Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM TEKNOLOGI FORMULASI SEDIAAN SOLIDA PEMBUATAN TABLET ASETOSAL DENGAN METODE KEMPA (CETAK) LANGSUNG

SENIN, 18 Maret 2013 Kelompok 4 / Senin (10.00 13.00)

DESI NURHAYATI DINITHA MAULIDA RINDA RIANY WIEKE BUDIATI P FIRDA ARYANTI W

(260110100017) (260110100018) (260110100019) (260110100020) (260110100021)

LABORATORIUM TEKNOLOGI FORMULASI SOLIDA FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2013

PEMBUATAN TABLET ASETOSAL DENGAN METODE KEMPA (CETAK) LANGSUNG

I.

TUJUAN

1. Mengetahui cara pembuatan tablet dengan granulasi basah. 2. Melakukan uji Quality Control (QC) terhadap tablet.

II. PRINSIP 1. Metode kempa langsung. Metode cetak langsung merupakan metode pembuatan tablet yang dilakukan dengan cara mengkompresi secara langsung campuran serbuk dari bahan

2. Evaluasi tablet berdasarkan standar quality control (QC) : Kadar air (LOD) Kadar air yang ditentukan dengan menimbang granul dalam keadaan basah dan setelah dikeringkan. Kadar air dinyatakan sebagai LOD (Lost On Drying)/ susut pengeringan Loss on Drying = Sifat aliran (laju alir) Massa cetak yang keluar dari alat uji kecepatan alir dan dihitung kecepatan alirannya dengan menghitung waktu yang diperlukan oleh sejumlah serbuk untuk turun melalui corong alat penguji. Timbunan granul dapat digunakan untuk menghitung sudut istirahat dengan menghitung diameter rata-rata timbunan granul dan tinggi puncak timbunan granul.

Kompresibilitas (kemampatan) Kompresibilitas dapat dilihat dari kerapatan nyata dan kerapatan mampat dari granul yaitu dengan cara kerapatan mampat dikurangi kerapatan nyata, lalu dibagi dengan kerapatan mampat, yang dinyatakan dalam persen. Keseragaman bobot dan ukuran Menimbang dua puluh tablet, dihitung berat rata-rata tiap tablet, kemudian tablet- tablet tersebut ditimbang satu persatu. Tidak boleh lebih dari dua tablet yang masing-masing beratnya menyimpang dari berat rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan. Kekerasan tablet Menghitung kekerasan tablet satu per satu (pada pengujian kali ini dilakukan terhadap dua puluh tablet) dengan menggunakan alat penguji kekerasan (Hardness Tester), kemudian dihitung rata ratanya. Friabilitas (kerenyahan) Menimbang sejumlah tablet, kemudian dimasukkan kedalam alat penguji keregasan tablet. Alat dijalankan selama empat menit dengan kecepatan putaran dua puluh lima putaran per menit. Tablet yang masih utuh ditimbang, kemudian dihitung kehilangan bobotnya. Kehilangan bobot yang masih diperbolehkan tidak lebih dari 0,8%. Waktu hancur Semua tablet harus hancur tidak lebih dari 15 menit (untuk tablet tidak bersalut) dan tidak lebih dari dari 60 menit untuk tablet salut gula atau tablet salut selaput.

III.

TEORI DASAR Tablet merupakan sediaan yang paling banyak digunakan dalam

peracikan obat karena terbukti sangat menguntungkan dari massanya yang dapat dibuat secara masinel dan harganya murah. Selain itu, takarannya tepat, dikemas dengan baik, praktis dalam transportasi dan penyimpanannya, serta mudah ditelan. Tablet yang merupakan sediaan obat padat takaran tunggal, dicetak atau dikempa dari serbuk kering, kristal atau granulat, umumnya dengan penambahan bahan pembantu,seperti pengencer, zat penghancur, penyalut, pemberi warna, dan zat pembantu lainnya. Bentuk tablet biasanya silinder, kubus, cakram, telur, atau ada juga yang berbentuk peluru (Ansel, 1989). Menurut farmakope Indonesia edisi III. Tablet adalah sediaan padat, kompak, dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan Dimana zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai bahan pengisi, zat pengikat, zat pelincir, zat pengembang, zat pembasah atau zat lain yang cocok (Depkes RI, 1979). Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara kempa cetak, berbentuk rata atau cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan (Moh. Anief , 2000). Persyaratan khusus untuk sediaan tablet dalam farmakope Indonesia edisi III : 1. Mengandung zat berkhasiat sesuai yang tertera pada etiket. 2. Mempunyai keseragam ukuran yaitu diameter tidak lebih dari 3x dan tidak kurang dari 11/3 tablet tebalnya. 3. Mempunyai keseragam bobot. 4. Kecuali dinyatakan lain, waktu hancur dari tablet tidak lebih dari 15 menit untuk tablet tidak bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk tablet bersalut selaput (Depkes RI, 1979).

Uji tablet ketika tablet yang telah dicetak harus diuji terlebih dahulu untuk mengukur kualitas, untuk memastikan bahwa tablet telah memenuhi syarat dan untuk mengembangkan formulasi tablet secara optimal. Pengujian ini meliputi uji kekerasan, uji friabilitas, uji disolusi dan uji waktu hancur (Ansel, 1989). Uji kekerasan dilakukan dengan alat, dimana bagian bawah torak yang berbentuk kerucut akan menekan tablet yang dipasang secara vertical, dan diletakkan di atas sebuah landasan, dimana landasan tersebut dapat diatur. Tablet diletakkan pada posisi awal (titik nol) dari ujung pasak pengetes. Dengan gaya motorik, sebuah beban peluncur yang tergantung bebas, bergerak pada sebuah sel, sehingga perubahan tekanan yang terjadi dipindahkan seluruhnya pada torak uji. Pada saat tablet pecah, motor akan segera dihentikan oleh pemutus mikro. Tekanan ini dapat ditunjukkan oleh jarum jam yang dikoneksikan pada penunjuk skala, dimana skala tersebut ditera untuk daerah pengukuran tertentu yaitu 0 sampai 15 kg dan untuk pembacaan yang lebih baik, dibagi dalam skala 250 gram (Banker and Anderson, 1984). Selanjutnya, dilakukan uji friabilitas dengan alat friabilator yang terdiri dari drum pleksiglas yang berputar dan bilah melengkung radial yang berfungsi untuk mengambil tablet-tablet, kemudian membawanya sampai melewati sumbu, menggulirkan atau meluncurkan tablet jatuh pada sisi drum. Tablet-tablet akan bergulir, sampai putaran berikutnya diangkut kembali oleh bilah melengkung tersebut. Kecepatan drum dapat divariasikan, umumnya 25 putaran per menit dan friabilitas tablet sebaiknya tidak lebih dari 0,8 % (Wade & Weller, 1994). Uji disolusi digunakan untuk menentukan kesesuaian dengan persyaratan disolusi yang tertera pada masing-masing monografi sediaan tablet, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet harus dikunyah. Karena absorbsi dan kemampuan obat berada dalam tubuh sangat besar tergantung pada adanya obat dalam keadaan melarut, karakteristik disolusi biasanya merupakan sifat yang penting dari produk obat yang memuaskan. Laju disolusi merupakan tahap yang

menentukan laju, apa pun yang mempengaruhinya akan mempengaruhi absorbsi. Akibatnya laju disolusi dapat mempengaruhi onset, intensitas, lama respons, serta kontrol bioavailabilitas obat tersebut keseluruhan dari bentuk sediannya. Pada tiap pengujian, volume dari media disolusi ditempatkan dalam bejana dan dibiarkan mencapai temperatur 37 0C + 0,5 0C. Kemudian satu tablet yang diuji ditempatkan dalam keranjang dan pengaduk diputar dengan kecepatan seperti yang ditetapkan dalam monografi. Tablet harus memenuhi persyaratan seperti yang terdapat pada monografi untuk kecepatan disolusi (Wade & Weller, 1994). Uji tablet selanjutnya adalah uji waktu hancur. Supaya komponen obat sepenuhnya tersedia untuk diabsorbsi dalam saluran pencernaan, maka tablet harus hancur melepaskan obatnya ke dalam cairan tubuh untuk dilarutkan. Daya hancur tablet juga penting untuk tablet yang mengandung bahan obat yang tidak dimaksudkan untuk diabsorbsi tetapi lebih banyak bekerja setempat pada saluran cerna. Daya hancur tablet memungkinkan partikel obat menjadi lebih luas untuk bekerja secara lokal dalam tubuh (Avis et al., 1986). Untuk uji ini digunakan alat yang terdiri dari sebuah keranjang tes dengan enam pipa gelas yang masing-masing diisi dengan sebuah tablet. Keranjang tes dicelupkan ke dalam gelas piala dengan cairan pengetes bersuhu 37C yang berada dalam sebuah penangas air yang dilengkapi dengan thermostat. Pada saat alat dioperasikan, keranjang tes akan bergerak ke atas dan ke bawah sebanyak 30 kali dalam satu menit. Pada titik terbawah gerakannya, ayakan berada 25 mm jauhnya dari dasar gelas piala, sedangkan titik gerak teratasnya cairan tes masih tepat menyentuh ayakan atau terbenam sekitar 25 mm. Pada akhir pengujian waktu hancur, sebaiknya semua bagian tablet lolos melalui ayakan. Lempengan pleksiglas digunakan untuk memperberat hasil cetakan (Avis et al., 1986). Asetosal (asam asetil salisilat) BM = 180,16

1.

Asam asetil salisilat mengandung tidak kurang dari 99,5 % dan tidak lebih dari 100,5 % C9H8O4, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

2.

Pemerian : hablur putih, umumnya seperti jarum / lempengan tersusun, atau serbuk hablur putih, tidak berbau atau berbau lemah. Stabil diudara kering, didalam udara lembab secara bertahap terhidrolisa menjadi asam salisilat dan asam asetat.

3.

Kelarutan : sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, larut dalam kloroform, dan dalam eter, agak sukar larut dalam eter mutlak.

4.

Susut pengeringan : tidak lebih dari 0,5 %, lakukan pengeringan diatas silica gel p selama 5 jam.

5. 6.

Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. Indikasi : demam, rasa sakit setelah vaksinasi, sakit otot dan sakit gigi.

7.

Kontra indikasi : demam berdarah, tukak lambung dan terapi antikoagulan, hipersensitif.

8.

Dosis : Dewasa : 2-3 tablet sesudah makan, jika perlu diulangi tiap 4 jam , Anak-anak 6-12 tahun : 1-2 tablet sesudah makan, jika perlu dapat diulang tiap 6 jam (Depkes RI, 1995).

Gambar 1. Struktur Asetosal (Aulia, 2012) Asetosal merupakan obat yang diberikan dalam dosis besar pad orang dewasa sehingga perlu dibuat dalam bentuk sediaan tablet untuk memudahkan dalam penggunaannya dan membutuhkan biaya produksi yang lebih murah

dibandingkan dengan sediaan sirup. Karena serbuk Asetosal memiliki daya alir yang baik dan mempunyai sifat di dalam udara lembab secara bertahap terhidrolisa menjadi asam salisilat dan asam asetat maka pada proses pembuatan tablet dibuat secara CL (cetak langsung) sehingga diperoleh bobot tablet yang seragam dan kompak ( Aulia, 2012).

IV.

ALAT DAN BAHAN A. Alat -

Ayakan Alat pencetak tablet Rotary Alat waktu hancur. Alat pengukur ketebalan dan diameter. Alat friabilitas. Alat laju alir. Baskom Nampan Sendok besar dan kecil Timbangan

B. Bahan Asetosal Asam stearat Na. Starch Glycolat Talcum Supertab

V.

PROSEDUR Semua bahan (akan dipakai) disiapkan dan alat (akan dipakai) dicuci bersih. Masing-masing zat ditimbang sesuai dengan jumlah bahan yang

dibutuhkan (50 g Asetosal, 42 g Supertab, 4 g Natrium Starth Glycolat, 2 g Talcum, dan 2 gram asam stearat ). Bahan-bahan dicampur secara homogen di dalam plastik besar. Selajutnya, dilakukan uji terhadap massa serbuk yang akan dicetak menjadi tablet, yaitu uji LOD dan uji laju alir. Sebanyak 10 g serbuk campuran ditimbang lalu digunakan untuk uji kadar air (LOD) lalu dilihat nilai LOD serbuk pada alat. Sebanyak 20 g serbuk campuran ditimbang lalu dilakukan uji laju alir (daya alir) lalu dihitung diameter dan tinggi gunungan serbuk serta waktu jatuh serbuk. Sisanya dimasukkan ke dalam kantong plastik bening. Serbuk yang tadi digunakan untuk uji laju alir tadi dimasukkan (dicampur) kembali ke dalam kantong plastik bening (sisa granul). Sedangkan, serbuk yang digunakan untuk uji kadar air tadi dibuang. Semua campuran serbuk di dalam kantong plastik bening lalu dikocok kembali hingga homogen secara merata. Massa cetak tablet dicetak dengan mesin pencetak tablet single punch sehingga terbentuk beberapa tablet. Selajutnya, dilakukan uji terhadap tablet, yaitu uji keseragaman bobot dan ukuran, uji kekerasan, uji friabilitas, uji abrasi, dan uji waktu hancur. Sebanyak 20 tablet diambil secara acak untuk uji keseragaman bobot tablet (diukur berat per tablet) dan uji keseragaman ukuran (diukur diameter dan tebal per tablet). Ke-20 tablet ini lalu dilakukan pula uji kekerasan tablet. Uji friabilitas (kerenyahan) dan uji abrasi dilakukan dengan menimbang 10 tablet sekitar 1,92 gram tablet karena masing-masing tablet sekitar 100 mg / tablet. lalu ditimbang berat tablet sebelum dan sesudah dilakukan uji. Sebanyak 6 tablet dipilih secra acak untuk dilakukan uji waktu hancur lalu dihitung lamanya ke-6 tablet hancur (larut) secara menyeluruh.

Sisa tablet yang tidak digunakan untuk ujin kemudian dikemas di dalam wadah penyimpanannya. Berikut adalah prosedur dari masing masing uji yang dilakukan : 1. Uji Kadar Air Serbuk (granul) yang akan ditentukan kadar airnya ditimbang dan dicatat. Serbuk (granul) lalu diletakkan pada piringan (granul dish). Termometer diletakkan untuk mengatur suhu lingkungan sekitar granul. Alat kemudian dinyalakan (dijalankan) dan pemanasan diatur pada suhu 80oC. Skala angka yang tertera pada alat dihitung sebagai besarnya kadar air yang hilang saat pemanasan. Berat serbuk (granul) kemudian ditimbang kembali dan persentase kadar air dihitung. 2. Uji Laju Alir Bahan (serbuk) ditimbang sebanyak 20 g dan alat disiapkan untuk menentukan kecepatan alir serbuk dan sudut istirahat. Bagian bawah alat (berupa corong) dipastikan telah tertutup rapat dan diberi alas berupa kertas pada bagian bawah alat untuk membuat plot diameter yang terbentuk. Serbuk dimasukkan ke dalam corong tersebut. Segera setelah serbuk granul dimasukkan, bagian penutup bawah dibuka dan waktu yang dibutuhkan oleh serbuk untuk mengalir (jatuh) dicatat. Diameter lingkaran gunung serbuk yang terbentuk dan tinggi puncak gunung serbuk dicatat. Sudut istirahat dan daya alir serbuk dihitung. 3. Pencetak Tablet Single Punch Pasang punch atas serta die dan digunakan ukuran yang sesuai dalam keadaan sudah dipoles dan bersih. Atur punch atas dan bawah supaya tepat masuk ke dalam lubang die dan tidak miring. Pasang hoper atau feeding shoe untuk memastikan masa granul. Jalankan mesin untuk pencetakan tablet secara manual, tablet pertama hasil pencetakkan diukur berat dan kekerasan tablet. Bila belum sesuai dengan yang diinginkan, atur berat tablet dengan memutar mur pada bagian bawah untuk mengatur volume pengisian die.

Putar kekanan untuk menambah volume die kekiri untuk mengurangi volume die. Kekerasan tablet dapat diatur dengn memutar baut silinder pada bagian atas alat, putar kekanan untuk mengurangi tekanan punch (kekerasan bertambah). Setelah diperoleh kekerasan dan berat tablet yang sesuai, tekan tombol untuk memulai proses pencetakkan tablet . 4. Uji Keseragaman Bobot Pertama-tama kedudukan alat diperiksa apakah telah benar. Gelembung udara dalam kolom air water pas harus tepat berada di tengah. Hubungkan steker ke stop kontak 220 V. Alat kemudian dinyalakan dengan menekan tombol on dan off, lampu pada layar menyala. Kaca penutup pada alat dibuka dan kemudin tempatkan kertas perkamen atau kaca arloji pada neraca timbangan. Tekan tombol -> 0/T <- untuk menset timbangan ke nol.Zat yang akan ditimbang kemudian diletakan pada kertas perkamen atau kaca arloji setelah itu kaca penutup pada alat ditutup. Setelah angka yang ditunjukkan pada layar stabil (tanda 0 di pojok kiri bawah layar hilang ), catat angka tersebut yang menunjukkan berat zat yang ditimbang. Tekan tombol F untuk mengubah satuan dari gram (g) ke milligram (mg). Buka kaca penutup pada alat. Keluarkan zat yang ditimbang dan timbangan dengan mengambil kertas perkamen atau kaca arloji.

5. Uji Keseragaman Ukuran Untuk menguji diameter dan tebal dari tablet hasil pencetakkan, tablet dijepit dengan jangka sorong atau mikrometer lalu dilihat skala pada jangka sorong dan mikrometer. 6. Uji Kekerasan Pertama-tama hubungkan steker ke stop kontak 220 V. Putar tombol ke posisi EINS, lampu penunjuk kekerasan akan menyala. Sebelumnya harus diperiksa apakah jarum penunjuk kekerasan ada di titik nol. Bila belum tekan

tombol . Setelah itu tablet diletakkan vertikal dan tepat di tengah tengah jarum penekan. Dudukan tablet kemudian dinaikkan dengan memutar sekrup di bawahnya sampai tablet menekan jarum penekan dan lampu stop menyala. tombol ditekan untuk memulai poses uji, jarum penunjuk skala akan bergerak dan berhenti saat tablet pecah dan menunjukkan angka unit kekerasan dengan skala newton. Lampu stop padam. Tombol ditekan untuk mengembalikan jarum penunjuk ke angka nol. Putar posisi AUS untuk mematikan lampu penunjuk skala. Bila terjadi hal yang tidak diharapkan atau akan memberikan jalan skala stop. 7. Uji Friabilitas dan Uji Abrasi Sekitar 1,92 gram tablet ditimbang kemudian dicatat beratnya. Tablertablet ini dimasukkan ke dalam silinder bening (drum putar) drum putar kemudian dipasang kembali ke mesinnya dan dikencangkan sekrupnya. Kecepatan putaran per menit diatur dengan memutar tombol putar SPEED dan waktu putaran diatur dengan menggunakan tombol putar hitam. Mesin kemudian dinyalakan dengan menekan tombol MAIN SWITCH. Setelah pengujian selesai matikan mesin dengan menekan kembali tombol MAIN SWITCH. Tablet uji kemudian dikeluarkan dari silinder bening, ditimbang kembali dan dicatat berat tablet. Persentase kehilangan berat dihitung. Pada uji Friabilitas, alat diatur pada kecepatan 25 rpm selama 4 menit. Sedangkan, untuk uji Abrasi, alat disetting pada kecepatan 20 rpm selama 5 menit. 8. Uji Waktu Hancur Pertama-tama aquades dipanaskan hingga suhu 37oC kemudian aquades panas dimasukkan ke dalam beaker hingga mencapai 2/3 dari volume beaker glass. Sebanyak 6 buah tablet yang akan diuji dimasukkan ke dalam tabung silinder kecil. Tabung silinder tempat tablet masing-masing ditutup dengan penunjuk tekan tombol

lempengan plastik, posisi lempengan harus seragam. Mesin kemudian dijalankan. Pada saat gerakan ke atas, diusahakan kawat kassa berada paling sedikit 2,5 cm di bawah permukaan air dalam beaker dan pada saat gerakan ke bawah tidak kurang 2,5 cm dari dasar wadah. Waktu hancur dihitung saat mesin dijalankan sampai seluruh tablet hancur. Catatan waktu hancur untuk tablet biasa adalah 15 menit dan untuk tablet enterik adalah 60 menit.

VI.

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN Nama Produk Tablet Formulasi : ASETOFOUR : Asetosal : Asetosal Supertab Natrium Starch Glycolat Talcum Asam Stearat Bets Berat Tablet : 500 tablet : @ 200 mg 50 gr 42 gr 4 gr 2 gr 2 gr

A. Evaluasi Campuran Serbuk

1. Uji Kadar Air Berat awal Berat akhir : 10, 014 gr : 9, 834 gr : x 100% x 100% = 1,797 % 2. Uji Laju Alir Tinggi : 2 cm 2,1 cm

Kadar air (LOD)

Diameter

: 8,5 cm 8,6 cm

r Waktu alir

: 4, 275 : 18, 47 detik 16, 58 detik

Sudut istirahat Tan = t/r = 2,05/ 4,275 = 0,479 =2 , 1

Kecepatan Alir = = 1,14 gram per detik

3. Uji Kompresibilitas Bobot sampel V awal V akhir C awal C akhir : 20 gr : 21 mL : 20 mL : 21/2 = 10,5 mL : 20/2 = 10 mL

Kompresibilitas nyata : 20/ 10,5 = 1,9 Kompresibilitas mampat % Kompresibilitas B. Evaluasi Tablet Jumlah tablet yang diperoleh hasil kempa langsung 320 tablet : : 20/ 10 = 2 x 100% = 5%

1. Uji Keseragaman Bobot Sampel tablet diambil pada 5 menit pertama saat pencetakan

No tablet 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Keseragaman bobot (gr) 0,160 0,168 0,189 0,119 0,201 0,187 0,163 0,178 0,180 0,187 0,168 0,177 0,182 0,193 0,203 0,201 0,168 0,198 0,172 0,191

2. Uji Kekerasan Tablet Sampel tablet diambil pada 5 menit pertama saat pencetakan tablet No Tablet Kekerasan Tablet (N)

1 2 3 4 5

35 37 37,5 42,5 50

3. Uji Friabilitas Berat awal 10 tablet : 1,908 gr

Berat akhir 10 tablet : 1,906 gr Friabilitas x 100 % 4. Uji Waktu Hancur Waktu hancur tablet adalah 30, 68 detik : = 0,1048 %

VII.

PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini praktikan membuat sediaan tablet dengan

metode kempa langsung. Pada metode kempa langsung diperlukan eksipien yang memungkinkan pengempaan secara langsung tanpa tahap granulasi. Eksipien yang digunakan adalah zat-zat yang memiliki sifat fisik khusus yaitu memiliki daya kompresibilitas yang tinggi sehingga bisa dilakukann kempa langsung. Pada praktikum ini zat pengisi yang digunakan adalah supertab. Selain sebagai pengisi supertab juga berfungsi sebagai pengikat tablet. Fungsi Natrium starch glykolat adalah sebagai penghancur. Penghancur ini akan berguna pada saat tablet telah digunakan, hal ini berhubungan dengan kecepatan kerja obat, karena semakin obat cepat hancur maka semakin cepat obat dapat diabsorpsi tubuh untuk memberikan efek terapi. Sedangkan talcum dan asam stearat berfungsi sebagai pelincir. Fungsi pelincir sendiri untuk mereduksi gesekan serbuk dengan lubang cetakan selama kompresi dan

ejection.

Asam stearat merupakan lubrikan yang tidak larut air. Talkum

sebagai anti adheren yang mencegah lengkenya serbuk pada punch dan dinding die. Pelincir ini menentukan keseragaman masa tablet karena jika daya alir tablet kurang baik maka akan berpengaruh terhadap ukuran dan bentuk tablet. ukuran tablet ini akan berpengaruh terhadap dosis setiap tablet yang dicetak. Metode kempa langsung ini memiliki beberapa keuntungan yaitu diantaranya proses yang dilakukan sederhana sehingga waktu yang diperlukan untuk produksi lebih singkat, secara ekonomis mengurangi cost karena tahapan dan alat yang digunakan sedikit, kualitas tablet terjamin karena tidak membutuhkan air dan panas, dan tablet memiliki waktu hancur yang baik. Namun beberapa kekurangan metode kempa langsung adalah sifat fisik serbuk yang halus tidak mempunyai daya kompresibilitas dan daya alir, hal ini diatasi dengan penambahan zat-zat yang memiliki kompresibilitas dan daya alir yang baik seperti yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu supertab sebagai pengisi dan asam stearat sebagai pelincir, kekurangan lain yaitu harga eksipien untuk metode kempa langsung relatif mahal, pada proses pencampuran kemungkinan sulit tercampur karena ada muatan statik antar partikel, jadi ukuran partikel harus seragam, jika tablet menggunakan pewarna, pewarnaan kurang merata. Uji praformulasi dilakukan untuk mengurangi kegagalan produksi. Beberapa uji praformulasi yang harus dilakukan adalah uji pendahuluan, sifat organoleptis, kemurnian, ukuran, bentuk dan luas permukaan, kelarutan, disolusi, parameter yang mempengaruhi absorpsi obat, sifat Kristal dan polimorfisme zat, stabilitas dan sifat lain seperti miscellenous. Uji formulasi ini berguna untuk penentuan metode formulasi dan pengembangan sediaan obat yang stabil dan memiliki bioavailabilitas yang efektif dan aman. Praformulasi yang baik akan menghasilkan formulasi rasional yang memiliki kualitas dan penampilan produk yang optimal. Beberapa uji praformulasi yang

dilakukan adalah LOD (Loss on drying),

daya alir, sudut istirahat dan

kerapatan serbuk serta menghitung kompresibilitas. LOD (loss on drying) adalah untuk menguji susut pengeringan atau kelembaban zat yang akan diformulasi. Uji LOD ini dilakukan pada suatu alat yang disebut Ohaus. Pertama-tama zat dimasukkan kedalam piringan alat seberat kurang lebih 10 gram. Setelah itu alat dipanaskan pada suhu 70oC, kemudian berat akhir setelah pemanasan ditimbang kembali. LOD dapat dihitung selisih dari berat awal dikurangi berat akhir dibandingkan dengan berat awal dikalikan 100%. LOD = Nilai LOD yang diperoleh adalah 1,897 %. Menurut Farmakope Indonesia edisi IV susut pengeringan untuk asetosal sendiri adalah tidak lebih dari 0.5% pada proses pengeringan diatas silica gel selama 5 jam. Pengujian berikutnya adalah uji daya alir serbuk yang mana uji ini berfungsi untuk mengetahui kemampuan serbuk untuk mengalir sehingga pada proses pencetakan tidak lengket pada alat sehingga tablet tercetak sempurna. Hal ini berhubungan dengan dosis dan nilai estetika serta kepercayaan konsumen karena tablet yang tidak utuh akan menurunkan kepercayaan konsumen. Uji daya alir ini dilakukan pada suatu alat yang mana terdapat corong penampung serbuk uji yang bagian bawahnya ditutup terlebih dahulu. pengujian dilakukan dengan menghitung waktu pada saat penutup corong dibuka sampai semua serbuk mengalir. Pada akhir pengujian akan terbentuk bukit serbuk. Bukit serbuk ini yang kemudian diukur tinggi dan diameternya. Dari pengujian ini dapat dihitung kecepatan alir serbuk dan sudut istirahatnya. Kecepatan alir hasil perhitungan diperoleh 1, 14 gram/sekon, sedangkan sudut istirahat diperoleh sebesar 25,619o. Pengujian selanjutnya adalah uji kompresibilitas. Pada uji

kompresibilitas berfungsi untuk mengetahui daya kompresibilitas serbuk yang

akan dicetak. Pada alat akan dimasukkan gelas ukur yang telah diisi dengan serbuk dengan berat 20 gram. Volume saat awal pengisian dilihat sebagai volume awal yaitu 21 mL. Kemudian alat akan melakukan ketukan selama waktu tertentu dengan kecepatan ketukan tertentu sehingga serbuk akan mampat yang akibatnya volume akan menurun. Volume inilah yang disebut volume akhir yaitu volume serbuk setelah pengetukan. Volume akhir 20 mL sehingga hasil persen kompresibilitas adalah 5 %. Untuk evaluasi tabletnya sendiri dilakukan selama proses pencetakan (in process control). Fungsi dari evaluasi ini sebagai optimalisasi manufaktur sebelum produksi besar-besaran. Beberapa uji yang dilakukan adalah uji keseragaman bobot, uji kekerasan tablet, uji friabilitas, dan uji waktu hancur. Uji keseragaman bobot dilakukan secara random pada pencetakan tablet 5 menit pertama. Hasil rata-rata uji keseragaman bobot adalah 0,179 gram, sedangkan dari hasil perhitungan teoritis bobot per tablet adalah 0,200 gram. ketidaksesuaian ini akibat pengaturan pencetakan tablet. Punch atas dan bawah yang mengatur kekerasan tablet, die menentukan ukuran tablet dan kecepatan alir pengisian tablet berpegaruh terhadap hasil uji keseragam bobot ini. Uji kekerasan tablet sama seperti uji keseragaman bobot yaitu dilakukan pada 5 sampel yang diambil secara random pada saat 5 menit pertama pencetakan tablet. Uji kekerasan ini dilakukan untuk mengukur kekuatan atau kerapuhan tablet dengan tekanan yang diberikan oleh alat. Rata-rata kekerasan tablet yaitu 40,4 Newton. Untuk uji friabilitas dilakukan pada 10 tablet yang mana berat awalnya 1, 908 gram. 10 tablet itu kemudian dimasukkan kedalam drum alat friabilator dan alat diyalakan sehingga drum akan berputar. Uji ini akan berguna untuk mengetahui kekuatan tablet pada saat penditribusian karena gesekan dengan kemasan atau gesekan antar tablet. Hasil uji friabilitas yang diperoleh adalah 0,1048 %.

Uji waktu hancur dilakukan untuk mengetahui berapa lama tablet akan hancur sehingga tablet itu memberikan efek farmakologis bagi pasien. Uji waktu hancur dilakukan dengan memasukkan 1 tablet pada tabung alat yang kemudian diberi cakram. Tabung dimasukkan pada beaker glass 100 mL. Pengujian dilakukan pada suhu 37oC dengan tekanan tertentu. VIII. KESIMPULAN Cara pembuatan tablet dengan metode kempa langsung dilakukan dengan mencampurkan zat aktif dan eksipien secara langsung kemudian serbuk campuran di cetak langsung dengan mesin pencetak tablet. Sebelum pencetakan dilakukan uji quality control terlebih dulu untuk serbuk campuran yaitu uji kompresibilitas, kadar air, dan laju alir kemudian ketika massa serbuk telah dicetak menjadi tablet dilakukan uji kekerasan tablet, uji keseragaman bobot, uji friabilitas dan uji waktu hancur. Sehingga diketahui kualitas tablet yang dihasilkan. Dari percobaan ini dihasilkan tablet yang telah teruji kualitasnya adalah 320 buah tablet.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 1997. Ilmu Meracik Obat: Teori dan Praktik. Gajah Mada University Press. Yogyakarta Anderson, NR dan GS, Banker Dalam : Lachman L Lieberman HA Kanig JL. 1984. Teori dan Praktek Farmasi Industri Vol 2 Edisi . UI Press. Jakarta Ansel, HC. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi ke-4. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta Aulia,Rahmita. 2012. Sediaan Tablet. Available online at

http://awwlia.rahmita.com/2012/04/sediaan-tablet.html 2013).

(Diakses 22 Maret

Avis, KE.,Lachman L.,Lieberman HA. 1986. Pharmaceutical Dossage Forms: Tablet. Volume 1. New York: Marcel Dekker, INC. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Wade, Ainley., Weller., Paul J. 1994. Handbook Of Excipients. 2nd edition. The Pharmaceutical Press. London