Anda di halaman 1dari 14

Tanatologi

1. Definisi Tanatologi adalah ilmu yang mempelajari kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Tanatologi merupakan ilmu paling dasar dan paling penting dalam ilmu kedokteran kehakiman terutama dalam hal pemeriksaan jenazah (visum et repertum). 2. Jenis-Jenis Kematian Jenis kematian ada 5 yaitu : a. Mati klinis / somatis - Terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga system penunjang kehidupan yaitu sistem pernafasan, kardiovaskuler, dan persarafan - Ditandai dengan tidak adanya gerakan, refleks-refleks, EEG mendatar selama 5 menit, serta tidak berfungsinya jantung dan paru-paru. - Organ organ belum tentu mati, masih bisa dimanfaatkan untuk transplantasi. b. Mati suri (apparent death) - keadaan yang mirip dengan kematian somatis, akan tetapi gangguan yang terdapat pada ketiga sistem bersifat sementara. - Kasus seperti ini sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam. c. Mati seluler / molekuler - Proses kematian organ/ jaringan setelah mati klinis. - Waktu kematian tiap jaringan / organ berbeda. Otak merupakan organ yang paling sensitif yaitu sekitar 3-5 menit. Jaringan otot akan mengalami mati seluler setelah 4 jam dan kornea masih dapat diambil dalam jangka waktu 6 jam setelah seseorang dinyatakan mati somatis. - Penentuan mati seluler ini terutama penting dalam hal transplantasi organ. d. Mati cerebral - Yaitu proses kematian yang ditandai dengan kerusakan kedua hemisfer otak dan serebellum, sedangkan kedua system penunjang lainnya yaitu pernapasan dan kardiovaskuler masih berfungsi dengan bantuan alat e. Mati otak - Bila terjadi kerusakan seluruh isi neuronal intracranial yang ireversibel, termasuk batang otak dan serebelum 3. Manfaat Tanatologi Kepentingan mempelajari tanatologi adalah untuk menetapkan : a. Waktu kematian

b. Sebab kematian pasti Contoh : keracunan CO akan terdapat kulit merah terang (terjadi perubahan warna kulit) c. Cara kematian (homocide, suicide, accident) d. Transplantasi (donor organ) Syarat: - Ada izin dari korban/ keluarganya - Sudah meninggal 4. Diagnosa Kematian Untuk mendiagnosa perubahan cepat dari kematian digunakan beberapa alat antara lain stetoskop, lampu senter, palu reflek, EEG, dan ECG. Prinsipnya adalah mendeteksi traktus respiratorius dan denyut jantung. Beberapa tes yang dapat digunakan adalah : a. Tes kardiovaskuler. 1. Magnus test. Karena jantung berhenti maka sirkulasi juga berhenti. Caranya dengan mengikat/menutup ujung jari korban dengan karet, lalu dilepaskan, maka tidak tampak adanya perubahan warna dari pucat menjadi merah. 2. Diaphonos test. Caranya dengan menyinari ibu jari korban dengan lampu senter dan tidak terlihat ada sirkulasi (warna merah terang). 3. Fluorescin test. Caranya dengan menyuntikkan zat warna fluorescin maka zat warna fluorescin akan terlokalisir di tempat suntikan karena tidak ada aliran darah. 4. Tes lilin. Bagian tubuh korban ditetesi lilin cair maka tidak akan terjadi vasodilatasi (hiperemi) sebagai reaksi terhadap rangsang panas karena sirkulasi tidak ada. 5. EKG dan Stetoskop. b. Tes pernafasan. 1. Kaca. Tidak tampak uap air ketika kaca diletakkan di depan hidung atau mulut korban. 2. Bulu-bulu halus. Tidak terdapat reaksi bersin/ geli ketika bulu-bulu halus diletakkan di depan hidung korban. 3. Winslow test Dilakukan pada orang yang pernafasannya agonal (tinggal satu-satu nafasnya) dengan cara menempatkan cermin di dada korban dan disinari dengan lampu senter. Bila bernafas maka sinar lampu senter akan ikut bergerak dengan syarat pemeriksa tidak boleh bergerak. Atau bisa menggunakan baskom berisi air yang akan bergerak bila ada pergerakan di dada.

4. Stetoskop. c. Tes Saraf 1. 2. Memeriksa reflex : reflex kornea EEG

5. Perubahan-perubahan yang Terjadi Setelah Kematian Ada 2 fase perubahan post mortem yaitu fase cepat (early) dan fase lambat (late). Perubahan cepat (early) : - Tidak adanya gerakan. - Jantung tidak berdenyut (henti jantung). - Paru-paru tidak bergerak (henti nafas). - Kulit dingin dan turgornya menurun. - Mata tidak ada reflek pupil dan tidak bergerak. - Suhu tubuh sama dengan suhu lingkungan lebam mayat (post mortal lividity). - Lebam mayat. Perubahan lambat (late) ; - Kaku mayat (post mortal rigidity). - Pembusukan (decomposition). - Penyabunan (adipocera). - Mummifikasi. a. Perubahan Mata Perubahan mata setelah kematian dapat berupa : - Hilangnya refleks kornea, refleks konjungtiva, dan refleks cahaya. - Kornea menjadi pucat / opaque / keruh. - Kelopak mata biasanya tertutup setelah kematian karena kekakuan primer dari otot - Tekanan intraokuler tidak ada. - Bola mata menjadi lunak dan cenderung untuk masuk ke dalam fossa orbital. - Kadar kalium yang tinggi karena cairan bola mata keluar (jumlah kalium yang keluar berhubungan dengan waktu kematian). - Kedudukan pupil. Refleks cahaya menghilang segera saat nukleus batang otak mengalami iskemik. Iris mengandung jaringan otot yang banyak sehingga kehilangan tonus dengan cepat dan iris biasanya relaksasi. - Perubahan pembuluh darah retina melalui pemeriksaan ophtalmoskop retina akan dapat menentukan satu tanda pasti kematian awal. Setelah mati, aliran darah pembuluh darah retina menjadi segmen seiring dengan tekanan darah yang hilang menyebabkan aliran darah terbagi menjadi beberapa segmen. b. Perubahan Kulit Perubahan yang terjadi pada kulit setelah kematian dapat berupa :

- Kulit menjadi pucat. Karena sirkulasi darah berhenti setelah kematian, darah merembes keluar dari pembuluh darah kecil sehingga kulit tampak pucat. Kulit menjadi pucat, bewarna putih abu dan kehilangan elastisitasnya. - Elastisitas (turgor) kulit menurun sampai menghilang. Sehingga bisa menetapkan apakah luka pada tubuh korban didapat intravital atau post mortem, yaitu : Luka pada intravital akan berbekas dengan ukuran lebih kecil daripada ukuran senjata, dermis berwarna merah, antara epidermis dan dermis masih ada perekatnya. Luka post mortem membekas dengan ukuran lebih besar daripada ukuran senjata, bahkan menganga, dermis pucat, epidermis lebih mudah mengelupas. - Pada kasus tenggelam, kulit tangan keriput (washer woman hand). Jika terjadi pada ujung jari saja maka kematian 4 jam yang lalu. Jika terjadi pada telapak tangan dan seluruh jari maka kematian 24 jam yang lalu. Jari tangan yang sudah terlepas digunakan untuk sidik jari. c. Penurunan Suhu Tubuh (Algor Mortis / Post Mortem Cooling) Faktor yang mempengaruhi penurunan suhu mayat Temperatur dari tubuh saat mati. Perbedaan temperatur tubuh dan lingkungan. Keadaan fisik tubuh serta adanya pakaian atau penutup mayat. Ukuran tubuh. Aliran udara dan kelembapan. Post mortem caloricity adalah kondisi dimana terjadi peningkatan temperatur tubuh sesudah mati sebagai pengganti akibat pendinginan tubuh tersebut.

Rumus perkiraan saat kematian berdasarkan penurunan suhu mayat pada suhu lingkungan sebesar 70 derajat Fahrenheit (21 derajat celcius), adalah sebagai berikut : Saat Kematian = 98,6 o F Suhu Rektal 1,5

Secara umum 1,5 o F / 1 o C per jam, teori lain : 0,8 o F per jam. 1,5 o F / 1 o C per jam 6 jam pertama, 1 o F jam 6 kedua, 0,6 o F per jam 6 jam ketiga, setelah 12 jam mencapai suhu sama dengan suhu lingkungan (untuk kulit). Sedangkan untuk organ organ dalam : 24 jam baru bias sama dengan suhu lingkungan. Bila tenggelam / dalam air : 6 jam sudah mencapai suhu lingkungan. d. Lebam Mayat (Livor Mortis / Post Mortem Hypostasis) Lebam mayat atau livor mortis adalah salah satu tanda postmortem yang cukup jelas. Biasanya disebut juga post mortem hypostasis, post mortem lividity, post mortem staining, sugillations, vibices, dan lain lain. Kata hypostasis itu sendiri mengandung arti kongesti pasif dari sebuah organ atau bagian tubuh. Lebam terjadi sebagai akibat pengumpulan darah dalam pembuluh pembuluh darah kecil, kapiler, dan venula, pada bagian tubuh yang terendah. Dengan adanya penghentian dari sirkulasi darah saat kematian, darah mengikuti hukum gravitasi. Kumpulan darah ini bertahan sesuai pada area terendah pada tubuh, memberi perubahan warna keunguan atau merah keunguan terhadap area tersebut. Darah tetap cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal endotel pembuluh darah. Timbulnya livor mortis mulai terlihat dalam 30 menit setelah kematian somatis atau segera setelah kematian yang timbul sebagai bercak keunguan. Kejadian ini akan lengkap dalam 6 -12 jam. Sehingga setelah melewati waktu tersebut, tidak akan memberikan hilangnya lebam mayat pada penekanan. Sebaliknya, pembentukan livor mortis ini akan menjadi lambat jika terdapat anemia, kehilangan darah akut, dan lain lain. Besarnya lebam mayat bergantung pada jumlah dan keenceran dari darah. Distribusi lebam mayat bergantung pada posisi mayat setelah kematian. Dengan posisi berbaring terlentang, maka lebam akan jelas pada bagian posterior bergantung pada areanya seperti daerah lumbal, posterior abdomen, bagian belakang leher, permukaan ekstensor dari anggota tubuh atas, dan permukaan fleksor dari anggota tubuh bawah. Area area ini disebut juga areas of contact flattening. Dalam kasus gantung diri, lebam akan terjadi pada daerah tungkai bawah, genitalia, bagian distal tangan dan lengan. Lebam mayat lama kelamaan akan terfiksasi oleh karena adanya kaku mayat. Pertama tama karena ketidakmampuan darah untuk mengalir pada pembuluh darah menyebabkan darah berada dalam posisi tubuh terendah dalam beberapa jam setelah kematian. Kemudian saat darah sudah mulai terkumpul pada bagian bagian tubuh, seiring terjadi kaku

mayat. Sehingga hal ini menghambat darah kembali atau melalui pembuluh darahnya karena terfiksasi akibat adanya kontraksi otot yang menekan pembuluh darah. Selain itu dikarenakan bertimbunnya sel sel darah dalam jumlah cukupbanyak sehingga sulit berpindah lagi. Biasanya lebam mayat berwarna merah keunguan. Warna ini bergantung pada tingkat oksigenisasi sekitar beberapa saat setelah kematian. Perubahan warna lainnya dapat mencakup: - Cherry pink atau merah bata (cherry red) terdapat pada keracunan oleh carbonmonoksida atau hydrocyanic acid. - Coklat kebiruan atau coklat kehitaman terdapat pada keracunan kalium chlorate, potassium bichromate atau nitrobenzen, aniline, dan lain lain. - Coklat tua terdapat pada keracunan fosfor. - Tubuh mayat yang sudah didinginkan atau tenggelam maka lebam akan berada didekat tempat yang bersuhu rendah, akan menunjukkan bercak pink muda kemungkinan terjadi karena adanya retensi dari oxyhemoglobin pada jaringan. - Keracunan sianida akan memberikan warna lebam merah terang, karena kadar oksi hemoglobin (HbO2) yang tinggi.

Perbedaan antara lebam mayat dan memar

Lokasi Permukaan Batas Warna

Penyebab Efek penekanan Bila dipotong

Lebam Mayat Bagian tubuh terbawah Tidak menimbul Tegas Kebiru biruan atau merah keunguan, warna spesifik pada kematian karena kasus keracunan Distensi kapiler vena Bila ditekan memucat Akan terlihat darah yang terjebak antara pembuluh darah, tetesan akan perlahan lahan

Memar Dimana saja Bisa menimbul Tidak tegas Diawali dengan merah yang lama kelamaan berubah seiring bertambahnya waktu Ekstravasasi darah dari kapiler akan Tidak ada efek penekanan

Mikroskopis

Terlihat perdarahan pada jaringan dengan adanya koagulasi atau darah cair yang berasal dari pembuluh yang ruptur Unsur darah ditemukan Unsur darah ditemukan
6

Enzimatik Kepentingan medicolegal

diantara pembuluh darah dan tidak terdapat peradangan Tidak ada perubahan

diluar pembuluh darah dan tampak bukti peradangan Perubahan level dari enzim pada daerah yang terlibat Memperkirakan waktu Memperkirakan cedera, kematian dan posisi saat senjata yang digunakan mati

e. Kaku Mayat (Rigor Mortis / Post Mortem Stiffening) Kaku mayat atau rigor mortis adalah kekakuan yang terjadi pada otot yang kadang kadang disertai dengan sedikit pemendekkan serabut otot, yang terjadi setelah periode pelemasan / relaksasi primer. Kaku mayat mulai terdapat sekitar 2 jam post mortal dan mencapai puncaknya setelah 10 12 jam post mortal, keadaan ini akan menetap selama 24 jam, dan setelah 24 jam kaku mayat mulai menghilang sesuai dengan urutan terjadinya, yaitu dimulai dari otot otot wajah, leher, lengan, dada, perut, dan tungkai. Kekakuan pertama ditemukan pada otot otot kecil, bukan karena itu terjadi pertama kali disana, melainkan karena adanya sendi yang tidak luas, seperti contohnya tulang rahang yang lebih mudah diimobilisasi. Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan karena metabolisme tingkat seluler masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi. Energi ini digunakan untuk memecah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP maka serabut aktin dan miosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot habis, maka energi tidak terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku. Faktor faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah aktifitas fisik sebelum mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh yang kurus dengan otot otot kecil dan suhu lingkungan yang tinggi. Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai tampak kira kira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot otot kecil) ke arah dalam (sentripetal). Teori lama menyebutkan bahwa kaku mayat ini menjalar kraniokaudal. Setelah mati klinis 12 jam, kaku mayat menjadi lengkap, dipertahankan selama 12 jam dan kemudian menghilang dalam urutan yang sama. Kaku mayat umumnya tidak disertai pemendekan serabut otot, tetapi jika sebelum terjadi kaku mayat otot berada dalam posisi teregang, maka saat kaku mayat terbentuk akan terjadi pemendekan otot. Proses terjadinya kaku mayat dapat melalui beberapa fase : - Fase pertama Sesudah kematian somatik, otot masih dalam bentuk yang normal.
7

Tubuh yang mati akan mampu menggunakan ATP yang sudah tersedia dan ATP tersebut diresintesa dari cadangan glikogen. Terbentuknya kaku mayat yang cepat adalah saat dimana cadangan glikogen dihabiskan oleh latihan yang kuat sebelum mati, seperti mati saat terjadi serangan epilepsi atau spasme akibat tetanus, tersengat listrik, atau keracunan strychnine. - Fase kedua Saat ATP dalam otot berada dibawah ambang normal, kaku akan dibentuk saat konsentrasi ATP turun menjadi 85%, dan kaku mayat akan lengkap jika berada dibawah 15%. - Fase ketiga Kekakuan menjadi lengkap dan irreversible. - Fase keempat Disebut juga fase resolusi. Saat dimana kekakuan hilang dan otot menjadi lemas. Salah satu pendapat terjadinya hal ini dikarenakan proses denaturasi dari enzim pada otot. Metode yang sering digunakan untuk mengetahui ada tidaknya rigor mortis adalah dengan melakukan fleksi atau ekstensi pada persendian tersebut. Faktor yang mempengaruhi kecepatan terjadinya rigor mortis Kondisi rata rata yang sering dialami pada rigor mortis : - Jika tubuh mayat terasa hangat dan tidak kaku, maka orang itu sudah mati tidak sampai 3 jam. - Jika tubuh mayat terasa hangat dan kaku, maka orang itu sudah mati 3 8 jam lamanya. - Jika tubuh mayat terasa dingin dan kaku, maka orang itu sudah mati 8 36 jam lamanya. - Jika tubuh mayat terasa dingin dan tidak kaku, maka orang itu sudah mati lebih dari 36 jam. Bentuk - Bentuk dari Kekakuan yang Menyerupai Rigor Mortis Heat Stiffening - Yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. - Protein pada otot akan terkoagulasi pada temperatur diatas 149 derajat Fahrenheit atau 65 derajat celcius. - Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudah robek).

- Keadaan ini dapat dijumpai pada korban mati terbakar. pada heat stiffening serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, paha, dan lutut membentuk sikap petinju (pugilistic attitude). - Heat stiffening ini tidak dapat dipatahkan dengan menggerakan ke arah sikap ekstensi seperti halnya pada rigor mortis, dan akan menetap sampai timbulnya pembusukan Cold Stiffening - Penurunan temperatur pada mayat dibawah 3,5 derajat celcius atau 40 derajat Fahrenheit akan menghasilkan memadatnya lemak subkutan dan otot. - Saat tubuh dibawa untuk dihangatkan, akan timbul true rigor mortis. Membedakan orang mati karena kedinginan dengan orang yang telah mati sebelum kedinginan : Bila orang mati di kutub kematian terjadi karena kedinginan. Dingin membuat suhu tubuhnya menjadi kaku, belum terjadi rigor mortis / kaku mayat. Sehingga apabila nanti dihangatkan, tubuh mayat akan lemas dan kemudian terjadi rigor mortis (kaku mayat). Bila orang yang mati duluan, kemudian dibuang ditempat yang dingin tubuh mayat yang dibuang akan tetap kaku karena udara dingin, tetapi setelah dihangatkan tubuh mayat akan tetap lemas. Tidak akan terjadi rigor mortis. Cadaveric Spasm - Cadaveric spasm terjadi pada kematian yang disebabkan jika seseorang berada ditengah aktifitas fisik atau emosi yang kuat, yang kemudian menuntun pada kekakuan post mortem instan yang sedikit kurang dapat dipahami. - Hal ini harus diawali dengan aktifitas saraf motorik. Biasanya terjadi hanya pada 1 daerah otot, contohnya otot fleksor tangan, dibanding seluruh tubuh. sesungguhnya merupakan kaku mayat yang timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer. - Penyebabnya adakah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal. Perbedaan antara rigor mortis dengan cadaveric spasm Rigor Mortis Cadaveric Spasm Onset Dikarenakan perubahan Keadaan lanjut dari otot sesudah kematian kontraksi otot sesudah

Otot yang terlibat Intensity Durasi Faktor predisposisi Mekanisme pembentukan Hubungan medikolegal

seluler, didahului dengan primary flaccidity Semua otot dalam tubuh Moderate 12 24 jam Penurunan ATP dibawah level kritis Mengetahui waktu kematian

mati, dimana otot dalam kondisi mati seketika Otot tertentu, sesuai keadaan kontraksi saat mati Sangat kuat Beberapa jam, sampai digantikan posisinya oleh rigor mortis Rangsangan, ketakutan, kelelahan Tidak diketahui Mengetahui cara kematian, bisa karena bunuh diri, kecelakaan, atau pembunuhan

f. Pembusukan (Decomposition, Putrefaction) Merupakan tahap akhir pemutusan jaringan tubuh mengakibatkan hancurnya komponen tubuh organik kompleks menjadi sederhana. Pembusukan terjadi akibat autolysis dan kerja bakteri. Autolisis - Merupakan proses melunaknya jaringan bahkan pada keadaan steril yang diakibatkan oleh kerja enzim digestif yang dikeluarkan sel setelah kematian dan dapat dihindari dengan membekukan jaringan. - Perubahan autolisis awal dapat diketahui pada organ parenkim dan kelenjar. - Pelunakan dan ruptur perut dan ujung akhir esofagus dapat terjadi karena adanya asam lambung pada bayi baru lahir setelah kematian. Pada dewasa juga dapat terlihat. Proses Pembusukan Bakteri. - Merupakan proses dominan pada proses pembusukan dengan adanya mikroorganisme, baik aerobik maupun anaerobik. - Bakteri pada umumnya terdapat dalam tubuh, akan memasuki jaringan setelah kematian. - Kebanyakan bakteri terdapat pada usus, terutama Clostridium welchii. Bakteri lainnya dapat ditemukan pada saluran nafas dan luka terbuka. - Pada kasus kematian akibat penyakit infeksi, pembusukan berlangsung lebih cepat. Karena darah merupakan media yang sangat baik untuk perkembangan bakteri maka organ yang mendapat banyak suplai darah dan dekat dengan sumber bakteri akan terdapat lebih banyak bakteri dan mengalami pembusukan terlebih dahulu. - Bakteri menghasilkan berbagai macam enzim yang berperan pada karbohidrat, protein, dan lemak, dan hancurnya jaringan. Salah satu
10

enzim yang paling penting adalah lecithin yang dihasilkan oleh Clostridium welchii, yang menghidrolisis lecithin yang terdapat pada seluruh membran sel termasuk sel darah dan berperan pada pembentukan hemolisis pada darah post mortem. Enzim ini juga berperan dalam hidrolisis post mortem dan hidrogenasi lemak tubuh. Aktifitas pembusukan berlangsung optimal pada suhu antara 70 sampai 100 derajat Fahrenheit dan berkurang pada suhu dibawah 70 derajat Fahrenheit. Oleh sebab itu, penyebaran awal pembusukan ditentukan oleh dua faktor yaitu sebab kematian dan lama waktu saat suhu tubuh berada dibawah 70 derajat Fahrenheit. Tanda awal pembusukan adalah tampak adanya warna hijau pada kulit dan dinding perut depan, biasanya terletak pada sebelah kanan fossa iliaca, dimana daerah tersebut merupakan daerah colon yang mengandung banyak bakteri dan cairan. Warna ini terbentuk karena perubahan hemoglobin menjadi sulpmethaemoglobin karena masuknya H2S dari usus ke jaringan. Warna ini biasanya muncul antara 12 18 jam pada keadaan panas dan 1 2 hari pada keadaan dingin dan lebih tampak pada kulit cerah. Warna hijau ini akan menyebar ke seluruh dinding perut dan alat kelamin luar, menyebar ke dada, leher, wajah, lengan, dan kaki. Rangkaian ini disebabkan karena luasnya distribusi cairan atau darah pada berbagai organ tubuh. Pada saat yang sama, bakteri yang sebagian besar berasal dari usus, masuk ke pembuluh darah. Darah didalam pembuluh akan dihemolisis sehingga akan mewarna pembuluh darah dan jaringan penujang, memberikan gambaran marbled appearence. Warna ini akan tetap ada sekitar 36 48 jam setelah kematian dan tampak jelas pada vena superficial perut, bahu dan leher. Pada saat perubahan warna pada perut, tubuh mulai membentuk gas yang terdiri dari campuran gas tergantung dari waktu kematian dan lingkungan. Gas ini akan terkumpul pada usus dalam 12 24 jam setelah kematian dan mengakibatkan perut membengkak. Dari 24 48 jam setelah kematian, gas terkumpul dalam jaringan, cavitas sehingga tampak mengubah bentuk dan membengkak. Jaringan subkutan menjadi emphysematous, dada, skrotum, dan penis, menjadi teregang. Mata dapat keluar dari kantungnya, lidah terjulur diantara gigi dan bibir menjadi bengkak. Cairan berbusa atau mukus berwarna kemerahan dapat keluar dari mulut dan hidung. Perut menjadi sangat teregang dan isi perut dapat keluar dari mulut. Sphincter relaksasi dan urine serta feses dapat keluar. Anus dan uterus prolaps setelah 2 3 hari. Gas terkumpul diantara dermis dan epidermis membentuk lepuh. Lepuh tersebuh dapat mengandung cairan berwarna merah, keluar dari pembuluh darah karena tekanan dari gas. Biasanya lepuh terbentuk lebih dahulu dibawah permukaan, dimana jaringan mengandung banyak cairan karena oedema hipostatik. Epidermis

11

menjadi longgar menghasilkan kantong berisi cairan bening atau merah muda disebut skin slippage yang terlihat pada hari 2 3. - Antara 3 7 hari setelah kematian, peningkatan tekanan gas pembusukan dihubungkan dengan perubahan pada jaringan lunak yang akan membuat perut menjadi lunak. Gigi dapat dicabut dengan mudah atau keropos. Kulit pada tangan dan kaki dapat menjadi glove and stocking. Rambut dan kuku menjadi longgar dan mudah dicabut. - 5 10 hari setelah kematian, pembusukan bersifat tetap. Jaringan lunak menjadi masa semisolid berwarna hitam yang tebal yang dapat dipisahkan dari tulang dan terlepas. Kartilogi dan ligament menjadi lunak - Keadaan yang mempengaruhi onset dan lama pembusukan : a. Faktor Eksogen - Temperatur atmosfer umumnya, proses pembusukan berlangsung optimal pada suhu 70 sampai 100 derajat Fahrenheit - Adanya udara dan cahaya. - Terbenam dalam air. - Mengapung diatas air. - Terkubur dalam tanah. b. Faktor Endogen - Sebab kematian. - Kondisi tubuh. - Pakaian pada tubuh. - Umur dan jenis kelamin. g. Penyabunan (Adipocera) Dikenal juga sebagai grave wax. Adiposera berasal dari bahasa latin, adipo untuk lemak dan cera untuk lilin) berwarna utih kelabu setelah meninggal dikarenakan dekomposisi lemak yang dikarenakan hidrolisis dan hidrogenasi dan lemak (sel lemak) yang terkumpul di jaringan subkutan yang menyebabkan terbentuknya lechitinase, suatu enzim yang dihasilkan oleh Clostridium welchii, yang berpengaruh terhadap jaringan lemak. Dengan demikian akan terbentuk asam asam lemak bebas (asam palmitat, stearat, oleat), ph tubuh menjadi rendah dan ini akan menghambat bakteri untuk pembusukan dengan demikian proses pembusukan oleh bakteri akan terhenti. Tubuh yang mengalami adiposera akan tampak berwarna putih kelabu, perabaan licin dengan bau yang khas, yaitu campuran bau tanah, keju, amoniak, manis, tengik, mudah mencair, larut dalam alkohol, panas, eter, dan tidak mudah terbakar, bila terbakar mengeluarkan nyala kuning dan meleleh pada suhu 200 derajat Fahrenheit. Faktor faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera adalah :

12

- Kelembapan. - Lemak tubuh. Sedangkan yang menghambat adalah air yang mengalir. h. Mumifikasi Perubahan perubahan yang terjadi pada tubuh akibat dekomposisi dapat dihambat dan digantikan dengan mumifkasi. Mayat yang mengalami mumifikasi akan tampak kering, berwarna coklat, kadang disertai bercak warna putih, hijau atau hitam, dengan kulit yang tampak tertarik terutama pada tonjolan tulang, seperti pada pipi, dagu, tepi iga, dan panggul. Organ dalam umumnya mengalami dekomposisi menjadi jaringan padat berwarna coklat kehitaman. Sekali mayat mengalami proses mumifikasi, maka kondisinya tidak akan berubah, kecuali bila diserang oleh serangga. 6. Yang dapat ditemukan pada waktu Otopsi 1. Larva lalat Siklus : - Telur (8 14 jam) - Larva (9 12 hari) - Kepompong ( >12 hari) - Lalat dewasa Syarat pemeriksaan : Tidak boleh ada kepompong Dicari larva lalat yang paling besar Bila umur larva sudah ditentukan maka dapat ditentukan ,lama korban telah meninggal. Misalnya : Didapatkan larva yang berumur 3 hari. Saat kematian korban adalah : (3 hari + 1 hari) = 4 hari yang lalu 2. Proses pencernaan makanan dalam lambung. Bila ditemukan : Lambung tak berisi makanan , Rectum penuh dengan feces, Kandung seni penuh Diperkirakan korban meninggal waktu masih pagi sebelum bangun Bila lambung ditemukan berisi makanan kasar artinya korban meninggal dalam waktu 2 4 jam setelah makan terakhir. Bila ditemukan lambung tak terisi makanan, duodenum dan ujung atas usus halus berisi makanan yang telah tercerna, berarti korban meninggal dalam waktu > 2 - 4 jam setelah makan terakhir.

13

7. Perkiraan saat kematian Selain perubahan pada mayat tersebut diatas, beberapa perubahan lain dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian. 1. Perubahan pada mata Terjadi kekeruhan kornea, kekeruhan ini akan akan menetap sejak kira-kira 6 jam pasca mati Tekanan bola mata menurun,distorsi bola mata pada penekanan Perubahan pada retina yang menunjukkan saat kematian hingga 15 jam pasca mati

2. Perubahan dalam lambung 3. Perubahan rambut Mengingat bahwa kecepatan pertumbuhan rambut rata-rata 0,4 mm/hari, panjang jenggot dan kumis dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian. Cara ini hanya dapat digunakan bagi pria yang mempunyai kebiasaan mencukur kumis atau jenggotnya dan diketahui saat terakhir ia mencukur 4. Pertumbuhan kuku Kecepatan pertumbuhan kuku rata-rata 0,1 mm/hari, dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian bila diketahui saat terakhir ia memotong kuku. 5. Perubahan dalam cairan serebrospinal 6. Peningkatan kadar kalium dalam cairan vitreus 7. Perubahan komponen darah setelah kematian 8. Reaksi supravital

14