Anda di halaman 1dari 18

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

GEOLOGI DAN STUDI KONTROL STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP MINERALISASI DAERAH GUNUNG BUJANG, KECAMATAN BATANG ASAI KABUPATEN SAROLANGUN, JAMBI WILLSON CHANI SIMANJUNTAK1), BAMBANG PRIADI2), SISWANDI 3) Departement of Geology - UNSOED, Purwokerto, Central Java, Indonesia E-mail : willson_simanjuntak@yahoo.com; Bpriadi@gc.itb.ac.id; wandisis@yahoo.com ABSTRAK Daerah penelitian merupakan daerah eksplorasi PT. Aneka Tambang Tbk. Unit Geomin Jambi, yang secara administratif berada di daerah Gunung Bujang, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, Jambi.Geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi 3 (tiga) satuan geomorfologi, yaitu: Satuan Pegunungan Terjal Struktural (S2), Satuan Pegunungan Terjal Sedang Struktural, dan Satuan Dataran Endapan Aluvial. Tahapan geomorfik yang berkembang adalah muda dewasa (peralihan). Stratigrafi daerah penelitian dibagi menjadi 5 (lima) satuan batuan berumur Oligosen Awal hingga Resen. Secara berturut turut dari tua ke muda, yaitu: Satuan Breksi Vulkanik Tua, Satuan Lava Andesit, Satuan Diorit Kuarsa, Satuan Breksi Vulkanik Muda, Satuan Diorit, dan Satuan Endapan Aluvial. Struktur geologi daerah penelitian terdiri atas Sesar Sako dan Sesar Batu Kursi yang berarah relatif timurlaut baratdaya, terbentuk pada umur Miosen Tengah, kemudian teraktifasi kembali pada Pliosen-Pleistosen. Terdapat Sesar Tangkui, Sesar Batu Licin, serta Sesar Bujang Timur yang berarah utara-selatan sebagai sesar utama orde pertama. Orde kedua dari sesar utama tersebut antara lain, Sesar Jejak Kambing, Sesar Banyak Telun, dan Sesar Medang yang berarah relatif timurlaut baratdaya, terbentuk pada umur Pliosen Pleistosen. Secara umum arah tegasan utara-selatan ditafsirkan sebagai pengontrol hadirnya zona bukaan berupa urat-urat kuarsa. Urat kuarsa yang terbentuk umumnya berbentuk Comb, Quartz Massive yang terisi mineralisasi. Zona alterasi daerah penelitian yang berkembang berupa Zona Kuarsa Klorit Epidot setara dengan Zona Propilitik, Zona Kuarsa Serisit setara dengan Zona Filik, Zona Kuarsa Ilit Kaolinit setara dengan Zona Argilik, dan Zona Kuarsa Alunit Dikit Kaolinit setara dengan Zona Argilik Lanjut. Mineralisasi terdiri atas urat hingga veinlet kuarsa. Mineral sulfida yang hadir berupa pirit dan sedikit kalkopirit. Kata kunci : Gunung Bujang, Batang Asai, Jambi, Struktur Geologi, alterasi, mineralisasi, epitermal.

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

GEOLOGY AND GEOLOGICAL STRUCTURAL CONTROL STUDY OF MINERALIZATION IN GUNUNG BUJANG AREAS, BATANG ASAI DISTRICT, SAROLANGUN REGENCY, JAMBI PROVINCE WILLSON CHANI SIMANJUNTAK1), BAMBANG PRIADI2), SISWANDI3) Departement of Geology - UNSOED, Purwokerto, Central Java, Indonesia E-mail : willson_simanjuntak@yahoo.com; Bpriadi@gc.itb.ac.id; wandisis@yahoo.com
1)

ABSTRACT The research area is an area of exploration PT. Antam Tbk. Units Geomin - Jambi, which is administratively located in the Gunung Bujang, District Batang Asai,Sarolangun Regency, Jambi. Geomorphology of the study area is divided into three (3) units of geomorphology, namely ; Sheer Mountains Unit of Structural (S2), Medium Mountains Unit of Structural (S2), and Deposition Unit Alluvial Plain. Geomorphic growing stages are young - adults (transition). Stratigraphy of the study area was divided into 5 (five) Early Oligocene age lithologies to Resen. Respectively - were from the old to the young, namely ; Old Volcanic Breccia Unit, Andesite Lava Unit, Quartz Diorite Unit, Young Volcanic Breccia Unit, Diorite Unit, and Alluvial deposits Unit. Geological structure of the study area consists of Sako Fault and Fault stone seats were relatively northeast southwest trending, formed in the Middle Miocene age, and then activated again in the Pliocene-Pleistocene. There are Tangkui Fault, Batu Licin Fault, and East Bujang Fault trending north-south and Single Fault as the main fault first orde. Orde two of the main fault, among others, Jejak Kambing Fault, Banyak Telun Fault, and Medang Fault relatively northeastern southwest trending, formed at the age of Pliocene - Pleistocene. In general, north-south direction sharpness interpreted as the presence of zone controllers openings form quartz veins. Quartz veins are formed generally Comb-shaped, Massive Quartz filled mineralization. Alteration zones are growing research areas such as Zone Quartz Chlorite epidote equivalent to propylitic zone, Zone Quartz Sericite equivalent phyllic zone, Zone Quartz Ilit Kaolinite equivalent argillic zone, and Zone Quartz Alunit Dikit Kaolinite equivalent to Zone Advanced argillic alteration. Mineralization consists of quartz veins up veinlet. Sulphide minerals are present in the form of pyrite and a little chalcopyrite. Keywords : Gunung Bujang, Batang Asai, Jambi, Structural Geology, alteration, mineralization, epithermal.

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PENDAHULUAN Penelitian berada pada Zona Sesar Semangko. Lokasi berada di daerah Gunung Bujang, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, Jambi dengan koordinat yang belum dapat dipublikasikan. Daerah penelitian merupakan daerah eksplorasi PT Antam tbk Unit Jambi Prospek Gunung Bujang. Penelitian dilakukan dikarenakan adanya potensi keberadaan endapan emas di daerah Gunung Bujang, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Maksud dari penelitian ialah sebagai syarat kelulusan tingkat Sarjana (Strata-1) di Program Studi Teknik Geologi, Jurusan Teknik, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Jenderal Soedirman, Purbalingga Tujuan dari penelitian ialah mengetahui kondisi geologi daerah penelitian meliputi geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi dan sejarah geologi, mengetahui pengaruh struktur geologi terhadap satuan batuan yang terdapat pada daerah telitian, serta mampu menghubungkan data lapangan dengan kondisi geologi regional setempat untuk interpretasi kondisi geologi saat batuan terbentuk khususnya pengaruh struktur geologi terhadap mineralisasi dalam bentuk veins. METODE Metodologi penelitian diawali dengan studi pendahuluan yang berupa interpretasi citra satelit dan peta topografi serta mempelajari geologi regional daerah penelitian yang diambil dari berbagai literatur berupa laporan, jurnal, proceeding dan makalah-makalah geologi terdahulu serta tulisan ilmiah lainnya yang berkaitan dengan daerah penelitian. Hal ini dilakukan untuk memperoleh gambaran umum mengenai kondisi geologi dan morfologi daerah penelitian sehingga dapat digunakan untuk perencanaan lintasan dan kegiatan lapangan lainnya. Tahap pengambilan data lapangan merupakan tahap lanjutan dalam penelitian. Tahapan ini berupa obsevasi geomorfologi, observasi singkapan dan pengambilan data struktur geologi. Tahap analisis dan pengolahan data merupakan tahapan lanjutan. Tahap ini dilakukan analisis dan pengolahan data yang dilakukan di laboratorium, yang kemudian didiskusikan antara penulis dengan pembimbing. Adapun analisis yang dilakukan pada tahapan ini diantaranya: analisis petrografi, analisis Terraspec dan analisis struktur geologi. GEOLOGI REGIONAL Fisiografi Regional Sumater terbagi menjadi beberapa zona. Fisiografi ini secara umum diklasifikasikan oleh Barber (2005) ke dalam 2 (dua) kelompok, yaitu Rangkain Bukit Barisan, dan Zona Semangko. Lokasi penetian termasuk pada Zona Semangko (Semangko Zone). Stratigrafi Regional daerah penelitian termasuk pada Geologi Regional lembar Bangko (Suwarna.,1992) membagi tatanan stratigrafi kedalam beberapa formasi batuan dengan batuan penyusun dari tua ke muda pada lokasi penelitian tersebut, yaitu : Formasi Hulusimpang (Tomh) yang terseusun atas breksi gunung Api, lava, tuf, konglomerat, batupasir tufan, dan setempat sisipan batugamping dan batulempung lanauan, umumnya terubah, berumur Oligosen awalMiosen Tengah. Secara tak selaras formasi ini dipotong oleh intrusi Diorit Terkloritkan (Tmdi) yang tersusun atas diorit yang terubah menjadi klorit, berumur Miosen Tengah, dan pada holosen sampai sekarang terbentuk endapan alluvial dengan material lepasan barupa bongkah andesit, diorit, dan lain-lain. Material lepasan ini umumnya telah mengalami ubahan (altered). Pola
3

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

kelurusan Struktur Regional dari tua ke muda antara lain ; Arah NWSE yang disebut sebagai Pola Sumatera. (Jurassic Awal- Kapur), Arah NESW yang sering disebut Pola Jambi, (PraTersier), dan Arah NS sebagai Pola Sunda. ( Kapur Akhir- Tersier Awal). GEOMORFOLOGI DAERAH PENELITIAN Secara umum daerah telitian merupakan daerah perbukitan dan pegunungan, dengan ketinggian dari permukaan laut antara 937,5 1950 meter. Dalam pembagian satuan geomorfik pada daerah penelitian, penulis mengacu pada klasifikasi yang dibuat oleh Van Zuidam, 1985 pembagiannya berdasarkan : morfometri, morfografi, dan morfogenetik. Daerah penelitian dapat dibagi menjadi 3 satuan geomorfik antara lain : satuan pegunungan terjal struktural (962,5 1900 mdpl), satuan pegunungan terjal sedang struktural (937,5 1950 mdpl), dan dataran endapan alluvial (987,5 1350 mdpl). STRATIGRAFI DAERAH PENELITIAN Stratigrafi daerah penelitian tersusun atas enam satuan batuan yaitu : breksi volkanik tua, lava andesit, intrusi diorit kuarsa, breksi volkanik muda, intrusi diorit, dan endapan aluvial. Dimana pembagian satuan tersebut didasarkan pada ciri litologi yang ditentukan berdasarkan struktur dan tekstur batuan yang terlihat pada singkapan batuan. Satuan Breksi Volkanik Tua Satuan Breksi Volkanik Tua ini menempati 6% daerah penelitian. Satuan ini memiliki ciri warna abu-abu hingga abu-abu gelap, terdapat variasi fragmen (breksi polimik) pada satuan ini yaitu kuarsit dan andesit. Satuan ini tersusun oleh fragmen batuan beku vulkanik yang telah terubah /alterasi, menyudut tanggung yang telah terubah berukuran 0,5 5 cm, matriks berupa andesit, tuf, dan semen gelas. Pada litologi ini terdapat bagian-bagian yang telah mengalami alterasi atau ubahan dan mineralisasi. Litologi ini mengalami beberapa jenis alterasi dari argilik lanjut. Ketebalan satuan ini dilihat dari penampang lebih dari kurang dari 150 m. Breksi ini terbentuk sebagai aliran lahar pada suatu system vulkanisme. Hal ini ditunjukkan dengan adanya fragmen andesit dan tuf. Fragmen dominan pada satuan ini yaitu andesit. Lingkungan terbentuknya Breksi Volkanik tua ini terjadi di darat. Breksi Volkanik ini pada regional masuk dalam formasi Hulusimpang (Tomh). Umur pada satuan ini menggunakan kesetaraan dengan Peta Regional Lembar Bangko yaitu Oligosen Awal Miosen Tengah. Satuan Lava Andesit Satuan Lava Andesit ini menempati hampir 60% dari luas daerah penelitian. Satuan Lava Andesit ini berwarna abu-abu hingga abu-abu kehijauan , mempunyai tekstur porfiritik. Sayatan andesit terdiri dari hipokristalin, bertekstur porfiritik tersusun oleh fenokris yaitu plagioklas dan kuarsa dengan ukuran 0.8 3 mm, yang tertanam dalam masadasar mikrolit-mikrolit plagioklas yang membentuk tekstur aliran (pilotaksitik) dan gelas. Pada litologi ini terdapat bagian-bagian yang telah mengalami alterasi atau ubahan dan mineralisasi. Litologi ini mengalami beberapa jenis alterasi dari propilitik, filik, dan argilik. Ketebalan satuan ini dilihat dari penampang kurang dari 100 m. Lava Andesit terbentuk akibat aktivitas magmatisme sehingga menghasilkan adanya
4

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

aktivitas volkanisme. Lava andesit ini terbentuk di lingkungan darat akibat volkanisme gunung api. Lava Andesit ini pada regional masuk dalam formasi Hulusimpang (Tomh). Umur pada satuan ini menggunakan kesetaraan dengan Peta Regional Lembar Bangko yaitu Oligosen Awal hingga Miosen Tengah. Satuan ini menutupi batuan yang sudah ada sebelumnya yaitu breksi volkanik tua dan diendapkan secara selaras, hal ini ditunjukkan dari kesamaan sumber material pembentukkannya. Satuan Intrusi Diorit Kuarsa Satuan Intrusi Dasit ini menempati hampir 13% dari luas daerah penelitian. Satuan Intrusi Diorit Kuarsa ini berwarna putih keabuan, mempunyai tekstur porfiritik. Pada sayatan diorit kuarsa terdiri dari : holokristalin, euhedral, bertekstur porfiritik tersusun oleh fenokris yaitu feldspar, matriks plagioklas dan kuarsa (lebih dari 10%) dengan ukuran 0.9 5.5 mm, yang tertanam dalam massa dasar berupa silika. Pada litologi ini terdapat bagian-bagian yang telah mengalami alterasi atau ubahan yaitu propilitik dan sedikit filik. Intrusi Diorit ini terbentuk akibat aktivitas magmatisme sehingga menghasilkan intrusi pada daerah hancuran akibat sesar. Intrusi diorit ini terbentuk di lingkungan darat. Umur pada satuan ini berdasarkan dengan Peta Regional Lembar Bangko yaitu Miosen Tengah dan juga intepretasi data lapangan dengan prinsip hukum potongmemotong dimana intrusi ini memotong satuan lava andesit yang berumur hingga Miosen Tengah. Satuan ini menerobos batuan yang sudah ada sebelumnya yaitu breksi volkanik tua dan lava andesit. Satuan Breksi Volkanik Muda Satuan Breksi Volkanik Muda ini menempati 9% daerah penelitian. Satuan ini memiliki ciri warna abu-abu terang hingga abu-abu kecoklatan, terdapat mono fragmen (breksi monomik) pada satuan ini yaitu andesit terubah kuarsit. Satuan ini tersusun oleh fragmen batuan beku vulkanik yang telah terubah /alterasi, menyudut hingga menyudut tanggung berukuran 5 15 cm, matriks berupa andesit teralterasi, dan semen silika (silisifikasi). Pada litologi ini terdapat bagian-bagian yang telah mengalami alterasi atau ubahan dan mineralisasi, serta telah mengalami oksidasi kuat berupa limonite, jarosite, sampai hematite. Litologi ini mengalami beberapa jenis alterasi dari argilik lanjut. Ketebalan satuan ini dilihat dari penampang lebih dari kurang dari 100 m. Breksi ini terbentuk sebagai bagian maar atau dome pada tubuh gunungapi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya fragmen insitu pada satuan batuan ini. Fragmen pada breksi ini yaitu dominan andesit. Lingkungan terbentuknya Satuan Breksi Volkanik Muda ini terjadi di darat dari system magmatik darat. Penentuan umur satuan ini berdasarkan intepretasi data lapangan dengan kesetaraan periode tektonik pada plio-pleistosen. Satuan Intrusi Diorit Satuan Intrusi Dasit ini menempati hampir 2% dari luas daerah penelitian. Satuan Intrusi Diorit ini berwarna abu-abu keputihan, mempunyai tekstur porfiritik. Pada sayatan diorit kuarsa terdiri dari : holokristalin, subhedral-anhedral, ekuigranular, bertekstur porfiritik tersusun oleh fenokris yaitu kuarsa, plagioklas, feldspar dan opak, matriks kuarsa (10%) dengan ukuran 0.1 1.5 mm, yang tertanam dalam massa dasar berupa silika. Pada litologi ini ditafsirkan sebagai generator atau pembawa mineralisasi dalam sistem porfiri, sehingga tidak ditemukan ubahan mineral pada
5

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

litologinya. Intrusi Diorit ini terbentuk akibat aktivitas magmatisme sehingga menghasilkan intrusi pada daerah hancuran akibat sesar. Intrusi diorit ini terbentuk di lingkungan darat. Umur pada satuan ini berdasarkan intepretasi data lapangan dengan prinsip hukum potong-memotong dimana intrusi ini memotong semua satuan batuan yang berumur hingga plio-pleistosen. Satuan ini menerobos dan mengalterasi semua satua batuan yang sudah ada sebelumnya yaitu breksi volkanik tua dan, lava andesit, breksi volkanik muda, intrusi diorit kuarsa. Jejak diorit berupa retas-retas pada satuan diorit kuarsa.

Satuan Endapan Fluvial-Aluvial Endapan Aluvial ini menempati 10 % dari total luas daerah penelitian. Endapan ini memiliki ketebalan berdasarkan data lapangan yaitu, 5 m. Secara deskripsi megaskopis endapan ini tersusun atas material lepas berukuran kerikil-bongkah (5cm-2m), berbentuk menyudut tanggung sampai membundar tanggung, pilah buruk, tersebar pada sungai Tangkui dan Sungai Batu Licin. Terbentuk pada kala holosen sampai sekarang yang terendapkan pada lingkungan darat. Satuan ini terbentuk sebagai sistem pengendapan fluvial dengan system tranportasi media sungai Hubungan satuan endapan alluvial ini dengan satuan satuan dibawahnya tidak selaras, disebabkan perbedaan waktu pembentukan yang sangat jauh. STRUKTUR GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Struktur yang bekerja pada daerah penelitian berkaitan dengan aktivitas volkanik dan tektonik regional. Struktur yang terbentuk pada daerah penelitian adalah kekar dan sesar. Dilihat dari analisis kelurusan citra SRTM global mapper, menunjukan arah dominan kelurusan yaitu NWSE dan NE-SW. Kekar di daerah penelitian berupa kekar gerus (shear fracture) dan kekar tarik (tension joint). Gejala struktur sesar yang dapat dijumpai di lapangan berupa zona hancuran, breksi sesar, dan struktur penyerta kekar. Jejak sesar di daerah penelitian juga dapat terlihat berupa kelurusan- kelurusan lembah sungai dan bukit. Sesar Turun Mengiri Sako Struktur sesar Turun mengiri ini terlihat pada satuan lava andesit dan diorit kuarsa. Struktur sesar ini berada pada Sungai Sako dan Sungai Tangkui bagian hulu. Sesar ini memanjang dari timurlaut-baratdaya pada bagian barat dari lokasi penelitian. Indikasi terdapatnya sesar ini di lapangan berupa kelurusan Sungai Sako, terdapatnya kekar gerus berpasangan, air terjun, serta terdapatnya alterasi dan terdapatnya vein yang muncul karena pergerakan dari sesar turun mengiri ini. Sesar ini menjadi orde kedua pada lokasi penelitian. Merupakan sesar yang teraktivasi ole periode tektonik pada plio-pleistosen. Berdasarkan analisis kinematika dari data elemen struktur yang diperoleh dilapangan, didapatkan kedudukan bidang sesar yaitu N 750 E/ 680 SE, dengan kedudukan netslip yaitu 640, N 1300 E dan pitch sebesar 550 SW. Berdasarkan klasifikasi Rickard (1972), diperoleh penamaan sesar yaitu Left Normal Slip Fault. Hasil analisis menunjukan bahwa arah tegasan maksimum (1) memiliki arah orientasi 750, N 810 E, sehingga arah tegasan timurlaut-baratdaya (NE-SW).

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Sesar Geser Kiri Menurun Batu Kursi Struktur sesar geser kiri menurun ini terlihat pada satuan lava andesit. Struktur sesar ini berada pada Sungai Batu Kursi. Sesar ini memanjang dari barat-timur pada bagian barat dari lokasi penelitian. Indikasi terdapatnya sesar ini di lapangan berupa kelurusan Sungai Batu Kursi, terdapatnya kekar gerus berpasangan, air terjun, serta terdapatnya alterasi dan terdapatnya vein yang muncul karena pergerakan dari sesar geser kiri menurun ini. Sesar ini merupakan sesar yang terbentuk pada orde kedua. Dan merupakan sesar yang teraktifasi oleh tektonik pada periode plio-pleistosen. Berdasarkan analisis kinematika dari data elemen struktur yang diperoleh dilapangan, didapatkan kedudukan bidang sesar yaitu N 600 E/ 400 SE, dengan kedudukan netslip yaitu 210, N 1000 E dan pitch sebesar 380 SW. Berdasarkan klasifikasi Rickard (1972) diperoleh penamaan sesar yaitu Lag Left Slip Fault. Hasil analisis menunjukan bahwa arah tegasan maksimum (1) yang mempengaruhi Sesar Geser Kiri Menurun Batukursi ini memiliki arah orientasi 580, N 2510 E, sehingga arah tegasan timurlaut-baratdaya (NE-SW). Sesar Turun mengiri Tangkui Struktur ini terjadi pada satuan lava andesit dan breksi volkanik tua. Sesar ini berada pada kelurusan sungai Tangkui. Sesar ini memanjang dari utara-selatan pada bagian tengah dari lokasi penelitian. Indikasi terdapatnya sesar ini di lapangan berupa kelurusan Sungai Tangkui, terdapatnya kekar gerus berpasangan serta terdapatnya alterasi dan terdapatnya vein yang muncul karena pergerakan dari sesar ini. Sesar ini merupakan sesar utama yang terbentuk pada orde pertama dan merupakan sesar sintetik dari tegasan utara-selatan. Berdasarkan pada hasil analisa kinematika berupa data elemen-elemen struktur yang didapatkan dilapangan dengan menggunakan metode stereografi didapatkan kedudukan bidang sesar N2030E/360NW, dengan arah netslip 300, N2590E dan besar pitch 580SW. Berdasarkan klasifikasi oleh Rickard (1972) diperoleh penamaan sesar yaitu Left Lag Slip Fault. Hasil analisis menunjukan bahwa arah tegasan maksimum (1) yang mempengaruhi Sesar Turun Menganan Gunung Sangar ini memiliki arah orientasi 720, N 1340 E, sehingga arah tegasan relatif utara-selatan (N-S). Sesar Geser Kanan Menurun Batulicin Struktur sesar Geser Kanan Menurun ini terdapat pada satuan batuan satuan Lava Andesit, Diorit, dan Diorit Kuarsa. Sesar naik ini memanjang dari baratlaut-tenggara. Struktur sesar ini berada pada sungai Bati Licin hingga sungai Paku. Indikasi pada struktur sesar ini di lapangan berupa kekar gerus berpasangan dan adanya air terjun pada daerah yang terlewati oleh sesar ini. Sesar ini merupakan sesar utama yang terbentuk pada orde pertama dan merupakan sesar antitetik dengan tegasan utara-selatan. Berdasarkan analisis kinematika dari data elemen struktur yang diperoleh dilapangan, didapatkan kedudukan bidang sesar yaitu N 10 E/ 750SE, dengan kedudukan netslip yaitu 480, N 1680 E dan pitch sebesar 150SE. Berdasarkan klasifikasi Rickard (1972), diperoleh penamaan sesar yaitu Normal Right Slip Fault. Hasil analisis menunjukan bahwa arah tegasan maksimum (1) yang mempengaruhi Sesar Geser Kanan Menurun ini memiliki arah orientasi 500, N 1910 E, yang relatif utara-selatan (N-S).

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Sesar Geser Kanan Menurun Gn. Bujang Timur Struktur sesar ini terdapat pada satuan lava andesit dan breksi volkanik tua. Sesar mendatar ini memanjang dari arah tenggara (SE) baratlaut (NW). Struktur sesar menganan ini berada pada Sungai Batulicin hilir. Indikasi keberadaan struktur sesar ini dilapangan berupa kekar gerus berpasangan dan kelurusan topografi. Pada sesar ini merupakan orde pertama berupa kemenerusan sesar antitetik pada lokasi penelitian. Berdasarkan analisis kinematika dari data elemen struktur yang diperoleh dilapangan, didapatkan kedudukan bidang sesar yaitu N 1700 E/ 210SW, dengan kedudukan netslip yaitu 110, N 3190 E dan pitch sebesar 310NW. Berdasarkan klasifikasi Rickard (1972) diperoleh penamaan sesar yaitu Lag Right Slip Fault. Hasil analisis menunjukan bahwa arah tegasan maksimum (1) yang mempengaruhi Sesar Mendatar Kanan Cimon ini memiliki arah orientasi 340, N 1220 E, sehingga arah tegasan relatif utara-selatan (NS). Sesar Geser Geser Kiri Jejak Kambing Struktur sesar ini terdapat pada satuan lava andesit. Sesar mendatar ini memanjang dari arah timurlaut (NE) baratdaya (SW). Struktur sesar Geser Kiri ini berada pada Sungai Jejak Kambing. Indikasi keberadaan struktur sesar ini dilapangan berupa kekar gerus berpasangan, air terjun, dan kelurusan topografi. Pada sesar ini merupakan orde kedua dari sesar utama Tangkui pada lokasi penelitian. Berdasarkan analisis kinematika dari data elemen struktur yang diperoleh dilapangan, didapatkan kedudukan bidang sesar yaitu N 2320 E/ 810NW, dengan kedudukan netslip yaitu 360, N 440 E dan pitch sebesar 70NW. Berdasarkan klasifikasi Rickard (1972) diperoleh penamaan sesar yaitu Left Slip Fault. Hasil analisis menunjukan bahwa arah tegasan maksimum (1) yang mempengaruhi Sesar Geser Kiri Jejak Kambing ini memiliki arah orientasi 370, N 560 E, sehingga arah tegasan relatif timurlaut-baratdaya (NE-SW). Sesar Geser Kiri Menurun Banyak Telun Struktur sesar ini terdapat pada satuan lava andesit. Sesar mendatar ini memanjang dari arah tenggara (SE) baratlaut (NW). Struktur sesar ini berada pada Sungai Banyak Telun. Indikasi keberadaan struktur sesar ini dilapangan berupa kekar gerus berpasangan, banyak ditemukan air terjun dan kelurusan topografi. Pada sesar ini merupakan orde kedua dari sesar utama Batulicin pada lokasi penelitian. Berdasarkan analisis kinematika dari data elemen struktur yang diperoleh dilapangan, didapatkan kedudukan bidang sesar yaitu N 2760 E/ 120NE, dengan kedudukan netslip yaitu 90, N 3190 E dan pitch sebesar 430NW. Berdasarkan klasifikasi Rickard (1972) diperoleh penamaan sesar yaitu Lag Left Slip Fault. Hasil analisis menunjukan bahwa arah tegasan maksimum (1) yang mempengaruhi Sesar Geser Kiri Menurun Banyak Telun ini memiliki arah orientasi 30, N 1510 E, sehingga arah tegasan relatif timurlaut-baratdaya (NE-SW). Sesar Turun Mengiri Medang Struktur sesar ini terdapat pada satuan lava andesit dan diorit. Sesar mendatar ini memanjang dari arah tenggara (SE) baratlaut (NW). Struktur sesar ini berada pada Sungai Medang. Indikasi keberadaan struktur sesar ini dilapangan berupa kekar gerus berpasangan, banyak ditemukan air terjun, pembelokan sungai, dan kelurusan topografi. Sesar ini merupakan orde
8

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

kedua dari sesar utama Batulicin pada lokasi penelitian. Berdasarkan analisis kinematika dari data elemen struktur yang diperoleh dilapangan, didapatkan kedudukan bidang sesar yaitu N 2740 E/ 250NE, dengan kedudukan netslip yaitu 190, N 3210 E dan pitch sebesar 480NW. Berdasarkan klasifikasi Rickard (1972) diperoleh penamaan sesar yaitu Left Lag Slip Fault. Hasil analisis menunjukan bahwa arah tegasan maksimum (1) yang mempengaruhi Sesar Geser Kiri Menurun Banyak Telun ini memiliki arah orientasi 730, N 2360 E, sehingga arah tegasan relatif timurlaut-baratdaya (NE-SW).

Mekanisme Pembentukan Struktur Geologi Berdasarkan analisis kinematik dan pola sesar terdapat arah tegasan yang mengontrol struktur geologi, yaitu utara-selatan (N-S) dan timurlaut-baratdaya (NE-SW). Perbedaan arah ini disebabkan oleh perbedaan orde pembentukan karena perbedaan arah gaya/ tegasan utama, maka dapat didedukasikan adanya tegasan utama berarah utara-selatan (N-S) yang merupakan reoriented stress dari tegasan Pola Sumatera yaitu utara-selatan dan arah tegasan relatif barattimur merupakan orde lanjutan dari sesar utama. Pada lokasi penelitian. Sesar Geser Turun Mengiri Tangkui, Sesar Geser Kanan Menurun Batulicin, dan Sesar Geser Kanan Menurun Gn. Bujang Timur diintepretasikan sebagai sesar orde pertama dengan tegasan utara-selatan (N-S). Sesar ini merupakan sesar yang mengontrol bentukan morfologi serta alterasi dan mineralisasi pada daerah penelitian. Sesar Geser Kiri Menurun Batu Kursi dan Sesar Turun Mengiri Sako merupakan sesar orde kedua berumur miosen tengah yang teraktifasi oleh tektonik periode pliopleistosen. Kedua sesar tersebut dan Sesar Geser Kiri Jejak Kambing, Sesar Geser Kiri Menurun Banyak Telun, serta Sesar Turun Mengiri Medang merupakan sesar orde kedua dengan tegasan timurlaut-baratdaya (NE-SW), terbentuk akibatnya gaya normal dari gaya utama. Sesar-sesar orde kedua tersebut juga berperan dalam penyebaran zona alterasi dan mineralisasi serta intrusiintrusi yang ada pada lokasi penelitian.

ALTERASI DAN MINERALISASI DAERAH PENELITIAN Zonasi ubahan hidrotermal di daerah penelitian dibagi berdasarkan observasi lapangan, analisis petrografi dan analisis Terraspec. Berdasarkan hasil analisis Terraspec dan Petrografi kemudian dilakukan pengelompokan mineral-mineral penciri alterasi hidrotermal, pengelompokkan mineral ubahan mengacu kepada klasifikasi Corbett dan Leach (1997), sehingga daerah penelitian terbagi atas beberapa zonasi alterasi yaitu : Zonasi Alterasi Propilitik, Filik, Argilik, dan Argilik Lanjut. Zonasi Alterasi Propilitik Zonasi Alterasi Propilitik menempati 55% dari keseluruhan luasan daerah penelitian. Pola penyebaran dari zona alterasi ini mengikuti pola sesar-sesar yang mengontrol daerah penelitian. Zona alterasi ini telah mengubah tiga satuan batuan, yaitu Satuan Breksi Volkanik Tua, Satuan Intrusi Diorit Kuarsa dan Satuan Lava Andesit. Secara megaskopis Zonasi Alterasi Propilitik umumnya berwarna abu-abu kehijauan, dicirikan dengan keberadaan mineral lempung dan mineral sulfida yang teramati secara megaskopis yaitu pirit. Berdasarkan analisis petrografi pada

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

beberapa sayatan tipis, mineral sekunder yang hadir berupa mineral klorit, epidot, serisit, kuarsa, dan mineral opak. Tabel 1.1. Suhu Pembentukan Zona Alterasi Kuarsa Klorit Epidot (Reyes, 1998 dalam Reyes, 2000).

Mengacu pada Reyes (2000), suhu pembentukan zona alterasi ini berkisar dari 240C hingga 270C (Tabel 1.1). Berdasarkan Corbet dan Leach (1998) dan kehadiran asosiasi mineral klorit, epidot, serisit dan kuarsa ini disebandingkan dengan Zona Propilitik yang terbentuk pada kondisi mendekati netral. Zonasi Alterasi Argilik Zona Alterasi Argilik merupakan zona alterasi yang menempati sekitar 20% dari keseluruhan luas daerah penelitian. Zona alterasi ini telah mengubah Satuan Lava Andesit. Secara megaskopis Zona Argilik umumnya berwarna abu-abu hingga putih, karena litologi atau satuan batuan telah mengalami ubahan menjadi mineral lempung. Mineral sulfida yang hadir adalah pirit. Berdasarkan analisis petrografi pada beberapa sayatan tipis, mineral yang hadir yaitu urat kuarsa, kaolinit, mineral opak dan mineral lempung. Tabel 1.2. Suhu Pembentukan Zona Mineral Kuarsa Kaolinit (Reyes, 1998 dalam Reyes, 2000)

Mengacu pada Reyes (2000), suhu pembentukan zona alterasi ini berkisar dari 180C hingga 200C (Tabel 7.3.). Berdasarkan Corbet dan Leach (1998) dan kehadiran asosiasi mineral kuarsa dan kaolinit ini disebandingkan dengan Zona Argilik yang terbentuk pada kondisi kisaran netral. Zonasi Alterasi Argilik Lanjut Zona Alterasi Argilik merupakan zona alterasi yang menempati sekitar 15% dari keseluruhan luas daerah penelitian. Zona alterasi ini telah mengubah Satuan Breksi Volkanik Muda. Secara megaskopis Zona Argilik umumnya berwarna abu-abu hingga putih kekuningan, karena litologi atau satuan batuan telah mengalami ubahan menjadi mineral lempung. Mineral sulfida yang
10

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

hadir adalah pirit dalam urat dan rongga (vuggy). Berdasarkan analisis petrografi pada beberapa sayatan tipis, mineral yang hadir yaitu urat kuarsa, klorit, dan mineral lempung. Tabel 1.3. Suhu Pembentukan Zona Mineral Kuarsa Alunit Dikit (Reyes, 1998 dalam Reyes, 2000)

Mengacu pada Reyes (2000), suhu pembentukan zona alterasi ini berkisar dari 180C hingga 200C (Tabel 7.3.). Berdasarkan Corbet dan Leach (1998) dan kehadiran asosiasi mineral kuarsa, alunit, dikit ini disebandingkan dengan Zona Argilik Lanjut yang terbentuk pada kondisi relatif netral-asam. Zonasi Alterasi Filik Zona Alterasi Argilik merupakan zona alterasi yang menempati sekitar 10% dari keseluruhan luas daerah penelitian. Zona alterasi ini telah mengubah Satuan Lava Andesit. Secara megaskopis Zona Argilik umumnya berwarna abu-abu kehijauan, karena litologi atau satuan batuan telah mengalami ubahan menjadi mineral lempung. Mineral sulfida yang hadir adalah pirit dalam urat. Berdasarkan analisis petrografi pada beberapa sayatan tipis, mineral yang hadir yaitu urat kuarsa, klorit, mineral opak dan mineral lempung. Tabel 1.4. Suhu Pembentukan Zona Mineral Kuarsa Serisit (Reyes, 1998 dalam Reyes, 2000)

Mengacu pada Reyes (2000), suhu pembentukan zona alterasi ini berkisar dari 220C hingga 270C (Tabel 7.3.). Berdasarkan Corbet dan Leach (1998) dan kehadiran asosiasi mineral kuarsa dan serisit ini disebandingkan dengan Zona Filik yang terbentuk pada kondisi kisaran netralasam. Mekanisme Pembentukkan Alterasi Hidrothermal Dari Terry & Leach terlihat bahwa perubahan suhu dari panas ke dingin mengalami perubahan pH semakin asam dari satu zona ke zona yang lainnya. Pembentukan zona alterasi diawali oleh propilitik yang memiliki suhu 240-270C (Reyes, 1990) dengan pH 6-7, dilanjutkan dengan
11

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

filik bersuhu 220-270C (Reyes, 1990) dengan pH 5-6, setelah itu suhu menurun terbentuk argilik dengan suhu 170-220C (Reyes, 1990) dengan pH 4-5, dan diakhiri oleh argilik lanjut bersuhu sama dengan zona sebelumnya 170-220C (Reyes, 1990) dengan pH 2-3. Mekanisme pembentukan zona alterasi berdasarkan suhu dan tingkat keasaman larutan hidrotermal mengalami perubahan seiring jarak penyebaran larutan hidrotermal. Dalam hal ini pengontrol terhadap penyebaran larutan hidrotermal yang berkaitan dengan pembentukan zona alterasi merupakan struktur geologi yang kompleks dan intensif pada daerah penelitian. SEJARAH GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Pada Oligosen-Miosen Awal, daerah penelitian merupakan lingkungan darat. Pada kala ini diendapkan satuan breksi volkanik sebagai penyusun Formasi Hulusimpang (Tomh) yang diendapkan dengan mekanisme volkanik. Hal ini terlihat dari ditemukannya fragmen penyusun berupa andesit sebagai produk aliran lava vulkanik. Pada lokasi tertentu terdapat fragmen hingga matriks tuf sebagai penciri adanya aktifitas volkanik berupa letusan gunung api. Pada satuan ini, gejala volkanisme berlangsung secara intensif. Hal ini ditunjukan oleh kehadiran breksi dengan fragmen dominan batuan andesit, breksi dengan fragmen kuarsa masif. Hal ini mengindikasikan bahwa sumber material klastik yang merupakan jalur magmatik yang diperkirakan berasal dari gunung api pada kala itu. Dan keberadaan luasan satuan ini yang hanya setempat dengan karakteristik penyebaran breksi pada umumnya menjadi alasan bahwa breksi berumur paling tua dibandingkan dengan satuan lainnya dalam sistem vulkanik yang sama. Dalam satuan ini juga terdapat gejala alterasi yang diperkirakan berasal dari intrusi daerah sekitar penelitian yang turut menyuplai fluida hidrotermal. Pada Oligosen-Miosen Awal, diendapkan secara selaras satuan lava andesit di atas satuan Breksi Vukanik Tua. Satuan ini juga termasuk dalam Formasi Hulusimpang (Tomh) yang merupakan lava vulkanik. Hal ini menunjukan adanya aktivitas vulkanisme pada daerah penelitian. Satuan Lava Andesit Formasi Hulusimpang (Tomh) ini diendapkan dengan mekanisme aliran. Pada Miosen Tengah, terjadi terobosan intrusi Diorit Kuarsa pada Formasi Diorit Terkloritkan (Tmdi) yang memotong satuan batuan yang ada di atasnya. Intrusi ini ditafsirkan dikontrol oleh fase tektonik tua sebelum fase tektonik yang ditemukan pada daerah penelitian. Fase tektonik tua ini termasuk dalam fase kompresi sumatera selatan yang terbentuk pada Miosen Tengah (Pulonggono, 1992). Sesuai dengan hukum potong-memotong (cross cutting), bahwa batuan yang memotong berumur lebih muda daripada batuan yang dipotong. Hal ini menjadi dasar dan terbukti berdasarkan data regional yang menunjukan bahwa adanya jarak waktu geologi yang cukup jauh (tidak selaras) antara Formasi Hulusimpang (Tomh) dengan Formasi Diorit Terkloritkan (Tmdi). Secara interpretatif pembentukan Satuan Breksi Vulkanik Muda pada kala Plio-Plistosen, namun tidak dapat ditafsirkan periode pembentukannya pada suatu formasi batuan. Pembentukan satuan batuan ini termasuk dalam sistem tubuh gunungapi bagian maar (kaldera) sebagai hasil erupsi gunungapi, yang kemudian pecahan-pecahan batuan sampingnya membentuk breksi atau diaterm breccias. Penulis menafsirkan bahwa pembentukan satuan ini tidak jauh sebelum terjadinya periode tektonik pada Plio-Pliosen. Hal ini dibuktikan berdasarkan mineralisasi yang melimpah pada satuan ini dengan kontrol struktur geologi sebagai jalur penyebaran mineralisasi tersebut.
12

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Menurut De Coster, 1974 (dalam Salim, 1995), fase kompresi pada Plio-Plistosen yang menyebabkan pola pengendapan berubah menjadi regresi dan berperan dalam pembentukan struktur perlipatan dan sesar sehingga membentuk konfigurasi geologi sekarang. Pada periode tektonik ini juga terjadi pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan yang menghasilkan sesar mendatar Semangko yang berkembang sepanjang Pegunungan Bukit Barisan. Proses tektonik ini yang menyebabkan pola struktur tua kembali aktif (reaktivasi) sehingga menimbulkan pola-pola struktur tua pada satuan yang lebih muda. Hal ini membuktikan bahwa reaktivasi ini membentuk pola struktur pada daerah penelitian, yang kemudian mengontrol hadirnya intrusi kedua berupa Diorit sebagai intrusi pembawa mineralisasi dalam sistem epitermal. Hal ini dibuktikan dengan tidak ditemukannya gejala alterasi pada satuan intrusi kedua ini. Dan kemunculan intrusi kedua inilah yang ditafsirkan sebagai pengontrol penyebaran zona alterasi pada seluruh satuan batuan daerah penelitian. Pada daerah penelitian terekam tegasan-tegasan yang menunjukkan adanya gejala struktur. Pada dasarnya gaya yang berlangsung pada daerah penelitian berarah N-S (utaraselatan) yang merupakan arah tegasan yang menghasilkan bukaan (ekstensional) masuknya mineralisasi dalam suatu urat kuarsa. Tetapi data lapangan memiliki variasi tegasan yaitu NESW. Hal ini diakibatkan intensitas gaya yang berlangsung sehingga menghasilkan reoriented stress. Pergeseran arah tegasan tersebut menjadi bukti ditemukannya pula keberadaan urat-urat kuarsa pada kekar-kekar ekstensionalnya. Pada dasarnya gaya N-S akan menghasilkan sesar sesar normal yang terekam di selatan daerah penelitian, dimana sesar normal ini merupakan sesar tertua. Ketika gaya terus bekerja terjadi perubahan pergerakan struktur dimana terjadi pergeseran dari sesar tertua tersebut menjadi sesar mendatar seperti yang terekam pada lokasi penelitian. Deformasi yang terjadi pada daerah penelitian berupa sesar mendatar. Kehadiran sesar geser merupakan sesar robekan (tear fault) yang terbentuk karena adanya perbedaan akomodasi gaya sehingga menyebabkan perbedaan kecepatan. KESIMPULAN Daerah telitian dapat dibagi menjadi empat satuan geomorfologi, yaitu: Satuan Pegunungan Terjal struktural (S2), Satuan Pegunungan Terjal Sedang struktural (S2), Satuan Endapan Aluvial. Daerah telitian tersusun oleh beberapa satuan batuan berkaitan dengan periode mineralisasi dari tua ke muda adalah : Pada Pre-mineralisasi antara lain ; satuan Breksi Vulkanik Tua, satuan Lava Andesit, satuan Intrusi Diorit Kuarsa, Pre-mineralisasi atau Syn-mineralisasi satuan Breksi Vulkanik Muda, pembawa mineralisasi berupa Intrusi Diorite, dan pada Postmineralisasi yaitu, satuan Endapan Aluvial.Berdasarkan analisa kelurusan SRTM dan data lapangan pada daerah telitian terdapat struktur geologi kekar dan sesar. Dari kelurusan SRTM arah dominan ialah NW-SE dengan arah tegasan utama yaitu utara-selatan (N-S). Daerah penelitian memiliki 2 periode tektonik, yaitu Tegasan berarah NE-SW pada Kala Miosen Tengah yang tereaktivasi oleh periode tektonik kedua dengan arah gaya tegasan yaitu N-S (orde pertama) yang merupakan reaktifasi dari tegasan purba pada pola sumatera (N-S). Dan NE-SW sebagai orde kedua dari sesar utama (orde pertama). Periode tektonik tersebut merupakan jalur penyebaran alterasi dan mineralisasi dengan indikasi urat / veintlet kuarsa berarah utara-selatan (N-S). Zona alterasi yang terdapat di daerah penelitian dapat dikelompokkan menjadi lima zonasi ubahan, yaitu zona propilitic, zona Argillic, zona Argilik Lanjut, dan zona Filik. Lingkungan

13

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Alterasi dalam sistem epitermal pada daerah penelitian termasuk dalam Lingkungan HS ( High Sulfidation) namun terdapat indikasi Lingkungan LS (Low Sulfidation). UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Universitas Jenderal Soedirman sebagai institusi yang memberikan pembelajaran selama ini, HMTG Dr Bumi UNSOED yang telah menjadi wadah aspirasi dan diskusi dibidang kegeologian, Bapak Dr.Ir.Bambang Priadi, selaku pembimbing 1 dan Bapak Siswandi, ST., MT selaku pembimbing 2 dalam tugas akhir ini serta PT ANTAM tbk Unit Geomin Projek Jambi. DAFTAR PUSTAKA Bemmelen, R. W. van., 1949. The Geology of Indonesia. Vol I-A, The Hague, Martinus Nijhoff, V, I-A. Corbett, G.J & Leach, T.M., 1996, Southwest Pasific Rim Gold / Copper System : Structure, Alteration and Mineralitation, A workshop presented for the Society of Eksploration Geochemist, Townsville. Gafoer, dkk, 1992, Geologi Lembar Garut-Pamuengpuek, Jawa Barat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Indonesia. Guilbert,G.M. & Park,C.F.,1986,The Geology Of Deposits W.H. Freeman and Company, New York. Howard, A.D., 1966, Drainage Analysis in Geology, A Summation, AAPG Bulletin, Vol. 51, p. 224-295. Suwarna.N,dkk.1992. Memetakan geologi kabupaten Sarolangun, pada Peta Geologi Lembar Sarolangun, skalapeta 1 : 250.000. Moody, J.D., and M.J. Hill, 1956, Wrench Fault Tectonics: Geological Society of America Bulletin, v.67, p.1207-1246. Reyes.A.G. 1998.Petrology and Mineral Alteration in Hydrothermal System: from diagenesis to volcanic catastrophes. Institut of Geological and Nuclear Science. Lower Hut, New Zealand. Rickard, W.H., 1972, Physical modeling of structural, pp. RH-I -RH-9 In Federal Research Natural Areas in Oregon and Washington. Van Bemmelen, R.W. 1949. The Geology of Indonesia. Nederland: Martinus Nyhoff, The Haque. Van Zuidam, R. A. 1985. Aerial Photo-Intepretation in Terrain Analysis and Geomorfologic Mapping. Smits Publishers the Haque Netherland. 442h.
14

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Gambar 1. Peta Indeks Lokasi Penelitian

Gambar 2. Peta Fisiografi Jawa Barat (R.W. Van Bemmelen, 1949)

15

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Gambar 3. Peta Geologi Daerah Gunung Bujang dan sekitarnya

Gambar 4. Peta Geomorfologi Daerah Gunung Bujang dan sekitarnya


16

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Gambar 5. Peta Struktur Geologi Daerah Gunung Bujang dan sekitarnya

Gambar 6. Peta Alterasi dan Mineralisasi Daerah Gunung Bujang dan sekitarnya
17

TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Gambar 7. Peta Stasiun Pengamatan dan Lintasan Daerah Gunung Bujang dan sekitarnya

Gambar 8. Peta Stasiun Pengamatan dan Lintasan Daerah Gunung Bujang dan sekitarnya
18