Anda di halaman 1dari 9

PEMBUKTIAN dalam PERADILAN TATA USAHA NEGARA

Untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara

Disusun oleh: Anastasia Yovita 110110100394

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2013

PEMBUKTIAN
A. PENGERTIAN Sebagaimana telah diketahui bahwa yang dimaksud dengan Pembuktian adalah penyajian alat-alat bukti yang sah menurut hukum oleh pihak berperkara kepada Hakim dalam persidangan dengan tujuan untuk memperkuat kebenaran dalil tentang fakta hukum yang menjadi pokok sengketa, sehingga Hakim memperoleh kepastian untuk dijadikan dasar putusannya. Kebenaran yang dituju disebut kebenaran materiel.1 Tujuan pembuktian adalah memberikan kepastian kepada Hakim tentang kebenaran fakta hukum yang menjadi pokok sengketa. Fungsi/Kegunaan dari pembuktian adalah sebagai dasar dari keputusan Hakim untuk memutus suatu perkara. Suatu keadaan yang telah diketahui oleh umum tidak perlu dibuktikan (Pasal 101 UU PTUN). Dalam pembuktian, hakim dapat menentukan apa yang harus dibuktikan, beban pembuktiannya, serta penilaian terhadap bukti-bukti tersebut. Untuk sahnya pembuktian diperlukan sekurang-kurangnya dua alat bukti berdasarkan keyakinan hakim. Pembuktian di atas adalah dalam pengertian yuridis, yang bersifat kemasyarakatan, selalu mengandung ketidakpastian dan tidak akan pernah mencapai kebenaran mutlak. Jadi, pembuktian yuridis sifatnya relatif, dalam arti hanya berlaku bagi pihak-pihak berperkara dan pengganti-penggantinya, dan memungkinkan pula terjadinya perbedaan penilaian hasil pembuktian di antara sesama Hakim.2 B. ALAT BUKTI Dalam pemeriksaan di sidang Peradilan Tata Usaha Negara, dasar hukum mengenai alat bukti ada di dalam pasal 100 107 UU No. 5 Tahun 1986 ( UU PTUN ) 3. Pasal yang mengatur mengenai macam-macam alat bukti ada di dalam pasal 100 UU PTUN yaitu: surat atau tulisan, keterangan ahli, keterangan saksi, pengakuan para pihak, dan pengetahuan Hakim. 1. Surat atau Tulisan Sebagai alat bukti, surat terdiri dari akta otentik, akta di bawah tangan, dan surat lainnya yang bukan merupakan akta. Akta merupakan surat yang sengaja dibuat untuk kepentingan pembuktian mengenai suatu perbuatan hukum tertentu yang diterangkan di dalamnya. Akta otentik sebagai surat dibuat oleh atau di hadapan seorang pejabat umum yang berdasarkan peraturan perundang-undangan berwenang membuatnya. Sebagai alat bukti perbuatan hukum, akta otentik memiliki kekuatan bukti yang sempurna. Berlainan dengan
1 Bachtiar Effendie, dkk., Surat Gugatan dan Hukum Pembuktian dalam Perkara Perdata, Bandung: PT. Citra Aditya
Bakti, 1991

2 Ibid. 3 Zairin Harahap, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997. Hal. 129

akta otentik, akta di bawah tangan merupakan surat yang dibuat dan ditandatangani oleh para pihak pihak dan bukan dibuat oleh atau dihadapan pejabat umum. Surat-surat lainnya yang bukan akta merupakan surat biasa yang dibuat tidak dengan maksud untuk dijadikan alat bukti mengenai suatu perbuatan hukum tertentu namun tetap dapat dijadikan sebagai alat bukti. 2. Keterangan Ahli Keterangan ahli sebagai alat bukti adalah pendapat orang yang diberikan di bawah sumpah dalam persidangan tentang sesuatu hal yang ia ketahui. Pengetahuan seorang ahli yang memberi keterangan ahlinya itu diperolehnya berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya. Keterangan ahli itu diberikannya di persidangan atas penunjukan oleh Hakim Ketua, baik atas permintaan para pihak maupun karena jabatannya. Mereka yang tidak boleh didengar keterangannya sebagai ahli adalah:

Keluarga sedarah atau semenda menurut garis keturunan lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ke dua dari salah satu pihak yang bersengketa. Isteri atau suami salah satu pihak yang bersengketa meskipun sudah bercerai. Anak yang belum berusia tujuh belas tahun. Orang yang sakit ingatan

3. Keterangan Saksi Keterangan saksi merupakan alat bukti jika keterangan itu berkenaan dengan hal yang dialami, dilihat, atau didengar sendiri oleh saksi. Sebuah rumor ataupun asumsi dari seorang saksi bukanlah merupakan keterangan saksi yang dapat dijadikan alat bukti. Pengakuan para pihak adalah apa yang para pihak akui mengenai suatu keadaan tertentu. Pengakuan itu tidak dapat ditarik kembali kecuali berdasarkan alasan yang kuat dan dapat diterima oleh hakim, sedangkan pengetahuan hakim sebagai alat bukti adalah hal yang olehnya diketahui dan diyakini kebenarannya. 4. Pengakuan Para Pihak Pengakuan adalah keterangan sepihak dari salah satu pihak dalam suatu perkara, dimana ia mengakui apa yang dikemukakan oleh pihak lawan atau sebagian dari apa yang dikemukakan oleh pihak lawan. Menurut pasal 105 UU PTUN, pengakuan para pihak tidak dapat ditarik kembali, kecuali berdasarkan alasan yang kuat dan dapat diterima oleh hakim. Pengakuan yang diberikan di depan persidangan oleh pihak yang bersengketa sendiri atau oleh wakilnya yang diberi kuasa secara khusus, untuk itu mempunyai kekuatan bukti yang sempurna terhadap pihak yang memberikan pengakuan itu. Hal ini berarti hakim harus menganggap bahwa dalildalil yang telah diakui itu benar, kendatipun belum tentu benar.

Pengakuan yang diberikan di luar persidangan, nilai pembuktiannya diserahkan kepada pertimbangan hakim. Dengan kata lain pengakuan yang diberikan diluar persidangan merupakan alat bukti bebas dan konsekuensinya hakim leluasa untuk menilai alat bukti tersebut, atau bisa juga hakim hanya menganggap hal itu sebagai alat bukti permulaan saja. Terserah kepada hakim untuk menerima atau tidak menerimanya. Pengakuan dibagi menjadi beberapa bagian: Pengakuan Murni Pengakuan dengan kualifikasi Pengakuan dengan klausula (geclausuleerde bekentenis) Sumpah Jenis sumpah diantaranya : o Sumpah Prommisoir o Sumpah Assetoir

5. Pengetahuan hakim Pengetahuan hakim adalah hal yang olehnya diketahui dan diyakini kebenarannya. Melihat pada pengertian ini maka pengetahuan hakim dapat juga diartikan sebagai apa yang dilihat, didengar dan disaksikan oleh hakim dalam persidangan. Misalnya: sikap, perilaku, emosional dan tindakan para pihak dalam memutus perkara. Tetapi pengetahuan hakim mengenai para pihak yang diperoleh di luar persidangan tidak dapat dijadikan bukti dalam memutus perkara. C. ASAS PEMBUKTIAN Asas dalam pembuktian tidak disebutkan secara implisit dalam UU PTUN, penulis kemudian mencoba untuk mengambil inti sari dan kesimpulannya. Barangsiapa mengatakan ia mempunyai hak atau ia menyebut suatu perbuatan untuk menguatkan hak itu, atau untuk membantah hak orang itu, harus membuktikan adanya hak itu atau adanya kejadian itu. Asas para pihak harus didengar (audi et alteram partem).

D. TEORI PEMBUKTIAN

Tanpa bergantung pada fakta dan hal yang diajukan para pihak, seorang hakim dalam Peradilan Tata Usaha Negara tetap mempunyai kekuasaan penuh dalam menentukan hal-hal berikut : 1. Apa yang harus dibuktikan. Hakim dalam pemeriksaan di sidang pengadilan tidak tergantung atau tidak terikat pada fakta atau hal yang diajukan oleh penggugat atau tergugat, artinya hakim dapat saja mengenyampingkan fakta dan hal yang diajukan oleh penggugat atau tergugat. Demikian pula, hakim dapat saja memeriksa lebih lanjut tentang fakta dan hal yang tidak disangkal atau tidak cukup dibantah, apabila fakta dan hal tersebut mempunyai arti yang relevan untuk dijadikan dasar pertimbangan dari hakim dalam menjatuhkan putusan yang pada saat pemeriksaan di sidang pengadilan belum cukup pasti keadaannya. 2. Siapa yang harus dibebani pembuktian, hal apa yang harus dibuktikan oleh pihak yang berperkara dan oleh hakim sendiri. Dalam memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa TUN, hakim mempunyai kebebasan atau dapat menentukan sendiri yang harus dibebani pembuktian. Siapa yang dibebani pembuktian merupakan masalah pembagian beban pembuktian, yaitu kewajiban yang dibebankan kepada suatu pihak untuk membuktikan fakta yang menjadi dasar pertimbangan dari hakim dalam menjatuhkan putusan. Menurut Suparto Wijoyo (1997: 119) hakim dapat saja menerapkan beban pembuktian terbalik atau pembagian beban yang seimbang sesuai dengan kearifan hakim. Sedangkan menurut Indroharto (1993: 192) bahwa kewajiban untuk membuktikan itu tidak ada pada pihak-pihak, tetapi barangsiapa diberi beban untuk membuktikan sesuatu dan tidak melakukannya, akan menanggung suatu resiko bahwa beberapa fakta yang mendukung positanya akan dikesampingkan dan dianggap tidak terbukti. 3. Alat bukti mana saja yang diutamakan untuk dipergunakan dalam pembuktian Menurut Indroharto (1993: 204) bahwa masing-masing alat bukti sebagaimana ditentukan oleh Pasal 100 ayat (1) mempunyai derajat bobot yang sama, artinya tidak ada tingkat-tingkat mengenai kekuatan pembuktian dari masing-masing alat bukti tersebut atau tidak ada perbedaan mengenai kekuatan pembuktian antara alat bukti yang satu dengan alat bukti yang lain. Namun demikian, hakim mempunyai wewenang untuk memilih alat bukti tertentu di antara alat-alat bukti tersebut dan memberikan penilaian tentang kekuatan pembuktian dari alat bukti tersebut untuk dipergunakan dalam pembuktian. 4. Kekuatan pembuktian alat bukti yang telah diajukan. Hakim mempunyai wewenang untuk memberikan penilaian terhadap hasil pembuktian dalam memeriksa, memutus, dan menyelesaikan Sengketa TUN dengan memperhatikan persyaratan yaitu untuk sahnya pembuktian diperlukan sekurang-kurangnya dua alat bukti berdasarkan keyakinan hakim.

Dalam soal pembuktian tidak selalu pihak penggugat saja yang harus membuktikan dalilnya. Hakim yang memeriksa perkara itu yang akan menentukan siapa diantara pihakpihak yang berperkara yang akan diwajibkan memberikan bukti, apakah pihak penggugat atau sebaliknya pihak tergugat. Secara ringkas disimpulkan bahwa hakim sendiri yang menentukan pihak yang mana yang akan memikul beban pembuktian. Didalam soal menjatuhkan beban pembuktian, hakim harus bertindak arif dan bijaksana, serta tidak boleh berat sebelah. Semua peristiwa dan keadaan yang konkrit harus diperhatikan dengan seksama olehnya. Terdapat 3 (tiga) teori yang menjelaskan tentang sampai berapa jauhkah hukum positif dapat mengikat hakim atau para pihak dalam pembuktian peristiwa didalam sidang, yaitu: a) Teori Pembuktian Bebas Teori ini tidak menghendaki adanya ketentuan-ketentuan yang mengikat hakim, sehingga penilaian pembuktian seberapa dapat diserahkan kepada hakim. Teori ini dikehendaki jumhur/pendapat umum karena akan memberikan kelonggaran wewenang kepada hakim dalam mencari kebenaran. Dalam teori ini dikehendaki agar penilaian Hakim sedapat mungkin mendekati keadilan, sehingga hakim tidak terlalu terikat dengan alat bukti yang diajukan pihak yang berperkara. Misalnya hakim tidak terikat dengan keterangan saksi, walaupun di persidangan diajukan 100 saksi, dapat saja hakim menilai masih belum terbukti. Bukanlah hal yang mustahil apabila terdapat perbedaan penilaian hasil pembuktian antara sesama hakim, sehingga teori ini mengandung kelemahan, yaitu tidak menjamin adanya kepastian hukum dalam hal penilaian terhadap hasil pembuktian.4 b) Teori Pembuktian Terikat Artinya hakim terikat dengan alat pembuktian yang diajukan oleh pihak berperkara, jadi harus memberikan putusan selaras dengan alat-alat bukti yang diajukan di persidangan. Teori ini menghendaki agar penilaian hakim sedapat mungkin memberikan kepastian hukum, misalnya hakim terikat dengan alat bukti sumpah (utamanya sumpah pemutus), artinya apabila pihak sudah bersumpah, maka ia dimenangkan perkaranya, sedangkan bila ia menolak sumpah maka ia dikalahkan. Demikian pula alat bukti surat otentik hanya bisa digugurkan karena terdapat kepalsuan. Juga dalam menilai keterangan seorang saksi saja sebagai Unus Testis Nullus Testis. Kelemahan teori ini adalah tidak menjamin adanya keadilan. Teori ini dibagi menjadi 2 macam: Teori Pembuktian Negatif

Teori ini hanya menghendaki ketentuan-ketentuan yang mengatur larangan-larangan kepada hakim untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pembuktian. Jadi hakim disini dilarang dengan pengecualian (ps. 169 HIR, 306 Rbg, 1905 BW). Dalam pasal 107 UU
4 Zairin Harahap, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1997. Hal.53

PTUN dinyatakan bahwa hakim menentukan apa yang harus dibuktikan, beban pembuktian beserta penilaian pembuktian, dan untuk sahnya pembuktian diperlukan sekurang-kurangnya dua alat bukti berdasarkan keyakinan Hakim. Teori Pembuktian Positif

Disamping adanya larangan, teori ini menghendaki adanya perintah kepada hakim. Disini hakim diwajibkan, tetapi dengan syarat (ps. 165 HIR, 285 Rbg, 1870 BW). Dalam teori ini hakim diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pembuktian. Teori Pembuktian Gabungan

Artinya Hakim bebas dan terikat dalam menilai hasil pembuktian, misalnya Hakim bebas menilai suatu alat bukti permulaan, sehingga hakim masih perlu adanya sumpah tambahan. Bila sumpah tambahan dilakukan, maka hakim terikat menilainya, apabila tidak disertai sumpah tambahan maka hakim bebas menilai alat bukti permulaan itu.

Sesuai dengan pasal 100 UU PTUN dapat disimpulkan bahwa hukum acara TUN itu menganut ajaran pembuktian bebas yang terbatas karena alat-alat bukti yang digunakan itu sudah ditentukan secara limitatif dalam pasal tersebut, begitu juga sesuai dengan pasal 107 UU PTUN hakim dibatasi kewenangannya menilai sahnya pembuktian yaitu paling sedikit 2 alat bukti berdasarkan keyakinannya. E. ALAT BUKTI dalam UU ITE (Arsip Elektronik) Menurut Pasal 41 Keputusan Menteri Keuangan No. 245/KM.1/1979 nilai salinan photo-copy, microfilm dan sebagainya, diakui dalam komunikasi administrasi, hanya sebagai petunjuk tentang adanya arsip/dokumen aslinya dan tidak mempunyai nilai pembuktian atau tidak secara langsung dapat mengakibatkan pengeluaran uang.5 Kemudian pada tanggal 14 Januari 1988 keluar pendapat resmi Mahkamah Agung Republik Indonesia bahwa microfilm atau microfiche dapat digunakan sebagai alat bukti yang sah dalam perkara pidana di Pengadilan menggantikan alat bukti surat sebagaimana tercantum dalam Pasal 184 ayat (1) sub c KUHAP, dengan catatan bahwa baik microfilm maupun microfiche itu sebelumnya dijamin otentikasinya yang dapat ditelusuri kembali dari registrasi maupun berita acaranya. Terhadap perkara perdata berlaku pula pendapat yang sama. Pada perkembangan selanjutnya, keluarlah Undang-undang No. 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan. Berdasarkan Pasal 28 Ayat (3) Undang-undang tersebut, eksistensi Undang-undang tersebut dapat juga berlaku bagi Lembaga atau Instansi Pemerintah disamping Perusahaan. Oleh karena itu Undang-undang tersebut dapat dipakai sebagai
5 Dr. H. Nandang Alamsah Deliarnoor, S.H., M.Hum., Rekod Elektronik dan Hukum, Makalah dibawakan dalam seminar internasional Indonesia-Malaysia di Kampus UGM Jogjakarta, Rabu 28 Mei 2008 di bawah tema : Media dan Kemasyarakatan, hal 11-12.

rujukan oleh semua pihak untuk menyikapi persoalan status arsip modern sebagai alat bukti yang sah di Pengadilan. Berdasarkan Pasal 15 ayat (1) Undang-undang No. 8 Tahun 1997 di atas, disebutkan bahwa Dokumen perusahaan yang telah dimuat dalam mikrofilm atau media lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) dan atau hasil cetaknya merupakan alat bukti yang sah. Kemudian perkembangan terakhir saat ini, Tanggal 25 Maret 2008 DPR telah menyetujui UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). UU ITE merupakan terobosan hukum yang dianggap mampu mendorong perkembangan informasi dan teknologi (IT), dunia usaha dan bahkan kepentingan publik sehingga mampu mewujudkan fungsi hukum sebagai alat rekayasa sosial (Roscoe Pound, 1923).6 Pasal 5 UU ITE merupakan Pasal yang sangat penting sehubungan dengan pengakuan arsip elektronik sebagai alat bukti sah. Berikut bunyi Pasal 5 UU ITE secara utuh : 1) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah. 2) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang berlaku di Indonesia.14 3) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dinyatakan sah apabila menggunakan Sistem Elektronik sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang Undang ini. 4) Ketentuan mengenai Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk: a. surat yang menurut UndangUndang harus dibuat dalam bentuk tertulis; dan b. surat beserta dokumennya yang menurut UndangUndang harus dibuat dalam bentuk akta notaril atau akta yang dibuat oleh pejabat pembuat akta.

6 Dr. H. Nandang Alamsah Deliarnoor, S.H., M.Hum., Rekod Elektronik dan Hukum, Makalah dibawakan dalam seminar internasional Indonesia-Malaysia di Kampus UGM Jogjakarta, Rabu 28 Mei 2008 di bawah tema : Media dan Kemasyarakatan, hal 13.

DAFTAR PUSTAKA Bachtiar Effendie, dkk., Surat Gugatan dan Hukum Pembuktian dalam Perkara Perdata, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1991. Dr. H. Nandang Alamsah Deliarnoor, S.H., M.Hum., Rekod Elektronik dan Hukum, Makalah dibawakan dalam seminar internasional Indonesia-Malaysia di Kampus UGM Jogjakarta, Rabu 28 Mei 2008 di bawah tema : Media dan Kemasyarakatan, hal 11-12. Zairin Harahap, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997. http://indohukum.blogspot.com/2011/04/dasar-hukum-pembuktian.html Diunduh pada Hari Selasa 7 Mei 2013 pukul 22.05 http://bandakatik.blogspot.com/2012/02/teori-pembuktian-dalam-ptun.html Diunduh pada Hari Kamis tanggal 9 Mei 2013 pukul 19.34 http://midaniputra.blogspot.com/2012/10/arti-penting-alat-bukti-dan-sistem.html Diunduh pada Hari Minggu 12 Mei 2013 pukul 13.23

UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara