Anda di halaman 1dari 5

Borang Portofolio Kasus Medis No. ID dan Nama Peserta 2010.02.01.63/ dr. Dian Rosanti Khalid No.

ID dan Nama Wahana RSUD Kota Padang Panjang Topik Oxyuriasis Tanggal (kasus) 03 Maret 2010 Nama Pasien M. R No. RM 2876 Tanggal Presentasi 10 April 2010 Pendamping dr. Endayani T, MPH Tempat Presentasi Ruang Konfrens RSUD Kota Padang Panjang Objektif Presentasi Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil Anak, laki-laki, usia 3 tahun, datang dengan keluhan gatal pada anus sejak 7 hari Deskripsi yang lalu Tujuan Menegakkan diagnosis, penatalaksanaan dan pencegahan Oxyuriasis Bahan Tinjauan Pustaka Riset Audit Bahasan Kasus Cara Membahas Diskusi Presentasi dan Diskusi E-mail Pos Data Pasien Nama : M. R No. Registrasi : 2876 Nama RS : RSUD Kota Padang Panjang Telp : Terdaftar sejak : Data Utama untuk Bahan Diskusi : 1. Diagnosis / Gambaran Klinis : Oxyuriasis, gatal pada anus sejak 7 hari yang lalu, terutama pada malam hari, ibu pasien pernah melihat cacing kecil berwarna putih keluar dari anus pasien. Pasien rewel dan nafsu makannya menurun. 2. Riwayat Pengobatan : Sudah mendapatkan Pirantel Pamoat 1 1/5 tablet, tetapi belum ada perbaikan. 3. Riwayat Kesehatan / Penyakit : Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya. 4. Riwayat Keluarga : Anak kedua dari 2 orang bersaudara, tinggal bersama orang tua. Kakak pasien menderita sakit seperti ini 3 minggu sebelum pasien. 5. Riwayat Pekerjaan : 6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik : Tinggal bersama orang tua dan 1 orang kakak, rumah semi permanen, ventilasi kurang baik, hygiene dan sanitasi kurang baik, jarak rumah dengan rumah tetangga dekat. 7. Riwayat Imunisasi (disesuaikan dengan pasien dan kasus) : lengkap. 8. Lain-lain : -

Daftar Pustaka : 1. Buku Parasitologi Kedokteran FKUI. 2. Buku Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2008. Hasil Pembelajaran :
1

1. 2. 3. 4. 5.

Diagnosis Oxyuriasis. Edukasi mengenai faktor resiko yang menyebabkan terjadinya penyakit Oxyuriasis. Tata laksana pasien Oxyuriasis. Pencegahan penyakit Oxyuriasis dari segi lingkungan. Edukasi pada orangtua tentang Oxyuriasis.

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio 1. Subjektif : Gatal pada anus sejak 7 hari yang lalu. Gatal terutama dirasakan pada malam hari. Ibu pasien pernah melihat cacing keluar dari anus pasien saat pasien mengeluhkan gatal pada malam hari. Cacing berukuran kecil, tipis, dan berwarna putih. Ibu kemudian membawa pasien berobat ke Poskeskel dekat rumah pasien. Pasien mendapat obat Pyrantel Pamoat 2 tablet. Pasien disuruh memakan 1 1/5 tablet, tetapi pasien hanya makan 1 tablet. Karena keluhan masih dirasakan pasien, ibu pasien membawa pasien berobat ke puskesmas. Tidur kurang sejak 7 hari yang lalu. Pasien menjadi lebih rewel dan kurang nafsu makan. Demam tidak ada. Batuk tidak ada. Sesak nafas tidak ada. Keluar cacing melalui mulut atau hidung tidak ada. Mual tidak ada. Muntah tidak ada. Sakit perut tidak ada. Gatal pada tempat lain tidak ada. BAK jumlah dan warna biasa. BAB warna dan konsistensi biasa. Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya. Riwayat penyakit keluarga: kakak pasien menderita sakit seperti ini 3 minggu yang lalu. Riwayat kehamilan ibu : selama hamil ibu tidak pernah menderita penyakit berat, kontrol secara teratur, hamil cukup bulan. Riwayat persalinan : Lahir spontan ditolong bidan, saat lahir langsung menangis kuat, berat badan lahir 3400 gram, panjang badan 46 cm, tidak ada riwayat kejang, biru, dan kuning saat lahir. Riwayat imunisasi : lengkap Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik : Tinggal bersama orang tua dan 1 orang kakak, rumah semi permanen, ventilasi kurang baik, hygiene dan sanitasi kurang baik, jarak rumah dengan rumah tetangga dekat. 2. Objektif : a. Vital sign KU : sakit sedang
2

Kesadaran : sadar/aktif Frekuensi nadi: 84 x/menit Frekuensi nafas: 14 x /menit Suhu : 37,5 0C Berat badan : 15 kg Tinggi badan : 92 cm sianosis(-), pucat(-), ikterik(-)

b. Pemeriksaan sistemik Kulit : Teraba hangat, tidak pucat, tidak ikterik, tidak sianosis. Kepala : Bentuk normal, rambut hitam, tidak mudah dicabut. Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor, diameter 2 mm, refleks cahaya +/+ Normal. THT : Tidak ada kelainan. Mulut : Mukosa mulut dan bibir basah. Leher : Tidak ada kelainan. KGB : Tidak teraba pembesaran KGB pada leher, axilla, dan inguinal. Thoraks : Jantung dan paru dalam batas normal. Abdomen Inspeksi : tidak membuncit. Palpasi : distensi (-), hepar dan lien tidak teraba. Perkusi : timpani. Auskultasi : bising usus (+) Normal. Punggung : Tidak ada kelainan. Alat kelamin : Tidak ada kelainan. Anus : Terlihat luka lecet bekas garukan pada kulit di sekitar anus. Ekstremitas : Akral hangat, refilling kapiler baik, sianosis (-), kuku tangan panjang dan berwarna hitam, refleks fisiologis +/+, refleks patologis -/-. c. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan darah tidak dapat dilakukan karena di puskesmas hanya dapat dilakukan pemeriksaan labor sederhana. 2. Pemeriksaan tinja juga tidak dapat dilakukan karena reagen expired.

3. Assesment (penalaran klinis) : Pasien ini didiagnosis oxyuriasis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis ditemukan gejala klinis pada pasien ini adalah gatal pada anus yang dirasakan terutama pada malam hari. Pasien juga mengalami penurunan nafsu makan, menjadi lebih rewel, dan sulit tidur. Selain itu, ibu pasien juga pernah melihat cacing kecil, tipis, berwarna putih keluar dari anus pasien saat malam hari. Gejalagejala diatas sesuai dengan gejala klinis oxyuriasis pada literatur. Penemuan cacing oleh ibu pasien menjadi tanda patognomonis untuk penyakit ini. Dari pemeriksaan fisik hanya ditemukan luka bekas garukan pada anus pasien. Status gizi pasien baik dan tidak ditemukan tanda-tanda anemia pada pasien ini. Di literatur juga disebutkan bahwa jarang kasus oxyuriasis yang menyebabkan gizi kurang dan anemia. Diagnosis pasti dari oxyuriasis adalah ditemukannya cacing atau telur cacing. Pada pasien ini tidak dapat dilakukan pemeriksaan feses karena reagennya telah kadaluarsa. Selain itu, pada literatur disebutkan jarang sekali kita dapat menemukan telur cacing kremi pada feses pasien. Pasien ini diterapi dengan pirantel pamoat 150 mg dosis tunggal, dan dianjurkan untuk kembali 2 minggu kemudian jka keluhan tidak berkurang. Kemudian diberikan CTM 3 x 2 mg untuk 3 hari. Selain itu juga diberikan penyuluhan mengenai seluk beluk penyakit cacing kremi ini, mulai dari pengertian, penyebab, gejala penyakit, penularan, pengobatan, komplikasi dan prognosis. Hal yang lebih penting lagi adalah menganjurkan seluruh anggota keluarga untuk berobat ke puskesmas. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah mencuci tangan dengan menggunakan sabun sebelum makan, setelah bermain, dan BAB, memotong kuku dan menjaga kebersihan kuku, menghilangkan kebiasaan menggigit kuku, mencuci sprei minimal 2x / minggu, membersihkan jamban setiap hari, dan menghindari penggarukan pada anus karena akan mencemari jari-jari tangan dan dapat menyebabkan terjadinya luka pada kulit tersebut.

4. Plan : Diagnosis klinis : Oxyuriasis. Diagnosis sosial : Kurangnya kebersihan lingkungan tempat tinggal. Pengobatan : a. Promotif : Diberikan penyuluhan mengenai seluk beluk penyakit cacing kremi ini, Mulai dari pengertian, penyebab, gejala penyakit, penularan, pengobatan, komplikasi dan prognosis. Seluruh anggota keluarga dianjurkan untuk berobat ke puskesmas. b. Preventif : Mencuci tangan dengan menggunakan sabun sebelum makan, setelah bermain, dan BAB. Memotong kuku dan menjaga kebersihan kuku. Menghilangkan kebiasaan menggigit kuku. Mencuci sprei minimal 2x / minggu. Membersihkan jamban setiap hari. Menghindari penggarukan pada anus karena akan mencemari jari-jari tangan dan dapat menyebabkan terjadinya luka pada kulit tersebut. c. Kuratif : Pyrantel Pamoat 1 x 150 mg ( 1 1/5 tablet ) dosis tunggal. Kepada ibu pasien diterangkan agar datang kembali ke puskesmas 2 minggu kemudian. CTM 3 x tablet. Pendidikan : Kepada orangtua dijelaskan mengenai penyakit ini dan cara mencegahnya. Apabila ada anggota keluarga yang menunjukkan gejala penyakit ini segera bawa berobat ke puskesmas atau ke RS terdekat. Pencegahan pada penyakit ini sangat penting karena faktor resiko penyakit ini adalah faktor hygiene dan lingkungan yang kurang baik. Konsultasi : Perlu dilakukan konsultasi kepada spesialis anak apabila terdapat komplikasi dari penyakit ini, seperti gangguan pertumbuhan atau gangguan gizi.