Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Maksud dan Tujuan Percobaan 1.1.1.

Maksud percobaan Praktikan diharapkan dapat mengetahui cara penyiapan bahan untuk pembuatan medium sintetik dan semi sintetik yang baik dan benar. Praktikum ini juga dimaksudkan agar mahasiswa dapat mengetahui jenis medium yang biasa di gunakan untuk pertumbuhan jamur dan bakteri. 1.1.2. Tujuan Percobaan a. b. Mengetahui cara pembuatan medium sintetik yaitu media NA, PDA, PDB dan NB Mengelompokkan media dalam media padat dan cair untuk pertumbuhan bakteri atau jamur 1.2. Prinsip Praktikum Mengelompokkan macam-macam medium berdasarkan bahan yang digunakan, kegunaan dan konsistensinya serta memahami jenis mikroba apa yang dapat tumbuh pada masing-masing medium. Setelah itu mengetahui komposisi dari medium padat dan medium cair. Setelah itu membuat medium padat dan medium cair dengan melarutkan padatan medium yang telah ditimbang dalam aquades di dalam Erlenmeyer, lalu dihomogenkan. Untuk medium padat dan cair dilakukan pemanasan untuk menghomogenkan antara air dan bahan dasar medium serta mensterilkannya dari mikroba lain.

54

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Uraian Umum Keragaman yang luas dalam hal tipe nutrisi diantara bakteri diimbangi oleh tersedianya bebagai media yang banyak macamnya untuk kualitasnya. Media kimiawi, tidak dipergunakan untuk kultivasi bakteri. Melainkan seperti subtansisubtansi rumit tertentu seperti pepton ekstrak daging, atau kadang-kadang ekstrak khamir dilarutkan dalam dengan air dalam jumlah yang bermacam-macam, sehingga menghasilkan media yang menunjang berbagai pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme (Entjang, 2003). Dasar makanan yang paling baik bagi pemerian bakteri ialah medium yang mengandung zat-zat organik seperti rebusan daging, sayur-sayuran, sisa makanan atau ramuan-ramuan yang dibuat oleh manusia. Medium yang paling banyak digunakan dalam pekerjaan rutin di laboratrium ialah kaldu cair dan kaldu agar. Medium ini tersusun atas kaldu bubuk 3 gram dan pepton 5 gram dalam air suling 1000 gram. Jika diperlukan medium padat, maka kepadanya ditambahkan 15 gram agaragar. Medium ini disebut sebagai medium baku. Untuk keperluan penelitianpenelitian yang berhubungan dengan serologi perlu ditambahkan 5 gram NaCl. Jika tidak ada kaldu bubuk, bahan itu dapat diganti dengan rebusan daging yang diperoleh dengan cara sebagai berikut; ambil barang 0,5 gram daging yang tidak berlemak, rendam dalam 1000 mL air suling semalam-malaman dalam almari es. Paginya buanglah lemak yang mungkin terdapat mengapung di permukaan air. Kemudian peraslah suspensi lewat kain mari yang halus. Tambahkan air suling kepada filtrat sehingga volume menjadi 1 L lagi. Kepada medium ini ditambahkan 5 gram pepton dan lain-lainnya yang diperlukan lalu panasi suspensi sampai suhu 100 oC selama 20 menit. Akhirnya buanglah suspensi lewat kertas saring dan tambahkan air suling lagi sehingga volume tetap 1 L. Medium ini perlu disterilisasi dahulu sebelum digunakan untuk memelihara bakteri. Juga keasaman medium perlu diatur biasanya pH 7 (Dwidjoseputra, 1998).

55

2.2. Uraian Secara Khusus 2.2.1. Jenis-jenis media Untuk mengetahui jenis-jenis medium yang lain, yang berkepentingan dipersilahkan membaca buku-buku praktikum mikrobiologi atau bakteriologi. Medium buatan manusia itu berupa: a. Medium cair Medium cair yang biasa dipakai ialah kaldu yang disiapkan sebagai berikut; kepada 1 L air murni ditambahkan 3 gram kaldu daging lembu dan 5 gram pepton. Pepton ialah protein yng terdapat pada daging, pada air susu, pada kedelai dan pada putih telur. Pepton banyak mengandung N (nitrogen), sedangkan kaldu berisi garam-garam mineral dan lain-lainnya. Medium itu kemudian ditentukan pH nya 6,8 sampai 7. Jadi sedikit asam atau netral, keadaan yang demikian ini sesuai untuk kebanyakan bakteri. Kaldu seperti tersebut diatas masih perlu disaring untuk kemudian dimasukkan kedalam tabung-tabung reaksi atau botol-botol. Penyaringan dapat dilakukan dengan kertas saring. Setelah tabung reaksi atau botol berisi medium tersebut, disumbat dengan kapas, dapatlah mereka dimasukkan ke dalam alat pensteril (autoklaf) (Dwijoseputro, 1998). b. Medium kental (padat) Dahulu kala orang lazim menggunakan kentang yang dipotong-potong serupa silinder untuk medium. Silinder kentang mentah itu dimasukkan kedalam tabung reaksi, kemudian tabung disumbat dengan kapas, dan setelah itu disterilkan dalam autoklaf. Setelah kentang dingin kembali, permukaan atas silinder kentang dapat ditanamkan bakteri (Dwijoseputro, 1998). c. Medium yang diperkaya Kebanyakan bakteri suka tumbuh pada sisa makanan seperti disebut diatas. Tetapi bakteri patogen seperti Bucella abortus, Diplococus pneumonia dan Neisseria gonorhoae memerlukan zat makanan tambahan berupa serum atau darah yang tidak mengandung fibrinogen lagi. Fibrinogen ialah zat yang menyebabkan darah kental (Dwijoseputro, 1998).

56

d.

Defined media (synthetic media) Defined media merupakan media yang komponen penyusunyya sudah

diketahui atau ditentukan. Media ini biasanya digunakan dalam penelitian untuk mengetahui kebutuhan nutrisi mikroorganisme. Contoh: media untuk E. coli yang terdiri dari glukosa 1,0 g/L, Na2PO4 16,4 g/L. KH2PO4 1,5 g/L, (NH4)2.7H2O 2,0 g/L, CaCl2 200,0 mg/L, dan FeSO4 10,0 mg/L. pH akhir media 6,8-7,0 (Pratiwi, 2008). e. Media kompleks (complex media) Media kompleks merupakan media yang tersusun dari komponen yang secara kimia tidal diketahui dan umumnya diperlukan karena kebutuhan nutrisi mikroorganisme tertentu tidak diketahui. Contoh: ekstrak daging (mengandung asam-asam amino, peptida, nukleotida, asam organik, vitamin, mineral), ekstrak khamir atau yeast extract (sumber vitamin B), pepton (merupakan hidrolisa protein, didapat dari digesti parsial daging, kasein, bubuk kedelai, gelatin dan sumber protein lain, yang berperan sebagai sumber energi, C dan N). Contoh: Nutrient Broth/Agar, Tryptic Soya Broth (TSB)/Tryptic Soya Agar (TSA), MacConkey Agar (Pratiwi, 2008). f. Media umum (general media) Media umum merupakan media pendukung bagi banyak pertumbuhan mikroorganisme. Contoh: TSB, TSA (Pratiwi, 2008). g. Media penyubur (enrichment media) Media penyubur merupakan media yang berguna untuk mempercepat pertumbuhan mikroorganisme tertentu. Media ini digunakan bila kita ingin menumbuhkan salah satu mikroorganisme dari kultur campuran. Media ini menggunakan bahan atau zat yang serupa dengan habitat tempat mengisolasi mikroorganisme tersebut (Pratiwi, 2008). h. Media selektif (selective media) Media selektif merupakan media yang mendukung pertumbuhan

mikroorganisme tertentu (seleksi) dengan menghambat mikroorganisme yang lain. Pada media ini ditambahkan bahan penghambat pertumbuhan, misalnya bile salt

57

dan dye (fuchsin, crystal violet, brilliant green) yang akan menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan tidak memberi efek pada bakteri gram negatif, antibiotik dan selulosa untuk mengisolasi bakteri pendegradasi selulosa (Pratiwi, 2008). i. Media diferensial (differential media) Media diferensial digunakan untuk membedakan kelompok mikroorganisme dan bahkan dapat digunakan untuk identifikasi. Contohnya adalah media agar darah, yang merupakan media diferensial sekaligus media penyubur, mampu membedakan antara bakteri hemolitik (Streptococcus dan Staphylococcus saluran napas) dan bakteri nonhemolitik dengan mengetahui sifat lisis eritrosit (ciri daerah jernih disekitar koloni akibat perusakan sel darah merah), media MacConkey, yang merupakan media diferensial sekaligus selektif, terdiri dari laktosa dan neutral red dye, mampu membedakan antara bakteri yang memfermentasi laktosa dan yang bukan (ciri adanya daerah merah muda-merah disekitar koloni) (Pratiwi, 2008). j. Media khusus Contoh media khusus adalah media untuk bakteri anaerob. Biasanya kedalam media tersebut ditambahkan bahan yang dapat mereduksi kandungan O2 dengan cara pengikatan kimiawi. Contoh bahan-bahan itu adalah natioglikolat, sistein, asam askorbat. Sebagai indikator anaerob digunakan rezasurin (bila terjadi oksidasi yang berarti bakteri bersifat aerobic akan terbentuk warna merah). Contoh: media pertumbuhan bakteri Neisseria gonorrhoeae (Pratiwi, 2008). 2.2.2. Penyiapan Media Media alamiah, misalnya susu skim tidak menimbulkan masalah dalam penyiapan sebagai media, hanya semata-mata dituang dalam wadah yang sesuai, seperti tabung reaksi atau labu dan disterilkan sebelum digunakan. Media dalam bentuk kaldu nutrient atau yang mengandung agar disiapkan dengan cara melarutkan masing-masing bahan yang dibutuhkan atau lebih mudah lagi dengan cara menambahkan air pada suatu produk komersial berbentuk bubuk yang sudah mengandung semua nutrient yang dibutuhkan. Pada praktisnya, semua medium tersebut dalam bentuk bubuk dan siap pakai, senyawa seperti vitamin.

58

Kebanyakan vitamin berfungsi sebagai pembentul subtansi yang mengaktivasi enzim subtansi yang menyebabkan perubahan kimiawi. Binatang, termasuk manusia harus diberikan subtansi-subtansi di dalam makanannya (Entjang, 2001). Agar miring merupakan salah satu bentuk medium yang digunakan untuk membiakan mikroba, terutama yang bersifat aerobik fakultatif. Ciri-ciri kultur termasuk pembentukan warna dan bentuk pertumbuhannya dapat segera diamati pada agar miring. Inokulasi mikroba pada agar miring dapat dilakukan dengan cara menggoreskan (streak) secara zig-zag pada permukaan agar miring menggunakan jarum ose bulat atau yang bagian atasnya dilengkungkan, atau menusukan loop pada bagian tengah tabung (stab). Sedangkan agar tegak sering digunkan dalam uji mobilitas suatu mikroba. Kultur mikroba dapat dilakukan dengan cara menginokulasi pada agar cawan, kemudian dalam penyebaran kultur diatas agar dilakukan dengan pertolongan loop yang dilengkungkan bagian atasnya atau menggunakan batang gelas. Tujuan dari penyebaran kultur adalah untuk memisahkan sel-sel mikroba satu dengan mikroba lainnya, sehingga setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu masing-masing sel akan tumbuh dan berkembang biak membentuk kumpulan sel atau koloni yang dapat terlihat oleh mata. Pada bagian agar tempat dimulainya goresan populasi mikroba warnanya terlalu pekat sehingga koloni akan berkumpul menjadi satu. Dengan semakin banyaknya goresan atau penyebaran yang dilakukan akan semakin sedikit sel yang terbawa oleh loop, sehingga setelah inkubasi akan terbentuk koloni-koloni secara teratur. (Waluyo, 2008) 2.3. Bentuk pertumbuhan bakteri Di dalam medium cair, mikroba akan tumbuh dalam waktu 24-48 jam. Pertumbuhan mikroba didalam suatu medium cair dapat terlihat dalam beberapa hal, misalnya: a. b. Kekeruhan yang biasanya terlihat pada seluruh bagian medium Pertumbuhan pada permukaan yang dapat berbentuk partikel, cincin, flokulen atau membran

59

c.

Sedimen/endapan yaitu sekumpulan sel yang terkumpul pada dasar tabung dan akan menyebar lagi jika tabung digerakkan Tabung yang berisi medium cair tidak boleh digerakkan atau dikocok

sebelum pertumbuhan diamati. Sel mikroba yang berukuran lebih besar akan lebih cepat mengendap seperti khamir. Oleh karena itu jika kultur akan dipindahkan ke tabung lainnya, tabung harus terlebih dahulu dikocok (Dwijoseputro, 1998). 2.4. Uraian medium 2.4.1. Medium PDA Medium PDA dibuat dengan melarutkan 39 gram potato dektrosa agar (PDA) ke dalam 1000 mL air suling. Diaduk dan dipanaskan sampai larut kemudian disterilisasi dalam autoklaf selama 15 menit pada temperatur 121 oC dan tekanan atmosfer 1,5 lbs (Nurhasanah, 2008). 2.4.2. Medium NA Medium nutrient agar (NA) dibuat dengan melarutkan 23 gram nutrient agar (NA) dalam 1000 mL air suling. Diaduk kemudian dipanaskan sampai larut dan disterilisasi dengan autoklaf Selama 15 menit pada temperatur 121 oC dan tekanan atmosfer 1,5 lbs (Nurhasanah, 2008). 2.4.3. Medium NB Untuk nutrient broth dibuat dari campuran 0,5 gram ekstrak ragi, 0,2 gram pepton dan 025 gram NaCl yang dilarutkan dalam 50 mL aquades pada Erlenmeyer. Untuk nutrient agar dilarutkan dalam aquades 150 mL pada Erlenmeyer (kurang lebih untuk 6 buah cawan petri berukuran diameter 10 cm). Media yang akan digunakan didinginkan terlebih dahulu sebelum digunakan (Mulyadi, 2013). Kegunaan untuk penanaman non mikroorganisme. Nutrient broth adalah adalah medium cair yang diproduksi sesuai dengan rumus APHA dan ADAC dan mendukung pertumbuhan berbagai macam mikroorganisme yang tidak khusus dalam gizi kebutuhan. Nutrient broth digunakan dalam beberapa prosedur laboratorium sebagai indikator karbohidrat cairan garam. Media ini sangat cocok

60

digunakan untuk menganalisis prosedur bakteriologis pada produk cair dan susu (Conda, 2012) 2.4.4. Medium PDB Komposisi dari medium Potato dekstrosa agar (PDB) ialah menggunakan 200 gram kentang, 10 gram dektrosa. Isolat jamur selama 1 jarum ose, diinokulasi ke dalam media PDB (Mulyani, 2013) Kegunaan Potato dekstrosa agar adalah untuk budidaya jamur dasar cetakan dan produksi pigmen di beberapa demar tophlex yang mendorong pertumbuhan jamur (Conda, 2012).

61

BAB III METODE KERJA 3.1. Alat dan Bahan 3.1.1. Alat a. b. c. d. e. f. g. h. a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. Autoklaf Batang pengaduk Labu Erlenmeyer Lemari pendingin Pemanas listrik Sendok tanduk Spatula besi Timbangan analitik Agar Air suling Aluminium foil Benang godam Ekstrak daging Etiket Kapas Media NA (Nutrient Agar) Media NB (Nutrient Broth) Media PDA (Potato Dekstrosa Agar) Media PDB (Potato Dekstrosa Broth) Pepton

3.1.2. Bahan

62

3.2. Prosedur Kerja 3.2.1. Pembuatan medium NB (Nutrient Broth) a. b. c. a. b. c. d. a. b. c. d. a. b. c. d. Dimasukkan 0,4 g NB sintetik dalam labu Erlenmeyer, tambah aquades ad 50 mL Dilarutkan kemudian ditutup kapas dan disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 121 oC Didinginkan dan disimpan dalam lemari pendingin Dimasukkan 3,9 g PDA sintetik dalam labu Erlenmeyer ditambah aquades sampai 100 mL Dilarutkan sambil dipanaskan di atas kompor listrik dan diaduk-aduk hingga mendidih Ditutup kapas dan aluminium foil dan disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 121 oC Didinginkan dan disimpan dalam lemari pendingin Dimasukkan 0,4 g beef ditambah 2,25 g agar dan 0,75 g pepton dalam labu erlenmeyer, ditambah aquades ad 50 mL Dilarutkan sambil dipanaskan di kompor listrik dan diaduk-aduk hingga mendidih Ditutup kapas dan aluminium foil dan disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 121 oC Dinginkan dan simpan dalam lemari pendingin Dimasukkan 0,72 g medium PDB sintetik dalam labu Elenmeyer, ditambah aquades ad 30 mL Dilarutkan sambil dipanaskan di kompor listrik dan diaduk-aduk hingga mendidih Ditutup kapas dan aluminium foil dan disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 121 oC Didinginkan dan disimpan dalam lemari pendingin 3.2.4. Pembuatan Medium PDB (Potato Dekstrosa Broth) 3.2.3. Pembuatan Medium NA (Nutrient Agar) 3.2.2. Pembuatan medium PDA (Potato Dekstrosa Agar)

63

BAB IV HASIL PENGAMATAN 4.1. Tabel Pengamatan Media PDA PDB NA Sebelum sterilisasi Warna Konsistensi Kuning Cair kecoklatan Kuning Cair kecoklatan Kuning Cair kecoklatan Kuning kecoklatan Cair Setelah sterilisasi Warna Konsistensi Kuning Cair keemasan Kuning Cair kecoklatan Kuning Cair keemasan Kuning kecoklatan Cair Setelah pengamatan Warna Konsistensi Kuning Padat coklat Kuning Cair muda Kuning Padat bening Kuning muda jernih cair

NB

64

4.2. Gambar Pengamatan 4.2.1.Medium PDA LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FARMASI UNIVERSITAS MULAWARMAN
a

a. Keterangan: a. Kapas b. Labu Erlenmeyer c. Medium PDA d. Warna kuning keemasan

Medium PDA ( Potato Dekstrosa Agar )

4.2.2. Medium PDB

65

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FARMASI UNIVERSITAS MULAWARMAN

Keterangan: a. Kapas b. Labu Erlenmeyer c. Medium PDB d. Warna kecoklatan

Medium PDB ( Potato Dekstrosa Broth)

4.2.3. Medium NA

66

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FARMASI UNIVERSITAS MULAWARMAN


a

Keterangan: a. Kapas b. Labu Erlenmeyer c. Medium NA d. Warna kuning keemasan

Medium NA ( Nutrient Agar )

4.2.4. Medium NB

67

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FARMASI UNIVERSITAS MULAWARMAN


a

Keterangan: a. Kapas b. Labu Erlenmeyer c. Medium NB d. Warna kuning kecoklatan

b d c

Medium NB ( Nutrient Broth)

4.3. Perhitungan 4.3.1. Pembuatan medium PDA (Potato Dekstrosa Agar) Volume medium yang akan dibuat 100 mL Komposisi PDA instant = 39 g dalam 1 L

Jadi, dilarutkan 3,9 g PDA sintetik dalam

aquades.

4.3.2. Pembuatan Medium PDB (Potato Dekstrosa Broth)

68

Volume medium yang akan dibuat 30 mL Komposisi PDB instant = 24 g dalam 1 L

Jadi, dilarutkan

g PDB sintetik dalam

aquades.

4.3.3. Pembuatan medium NB (Nutrient Broth) Volume medium yang akan dibuat 50 mL Komposisi NB instant = 8 g dalam 1 L

Jadi, dilarutkan

g NB sintetik dalam

aquades.

4.3.4. Pembuatan Medium NA (Nutrient Agar) Volume medium yang akan dibuat 150 mL Komposisi NA : Ekstrak daging Pepton Agar Aqua ad 1L 3g 5g 15 g

Jadi, dilarutkan

ekstrak daging,

, dan 2,25 g agar dalam

150 g agar dalam 150 mL aquades.

69

BAB V PEMBAHASAN Medium adalah bahan yang disiapkan khusus untuk pertumbuhan, penyimpanan, dan transportasi mikroorganisme atau segala jenis sel lain. Medium yang digunakan harus sesuai susunan dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Medium harus steril, agar tidak ada mikroba kontaminan yang tumbuh di dalamnya. Selain itu medium harus memiliki kandungan nutrient dan zat-zat yang sesuai dengan jenis dan tujuan medium tersebut. Berdasarkan kandungan medium dibagi menjadi tiga yaitu sintetis, semi sintetis, dan non sintetis. Media sintetis yaitu media yang komposisinya diketahui jenis dan takarannya secara pasti. Media semi sintetis komposisinya diketahui secara pasti, contohnya PDA (Potato Dekstrosa Agar). Media non sintetis yang dibuat dengan komposisi yang tidak dapat diketahui secara pasti, contohnya medium yang menggunakan ekstrak daging. Berdasarkan wadahnya medium agar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu medium agar miring, medium agar tegak. Medium agar miring yaitu medium yang menggunakan agar sebagai pemadatnya, begitu pula dengan medium agar tegak. Perbedaan antara agar miring dan tegak hanya pada posisi saat dibekukan saja, apabila medium agar miring dipadatkan dengan posisi tabung reaksi diletakkan dengan kemiringan 10o, sedangkan pada medium agar tegak dipadatkan dengan cara diletakkan pada posisi tegak. Percobaan ini yaitu membuat medium PDA, NA, PDB, dan NB. PDA (Potato Dekstrosa Agar) adalah medium padat atau semi padat yang digunakan untuk medium pertumbuhan jamur, yang mengandung ekstrak kentang, dekstrosa dan agar. Kentang berfungsi sebagai sumber karbohidrat, vitamin dan energi. Dekstrosa berfungsi sebagai sumber gula dan energi. Agar sebagai agen pemadat dengan aquades sebagai pelarut . Kandungan agar dapat digunakan sebagai bahan pemadat sekitar 1,5-2 %. PDA instan yaitu 39 g serbuk dalam 1 Liter. Karena

70

volume medium yang dibuat adalah 100 mL maka jumlah medium PDA yang ditimbang adalah 3,9 g. NA (Nutrient Agar) adalah medium yang konsistensinya padat yang biasa digunakan untuk medium pertumbuhan bakteri yang berwarna kuning kecoklatan. Stok medium NA mempunyai komposisi ekstrak daging 3 g, pepton 5 g, agar 15 g yang dilarutkan dalam 1 Liter aquades. Ekstrak daging mengandung nitrogen organik dan senyawa karbon yang berfungsi sebagai sumber vitamin. Pepton berfungsi sebagai sumber utama nitrogen organik dan sumber nutrisi. Agar untuk memadatkan medium serta aquades untuk melarutkan agar, pepton dan daging. Karena volume yang dibuat 150 mL maka jumlah ekstrak daging yang dtimbang adalah 0,45 g, pepton 0,75 g dan agar 2,25 g. PDB (Potato Dextrosa Broth) adalah medium cair yang digunakan untuk pertumbuhan jamur, yang mengandung ekstrak kentang, dektrosa dan air sebagai pelarutnya. Medium ini memiliki konsentrasi cair karena tidak mengandung bahan pemadat (agar) dan berwarna kuning. PDB instan yaitu 24 g serbuk dalam 1 Liter. Karena volume medium yang dibuat adalah 30 mL maka jumlah medium PDB yang ditimbang adalah 0,72 g. NB (Nutrient Broth) adalah medium cair yang digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan bakteri, memilik konsistensi cair dan berwarna kuning muda jernih. Medium NB mengandung ekstrak daging, pepton dan aquades sebagai pelarutnya. Ekstrak daging mengandung nitrogen organik dan senyawa karbon yang berfungsi sebagai sumber vitamin. NB instan yaitu 8 g serbuk dalam 1 Liter. Karena volume medium yang dibuat adalah 50 mL maka jumlah medium NB yang ditimbang adalah 0,4 g. Cara pembuatan media padat atau media agar adalah dengan melarutkan serbuk atau padatan medium dalam aquades sambil dipanaskan hingga homogen. Setelah itu ditutup mulut Erlenmeyer menggunakan kapas dan alumunium foil dan disterilkan. Tutup pada Erlenmeyer berguna untuk memblok masuknya mikroorganisme ke dalam medium setelah sterilisasi untuk tetap steril. Sedangkan cara pembuatan medium cair atau media broth adalah dengan melarutkan serbuk atau padatan medium dalam aquades tanpa pemanasan karena tidak ada agar yang

71

perlu diproses menjadi padat. Agar adalah suatu kompleks polisakarida yang diperoleh dari alga merah (red algae). Agar memiliki komposisi kimia berupa Dgalaktosa, 3,6-anhidro-L-galaktosa, D-glucorinic acid. Agar sebagai bahan pembeku akan mencair saat didihkan, kemudian didinginkan pada suhu 40-42 oC sebelum dibekukan. Media agar ini tidak akan mencair lagi kecuali pada suhu 8090 oC. Dalam pembuatan medium yang perlu diperhatikan adalah pada saat pemanasan, Erlenmeyer harus sambil digoyang agar tidak terlalu panas dan gosong, dilakukan secara aseptis. Sterilisasi medium dilakukan menggunakan otoklaf pada suhu 121 C selama 2 jam karena otoklaf merupakan alat sterilisasi menggunakan uap air bertekanan tinggi yang tidak mengakibatkan menguapnya medium, sedangkan jika menggunakan oven dikhawatirkan akan menguapkan medium karena udara panas kering pada oven. Prinsip sterilisasinya menggunakan uap basah adalah dimana panas yang digunakan tidak langsung mengenai bahan atau peralatan secara langsung tapi melalui media berupa uap air atau air. Prinsip penggunaan autoklaf dimana uap bertekanan tinggi diinjeksikan ke dalam chamber dimana peralatan disterilisasi. Media kemudian disimpan dalam lemari pendingin agar medium awet dan terhindar dari kontaminan.

72

BAB VI PENUTUP 6.1. Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: a. b. c. d. Medium PDA memiliki konsistensi padat dan digunakan sebagai medium pertumbuhan jamur Medium PDB memiliki konsistensi cair dan digunakan sebagai medium pertumbuhan jamur Medium NA memiliki konsistensi padat dan digunakan sebagai medium pertumbuhan bakteri Medium NB memiliki konsistensi cair dan digunakan sebagai medium pertumbuhan bakteri. 6.2. Saran Dalam pembuatan medium seharusnya lebih teliti dalam perhitungan bahan untuk medium agar karena bakteri sangat membutuhkan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan sehingga hasil pengamatan tidak menjadi bias.

73