Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

GANGGUAN PSIKOLOGIS YANG MEMPENGARUHI

SISTEM SALURAN GASTROINTESTINAL

Oleh : M. Lutfi Zaristan (11.2011.087) Rinaldy Teja Setiawan (11.2011.083) Theresia Helena (11.2012.040) Ignatius Andre Pembimbing : Dr. Susi Wijayanti, Sp.KJ

FAKULTAS KEDOKTERAN KRISTEN KRIDA WACANA KEPANITRAAN KLINIK ILMU PENYAKIT JIWA RSJ PROVINSI JAWA BARAT PERIODE : 12 November 2012 15 Desember 2012 JAKARTA 2012

KATA PENGANTAR
1

Puji Syukur ksmi panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Referat Ilmu Kedokteran Jiwa dengan judul Gangguan Psikologis yang Mempengaruhi Sistem Saluran Gastrointestinal. Referat ini kami susun sebagai tugas dalam menempuh kepaniteraan klinik, bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana. Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dr. Susi Wijayanti, Sp.KJ selaku Pembimbing yang telah membimbing dalam pembuatan referat ini. 2. Seluruh staf SMF Ilmu Kedokteran Jiwa, dan berbagai pihak yang telah membantu penyusunan referat ini. Kami menyadari bahwa dalam referat ini, masih banyak kekurangan dan kekeliruan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami harapkan demi perbaikan penulisan referat ini. Semoga bisa menjadi bahan informasi dan dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

Jakarta, 29 November 2012

Penulis

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.2


2

DAFTAR ISI3 BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang...4 B. Tujuan....5 C. Manfaat..5 BAB II : PEMBAHASAN A. PEMBAHASAN....6 1. Definisi.........6 2. Etiologi.6 3. Manifestasi klinik.7 4. Gangguan spesifik pada psikosomatis...10 5. Kriteria diagnosis...12 6. Perjalanan penyakit14 7. Pemeriksaan...........14 8. Diagnosis15 9. Penatalaksanaan.16 BAB III : PENUTUP.19 DAFTAR PUSTAKA...20

BAB I
3

PENDAHULUAN

A. L A T A R B E L A K A N G Pengertian dari psikologi adalah ilmu yang mempelajari manusia sebagai kesatuan utuh yakni jasmani dan rohani. Psikologi sering disebut dengan ilmu jiwa. Salah satu akar dari psikologi adalah psikologi kesehatan. Dan psikologi kesehatan sendiri adalah psikologi yang mempelajari tentang pengaruh psikologis terhadap kesehatan, sakit serta pola koping ketika menghadapi masalah kesehatan (Nietzel, Bernstein & Milich, 1998). Gangguan psikosomatis adalah faktor psikologis yang merugikan, mempengaruhi kondisi medis pasien. Faktor psikologis tersebut dapat berupa gangguan mental, gejala psikologis, sifat kepribadian atau gaya mengatasi masalah, dan prilaku kesehatan yang maladaptif. 1 Kurang lebih 400 tahun SM ahli filsafat Hipocrates sudah mengutarakan pentingnya peran faktor psikis pada penyakit. Pada abad pertengahan Paracelcus seorang ahli kimia menyatakan bahwa kekuatan batin memiliki pengaruh terhadap kekuatan seseorang.2 Menurut The National Academy Science tahun 1978 definisi psikosomatis adalah bidang interdisiplin yang memperhatikan perkembangan dan integrasi ilmu pengetahuan prilaku, biomedis dan teknik yang relevan dengan kesehatan dan penyakit serta penerapan pengetahuan, dan teknik-teknik tersebut untuk mencegah, mendiagnosis dan rehabilitasi. 1 Kedokteran psikosomatis menyadari kesatuan dari pikiran dan tubuh serta interaksi diantara keduanya, dimana faktor psikologis penting dalam perkembangan semua penyakit, namun apakah peranannya dalam memulai, perkembangan, memperberat dan eksaserbasi penyakit, predisposisi atau reaksi terhadap suatu penyakit masih dalam perdebatan. Dengan demikian kedokteran prilaku adalah istilah yang khusus untuk kedokteran psikosomatis.1, 2 Sesuatu yang jarang diulas yaitu tentang gangguan saluran cerna yang dipengaruhi faktor psikologis. Bahkan mungkin banyak yang heran ternyata kedua hal tersebut saling berpengaruh. Dengan kenyataan-kenyataan tersebut, sangat penting untuk mengulas faktor psikologis yang berpengaruh terhadap sistem saluran gastrointestinal.
4

B . T U J U A N Makalah ini disusun dengan harapan, setiap pembaca khususnya kalangan medis, lebih mengetahui bagaimana ciri-ciri gangguan psikologis yang mempengaruhi sistem saluran
gastrointestinal yang nantinya akan mempermudah untuk mendiagnosa secara pasti gangguan ini,

sehingga pengobatan dapat diberikan secara maksimal dan tepat, yang nantinya memberikan efek positif atau kesembuhan yang diharapkan. Dan juga untuk memberikan informasi tentang bagaimana cara penanganan dari gangguan psikologis tersebut.

C.

MANFAAT Menambah informasi ilmiah mengenai gangguan psikologis yang mempengaruhi sistem

saluran gastrointestinal. Memahami lebih baik mengenai dasar diagnosis dan penatalaksanaannya

BAB II PEMBAHASAN Definisi


5

Psikosomatis berasal dari dua kata yaitu psiko yang artinya psikis, dan somatis yang artinya tubuh. Dalam Diagnostic And Statistic Manual Of Mental Disorders edisi ke empat (DSM IV) istilah psikosomatis telah digantikan dengan kategori diagnostik faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis.1, 2 ----Menurut Wittkower psikosomatis secara luas didefinisikan sebagai usaha untuk mempelajari interelasi aspek-aspek psikologis dan aspek-aspek fisis semua faal jasmani dalam keadaan normal maupun abnormal. Ilmu ini mencoba mempelajari, menemukan interelasi dan interaksi antara fenomena kehidupan psikis (jiwa) dan somatis (raga) dalam keadaan sehat maupun sakit.2

Etiologi Ada beberapa penyebab dari gangguan psikosomatis3 : 1. Stress Umum ----Stress ini dapat berupa suatu peristiwa atau suatu situasi kehidupan dimana individu tidak dapat berespon secara adekuat. Menurut Thomas Holmes dan Richard Rahe, didalam skala urutan penyesuaian kembali sosial (social read justment rating scale) menuliskan 43 peristiwa kehidupan yang disertai oleh jumlah gangguan dan stres pada kehidupan orang rata-rata, sebagai contohnya kematian pasangan 100 unit perubahan kehidupan, perceraian 73 unit, perpisahan perkawinan 65 unit, dan kematian anggota keluarga dekat 63 unit. Skala dirancang setelah menanyakan pada ratusan orang dengan berbagai latar belakang untuk menyusun derajat relatif penyesuaian yang diperlukan olewh perubahan lingkungan kehidupan. Penelitian terakhir telah menemukan bahwa orang yang menghadapi stres umum secara optimis bukan secara pesimis adalah tidak cenderung mengalami gangguan psikosomatis, jika mereka mengalaminya mereka mudah pulih dari gangguan. 2. Stres Spesifik Lawan Non Spesifik ----Stres psikis spesifik dan non spesifik dapat didefenisikan sebagai kepribadian spesifik atau konflik bawah sadar yang menyebabkan ketidakseimbangan homeostatis yang berperan dalam perkembangan gangguan psikosomatis. Tipe kepribadian tertentu yang pertama kali diidentifikasi berhubungan dengan kepribadian koroner (orang yang memiliki kemauan keras dan agresif yang cenderung mengalami oklusi miokardium).
6

3. Variabel Fisiologis ----Faktor hormonal dapat menjadi mediator antara stres dan penyakit, dan variabel lainnya adalah kerja monosit sistem kekebalan. Mediator antara stress yang didasari secara kognitif dan penyakit mungkin hormonal, seperti pada sindroma adaptasi umum Hans Selye, dimana hidrokortison adalah mediatornya, mediator mungkin mengubah fungsi sumbu hipofisis anterior hipotalamus adrenal dan penciutan limfoit. Dalam rantai hormonal, hormon dilepaskan dari hipotalamus dan menuju hipofisis anterior, dimana hormon tropik berinteraksi secara langsung atau melepaskan hormon dari kelenjar endokrin lain. Variabel penyebab lainnya mungkin adalah kerja monosit sistem kekebalan. Monosit berinteraksi dengan neuropeptida otak, yang berperan sebagai pembawa pesan (messager) antara sel-sel otak. Jadi, imunitas dapat mempengaruhi keadaan psikis dan mood.

Manifestsi klinik Proses emosi terdapat di otak dan disalurkan melalui susunan saraf otonom vegetatif ke alatalat viseral yang banyak dipersarafi oleh saraf-saraf otonom vegetatif tersebut, seperti kardiovascular, traktus digestifus, respiratorius, system endokrin dan traktus urogenital. 2 Adapun kriteria klinis penyakit psikosomatis terdiri atas kriteria yang negatif dan kriteria yang positif.2

a. Kriteria yang positif ( yang biasanya tidak ada) 4 1. Tidak didapatkan kelainan-kelainan organik pada pemeriksaan yang teliti sekalipun, walaupun mempergunakan alat-alat canggih. Bila ada kelainan organic belum tentu bukan psikosomatik, sebab : .Bila penyakit psikosomatik tidak diobati, dalam jangka waktu yang cukup lama dapat menimbulkan kelainan-kelainan organik pada alat-alat yang dikeluhkan. Secara kebetulan ada kelainan organik, tapi kelainan ini tidak dapat menerangkan keluhan yang ada pada pasien tersebut, yang dinamakan koinsidensi.

Sebelum timbulnya psikosomatis, telah ada lebih dahulu kelainan organiknya tetapi tidak disadari oleh pasien. Baru disadari setelah diberitahu oleh orang lain atau kadang-kadang oleh dokter yang mengobatinya. Hal ini membuatnya menjadi takut, khawatir dan gelisah, yang dinamakan iatrogen.

1. Tidak didapatkan kelainan psikiatri. Tidak ada gejala-gejala psikotik yakni tidak ada disintegrasi kepribadian, tidak ada distorsi realitas. Masih mengakui bahwa dia sakit, masih mau aktif berobat. b. Kriteria positif (yang biasanya ada) 2 1. Keluhan-keluhan pasien ada hubungannya dengan emosi tertentu 2. Keluhan-keluhan tersebut berganti-ganti dari satu sistem ke sistem lain, yang dinamakan shifting phenomen atau alternasi. 3. Adanya vegetatif imbalance (ketidakseimbangan susunan saraf otonom) 4. Penuh dengan stress sepanjang kehidupan (stress full life situation) yang menjadi sebab konflik mentalnya. 5. Adanya perasaan yang negatif yang menjadi titik tolak keluhankeluhannya. 6. Adanya faktor pencetus (faktor presipitasi) proksimal dari keluhankeluhannya. 7. Adanya faktor predisposisi yang dicari dari anamnesis longitudinal. Yang membuat pasien rentan terhadap faktor presipitasi itu.Faktor predisposisi dapat berupa faktor fisik / somatik, biologi, stigmata neurotik, dapat pula faktor psikis dan sosiokultural. Kriteria-kriteria ini tidak perlu semuanya ada tetapi bila ada satu atau lebih, presumtif, indikatif untuk penyakit psikosomatis. Beberapa manifestasi klinis dari gangguan psikosomatis antara lain: 1. Terdapat suatu kondisi medis umum 3 2. Faktor psikologis secara merugikan mempengaruhi kondisi medis umumdengan cara: Faktor psikologis telah mempengaruhi perjalanan kondisi medis umum seperti yang ditunjukkan oleh hubungan temporal yang erat antara faktorpsikologis dan perkembangan atau eksaserbasi dari atau keterlambatanpenyembuhan dari kondisi medis umum. Faktor psikologis mempengaruhi terapi kondisi medis umum
8

Faktor psikologis berperan dalam resiko kesehatan individu Respon psikologis yang berhubungan dengan stres mencetuskan atau mengeksasebasi gejala kondisi medis umum Yang dimaksud dengan faktor psikologis tersebut adalah: 3 Gangguan mental mempengaruhi kondisi medis (misalnya gangguandepresi berat memperlambat penyembuhan infark miokard) Gangguan psikologis mempengaruhi kondisi medis (misalnya gejala depresi memperlambat pemulihan setelah pembedahan, kecemasanmengeksasebasi asma) Sifat kepribadian atau gaya menghadapi masalah mempengaruhi kondisi medis (misalnya penyangkalan patologis terhadap kebutuhan pembedahan pada seorang pasien dengan kanker, perilaku bermusuhan dan tertekanberperan pada penyakit kardiovaskuler) Gangguan kesehatan maladatif mempengaruhi kondisi medis (misalnya tidak melakukan olahraga, seks yang tidak aman, makan yang berlebihan) Respon fisiologis yang berhubungan dengan stres mempengaruhi kondisi medis (misalnya eksasebasi ulkus, hipertensi, aritmia, atau nyeri kepala yang berhubungan dengan stres). Faktor psikologi lain yang tidak ditentukan mempengaruhi kondisi medis (misalnya faktor personal, kultural atau religius).

Gangguan Spesifik pada Psikosomatis Ada beberapa gangguan spesifik yang dapat disebabkan oleh gangguan psikis: 1. Sistem gastrointestinal a. Gastritis
9

Kriteria psikologis diperlukan karena diagnosis dengan penemuan negative organis dan keluhan vegetatif tidak mencukupi. Dari evaluasi psikis ditemukan: 1. gejala bersifat neurosis 2. depresi dan anxietas 3. berkeinginan untuk dirawat dan dimanja dan untuk memiliki objek yang diinginkan b. Ulkus peptikum Sifat kepribadian ulkus menjadi faktor presdiposisi. Sifat kepribadian ituantara lain:1,8 1. Tingkah laku Orang tersebut biasanya tegang, selalu was-was, sangat aktif dalam berbagai bidang. Tidak mudah menerima kenyataan bila dia gagal 2. Kepandaian Mempunyai kepandaian dalam berbagai bidang yang dikerjakan sekaliguspada waktu yang bersamaan 3. Pertanggungjawaban Mempunyai tanggung jawab yang sangat besar bahkan sampai

memikirkanpekerjaan orang lain 7 4. Pengenalan terhadap penyakitnya Tidak menghiraukan penyakitnya, sering terlambat makan, merasa sakit uluhati tapi masih mau bekerja terus, sering datang terlambat ke dokter 5. Umur Terbanyak pada usia 30-an, karena banyak faktor stress, kesulitan dalam bidang ekonomi dan keluarga 6. Jenis kelamin/ bangsa
10

Laki-laki lebih sering dibandingkan wanita. Kulit hitam lebih jarang dibandingkan kulit putih 7. Faktor sosial Sering ditemukan dikota besar dan daerah industri. Stress dan kecemasan yang disebabkan oleh berbagai konflik yang tidak spesifik dapat menyebabkan hiperasiditas lambung dan hipersekresi pepsin, yang menyebabkan suatu ulkus. Psikoterapi merupakan terapi yang dapat dipakai untuk konflik ketergantungan pasien.Biofeedback dan terapi relaksasi mungkin berguna.Terapi medis lain yang digunakan adalah cimetidine, famotidine.1 c. Kolitis ulserativa Tipe kepribadian dari pasien dengan Kolitis ulserativa menunjukkan sifat kompulsif yang menonjol. Pasien cenderung pembersih, tertib, rapi, tepat waktu, hiperintelektual, malu-malu, dan terinhibisi dalam mengungkapkan kemarahan. Stress non spesifik dapat memperberat penyakit ini. Terapi yang dianjurkan pada kolitis ulserativa yang akut adalah psikoterapi yang non konfrontatif dan suportif dengan psikoterapi interpretatif selama periode tenang. Terapi medis terdiri dari tindakan medis nonspesifik, seperti antikolinergik dan anti diare.1 d. Obesitas Terdapat presdiposisi familial genetika pada obesitas, dan faktorperkembangan awal ditemukan pada obesitas masa anak-anak.Faktor psikologisadalah penting pada obesitas hipergrafik (makan berlebihan).Terapi yangdianjurkan adalah pembatasan diet dan penurunan asupan kalori. Dukunganemosional dan modifikasi perilaku adalah membantu untuk kecemasan dandepresi yang berhubungan dengan makan berlebihan dan diet.1 Teknik behaviour modification bertujuan untuk mengubah kebiasaan makan,salah satu programnya sebagai berikut.1.9

11

1. Dekripsi tingkah laku untuk mengidentifikasi unsur mana dalam tingkah laku itu yang dapat diubah. 2. Pengendalian stimuli yang mendahului makan. 3. Memperlambat proses makan. 4. Menyediakan nilai untuk pengendalian yang berhasil e. Anoreksia nervosa Anoreksia nervosa ditandai oleh perilaku yang diarahkan untukmenghilangkan berat badan, pola aneh dalam menangani makanan, penurunan berat badan, rasa takut yang kuat terhadap kenaikan berat badan, gangguan citra tubuh, dan pada wanita amenore:1,10

Kriteria Diagnosis Diagnosis pasti gangguan somatisasi berdasarkan PPDGJ III: 1. Adanya banyak keluhan-keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak dapat dijelaskan atas dasar adanya kelainan fisik, yang sudah berlangsung sedikitnya 2 tahun. 2. Tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ada kelainan fisik yang dapat menjelaskan keluhan- keluhannya. 3. Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat dan keluarga, yang berkaitan dengan sifat keluhan-keluhan dan dampak dari perilaku. Kriteria diagnosis gangguan somatisasi berdasarkan DSM IV : 1. Keluhan fisik dimulai sebelum usia 30 tahun, terjadi selama periode beberapa tahun yang terjadi selama periode beberapa tahun dan menyebabkan individu tersebut mencari penanganan atau gangguan yang bermakna pada fungsi social, pekerjaan dan fungsi penting lainnya. 2. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, yaitu :
12

a) 4 gejala nyeri : sekurangnnya empat tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi) b) 2 gejala gastrointestinal : sekurangnya dua gejala selain nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama masa kehamilan diare, atau intoleransi terhadap beberapa jenis makanan) c) 1 gejala seksual : sekurangnya satu gejala selain nyeri (misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi tidak teratur, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan). d) 1 gejala pseudoneurologis : sekurangnya satu gejala atau defisit yang mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis, sulit menelan, retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang : gejala disosiatif seperti amnesia ; atau hilangnya kesadaran selain pingsan). 3. Salah satu 1) atau 2) : a) Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria, 2) tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang di kenal atau efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol) b) Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan social atau pekerjaan yang ditimbulkan adalah melebihi apa yang diperkirakan dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium. 4. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuata-buat (sepertiga gangguan buatan atau pura-pura).4

Perjalanan Penyakit

13

Gangguan somatisasi merupakan gangguan yang berlangsung kronik, berfluktuasi, menyebabkan ketidakmampuan dan sering kali disertai dengan ketidakserasian dari perilaku sosial, interpersonal dan keluarga yang berkepanjangan. Episode peningkatan keparahan gejala dan perkembangan gejala yang baru diperkirakan berlangsung 6 9 bulan dan dapat dipisahkan dari periode yang kurang simtomatik yang berlangsung 9 12 bulan. Tetapi jarang seorang pasien dengan gangguan somatisasi berjalan lebih dari satu tahun tanpa mencari suatu perhatian medis. Seringkali terdapat hubungan antara periode peningkatan stress atau stress baru dan eksaserbasi gejala somatik.1

Pemeriksaan Biasanya penderita datang kepada dokter dengan keluhan-keluhan, tetapi tidakdidapatkan penyakit atau diagnosis tertentu, namun selalu disertai dengan keluhan dan masalah. Pada 239 penderita dengan gangguan psikogenik Streckter telah menganalisis gejala yang paling sering didapati yaitu 89% terlalu memperhatikan gejala-gejala pada badannya dan 45% merasa kecemasan, oleh karena itu pada pasien psikosomatis perlu ditanyakan beberapa faktor yaitu: 1. Faktor sosial dan ekonomi, kepuasan dalam pekerjaan, kesukaran ekonomi, pekerjaan yang tidak tentu, hubungan dengan dengan keluarga dan orang lain, minatnya, pekerjaan yang terburu-buru, kurang istirahat. 2. Faktor perkawinan, perselisihan, perceraian dan kekecewaan dalam hubungan seksual, anak-anak yang nakal dan menyusahkan. 3. Faktor kesehatan, penyakit-penyakit yang menahun, pernah masuk rumah sakit, pernah dioperasi, adiksi terhadap obat-obatan, tembakau. 4. Faktor psikologik, stres psikologik, keadaan jiwa waktu dioperasi, waktu penyakit berat, status didalam keluarga dan stres yang timbul. Quirido membagi cara
14

pemeriksaan dalam 3 lapangan : 2 a. Lapangan psikis b. Lapangan social c. Lapangan somatic Yang ditujukan pada lapangan kejiwaan dinamakan psikoterapi

indentik.Yangditujukan pada lapangan sosial dan somatik disebut psikoterapi non identik, yang terdiri dari pemeriksaan fisik, mengobati kelainan fisik dengan obat, memperbaiki kondisi sosial ekonomi, lingkungan, kebiasaan hidup sehat.

Diagnosis Pada umumnya penderita dengan gangguan psikosomatis dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu: 4 1. Terdapat keluhan tentang fisik, akan tetapi tidak terdapat penyakit fisik dan kelainan organik yang dapat menyebabkan keluhan tersebut 2. Terdapat kelainan organik tetapi yang primer yang menyebabkannya adalah faktor psikologis 3. Terdapat kelainan organik tetapi terdapat juga gejala lain yang timbul bukan sebab penyakit organik itu, akan tetapi karena faktor psikologis. Faktor psikologis ini mungkin timbul akibat penyakit organik seperti kecemasan. Lewis memberikan beberapa kriteria khusus untuk diagnosis gangguan psikosomatis yaitu: 4 1. Gejala-gejala yang didapat mempunyai permulaan, akibat, manifestasi dan jalannya yang sangat mencurigakan akan adanya gangguan psikosomatik. 2. Dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium tidak didapatkan penyakit organik yang dapat menyebabkan gejala-gejala. 3. Adanya suatu stress atau konflik yang menyulitkan penderita. 4. Reaksi penderita terhadap stress ini banyak hubungannya dengan gejala-gejala yang dikeluhkannya, yaitu bahwa gejala-gejala itu secara psikosomatik merupakan manifestasi fisik dari konflik atau penyelesaian masalah yang tidak memuaskan.
15

5. Terjadinya stress harus memiliki korelasi antara waktu dan timbulnya keluhan, bertambah beratnya penyakit yang ada. -Untuk diagnosis perlu dievaluasi faktor-faktor sebagai berikut: 4

Komponen organik versus komponen nonorganik. Komponen fungsional nonpsikogenik versus psikogenik. Dasar kestabilan emosi (kepribadian premorbid dan predisposisi). Stres yang menimbulkan gejala-gejala. Beratnya gangguan fisik atau psikologik.

Penatalaksanaan Di Amerika Serikat 1/3 penderita yang datang berobat pada dokter umum tidak mempunyai gangguan organik, 1/3 yang lain mempunyai gangguan organik tetapi keluhannya berlebihan.4 Dengan kesabaran dan simpati banyak penderita dengan gangguan psikosomatik dapat ditolong. Kita dapat menerangkan kepada penderita tidak dapat sesuatu dalam tubuhnya yang rusak atau yang kurang, tidak terdapat infeksi dan kanker, hanya anggota tubuhnya bekerja tidak teratur. Untuk menerangkan bagaimana emosi dapat mengganggu tubuh dapat diambil contoh sehari-hari seperti orang yang malu mukanya akan menjadi merah, orang yang takut menjadi bergemetar dan pucat. Dapat dipakai perumpamaan menurut pendidikan dan pengetahuan penderita.4 Setelah dibuat diagnosis gangguan psikosomatis, terdapat 3 fase terapi yaitu: 4 Fase 1 : ialah fase pemeriksaan dan pemberian ketenangan, penderita dan dokter bersama-sama berusaha dan saling membantu melalui anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik yang teliti dan tes laboratorium bila perlu. Diusahakan membuktikan bahwa tidak terdapat penyakit organik dan dijelaskan kepada penderita tentang mekanisme fisiologik serta keterangan tentang gejala-gejala. Berikan kesempatan kepada penderita untuk bertanya. Fase 2 : merupakan fase pendidikan, fase ini dokter lebih banyak bicara. Untuk memberi keterangan tentang keluhan, meyakinkan serta menenangkan pasien, dapat dikatakan antara lain : Bahwa gejala-gejalanya benar ada, dapat dimengerti kalau ia mengeluh dan menderita Bahwa gejala-gejalanya sering terdapat juga pada orang lain yang sudah kita obati Bahwa tidak ada kanker atau penyakit berbahaya lain
16

Bahwa gejala-gejala itu timbul karena ketegangan sehari-hari dan gangguan emosional Bahwa gejala itu tidak akan segera hilang, diperlukan beberapa waktu, tetapi akan hilang atau berkurang bila diobati dengan baik Bahwa kita semua mengalami ketegangan, kekecewaan, godaan dan kecemasan Bahwa kelelahan fisik atau jiwa dapat mengurangi daya tahan tubuh sehingga timbul gejala Bahwa kita apabila terlalu terburu-buru akan timbul ketegangan jiwa Bahwa tubuh kita bereaksi terhadap ketegangan yang terlalu berat. Sering gejala merupakan pekerjaan alat tubuh yang bekerja berlebihan Bahwa ini akan lebih baik bila pasien mengerti akan penyebab gejala. Fase 3 : ialah fase keinsafan intelektual dan emosional. Pada fase ini pasien yang lebih banyak bicara. Terjadi pengakuan, katarsis dan wawancara psikiatrik. Hal ini harus berjalan sangat pribadi, rahasia, tanpa sering terganggu dan dalam suasana penuh kepercayaaan dan pengertian. Dokter menjelaskan saja agar pembicaraan berjalan dengan baik, tidak terlalu menyimpang dari pokok pembicaraan. Terdapat 3 golongan senyawa psikofarmaka:1, 4 1. Obat tidur (hipnotik) Diberikan dalam jangka waktu pendek 2-4 minggu. Obat yang dianjurkan adalah senyawa benzodiazepine berkhasiat pendek seperti nitrazepam, flurazepam, dan triazolam. Pada insomnia dengan kegelisahan dapat diberikan senyawa fenotiazin seperti tioridazin, prometazin. 2. Obat penenang minor dan mayor Obat penenang minor Diazepam merupakan obat yang efektif yang dapat digunakan pada anxietas,agitasi, spasme otot, delirium, epilepsi. Benzodiazepine hanya diberikan pada anxietas hebat maksimal 2 bulan. Obat penenang mayor Yang paling sering digunakan adalah senyawa fenotiazin dan butirofenon seperti clorpromazin, tioridazin dan haloperidol. 3. Antidepresan Yang dianjurkan adalah senyawa trisiklik dan tetrasiklik seperti amitriptilin, imipramin, mianserin dan maprotilin yang dimulai dengan dosis kecil yang kemudian ditingkatkan
17

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN
18

Penyakit-penyakit saluran pencernaan merupakan gangguan yang sering kita derita dan disebabkan oleh terganggunya saluran cerna kita. Faktor penyebab penyakit/gangguan tersebut rata-rata adalah perilaku makan kita. Selain itu, faktor psikologis ternyata sangat mempengaruhi dan berdampak besar atas gangguan-gangguan tersebut. Sindrom fungsional pada gangguan saluran cerna yang dipengaruhi oleh faktor psikologis, antara lain adalah: gastritis, ulkus peptikum, colitis ulseratif, obesitas, anorexia nervosa. Dalam hal ini, depresi adalah dampak yang sering membayangi para penderita. Jadi dapat kami simpulkan bahwa selain menjaga kesehatan fisik kita juga harus menjaga kesehatan psikis. Karena kesehatan yang hakiki akan tercipta apabila kesimbangan antara fisik dan psikis terjaga

DAFTAR PUSTAKA 1. Kaplan, Saddock, Grebb. Sinopsis Psikiatri. Jilid II. Edisi ketujuh. Bina Rupa Aksara. Jakarta.1997: 276-303 2. Budihalim S, Sukatman D. Psikosamatis. Dalam : Ilmu Penyakit Dalam jilid II, FK UI Jakarta 1999: 591-592
19

3. Mansyur A, dkk. Gangguan Psikosomatis. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FK UI 1999:228-231 4. Maramis. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press. Surabaya 1980:339-371 5. Budihalim S, Mudjadid. Kedokteran Psikosamatis. Dalam : buku ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II edisi IV. FK UI Jakarta 2006: 903-08 6. Sukatman D, Budihalim S, Biran S.I. Aspek Psikosomatis Gangguan Pernafasan. Dalam : Ilmu Penyakit Dalam jilid II, FK UI Jakarta 1999:614-20 7. Budihalim S, Sukatman D. Sindrom Fungsional pada traktus digestivus. Dalam : Ilmu Penyakit Dalam jilid II, FK UI Jakarta 1999: 623 8. Budihalim S, Aspek psikosomatis ulkus peptik. Dalam : Ilmu Penyakit Dalam jilid II, FK UI Jakarta 1999: 628-29 9. Arsyad Z, Syahbuddin S. Aspek psikosomatis obesitas. Dalam : Ilmu Penyakit Dalam jilid II, FK UI Jakarta 1999: 657-58 10. Nasution H.N. Anoreksia nervosa. Dalam : Ilmu Penyakit Dalam jilid II, FK UI Jakarta 1999: 659-60 11. Sukatman D, Budihalim S, Aspek Psikosomatis penyakit reumatik. Dalam : Ilmu Penyakit Dalam jilid II, FK UI Jakarta 1999: 648- 49 12. Kadri. Aspek psikosomatis. Dalam : Ilmu Penyakit Dalam jilid II, FK UI Jakarta 1999: 665-66 13. Asdie A.H. Dahlan P. Migren dan sakit kepala. Dalam : Ilmu Penyakit Dalam jilid II, FK UI Jakarta 1999: 652 14. Budihalim S, Sukatman D. Psikofarmaka dan Psikosamatik. Dalam : Ilmu Penyakit Dalam jilid II, FK UI Jakarta 1999: 602-03

20