi tindakan harus dilakukan secara teliti dan hati-hati. Pernyataan ini, jika dihubungkan dengan kasus, yaitu dokter bedah setelah menetapkan diagnosis adanya tumor di daerah kolon, tidak melakukan tindakan biopsy, yang kami rasa cukup penting dilakukan dari segi medis, untuk mengetahui apakah tumor di daerah kolon tersebut merupakan tumor primer atau sekunder. Selain itu, dokter bedah terkesan terlalu percaya diri, ada baiknya dokter bedah berkonsultasi dengan dokter-dokter spesialis bidang lainnya, sebelum melakukan operasi pembedahan pengangkatan tumor.

Dari perspektif Bioetika dan Moral: Secara umum, dokter bedah tidak melanggar 4 prinsip moral utama. Namun perlu digaris bawahi, sikap dokter yang terlalu percaya diri, pada kenyataanya cenderung menganut hubungan dokter-pasien yang paternalistik (bahwa setiap perkaaan/keputusan dokter pasti benar), sehingga kemungkinan untuk melanggar prinsip otonomi pasien pun tidak dapat dihindari, walaupun demi kebaikan pasien.

Dari perspektif Hukum:

Pasien menandatangani inform consent. Dokter bedah melalukan tindakan yang lege artis karena selain tindakan medis harus memenuhi standart profesi medis, juga harus menghormati hak-hak pasien dalam bentuk informed consent. Seperti yang diceritakan pada kasus, dapat kami simpulkan, informed consent yang ditandatangani Ny. S tidak cacat hukum, karena ditandatangani oleh seseorang yang cakap hukum, yang artinya ia telah dewasa (telah mencapai umur 21 tahun atau telah pernah menikah), sadar dan berada dalam keadaan mental yang baik.

2. Dokter menemukan banyak terjadi perlengketan dan karsinoma primernya ada pada ovarium kiri. Karena kondisi pasein melemah, dokter segera memutuskan untuk melakukan reseksi kolon dan mengangkat ovarium pasien tanpa konsultasi dulu dengan dokter obgyn.

Dari perspektif Medis (Ilmu Kedokteran): Dokter bedah menemukan banyak terjadi perlengketan dan ternyata karsinoma pasien ada pada ovarium kiri. Hal ini dapat terjadi karena ada satu pemeriksaan yang seharusnya dilakukan dokter bedah yaitu biopsy. Jika biopsy dilakukan, mungkin kejadian seperti ini dapat dicegah. Dokter bedah melakukan reseksi kolon dan mengangkat ovarium pasien, merupakan tindakan tepat mengingat kondisi pasien yang tampak melemah.

Dari perspektif Bioetika dan Moral: Ada prinsip moral yang dilanggar oleh dokter bedah ini, yaitu prinsip non-maleficence, yang berarti prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai primum non nocere atau do not harm. Seperti yang disebutkan dikasus, bahwa dokter bedah ini melakukan pengangkatan ovarium tanpa konsultasi dulu dengan dokter obgyn. Namun, tindakan dokter bedah ini dinilai tepat dan bermoral, menurut prinsip beneficence yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan kebaikan pasien, mengingat kondisi pasien yang melemah, terlepas melemah akibat tumor yang diderita ataupun proses operasi.

Dari perspektif Hukum:

Informasi yang diberikan saat pasien menandatangani informed consent nya adalah tindakan pembedahan pengangkatan tumor pada daerah kolon. Namun tindakan yang dilakukan dokter adalah reseksi kolon dan pengangkatan ovarium kiri pasien. Informed consent memiliki lingkup terbatas pada hal-hal yang telah dinyatakan sebelumnya, tidak dapat dianggap sebagai persetujuan atas semua tindakan yang akan dilakukan dokter. Dokter dapat bertindak melebihi yang telah disepakati hanya apabila gawat darurat dan keadaan tersebut membutuhkan waktu yang singkat untuk mengatasinya. Maka keputusan yang diambil dokter bedah ini, dirasa tepat. Hal ini juga tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290/Menkes/Per/III/2008 tentag persetujuan tindakan kedokteran.

3. Akibat efek samping kemoterapi, pasien menolak terapi apapun dan menyadari bahwa penyakit nya tidak bisa diobati dan hidupnya tidak akan lama lagi.

Dari perspektif Medis (Ilmu Kedokteran): Kemoterapi serta penyinaran merupakan terapi lanjutan yang harus dijalani pasien. Efek samping yang mungkin muncul dari kemoterapi tersebut antara lain rasa mual, muntah, rambut rontok, dan lain-lain. Efek samping tersebut bisa muncul karena kemoterapi juga turut membunuh sel-sel hidup yang ada disekitar jaringan tumor. Jika terapi tersebut dihentikan, maka penyembuhan pasien akan makin lambat walaupun setelah operasi, kondisi pasien ini tampak membaik.

Dari perspektif Bioetika dan Moral: Merupakan salah satu hak pasien untuk menerima atau menolak pengobatan setelah menerima informasi yang adekuat, seperti yang dilakukan Ny.S. Namun ada baiknya dokter bedah ini, menjelaskan sedetail-detailnya, bahwa yang dialami pasien sekarang, hanya merupakan efek samping dari kemoterapi yang dapat diatasi dan jika tumor/penyakit pasien sudah dinyatakan sembuh, maka terapi ini akan diakhiri. Dan jika pasien tetap menolak, maka dokter bedah tersebut tidak bersalah secara moral, mengingat ada prinsip otonomi yang harus dijalankan dokter bedah yaitu, prinsip moral menghormati hak-hak pasien.

Dari perspektif Hukum: UU Kesehatan menyebutkan beberapa hak pasien, salah satunya hak untuk memberikan persetujuan atau menolak suatu tindakan medis. 8

UU No 29 tahun 2004, tentang Praktik Kedokteran menyebutkan pada pasal 45 ayat 3, bahwa pasien memiliki hak untuk mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis, meminta pendapat dokter lain, mendapatka pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis, menolak tindakan medis dan mendapatkan isi rekam medis.

Dari perspektif Agama: Sesungguhnya perlu diketahui, apa motif dibalik Ny.S menolak pengobatan dari dokter. Jika untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain, maka dari pandangan agamapun memperbolehkan. Namun, seperti yang telah dijelaskan pada kasus, Ny.S menyadari bahwa penyakitnya tidak bisa diobati dan hidupnya tidak akan lama lagi. Tentu saja itu pemikiran yang salah, menurut beberapa pandangan agama di Indonesia. Pandangan Agama Islam

Dalam perspektif Islam, setiap penyakit merupakan cobaan yang diberikan oleh Sang Pencipta Allah SWT kepada hamba-Nya untuk menguji keimanannya. Sabda Rasulullah SAW yang artinya Dan sesungguhnya bila Allah SWT mencintai suatu kaum, dicobanya dengan berbagai cobaan. Siapa yang ridha menerimanya, maka dia akan memperoleh keridhoan Allah. Dan barang siapa yang murka (tidak ridha) dia akan memperoleh kemurkaan Allah SWT (H.R. Ibnu Majah dan At Turmudzi). Sakit juga dapat dipandang sebagai peringatan dari Allah SWT untuk mengingatkan segala dosa-dosa akibat perbuatan jahat yang dilakukannya selama hidupnya. Pada kondisi sakit, kebanyakan manusia baru mengingat dosa-dosa dari perbuatan jahatnya dimasa lalu. Dalam kondisi sakit itulah, kebanyakan manusia baru melakukan taubat dengan cara memohon ampunan kepada Allah SWT dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan jahatnya di kemudian hari.

Allah SWT tidak akan menurunkan suatu penyakit apabila tidak menurunkan juga obatnya, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra dari Nabi saw bersabda: menurunkan obatnya (HR Bukhari).
9

-Allah swt tidak menurunkan sakit, kecuali juga

- Bila dalam kondisi sakit, umat Islam dijanjikan oleh Allah Swt berupa penghapusan dosa apabila ia bersabar dan berikhtiar untuk menyembuhkan penyakitnya. Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Tidaklah seorang muslim tertimpa derita dari penyakit atau perkara lain kecuali Allah hapuskan dengannya (dari sakit tersebut) kejelekan-kejelekannya (dosadosanya) sebagaimana pohon menggugurkan daunnya. - Sementara bagi Umat Islam lainnya yang berada dalam kondisi sehat dianjurkan oleh Allah Swt untuk menjenguk saudara seiman yang menderita sakit. Apabila orang yang sehat minta didoakan dari orang yang sakit, maka Allah Swt berjanji akan mengabulkannya. Hal ini diriwayatkan Asy-Suyuti, Jika kamu menjenguk orang sakit, mintalah kepadanya agar berdoa kepada Allah untukmu, karena doa orang yang sakit seperti doa para malaikat. - Dengan demikian, kedudukan orang yang menderita sakit bukanlah orang yang hina, malah memiliki kedudukan yang mulia. Simak hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari Tidak ada yang yang menimpa seorang muslim kepenatan, sakit yang berkesinambungan (kronis), kebimbangan, kesedihan, penderitaan, kesusahan, sampai pun duri yang ia tertusuk karenanya, kecuali dengan itu Allah menghapus dosanya. - Menurut Aswadi Syuhadak dalam sebuah tulisannya berjudul Sakit versus Kesembuhan Dalam Islam, kata maradl (Sakit) dan syifa (Sembuh) dalam S. Al-Syu ara yang artinya, apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dikaitkan dengan manusia, sedangkan syifa (kesembuhan) diberikan pada manusia dengan disandarkan pada Allah swt. Kandungan makna demikian ini juga mengantarkan pada sebuah pemahaman bahwa setiap ada penyakit pasti ada obatnya, dan apabila obatnya itu mengenai penyakitnya sehingga memperoleh kesembuhan, maka kesembuhannya itu adalah atas ijin dari Allah s t. sebagaimana diisyaratkan dalam hadis abi yang diri ayatkan oleh Jabir dari abi sa bersabda . -Setiap penyakit pasti ada obatnya, apabila obatnya itu digunakan untuk mengobatinya, maka dapat memperoleh kesembuhan atas ijin Allah swt (HR. Muslim). - Lebih lanjut merujuk pada catatan Ibnu Faris, maradl merupakan bentuk kata yang berakar dari huruf-huruf m-r-dl (- - gnay ( makna dasarnya berarti sakit atau segala sesuatu yang mengakibatkan manusia melampaui batas kewajaran dan mengantar kepada terganggunya fisik, mental bahkan tidak sempurnanya amal atau karya seseorang atau bila kebutuhannya telah sampai pada tingkat kesulitan. Terlampauinya batas kewajaran tersebut dapat berbentuk ke arah berlebihan yang disebut boros, sombong maupun
10

takabbur; dan dapat pula ke arah kekurangan yang disebut kikir, bodoh, dungu dan kolot. oleh karenanya maradl juga dapat dikatakan sebagai hilangnya suatu keseimbangan bagi manusia. Aswadi Syuhadak menemukan sebanyak tiga belas kali dalam Alur an katamaradl, kesemuanya dikaitkan dengan qulub itah ,(( dalam bentuk jamak, kecuali sekali disebut kata qalb dalam bentuk tungal. Kata maradl juga biasa diidentikkan dengan kata saqam. Dalam hal ini, kata saqam hanya difokuskan pada penyakit jasmani, sedangkan maradl terkadang digunakan untuk sebutan penyakit jasmani, ruhani dan psikologis. Sementara kata syifa itu sendiri adalah berakar dari huruf-huruf - dengan pola perubahannya - - (syafayasyfi-syifa) yang menurut catatan ibnu Mandhur berarti obat yang terkenal, yaitu obat yang dapat menyembuhkan penyakit Ibnu Faris bahkan menegaskan bahwa term ini dikatakan syifa karena ia telah mengalahkan penyakit dan menyembuhkannya. Sejalan dengan pengertian ini, al-Raghib al-Ashfahani justru mengidentikkan term syifa min al-maradl (sembuh dari penyakit) dengan syifa alsalamah (obat keselamatan) yang pada perkembangan selanjutnya term ini digunakan sebagai nama dalam penyembuhan, baik mabarrat, klinik maupun rumah sakit. Beberapa pengertian syifa tersebut secara sederhana dapat dipahami bahwa syifa itu sendiri selain menunjuk pada proses dan perangkat tekniknya juga merujuk pada hasil yang diperolehnya, yaitu sebuah kesembuhan dari suatu penyakit. Sedangkan kata sehat yang merujuk pada kata salim sebagaimana tercantum dalam QS al-Shaffat [37]:85-86 dan QS as-Syu ara ayat -90. Kandungan ayat ini menunjukkan upaya dan permohonan Nabi Ibrahim kepada Allah swt untuk memperoleh keselamatan maupun kesehatan sejak dalam kehidupan di dunianya hingga di hari kebangkitan. Secara filosofis, makna kesehatan menurut ajaran Islam adalah kebersihan dalam diri manusia meliputi sehat jasmani dan rohani atau lahir dan batin. Orang yang sehat secara jasmani dan ruhani adalah orang berperilaku yang lebih mengarah pada tuntunan nilainilai ruhaniyah, uluhiyah (ilahiyah) maupun rububiyyah (insaniyah) sehingga melahirkan amal saleh. Jasad, raga, dan badan serta unsur-unsur fisik yang mengalami kerusakan hingga kesakitan dapat disembuhkan melalui ayat-ayatqauliyah sebagaimana tersebut dalam QS al-Isra 1 5 -83, ayat-ayat kauniyahdalam QS al-Nahl [16/70]: 69 dan gabungan antara ayatayat qauliyah dan kauniyahsebagaimana diisyaratkan dalam QS alTaubah [9/113]: 14 dan 15 yang dapat disebaut sebagai penyembuhan dan kegunaannya secara holistik.

11

- Untuk mencegah datangnya penyakit, manusia dibebaskan untuk berikhtiar. Namun Islam sudah memberikan kuncinya secara umum dengan cara mencegah kelebihan makan.Al Quran mengingatkan, Makan dan minumlah tapi jangan berlebih-lebihan. Allah tidak senang kepada orang yang berlebih-lebihan (QS Al-A raf 31). Rasulullah juga memberikan tips dalam sabdanya, Tidak ada bencana yang lebih buruk yang diisi oleh manusia daripada perutnya sendiri. Cukuplah seseorang itu mengonsumsi beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Kalau terpaksa, maka ia bisa mengisi sepertiga perutnya dengan makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga sisanya untuk nafasnya (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim).
Pandangan Agama Hindu Pandangan Agama Kristen

Disebutkan dalam Ayurveda, bahwa obat adalah alat untuk mengembalikan harmoni seseorang yang sakit. Maka dari itu, jika pasien menolak pengobatan dokter, ada baiknya pasien tetap berusaha sembuh dengan mencari pengobatan jenis lain seperti pengobatan alternative maupun spiritual keagamaan. Sehingga dokter tidak menyimpang dari kode eti dan pasien mendapatkan kebebasan mencapai kehendaknya. Pandangan Agama Katolik Pandangan Agama Budha

4. Setelah menolak semua terapi dari dokter, keadaan Ny.S memburuk dan Ny.S memilih terapi alternatif, namun tidak memberikan perbaikan pada kondisi kesehatan Ny.S.

Dari perspektif Medis (Ilmu Kedokteran): Keadaan Ny.S memburuk dapat disebabkan oleh penolakan Ny.S akan semua terapi dari dokter. Selain itu anggapan Ny.S akan penyakitnya yang tidak bisa diobati dan hidupnya tidak akan lama lagi dapat juga memperburuk kondisi pasien. Terapi alternatif dipilih pasien. Terapi alternatif bisa dikatakan merupakan salah satu terapi diluar terapi medis. Banyak pasien yang melakukan terapi alternatif dengan alasan terapi medis mengeluarkan banyak biaya dan tidak membuahkan hasil/kesembuhan yang diinginkan. Sikap dokter ada baiknya menghormati prinsip otonomi pasien dalam memilih terapi dan tetap bersikap hati-hati terhadap terapi alternatif. Tidak semua terapi alternatif memberikan kesembuhan sebagaimana terapi medis yang dijalani pasien, terapi alternatif yang baik harus didasarkan atas evidence-based medicine (EBM) atau bukti-bukti terbaik saat 12

ini yang terkait dengan perawatan pasien. Pada kasus pun dijelaskan, bahwa ramuan jamu dari pengobatan alternatif, ternyata tidak memberikan perbaikan pada kondisi kesehatan Ny.S.

Dari perspektif Bioetika dan Moral: Perlu diketahui motif yang mendasari Ny.S memilih terapi alternatif. Dari skenario kasus didapatkan bahwa Ny.S menolak semua terapi dari dokter dan atas saran teman-temannya dan desakan keluarganya, Ny.S mencoba pengobatan alternatif. Bisa disimpulkan pasien dalam fase menyerah (menurut teori Elisabeth-Kulber ross) menghadapi penyakitnya. Dan tidak ada prinsip moral dan hak-hak pasien yang dilanggar dokter.

Dari perspektif Agama:

Hukum Pengobatan Alternatif menurut islam

1. Perbedaan Pendapat Ulama Untuk Berobat Bila kita menyelam agak lebih jauh ke dalam pembahasan para ulama tentang hukum berobat atau mencari kesembuhan dari penyakit (at-Tadawi), sebenarnya para ulama masih berbeda pendapat tentang hukumnya. Sebagian mengatakan bahwa berupaya mencari kesembuhan dari penyakit merupakan perintah agama yang hukumnya sunnah. Namun sebagian lainnya justru mengatakan sebaliknya, bagi mereka bersabar adalah lebih utama dan berobat tidak menjadi sunnah atau anjuran dalam agama.

Allah SWT tidak menurunkan penyakit kecuali diturunkan juga obatnya. (Al-Hadits). Selain itu dahulu Rasulullah SAW pernah berobat dan berupaya untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang pernah menimpanya.

2. Bentuk Dan Jenis Pengobatan Pengobatan dapat dibagi menjadi dua yaitu pengobatan yang dihalalkan dan yang diharamkan. Pengobatan yang dihalalkan adalah segala macam pengobatan yang tidak
13

bertentangan dengan Syariah, al: . a. Pengobatan nabawi, yang secara jelas teksnya disebutkan dalam Al-Quran maupun hadits, seperti pengobatan dengan madu, habah sauda (jinten hitam ) air zamzam, ruqiyah dengan membacakan alquran bagi orang yang kesurupan dan kemasukan jin dll. b. Pengobatan secara medis, yang secara ilmiyah dapat dipertanggung-jawabakan c. Pengoabatan secara tradisional, seperti dengan jamu (dengan bahan yang halal dan tidak merusak), refleksi, dan obat-obatan tradisional yang lainnya (dengan bahan yang halal dan tidak merusak). d. Sedangkan pengobatan yang haram adalah pengobatan yang menyimpang dari Syariah, seperti menggunakan sihir, dukun, meminta bantuan jin. Pernyataan bahwa jin itu muslim, kita tidak dapat mempercayainya seratus persen. Karena jin banyak dustanya dan kita tidak mungkin bisa membuktikan bahwa dia jin itu muslim atau tidak, karena alamnya sudah berbeda. Dan selanjutnya bahwa Allah SWT. Mencela orang yang datang meminta tolong pada jin. (surat Jin : Karena mereka kurang mau melihat fenomena yang ada di sekelilingnya, maka beragam jenis pengobatan selain dari dunia kedokteran barat sering dianggap tidak resmi, tidak ilmiyah, tidak bisa dipertanggung-jawabkan dan seterusnya. Padahal dari segi kenyataan, begitu banyak metode pengobatan yang telah berhasil mengatasi hal-hal yang tidak mampu dikerjakan oleh dokter barat itu. Pengobatan itu sering disebut dengan pengobatan alternatif.

4. Syarat Pengobatan Alternatif Yang Dibenarkan Syariah Hanya perlu diperhatikan dalam pengobatan alternatif agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang syariat, seperti minta bantuan jin, memberi sesajian atau hal-hal lain yang membawa kepada kemusyrikan. Diantara ciri-ciri pengobatan alternatif yang diharamkan adalah :
14

a. Bila terindikasi adanya persembahan kepada selain Allah b. Bila terindikasi menggunakan jin (makhluq halus) c. Bila terindikasi menggunakan cara syirik d. Bila terindikasi menggunakan cara-cara yang diharamkan

Terapi alternative menurut hindu

Ayurveda secara terus menerus telah dipraktekkan selama paling sedikit lima ribu tahun. Ayurweda sering diterjemahkan sebagai "pengetahuan tentang hidup", namun terjemahan yang lebih tepat adalah "pengetahuan tentang panjang umur". Tujuan yang dimuliakan sepanjang jaman adalah bagaimana untuk mengatasi kematian, sebagai hal yang mendasar dari sifat manusia dan hal ini menjadi penyebab dari ketakutan manusia akan kematian yang menyusup ke dalam hati setiap mahluk hidup, dan yang menjadi akar dari segal ketakutan yang lain.

Sebab segala sesuatu yang diciptakan harus dihancurkan, sebab semuanya berada pada kala (waktu). Tujuan ke arah keabadian tentulah berada diluar kala (waktu). Beberapa orang di Barat ingin menipu kematian dengan membekukan diri mereka, tetapi hal ini hanyalah ilusi belaka, sebab keabadian hanya terjadi bila raga, pikiran dan jiwa secara keseluruhan mengalami transforma. Tiada guna hidup kekal, seperti Tantalus atau Sisyphus atau tokoh dalam bukunya Jean Paul Stre, No Exit, sebab hidup seperti itu penuh dengan penderitaan dan keinginan yang tidak terpenuhi.

Jagat raya fiksik ini terdiri dari pola yang tidak terhingga dari permutasi dan gabungan lima unsur pokok: tanah, air, api, udara dan ether. Penambahan unsur di luar akan menambah hal yang sama di dalam dan pengurangan di luar akan mengurangi juga yang di dalam

15

(makrokosmos

dan

mikrokosmos).

Udara (angin) dan unsur ether (akasa) sudah termasuk pada udara (angin), api dengan memasukkan baik unsur api maupun air dan unsur air untuk mewakili air dan tanah. Inilah kesucian atau keseluruhan ajaran Ayurweda, kesadaran akan saling berhubungannya semua azas-azas universal.

Angin, Api, dan Air diartikan berturut-turut vata, pitta, dan kapha sebagai pernyataan fisik dari tiga kecendrungan semesta atau Triguna dari kosmos: tamas (inertia), rajas (bergerak terus), dan keseimbangannya yaitu wattwa.

Bergerak terus dalam tingkatan fisik ada vata, keseimbangan adalah pitta dan inertia atau kapha. Kecendrungan besar ini bertindak sebagai tiga aza yang mengendalikan kesehatan pikiran, analog dengan vata, pitta dan kapha dari badan. Pikiran disebut sehat apabila pikiran penuh dengan sattwa, atau keseimbangan mental, dan dikatakan sakit apabila dia dipenuhi oleh rajas, atau tamas, aktif baik terlalu maupun kurang aktif.

Tiga azas ii tidaklah tetap hanya demikian di dalam tubuh. Azas ini dinamis, berubah secara terus-menerus sesuai dengan perubahan lingkungan. Yang terbaik adalah menganggap vata, pitta dan kapha sebagai kecendrungan, atau arah dari metabolisme badan, kecendrungan berkurang atau bertambah, hal ini terjadi karena adanya gangguan terhadap keseimbangan, baik yang besifat di dalam maupun dari luar, selain itu disebabkan oleh Tridosa yang bergerak terus menerus.

Denyut nadi merupakan alat ukur yang baik atas gerakan ini. Ayurweda membedakan 108 pola denyut yang berbeda, yang dibentuk oleh permutasi pada irama dari Tridosa.

16

Seorang penyembuh seharusnyalah memasuki hati si sakit dengan sinar idep (pikiran) dan pengetahuan mengenai Ayurweda untuk mendiagnosa penyakitnya, sebagai satu-satunya jalan penyembuhan yang mungkin Perubahan dari hari ke hari yang terjadi di lingkungan luar memang mempengaruhi keseimbangan vata, pitta dan kapha, tetapi ada juga pengaruh dari dalam yang kuat mempengaruhi keseimbangan ini prakerti atau keadaan badan manusia adalah pola alamiah dari pertamabahan atua pengurangan Tridosa yang memang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari orang itu, yang disebabkan oleh ketidakseimbangan nisbi dari Tridosa pada tubuh masing-masing orang yang bersangkutan pada saat dia diciptakan.

Pengobatan ayurweda memiliki tiga segi: menghilangkan penyebabnya, pembersihan (sodana) dan paliosi (samana-palliation) dari Tridosa dan yang terakhir pemudaanperemajaan atau rejuvenation (rasayana).

Terapi alternative menurut Kristen

Dasar dalam menentukan sikap iman Kristiani terhadap pelbagai pengobatan alternatif diperoleh dengan mengajukan kepada diri sendiri beberapa pertanyaan penting berikut ini.

Apakah pengobatan itu berkaitan dengan agama atau kepercayaan tertentu, perdukunan, paranormal, dan sebagainya?

Apakah pengobatan itu berkaitan dengan paham (isme) tertentu, seperti animisme, dinamisme, panteisme, kebatinan, dan sebagainya?

Apakah pengobatan itu telah direkomendasikan oleh dokter untuk bisa dilakukan? Apakah pengobatan itu tidak menimbulkan side effect terhadap organ tubuh lainnya?

17

Atas dasar jawaban terhadap pelbagai pertanyaan di atas, maka beberapa sikap yang bisa diambil adalah:

Menentang dan menolak dengan tegas penggunaan bahan dan cara pengobatan yang bertentangan dengan firman Tuhan. seperti: Yoga, Reiki, Fengshui, dan kelompok III di atas.

Menggunakan bahan dan cara pengobatan yang sesuai dengan firman Tuhan, seperti: pengobatan medis modern, homeotherapy, aromatherapy, music therapy, accupuncture, dan kelompok I dan II.

Mengkonsultasikannya dengan hamab Tuhan setempat.

Tetap beriman kepada kuasa Tuhan yang tidak berubah, dan bukan pada bahan atau cara pengobatan itu. Jika Tuhan memang hendak menjamah dan menyembuhkan kita, maka tidak ada yang mustahil bagi-Nya.

Tetap beriman kepada Tuhan, kalau pun tubuh ini menderita karena sakit yang tak kunjung sembuh. Di dalam keadaan itu tentu Allah turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya.

Melihat bahwa keselamatan jiwa tetap jauh lebih penting dari pada kesembuhan jasmani. Adalah lebih baik dengan tubuh jasamani sakit tetapi kemudian memperoleh kehidupan yang kekal dari pada tubuh sehat karena bantuan kuasa kegelapan tetapi jiwa binasa

Terapi alternative menurut buddha

Usaha penyembuhan menurut agama Buddha:

Bukan hanya menghilangkan gejala Sebaiknya mencari sumber penyakit


18

Pikiran sebagai akar masalah (sering) Meluruskan pandangan keliru

Prinsip pengobatan:

Sakit adalah corak kehidupan Kalau tidak bias disembuhkan atau diredakan harus diterima dengan rela Pencegahan secara dini adalah dengan tidak berbuat jahat.

Terapi alternatif

Bukan terapi konvensional Dapat berupa terapi komplementer

Pandangan :

Tidak ada masalah sepanjang tidak pelanggaran sila dan dharma

Dilakukan dengan sadar dan sukarela.Dapat ditarik kesimpulan bahwa pandangan agamaagama di Indonesia, tidak melarang adanya pengobatan alternatif yang dijalani seseorang, karena digambarkan sebagai salah satu usaha pasien dalam memperoleh kesembuhan.

5. Kondisi Ny.S semakin parah. Melihat keadaan Ny.S, suaminya meminta bantuan dokter di dekat rumahnya untuk mengatasi rasa sakit Ny.S. Dokter memberikan suntikan morfin.

Dari perspektif Medis (ilmu kedokteran): Secara medis, pemberian morfin dapat dilakukan pada keadaan nyeri kronis, sebagai analgetik dan memberi rasa tenang pada pasien.

19

Pemberian morfin dapat menyebabkan efek samping yaitu adiktif. Terlihat juga pada kasus, dokter terpaksa harus memberikan suntikan morfin beberapa kali dengan dosis yang semakin bertambah, untuk kenyamanan pasien.

Dari perspektif Bioetika dan Moral: Tidak ada prinsip moral yang dilanggar oleh dokter.

6. Pada akhirnya nyawa Ny.S tidak dapat dipertahankan, ia akhirnya meninggal.

Dari perspektif Medis (ilmu Kedokteran): Keterbatasan ilmu kedokteran untuk mengobati penyakit yang diderita pasien, bisa saja mengakibatkan penderitaan atau sesuatu yang buruk yang dapat menimpa pasien, yaitu kematian.

Dari perspektif Agama tentang kematian: Kristen Apa yang terjadi di balik kematian masih menjadi misteri dan perdebatan banyak orang. Namun pada umumnya hari ini manusia sudah menyadari bahwa betul di balik kematian masih ada dunia lain. Hal ini sangat nyata terasa dan terlihat dalam banyak kasus atau kejadian ketika seseorang akan meninggalkan dunia ini, di mana sebagian dari mereka ada yang begitu tenang dan bahagia karena dijemput oleh orang-orang/pribadi yang mereka kasihi. Sebaliknya sebagian lagi begitu ketakutan karena melihat sesuatu yang begitu menakutkan yang belum pernah mereka temukan sebelumnya. Bersyukur bagi orang Kristen, karena Tuhan memberikan kita Alkitab, Firman Tuhan, yang cukup dan lengkap untuk menjadi pegangan dan pedoman bahkan penuntun bagi umatNya sepanjang zaman. Jauh hari, bahkan berabad-abad sebelum manusia mengetahuinya secara ilmiah dan dibuktikan secara ilmu pengetahuan, Tuhan, melalui FirmanNya, sudah memberitahukan pada umatNya akan keberadaan manusia. Fakta mengenai kematiannya, bahkan apa yang terjadi setelah kematian. Dari Alkitab manusia akan tahu bahwa : 1. Manusia itu berasal dari debu, lalu diberi nafas hidup (dalam bahasa aslinya = "roh") oleh Allah..

20

Kejadian 2:7 hidup".

"Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan

menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang

2. Setelah mati, manusia (tubuh jasmaninya) akan kembali menjadi debu, tetapi rohnya akan kembali kepada Allah, Sang Penciptanya. (Berarti rohnya tidak mati!)
Kejadian 3:19 "dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."Pengkhotbah 12:7 "Dan debu kembali menjadi tanah seperti semula, dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.".

3. Sesudah itu akan ada penghakiman yang adil dari Allah.


Ibrani 9:27 "Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,"Pengkotbah 11:9 "Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! " Pengkhotbah 12:14 : " Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat".

4. Penghakiman itu terjadi pada akhir zaman, bagi yang percaya kepada Tuhan Yesus akan dibangkitkan dan beroleh hidup yang kekal, dan bagi yang tidak percaya akan beroleh penghukuman yang kekal.
Daniel 12:2 "Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal". Yohanes 6:40 "Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman". Yohanes 11:25 "Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati," Wahyu 20:11- 16 "Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Maka laut menyerahkan orangorang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu".

2.

Islam 21

Mati menurut pengertian secara umum adalah keluarnya Ruh dari jasad, kalau menurut ilmu kedokteran orang baru dikatakan mati jika jantungnya sudah berhenti berdenyut. Mati menurut Al-Quran adalah terpisahnya Ruh dari jasad dan hidup adalah bertemunya Ruh dengan Jasad. Kita mengalami saat terpisahnya Ruh dari jasad sebanyak dua kali dan mengalami pertemuan Ruh dengan jasad sebanyak dua kali pula. Terpisahnya Ruh dari jasad untuk pertama kali adalah ketika kita masih berada dialam Ruh, ini adalah saat mati yang pertama. Seluruh Ruh manusia ketika itu belum memiliki jasad. Selanjutnya Allah menciptakan tubuh manusia berupa janin didalam rahim seorang ibu, ketika usia janin mencapai 120 hari Allah meniupkan Ruh yang tersimpan dialam Ruh itu kedalam Rahim ibu, tiba-tiba janin itu hidup, ditandai dengan mulai berdetaknya jantung janin tersebut. Itulah saat kehidupan manusia yang pertama kali, selanjutnya ia akan lahir kedunia berupa seorang bayi, kemudian tumbuh menjadi anak anak, menjadi remaja, dewasa, dan tua sampai akhirnya datang saat berpisah kembali dengan tubuh tersebut. Ketika sampai waktu yang ditetapkan, Allah akan mengeluarkan Ruh dari jasad. Itulah saat kematian yang kedua kalinya. Allah menyimpan Ruh dialam barzakh, dan jasad akan hancur dikuburkan didalam tanah. Pada hari berbangkit kelak, Allah akan menciptakan jasad yang baru, kemudia Allah meniupkan Ruh yang ada di alam barzakh, masuk dan menyatu dengan tubuh yang baru. Itulah saat kehidupan yang kedua kali, kehidupan yang abadi dan tidak akan adalagi kematian sesudah itu. Pada saat hidup yang kedua kali inilah banyak manusia yang menyesal, karena telah mengabaikan peringatan Allah. Sekarang mereka melihat akibat dari perbuatan mereka selama hidup yang pertama didunia dahulu. Mereka berseru mohon pada Allah agar dizinkan kembali kedunia untuk berbuat amal soleh, berbeda dengan yang telah mereka kerjakan selama ini. Itulah proses mati kemudian hidup, selanjutnya mati dan kemudian hidup kembali yang akan dialami oleh semua manusia dalam perjalanan hidupnya yang panjang dan tak terbatas. Demikianlah definisi mati menurut Islam, mati adalah saat terpisahnya Ruh dari Jasad. Kita akan mengalami dua kali kematian dan dua kali hidup. Jasad hanya hidup jika ada Ruh, tanpa Ruh jasad akan mati dan musnah. Berarti yang mengalami kematian dan musnah hanyalah jasad sedangkan Ruh tidak akan pernah mengalami kematian. Pada saat mati yang pertama, jasad belum ada namun Ruh sudah ada dan hidup dialam Ruh. Pada saat hidup yang pertama Ruh dimasukan kedalam jasad , sehingga jasad tersebut bisa hidup. Pada saat mati yang kedua, Ruh dikeluarkan dari jasad , sehingga jasad tersebut mati, namun Ruh tetap hidup dan disimpan dialam barzakh. Jasad yang telah ditinggalkan oleh Ruh akan mati dan musnah ditelan bumi. Pada saat hidup yang kedua, Allah menciptakan jasad yang baru dihari berbangkit, jasad yang baru itu akan hidup setelah Allah memasukan Ruh yang selama ini disimpan dialam barzak kedalam tubuh tersebut. Kehidupan yang kedua ini adalah kehidupan yang abadi, tidak ada lagi 22

kematian atau perpisahan antara Ruh dengan jasad sesudah itu. Kalau kita amati proses hidup dan mati diatas ternyata yang mengalami kematian dan musnah hanyalah jasad, sedangkan Ruh tidak pernah mengalami kematian dan musnah. Ruh tetap hidup selamanya, ia hanya berpindah pindah tempat, mulai dari alam Ruh, alam Dunia, alam Barzakh dan terakhir dialam Akhirat. Pada saat datang kematian pada seseorang yang sedang menjalani kehidupan didunia ini, maka yang mengalami kematian hanyalah jasadnya saja, sedangkan Ruhnya tetap hidup dialam barzakh. 3. Buddha Apa definisi kematian dalam pandangan Agama Buddha? Apakah mempercayai definisi klasik yang merujuk pada pernafasan yang telah luluh-lantak diterpa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ataukah mengikuti definisi modern yang mengacu pada fungsi kerja otak yang masih meragukan ketelakannya dan menyimpan ketakpastian? Agama Buddha secara tegas menolak definisi kematian yang merujuk pada pernafasan. Apakah ini berarti Agama Buddha mengikuti definisi modern yang mengacu pada fungsi kerja otak? Jawabannya juga tidak. Definisi kematian dalam Agama Buddha tidak hanya sekadar ditentukan dari unsur-unsur jasmaniah atau paru-paru, jantung ataupun otak. Ketakberfungsian ketiga organ tubuh itu hanya merupakan gejala, akibat atau pertanda yang tampak dari kematian, bukan kematian itu sendiri. Faktor terpenting yang menentukan kematian ialah unsur-unsur batiniah suatu makhluk hidup. Walaupun organ-organ tertentu masih dapat berfungsi sebagaimana layaknya secara alamiah ataupun melalui bantuan peralatan medis, seseorang dapat dikatakan mati apabila kesadaran ajal (cuticitta) telah muncul dalam dirinya. Begitu muncul sesaat, kesadaran ajal langsung padam. Kepadaman kesadaran ajal merupakan The point of no return bagi suatu makhluk dalam kehidupan ini. Pada unsur-unsur jasmaniah, kematian ditandai dengan terputusnya kemampuan hidup (jvitindriya). Inilah definisi kematian menurut pandangan Agama Buddha.Ada 3 (tiga) jenis kematian dalam Agama Buddha, yakni: 1. Khanika marana : Kematian atau kepadaman unsur-unsur batiniah dan jasmaniah pada tiap-tiap saat akhir (bhanga).

2. Sammuti-marana : Kematian makhluk hidup berdasarkan persepakatan umum yang dipakai oleh masyarakat dunia.

3. Samuccheda-marana : Kematian mutlak yang merupakan keterputusan daur penderitaan para Arahanta. Kematian(1) pada dasarnya diakibatkan oleh empat macam sebab, yaitu karena habisnya usia (yukkhaya), karena habisnya akibat perbuatan penyebab kelahiran serta perbuatan pendukung (kammakkhaya)(2), karena habisnya usia serta akibat perbuatan (ubhayakkhaya), karena terputus oleh kecelakaan, bencana atau malapetaka (upacchedaka)(3). Empat sebab kematian ini dapat diumpamakan seperti empat sebab kepadaman pelita, yaitu karena habisnya sumbu, habisnya bahan bakar, habisnya sumbu serta bahan bakar, dan karena tertiup angin.

23

4.

Hindu

Agama Hindu percaya bahawa penjelmaan dan kematian adalah sebagai pandangan jiwa beralih daripada satu badan ke satu laluan untuk mencapai Nirwana, yaitu syurga. Kematian adalah satu peristiwa yang menyedihkan. Manakala sami-sami Hindu menekankan pengebumian adalah satu penghormatan dan tanda peringatan kepada si mati. Masyarakat Hindu membakar mayat mereka, percaya bahawa pembakaran satu mayat menandakan pembebasan semangat dan api adalah mewakili shiva, yaitu dewa pemusnah. Ahli-ahli keluarga akan berdoa di sekeliling badan secepat mungkin selepas kematian. Orang akan coba mengelak daripada menyentuh mayat. Hal ini, kerana ia adalah dianggap sebagai lambang memalukan si mayat tersebut. Mayat biasanya dimandikan dan dipakaikan dengan pakaian putih, adalah salah satu pakaian tradisional orang India. Jika si isteri mati sebelum suaminya, dia dipakaikan pakaian pengantin. Manakala seorang janda akan dipakaikan sari yang berwarna putih atau berwarna pucat. Badan dihiasi dengan cendana, bunga-bunga dan kalungan-kalungan bunga. Selepas itu, Vedas atau Bhagavad Gita ataupun Sivapuranam, yaitu Kitab suci Hindu akan dibaca . Orang yang berkabung diketuai olah anak sulung lelaki ataupun anak lelaki bungsu, akan menerangi beberapa umpan api dengan mengelilingi mayat, demi mendoakan pemergian jiwa. Selepas pembakaran mayat, keluarga akan dihidangkan dan bersembahyang dalam rumah mereka. Orang yang berkabung akan mandi dengan sepenuhnya sebelum memasuki rumah selepas pengebumian. Seorang sami akan melawat dan melakukan upacara sembayang untuk si mati pada hari ke 16 sebagai tujuan mententeramkan si mati. Biasanya, satu kalungan dijemur atau bunga-bunga diletakkan pada gambar si mati adalah menunjukkan tanda penghormatan bagi mengingati mereka. 'Shradh' adalah upacara sembahayang setahun selepas kematian orang. Ini diadakan setahun sekali bagi memperingati mereka. Sami juga berpesan kepada ahli keluarga bahwa pemberian makanan kepada masyarakat miskin adalah satu tanda ingatan kepada si mati.

Agama Islam

dan untukmu tempat tinggal di atas bumi dan kesenangan hingga waktu yang ditentukan (ajal) (Al Baqarah 36) Pandangan Agama Hindu

Kalau jiwatman meninggalkan raga sarira (jasmani) sehingga jasmani tidak berfungsi lagi maka disebut mati. Jiwatman merupakan titik terkecil dari Brahman atau ParamaAtma. Pandangan Agama Katolik

Badan adalah dimensi fisik yang bersifat fana yang menyebabkan terbatas oleh ruang dan waktu. Pandangan Agama Budha

Makna kematian adalah akhir dari kehidupan yang sekarang. 24

Pandangan Agama Kristen

Dasar penciptaan adalah kehendak Allah. Jadi ada atau tidaknya segala sesuatu di atas dunia ini bukan kehendak siapa-siapa kecuali kehendak Allah. Kematian adalah hasil dosa manusia yang berontak terhadap Sang Pencipta. Sesungguhnya semua pandangan agama setuju bahwa kematian itu ialah Kuasa Tuhan yang Maha Esa bukan ditentukan dari kuasa dokter yang menangani pasien dari penyakitnya.

BAB IV KESIMPULAN

25

BAB VI DAFTAR PUSTAKA

26

27