Anda di halaman 1dari 58

PERENCANAAN REM TROMOL PADA HONDA KARISMA

TUGAS ELEMEN MESIN I Dibuat untuk memenuhi syarat Mengikuti matakuliah Elemen Mesin I/Tugas Jurusan Teknik Mesin

Oleh Nama : Dedi Suparman NIM : 03043150006 Nama : Muhammad Noufal NIM : 03043150088

JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2006

PERENCANAAN REM TROMOL PADA HONDA KARISMA

TUGAS PERENCANAAN ELEMEN MESIN II

Mengetahui Dosen Pengasuh Elemen Mesin I

Disetujui oleh jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik UNSRI Dosen Pembimbing

Ir.Firmansyah.MT NIP. 131416216

Irsyadi Yani.ST.MT NIP. 132126057

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ilmiah dengan judul Perencanaan Rem Tromol Pada Honda Karisma. Laporan ini disusun untuk mengikuti matakuliah Elemen Mesin II/Tugas. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada : 1. Bapak Irsyadi, ST, MT, dosen pembimbing dalam penyusunan laporan ini. 2. Bapak Ir.Firmansyah, dosen pengasuh matakuliah Elemen Mesin II/Tugas. 3. Orangtua penulis yang telah memberi dukungan moral dan materi dalam penyusunan laporan ini. 4. Teman-teman yang telah memberi masukan untuk laporan ini. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih terdapat kesalahan dan kekurangannya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca untuk kesempurnaan tulisan ini pada masa yang akan datang. Semoga laporan ini bermanfaat bagi kita.

Inderalaya,

Desember 2006

Penulis

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... ii

KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii DAFTAR ISI ..................................................................................................... DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ DAFTAR TABEL ............................................................................................. iv v vi

DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... vii ABSTRAK ......................................................................................................... viii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... A. Latar Belakang ................................................................................ 1 1

B. Tujuan dan Manfaat ....................................................................... 1 C. Pembatasan Masalah ....................................................................... 2 D. Metode Penulisan ............................................................................ 2 E. Sistematika penulisan ....................................................................... 2 II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 4 A. Pengertian rem ................................................................................. 4 B. Macam macam rem ....................................................................... 5 C. Elemen rem sepatu .......................................................................... 10 III PERENCANAAN REM ...................................................................... 15

A. Rem sepatu ..................................................................................... 15 B. Pegas ............................................................................................... 18 C. Pena pin .......................................................................................... 23 D. Poros .............................................................................................. 29 E. Bantalan ......................................................................................... 33 IV KESIMPULAN .................................................................................. 36 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 38 TABEL - TABEL ............................................................................................ 39 KARTU ASISTENSI TUGAS PERENCANAAN ELEMEN MESIN II ......... 42

DAFTAR GAMBAR

Halaman GAMBAR. 1 Macam macam rem ............................................................... 6 2 Rem blok tunggal ...................................................................... 13 3 Rem blok ganda ........................................................................ 13 4 Rem cakera ................................................................................ 13 5 Rem drum .................................................................................. 14 6 Rem pita ................................................................................... 14 7 Bantalan ..................................................................................... 35

DAFTAR TABEL

Halaman TABEL. Tekanan maksimum yang diizinkan untuk sepatu rem ..................... 12

DAFTAR LAMPIRAN Halaman LAMPIRAN Tabel tabel ............................................................................. 39 Kartu Asistensi Tugas Elemen Mesin II .................................. 42

ABSTRAK Rem merupakan suatu elemen mesin yang digunakan untuk menghentikan putaran poros, mengatur putaran poros dan juga mencegah putaran yang tidak dikehendaki. Dalam proses pengereman, rem menyerap energi kinetik dari elemen yang bergerak. Energi diserap dalam bentuk panas dan panas ini lalu dilepaskan, sehingga panas yang berlebihan tidak terjadi. Kapasitas pengereman bergantung pada beberapa factor yaitu tekanan pada permukaan sepatu rem, koefisien gesekan dan kapasitas radiasi panas dari rem. Faktor-faktor ini harus dipenuhi oleh bahan gesek yang mempunyai sifat koefisien yang tinggi dan merata, daya tahan terhadap suhu yang tinggi, kekenyalan yang baik dan ketahanan yang tinggi terhadap keausan, goresan, penggumpalan. Bahan benda gesek yang umumnya digunakan pada rem tromol adalah asbestos dan ferrrado

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Suatu mesin terdiri dari suatu komponen yang jumlahnya dapat mencapai lebih dari seribu bagian. Semua bekerja saling mendukung dan terpadu, sehingga dapat menghasilkan suatu gerakan. Banyak hal yang harus diperhatikan oleh seorang perancang dalam perancangan suatu komponen dari sebuah mesin antara lain yaitu menyesuaikan suatu komponen dengan fungsi sebenarnya, faktor keamanan dari komponen yang direncanakan, efisiensi serta faktor biaya. Pada tugas elemen mesin ini akan direncanakan suatu alat yang berfungsi untuk menghentikan poros atau benda yang mengalami gerakan yaitu rem. Rem adalah suatu alat yang berguna untuk menghentikan atau memperlambat putaran dari suatu poros yang berputar dengan perantara gesekan. Peranan rem sangat penting dalam sebuah konstruksi kendaraan bermotor. Oleh karena itu, penulis mengambil Rem Tromol Pada Motor Karisma sebagai judul dari tugas perencanaan elemen mesin ini

B. Tujuan dan Manfaat Penulisan Sasaran yang hendak dicapai dengan diadakannya Tugas Perencanaan Elemen Mesin ini adalah sebagai berikut :

1. Menerapakan kajian teoritis dalam bentuk rancang bangun elemen mesin khususnya pada rem tromol pada motor karisma. 2. Mampu merencanakan elemen-elemen perhitungan-perhitungan yang mesin yang berdasarkan pada dari literatur sekaligus

bersumber

mengaplikasikan teori yang dilihat langsung di lapangan.

C. Perbatasan Masalah Berdasarkan pada pembagian rem yang terdiri dari beberapa jenis maka permasalahan yang akan dibahas adalah : 1. Prinsip kerja rem tromol pada motor karisma 2. Ukuran-ukuran rem tromol motor karisma dari hasil perhitungan. 3. Gambar kerja dengan ukurannya berdasarkan hasil survey.

D. Metode Pembahasan Pada perencanaan rem tromol motor karisma ini, pembahasan akan dilakukan dengan menggunakan literatur yang memuat data-data serta rumusrumus yang berkaitan dengan masalah yang diambil serta dilengkapi dengan studi lapangan.

E. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan yang digunakan dalam laporan ini adalah sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan dan Manfaat Penulisan C. Pembatasan Masalah D. Metode Pembahasan E. Sistematika Penulisan BAB II : TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Rem B. Macam macam rem C. Elemen Rem Cakram motor rx king BAB III : PERENCANAAN REM A. Rem Cakram B. Poros BAB IV KESIMPULAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Rem Rem adalah suatu alat yang berguna untuk menghentikan atau memperlambat putaran dari suatu poros yang berputar dengan perantara gesekan Efek pengereman secara mekanis diperoleh dengan gesekan secara listrik dengan serbuk magnet, arus putar, fasa yang dibalik, arus searah yang dibalik atau penukaran katup dan lain-lain. Karena itu dalam banyak hal rem tidak bertindak sebagai rem penyetop, dalam hal instalasi dihentikan oleh gaya rem, melainkan mempunyai tugas untuk mempertahankan pesawat dalam suatu kedudukan tertentu (rem penahan). Momen rem terkecil terjadi pada poros yang berputar paling cepat. Karena itulah maka rem sedapat mungkin kebanyakan dipasang pada poros yang digerakkan oleh motor. Syarat paling utama yang harus dipenuhi oleh rem ialah kelembutan artinya tidak ada tumbukan ketika menghubungkan dan melepaskan rem, pelepasan kalor yang cukup ketika terjadi kemungkinan penyetelan ulang setelah aus. Pada mesin pengangkat, rem digunakan untuk mengatur kecepatan penurunan muatan atau untuk menahan muatan agar diam dan untuk menyerap inersia massa yang bergerak seperti truk, crane, muatan dan sebagainya.

Berdasarkan fungsinya, rem dapat diklasifkasikan sebagai berikut : 1. Jenis penahan. 2. Jenis penurunan. 3. Jenis penahan dan penurunan, rem ini melayani kedua fungsi penghentian muatan dan mengatur kecepatan penurunan. B. Macam-macam Rem Menurut efek pengereman secara mekanis rem terbagi beberapa golongan. Masing-masing golongan terdiri dari beberapa jenis rem, seperti terlihat pada Gambar. 1 Rem gesek berguna untuk menghentikan poros, mengatur putaran poros, mencegah putaran yang tidak dikehendaki agar tidak terjadinya slip, dimana poros tersebut terletak pada suatu garus lurus atau sedikit berbeda. Macam-macam rem gesek : 1. Rem Blok a. Rem Blok Tunggal Rem ini merupakan rem yang paling sederhana yang terdiri dari satu blok rem, pada permukaan geseknya dipasang lapisan rem atau bahan gesek yang dapat diganti bila aus. Suatu hal yang kurang menguntungkan pada rem blok tunggal adalah gaya tekan yang bekerja dalam satu arah saja pada drum, sehingga pada poros timbul momen lentur serta gaya tambahan pada bantalan yang tidak dikehendaki. Demikian pula dengan pelayanan manual jika diperlukan gaya pengereman yang besar, tuas perlu dibuat sangat panjang sehingga kurang ringkas.

REM

GESEK

LISTRIK

ARUS PUTAR

PENUKARAN KATUP

DLL

FASA BALIK

REM BLOK

REM CAKERA

REM DRUM

REM PITA

SEPATU DEPAN BELAKANG

REM TUNGGAL

DUA SEPATU DEPAN

REM GANDA

DUO SERVO

Gambar 1 Macam-macam rem Pada dasarnya rem blok tunggal beroperasi karena aksi satu arah blok tunggal sehingga menimbulkan lenturan pada poros rem. Rem blok tunggal hanya dapat dipakai untuk menahan momen gaya yang kecil pada penggerak tangan bila diameter poros tidak melebihi lima puluh milimeter. Tekanan yang diberikan oleh blok besi cor pada rem

haruslah sedemikian rupa sehingga gaya gesek yang dihasilkan pada permukaan roda mengimbangi gaya sekelilingnya. b. Rem Blok Ganda Kekurangan rem blok tunggal yang hanya mendapat gaya tekan dalam arah saja hingga menimbulkan momen lentur yang besar pada poros serta gaya tambahan pada bantalan, dapat diatasi jika dipakai dua blok rem yang menekan drum dari dua arah yang berlawanan baik dari sebelah dalam atau dari sebelah luar drum. Rem blok ganda sering digunakan pada mekanisme pengangkat, pemindahan dan pemutaran crane yang berbeda dengan rem blok tunggal. Rem blok ganda tidak menimbulkan defleksi pada poros rem. Penjepit dan crane yang digerakkan listrik hampir selalu didesain dengan rem blok ganda. Rem digerakkan oleh pemberat dan dilepaskan oleh elektromagnet, akibatnya pengereman permanen hanya bekerja bila elektromagnet. Biasanya rangkaian listriknya dibuat saling mengunci antara motor dan magnet sehingga secara otomatis menghasilkan aksi pengereman walaupun motor berhenti secara mendadak. Pengoperasian rem dengan pemberat yang dipasang pada tuas rem mempunyai kelemahan yaitu setelah arus diputuskan dan pemberatnya jatuh, pemberat ini akan bergetar bersama dengan tangkainya, menurunkan dan menaikkan tekanan sepatu roda dan akan mengubah besarnya momen gaya pengereman. Perubahan secara

periodik pada momen gaya pengereman ini merupakan fenomena yang tidak dikehendaki pada mekanisme pemindah. 2. Rem Drum Rem yang biasa digunakan untuk otomobil berbentuk rem drum (macam ekspansi) dan rem cakera (disc). Rem drum mempunyai ciri lapisan rem yang terlindungi, dapat menghasilkan gaya yang besar untuk ukuran rem yang kecil, dan umur lapisan rem yang cukup panjang. Suatu kelemahan rem ini ialah pemancar panasnya buruk. Blok rem dari rem ini disebut sepatu rem dan silinder hidrolik serta arah putaran roda. Biasanya rem ini banyak dipakai dengan sepatu depan dan sepatu belakang. Pada rem sjenis ini, meskipun roda berputar pada arah yang berlawanan, besar gaya rem tetap karena memakai dua sepatu depan, dimana gaya rem dalam arah putaran jauh lebih besar daripada dalam arah yang berlawanan. Ada juga rem yang disebut dengan duo servo. Cara kerjanya : Pada umumnya perencanaan rem drum menggunakan perhitungan yang sederhana dan akan diperoleh ukuran bagian-bagian yang bersangkutan serta gaya untuk menekan sepatu. Tekanan minyak dalam silinder diperbesar atau diperkecil olek gaya injakan pada pedal rem yang menggerakkan piston silinder master rem, secara langsung atau penguat gaya. Untuk mencegah kenaikan gaya rem yang terlalu melonjak pada saat pengereman darurat maka kenaikan

tekanan minyak yang ditimbulkan oleh injakan pedal akan lebih lunak daripada injakan dibawah. Perbandingan gaya rem tetap sama, namun demikian untuk kontruksi, baru menjaga agar pada waktu pengereman tidak terjadi slip antara telapak ban dan permukaan jalan, maka pengurangan kenaikan tekanan minyak diatas pedal tertentu dikemukakan diatas. 3. Rem Cakera Rem cakera terdiri atas sebuah cakera dari baja yang dijepit lapisan rem kedua sisinya pada waktu pengereman. Rem ini mempunyai sifat-sifat yang baik seperti mudah dikendaikan, pengereman yang stabil, radiasi panas yang baik sehingga banyak dipakai untuk rem depan. Adapun kelemahannya yaitu umur lapisan yang pendek serta ukuran silinder rem yang besar pada roda. Dibandingkan dengan macam rem yang lain, rem cakera mempunyai harga FER terendah karena pemancaran panas yang baik. 4. Rem Pita Rem pita pada dasarnya terdiri dari sebuah pita baja yang disebelah dalamnya dilapisi dengan bahan gesek, drum rem dan tuas. Gaya rem akan timbul bila pita dikaitkan pada drum dengan gaya tarik pada kedua ujung pita tersebut. Salah satu atau kedua pita dikaitkan pada tuas. Rem pita mempunyai beberapa keuntungan seperti luas lapisan permukaan dapar dibuat besar, pembuatan mudah, pemasangan tidak sukar, gaya rem besar dalam keadaan berhenti. Tetapi karena sukar

dikendalikan rem ini tidak cocok untuk putaran tinggi, karena pita dapat mengalami putus. Rem semacam ini dipandang tidak cocok untuk alat-alat pengangkut manusia, rem pita banyak dipakai untuk derek. Rem sebuah derek dimaksudkan untuk menghentikan putaran drum penggulung kabel dan mencegah beban turun sendiri.

C. Elemen Rem Sepatu Pada rem sepatu terdapat bagian atau elemen yang sangat penting, elemen tersebut terdiri dari : 1. Roda Rem Biasanya mesin pengangkat yang digerakkan tangan didesain dengan roda dari besi cor dan digerakkan oleh penggerak daya. Roda yang dipakai tersebut dari baja cor dengan tingkat diatas 55J I grup III, atau baja tempa dengan 45 sesuai dengan standar Soviet dengan kekerasan minimum permukaan gesek 280 BHN. Lebar roda boleh melebihi lebar sepatu sebesar lima sampai sepuluh milimeter. Roda rem harus diberi sirip untuk pelepasan kalor yang lebih baik dan dilengkapi dengan lubang diantara siripnya untuk mendapatkan sirkulasi udara yang lebih baik dan untuk melepaskan kalor lebih efektif ke atmosfer. 2. Sepatu Rem Sepatu rem dibuat dari kayu mapel atau poplar yang dipasang pada tuas dengan baut. Untuk mekanisme penggerak sepatu dibuat dari besi cor

(dengan cetakan permanen, tingkat CH 12-28) dan diberikan lapisan rem khusus. Lapisan tersebut dapat diikat dengan paku keling ataupun dengan sekrup yang terbenam. 3. Lapisan Rem Lapisan rem harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. b. Mempunyai koefisien gesek yang besar Mampu bekerja dengan baik sampai temperatur tiga ratus derajat celcius c. Dapat menahan keausan pada kecepatan, tekanan, satuan, dan temperatur tinggi d. Mudah dibuat dan murah Saat ini bahan yang paling banyak dipakai ialah pita canai. Pita canai dibuat dengan mesin canai dari asbes non tekstil yang murah dengan karet dan ditambahkan belerang untuk proses vulkanisir. Pita canai dibuat dengan ketebalan sampai delapan milimeter dan lebar sampai seratus milimeter. Pita canai sangat elastis dan dapat ditengkuk dengan mudah, mempunyai koefisien gesek yang stabil dan tinggi antara 0,42 - 0,53 dan dapat menahan temperatur sampai 2200 C. Percobaan-percobaan menyarankan nilai koefisisen gesek untuk berbagai bahan tanpa pelumasan sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Besi cor dengan besi cor 0,15 Baja dengan besi cor 0,15 Pita rem asbes tipe A dengan besi cor atau baja 0,37 Pita rema asbes tipe B dengan besi cor atau baja 0,37

5. 6. 7. 8. 9.

Pita canai dengan besi cor atau baja 0,42 Kayu dengan besi cor 0,3 Kayu dengan baja 0,25 Kulit dengan besi cor 0,20 Kulit dan baja 0,20

10. Kuningan dan kuningan 0,17 11. Kuningan dan baja 0,16 12. Baja padat serat 0,17 Untuk mengetahui tekanan satuan maksimum yang dizinkan untuk sepatu rem diberikan pada Tabel. 1: Tabel. 1 : Tekanan maksimum yang diizinkan untuk sepatu rem Material sebagai permukaan pengereman Besi dan baja Baja dan besi Baja dan baja Pita rem asbes dan logam Pita canai dan logam Tekanan per unit Kg/cm2 Rem di atas 20 20 4 6 6 Rem di bawah 15 15 2 3 4

4. Tuas rem dan batang tarik Tuas rem dibuat dari baja tuang-tempa cetak. Tegangan lentur aman tuas dengan memperhitungkan kejutan patahnya bernilai antara empat ratus sampai delapan ratus kilogram per sentimeter bujur sangkar tergantung ukuran rem tersebut. Tuas baja tuang lebih mahal tetapi memiliki kekakuan yang lebih baik dan lebih sedikit gerakannya ketika berputar.

Gambar. 2 Rem blok tunggal

Gambar. 3 Rem blok ganda

Gambar. 4 Rem cakeram

(a)

(b)

(c)

Gambar. 5 Macam macam rem drum (a) sepatu depan belakang (b) dua sepatu depan (c) duo servo

Gambar. 6 Rem pita

BAB III PERENCANAAN REM

A. Rem Sepatu Dalam perencanaan rem ada beberapa macam persyaratan penting yang harus dipenuhi yaitu besarnya momen pengereman, besarnya energi yang diubah menjadi panas terutama bahan gesek yang dipakai. Pemanasan yang berlebihan bukan hanya akan merusak bahan lapisan rem, tetapi juga akan menurunkan koefisien gesekannya. Bahan rem harus memenuhi syarat keamanan, ketahanan dan dapat melakukan proses pengereman dengan halus. Disamping itu bahan rem juga harus memiliki koefisien gesek yang tinggi, keausan kecil, kuat dan tidak melukai permukaan drum dan dapat menyerap getaran yang timbul. Pada perencanaan rem sepatu dalam diketahui data-data sebagai berikut : r a f = 54 mm = 0,054 m = 42 mm = 0,042 m = 0,47 (Tabel. 2)

Pa = 690 Kpa (Tabel. 2) 1 = 00 2 = 1450 a = 900 (karena 2 900)

Dari data yang didapat kita dapat mengetahui persamaan gaya gerak untuk dapat menggerakkan rem. F =

Mn Mf C

................................................

(literatur 2 hal 295)

Mf = Mn FC Moment Mf dari gaya gesekan adalah : Mf =

fd . n (r a cos )

....................................

(literatur 2 Hal 295)

Mf =

f Pa br 2 sin (r a cos ) d sin a 1 f Pa br sin a


2 1 sin 2 2 r cos a 1 2 1

Mf =

Mf =

f Pa br r r cos 2 a sin 2 2 2 sin a

Mf =

0,47 . 690 . 103 . b . 0,054 0 0,042 sin2 1450 0,054 0,054 cos 145 0 2 sin 90

Mf = 17512,2 . b (0,054 + 0,04423 - 0,00691) Mf = 17512,2 . b . (0,09132) Mf = 1599,214 . b Momen dari gaya-gaya normal diberikan : Mn =

dN (a sin )

...............................................

(literatur 2 hal 297)

P .b.r .a 2 2 sin d = a sin a 1 =


Pa . b . r . a 1 2 [2 4 sin 2 ] 1 sin a

P a. b . r . a 2 1 [ 2 4 sin 2 2 ] sin a

690 .10 3 . b . 0,054 . 0,042 sin 90 0

145 1 0 2 180 4 sin 2 .145

= 1564,92 . b (1,265 + 0,235) = 1564,92 . b (1,5) Mn = 2347,38b Jadi : Mf + F . c = Mn 1599,214 b + F . c = 2347,38 b F . c = 748,166 b F = 748,166b c

180 2 c = 2 a cos 2

180 145 c = 2 0,042 cos 2 c = 2 (0,042 cos 17,5o) c = 0,08011 m A=

2
360

2 .r.b

145 2(3,14)(0,054)b 360

= 0,13659 b F =
Pa . A (b fa ) b

690.10 3 (0,13659)b(b 0,47 x0,042) 748,166b = b c

748,166 b = 690. 103(0,13659)(b-0,01974)c 784,166 b = 690 . 103 (0,13659) (b- 0,01974) (0,08011) 748,166 b = 7550,135 b -149,04 6801,969 b = 149,04 b= 149,04 6801,969

b = 0,02191 m = 21,91 mm 22 mm Jadi lebar muka dari kanvas rem yang diambil sebesar b = 22 mm. Mn = 2347,38 b
= 2347,38 . 22 = 51642,36 Nm Mf = 1599,214 b = 1599,214 . 22 = 35182,708 Nm C = 0,08011 m

B. Pegas

Pada perencanaan ini pegas yang direncanakan merupakan pegas yang menghubungkan antara rem sepatu kanan dan kiri yang digolongkan sebagai pegas tarik, pegas tarik umumnya dipandang kurang aman dibandingkan dengan pegas ulir tekan. Karena itu, tegangan yang diizinkan pada pegas tarik diambil 20% lebih redah dari pegas tekan.

Pegas tarik harus mempunya beberapa alat untuk memindahkan beban dari tumpuannya kebadan pegas. Walaupun ini dapat dilakukan dengan suatu sumbat berulir atau suatu cantelan berputar. Hal ini menambahkan biaya pada produksi akhir dan karenanya salah satu dari metode biasanya dipakai dalam merencanakan suatu pegas dengan suatu cantelan, pengaruh pusat tegangan perlu diperhatikan. Data-data yang dimiliki dalam merencanakan pegas antara lain : d D A m = 1,4 mm = (8,5 - 1,4) mm = 7,1 mm = 1750 Mpa (Tabel. 3) = 0,192 (Tabel. 3)

Maka didapat : Sut = A dm = 1750 (1,4) 0,192 1750 1,067

= 1640 Mpa persamaan pendekatan antara kekuatan menyerah dan kekuatan akhir dalam tarik, didapat : Sy = 0,75 . Sut .................................................... (Literatur 2 hal 12)

= 0,75 . 1640 Mpa Sy = 1230 Mpa Dengan menggunakan teori energi distorsi, didapat : Ssy = 0,577 . Sy .................................................. (Literatur 2 Hal 12)

= 0,577 . 1230 Mpa Ssy = 709,71 Mpa Indeks pegas adalah : C = D d 7,1 1,4 ............................................................. (Literatur 2 Hal 3)

= C

= 5.071

Maka faktor perkalian tegangan geser adalah : Ks = 1 + 0,5 C 0,5 5,071 .................................................... (Literatur 2 Hal 3)

= 1 +

= 1 + 0,098 Ks = 1,098 Sehingga Fmax didapat dengan menggantikan tegangan geser dengan kekuatan mengalah puntir, didapat : Fmax =
S sy . . d 3 8 Ks . D

..............................................

(Literatur 2 - Hal 13)

709,71. 3,14 . (1,4) 3 = 8 . 1,098 . 7,1 Fmax = 6114,975 62,366

Fmax = 98,0498 N

Besarnya gaya yang diperlukan untuk menimbulkan tegangan puntir pada ujung cantelan, adalah : Dimana : rm = D 4 7,1 4

= 1,775 mm d ri = r m - 2 .................................................. (Literatur 2 - Hal 16)

1.4 = 1,775 - 2 = 1,775 - 0,7 ri = 1,075 mm

maka : K =
rm ri

...................................................................... (Literatur 2 - Hal 8)

1,775 1,075

K = 1,65 Dimana K = Ks Jadi : Fmax =


S sy . . d 3 8K.D

.............................................

(Literatur 2 - Hal 13)

709,71 . 3,14 . (1,4) 3 8 . 1,65 . 7,1 6114,975 93,72

Fmax = 62,247 N Tegangan normal pada cantelan diperoleh dari gaya untuk menimbulkan tegangan normal yang mencapai kekuatan mengalah : Dimana : rm = D 2 7,1 2

rm =

= 3,55 mm

d ri = r m - 2
1.4 = 3,55 2 = 3,55 0,7 ri = 2,85 mm maka : K =
rm ri

3,55 2,85

K = 1,245

Dengan memasukkan = Sy dan harga-harga yang diketahui dalam persamaan : =

K 32 . F . rm F 4F M + = + ............ (Literatur 2 - Hal 16) 3 I . d2 A nd C


4 . Fmax 1,245 . 32 . Fmax . 3,55 + 3 3,14 (1,4) 2 3,14 (1,4) 141,432 Fmax 4 . Fmax + 8,616 6,15

1230 =

1230 =

1230 = 16,415 . Fmax + 0,65 . Fmax 1230 = 17,065 . Fmax Fmax = 1230 17,065

Fmax = 72,07 N

C. Pena Pin

Dalam perhitungan pena pin kita memerlukan data-data berupa Mn, Mf, dan c. Dimana data-data tersebut telah didapat dalam perhitungan sebelumnya. Dimana : Mn = 51,64 Nm Mn = 35,18 Nm c = 0,08011 m (c = jarak titik puncak ke pegas + jarak titik puncak ke pena pin) Sehingga gaya gerak yang diperoleh sebesar :

M n M f C

..

(Literatur 2 Hal 295)

51,64 35,18 0,08011 16,46 0,08011

= F

= 205,47 N = 0,206 kN

Gaya gerak pada sumbu x dan y diperoleh sebesar : Fx = F . sin 00 = 0,206 sin 00 Fx = 0 kN Fy = F . cos 00 = 0,206 cos 00 Fy = 0,206 kN

Ry Rx Sepatu pertama Rx Sepatu kedua

Ry

Untuk mendapatkan reaksi pena engsel, kita mencatat : 1 = 00 maka : A = ( sin 22) 2
1

(Literatur 2 Hal 297)

sin 2 2

= sin2 1450 = 0,165 B = sin 2 d


1
2 1 = sin 2 1 2 4

2 1 1 1 = sin 22 sin 21 2 4 2 4 =

155 1
2 180 4

sin 2(155 0 ) 0

= 1,265 + 0,235 B = 1,5 Pa . b . r sin a .. (Literatur 2 Hal 301)

D =

690 . 10 3 . 0,022 0.054 sin 90 0 0,81972 kN 1

= 0,81972 kN

Maka reaksi gaya-gaya pada pena engsel sepanjang sumbu x dan y adalah : Rx = Pa . b . r sin a (A f.B) - Fx ................................. (Literatur 2 Hal 297)

= D (A f.B) - Fx = 0,81972 (0,165 0,47 . 1,5) 0 = 0,81972 (0,165 0,705) = -0,44 kN Ry = D (B + f A) Fy = 0,81972 (1,5 + 0,47 . 0,165) 0,206 = 0,81972(1,57755) 0,206 = 1,09 kN Resultan dari gaya-gaya pada pena engsel sumbu x dan y adalah : R = = Rx 2 + R y 2 ............................................... (Literatur 2 Hal 301)

(0,44) 2 + (1,09) 2

= 1,3817 = 1,175 kN Dimana momen gesek (MF) dan normal (Mn) adalah perbandingan lurus dengan tekanan sehingga daya putar yang disumbangkan oleh sepatu rem sebelah kiri dipenuhi oleh persamaan Mn = 51,64 Pa 1000 35,18 Pa 1000

Mf =

Maka tekanan pada sepatu sebelah kiri sebesar : F = Mn + Mf C ............................................ (Literatur 2 Hal 297)

51,64 Pa 35,18 Pa + 1000 1000 0,206 = 0,08011 0,0165 = 16,5 Pa Pa D 51,64 Pa + 35,18 Pa 1000

= 86,82 Pa = 16,5 86,82

= 0,19 kPa = Pa . b . r sin a 0,19 . 0,022 . 0,054 sin 90 0

= D

= 0,00022572 kN

Maka reaksi gaya-gaya pada pena engsel sepanjang sumbu x dan y untuk putaran yang berlawanan dengan arah jarum jam sebesar : Rx = D (A + f.B) - Fx ........................................ (Literatur 2 Hal 297)

= 0,00022572 (0,165 + 0,47 . 1,5) 0 = 0,00022572 (0,87) = 1,96 . 10-4 kN Ry = D (B - f.A) Fy = 0,00022572 (1,5 - 0,47 . 0,165) 0,206 = 0,00022572 (1,42245) 0,206

= - 0,2057 kN Resultan dari gaya-gaya pada pena engsel sumbu x dan y adalah : R = = = Rx 2 + R y 2 ................................................ (Literatur 2 Hal 301)

(1,96.10 4 ) 2 + (0,2057) 2
0,042312

R = 0,206 kN Momen yang terjadi pada pena pin sebesar : M = R1 . 1 - R2 . 1 = 1,175 . 0,0151 0,206 . 0,0151 = 0,0177425 0,0031106 M = 0,0146319 kNm = 14,63 kNmm

Bahan dari pena pin adalah Baja AISI 1050 dengan : = 49 kPsi = 33761 . 104 Pa

Md MC 2 = = = 4 I Z d 64
M 32M

d3 =

32(14,63) . (337610000) 468,16 1060095400

= d d

= 0,00762 m = 7,62 mm 8 mm

Diameter pena pin yang didapat adalah sebesar 8 mm.

D. Poros

Poros merupakan salah satu bagian yang terpenting dari setiap mesin. Hampir semua mesin meneruskan tenaga bersama-sama putaran. Peranan utama dalam transmisi seperti itu dipegang oleh poros. Panjang dari poros yang direncanakan adalah sepanjang 160 mm dengan bahan poros berupa Baja AISI 1010 dengan tegangan sebesar 26 kPsi atau setara dengan 179,14 N/mm2 . Maka didapat : m = Berat kosong sepeda motor + Berat 2 penumpang 2 98,9 kg + 140 kg 2 238,9 kg 2

m = 119,45 kg F = m . g = 119,45 . 9,8 = 1170,61 N

Reaksi pada batang poros : F


A L/4
3L/4 L

F
C D B

RA

RB

Fy = 0 RA F 1 2

F + RB = 0

RA F + RB = 0 RA + RB = F RA + RB = 1170,61 N MA = 0
1 2

F.

L + 4

F.

3L - RB . L = 0 4

FL 3 + FL R B .L = 0 8 8
1 FL RB .L = 0 2

R B .L =
RB =
1

1 FL 2
F=
1 2

(1170,61) = 585,305 N

R A + RB = 1170,61 R A + 585,305 = 1170,61


R A = 585,305 N

Perhitungan gaya geser dan momen untuk daerah 0 x


X

V RA

Fy = 0
RA V = 0

V = R A = 585,305 N

M = 0
R A .x M = 0 M = R A .x

Jika x = 0 mm, maka :

MA = 0 Nmm
Jika x =
L 4

= 40 mm, maka :

M C = 585,305(40) = 23412,2 Nmm


Perhitungan gaya geser dan momen untuk daerah
L4
1/2F

3L

RA

Fy = 0
RA 12 F V = 0 V = R A 1 2 F = 585,305 1 2 (1170,61) = 0 N

M = 0
R A .x 1 2 F ( x L 4 ) M = 0 M = R A . x 1 2 F . x + 1 8 F .L

Jika x =

= 40 mm, maka :

M C = 585,305(40) 1 2 (1170,61)(40) + 18 (1170,61)(160) M C = 23412,2 23412,2 + 23412,2 = 23412,2 Nmm

Jika x =

3L

= 120 mm, maka :

M D = 585,305(120) 1 2 (1170,61)(120) + 18 (1170,61)(160) M D = 70236,6 70236,6 + 23412,2 = 23412,2 Nmm

Perhitungan gaya geser dan momen untuk daerah

3L

xL

L/4

3L/4

V M

x
RA

Fy = 0
RA 12 F 12 F V = 0 V = R A F = 585,305 1170,61 = 585,305 N R A .x 1 2 F ( x L 4 ) 1 2 F ( x 3 L 4 ) M = 0 M = R A . x 1 2 F . x + 1 8 F .L 1 2 F . x + 3 8 F .L M = R A . x F . x + 1 2 F .L

Jika x =

3L

= 120 mm, maka :

M D = 585,305(120) (1170,61)(120) + 1 2 (1170,61)(160) M D = 70236,6 140473,2 + 93648,8 = 23412,2 Nmm

Jika x = L = 160 mm, maka :


M B = 585,305(160) (1170,61)(160) + 1 2 (1170,61)(160) M B = 93648,8 187297,6 + 93648,8 = 0 Nmm

Diagram gaya geser :

V (N) 585,305

-585,305 Diagram momen : M (Nmm) 23412,2

32 M d3 =

........................................................... (Literatur 2 Hal 263) 32 ( 23412,2) d3

179,14

562,4996 d3 = 749190,4 d3 = 749190,4 562,4996

d3 = 1331,9 d = 11 mm 12 mm Diameter poros yang digunakan adalah 12 mm

E. Bantalan

Pada perencanaan ini menggunakan bantalan luncur. Bantalan ialah elemen mesin yang menumpu poros berbeban, sehingga putaran atau gerakan bolak-balik dapat berlangsung secara halus, aman dan panjang umur. Bantalan harus kokoh untuk memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya

bekerja dengan baik maka prestasi seluruh mesin lainnya bekerja dengan baik. Pada bantalan luncur ini terjadi gesekan luncur antara poros dan bantalan karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan perantara lapisan pelumas. Pada perencanaan ini didapat data-data sebagai berikut : m N = 119,45 kg = 7500 rpm

(pv)a = 1,5 (Tabel. 4) l

mN 1000 x60 ( pv) a

................................................

(Literatur 3 - Hal 114)

3,14 119,45(7500) 1000 x60 1,5

3,14 895875 60000 1,5 2813047,5 90000

l 31,26 mm 32 mm Asumsikan harga l/d = 2,5 Maka : 31 = 2,5 d

d=

32 = 12,8mm 13 mm 2,5

Diameter bantalan yang digunakan adalah 12,5 mm.

BAB IV KESIMPULAN

Berdasarkan perhitungan-perhitungan pada bab terdahulu didapat data sebagai bahan untuk merencanakan rem tromol yaitu : 1. Perencanaan Sepatu rem Data yang diambil dari literature didapat sebagai berikut : r a f Pa = 54 mm = 42 mm = 0,47 = 690 kPa

Dari data di atas didapat lebar muka sepatu rem (b) = 22 mm. 2. Perencanaan Pegas Data yang diambil adalah sebagai berikut : d D A m = 1,4 mm = 7,1 mm = 1750 Mpa = 0,192

Dari data di atas didapat : Fmax = 62,247 N (diambil dari F1max = 98,0498 N ; F2max = 62,247 N ; F3max = 72,07 N) 3. Perencanaan Pin Penahan Pin penahan terbuat dari bahan Baja AISI 1050 Mn = 51,64 Nm

Mf c

= 35,18 Nm = 0,08011 m = 49 kPsi = 33761 . 104 Pa

Dari hasil perhitungan didapat diameter pin (d) = 8 mm. 4. Perencanaan Poros Bahan poros terbuat dari Baja AISI 1010 L m = 26 kPsi = 179,14 N/mm2 = 160 mm = 119,45 kg

Maka didapat diameter poros (d) = 12 mm 5. Perencanaan Bantalan Bantalan terbuat dari besi cor. m N = 0,3 - 0,6 = 119,45 kg = 7500 rpm

(pv)a = 1,5 Dari hasil perhitungan didapat diameter dalam bantalan (d) = 13 mm. Terlihat bahwa perhitungan poros dan bantalan sesuai, karena diameter poros lebih kecil daripada diameter bantalan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Khurmi, RS, Gupto JK, A Text Book Of Machine Design, Eurasia Publishing House, New Delhi, 1982. 2. Shigley, Joseph, L.D Mitchell, Perencanaan Teknik Mesin, Jilid 2, Edisi 4, Erlangga, Jakarta, 1994. 3. Sularso, Ir, MSME, Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen Mesin, PT Pradya Paramitha, Jakarta, 1981. 4. PT Astra Honda Motor, Panduan Penjualan Karisma, Jakarta, 2002. 5. PT Astra Honda Motor, Buku Pedoman Reparasi Honda Karisma, Jakarta, 2002. 6. PT Astra Honda Motor, Parts Katalog Honda Karisma, Edisi 1, Jakarta, 2002.

Tabel. A Beberapa Sifat Lapisan Rem Lapisan yang ditenun Kekuatan tekan, kpsi Kekuatan tekan, MPa Kekuatan tarik, kpsi Kekuatan tarik, MPa Suhu maksimum, oF Suhu maksimum, oC Kecepatan maks., fpm Kecepatan maks.,m/s Tekanan maks., psi Tekanan maks., kPa Koefisien gesekan rata-rata 10 15 70 100 2.5 3 17 21 400 500 200 260 7500 38 50 100 340 690 0,45 Lapisan yang dicetak 10 18 70 125 45 27 35 500 260 5000 25 100
690 0,47

Balok yang kaku 10 15 70 100 34 21 27 750 400 7500 38 150 1000 0,40 45

Tabel. B Konstanta yang dipakai untuk memperkirakan kekuatan tarik dari baja pegas yang dipilih Bahan Senar musik Kawat yang dikeraskan dengan penarikan Tabel. 4 Eksponen m 0,146 0,192 Konstanta A kpsi Mpa 196 1350,44 254 1750

Tabel. 2 : Sifat sifat Mekanis dari Baja

Nomor UNS

Nomor AISI

Cara Pengerjaan

Kekuatan Mengalah kpsi

Kekuatan Tarik kpsi

Pemanjangan dalam 2 in %

Pengurangan Luas %

Kekerasan Brinell HB

G10100 1010 G10150 1015 G10180 1018 1112 G10350 1035

G10400 1040 G10450 1045 G10500 1050

HR CD HR CD HR CD HR CD HR CD Drawn 800oF Drawn 1000oF Drawn 1200oF HR CD Drwan 1000oF HR CD HR CD

26 44 27 47 32 54 33 60 39 67 81 72 62 42 71 86 45 77 49 84

47 53 50 56 58 64 56 78 72 80 110 103 91 76 85 113 82 91 90 100

28 20 28 18 25 15 25 10 18 12 18 23 27 18 12 23 16 12 15 10

50 40 50 40 50 40 45 35 40 35 51 59 66 40 35 62 40 35 35 30

95 105 101 111 116 126 121 167 143 163 220 201 180 149 170 235 163 179 179 197

KARTU ASISTENSI TUGAS PERENCANAAN ELEMEN MESIN I

1. NAMA : - DEDI SUPARMAN - MUHAMMAD NOUFAL

(03043150006) (03043150088)

2. JUDUL : PERENCANAAN REM TROMOL PADA HONDA KARISMA NO HARI/TANGGAL MATERI KETERANGAN PARAF

Inderalaya, Desember 2006 Dosen Pembimbing

Irsyadi Yani.ST.MT

B. PERHITUNGAN POROS

- Daya yang ditransmisikan (P) = 5 HP = (5 x 0,735) kW = 3,675 kW - Faktor koreksi (fc) = 1,0 (Tabel. 6) - Daya yang direncanakan (Pd) Pd = fc . P ............................................................... (Sularso, hal 7) = 1,0 . 3,675 = 3,675 kW - Momen rencana (T) T = 9,74 . 105

Pd n1

................................................. (Sularso, hal 7)

3,675 = 9,74 . 10 639,2


5

= 5600 kgmm - Bahan poros : S40C - H

B = 62 kg/mm2 (Tabel. 7)
Faktor keamanan (Sf1) = 6,0 (Untuk bahan SC) ................... (Sularso, hal 8) Faktor kekasaran permukaan (Sf2) = 2,5 ............................... (Sularso, hal 8) - Tegangan geser yang diizinkan ( a )

a =

B
Sf1.Sf 2
62 (6,0)(2,5)

= 4,13 kg/mm2

- Faktor pengaruh beban lentur (Cb ) = 2,3 .............................. (Sularso, hal 8) Faktor koreksi yang dianjurkan ASME (Kt ) = 1,5 ................ (Sularso, hal 8) - Diameter poros (ds ) 5,1.K t .Cb .T 3 ds = ............................................. (Sularso, hal 8) a
(5,1)(2,3)(1,5)(5600) 3 = 4,13
1
1

= 28,8 mm - Tegangan geser yang terjadi ( )

5,1.T 3 ds

........................................................... (Sularso, hal 7)

(5,1)(5600) 28,83

= 1,2 kg/mm2 Sehingga :

a .Sf 2 Cb K t
10,3 > 4,1 ; maka poros aman

C. PERHITUNGAN PASAK

- Bahan pasak : S35C-H Kekuatan tarik ( B ) = 58 kg/mm2 (Tabel. 8)

Faktor keamanan Sfk1 = 6 ; Sfk2 = 3 ............................... (Sularso, hal 25) - Ukuran pasak untuk diameter poros 22 30 mm yaitu : (Tabel.7)

b (lebar pasak) h (tinggi pasak)

= 8 mm = 7 mm

t1 (kedalaman alur pasak pada poros) = 4,0 mm t2 (kedalaman alur pasak pada naf) Panjang pasak (lk) - Gaya tangensial (F) F=
T ds 2 5600 28,8 2

= 3,3 mm = 40 mm

= 388,8 kg - Tegangan geser yang diizinkan ( ka )

ka =

B
Sf k1.Sf k 2
58 (6)(3)

= 3,2 kg/mm2 - Tekanan permukaan yang diizinkan a = 8 kg/mm2 - Panjang pasak dari tegangan geser yang diizinkan

k =

388,8 3,2 ; l1 15,18 8.l1

Panjang pasak dari tekanan permukaan yang diizinkan

388,8 8,0 l2 .3,3

; l2 14,72

Harga terbesar antara l1 dan l2 L = 15,18 mm Sehingga :

b 8 = = 0,28 ; 0,25 < 0,28 < 0,35 baik d s 28,8 lk 40 = = 1,38 d s 28,8
; 0,75 < 1,38 < 1,5 baik

BAB XI PENGUKURAN PERPINDAHAN DAN DIMENSI


11. 1 PENDAHULUAN

Penentuan perpindahan linear adalah salah satu yang paling mendasar dari seluruh pengukuran. Perpindahan mungkin menentukan tingkat suatu bagian fisis, atau mungkin menentukan jauhnya suatu gerakan. Bentuk yang paling umum dari pengukuran perpindahan ialah membandingkan langsung dengan suatu standar sekunder (pembandingan langsung). Alat-alat ukur tesebut diklasifikasikan dalam Tabel. 11.1.
11. 2 SUATU MASALAH DALAM PENGUKURAN DIMENSI

Suatu masalah yang sering dihadapi dalam pengukuran suatu dimensi adalah tidak adanya standar pengukuran. Misalnya untuk mengukur suatu lubang yang dibor digunakan suatu pengukur Diterima / Tidak Diterima jenis sumbat. Sekarang yang menjadi masalah apakah alat pengukur tersebut masih dalam toleransi ? Kita hanya akan mengetahui dengan cara mengukurnya dengan balok ukur. Tetapi untuk bisa berguna, batang ukur itu sendiri harus diukur dan seterusnya sampai akhirnya kembali ke standar panjang dasar. Contoh lainnya yang menggambarkan betapa pentingnya standar pengukuran yaitu pembuatan lubang di atas sebuah eleman. Dimensi yang diperinci oleh suatu pabrik tidak akan bisa terpenuhi oleh pembuat

pengukur kecuali kedua perangkat balok ukur yang digunakan diturunkan dengan teliti dari standar dasar yang sama. Tabel. 11.1 Klasifikasi Alat-alat Pengukur Perpindahan
Alat-alat dengan Resolusi Rrendah (sampai dengan 1/100 in) (0,25 mm) 1. Penggaris baja yang digunakan langsung atau dengan bantuan a. Kaliper b. Pembagi c. Pengukur permukaan 2. Pengukur tebal Alat-alat dengan Resolusi Menengah (sampai dengan 1/10.000 in)(2,5 x 10-3 mm) 1.Mikrometer (dalam bermacam-macam bentuk, misalnya jenis biasa , di dalam, kedalaman, ulir sekrup dan lain-lain) yang digunakan langsung atau dengan bantuan asesori seperti : a. Pengukur teleskopik b. Pengukur-pengukur bola yang bisa diperpanjang 2.Alat-alat vernier, dalam bermacam-macam bentuk seperti jenis di luar, di dalam, kedalaman, tinggi dan sebagainya 3.Pengukurpengukur khusus (dinamai bermacam-macam seperti sumbat, cincin, snap, tirus dan sebagainya) 4. Indikator dial 5. Mikroskop pengukur Alat-alat Resolusi Tinggi (sampai dengan mikroin)(2,5 x 10-5 mm) Balok-ukur (gage block) digunakan langsung atau dengan bantuan beberapa bentuk pembanding (comparator ) seperti a. Pembanding mekanis b. Komparator listrik c. Komparator pneumatik d. Sumber cahaya monokhromatik dan lempeng optis Alat-alat Resolusi Super Bermacam-macam bentuk interferrometer yang digunakan dengan sumber cahaya khusus 11. 3 BALOK UKUR

Balok ukur adalah kuantitas yang diketahui yang digunakan untuk mengalibrasi alatalat pengukur dimensi, untuk menyetel alatalat khusus, untuk digunakan langsung dengan asesori sebagai alat ukur dan merupakan standar dimensi dalam industri. Alatalat ini merupakan balokbalok kecil

yang dibuat dari baja yang telah diberi perlakuan panas untuk menstabilkan guna mengurangi perubahan ukuran sesudah lama dipakai, dan mempunyai permukaan paralel serta ukuran yang teliti dengan toleransi yang ditentukan untuk kelasnya. Kombinasi yang teliti dimungkinkan dalam kenaikan sepersepuluh ribu sampai lebih dari 120.000 variasi dimensi.

11. 4 RAKITAN TUMPUKAN BALOK-UKUR

Balok-balok ukur tersebut dirakit dengan menumpuknya bersamasama untuk mendapatkan dimensi yang dikehendaki. Prosedur yang dianjurkan untuk merakit balok-balok itu adalah sebagai berikut : Bersihkan permukan-permukaan balok tersebut dengan alkohol dan kapas yang bisa menghisap; kemudian lapisilah dengan minyak tanah dengan menggunakan kain bersih yang lain. Bersihkanlah permukaan tersebut dengan kapas bedah sampai tidak ada lapisan minyak yang kelihatan. Pegang kedua ujung balok yang berlawanan bersama-sama agar sisa-sisa kotoran atau benda yang mungkin masih menempel bisa hilang. Dan mereka terkombinasi secara sempurna bila dilakukan penjepitan kedua balok dengan tepat akan menghalangi kedua balok tersebut lepas kembali karena gaya adhesi antara kedua permukaanya kira-kira 30 kali lebih besar daripada tekanan atmosfer.