Pedoman Pelaksanaan Program

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Pembangunan nasional merupakan upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mewujudkan tujuan bernegara sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila. Visi Indonesia sampai tahun 2025 adalah Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil dan Makmur dengan membagi kedalam 4 (empat) tahapan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM).1) Visi Indonesia Tahun 2014 adalah Indonesia yang Sejahtera, Demokratis, dan Berkeadilan. Dalam konteks ini, arahan pokok dan strategis Presiden Republik Indonesia agar melakukan langkah-langkah terobosan (breakthrough), bukan langkah-langkah biasa (business as usual). Untuk mendukung pencapaian visi Indonesia Tahun 2014 maka perlu dilakukan suatu proses perencanaan pembangunan nasional yang terarah, terfokus, seimbang, dan berkelanjutan. Proses perencanaan pembangunan nasional dilakukan dalam suatu sistem. Sistem perencanaan pembangunan nasional merupakan satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dapat dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah, yang berdasarkan demokrasi dengan prinsip-prinsip kebersamaan, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan Nasional. Mengacu pada visi tersebut, tema Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2014 Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif, Berkelanjutan dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat.2) Pembangunan dimaksud dijalankan berlandaskan 4 jalur strategi pembangunan yaitu 1) mendorong pertumbuhan (pro-growth), 2) memperluas kesempatan kerja (pro-job), 3) menanggulangi kemiskinan (pro-poor), dan 4) mendorong pelestarian lingkungan yang ramah (pro-environment). Ketahanan pangan merupakan salah satu program pembangunan dengan status prioritas nasional. Sasaran yang perlu dicapai pada prioritas nasional dimaksud adalah: a. Terpeliharanya dan meningkatnya pencapaian swasembada bahan pangan pokok b. Terjaminnya penyaluran subsidi pangan bagi masyarakat miskin
1) 2)

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 1|Page

Pedoman Pelaksanaan Program
c. d. e. f. g. h. Terjaganya stabilitas harga bahan pangan dalam negeri Meningkatnya kualitas pola konsumsi pangan masyarakat dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) menjadi sekitar 89,8 Terlindunginya dan meningkatnya lahan pertanian pangan Terbangunnya dan meningkatnya luas layanan infrastruktur sumber daya air dan irigasi Meningkatnya PDB sektor pertanian, perikanan dan kehutanan dengan pertumbuhan 3,2 persen Tercapainya indeks Nilai Tukar Petani (NTP) diatas 105 dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) menjadi 110.

Selain dari sasaran prioritas nasional tersebut, diperlukan prakarsa-prakarsa baru. Prakarsa-prakarsa baru yang dimaksudkan sebagai pengungkit dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat meliputi: - Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) - Percepatan Pembangunan Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara - Penguatan Penanggulangan Kemiskinan - Peningkatan langkah-langkah dalam rakyat dalam rangka mencapai ketahanan pangan dimana surplus 10 juta ton beras per tahun. Penuangan arah dan kebijakan pembangunan pertanian terutama berkaitan dengan tanaman pangan dikonsolidasikan dalam berbagai rancangan program. Pada tahun anggaran 2012, Kementerian Pertanian memiliki 12 (dua belas) program, yang dilaksanakan oleh 12 unit eselon I, dimana setiap unit eselon I melaksanakan 1 (satu) program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki satu program yakni Program Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. Program ini difokuskan pada penguatan aspek ketersediaan pangan bersumber dari produksi dalam negeri, baik dalam kuantitas (jumlah) maupun kualitas (mutu). Pembangunan tanaman pangan pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha tanaman pangan yang mampu menghasilkan produk mulai dari hulu sampai hilir. Pembangunan tanaman pangan berorientasi pada peningkatan produksi (ketersediaan) dan peningkatan pendapatan. Untuk itu, faktor peningkatan produktivitas, peningkatan kapasitas usaha, serta optimalisasi efisiensi usaha, nilai tambah dan daya saing menjadi indikator penting dalam mewujudkan kedua orientasi tersebut.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2|Page

disusunlah Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. kacang hijau. Saat ini. gandum dan lain-lain. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan diprioritaskan pada: 1) Komoditi utama dan unggulan nasional. sejak tahun 2011. Dengan memperhatikan komitmen tersebut. gembili. Dalam hal ini. dana subsidi. dana alokasi khusus (DAK). dan kedelai. Direktorat Jenderal Hortikultura. pedoman pelaksanaan program perlu disusun sebagai salah satu wujud nyata dari akuntabilitas.Pedoman Pelaksanaan Program Subsektor tanaman pangan memiliki keragaman komoditas yang cukup banyak untuk dapat ditumbuhkembangkan. garut. Perencanaan kinerja seharusnya dilaksanakan melalui penyusunan pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis untuk memberikan gambaran proses pelaksanaan kinerja secara baik dan sistematis. Produktivitas.310/9/2006 tentang Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dimana Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki 36 komoditi tanaman pangan sebagai tanggung jawab binaan. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 511/Kpts/PD. dana tugas pembantuan. Namun demikian. 2) Komoditi alternatif/unggulan daerah (lokal) seperti talas. dan ubi jalar. kedelai. jagung. Dalam perkembangannya. jagung. Pengembangan ketujuh komoditi tanaman pangan diimplementasikan dalam berbagai jenis kegiatan yang saling terkait dan saling mendukung. Dalam melaksanakan pengembangan komoditi tersebut. karena faktor keterbatasan yang ada. Komoditi ini merupakan komoditi utama dan unggulan bagi kebutuhan pangan pokok nasional. kegiatan dan anggaran dapat didokumentasikan dalam bentuk yang akuntabel. arah dan kebijakan Program Peningkatan Produksi. Oleh karena itu. dan Direktorat Jenderal Perkebunan. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012. yaitu padi. kacang tanah. Pedoman pelaksanaan program ini akan diperkuat oleh pedoman pelaksanaan kegiatan dan pedoman teknis. ubi kayu. ketiga komoditi tersebut merupakan gambaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. proses penetapan dan tahapan pelaksanaan program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memantapkan berbagai peraturan perundangundangan dan memberikan berbagai instrumen anggaran yang diperlukan melalui APBN. sorgum. dan berbagai jenis lainnya. Komoditi ini sebagai substitusi maupun komplemen dari komoditas utama dan unggulan nasional. seperti dana dekonsentrasi. Produktivitas. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 3|Page . komoditi yang menjadi skala prioritas difokuskan pada padi.

dan 3) pedoman teknis. Penyusunan pedoman tersebut mengacu pada peraturan perundang-undangan sebagai berikut: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 4|Page . KEGIATAN DAN ANGGARAN KEMENTAN (RENSTRA – RKT – PK) PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PROGRAM. 2) pedoman pelaksanaan kegiatan. TUGAS PEMBANTUAN. Dasar Hukum Penyusunan Pedoman Pelaksanaan merupakan suatu tuntutan yang wajib harus dilakukan dalam membangun akuntabilitas kinerja. Pedoman yang disusun terdiri dari tiga (3) jenis yaitu 1) pedoman pelaksanaan program. KEGIATAN DAN ANGGARAN DITJEN TP (RENSTRA – RKT – PK – DIPA/RKA-KL/POK) PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM DITJEN TANAMAN PANGAN PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN MASING-MASING ESELON II PEDOMAN TEKNIS TERUTAMA ATURAN TEKNIS PENGELOLAAN BANTUAN YANG DIALOKASIKAN KEPADA PETANI/LEMBAGA/UNIT KERJA PEMERINTAH Gambar 1.Pedoman Pelaksanaan Program DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN (RPJP – RPJM – RKP) DOKUMEN PERENCANAAN PROGRAM.2. KEGIATAN DAN ANGGARAN KEMENTAN PEDOMAN PENGELOLAAN JENIS ALOKASI DANA (DANA DEKONSENTRASI. DAK. Hubungan Perencanaan Kinerja dan Pedoman Pelaksanaan 1. EVALUASI DAN PELAPORAN KINERJA DAN KEUANGAN DOKUMEN PERENCANAAN PROGRAM. DLL) PEDOMAN PENGELOLAAN BANTUAN SOSIAL PEDOMAN PENGELOLAAN ADMINISTRASI KEUANGAN PEDOMAN PENGENDALIAN.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012. junto Peraturan Presiden               Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 5|Page . Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah junto Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Pemerintah (RKA-KL). sebagaimana telah diubah beberapa kali. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah.Pedoman Pelaksanaan Program      Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN.

06/2005 tentang Sistem Akuntansi dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 97/Permentan/OT.02/2011 Tentang Pagu Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Tahun 2012. Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012.140/12/2011 tentang Pelimpahan Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Dekonsentrasi Provinsi Tahun 2012.02/2011 tentang Klasifikasi Anggaran. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK. Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah junto Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010. Produktivitas. Tujuan             1.07/2010 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. Produktivitas. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 95/Permentan/OT. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 215/KMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.Pedoman Pelaksanaan Program Nomor 53 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. memberikan acuan dalam melaksanakan Program Peningkatan Produksi.02/2011 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2012. Penelaahan. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2012.3. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 bertujuan untuk: a.140/12/2011 tentang Penugasan Kepada Bupati/Walikota Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Tahun 2012.02/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) dan Penyusunan. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 6|Page . Keputusan Menteri Keuangan Nomor 59/KMK. Pengesahan dan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) TA 2012. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014.

4. Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. 1. tujuan. sasaran. meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan program. efisien dan akuntabel sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku oleh penyelenggara pemerintahan yang melaksanakan program dimaksud dan penerima manfaat langsung. kegiatan. c. evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada BerkelanjutanTA 2012 disusun dengan sistematika sebagai berikut: Bab I Menguraikan latar belakang. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 adalah terlaksananya kegiatan-kegiatan secara efektif. kegiatan dan anggaran baik antar sektor/subsektor maupun antara pusat dan daerah. Produktivitas. dan strategi pembangunan tanaman pangan Bab III Menguraikan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab IV Menguraikan tata hubungan kerja dan pengorganisasian pelaksanaan program.Pedoman Pelaksanaan Program Swasembada Berkelanjutan sesuai dengan kegiatan-kegiatan skala prioritas. dasar hukum. meningkatkan transparansi. kegiatan dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab VI Penutup Pedoman pelaksanaan program ini dilengkapi dengan beberapa lampiran penting sebagai referensi dalam penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan atau pedoman teknis kegiatan. istilah dan pengertian Bab II Menguraikan sasaran. efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program. Sasaran penyusunan Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab V Menguraikan pengendalian. kebijakan. Sasaran b. tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan serta anggaran yang tersedia. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 7|Page . Produktivitas. kegiatan dan anggaran melalui pemantapan pengendalian (monitoring) dan evaluasi serta pelaporan kinerja.

Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan tahunan yang memuat kerangka makro dan program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 1 (satu) tahun. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) merupakan penjabaran dari misi. serta program Kementerian/Lembaga. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai sasaran dan tujuan. Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga (Renstra-KL) adalah dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 5 (lima) tahun. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima tahunan). disusun berdasarkan RenjaKL (Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga) sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman pada Renstra-KL (Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga). program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga. melalui urutan pilihan. visi. memuat prioritas pembangunan. RKP merupakan pedoman dalam penyusunan RAPBN. 2. RKP ini merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat. 6.5. RPJMN III Tahun 2015-2019. kewilayahan dalam bentuk regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. dan program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Nasional. dan RPJMN IV Tahun 2020-2024. Istilah dan Pengertian Beberapa istilah dan pengertian pada Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 sebagai berikut: 1.Pedoman Pelaksanaan Program 1. RPJMN II Tahun 2010-2014. kewilayahan dan lintas kewilayahan. lintas Kementerian/ Lembaga. kebijakan umum. 4. yang memuat strategi pembangunan nasional. Produktivitas. 3. 5. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 8|Page . yaitu RPJMN I tahun 2005-2009.

Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) adalah dokumen yang merupakan bagian tidak terpisah dari DIPA dan RKA-KL yang memuat kegiatan secara rinci serta harga satuannya dan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kegiatan dalam kurun waktu satu tahun anggaran. barang. 15. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh DPR yang masa berlakunya dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember tahun berjalan. Sub Kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian sasaran dan tujuan kegiatan tersebut. 16. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Kerja Strategis Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. 11. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas terukur.Pedoman Pelaksanaan Program 7. Penganggaran Terpadu adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau Satuan Kerja yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan. 13. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa unit organisasi dalam satu atau beberapa instansi untuk mencapai sasaran dan tujuan kebijakan serta memperoleh alokasi anggaran. modal. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 9|Page . dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. 14. termasuk peralatan dan teknologi. 9. 12. Indikator Kinerja diartikan sebagai ukuran kuantitatif/kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran/tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa Satuan Kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumberdaya manusia). 8. 10.

24. dan mempertanggung jawabkan 17. tahap pelaksanaan (on-going). Indikator kinerja juga digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka menuju tujuan/sasaran yang telah ditetapkan. maupun tahap setelah kegiatan selesai (ex-post). Bendahara Penerimaan adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. menyetorkan. menatausahakan. menyimpan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 10 | P a g e . 22. 20. Anggaran Dekonsentrasi adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh Gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi. 25. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA) adalah pejabat pemegang kewenangan dalam penggunaan anggaran satuan kerja yang dialokasikan dalam APBN. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atas keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. 19.Pedoman Pelaksanaan Program Indikator kinerja merupakan sesuatu yang dapat diukur sebagai dasar untuk menilai kinerja. maka akan sulit menilai kinerja kebijaksanaan/program/kegiatan yang pada akhirnya bermuara pada kinerja organisasi. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran adalah Menteri/Pimpinan Lembaga atau kuasanya yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan. Anggaran Tugas Pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung percapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. Tanpa indikator kinerja. tidak termasuk anggaran yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah. 18. Pemberian anggaran dekonsentrasi tidak terlepas dari kewajibannya untuk melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada Menteri/Pimpinan lembaga terkait. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah Pusat kepada Daerah dan/atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan dalam hal ini Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah. baik dalam tahap perencanaan (ex-ante). 23. 21.

Satuan Kerja (Satker) adalah bagian dari suatu unit organisasi pada Kementerian Negara/Lembaga yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program. atau kota. Unit Organisasi adalah bagian dari suatu Kementerian Negara/Lembaga yang bertanggung jawab terhadap pengkoordinasian dan/atau pelaksanaan suatu program.Pedoman Pelaksanaan Program uang pendapatan negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah. 32. Kementerian Negara adalah organisasi dalam Pemerintahan RI yang dipimpin oleh Menteri untuk melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang tertentu. 27. 26. pemerintah negara asing. menatausahakan. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah organisasi/lembaga pada pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dekonsentrasi/ tugas pemerintahan di bidang tertentu di daerah provinsi. Pinjaman Luar Negeri (PLN) adalah sumber pembiayaan negara dalam bentuk devisa. Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. 33. 35. membayarkan. 31. menyimpan. 29. Kelompok Tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas kebutuhan bersama yang mempunyai struktur organisasi dan mempunyai basis tujuan yang bersama. atau pasar keuangan internasional yang harus dibayar kembali dengan persyaratan yang telah disepakati. 34. 28. dan mempertanggung jawabkan uang untuk keperluan belanja negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah. Satuan Kerja Pada Instansi Pemerintah adalah organisasi dalam pemerintah yang dibentuk untuk melaksanakan tugas tertentu dibidangnya masing-masing atau bertugas melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari satu program. dan jasa yang diterima dari badan/lembaga negara asing. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 11 | P a g e . barang. Hibah Luar Negeri (HLN) adalah penerimaan negara yang diperoleh dari luar negeri baik dalam bentuk devisa atau devisa yang dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan/atau jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang dapat dinilai dengan uang yang tidak perlu dibayar kembali. 30. badan/lembaga keuangan internasional. termasuk penjaminan pembayaran yang dapat menimbulkan kewajiban pembayaran dikemudian hari. kabupaten. Pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan atau pemerintah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat pelaku usaha pertanian sehingga dapat mandiri dalam mencapai tujuan yang dikehendaki sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya.

40. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 12 | P a g e . efektivitas pelaksanaan. dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) adalah lembaga yang tumbuh dan berkembang secara mandiri di masyarakat. Tenaga Harian Lepas (THL) adalah tenaga bantu tenaga penyuluh pertanian/pendamping revitalisasi perkebunan/pengendali organisme pengganggu tumbuhan/penanganan kesehatan hewan yang direkrut oleh Kementerian Pertanian mulai tahun 2007 untuk melaksanakan tugas dan fungsinya mendampingi kelompok tani/gapoktan dalam pengembangan usaha agribisnis. serta peningkatan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. dengan kegiatan utama meningkatkan gerakan moral melalui kegiatan pendidikan. 39. 42. Tenaga Harian Lepas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (THL POPT) adalah tenaga bantu POPT yang direkrut oleh Kementerian Pertanian selama kurun waktu tertentu sesuai dengan ketersediaan keuangan Negara untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pembantu POPT di wilayah pengamatan yang belum memiliki jumlah POPT yang cukup. 41. Pengendalian adalah serangkaian kegiatan manajemen yang dimaksudkan untuk menjamin agar suatu program/kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana yang ditetapkan Pemantauan adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan. dan dampak/keberhasilan dari program dan kegiatan yang sedang berjalanmaupun yang telah selesai. Pemantauan dilakukan pada seluruh program/kegiatan. efisien. dengan ketentuan tidak mempunyai hak untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. 43. Pemantauan dilaksanakan secara berkesinambungan dan bertujuan memberikan indikasi awal dari perkembangan atau kekurangan suatu program/kegiatan yang sedang berjalan. dengan ketentuan tidak menuntut untuk diangkat menjadi Pengawai Negeri Sipil (PNS).Pedoman Pelaksanaan Program 36. sedangkan evaluasi dapat dilakukan secara lebih 37. mengindentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin. 38. sosial dan keagamaan. Pemberdayaan Masyarakat Pertanian adalah upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat agribisnis sehingga secara mandiri mampu mengembangkan diri dan dalam melakukan usahanya secara berkelanjutan. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah seluruh penerimaan Pemerintah Pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. keluaran (output). Evaluasi adalah suatu penilaian dalam kurun waktu tertentu yang mencoba untuk menilai relevansi secara sistematis dan obyektif. Evaluasi dapat diartikan pula merupakan rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input).

yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat. 49. dan memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai kemandirian sehingga terlepas dari resiko sosial. (d) untuk meningkatkan taraf kesejahteraan. (c) ditujukan untuk mendanai kegiatan rehabilitasi sosial. jaminan sosial. Belanja Barang adalah pengeluaran untuk menampung pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan serta pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja perjalanan. kualitas. 46. dan kompensasi sosial. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 13 | P a g e . Belanja Modal merupakan pengeluaran anggaran yang digunakan dalam rangka memperoleh atau menambah asset tetap dan asset lainnya yang member manfaar lebih dari satu periode akuntansi serta melebihi batasan minimal kapitalisasi asset tetap atau asset lainnya yang ditetapkan pemerintan. Belanja ini terdiri belanja barang dan jasa. seperti gaji. perlindungan sosial. Belanja Bantuan Sosial adalah transfer uang atau barang yang diberikan oleh pemerintah Pusat/Daerah kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. dan (e) diberikan dalam bentuk bantuan langsung. penyediaan aksesibilitas.Pedoman Pelaksanaan Program selektif. atau mengimpor barang dan jasa. 45. Pada dasarnya pemantauan dan evaluasi merupakan alat yang diperlukan untuk pelaporan dan pengendalian. 48. mengekspor. 47. Pelaporan adalah bentuk penyampaian informasi mengenai hasil pelaksanaan program/kegiatan yang dituangkan ke dalam formulir yang telah ditentukan secara berkala dan sesuai dengan petunjuk pengisiannya. dan/atau penguatan kelembagaan. Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi. Belanja Pegawai pada dasarnya mencakup seluruh imbalan yang diberikan kepada pegawai pemerintah dan anggota DPRD. menjual. tunjangan. penanggulangan kemiskinan dan bencana. 44. Pembedayaan sosial. (b) bersifat sementara atau berkelanjutan. kelangsungan hidup. Transfer uang/barang/jasa tersebut memiliki ketentuan berikut ini: (a) dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atas lembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya bantuan untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. belanja pemeliharaan dan belanja perjalanan.

6. mendorong peran serta instansi dan stakeholder terkait serta masyarakat dalam pembangunan tanaman pangan yang berkelanjutan. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. mengendalikan serangan OPT dan DPI di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hasil tanaman pangan. 2. 1. dan tersalurnya benih tanaman pangan bersubsidi. dan berkelanjutan.Pedoman Pelaksanaan Program BAB II SASARAN. dan 6. yaitu ”Terwujudnya Produksi Tanaman Pangan Yang Cukup dan Berkelanjutan”. mengembangkan sistem penyediaan benih yang efisien. Sebagai implementasi visi dan misi tersebut. menciptakan metoda pengujian mutu benih dan penerapan sistem mutu laboratorium pengujian benih tanaman pangan. 4. menyediakan informasi dan menciptakan model peramalan OPT sebagai rujukan dalam pengamanan produksi tanaman pangan. 5. 1. 2. Dalam mewujudkan visi tersebut. 3. DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TANAMAN PANGAN TA 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai Visi Tahun 2010-2014. 3. 5. efektif. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 14 | P a g e . Mewujudkan birokrasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang profesional dan berintegritas. 7. meningkatkan produktivitas melalui peningkatan luas areal penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan untuk peningkatan produksi dalam rangka mencapai ketahanan pangan. STRATEGI. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menetapkan tujuan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki misi sebagai berikut. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan. sebagai berikut. menyelenggarakan pelayanan teknis dan administrasi secara profesional dan berintegritas dilingkungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. meningkatkan pengamanan produksi tanaman pangan berkelanjutan. menyelenggarakan sistem penyediaan benih tanaman pangan yang efisien dan berkelanjutan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. 4. meningkatkan perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan.

20 14.000 25.55 15. Sasaran produksi komoditas utama tanaman pangan tahun 2012 dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini.000 1.000 Luas Panen (Ha) 13. Sasaran Sasaran utama pembangunan tanaman pangan tahun 2010-2014 merupakan turunan dari sasaran utama pembangunan pertanian yaitu: a) mewujudkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan. pembangunan tanaman pangan dikelompokkan pada pengembangan komoditas utama dan komoditas alternatif. dan ekspor. Produktivitas dan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012 Komoditas Padi Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Luas Tanam (Ha) 14.00 11.235 24.13 51. b) mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan.Pedoman Pelaksanaan Program 2.98 190.556.1. Selain itu.315.000 2. daya saing.000 785.874.000 Sumber: Renstra Ditjen Tanaman Pangan Tahun 2010-2014 (untuk rincinya per provinsi dapat dilihat pada lampiran 3 sd 9) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 15 | P a g e . kebutuhan energi maupun kebutuhan bahan baku untuk industri lainnya.000 825. kacang tanah. Pencapaian keempat sasaran (target) utama diharapkan dapat memberikan dampak kinerja yang signifikan bagi pemenuhan kebutuhan nasional dan ketahanan pangan nasional.500 1.000.865 4. Pencapaian Empat Sukses Kementerian Pertanian tersebut memerlukan keterpaduan pelaksanaan program baik lingkup Kementerian Pertanian maupun lintas Kementerian/Pemerintahan. serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani.000.00 Produksi (Ton) 72.771 4.700 325.800 196.00 117.700 Produktivitas (Ku/Ha) 53. Namun demikian. Dalam hal ini.900. jagung. Tabel 1.000 342.000 390. Sasaran Luas Tanam. Keempat sasaran ini disebut dengan Empat Sukses Kementerian Pertanian. Fungsi dari program pemerintah hanya berupa stimulan untuk menggerakkan kekuatan ekonomi tanaman pangan secara nasional.250. kedelai.100.437 1. dampak kinerja pembangunan tanaman pangan juga diharapkan dapat mengurangi jumlah kemiskinan dan meningkatkan pendapatan negara. baik kebutuhan pangan.026. ubi jalar. dan ubi kayu. kebutuhan pakan. penetapan sasaran produksi hanya dilakukan pada komoditi padi.600 1. Luas Panen.655.300.026. c) mewujudkan peningkatan nilai tambah.430 1.600 207.381.312. kacang hijau.000 1.

(4) Revitalisasi Sumber Daya Manusia. (6) Revitalisasi Kelembagaan Petani. Namun demikian. Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian Pertanian Ketujuh strategi pembangunan pertanian tersebut akan mempengaruhi tingkat keberhasilan yang dapat dicapai. orientasi peningkatan produksi menjadi alat (instrumen) utama yang diprioritaskan. Untuk itu. pemerintah memberikan stimulan baik berupa bantuan. sebagai jaminan tambahan bagi petani atau pelaku usaha pertanian. (2) Revitalisasi Perbenihan dan Perbibitan.2. subsidi ataupun insentif lainnya. harus disadari bahwa ketujuh strategi tersebut melibatkan institusi pemerintah lainnya dan institusi non pemerintah. Strategi Pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan akan ditempuh melalui strategi Tujuh Gema Revitalisasi Pertanian yaitu: (1) Revitalisasi Lahan. Untuk mewujudkan pencapaian Empat Sukses tersebut. peningkatan produksi diharapkan dapat memacu peningkatan pendapatan. serta (7) Revitalisasi Teknologi dan Industri Hilir. TUJUH GEMA REVITALISASI PERTANIAN LAHAN PERBENIHAN/PERBIBITAN INFRASTRUKTUR DAN SARANA SUMBER DAYA MANUSIA PEMBIAYAAN PERTANIAN KELEMBAGAAN PERTANIAN TEKNOLOGI DAN INDUSTRI HILIR EMPAT SUKSES SWASEMBADA BERKELANJUTAN DAN SWASEMBADA DIVERSIFIKASI PANGAN NILAI TAMBAH. DAYA SAING. Pemberian ini sebagai bagian dari meringankan biaya usaha dan sekaligus meningkatkan pendapatan. Secara harfiah. Berkaitan dengan peningkatan produksi.Pedoman Pelaksanaan Program 2. DAN EKSPOR PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI Gambar 2. Direktorat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 16 | P a g e . (5) Revitalisasi Pembiayaan Petani. (3) Revitalisasi Infrastruktur dan Sarana.

on-farm. Proses penajaman dan revisi terhadap strategi pencapaian produksi tanaman pangan telah mempertimbangkan aspek keberlanjutan program pembangunan tanaman pangan dan aspek keterpaduan baik disisi hulu. maupun hilir. Penurunan konsumsi beras dan pengembangan diversifikasi pangan 4. Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan ini merupakan penajaman sekaligus revisi atas catur strategi yang selama ini digunakan yaitu 1) peningkatan produktivitas. Peningkatan produktivitas 2. 3) pengamanan produksi. dan 4) penguatan kelembagaan dan pembiayaan. 2) perluasan areal tanam. Perluasan areal dan optimasi lahan 3. Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 17 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Jenderal Tanaman Pangan menetapkan strategi pencapaian produksi tanaman pangan melalui empat strategi atau disebut dengan Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan yaitu: 1. Hal ini dilakukan sebagai proses penegasan dan respon atas perubahan lingkungan yang terjadi. Peningkatan manajemen. Gambar 3.

serta (9) peningkatan dan penerapan manajemen pembangunan pertanian yang akuntabel dan good governance. transparansi. yaitu: (1) melanjutkan dan memantapkan kegiatan tahun sebelumnya yang terbukti sangat baik kinerja dan hasilnya.Pedoman Pelaksanaan Program 2.3.3) 3) Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 18 | P a g e . akuntabilitas. (5) pembangunan sentra-sentra pupuk organik berbasis kelompok tani. (8) berperan aktif dalam melahirkan kebijakan makro yang berpihak kepada petani seperti perlindungan tarif dan non tarif perdagangan internasional. (6) penguatan kelembagaan perbenihan dan perbibitan nasional. Dari 23 arah kebijakan tersebut. (3) pemantapan swasembada beras dan jagung melalui peningkatan produksi yang berkelanjutan. subsidi pupuk. dan partisipasi. penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Kebijakan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012 merupakan penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan sekaligus merupakan rangkaian lanjutan dari RKP tahun 2011. Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). efektivitas. (2) melanjutkan dan memperkuat kegiatan yang berorientasi pemberdayaan masyarakat seperti Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). 9 (sembilan) diantaranya terkait langsung dengan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Pada prinsipnya.(7) peningkatan keseimbangan ekosistem dan pengendalian hama penyakit tumbuhan secara terpadu. dan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib menerapkan prinsip-prinsip efisiensi. alsintan. (4) pencapaian swasembada kedelai. Tema Rencana Kerja Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu tahun 2012 adalah Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. Kementerian Pertanian menetapkan 23 (dua puluh tiga) arah kebijakan pembangunan pertanian tahun 2010-2014. Tema ini merupakan landasan dalam menyusun rancangan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran pembangunan. antara lain: bantuan benih/bibit unggul. yang tertuang dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2012.

Dalam pengendalian harga tersebut diperlukan koordinasi dengan instansi dan stakeholder terkait. khususnya komoditas strategis seperti padi. Komoditas tanaman impor sering membanjiri pasar dalam negeri dengan harga yang lebih murah. Pengawasan pemerintah sangat diperlukan untuk menghindari ulah spekulasi pedagang yang dapat memainkan harga. Dalam hal ini. dukungan kebijakan yang berpengaruh terhadap iklim usaha atau pengembangan agribisnis tanaman pangan harus diperhatikan antara lain: (1) Harga Kegiatan usahatani dari suatu komoditas dapat berjalan apabila petani memperoleh insentif/keuntungan yang memadai. 4) penguatan pangan nasional berbasis Koridor MP3I. Hal ini dapat menghancurkan pengembangan agribisnis tanaman pangan dalam negeri. baik pada tingkat propinsi dan kabupaten/kota maupun tingkat pusat. (2) Bea Masuk Dalam era globalisasi dewasa ini persaingan pasar antar komoditas tanaman pangan semakin ketat. kebijakan pembangunan tanaman pangan diprioritaskan pada 1) pencapaian swasembada berkelanjutan padi dan jagung. jagung dan kedelai. 3) pengembangan komoditas spesifik lokasi di Kawasan Timur (Direktif Presiden). sehingga mampu menghasilkan kualitas yang baik serta dengan kontinuitas pasokan yang terjamin. Selain itu perlu mengupayakan tumbuh dan berkembangnya kemitraan antara petani dengan pedagang/industri olahan/pengusaha lainnya. Oleh karena sistem atau cara perlindungan yang diberikan terhadap petani mulai dari aspek proses produksi sampai aspek pemasaran hasil dan sistem perdagangannya perlu dikembangkan lebih lanjut. Produk impor lebih murah dari produk dalam negeri. karena pemerintah negara-negara eksportir melindungi para petaninya secara baik dengan berbagai cara. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 19 | P a g e . pemerintah perlu menjaga kestabilan harga dan pasar hasil tanaman pangan sepanjang tahun melalui penetapan harga pembelian oleh pemerintah. Optimalisasi keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan perlu didukung oleh iklim berusahatani yang kondusif.Pedoman Pelaksanaan Program Secara operasional. Karena itu. 3) pencapaian swasembada kedelai tahun 2014. serta 5) pengembangan produksi di kawasan-kawasan khusus lainnya seperti kawasan perbatasan dan kawasan agropolitan.

(3) Karantina Tumbuhan Indonesia sangat kaya akan berbagai jenis sumber daya alam hayati berupa aneka ragam jenis tumbuhan. maka perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina. perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina. Pemberlakuan tarif impor tersebut masih dimungkinkan dalam kerangka kebijakan World Trade Organization (WTO). (4) Pengendalian Alih Fungsi Lahan Meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya ekonomi serta industri. asal bahan hewan. Oleh karena itu koordinasi dengan pihak karantina setempat perlu dilakukan dan lebih ditingkatkan. ikan yang perlu dijaga dan dilindungi kelestariannya dari berbagai hama. Dengan demikian dapat dihindarkan terjadinya tuntutan terhadap produk Indonesia di luar negeri akibat buruknya mutu. Untuk menjaga masuknya produk-produk pertanian tanaman (termasuk benih) yang tidak memenuhi persyaratan keamanan hama dan penyakit serta lingkungan. berakibat terjadinya degradasi. karantina merupakan suatu instrumen yang penting untuk memperlancar arus perdagangan. Oleh karena itu untuk mencegah masuknya organisme pengganggu tumbuhan.Pedoman Pelaksanaan Program Salah satu upaya untuk menghadapi persaingan tersebut di atas. pemerintah Indonesia melindungi petaninya melalui pemberlakuan bea masuk (tarif) impor. baik ekspor maupun impor. hama dan penyakit hewan/ikan melalui media pembawa (tumbuhan dan bagianbagiannya. hasil bahan asal hewan. Pada era perdagangan bebas ini. Dengan adanya peraturan karantina yang selaras dengan aturan sanitasi dan fitosanitari (sanitary and phytosanitary/SPS regulation) diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk ekspor impor yang pada gilirannya juga dapat meningkatkan taraf hidup petani. ikan dan/atau benda lainnya) dari luar negeri atau dari area lain di dalam negeri. Demikian juga derasnya arus masuk produk luar negeri yang tidak bermutu dapat dicegah melalui pengawasan karantina. alih fungsi. hewan. Untuk mengatasi penyelundupan produk-produk tanaman pangan dilakukan koordinasi dalam pengawasan pintupintu masuk penyelundupan barang-barang dari luar negeri. Penjagaan dari aspek hama dan penyakit serta lingkungan tersebut di atas meliputi keamanan jangka pendek sampai dampak dalam jangka waktu yang panjang. hewan. dan fragmentasi lahan pertanian Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 20 | P a g e . penyakit dan organisme pengganggu.

Upaya pengendalian terhadap terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian/non-tanaman pangan secara efektif dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) dan Peraturan Pemerintah pendukungnya. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 21 | P a g e . dan i) mewujudkan revitalisasi pertanian. dan kedaulatan pangan. e) meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan petani dan masyarakat. f) meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani. ketahanan. h) mempertahankan keseimbangan ekologis.Pedoman Pelaksanaan Program pangan yang mengancam daya dukung wilayah secara nasional dalam menjaga ketahanan pangan menuju kemandirian pangan nasional. perseorangan. Sanksi bagi orang. b) menjamin tersedianya lahan pertanian pangan secara berkelanjutan. pejabat pemerintah yang melakukan alih fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2-5 tahun dan denda berkisar antara satu milyar rupiah sampai tujuh milyar rupiah. d) melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik petani. c) mewujudkan kemandirian. g) meningkatkan penyediaan lapangan kerja bagi kehidupan yang layak. Sesuai dengan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 menyatakan bahwa Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan diselenggarakan dengan tujuan: a) melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan.

6) mekanisme pengadaan barang/jasa. BUTIR-BUTIR PENJELASAN PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM/KEGIATAN INDIKATOR KINERJA OUTCOME DAN OUTPUT KOMPONEN PRIORITAS PEMBERDAYAAN LOKASI ANGGARAN DAN JENIS DANA JENIS BELANJA POLA PENGELOLAAN BANSOS MEKANISME PENGADAAN BARANG/JASA PENGUKURAN INDIKATOR KINERJA PENILAIAN RESIKO ATAS KEBERHASILAN PROGRAM/KEGIATAN Gambar 4. 3) lokasi anggaran (Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota) dan jenis dana (dana dekonsentrasi dan/atau dana tugas pembantuan). serta 8) penilaian resiko atas keberhasilan program/kegiatan. 2) komponen prioritas pemberdayaan. 4) jenis belanja. Penjelasan program dan kegiatan harus dapat menjelaskan nilai strategis dari komponen-komponen yang direncanakan. 7) pengukuran indikator kinerja outcome maupun output. Beberapa aspek yang perlu diperjelas adalah 1) indikator kinerja hasil (outcome) dan keluaran (output). 5) pola pengelolaan bansos.Pedoman Pelaksanaan Program BAB III PROGRAM DAN KEGIATAN LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012 Pelaksanaan program dan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memerlukan penjelasan beberapa hal penting sebagai simpul kritis pengendalian dalam mendorong pencapaian kinerja secara optimal. Butir-Butir Penjelasan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 22 | P a g e .

Indikator keberhasilan kinerja Program Peningkatan Produksi. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan: Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI). Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan: Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan.Pedoman Pelaksanaan Program 3. Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi: Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Direktorat Budidaya Serealia: Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. maka perlu didukung pencapaian kinerja kegiatan dari masing-masing unit eselon II yaitu: 1. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan: Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 6. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menetapkan program tahun 2012 yaitu Program Peningkatan Produksi. Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan: Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan. 8.1 Program Dalam mewujudkan sasaran pembangunan tanaman pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 23 | P a g e . Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT): Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan adalah perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat yang didukung oleh sistem penanganan pascapanen dan penyediaan benih serta pengamanan produksi yang efisien untuk mewujudkan produksi tanaman pangan yang cukup dan berkelanjutan. 3. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH): Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih. 7. 5. 2. 4. Untuk mewujudkan pencapaian kinerja program tersebut.

03. komponen prioritas yang terus ditumbuhkembangkan adalah: 1) mengoptimalkan bantuan kepada petani. 4) memperkuat cadangan bantuan saprodi dalam mengatasi dampak bencana yang timbul. dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Untuk mewujudkan kinerja program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan tahun 2012. Kode 018.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 2. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 24 | P a g e . penangkar benih. dan BPTPH). BPSBTPH. 3) memperkuat fungsi unit pelaksana teknis daerah (BBI. 2) memperkuat brigade produksi (brigade proteksi) dan petugas di lapangan. dan lembaga yang mengakar di masyarakat.06 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 Program dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Program dan Kegiatan Program Peningkatan Produksi. Produktivitas. pelaku usaha pascapanen.

1. 8 Pengembangan Peramalan Serangan OPT Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih Dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan - Pemberian Modal Usaha Kepada LM3 Penyediaan Cadangan Saprodi Dalam Mengatasi Bencana Alam Pemberian Insentif Mantritani Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 25 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 3. Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi 3. Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan - 4. 5. 7. Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia - 2. Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan TP Dari Gangguan OPT & DPI 6. Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Komponen Prioritas Pemberdayaan/Penguatan SLPTT hanya dengan bantuan benih dan LL SLPTT Model Spesifik Lokasi SLPTT Model Peningkatan IP Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam (Jagung) Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif SLPTT Kedelai Pengembangan Kedelai Model Pengembangan Kacang Tanah Pengembangan Ubi Kayu Pengembangan Ubi Jalar Pemberian BLBU Penguatan UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Penguatan Balai Benih Pemberdayaan Penangkar Penguatan UPB Bantuan Sarana Pasca Panen Survei Susut Hasil Padi Penguatan P3OPT Gerakan Pengendalian OPT/bantuan pestisida Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pemberdayaan PPAH Penguatan Lab Pengamatan Hama Terpadu (LPHP) Pemberdayaan THL POPT-PHP Pengembangan Peramalan Serangan OPT Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih No.

000 300. Produktivitas dan Produksi Melalui SLPTT dan Lokasi Pengembangan Melalui APBN TA 2012 Luas Tanam (Ha) 2. Tabel 4.51 13. BPSBTPH.250 1.000 190.000 350..00 77.347. Sekolah lapangan ini difokuskan pada komoditas padi.260 164.000 475.00 130. 1. 2) Dana dekonsentrasi sebesar Rp.235.-.Alokasi dana dekonsentrasi dikelola oleh unit kerja Dinas Provinsi yang menangani tanaman pangan dan UPTD Provinsi (BBI.000 542.000 6.Alokasi dana tugas pembantuan dikelola oleh unit kerja Dinas Kabupaten/Kota yang menangani tanaman pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 26 | P a g e .700.455.498.195.830 Produktivitas (Ku/Ha) 64.00 16.00 Produksi (Ton) 16. 512.899.50 65.350 Luas Panen (Ha) 2.880 Komoditas Padi Non Hibrida Padi Hibrida Padi Lahan Kering Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Alokasi anggaran untuk mendukung pencapaian program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 terdiri dari: 1) Dana pusat sebesar Rp.000 332. Ketiga sekolah lapangan ini akan didukung oleh berbagai kegiatan pendukung lain.565.000 500.00 37.781.000.500 142.000 200. 3) Dana tugas pembantuan sebesar Rp.000 285.416.690 268.00 17.500 19. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dan Sekolah Lapangan Iklim (SLI). sasaran luas tanam SLPTT atau lokasi pengembangan (dem area) yang dibiayai melalui APBN TA 2012 terlihat pada tabel 4 dibawah ini. Alokasi dana pusat dikelola unit kerja Pusat yaitu 8 unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (anggaran BPMPT tergabung dalam anggaran Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan).000..000 2. Untuk mendukung pencapaian sasaran produksi komoditas tanaman pangan.104. Untuk komoditas lain dilakukan melalui pola pengembangan dengan luasan tertentu (dem area).Pedoman Pelaksanaan Program Salah satu instrumen utama yang menjadi model (benchmark) pemberdayaan sebagai gambaran pokok atas keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah Sekolah Lapangan meliputi Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT).000.230 9.000 150.00 250.000 6. jagung dan kedelai.536.000 20. dan BPTPH).680 139.000 1.560 10. 1. Luas Panen. Sasaran Luas Tanam.245.010 25.

089.000 250.115.561.000 1.536 7.799.176.000 2.000 2.000 7.000 1.000 1.738.771.750.300 8.600.700 4. 14.320 46.847.491. belanja modal.188.783.907.000 230.731.007. 2.659.138.147.814.600 5.404. 27.800 1.642.392.000 3.558.400 15.520 69.000 2.242.500 18.100 36. 5.278.428.405.420 27.598.802.899.000 4.084.588. 32.487.120 246.000 1.676.700 30.600 19.000 721.500 550.587.533.618.200 31.591.895.410.000 500.000 5.155.000 2.330 28.000 339.000 2.480.759.990.130 24.000 803.000 100.500 7.560 34.000 3.000 3.000 61.600 44.350 92.640 53.330.840.403.400 2.168.030.000 2.500 8.420 67.800 21.846.400.800 47.412.000 1.820 47.250.600 1.377.500.817.500 16.000 2.000 2.041. 33.700 9.263.372.500 11.500 18. 10.480 92.465.439. 2.492.400 6.400 13.180.000 400.374.000 3.000 152.100 18.549. belanja barang.249.000 100.131.940 5.900 9.880 13.500 2.587.310 46.304.067.176.940 12.152.516.300 3.000 300. 3.314. 4.100 200.500 11.680 24.900 23.900 18.260.750 76.288.210 21.303.180 122.450.160 21.000 821.019. 3.500 1.843.870.633.000 1.001.000 2.201.916.056. 6.000 750.362.020 15.000 4. 1.100 6. 29. 13.900 15.114. 30.218.347.500 3.797.000 6.480 385.000 2.000 1. 25.150.038.455 82.992.238.746.300.500 12.609.500 4.000 2.985.850 23. alokasi anggaran untuk belanja pegawai. 4.500 5.000 698.400 11.300 803.187.320.715.114. 9.670.000 2.186.000 1.000 8.969.462.100 21.900 37.000 350.297.700 432.544.185. 2012 ALOKASI ANGGARAN PER UNIT KERJA (Rp.987.100 11.957.625 49.200 1.478.500 11.400 34.820.459.000 3.552.841.084. LOKASI DINAS A.400 21.245.000 474.448.449.000 4.800 10.926.020 207.455 54.800 11.104.000 250.500 6. 000) UNIT KERJA PROVINSI (DANA DEKONSENTRASI) NO.100 12.000 1.000 1.642.180 3.400. 21.498.110 4.480 BBI BPSBTPH BPTPH SUB TOTAL (DANA TUGAS PEMBANTUAN) TOTAL UNIT KERJA KAB/KOTA 1.536 1.221.900 14.350 12.051.800 4.710 32.910 66.049.620 1.000 4.600 16.600 5. 11.100 38.600.000 2. 31.676.000 2.740 23.023.000 2.140 14.900 9.000 2. dan belanja bantuan sosial. 12. 28.566. PUSAT DITJEN TP-PUSAT BBPPMBTPH BBPOPT BPMPT PROVINSI & KAB/KOTA ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG DKI JABAR JATENG DI YOGYAKARTA JATIM KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM SULUT SULTENG SULSEL SULTRA BALI NTB NTT MALUKU PAPUA MALUT BANTEN BABEL GORONTALO KEPRI PAPUA BARAT SULBAR TOTAL 267.000 4.420 163.100 4.500 1. 15.000 385.592.700 9.100 28.820 28.300 28.000 6.000 600.100 13. kemudian diikuti Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 27 | P a g e .060 28.804.000 2.626.604.300 11.007.061.850.365.000 600.000 250.600 10.447.436.494.156.000 1.500 8. 26.500 4.000 1.414. 19.567.600 13.000 1.630 16.644.830 16.478.000 350.030. 22.543.260.546.000 1.693.483.600 13. 24.805.725 34.113.860 10.260 4.628.500 3.000 3.100 67.327.246.200 16.067.208.900 6.600 9.184.926.000 500.039.21%.017.618.398.000 9.582.000 700.000 1.800 5.160 47.934.090. 17.161.000 12.000 803.000 27.000 4.000 3.000 3.000 299.500 3.000 1.610.400 7. Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.395.810 1.000 600.000 1.114. 7.300.000 400.000 3.374.278.085.901. 20.250. 16. B 1.801.825.000 5.353.093.200 14. 8.713.055.621.500 3.125.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 5.893.700 22.498.300 20.991 Dalam meningkatkan pelaksanaan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012.400 14.581.800.142.445.489.000 4.178.580 348.000 1.500 512.600 16.100 18.678.582.473.010.000 5. 18.817.740 34.709.750.500 910.000 2.500 7.878.016.000 500. Bila dilakukan perbandingan masing-masing jenis belanja terhadap total anggaran maka proporsi terbesar dialokasikan untuk belanja bantuan sosial sebesar 78.465.562. 23.600 1.976.731.700 1.000 4.500 14.220 50.

950 1.418.510 889.Pedoman Pelaksanaan Program belanja barang 18.016.040 0 0 0 0 0 0 0 2.468 3. 000) 018.962.350 944.520 175.085 6. Pengalokasian anggaran tersebut dapat di lihat pada tabel 6 di bawah ini.900 0 7.991 1761 0 20.342.960 0 0 0 0 0 0 156.000 90.600 186.919 588.568 506.353.73% dan belanja modal 1.000 1763 0 151.052 9. Tabel 6.800.000 248.800.699.500 847.435.06 Program Peningkatan Produksi.749.411.460 36.251.991 0 0 297.534.187.468 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9. belanja pegawai 1.961 1767 3.491.235.829 36.000 0 0 0 0 0 0 Rupiah Murni Pinjaman Luar Negeri Rupiah Murni Pendamping PNBP Pinjaman Dalam Negeri Badan Layanan Umum Stimulus Hibah Dalam Negeri Hibah Luar Negeri Hibah Langsung Dalam Negeri Sumber : RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA 2012 Dari keempat jenis belanja diatas.219 19.869 0 0 124.834.115.194.668.813.315 1.030 1762 0 96.000 1764 0 178. 000) Belanja Belanja Barang Modal Belanja Bantuan Sosial Total (Rp.289.650 73.775 2.894.516.436.536.998 1.062.000 67.300.441. Anggaran Menurut Jenis Belanja Per Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Kode Program dan Kegiatan Belanja Pegawai Jenis Belanja (Rp.834.200.164.507.002.115.000 3.436.000 1765 0 22.628.000 1766 46.88%.000.129.292.246 588.532 3.735 0 0 172. Berkaitan dengan belanja bantuan sosial dapat dijelaskan bahwa penetapan alokasi anggaran untuk Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 28 | P a g e .000 154.496.000 1768 4.000 231. dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan 53.285 53.453.18%.150 430.871.092 109. belanja yang merupakan fasilitasi langsung kepada masyarakat adalah belanja bantuan sosial.03. Produktivitas.919 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.067.

500 unit 371 Kab/Kota 242 Kab/Kota 175 Kab/Kota 4) Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah dapat dilakukan dengan pola lain sepanjang diterbitkan aturan yang setara dengan peraturan yang mengatur pengadaan barang/jasa yang berlaku. Ubinan SLPTT Kedelai 14. Apabila ada hal-hal yang berubah dari RUK awal maka dapat dilakukan penyesuaian kontrak dengan melampirkan Berita Acara dan memperoleh persetujuan unit kerja pengelola (satker yang menangani bantuan tersebut). sebagai berikut: 1. Memperhatikan pengelolaan belanja bantuan sosial. persyaratan administrasi pengadaan barang/jasa melalui transfer uang adalah membuat kontrak berdasarkan Rencana Usaha Kegiatan (RUK) antara penerima dan unit kerja pengelola langsung. evaluasi pengukuran indikator kinerja outcome yang dititikberatkan pada keberhasilan peningkatan produktivitas SLPTT. pengukuran indikator kinerja output dilakukan dengan membandingkan capaian fisik dan keuangan terhadap sasaran dan alokasi anggaran yang ditetapkan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 29 | P a g e . maka penempatan alokasi DIPA disesuaikan dengan karakteristik jenis bantuan sosial yang diberikan. Untuk memastikan keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.Pedoman Pelaksanaan Program belanja bantuan sosial dikategorikan karena alasan pemberdayaan sosial dan penanganan bencana. Mekanisme pengadaan barang/jasa melalui transfer barang seperti yang terlihat pada tabel 6 mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. dimana salah satu peraturan perundang-undangan yang mengatur pengadaan barang/jasa pemerintah dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 termasuk perubahannya. Metodologi pengukuran kinerja SLPTT dilakukan melalui ubinan (metodologi yang lebih akurat). Ubinan SLPTT Padi 2.919 unit 3. Ubinan SLPTT Jagung Hibrida 3.136 unit 1. Pemantauan hasil keseluruhan atas indikator output dan outcome dilakukan melalui pengumpulan informasi dari dinas kabupaten/kota. Hal ini sangat tergantung dengan ketepatan dan keefektifan dalam penyaluran dan pelaksanaan kegiatan. Namun demikian. Secara umum. hal ini disebut dengan lex specialist. Dalam administrasi.4) Sedangkan pengadaan barang/jasa melalui transfer uang akan diatur secara rinci melalui pedoman teknis masing-masing. Namun demikian. Pola pelaksanaan bantuan sosial dimaksud dilakukan melalui transfer uang dan/atau transfer barang. pengukuran kinerja dilakukan dengan mengukur indikator outcome dan indikator output. Hal ini dapat dilihat secara rinci pada tabel 7.

9. 8. 10. 1. 3. Jenis Output SLPTT Padi SLPTT Jagung Optimalisasi Pengembangan Areal Jagung Hibrida SLPTT Kedelai Pengembangan Kedelai Model Pengembangan Ubi Jalar/Kacang Tanah BLBU PJK Wilayah Jawa Kayu/Ubi V V V V V* V V V V V V V Pusat Provinsi Kab/Kota Pemberdayaan Sosial Komponen Belanja Bantuan Sosial Perlindungan Sosial Penanggulangan Bencana Penanganan Kemiskinan Pola Pelaksanaan Transfer Uang Transfer Barang V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V* V V V V V V BLBU PJK Wilayah Luar Jawa Pemberdayaan Penangkar PJK Bantuan Pasca Panen Sarana Pengendali OPT (BPTPH) Bantuan Bencana Alam Bantuan Modal untuk LM3 Keterangan: * : sedang dalam proses penegasan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 30 | P a g e . Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Lokasi DIPA No. 4. 6. 11. 12. 5. 7.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 7. 13. 2.

dan pelaporan.Pedoman Pelaksanaan Program 3. 3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja (program dan anggaran). 2) ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan meliputi a) penilaian risiko pada saat perencanaan. evaluasi. Produktivitas. 7) ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan. Penilaian Risiko atas Keberhasilan Program Secara umum. dan melaporkan pelaksanaan. serta c) penilaian risiko pada saat pengendalian. penilaian risiko yang perlu diperhatikan adalah: 1) penetapan model stimulan pembangunan. Penilaian risiko ini bersifat umum dan hanya berupa simpul-simpul utama. penilaian risiko merupakan proses identifikasi dan sekaligus proses antisipasi atas faktor-faktor yang dapat menganggu keberhasilan pencapaian program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 31 | P a g e . monitoring dan evaluasi. pengawalan. Titik risiko ini akan dirinci pada masing-masing pengelola kegiatan sesuai dengan karakteristik yang dimiliki. Secara umum. b) penilaian risiko pada saat pelaksanaan rencana. 6) ketepatan pembentukan tim pembina.2. 5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelolaan kesatkeran. Penilaian risiko atas keberhasilan Program Peningkatan Produksi. mengevaluasi. 4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan. 8) kekonsistenan dalam mengendalikan.

Pengendalian. Operasional peningkatan produksi dan produktivitas di lapangan dilakukan melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) khususnya untuk padi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 32 | P a g e .3. Pada tahun anggaran 2012. Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya serealia yang tepat dan berkelanjutan. kinerja Program Peningkatan Produksi. monitoring dan evaluasi Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan Kekonsistenan dalam pengendalian Kekonsistenan dalam mengevaluasi Kekonsistenan dalamn melaporkan 3. Kegiatan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan terdiri dari delapan (8) jenis kegiatan. Evaluasi dan Pelaporan Rencana - Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketepatan pembentukan tim pembina. pengawalan. No. Pelaksanaan Rencana Titik Risiko Penetapan model stimulan pembangunan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran - III.1.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 8. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Aspek Penyusunan Rencana II. Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Serealia. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan didukung anggaran melalui APBN dengan fokus-fokus tertentu sebagai berikut: 3. dimana 1 unit kerja Eselon II memiliki 1 kegiatan.3.

serta sebagai percontohan bagi kawasan lainnya. 3. 25 ha areal SLPTT padi non hibrida spesifik lokasi.700. maka disusun standar biaya untuk masing-masing SLPTT. SLPTT model padi non hibrida diberikan sebesar Rp. 10 ha areal SLPTT padi hibrida. Standar biaya pada SLPTT yang sifatnya reguler sebesar Rp.Pedoman Pelaksanaan Program (non hibrida. Luasan/1 Unit SLPTT (Ha) 25 10 25 15 No. Biaya untuk SLPTT ini belum termasuk bantuan benih. dan alsintan). Kriteria penerima SLPTT ini difokuskan kepada petani/kelompoktani yang memiliki produktivitas yang lebih rendah dari produktivitas kabupaten. 1. 3) SLPTT Indeks Pertanaman dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih. 25 ha areal SLPTT padi non hibrida peningkatan IP. 44. pupuk. 10 ha areal SLPTT padi hibrida spesifik lokasi. yang berfungsi sebagai pusat belajar pengambilan keputusan para petani/kelompok tani. Rincian bantuan biaya LL-SLPTT dan biaya yang diperlukan untuk SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi Peningkatan Produktivitas dan Peningkatan IP seperti tabel di bawah ini. Penerapan pola ini diharapkan terbina kawasan-kawasan andalan.000. kecuali 1 Ha Laboratorium Lapangan diberikan bantuan full paket.-/Ha.850. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 33 | P a g e .600.-/Ha. dan alsintan). Penerapan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan instrumen perangsang (stimulus) bagi daerah sekitarnya. Masing-masing ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha. dan 15 ha areal SLPTT jagung hibrida. pupuk. Jenis SLPTT yang dikembangkan adalah 1) SLPTT Reguler dimana bantuan yang diberikan hanya berupa benih. 2) SLPTT Spesifik Lokasi dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih. sekaligus sebagai tempat tukar menukar informasi dan pengalaman lapangan. dan jagung (hibrida). Dalam setiap 25 ha areal SLPTT padi non hibrida.-/Ha. SLPTT Padi Sawah Non Hibrida Sawah Hibrida Lahan Kering Jagung 2.000. 64.000. 25 ha areal SLPTT padi lahan kering. dan SLPTT padi hibrida sebesar Rp. pembinaan manajemen kelompok. hibrida dan lahan kering). Untuk mendukung pelaksanaan SLPTT padi dan jagung.

850.000 160. .Terdapat 1 LL dalam 1 unit SLPTT (1 LL = 1 Ha) yang diberikan bantuan full paket (benih dan pupuk) . Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 34 | P a g e . biaya pertemuan kelompok tani.000 150.000 - - Urea NPK Pupuk Organik Fasilitasi Gerakan Tanam Serempak Biaya operasional gerakan tanam serempak Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping Papan nama 100 kg 300 kg 1.700.300 500 25.Bantuan SLPTT Model meliputi benih.1 unit SLPTT Model sama dengan 10 Ha Jenis Fasilitas Urea NPK Pupuk Organik Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping .000 64.000 1.Jenis komoditas: Padi Non Hibrida.750.600.000 50.000 500. SLPTT Reguler .750.000 kg 1 unit 1 paket 1.300 500 170.000 690.000 Penggunaan dana tersebut selain untuk pengadaan saprodi.000 150. Padi Hibrida.700.000 Urea NPK Pupuk Organik Fasilitasi Gerakan Tanam Serempak Biaya operasional gerakan tanam serempak Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping Papan nama 100 kg 300 kg 1.1 unit SLPTT Model sama dengan 25 Ha C.000 44.000 kg 1 unit 1 paket 1.000.000 500.600 2.000.000 Jumlah (Rp/unit SL) 3.000 500.000 50.000.300 500 25.000 150.700.000 500.700.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 9.000 25.000 - 10 kali 10 kali 1 buah 170.000 25.750.750.Model Spesifik Lokasi .000 1.000 10 kali 10 kali 1 buah 170.000 500. pupuk dan fasilitasi gerakan tanam serempak .Sisa lahan dalam 1 LL hanya diberikan bantuan benih B.000 500. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA. 2012 SL-PTT A.000 150.000 kg 10 kali 10 kali 1 buah Harga Satuan (Rp) 1.600 2. pupuk dan fasilitasi gerakan tanam serempak . SLPTT Model Padi Hibrida .600 2.000 3.000 1.000 160.Papan nama Satuan/Ha 100 kg 300 kg 1.000 50.000 150. insentif bagi pendamping dan pembuatan papan nama juga untuk pengadaan alsintan (sesuai kebutuhan kelompok tani) dan biaya operator.000 3.Bantuan SLPTT Model meliputi benih. SLPTT Model Padi Non Hibrida . Jagung Hibrida.000.000 3.000 690.Model terdiri dari SLPTT Spesifik Lokasi dan SLPTT Peningkatan IP .000 150.000 690. Padi Lahan Kering.000 160.000 3.

300 ha.651.000 ha. monitoring dan evaluasi serealia. pengendalian OPT hingga panen. 13 Provinsi. pemilihan benih.700 ha. pengaturan tanam. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA 2012 Kegiatan SLPTT a. dan jagung hibrida seluas 200. 22 Provinsi. (2) ketepatan alokasi anggaran. padi non hibrida peningkatan IP seluas 14. Padi Non Hibrida Peningkatan IP d. 10 Provinsi Pusat. Selain itu. dan Evaluasi Serealia 2.550 ha.000 ha. Pengawalan. Jagung Hibrida Fasilitasi Kemitraan 2.651. Padi Hibrida Spesifik Lokasi f. Tabel berikut ini menggambarkan alokasi kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia.000 Ha 10 Paket 403 Satker 31 Provinsi. Tabel 10. pengawalan. Pembinaan.750 Ha 290. (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 35 | P a g e . Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi c. 2012 Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman serealia titik risiko kegiatan adalah: (1) penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT. lahan kering seluas 500. padi non hibrida spesifik lokasi seluas 33. 1.000 Ha 200.700 ha.750 ha.700 Ha 9. 362Kab/Kota 60 Kab/Kota 30 Kab/Kota 199 Kab/Kota 148 Kab/Kota 260Kab/Kota 242 Kab/Kota Sasaran Lokasi 371 Kab/Kota Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. Monitoring. Padi Lahan Kering g. Padi Non Hibrida b. 30 Provinsi. pemupukan. pengairan. padi hibrida spesifik lokasi 9.Pedoman Pelaksanaan Program Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT TA 2012 adalah: padi non hibrida seluas 2. 25 Provinsi.700 Ha 33. Padi Hibrida e. seperti pengolahan tanah. Pangan Alternatif 3. 26 Provinsi. 17 Provinsi.550 Ha 14. padi hibrida seluas 290. No.300 Ha 500. 31 Provinsi. pada kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia dilaksanakan juga fasilitasi kemitraan pangan alternatif dan upaya pembinaan.

penyediaan dan penyaluran bantuan. (6) ketepatan pembentukan tim pembina. monitoring dan evaluasi. Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya tanaman aneka kacang dan umbi yang tepat dan berkelanjutan. Uraian SLPTT Padi SLPTT Jagung Titik Risiko Ketepatan dalam menetapkan CPCL Ketepatan pemanfaatan anggaran Ketepatan pengolahan tanah Ketepatan dalam pemilihan teknologi Ketepatan pemberian sosial Faktor alam (tingkat intensitas cuaca) Ketepatan dalam mengevaluasi dan melaporkan 3. Faktor-faktor tersebut perlu mendapat perhatian dan apabila tidak berjalan sesuai yang diharapkan maka akan berdampak pada pelaksanaan kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia yang pada akhirnya berujung pada tidak tercapainya output yang diharapkan. Dalam mewujudkan peningkatan produksi dan produktivitas kedelai. pengawalan. 2. serta (8) kekonsistenan dalam mengendalikan. (c) mengganggu lingkungan tumbuhnya pertanaman dan lingkungan kehidupan secara keseluruhan.2. maka dilakukan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) serta pengembangan kedelai model. Tabel 11.3. Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi. (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL). dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. (7) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. Kesalahan dalam penetapan dan penerapan komponen teknologi akan berdampak pada: (a) menurunnya kuantitas dan kualitas produksi tanaman serealia.Pedoman Pelaksanaan Program anggaran. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 36 | P a g e . 1. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealian Tahun 2012 No. (b) tidak efisiennya biaya usahatani yang digunakan. (5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran. mengevaluasi.

Pedoman Pelaksanaan Program Dalam 10 ha areal SLPTT kedelai ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha. PBT dan Mantri Tani.000 250. Sedangkan pada pengembangan kedelai model dengan luasan 1 Ha. Laboratorium Lapangan memperoleh bantuan Benih dan Pupuk (NPK.000 1.600 2. Tabel 12.000 230.000 400.000 500.000 Kg Pestisida 2 Ltr Herbisida 5 Ltr Pendampingan Penyuluh 1 Paket Benih 40 Kg 1. Untuk menjamin keberhasilan penerapan di lapangan perlu dilakukan pengawalan dan pendampingan secara intensif oleh Penyuluh Pertanian.000 3.000 200. A.000 500.000 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 37 | P a g e .000 500.000 1.000 250. Urea dan Organik) serta melakukan pertemuan petani pelaksana SL. Peneliti. Uraian SLPTT Kedelai Urea 100 Kg NPK 100 Kg Kapur Pertanian 500 Kg Pupuk Hayati 1 Paket Pupuk Organik 500 Kg Pestisida/Herbisida 2 Ltr Papan nama 1 Paket Pendampingan Penyuluh 1 Paket Pertemuan Kelompok Tani 1 Klp Pengembangan Kedelai Urea 100 Kg NPK 100 Kg Kapur Pertanian 500 Kg Pupuk Hayati 1 Paket (RYZOBIUM) Pupuk Organik 1. Selain itu pada areal SL-PTT dialokasikan anggaran untuk ubinan setiap luasan 100 ha mendapat 1 (satu) unit sampling ubinan.000 200.000 1.000 13.000 80.000 500 250.000 250.000 250.600 2.390.390.280.000 500.000 160.000 500 250.000 150.000 250. B.000 230.000 500.000 540. POPT.500 Volume Harga/Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 3.000 160.000 500. Sementara itu areal SL Non Laboratorium Lapangan hanya mendapat bantuan benih VUB.930.300 1.000 150. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai No.300 1.000 500.

7. 6. pengairan. 2. 9 Kab/Kota 24 Provinsi Pusat. Pengawalan. monitoring dan evaluasi. (2) ketepatan pengalokasian anggaran dengan realiasi tanam. pengembangan kedelai model seluas 2. 1. pemilihan benih. mengevaluasi. (6) ketepatan pembentukan tim pembina. 28 Provinsi.500 Ha. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. pengembangan ubi kayu seluas 300 ha. seperti pengolahan tanah. pengendalian OPT hingga panen. 8.Pedoman Pelaksanaan Program Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT kedelai TA 2012 seluas 350. 3. (7) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. serta (8) kekonsistenan dalam mengendalikan. (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL). 4 Kab/Kota 2 Provinsi. pengawalan. penyediaan dan penyaluran bantuan. (5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran.000 Ha. dan pengembangan ubi jalar seluas 850 ha. 180 Kab/Kota 175 Kab/Kota Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. Untuk memastikan kinerja kegiatan SL-PTT Kedelai maka akan dilakukan uji ubinan secara baik dan tepat seluas 3. pengaturan tanam. 29 Kab/Kota 1 Provinsi. 5. 175 Kab/Kota 11 Provinsi. Tabel 13. 4.094 Ha. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Aneka Kacang dan Umbi sebagaimana tabel berikut.094 Ha 100 Ha 300 Ha 850 Ha 54 Paket 209 Satker 3.500 Ha Lokasi 28 Provinsi. pengembangan kacang tanah seluas 100 ha. Monitoring.000 Ha 2. Kegiatan SL-PTT Kedelai Pengembangan Kedelai (Model) Pengembangan Kacang Tanah Pengembangan Ubi Kayu Pengembangan Ubi Jalar Koordinasi Non Kedelai Pembinaan. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 No. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 38 | P a g e . 2 Kab/Kota 1 Provinsi. dan Evaluasi Ubinan SL-PTT Kedelai Sasaran 350. (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran. 28 Provinsi. 2012 Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman aneka kacang dan umbi titik risiko kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT. pemupukan.

pedoman teknis.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 14. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. pedoman teknis. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. pedoman teknis. pedoman teknis. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Uraian SL-PTT Kedelai Titik Risiko Ketepatan penyelesaian dokumen pelaksanaan. dan petunjuk teknis Ketepatan penetapan calon penerima calon lokasi (CPCL) Ketepatan Surat Keputusan Dirjen Tanaman Pangan Ketepatan waktu ketersediaan benih Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. No. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. Pengembangan Kedelai - III Pengembangan Kacang Tanah - IV Pengembangan Ubi Kayu dan Ubi Jalar - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 39 | P a g e . misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar II.

dialokasikan untuk mendukung pengembangan kacang tanah. Pada TA 2012. provinsi maupun kabupaten dimaksudkan untuk memperlancar penyediaan benih varietas unggul bermutu komoditas tanaman pangan. subsidi. serta (4) pengawalan dan monitoring BLBU.3. dan Cadangan Benih Nasional (CBN). dan kedelai diperuntukkan bagi kegiatan SLPTT dan non SLPTT. jagung hibrida.Pedoman Pelaksanaan Program 3.90 persen. padi hibrida. mempermudah akses petani terhadap benih varietas unggul bermutu. Jagung 72. dan ubijalar). pengembangan perbenihan diharapkan dapat memperbaiki sistem produksi benih aneka kacang dan umbi (kacang tanah. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain berupa: (1) pelaksanaan penyaluran BLBU padi. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman pangan yaitu melalui penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi petani. dan kedelai sebanyak 101. (3) tersedia dan tersalurkannya Cadangan Benih Nasional (CBN) untuk penanganan bencana alam dan pengembangan komoditas. pembinaan. dan monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih.3. monitoring evaluasi BLBU. kacang hijau. b.pemberian Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU). serta penggunaan sarana produksi yang dilakukan melalui kegiatan: operasional operasional UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD BPSBTPH). Selain itu. bantuan langsung benih unggul dialokasikan pada DIPA Kementerian Pertanian dengan rincian sebagai berikut: bantuan benih padi non hibrida. jagung. Indikator output kinerja Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan adalah (1) lembaga perbenihan tanaman pangan yang dibina di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. (2) tersalurkannya bantuan langsung benih unggul (BLBU) untuk kawasan SL-PTT dan non SL-PTT. operasional Balai Benih Induk (BBI). c. Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Kegiatan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan merupakan kegiatan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan. pengawalan.00 persen.50 ribu ton benih Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 40 | P a g e . Selain itu. serta pemberian insentif petugas pengawas benih tanaman (PBT). padi lahan kering. ubi kayu dan ubi jalar (Direktif Presiden). Sasaran pengembangan perbenihan tahun 2012 adalah tercapainya penggunaan benih bermutu varietas unggul dan bersertifikat sebagai berikut: a. Kedelai 67. ubikayu. Padi 67. pembinaan. Penguatan kelembagaan perbenihan baik tingkat pusat. pengawalan. pembangunan dan optimalisasi UPB.31 persen. pemberdayaan penangkar.

(6) pelaksanaan deregulasi perbenihan. kekeringan.Pedoman Pelaksanaan Program untuk luas tanam 4. Selain bantuan langsung benih unggul. Cadangan Benih Nasional (CBN) dimaksudkan sebagai upaya pemulihan dari pertanaman kelompok tani/petani yang terkena bencana alam (banjir. sehingga dapat meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas. Hal ini merupakan keluaran dari kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan.(3) pelaksanaan operasional 31 Balai Besar Induk (BBI) di provinsi. dan CBN di 32 provinsi dan 373 kabupaten/kota. (2) pelaksanaan operasional di 32 Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTDBPSBTPH) di provinsi. penangkar jagung seluas 700 ha. serta (9) dibayarnya insentif 817 orang Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) di 31 provinsi. monitoring evaluasi BLBU. dan kedelai. dan penangkar kedelai seluas 2. Subsidi harga benih dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga benih di pasar bebas. Komoditas yang difasilitasi adalah padi. meringankan beban petani serta meningkatkan ketersediaan benih dan penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi kelompok tani/petani.(4) pelaksanaan pemberdayaan penangkar padi seluas 10.05 juta Ha. Rencana alokasi BLBU tahun anggaran 2012 difokuskan pada lokasi-lokasi yang melaksanakan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). Pengalokasian pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman pangan TA 2012 dapat di lihat pada tabel di bawah ini. meringankan beban petani serta meningkatkan kesadaran penggunaan benih varietas unggul bermutu. pengawalan. dsb) serta eksplosi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 41 | P a g e . (8) pembinaan. Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) diberikan dalam rangka mendukung peningkatan produksi dan produktivitas terutama di lokasi SL-PTT. jagung. monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih di 27 provinsi dan 230 kabupaten/kota. pemerintah terus mengupayakan pemberian subsidi harga benih dan cadangan benih nasional. (7) pembinaan. subsidi. (5) pelaksanaan pembangunan 4 (empat) UPB dan optimalisasi 8 (delapan) UPB di provinsi.000 Ha.500 ha.

10. Monev BLBU.500 ton 500. Padi Non Hibrida Padi Hibrida Padi Lahan Kering Jagung Hibrida Kedelai 67.700. Subsidi.000 Ha 14 Unit 700 Ha 100 Unit 2. 6. 100 Kab/Kota 4 Provinsi 8 Provinsi Pusat 27 Provinsi. 14 Kab/Kota 13 Provinsi. 5.000 ton 200. 2012 Kegiatan BLBU 2.000 ha 14. No. Pengawalan. Pembangunan UPB Operasional UPB Deregulasi Perbenihan Pembinaan. CBN Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 1.000 ton 350.000 ha 3.000 ha 32 Balai 817 Orang 32 Balai 31 Balai 200 Unit 10. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA.Kedelai 32 Provinsi 31 Provinsi 32 Provinsi 31 Provinsi 23 Provinsi.Jagung . 4. 2012 Secara umum semua kegiatan memiliki risiko jika tidak dilaksanakan sesuai aturan dan petunjuk yang ditetapkan.000 ha 12. 373 Kab/Kota 7.500 ton 300. jumlah atau kualitas yang tidak sesuai speck.Padi . 9.500 ton 2.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 15. agar kegiatan yang dihasilkan dapat berdaya guna dan berhasil guna serta tidak menimbulkan kerugian negara maka sangat diharapkan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rambu-rambu yang sudah ditetapkan. 11. Oleh karena itu. 32 Provinsi. Resiko kegagalan pencapaian keluaran (output) dan hasil (outcome) terjadi jika pelaksanaan tidak dilaksanakan tepat waktu. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 42 | P a g e .000 ha 4. 8. 3. 230Kab/Kota Pusat.500 Ha 4 Unit 8 Unit 1 Paket 257 Paket 257 Paket Sasaran Lokasi Pusat Operasional UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Sarana BPSBTPH Operasional Balai Benih Pemberdayaan Penangkar: . 165 Kab/Kota 5 Provinsi. Monev Pembangunan Penangkaran Benih Pembinaan.

BLBU juga sangat berkaitan dengan kualitas benih yang disalurkan. Bantuan Langsung Benih Unggul dan Pemberdayaan Penangkar berkaitan dengan waktu/musim tanam. No. Insentif Pengawas Benih Tanaman Pangan Perbanyakan Benih Sumber Pemberdayaan Penangkar - VI. Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan - III.Pedoman Pelaksanaan Program Jika dievaluasi faktor risiko seluruh kegiatan perbenihan. IV. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 43 | P a g e . Pembinaan. V. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2012 Uraian Titik Risiko BLBU mendukung SL-PTT padi. mengevaluasi. maka yang paling tinggi faktor risikonya adalah BLBU dan pemberdayaan penangkar. pendampingan dan pengawalan Ketepatan speck Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB Ketepatan speck Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB II. Tabel 16. jagung dan kedelai Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran Ketersediaan benih Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan Kekonsistenan dalam mengendalikan. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan Ketepatan pembayaran insentif Ketepatan waktu perbanyakan benih Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran Ketersediaan benih Ketepatan waktu dalam pembinaan. VII. pendampingan. pengawalan Pembangunan Unit Prosesing Benih (UPB) Optimalisasi Balai Benih Palawija - VIII.

(4) ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen.Jagung . Alokasi kegiatan penanganan pascapanen tanaman pangan TA 2012 dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 1. (6) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. (5) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis. 2012 Dalam upaya penanganan pascapanen tanaman pangan titik risiko kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan. No.Kedelai . Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 44 | P a g e . mengevaluasi. Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 Sasaran 236 Satker 220 Satker 13 Satker 13 Satker 11 Satker 11 Satker 20 Satker 4 Satker 9 satker 1 Satker Lokasi Pusat.4. 31 Provinsi. 204 Kab/Kota Pusat. (3) ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi. penyediaan dan penyaluran bantuan. 16 Provinsi. 2.Vertical Dryer . (2) ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan.Pedoman Pelaksanaan Program 3.3. Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Pascapanen.Ubi jalar Dukungan manajemen lainnya Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. serta (7) kekonsistenan dalam mengendalikan. Uraian Bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Survei susut hasil padi Bantuan sosial: . 12 Provinsi 183 Kab/kota 11 kab/Kota 11 Kab/Kota 20 Kab/Kota 4 Kab/Kota 9 Kab/kota Pusat 5. 4.Padi .Ubi kayu . 204 Kab/kota Pusat. dan (2) jumlah kelompok tani yang mendapatkan bantuan sarana pasca panen tanaman pangan. 3. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. Tabel 17. Untuk mendukung pencapaian output diperlukan berbagai proses yang saling terkait. Indikator kinerja kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan adalah (1) jumlah kelompok tani yang menerapkan teknologi pascapanen tanaman pangan sesuai GHP (Good Handling Prossesing) dan standar mutu.

- - - Titik Risiko Ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi Ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis Ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 No. 4. Uraian Bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Survei susut hasil padi Bantuan social penanganan pascapanen tanaman pangan Dukungan manajemen lainnya - 2. 1. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 45 | P a g e . mengevaluasi. - 3. 5.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 18. penyediaan dan penyaluran bantuan Kekonsistenan dalam mengendalikan.

RK-KL Ditjen. 3. 2. 5. (5) meningkatnya gerakan pengendalian OPT dan adaptasi DPI. (2) jumlah maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terkena DPI. (3) menguatnya peran dan fungsi kelembagaan perlindungan. 7. 10. Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI TA 2012 Komponen Kegiatan SLPHT kelompok SLPHT tindak lanjut SLI Pengamatan.635 Unit 315 Unit 130 Unit 32 Unit 95 Unit 2 Paket 620 Kel. Peramalan. 57 unit 2 paket 86 unit 221 kelas 1. 6. Tabel 19.3. 2012 Kegiatan ini dimaksudkan untuk pencegahan dan penanggulangan hama penyakit tanaman yang disebabkan oleh OPT dan DPI dengan hasil (outcome) yang diharapkan adalah: (1) menguatnya sistem pengamatan dan pengendalian dini. 4. Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI) Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI dikelola oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. 1.Operasional BPT . Tanaman Pangan TA.Sarana pengendalian OPT . dan residu pestisida Sasaran 1. Indikator kinerja kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI adalah (1) jumlah maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terserang OPT.908 Orang 1 Paket 1 Paket Lokasi BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH LPHP BPTPH/ LPHP LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH BPTPH BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP Ditlin/ Pusat BPMPT/ Pusat 9. monitoring dan evaluasi Pengujian pestisida. (4) menguatnya penerapan teknologi pengendalian OPT dan adaptasi DPI. Pengendalian OPT/DPI (P3OPT/DPI) Inovasi & diseminasi teknologi pengendalian OPT/adaptasi DPI Surveilans OPT Pemberdayaan PPAH Revitalisasi Brigade Proteksi Tanaman (BPT): . 12. 8. 11. No. Sumber. bimbingan teknis.Pelatihan regu pengendali hama (RPH) Honorarium dan BOP THL TB POPT-PHP BOP POPT-PHP (PNS & Honorer) Koordinasi.5. pupuk.168 Orang 2.Pedoman Pelaksanaan Program 3. dan (3) 95 % luas areal tanaman pangan yang menerapkan budidaya tanaman yang tepat aman dari gangguan OPT dan DPI. (2) meningkatnya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia. (6) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 46 | P a g e .Renovasi/Bangun gudang pestisida .

3. Jenis risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat di lihat pada tabel dibawah ini. 1. 2. Tabel 20.Pedoman Pelaksanaan Program tersedianya sarana pengendalian OPT. dan (7) menguatnya database perlindungan tanaman pangan dan SIM OPT. sehingga berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. Alokasi kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012 dapat dilihat pada tabel di atas. Dalam pelaksanaan kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012. 4. Evaluasi dan pelaporan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 47 | P a g e . terdapat permasalahan baik langsung maupun tidak langsung yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran. Uraian Perencanaan kegiatan Bantuan sarana pengendalian OPT - Titik Risiko Ketersediaan SDM Koordinasi unit kerja Ketepatan waktu Identifikasi CPCL Pelaksanaan pendampingan penggunaan bantuan Pengaruh faktor iklim dan OPT Dukungan sarana pengolah data Sumberdaya manusia Pemberdayaan alumni Pemasyarakatan teknologi PHT Keseimbangan ekosistem Ketepatan dukungan administrasi dan teknis Keterlambatan unit kerja lainnya dalam memberikan bahan (data dan informasi) Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja. Database perlindungan tanaman pangan SLPHT & SLI 5. Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012 No.

3. dan (2) peningkatan kinerja petugas dan pegawai di BBPOPT.Pedoman Pelaksanaan Program 3. umum serta evaluasi dan pelaporan program peningkatan produksi. divalidasi dan disyahkan. Indikator kinerja dari kegiatan dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah 1) jumlah dokumen perencanaan. Indikator kinerja kegiatan pengembangan peramalan serangan OPT adalah (1) jumlah informasi peramalan serangan OPT dan DPI. keuangan. Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih dikelola oleh Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH).6. peramalan. dan pengendalian OPT. 3. 2) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 48 | P a g e . Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dikelola oleh Balai Besar Peramalan OPT. Indikator kinerja dari kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih adalah: (1) jumlah metode pengujian mutu benih yang dikembangkan. dan (3) jumlah provinsi yang menerapkan teknologi pengamatan. Keluaran kegiatan ini adalah terlaksananya 1 paket operasional BBPOPT dan pembayaran gaji dan operasional kantor selama satu tahun. (2) jumlah laboratorium yang menerapkan sistem mutu. Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dikelola oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. (2) jumlah teknologi pengamatan.7. 3.8. Sasaran dan keluaran kegiatan ini adalah: (1) terlaksananya 1 paket operasional Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Cimanggis. Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dimaksudkan untuk: (1) operasional Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT). produktivitas dan mutu tanaman pangan untuk mencapai swasembada dan swasembada berkelanjutan. peramalan dan pengendalian OPT.3. (3) jumlah laboratorium peserta uji profisiensi.3. dan (2) meningkatnya kinerja petugas dan pegawai di BBPPMBTPH Cimanggis dengan pelaksanaan pembayaran gaji dan operasional kantor di pusat selama satu tahun.

Tabel 21. 1 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 33 Provinsi Pusat. 3. Penilaian risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 9.Pedoman Pelaksanaan Program penyaluran bantuan modal untuk LM3. 2. 8. dan 3) jumlah cadangan saprodi untuk mengatasi dampak bencana alam. 33 Provinsi. 2012 Dalam pelaksanaan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 ditemukan berbagai hambatan dan permasalahan yang tentu saja berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dan akan berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. Bencana Alam. Monitoring Evaluasi. 374 Kab/Kota Pusat. 33 Provinsi. 33 Provinsi. 374 Kab/Kota Pusat. 5. 374 Kab/Kota Pusat Pusat.161 Orang 408 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja Lokasi Pusat. dan Kekeringan Gaji dan Operasional Kantor 7. 4. 6. 33 Provinsi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 49 | P a g e . Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya pelayanan teknis dan administrasi kepada semua unsur di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 1. Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Sasaran 3. Kegiatan dan Anggaran Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN) Pengelolaan Bidang Umum Evaluasi. 374 Kab/Kota Pusat Pusat Pusat No. Statistik (termasuk honor petugas SIMONEV) Dukungan Manajemen Lainnya LM3. Keluaran kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan ini dapat dilihat pada tabel berikut. Kegiatan Insentif Mantri Tani Honor Pengelola Satuan Kerja dan Adminitasi Perencanaan Program.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 50 | P a g e . Dokumen Manajemen dan Teknis Lainnya .Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja.Identifikasi Calon Lokasi . Bantuan Bencana Alam dan Kekeringan 3.Keterlambatan unit kerja lainnya dalam memberikan bahan (data dan informasi) . LM3 Uraian Titik Risiko .Kelengkapan administrasi pencairan dana bantuan LM3 .Pengawalan penggunaan dana penerima bantuan LM3 2.Faktor alam .Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 22. Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 No. 1.Ketepatan dukungan administrasi dan teknis .Pengaruh intervensi pihak luar .Kelayakan Proposal .Proses tender .

Hubungan Koordinasi Dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan yang berdasarkan sistem anggaran berbasis kinerja dibutuhkan sinergi perencanaan program dengan pembiayaan. Untuk itu. sehingga didapat kesepakatan tentang tujuan dan sasaran pembangunan yang ingin dicapai bersama. Sebagai wujud pelaksanaan kegiatan tersebut. Tata Hubungan Kerja Dalam mendukung pelaksanaan sistem anggaran berbasis kinerja. sehingga membutuhkan kerja keras serta selektif terhadap kegiatan prioritas yang akan dilaksanakan. koordinasi dan teknis fungsional.Pedoman Pelaksanaan Program BAB IV TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN PROGRAM LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012 4. Hal ini mengingat tugas dan tanggung jawab pimpinan instansi sebagai penanggung jawab operasional kegiatan cukup kompleks. dengan penjelasan sebagai berikut: Hubungan Hierarki Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai hubungan hierarki dengan propinsi dan kabupaten/kota sebagai pelaksana kegiatan pembangunan pertanian di daerah sesuai dengan azas tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. BPSBTPH dan BPTPH). dilakukan melalui hubungan koordinasi antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan UPT pusat dengan dinas provinsi dan kabupaten/kota yang menangani tanaman pangan dan UPTD (BBI. Koordinasi dilakukan terutama untuk mempertemukan tujuan dan sasaran pembangunan nasional dengan tujuan dan sasaran pembangunan masing-masing daerah. pengendalian dan pelaporan. pemanfaatan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan oleh satuan kerja yang menerima pelimpahan atau penugasan dikelola. Dengan koordinasi ini. Untuk mendukung pemantapan pelaksanaan kegiatan tersebut perlu adanya koordinasi dan peningkatan jaringan kerja melalui hubungan hierarki. khususnya pembangunan yang dibiayai dari APBN.1. dipertanggung jawabkan dan dilaporkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Hubungan hierarki tersebut terwujud dalam sistem perencanaan. diharapkan masing-masing daerah juga dapat berkontribusi melalui APBD yang dimiliki. perlu dipahami bahwa tata hubungan kerja dalam pelaksanaan pembangunan tanaman pangan baik di pusat maupun daerah perlu ditingkatkan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 51 | P a g e .

Besarnya jumlah anggaran ditentukan melalui proses perencanaan dan pembahasan antara pemerintah dan DPR. Wujud dari hubungan teknis fungsional tersebut. Dalam melaksananakan pembangunan tanaman pangan. kegiatan dan anggaran di daerah. Dengan demikian produk/jasa yang dihasilkan dibidang tanaman pangan dapat diproduksi secara efektif. Untuk pelaksanaan program. Direktur Jenderal Tanaman Pangan membantu Menteri Pertanian/Pengguna Anggaran dalam melaksanakan tugas operasionalnya dibidang tanaman pangan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran/Barang di tingkat pusat. dan berdaya saing. dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu.2. khususnya perselisihan antar daerah. 4. Sedangkan anggaran tugas pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. teknis perlindungan tanaman.Pedoman Pelaksanaan Program Koordinasi juga diperlukan antara UPT Pusat dengan UPT Daerah. Menteri Pertanian selaku Pengguna Anggaran mengalokasikan sebagian APBN untuk pelaksanaan tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. terutama untuk keseragaman peraturan perundang-undangan yang digunakan dalam memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat. Pengorganisasian Pelaksanaan program dilakukan dengan mengacu pada kaidah-kaidah administrasi pemerintahan. dan teknis pelatihan bagi aparat pertanian dan pelaku usahatani. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan yang berazaskan dekonsentrasi/tugas pembantuan bertujuan untuk dapat memenuhi standar teknis di bidang tanaman pangan. teknis usahatani. sedangkan tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa. Hubungan Teknis Fungsional Hubungan teknis fungsional dalam pelaksanaan program. Anggaran dekonsentrasi merupakan bagian dari APBN yang pengelolaan dan tanggung jawab penggunaannya oleh Gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah melalui pelimpahan wewenang oleh pemerintah. panen dan pasca panen. teknis perbenihan/perbibitan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 52 | P a g e . dan juga dalam aspek penyelesaian masalah (arbitrase) bila terjadi suatu perselisihan. efisien. dilaksanakan melalui pembinaan teknis kegiatan di lapangan seperti teknis penyiapan sarana produksi.

pejabat eselon II dan III (khusus UPT BPMPTPH) sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 53 | P a g e . kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan serta sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam pengelolaan anggaran dan penanggung jawab program. KTU/Kabag Umum sebagai Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian. b) Penanggung jawab program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk masing-masing unit kerja dan jenis anggarannya adalah sebagai berikut : a. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Balai Besar dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). 4) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program. Menteri Pertanian menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Presiden sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tingkat Pusat 1) Menteri Pertanian sebagai Penanggung Jawab Program Pembangunan Pertanian. dalam operasional kegiatan dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Satuan kerja yang pimpinannya ditetapkan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dikelompokkan sebagai berikut : a) Satuan Kerja Pusat adalah satuan kerja yang kewenangan dan tanggung jawabnya melakukan kegiatan pengelolaan anggaran dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program. Kepala Balai Besar selaku Kepala Satuan Kerja dan KPA.Pedoman Pelaksanaan Program Pelaksanaan program. kegiatan dan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. b. 5) Untuk UPT Pusat BBPOPT dan BBPPMBTPH. kegiatan dan anggaran. Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. dan Kabid/Pejabat eselon III sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Tingkat Provinsi 1) Gubernur sebagai penanggung jawab program. kegiatan dan anggaran dilakukan oleh satuan kerja. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah satuan kerja di provinsi yang melaksanakan tugas dekonsentrasi dan satuan kerja di provinsi/kabupaten/kota yang melaksanakan tugas pembantuan. 3) Direktur Jenderal Tanaman Pangan bertindak sebagai koordinator pengembangan komoditas tanaman pangan dan tugas-tugas pokok serta tugas-tugas pelayanan lainnya yang terkait dengan unit kerjanya.

2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). 1) 3 saker di Pusat. 2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. Tingkat Kabupaten/Kota 1) Bupati/Walikota sebagai penanggungjawab program.Pedoman Pelaksanaan Program Gubernur menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan melaksanakan dan mengelola DIPA dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Pada TA 2012. dengan rincian sebagai berikut. c. kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 54 | P a g e . kegiatan dan anggaran tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. masing-masing KPA dibantu dua orang bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). 3) Untuk kelancaran operasional program. 4) Kepala Satker selaku KPA menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada Gubernur untuk anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan provinsi. 2) 65 satker di provinsi. Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. masing-masing Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). kegiatan dan anggaran (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. kegiatan pembangunan subsektor tanaman pangan dikelola oleh 442 satuan kerja. dan 3) 374 satker di kabupaten/kota. kegiatan dan anggaran (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya. 4) Kepala Satuan Kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota untuk anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota dengan tembusan kepada Dinas tingkat provinsi yang membidangi tanaman pangan dan Direktur Jenderal Tanaman Pangan. Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. 3) Untuk kelancaran operasional program. serta bertanggungjawab terhadap seluruh keberhasilan program. Bupati/Walikota menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan melaksanakan dan mengelola DIPA tugas pembantuan. Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bupati/Walikota menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian. serta bertanggung jawab terhadap seluruh keberhasilan aktivitas program.

500 61.115.000 7.991 2 BPTPH III.455 3.400.000 152.BPSBTPH *) Jumlah Satker DIPA (unit) 3 1 1 1 65 33 32 374 374 442 Alokasi Anggaran (Rp. III.500. I.498.000 9.347.BBI *) . Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja (Satker) DIPA TA 2012 No. 2. Lokasi Pusat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Provinsi Dinas Pertanian di Provinsi Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kabupaten/Kota Jumlah Satker DIPA (unit) 3 1 1 1 65 33 32 1. Dinas Pertanian di Kabupaten/Kota TOTAL Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA.536 3.846.007. Kabupaten/Kota 1 Dinas Kabupaten/Kota TOTAL Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 55 | P a g e . I. 1.498.491.104. Jumlah Satuan Kerja Pelaksana Program dan Kegiatan Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 No.746. 1 2 3 4 II.Dinas Provinsi .245.500 31.000 1. 1 Unit Kerja Pusat Ditjen Tanaman Pangan BPMPT BBPPMBTPH BBPOPT Provinsi Dinas Provinsi .093.353.300.245.-) 1.899. 000. 3.084. Tabel 24. II.000 267. 2012 374 442 Daftar selengkapnya satuan kerja yang melaksanakan pembangunan tanaman pangan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dengan pembiayaan APBN terdapat pada tabel dibawah ini. 1.536 1.455 1.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 23. 2.000 512.

jagung. dan dukungan manajemen lainnya. monitoring dan evaluasi BLBU. 13) Pelaksanaan dukungan manajemen dari kegiatan teknis. 5) Pembinaan. 2. non hibrida peningkatan IP. pengawalan dan monitoring evaluasi (SLPTT budidaya tanaman serealia. 2) Koordinasi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 56 | P a g e . pascapanen. 2) Fasilitasi kemitraan pangan alternatif. bidang umum. dan kedelai. tunjangan. 4) Penyusunan deregulasi perbenihan. diantaranya: 1) Melaksanakan kegiatan SL-PTT padi (non hibrida spesifik lokasi. monitoring. penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran. 3) Penyaluran Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) padi. pembinaan. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) di Cimanggis – DKI Jakarta. Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai berikut: 1. dan kekeringan. subsidi dan CBN. statistik dan pemberian honor petugas Simonev. 6) Penyaluran insentif Mantri Tani. Satuan Kerja Pembinaan dan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang membidangi tanaman pangan di tingkat Provinsi Satuan kerja pembinaan dan pengembangan tanaman pangan provinsi memayungi kegiatan-kegiatan. SLPTT budidaya tanaman aneka kacang dan umbi.Pedoman Pelaksanaan Program Ket. 12) Pengelolaan gaji. 11) Koordinasi penyaluran dana bantuan Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). 8) Perencanaan program. 9) Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memayungi kegiatan-kegiatan yang dikelola oleh unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2012 Struktur anggaran TA 2012 mengikuti struktur kegiatan pada masing-masing satuan kerja di tingkat Pusat. perbenihan. kegiatan dan anggaran.pengawalan. penanganan bencana alam. dan perlindungan tanaman pangan). Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) di Jatisari. 10) Evaluasi. honorarium.: *) BBI dan BPSBTPH digabung dengan Satker Dinas Provinsi (Dekonsentrasi) Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. Beberapa kegiatan yang dikelola diantaranya adalah: 1) Peningkatan kualitas pelayanan publik. dan hibrida spesifik lokasi). 7) Penyaluran Honor Pengelola Satker dan Adminsitrasi.

Penyaluran sarana pengendalian OPT.Pedoman Pelaksanaan Program 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) Pembinaan. Pembangunan dan optimalisasi UPB. dan Evaluasi. apresiasi dan monitoring evaluasi pascapanen. SLHT dan SLI. Dinas Pertanian Provinsi. aneka kacang dan umbi. Penyaluran operasional dan sarana UPTD BPSBTPH. BLBU. Pemberian bantuan sarana pascapanen padi. statistik. Pemberian insentif Mantri Tani. Surveilans OPT dan monitoring evaluasi Sekolah Lapangan. bimbingan teknologi. P3OPT (BPTPH). pengelolaan data OPT. Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). subsidi dan CBN). Perencanaan program. Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit (LPHP). 5. THL POPT-PHP . Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT. Pembinaan. pengawalan dan monitoring evaluasi (serealia. monitoring evaluasi. Kegiatan pokoknya adalah pelaksanaan pengawasan mutu dan sertifikasi benih. Operasional POPT PHP. kegiatan dan anggaran. Pemberian insentif petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT). honor pengelola Satker dan Administrasi. Pemberdayaan PPAH. Satuan Kerja Balai Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih TPH Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan perbenihan sesuai fungsi BPSBTPH di seluruh provinsi. Pelatihan alumni SLPHT untuk penguatan RPH. penguatan kelembagaan perbenihan melalui aspek pengawasan mutu benih tanaman pangan. dan pelaporan (termasuk honor petugas Simonev). Renovasi gudang Brigade. Kegiatan pokoknya adalah pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) melalui pengamatan. Satuan Kerja Pembinaan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang membidangi tanaman pangan tingkat Kabupaten/Kota Satuan kerja ini kegiatan-kegiatan pokoknya antara lain: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 57 | P a g e . Satuan Kerja Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengamanan produksi sesuai fungsi BPTPH di seluruh provinsi. 3. Balai Benih. penangkaran benih. 4. Pelaksanaan survei susut padi. peramalan OPT dan dampak perubahan iklim.

Evaluasi. b) perhatian lebih ditekankan pada pengukuran hasil kinerja. fungsi. Pemberian bantuan sarana pascapanen padi.Pedoman Pelaksanaan Program 1) 2) Pelaksanaan kegiatan SLPTT padi non hibrida. kegiatan. subsidi. Struktur anggaran berdasarkan kegiatan dari kedua pola anggaran di atas adalah sebagai berikut: pembiayaan dengan anggaran dekonsentrasi digunakan untuk memfasilitasi kegiatan yang bersifat non fisik dan dilaksanakan oleh dinas yang Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 58 | P a g e . 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Penjelasan secara rinci tentang masing-masing kegiatan yang dilaksanakan di Provinsi (Dinas yang membidangi tanaman pangan. dan d) menghasilkan informasi biaya dan hasil kerja yang dapat digunakan untuk penyusunan target evaluasi pelaksanaan kinerja. Ubinan SL-PTT kedelai. pola dekonsentrasi dan pola tugas pembantuan. dan Dukungan manajemen dan teknisnya. kegiatan dan anggaran. Pembinaan. Pemberdayaan Penangkar Benih padi. c) setiap kegiatan harus dilihat dari sistem efisiensi dan memaksimumkan keluaran (output). monitoring evaluasi. jagung hibrida. yang sebelumnya menurut sektor dan jenis belanja. Pengembangan kedelai (model). BLBU. Honor pengelola Satker dan administrasi. pascapanen). dan pelaporan(serealia. dan kedelai. CBN. aneka kacang dan umbi.3. ubi kayu. ubi kayu. Anggaran berbasis kinerja memiliki komponen : 1) Rencana Kerja (program. Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). 4. padi lahan kering. penangkaran benih. Operasional Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT. kedelai. padi hibrida. jagung. Pengelolaan Anggaran Struktur Anggaran Kegiatan pembangunan tanaman pangan di daerah di stimulasi oleh APBN yang dibagi ke dalam dua pola. dan ubi jalar. monitoring. jagung. dan pengeluaran). dan 3) Indikator Kinerja (keluaran/output dan hasil/ outcome). BPSBTPH dan BPTPH) maupun di Kabupaten/Kota (Dinas yang membidangi tanaman pangan) disajikan pada buku Pedoman Pelaksanaan yang dikeluarkan oleh masing-masing unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. bukan pengawasan. Dalam pelaksanaannya. ubi jalar. statistik (termasuk honor petugas Simonev). lokasi dan jenis belanja. pengawalan. BBI. Perencanaan program. 2) Anggaran. kedua pola penganggaran tersebut tetap didasarkan kepada sistem penganggaran kinerja dengan ciri-ciri pokok kinerja antara lain: a) klasifikasi rincian belanja negara menurut organisasi. kedelai. kacang tanah.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1) Menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa dan menetapkan paket-paket pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil. 6) Menandatangani cek dan mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP). kontrak/perjanjian/SPK dengan nilai di atas seratus juta rupiah (Rp.000. membebankan pada mata anggaran yang telah disediakan dan memerintahkan pembayaran tagihan-tagihan atas beban APBN. efisien. jadwal. ekonomis.-) baik untuk pemilihan langsung/pelelangan ditetapkan oleh KPA Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atau Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Rincian tugas dan wewenang aparat pengelola anggaran diuraikan sebagai berikut: a.000.000. 2) Menunjuk/memberi kewenangan kepada pejabat untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/pejabat pembuat komitmen. 3) Menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan sesuai kewenangannya. BPSBTPH dan BPTPH.-) sampai dengan lima puluh milyar (Rp 50. serta kelompok masyarakat. Pengelolaan anggaran harus menggunakan prinsip-prinsip ekonomis. efisien dan efektif serta mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.000. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) 1) Melaksanakan kegiatan sesuai dengan DIPA yang telah disahkan secara tertib.000. keputusan penetapan penyediaan barang jasa. tatacara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun oleh panitia pengadaan/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. 3) Melakukan pengawasan kepada pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/Pejabat Pembuat Komitmen dan Pemegang Uang Muka Kerja (PUMK). sebagai pihak yang diberi tugas oleh Gubernur yang mendapat pelimpahan tugas dari pemerintah pusat. 4) Mengadakan ikatan/perjanjian dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. 2) Menetapkan dan mengesahkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS). 8) Keputusan/tindakan dalam rangka pelaksanaan pengadaan barang/jasa seperti pengangkatan pejabat/panitia pengadaan dan pemeriksaan barang/jasa. b. transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. efektif. 7) Membuat laporan keuangan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 100. 5) Menguji.Pedoman Pelaksanaan Program membidangi tanaman pangan tingkat provinsi. taat pada peraturan perundang-undangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 59 | P a g e .

LS. vakasi). Menandatangani kwitansi pembayaran dan bukti-bukti dokumen pengeluaran anggaran Satuan Kerja. 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 60 | P a g e . Menandatangani Surat Keputusan yang mengakibatkan pengeluaran (lembur. Berita Acara Pemeriksaan Barang dan Berita Acara Serah Terima Barang/Pekerjaan. UP. honor. Meneliti keberan dokumen yang menjadi persyaratan/kelengkapan sehubungan dengan ikatan/perjanjian pengadaan barang dan jasa. Kepada Pejabat Pembuat Komitmen Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan diberi wewenangan menandatangani Surat Permintaan Pembayaran (SPP) baik. Dalam melaksanakan pekerjaannya. Menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedian barang/jasa. Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan. PPK agar berkoordinasi dengan pimpinan unit kerjanya masing-masing. Melaksanakan rencana kerja sebagaimana telah ditetapkan dalam DIPA sesuai kegiatan masing-masing. Menandatangani dan mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak. Mengajukan tagihan pembayaran kepada bendahara pengeluaran untuk pembayaran yang membebani Uang Persediaan. Mengusulkan susunan panitia pengadaan kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Menyusun laporan seluruh kegiatan yang dilakukannya sesuai DIPA dan menyampaikannyakepada Kuasa Pengguna Anggaran. Menetapkan Penyedia Barang/Jasa hasil pengadaan. serta dokumen pendukungnya dan menyampaikan kepada Pejabat penguji Tagihan/Penandatangan Surat Perintah membayar (SPM). TUP dan NIHIL. Surat perintah Tugas (SPT) serta Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD). Menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada Menteri dengan berita acara penyerahan melalui Kepala Satuan Kerja. Menandatangani fakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai. Menandatangani Surat Perintah Kerja (SPK)/Kontrak. GUP. serta memerintahkan pembayaran atas beban APBN. Meneliti ketersediaan dana dan membebankan pengeluaran sesuai dengan mata anggaran pengeluaran yang bersangkutan. baik yang dilakukan secara kontraktual maupun secara swakelola.Pedoman Pelaksanaan Program 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) Menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku. Mengangkat staf pengelola anggaran sesuai kebutuhan. Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada Kuasa Pengguna Anggaran.

7) Menyelenggarakan pembinaan teknis dan administrasi terhadap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang berada di bawah koordinasinya. Pejabat Penguji dan Penerbit SPM 1) Menguji secara rinci keabsahan dokumen pendukung Surat Permintaan Pembayaran (SPP) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Penanggungjawab Teknis Kegiatan Penanggungjawab teknis kegiatan adalah Pejabat Eselon II (Sekretaris Direktorat Jenderal. Direktur. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 61 | P a g e . diberi wewenang untuk: 1) Menandatangani cek. Disamping sebagai penanggungjawab teknis kegiatan. 2) Menandatangani surat dispensasi usulan Tambahan Uang Persediaan (TUP) kepada Kantor Wilayah Perbendaharaan. 6) Menyusun dan menyampaikan laporan seluruh kegiatan kepada atasan langsung. Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atas nama KPA. 3) Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan tugas penanggungjawab teknis kegiatan di seluruh unit kerja lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. d. 10) Memberikan petunjuk dan arahan serta fasilitas untuk mengatasi permasalahan prinsip yang mungkin timbul. 5) Menyampaikan laporan kinerja bulanan/triwulanan/semesteran dan tahunan kepada Kuasa Pengguna Anggaran. 3) Memimpin seluruh pelaksanaan rencana kerja yang telah ditetapkan dan dituangkan dalam DIPA. 4) Melakukan koordinasi pengawasan dan pembinaan terhadap pelaksanaan tugas Pejabat Pembuat Komitmen lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.Pedoman Pelaksanaan Program c. dan Kepala Balai) dengan tugas dan tanggungjawab sebagai berikut: 1) Melaksanakan kegiatan sesuai rencana kerja sebagaimana yang telah ditetapkan dalam DIPA sesuai tugas pokok dan fungsinya masing-masing. 8) Melakukan pengawasan DIPA yang dilaksanakan oleh pejabat pembuat Komitmen (PPK). 11) Menyusun usulan rencana kegiatan Satuan Kerja yang merupakan bagian dari Rencana Kerja dan Anggaran kementerian/lembaga (RKA-KL) tahun berikutnya. 2) Mengendalikan dan mengevaluasi pelaksanaan anggaran. 9) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan administrasi keuangan dan kemajuan pelaksanaan kegiatan dan output. 4) Memberikan pengarahan dan petunjuk kepada Pejabat dibawahnya untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan dan pencapaian keluaran/outputyang telah ditetapkan.

menyetorkan. Nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan kelayakannya dengan prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak). KPA dan Bendaharawan Pengeluaran dalam pencairan anggaran pelaksanaan kegiatan harus memperhatikan. Jadwal waktu pembayaran (kesesuaian dengan jadwal penarikan dana yang tercantum dalam DIPA dan/atau ketepatannya terhadap jadwal waktu pembayaran). 1) Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2) Pedoman Pelaksanaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 62 | P a g e . 6) Menguji apakah surat-surat serta data dukung telah memenuhi persyaratan yaitu dari segi ketelitian. nomor rekening dan nama bank). menyimpan. Bendahara Penerimaan Menerima. membayarkan. ketepatan penjumlahan. 4) Menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. Bendahara Pengeluaran 1) Menerima. pengurangan. apabila persyaratan tersebut diatas tidak terpenuhi. menyimpan. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada satuan kerjanya. 6) Bertanggungjawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya. 3) Menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah pembayaran. mempersiapkan dan menetapkan beberapa dokumen sebagai berikut. f.Pedoman Pelaksanaan Program 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada kantor/Satuan Kerja . 7) Mengonsep dan menandatangani Surat Perintah Membayar (SPM) serta menyampaikan SPM ke KPPN setempat. 3) Menguji kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain : Pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/perusahaan. perkalian. 5) Menguji kemungkinan adanya pemborosan dan in-efisiensi. alamat. e. 4) Menguji pencapaian tujuan/sasaran kegiatan sesuai indikator kinerja yang tercantum dalam DIPA berkenaan dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan. 5) Wajib menolak perintah bayar dari PPK atau KPA. 2) Meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Kuasa Pengguna Anggaran.

Pedoman Pelaksanaan Program 3) 4) 5) 6) 7) Petunjuk Operasional Pelaksanaan (POK) Keputusan penetapan para pelaksana anggaran Membuat specimen bank ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Mengurus Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) ke Kantor Pelayanan Pajak Menyiapkan dan menyelenggarakan Buku Pengawasan Pelaksanaan Anggaran per Mata Anggaran Kegiatan (MAK) 8) Menyiapkan dan meyelenggarakan Buku Pengawasan Uang yang harus dipertanggungjawabkan 9) Menyiapkan Buku Bank 10) Menyiapkan Buku Pungutan Pajak 11) Dan lainnya. Semua barang yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan menjadi milik negara. 2) 3) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 63 | P a g e .4. Jika pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan dapat menghasilkan penerimaan. SKPD yang secara sengaja dan/atau lalai dalam menyampaikan laporan dekonsentrasi dan tugas pembantuan dapat dikenakan sanksi berupa penundaan pencairan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk triwulan berikutnya. sanksi administratif dan ganti rugi yang perlu diperhatikan adalah. Pimpinan Unit Organisasi Kementerian Negara/Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat Daerah yang terbukti melakukan penyimpangan kegiatan anggaran yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam dengan pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sisa/saldo anggaran lebih (SAL) merupakan penerimaan APBN dan disetorkan ke rekening Kas Umum Negara. Sanksi Administratif. maka merupakan penerimaan APBN dan penerimaan tersebut harus disetor ke Kas Umum Negara sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. atau penghentian alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk anggaran berikutnya. 1) Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota yang terbukti melakukan penyimpangan kebijakan yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ketentuan Pidana. dan Ganti Rugi Beberapa ketentuan pidan. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan). yang ketentuan mengenai tata cara pemberian sanksi dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 75. 4.

arahan serta sejenisnya. Dalam melaksanakan pengendalian intern. 4) Memberikan pelatihan. Pengendalian intern dilakukan bukan saja hanya berkaitan dengan aspke program dan anggaran.Pedoman Pelaksanaan Program BAB V PENGENDALIAN. monitoring maupun evaluasi) ke daerah baik dalam bentuk pembinaan. Unsur-unsur yang bertugas melaksanakan pengendalian yaitu : a. terbuka. namun termasuk proses pengambilan keputusan. 2) Melakukan sosialisasi Pedoman sebelum pelaksanaan kegiatan. workshop atau kursus perencanaan program. penyusunan anggaran. keefektifan sumber daya. serta untuk mengatasi dan mencari pemecahan terhadap kendala maupun permasalahan yang mungkin muncul. 3) Kegiatan Pengendalian. maka pengendalian intern perlu dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: a) Mengetahui sejauhmana perkembangan pelaksanaan kegiatan dan anggaran serta ketepatan penggunaan anggaran dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. EVALUASI DAN PELAPORAN 5. c) Mencegah dan mengurangi terjadinya penyalahgunaan anggaran yang tidak sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. 5) Melakukan supervisi (orientasi. sehingga kontrol yang diberikan dapat mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan di daerah. PENGAWASAN. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 64 | P a g e . pelaksanaan dan pelaporan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. kegiatan dan anggaran. 2) penilaian risiko. 4) Informasi dan Komunikasi. Pengendalian Program.1. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah: 1) Memberikan bimbingan pelaksanaan kegiatan teknis melalui penerbitan Pedoman Pelaksanaan sebagai acuan/rambu-rambu operasional kegiatan. dan berbagai hal lainnya. serta 5) Pemantauan Pengendalian Intern. bimbingan. maka mengingat tuntutan agar pengelola dan penerima manfaat kegiatan dan anggaran dapat bekerjasama melaksanakan tugas secara transparan. d) Memanfaatkan tahapan pelaksanaan kegiatan untuk dijadikan bahan masukan dalam penyempurnaan dan evaluasi kegiatan. akuntabel. Kegiatan dan Anggaran Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Kegiatan pengendalian merupakan salah satu unsur pengendalian intern. ada lima (5) unsur pengendalian yang perlu dicermati yaitu 1) lingkungan pengendalian. b) Mengantisipasi secara dini permasalahan dan kendala yang dihadapi sehingga dapat dicari solusi pemecahannya. 3) Memberikan bimbingan penyusunan prosedur tata kerja pelaksanaan program. efektif dan efisien.

2. bantuan/pinjaman luar negeri serta mempunyai peranan strategis terhadap keberhasilan pembangunan tanaman pangan. b. Kegiatan dan Anggaran Pada sistem penganggaran berbasis kinerja. Sistem dan upaya pengawasan terus dikembangkan dan disempurnakan melalui berbagai langkah yang efektif agar dapat mengamankan kebijakan pembangunan tanaman pangan secara berdaya guna dan berhasil guna. pengujian. mempunyai aspek pelayanan masyarakat. kegiatan dan anggaran tahun 2013.Pedoman Pelaksanaan Program 6) Melakukan evaluasi tahunan untuk mengetahui kinerja keseluruhan sebagai dasar perencanaan program. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan reguler yaitu pemeriksaan setempat yang dilaksanakan secara reguler terhadap obyek pemeriksaan lingkup tanaman pangan berdasarkan program kerja pengawasan tahunan. Pengawasan fungsional terhadap program. 2) Menyusun prosedur tatakerja antara propinsi dan kabupaten/kota dengan cara meningkatkan koordinasi dan jaringan kerja. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 65 | P a g e . yaitu pemeriksaan apakah sumberdaya dan dana sudah digunakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai serta pelaksanaannya tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah: 1) Memberikan bimbingan kepada staf secara berjenjang dalam hal administrasi dan teknis pelaksanaan kegiatan di lapangan. sehingga akan dapat memberikan rekomendasi terhadap penyempurnaan pada kegiatan yang akan datang. Obyek pemeriksaan diprioritaskan terhadap obyek yang anggarannya relatif besar. b. Pemeriksaan yang mengarah kepada pelaksanaan wewenang sesuai tugas pokok dan fungsi. Pengawasan Program. kegiatan dan anggaran kinerja. 3) Membentuk Tim Pengendali Internal pelaksanaan kegiatan. Pengawasan ini dapat dilakukan setiap saat selama proses manajemen berlangsung. pengusutan dan penilaian terhadap pengelolaan program. 5. yaitu apakah kegiatan yang dilaksanakan sudah sesuai atau tidak. Sedangkan pengawasan melekat dilakukan Pejabat di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. kegiatan pengawasan fungsional pembangunan tanaman pangan masih tetap dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian. a. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi: Pemeriksaan kinerja aparat pengelola kegiatan. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan juga dilakukan secara eksternal oleh aparatur pengawasan seperti BPK. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan. BPKP dan Bawasda.

termasuk dalam menilai kinerja instansi yang melaksanakannya. Pemeriksaan khusus dilaksanakan sewaktu-waktu melalui pengujian dan pendalaman untuk memperoleh kejelasan suatu informasi yang bersumber dari laporan masyarakat atau pengembangan dari pemeriksaan reguler yang dipandang perlu terhadap adanya dugaan terjadinya tindak pidana/ penyalahgunaan wewenang. Memperjelas status jenis. b. Efisiensi (daya guna) diukur dengan cara membandingkan antara keluaran yang dihasilkan dengan masukan yang telah dikeluarkan. c. kegiatan dan anggaran dilakukan dengan pendekatan indikator kinerja menggunakan alat ukur kerangka kerja logis (masukan. Monitoring dan Evaluasi 5.Pedoman Pelaksanaan Program c. Membangun konsensus untuk menghindari kesalahan interpretasi selama pelaksanaan kegiatan. d. Membangun dasar bagi pengukuran. kuantitas dan waktu suatu kegiatan dilaksanakan. sedangkan efektivitas (hasil guna) dilakukan dengan mengukur sejauhmana hasil telah dicapai. hasil.3. Indikator kinerja ini digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. analisis dan evaluasi kinerja suatu instansi/organisasi. Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja Pembangunan Tanaman Pangan Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas NILAI MASUKAN (Rp) MASUKAN PROSES KELUARAN HASIL TUJUAN EKONOMIS (HEMAT) EFISIENSI (DAYA GUNA) EFISIENSI PEMBIAYAAN EFEKTIVITAS (HASIL GUNA) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 66 | P a g e . keluaran. manfaat dan dampak). Ukuran efisiensi dan efektivitas secara skematis dapat dilihat pada gambar 5 berikut: Gambar 5. Penilaian kinerja pelaksanaan pembangunan tanaman pangan diukur dengan menggunakan indikator kinerja. Pemeriksaan akuntabilitas kinerja dimana instansi pelaksana kegiatan mempertanggung jawabkan wewenang dan tugas pokok dan fungsi instansi tersebut. Indikator kinerja ditetapkan untuk: a. Evaluasi pelaksanaan program. Pengukuran efisiensi secara ekonomis dilakukan dengan cara menilai penggunaan masukan yang paling ekonomis untuk mencapai keluaran tertentu.

Sesuai dengan pelaksanaan monitoring. Masing-masing penanggung jawab kegiatan juga harus melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. yang selanjutnya Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyampaikan laporan kepada Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian. sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Evaluasi dilakukan di masing-masing Satker Provinsi. 5. Melalui laporan ini juga akan dapat dilihat sejauh mana tingkat keberhasilannya. aparat pelaksana kegiatan di provinsi dan kabupaten/kota wajib membuat laporan ke pusat. Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan pembangunan pertanian kepada Menteri Pertanian. Materi evaluasi mencakup aspek administrasi. Selanjutnya Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 menyebutkan laporan kinerja dievaluasi dan dilaporkan kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan) dan menjadi masukan serta bahan pertimbangan untuk analisis dan evaluasi alokasi anggaran tahun 2013. tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. kegiatan dan anggaran ini. Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota dilakukan secara berjenjang yaitu dari Dinas pertanian kabupaten/kota menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota dan tembusan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 67 | P a g e . Evaluasi awal dan evaluasi saat pelaksanaan kegiatan sedang berjalan dapat dilakukan bersamaan dengan monitoring pelaksanaan kegiatan. tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. evaluasi dan pelaporan. menyebutkan SKPD wajib menyusun laporan pertanggungjawaban serta menyampaikannya setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan). Pelaporan hasil pelaksanaan program. kegiatan dan anggaran secara menyeluruh dilakukan oleh Tim. Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan propinsi dilakukan secara berjenjang dari Dinas pertanian provinsi menyampaikan laporan kepada Gubernur dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Pelaporan Berdasarkan pasal 33 ayat 1 (a) dan pasal 60 ayat 1 (c) Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 2008. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. aspek teknis dan anggaran. sedang pelaksanaan kegiatan (on-going) dan evaluasi akhir (ex-post). Evaluasi program. dan Kabupaten/Kota.07/2010.Pedoman Pelaksanaan Program Evaluasi dapat dilakukan pada saat awal kegiatan (ex-ante). merupakan penyampaian informasi serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak dari persiapan kegiatan sampai akhir pelaksanaan.4.

Pedoman Pelaksanaan Program Pangan dan Dinas pertanian provinsi. Kinerja penyampaian laporan akan dijadikan salah satu dasar penentuan anggaran tahun 2013 sebagai penerapan azas reward and punishment. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 68 | P a g e . baik untuk anggaran dekonsentrasi. Dinas pertanian provinsi merekapitulasi laporan dari seluruh kabupaten/kota dalam propinsi bersangkutan dan menyampaikan laporan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dan Bupati/Walikota selaku penerima penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan menyampaikan laporan pertanggungjawaban akhir seluruh pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari anggaran dimaksud kepada Menteri Pertanian. Laporan yang disampaikan. Gubernur selaku penerima pelimpahan anggaran dekonsentrasi dan penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan. misalnya bila ada permasalahan yang dihadapi baik dalam aspek adminsitrasi dan keuangan maupun teknis pelaksanaan kegiatan juga bisa disampaikan ke Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Setelah menerima laporan dari kabupaten/kota. meliputi laporan manajerial dan laporan akuntabilitas yang dilakukan setiap bulan. Format pelaporan dan waktu penyampaian laporan manajerial dan laporan akuntabilitas akan ditetapkan lebih lanjut oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian. yang selanjutnya menyampaikan laporan ke Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian. tugas pembantuan provinsi maupun tugas pembantuan kabupaten/kota. triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran. yaitu laporan yang disampaikan jika terjadi sesuatu yang bersifat insidentil (mendesak). Laporan insidentil.

Pedoman Pelaksanaan Program
BAB VI PENUTUP Keberhasilan pelaksanaan program, kegiatan dan anggaran berbasis kinerja sangat tergantung pada komitmen dan konsistensi baik aparatur negara, kepercayaan masyarakat serta motivasi peningkatan kualitas kinerja pemerintah. Untuk itu, perlu terus ditingkatkan keterpaduan pelaksanaan pembangunan tanaman pangan melalui pemantapan sistem dan metoda perencanaan, peningkatan kualitas sumberdaya manusia, penataan kelembagaan, dan peningkatan koordinasi antar instansi terkait. Pedoman ini merupakan acuan bagi semua pihak terkait dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan. Pedoman ini akan dilengkapi dengan Pedoman yang bersifat teknis dari masing-masing kegiatan. Sebagai tindak lanjut diterbitkannya seluruh Pedoman dimaksud, kepada daerah diberikan keleluasaan untuk menjabarkannya lebih lanjut ke dalam Petunjuk/Pedoman Teknis sesuai dengan keragaman karakteristik dan kondisi setempat. Keberhasilan pembangunan tanaman pangan sangat tergantung kepada komitmen semua pihak terkait dalam melaksanakan kegiatan pembangunan tanaman pangan secara terpadu. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan berbagai butir-butir untuk dilaksanakan dan sekaligus dirinci dalam pedoman pelaksanaan kegiatan dan/atau pedoman teknis.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 69 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 70 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 1. Daftar Satuan Kerja (Satker) dan Kode Satker di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota TA. 2012
NO. 1. 1. 2. 2. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 3. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 KODE SATKER DKI JAKARTA 010082 010091 JAWA BARAT 020069 020534 020614 020730 020823 020932 021009 021107 021241 021334 021439 021510 021614 021714 021816 021933 022024 022102 025312 026009 JAWA TENGAH 030010 030106 030203 030309 030403 030505 030627 030729 030830 030932 031024 031104 031217 031313 031429 031532 031635 031703 031812 031934 032030 032118 032203 032305 NAMA SATKER Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan & Hortikultura DKI Jakarta Dinas Kelautan Dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab Bogor Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Sukabumi Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Cianjur Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bekasi Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Karawang Dinas Pertanian, Kehutanan Dan Perkebunan Kab Purwakarta Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Subang Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bandung Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sumedang Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Garut Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Ciamis Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan Dan Kehutanan Kab. Cirebon Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kab Kuningan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Indramayu Dinas Pertanian Kab Majalengka Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bandung Barat Dinas Pertanian Kota Sukabumi Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Tasikmalaya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Jawa Tengah Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Semarang Dinas Pertanian Kabupaten Kendal Dinas Pertanian Kab Demak Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Grobogan Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Pekalongan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batang Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Tegal Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Brebes Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Pati Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Kudus Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Pemalang Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Jepara Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Rembang Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Blora Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Banyumas Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Cilacap Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Magelang Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Temanggung Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Wonosobo Dinas Pertanian Kabupaten Purworejo Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Kebumen

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 71 | P a g e

Jombang 050509 Dinas Pertanian Kabupaten Sampang 050611 Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan 050708 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sumenep 050836 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangkalan 050908 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Bondowoso 051007 Dinas Pertanian Kabupaten Situbondo.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sidoarjo 050448 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Aceh Besar Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Pidie Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab Aceh Utara Dinas Pertanian Dan Hortikultura Kab Aceh Timur Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Selatan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Aceh Tengah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Aceh Tenggara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Simeulue Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Aceh Singkil Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 72 | P a g e . Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Boyolali 032637 Dinas Pertanian Kab. 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 6. Yogyakarta 040138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Bantul 040227 Dinas Pertanian. 051139 Dinas Kehutanan. 47 48 49 50 51 52 4. Karanganyar 032907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Wonogiri DI. YOGYAKARTA 040070 Dinas Pertanian Provinsi D. Banyuwangi. Klaten 032505 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab.I. Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Sleman 040324 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. 53 54 55 56 57 5. 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 KODE SATKER NAMA SATKER 032430 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Gunung Kidul 040432 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Kulonprogo JAWA TIMUR 050004 Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur 050132 Dinas Pertanian. Pertanian Dan Urusan Ketahanan Pangan Kab. 051342 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Malang 051414 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan 051508 Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo 051635 Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang 051704 Dinas Pertanian Kabupaten Kediri 051815 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulung Agung 051936 Dinas Pertanian Daerah Kab Nganjuk 052031 Dinas Pertanian Kehutanan Dan Perkebunan Kab Trenggalek 052103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Blitar 052214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Madiun 052330 052407 052504 052604 052739 052832 052930 ACEH 060060 060106 060216 060317 060415 060517 060621 060714 060813 060916 061021 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ngawi Dinas Pertanian Kabupaten Magetan Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Pacitan Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro Dinas Pertanian Kabupaten Tuban Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Lamongan Dinas Pertanian Provinsi Aceh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Sragen 032727 Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo 032812 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Gresik 050208 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Mojokerto 050322 Dinas Pertanian. 051217 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Jember.

Langkat 070432 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Gayo Luwes 061412 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Jaya 061504 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perkebunan Kota Pariaman Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 73 | P a g e . Humbang Hasundutan 072018 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Serdang Bedagai 072103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Padang Pariaman 080631 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura. 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 KODE SATKER NAMA SATKER 061106 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Pesisir Selatan 080711 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tanah Datar 080823 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Sijunjung 081019 Dinas Pertanian Kabupaten Dharmas Raya 081214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Dan Peternakan Kab. Hortikultura Perkebuan Dankehutanan Kab. Padang Lawas 072301 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tapanuli Tengah 070513 Dinas Pertanian Kab Simalungun 070607 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kab. Peternakan. Peternakan. Kehutanan Dan Peternakan Kab. Pasaman Barat 085538 Dinas Pertanian. Pakpak Barat 071604 Dinas Pertanian Kab. Kelautan Dan Perikanan Kab. Tanaman Pangan. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Bireun 061207 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Daya 061315 Dinas Pertanian Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Nias Selatan 071525 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. 99 100 101 102 103 104 105 106 107 7. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Samosir 071231 Dinas Pertanian Kab Toba Samosir 071331 Dinas Pertanian Kab. Nias Utara 072703 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kota Padang 085604 Dinas Pertanian Kota Payakumbuh 085708 Dinas Pertanian. Nagan Raya 061604 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Labuhan Batu Utara 072603 Dinas Pertanian. Asahan 071152 Dinas Pertanian Kab Nias 071228 Dinas Pertanian. Tapanuli Selatan 071032 Dinas Pertanian Kab.Mandailing Natal 071411 Dinas Pertanian. 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 8. Peternakan. Peternakan Dan Perikanan Kab Bener Meriah 061802 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pidie Jaya 065602 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Subulussalam SUMATERA UTARA 070049 Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara 070108 Dinas Pertanian Kab. Labuhan Batu 070730 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan. Perikanan Dan Kehutanan Kota Padang Sidempuan SUMATERA BARAT 080008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat 080129 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Agam 080222 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Pasaman 080321 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Limapuluh Kota 080408 Dinas Pertanian. Padang Lawas Utara 072502 Dinas Pertanian Kab. Aceh Tamiang 061709 Dinas Pertanian Tp. Batubara 072201 Dinas Pertanian Darah Kab. Deli Serdang 070239 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Karo 070305 Dinas Pertanian Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Solok Selatan 080418 Dinas Pertanian Dan Perikanan Kab Solok 080522 Dinas Pertanian.Peternakan. Dairi 070807 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Tapanuli Utara 070907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Nias Barat 075714 Dinas Pertanian.

160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 11. Indragiri Hulu 090436 Dinas Tanaman Pangan. Lampung Barat 120503 Dinas Pertanian. Pesawaran 121005 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti JAMBI 100008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jambi 100130 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Perikanan Dan Kehutan Kota Sungai Penuh SUMATERA SELATAN 110005 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Sumatera Selatan 110328 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Musi Banyuasin 110416 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ogan Komering Ulu 110503 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tanjung Jabung Timur 100816 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Pelalawan 090715 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Rokan Hulu 090816 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tanggamus 120739 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Timur ( 03 ) 120822 Dinas Pertanian. Hortikultura Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kota Pagar Alam 115518 Dinas Tanaman Pangan. Muara Enim 110608 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lahat 110703 Dinas Tanaman Pangan Dan Holtikultura Kabupaten Musi Rawas 110809 Dinas Pertanian Kab. Perikanan Dan Peternakan Kab. 9. Batanghari 100237 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Pringsewu 121101 Dinas Pertanian. Indragiri Hilir 090616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Peteranakan Dan Perikanan Kab Siak 091214 Dinas Tanaman Pangan Kab. Tanjung Jabung Barat 100317 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tulang Bawang Barat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 74 | P a g e . Lampung 120108 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Selatan 120207 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Tengah 120330 Dinas Pertanian Kab. Kehutanan Dan Perkebunan Kota Lubuk Linggau LAMPUNG 120004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Prov. Bungo 100418 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan & Kehutanankabupaten Tulang Bawang 120625 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Oku Selatan 111210 Dinas Pertanian. Kehutanan. Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Kampar 090239 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkalis 090435 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Sarolangun 100530 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kabupaten Kerinci 100616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Rokan Hilir 090932 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Ogan Ilir 111702 Dinas Tanaman Pangan. Peternakan &Perikanan Kabupaten Way Kanan 120903 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 KODE SATKER NAMA SATKER RIAU 090072 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Riau 090118 Dinas Pertanian. Empat Lawang 115138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kota Palembang 115413 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Kuantan Sengingi 091308 Dinas Pertanian . 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 10. 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 12. Ogan Komering Ilir 110916 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banyuasin 111009 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Oku Timur 111104 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Lampung Utara 120427 Dinas Pertanian Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab. Tebo 100915 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi 105134 Dinas Pertanian Kota Jambi 105202 Dinas Pertanian. Mesuji 121201 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Merangin 100717 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab.

239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 KODE SATKER NAMA SATKER KALIMANTAN BARAT 130071 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat 130105 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Barito Utara 140308 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Barito Selatan 140408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Timur 140429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat 140606 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seruyan 140612 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Perikanan Dan Kelautan Kab. Kelautan Dan Perikanan Kab. Malinau 160705 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kabupaten Kutai Timur 160721 Dinas Perkebunan. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sintang 130404 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pontianak 130506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Kapuas Hulu 130635 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Ketapang 130729 Dinas Pertanian Kabupaten Bengkayang 130814 Dinas Pertanian Kab Landak 130904 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab Murung Raya 141306 Dinas Pertanian. Kutai Barat 160807 Dinas Pertanian. Peternakan. Tana Tidung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 75 | P a g e . Sanggau 130306 Dinas Pertanian. 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 15. Perikanan Dan Peternakan Kab. Penajam Paser Utara 161013 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kutai Kartanegara 161204 Dinas Pertanian. 13. Sukamara 140908 Dinas Pertanian. Balangan KALIMANTAN TIMUR 160059 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Prop. Sambas 130237 Dinas Pertanian. Tabalong 150735 Dinas Pertanian Kabupaten Kotabaru 150934 Dinas Pertanian Tp Dan Hortikultura Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Melawi 131004 Dinas Pertanian. Hulu Sungai Utara 151006 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Tanah Bumbu 151105 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura . Peternakan Dan Perikanan Kab. Sekadau 131102 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Nunukan 160518 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab. 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 16. 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 14. Perikanan Dan Peternakan Kab. Banjar 150213 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Perkebunan Kabupaten Tanah Laut 150330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tapin 150428 Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Selatan 150504 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Hulu Sungai Tengah 150509 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Barito Kuala 150730 Dinas Tanaman Pangan. Kalimantan Timur 160230 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Tanah Grogot Kabupaten Paser 160330 Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan 160406 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Berau 160505 Dinas Pertanian. Kayong Utara 131201 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Lamandau 141006 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Gunung Mas 141007 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pulang Pisau 141107 Dinas Pertanian. Kubu Raya KALIMANTAN TENGAH 140004 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah 140137 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kapuas 140232 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab. Katingan 140811 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Barito Timur KALIMANTAN SELATAN 150002 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Propinsi Kalimantan Selatan 150058 Dinas Pertanian. Kehutanan. Tanaman Pangan.

Bolaang Mongondow Utara 171303 Dinas Kelautan. 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 20. Pertanian Dan Kehutanan Kab. Bolaang Mongondow Timur 175401 Dinas Pertanian Kota Kotamobago SULAWESI TENGAH 180039 Dinas Pertanian Daerah Provinsi Sulawesi Tengah 180071 Dinas Pertanian Kabupaten Poso 180205 Dinas Pertanian. 297 298 299 KODE SATKER NAMA SATKER SULAWESI UTARA 170052 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara 170085 Dinas Pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Peternakan Dan Perkebunan Kab. 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 19. Pangkep 191903 Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Soppeng 192106 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Enrekang 192215 Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara 192420 Dinas Pertanian. Perikanan. Bolaang Mongondow Selatan 171403 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kab. Minahasa Tenggara 171163 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Minahasa 170240 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bolaang Mongondow 170330 Dinas Pertanian Kabupaten Sangihe 170605 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Minahasa Selatan 170704 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kota Tomohon 170706 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Minahasa Utara 171008 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kab. 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 18. Kepulauan Selayar 191524 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Takalar 191620 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Barru 191713 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sidrap 191829 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. 17. Banggai Kepulauan 180806 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Parigi Moutong 180908 Dinas Pertanian. Perkebunan &Peternakan Kabupaten Luwu Timur 192501 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Morowali 180706 Dinas Pertanian. Kehutanan. Tojo Una-Una 181202 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Hortikulutura Dan Peternakan Kabupaten Luwu 191018 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sinjai 191107 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Bulukumba 191214 Dinas Pertanian & Kehutanan Kabupaten Bantaeng 191310 Dinas Pertanian Kabupaten Jeneponto 191427 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Buol 180605 Dinas Pertanian. Perkebunan. Sigi SULAWESI SELATAN 190049 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan 190058 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sidrap 190104 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pinrang 190207 Dinas Pertanian Kabupaten Gowa 190304 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Wajo 190503 Dinas Pertanian Tanaman Pangan &Hortikltura Kabupaten Bone 190606 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Toraja Utara 195317 Dinas Pertanian & Peternakan Kota Palopo SULAWESI TENGGARA 200071 Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara 200208 Dinas Pertanian Kabupaten Buton 200305 Dinas Pertanian Kabupaten Muna Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 76 | P a g e . Tana Toraja 190713 Dinas Pertanian Kabupaten Maros 190918 Dinas Tanaman Pangan. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Donggala 180304 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Toli-Toli 180408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banggai 180524 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab.

Belu 240330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab. 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 KODE SATKER 200444 200507 200627 200809 200909 201003 MALUKU 210003 210103 210230 210309 210410 NAMA SATKER Dinas Pertanian. Perkebunan. Perhutanan Dan Perkebunan Kabupaten Gianyar 220506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Karangasem 220610 Dinas Pertanian. Lombok Utara 235106 Dinas Pertanian. 315 316 317 318 319 320 321 322 323 23. Kehutanan. Dan Kelautan Kabupaten Jembrana 220307 Dinas Pertanian. Maluku Barat Daya 211002 Dinas Pertanian. Peternakan. Ngada 241047 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Manggarai 241103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sumba Timur 241206 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sumba Barat 241318 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Kelautan Dan Perikanan Kab. Konawe Utara Dinas Pertanian Provinsi Maluku Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Maluku Tengah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Kolaka Utara Dinas Pertanian Kab Konawe Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Kehutanan. Kolaka Dinas Pertanian Kabupaten Konawe Selatan Dinas Pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Bombana Dinas Perkebuanan Dan Hortikultura Kab. Timor Tengah Utara 240407 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Perkebunan Dan Perhutanan Kab Bangli 220741 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutana Kab Badung 220807 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kabupaten Tabanan NUSA TENGGARA BARAT 230004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Prov Nusa Tenggara Barat 230116 Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat 230208 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah 230306 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur 230421 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Bima 230535 Dinas Pertanian. Buru Selatan BALI 220074 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali 220103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Buleleng 220204 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sikka 240704 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Flores Timur 240806 Dinas Pertanian. Timor Tengah Selatan 240540 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Alor 240617 Dinas Pertanian. 300 301 302 303 304 305 21. Hortikultura Dan Peternakan Kab. Maluku Tenggara Barat Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Pulau Buru 210610 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Barat 210710 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Timur 210904 Dinas Pertanian Kab. Kelautan Dan Perikanan Kab. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Perkebunan Dan Hortikultura Kab. Kehutanan. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Kupang 240203 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 24. Lembata 241412 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Klungkung 220403 Dinas Pertanian. Tanaman Pangan Kabupaten Sumbawa 230616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Dompu 230715 Dinas Kehutanan. Perkebunan & Pertanian Kab Sumbawa Barat 230802 Dinas Pertanian . 306 307 308 309 310 311 312 313 314 22. Maluku Tenggara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hrotikultura Dan Peternakan Kab. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Ende 240904 Dinas Pertanian. Kelautan Dan Perikanan Kota Mataram 235206 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kota Bima NUSA TENGGARA TIMUR 240072 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur 240103 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Rote Ndao Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 77 | P a g e .

350 351 352 353 354 25. Bengkulu Selatan 260335 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Perkebunan. Sumba Tengah 241902 Dinas Pertanian Kab. 380 381 382 383 384 385 29. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. Nagekeo 241802 Dinas Pertanian. Sumba Barat Daya 242002 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 300223 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka 300505 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka Selatan GORONTALO 310005 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo 310106 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Gorontalo 310207 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Boalemo 310306 Dinas Pertanian Kab. 373 374 375 376 377 378 379 28. 355 356 357 358 359 360 361 26. Pohuwato 310407 Dinas Pertanian. Halmahera Utara 280405 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Selatan 280613 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Timur 280705 Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Barat 280808 Dinas Pertanian. Halmahera Tengah 280314 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bone Bolango 310704 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Ketahanan Pangan Kab. 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 27. Perikanan Dan Kelautan Kab. 386 387 388 30. Kehutanan. 389 390 391 392 393 394 31. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Pulau Morotai BANTEN 290006 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Banten 290106 Dinas Pertanian Kabupaten Serang 290240 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Manggarai Timur PAPUA 250034 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Papua 250108 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Kehutanan. Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Riau Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 78 | P a g e . Gorontalo Utara KEPULAUAN RIAU 320017 Dinas Pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program NO. 395 KODE SATKER NAMA SATKER 241503 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Kelautan Kab. Perkebunan. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Manggarai Barat 241705 Dinas Pertanian. Bengkulu Tengah 265109 Badan Ketahanan Pangan Dan Pelaksana Penyuluhan Kota Bengkulu MALUKU UTARA 280055 Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara 280239 Dinas Pertanian & Peternakan Kab. Pandeglang 290304 Dinas Pertanian Kabupaten Lebak 290429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Tangerang 295301 Dinas Pertanian Kota Serang KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 300062 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab Keerom 255134 Dinas Pertanian Kota Jayapura BENGKULU 260003 Dinas Pertanian Propinsi Bengkulu 260103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkulu Utara 260204 Dinas Pertanian Kab. Jayapura 250746 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Merauke 250806 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab Jayawijaya 251036 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Nabire 251706 Dinas Pertanian. Rejang Lebong 260407 Dinas Pertanian Kabupaten Seluma 260506 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kaur 260613 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Muko-Muko 260711 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lebong 260813 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Kepahiang 260903 Dinas Pertanian.

Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Manokwari Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sorong Dinas Pertanian Kabupaten Sorong Selatan Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Teluk Bintuni Dinas Pertanian. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat Dinas Pertanian. Kehutanan Dan Perikanan Kabupaten May Brat SULAWESI BARAT 340042 Dinas Pertanian Dan Peternakan Propinsi Sulawesi Barat 340106 Dinas Pertanian. 396 397 398 399 400 401 402 33. Perkebunan Dan Hortikultura Kab Mamasa Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 79 | P a g e . 403 404 405 406 407 408 KODE SATKER PAPUA BARAT 330047 330136 330238 330412 330604 330716 331006 NAMA SATKER Dinas Pertanian. Polewali Mandar 340509 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Majene 340206 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Mamuju 340303 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Mamuju Utara 340407 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Peternakan. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. 32. Teluk Wondama Dinas Pertanian. Perkebunan.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Peternakan.

18. 4. 16. 7. Agenda Perencanaan Nasional No. 17. 13. 19. Agenda Musrenbangtan Tingkat Kabupaten/Kota Musrenbangtan Tingkat Provinsi Penetapan Pagu Indikatif Musrenbangtan Nasional Penyusunan Renja KL Penelaahan Renja KL oleh Bappenas dan Kemenkeu SK Menkeu tentang Penetapan Pagu Sementara Penyesuaian Renja menjadi RKA-KL Pembahasan RKA-KL dengan DPR Penelaahan RKA-KL oleh Bappenas dan Kemenkeu Nota Keuangan dan RUU RAPBN Penetapan UU APBN Penetapan Pagu Indikatif Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL di Ditjen Anggaran Kemenkeu Penelaahan DIPA – SRAA di Ditjen Anggaran Kemenkeu Penetapan Perangkat Pengelola Keuangan dan Penyampaian ke Menteria Pertanian Penerbitan SRAA oleh Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu Penerbitan DIPA Penetapan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan/Teknis oleh Kementerian dan Unit Eselon I Waktu Pertengahan Maret Akhir Maret Maret Awal April April Mei Juni Juni Juli Juli Agustus September Oktober Oktober-November NovemberDesember NovemberDesember Desember Akhir Desember Akhir Desember Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 80 | P a g e . 14. 2.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 2. 11. 12. 6. 5. 1. 9. 8. 3. 15. 10.

1. Lampung. Kalsel. Div re Bulog Dinas Provinsi Dinas Provinsi. 1. Riau. Kabid Tanaman Pangan / Kasie Benih Ka BPSBTPH. Kalsel. Penyuluh BPTPH BPTPH Dinas Provinsi. Pertemuan apresiasi penanganan April pascapanen tanaman pangan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan Rakor Regional II (Bengkulu. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Sinkronisasi Program dan Kegiatan Peb. III. 1. Sumbar. Maret April Sept. Lampung. Sumut. Banten. BPTPH. BPSBTPH. Sulsel. 4. Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Waktu Februari Lokasi Jatim Peserta Dinas Provinsi. Papua Barat. 1. V. Div re Bulog Dinas Provinsi. 2012 Koordinasi Penyusunan ASEM 2011 dan Maret ARAM I 2012 Makasar 2. Kalsel Bali Jakarta Bandung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 81 | P a g e . Maret Mei Juni Juli Jabar DIY Jatim Sulsel Bali Jatim DIY Jatim Peb. 3. Kalbar) Koordinasi Teknis Perbenihan Sosialisasi pengawasan. Sumsel. NTB. Tanaman Pangan TA. Koordinator PBT BPSBTPH. stakeholders Dinas Provinsi. BPSBTPH. BPSBTPH. BBI. BBPOPT. Peb. DI Yogyakarta. Jabar. Bakorluh Dinas Provinsi. 2. Papua) Koordinasi pengembangan agribisnis kedelai Koordinasi pengemb. Kalteng) Sosialisasi P2BN Pemantapan Pelaksanan P2BN Pertemuan adopsi teknologi budidaya serealia Rapat evaluasi P2BN Direktorat Aneka Kacang dan Umbi Rakor Regional V (Bali. Div re Bulog Dinas Provinsi. BPMPT Ka BPSBTPH. 4. Dinas Kabupaten. Nov. VI. 3. Mei Peb. BPS Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Rakor Regional IV (Sulut. 3. Riau 2. Maluku. BPTPH. Sumut. agribisnis aneka kacang & umbi Koordinasi& sosialisasi pengembangan kedelai melalui PAT Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Rapat Regional I (Aceh. Bakorluh Dinas Provinsi Dinas 12 Provinsi (Aceh. Sumsel. BPSBTPH. Jambi. Sulsel. 5. Sultra. BPTPH. Malut. Ka BBI. Peb. BPTPH. Dinas Kab. II. Jateng. 1. Dinas Kabupaten. Dinas Kabupaten. BPTPH.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 3. Jatim. Sulbar) Koordinasi teknis perlindungan tanaman Maret Evaluasi kegiatan perlindungan tanaman Nov. stakeholders Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Direktorat Budidaya Serealia Rakor Regional III (Jateng. Bakorluh Dinas Provinsi. DIY. Jabar. I. No. Babel. BBPPMBTPH. NTB) Dinas Provinsi 4. 2. NTT. Banten. Gorontalo. Kaltim. 1. IV. 4. penyaluran benih bersubsidi & bantuan benih Forum Perbenihan Maret April Agst Jabar Sumsel 2. BPTPH. stakeholders Dinas Provinsi. Sulteng. 3. BPSBTPH Dinas Provinsi. BPSBTPH. Kepri) Koordinasi/workshop penanganan pascapanen tanaman pangan Pertemuan persiapan survey susut hasil 2. 3. Sulsel Jabar Sumut Dinas Provinsi. Jatim. BUMN. DIY NTB Dinas Provinsi. Produsen Benih Dinas Provinsi.

BPSBTPH. 10. BPTPH. NTB Sulsel DIY DIY Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. Okt. 7.Pedoman Pelaksanaan Program No.2012 Penyusunan RKA-KL pagu Definitif TA 2013 Waktu Maret Lokasi Medan Peserta Dinas Provinsi. BPS Dinas Provinsi. Okt. BPTPH. BPSBTPH Dinas Provinsi. BPTPH. Nov. BPSBTPH Dinas Provinsi.BPTPH. 14. BPSBTPH Dinas Provinsi. Stakeholders Dinas Provinsi. BPSBTPH 4. 5. 6. BPTPH. 12.BPTPH. BPSBTPH Dinas Provinsi. BPSBTPH Dinas Provinsi Dinas Provinsi. BBI Dinas Provinsi. BPTPH. Bandung Jateng Bali Palembang Bali Jakarta Kalsel 11. 9. 3. BPSBTPH Dinas Provinsi. Bendahara) Koordinasi Pelaporan dan SPI Koordinasi Penyusunan ATAP 2011 dan ARAM II 2012 Penyusunan RKA-KL Pagu Sementara TA 2013 Kerjasama Kemitraan Tanaman Pangan Workshop Penyusunan Laporan SAK / Pertemuan Update Program SIMONEV Wilayah Barat dan Timur Koordinasi Penyusunan ARAM III Tahun 2012 Workshop Penyusunan Laporan SIMAKBMN Evaluasi Program dan Kegiatan TA. 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 82 | P a g e . Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Koordinasi Penyusunan Rancangan Program dan Kegiatan Tanaman Pangan 2013 TOT Refreshing Pengolah data Statistik Rakor Bidang Keuangan (Penerbit SPM. Sept. BPTPH. 13. BPS Dinas Provinsi. April Mei Juni Juni Juni Juli Sept. 8.

3. PERLINDUNGAN. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 83 | P a g e . PERLINDUNGAN. 2. PERUMUSAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN. STANDAR. PERLINDUNGAN. BUDIDAYA. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. PROSEDUR. 4. PENYUSUNAN NORMA. PERLINDUNGAN DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. BUDIDAYA. PELAKSANAAN ADMINISTRASI DIREKTORAT JENDERALTANAMAN PANGAN. Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TUGAS DAN FUNGSI DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TUGAS : MERUMUSKAN SERTA MELAKSANAKAN KEBIJAKAN DAN STANDARDISASI DI BIDANG TANAMAN PANGAN FUNGSI : 1. BUDIDAYA. DAN 5. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. PELAKSANAAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN. BUDIDAYA. PEMBERIAN BIMBINGAN TEKNIS DAN EVALUASI DI BIDANG PERBENIHAN. DAN KRITERIA DI BIDANG PERBENIHAN.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 4.

3. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN 8. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA 1. 4. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN 7. SUBBAGIAN TATA USAHA. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 84 | P a g e . 3. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI 5. 2. SUBDIREKTORAT PADI IRIGASI DAN RAWA. BAGIAN UMUM 4. SUB DIREKTORAT PRODUKSI BENIH ANEKA KACANG DAN UMBI. DAN 6. 4. SUBDIREKTORAT PADI TADAH HUJAN DAN LAHAN KERING. SUBDIREKTORAT JAGUNG. BALAI PENGUJIAN MUTU PRODUK SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL 1. 3. DAN 5. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN 1. BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH 9. Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN: 1. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN 3. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI 1. SUBDIREKTORAT UBI KAYU. DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 6. BAGIAN EVALUASI DAN PELAPORAN. SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL 2. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI. SUBBAGIAN TATA USAHA. SUBDIREKTORAT KELEMBAGAAN BENIH. DAN 5.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 5. SUBDIREKTORAT KEDELAI. DAN 5. BAGIAN KEUANGAN DAN PERLENGKAPAN 3. 2. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. 2. DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA 4. 4. SUBDIREKTORAT ANEKA KACANG. SUBDIREKTORAT PENILAIAN VARIETAS DAN PENGAWASAN MUTU BENIH. SUBDIREKTORAT SEREALIA LAIN. SUBDIREKTORAT PRODUKSI BENIH SEREALIA. 5. SUBBAGIAN TATA USAHA. BAGIAN PERENCANAAN 2.

SUBDIREKTORAT TEKNOLOGI PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN. KEPALA BIDANG PROGRAM DAN EVALUASI 3. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU 5. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN 1.Pedoman Pelaksanaan Program DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 1. KEPALA BIDANG PELAYANAN TEKNIK. SUBDIREKTORAT KEDELAI DAN ANEKA KACANG. 2. DAN 6. SUBDIREKTORAT DAMPAK PERUBAHAN IKLIM. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN 1. 4. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN DATA ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN. KEPALA BIDANG INFORMASI DAN JARINGAN LABORATORIUM Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 85 | P a g e . 3. 2. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. INFORMASI DAN DOKUMENTASI BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH 1. DAN 6. KEPALA BAGIAN UMUM 2. 3. 4. 5. SUBBAGIAN TATA USAHA. KEPALA BAGIAN UMUM 2. SUBDIREKTORAT PADI. SUBDIREKTORAT JAGUNG DAN SEREALIA LAIN. SUBBAGIAN TATA USAHA.

401 165. 26.99 457.365 233.74 3.148 1. 20. 28.256 40.65 241.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT PAPUA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 86 | P a g e .980 877.610. 29.27 152.687.084. 10.752 3. N.54 1. 17.321.745 39.913.88 169.426 784.040 634.079 407. 2.T.940 58.006 17.33 60.749. 6. 23.899 54. 16.17 1.32 1.235 NO 1. BALI & N.975 1.801 46.850 2.290 12.538 321. 14.034 475.66 432.599 47. 11.675 2.250 335.20 2.24 89.T. dan Produksi Padi Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (HA) (KU/HA) 381.844 159. 18.091 19.257 38. 13.000 2.720 50.026.59 18.310.950 12.078 497.333 45.415. 27.88 515.100.556.272 68.691 437.760 408.271.145 639.570 4.366.693 794.670 529. 25.13 PRODUKSI (TON) 1.249 72.142.705 3.080 2.821 52.510 48.251.12 209.14 1. 31.925.255 2.262 40.767.141 39.95 2.85 627. 15.74 10.040 4.602 443.666 50.765 4.472.14 127.244 134.194.281 221.47 798.110 52.629 56.796 1.066 77.19 78.515 49.510.266. 9.994 8.22 6.B.434 7.000 10.026. SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N. 19. 12.T.099 52.703 10.365 41.967.325 46.039. 4.75 156.00 410 395 50.022.568 115.115 92.385 1.014 46.530 40.216 62.270 30.016 85.561.399 630.660 625.679 126.21 132.933. 24.708 195.765 38.10 134.037. 8.78 822.171 6.936 47. PROVINSI N. 22.300.769 33.669 53.740 33.186 49. 3.380 38.450.529 51.978.59 7.528 60.771 13.028 151.55 957.860 46.129.19 20.52 155.893.68 14.572.07 29.291 383.24 477.967 1.068.348 28.050 3.000 611.468.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 6.98 164. 21.540 42.310 67.770.995.396 47.865 53. 30. Luas Panen.83 13. 33. 7.452 32.550 7.227 47.514 36.824 641.746 10. 32.173 770.059 59.033 149.985 859.608. 5.594 62.206 148.58 412.691 49.600 509. Sasaran Luas Tanam.669 40.780 708.805 1.003 17.809 924. Produktivitas.386 1.825 1.08 229.145 3.08 782. ACEH D.324 132.

7.068.153 174.118 53.008 26.091 30 29 187.31 32.363 257.804 13.069 54.655.986 30.95 33.566 2.844 5. Luas Panen.910 338.235 33.083 76.98 33.62 46. 10.30 36.361. 17.430 PRODUKTIVITAS (KU/HA) 37.657 29.110 9.652 38.049 711 679 1.060 1.92 51.45 31.013.096 51. 21.068 17.000. PROPINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.08 43.T.688.55 PRODUKSI (TON) 193.270 36.000 10.492 375.689 6. 3.491 51.596.000 NO 1. 20.874.97 55.600 3.997 192.10 54.940 408.13 55. 26. 32.614 4.371.300.77 58.131 52.467 73. 22.30 24.91 39.636 1.463 61. BALI & N.665 3. 31.228 1.B.945 26.668 24.276 59. 25.654 745. 30.81 34.192 358.332 1.334 45.34 39.800 143. 18.345 240.20 26. 14.49 53.42 53.633 968.398.909 1.437 4.297 12.200 1.27 34.072 12.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 87 | P a g e .748 11.189 353. 8.260 77.733 4.87 24.088 269.69 27.568 134.868 93.799 403.640 166. 9.090.707.277 29.000 123. 19.09 49. Sasaran Luas Tanam.019 42.67 56.41 42.17 38.194 469.238 10.64 63.405 31.70 56.737 215.944 23.099 1.602 2.160 8.442 4.579 98 993.059 178.640 8.880 712.80 42.368 80.994 167. Produktivitas. 15.441 2.23 41. 13. 28.09 46.637.77 33.257 11.012.300 88.009 482. 6.760 24. 29.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 7.529 123.661 6.437 27.800 2.591 16.684 1.485 1.499 314. 16.872 97.407 748 714 25.82 63.760 461.572 93.059. dan Produksi Jagung Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN (HA) (HA) 53.868 50.544 26.551 494.871 2.292.62 54.284. 33.91 46.863. 2.91 17.268 472.362 92.025 4.114 829.497 183. 24.88 21.599 3. N.38 51. 4.51 31.168 2.535 1. 12.244.543 658. 27.306 868.375 7.482.556 3.280 13.T.T.82 18. 23.391. 5.332 101.849 27. 11.484 35.

26 4.413 15.000 17.600 175.79 19.097.89 174.500 4.800 9.26 18.397 15. 17.400 549.26 8.400 135.200 12.600 20.500 11.800 16. 26. 25. Sasaran Luas Tanam.900 79. 23.500 45. Produktivitas.800 6.600 701.47 4. 6.700 78.000 8.T.885 14.34 22.937 15. dan Produksi Kedelai Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 121. 21.900 189.47 5.954 13.400 14.000 26.675 15.900 12.100 1.T.500 5.700 47.47 4. 2. 27.53 94.000 4. 5.500 3.400 153.600 15.30 13.B. 20.946 13. 33.300 6. 10.400 12. 9.515 15.91 125.400 7.012 14. PROPINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.718 13.30 20.000 3.300 16.59 802. Luas Panen.000 17.200 197.462 13.620 13.26 14.400 16.098 14.900.26 6.48 174. BALI & N. 16.000 1. 11. 4.250. 32.77 24.400 25.000 15.900 24.400 7.977 13.100 588.823 15.700 723.000 10. 18.700 35. 8. 29.900 10.700 106.000 364. 12.67 10.600 243.51 40.319 14.500 54.485 13.38 194. 14.000 7. 3.600 12.034 14.50 334. 28.123 16.79 10.30 26.400 9.200 2.013 16.79 17.87 34.30 65. 24.67 22.800 11.30 557. 22.249 15.900 112.600 27.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 88 | P a g e .796 13.700 3.400 10.900 3.700 23.500 6.000 13.620 13. 15.000 231.500 158.800 30.896 14.200 8.800 7.700 13. 31.95 221.47 10.539 15.900 117.700 371.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 8.000 42.757 15.T.87 32.803 14. 7.000 3.100 9.32 308.300 13.312.60 48.79 14.200 57. N.000 NO 1.387 13.498 13. 13.342 13. 19.119 13.566 13.649 13.47 14. 30.20 1.530 42.400 18.159 13.009 13.65 1.156 14.

82 11.253 22.882 6. dan Produksi Kacang Tanah Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 7. 4.07 14.858 2.282 14.T.732 2.402 2. Sasaran Luas Tanam.35 12.075 36.531 70.54 15.090 3.78 12.87 13.019 5. BALI & N.561 42.309 34.054 29 124.246 9.046 2.804 2.02 13.441 24 75. 28. 9. 26.490 21.250 275.35 16.245 76.55 14.346 6.44 11.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 89 | P a g e . 15.15 14.96 15.668 597 201 80.468 2.677 15. PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.487 743.743 27.22 14.187 3.681 9.856 522.201 6. 19. 21.953 24.613 16.40 12.968 17.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 9.45 12.884 356. 18.078 3.26 18.617 78.300 98.20 13.802 18.147 4.445 15.406 3.456 3. 13.977 13. 31.B.453 150. 20.700 14.100 25.228 157.52 10.079 217.08 16.36 10.52 13. 3. 7. 23.100 4.387 825.012 8.73 14.264 25 79.015 16.392 276.805 228.949 9.406 4.742 17.000 NO 1.557 80.55 12. 5.227 50.674 30. 8.411 2. 29. 22.950 8.889 44. 6.977 11.713 8.48 14. 10.743 9.655 263.648 9.26 13. 17.649 548.605 4.00 9.804 34. 12.695 11.296 1. 2. 27.T. 33.04 10.33 14.76 12.114 74.756 1.248 2.843 25.89 13.907 59.65 12. Produktivitas.706 9.53 14.00 11.44 12.557 628 208 102.067 18.699 24.216 785.530 20.547 2.827 5.544 9.760 2.375 2.295 2. 25.000 6.234 5. 16. 24.484 15.23 14.84 12.955 3.612 6.624 1. N.360 206.608 74.839 88.742 27.89 13. 14.684 569 191 76.993 26.741 2.24 11.781 9.07 12.281 4.701 107.142 19.372 3. 32. Luas Panen.52 14. 11. 30.00 9.100.076 19.747 1.860 3.496 2.T.

N.507 1. 21. 25.130 1.980 342.546 184.29 12.198 3.32 10. 3.75 12.500 PRODUKTIVITAS (KU/HA) 12.986 2. 32.275 4.376 1 27.757 26.393 706 4.45 11.888 2.574 2.870 390.370 35. 13.971 28.08 15.51 11. 26. 19.48 8.073 81.11 12.370 43.44 11.495 99. 7.21 9.771 1.883 1. 17.02 9.570 77.13 13.918 1.T.099 1. 28.28 12.494 30.568 629 397 778 1.600 116.582 229.680 194.531 1.184 15.942 140.87 10.532 1.12 12.962 2. dan Produksi Kacang Hijau Tahun 2012 NO 1.00 13.586 325. 10.373 501 960 34.794 1.305 1. 33. 6.970 379 1.821 94. Luas Panen.734 2.300 1 22.955 6.265 53.75 11.707 5.581 358 1.079 616 3. 27.797 5. 8. 12. 4. 24.374 2.69 11.T.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 10.975 585 2.457 160.38 9.14 10.51 15. 5.724 1.522 25.602 26.914 1.874 791 93. 22.751 1.600 LUAS PANEN (HA) 2.764 748 485 896 1.138 2.67 11.254 476 912 32. 16.789 1.556 7.115 1.808 5.26 12.14 15. 15.117 5.435 12.T.245 50.074 399 1.055 643 1. 20.36 7.26 10. 29.579 1 23.457 81.02 13.615 13.141 77.12 13.855 5.620 1.67 12.281 661 418 819 1.39 10. 14. Produktivitas. 2. 30.031 1.774 2.89 9. 18.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA LUAS TANAM (HA) 2.478 1.284 2.959 1. 23.44 11.183 47.614 2.812 2. 31.177 1. 9.095 147.000 Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 90 | P a g e .90 12.14 12. Sasaran Luas Tanam. BALI & N. 11.061 4.17 12. PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.21 11.B.63 10.02 10.084 73.328 3.576 1.587 1.98 PRODUKSI (TON) 3.

335.210 124 9. 25.334 1.078.570 31.351 28.670 6.695 63. Luas Panen.570 81. 5. 21.895 14. 31.533.451 1.592 254 2.T.381. 9. Produktivitas.664 13.883 238 56 53 123 124.352 117 3.754 159 253.985 113 117.050 111. dan Produksi Ubi Kayu Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (HA) (KU/HA) 4.800 190 PRODUKSI (TON) 51. 10.469 163 46.242 44.293 10.519 14. 14.779 2. N.476 118 18.T.729 14. 4.412 573.080. 22.971 179 14.040 149 6.917 132 45.555 902.764 171 33. PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.031 8.535.261 185 71.T.744 52.243 158.878 1.117 12.027 160 7. 16.622 207 6.564 138 5.464.171 130 705. 20. Sasaran Luas Tanam.446 149 66. 8.030 422. 17.446 4.658 263. 12.092.002 4.890 120. 28.781 11. 33. 15.084.669 4.113 3.439 657.315.588 127 4.425 203. 19.999 127 94.768.781 7.073 1.519 170 12.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 91 | P a g e .560 9.666 90.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 11. 6.256 153 9.B. 7.485 89.823 207 6. 23.381 141. 26.320. 27.227 11.012.172 25.892 6.749 4.498 118.704 149 675.216 149.114 5. 18.645 128 2.449 20.698 672.940 652 2.828 193.270 113 444.119 17.227 11.516 74.142 67.339 12.000.754 114.000 NO 1.906 150 1.266 3.647 120 4.680 30.569 197 213.235 123 31. BALI & N.140 391.164 42. 24.089 201 1. 29.001 1. 3.829 92.600 1.104 155 8. 32.667 1.671 9.374 335.449 8. 11.617 1. 30.564 31.442 241.893 8.186 175 1.492 155 9.590 114.711 178 13. 2.372 170 13.803 43.790 224.964 144 14.227 66.091 138.645 136 12.112 2.512 248. 13.902 643.503 188.411 124 352.

T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 3.375 73 17.903 37.897 596 566 104 5.505 6.776 64. 6.435. 15.640 4.631 3. 16. 30.667 3.231 7. 2.218 99 31.304 35.179 4.355 40.440 1.462 19. 13.097 34.179 4.552 95 176.154 67.421 112 15.744 3. 3. 12.549 2. N.975 128 76.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 12. 22. Sasaran Luas Tanam.489 32. 19.T.495 1. SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.557 125 19.224 132.646 2.590 8.359 6.385 17.435 106 47.051 878 835 92 7.112 2.326 106 35.288 5.560 16.944 1.897 1. 10. 4. 11. 29.422 105 25.359 2.564 6.247 107 429.000 196. 28.668 4. 8. 14. 27.949 42. PROVINSI N. 31.498 2.462 12.897 12. Produktivitas.998 124 37.155 2.149 2.450 26.552 1.410 110 48. 5.448 115 408.291 2. 26. 25.667 1.686 111 184. BALI & N.225 123 51.403 134 864.700 117 2.888 121 191.923 27.456 4.B.177 91 19.769 16.773 139 456.256 141 173. 17.897 16.355 43.667 1.226 110 35.395 3. 18.500 2.099 113 485.000 Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 92 | P a g e . 23. dan Produksi Ubi Jalar Tahun 2012 NO 1.885 110 185.822 121 94. ACEH D.582 1.524 18.638 1.815 608 578 102 5.084 105 273. 9.181 101 62.359 666 633 93 5.T.897 333 316 93 2.373 95 22.846 3.713 139.300.385 2.217 106 23.386 3. 33.333 2.897 17. 20. Luas Panen.958 104 30.475 100 14. 21. 32. 7.500 3.720 15.503 91 13.923 2.446 4.385 514 489 121 5.436 207.221 45.T. 24.297 109 1.368 89 12.682 1.

180.-/Unit) 3.000 764.868.350.70 Ribu Ha 9.000 6.85jt/Unit) SLPTT Padi Non Hibrida Peningkatan IP (Rp 64.000 6.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 13.400 7. pengawalan. 1 Kegiatan dan Output Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia a. pengawalan.332.414.760.000 87. monev SLPTT & pengembangan 350 Ribu Ha 2.642.950 3.000. monev SLPTT & pengembangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 93 | P a g e .410.900 Kab/Kota 673.504. c.Tanah (Rp.000 630. d.056.988.261.6jt/ Unit) SLPTT Padi Lahan Kering (Rp 3.749.7jt/LL) SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 64.500 41.100 Volume Pusat 78. SLPTT Padi Non Hibrida (Rp 3.350.727. SLPTT : b.215jt/ha.868.700 Jumlah 944.000. 2012 No.75 Ribu Ha 290.000 49.064.7jt/ LL) SLPTT Padi Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 44.000 8.800 2. d.000 25.5 jt) Pengembangan Ubi Kayu (Rp10.710 630.000 790.030 137.550. SL-PTT Kedelai (Rp 3. f.7 jt/LL) SLPTT Jagung Hibrida (Rp 3.700 38.500 Ribu Ha 70. e. Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.000 175.642.929.320 292.064.-) Pengembangan Ubi Jalar (Rp7.400 Provinsi 192.000 83.550.100 49.504.000 18.7 jt/LL) 3.70 Ribu Ha 33.195.939.000. g. Ubinan SL-PTT Kedelai (Rp.000 5.350.000.718 jt/ha) Pertemuan Koordinasi Stakeholder Non Kedelai (2 kali) Pembinaan.55 Ribu Ha 14.700 7.110.230 137.320 292.651.000 764.094 Ha 100 Ha 300 Ha 850 Ha 54 Pkt 1 Pusat 28 Prov 184 Kab h.600 107.700.510 70.900 Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam Jagung Hibrida Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif Pembinaan.800 392.000.500 6.43jt/Unit)) Pengembangan Kc.451.750 2.559.289.028.000 74.93jt/LL) Pengembangan Kedelai Model (Rp 4.00 Ribu ha 2.950 3.750 5. c.2.500 6.725 Ha 10 Prov 1 Pusat 31 Prov 371 Kab 2 Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi a.30 Ribu Ha 500 Ribu Ha 200 Ribu Ha 12.000. b.000 160.85jt/Unit) SLPTT Padi Hibrida (Rp 3.478.000 7.714.

000 600.453.137.250. Pembinaan. BLBU: b.000 111.000 45.909.000 18.375 76.796. h.000 2. f. d. 3 Kegiatan dan Output Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan a.247.941.000 35.000 1.500 Ribu Ha Ha Ribu Ha UPB UPB Paket Prov Kab Pusat Prov Kab 1.000 1.575 Provinsi 121.625 43.000 Volume Pusat 794.209. Pembangunan UPB Optimalisasi UPB Deregulasi Perbenihan Pembinaan.846.890.614.900 Kab/Kota 536.5 rb/kg) @40kg/ha 102 68 5 13 3 14 32 817 32 31 Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Balai Orang Balai Balai 406.937.549.000 1.600 47. c. Penangkar Survei Susut Hasil Padi Pembinaan.862.500 151.5 4 8 1 28 230 k.135.500 19.125.500.394.386. & Monev Pascapanen Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 94 | P a g e .000 3.500 1.000 8.000 16.100 6.880.839.000.000. Bimbingan Teknis.336.400 9.500 15.590.251.000 16.450.Pedoman Pelaksanaan Program No.536.730.000 42.400.394.000 7.500 166.997. Monev Pemb.000.000 67.684. i.000 7.000 1.300.000 90.000 2.000 1.500 100.450.525 Jumlah 1.878. Pengawalan.800.000 15.500/kg) @25kg/ha BLBU padi hibrida (Rp 56 rb/kg) @15kg/ha BLBU padi lahan kering (Rp 9 rb/kg) @25kg/ha BLBU jagung hibrida (Rp40 rb/kg) @15kg/ha BLBU kedelai (13. Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar 442 15 25 12 10 12 1 31 204 Pkt Pkt Pkt Pkt Pkt Prov Pkt Prov Kab 6.110.000 2. Monev Perbenihan. j.941.000 720.000 10.000 77.000 11.000.400. Bantuan Sarana Pascapanen : b.000 7.451.000 130.000 16.000 3.105.000.000.000 66. c.500 45. e.400 47.000 13.000 2. BLBU & CBN 1 32 373 4 Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan a.451. BLBU padi non hibrida (Rp 8. Pengawalan.000 Operasional UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Sarana BPSBTPH Operasional Balai Benih Pemberdayaan Penangkar Padi Jagung Kedelai g.546.000 15.200.549.000 11.414.578.812.411.500 63.000 74. Apresiasi.846.000.000 10 700 2.880.

Pedoman Pelaksanaan Program
No. 5 Kegiatan dan Output Penguatan Perlindungan TP dari Gangguan OPT & DPI a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. n. o. p. 6 Operasional P3OPT (BPTPH) Koordinasi Penanggulangan OPT/DPI Operasional Brigade Proteksi Tanaman/Gerakan Pengendalian OPT Gerakan Pengendalian OPT/ bantuan pestisida Renovasi Gudang Brigade Pelatihan Alumni SLPHT untuk Penguatan RPH Surveilans OPT dan Monev SL Biaya Operasional POPT-PHP (Rp 500Rb/bln) Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pemberdayaan PPAH Operasional Lab Pengamatan Hama Penyakit (LPHP) Operasional Diperta Provinsi Operasional THL POPT-PHP Pembinaan, Pengawalan, Monev Perlintan Operasional BPMPT 505 Kab 80 Kali 86 Unit 158 Unit 77 Unit 143 Kelas 66 Pkt 2.908 Orang 1.941 Unit 130 Unit 620 Unit 95 Unit 14 Prov 1.168 Orang 1 Paket 1 Paket 12.558.500 3.500.000 9.353.000 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 4.129.295 804.799 4.418.906 8.000.000 4.350.000 7.000.000 18.096.000 39.000.000 2.600.000 6.200.000 8.015.000 2.315.000 19.911.000 Volume Pusat 16.058.500 Provinsi 154.341.500 20.000.000 9.900.000 8.954.500 Kab/Kota 15.800.000 15.800.000 Jumlah 186.200.000 20.000.000 9.900.000 8.954.500 15.800.000 8.000.000 4.350.000 7.000.000 18.096.000 39.000.000 2.600.000 6.200.000 8.015.000 2.315.000 19.911.000 12.558.500 3.500.000 9.353.000 4.129.295 804.799 4.418.906

Pengembangan Peramalan Serangan OPT a. b. c. Gaji Operasional Kantor Pengembangan Peramalan Serangan OPT

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 95 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program

No. 7

Kegiatan dan Output Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih a. b. c. Gaji Operasional Kantor Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih

Volume

Pusat 7.300.000

Provinsi 26.467.900 10.144.200 2.820.000

Kab/Kota 37.400.000 -

Jumlah 7.300.000 3.164.532 1.170.004 2.965.464 248.813.961 46.507.092 10.840.047 30.000.000 45.600.000 10.144.200 16.610.800

1 Thn 1 Thn 1 Pkt

3.164.532 1.170.004 2.965.464 184.946.061

8

Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen TP a. b. c. d. e. f. Gaji Operasional Kantor LM3 Bencana Alam Insentif Mantritani Honor Pengelola Keuangan & Administrasi Satker 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 1 Pkt 3.074 Org 1 Pusat 33 Prov 374 Kab g. Perencanaan Program & Kegiatan 1 Pusat 33 Prov 374 Kab h. Pengelolaan Keuangan (SAI) & Perlengkapan 1 Pusat 33 Prov 374 Kab i. Evaluasi, Pelaporan, Pengawasan & Data Statistik 1 Pusat 33 Prov 374 Kab j. k. Pengelolaan Bidang Umum Dukungan Manajemen Lainnya Total 1 Pusat 1 Pusat

46.507.092 10.840.047 30.000.000 45.600.000 1.000.000

12.790.800 12.000.000 6.264.000 9.350.000 4.350.000 3.739.500 7.480.000 4.380.000 3.500.200 7.779.200 5.900.000 24.368.922 1.104.899.536 512.347.000 1.498.245.455 5.900.000 24.368.922 3.115.491.991 15.659.400 15.569.500 27.614.000

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 96 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 14. Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012
SLPTT Padi (Ha) No. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 147.200 3.500 13.600 12.500 2.000 2.500 7.400 15.500 17.400 10.000 15.000 3.000 4.000 7.400 3.500 12.000 7.000 1.200 7.200 2.500 137.900 8.400 3.750 11.450 4.450 5.150 9.700 9.550 4.200 8.500 7.000 9.000 8.250 3.150 1.350 3.150 7.000 4.450 2.500 5.600 3.150 2.650 3.750 4.150 3.150 4.450 Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.800 1.800 600 600 600 1.100 1.100 550 550 Padi Non Hibrida Peningkatan IP 1.000 1.000 500 500 1.000 1.000 500 500 Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Benih Benih 14.150 850 10.000 2.175 32.500 249 850 450 50 500 450 50 300 1.430 70 500 500 200 950 50 975 875 950 50 3.100 350 2.500 49 1.430 70 500 150 2.500 50 950 50 150 11.000 100 1.430 70 150 6.000 50 950 50 950 50 1.430 70 450 50 575 1.430 70 800 450 50 250 300 2.500 500 1.000 450 50 1.000 7.000 300 200 14.000 7.500 10.050 8.000 750 300 1.500 750 450 900 2.000 1.500 1.500 300 1.500 200 2.500 750 100 600 500 2.000 1.500 500 1.450 300 400 750 500 1.000 525 750 150 900 450 750 500 100 750 1.000 750 100 300 300 500 1.450 300 750 500 225 1.250 225 225 1.500 300 500 Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 50 50 50 50 50 50 50 50 100 700 50 50 50 50 100 100 50 50 50 50 50 50 Jagung 50 50 Kedelai 125 Padi 21 Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai 2 Ubi Kayu Ubi Jalar Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) SLI (unit)

1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37

ACEH Dinas Provinsi Kab. Aceh Barat Kab. Aceh Besar Kab. Aceh Selatan Kab. Aceh Singkil Kab. Aceh Tengah Kab. Aceh Tenggara Kab. Aceh Timur Kab. Aceh Utara Kab. Bireuen Kab. Aceh Pidie Kab. Simeuleu Kab. Gayo Lues Kab. Aceh Barat Daya Kab. Aceh Jaya Kab. Nagan Raya Kab. Aceh Tamiang Kab. Bener Meriah Kab. Pidie Jaya Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sibulussalam Kota Meulaboh SUMUT Dinas Propinsi Kab. Asahan Kab. Dairi Kab. Deli Serdang Kab. Tanah Karo Kab. Labuhan Batu Kab. Langkat Kab. Mandailing Natal Kab. Nias Kab. Simalungun Kab. Tapanuli Selatan Kab. Tapanuli Tengah Kab. Tapanuli Utara Kab. Toba Samosir Kab. Pakpak Barat Kab. Humbang Hasundutan Kab. Serdang Bedagai Kab. Padang lawas Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Kota Tebing Tinggi Kota Padang Sidempuan Kota Gunung Sitoli Kab. Nias Selatan Kab. Samosir Kab Padang Lawas Utara Kab. Labuhan Batu Selatan Kab. Labuhan Batu Utara Kab Nias Barat Kab. Nias Utara Kab. Batu Bara Kota Sidikalang Kota Lubukpakam Kota Stabat Kota Tarutung

82

6

25 25 25

25 25

4 2 2 4 4 2 3 19 1

2

125

-

1

-

-

3

110

7

25

4 2 4 2 4 2 -

25 25

1

25

25 -

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 97 | P a g e

Indragiri Hilir 3 Kab.100 500 300 550 400 100 180 250 250 400 100 3.750 2.200 1. Dharmas Raya 11 Kab.450 4. Solok Selatan 12 Kab.500 3.000 4.850 2.000 750 100 600 2.000 3 SUMBAR Dinas Propinsi 1 Kab. Pasaman Barat 13 Kota Bukit Tinggi 14 Kota Padang Panjang 15 Kota Padang 16 Kota Payakumbuh 17 Kota Sawahlunto 18 Kota Solok 19 Kota Pariaman 20 Kota Painan 21 Kota Lubuk Sikaping 4 RIAU Dinas Propinsi 1 Kab.500 9.900 2.175 1.200 1. Bengkalis 2 Kab.500 9.200 350 1.000 600 750 1. Kampar 5 Kab. Pasaman 6 Kab.500 7.500 7.900 9.200 400 1. Solok 9 Kab.950 3.500 5.500 180 1. Sijunjung 8 Kab.800 8. Rokan Hilir 8 Kab. Rokan Hulu 9 Kab.000 48.500 4.500 500 4. Agam 3 Kab.800 250 1.350 250 1.500 900 500 3.000 4.000 225 300 750 500 1.500 1. Padang Pariaman 5 Kab. Pesisir Selatan 7 Kab.500 2.Pedoman Pelaksanaan Program No. Kuantan Singingi 6 Kab. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 97.000 8. Siak 10 Kota Dumai 11 Kota Pekanbaru 12 Kota Rengat 13 Kab Meranti SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Spesifik Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Lokasi IP Benih Benih 1. Indragiri Hulu 4 Kab.000 750 50 1.700 250 500 150 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 600 50 50 50 50 50 50 50 50 100 50 50 150 50 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 4 1 Kedelai - Sarana Pengendalian OPT (kali) Ubi Kayu Ubi Jalar 2 SLPHT (unit) 76 SLI (unit) 4 13 2 2 2 2 1 2 2 1 2 7 - - - - - 2 30 2 2 - 2 1 2 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 98 | P a g e .155 3.000 10. Kep Mentawai 4 Kab.000 4.150 1.500 1.900 9.000 240 100 500 1.000 8. Lima Puluh Kota 2 Kab.000 10. Pelalawan 7 Kab.400 4.500 8.000 225 550 400 100 180 1. Tanah Datar 10 Kab.000 1.100 500 1.200 300 9.000 9.

600 8.300 225 400 500 1.800 150 1.500 3.500 550 50 500 375 500 550 1. Musi Banyuasin 3 Kab.000 300 500 3.000 3.000 2.Pedoman Pelaksanaan Program No.650 3.125 147.450 2.000 48.000 250 1. Sarolangun 7 Kab.000 150 100 550 150 1.500 6.250 4.000 300 750 250 300 550 2.250 250 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 350 50 50 50 50 50 50 50 350 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 50 50 Jagung 50 50 Kedelai 175 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 7 Kedelai 1 Sarana Pengendalian OPT (kali) Ubi Kayu Ubi Jalar 3 SLPHT (unit) 44 SLI (unit) 2 25 25 25 25 25 2 2 1 2 1 27 2 4 3 3 1 3 4 4 3 5 - - 1 - - 3 65 4 1 - - - - - 2 29 2 1 1 1 1 1 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 99 | P a g e .500 3.100 500 550 50 500 2. Muara Enim 5 Kab.400 12.750 1.200 14. Tebo 10 Kota Jambi 11 Kota Sungai Penuh 6 SUMSEL Dinas Propinsi 1 Kab.000 3.500 1.300 300 500 600 500 2.000 3. Jabung Timur 9 Kab.400 3. Kaur 5 Kab. Ogan Komering Ulu 7 Kab.000 300 400 50 500 2.700 4.000 375 600 1.400 100 2.500 1.400 100 1. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 58.300 300 1.950 15. Musi Rawas 4 Kab. Batanghari 2 Kab. Seluma 6 Kab.700 5 JAMBI Dinas Propinsi 1 Kab. Empat lawang 12 Kota Palembang 13 Kota Prabumulih 14 Kota Pagar Alam 15 Kota Lubuk Linggau 16 Kab Baturaja 7 BENGKULU Dinas Propinsi 1 Kab.100 500 2.000 600 500 2.000 13. Ogan Komering Ilir 6 Kab.400 11.000 10. Rejang Lebong 4 Kab. Tj.800 1. Lebong 8 Kab.300 225 400 1. Bengkulu Utara 3 Kab.500 12.000 3.000 7.200 50 2.500 2.500 8.750 6. OKU Selatan 10 Kab.900 100 600 2. Kepahiang 9 Kab Bengkulu Tengah 10 Kota Bengkulu SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Spesifik Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Lokasi IP Benih Benih 1.250 750 600 3. OKU Timur 9 Kab.100 500 2.400 100 2.000 11.500 500 250 550 500 450 250 1.300 1.000 16.800 1.650 450 500 50 2.000 12.950 2.525 4. Bengkulu Selatan 2 Kab.000 225 2. Banyuasin 8 Kab.900 5. Tanjung Jabung Barat 8 Kab. Lahat 2 Kab.500 4.000 2. Ogan Ilir 11 Kab.875 2.000 700 50 1.000 300 500 500 525 1.100 1. Bungo 3 Kab.400 100 1.400 100 1.450 6.000 11. Muko-muko 7 Kab.875 3.250 4.050 900 2. Merangin 5 Kab. Muaro Jambi 6 Kab.900 600 20.900 4.350 9.500 13.000 20.400 100 2.500 1. Kerinci 4 Kab.550 500 1.

950 12.500 975 600 100 1.500 1. Bandung Barat 19 Kota Cimahi 20 Kota Tasikmalaya 21 Kota Bandung 22 Kota Bekasi 23 Kota Bogor 24 Kota Cirebon 25 Kota Depok 26 Kota Sukabumi Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.250 260 1.250 1.500 500 500 500 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.000 7. Tasikmalaya 17 Kota Banjar 18 Kab.000 50 500 930 70 250 8. Lampung Barat 2 Kab.500 7. Garut 8 Kab.500 18. Indramayu 9 Kab.500 1.000 975 600 150 970 30 1.500 500 180 70 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 100 50 50 100 50 50 50 50 Jagung Kedelai 125 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai 1 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 65 SLI (unit) 3 26 3 3 4 2 3 2 2 2 2 1 1 1 - 1 - - - - - 1 3 - 650 100 50 50 50 50 50 100 100 50 50 - 300 45 2 2 3 3 4 4 3 4 1 2 3 4 3 2 3 2 - 2 - - 3 179 14 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 1 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 100 | P a g e .000 300 1. Lampung Utara 5 Kab.550 6.600 1.260 375 1.430 70 6.880 1.970 30 1. Tanggamus 7 Kab.450 12.000 18.875 525 930 70 1.120 1.000 500 930 70 2. Cianjur 6 Kab.000 12.180 70 1. Way Kanan 9 Kab.500 1.500 10.000 100 930 70 5.750 1.500 2.000 2.750 2.750 1. Mesuji 11 Kab.000 1.000 10.350 50 2.250 750 5. Lampung Selatan 3 Kab.470 30 970 30 200 450 500 450 1.000 11.500 1.950 17.000 12. Bandung 2 Kab.350 11. Bekasi 3 Kab.500 1. Subang 14 Kab.500 12.000 1.250 1.430 70 3.000 8.850 21.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 1.430 70 3.500 19.000 11.700 300 12.500 2.500 100 1.000 14.500 10.250 625 8 LAMPUNG Dinas Propinsi 1 Kab.625 12.500 1.000 11.120 50.000 14.350 1.000 100 1.430 70 500 1. Tulangbawang Barat 13 Kota Bandar Lampung 14 Kota Metro 9 DKI Dinas Propinsi 1 Kab Adm Kep Seribu 2 Kota Adm Jakarta Barat 3 Kota Adm Jakarta Pusat 4 Kota Adm Jakarta Selatan 5 Kota Adm Jakarta Timur 6 Kota Adm Jakarta Utara 10 JABAR Dinas Propinsi 1 Kab. Purwakarta 13 Kab.500 1.430 70 2.275 970 30 1.500 25 930 70 1.100 500 1.470 30 1. Lampung Timur 6 Kab.000 18.000 12.000 1.750 12. Tulang Bawang 8 Kab. Ciamis 5 Kab.500 975 1. Pesawaran 10 Kab. Sumedang 16 Kab. Majalengka 12 Kab. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 147.000 2.250 5.970 30 1. Pringsewu 12 Kab.500 14.250 1.470 30 2.350 1.000 375 500 1.650 1.470 30 1. Lampung Tengah 4 Kab.125 750 2.430 70 500 750 1.650 550 550 550 1.250 8. Sukabumi 15 Kab. Bogor 4 Kab.500 1.625 1. Kuningan 11 Kab.000 6.500 197. Cirebon 7 Kab.430 70 7.500 9. Karawang 10 Kab.430 70 1.500 10.430 70 3.000 17.625 750 970 30 300 1.000 300 1.000 6.200 1.500 11.

Wonosobo 30 Kota Tegal 31 Kota Magelang 32 Kota Pekalongan 33 Kota Salatiga 34 Kota Semarang 35 Kota Surakarta 12 DI YOGYAKARTA Dinas Propinsi 1 Kab.960 45.800 10.500 6. Klaten 15 Kab.000 6. Bantul 2 Kab.000 8.500 430 70 3.000 330 70 750 2.000 9.050 2.500 3.500 500 430 70 75 525 500 430 70 600 430 70 850 750 2.500 8. Jepara 11 Kab. Tegal 27 Kab.500 6.000 50 680 70 450 930 70 4.000 50 430 70 750 430 70 2. Karanganyar 12 Kab. Boyolali 6 Kab.000 18.000 430 70 850 1. Gunung Kidul 3 Kab.500 4.040 1.000 1. Cilacap 8 Kab.000 675 2.300 1.500 5.750 4.500 500 480 70 3.000 100 500 175 450 1. Temanggung 28 Kab. Wonogiri 29 Kab.000 680 70 850 1.000 500 500 1.125 27.500 3. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 198.625 3.500 5.000 1.000 750 2. Magelang 17 Kab. Semarang 24 Kab.000 375 375 250 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1. Pekalongan 19 Kab. Banjarnegara 2 Kab.000 430 70 975 880 70 250 975 430 70 5.430 70 850 1.000 1. Pati 18 Kab.000 7.500 130 70 3.000 975 5.000 20. Sragen 25 Kab.000 3. Grobogan 10 Kab. Banyumas 3 Kab. Kudus 16 Kab.100 7. Kendal 14 Kab.200 1. Batang 4 Kab.000 1.500 6. Demak 9 Kab. Rembang 23 Kab.050 2.500 10.500 10.430 70 700 900 430 70 900 1.500 2.500 8. Purbalingga 21 Kab.000 430 70 750 500 2.500 4.080 70 2. Brebes 7 Kab.000 33.000 2.625 12.000 100 1.500 7. Sleman 5 Kota Yogyakarta Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.300 450 2.000 9.000 10. Purworejo 22 Kab.000 680 70 4. Pemalang 20 Kab.600 1.000 500 75 375 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 500 50 50 50 50 100 100 50 50 200 50 50 50 50 Jagung 100 50 50 Kedelai 425 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 3 Kedelai 3 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 173 SLI (unit) 18 61 2 3 2 2 2 2 4 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 3 2 1 2 2 5 2 1 2 - 2 1 2 25 25 25 25 25 25 1 75 25 25 25 - 2 1 1 - - 3 38 3 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 101 | P a g e .250 - 11 JATENG Dinas Propinsi 1 Kab.250 3.500 1. Kulon Progo 4 Kab. Blora 5 Kab. Sukoharjo 26 Kab. Kebumen 13 Kab.500 8.875 3.500 1.600 51.050 430 70 5.125 7.300 1.000 7.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 430 70 1.500 430 70 525 2.000 900 430 70 850 900 430 70 450 4.100 500 500 19.000 8.430 70 5.000 8.000 12.500 1.500 5.000 1.200 1.700 900 5.100 100 500 500 50 375 1.000 6.150 1.960 1.500 8.

800 3.980 2.800 100 2.000 15.000 8.Pedoman Pelaksanaan Program No. Sumenep Kab. Kubu Raya Kab.350 21.500 20 825 1.000 20 3.000 2. Barito Selatan Kab. Gresik Kab.000 200 400 300 400 500 250 1.550 650 200 50 150 - SLPTT Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Kering Hanya Kedelai (Ha) Spesifik Hibrida (Ha) Bantuan Lokasi Benih 560 62.500 3.500 4. Seruyan Kab.000 20 525 1. Sampang Kab.000 1.980 4.440 1.250 300 1.050 11.000 20 10.500 1.300 300 100 1.000 7. Kotawaringin Barat Kab. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 197.980 3. Ketapang Kab.300 1.000 20 1. Lumajang Kab.450 1.675 1.500 3.500 97.480 2. Pontianak Kab.000 700 20. Landak Kab.000 20 1.500 5.000 8.500 5.000 4.250 2.500 8. Bengkayang Kab.500 20 4. Barito Utara Kab. Barito Timur Kab. Nganjuk Kab.480 750 5.500 20 600 2.000 2.000 3.500 9.000 300 3.980 4. Melawi Kab.000 17.000 4. Kediri Kab.980 1. Magetan Kab.675 750 1.480 1.100 1.000 6.480 4.000 6.480 1.050 12.500 4.000 20 4. Sukamara Kab.000 300 2.350 4.000 74.500 11.980 2.980 1.625 1.200 750 2.500 900 50 100 3.500 2. Tulungagung Kota Blitar Kota Kediri Kota Malang Kota Mojokerto Kota Pasuruan Kota Probolinggo Kota Surabaya Kota Batu Kota Madiun KALBAR Dinas Propinsi Kab.480 980 2.450 10. Probolinggo Kab.000 48. Sekadau Kab.500 5.000 20 2.050 20 975 20 1. Trenggalek Kab.300 900 8. Bangkalan Kab.980 1. Kayong Utara Kota Pontianak Kota Singkawang KALTENG Dinas Propinsi Kab. Kapuas Hulu Kab.000 12.500 6. Pasuruan Kab.300 750 800 1.500 20 450 1.000 4.850 121.480 5.800 600 600 600 1.500 7. Sanggau Kab.480 980 1. Sidoarjo Kab.800 1.500 8.050 20 900 7.000 20 1. Blitar Kab.300 225 2.300 560 20 1. Banyuwangi Kab.000 20 1.000 500 500 500 500 1.000 2.375 150 - Pengembangan (Ha) Kedelai Model 170 Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 100 100 50 50 50 50 50 50 650 50 50 50 50 50 100 50 50 50 50 50 50 100 50 50 Jagung Kedelai 425 25 25 25 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 Kedelai 3 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 190 SLI (unit) 16 54 70 25 25 25 50 4 2 2 2 2 5 3 2 1 3 3 2 1 3 3 1 2 2 3 2 2 2 25 25 25 1 2 25 25 25 2 2 10 50 - - - - 25 - - - - 3 55 3 25 - - - - - 2 2 1 3 2 2 - - - - 2 30 3 2 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 102 | P a g e . Bondowoso Kab.000 20 450 10.250 200 5.875 4.500 4. Situbondo Kab. Bojonegoro Kab.500 3. Sambas Kab. Madiun Kab.980 500 1.000 4. Jombang Kab.250 - 13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 JATIM Dinas Propinsi Kab.480 1.000 750 1.500 29. Lamongan Kab.250 150 500 20 8. Katingan Kab.000 22.050 6. Pamekasan Kab.980 500 2.450 1.700 1. Ponorogo Kab.775 1.480 5.750 20 1.000 6.000 2.480 4. Jember Kab.125 500 1. Lamandau Kab.500 150 650 225 100 600 100 100 300 20.500 2.500 16. Murung Raya Kab.350 20 1.000 4.000 6.000 3. Mojokerto Kab.200 225 100 300 50 100 1. Malang Kab.500 5.500 20 4.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Padi Non Padi Hibrida Hibrida Hanya Peningkatan Bantuan IP Benih 1.200 9.750 225 100 1.980 2.000 20 5.500 20 1.500 1.000 4.300 700 100 3.250 150 500 900 2.500 1. Ngawi Kab.000 3.800 20 1.000 20 3.450 4.500 2.850 1.000 5.875 2. Gunung Mas Kota Palangka Raya Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 2.980 1.000 20 300 5.500 4.775 900 2.000 1.500 2. Pulang Pisau Kab.000 2.500 9.875 1. Sintang Kab.000 1.900 5. Pacitan Kab. Tuban Kab.825 3.500 11.050 20 9.000 14. Kapuas Kab.980 980 480 2. Kotawaringin Timur Kab.050 5.

700 300 15. Kutai Barat 4 Kab. Minahasa Utara 7 Kab. Talaud 4 Kab.000 33.250 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 400 50 50 50 50 50 50 50 50 100 50 50 400 50 50 50 50 50 50 50 50 Jagung 100 50 50 Kedelai 125 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 76 SLI (unit) 7 23 25 25 25 25 25 - 4 2 3 3 2 2 2 3 2 4 2 2 10 1 3 2 1 2 - - - - 2 39 2 - - 1 - - 2 48 2 2 - 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 103 | P a g e .100 1.700 1.000 23.450 2.650 300 2. Banjar 2 Kab. Barito Kuala 3 Kab. Kota Baru 7 Kab.500 170 1.000 2.200 400 1.500 500 2.450 12.000 8.900 17. Berau 2 Kab.000 390 70 150 2. Tabalong 8 Kab. Sangihe 10 Kab.250 16 KALSEL Dinas Propinsi 1 Kab. Minahasa Selatan 5 Kota Tomohon 6 Kab.275 1.500 2. Tenggarong 18 SULUT Dinas Propinsi 1 Kab. Minahasa 3 Kab.000 2.770 1.125 750 1.200 200 1.450 20.000 11.000 15. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 137. Minahasa Tenggara 8 Kab. Kutai Kertanegera 10 Kota Balikpapan 11 Kota Bontang 12 Kota Samarinda 13 Kota Tarakan 14 Kab.100 550 550 1.000 1.500 400 1. Kutai Timur 5 Kab.450 1.500 900 100 500 400 100 1.750 600 2.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 125 495 1.950 10.600 315 2.500 4.695 1. Nunukan 7 Kab.500 600 1.000 10.950 3. Bolmong Utara 9 Kab.000 1.650 550 550 550 1.000 16.350 495 500 350 795 750 375 495 500 325 600 1.500 2.200 4.000 3.400 600 2.000 4.500 1.500 3.000 10.000 840 500 1.450 2.995 250 500 300 750 1.000 7.775 2. Balangan 11 Kab. Kep. Malinau 6 Kab.000 1.000 8.000 7. Bolaang Mangondow 2 Kab.575 250 1.000 500 3.650 7. Tapin 10 Kab.000 1.250 1.100 350 900 10. Pasir 8 Kab.525 3.000 2.500 1.500 14. Tanah Laut 9 Kab. Bulungan 3 Kab.000 8.500 200 2. Bolmang Timur 12 Kep Siau Tagulandang B 13 Kota Bitung 14 Kota Manado 15 Kota Kotamobagu Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.625 48.000 400 100 1. Bolmang Selatan 11 Kab.100 100 500 500 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.350 9.000 750 650 1. Tana Tidung 15 Kab. Hulu Sungai Tengah 5 Kab.000 1. Tanah Bumbu 12 Kota Banjarmasin 13 Kota Banjar Baru 14 Kab Tala 17 KALTIM Dinas Propinsi 1 Kab.000 630 700 2.650 1.000 5. Penajem Paser Utr 9 Kab. Hulu Sungai Utara 6 Kab.100 1. Hulu Sungai Selatan 4 Kab.

650 550 550 550 1. Toli-Toli 4 Kab.250 1.000 700 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 400 50 50 50 50 50 50 50 50 650 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 100 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 9 2 2 3 2 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 56 SLI (unit) 2 375 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 34 2 3 3 2 2 2 1 3 3 3 2 2 4 2 4 2 2 - - 2 - - 3 104 9 1 1 - 1 - - - 2 50 2 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 104 | P a g e . Pinrang 13 Kab.930 70 1.020 2.430 70 2. Konawe 3 Kab. Morowali 6 Kab.500 1.000 182.500 10.100 550 550 1.250 1.100 1.100 750 300 810 750 500 500 650 1.000 7.500 7.500 7.430 70 2.150 150 1.000 7.500 11. Muna 5 Kab.280 2.500 5.000 - 19 SULTENG Dinas Propinsi 1 Kab.690 1.500 900 11.300 600 2.000 1.500 2. Barru 3 Kab.100 1. Pangkep 12 Kab. Gowa 7 Kab.930 70 3.500 600 2. Konawe Utara 10 Kab.500 2.000 1.000 4.200 4.500 500 1.000 1.000 11.000 50 1.000 7.000 450 600 11. Bantaeng 2 Kab. Kolaka Utara 9 Kab. Bombana 7 Kab.500 500 7. Sinjai 16 Kab. Sigi 11 Kota Palu 20 SULSEL Dinas Propinsi 1 Kab. Buton Utara 11 Kota Bau-Bau 12 Kota Kendari Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Banggai 2 Kab. Buol 3 Kab. Luwu Timur 22 Kab. Poso 7 Kab. Enrekang 6 Kab. Bulukumba 5 Kab. Bone 4 Kab.500 12.430 70 2.000 950 50 450 1.500 3.645 2.805 20. Tojo Una-Una 9 Kab.000 25. Takalar 18 Kab.000 1. Soppeng 17 Kab.000 1.350 3.950 70 1. Luwu 9 Kab. Kolaka 4 Kab. Konawe Selatan 6 Kab.450 4. Sidenreng Rappang 15 Kab.930 70 500 825 500 930 70 250 750 375 600 10.125 900 700 1.000 9. Maros 11 Kab.680 70 2.500 3.310 35.Pedoman Pelaksanaan Program No. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 73.500 1.200 250 800 300 1.550 2. Donggala 5 Kab. Jeneponto 8 Kab.900 1.500 12.000 1. Luwu Utara 10 Kab.930 70 2. Buton 2 Kab.800 1.650 1.000 500 8.100 1.250 450 4.300 2.450 2.800 5.500 800 920 70 1. Kep.250 50 900 70 1.000 73.500 1.430 70 3.000 3.000 15. Wakatobi 8 Kab. Banggai Kepulauan 10 Kab.000 17. Selayar 14 Kab.375 19.000 300 375 750 375 150 350 2.000 300 4.500 1.400 4. Parigi Moutong 8 Kab.550 350 1.250 2.450 7.930 70 4.450 10.000 7.450 20.680 70 2.950 5.500 12.430 70 2.000 16.550 850 4.400 14. Toraja Utara 23 Kota Pare-Pare 24 Kota Makassar 21 SULTRA Dinas Propinsi 1 Kab.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 500 5.930 70 1.000 2.000 750 2.025 495 900 765 1.500 900 350 500 4.000 625 73.310 2. Wajo 20 Kota Palopo 21 Kab.980 300 950 70 1.950 2.500 3.000 6.500 3.500 10. Tana Toraja 19 Kab.000 1.000 2.500 750 900 1.000 1.000 29.250 2.

000 3.500 6.500 500 30.000 5.500 50 900 100 5. Sikka 9 Kab.000 2.500 1. Maluku Tenggara 4 Kab.000 10.800 450 6.900 450 100 900 1.300 1. Karangasem 7 Kab. Sumba Barat 10 Kab.000 750 8. Pulau Buru 5 Kab.800 1. Lembata 6 Kab.500 500 450 50 1. Seram Bag Timur 8 Kab.500 3.000 500 450 50 9.500 1.500 5. Jembrana 6 Kab.000 500 500 1.950 5.500 1.500 59.200 1.Pedoman Pelaksanaan Program No. Seram Bag Barat 7 Kab.000 6.500 500 900 100 900 2.400 2.800 15. Manggarai Barat 15 Kab.050 750 450 50 9.500 500 3.000 4. Sumbawa Barat 9 Kab. Bima 2 Kab.000 1.000 1. Kepulauan Aru 6 Kab.850 3. Maluku Tngra Barat 2 Kab.500 900 100 1.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 2. Maluku Barat Daya 10 Kota Ambon 11 Kota Tual Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Buleleng 4 Kab.500 300 600 500 1. Timor Tengah Utara 13 Kab.500 19.000 2.000 10. Bangli 3 Kab. Timor Tengah Selatan 12 Kab. Sumba Timur 11 Kab.400 14.500 1. Flores Timur 4 Kab.750 50 900 1.100 1.500 1. Manggarai 7 Kab.000 14.500 20.000 100 1.500 1. Lombok Utara 10 Kota Mataram 24 NTT Dinas Propinsi 1 Kab.350 450 1.500 25.500 7. Alor 16 Kab.450 4.650 2.000 1. Lombok Barat 4 Kab.000 3.200 200 50 450 450 1. Gianyar 5 Kab.000 4.450 750 300 4.900 4.900 300 1.000 4. Nagekeo 17 Kab.500 900 450 5. Lombok Tengah 5 Kab.000 5.500 1. Klungkung 8 Kab.300 300 250 900 400 100 1.500 7. Dompu 3 Kab.375 2. Manggarai Timur 20 Kab.000 3.000 4.000 3.000 1.250 1. Sumbawa 7 Kota Bima 8 Kab. Lombok Timur 6 Kab.000 9. Negara 23 NTB Dinas Propinsi 1 Kab.575 900 450 1.000 2.000 32. Belu 2 Kab.275 3.100 550 550 1. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 33.000 2. Badung 2 Kab.575 450 600 1. Maluku Tengah 3 Kab.000 1.500 - 22 BALI Dinas Propinsi 1 Kab.000 450 50 450 450 1.450 5. Tabanan 9 Kota Denpasar 10 Kab.000 1.000 2.500 9.000 3. Ende 3 Kab. Buru Selatan 9 Kab. Kupang 5 Kab.450 117.200 600 600 1.250 750 1.050 450 300 200 300 1.650 500 500 150 700 300 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 150 50 50 50 500 50 50 100 50 100 50 50 50 250 50 50 50 50 50 150 50 50 50 Jagung 400 50 50 50 50 100 50 50 Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 7 2 1 3 1 18 4 2 1 3 3 4 1 4 2 2 3 2 2 Kedelai 2 2 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 57 SLI (unit) 1 150 25 25 25 25 25 25 4 2 1 - - 2 52 5 2 1 1 1 - - - 12 - 3 54 3 3 3 3 3 26 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 105 | P a g e . Sumba Tengah 18 Kab.500 2. Sumba Barat Daya 19 Kab.350 7. Sabu Raijua 21 Kota Kupang 25 MALUKU Dinas Propinsi 1 Kab.100 1.000 2. Ngada 8 Kab.475 875 200 50 1. Rote-Ndao 14 Kab.

Mappi 18 Kab. Nduga 28 Kab. Halmahera Timur 4 Kab. Yahukimo 14 Kab.500 19.500 3.000 2.000 500 500 - 26 PAPUA Dinas Propinsi 1 Kab. Pulau Morotai 8 Kota Ternate 9 Kota Tidore Kepulauan 28 BANTEN Dinas Propinsi 1 Kab. Dogiyai 23 Kab.500 500 850 150 11.000 150 1. Halmahera Utara 7 Kab.000 500 400 100 10. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 10. Waropen 20 Kab. Yalimo 27 MALUT Dinas Propinsi 1 Kab. Membramo Tengah 27 Kab. Membramo Raya 26 Kab. Puncak Jaya 9 Kab.200 400 100 700 400 100 300 100 300 500 100 2. Pegunungan Bintang 15 Kab.600 150 150 1.000 39. Halmahera Selatan 6 Kab. Tolikara 16 Kab. Pandeglang 3 Kab.000 450 5.000 1.000 875 148. Boven Digoel 17 Kab. Kep Yapen Waropen 10 Kota Jayapura 11 Kab. Biak Numford 2 Kab.150 1. Nabire 7 Kab.375 750 750 4. Halmahera Barat 3 Kab. Paniai 8 Kab.000 500 8. Puncak 29 Kab.000 - Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Lebak 2 Kab. Serang 4 Kab. Asmat 19 Kab. Halmahera Tengah 2 Kab. Tangerang 5 Kota Cilegon 6 Kota Serang 7 Kota Tangerang 8 Kota Tangerang Selatan SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1. Jayapura 3 Kab.Intan Jaya 24 Kab.000 50 775 1.500 41.000 1. Supiori 21 Kab Deiyai 22 Kab.000 150 3. Mimika 6 Kab.500 500 25.500 44.975 100 450 50 500 250 1. Kepulauan Sula 5 Kab. Lanny Jaya 25 Kab. Merauke 5 Kab. Jayawijaya 4 Kab. Sarmi 12 Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 500 850 150 2.000 1.100 400 100 300 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 100 50 50 100 50 50 150 50 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 1 1 2 2 10 4 1 2 3 1 1 1 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar 4 Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 20 SLI (unit) 1 1 - - - - - 3 25 1 50 - 2 - - 3 55 3 25 25 2 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 106 | P a g e .500 500 500 7. Keerom 13 Kab.

500 21.500 12.500 5.000 1. Manokwari 3 Kab.500 5.000 2.075 Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.100 1.000 450 1.900 5. Sungai Liat 30 GORONTALO Dinas Propinsi 1 Kab.000 450 3.000 1. Kaimana 8 Kab. Mamuju 2 Kab. Polewali Mandar SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.000 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 250 50 50 50 50 50 100 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 2 4 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 15 SLI (unit) - - 1 - - - 3 42 2 3 1 - 1 - - - - - - - - - 3 1 2 - - - - 6 1 2 3 20 1 1 1 1 2 2 - - - - - - 2 33 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 107 | P a g e .100 550 550 1. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 3. Majene 3 Kab.000 5. Mamasa 4 Kab. Bangka Selatan 4 Kab.000 2. Belitung 3 Kab. Bangka Barat 6 Kab.250 1. Mamuju Utara 5 Kab.100 550 550 29 BABEL Dinas Propinsi 1 Kab.000 1. Blitung Timur 5 Kab. Sorong 2 Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No. Raja Ampat 5 Kab.400 375 500 400 375 500 200 1. Bangka 2 Kab.250 2.500 3.000 3. Bangka Tengah 7 Kota Pangkal Pinang 8 Kab.500 63.125 700 500 1. Anambas 6 Kota Batam 7 Kota Tanjung Pinang 8 Kab Dumai 32 PAPUA BARAT Dinas Propinsi 1 Kab. Maybrat 11 Kab Tambrauw 33 SULBAR Dinas Propinsi 1 Kab. Boalemo 2 Kab. Teluk Wondama 7 Kab. Teluk Bintuni 6 Kab. Sorong Selatan 9 Kota Sorong 10 Kab.500 225 7.500 2.300 5. Natuna 2 Kab.450 6. Bone Bolango 5 Kab.150 2. Bintan 3 Kab.000 1.500 675 820 450 500 225 60 100 375 700 100 60 100 50 125 225 100 2. Karimun 4 Kab. Lingga 5 Kab.000 1.100 1.025 19.000 1. Limboto 8 Kab. Gorontalo 3 Kab.000 1. Pohuwato 4 Kab.000 1.000 9.450 2. Fak-Fak 4 Kab.500 7.500 750 2.950 19.000 5.000 1.500 3. Marisa 31 KEPRI Dinas Propinsi 1 Kab.000 3.750 1.000 2.000 2.000 1. Kep.400 400 1.000 2.125 1. Gorontalo utara 6 Kota Gorontalo 7 Kab.750 38.

Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 15. Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 108 | P a g e .

Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah RPJM RENSTRA Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Rencana Kerja dan Angaran (RKA) Penetapan Kinerja (PK) Kinerja Aktual Lapuran Keuangan (SAI) LAKIP Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 109 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 16.

RKT. PK) Pengukuran Kinerja Pelaporan Kinerja Evaluasi Kinerja Capaian Kinerja Nilai Total BOBOT 35 20 15 10 20 100 Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 110 | P a g e . 1 2 3 4 5 KOMPONEN YANG DINILAI Perencanaan Kinerja (Renstra.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 17. Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah NO.

UPT Pusat. Alur Sistem Pemantauan. Evaluasi dan Pelaporan BAPPENAS Nasional Outcome/Impact Nasional Kementerian Pertanian Sektor/ Program Outcome/Impact Sektor Unit Eselon I Program Outcome Unit Eselon II.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 18. Dekon/TP SKPD Provinsi Kegiatan Output Tugas Pembatuan di SKPD Kab/Kota Kegiatan Output Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 111 | P a g e .

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 19. Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan
WAKTU PENYAMPAIAN

NO. I. 1.

JENIS LAPORAN LAPORAN RUTIN Laporan PP 39/2006

PELAPOR

PENERIMA LAPORAN

Setjen Kementerian Pertanian

14 hari kerja setelah triwulan terakhir 3 hari kerja setelah triwulan berakhir 4 hari kerja setelah triwulan berakhir 5 hari kerja setelah triwulan berakhir

Form-A Form-B Form-C

2. 3.

Evaluasi Rencana Kerja / Renstra Penetapan Kinerja Es-II Penetapan Kinerja Es-I Penetapan Kinerja Kementerian Pertanian LAKIP Eselon-II LAKIP Eselon-I LAKIP Kementerian Pertanian

Penanggung jawab kegiatan Penanggung jawab program Kepala SKPD Kab/Kota, Prov, Satker Pusat, UPTPusat Eselon - I Eselon-II Eselon-I Kementerian Pertanian Eselon - II Eselon - I Kementerian Pertanian Eselon-I Eselon - I Eselon - I Eselon - I Eselon – II Eselon – I Kementan Eselon - I

Penanggung jawab program Kepala Satker masing-masing Instansi Kepala Daerah Cq Kepala Bappeda dan Menteri Pertanian

Bappenas Eselon-I Menteri Pertanian Kementerian PAN & RB

Tahunan / lima tahunan 31 Januari 15 Februari 31 Maret 31 Januari T + 1 15 Februari T + 1 10 Maret T + 1

4. 5. 6. 7.

Rapim Kementan (Rapim A) Tindak lanjut Rapim A Laporan Bulanan Kegiatan Menteri Laporan Bulanan Kegiatan Eselon-I Laporan Kinerja Eselon – II Laporan Kinerja Eselon - I Laporan Kinerja Kementan

Menteri Pertanian Menteri Pertanian Menteri Pertanian Menteri Pertanian Eselon I Menteri Pertanian Menteri PAN & RB Menko / Kabinet / DPR-RI Sesuai permintaan

Dua mingguan Sesuai jadwal Bulanan Bulanan 10 Desember 15 Desember 20 Desember Sesuai Permintaan Sesuai Permintaan

II. 8. 9.

LAPORAN KHUSUS Bahan Rakor Menko / Sidang Kabinet / RDP / Raker DPR-RI Insidental lain

Catatan : Sumber:

Laporan-laporan lain (SAI, SIMAK-BMN, Laporan Statistik, Laporan Pemantauan Wilayah Binaan, Laporan Teknis dll) sesuai ketentuan yang berlaku. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 112 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 20. Mekanisme Penyusunan Kementerian/Lembaga RKA-KL Berdasarkan Pagu Anggaran

1.

SATKER Penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan suatu Satker untuk bahan yang direncanakan dalam dokumen KK RKA-KL mengacu pada format KK RKA-KL dan tata cara pengisiannya. Proses penyusunan KK RKA-KL tersebut difasilitasi program Aplikasi RKA-KL. Artinya proses penyusunan RKA-KL pada suatu Satker menggunakan program Aplikasi RKA-KL akan mengahsilkan dokumen KK RKA-KL. Penyusunan KK RKA-KL pada suatu Satker terbagi dalam penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan dengan langkah sebagai berikut: a. Penyusunan anggaran belanja dilakukan dengan: 1) Menuangkan Alokasi Anggaran Angka Dasar Satker menuangkan jenis alokasi anggaran Angka dasar pada suatu kegiatan sampai dengan tingkat Komponen yang juga telah memperkirakan angka prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang. 2) Menuangkan Alokasi Anggaran Inisiatif Baru a) Berkenaan dengan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru, Satker menuangkan alokasi anggaran satker secara rinci sampai dengan item biaya. b) Penuangan anggaran Inisiatif Baru juga telah memperhatikan angka prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang. c) Penuangan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru mengacu pada Proposal Inisiatif Baru yang telah disetujui untuk tahun yang direncanakan. b. Penyusunan anggaran pendapatan dilakukan dengan: 1) Menuangkan target pendapatan setiap kegiatan yang dilaksanakan Satker. Penuangan anggaran pendapatan terinci dalam program, kegiatan, akun pendapatan, dan jenis penerimaan.Pendapatan Bukan pajak (PNBP) atau penerimaan fungsional. 2) Menuangkan angka prakiraan maju setiap kegiaatn dan setiap jenis penerimaan (PNBP dan/atau penerimaan fungsional). c. Menyampaikan / melengkapi data dukung berupa: 1) KK RKA-KL dan Arsip Data Komputer-nya (ADK). 2) Gender Budget Statement (GBS) apabila berkenaan dengan ARG. Penggunaan GBS mengacu pada contoh format. 3) Rencana Bisnis dan Angagran BLU (RBA BLU) apabila berkenaan dengan Satuan Kerja BLU. 4) Data dukung teknis dalam suatu kasus tertentu antara lain: peraturan perundangan/keputusan pimpinan K/L yang mendasari adanya kegiatan/output, atau analisis kelayakan bangunan oleh Dinas Pekerjaan Umum dalam hal pembangunan/renovasi berat gedung/bangunan Negara.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 113 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
5) Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTIM) yang ditandatangani oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) apabila satuan biaya yang tercantum dalam KK RKA-KL tidak terdapat dalam Standar Biaya. 6) Data pendukung terbaik, antara lain berupa: a) Perhitungan kebutuhan biaya pembangunan/renovasi bangunan gedung Negara atau yang sejenis dari Kementerian Pekerjaan Umum atau Dinas Pekerjaan Umum setempat sebagimana Peraturan menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. b) Persetujuan prinsip (clearence) terbaik dengan pembangunan baru bangunan gedung Negara dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan reformasi Birokrasi, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. KK RKA-KL yang telah ditandatangani KPA beserta data pendukung terkait, disampaikan kepada Unit Eselon I.

d.

2.

UNIT ESELON – I a. Menghimpun/kompilasi KK RKA-KL dalam lingkup Unit Eselon-I berkenaan. b. Menyusun RKA-KL Unit Eselon-I berdasarkan KK RKA-KL. c. Memvalidasi kinerja dan anggaran program yang menjadi tanggung jawab Unit Eselon-I berkenaan dengan (1) Total pagu anggaran; (2) sumber dana, dan (3) sasaran kinerja (jenis barang/jasa dan volume output). d. Meneliti dan menyaringrelevansi Komponen dengan Output kegiatan pada masing-masing KK RKA-KL. e. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas program, Unit Eselon-I melakukan koordinasi dengan Satker untuk perbaikan pada KK RKA-KL. f. Mengisi informasi pada Bagian L Formulir 2 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian Hasil. Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai Sasaran Hasil (pada tingkat program) antara lain berupa: 1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra Unit Eselon-I) 2) Uraian deskripsi masing-masing kegiatan. 3) Jumlah Satker pelaksana kegiatan 4) Penjelasan mengenai perubahan alokasi program antara yang sedang berjalan dan yang diusulkan. g. Selain mengisi Formulir 2 RKA-KL, Unit Eselon-I juga mengisi Bagian I, Formulir 3 RKA-KL tentang Operasionalisasi Kegiatan yang berisikan antara lain: 1) Identifikasi factor-faktor pendukung (faktor pegawai, sarana, dan prasarana) dan penghambat (fackor lingkungan/kultur kerja). 2) Identifikasi Satker pelaksana kegiatan. 3) Penjelasan mengenai perubahan alokasi anggaran belanja kegiatan dari ayng sedang berjalan dengan yang diusulkan.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 114 | P a g e

c. 2) Pengurangan belanja pada Komponen 0001 dan 0002.Pedoman Pelaksanaan Program h. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas alokasi anggaran K/L. 3. Menghimpun/kompilasi RKA-KL Unit Eselon-I dalam lingkup K/L. dan PNBP (sumber pendanaan/sumber pembiayaan dalam menghasilkan output tidak diperbolehkan berubah/bergeser). Formulir 1 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian Sasaran Strategis. RKA-KL Unit Eselon-I ditandatangani oleh Pejabat Eselon-I atau yang setingkat Eselon-I selaku KPA sebagai penanggung jawab program. Sumber: Pedoman Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan . f. Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai sasaran strategis. K/L melakukan koordinasi dengan Unit Eselon-I untuk perbaikan paad RKA-KL Unit Eselon-I berkenaan. Ditjen Anggaran dan Kementerian Perencanaan. Pinjaman Hibah Luar Negeri. 2) Uraian deskripsi masing-masing program dan unit Organisasi Penanggung Jawab.Kementan. antara lain berupa: 1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra K/L). (2) Simber dana. Menyampaikan RKA-KL Unit Eselon I dan data dukung terkait kepada K/L. Menyampaikan RKA-KL berserta data dukung terkait kepada Kementerian Keuangan c. e. d. i. Menyusun RKA-KL secara utuh untuk lingkup K/L berdasarkan RKA-KL Unit Eselon – I. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 115 | P a g e . (3) sasaran kinerja.q. Mengisi informasi pada Bagian I. 3) Perubahan pagu sumber pendanaan/sumber pembiayaan yang berasal dari rupiah murni. Memvalidasi alokasi angagran K/L meliputi: (1) Total pagu anggaran. RKA-KL (yang telah disusun) diteliti kembali kesesuaiannya dengan pagu Anggaran K/L agar tidak mengakibatkan: 1) Pergeseran anggaran antar program (jumlah alokasi dana pada masingmasing program harus sesuai dengan yang tercantum dalam pagu Anggaran K/L). g. KEMENTERIAN / LEMBAGA a. b.

b. K/L menyesuaikan RKA-KL dengan: a. Apabila ada perubahan parameter baik ekonomi maupun non-ekonomi maka.Penyesuaian dimaksud meliputi: 1. dan usulan program/kegiatan/output baru maka. 3. Apabila tidak ada perubahan parameter ekonomi. Apabila ada program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR maka. maka K/L menyesuaikan RKA-KL. d. Mengusulkan rumusan program/kegiatan/output sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR kepada Kementerian Keuangan dan kementerian Perencanaan terlebih dahulu sesuai dengan kewenangan masing-masing. Penyesuaian pada komponen pendukung dilakukan dengan melakukan perkalian dengan parameter ekonomi. 2.Kementan. Adanya program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. Penyesuaian terhadap angka dasar apabila terdapat perubahan parameter ekonomi (indeks inflasi untuk tahun yang direncanakan) dan/atau penyesuaian parameter nonekonomi apabila terdapat perubahan kebijakan sehingga berpengaruh terhadap besaran alokasi angagran K/L. Usulan tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai referensi pada program aplikasi RKA-KL. Meneliti kemmbali jumlah alokasi anggaran tersebut apakah sesuai dengan jumlah alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. Entry data biaya pada masing-masing komponen dengan mengacu pada standar biaya yang berlaku pada tahun yang direncanakan atau kepatutan dan kewajaran harga (disertai dengan SPTIM). Sedangkan usulan output diajukan kepada Kementerian Keuangan. Sedangkan penyesuaian komponen utama dapat dilakukan dengan mengalikan dengan parameter ekonomi atausesuai dengan kebijakan yang ditetapkan. parameter non-ekonomi. Dalam rangka penyusunan RKA-KL berdasarkan Pagu Alokasi Anggaran K/L. ada beberapa kemungkinan: 1. KK RKA-KL. 2. penuangan dalam KK RKA-KL dilakukan melalui penyesuaian dengan parameter ekonomi dan non ekonomi pada tingkat kompinen. Sumber: Pedoman Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan .Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 21. c. Hasil penuangan alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR terdapat dalam formulir B. Usulan program dan kegiatan (non output) diajukan kepada Kementerian Perencanaan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 116 | P a g e . Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi Anggaran K/L Berdasarkan Hasil Kesepakatan Pembahasan DPR dan Alokasi Angagran K/L. RKA-KL berdasarkan Pagu Anggaran RKA-KL secara langsung ditetapkan dalam SP RKA-Kl.

Berdasarkan proses penelaahan dan penilaian DJA memberikan persetujuan atau penolakan terhadap usulan revisi KPA.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 22. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang Memerlukan Persetujuan Menteri keuangan 1. SP RKA-KL Revisi hasil penetapan Menkeu juga disampaikan ke DJPBN. 4. 6. DJA melakukan penelaahan dan menilai usulan revisi yang diajukan KPA.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 117 | P a g e . 6b. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyiapkan usulan Revisi Anggaran (Revisi RKAKL) yang diajukan dan membutuhkan persetujuan Menteri Keuangan (Menkeu). akan ditetapkan surat pemberitahuan penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) dan menyampaikannya ke KPA. 3. 2. Jika berdasarkan penelaahan dan penilaian DJA usulan revisi disetujui akan disampaikan ke Menkeu untuk memperoleh persetujuan. 5. Usulan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) disampaikan kepada Direktur Jenderal Anggaran (DJA) beserta dokumen pendukung. Jika Menkeu menolak usulan revisi akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) danb menyampaikannya ke KPA. 6a. Jika Menkeu menyetujui usulan revisi anggaran (Revisi RKA-KL). Jika berdasarkan penelahaan dan penilaian yang dilakukan DJA usulan revisi ditolak. akan ditetapkan Surat Penetapan RKA-KL Revisi (SP RKA-KL Revisi) dan disampaikan ke KPA.

mencetak Revisi Anggaran (Konsep Revisi DIPA) dan menyiapkan Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker. dilakukan pengesahan DIPA Revisi dan disampaikan ke KPA. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi ditolak. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi disetujui. KPA menyampaikan Konsep Revisi DIPA kepada DJPBN beserta Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker. KPA berdasarkan Pengesahan DIPA Revisi mencetak POK hasil revisi. 5. akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi DIPA) dan menyampaikannya ke KPA. 3. KPA menyiapkan usulan-usulan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker). Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 23. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/ Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1. 6. KPA berdasarkanb Revisi RKA-Satker. DJPBN melakukan penelaahan dan memberikan persetujuan atau penolakan terhadap usulan revisi. 7. 4. 2.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 118 | P a g e .

KPA mencetak Konsep DIPA Revisi dan menyampaikannya ke DJPBN berserta ADK RKASatker. Berdasarkan Konsep DIPA Revisi dan ADK RKA-Satker DJPBN memeriksa dan melakukan pengesahan DIPA Revisi. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan Kerja oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran 1.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 119 | P a g e . 2. 3. Berdasrakan DIPA Revisi yang telah disahkan KPA mencetak POK. 5. KPA berdasarkan Revisi RKA-Satker memeriksa apakah Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebakan perubahan DIPA.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 24. KPA menyiapkan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKASatker) sesuai kewenangannya. DIPA Revisi yang telah disahkan disampaikan kembali ke KPA. Jika Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebabkan perubahan DIPA. 6. jika tidak terjadi perubahan DIPA. 4. KPA mencetak POK dan menyampaikan ke DJPBN berserta ADK RKA-Satker. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. 2a.

6. 4b. Satker kantor pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Pusat DJPBN. 8a.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 25. 2b. 7. 8b. sebagai bahan pencocokan dan penelitian Revisi DIPA yang diajukan oleh Satker Pusat maupun Daerah. 9a. dikirimkan kembali kepada Eselon I K/L sebagai bahan Revisi DIPA.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 120 | P a g e . Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. DJPBN mengambil data RLA-KL dari Database bersama. ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA. 5. 4a. Eselon I pada Kementerian Negara/lembaga (K/L) mengirimkan ADK Revisi RKA-KL dilakukanpenelaahan pada DJA. data revisi ditransfer ke database Kantor Pusat DKPBN. data RKA-KL diunggah (di-upload) ke Database bersama oleh DJA. 3. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran 1. 2a. 10. Setelah Revisi RKA-KL ditetapkan (SP-RKA-KL). Eselon I K/L menyampaikan juga ADK RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA kepada Satker daerah sebagai bahan penyusunan revisi DIPA. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN. Setelah Revisi DIPA disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN. Kantor Pusat DJPBN menerbitkan dan mengirimkan DRA beserta ADK-nya kepada kantor Wilayah DJPBN berdasarkan RKA-KL yang ditetapkan oleh DJA (SP-RKL-KL). disampaikan kepada KPPN. Eselon I K/L menyampaikan ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA kepada satker kantor pusat sebagai bahan penyusunan Revisi DIPA. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan Revisi dIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Wilayah DJPBN. Database Bersama di-update berdasarkan Data Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN.

Satker daerah menyampaikan usul pengesahan revisi DIPA beserta ADK-nya kepada kantor Wilayah DJPBN. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 26. Setelah DIPA satker daerah disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN. disampaikan kepada KPPN. 2b. 2a. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN. 3b. disampaikan kepada KPPN. Database Bersama di-update berdasarkan data revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. Satker Kantor Pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Pusat DJPBN. 4.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 121 | P a g e . Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1a. data revisi ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN. 1b. 3a. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat DJPBN.

Satker kantor pusat menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Pusat DJPBN. 3a. 2a.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 122 | P a g e .. ADK POK revisi satker kantor pusat. 1b. 4.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 27. Data POK revisi satker kantor pusat ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN. ADK POK revisi satker daerah. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran 1a. 2b. Database DJA di-update berdasarkan database Bersama. Database Bersama di-update berdasarkan Data POK revisi satker kantor pusat/daerah. disampaikan kepada KPPN. 3b. Satker daerah menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Wilayah DJPBN. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. disampaikan kepada KPPN.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful