Anda di halaman 1dari 12

KAJIAN KARAKTERISTIK KIMIA TANAH LAHAN SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.

) PADA DAERAH LERENG DI DHARMASRAYA THE STUDY OF CHEMICAL SOIL CHARACTERISTIC OF SAWIT LAND AREA (Elaeis guineensis Jacq) REGARDING TO VARIED TYPES OF TOPOSEKUEN SLOPE IN DHAMASRAYA
Oleh : Roni Darma Putra; Syafrimen Yasin dan Lusi Maira*
*) Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Andalas ABSTRAK . Penelitian tentang kajian karakteristik kimia tanah lahan sawit ( Elaeis guineensis Jacq.) pada daerah lereng di kebun PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten Dharmasraya telah dilaksanakan dari bulan Agustus 2012 sampai November 2012 yang diawali dengan pengambilan sampel tanah di Lapangan dan dilanjutkan dengan analisis tanah di Laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik kimia tanah pada empat posisi lereng (atas, tengah, bawah, dan datar) di kebun kelapa sawit. Pengambilan sampel tanah untuk analisis kimia tanah dilakukan dengan pemboran berdasarkan posisi pada lereng atas, lereng tengah, lereng bawah, dan posisi datar. Sampel tanah diambil secara komposit yaitu dengan melakukan pemboran sedalam 0 20 cm. Untuk tiap posisi pengambilan sampel diambil 5 sampel (satu sampel terdiri dari 5 kali pemboran yang dikompositkan). Sehingga jumlah sampel yang diambil untuk analisis kimia tanah sebanyak 20 sampel. Pengambilan sampel untuk analisis fisika tanah terdiri dari pengambilan sampel utuh dan sampel terganggu. Sampel tanah utuh diambil dengan menggunakan ring sampel pada kedalaman 0 20 cm dengan 5 kali ulangan pada tiap posisi pengambilan sampel yang digunakan untuk analisis berat volume tanah. Untuk analisis tekstur, cara pengambilan sampel tanah sama dengan pengambilan sampel tanah untuk analisis kimia tanah. Data hasil pengamatan dan analisis sifat kimia tanah di Laboratorium dinilai berdasarkan persamaan statistika uji T taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur tarar 5%. Sedangkan untuk sifat fisika tanah dinilai berdasarkan kriteria segitiga tekstur USDA dan kriteria berat volume. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan 1. Tingkat kesuburan tanah berbeda pada masing-masing posisi lereng, tingkat kesuburan tanah yang paling rendah terdapat pada posisi lereng tengah dan yang paling baik pada posisi datar, 2. Kandungan BO pada lereng tengah lebih rendah 1,7% dari posisi datar, kandungan unsur hara N dan P pada lereng tengah lebih rendah (0,164%, 78,35ppm) dari posisi datar, Nilai pH tanah lereng lebih rendah 1,74 dari posisi datar, KTK tanah pada lereng tengah lebih rendah 6,26 me/100g dari posisi datar, dan kandungan Al-dd pada lereng tengah lebih tinggi 2,33 me/100g dari posisi datar. Kandungan K pada lereng tengah lebih tinggi 0,028 me/100g dari posisi datar, 3. Topografi sangat berpengaruh terhadap kesuburan tanah ketika tutupan dari tanah telah terbuka. Kondisi hutan yang telah dialihfungsikan menjadi kebun sawit yang memicu terjadinya perubahan kesuburan tanah pada daerah lereng. Kata kunci : kimia tanah, kesuburan tanah, dan topografi Abstract The research about the study of chemical soil characteristic of Sawit land area (Elaeis Guineesis Jacq) regarding to varied types of toposekuen slope in Dhamasraya had been done in Augustus until November 2012. The goal of this research is: knowing the differences of chemical soil characteristic regarding to four Toposekuen slope (up, middle, below, and flat) in Sawit plantation. This research was done in Sawit plantation of PT. Incasi Raya Pangian, Dhamasraya County and in the laboratory of soil department Faculty of agriculture. The taking of sampling was done under 0-20 cm as 5 samples of each toposekuen slope. The analyzing of soil included physic characteristic and soil chemistry, consisted of C-organic, pH, Al-dd, N-Total, P-available, Cac, Mg, K, and KTK soil. The analyzing the data of chemical soil is using ANOVA utilize statistic program 8.0 and more tested by Tukey test in the real phase 5%. And then for the characteristic of chemical soil is considered based on the criteria of triangle texture USDA and the criteria of heavy volume, the conclusion of this research, 1. The characteristic of chemical soil of each Toposekuen slope is different, so this characterize the fertility soil level is different for each Toposekuen slope, the lowest fertility soil level found in the middle slope and the best fertility soil level found in the flat slope, 2. Organik matter contained in middle slope is lower than flat slope 1,70%, the food nourishment N and P in middle slope is lower than flat slope (0,16% and 78,35 ppm), the value of pH in the middle slope is lower than flat slope 1.74, KTK soil in the middle slope is lower than flat slope 6.26 me/100 g, Al-dd contained in the middle slope is higher than flat slope 2,33 me/100g, and K contained in the middle slope is higher than flat slope 0,03 me/100g. Keywords : Soil Chemical, Soil Fertility, and Topograph

PENDAHULUAN Tanah merupakan medium pertumbuhan tanaman dengan sifat-sifat tertentu yang terbentuk akibat gabungan dari faktor-faktor iklim, bahan induk, jasad hidup, bentuk wilayah dan lamanya waktu pembentukan. Menurut Indranata (1986) tanah mempunyai berbagai arti penting bagi manusia dengan keperluannya yang berbeda-beda. Berdasarkan fungsinya, tanah dapat didifinisikan sebagai sebuah sistem yang terbuka. Tanah benar-benar terbuka untuk diberikan masukan (input) dan diambil keluaran (output). Tanah memang diciptakan untuk dikelola, oleh karena itu perlu pengelolaan yang tepat agar tercipta kondisi yang optimum untuk pertumbuhan dan produksi tanaman. Pengelolaan yang dilakukan pada umumnya adalah mengkonversi lahan hutan menjadi perkebunan. Hutan merupakan ekosistem yang stabil, tidak terganggu, dan kesuburan tanah yang tinggi, baik fisika, kimia, dan biologi (Yasin, 2001). Tingkat kesuburan tanah pada hutan tropis HPPB (Hutan Pendidikan dan Penelitian Biologi) Bukit Serasah Limau Manis masih stabil antara daerah puncak, tengah dan lembah (Fadillah, 2009). Hal ini disebabkan oleh kanopi yang meredam energi kinetik butiran hujan ke tanah dan kandungan bahan organik yang meminimalisir terjadinya aliran permukaan tanah. Sehingga pengaruh lereng terhadap kesuburan tanah tidak dominan. Di Indonesia sangat banyak terjadi pembukaan hutan menjadi lahan perkebunan, salah satunya adalah di Kabupaten Dharmasraya. Hal ini menyebabkan tanah terbuka dan akan menerima energi kinetik air hujan secara langsung. Kondisi ini akan terjadi ketika awal penanaman sawit dan awal peremajaan tanaman sawit, dimana jarak tanam sawit yang lebar dan kanopi sawit yang masih pendek ketika baru ditanam. Daerah yang sesuai untuk pengembangan tanaman kelapa sawit berkisar antara 1 sampai 500 m.d.p.l dengan curah hujan tahunan 1.500 - 4.000 mm/tahun. Kelapa sawit dapat tumbuh pada jenis tanah Podzolik, Latosol, Hidromorfik Kelabu, Alluvial atau Regosol. Nilai pH yang optimum adalah 5,0 5,5. Kondisi topografi pertanaman kelapa sawit sebaiknya tidak lebih dari 15% (Sihotang, 2010).

Yasin et al., (2006) melaporkan bahwa telah terjadi kemunduran kesuburan tanah di Dharmasraya pada lahan hutan yang telah dikonversi menjadi lahan perkebunan. Namun demikian belum dilaporkan bagaimana pengaruh perbedaan topografi/kemiringan pada kebun sawit terhadap perubahan kondisi kimia tanah setelah sawit berumur lebih dari 15 tahun. Perbedaan topografi (toposekuen) pada lahan tersebut akan berpengaruh terhadap sifat tanah. Penanaman kelapa sawit di Dharmasraya dilakukan pada lahan yang mempunyai topografi yang berbeda. Hal ini akan mempengaruhi tanah yang telah terbuka karena alih fungsi lahan. Soepardi (1983) menyatakan bahwa semakin curam suatu lereng (faktor lain konstan) maka semakin besar laju erosi akibat laju aliran air yang dipertinggi. Hal ini juga menyebabkan semakin banyak air yang mengalir di permukaan tanah. Perbedaan faktor topografi (faktor lain konstan) ini mengakibatkan kesuburan tanah di daerah puncak akan lebih rendah karena daerah puncak mengalami pengikisan lapisan atas tanah (top soil) akibat aliran permukaan dan erosi tanah. Lapisan atas tanah secara perlahan akan terangkut oleh air secara gravitasi menuju daerah dengan elevasi yang lebih rendah (lembah). Daerah puncak mengalami kehilangan unsur hara dan bahan organik sehingga terjadi penurunan kesuburan tanah. Sedangkan daerah lembah terjadi penumpukan lapisan atas tanah yang terangkut oleh aliran permukaan maupun erosi tanah. Sehingga daerah lembah memiliki kesuburan tanah yang lebih tinggi dibandingkan pada daerah puncak. Dharmasraya mempunyai topografi bervariasi antara berbukit, bergelombang, dan datar dengan variasi ketinggian 98,3 m.d.p.l sampai 1.525 m.d.p.l. Sebagian besar jenis tanah di Kabupaten Dharmasraya adalah Ultisol yang didominasi oleh hutan tropik dan perkebunan (Nanda, 2009). Berdasarkan uraian di atas, maka penulis melakukan penelitian berjudul Kajian Karakteristik Kimia Tanah Lahan Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Pada Berbagai Toposekuen Lereng Di Dharmasraya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik kimia tanah pada empat toposekuen lereng (atas, tengah, bawah, dan datar) di kebun kelapa sawit.

METODE PENELITIAN Penelitian ini telah dilaksanakan di Lapangan pada kebun sawit dengan kelerengan 39 % dan tanaman sawit sudah berumur 26 tahun. Sampel tanah diambil pada empat toposekuen lereng kebun sawit, yaitu lereng atas, lereng tengah, lereng bawah dan sebagai kontrol pada posisi datar. Penetapan batas antar toposekuen lereng dilakukan di Lapangan sesuai dengan kondisi lereng. Pengambilan sampel untuk analisis kimia tanah diambil secara komposit, yaitu dengan melakukan pemboran sedalam 0 20 cm. Untuk setiap toposekuen terdapat lima titik pengambilan sampel. Satu sampel terdiri dari 5 titik pemboran (subsampel) yang selanjutnya dikompositkan. Sehingga jumlah sampel yang diambil untuk analisis kimia tanah sebanyak dua puluh sampel. Sampel tanah yang diambil dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberi label. Selanjutnya sampel tanah dibawa ke Laboratorium untuk dikering anginkan, dihaluskan, dan diayak, selanjutnya digunakan untuk analisis sifat kimia tanah. Pengambilan sampel tanah utuh dilakukan dengan menggunakan ring sampel pada kedalaman 0 - 20 cm, masing-masing sebanyak 5 sampel pada setiap toposekuen. Dengan demikian sampel tanah utuh yang diambil adalah sebanyak dua puluh sampel. Tanah ini digunakan untuk analisis BV (berat volume). Analisis sifat kimia tanah di Laboratorium meliputi : (1) Penetapan pH H2O dan KCl, (1:1)

dengan metode elektrometrik, (2) Penetapan Corganik dengan metode Walkley and Black, (3) Penetapan KTK tanah dengan metode pencucian amonium asetat 1 N pH 7, (4) Penetapan NTotal tanah dengan metode Kjeldhal, (5) Penetapan P-tersedia dengan metode Bray II, (6) Penetapan K, Ca, dan Mg dapat dipertukarkan dengan metode Pencucian Amonium Asetat 1 N pH 7, (7) Penetapan Al-dd dengan metode titrasi. Sedangkan analisis sifat fisika tanah hanya terbatas pada penetapan tekstur tanah dengan metode ayak dan pipet, dan penetapan berat volume (BV) dengan metode Gravimetri. Data hasil penelitian dianalisis dengan ANOVA menggunakan program Statistik 8.0, dan diuji lanjut dengan uji Tukey pada taraf nyata 5 %. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Daerah Penelitian Lokasi penelitian berada pada ketinggian (posisi datar 145 m.d.p.l, lereng bawah 147 m.d.p.l, lereng tengah 152 m.d.p.l, dan lereng atas 155 m.d.p.l.). Tanaman sawit pada lokasi tersebut ditanam searah garis kontur dengan kemiringan lahan 39% (diukur dengan Abney Level). Pembukaan lahan dilakukan dengan cara tebang bakar. Sifat Fisika Tanah Hasil penetapan tekstur dan berat volume tanah pada empat toposekuen lereng di kebun sawit PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten Dharmasraya disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Tekstur dan berat volume tanah pada empat toposekuen lereng di kebun sawit PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten Dharmasraya Toposekuen lereng Tekstur Tanah BV Tanah (g/cm3) Pasir (%) Debu (%) Liat (%) Kelas tekstur* Atas 35 12 53 Liat 1,40 t Tengah 35 11 54 Liat 1,26 t Bawah 30 7 63 Liat 1,35 t Datar 30 8 62 Liat 1,06 s * Hasil proyeksi segi tiga tekstur tanah USDA Keterangan : tinggi (t), sedang (s) Pada Tabel 1 terlihat bahwa tekstur tanah pada empat toposekuen lereng (atas, tengah, bawah, dan datar) adalah liat dan berat volume tanah tergolong tinggi dan sedang. Namun kandungan fraksi liat pada masing-masing toposekuen lereng berbeda, kandungan liat terendah terdapat pada lereng atas yaitu 53%. Kandungan liat pada lereng tengah naik 1 %, dan pada lereng bawah naik 10 % dari kandungan liat pada lereng atas. Tingginya fraksi liat pada lereng tengah disebabkan oleh partikel-partikel halus pada lereng atas terbawa bersamaan dengan aliran permukaan. Namun aliran permukaan tersebut

tidak hanya berhenti pada lereng tengah karena kelerengan yang curam, sehingga partikelpartikel halus akan menumpuk pada lereng bawah yang memiliki kelerengan lebih landai. Peristiwa tersebut sangat erat kaitannya dengan kondisi lahan penelitian. Kondisi lahan yang awalnya adalah hutan primer, dikonversi menjadi kebun sawit sejak tahun 1986. Pada awal penanaman, tanaman sawit masih tergolong bibit yang kanopinya masih pendek dan diiringi dengan jarak tanam 8 m x 9 m sehingga tanah terbuka. Penutupan terhadap lahan meningkat seiring dengan pertumbuhan tanaman, akan tetapi penutupan tersebut tidak akan sama dengan kondisi saat masih hutan. Kondisi tanah yang terbuka memberikan peluang untuk air hujan menumbuk permukaan tanah secara langsung. Peristiwa ini akan menyebabkan penghancuran agregat tanah. Sesuai dengan yang dilaporkan Tosiani (2011) bahwa erosi tanah akan lebih besar ketika air hujan langsung menumbuk permukaan tanah dibandingkan dengan air hujan yang turun ke tanah melalui daun dan batang tanaman. Setelah terjadi erosi percikan maka fraksi halus akan terangkut bersamaan aliran air, baik berupa infiltrasi maupun aliran permukaan. Fraksi halus yang terbawa infiltrasi akan menutupi pori tanah. Hal tersebut mengakibatkan infiltrasi berkurang sehingga aliran permukaan akan meningkat. Meningkatnya aliran permukaan akan meningkatkan erosi sehingga akan semakin banyak tanah dan bahan didalamnya tererosi. Tingginya bahan yang terangkut oleh aliran permukaan sangat dipengaruhi oleh topografi, semakin curam dan semakin panjang lereng maka akan semakin banyak tanah tererosi. Sesuai dengan yang dilaporkan Kharisma (2012) pada hutan lindung dengan topografi sangat curam, erosi yang terjadi lebih tinggi 0,19 ton/ha/th dibandingkan erosi pada hutan lindung dengan topografi curam. Kandungan fraksi liat yang tinggi dalam tanah akan menjamin tingginya koloid liat yaitu liat yang berukuran kecil dari 1m. Koloid liat akan sangat berpengaruh terhadap sifat kimia tanah. Hal tersebut sesuai dengan yang dilaporkan Yasin (1994) peranan koloid liat dalam tanah sangat penting, yaitu: (1) Menentukan reaksi kimia yang berlangsung di dalam tanah, (2) Menentukan sifat fisika tanah

yang erat hubungannya dengan tekstur, struktur, aerase, dan drainase tanah, (3) Dapat digunakan sebagai penduga perkembangan tanah, (4) Digunakan sebagai dasar mengklasifikasikan tanah, (5) Tingkat kimia tanah dan pengelolaannya sangat ditentukan oleh jenis dan jumlah mineral liat di dalam tanah. Berat volume tanah dipengaruhi oleh kekasaran partikel-partikel tanah, menurut Hanafiah (2003) bahwa massa tanah berbanding lurus dengan kekasaran partikel tanah, makin kasar akan semakin berat tanah tersebut. Nilai BV tanah tidak hanya dipengaruhi oleh fraksi liat, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kandungan BO tanah. Sesuai dengan pengambilan sampel tanah yang terdapat kandungan BO tanah yaitu kedalaman 0 20 cm. Dengan memperhatikan nilai BV tanah (Tabel 1) dan kandungan BO tanah (Tabel 2) terlihat bahwa BV tanah berbanding terbalik dengan BO tanah, semakin tinggi BO tanah maka semakin rendah BV tanah tersebut. Hal yang sama telah dilaporkan Yasin et al., (2007) berat volume tanah sangat dipengaruhi oleh kandungan bahan organik, apabila bahan organik semakin berkurang maka berat volume tanah akan semakin tinggi. Tingginya BV tanah akan mempengaruhi sifat kimia tanah. Semakin tinggi BV tanah maka infiltrasi akan lambat sehingga aliran permukaan semakin besar seiring curah hujan yang tinggi. Aliran permukaan akan menyebabkan erosi tanah bersamaan dengan bahan organik yang terdapat di permukaan tanah. Sifat Kimia Tanah Pengamatan sifat kimia tanah meliputi reaksi tanah pH, C-organik, Al-dd, N-total, Ptersedia, kapasitas tukar kation (KTK), dan basa-basa (Ca, Mg, K,). Menurut Bautista-Cruz et al., (2012) sifat tanah yang dapat digunakan sebagai indikator kualitas tanah adalah karbon organik tanah, keasaman tanah, posphor tersedia, ketebalan cakrawala, dan aluminium dapat ditukar. Indikator diatas akan berbeda antara satu penggunaan lahan dengan lahan lainnya, sesuai dengan hasil penelitian yang dilaporkan oleh Holscher et al., (2000) bahwa perbedaan yang muncul dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu (i) Praktek pengelolaan, (ii) Jenis tanaman yang tumbuh, (iii) Umur tanaman.

kebun sawit PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten Bahan Organik Pengaruh berbagai toposekuen lereng Dharmasraya disajikan pada Tabel 2. terhadap kandungan bahan organik tanah di Tabel 2. Nilai rata-rata kandungan bahan organik tanah pada empat toposekuen lereng di kebun sawit PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten Dharmasraya Toposekuen lereng BO tanah (%) Atas 3,57 a Tengah 3,16 a Bawah 4,45 a Datar 4,99 a KK 32,60 % Angka yang diikuti oleh huruf yang sama, pada kolom yang sama, berbeda tidak nyata menurut uji Tukey pada taraf nyata 5 %. rendah, sehingga pengangkutan BO tanah Pada Tabel 2 terlihat bahwa kandungan sedikit. BO tanah berbeda tidak nyata, yaitu: di posisi Kondisi tanah yang terbuka memberikan datar adalah 4,9 %, di lereng atas adalah 3,6 %, peluang untuk air hujan menumbuk permukaan di lereng tengah 3,2 %, dan di lereng bawah tanah langsung. Peristiwa ini akan adalah 4,4 %. Dilihat dari nilai kandungan BO menyebabkan penghancuran butir-butir tanah, tanah pada lereng atas lebih tinggi dibandingkan tanah yang telah menjadi butiran halus akan dengan kandungan BO tanah pada lereng mengikuti aliran air baik berupa infiltrasi dan tengah. Hal ini disebabkan karena kelerengan aliran permukaan, sehingga tanah akan yang lebih landai pada lereng atas sehingga BO menutupi pori-pori tanah. Hal tersebut yang terbawa bersamaan aliran permukaan lebih mengakibatkan proses infiltrasi berkurang sedikit ke lereng tengah. Sedangkan kandungan sehingga meningkatkan aliran permukaan. BO tanah pada lereng bawah tergolong paling Aliran permukaan yang terus meningkat tinggi yaitu 4,4 %. Tingginya kandungan BO memberi peluang terjadinya erosi, aliran tanah pada lereng bawah, disebabkan karena tersebut mengangkut lapisan atas tanah ( top kelerengan lahan yang agak curam pada lereng soil) beserta BO ke daerah yang lebih rendah. tengah, sehingga BO pada lereng tengah Sesuai dengan yang dikemukakan oleh tersebut terbawa bersamaan aliran permukaan Hardjowigeno (2003) topografi mempengaruhi dan menumpuk pada daerah lereng bawah yang besarnya erosi, mengarahkan gerakan air serta lerengnya lebih landai. Berbeda dengan yang bahan - bahan yang terlarut di dalam tanah dari dilaporkan Fadillah (2009) bahwa kandungan tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. bahan organik tanah paling tinggi di lereng tengah yaitu 5,18%. Tingginya kandungan Keasaman Tanah (pH) bahan organik tanah pada penelitian tersebut Pengaruh berbagai toposekuen lereng disebabkan oleh kondisi daerah penelitiannya terhadap nilai pH tanah di kebun sawit PT. adalah hutan. Pada hutan aliran permukaan Incasi Raya Pangian Kabupaten Dharmasraya disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Nilai rata-rata pH tanah pada empat toposekuen lereng di kebun sawit PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten Dharmasraya Posisi lereng pH H2O pH KCl Atas 4,28 b 3,40 b Tengah 4,30 b 3,38 b Bawah 4,42 b 4,43 b Datar 6,04 a 5,42 a KK 5,35 % 9,47 % Angka yang diikuti oleh huruf yang sama, pada kolom yang sama, berbeda tidak nyata menurut uji Tukey pada taraf nyata 5 %.

Pada Tabel 3 terlihat bahwa nilai pH tanah Nilai pH tanah pada posisi datar lebih pada posisi datar yaitu 6,04 (pH H2O) dan 5,4 tinggi dibandingkan dengan nilai pH tanah pada (pH KCl) berbeda nyata dengan nilai pH tanah lereng atas, lereng tengah, dan lereng bawah. pada lereng atas yaitu 4,28 (pH H2O) dan 3,4 Nilai pH tanah tersebut dipengaruhi oleh (pH KCl), lereng tengah yaitu 4,3 (pH H2O) dan beberapa faktor, salah satunya bahan organik. 3,38 (pH KCl), serta lereng bawah yaitu 4,42 Semakin tinggi bahan organik pada tanah (pH H2O) dan 3,43 (pH KCl), sedangkan nilai masam maka pH tanah akan semakin meningkat pH tanah pada lereng atas, lereng tengah, dan atau mendekati netral. Tingginya nilai pH tanah lereng bawah berbeda tidak nyata. Nilai pH pada posisi datar seiring dengan kandungan BO tanah pada lereng bawah lebih tinggi (Tabel 2), dimana bahan organik mengandung dibandingkan nilai pH tanah pada lereng atas ligand yang dapat mengkhelat Al3+ sehingga dan lereng tengah. Namun nilai pH tanah pada peningkatan H+ tidak terjadi. Menurut Atmojo ketiga toposekuen lereng tergolong rendah. (2003) peran bahan organik pada tanah yang Rendahnya nilai pH tanah pada ketiga masam dengan kandungan Al tertukar tinggi, toposekuen lereng disebabkan karena curah akan meningkatan pH tanah, karena asam-asam hujan yang tinggi sehingga pencucian sangat organik hasil dekomposisi akan mengikat Al3+ intensif. Proses pencucian menyebabkan membentuk senyawa komplek (khelat), tercucinya kation-kation yang berada pada top sehingga Al-tidak terhidrolisis lagi. soil ke lapisan sub soil. Sehingga pada komplek Berdasarkan kriteria nilai pH menurut 3+ + jerapan didominasi oleh Al dan H . Sesuai Balai Penelitian Tanah (2004), tanah di kebun dengan yang telah dilaporkan oleh Nugroho sawit tergolong masam pada lereng atas, lereng (2006) bahwa keasaman tanah disebabkan tengah, dan lereng bawah, serta tergolong agak karena berkurangnya kation K, Ca, Mg, atau Na. masam pada posisi datar. Hal ini sangat Rendahnya unsur-unsur tersebut karena unsur berhubungan dengan batuan induk tanah.. tersebut terbawa oleh aliran air ke lapisan di Menurut Utomo (2008) bahwa batuan induk dalam tanah yang lebih bawah (pencucian) atau yang masam akan menghasilkan tanah masam, hilang diserap oleh tanaman. Kation yang ada sedangkan batuan induk alkalis akan pada kompleks jerapan berkurang dan menghasilkan tanah alkalis. didominasi oleh Al-dd. Aluminium adalah salah satu penciri tanah masam karena dengan Kandungan Al-dd dan Kejenuhan Al tingginya Al-dd dapat meningkatkan jumlah H+ Pengaruh berbagai toposekuen lereng di dalam tanah. Menurut Hakim et al., (1986) terhadap kandungan aluminium dapat ditukar aluminium dalam tanah yang bereaksi dengan dan kejenuhan aluminium tanah di kebun sawit air akan menghasilkan H+ setiap kali bereaksi. PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten + Dengan demikian konsentrasi ion H akan terus Dharmasraya disajikan pada Tabel 4. meningkat di dalam tanah. Tabel 4. Nilai rata-rata kandungan aluminium dapat ditukar dan kejenuhan aluminium tanah pada empat toposekuen lereng di kebun sawit PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten Dharmasraya. Toposekuen lereng Al-dd (me/100g) Kejenuhan Al (%) Atas 2,20 a 54,67 a Tengah 2,42 a 54,77 a Bawah 2,38 a 53,72 a

Datar 0,09 b 4,76 b KK 19,35 % 14,50 % Angka yang diikuti oleh huruf yang sama, pada kolom yang sama, berbeda tidak nyata menurut uji Tukey pada taraf nyata 5 %. Al tanah pada lereng atas yaitu 2,20 me/100g Pada Tabel 4 terlihat bahwa kandungan dan 54,70 me/100g, pada lereng tengah yaitu Al-dd dan kejenuhan Al tanah pada posisi datar 2,42 me/100g dan 54,77 me/100g, serta pada yaitu 0,09 me/100g dan 4,76 me/100g berbeda lereng bawah yaitu 2,38 me/100g dan 53,72 nyata dengan kandungan Al-dd dan kejenuhan me/100g, sedangkan kandungan Al-dd dan

Kejenuhan Al pada lereng atas, lereng tengah, oleh Hansur (2010) berdasarkan penelitiannya dan lereng bawah berbeda tidak nyata. Namun pada tanah Ultisol di Dharmasraya, bahwa perbedaan kandungan Al-dd dan kejenuhan Al kandungan Al-dd yang semulanya 1,47 me/100g tanah antara lereng atas, lereng tengah, dan menjadi tidak terukur setelah pemberian bahan lereng bawah terlhat dari hasil analisis yang organik ke tanah tersebut. didapatkan. Perbedaan yang terjadi seiring Rendahnya kandungan Al-dd dan dengan kondisi lereng, pada lereng tengah yang kejenuhan Al tanah pada lereng atas dan lereng tergolong lebih curam mengandung Al-dd lebih bawah dibandingkan dengan lereng tengah tinggi 0,22 me/100g dibandingkan lereng atas. seiring dengan kandungan BO tanah yang juga Kondisi ini sesuai dengan yang dilaporkan Jiwa tinggi pada lereng atas dan lereng bawah. (1988) bahwa peningkatan kandungan Al-dd Penurunan Al-dd ini disebabkan oleh tanah seiring dengan meningkatnya kecuraman terbentuknya senyawa kompleks antara hasil lereng. Berdasarkan kriteria menurut Balai dekomposisi BO dengan ion Al yang ada dalam Penelitian Tanah (2004) bahwa kejenuhan Al larutan tanah, sehingga kadar Al dalam larutan tergolong tinggi. Hal ini disebabkan karena tanah berkurang. Hal ini sesuai dengan yang bahan organik tanah yang ada tergolong rendah. telah dilaporkan oleh Bautista-cruz et al., (2012) Kandungan Al-dd tanah yang paling bahwa bahan organik yang dihasilkan oleh tinggi terdapat pada lereng tengah. Tingginya vegetasi dapat mengurangi jumlah Al-dd dalam kandungan Al-dd tanah juga disebabkan karena tanah. rendahnya kandungan BO tanah pada lereng tersebut, sehingga ion Al tinggi dalam larutan N-total Pengaruh berbagai toposekuen lereng tanah. Dengan memperhatikan kandungan BO (Tabel 2) dan kandungan Al-dd tanah (Tabel 4) terhadap kandungan nitrogen total tanah di dapat dikatakan bahwa kandungan Al-dd tanah kebun sawit PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten berbanding terbalik dengan kandungan BO Dharmasraya disajikan pada Tabel 5. tanah. Hal ini sesuai dengan yang dilaporkan Tabel 5. Nilai rata-rata kandungan nitrogen total tanah pada empat toposekuen lereng di kebun sawit PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten Dharmasraya Toposekuen lereng N-total (%) Atas 0,10 b Tengah 0,10 b Bawah 0,12 b Datar 0,27 a KK 32,78 % Angka yang diikuti oleh huruf yang sama, pada kolom yang sama, berbeda tidak nyata menurut uji Tukey pada taraf nyata 5 %. tengah yang lebih curam dari lereng atas Pada Tabel 5 terlihat bahwa kandungan N- mengakibatkan nitrogen terbawa aliran total tanah di posisi datar adalah 0,27 % berbeda permukaan ke lereng bawah. Nitrogen pada nyata dengan kandungan N-total tanah lereng umumnya terdapat pada lapisan top soil, karena atas yaitu (0,10 %), lereng tengah (0,10 %), dan nitrogen dalam tanah bersumber dari udara dan lereng bawah (0,12 %), sedangkan kandungan jaringan tumbuhan. Lapisan atas tanah yang N-total pada lereng atas, lereng tengah, dan tererosi bersamaan bahan organik menumpuk di lereng bawah berbeda tidak nyata. Kandungan lereng bawah. Dengan memperhatikan N-total tanah lereng tengah sama dengan kandungan BO (Tabel 2) dan N-total tanah kandungan N-total tanah lereng atas, dan N-total (Tabel 5), dapat dikatakan bahwa kandungan tanah lereng bawah lebih tinggi 0,02 % BO tanah berbanding lurus dengan kandungan dibandingkan N-total tanah lereng tengah. N-total tanah, diman semakin tinggi BO tanah Tingginya kandungan N-total tanah lereng maka semakin tinggi N-total tanah. Hal ini bawah disebabkan karena nitrogen tanah lereng sesuai dengan yang dilaporkan Febrian (2001) atas terbawa bersamaan dengan aliran bahwa kandungan N-total pada Ultisol tanpa permukaan ke lereng tengah, dan kondisi lereng

pupuk lebih rendah 0,11 % dibandingkan Ultisol dengan perberian sisa panen. Perombakan BO akan menghasilkan unsur hara yang penting berupa nitrogen. Menurut Hakim et al., (1986) bahwa dekomposisi bahan organik akan menghasilkan amonium, nitrit, nitrat, dan gas nitrogen. Tingginya kandungan N-total tanah pada lereng bawah juga dikarenakan sifat nitrogen yang mudah terbawa bersamaan dengan air. Menurut McDonald et al., (2000) bahwa unsur nitrogen lebih mudah terbawa air limpasan dibandingkan dengan unsur hara lainnya. Kandungan N-total tanah yang paling tinggi adalah pada posisi datar. Tingginya

kandungan N-total tanah pada posisi datar disebabkan adanya sumbangan N-total dari lereng atas, lereng tengah, dan lereng bawah. Menurut Hanafiah (2003) di dalam tanah, 99% N terdapat dalam bentuk organik, hanya 2-4% yang dimineralisasikan menjadi N-anorganik oleh mikrobia. Pada 1 hektar tanah yang mengandung 1% C-organik, kira-kira 0,1%nya adalah N. P-tersedia Pengaruh berbagai toposekuen lereng terhadap kandungan posphor tersedia tanah di kebun sawit PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten Dharmasraya disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Nilai rata-rata kandungan posphor tersedia tanah pada empat toposekuen lereng di kebun sawit PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten Dharmasraya Toposekuen lereng P-tersedia (ppm) Atas 40,37 ab Tengah 7,91 b Bawah 21,51 b Datar 86,26 a KK 68,34 % Angka yang diikuti oleh huruf yang sama, pada kolom yang sama, berbeda tidak nyata menurut uji Tukey pada taraf nyata 5 %. dipengaruhi oleh Al-dd di dalam tanah, dimana Pada Tabel 6 terlihat bahwa kandungan P- semakin tinggi kandungan Al-dd di dalam tanah tersedia di dalam tanah pada lereng atas adalah maka semakin sedikit ketersedian P. 40,37 ppm. Nilai tersebut berbeda tidak nyata Menurut Hanafiah (2003) ketersediaan P dengan kandungan P-tersedia tanah pada lereng pada tanah bereaksi masam seperti Ultisol tengah (7,91 ppm) dan lereng bawah (21,51 sangat dipengaruhi oleh posisi dan kandungan ppm), sedangkan kandungan P-tersedia pada Al-dd di dalam tanah. Aluminium yang lereng tengah dan lereng bawah berbeda nyata terdapat di dalam tanah akan dapat mengikat ion dengan kandungan P-tersedia posisi datar (86,26 Phospor di dalam tanah sehingga menyebabkan ppm). Kandungan P-tersedia tanah pada lereng P menjadi tidak tersedia. Phospor dikatakan atas lebih tinggi dibandingkan P-tersedia tanah tersedia apabila dapat diserap oleh tanaman. pada lereng tengah. Dengan memperhatikan Menurut Hakim et al., (1986) Phospor tidak kandungan Al-dd tanah (Tabel 3) dan P-tersedia dapat diserap oleh tanaman karena diikat oleh tanah (Tabel 6) dapat dikatakan bahwa aluminium dalam tanah. Reaksinya sebagai kandungan P-tersedia di dalam tanah sangat berikut : Al3+ + H2PO4- + 2H2O AlPO4.2H2O + 2H+ dan selanjutnya akan dirombak oleh jasad perombak menjadi p-anorganik sehingga dapat digunakan tanaman. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan yang dilaporkan oleh Atmojo (2003) dan Wigati et al., (2006) bahwa pemberian BO kedalam tanah meningkatkan ketersediaan P dalam tanah. Peningkatan oleh BO tersebut terjadi melalui beberapa aksi, seperti: (1) Melalui proses mineralisasi BO terjadi pelepasan P mineral (P4O3- ), (2) Melalui

Rendahnya P-tersedia tanah pada lereng tengah, disamping disebabkan oleh kandungan Al-dd tanah yang tinggi juga disebabkan oleh kandungan BO yang rendah dari posisi lereng lainnya. Rendahnya kandungan BO pada lereng tengah akan mengakibatkan jumlah P yang disumbangkan melalui BO juga akan rendah. Hanafiah (2003) berpendapat bahwa P dalam tanah dapat bersumber dari BO yang diberikan. Dekomposisi BO akan menghasilkan P-organik

pelepasan fosfat yang berikatan dengan Al yang tidak larut menjadi bentuk terlarut, (3) menghasilkan asam humat dan asam fulvat, (4). Membentuk kompleks fosfo-humat dan fosfofulvat yang dapat ditukar dan lebih tersedia bagi tanaman, sebab fosfat yang dijerap pada bahan organik secara lemah.

Kandungan Basa - Basa (Ca, Mg, dan K) Pengaruh berbagai toposekuen lereng terhadap kandungan basa - basa tanah di kebun sawit PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten Dharmasraya disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Nilai rata-rata kandungan basa-basa tanah pada empat toposekuen lereng di kebun sawit PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten Dharmasraya Toposekuen lereng Ca-dd (me/100g) K-dd (me/100g) Mg-dd (me/100g) Atas 0,20 a 0,30 a 0,40 a Tengah 0,23 a 0,29 a 0,42 a Bawah 0,21 a 0,27 a 0,46 a Datar 0,23 a 0,27 a 0,37 b KK 16,55 % 18,26 % 11,98 % Angka yang diikuti oleh huruf yang sama, pada kolom yang sama, berbeda tidak nyata menurut uji Tukey pada taraf nyata 5 %. ataupun lapisan batuan, yang menyebabkan Pada Tabel 8 terlihat bahwa kandungan terlepasnya basa-basa. Ca-dd dan K-dd tanah berbeda tidak nyata Rendahnya basa-basa dalam tanah juga antara lereng atas, lereng tengah, lereng bawah disebabkan karena proses pencucian yang dan posisi datar, sedangkan kandungan Mg-dd intensif. Pencucian menyebabkan basa-basa tanah berbeda nyata antara posisi datar dengan terbawa oleh air perkolasi ke lapisan lebih lereng atas, lereng tengah, dan lereng bawah. bawah, sedangkan pada penelitian yang telah Berdasarkan kriteria kandungan Ca-dd, Mg-dd dilakukan, sampel diambil pada lapisan 0 - 20 tanah tergolong sangat rendah, dan K-dd cm. Menurut Selian (2008) penyerapan unsur K tergolong rendah (Balai Penelitian Tanah 2004). tinggi oleh tanaman tanaman sawit. Rendahnya kandungan basabasa tanah Kehilangan Ca diserap tanaman dalam jumlah dipengaruhi oleh pH tanah yang tergolong banyak. Sedangkan rendahnya kandungan masam. Unsur hara K banyak ketersediaannya magnesium disebabkan diserap oleh tanaman, pada pH 6 sampai 9,5 dan unsur hara Ca dan dimanfaatkan oleh mokroorganisme tertentu dan Mg yang banyak ketersediaannya pada pH 7,0 hanyut bersamaan air perkolasi. Sehingga sampai 8,5 (Hanafiah 2003). magnesium yang tertinggi terdapat di daerah Menurut Pasaribu (2008) proses yang lereng bawah. mempengaruhi pembentukan Ultisol adalah proses hancuran yang sangat intensif oleh iklim. Kapasitas Tukar Kation (KTK) Pengaruh berbagai toposekuen lereng Penghancuran tersebut menyebabkan Ultisol mempunyai kejunahan basa yang rendah. terhadap kapasitas tukar kation tanah di kebun Pelapukan terjadi ketika hidrogen di dalam sawit PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten tanah bereaksi dengan mineral di dalam tanah Dharmasraya disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Nilai rata-rata kapasitas tukar kation tanah pada empat toposekuen lereng di kebun sawit PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten Dharmasraya Posisi lereng KTK (me/100g) Atas 9,03 b Tengah 18,20 a Bawah 17,98 a Datar 24,46 a KK 26,58 % Angka yang diikuti oleh huruf yang sama, pada kolom yang sama, berbeda tidak nyata menurut uji Tukey pada taraf nyata 5 %.

Pada Tabel 9 terlihat bahwa KTK tanah di lereng atas yaitu (9,03 me/100g. Nilai tersebut berbeda nyata dengan nilai KTK tanah pada posisi datar (24,46 me/100g), lereng tengah (18,20 me/100g), dan lereng bawah (17,98 me/100g), sedangkan KTK tanah pada posisi datar, lereng tengah, dan lereng bawah berbeda tidak nyata. Rendahnya KTK tanah pada lereng atas disebabkan karena penghanyutan koloid tanah oleh aliran permukaan. Sedangkan KTK tanah pada lereng tengah lebih tinggi dibandingkan KTK tanah pada lereng bawah. Hal ini disebabkan karena koloid tanah yang dihanyutkan dari lereng atas sebagian besar masih belum terhanyutkan oleh aliran permukaan ke lereng bawah. Dengan memperhatikan kandungan BO tanah (Tabel 3) dan KTK tanah (Tabel 9), maka dapat dikatakan bahwa kandungan BO tanah berbanding lurus dengan KTK tanah, dimana semakin tinggi BO maka semakin tinggi KTK tanah. Menurut Soepardi (1983) bahwa KTK sangat berhubungan dengan tekstur tanah, karena semakin halus tekstur tanah maka semakin tinggi KTK. Hal ini berkaitan dengan semakin luasnya jerapan kation tanah. Sedangkan humus dari bahan organik meningkatkan KTK tanah karena memiliki muatan negatif. Nugroho (2006) melaporkan bahwa KTK dapat diketahui dari tekstur tanahnya. Tanah dengan kandungan pasir yang tinggi memiliki KTK yang lebih rendah dibandingkan dengan tanah dengan kandungan liat atau debu yang banyak. Berdasarkan kriteria maka KTK tanah di posisi datar tergolong sedang. Kapasitas Tukar Kation merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Semakin tinggi KTK tanah, semakin subur tanah tersebut dan sebaliknya. Tanah dengan KTK tinggi mampu menyerap dan menyediakan unsur hara lebih baik daripada tanah dengan KTK rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi kesuburan tanah di posisi datar termasuk kategori sedang. Sedangkan di lereng atas, lereng tengah, dan lereng bawah termasuk rendah. Ketersediaa unsur hara bergantung terhadap KTK, karena unsur hara terdapat pada kompleks jerapan koloid maka unsur-unsur hara tersebut tidak mudah tercuci. Tanah-tanah dengan kandungan bahan unsur tinggi atau dengan kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi dari pada tanah dengan bahan unsur

rendah atau tanah berpasir. Nilai KTK tanah bervariasi menurut tipe dan jumlah koloid yang ada dalam tanah ( Tan, 1998). Tingginya KTK tanah pada posisi datar disebabkan pengaruh bahan organik tanah. Bahan organik akan mengalami dekomposi menjadi humus. Humus merupakan koloid organik yang aktif dalam meningkatkan kemampuan tanah dalam mempertukarkan kation dan anion. Menurut Atmojo (2003) pemberian bahan organik ke tanah akan meningkatkan pertambahan koloid tanah, sehingga dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam mempertukarkan kation. Dengan meninjau semua hasil analisis yang didapatkan mengenai sifat fisika tanah yaitu tekstur liat yang berpengaruh terhadap KTK dan BV tanah yang tinggi mengurangi infiltrasi yang mengakibatkan terjadinya pengangkutan tanah beserta BO tanah. Hal ini akan mempengaruhi sifat kimia lainnya. Pada karakteristik kimia tanah, terlihat bahwa ada keterkaitan antara indikator sifat kimia tanah. Seiring dengan peningkatan BO tanah terlihat peningkatan (pH, N-total, P-tersedia, dan KTK) dan penurunan (Al-dd dan kejenuhan Al) dalam tanah. BO yang terdekomposisi menghasilkan N-total berupa amonium, nitrit, nitrat, dan gas nitrogen. Setelah BO terdekomposisi sempurna, koloid organik yang dihasilkan dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam mempertukarkan kation dan anion. Selain itu ligand yang terdapat dalam BO tanah akan mengkhelat Al-dd, sehingga Al-dd tanah tidak lagi menghasilkan H+ karena Al-dd tidak terhidrolisis. Berkurangnya H+ menyababkan peningkatan pH tanah. Ketika Al-dd tanah telah terkhelat maka akan diikuti oleh peningkatan Ptersedia tanah, sedangkan rendahnya kandungan basa-basa tanah disebabkan karena kandungan BO tanah yang tergolong rendah dan sedang. Selain itu sifat dari kandungan basa-basa tanah yang cepat tersedia menyebabkan basa-basa tanah cepat diserap tanaman dan tercuci bersama air perkolasi. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada empat toposekuen lereng (atas, tengah, bawah, dan datar) pada kebun kelapa

sawit PT. Incasi Raya Pangian Kabupaten Dharmasraya dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Karakteristik sifat kimia tanah pada masingmasing toposekuen lereng berbeda, sehingga hal ini dapat mencirikan tingkat kesuburan tanah yang juga berbeda pada masing-masing toposekuen lereng, tingkat kesuburan tanah yang paling rendah terdapat pada lereng tengah dan yang paling baik pada posisi datar 2. Kandungan BO pada lereng tengah lebih rendah 1,70% dari posisi datar, kandungan unsur hara N dan P pada lereng tengah lebih rendah (0,16% dan 78,35ppm) dari posisi datar, Nilai pH tanah lereng tengah lebih rendah 1,74 dari posisi datar, KTK tanah pada lereng tengah lebih rendah 6,26 me/100g dari posisi datar, dan kandungan Aldd pada lereng tengah lebih tinggi 2,33 me/100g dari posisi datar. Kandungan K pada lereng tengah lebih tinggi 0,03 me/100g dari posisi datar. Dari hasil penelitian ini dapat disarankan untuk dilakukan penambahan bahan organik untuk memperbaiki serta mempertahankan kesuburan tanah pada lereng tengah. DAFTAR PUSTAKA Atmojo, W.A. 2003. Peranan Bahan Organik Terhadap Kesuburan Tanah dan Upaya Pengelolaannya. Sebelas Maret University Press: Surakarta. 36 hal. Balai Penelitian Tanah. 2004. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai penelitian tanah: Bogor.146 hal. Bautista-Cruz, A., Castillo. R.F.D., Barra. J.D.E., Castorena. M.D.C.G., dan Baez. A. 2011. Forest Ecology and management. Elsevier: Mexico. Volume 277 (1) : 74-80 Fadillah, R. 2009. Perbandingan Tingkat Kesuburan Tanah Lapisan Atas (top soil) pada Berbagai Toposekuen Hutan Pendidikan dan Penelitian Biologi (HPPB) Bukit Serasah Limau Manis [Skripsi]. Universitas Andalas: Padang. 63 hal.

Febrian, D. 2001. Perbaikan beberapa Sifat Kimia Ultisol Melalui Pemanfaatan Beberap Jenis Pupuk Alam dan Pengaruhnya Terhadap Hasil Tanaman Kedelai [Skripsi]. Fakultas Pertanian Universitas Andalas: Padang. 57 hal. Hakim, N., Nyakpa. Y., Lubis. A.M., Nugroho. S.G., Diha. A., Hong. G.B., dan Bailey. H.H. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung: Lampung. 488 hal. Hanafiah, K.A. 2003. Dasar-dasar Ilmu Tanah. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta. 360 hal. Hansur, F. 2010. Pemanfaatan Berbagai Bahan Organik dan Kapur Untuk Tanaman Kedelai (Glycine max.L) pada Ultisol di Kabupaten Dharmasraya [Skripsi]. Fakultas Pertanian Universitas Andalas: Padang. 58 hal. Harjowigeno, S. 2003. Ilmu tanah. Akademi Presindo: Jakarta. 286 hal. Holscher, D., Schade. E., dan Leuschner. C. 2000. Effects of coppicing in temperate deciduous forests on ecosystem nutrient pools and soil fertility. University of Gttingen, : Germany. Basic and Applied Ecology, Volume 2 (2) : 155-164. Indranata, H.K. 1986. Pengelolaan Kesuburan Tanah. PT.Bina Aksara: Jakarta. 254 hal. Jiwa, M.W. 1988. Keragaman Spasial Kesuburan Tanah dan Kejenuhan Aluminium Seri Payung pada Berbagai Kelas Lereng dan Skala Observasi [Skripsi]. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor: Bogor. 101 hal.

Kharisma, A. 2012. Prediksi Laju Erosi pada Berbagai Satuan Lahan Sub DAS Batang Mangau [Skripsi]. Fakultas Pertanian Universitas Andalas: Padang. 54 hal. McDonald, M.A., dan Healey. J.R. 2000. Nutrient cycling in secondary forests in the Blue Mountains of Jamaica.

University of Wales : Bangor. Volume 139 (1-3): 257-278 Nanda, R.P. 2009. Pengaruh Lama Pengelolaan Sawah Terhadap Perubahan Beberapa Sifat Kimia Tanah di Kabupaten Dharmasraya [Skripsi]. Fakultas Pertanian: Padang. 65 hal. Nugroho, A.W. 2006. Karakteristik tanah pada sebaran ulin di sumatera dalam mendukung konservasi. Balai Litbang Hutan Tanaman: Palembang. 188 hal Pasaribu, Y. 2008. Transformasi Unsur P dari SP-36 dan Pospat Alam pada Tanah Ultisol, Andisol, dan Entisol [Skripsi]. Universitas Sumatera Utara: Medan. 61 hal. Selian, A.R.K. 2008. Analisa Kadar Unsur Hara Kalium (K) dari Tanah Perkebunan Kelapa Sawit Bengkalis Riau Secara Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) [Skripsi]. Repository Universitas Sumatera Utara: Medan. 47 hal. Seymour, F., M. Kanninen., B. Locatelli., D. Murdiyarso., dan L. Verchot. 2010. Sihotang, B. 2010. Sejarah Perkembangan Tanaman Kelapa Sawit di Indonesia. http://www. ideelok. com/budidayatanaman/kelapa-sawit. Rabu. 0102 2012. Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Institut Pertanian Bogor: Bogor. 591 hal. Tan, H.K. 1998. Dasar-dasar Kimia Tanah. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta. 295 hal. Tosiani, A. 2011. Dampak Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Erosi Tanah di Sub DAS Mesaam, Provinsi Bali. http://www.baligreen org/dampakperubahan-penggunaan-lahan-terhadaperosi-tanah.html. 8 hal.

Utomo, B. 2008. Perbaikan Sifat Tanah Ultisol Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Eucalyptus urophylla Pada Ketinggian 0 400 Meter [Karya Ilmiah]. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara: Medan. 28 hal.

Wigati, E.S., Abdul. S., dan Bambang. D.K. 2006. Pengaruh Takaran Bahan Organik Dan Tingkat Kelengasan Tanah Terhadap Serapan Fosfor Oleh Kacang Tunggak Di Tanah Pasir Pantai. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. Yasin, S. 1994. Identifikasi Mineral Liat Tanah Podzolik Gandruk, Bogor dengan Metoda XRD dan DTA. Institut Pertanian Bogor: Bogor. Yasin, S. 2001. Water and nutrient budget under a tropical montaine forest in the south Ecuadorian Andes. Journal Byreuther Boden Kunlicke Berichte Deutchland. 199 hal. Yasin, S., Adrinal., dan Junaidi. 2007. Perbedaan nilai berat volume (bv) dan kandungan bahan organik tanah pada berbagai umur tanaman karet dan lahan alang alang. Repository Universitas Andalas: Padang. Yasin, S., Darfis. I., dan Candra. A. 2006. Pengaruh Tanaman Penutup Tanah Dan Berbagai Umur Tanaman Sawit Terhadap Kesuburan Tanah Ultisol di Kabupaten Dharmasraya. Jurnal Solum, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas: Padang. Volume VI.