Anda di halaman 1dari 3

A.

Hakikat dan Kepribadian Peserta Didik Dalam bahasa Indonesia ada tiga sebutan untuk pelajar, yaitu murid, anak didik, dan peserta didik. Bahkan ada salah satu tesis magister mengenalkan istilah baru yaitu dinidik tetapi kelihatannya istilah ini sangat tidak umum bahkan belum banyak orang mendengarnya. 1. Sebutan murid. Bersifat umum, sama umumnya dengan sebutan anak didik dan peserta didik. Istilah murid kelihatannya khas pengaruh agama Islam. Di dalam islam istilah ini diperkenalkan oleh kalangan sufi. Istilah murid dalam tasawuf mengandung pengertian orang yang sedang belajar, menyucikan diri, dan sedang berjalan menuju Allah SWT (Tuhan). Yang paling menonjol dalam istilah ini adalah kepatuhan murid kepada guru (mursyid)-nya. Patuh disini adalah dalam arti tidak membantah sama sekali. Hubungan guru (mursyid) dan murid adalah hubungan searah. Pengajaran berlangsung dari subjek (mursyid) ke objek (murid). Dalam ilmu pendidikan hal seperti ini disebut pengajaran berpusat pada guru. 2. Sebutan anak didik mengandung pengertian guru menyayangi murid seperti anaknya sendiri. Faktor kasih sayang guru terhadap anak didik dianggap salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Sebutan anak didik agaknya pengajaran masih berpusat pada guru, tetapi tidak seketat guru kepada murid seperti diatas. 3. Sebutan peserta didik adalah sebutan yang boleh dibilang paling mutakhir. Istilah ini menekankan pentingnya murid berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Dalam pendidikan, istilah mana sebenarnya yang paling tepat ? Bpk Prof. Ahmad tafsir berpendapat bahwa istilah yang paling tepat adalah murid. Bukan anak didik dan bukan pula peserta didik. Karena menurut beliau istilah tersebut memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan dua istilah lainnya. Dalam paradigma pendidikan Islam, peserta didik adalah orang yang belum dewasa yang memiliki berbagai potensi dasar (fitrah) yang dapat dikembangkan. Disini peserta didik dalam tinjauan Filsafat Pendidikan Islam adalah makhluk Allah yang terdiri dari jasmani dan rohani yang belum mencapai taraf kematangan, baik dari aspek fisik, mental, intelektual, maupun psikologisnya. Oleh karena itu ia senantiasa memerlukan bantuan (bimbingan) orang lain agar dapat mengembangkan semua aspek tersebut secara optimal melalui proses pendidikan. Potensi dasar yang dimiliki peserta didik, kiranya tidak akan dapat berkembang tanpa melalui pendidikan, karena Islam memandang bahwa setiap anak yang lahir dibekali dengan berbagai potensi (fitrah), lingkunganlah (orang tua, sekolah, masyarakat, dll) yang dapat mengantarkan ke arah mana potensi itu akan berkembang (positif atau negatif). Dalam prespektif filsafat pendidikan Islam, hakikat anak didik terdiri dari beberapa macam: 1. Anak didik atau peserta didik adalah darah daging sendiri, orang tua adalah pendidik bagi anakanaknya maka semua keturunannya menjadi anak didik di dalam keluarga; 2. Anak didik atau peserta didik adalah semua yang berada di bawah bimbingan pendidik di lembaga pendidikan formal maupun nonformal, seperti di sekolah, pondok pesantren, tempat pelatihan, sekolah keterampilan, tempat pengajian anak-anak seperti TPA, majelis taklim, dan sejenisnya, bahwa peserta pengajian di masyarakat yang dilaksanakan seminggu sekali atau sebulan sekali, semuanya orangorang yang menimba ilmu yang dapat dipandang sebagai anak didik; 3. Anak didik atau peserta didik secara khusus adalah orang-orang yang belajar di lembaga pendidikan tertentu yang menerima bimbingan, pengarahan, nasihat, pembelajaran, dan berbagai al yang berkaitan dengan proses kependidikan. Bagi para pendidik, peserta didik atau anak didik adalah anaknya sendiri. Oleh karena itu, para pendidik bertanggung jawab melihat perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan anak didiknya, terutama akhlaknya. Para pendidik berkewajiban menjaga nama baik lembaga pendidikan dengan mengajarkan pendidikan akhlak kepada peserta didiknya, para pendidik membina peserta didiknya dengan materi pengetahuan yang sesuai dengan tujuan lembaga pendidikan yang dimaksudkan. Anak didik atau peserta didik dapat dilihat dari beberapa tingkatan, misalnya anak didik dilihat dari usia, sejak anak didik di taman kanak-kanak, tingkat SLTP-SMA, dan mahasiswa yang berkaitan

dengan usia anak didik. Demikian pula, anak didik dapat dilihat dari perkembangan psikologisnya, misalnya perkembangan psikologis anak didik usia 12-15 tahun di SLTP berbeda dengan perkembangan psikologis anak didik usia 16-19 tahun di SMA, demikian pula perkembangan psikologis anak didik di perguruan tinggi, bahkan perkembangan cara berpikirnya pun berubah menuju kedewasaan berpikir, terutama dalam menyusun cara berpikir logis dan sistematis. Anak didik merupakan subjek utama dalam pendidikan. Anak didik dituntut hidup mandiri, mampu menyelesaikan tugas-tugas pendidikan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Tugas utama anak didik adalah belajar, menuntut ilmu dan mempraktikkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam psikologi belajar, sebagaimana dikemukakan oleh Syaiful Bahri Djamarah (2002:46) anak didik yang mengerti tugasnya dalam belajar adalah anak didik yang konsentrasinya penuh dalam memerhatikan pelajaran. Keberhasialn belajar anak didik ditentukan tiga hal yang mendasar, yaitu: 1. Sikap anak yang mencintai ilmu dan para pendidiknya; 2. Sikap anak didik yang selalu konsentrasi dalam belajar; 3. Tumbuhnya sikap mental yang dewasa dan mampu menerapkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan. Pendekatan filosofis dalam memahami karakteristikanak didik adalah tiga perbedaan anak didik yang dihadapi. Tiga perbedaan tersebut adalah: 1. Perbedaan biologis 2. Perbedaan intelektual 3. Perbedaan psikologis Peserta didik merupakan bahan mentah (raw material) dalam proses transformasi dalam pendidikan. Dalam membicarakan peserta didik, ada tiga hal yang penting yang harus diperhatiakn oleh pendidik, yaitu : (1) potensi peserta didik, (2) kebutuhan peserta didik, (3) sifat-sifat peserta didik. 1. Potensi peserta didik Manusia diciptakan Allah bukan tanpa latar belakang dan tujuan. Hal ini tergambar dalam dialog Allah dan malaikat diawal penciptaannya. Tujuan penciptaan Adam sebagai nenek moyang manusia adalah sebagai kholifah. Dalam tugas ini, manusia tidak mungkin mampu melaksanakan tugas kekholifahannya, tanpa dibekali dengan potensi yang memungkinkan dirinya mengemabn tugas tersebut. Dalam prespektif Islam, potensi atau fitrah dapat dipahami sebagai kemampuan atau hidayah yang bersifat umum dan khusus yaitu: a. Hidayah Wujdaniyah yaitu potensi manusia yang berwujud insting atau naluri yang melekat dan langsung berfungsi pada saat manusia dilahirkan di muka bumi; b. Hidayah Hisysyiyah yaitu potensi Allah yang diberikan kepada manusia dalam bentuk kemampuan indrawi sebagai penyempurnaan hidayah wujudiyah; c. Hidayah Aqliyah yaitu potensi akal sebagai penyempurna dari kedua hidayah di atas. Dengan potensi akal ini manusia mampu berpikir dan berkreasi menemukan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari fasilitas yang diberikan kepadanya untuk fungsi kekholifahannya. d. Hidayah Diniyah yaitu petunjuk agama yang diberiakn kepada manusia yang berupa keterangan tentang hal-hal yang menyangkut keyakinan dan aturan perbuatan yang tertulis dalam al-Quran dan Sunnah. e. Hidayah Taufiqiyah yaitu hidayah yang sifatnya khusus. Sekalipun agama telah diturunkan untuk keselamatan manusia, tetapi banyak manusia yang tidak menggunakan akal dalam kendali agama. Untuk itu, agama menuntut agar manusia senantiasa berupaya memperoleh dan diberi petunjuk yang lurus berupa hidayah dan taufiq guna selalu berada dalam keridhoan Allah. Quraisy Shihab berpendapat bahwa untuk menyukseskan tugas-tugas kekhalifahan di muka bumi, Allah memperlengkapi manusia dengan potensi-potensi tertentu, antara lain:

a. Kemampuan untuk mengetahui sifat-sifat, fungsi dan kegunaan segala macam benda. Hal ini tergambar dalam firman Allah SWT : Dia telah mengajarkan kepada Adam nama-nama benda seluruhnya ( QS. 2:31 ). b. Ditundukan bumi, langit, dan segala isinya, binatang-binatang, planet dan sebagainya oleh Allah kepada manusia ( QS. 45:12-13 ). c. Potensi akal pikiran serta panca indera ( QS. 67:23 ). d. Kekuatan positif untuk merobah corak kehidupan manusia ( QS. 13:11 ). Disamping potensi yang bersifat di atas, manusia dilengkapi dengan potensi yang bersifat negative yang merupakan kelemahan manusia, yaitu : pertama, potensi untuk terjerumus dalam godaan hawa nafsu dan syetan. Hal ini digambarkan dengan upaya syetan menggoda Adam dan Hawa, sehingga keduanya melupakan peringatan Allah untuk tidak mendekati pohon terlarang ( QS. 20:15-27 . Kedua, banyak masalah yang tak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, khususnya menyangkut diri, masa depan, dan banyak hal lain yang menyangkut kehidupan manusia. Karena adanya potensi yang positif dan negatif serta ketrbatasan manusia, maka Allah menganugerahkan kepada manusia berbagai potensi agar ia mampu mengetahui hakikat dan petunjukpetunjuk Allah. Firman Allah SWT: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui . Pengertian fitrah yang ditunjukkan ayat di atas member pengertian bahwa manusia ciptaan Allah dengan naluri beragama tauhid, yaitu Islam. Namun dalam pengembangan selanjutnya, Hasan Langgulung member pengertian fitrah yang lebih luas yaitu pada pengertian dasar yang dimiliki oleh setiap manusia. Potensi tersebut merupakan embrio semua kemampuan manusia yang memerlukan penempaan lebih lanjut dan lingkungan insan maupun non insane untuk bisa berkembang. Untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya tersebut, manusia memerlukan bantuan orang lain yaitu proses pendidikan.