Anda di halaman 1dari 7

PENGUKURAN DI LABORATORIUM (REFRAKTOMETRI)

Abstrak Telah dilakukan percobaan yang bertujuan untuk menentukan indeks bias suatu zat. Metode yang digunakan pada percobaan adalah analisa secara refraktometri dengan pengukurannya didasarkan pada cahaya yang masuk melalui prisma-cahaya hanya bisa melewati bidang batas antara cairan dan prisma dengan suatu sudut pada batas tertentu. Yang ditentukan oleh sudut batas antara cairan dan alas. Dari hasil data diperoleh hasil indeks bias pada aquades (1,332000), Zat A (1,335100), Pada Zat B (1,335100), Pada Zat B (1,460300), Pada Zat D (1,330100). Kata Kunci : Indeks Bias, refraktometri PENDAHULUAN Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar/ konsentrasi bahan terlarut. Misalnya gula, garam, protein, dsb. Prinsip kerja dari refraktometer sesuai dengan namanya adalah memanfaatkan refraksi cahaya. Refraktometer ditemukan oleh Dr. Ernest Abbe seorang ilmuan dari German pada permulaan abad 20. Indeks bias adalah perbandingan panjang gelombang 589,0 nm dan 589,6 nm. Umumnya alat dirancang untuk digunakan dengan cahaya putih. Alat yang digunakan untuk mengukur indeks bias adalah refraktometer ABBE. Untuk mencapai kestabilan, alat harus dikalibrasi dengan menggunakan plat glass standart. Refraktometer Abbe adalah refraktometer untuk mengukur indeks bias cairan, padatan dalam cairan atau serbuk dengan indeks bias dari 1,300 sampai 1,700 dan persentase padatan 0 sampai 95%, alat untuk menentukan indeks bias minyak, lemak, gelas optis, larutan gula, dan sebagainnya, indeks bias antara 1,300 dan 1,700 dapat dibaca langsung dengan ketelitian sampai 0,001 dan dapat diperkirakan sampai 0,0002 dari gelas skala di dalam.

kecepatan cahaya dalam udara dengan kecepatan cahaya dalam zat tersebut. Indeks bias berfungsi untuk identifikasi zat kemurnian, suhu pengukuran dilakukan pada suhu 20C dan suhu tersebut harus benar-benar diatur dan dipertahankan karena sangat mempengaruhi indeks bias. Harga indeks bias dinyatakan dalam farmakope Indonesia edisi empat dinyatakan garis (D) cahaya natrium pada

Pengukurannya didasarkan atas prinsip bahwa cahaya yang masuk melalui prismacahaya hanya bisa melewati bidang batas antara cairan dan prisma kerja dengan suatu sudut yang terletak dalam batasbatas tertentu yang ditentukan oleh sudut batas antara cairan dan alas. Pembiasan cahaya adalah pembelokan cahaya ketika berkas cahaya melewati bidang batas dua medium yang berbeda indeks biasnya. Indeks bias mutlak suatu bahan adalah perbandingan kecepatan cahaya di ruang hampa dengan kecepatan cahaya di bahan tersebut. Indeks bias relatif merupakan perbandingan indeks bias dua medium berbeda. Indeks bias relatif medium kedua terhadap medium pertama adalah perbandingan indeks bias antara medium kedua dengan indeks bias medium pertama. Pembiasan cahaya dan menyebabkan kedalaman semu

nisbah sudut datang dan sudut bias sama dengan nisbah kecepatan cahaya pada kedua medium, yang sama dengan kebalikan nisbah indeks bias.

Perumusan matematis hukum Snellius adalah

atau

atau

pemantulan sempurna. Hukum Snellius adalah rumus Lambang 1,2 merujuk pada sudut datang dan sudut bias, v1 dan v2 pada kecepatan cahaya sinar datang dan sinar bias. Lambang n1 merujuk pada indeks bias medium yang dilalui sinar datang, sedangkan n2 adalah indeks bias medium yang dilalui sinar bias. Hukum Snellius dapat digunakan untuk menghitung sudut datang atau sudut bias, dan dalam eksperimen untuk menghitung indeks bias suatu bahan.

matematika yang memerikan hubungan antara sudut datang dan sudut bias pada cahaya atau gelombang lainnya yang melalui batas antara dua medium isotropik berbeda, seperti udara dan gelas. Hukum ini juga dikenal sebagai Hukum Descartes atau Hukum Pembiasan. Hukum ini menyebutkan bahwa nisbah sinus sudut datang dan sudut bias adalah konstan, yang tergantung pada medium. Perumusan lain yang ekivalen adalah

BAHAN DAN METODE Alat dan bahan penelitian Alat dan bahan diberikan pada tabel 1.

menyebabkan

kerusakan

bila

prisma

diklem dengan rapat) 3. 1 2 tetes sampel diteteskan pada lubang isian dengan pipet tetes ( yang seharusnya sudah terang sepanjang persimpngan diantara dua prisma yang di klem ).

Alat Refraktometer Gelas beker Pipet tetes

Bahan Aquades Alcohol Zat A Zat B Zat C

4. Prisma yang terpasang sepanjang sumbu horizontal dapat diputar dengan knop logam knurled (dibawah skala) dengan tetap menjaga posisi diputar pada dari sampai teleskop cermin batas (jika teleskop.prisma terlihat jelas

Zat D Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan Metode percobaan Pengoperasian dari refraktometer Abbe, yaitu: 1. Air dari bak thermostat diuji bahwa sedang disirkulasi melalui prisma dan temperature konstan ( 250) 0C 2. Prisma yang iluminasi dan refraksi digantung bersama sama sepanjang satu sisi dan di klep pada sisi yang berlawanan. Klem dibuka dan prisma dipisahkan. Kedua permukaan prisma dibersihkan dengan hati hati menggunakan tissue yang telah dibasuh alcohol terlebih dahulu. Bila permukaan prisma sudah bersih dan kering, kedua permukaan prisma dibawa bersama sama dan klem ditutup. Yakinkan bahwa permukaan prisma bebas dari debu atau pasir ( yang dapat

anatar medan terang dan medan gelap pengaturan konpensator Abbe tidak tepat maka akan terlihat seberkas sinar berwarna yang tersebar pada perbatasan medan gelap dengan terang). 5. Cermin diatur untuk dapat memantulkan sinar sepanjang sumbu teleskop. Posisi terbaik dapat diperoleh dengan mencoba bila zat cair sudah diberikan , dan suatu saat tidak perlu diadakan perubahan setelan itu untuk mendapatkan sumber cahaya yang mantap. 6. Pada ujung bawah dari teleskop, terdapat knop logam knurled yang Abbe. berfungsi mengatur kompensator

Pengatur dianggap benar jika terlihat batas yang tajam antar medan gelap dan medan terang. 7. Prisma diputar hingga batas gelap dan terang tepat berhimpitan dengan titik

potong dari garis silang (lensa mata pada teleskop dapat diatur dengan memutarnya untuk membuat garis silang berada pada focus yang tajam ).

I II III

20 20 20

1,3320 1,3320 1,3320 Indeks Bias (nD) 1,3351 1,3351 1,3351 Indeks Bias (nD) 1,3351 1,3351 1,3351 Indeks Bias (nD) 1,4603 1,4603 1,4603 Indeks Bias (nD) 1,3301 1,3301

8. Setelah batas gelap dan terang tepat berhimpitan dengan titik potong dari garis silang, indeks bias dari sampel tersebut dibaca dari skala (diberi tanda nD) suatu saat pengaturan yang selanjutnya telah dibuat. Lensa mata dari pembacaan skala teleskop dapat diatur untuk membuat skala menjadi focus yang tajam. Untuk permukaan dikeringkan dilepaskan. 10. Prisma, teleskop dan cermin yang jelas dapat ini posisi diputar sebagai unit tunggal membuat sebagai sepanjang sumbu horizontal. Dengan cara memungkinkan horisontal. untuk Sehingga Zat C Suhu (0C) permukaan prisma yang jelas menjadi I II III 20 20 20 alternative sampai pada langkah tiga, setetes zat cair dapat ditransfer secara langsung ke permukaan prisma. Prosedur ini diperlukan untuk pengukuran indeks bias zat cair yang kental.. DATA PENGAMATAN Refraktometer suhu 20C Aquades Suhu (0C) Indeks Bias (nD) I II 20 20 Zat D Suhu (0 oC) menyelesaikan prisma kemudian pengukuran, dan diklem I II III 20 20 20 prisma III 20 I II 20 20 Zat A Suhu (0C)

dibersihkan

Zat B

Suhu (0C)

menjadi satu. Penutup protetktif peralatan

III

20

1,3301

didapat glukosa 5% juga, pada zat C ialah minyak goreng, dan zat D didapat ialah etanol.

Densitas Zat Pikometer Kosong (g) A B C D 12,59 12,59 12,59 12,59 Berat Pikometer Kosong + Zat (g) 22,52 22,54 21,56 22,42

Dari hasil pengukuran untuk kalibrasi refraktometer, indeks bias air yang ditunjukkan adalah 1,33200 pada suhu 200C. Hal tersebut menunjukka bahwa refraktometer pengukuran yang untuk digunakan zat cair dalam glukosa. kondisi yang baik. Selanjutnya dilakukan Pengukuran diawali dengan membersihkan prisma dengan tissue yang sudah dibasahi alcohol. Setelah kedua permukaan prisma kering, cairan glukosa 2,5% diteteskan

HASIL DAN PEMBAHASAN Pada percobaan yang telah dilakukkan mengenai refraktometer, sebelum refraktometer digunakan, terlebih dahulu alat refraktometer dikalibrasi dengan cara menentukan indeks bias dari Aquades. Proses kalibrasi dimaksudkan untuk mengetahui bahwa refraktometer dalam keadaan atau kondisi terkalibrasi dan dicek terhadap standar (air murni). Indeks bias dipengaruhi oleh suhu. Saat menguji indeks bias aquades dalam mengkalibrasi refraktometer, perlu diperhatikan kecocokan antara hasil indeks bias dari pengukuran dengan temperature yang ditunjukkan. Dalam percobaan ditentukan juga macam zat yang terdapat pada zat A, zat B, zat C, dan zat D menurut indeks bias masing-masing zat. Zat yang terdapat pada sampel A ialah glukosa 2,5%, dan zat B

sebanyak 1 tetes saja, lalu kedua prisme direkatkan dan dikunci. Melalui teleskop dapat dilihat ketepatan batas daerah gelap dan terang pada titik potong garis silang dengan focus yang tajam (artinya tidak ada bayang-bayang di perbatasan daerah gelap dan terang). Dan melalui dapat dilihat di bagian bawah focus daerah gelap dan terang terdapat skala pembacaan indeks bias cairan. Pada skala tersebut dapat dibaca dan diukur nilai indeks bias dari zat cair yang diuji. Dari hasil 3 kali pengukuran berulang yang telah dilakukan pada suhu yang sama (200C), diperoleh hasil untuk zat cair aquades nilai indeks bias rata-ratanya sebesar 1,332000. Nilai kebenaran praktikumnya adalah 100%. glukosa 2,5% nilai indeks bias rata-ratanya sebesar 1,335100. Nilai kebenaran praktikumnya

adalah 100%. Sedangkan untuk indeks bias rata-rata dari glukosa 5% adalah 1,335100, dengan kebenaran praktikum sebesar 100%. Dan untuk nilai indeks bias rata-rata dari minyak goreng adalah 1,460300 dengan kebenaran praktikum sebesar 100%. Dan untuk nilai indeks bias rata-rata dari etanol adalah 1,330100 dengan 100%. Urutan kenaikan nilai indeks bias dari sampel-sampel yang diujikan, yaitu: Air < Glukosa 2,5% < Glukosa 5% < Etanol < Minyak goreng. Larutan sampel yang diujikan ternyata memiliki nilai indeks bias yang lebih besar dibandingkan dengan nilai indeks bias dari aquades. Hal ini disebabkan karena pada larutan sampel seperti: glukosa 2,5% ; glukosa 5% ; dan minyak goreng dan etanol mengalami kenaikan besar sudut kritis. Karena, semakin besar nilai indeks bias suatu zat cair, maka sudut kritis yang terbentuk semakin besar. Besarnya sudut kritis yang ditimbulkan bisa disebabkan karena banyaknya sinar yang dipantulkan cairan tersebut ketika berada diantara kedua permukaan prisma. Untuk cairan yang memiliki ketebalan cairan yang sama akan memiliki besar indeks bias yang berbeda bila konsentrasi total zat padat terlarutnya berbeda. Pada cairan yang mempunyai konsentrasi zat terlarut kecil, akan mempunyai indeks bias kebenaran praktikum sebesar

yang kecil, begitupula sebaliknya apabila konsentrasi mempunyai Sedangkan zat terlarut bias besar, yang akan besar. indeks cairan

yang

memiliki

konsentrasi zat terlarut besar, bahwa banyak partikel zat terlarut didalamnya sehingga banyak menyerap cahaya dan intensitas cahaya yang melewati cairan tersebut berkurang. Pada glukosa 2,5% mengarahkan bahwa terdapat glukosa 2,5 gram di dalam glukosa 100 5% gram larutan. Sedangkan menunjukkan

bahwa terdapat glukosa sebanyak 5 garm di dalam 100 gram berat total larutan. Ini berarti glukosa 2,5% memiliki konsentrasi zat terlarut yang lebih kecil daripada glukosa 5%. Karena konsentrasi terlarutnya lebih kecil, zat seharusnya

memiliki indeks bias yang lebih kecil, karena semakin banyak intensitas cahaya yang melewatinya dan dipantulkan. Namun dari hasil pengukuran diperoleh bahwa glukosa 5% memiliki indeks bias yang sama besar. Hal ini mungkin disebbabkan oleh praktikan yang kurang teliti dalam mengamati hasil pengukuran yang terlihat pada alat refraktometer. SIMPULAN Refraktometer digunakan untuk

menentukan besar indeks bias dari zat cair. Indeks bias dari Aquades pada suhu 200C = 1,33200, Zat A (200C) = 1,33790, Zat B (200C) = 1,33460, Zat C (200C) = 1,34510, Zat D (200C) = 1,34510.

Semakin banyak konsentrasi zat terlarut di dalam cairan, akan semakin banyak cahaya yang diserap dan menyebabkan intensitas cahaya menjadi menurun. Indeks bias akan kecil, bila konsentrasi zat terlarutnya besar. Kecepatan cahaya dalam medium cairan lebih kecil dibandingkan kecepatan cahaya di ruang hampa, dibuktikan dengan besar nilai indeks bias cairan yang lebih dari 1. DAFTAR PUSTAKA DOGRA, S.K dan S. DOGRA.1990. Kimia Fisika dan Soal-soal.Cetakan 1. Universitas Indonesia. Jakarta Fessenden and Fessenden. 1999. Kimia Organik edisi Ketiga jilid 1. Erlangga. Jakarta Keenan, CW. 1991. Ilmu Kimia Untuk Universitas Jilid 1. Edisi ke 6. Erlangga. Jakarta L. Lehninger, Albert. Dasar-Dasar

Biokimia Jilid 1 Terjemahan Dr. Ir. Maggy T. Erlangga : Yakarta.

Tim Laboratorium Kimia Fisika .2013. Penuntun Praktikum Kimia Fisika II. Jurusan Kimia F. MIPA Universitas Udayana. Bukut Jimbaran