Anda di halaman 1dari 14

SMAN2 BOGOR

Laporan Praktikum Biologi


Pengukuran Laju Respirasi pada Tanaman Tauge
Disusun oleh: Abdillah Zein (1) Bagus Adi Prakoso (11) Puspa Djuhaini Nastiti (30) Shafira Meidina C. (32) Usman Faiz (36) XI IPA 1

R SMA BI NEGERI 2 BOGOR Jl. Keranji Ujung 1 Budi Agung, Tanah Sareal Bogor 16165 Indonesia Telp./Fax (0251) 8318761 . E-mail :semandabogor@yahoo.co.id Website : www.sman2bogor.sch.id

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. wb Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada guru pembimbing untuk praktikum ini, Rr. Sri Eko Harlah A., S. Pd,. M. Pd. , dan kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan karya ilmiah ini. Karya ilmiah ini menjelaskan tentang laju respirasi yang terjadi pada tumbuhan yang didasarkan atas teori-teori yang telah ada sebelumnya dengan menerapkannya dalam percobaan ini. Kami selaku penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam pembuatan dan penulisan laporan karya ilmiah ini. Kami juga memohon saran dan perbaikan dari pembaca agar dapat membantu dalam penulisan karya ilmiah berikutnya. Wassalam

Bogor, 13 Maret 2013

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... 2 DAFTAR ISI................................................................................................................................... 3 BAB I .............................................................................................................................................. 4 PENDAHULUAN ....................................................................................................................... 4 I.I I.II I.III I.IV Latar Belakang .............................................................................................................. 4 Perumusan Masalah ...................................................................................................... 5 Waktu Pelaksanaan Kegiatan ....................................................................................... 5 Tujuan ........................................................................................................................... 5

BAB II............................................................................................................................................. 6 METODOLOGI PENELITIAN .................................................................................................. 6 II.I II.II Cara Kerja ..................................................................................................................... 6 Prinsip Kerja ................................................................................................................. 6

II.III Tinjauan Pustaka........................................................................................................... 7 II.IV Jenis Variabel.............................................................................................................. 11 II.V Hipotesis ..................................................................................................................... 12

II.VI Teori Indikator ............................................................................................................ 12 BAB III ......................................................................................................................................... 13 HASIL PENGAMATAN .......................................................................................................... 13 SIMPULAN DAN SARAN .......................................................................................................... 14

BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang Dalam pengertian sehari-hari, bernafas sekedar diartikan sebagai proses pertukaran gas di paru-paru. Tetapi secara biologis, pengertian respirasi tidaklah demikian. Pernafasan lebih menunjuk kepada proses pembongkaran atau pembakaran zat sumber energi di dalam sel-sel tubuh untuk memperoleh energi atau tenaga. Zat makanan sumber tenaga yang paling utama adalah karbohidrat. Dari berbagai cabang ilmu tumbuhan yang telah berdiri sendiri salah satunya adalah fisiologi tumbuhan. Fisiologi tumbuhan yang mempelajari peri kehidupan tumbuhan sudah demikian pesat berkembangnya juga didukung oleh beberapa ilmu seperti anatomi tumbuhan, morfologi tumbuhan, dan sistematika tumbhan. Fisiologi tumbuhan itu sendiri merupakan ilmu yang mempelajari atau mencari keterangan-keterangan mengenai kehidupan tumbuhan. Untuk mempertahankan kehidupannya, tumbuhan perlu mempunyai suatu penyediaan energi yang berkesinambungan. Energi-energi tersebut diperoleh dari mengambil energi kimia yang terbentuk dalam molekul organik yang disintesis oleh fotosintesis. Suatu proses pelepasan energi yang menyeddiakan energi bagi keperluan sel itu diseebut dengan respirasi. Respirasi sel tumbuhan berupa oksidasi molekul organik oleh oksigen dari udara membentuk karbon dioksida dan air. Tumbuhan juga menyerap O2 untuk pernafasannya, umumnya diserap melalui daun (stomata). Pada keadaan aerob, tumbuhan melakukan respirasi aerob. Bila dalam keadaan anaerob atau kurang oksigen, jaringan melakukan respirasi secara anaerob. Misal pada akar yang tergenang air. Pada respirasi aerob, terjadi pembakaran (oksidasi) zat gula (glukosa) secara sempurna, sehingga menghasilkan energi jauh lebih besar (36 ATP) daripada respirasi anaerob (2 ATP saja). Demikian pula respirasi yang terjadi pada jazad renik (mikroorganisma). Sebagian mikroorgaanisma melakukan respirasi aerobik (dengan zat asam), anerobik (tanpa zat asam) atau cara keduanya (aerobik fakultatif).

I.II

Perumusan Masalah Apakah massa tanaman mempengaruhi laju respirasi?

I.III

Waktu Pelaksanaan Kegiatan

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biologi SMAN 2 Bogor pada Rabu, 6 Maret 2013 pada pukul 10.30-selesai.

I.IV

Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah untuk mempelajari pengaruh massa tanaman terhadap kecepatan respirasi.

BAB II
METODOLOGI PENELITIAN
II.I Cara Kerja

1. Lembaran kapas dilebarkan dan dimasukkan KOH sebanyak 2 spatula kecil 2. Kapas digulung dan dimasukkan kedalam tabung respirometer 3. Tauge ditimbang menggunakan neraca sebanyak 12 gram dan dimasukkan kedalam tabung respirometer 4. Tabung respirometer ditutup dan disegel menggunakan plastisin 5. Eosin diteteskan di ujung respirometer menggunakan pipet tetes sampai mencapai titik nol 6. Pergerakan eosin diukur pada interval 3 menit sebanyak 4 kali.

II.II

Prinsip Kerja

Dalam proses respirasi, tumbuhan mengkonsumsi oksigen dan melepaskan CO2. Karbon dioksida yang dihasilkan diserap oleh KOH yang ditempatkan didalam tabung respirometer untuk mencegah penggunaan CO2 oleh tumbuhan. Kristal KOH dapat mengikat CO2 karena bersifat hidroskopis. Reaksi antara KOH dengan CO2, sebagai berikut: KOH + CO2 KHCO3 KHCO3 + KOH K2CO3 + H2O Laju penggunaan O2 dalam proses respirasi diamati dengan pergerakan eosin. Eosin merupakan cairan berwarna merah yang dalam penggunaannya dimasukkan ke dalam pipa respirometer agar dapat melihat kecepatan laju oksigennya, untuk mengetes kecepatan pernapasan serangga atau tumbuhan pada saat dimasukkan ke dalam tabung yang udaranya terbatas.

II.III

Tinjauan Pustaka

Semua sel aktif terus menerus melakukan respirasi, sering menyerap O2 dan melepaskan CO2 dalam volume yang sama. Namun seperti kita ketahui, respirasi lebih dari sekadar pertukaran gas secara sederhana. Proses keseluruhan merupakan reaksi oksidasi-reduksi, yaitu senyawa dioksidasi menjadi CO2 dan O2 yang diserap direduksi menjadi H2O. Pati, fruktan, sukrosa, atau gula yang lainnya, lemak, asam organik, bahkan protein dapat bertindak sebagai substrat respirasi. (Salisbury & Ross, 1995) Respirasi merupakan proses katabolisme atau penguraian senyawa organik menjadi senyawa anorganik. Respirasi sebagai proses oksidasi bahan organik yang terjadi didalam sel dan berlangsung secara aerobik maupun anaerobik. Dalam respirasi aerob diperlukan oksigen dan dihasilkan karbondioksida serta energi. Sedangkan dalam respirasi anaerob dimana oksigen tidak atau kurang tersedia dan dihasilkan senyawa selain karbondiokasida, seperti alkohol, asetaldehida atau asam asetat dan sedikit energi (Lovelles, 1999). Karbohidrat merupakan substrat respirasi utama yang terdapat dalam sel tumbuhan tinggi. Terdapat beberapa substrat respirasi yang penting lainnya diantaranya adalah beberapa jenis gula seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa; pati; asam organik; dan protein (digunakan pada keadaan & spesies tertentu). Secara umum, respirasi karbohidrat dapat dituliskan sebagai berikut: C6H12O6 + O2 6CO2 + H2O + energiReaksi di atas merupakan persamaan rangkuman dari reaksi-reaksi yang terjadi dalam proses respirasi (Danang, 2008). Proses respirasi diawali dengan adanya penangkapan O2 dari lingkungan. Proses transport gas-gas dalam tumbuhan secara keseluruhan berlangsung secara difusi. Oksigen yang digunakan dalam respirasi masuk ke dalam setiap sel tumbuhan dengan jalan difusi melalui ruang antar sel, dinding sel, sitoplasma dan membran sel. Demikian juga halnya dengan CO2 yang dihasilkan respirasi akan berdifusi ke luar sel dan masuk ke dalam ruang antar sel. Hal ini karena membran plasma dan protoplasma sel tumbuhan sangat permeabel bagi kedua gas tersebut. Setelah mengambil O2 dari udara, O2 kemudian digunakan dalam proses respirasi dengan beberapa tahapan, diantaranya yaitu glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, siklus krebs, dan transpor elektron. Tahapan yang pertama adalah glikolisis, yaitu tahapan pengubahan glukosa menjadi dua molekul asam piruvat (beratom C3), peristiwa ini berlangsung di sitosol. Asam Piruvat yang dihasilkan selanjutnya akan diproses dalam tahap dekarboksilasi oksidatif. Selain itu glikolisis juga
7

menghasilkan 2 molekul ATP sebagai energi, dan 2 molekul NADH yang akan di gunakan pada transport electron. Dalam keadaan anaerob, Asam Piruvat hasil glikolisis akan diubah menjadi karbondioksida dan etil alkohol. Proses pengubahan ini dikatalisis oleh enzim dalam sitoplasma. Dalam respirasi anaerob jumlah ATP yang dihasilkan hanya dua molekul untuk setiap satu molekul glukosa, hasil ini berbeda jauh dengan ATP yang dihasilkan dari hasil keseluruhan respirasi aerob yaitu 36 ATP. Tahapan kedua dari respirasi adalah dekarboksilasi oksidatif, yaitu pengubahan asam piruvat (beratom C3) menjadi Asetil KoA (beratom C2) dengan melepaskan CO2, peristiwa ini berlangsung di sitosol. Asetil KoA yang dihasilkan akan diproses dalam siklus krebs. Hasil lainnya yaitu NADH yang akan di gunakan dalam transport electron. Tahapan selanjutnya adalah siklus asam sitrat (daur krebs) yang terjadi di dalam matriks dan membran dalam mitokondria, yaitu tahapan pengolahan asetil KoA dengan senyawa asam sitrat sebagai senyawa yang pertama kali terbentuk. Beberapa senyawa dihasilkan dalam tahapan ini, diantaranya adalah satu molekul ATP sebagai energi, satu molekul FADH dan tiga molekul NADH yang akan digunakan dalam transfer elektron, serta dua molekul CO2. Tahapan terakhir adalah transfer elektron, yaitu serangkaian reaksi yang melibatkan sistem karier elektron (pembawa elektron). Proses ini terjadi di dalam membran dalam mitokondria. Dalam reaksi ini elektron ditransfer dalam serangkaian reaksi redoks dan dibantu oleh enzim sitokrom, quinon, piridoksin, dan flavoprotein. Reaksi transfer elektron ini nantinya akan menghasilkan H2O (I Komang Jaya Santika Yasa, 2009) ( Sativa,2010 ). Secara sederhana, proses respirasi dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. Glikolisis:

Glukosa > 2 asam piruvat + 2 NADH + 2 ATP 2. Siklus Krebs:

2 asetil piruvat > 2 asetil KoA + 2 CO2 + 2 NADH + 2 ATP 2 asetil KoA > 4 CO2 + 6 NADH + 2 FADH2 3. Rantai transpor elektron:

10 NADH + 5O2 > 10 NAD+ + 10 H2O + 30 ATP


8

2 FADH2 + O2 > 2 FAD + 2 H2O + 4 ATP Jadi, total energi yang dihasilkan dari proses respirasi adalah 38 ATP (Danang, 2008) Respirasi membutuhkan O2 dan menghasilkan zat sisa metabolisme berupa uap air, CO2 dan panas sebagai entropi (energi panas yang tidak termanfaatkan). Bila respirasi berjalan sempurna, dari pembakaram substrat (karbohidrat, lipida, atau protein) akan dihasilkan rasio CO2/O2 tertentu yang disebut dengan Respiratory quotient [RQ]. Respirasi dengan substrat lipida akan diperoleh RQ<1, dan RQ=1 untuk substrat glukosa (Suyitno, 2007)( Sativa,2010) Dengan kata lain, perbedaan antara jumlah CO2 yang dilepaskan dan jumlah O2 yang digunakan dikenal dengan Respiratory Ratio atau Respiratory Quotient dan disingkat RQ. Nilai RQ ini tergantung pada bahan atau subtrat untuk respirasi dan sempurna atau tidaknya proses respirasi tersebut dengan kondisi lainnya (Simbolon, 1989)( Sativa,2010). Tergantung pada bahan yang digunakan, maka jumlah mol CO2 yang dilepaskan dan jumlah mol O2 yang diperlukan tidak selalu sama. Diketahui nilai RQ untuk karbohidrat = 1, protein < 1 (= 0,8 0,9), lemak < 1 (= 0,7) dan asam organik > 1 (1,33). Nilai RQ ini tergantung pada bahan atau subtrat untuk respirasi dan sempuran tidaknya proses respirasi dan kondisi lainnya (Krisdianto dkk, 2005). Sebagian besar energi yang dilepaskan selama respirasi kira-kira 2870 kj atau 686 kcal per mol glukosa berupa bahang. Bila suhu rendah, bahang ini dapat merangsang metabolisme dan menguntungkan beberapa spesies tertentu, tapi biasanya bahang tersebut dilepas ke atmosfer atau ke tanah, dan berpengaruh kecil terhadap tumbuhan. Yang lebih penting dari bahang adalah energi yang terhimpun dalam ATP, sebab senyawa ini digunakan untuk berbagai proses esensial dalam kehidupan, misalnya pertumbuhan dan penimbunan ion. (Salisbury & Ross, 1995) Respirasi merupakan rangkaian dari 50 atau lebih reaksi komponen, masing-masing dikatalisis oleh enzim yang berbeda. Respirasi merupakan oksidasi (dengan produk yang sama seperti pembakaran) yang berlangsung di medium air dengan pH mendekati netral, pada suhu sedang dan tanpa asap. Pemecahan bertahap dan berjenjang molekul besar merupakan cara untuk mengubah energi menjadi ATP. Lebih lanjut, sejalan dengan berlangsungnya pemecahan, kerangka karbon-antara disediakan untuk menghasilkan berbagai produk esensial lainnya dari
9

tumbuhan. Produk ini meliputi asam amino untuk protein, nukleotida untuk asam nukleat, dan prazat karbon untuk pigmen porfirin (seperti klorofil dan sitokrom). Tentu saja bila senyawa tersebut terbentuk, pengubahan substrat awal respirasi menjadi CO2 dan H2O tidaklah lengkap. Biasanya hanya beberapa substrat respirasi yang dioksidasi seluruhnya menjadi CO2 dan H2O (proses katabolik/penguraian), sedangkan sisanya digunakan dalam proses sintesis (anabolisme/pembentukan) terutama di dalam sel yang sedang tumbuh. Energi yang ditangkap dari proses oksidasi sempurna beberapa senyawa dapat digunakan untuk mensintesis molekul lain yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Bila tumbuhan sedang tumbuh, laju respirasi meningkat sebagai akibat dari permintaan pertumbuhan, tapi beberapa senyawa yang hilang dialihkan ke dalam reksi sintesis dan tidak pernah muncul sebagai CO2 (Salisbury & Ross, 1995). Berbagai faktor lingkungan dapat mempengaruhi laju respirasi, diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Ketersediaan substrat Respirasi bergantung pada ketersediaan substrat. Tumbuhan yang kandungan pati, fruktan, atau gulanya rendah, melakukan respirasi pada laju yang rendah. Tumbuhan yang kahat gula sering melakukan respirasi lebih cepat bila gula disediakan. Bahkan laju respirasi daun sering lebih cepat segera setelah matahari tenggelam, saat kandungan gula tinggi dibandingkan dengan ketika matahari terbit, saat kandungan gulanya lebih rendah. Selain itu, daun yang ternaungi atau daun bagian bawah biasanya berespirasi lebih lambat daripada daun sebelah atas yang terkena cahaya lebih banyak. Bila hal ini tidak terjadi, maka daun sebelah bawah akan lebih cepat mati. Perbedaan kandungan gula akibat tak berimbangnya laju fotosintesis mungkin yang menyebabkan laju respirasi yang lebih rendah pada daun yang ternaungi (Salisbury & Ross, 1995). 2. Ketersediaan oksigen Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak mempengaruhi laju

10

respirasi, karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk berespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara (I Komang Jaya Santika Yasa, 2009)( Sativa 2010 ). 3. Suhu Pengaruh faktor suhu bagi laju respirasi tumbuhan sangat terkait dengan faktor Q10, dimana umumnya laju reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10oC, namun hal ini tergantung pada masing-masing spesies. Bagi sebagian besar bagian tumbuhan dan spesies tumbuhan, Q10 respirasi biasanya 2,0 sampai 2,5 pada suhu antara 5 dan 25C. Bila suhu meningkat lebih jauh sampai 30 atau 35C, laju respirasi tetap meningkat, tapi lebih lambat, jadi Q10 mulai menurun. Penjelasan tentang penurunan Q10 pada suhu yang tinggi ini adalah bahwa laju penetrasi O2 ke dalam sel lewat kutikula atau periderma mulai menghambat respirasi saat reaksi kimia berlangsung dengan cepat. Difusi O2 dan CO2 juga dipercepat dengan peningkatan suhu.Peningkatan suhu sampai 40C atau lebih, laju respirasi malahan menurun, khususnya bila tumbuhan berada pada keadaan ini dalam jangka waktu yang lama. Nampaknya enzim yang diperlukan mulai mengalami denaturasi dengan cepat pada suhu yang tinggi, mencegah peningkatan metabolik yang semestinya terjadi. (Salisbury & Ross, 1995) 4. Jenis dan Umur Tumbuhan Masing-masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolsme, dengan demikian kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masing-masing spesies. Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding tumbuhan yang tua. Demikian pula pada organ tumbuhan yang sedang dalam masa pertumbuhan. (I Komang Jaya Santika Yasa, 2009)(Sativa,2010)

II.IV

Jenis Variabel : Massa Tauge

1. Variabel Terikat

2. Variabel manipulasi : Massa Tauge 3. Variabel Bebas : Jenis tumbuhan (Tauge)

11

II.V

Hipotesis

Hipotesis 0 : Massa tauge tidak mempengaruhi laju transpirasi tumbuhan Hipotesis 1 : Massa tauge mempengaruhi laju transpirasi tumbuhan

II.VI

Teori Indikator

Indikator yang digunakan yaitu eosin dan metilen blue sebenarnya tidak mempengaruhi laju respirasi karena kedua indicator ini hanya digunakan sebagai penanda, berdasarkan pengamatan yang kami lakukan penggunaan metilen blue dan eosin hasil yang kami dapat tidak memiliki perbedaan atau nyaris sama.

12

BAB III
HASIL PENGAMATAN
Berat (gram) 1 8 10 10 12 12 0,28 0,27 0,51 0,36 0,36 2 0,22 0,3 0,38 0,28 0,26 Pergeseran (ml) 3 menit ke 3 0,25 0,1 Habis 0,30 0,27 4 Habis 0,18 Habis Habis Habis Total 12 menit (ml) 1,53 2,36 1,4 1,94 1,87 0,17 0,19 0,7 0,64 0,62 Rata-rata (ml/menit) Ratarata (ml/bb) 0,17 0,19 0,7 0,64 0,62

Ada banyak hal yang mempengaruhi proses laju transpirasi suatu tumbuhan salah satu hal yang kami coba manipulasi adalah massa tumbuhan tersebut, karena pada prinsipnya semakin luas permukaan suatu tumbuhan maka proses respirasi akan berlangsung lebih cepat. Kami memanipulasi data dengan memberikan 3 perlakuan yaitu mengukur laju respirasi dengan tauge 5 gram, mengukur laju respirasi dengan tauge 10 gram, dan mengukur laju respirasi dengan tauge 15 gram. Berdasarkan hasil pengamatan setiap kelompok maka kami dapat berkesimpulan bahwa semakin besar massa tauge maka semakin besar pula laju respirasi (dengan catatan tabung yang digunakan dan pipa kaca yang digunakan berukuran sama, lalu kondisi suhu juga dibuat sama). Indikator yang digunakan yaitu eosin dan metilen blue sebenarnya tidak mempengaruhi laju respirasi karena kedua indicator ini hanya digunakan sebagai penanda, berdasarkan pengamatan yang kami lakukan penggunaan metilen blue dan eosin hasil yang kami dapat tidak memiliki perbedaan atau nyaris sama.

13

SIMPULAN DAN SARAN


Tanaman tauge bermassa 5 gram memiliki laju respirasi: 0,17 ml/menit Tanaman tauge bermassa 10 gram memiliki laju respirasi: 0,44 ml/menit ml/ menit tanaman tauge bermassa 15 gram memiliki laju respirasi: 0,63 ml/menit Jadi, dari percobaan kami dapat disimpulkan bahwa semakin besar massa tumbuhan maka semakin cepat pula laju respirasinya. Disarankan agar dalam melakukan eksperimen mengenai respirasi pada tanaman menggunakan persiapan yang matang seperti alat massa tanaman yang ditimbang secara tepat dan pastikan tidak ada lubang/celah pada tabung respirometer sendiri agar eksperimen berjalan lancar dan meminimalkan kesalahan selama eksperimen.

14