Anda di halaman 1dari 19

A. Kebiasaan Makan Menurut Suhardjo dkk (2006.

13) yang dalam bukunya berjudul Pangan, Gizi dan Pertanian mengemukakan bahwa kebiasaan makan adalah cara seseorang atau sekelompok orang memilih pangan dan memakannya sebagai reaksi terhadap pengaruh-pengaruh fisiologik, psikologi, budaya dan sosial. Kebiasaan makan juga merupakan pola pangan. Para ahli antropologi, memandang kebiasaan makan merupakan kompleks keseluruhan dari aktifitas yang berhubungan dengan dapur, kegemaran, dan ketidaksukaan pada suatu jenis makanan, pepatah-pepatah rakyat, kepercayaan, larangan-larangan dan takhyul yang berhubungan dengan produksi, persiapan pengolahan makanan dan konsumsi makan sebagai kategori pokok dari kebudayaan (Anderson, 1978). Kebiasaan makan pada kelompok yang didasarkan status hubungan rumah tangga mempengaruhi distribusi makanan kepada anggota kelompok, yang menyangkut mutu dan jumlah makanan. Foster (1986 : 313) mengemukakan para ahli antropologi memandang kebiasaan makan sebagai suatu kompleks kegiatan masak-memasak, masalah kesukaan dan ketidaksukaan, kearifan lokal, kepercayaan-kepercayaan, pantangan-pantangan, dan tahayul-tahayul yang berkaitan dengan produksi, persiapan dan konsumsi makanan, dengan kata lain pangan memiliki kategori budaya yang penting. Dan sebagai kategori budaya yang penting, pangan berkaitan dengan banyak kategori budaya lainnya. B. Konsep Makanan Pokok Makanan pokok yang digunakan dalam suatu negara biasanya menempati kedudukan tinggi. Penggunaan makanan tersebut lebih luas daripada jenis makanan lainnya, besar kemungkinannya berkembang karena dihasilkan dari tanaman setempat atau setelah dibawa ke tempat tersebut tumbuh dengan cepat (Suhardjo, 2003). Makanan pokok merupakan sumber energi atau tenaga untuk bekerja, bergerak, bernafas, dan sebagainya. Selain sebagai makanan pokok dapat digunakan sebagai makanan selingan. Makanan pokok dapat dipilih dari :

1. Jenis padi-padian : beras, jagung, jewarut, gandum, dan hasil olaan seperti tepung jagung, tepung beras, roti, mie. 2. Jenis umbi-umbian : ubi jalar, talas, kentang, gembili, serta tepung-tepung seperti tepung singkong, tepung gaplek. 3. Jenis lain : sagu, pisang, sukun (Depkes RI, 1991). Pola makanan yang diturunkan secara turun-temurun mempunyai susunan cukup baik dan dapat memberikan zat-zat makanan yang memenuhi kebutuhan gizi. Nilai yang baik ini dapat menurun, jika susunan lauk pauk dan bahan makanan pokok yang digunakan berubah. Makanan pokok sumber hidrat arang tidak perlu terpaku hanya pada beras, tetapi dapat diselingi dengan sumber hidrat arang yang lain. Dalam tubuh hidrat arang berguna antara lain untuk mendapatkan energi, sebagai cadangan tenaga, dan memberi rasa kenyang. Salah satu keuntungan hidrat arang adalah mempunyai volume yang besar. Hal ini disebabkan oleh serat pada bahan makanan merupakan sumber hidrat arang. Volume yang besar ini dapat memberikan rasa kenyang (Moehji, 1989). C. Jenis Makanan Pokok Menurut Sutarwodjo (1983) bahan makanan pokok yang banyak dikonsumsi di Indonesia adalah sebagai berikut : 1. Beras Merupakan bahan makanan pokok yang paling digemari bangsa Asia pada umumnya termasuk Indonesia. Menu Indonesia sebagian besar terdiri dari karbohidrat, hal ini dapat dilihat pada besarnya porsi nasi setiap hari dihidangkan. Macam beras yang dikenal adalah beras tumbuk, beras giling, dan beras merah. Beras adalah bahan makanan yang susunan zat gizinya terdiri dari karbohidrat, phospor, dan thiamin atau vitamin B1. Zat makanan lain meskipun kadarnya di dalam beras rendah tetapi karena dimakan dalam jumlah banyak menjadi banyak pula (Sediaoetama,1999). Pada Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM, 2005), tiap 100 gram beras memiliki energi sebanyak 357 kkal, protein sebanyak 8,4 gram, hidrat arang sebanyak 73 gram. Selain dapat memberikan energi dalam jumlah yang cukup, juga

dapat memberikan protein dalam jumlah cukup. Hal ini merupakan syarat utama yang harus dipenuhi oleh bahan-bahan makanan yang akan digunakan sebagai makanan pokok terutama bagi daerah yang sedikit sekali menggunakan bahanbahan makanan berasal dari hewani. Di daerah yang masyarakatnya menggunakan makanan pokok bukan beras, sering dijumpai adanya busung lapar karena kekurangan protein dalam makanannya. Selain protein dan hidrat arang yang terdapat pada beras cukup tinggi, beras juga mengandung vitamin B1 dalam jumlah yang cukup (Moehji, 1989). 2. Jagung Menurut sifatnya, jagung dibedakan sebagai berikut : (Sediaoetama,1999). 1. Menurut warna butir jagung : putih, kuning, merah dan sebagian berwarna ungu. 2. Menurut bentuk butiran jagung : butir gepeng dan bulat 3. Menurut konsistensi biji : biji butir keras (flint) dan biji lunak. Di Indonesia jagung diolah sebagai bentuk beras untuk dimasak lebih lanjut menjadi bahan makanan pokok, dapat pula direbus atau dibakar sebagai makanan selingan. Pengolahan secara teknologi makanan moderen ini mengubah nilai sosial jagung menjadi sangat meningkat, dan merupakan suatu cara untuk membuat jagung lebih banyak diterima masyarakat untuk dikonsumsi sebagai pilihan alternatif pengganti beras. Negara Meksiko dan negara-negara Amerika Tengah, jagung menjadi bahan makanan pokok dan dikonsumsi dalam bentuk tortilla, sejenis kue gepeng seperti opak di Indonesia (Sediaoetama, 1999). Dalam Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM, 2005), tiap 100 gram jagung mengandung energi 366 kkal dan 9,8 gram protein. Sediaoetama (1999) disebutkan kadar berbagai zat gizi di dalam jagung pada umumnya sedikit lebih tinggi daripada beras, namun demikian pengolahan dan digestibilitasnya lebih sulit dan lebih rendah daripada beras. Kadar protein, lemak, phospor, dan tiamin lebih tinggi di dalam jagung bahkan aktivitas vitamin A jagung kuning menunjukkan kadar tinggi, sedangkan beras tidak mengandung vitamin A. Sebaliknya perbandingan kadar Ca terhadap P

di dalam jagung terlalu rendah sehingga tidak mendukung penyerapan Ca di dalam usus. 3. Singkong atau Ubi Kayu Dari segi ilmu gizi, sebenarnya ubi kayu atau umbi-umbian lainnya tidaklah tepat digunakan sebagai pengganti beras. Karena selain memberi kandungan protein yang jauh lebih rendah juga kandungan energi kurang. Rendahnya kadar protein di dalam ubi kayu atau gaplek yang digunakan sebagai makanan pokok sering terkena penyakit busung lapar yang disebabkan kekurangan protein (Moehji, 1989). Singkong diberi nilai sosial rendah oleh masyarakat sebagai makanan kampung, sehingga agak sulit untuk menggalakkan konsumsi singkong. Di beberapa daerah di Jawa, Sulawesi dan bagian timur Indonesia, singkong digunakan sebagai campuran makanan pokok selain beras dan jagung (Sediaoetama,1999). Ada jenis-jenis singkong yang mengandung racun asam sianida atau HCN. Jenis singkong ini biasanya digunakanuntuk membuat tapioka, karena kadar patinya sangat tinggi. Susunan hidangan yang berdasarkan singkong sebagai bahan makanan pokok memerlukan suplementasi kebutuhan zat-zat gizi yang lebih banyak pada lauk-pauk dan sayuran, serta buah. Bila hal tersebut kurang makan akan terjadi defisiensi. Kadar protein singkong sangat rendah, tidak mengandung vitamin A maupun vitamin C. Kuantitas dan kualitas lauk pauk harus ditingkatkan termasuk sayuran hijau (Sediaoetama, 1999). 4. Ubi jalar Ubi jalar berwarna putih, kuning, orange sampai merah dan ada juga yang berwarna kebiru-biruan, violet atau bintikbintik biru. Ubi yang berwarna kuning, orange sampai merah banyak mengandung karotenoid, merupakan unsur vitamin A. Menurut wahida yang mengutip dari Hasil penelitian Haskell, dkk (2004), menunjukkan bahwa kebiasaan mengkonsumsi ubi jalar pada masyarakat pedesaan Bangladesh dapat meningkatkan kadar vitamin A laki-laki dewasa sebesar 0,029 mmol. Penelitian yang serupa juga dilakukan Jaarsveld . P, et.al (2005) ditemukan

bahwa dengan mengkonsumsi ubi jalar dapat meningkatkan kadar vitamin A pada anak sekolah dasar. Timbunan energi dalam ubi jalar berbentuk karbohidrat sedangkan kandungan protein sangat rendah. Beberapa daerah di Indonesia mengkonsumsi ubi jalar sebagai makanan pokok adalah Irian Jaya, Mentawai, dan Nias. Ubi jalar diberi nilai sosial rendah oleh masyarakat sehingga tidak banyak diminati untuk digunakan sebagai makanan pokok sehari-hari (Sediaoetama,1999). 5. Sagu Sagu adalah hasil ekstraksi bagian inti batang pohon sagu. Di tepi-tepi pantai Sumatera Timur, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya serta beberapa kepulauan Maluku dan Mentawai, terdapat hutan sagu yang tumbuh liar secara alamiah. Sebagian masyarakat di daerah tersebut memanfaatkan sagu untuk diambil pati atau amilum yang terdapat di bagian tengah batangnya. Satu pohon sagu dapat menyediakan bahan tepung untuk menyediakan bahan makanan pokok bagi suatu rumah tangga yang terdiri atas 5 orang selama satu bulan. Susunan zat-zat makanan di dalam sagu mirip dengan singkong, bahkan kadar proteinnya lebih rendah (Sediaoetama, 1999). Dalam Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM, 2005) disebutkan untuk 100 gram sagu mengandung energi 231 kkal dan 0,6 gram protein. Di daerah Maluku dan Sulawesi Utara, sagu dikenal sebagai makanan papeda dan dalam bentuk kue kering. Papeda adalah sejenis masakan bubur yang dapat ditambahkan sayur dan potongan ikan. Di Pulau Siberut pada Kepulauan Mentawai, sagu digunakan sebagai makanan pokok penduduk (Soedarmo dan Sediaoetama, 1985) Menurut Adam Sulaiman (2008) yakni Masalah pangan berdampak langsung terhadap ekonomi, berupa; (1) biaya untuk pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi, (2) biaya untuk pengobatan penyakit sebagai akibat dari kurang makan, (3) biaya untuk makanan bayi jika terjadi penurunan air susu ibu. Sedangkan dampak tak langsung berupa (1) kehilangan produktivitas sekunder karena kecacatan fungsi kognitif, (2) gangguan pertumbuhan fisik, (3) hilangnya kemampuan belajar, (4)

perubahan kebiasaan, (5) efek negatif terhadap kekurangan, (6) berkurangnya kenikmatan hidup individu. Masalah pangan di Indonesia sejak awal Pelita I sampai sekarang dapat ditandai bentuknya sebagai berikut ; (1) kurang energi protein, (2) kurang vitamin , (3) anemia, (4) gangguan akibat kurang yodium. D. Konsumsi Makanan Pokok Menurut kamus ilmiah populer menjelaskan bahwa makna konsumsi merupakan pemakaian barang-barang produksi, makanan dan sebagainya. Sedangkan makanan pokok merupakan suatu kegiatan makan yang utama dalam suatu masyarakat tertentu. Pola makan (food pattern) adalah kebiasaan memilih dan mengkonsumsi bahan makanan oleh sekelompok individu. Pola makan dapat memberi gambaran mengenai kualitas makanan masyarakat. Wahidah yang mengutip dari Suparlan, (1993). Pola konsumsi makanan dapat dikenal atas beberapa peristilahan atau sebutan yang kesemuanya merujuk pada pengertian yang sama seperti pola pangan, pola makan, kebiasaan pangan, dan kebiasaan makan. Berkaitan dengan pola makan atau kebiasaan makan ada banyak hal atau faktor yang berhubungan dan saling terkait di dalamnya, Koentjaraningrat sebagaimana dikutip oleh Chrisanty, mengatakan bahwa pola makan antara lain dipengaruhi oleh factor-faktor budaya yang meliputi juga cara-cara seseorang berpikir atau berpengetahuan, berperasaan, dan berpandangan tentang makanan. Apa yang ada dalam pikiran, perasaan, dan pandangan itu kemudian dituangkan dalam bentuk tindakan memilih makanan. Adaptasi menuntut pengembangan pola-pola perilaku, yang akhirnya membantu suatu organisme agar mampu memanfaatkan suatu lingkungan tertentu demi kepentingannya, baik untuk memperoleh bahan pangan maupun menghindari diri dari bahaya. Pangan yang dikonsumsi oleh anggota rumahtangga tidak hanya dilihat dari segi kuantitas, tetapi juga sangat tergantung pada kualitas bahan pangannya. Kualitas konsumsi pangan meliputi jumlah makanan yang dimakan, sedangkan

kuantitas meliputi ragam/jenis dan mutu biologi dari makanan yang dikonsumsi (Tarwotjo, 1987). Bahan makanan yang dipilih sedapat mungkin bersumber dari bahan pangan nabati maupun hewani yang mengandung beragam makanan yang diperlukan tubuh. Soeharjo, et al (1988), menyatakan bahwa kebiasaan makan seseorang atau sekelompok orang dipengaruhi oleh faktor produksi pangan untuk rumah tangga, pengeluaran untuk konsumsi pangan, serta tersedianya bahan pangan di pasar. Untuk mengetahui ketersediaan pangan di Indonesia dapat diketahui dari Neraca Bahan Makanan Indonesia tahun 1996. Banyaknya energi yang tersedia untuk dikonsumsi penduduk adalah sebesar 26,60 gram kalori, 58,22 gram protein dan 49,96 gram lemak perkapita kalori. Protein nabati sebesar 35,65 gram, 61,23% berasal dari kelompok padi-padian, 21,86% dari buah-buahan dan biji-bijian, 16,91 berasal dari hewani, lemak sebanyak 91,83% bersumber dari nabati dan 8,17% dari hewan (Anonim, 1988). E. Daerah Yang Makanan Pokoknya Beras Beras adalah salah satu sumber makan pokok masyarakat Indonesia khususnya dan bangsa-bangsa di Asia pada umummnya. Tingkat konsumsi beras nasional relative lebih tinggi disbanding dengan bahan makanan pokok lainnya. Berdasarkan data Susenas (1981), Badan Pusat Statistik menyusun enam tipe pola konsumsi pangan pokok di Indonesia yaitu: ( 1) Pola beras ditemukan di semua provinsi di Sumatera (kecuali Lampung atau Sumatra Selatan yang makanan pokonya beras dan umbi), DKI Jakarta, Pulau Jawa, Kabupaten Tasik Malaya, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan semua provinsi di Kalimantan (2) Pola beras-jagung di Sulawesi Utara, (3) Pola beras-umbi di Lampung dan D.I. Yogyakarta, (4) Pola beras-jagung-umbi di Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Utara, (5) Pola beras-umbi-sagu-jagung di Maluku, dan (6) Pola beras-umbi-sagu di Irian Jaya.

F. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pangan Secara teoritis secara umum pola konsumsi pangan dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, budaya, ketersediaan pangan dan produksi pangan. Menurut Ritche (1967) diacu dalam Nurfarma (2005), faktor ekonomi dan penduduk merupakan faktor penting yang mempengaruhi konsumsi pangan. Salah satu ukuran keadaan ekonomi rumah tangga adalah pendapatan atau pengeluaran rumah tangga. Menurut Suhardjo (1989), pola konsumsi pangan keluarga dipengaruhi antara lain oleh pola makanan sebagian besar penduduk sekitarnya, ketersediaan bahan pangan, dan tingkat pendapatan keluarga. Dalam memilih menu makanan yang mempunyai kandungan energi dan protein yang memadai serta pemilihan komposisi jenis makanan yang tepat, diperlukan tingkat pengetahuan yang relatif tinggi, terutama tingkat pengetahuan kepala keluarga dan istri yang berperan sangat penting dalam menentukan keputusan konsumsi rumah tangga (Djauhari & Friyanto 1993). Budaya menentukan apa yang akan digunakan sebagai makanan, dalam keadaan bagaimana, kapan seseorang boleh atau tidak memakannya, apa saja yang dianggap taboo (pantangan) dan sebagainya. Unsur-unsur budaya mampu menciptakan suatu kebiasaan makan penduduk yang kadang-kadang bertentangan dengan prinsip gizi. Berbagai budaya memberikan peran dan nilai yang berbeda-beda terhadap pangan/makanan, misalnya bahanbahan makanan.

tertentu karena alasan-alasan tertentu, sementara itu ada pangan yang dinilai sangat tinggi baik dari segi ekonomi maupun sosial (Suhardjo 1989). Jumlah anggota rumah tangga juga mempengaruhi kecukupan konsumsi pangan pada suatu rumah tangga. Bagi rumah tangga dengan anggota rumah tangga yang banyak, jumlah anggota rumah tangga biasanya adalah faktor penentu dalam memilih jenis bahan makan dan distribusi pangan antara anggota keluarga. Biasanya pada kondisi tersebut, faktor kuantitas lebih diutamakan daripada faktor kualitas, sehingga diharapkan seluruh anggota keluarga dapat terbagi secara merata (Djauhari & Friyanto 1993). G. Cara Cara Pengolahan Beras 1. Dikukus Mengukus nasi merupakan pekerjaan yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Mengukus adalah cara pengolahan dimana bahan makanannya diletakkan dalam alat tertentu (misalnya kukusan) dan selanjutnya dimatangkan dengan uap air. Uap air ditimbulkan dari air yang mendidih di bawahnya. Alat untuk mengukus nasi adalah dandang, kukusan atau risopan. Perbandingan beras:air 1:2 atau 1:3 tergantung jenis beras. Tahapan mengukus nasi, antara lain adalah sebagai berikut:

Dandang diisi air setinggi ujung kukusan, kemudian ditutup dan didihkan. Setelah air mendidih, beras dimasukkan dan ditutup Setelah beras mengembang, angkat dari kukusan dan diaru dalam pengaron (alat seperti baskom, tetapi dibuat dari tanah liat) atau baskom, kemudian dituangi air mendidih.

Dandang didisi lagi dengan air dan didihkan kembali, kukusan dimasukkan dan ditutup kembali.

Beras aron dimasukkan dalam kukusan dan selanjutnya dikukus sampai masak. Setelah nasi masak, tempatkan dalam tempat nasi, lalu dibulak balik dengan sendok kayu sambil dikipas sehingga nasi menjadi pulen dan tidak lekas basi.

2. Diliwet Meliwet adalah cara pengolahan yang dimatangkan secara langsung dalam air mendidih. Nasi liwet adalah nasi yang diolah dengan cara diliwet, bahan cair yang digunakan untuk membuat nasi liwet ini adalah air, kaldu atau santan. Salah satu hidangan khas kota Solo adalah nasi liwet solo, yaitu nasi yang diliwet menggunakan santan, sajikan dengan sambal goreng jipang, ayam dan telur yang diopor. Penyajian makanan dengan dipincuk daun, atau dipiring makan yang dialas dengan daun pisang. 3. Ditim Mengolah nasi tim dengan teknik atau ban marie atau memasak dengan dua panci sekaligus. Nasi yang dihasilkan dengan teknik mengetim ini adalah nasi yang lunak. Awalnya nasi tim hanya diolah untuk makanan bayi, anak-anak dan orang sakit, namun dalam perkembangannya, nasi tim menjadi nasi yang istimewa, sehingga menjadi nasi tim dijadikan jajanan sepinggan seperti nasi tim ayam, nasi tim telur asin dan sebagainya. Konsistensi lebih lembek dari nasi kukus, menggunakan panci tim, waktu pemasakan lebih lama daripada meliwet. Perbandingan Beras dan air= 1:4 Pengolahan nasi tim sebagai berikut:

Beras yang sudah dibersihkan, dimasukkan ke dalam panci tim. Tambahkan bahan cair . Untuk 100 gr beras dibutuhkan 400 cc bahan cair. Masukkan bumbu dan bahan lain, misalnya daging, hati, sayuran. Masukkan panci yang sudah berisi bahan-bahan, kedalam panci lain yang lebih besar.

Bagian bawah panci, harus terendam air Masaklah dengan teknik atau bain marie. Sajikan

4. Nasi yang Dibungkus Daun Ada beberapa nasi yang dibungkus daun. Nasi yang dibungkus daun ini membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dalam mengolahnya dibanding dengan nasi yang diliwet atau di kukus. Hal ini disebabkan karena nasi yang dibungkus menuntut isi yang padat, homogen, teksturnya lebut masak dengan sempurna. Daun yang digunakan untuk membungkus adalah daun pisang, daun kelapa muda, atau daun bambu. Contoh jenis olahan nasi yang dibungkus daun antara lain arem-arem, lontong, ketupat dan bakcang. a. Arem-arem Arem-arem dibuat dari beras yang diaru dengan santan dan garam, dibungkus dengan daun pisang, diisi dengan lauk pauk, bisa sambal goreng, osengoseng atau lainnya. Setelah dibungkus arem-arem dikukus hingga masak. Arem-arem ini ada yang dibungkus dadar telur dahulu pada bagian dalamnya, sebelum daun pisang pada bagian dalamnya. b. Lontong Lontong dimasak dengan cara direbus, dimana nasi yang telah dibungkus daun dimasukkan ke dalam air dan dimasak selama 4-5 jam. Untuk mendapatkan lontong yang baik beras yang sudah dicuci diberi sedikit kapur sirih agar warna dan tekstur nya menjadi lebih baik. Membuat kulit lontong yang sempurna bisa dilakukan dengan pertolongan sebuah pipa, sehingga mendapatkan bentuk lontong dengan garis tengah 2 sampai 4 cm dan panjang 15 20 cm. Teknik yang dianggap lebih praktis, adalah dengan dimasukkan pada loyang yang berbentuk selinder dan dapat dibuka, sebelum diisi loyang dialas daun, sehingga setelah direbus, loyang dibuka, bentuk lontong akan tetap seperti pipa. Lontong disajikan dengan berbagai lauk dan sayur, misalnya sate, sayur lodeh, sayur kare, opor, sambal goreng dan lain-lainnya

c. Ketupat Ketupat merupakan nasi yang dibungkus dengan daun kelapa muda yang dianyam khusus. Bentuknya bisa segitiga, segi empat, segi lima. Beras yang setelah dicuci diberi sedikit kapur sirih, diisikan ke dalam anyaman ketupat. Setelah itu rebus selama 4 5 jam untuk mendapatkan ketupat dengan tekstur yang diinginkan. Ketupat menjadi hidangan yang khas di hari Lebaran, pada berbagai daerah di Indonesia, disajikan dengan opor ayam, dan sambal goreng. d. Bak cang Bak cang adalah hidangan nasi yang diisi, dan dibungkus dengan daun bamboo. Sudah bisa diduga bahwa bahwa bakcang ini bukan makanan asli Indonesia, tetapi dibawa oleh masyarakat China. Bakcang sesuai dengan nama hidangannya, berisi daging babi, namun dalam perkembangannya bakcang disesuaikan dengan agama dan budaya yang dianut bangsa Indonesia, 5. Bubur Bubur adalah makanan dari beras yang menggunakan bahan cair yang berupa air, kaldu atau santan. Pengolahan bubur menggunakan bahan cair yang lebih banyak dari pada nasi. Umumnya bahan cair yang digunakan untuk memasak bubur adalah 1:4 atau 1:6. Ada beberapa macam bubur yang berasal dari beras antara lain: 1) Bubur biasa Bahan dasar beras dengan menggunakan bahan cair air, kaldu atau santan. Pengembangannya bisa disajikan sebagai hidangan sarapan pagi, yang disajikan dengan kuah, bubur bisa disajikan sebagai hidangan selamatan misalnya bubur merah putih dan bubur asyura. bakcang diisi daging sapi atau daging ayam.

2) Bubur Menado Hidangan khas dari Menado, bubur dimasak dengan ubi, jagung dan sayuran. Bubur ini disajikan dengan ikan goreng dan sambal tomat. 3) Bubur Ayam Bubur ayam berasal dari makanan China. Menggunakan bahan cair kaldu, selain ayam goreng yang menjadi pelengkapnya, juga menggunakan ati dan rempela, telur, tongcai, dan ditaburi dengan bawang goreng.

H. Contoh Beberapa Olahan Beras Beserta Lauk Pendampingnya 1. Nasi Uduk Nasi uduk memang mudah ditemui. Rasanya yang gurih membuat banyak orang menyukainya. Untuk membuat nasi uduk, beras dicampur dengan santan yang ditambahkan rempah-rempah seperti jahe, daun salam, daun serai dan biji pala. Taburan bawang merah goreng biasa ditaburi diatas nasi uduk sebelum disantap. Akan terasa lebih nikmat jika disantap bersama ayam goreng, empal, tahu tempe goreng, udang goreng dan lalapan mentimun dan daun kemangi. 2. Nasi Kuning Sesuai namanya, nasi kuning berwarna kuning karena diberi kunyit sebagai pewarnanya. Mirip dengan nasi uduk. Biasa dijadikan tumpeng untuk perayaan. Pelengkapnya perkedel, telur, tempe kering, sambal goreng ati dan emping. Lalapan terdiri dari mentimun dan daun kemangi. Dengan ditambahkannya bumbu-bumbu dan santan, nasi kuning memiliki rasa yang lebih gurih daripada nasi putih. Nasi kuning adalah salah satu variasi dari nasi putih yang sering digunakan sebagai tumpeng. Nasi kuning biasa disajikan dengan bermacam laukpauk khas Indonesia.

Dalam tradisi Indonesia warna nasi kuning melambangkan gunung emas yang bermakna kekayaan, kemakmuran serta moral yang luhur. Oleh sebab itu nasi kuning sering disajikan pada peristiwa syukuran dan peristiwa-peristiwa gembira seperti kelahiran, pernikahan dan tunangan. Dalam tradisi Bali, warna kuning adalah salah satu dari empat warna keramat yang ada, disamping putih, merah dan hitam. Nasi kuning oleh karena itu sering dijadikan sajian pada upacara kuningan. 3. Nasi Goreng Nasi goreng adalah nasi yang menjadi unggulan dan kebanggaan masyarakat Indonesia. Sesungguhnya nasi goreng ini adalah left over atau nasi sisa yang dingin yang dimanfaatkan kembali untuk sarapan pagi, yaitu dengan cara mengolah kembali bahan makanan dalam penggorengan yang berisi minyak goreng, mentega atau margarine yang cukup panas. Namun dalam perkembangannya nasi goreng ini menjadi nasi yang sangat spesial, karena sangat fleksibel untuk divariasikan dengan berbagai bahan yang lain, sesuai dengan ketersediaan bahan di berbagai daerah. Sekarang kita mengenal nasi goreng babat, nasi goreng daging kambing, nasi goreng pete, nasi goreng ikan asin dan sebagainya, dengan berbagai teknik penyajian yang menarik. Nasi goreng ini tidak hanya digunakan untuk hidangan makan pagi, tetapi juga sebagai salah satu pilihan menu istimewa dalam hidangan buffet, pilihan hidangan makan siang atau makan malam yang disediakan oleh restoran. 4. Nasi Kapau Nasi Kapau adalah nasi ramas khas nagari Kapau, Sumatera Barat, terdiri dari nasi, sambal, dan lauk pauk khas Kapau, gulai sayur nangka ( cubadak), gulai tunjang (urat kaki kerbau atau sapi), gulai cangcang (tulang dan daging kerbau), gulai babek (paruik kabau). Nasi kapau standar selalu dilengkapi gulai nangka ciri khas nasi kapau.

Gulai nangka tidak menggunakan banyak santan dan tidak terlalu kental. Gulai dicampur kacang panjang, kol, rebung, pakis, dan jengkol. Di samping gulai nangka, hampir seluruh lauk nasi kapau terdiri dari masakan daging-daging. Gulai usus (gulai tambunsu) campuran telur ayam dan tahu yang dimasukkan ke usus sapi (karena usus kerbau lebih keras), gulai ikan, gulai tunjang, ayam panggang, teri balado, tongkol balado, dendeng balado, goreng belut, dan sambal lado hijau. Lauk nasi Kapau lainnya berupa ayam goreng, ayam goreng hijau gulai ayam, rendang ayam, rendang daging. Beras nasi kapau harus bermutu tinggi, umumnya dikirim dari Bukittinggi dan Agam. 5. Nasi Bogana Nasi bogana merupakan salah satu masakan khas Tegal. Nasi bogana terdiri dari nasi putih bercampur dengan sambal goreng ati ampela, ayam suwir opor kuning, opor telur, tumis kacang panjang, tempe tumis cabai hijau. 6. Nasi Langi

Campuran nasi langi yang berasal dari kota Cirebon ini adalah sambal goreng ati, tempe goreng kering, telur dadar yang diiris-iris dan ayam opor yang disuwir-suwir. Nasi ini terasa lezat karenga ditaburi dengan serundeng. 7. Nasi Ulam Nasi ulam berasal dari kota Jakarta atau Betawi. Nasi ini biasa disajikan dengan bihun goreng, telur dadar, dan semur kentang. 8. Nasi Krawu Dinamakan nasi krawu, selain berasal dari salah satu jenis serundeng, sebagian sumber lain mengatakan bahwa julukan nasi krawu itu dari proses pengambilan nasi yang dikrawuk atau krawukan yaitu mengambil nasi atau lauk dengan jemari tangan langsung, tanpa alat bantu sendok atau lainnya, tantu menggunakan pengaman kantung tangan plastik agar sajian tetap hygienis.

Biasanya nasi krawu disajikan dalam porsi yang kecil dan dibungkus dengan daun pisang. Seperti nasi langgi, nasi yang menjadi nasi khas dari daerah Gresik ini ditaburi dengan serundeng, bahkan serundeng yang disajikan bersama nasi ini terdiri dari 3 warna yaitu serundeng dengan warna putih, merah atau oranye dan warna coklat. Lauknya adalah daging sapi yang disuwir dan sambal terasi. Dilengkapi dengan kuah yang disajikan terpisah. 9. Bubur Menado Hidangan khas dari Menado, bubur dimasak dengan ubi, jagung dan sayuran. Bubur ini disajikan dengan ikan goreng dan sambal tomat. 10. Bubur Ayam Bubur ayam berasal dari makanan China. Menggunakan bahan cair kaldu, selain ayam goreng yang menjadi pelengkapnya, juga menggunakan ati dan rempela, telur, tongcai, dan ditaburi dengan bawang goreng. 11. Tumpeng Tumpeng adalah cara penyajian nasi beserta lauk-pauknya dalam bentuk kerucut; karena itu disebut pula 'nasi tumpeng'. Olahan nasi yang dipakai umumnya berupa nasi kuning, meskipun kerap juga digunakan nasi putih biasa atau nasi uduk. Cara penyajian nasi ini khas Jawa atau masyarakat Betawi keturunan Jawa dan biasanya dibuat pada saat kenduri atau perayaan suatu kejadian penting. Meskipun demikian, masyarakat Indonesia mengenal kegiatan ini secara umum.Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah bundar tradisional dari anyaman bambu) dan dialasi daun pisang. Masyarakat di pulau Jawa, Bali dan Madura memiliki kebiasaan membuat tumpeng untuk kenduri atau merayakan suatu peristiwa penting. Meskipun demikian kini hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal tumpeng. Falsafah tumpeng berkait erat dengan kondisi geografis Indonesia, terutama pulau Jawa, yang dipenuhi jajaran gunung berapi. Tumpeng berasal dari tradisi purba masyarakat Indonesia yang

memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para hyang, atau arwah leluhur (nenek moyang). Setelah masyarakat Jawa menganut dan dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, nasi yang dicetak berbentuk kerucut dimaksudkan untuk meniru bentuk gunung suci Mahameru, tempat bersemayam dewa-dewi. Tidak ada lauk-pauk baku untuk menyertai nasi tumpeng. Namun demikian, beberapa lauk yang biasa menyertai adalah perkedel, abon, kedelai goreng, telur dadar/telur goreng, timun yang dipotong melintang, dan daun seledri. Variasinya melibatkan tempe kering, serundeng, urap kacang panjang, ikan asin atau lele goreng, dan sebagainya. Dalam pengartian makna tradisional tumpeng, dianjurkan bahwa lauk-pauk yang digunakan terdiri dari hewan darat (ayam atau sapi), hewan laut (ikan lele, ikan bandeng atau rempeyek teri) dan sayur-mayur (kangkung, bayam atau kacang panjang). Setiap lauk ini memiliki pengartian tradisional dalam budaya Jawa dan Bali.

Nama Anggota Kelompok :


1. Luh Eka Widari 2. Ni Wayan Widiantari 3. Ni Kadek Resita Mayuni 4. Ni Wayan Reni Putri S. 5. Ni Putu Tya Pratiwi 6. Kurnia Philyanti 7. A.A. Ratih Purnama S. 8. A.A. Putu Agus Hendra D. 9. Ni Putu Andiyani 10. Ni Made Widia Yuniari 11. Ni Putu Ayu Reswati W. P07131012001 P07131012005 P07131012009 P07131012013 P07131012017 P07131012021 P07131012025 P07131012029 P07131012033 P07131012037 P07131012041

SOSANTRO POLA MAKAN BERAS

OLEH : KELOMPOK 1

KEMENTRIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR JURUSAN GIZI 2012/2013