Anda di halaman 1dari 13

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Diversi Urin

Oleh :

M.Fatchul Choiri Nizar Astra Inosensia Amtonis

( 1011058 ) ( 1011035 ) ( 1011024 )

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Patria Husada Blitar


November 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah dan HidayahNya jualah penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Asuhan Keperawatan pada Klien Diversi Urin. Melalui makalah ini kami dapat mengucapkan banyak terimakasih kepada dosen pembimbing kami khususnya mata kuliah S.Perkemihan yakni ibu Yeni Kartika Sari, M.Kep. Ns. Kami menyadari makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan .Untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun akan kami terima dengan senang hati demi memperkaya isi dari makalah ini guna terciptanya proses belajar dan mengajar yang efektif, karena semakin banyak kritik dan saran maka akan menambah wawasan kita dalam pengetahuan. Akhir kata kami berharap bahan pembelajaran ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Penulis

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembuangan normal urine merupakan suatu fungsi dasar yang sering dianggap enteng oleh kebanyakan orang.Apabila sistem perkemihan tidak dapat berfungsi dengan baik,sebenarnya semua sistem oragan pada akhirnya akan terpengaruh.Klien yang mengalami perubahan eliminasi urine juga dapat menderita secara emosional akibat perubahan citra tubuhnya.Perawat berusaha memahami dan menunjukkan sikap yang peka terhadap kebutuhan klien.Perawat harus memahami alasan terjadinya masalah dan berupaya mencari penyelesaian yang dapat diterima. Klien yang memiliki masalah perkemihan paling sering mengalami gangguan dalam aktifitas berkemihnya.Gangguan ini disebabkan oleh kerusakan fungsi kandung

kemih,adannya obstruksi pada aliran urin yang mengalir keluar ,atau ketidakmampuan mengontrol berkemih secara volunter.Beberapa klien dapat mengalami perubahan sementara atau permanen dalam jalur normal ekskresi urine.Klien yang menjalani diversi urine memiliki masalah kusus karena urine keluar melalui sebuah stoma. Perubahan dalam eliminasi urin selain retensi urin bisa juga infeksi saluran kemih,yaitu infeksi-didapat ( infeksi nosokomial) di rumah sakit yang paling sering terjadi di Amerika Serikat.Infeksi ini bertanggung jawab untuk lebih dari 5 juta kunjungan dokter per tahun ( Johnson,1991).Bakteri dalam urine ( Bakteriuria) dapat memicu penyebaran organisme ke dalam aliran darah dan ginjal.

1.2. Rumusan Masalah Pada pembuatan makalah ini akan dibahas beberapa rumusan masalah di antarannya: 1. Apa definisi dari diversi urin ? 2. Apa etiologi dari diversi urin ? 3. Apa patofisiologi dari diversi urin ? 4. Bagaimana manifestasi klinis dari diversi urin ? 5. Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari diversi urin ? 6. Bagaimana penatalaksanaan dari diversi urin ? 7. Apa komplikasi dari diversi urin ? 8. Bagaimana asuhan keperawatan klien dengan diversi urin ?

1.3. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini diantaranya : 1. Untuk mengetahui definisi dari diversi urin. 2. Untuk mengetahui etiologi dari diversi urin. 3. Untuk mengetahui patofisiologi dari difersi urin. 4. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari diversi urin. 5. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik dari diversi urin. 6. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari diversi urin. 7. Untuk mengetahui komplikasi dari diversi urin. 8. Untuk mengetahui asuhan keperawatan klien dengan diversi urin.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Diversi urinarius adalah stoma urinarius untuk mengalihkan aliran urin dari ginjal secara langsung ke permukaan abdomen dilakukan karena beberapa alasan. ( Potter & Perry ) Diversi urinarius merupakan suatu metode yang dilakukan untuk mengalihkan aliran urin dari kandung kemih ke tempat keluar yang baru,yang biasanya melalui lubang yang dibuat lewat pembedahan pada kulit (stoma).( Smeltzer Bare ) Jadi, diversi urin merupakan suatu prosedur untuk mengalihkan alirain urin karena beberapa alasan mis kanker kandung kemih,trauma, pada suatu lubang pada abdomen dengan beberapa metode.

2.2. Etiologi Prosedur diversi urin dilakukan untuk mengalihkan aliran urin dari kandung kemih ke tempat keluar yang baru, yang biasanya melalui lubang yang dibuat lewat pembedahan pada kulit (stoma).Prosedur ini terutama dikerjakan jika suatu tumor kandung kemih memerlukan pengangkatan keseluruhan kandung kemih ( sistektomi ).Diversi urin juga pernah dilakukan dalam penatalaksanaan malignansi pelvis,defek lahir,striktur dan trauma pada ureter serta uretra,kandung kemih neurogenik,infeksi kronis yang menyebabkan kerusakan ureter serta ginjal yang berat dan sistitis interstisialis yang membandel. Indikasi yang Mungkin untuk Dilakukannya Diversi Urinarius a. Kanker kandung kemih,prostat,uretra,vagina,uterus,serviks. b. Trauma c. Cedera akibat radiasi pada kandung kemih d. Fistula pada vesikovagina e. Fistula pada uretrovagina f. Kandung kemih neurogenik g. Sistitis kronis 2.3. Patofisiologi 2.4. Manifestasi Klinis

2.5. Pemeriksaan Diagnostik a. IVP : Memperlihatkan ukuran/lokasi ginjal dan ureter dan mengesampingkan adannya tumor lain dalam saluran perkemihan. b. Sitoskopi dengan biopsi : Menentukan lokasi tumor/derajat keganasan.Sitoskopi ultraviolet menggambarkan lesi kandung kemih. c. Scan tulang : Menentukan adanya penyakit metastasis. d. Limpangiografi pedal bilateral : Menentukan keterlibatan nodus pelvis,dimana tumor kandung kemih dengan mudah ditempatkan karena dekat proksimal. e. CT Scan : Mendefinisikan sel tumor dalam urine ( untuk menentukan adanya dan tipe tumor). f. Endoskopi : Mengevaluasi usus untuk di gunakan sebagai saluran. g. Konduitogram : Mengkaji panjang dan kemampuan mengosongkan saluran dan adanya struktur,obstruksi,refluks,angulasi,batu, atau tumor ( mungkin rumit atau kontraindikasi untuk diversi urin ) 2.6. Penatalaksanaan a. Penatalaksanaan Praoperatif Sebagai bagian dari penatalaksanaan praoperatif,usus dibersihkan untuk meminimalkan stasis fekal, dekompresi usus, dan ileus pascaoperatif.Diet rendah bisa diresepkan dan medikasi antimikrobial diberikan untuk mengurangi flora paatogenik di usus dan untuk mengurangi resiko infeksi. Hidrasi praoperatif yang adekuat dilakukan untuk menjamin aliran urin selama pembedahan dan untuk mencegah hipovolemia selama prosedur pembedahan. b. Penatalaksanaan Pascaoperatif Penatalaksanaan pascaoperatif berfokus pada mempertahankan fungsi urinarius, mencegah komplikasi pascaoperatif (komplikasi pernafasan,ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, sepsis, pembentukan fistula,dan kebocoran urin), dan meningkatkan kenyamanan pasien. Kateter atau sistem drainase diobservasi dan haluaran urin dipantau dengan ketat. Selang nasogastrik dimasukkan selama pembedahan untuk menekan traktus gastrointestinal dan untuk mengurangi tekanan pada anastomosis intestinal.Selang ini biasanya tetap dibiarkan untuk beberapa hari setelah pembedahan.Segera setelah usus berfungsi kembali,yang dimanifestasikan dengan bising usus,aliran flatus, dan abdomen lunak,maka cairan dapat diberikan.Sampai dengan waktu tersebut,infus cairan dan elektrolit diberikan.Pasien dibantu untuk ambulasi sesegera mungkin.

2.7. Komplikasi Komplikasi umumnya terjadi mengingat kompleksnya pembedahan, penyakit yang mendasari ( kanker,trauma) prosedur diversi urinarius, dan status nutrisi yang sering kurang dari normal.Komplikasi dapat mencangkup komplikasi pascaoperaatif yang umum terjadi (mis, atelektasis, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit), kerusakan

anastomosis,sepsis,pembentukan fistula,kebocoran urin atau fekal, dan iritasi kulit.jika komplikasi ini terjadi,pasien tetap dirawat di rumah sakit untuk jangka waktu yang lama dan kemungkinan memerlukan nutrisi parenteral total,dekompresi gastrointestinal melalui pengisap nasogastrik dan pembedahan lebih lanjut.Tujuan penatalaksanaan adalah untuk memelihara drainaase,meningkatkan nutrisi yang adekuat untuk penyenbuhan dan mencegah sepsis.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIVERSI URIN 3.1. Pengkajian Pengkajian Keperawatan Praoperatif Pasien yang masuk rumah sakit untuk menjalani bedah diversi urin dikaji secara keseluruhan.Pengkajian praoperatif yang cermat harus dilakukan terhadap fungsi kardiopulmoner , karena pasien yang menjalani sistektomi ( eksisi kandung kemih ) biasannya adalah lansia yang tidak mampu mentoleransi prosedur pembedahan yang kompleks dan lama.Pengkajian status nutrisi juga penting karena masukan nutrisi yang buruk berhubungan dengan masalah kesehatan yang mendasari. Pengkajian juga difokuskan pada pemahaman pasien dan keluarga mengenai fungsi dan prosedur serta perubahan struktur fisik setelah pembedahan.Konsep diri dan harga diri pasien dievaluasi,selain metode koping terhadap strees dan rasa kehilangan.Status mental pasien,kordinasi dan ketangkasan tangan,serta metode pembelajaran yang di pilih dicatat karena faktor-faktor ini akan mempengaruhi kemampuan perawatan diri pada periode pasca operatif. Pengkajian Keperawatan Pascaoperatif Peran perawat pada periode pascaoperatif adalah untuk mencegah komplikasi dan untuk mengkaji pasien dengan cermat terhadap adanya tanda dan gejala komplikasi.Kateter dan alat drainase dipantau dengan ketat.Volume urin,potensi sistem drainase, dan warna drainase dicatat.Penurunan volume urin atau peningkatan drainase secara mendadak segera dilaporkan ke dokter karena kondisi ini mungkin menunjukkan adanya obstruksi traktus urinarius,volume darah yang tidak adekuat,atau perdarahan. Analgesik diberikan sesuai resep untuk menignkatkan kenyamanan pasien dan menignkatkan kemampuan pasien untuk miring,batuk,dan nafas dalam tanpa rasa nyeri dan tidak nyaman berlebihan. 3.2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa Praoperatif Diagnosa Pascaoperatif 1. Kerusakan,resiko tinggi terhadap Integritas kulit faktor resiko meliputi : a. Tak ada sfingter stoma ( aktual) b. Karakter/aliran urin dari stoma c. Reaksi terhadap produk/kimia;tidak tepat melekatkan alatatau mengangkat perekat. 2. Gangguan citra diri berhubungan dengan: a. Biofisikal : adanya stoma;hilangnya kontrol eliminasi urine b. Psikososial : perubahan struktur tubuh,proses penyakit dan b.d program pengobatan contoh,kanker.

3. Nyeri,(akut) berhubungan dengan : a. Faktor fisik,contoh gangguan kulit/jaringan ( insisi/drein) b. Biologis : aktifitas proses penyakit ( kanker,trauma) c. Psikologis : takut,ansietas. 4. Resiko tinggi terhadap infeksi faktor resiko meliputi : a. Pertahanan primer tidak adekuat ( contoh kerusakan kulit/insisi,refluks urin). 5. Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan : a. Bedah diversi,trauma jaringan,edema pascaoperasi.

3.3. Intervensi dan Rasional Praoperasi Pascaoperasi 1. Kerusakan,resiko tinggi terhadap Integritas kulit faktor resiko meliputi : a. Tak ada sfingter stoma ( aktual) b. Karakter/aliran urin dari stoma c. Reaksi terhadap produk/kimia;tidak tepat melekatkan alatatau mengangkat perekat. Mandiri 1) Inspeksi stoma/kulit peristoma,perhatikan iritasi,lebam(gelap warna lebam),kemerahan,status jahitan. Rasional : Mengawasi proses penyembuhan/kefektifan tindakan,dan identifikasi area masalah,kebutuhan intervensi lanjut. 2) Bersihkan dengan air dan lap kering atau menggunakan pengering rambut saat dingin. Rasional : Mempertahankan kebersihan,kering dapat mencegah kemudahan kegesekan atau trauma. 3) Pengukuran stoma secara periodik,contoh penggantian alat untuk 6 minggu pertama,kemudian sebulan 6 kali. Rasional : Sesuai dengan membaiknya edema pascaoperasi ( selama 6 minggu pertama ),ukuran alat harus berubah untuk meyakinkan kecocokan yang tepat sehinggga urin tertampung sesuai aliran ke stoma,dan kontak dengan kulit dicegah. 4) Berikan pelindung yang efektif,contoh skin prep atau produk sejenis.

5)

6)

7)

8)

Rasional : Melindungi kulit dari perekat kantung,meningkatkan kerekatan kantung,dan memudahkan pengangkatan kantung bila perlu. Gunakan kantung transparan,tahan bau,dikeluarkan.Pertahankan kasa segiempat di atas stoma sementara membersihkan stoma dan biarkan pasien batuk atau mengejan sebelum meletakkan kantung. Rasional : Kantung transparan memudahkan observasi.Batuk mengosongkan bagian distal saluran,memungkinkan penghentian sebentar untuk memudahkan pemasangan kantung. Bersihkan ostomi kantung dengan rutin,gunakan cairan cuka. Rasional : Penggantian kantung yang sering mengiritasi kulit dan harus dihindari.Pengosongan dan pencucian kantung dengan cuka tidak hanya menghilangkan bakteri tetapi juga menghilangkan bau kantung. Ganti kantung tiap 3-5 hari atau sesuai kebutuhan untuk adanya kebocoran. Rasional : Mencegah iritasi/kerusakan jaringan sehubungan dengan penarikan kantung. Selidiki keluhan rasa terbakar/gatal sekitar stoma. Rasioanal : Menunjukan iritasi oeristoma atau kemungkinan infeksi kandida,keduanya memerlukan intervensi.Catatan : pemajanan kontinu pada kulit terhadap urin dapat menyababkan hiperplasia sekitar stoma,mempengaruhi kekencangan kantung dan meningkatkan resiko infeksi.

Kolaborasi 1) Konsultasikan dengan perawat enterostoma Rasional : Membantu dalam pemecahan masalah dan pemilihan produk yang tepaat untuk kebutuhan pasien,pertimbangan karakteristik stoma,status fisik mental pasien,dan sumber finansial.Paa pengulangan masalah menetap,perawat ostomi mempunyai rentang lebih luas tentang pengetahuan dan sumber-sumber. 2) Berikan sprei atau bedak antijamur,sesuai indikasi Rasional : Membantu dalam penyambuhan bila iritasi peristoma disebabkan oleh infeksi jamur.Catatan : produk ini dapat mempunyai efek samping poten dan harus digunakan dengan campuran.Krim/salep dihindari karena mempengaruhi perekatan alat.

2. Gangguan citra diri berhubungan dengan: a. Biofisikal : adanya stoma;hilangnya kontrol eliminasi urine b. Psikososial : perubahan struktur tubuh,proses penyakit dan b.d program pengobatan contoh,kanker. Mandiri 1) Kaji ulang alasan bedah dan harapan yang akan datang Rasional : Pasien menerimanya lebih mudah bahwa ostomi dilakukankan untuk penyakit kronis/lama daripada cedera/trauma. 2) Yakinkan apakah konseling dilakukan dan/atau perlu pada diversi urinaria,diskusikan pada saat pertama. Rasional : Memberikan informasi tentang tingkat pengetahuan pasien/orang terdekat tentang situasi individu dan proses penerimaan. 3) Jawab semua pertanyaan masalah urostomi dan fungsinya. Rasional : Memberikan informasi tambahan pada pasien untuk dipertimbangkan. 4) Dorong pasien/orang terdekat untuk menyatakan perasaan.Akui kenormalan perasaan marah,depresi,dan kedukaan karena kehilangan.Diskusikan peningkatan dan penurunan tiap hari yang dapat terjadi setelah pulang. Rasional : Memberikan kesempatan untuk menerima isu/salah konsep.Membantu pasien /orang terdekat menyadari bahwa perasaan yang dialami tidak biasa dan bahwa perasaan pada mereka tidak perlu.Pasien perlu mengenali perasaan sebelum mereka dapat menerimanya secara efektif. 5) Perhatikan perilaku menarik diri,peningkatan ketergantungan,manipulasi,atau tidak terlibat pada asuhan. Rasional : Dugaan masalah pada penyesuaian yang memerlukan evaluasi lanjut dan terapi lebih ekstensif.Dapat menunjukan respon kedukaan terhadap kehilangan bagian/fungsi tubuh dan kuatir terhadap penerimaan orang lain juga rasa takut akan ketidakmampuan yang akan datang/kehilangan selanjutnya pada hidup karena kanker.

3. Nyeri,(akut) berhubungan dengan : a. Faktor fisik,contoh gangguan kulit/jaringan ( insisi/drein) b. Biologis : aktifitas proses penyakit ( kanker,trauma) c. Psikologis : takut,ansietas. Mandiri 1) Kaji nyeri,perhatikan lokasi,karakteristik,intensitas ( skala 0-10 ) Rasional : Membantu evaluasi derajat ketidaknyamanan dan keefektifan analgesik atau menyatakan terjadinya komplikasi,contoh karena nyeri abdomen biasanya ada secara bertahap pada hari ketiga atau keempat pascaoperasi,berlanjut atau meningkatnya nyeri dapat menunjukkan pelambatan penyembuhan,iritasi kulit peristomal,infeksi,obstruksi usus. 2) Auskultasi bising usus : perhatikan pasase flatus. Rasional : Mengindikasikan kembalinya bising/fungsi usus dalam 72 jam dapat mengindikasikan adanya komplikasi,contoh peritonitis,hipokalemia,obstruksi mekanik. 3) Perhatikan aliran dan karakteristik urine. Rasional : Penurunan aliran menunjukkan retensi urine ( sehubungan dengan edema ) dengan peningkatan tekanan pada saluran perkemihan atas atau kebocoran pada rongga peritoneal ( kegagalan anastomosis ).Urine keruh mungkin normal ( adanya mukus ) atau mengindikasikan proses infeksi. 4) Dorong penggunaan tekhnik relaksasi,contoh pedoman imajinasi,visualisasi,aktifitas terapeutik. Rasional : Membantu pasien untuk istirahat lebih efektif dan memfokuskan kembali perhatian,dapat meningkatkan kemampuan koping,menurunkan nyeri dan ketidaknyamanan. 5) Dorong pasien menyatakan masalah,mendengar dengan aktif pada masalah ini dan berikan dukungan dengan menerima,tinggal dengan pasien dan memberikan informasi yang tepat. Rasional : Penurunan ansietas/takut meningkatkan relaksasi/kenyamanan. Kolaborasi 1) Berikan obat sesuai indikasi,contoh narkotik,analgesik,ADP Rasional : Menghilangkan nyeri,meningkatkan kenyamanan dan meningkatkan istirahat.ADP dapat lebih menguntungkan daripada analgesik intermiten,kususnya setelah reseksi radikal. 2) Berikan rendam duduk bila diindikasikan. Rasional : Menghilangkan ketidaknyamanan lokal,menurunkan edema dan meningkatkan penyembuhan luka perineal sehubungan dengan prosedur radikal.

3) Berikan/awasi efek unit TENS Rasional : Stimulasi kutaneus dapat digunakan untuk blok transmisi rangsangan nyeri. 4) Pertahankan patensi selang NG Rasional : Dekompresi lambung/usus; mencegah distensi abdomen bila fungsi usus terganggu.

4. Resiko tinggi terhadap infeksi faktor resiko meliputi : a. Pertahanan primer tidak adekuat ( contoh kerusakan kulit/insisi,refluks urin). Mandiri 1) Kosongkan kantung ostomi bila menjadi penuh sepertiganya saat cairan IV dan drainase kantung kontinue dilepaskan. Rasional :

BAB IV PENUTUP Penutup Saran DAFTAR PUSTAKA Dongoes M,dkk. 1992. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3.Jakarta : EGC. Potter dan Perry.2005.Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,Proses, dan Praktik,E/4,Vol.2.Jakarta : EGC. Smeltzer,Suzanne C.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddart,Ed.8.Jakarta : EGC.