Anda di halaman 1dari 20

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Teoritis 2.1.1 Kemampuan Keuangan Daerah Kondisi keuangan suatu daerah merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kemampuan daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan di daerah. Keuangan daerah mempunyai arti yang penting dalam rangka pelaksanaan pemerintahan di daerah, oleh karena itu keuangan daerah diupayakan dapat berjalan berdaya guna dan berhasil guna. Keuangan Daerah adalah semua hal dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut (Permendagri No. 13 Tahun 2006). Keuangan daerah adalah kemampuan daerah untuk mengelola, mulai dari merencanakan, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi berbagai sumber keuangan dengan wewenang dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantu di daerah yang diwujudkan dalam bentuk APBN. Masalah dasar keuangan daerah terkait erat dengan ekonomi daerah, terutama menyangkut tentang pengelolaan keuanga suatu daerah, tentang bagaimana sumber penerimaan digali dan didistribusikan oleh pemerintah daerah (Devas, 1995:179). Kebijakan keuangan daerah senantiasa diarahkan pada terciptanya sasaran pembangunan, terciptanya perekonomian daerah yang mandiri sebagai usaha bersama atas azas kekeluargaan berdasarkan demokrasi ekonomi yang

berlandaskan

Pancasila

dan

Undang-Undang

1945

dangan

peningkatan

kemakmuran rakyat secara merata. Dengan demikian kemampuan keuangan daerah akan sangat menentukan sejauhmana daerah dapat membiayai

penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan penerimaan yang bersumber dari dalam daerah. Daerah yang tidak mampu membiayai penyelenggaraan daerah dengan penerimaan yang bersumber dari dalam daerahnya sendiri memiliki kemampuan keuangan yang rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa secara finansial daerah tersebut belum mampu berotonomi. Karena ciri utama yang menunjukkan daerah otonom maupun berotonomi terletak pada kemampuan keuangan daerahnya. Artinya, daerah otonom harus memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan sendiri, mengelola dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup memadai dalam rangka membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerahnya (Koswara, 2000:50). Faktor keuangan daerah menjadi begitu penting karena tanpa ada biaya yang cukup pemerintah tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Kaho (2001:125) menyatakan bahwa pemerintah daerah tidak akan mampu

melaksanakan fungsinya dengan efisien tanpa biaya yang cukup untuk memberikan pelayanan dan pembangunan. Sehingga keuangan daerah sebagai salah satu indikator untuk mengetahui kemampuan daerah dalam mengurus rumah tangganya sendiri. Hal ini berarti bahwa kemampuan daerah dalam bidang keuangan merupakan salah satu kriteria untuk mengetahui kemampuan keuangan daerah guna mengatur dan mengurus rumah tangganya. Dengan kata lain, faktor

keuangan merupakan faktor esensial dalam mengukur tingkat kemampuan daerah dalam melaksanakan otonominnya. Secara umum keberhasilan keuangan daerah ditunjukkan oleh kemampuan daerah meningkatkan penerimaan daerah secara berkesinambungan seiring dengan perkembangan perekonomian tanpa memperburuk faktor produksi dan keadilan. Hal ini sesuai dengan pendapat Musgrave & Musgrave (1993:237) menyebutkan bahwa asal usul prinsip kemampuan keuangan adalah muncul dari prinsip manfaat. Hal ini berarti bahwa untuk meningkatkan kemampuan keuangan daerah diperlukan adanya kemampuan pemerintah daerah untuk meningkatkan

penerimaan daerah yang bersumber dari dalam daerah sendiri dengan memberikan manfaat secara nyata bagi masyarakat di daerah. Dikaitkan dengan ekonomi daerah, maka Pendapatan Asli Daerah merupakan sumber pendapatan yang penting untuk dapat membiayai

penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Sehingga besar kecilnya penerimaan daerah yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah akan sangat menentuan kemampuan keuangan daerah otonom. Menurut Asrori (2000:45), PAD bahkan dapat memberi warna terhadap tingkat otonomi suatu daerah. Artinya penggunaan dana yang bersumber dari PAD dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhannya sehingga secara prinsip pemerintah pusat atau pemerintah yang lebih tinggi tingkatannya tidak berwenang untuk

mengatur/menentukan penggunaan sumber pendapatan daerah tersebut. Daerah harus memiliki keuangan yang memadai untuk menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan. Kaho (2001:126) menyatakan bahwa untuk dapat memiliki keuangan yang memadai dengan sendirinya daerah membutuhkan

sumber keuangan yang cukup pula. Dalam hal ini daerah dapat memperoleh sumber keuangan melalui beberapa cara, yaitu: pertama; dapat dengan mengumpulkan dana dari pajak daerah yang sudah direstui oleh pemerintah pusat, kedua; pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman dari pihak ketiga, bank atau melalui pemerintah pusat, ketiga; ikut ambil bagian dalam pendapatan pajak sentral yang dipungut daerah, misalnya sekian persen dari pendapatan sentral tersebut, keempat; pemerintah daerah dapat menambah tarif pajak sentral tertentu, misalnya pajak kekayaan atau pajak pendapatan, kelima; pemerintah dapat menerima bantuan atau subsidi dari pemerintah pusat. Pentingnya posisi keuangan daerah dalam penyelenggaraan otonomi daerah sangat disadari oleh pemerintah. Dalam penjelasan UU Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah disebutkan dengan jelas bahwa perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah mencakup perimbangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah secara proporsional, demokratis, adil, dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah. Selanjutnya dalam pasal 6 UU No. 34 Tahun 2004 dinyatakan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersumber dari: (a) Pajak Daerah, (b) Retribusi Daerah, (c) hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan; dan (d) Lain-lain PAD yang sah. Dana perimbangan terdiri atas: (a) Dana Bagi Hasil, (b) Dana Alokasi Umum; dan (c) Dana Alokasi Khusus. Dana Bagi Hasil bersumber dari pajak dan sumber daya alam. Dana Bagi Hasil yang bersumber dari pajak sebagaimana dimaksud terdiri atas: (a) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), (b) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

(BPHTB); dan (c) Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan Pasal 21. Dana Bagi Hasil yang bersumber dari sumber daya alam berasal dari (a) kehutanan, (b) pertambangan umum, (c) perikanan, (d) pertambangan minyak bumi, (e) pertambangan gas bumi; dan (f) pertambangan panas bumi. Prinsip pemberian Dana Alokasi Umum (DAU) sesuai dengan PP Nomor 84 Tahun 2001 tentang Dana Perimbangan adalah harus memenuhi prinsip horizontal equity dan sufficiency bagi daerah. Hal penting yang mesti dilakukan oleh daerah adalah bagaimana memanfaatkan dana ini dengan telah dilimpahkan kewenangan pengelolaannya kepada daerah. Ketergantungan kepada bantuan pusat harus seminimal mungkin, sehingga Pendapatan Asli Daerah (PAD) harus menjadi bagian sumber keuangan terbesar, yang didukung oleh kebijakan perimbangan keuangan pusat dan daerah sebagai prasyarat mendasar dalam sistem pemerintahan negara. Kebijakan perimbangan keuangan pusat dan daerah akan mengatur secara pasti pengalokasian dana perimbangan, yaitu bagian dari penerimaan negara yang dihitung menurut kriteria/formula berdasarkan objektivitas, pemerataan dan keadilan.

2.1.2

Ukuran-Ukuran Kemampuan Keuangan Daerah Tingkat kemandirian fiskal pemerintah daerah dapat dipelajari dengan

melihat besarnya tingkat desentralisasi fiskal suatu daerah. Reksohadiprojo (2000:201) menjelaskan bahwa untuk melihat derajat desentralisasi fiskal suatu daerah digunakan ukuran-ukuran sebagai berikut:

1. Rasio perbandingan antara Pendapatan Asli Daerah dengan Total Penerimaan Daerah. Dengan melihat rasio ini dapat diketahui seberapa besar kontribusi Pendapatan Asli Daerah tehadap Total Penerimaan Daerah. Rasio tersebut dirumuskan sebagai berikut. Rasio PAD dan Total Penerimaan Daerah = Pendapatan Asli Daerah x 100 Total Penerimaan Daerah

2. Rasio perbandingan bagi hasil pajak dan bukan pajak daerah total penerimaan daerah, dirumuskan sebagai berikut. Rasio BHPP dan Total Penerimaan Daerah = BHPP x 100 Total Penerimaan Daerah

3. Rasio perbandingan sumbangan yang berasal dari pemerintah yang lebih PHTI tinggi terhadap total penerimaan daerah. Rasio ini menggambarkan seberapa besar kontribusi sumbangan dari pemerintah pusat sebagai sumber penerimaan daerah guna menjalankan kegiatan operasional pemerintahan di daerah. Rasio tersebut dirumuskan sebagai berikut. Rasio Sumbangan Pemerintah dan Total Penerimaan Daerah = Sumbangan Pemerintah x 100 Total Penerimaan Daerah

2.1.3

Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah merupakan salah satu komponen sumber

penerimaan daerah, di samping penerimaan lainnya yang berasal dari sumber pajak, non pajak, sumbangan dan bantuan dari pemerintah yang lebih tinggi, dan dari pinjaman pemerintah dalam negeri maupun pinjaman luar negeri. Menurut Sofwani dan Wahab (2005:1), Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah salah satu

sumber yang harus selalu dan terus-menerus dipacu pertumbuhannya, karena PAD merupakan indikator penting untuk memenuhi tingkat kemandirian pemerintah di bidang keuangan. Semakin tinggi peranan PAD terhadap APBD maka semakin berhasil usaha pemerintah daerah dalam membiayai penyelenggaraan

pemerintahan dan pembangunan daerah. Pengertian Pendapatan Asli Daerah (PAD) menurut UU No. 3 Tahun 2004 adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Ikhsan, Santosa dan Harmanti (2007:212) menyatakan, Pendapata Asli Daerah Kabupaten/Kota terdiri dari: 1. Pajak Daerah 2. Retribusi Daerah 3. Bagian Laba BUMD dan Investasi lainnya. 4. Pendapatan Asli Daerah Lainnya Pendapatan Asli Daerah idealnya menjadi sumber utama pendapatan lokal. Sumber pendapatan lain relatif fluktuatif dan cenderung di luar kontrol atau kewenangan pemerintah daerah. Peningkatan Pendapatan Asli Daerah sebenarnya merupakan akses dari pertumbuhan ekonomi (Saragih, 2003:213). Pendapatan Asli Daerah adalah pendapatan yang berasal dari sumber-sumber keuangan daerah seperti pajak daerah, retribusi daerah, bagian laba BUMD, penerimaan dinas-dinas dan penerimaan lain-lain. Pendapatan Asli Daerah merupakan sumber keuangan daerah yang digali dalam wilayah daerah yang bersangkutan, terdiri dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, dan hasil perusahaan milik daerah serta lainlain Pendapatan Asli Daerah yang sah (Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004).

2.1.3.1 Pajak Daerah dan Jenis-Jenis Pajak Daerah Kabupaten/Kota Sidik dkk (2002) menyatakan, pajak daerah adalah pajak negara yang diserahkan pada daerah untuk dipungut berdasarkan paraturan perundangundangan dan digunakan untuk membiayai pengeluaran daerah sebagai badan hukum publik. Menurut Undang-Undang No 34 Tahun 2000 Pajak Daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah. Dalam upaya meningkatkan pelaksanaan pembangunan, perekonomian dan pemberian pelayanan kepada masyarakat yang memadai, bisa dilakukan dengan cara peningkatan kinerja aparatur pemungut pajak, penyempurnaan sistem perpajakan, dan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada pemerintah daerah untuk menggali sumber-sumber penerimaan pajak baru dari berbagai sektor yang masuk dalam undang-undang perpajakan (Sidik dkk, 2002). Menurut Undang-Undang Nomor 28 No 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Kabupaten/Kota ditetapkan sebanyak 11 (sebelas) jenis objek pajak sebagai berikut: 1. Pajak Hotel Objek Pajak Hotel adalah pelayanan yang disediakan oleh Hotel dengan pembayaran, termasuk jasa penunjang sebagai kelengkapan Hotel yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan. 2. Pajak Restoran Objek Pajak Restoran adalah pelayanan yang disediakan oleh Restoran.

3. Pajak Hiburan Objek Pajak Hiburan adalah jasa penyelenggaraan Hiburan dengan dipungut bayaran. 4. Pajak Reklame Objek Pajak Reklame adalah semua penyelenggaraan Reklame. 5. Pajak Penerangan Jalan Objek Pajak Penerangan Jalan adalah penggunaan tenaga listrik, baik yang dihasilkan sendiri maupun yang diperoleh dari sumber lain. 6. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan Objek Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah kegiatan pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan yang meliputi: (a) asbes; (b) batu tulis; (c) batu setengah permata; (d) batu kapur; (e) batu apung; (f) batu permata; (g) bentoinit; (h) dolomit; (i) feldspar; (j) garam batu (halite); (k) grafit; (l) granit/andesit; (m) gips; (n) kalsit; (o) kaolin; (p) leusit; (q) magnesit; (r) mika; (s) marmer; (t) nitrat; (u) opsidien; (v) oker; (w) pasir dan kerikil; (x) pasir kuarsa; (y) perlit; (z) phospat; (aa) talk; (bb) tanah serap (fullers earth); (cc) tanah diatome; (dd) tanah liat; (ee) tawas (alum); (ff) tras; (gg) yarosif; (hh) zeolit; (ii) basal; (jj) trakkit; dan (kk) Mineral Bukan Logam dan Batuan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 7. Pajak Parkir Objek Pajak Parkir adalah penyelenggaraan tempat Parkir di luar badan jalan.

10

8. Pajak Air Tanah Objek Pajak Air Tanah adalah pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah. 9. Pajak Sarang Burung Walet Objek Pajak Sarang Burung Walet adalah pengambilan dan/atau pengusahaan sarang Burung Walet. 10. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaaan dan Perkotaan Objek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah Bumi dan/atau Bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan /atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan. 11. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Objek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan.

2.1.3.2 Retribusi Daerah Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Retribusi daerah juga dapat didefinisikan sebagai pungutan yang dilakukan sehubungan dengan suatu jasa atau fasilitas yangg berlaku oleh pemerintah daerah secara langsung dan nyata. Sofwani dan Wahab (2005:6) mengartikan retribusi daerah sebagai pembayaran kepada negara yang dilakukan oleh mereka yang menggunakan jasa

11

negara. Retribusi daaerah pada dasarnya dapat dilaksanakan secara ekonomis apabila pembayar retribusi dapat merasakan langsung manfaat dari retribusi yang dibayarkan kepada pemerintah daerah, sedangkan mereka yang tidak dapat merasakan manfaat secara langsung tidak dapat dipaksakan penggunaannya. Sedangkan Suparmoko (2002:207) mengartikan, retribusi daerah adalah suatu pembayaran dari rakyat kepada pemerintah daerah di mana kita dapat melihat adanya hubungan antara balas jasa langsung yang diterima dengan adanya retribusi yang dibayar. Retribusi daerah dalam pelaksanaannya mempunyai dua sifat, sifat tersebut adalah: Retribusi yang sifatnya umum Maksudnya bahwa pungutan tersebut mempunyai sifat berlaku secara umum bagi mereka yang ingin menikmati kegunaan dari suatu jasa yang diberikan oleh pemerintah daerah. Misalnya bagi mereka yang masuk ke dalam pasar untuk berjualan, walaupun hanya sehari tetap dikenakan pungutan retribusi. Retribusi yang pungutannya bertujuan Maksudnya adalah retribusi yang dilihat dari segi pemakaiannya, pungutan tersebut bertujuan untuk memperoleh jasa, manfaat dan kegunaan dari fasiltas yang disediakan oleh pemerintah daerah. Misalnya kewajiban retribusi yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan akte kelahiran.

2.1.3.3 Pendapatan Asli Daerah Lainnya Menurut Halim (2004:123), Pendapatan Asli Daerah (PAD) lainnya yang sah adalah dana yang berasal dari pemerintah daerah dari hasil penjualan aset

12

daerah yang tidak dipisahkan, penerimaan jasa giro dan penerimaan ganti rugi atas kerugian atau kehilangan kekayaan daerah. Dengan kata lain, Pendapatan Asli Daerah yang sah adalah dana yang berasal dari lain-lain milik pemerintah daerah baik penerimaan jasa giro, bunga deposito, pelaksanaan pekerjaan dan penerimaan gati rugi atau kehilangan kekayaan darah.

2.1.4

Upaya yang Dapat Dilakukan Dalam Meningkatkan Pendapat Asli Daerah Menurut Sidik dkk (2002:3) secara umum, upaya yang perlu dilakukan

oleh Pemerintah Daerah dalam rangka meningkatkan pendapatan daerah melalui optimalisasi intensifikasi pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah, antara lain dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: 1. Memperluas basis penerimaan Tindakan yang dilakukan untuk memperluas basis penerimaan yang dapat dipungut oleh daerah, yang dalam perhitungan ekonomi dianggap potensial, antara lain yaitu mengidentifikasi pembayaran pajak

baru/potensial dan jumlah pembayar pajak, memperbaiki basis data objek, memperbaiki penilaian, menghitung kapasitas penerimaan dari setiap jenis pungutan. 2. Memperkuat proses pemungutan Upaya yang dilakukan dalam memperkuat proses pemungutan, yaitu antara lain mempercepat penyusutan Perda, mengubah tarif, khususnya tarif retribusi dan peningkatan SDM.

13

3. Meningkatkan pengawasan Hal ini dapat ditingkatkan yaitu antara lain dengan melakukan pemeriksaan secara dadakan dan berkala, memperbaiki proses

pengawasan, menerapkan sanksi terhadap penunggak pajak dan sanksi terhadap pihak fiskus, serta meningkatkan pembayaran pajak dan pelayanan yang diberikan oleh daerah. 4. Meningkatkan efisiensi administrasi dan menekan biaya pemungutan Tindakan yang dilakukan oleh daerah yaitu antara lain memperbaiki prosedur administrasi pajak melalui penyederhanaan administrasi pajak, meningkatkan efisiensi pemungutan dari setiap jenis pemungutan. 5. Meningkatkan kapasitas penerimaan melalui perencanaan yang lebih baik Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait di daerah. Selanjutnya, ekstensifikasi perpajakan juga dapat dilakukan, yaitu melalui kebijaksanaan Pemerintah untuk memberikan kewenangan perpajakan yang lebih besar kepada daerah pada masa mendatang. Untuk itu, perlu adanya perubahan dalam sistem perpajakan Indonesia sendiri melalui sistem pembagian langsung atau beberapa basis pajak Pemerintah Pusat yang lebih tepat dipungut oleh daerah.

2.1.5

Efektivitas dan Efesiensi Pajak Daerah Efektivitas yaitu hubungan antara Output dan tujuan atau dapat juga

dikatakan merupakan ukuran seberapa jauh tingkat Output tertentu, kebijakan dan prosedur dari organisasi. Efektivitas juga berhubungan dengan derajat keberhasilan suatu operasi pada sektor publik sehingga suatu kegiatan dikatakan

14

efektif jika kegiatan tersebut mempunyai pengaruh besar terhadap kemampuan menyediakan pelayanan masyarakat yang merupakan sasaran yang telah ditentukan (Devas, 1995:165). Mardiasmo (2004:115) menyatakan, efektivitas digunakan untuk

mengukur hubungan antara hasil pungutan suatu pajak dengan tujuan atau target yang telah ditetapkan. Dalam kaitannya dengan pengumpulan pajak, maka efektivitas pajak menggambarkan hubungan antara realisasi penerimaan pajak terhadap target penerimaan pajak yang memungkinkan apakah besarnya pajak sesuai dengan target yang ada (Devas, 1995:166). Dalam penelitian ini, rasio efektivitas menggambarkan kemampuan Pemerintah Daerah dalam merealisasikan pajak daerah yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi rill daerah. Semakin tinggi rasio efektivitas, maka semakin baik kinerja pemerintah daerah. Dalam hal ini, efektivitas pajak daerah merupakan kemampuan pemerintah daerah yang dalam hal ini adalah instansi terkait untuk merealisasikan pajak daerah. Rasio efektivitas dicari dengan membandingkan realisasi penerimaan dengan target penerimaan pajak daerah yang ditetapkan berdasarkan potensi rill daerah (Halim, 2004:135). Efektivitas = Realisasi PAD Target PAD x 100

Di mana: Realisasi = Hasil Penerimaan pajak daerah yang mampu dikumpulkan satu tahun anggaran tertentu. Target PAD = Nila objek x tarif

15

Dengan memperhatikan rumus di atas dapat disimpulkan bahwa semakin besar realisasi penerimaan Pajak Daerah yang dicapai oleh pemerintah daerah akan semakin besar efektivitas. Kriteria pengukuran efektivitas juga dapat mengacu pada pendapat Arikunto (2002:245) bahwa interpretasi nilai r dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan efektivitas yang diperoleh. Interpretasi tersebut sebagai berikut. Nilai r berkisar antara 0,00 sampai dengan 0,20 berarti sangat rendah Nilai r berkisar antara 0,20 sampai dengan 0,40 berarti rendah Nilai r berkisar antara 0,40 sampai dengan 0,60 berarti agak rendah Nilai r berkisar antara 0,60 sampai dengan 0,80 berarti cukup Nilai r berkisar antara 0,80 sampai dengan 1,00 berarti tinggi Didasarkan pada tingkat interpretasi nilai r di atas, maka efektivitas retribusi dikatakan tinggi apabila rasio perbandingan antara realisasi dan target penerimaan retribusi berkisar antara 0,80-1,00. Untuk mencapai efektivitas dimaksud, maka instansi terkait dinilai perlu untuk menetapkan target yang realistis terhadap potensi penerimaan retribusi. Selanjutnya efisiensi menggambarkan perbandingan antara biaya yang dikeluarkan sebagai input dengan penerimaan yang diperoleh sebagai output. Efisiensi merupakan perbandingan antara output dengan input atau dengan istilah lain output per unit input. Dengan kata lain, efisiensi diukur dengan rasio antara output dengan input. Semakin besar output, semakin tinggi efisiensi (Mardiasmo, 2004:133). Output merupakan hasil yang diperoleh dengan penggunaan input tertentu.

16

Berkaitan dengan pajak, pengukuran efisiensi dilakukan dengan mengukur bagian dari hasil pajak yang akan digunakan untuk menutup biaya pemungutan pajak (Devas, 1995:171). Biaya yang dimaksud adalah jumlah dari biaya Pendaftaran, Pendataan, dan Penetapan besarnya pajak terutang, serta biaya penagihan. Efisiensi semakin besar jika biaya untuk memperoleh penerimaan ditekan serendah mungkin terhadap hasil pajak. Rumus pengukuran efisiensi untuk pemungutan pajak adalah: Penerimaan Pajak dapat dikatakan efisiensi apabila realisasi penerimaan pajak lebih besar dari biaya pemungutan. Semakin kecil rasio biaya pemungutan pajak terhadap realisasi penerimaan pajak maka semakin efisiensi. Karena dalam pemungutan pajak, efisiensi menggambarkan keterkaitan antara besarnya biaya pemungutan pajak yang dikeluarkan terhadap realisasi penerimaan pajak. Rasio efisiensi adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk pemungutan pajak dengan realisasi penerimaan pajak yang diterima. Semakin kecil rasio efisiensi berarti semakin baik kemampuan instansi terkait dalam merealisasikan penerimaan pajak. Secara matematis, rasio efisiensi pajak dirumuskan sebagai berikut (Halim, 2004:134) Efisiensi Pajak Daerah = Biaya yang dikeluarkan untuk memungut PAD x 100 Realisasi Penerimaan PAD

Berdasarkan rumus diatas dapat diartikan, semakin besar biaya yang dikeluarkan untuk pengumpulan pajak daerah, akan semakin tidak efisiensi pemungutan pajak. Sebaliknya, semakin besar realisasi penerimaan pajak daerah maka semakin tinggi tingkat efisiensi pajak. Karena itu, sebaiknya instansi terkait yang dalan hal ini adalah Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah

17

(DPKAD) terus berupaya meningkatkan realisasi penerimaan pajak dengan biaya pemungutan pajak yang sekecil-kecilnya. Penghematan biaya pemungutan pajak dinilai perlu untuk dilakukan, agar efisiensi pajak dapat ditingkatkan. Dalam kaitannya dengan fokus penelitian ini yaitu posisi retribusi Hutan Tanaman Industri (HTI), maka efektivitas dan efesiensi yang dimaksud adalah efektivitas dan efisiensi Hutan Tanaman Industri (HTI). Mengacu pada rumus efektivitas pajak yang telah dijelaskan sebelumnya, maka efektivitas pemungutan retribusi Hutan Tanaman Industri (HTI) dapat dirumuskan sebagai berikut. Realisasi Penerimaan Retribusi HTI Target Penerimaan Retribusi HTI

Efektivitas retribusi HTI =

x 100

Di mana : Realisasi = Hasil penerimaan retribusi Hutan Tanaman Industri (HTI) yang mampu dikumpulkan satu tahun anggaran tertentu Target retribusi = Nilai objektif x tarif Selanjutnya efisiensi pemungutan retribusi terminal dirumuskan sebagai berikut : Efisiensi retribusi HTI =
Biaya yang dikeluarkan untuk memungut Retribusi HTI x 100 Target Penerimaan Retribusi HTI

Untuk mengetahui efisiensi retribusi terminal, dalam penelitian ini peneliti menggunakan standar efesiensi Daud (2004) dengan standar asumsi apabila kurang dari 40% berarti efesiens, dan bila lebih dari 40% tidak efisien.

18

2.1.6

Kapasitas Pajak Besarnya kapasitas pajak sangat tergantung pada basis pajak di suatu

daerah. Semakin tinggi pertumbuahan ekonomi danpendapatan masyarakat, semakin banyak pula kapasitas pajak tercermin dari PDB secara nasional dan PDRB secara regional. Adapun yang dimaksud dengan kapasitas pajak adalah besarnya tarif dikalikan dengan basis atau jumlah objek (sumber) yang dikenakan pajak. Pengenaan tarif pajak disesuaikan dengan prinsip keadilan dan daya pikul masyarakat. Sedangkan basis pajak sangat tergantung dari kegiatan ekonomi dan peraturan pajak masing-masing daerah.

2.1.6.1 Pengertian Tarif dan Basis Setiap pembayar pajak wajib membayar pajak sebesar manfaat yang ia terima dari aktivitas pemerintah. Secara teoritis besarnya tarif didasarkan pada penghasilan dalam arti luas yang mencakup penghasilan dari aktivitas utama dan aktivitas tambahan. Devas (1995:201) menyatakan, dalam prakteknya,

penghasilan terkena pajak adalah penghasilan bruto yang diterima dari sumbersumber penghasilan yang dimiliki oleh wajib pajak. Mangkoesoebroto (2001:203-204) menyebutkan tarif pajak untuk

penghasilan perorangan dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu (1) Tarif pajak umum ditentukan berbeda untuk masing-masing kelompok pendapatan, (2) Tarif khusus ditentukan sebesar 10% yang berlaku untuk penghasilan sewa rumah, capital gains laba dari penjualan dan liquidasi perusahaan. Devas (1995:221) membagi tarif pajak ke dalam 3 jenis, yaitu (a) Tarif tetap adalah jumlah pajak yang tidak tergantung pada objek yang menjadi sasaran

19

pajak; (b) Pajak bertingkat adalah jumlahnya tetap, tetapi tergantung pada objek pajak yang menjadi sasaran; (c) Tarif sebanding, tarif yang merupakan persentase yang tetap, dan pajak yang harus dibayar selalu akan berubah sesuai dengan jumlah yang dikenakan.

2.1.6.2 Upaya Pajak (Tax-Effort) Besarnya penerimaan pajak sebagai sumber pembiayaan suatu daerah sangatlah bergantung pada kemampuan pemerintah mengumpulkannya.

Kemampuan tersebut harus didukung pelayanan aparat fiskus yang baik dan kesadaran masyarakat membayar pajak. Tax Effort ialah kemampuan negara dalam memungut pajak terhadap kapasitas yang tersedia. Secara prakti tax effort dapat didefinisikan rasio antara penerimaan pajak dengan PDB yang dipakai sebagai ukuran tax capacity (Musgrave dan Musgrave, 1993: 475). Di Indonesia sebagai indikator penerimaan pajak dipakai penerimaan pajak non migas dan PDB non migas, sehingga akan didapatkan rasio tax effort yang rill. Suparmoko (2003:323) mendefinisikan upaya pajak adalah jumlah pajak yang sungguh-sungguh dikumpulkan oleh kantor pajak dilawankan dengan potensi pajak (tax capacity = tax potensial) yaitu jumlah pajak yang seharusnya mampu dikumpulkan dari dasar pajak (tax base), yang biasanya berupa pendapatan perkapita. Selanjutnya Musgrave dan Musgrave (1993: 480) menyebutkan upaya fiskal merupakan rasio pendapatan aktual yang berhasil dipungut berdasarkan tarif yang dikenakan dengan potensi fiskal yang dimiliki daerah (standar fiskal). Ej =

20

Di mana: Ej tj ts = Upaya fiskal = Tarif fiskal = Standar fiskal

Syahputra (2006:7) juga menyebutkan tax effort merupakan kemampuan pemerintah mengumpulkan dananya melalui pajak, di mana tax effort merupakan rasio pajak terhadap basis pajak dan sebagai proxy (pendekatan) untuk basis pajak digunakan Product Domestik Bruto (PDB). Selanjutnya Resksohadiprodjo (2001:156) menyebutkan upaya fiskal (upaya PAD) merupakan rasio PAD yang berhasil dikumpulkan dengan kapasitas atau potensi PAD yang dapat di proxykan dengan PDRB tanpa migas.

UPADj atau UPPADj