Anda di halaman 1dari 11

II. KALORIMETRI A. Pendahuluan 1.

Latar Belakang Perpindahan kalor selalu terjadi dari daerah yang bertemperatur tinggi ke daerah yang bertemperatur rendah. Adapun cara perpindahan kalor dari satu zat ke zat yang lain ada tiga cara, yaitu dengan cara konduksi, konveksi dan radiasi. Konduksi merupakan perpindahan kalor dengan melalui zat pengantar dan energi molekul langsung berpindah dari daerah yang lebih panas ke daerah yang lebih dingin. Konveksi merupakan perpindahan kalor yang diikuti oleh perpindahan sekelompok molekul di zat alir, sedangkan radiasi merupakan perpindahan kalor secara pancaran dengan gelombang elektromagnetik. Perpindahan kalor berpegang pada hukum kekekalan energi, pada kalorimetri dirumuskan oleh Black sebagai berikut : Energi yang dilepas = Energi yang diterima Ini berarti suatu sistem menerima maka sistem lain melepas panas dalam jumlah yang sama. Apabila suatu sistem melepas panas maka disebut reaksi eksoterm dan apabila suatu sistem menerima panas disebut reaksi endoterm. Dengan adanya itu maka panas menyebabkan terjadinya suatu kerja. Sesuai dengan hukum kekelan energi bahwa energi tidak dapat diciptakan dan energi tidak dapat dimusnahkan, tetapi dapat diubah dari energi yang satu ke energi yang lain. Ada berbagai macam jenis energi, salah satu diantaranya adalah energi panas atau energi kalor. Energi panas tersebut dibedakan menjadi, energi yang berasal dari alam dan energi yang berasal dari inovasi manusia misalnya energi panas listrik. Energi panas yang berasal dari alam yaitu sinar matahari yang merupakan sumber bagi kehidupan manusia. Sedangkan energi yang berasal dari listrik biasanya digunakan dalam kegiatan sehari-hari, seperti : menyetrika, mendidihkan air, dan lain-lain.

Energi pasti menghasilkan suatu panas atau kalor, oleh sebab itu kalor merupakan energi yang bersifat tetap dan kekal. Dalam kehidupan manusia, kalor merupakan salah satu energi yang penting. Panas tersebut dapat berupa panas dari alam dan panas yang dibuat oleh manusia dengan menggunakan energi listrik. Sedangkan dalam pertanian, panas berperan penting dalam proses fotosintesis, pengeringan dan pemanasan hasil panen dan juga pada rumah kaca. Pada praktikum kalorimetri ini kita akan mencoba mengetahui nilai kalor jenis suatu larutan berdasarkan pendekatan asas Black. 2. Tujuan Praktikum Tujuan dari praktikum acara kalorimetri ini adalah mencoba menentukan nilai kapasitas kalor jenis (c) suatu larutan garam dan kopi dengan menggunakan azas Black. 3. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara III Kalorimetri ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 19 Oktober 2010 pada pukul 13.00 15.00 WIB bertempat di Laboratorium Rekayasa Proses Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta. B. Tinjauan Pustaka Kalor didefinisikan sebagai energi panas yang dimiliki oleh suatu zat. Secara umum untuk mendeteksi adanya kalor yang dimiliki oleh suatu benda yaitu dengan mengukur suhu benda tersebut. Jika suhunya tinggi maka kalor yang dikandung oleh benda sangat besar, begitu juga sebaliknya jika suhunya rendah maka kalor yang dikandung sedikit (Anonim, 2010). Kalor mengalami perpindahan antara lain dengan perpindahan konduksi, konveksi dan radiasi. Konduksi adalah pemindahan tenaga melalui zat antara medium bermateri dengan benturan-benturan berurutan dari molekul-molekul bertetangga. Dalam setiap benturan, secara rerata molekul-molekul yang bergerak lebih cepat dalam bagian zat antara

dengan suhu tinggi memindahkan sebagian tenaga kinetiknya ke tetanggayang bergerak lambat dalam bagian suhu yang lebih rendah. Contohnya, dalam logam yang merupakan penghantar bahang yang baik. Konveksi adalah perpindahan tenaga dalam suatu zat cair atau gas dengan pemindahan sesungguhnya zat alir lebih tinggi dari suhu yang lebih tinggi ke daerah suhu yang lebih rendah. Contohnya, dalam perputaran udara yang terjadi oleh radiator kamar. Sedangkan radiasi adalah tenaga elektromagnetik yang merambat melalui ruang hampa dengan laju cahaya (3.108 m/s). Semua benda memancarkan radiasi terutama benda-benda pada suhu kamar memancarkan penyinaran inframerah dan benda-benda suhu tinggi memancarkan radiasi tampak dan inframerah (Alan H.Cromer, 1994). Pada garam dari kapasitas panasnya adalah 880 J/kgK. Dengan pertimbangan kapasitas dari air 200 K adalah 1650 J/kgK. Masih dalam cairan, jika larutan dapat berubah dengan komposisi tertentu (Anonim,2007). Menurut asas Black apabila ada dua benda yang suhunya berbeda kemudian disatukan atau dicampur maka akan terjadi aliran kalor dari benda yang bersuhu tinggi menuju benda yang bersuhu rendah. Aliran ini akan berhenti sampai terjadi keseimbangan termal (suhu kedua benda sama). Secara matematis dapat dirumuskan : Q lepas = Q terima Yang melepas kalor adalah benda yang suhunya tinggi dan yang menerima kalor adalah benda yang bersuhu rendah. Bila persamaan tersebut dijabarkan maka akan diperoleh : Q lepas = Q terima M1.c1.(t1 ta) = m2.c2.(ta-t2) (Anonim, 2010).

Kalorimetri adalah ilmu dalam pengukuran panas dari reaksi kimia atau perubahan fisik. Kalorimetri termasuk penggunaan kalorimeter . Alat yang digunakan untuk mengukur panas adalah kalorimeter. Perubahan suhu dari kalorimeter yang dihasilkan dari reaksi sebanding dengan energi yang dibebaskan atau diserap sebagai kalor. Sebagai contoh, jika energi dari reaksi kimia eksotermal diserap air, perubahan suhu dalam air akan mengukur jumlah panas yang ditambahkan. Kalorimeter digunakan untuk menghitung energi dari makanan dengan membakar makanan dalam atmosfer dan mengukur jumlah energi yang meningkat dalam suhu kalorimeter (Atkins, 1999). Kalorimetri panas terdiri dari sebuah alat yang hanya berhubungan dengan suhu thermal dan sensor panas,yang bergerak mengitari ujung seng pada kalorimeter. Pada ujung pengatur sensor panas,suhu larutan diubah menjadi konstan. Sehingga suhu dalam kalorimeter dapat diukur dan terbaca. Biasanya sensor panas pada kalorimeter menggunakan thermocouple places(TCP) (David Treichel, 2001). C. Alat, Bahan, dan Cara Kerja 1. Alat : a. b. c. d. e. f. g. Kalorimetri Termometer Timbangan Pemanas air Air Larutan kopi Larutan garam

2. Bahan:

3. Cara Kerja Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah : a. Mencampur air dengan larutan yang dicari nilai kapasitas panas jenisnya.

b. c. d. e. f. g.

Menentukan nilai dari kapasitas panas jenis air, massa air, dan suhu awalnya. Menentukan massa dan suhu larutan. Melakukan proses pencampuran. Mencatat suhu akhir bila telah stabil. Mencari nilai kapasitas panas jenis larutan berdasarkan Asas Black. Mengulangi percobaan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

D. Hasil dan Analisis Hasil Percobaan 1. Hasil Percobaan Tabel 2.1 Hasil perhitungan pada larutan garam dan air. N Massa Massa Suhu awal Massa Suhu o bejana + larutan Laruta Air air (g) akhir 0 0 termometer (g) larutan n ( C) ( C) (g) (0C) 1 160 120 33 81 120 46 2 160 10 33 81 120 44 3 160 70 33 81 60 41 0 Kalor jenis rata-rata(kal/g C) Sumber: Laporan Sementara Tabel 2.2. Hasil perhitungan pada larutan kopi dan air N Massa o bejana + termometer (g) 1 160 2 160 3 160 Massa Suhu awal Massa larutan Laruta Air( air (g) (g) n (0C) 0C) 160 45 40 32 32 32 81 81 81 70 65 40 Suhu akhir larutan (0C) 44 41 41 Kalor jenis (kal/g0C ) 1,349 6,42 15,556 7,775 Kalor jenis (kal/g0 C) 2,692 40,36 4,286 15,780

Kalor jenis rata-rata(kal/g0C) Sumber: Laporan Sementara

Gambar 2.1 Grafik Hubungan Antara c dengan Suhu Akhir Pada Larutan Kopi Dan Garam 2. Analisis Hasil Percobaan Rumus : Qt = Qb (m c t)t = (m c t)b Keterangan : Qt = panas yang diterima (kal) Qb = panas yang diberikan (kal) c = kapasitas panas jenis (kal/g0C) t = perubahan suhu ( 0C ) mt = massa larutan (gr) mb = massa air (gr) Larutan kopi Qt = Qb (m c t)t = (m c t)b 160 .c.(44-32) = 70.1.(81-44) c = 1,349 kal/g0C

Qt = Qb m c t c = m c t = 15,556 kal/g0C 45.c.(41-32)= 65.1.(81-41)


c1 + c 2 +c 3 3

c=

=1,349+6,420+15,556 3 = 7,775 kal/g0C Larutan garam Qt = Qb m c t c Qt = Qb m c t c Qt = Qb m c t = m c t c = 4,286kal/g0C


c= c1 + c 2 +c 3 3

= m c t = 2,692 kal/g0C

120.c.(46-33)= 120.1.(81-46)

= m c t = 40,36 kal/g0C

10.c.(44-33)= 120.1.(81-44)

70.c.(41-33)= 60.1.(81-41)

= 2,692+40,36+4,286 3 = 4,286 kal/g0C

E. Pembahasan

Dari percobaan kalor merupakan suatu bentuk energi yang dapat berpindah dari sistem bersuhu tinggi ke sistem bersuhu rendah. Energi bersifat kekal, yaitu tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan demikian juga dengan kalor. Jumlah kalor yang diterima sama dengan jumlah kalor yang dilepas, hal inilah yang dikenal dengan asas Black. Kalorimetri adalah alat dari kalorimeter yang merupakan ilmu mengukur reaksi panas kimia atau fisika seperti kapasitas panas. Dalam praktikum ini, kita mencoba untuk menentukan besarnya kalor jenis larutan garam dan kopi. Besarnya kalor jenis (c) akan berpangaruh terhadap besarnya kalor yang diterima oleh larutan tersebut. Untuk mencari kapasitas jenis suatu larutan dapat dilakukan dengan pendekatan asas Black. Perhitungan dilakukan dengan mencampurkan larutan tersebut dengan air yang telah diketahui kalor jenisnya yaitu sebesar 1 kal/gC, massa dan suhu awalnya. Dalam pencampuran ini, larutan yang lebih rendah suhunya dimasukan kedalam kalorimeter terlebih dahulu baru kemudian air panas. Hal ini bertujuan untuk menghindari agar kalor tidak banyak lepas kelingkungan. Setelah mencapai keseimbangan, kemudian dilakukan perhitungan. Dari hasil praktikum diperoleh data sebagai berikut: besar nilai c pada larutan kopi untuk pengulangan pertama = 1,349 kal/g0C, ulangan kedua = 6,42 kal/g0C, ulangan ketiga = 15,556 kal/g0C. Sedangkan untuk larutan garam adalah 2,692 kal/g 0C pada ulangan pertama, 40,36 kal/g0C pada ulangan kedua, dan 4,286 kal/g0C pada ulangan ketiga. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa nilai c larutan kopi dan garam lebih besar dari satu. Padahal nilai c larutan seharusnya lebih kecil dari 1. Besar kapasitas panas jenis rata-rata (c) untuk larutan kopi adalah 7,775 kal/gC, sedangkan untuk larutan garam adalah 15,780 kal/gC. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa kapasitas jenis rata-rata (c) larutan kopi lebih kecil dibandingkan larutan garam. Larutan garam termasuk elektrolit sedangkan larutan kopi termasuk non elektrolit maka larutan garam yang sifatnya elektrolit mudah menghantarkan panas sehingga memiliki kalor jenis

lebih besar daripada larutan kopi yang non elektrolit. Dapat ditarik kesimpulan bahwa kapasitas panas jenis larutan berbanding lurus dengan massa air dan berbanding terbalik dengan massa larutan dan perubahan suhu larutan. Artinya, semakin besar massa larutan dan perubahan suhu larutan serta semakin kecil massa, maka nilai kapasitas panas jenis larut akan semakin kecil begitu pula sebaliknya. Grafik menunjukan bahwa besarnya kapasitas panas jenis (c) larutan bervariasi dan nilainya lebih dari 1 kal/gC, padahal pada dasarnya c merupakan konstanta dan seharusnya nilainya kurang dari 1 kal/gC, sehingga grafiknya membentuk lurus mendatar kemudian naik. Hal ini terjadi karena kekurangtelitian dalam membaca thermometer dan ketidak akuratan menimbang kalorimeter dan larutan. F. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum acara kalorimetri yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut: 1. Kalor akan berpindah dari suhu yang tinggi ke suhu yang lebih rendah. Apabila suhu lingkungan tinggi dan sistem bersuhu rendah, maka kalor akan berpindah dari lingkungan ke sistem. 3. Besarnya kalor jenis suatu larutan dipengaruhi oleh massa masing masing larutan, perubahan suhu, jenis larutan. 4. Besarnya kapasitas kalor jenis rata-rata ( c ) pada larutan kopi adalah 7,775 kal/g0C dan pada larutan garam adalah 15,780 kal/g0C. 5. Besarnya kapasitas kalor jenis larutan garam lebih besar daripada kapasitas kalor jenis larutan kopi (c garam > c kopi), seharusnya kalor jenis kopi lebih besar daripada kalor jenis garam. 6. Larutan elektrolit (garam) mudah menghantarkan panas daripada larutan non elektrolit (kopi) . 7. Kalor jenis ideal bagi benda atau zat kurang dari kalor jenis air (1 kal/g0C).

8. Grafik hubungan antara c dengan suhu dipengaruhi oleh massa larutan, massa air, dan suhu campuran larutan.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010. http://alljabbar.wordpress.com/kalor. Diakses tanggal 10 November 2010. Pukul 09.00 WIB. Anonim. 2010. http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah. Diakses tanggal 10 November 2010. Pukul 09.00 WIB. Anonim . 2010. http://hypertext book.com. Diakses tanggal 10 November 2010. Pukul 09.20 WIB. Cromer, Alan H. 1994. Fisika Untuk Ilmu-Ilmu Hayati. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Atkins. 1999. Fisika Edisi Empat. Erlangga. Jakarta. Treichel, David. 2001. The Isothermal Heat Conduction Calorimeter. Swedia.