Anda di halaman 1dari 20

PENGARUH PENDIDIKAN, PENGALAMAN DAN PELATIHAN TERHADAP PROFESIONALISME AUDITOR PEMERINTAH YANG BEKERJA PADA BADAN PENGAWAS KOTA

SURABAYA

Adi Kurniawan Dwi Widiyanto Indrawati Yuhertiana

Abstrak

Badan Pengawas Kota Surabaya (Bawasko) Surabaya dalam melaksanakan tugasnya selain bertanggungjawab untuk melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaaan APBD, juga menilai ketaatan aparatur pemerintah kota Surabaya terhadap Undang-undang dan peraturan yang berlaku. Oleh karena itu auditor Bawasko dalam melaksanakan tugasnya dituntut untuk bertindak secara profesional, karena pengawasan yang dilakukan oleh auditor Bawasko memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan efisiensi nasional. Untuk dapat menjaga dan meningkatkan profesionalismenya, auditor Bawasko harus memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang audit yang dapat diperoleh melalui pembinaan baik melalui pendidikan, pengalaman dan pelatihan secara formal maupun non formal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pendidikan, pengalaman dan pelatihan terhadap profesionalisme auditor pemerintah yang bekerja pada Badan pengawas Kota Surabaya. Variabel yang digunakan adalah pendidikan (X1), pengalaman (X2) dan pelatihan (X3) dan profesionalisme auditor Bawasko (Y). Responden yang diteliti berjumlah 25 auditor yang bekerja pada Bawasko Surabaya. Data penelitian menggunakan data primer dalam bentuk kuesioner, data tersebut kemudian di analisis dengan teknik analisis regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa pendidikan, pengalaman dan pelatihan berpengaruh terhadap profesionalisme auditor Bawasko. Berdasarkan hasil analisis disimpulkan bahwa variabel pendidikan berpengaruh positif terhadap profesionalisme auditor Bawasko dan variabel pendidikan merupakan variabel yang paling dominan pengaruhnya. Sedangkan variabel pengalaman berpengaruh negatif atau berlawanan arah terhadap profesionalisme auditor Bawasko dan untuk variabel pelatihan berpengaruh positif terhadap profesionalisme auditor Bawasko. Keywords : Auditor pemerintah, profesionalisme dan Badan Pengawas Kota Surabaya

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Profesi akuntan adalah profesi yang berlandaskan kepercayaan dari masyarakat. Namun dengan terjadinya kasus-kasus make up laporan keuangan oleh auditor serta terungkapnya kolusi antara Kantor Akuntan Publik dengan kliennya agar lolos go public menyebabkan masyarakat belum sepenuhnya menaruh kepercayaan terhadap profesi akuntan (Khomsiyah dan Nur Indriantoro, 1998: 14). Krisis kepercayaan ini semakin terlihat jelas seiring terjadinya krisis ekonomi di Indonesia, oleh karena itu seorang akuntan atau auditor dituntut untuk lebih profesional dalam melaksanakan tugasnya sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan dari masyarakat, yaitu dengan memberikan jasa profesional dengan baik. Audit yang dilakukan pada sektor publik berbeda dengan yang dilakukan pada sektor swasta. Latar belakang institusional dan hukum yang berbeda yang membedakan audit sektor publik dengan sektor swasta, dimana audit sektor publik mempunyai prosedur dan tanggung jawab yang berbeda serta peran yang lebih luas dibandingkan audit sektor swasta (Jones. R, 1996: 205; Rubin, 1988: 129) dalam Wilopo (2001: 27). Hal ini dapat diketahui bahwa auditor pemerintah dalam melaksanakan tugasnya tidak hanya memeriksa dan menilai kewajaran laporan keuangan sektor publik, tetapi juga menilai ketaatan aparatur pemerintah terhadap Undang-undang dan peraturan yang berlaku. Disamping itu juga memeriksa dan menilai sifat ekonomis, efisiensi dan keefektifan dari semua pekerjaan dan pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah. Dengan demikian, bila kualitas audit sektor publik rendah, maka akan mengakibatkan resiko tuntutan terhadap pejabat pemerintah (Elder, 1997) dan akan muncul kecurangan, korupsi, kolusi serta ketidak beresan seperti yang terjadi di Indonesia sampai dengan saat ini (Wilopo, 2001: 28). Oleh karena itu seorang auditor yang baik dituntut untuk memiliki

profesionalisme dalam melaksanakan tugasnya, yang dimaksud adalah profesional yang telah dididik untuk menjalankan tugas-tugasnya yang komplek secara independen dan memecahkan permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan tugas-tugas tersebut dengan menggunakan pengalaman dan keahlian mereka (Derber dan Schwartz, 1991). Pengawasan yang dilakukan oleh auditor pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan efisiensi nasional, sehingga auditor pemerintah harus menjaga dan senantiasa meningkatkan profesionalisme dalam melaksanakan tugasnya, salah satu faktor yang dapat mempengaruhi adalah pendidikan di bidang akuntansi , karena dengan pendidikan di bidang akuntansi maka seorang auditor dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman dalam kaitannya untuk melaksanakan tugas audit. Untuk membuktikan keahlian atau profesionalisme seorang auditor harus memiliki pengalaman dalam praktek audit, karena auditor yang tidak berpengalaman akan melakukan atribusi kesalahan lebih besar dibandingkan auditor yang berpengalaman (Kaplan, et. al. , 1989). Senada dengan hal tersebut Ashton (1991) mengatakan bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman merupakan komponen penting dari audit expertise. Profesionalisme auditor pemerintah juga dapat dipengaruhi oleh pelatihan-pelatihan yang diikuti. Pelatihan ini harus mencakup aspek teknis maupun pengetahuan umum, karena dengan pelatihan akan dapat meningkatkan reaksi positif yang pada akhirnya akan meningkatkan job performance seseorang (Harisson. J. K. (1996)). Pemberian otonomi dan desentralisasi yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada pemerintah kota tidak hanya membawa konsekuensi terhadap perubahan pola dan sistem pengawasan dan

pemeriksaan, tetapi juga memberikan tuntutan kepada aparatur pemerintah kota untuk lebih terbuka, transparan dan bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat. Perubahan pada pola pengawasan yang mendasar adalah diberinya keleluasaan kepada pemerintah kota untuk mengatur dan mengurus rumah

tangganya sendiri. Dengan adanya perubahan pola pengawasan maka auditor Badan Pengawas Kota (Bawasko) Surabaya memiliki tugas dan peran yang lebih besar untuk memeriksa dan mengawasi dinas atau instansi pemerintah di tingkat kota, sebagai bagian penting dalam proses terciptanya akuntabilitas sektor publik. Bentuk otonomi kepada pemerintah daerah atau kota di bidang pengawasan adalah dilaksanakannya inpassing (penyesuaian) Jabatan Fungsional Auditor (JFA) di lingkungan Unit Pengawasan Internal Pemerintah Daerah. Inpassing JFA ini dilaksanakan pula pada lingkungan Bawasko Surabaya dalam bentuk pengangkatan PNS yang melaksanakan tugas di bidang pengawasan melalui penyesuaian ke dalam JFA. Dalam melaksanakan inpassing JFA, Bawasko masih menghadapi kendala bahwa PNS yang diangkat tidak semuanya memiliki keterampilan sebagai auditor. Dengan demikia PNS yang diangkat harus memiliki keahlian dan keterampilan sebagai auditor Bawasko untuk mampu melaksanakan tugas pengawasan dan pemeriksaan yang menjadi tanggung jawabnya. Berdasarkan penjelasan diatas, penelitian ini berusaha untuk

mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi profesionalisme para auditor pemerintah yang bekerja pada Badan Pengawas Kota Surabaya dalam melaksanakan tugasnya.

Rumusan Masalah

1. Apakah faktor-faktor seperti pendidikan, pengalaman dan pelatihan mempengaruhi profesionalisme auditor pada Bawasko Surabaya ? 2. Faktor manakah yang dominan mempengaruhi profesionalisme auditor Bawasko Surabaya ?

METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel

Populasi dari penelitian ini adalah 25 auditor pemerintah yang bekerja pada Badan Pengawas Kota (Bawasko) Surabaya yang berdinas antara Juli sampai Oktober 2004, yang berdasarkan atas Surat Keputusan BPKP No. S-1221/K/JF/2003 dan Surat Keputusan Walikota Surabaya No.

820/2303/436.1.4/2004. Teknik penentuan sampel menggunakan metode sensus yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2001: 78). Dengan demikian sampel dalam penelitian ini adalah seluruh auditor pemerintah yang bekerja pada Badan Pengawas Kota (Bawasko) Surabaya yang berdinas antara Juli sampai Oktober 2004.

Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, data primer ini diperoleh melalui kuesioner yang diberikan kepada responden dalam hal ini auditor Bawasko Surabaya.

Definisi Operasional

a. Variabel Independen 1. Pendidikan (X1) Adalah suatu proses pengembangan kemampuan ke arah yang diinginkan (Notoatmodjo, 1992: 27). Variabel ini diukur melalui pendidikan formal terakhir auditor dan kemampuan auditor memahami tugas pengawasan.

2. Pengalaman (X2) Adalah keseluruhan pelajaran yang dipetik oleh seseorang dari peristiwa-peristiwa yang dialami dalam perjalanan hidupnya (Anoraga, 1995: 47). Variabel ini diukur melalui lamanya masa kerja auditor Bawasko dalam melaksanakan tugas pengawasan, yang dinyatakan dalam satuan tahun.

3. Pelatihan (X3) Adalah usaha untuk memperbaiki penguasaan berbagai keterampilan dan teknik pelaksanaan kerja tertentu, terinci dan rutin (Handoko, 1992: 104). Variabel ini diukur melalui frekuensi dan efisien dan efektifitas dalam mengikuti pelatihan.

b. Variabel Dependen : Profesionalisme Auditor Bawasko (Y)

Adalah profesional yang telah dididik untuk menjalankan tugastugasnya yang komplek secara independen dan memecahkan permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan tugasnya dengan menggunakan pengalaman dan keahlian (derber dan Schwartz, 1991) dalam Puspa dan Riyanto (1999: 119). Variabel ini diukur melalui kemampuan auditor Bawasko dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugas pengawasan.

Skala Pengukuran

Skala pengukuran yang digunakan dalam mengukur variabel bebas dan variabel terikat adalah menggunakan skala Semantic Differential, yaitu skala yang tersusun dalam satu garis kontinum dengan jawaban sangat positif di sebelah kanan, jawaban sangat negatif di sebelah kiri atau sebaliknya (Sumarsono, 2002: 25). Skala ukur untuk data yang digunakan adalah skala interval.

Teknik Analisis

Penelitian ini merupakan penelitian sensus. Menurut Sugiyono (2001: 53) dalam penelitian yang dilakukan pada populasi yang tidak diambil sampelnya, tidak perlu uji signifikan karena tidak ada taraf kesalahan.

Untuk mengetahui pengaruh antara variabel terikat dengan variabel bebas digunakan uji regresi linier berganda.

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN


1. Uji Kualitas Data

Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, dengan kuesioner tertutup sebagai alat utama untuk memperoleh data. Oleh karena untuk meyakinkan akan kualitas data yang akan diolah, terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya sebagai berikut.

a. Pengujian Validitas

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana alat pengukur (kuesioner) mengukur apa yang diinginkan. Uji validitas ini dilakukan dengan mengkorelasikan antara skor masing-masing butir pertanyaan dengan skor total yang diperoleh dari penjumlahan semua skor pertanyaan. Bila korelasi tersebut signifikan, maka alat ukur yang digunakan mempunyai validitas (Sumarsono, 2002: 31). Dengan taraf signifikan 5% dan jumlah responden sebanyak 25 orang, maka angka kritis dari r tabel (tabel r product moment) yang didapat adalah

sebesar 0,396, jika koefisien korelasi yang diperoleh lebih besar dari r tabel maka pertanyaan tersebut valid. Dari keseluruhan pengujian validitas item pertanyaan diketahui bahwa seluruh pertanyaan pada masing-masing variabel adalah valid kecuali untuk item pertanyaan no. 3 pada variabel Y, sehingga selanjutnya jawaban dari item pertanyaan no. 3 tidak digunakan sebagai data penelitian. Penyebab tidak validnya item pertanyaan ini dimungkinkan karena pertanyaan tersebut tidak mampu mengukur jawaban yang sebenarnya, dimana jawaban yang diperoleh cenderung normatif dan merupakan jawaban ideal yang tidak bisa memberikan jawaban sebenarnya seperti jawaban pada item pertanyaan yang lain.

b. Pengujian Reliabilitas

Uji reliabilitas ini dilakukan untuk mengetahui apakah jawaban yang diberikan responden dapat dipercaya atau dapat diandalkan, apabila dilakukan dua kali pengujian atau lebih terhadap obyek dan alat ukur yang sama (Sumarsono, 2002: 34). Uji reliabilitas menggunakan analisis Reliability melalui metode Cronbach Alpha. Hasil pengujian menunjukkan bahwa data dari masing-masing variabel adalah reliabel karena memiliki nilai lebih besar dari r tabel (0,3960 atau lebih besar dari 0,60 (Ghozali, 2001: 133).

2. Analisis Data a. Analisis Deskriptif Tabel 1: Statistik Deskriptif


Descriptive Statistics y x1 x2 x3 Mean 5,0500 5,4300 2,6800 5,1400 Std. Deviation ,76716 ,60605 1,43527 ,85110 N 25 25 25 25

Sumber : Data primer diolah

Rata-rata hitung dan deviasi standar dari masing-masing variabel seperti yang telah ditunjukkan dalam Tabel 1 dapat dijelaskan sebagai berikut : 1) Rata-rata hitung dan deviasi standar dari variabel pendidikan (X1). Untuk variabel bebas pendidikan (X1) diperoleh rata-rata hitung skor jawaban sebesar 5,43 yang menunjukkan bahwa responden memiliki tingkat pendidikan dan pengetahuan yang tinggi. 2) Rata-rata hitung dan deviasi standar dari variabel pengalaman (X2). Untuk variabel bebas pengalaman (X2) diperoleh rata-rata hitung skor jawaban sebesar 2,68 yang menunjukkan bahwa responden memiliki pengalaman atau masa kerja yang rendah. 3) Rata-rata hitung dan deviasi standar dari variabel pelatihan (X3). Untuk variabel bebas pelatihan (X3) diperoleh rata-rata hitung skor jawaban sebesar 5,14 yang menunjukkan bahwa frekuensi dan efektifitas pelatihan yang diikuti oleh responden tinggi.

4) Rata-rata hitung dan deviasi standar dari variabel profesionalisme auditor (Y).

terikat

Untuk variabel terikat profesionalisme auditor (Y) diperoleh rata-rata hitung skor jawaban sebesar 5,05 yang menunjukkan bahwa responden memiliki keahlian dan kemampuan yang tinggi. b. Analisis Regresi Linier Berganda

Hasil analisis mengenai koefisien model regresi adalah seperti yang tercantum dalam Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2: Koefisien Regresi


a Coefficients

Model 1

(Constant) x1 x2 x3

Unstandardized Coefficients B Std. Error 1,550 1,391 ,569 ,251 -,063 ,100 ,112 ,180

Standardized Coefficients Beta ,450 -,119 ,125

a. Dependent Variable: y

Sumber : Data primer diolah Berdasarkan Tabel 2 tersebut, maka model regresi yang diperoleh Y = + 1X1 + 2X2 + 3X3 + Y = 1,550 + 0,569 X1 0,063 X2 + 0,112 X3 Konstanta sebesar 1,550 memberikan pengertian bahwa jika pendidikan, pengalaman dan pelatihan pada auditor pemerintah yang bekerja pada Badan Pengawas Kota Surabaya konstan atau sama dengan nol (0), maka besarnya tingkat profesionalisme auditor pemerintah yang bekerja pada Badan Pengawas Kota Surabaya sebesar 1,550 satuan (skor tersebut dapat diinterpretasikan sebagai sangat rendah/tidak mampu bila dilihat dari skala variabel Y yang digunakan mulai 1 sampai dengan 7). Sedangkan nilai 1 yang merupakan koefisien regresi dari variabel X1 (pendidikan) sebesar 0,569 mempunyai arti bahwa semakin tinggi pendidikan atau bila terjadi perbaikan tingkat pendidikan auditor pemerintah yang bekerja pada Badan Pengawas Kota Surabaya sebesar 1 satuan, maka akan terjadi peningkatan profesionalisme auditor Bawasko sebesar 0,569 satuan dengan asumsi variabel lainnya tetap atau konstan. Kemudian nilai 2 yang merupakan koefisien regresi dari variabel X2 (pengalaman) sebesar 0,063 (namun bernilai negatif) mempunyai arti bahwa jika terjadi peningkatan pengalaman auditor pemerintah yang bekerja pada Badan Pengawas Kota Surabaya sebesar 1 satuan, maka akan cenderung terjadi penurunan profesionalisme auditor Bawasko sebesar 0,063 satuan dengan asumsi variabel lainnya tetap atau konstan.

10 Kemudian nilai 3 yang merupakan koefisien regresi dari variabel X3 (pelatihan) sebesar 0,112 mempunyai arti bahwa jika terjadi peningkatan pelatihan bagi auditor pemerintah yang bekerja pada Badan Pengawas Kota Surabaya sebesar 1 satuan, maka akan cenderung terjadi peningkatan profesionalisme auditor Bawasko sebesar 0,112 satuan dengan asumsi variabel lainnya tetap atau konstan. Dengan demikian maka dapat diketahui bahwa jika pendidikan dan pelatihan semakin baik atau mengalami peningkatan maka profesionalisme auditor Bawasko juga akan mengalami peningkatan, sebaliknya jika pendidikan dan pelatihan mengalami suatu penurunan atau semakin jelek, maka profesionalisme auditor Bawasko juga akan mengalami penurunan. Sedangkan jika para auditor pemerintah yang bekerja pada Badan Pengawas Kota Surabaya semakin berpengalaman atau semakin lama bekerja, ternyata profesionalisme mereka malah mengalami penurunan atau semakin mengurangi tingkat profesionalisme mereka. Jadi dapat disimpulkan bahwa hubungan yang searah (positif) antara variabel bebas X1 dan X3 dengan variabel terikat Y serta terdapat hubungan yang berlawanan arah (negatif) antara variabel bebas X2 dengan variabel terikat Y. Berdasarkan nilai koefisien regresi tersebut dapat diketahui bahwa ternyata pendidikan mempunyai pengaruh yang lebih dominan terhadap tingkat profesionalisme auditor Bawasko dibandingkan dengan kedua variabel.

11

Koefisien Korelasi (R) Tabel 3: Koefisisen Korelasi Linier


Correlations Pearson Correlation y x1 x2 x3 y x1 x2 x3 y x1 x2 x3 y 1,000 ,495 -,117 ,264 . ,006 ,288 ,101 25 25 25 25 x1 ,495 1,000 -,027 ,338 ,006 . ,449 ,049 25 25 25 25 x2 -,117 -,027 1,000 ,106 ,288 ,449 . ,306 25 25 25 25 x3 ,264 ,338 ,106 1,000 ,101 ,049 ,306 . 25 25 25 25

Sig. (1-tailed)

Sumber : Data primer diolah Analisis ini digunakan untuk mengukur tingkat hubungan antara variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). Dalam hal ini mengukur kuat atau lemahnya hubungan antara pendidikan, pengalaman dan pelatihan dengan profesionalisme auditor. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan bantuan program SPSS, dapat dilihat bahwa koefisien korelasi linier yang dihasilkan antara pendidikan (X1) dengan profesionalisme auditor Bawasko (Y) adalah sebesar 0,495, kemudian koefisien korelasi linier yang dihasilkan antara pengalaman (X2) dengan profesionalisme auditor Bawasko (Y) adalah sebesar -0,117 sedangkan koefisien korelasi linier yang dihasilkan antara pelatihan (X3) dengan profesionalisme auditor Bawasko (Y) adalah sebesar 0,264. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang searah antara pendidikan dan pelatihan dengan profesionalisme auditor Bawasko serta terdapat hubungan yang

berlawanan antara pengalaman dengan profesionalisme auditor Bawasko.

12 Koefisien Determinasi (R2) Tabel 4: Koefisisen Determinasi


Model Summaryb

Model 1

R ,519a

R Square ,270

Adjusted R Square ,165

Std. Error of the Estimate ,70094

a. Predictors: (Constant), x3, x2, x1 b. Dependent Variable: y

Sumber : Data primer diolah Koefisien determinasi diperlukan untuk mengukur seberapa besar pengaruh pendidikan (X1), pengalaman (X2) dan pelatihan (X2) terhadap profesionalisme auditor Bawasko (Y). Berdasarkan hasil perhitungan dengan bantuan program SPSS, maka dapat diketahui nilai R square yang diperoleh adalah sebesar 0,270 atau 27%. Sedangkan nilai adjusted R square yang diperoleh adalah sebesar 0,165 atau 16,5%. Karena dalam penelitian ini digunakan lebih dari dua variabel bebas (terdapat 3 variabel bebas) maka koefisien determinasi yang digunakan adalah angka dari nilai adjusted R square sebesar 0,165 atau 16,5%. Angka tersebut memberikan arti bahwa perubahan tingkat profesionalisme auditor pemerintah yang bekerja pada Badan Pengawas Kota Surabaya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pengalaman dan pelatihan sebesar 16,5% sedangkan sisanya sebesar 83,5% lainnya dipengaruhi oleh faktor-faktor atau variabel lain di luar penelitian ini.

Pembahasan

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa pendidikan dan pelatihan kerja mempunyai pengaruh yang positif terhadap profesionalisme auditor pemerintah yang bekerja pada Badan Pengawas Kota Surabaya, dimana semakin tinggi tingkat pendidikan dan semakin

13

sering pelatihan dilakukan maka akan semakin tinggi pula tingkat profesionalisme auditor pemerintah yang bekerja pada Badan Pengawas Kota Surabaya. Dari nilai beta yang diperoleh dapat diketahui bahwa variabel pendidikan berpengaruh positif terhadap profesionalisme auditor Bawasko dan variabel pendidikan merupakan variabel yang paling dominan pengaruhnya dibandingkan variabel yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi auditor Bawasko akan memperoleh pengetahuan dan pemahaman terhadap tugas pengawasan sehingga dengan pengetahuan dan pemahaman tersebut auditor Bawasko akan semakin profesional atau ahli dalam menyelesaikan tugas pengawasan yang dibebankan. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa pelatihan berpengaruh terhadap profesionalisme auditor Bawasko akan tetapi mempunyai nilai beta yang lebih rendah dibandingkan variabel pendidikan. Oleh karena itu auditor Bawasko harus secara rutin mengikuti pelatihan untuk dapat menjaga kemampuannya, selain itu dengan pelatihan para auditor Bawasko dapat memperoleh hal baru menyangkut cara-cara pemeriksaan dan pengawasan sehingga menambah pengetahuan dan kemampuan untuk semakin

profesional dalam melaksanakan setiap tugas pengawasan yang dibebankan. Pada pengujian memperlihatkan bahwa pengalaman berpengaruh terhadap profesionalisme auditor Bawasko namun memiliki nilai negatif atau memberikan pengaruh yang berlawanan arah yang ditunjukkan dengan semakin lamanya seorang auditor bekerja atau semakin tinggi pengalaman auditor maka dalam kasus ini ternyata tingkat profesionalisme auditor Bawasko cenderung rendah. Hal ini dapat diketahui dari jawaban responden dimana responden yang menyatakan bahwa dia sudah lama bekerja (pengalaman tinggi) kebanyakan malah menyatakan tidak mampu bekerja secara mandiri. Sebaliknya responden yang belum lama bekerja (pengalaman rendah) justru lebih mampu bekerja secara mandiri. Selain itu disebabkan karena pengawasan pada sektor publik

14

sebelumnya menjadi wewenang dari BPKP, sedangkan Bawasko hanya membantu tugas dari BPKP untuk melaksanakan tugas pengawasan. Dengan seiring dilaksanakannya otonomi daerah maka auditor Bawasko kini memiliki wewenang penuh dan terlibat secara langsung dalam tugas pengawasan terhadap dinas atau instansi pemerintah di tingkat kota. Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan secara langsung auditor Bawasko dalam tugas pengawasan masih baru yang tidak terlepas dari pelaksanaan otonomi daerah yang masih baru pula, karena auditor Bawasko masih baru dilibatkan dalam tugas pengawasan maka hal ini menyebabkan pengetahuan yang diperoleh menyangkut praktek-praktek audit dan akuntansi yang terjadi pada obyek pemeriksaan menjadi rendah. Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh auditor melalui pengalaman akan memberikan kemampuan dalam memahami informasi yang diterima dan kemampuan untuk memahami kekeliruan yang terjadi dan kemudian mampu membuat keputusan audit yang tepat yang erat kaitannya dengan profesionalisme seorang auditor.

Keterbatasan Penelitian

Peneliti menyadari adanya beberapa keterbatasan yang mungkin mempengaruhi hasil penelitian ini. Beberapa keterbatasan penelitian ini antara lain : 1. Adanya perbedaan persepsi di antara masing-masing auditor Bawasko dalam memahami konteks pertanyaan yang disajikan dalam kuesioner. 2. Jawaban responden yang disampaikan secara tertulis melalui kuesioner belum tentu mencerminkan keadaan yang sebenarnya, yang akan berbeda apabila data diperoleh melalui wawancara. 3. Untuk variabel pengalaman yang digunakan dalam penelitian ini pengukurannya terbatas pada masa kerja auditor Bawasko, hasil penelitian akan berbeda apabila pengukuran variabel pengalaman yang digunakan diperluas dengan mengikut sertakan faktor-faktor seperti kemampuan dalam memahami kekeliruan, kemampuan untuk lebih

15

selektif terhadap informasi yang diterima dan kemampuan untuk mengambil keputasan audit dengan tepat lainnya. serta faktor-faktor yang

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa variabel independen yaitu pendidikan, pengalaman dan pelatihan berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu profesionalisme auditor Bawasko. 2. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa variabel pendidikan berpengaruh positif terhadap profesionalisme auditor Bawasko, sehingga dapat diartikan bahwa semakin tinggi pendidikan maka profesionalisme auditor Bawasko semakin meningkat. Selain itu variabel pendidikan merupakan variabel yang paling dominan pengaruhnya dibandingkan variabel yang lainnya. 3. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa variabel pengalaman berpengaruh negatif atau berlawanan arah terhadap profesionalisme auditor Bawasko, sehingga dapat diartikan bahwa semakin tinggi pengalaman maka profesionalisme auditor Bawasko semakin rendah. 4. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa variabel pelatihan berpengaruh positif terhadap profesionalisme auditor Bawasko, sehingga dapat diartikan bahwa semakin sering mengikuti pelatihan maka profesionalisme auditor Bawasko semakin tinggi.

16

Saran

1. Bagi Badan Pengawas Kota Surabaya diharapkan lebih meningkatkan perhatiannya terhadap pendidikan dan pelatihan para auditornya sehingga mampu untuk menjaga dan meningkatkan profesionalisme auditornya untuk dapat melaksanakan tugas pengawasan dalam rangka menciptakan efisiensi nasional. 2. Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan memberikan masukkan bahwa pembinaan melalui pendidikan dan pelatihan dapat meningkatkan profesionalisme auditor Bawasko Surabaya, peneliti selanjutnya

diharapkan dapat menggali faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap profesionalisme auditor Bawasko dan mempertimbangkan keterbatasan yang ada dalam penelitian ini.

17

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2001, Peraturan Baru Pegawai Negeri Sipil, Penerbit CV. Eko Jaya, Jakarta. , 2003, Himpunan Peraturan Jabatan Fungsional Auditor Dan Angka Kredit Di Lingkunagn Aparat Pengawasan Internal Pemerintah. Anoraga, Pandji, dan Sri Suyati, 1995, Perilaku Keorganisasian, Cetakan pertama, PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta. Arens dan Loebbecke, 1997, Auditing, Edisi Indonesia, Buku Satu, Amir abadi Jusuf, Salemba Empat, Jakarta. Atmodiwirio, Soebagio, 1993, Manajemen Training (Pedomen Praktis Bagi Penyelenggaraan Training), Cetakan pertama, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta. Gomes, Faustino Cardoso, 1995, Manajemen Sumber Daya Manusia, Cetakan pertama, Penerbit Andi, Yogyakarta. Ghozali, Imam, 2001, Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang. Guy, Dan M. , C. Wayne Alderman dan Alan J. Winters, 2002, Auditirng, Edisi Kelima, Jilid I, Sugiarto, Erlangga, Jakarta. Hamalik, Oemar, 1993, Psikologi Manajemen: Penuntun Bagi Pemimpin, Cetakan pertama, Penerbit Trigenda Karya, Bandung. Handoko, Hani, 1992, Manjemen Personalia dan Sumber Daya Manusia, Edisi kedua, Cetakan keempat, BPFE, Yogayakarta. Lynton, Rolf. P, dan Undai Pareek, 1984, Pelatihan Dan Pengembangan Tenaga Kerja, Cetakan pertama, Penerbit Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta. Mangkunegara, A. A. Anwar Prabu, 1993, Psikologi Perusahaan, Cetakan pertama, Penerbit Trigenda Karya, Bandung. Mardiasmo, 2002, Akuntansi Sektor Publik, Edisi Pertama, Penerbit Andi, Yogyakarta.

18

Mathis, Robert L. and John H. Jackson, 2002, Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi pertama, Penerbit Salemba Empat, Jakarta. Moekijat, 1981, Evaluasi Latihan Bagi Pegawai Negeri, Pnerbit Sinar Baru, Bandung. , 1981, Latihan Dan Pengembangan Pegawai, Penerbit Alumni, Bandung. Notoatmodjo, Soekidjo, 1992, Pengembangan Sumber Daya Manusia, PT. Rineka Cipta, Jakarta. Regar, 1993, Mengenal Profesi Akuntan Dan Memahami Laporannya, Cetakan pertama, PT. Bumi Aksara, Jakarta. Santoso, Singgih, 2002, Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta. Sastrohadiwiryo, Siswanto, 2003, Manajemen Tenaga Kerja Indonesia Pendekatan Administratif Dan Operasional, Cetakan kedua, Pnerbit Bumi Aksara, Jakarta. Saydam, Gouzali, 1996, Manajemen Sumber Daya Manusia: Suatu Pendekatan Mikro, Penerbit Djambatan, Jakarta. Sudjana, 1992, Teknik Analisisi Regresi dan Korelasi: Bagi Para Peneliti, Edisi Ketiga, Penerbit Tarsito, Bandung. Sugiyono, 2001, Metodologi Penelitian Bisnis, Penerbit Alfabeta, Bandung. Sumarsono, 2002, Metodologi Penelitian Akuntansi, Surabaya. Tunggal, Amin Widjaja, 1995, Akuntansi Sumber Daya Manusia, PT. Rineka Cipta, Jakarta. Widjaja, 1986, Administrasi Kepegawaian, Penerbit CV. Rajawali, Jakarta. Yulius, Suryadi, Effendi, Dan Admadjaja, 1984, Kamus Baru Bahasa Indonesia, Penerbit Usaha Nasional, Surabaya. Ansori, Isa, 2001, Analisis Hubungan Tingkat Pendidikan, Pengalaman Dan Kepuasan Kerja Dengan Produktivitas Kerja Karyawan, Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial (JPIS), Volume. 1, No. 1, April, Hal. 22-29.

19

Khomsiyah, dan Nur Indriatoro, Pengaruh Orientasi Etika Terhadap Komitmen Dan Sensitivitas Etika Auditor Pemerintaha di DKI Jakarta, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Volume. 1, No. 1, Januari, Hal. 13-27. Maghfiroh, Siti, 2001, Pengaruh Kultur Organisasi Dan Pelatihan Profesional Terhadap Hubungan Personalitas Individu Dengan Kreativitas: Studi Pada Kantor Akuntan Publik, Simposium Nasional Akuntansi (SNA) IV, Hal. 453-482. Puspa, D. F. , dan Bambang Riyanto, 1999, Tipe Lingkungan Pengendalian Organisasi, Orientasi Profesional, Konflik Peran, Kepuasan Kerja Dan Kinerja: Suatu Penelitian Empiris, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia (JRAI), Volume. 2, No. 1, Hal. 117-135. Sumardi dan Pancawati Hardiningsih, 2002, Pengaruh Pengalaman Terhadap Profesionalisme Serta Pengaruh Profesionalisme Terhadap Kinerja Dan Kepuasan Kerja: Studi Kasus Auditor BPKP, Jurnal Bisnis dan Ekonomi, Volume. 9, No. 1, Maret, Hal. 1-25. Wilopo, 2001, Faktor-faktor Yang Menentukan Kualitas Audit Pada Sektor Publik atau Pemerintah, Ventura, Volume. 4, No. 1, Juni, Hal. 2732.