Anda di halaman 1dari 46

Laporan Individu 5 Mei 2013

INISIASI MENYUSU DINI, BAYI BERAT LAHIR RENDAH, HIPOTERMI NEONATUS dan JENIS JENIS SKOR PADA BBLR LAPORAN TUTORIAL MODUL 1 BAYI BERAT LAHIR RENDAH BLOK REPRODUKSI

DISUSUN OLEH : NAMA NO. STAMBUK KELOMPOK PEMBIMBING : Andry Aulia Zulkarnaen : 11 777 024 : VI ( enam ) : 1. dr. Mayalisa Diantamaela 2. dr. Machyono

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ALKHAIRAAT PALU 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. SKENARIO 3 : Seorang bayi laki-laki lahir spontan di puskesmas dari seorang ibu berumur 40 tahun. Berat lahir 1500 gram, skor Ballard 20. Saat lahir bayi segera menangis, ketuban pecah saat lahir, jernih dan tidak berbau. Bayi mulai disusui 2 jam setelah lahir, tetapi isapan bayi tampak lemah. Empat jam setelah lahir bayi tampak sesak, frekuensi napas 70 x per menit, retraksi di daerah subcostal, tidak tampak biru, dan pada auskultasi terdengar expiratory grunting. Suhu aksiler 36,3 C. Dua hari kemudian wajah dan daerah dada bayi tampak kuning.

B. KATA SULIT Lahir spontan Skor Ballard 20 Retraksi subcostal Expiratory grunting C. KATA KUNCI Bayi laki-laki lahir spontan Ibu berumur 40 tahun Berat lahir 1.500 gram Skor Ballard 20 Ketuban pecah saat lahir, jernih, dan tidak berbau Bayi menyusui 2 jam setelah lahir tetapi isapan bayi tampak lemah Empat jam setelah lahir bayi tampak sesak, frekuensi napas 70x/menit Retraksi pada daerah subcostal Tidak tampak biru Pada auskultasi terdengar expiratory grunting

Suhu aksiler 36,30C Dua hari kemudian wajah dan daerah dada bayi tampak kuning.

C. PERTANYAAN 1. Mengapa wajah dan daerah dada bayi tampak kuning? 2. Bagaimana pembagian kehamilan menurut WHO? 3. Klasifikasi BBLR? 4. Definisi BBLR dan etiologi BBLR? 5. Mekanisme retraksi subkostal, expiratory grunting? 6. Masalah yang timbul pada bayi lahir rendah? 7. Bagaimana karakteristik BBLR? 8. Bagaimana pencegahan BBLR? 9. Bagaimana penanganan BBLR? 10. Apa perbedaan ikterus patologis dan fisiologi? 11. Masalah apa yang timbul bayi disapih setelah lahir? 12. Kapan pecah air ketuban dan karakteristik ketuban normal? 13. Evaluasi pernapasan pada skenario? 14. Hubungan BBLR dengan gejala pada skenario? 15. Apakah ada hubungan umur ibu dengan BBLR? 16. Penyakit apa yang berhubungan pada skenario?

BAB II PEMBAHASAN INISIASI MENYUSU DINI A. Pengertian ASI merupakan makanan pertama, utama dan terbaik bagi bayi yang bersifat alamiah. ASI mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan bayi. Definisi WHO menyebutkan bahwa ASI ekslusif yaitu bayi hanya diberi ASI saja, tanpa cairan atau makanan padat

apapun kecuali vitamin, mineral atau obat dalam bentuk tetes atau sirup sampai usia 6 bulan. Sebelum tahun 2001, World Health Organization (WHO)

merekomendasikan untuk memberikan ASI eksklusif selama 4-6 bulan. Namun pada tahun 2001, setelah melakukan telaah artikel penelitian secara sistematik dan berkonsultasi dengan para pakar, WHO merevisi rekomendasi ASI eksklusif tersebut dari 4-6 bulan menjadi 6 bulan (180 hari), kemudian dilanjutkan selama 2 tahun dengan panambahan makanan pendamping yang tepat waktu, aman, benar dan memadai Pemberian ASI secara dini dan ekslusif sekurang-kurangnya 4-6 bulan akan membantu mencegah berbagai penyakit anak, termasuk gangguan lambung dan saluran nafas, terutama asma pada anak-anak. Hal ini disebabkan adanya antibody penting yang ada dalam kolostrum ASI (dalam jumlah yang lebih sedikit), akan melindungi bayi baru lahir dan mencegah timbulnya alergi. Untuk alasan tersebut, semua bayi baru lahir harus mendapatkan colostrum. Selain itu inisiasi menyusu dini dan ASI ekslusif. selama 6 bulan pertama dapat mencegah kematian bayi dan infant yang lebih besar dengan mereduksi risiko penyakit infeksi, hal ini karena : a. Adanya kolostrum yang merupakan susu pertama yang mengandung sejumlah besar faktor protektif yang memberikan proteksi aktif dan pasif terhadap berbagai jenis pathogen.

b. ASI esklusif dapat mengeliminasi mikroorganisme pathogen yang yang terkontaminasi melalui air, makanan atau cairan lainnya. Juga dapat mencegah kerusakan barier imunologi dari kontaminasi atau zat-zat penyebab alergi pada susu formula atau makanan.

B.

Komposisi ASI Air susu ibu (ASI) selalu mengalami perubahan selama beberapa periode

tertentu. Perubahan ini sejalan dengan kebutuhan bayi: a. Kolostrum Kolostrum terbentuk selama periode terakhir kehamilan dan minggu pertama setelah bayi lahir. ia merupakan ASI yang keluar dari hari pertama sampai hari ke-4 yang kaya zat anti infeksi dan berprotein tinggi. Kandungan proteinnya 3 kali lebih banyak dari ASI mature. Cairan emas ini encer dan seringkali berwarna kuning atau dapat pula jernih yang mengandung sel hidup yang menyerupai sel darah putih yang dapat membunuh kuman penyakit. Kolostrum merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan mekonium dari usus bayi yang baru lahir. Volumenya bervariasi antara 2 dan 10 ml per feeding per hari selama 3 hari pertama, tergantung dari paritas ibu. b. ASI peralihan/transisi Merupakan ASI yang dibuat setelah kolostrum dan sebelum ASI Mature (Kadang antara hari ke 4 dan 10 setelah melahirkan). Kadar protein makin merendah, sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin tinggi. Volumenya juga akan makin meningkat c. ASI mature ASI matang merupakan ASI yang keluar pada sekitar hari ke-14 dan seterusnya, komposisi relative konstan. Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI cukup, ASI merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur enam bulan, Tidak menggumpal jika dipanaskan

Tabel 1. Komposisi kolostrum dan ASI (setiap 100 ml)

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Zat-zat Gizi Energi Protein Kasein Laktosa Lemak Vitamin A Vitamin B1 Vitamin B2 Vitamin B12 Kalsium Zat besi Fosfor

Satuan Kkal G Mg G G Ug Ug Ug Ug Mg Mg Mg

Kolostrum 58.0 2.3 140.0 mg 5.3 2.9 151.0 1.9 30.0 0.05 39.0 70.0 14.0

ASI 70 0.9 187.0 7.3 4.2 75.0 14.0 40.0 0.1 35.0 100.0 15.0

C.

Kandungan nutrisi dalam ASI ASI mengandung komponen makro dan mikro nutrisi. Yang termasuk

makronutrien adalah karbohidrat, protein dan lemak sedangkan mikronutrien adalah vitamin dan mineral. a. Karbohidrat Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah satu sumber energi untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir dua kali. rasio jumlah laktosa dalam ASI dan PASI adalah 7 : 4 sehingga ASI terasa lebih manis dibandingkan dengan PASI, Hal ini menyebabkan bayi yang sudah mengenal ASI dengan baik cenderung tidak mau minum PASI. Karnitin mempunyai peran membantu proses pembentukan energi yang diperlukan untuk mempertahankan metabolisme tubuh. Konsentrasi karnitin bayi yang mendapat ASI lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapat susu formula. Hidrat arang dalam ASI merupakan nutrisi yang penting untuk pertumbuhan sel syaraf otak dan pemberi energi untuk kerja sel-sel syaraf.

Selain itu karbohidrat memudahkan penyerapan kalsium mempertahankan faktor bifidus di dalam usus (faktor yang menghambat pertumbuhan bakteri yang berbahaya dan menjadikan tempat yang baik bagi bakteri yang menguntungkan) dan mempercepat pengeluaran kolostrum sebagai antibodi bayi b. Protein Protein dalam ASI lebih rendah dibandingkan dengan PASI. Namun demikian protein ASI sangat cocok karena unsur protein di dalamnya hampir seluruhnya terserap oleh sistem pencernaan bayi yaitu protein unsur whey. Perbandingan protein unsur whey dan casein dalam ASI adalah 65 : 35, sedangkan dalam PASI 20 : 80. Artinya protein pada PASI hanya sepertiganya protein ASI yang dapat diserap oleh sistem pencernaan bayi dan harus membuang dua kali lebih banyak protein yang sukar diabsorpsi. Hal ini yang memungkinkan bayi akan sering menderita diare dan defekasi dengan feces berbentuk biji cabe yang menunjukkan adanya makanan yang sukar diserap bila bayi diberikan PASI. c. Lemak Kadar lemak dalam ASI pada mulanya rendah kemudian meningkat jumlahnya. Lemak dalam ASI berubah kadarnya setiap kali diisap oleh bayi dan hal ini terjadi secara otomatis. Komposisi lemak pada lima menit pertama isapan akan berbeda dengan hari kedua dan akan terus berubah menurut perkembangan bayi dan kebutuhan energi yang diperlukan. Jenis lemak yang ada dalam ASI mengandung lemak rantai panjang yang dibutuhkan oleh sel jaringan otak dan sangat mudah dicerna karena mengandung enzim Lipase. Lemak dalam bentuk Omega 3, Omega 6 dan DHA yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan sel-sel jaringan otak. Susu formula tidak mengandung enzim, karena enzim akan mudah rusak bila dipanaskan. Dengan tidak adanya enzim, bayi akan sulit menyerap lemak PASI sehingga menyebabkan bayi lebih mudah terkena diare. Jumlah asam linoleat dalam ASI sangat tinggi dan perbandinganya dengan PASI yaitu 6 : 1.

Asam linoleat adalah jenis asam lemak yang tidak dapat dibuat oleh tubuh yang berfungsi untuk memacu perkembangan sel syaraf otak bayi d. Mineral ASI mengandung mineral yang lengkap walaupun kadarnya relatif rendah, tetapi bisa mencukupi kebutuhan bayi sampai berumur 6 bulan. Zat besi dan kalsium dalam ASI merupakan mineral yang sangat stabil dan mudah diserap dan jumlahnya tidak dipengaruhi oleh diet ibu. Dalam PASI kandungan mineral jumlahnya tinggi tetapi sebagian besar tidak dapat diserap, hal ini akan memperberat kerja usus bayi serta mengganggu keseimbangan dalam usus dan meningkatkan pertumbuhan bakteri yang merugikan sehingga mengakibatkan kontraksi usus bayi tidak normal. Bayi akan kembung, gelisah karena obstipasi atau gangguan metabolisme. e. Vitamin ASI mengandung vitamin yang lengkap yang dapat mencukupi kebutuhan bayi sampai 6 bulan kecuali vitamin K, karena bayi baru lahir ususnya belum mampu membentuk vitamin K. Kandungan vitamin yang ada dalam ASI antara lain vitamin A, vitamin B dan vitamin C.

D.

Volume ASI Pada bulan-bulan terakhir kehamilan sering ada sekresi kolostrum pada

payudara ibu hamil. Setelah persalinan apabila bayi mulai mengisap payudara, maka produksi ASI bertambah secara cepat. Dalam kondisi normal, ASI diproduksi sebanyak 10- 100 cc pada hari-hari pertama. Produksi ASI menjadi konstan setelah hari ke 10 sampai ke 14. Bayi yang sehat selanjutnya

mengkonsumsi sebanyak 700-800 cc ASI per hari. Namun kadang-kadang ada yang mengkonsumsi kurang dari 600 cc atau bahkan hampir 1 liter per hari dan tetap menunjukkan tingkat pertumbuhan yang sama. Keadaan kurang gizi pada ibu pada tingkat yang berat, baik pada waktu hamil maupun menyusui dapat mempengaruhi volume ASI. Produksi ASI menjadi lebih sedikit yaitu hanya berkisar antara 500-700 cc pada 6 bulan pertama usia bayi, 400-600 cc pada bulan kedua dan 300-500 cc pada tahun kedua usia anak .

E.

Manfaat ASI a. Manfaat ASI bagi bayi Banyak manfaat pemberian ASI khususnya ASI ekslusif yang dapat

dirasakan yaitu (1) ASI sebagai nutrisi. (2) ASI meningkatkan daya tahan tubuh (3) menurunkan risiko mortalitas, risiko penyakit akut dan kronis, (4) Meningkatkan kecerdasan, (5) Menyusui meningkatkan jalinan kasih sayang (6) Sebagai makanan tunggal untuk memenuhi semua kebutuhan pertumbuhan bayi sampai usia selama enam bulan. (7) Mengandung asam lemak yang diperlukan untuk untuk pertumbuhan otak sehingga bayi yang diberi ASI Ekslusif lebih pandai. (8) Mengurangi resiko terkena penyakit kencing manis, kanker pada anak dan mengurangi kemungkinan menderita penyakit jantung. (9) Menunjang perkembangan motorik. b. Manfaat ASI bagi ibu Manfaat ASI bagi ibu antara lain (1) Pemberian ASI memberikan 98% metode kontrasepsi yang efisien selama 6 bulan pertama sesudah kelahiran bila diberikan hanya ASI saja (ekslusif) dan belum terjadi menstruasi kembali, (2) menurunkan risiko kanker payudara dan ovarium, (3) membantu ibu menurunkan berat badan setelah melahirkan (4) menurunkan risiko DM Tipe 2 (5) Pemberian ASI sangat ekonomis, (6) mengurangi terjadinya perdarahan bila langsung menyusui setelah melahirkan (7) mengurangi beban kerja ibu karena ASI tersedia dimana saja dan kapan saja (8) meningkatkan hubungan batin antara ibu dan bayi . c. Manfaat ASI bagi keluarga Adapun manfaat ASI bagi keluarga (1) Tidak perlu uang untuk membeli susu formula, kayu bakar atau minyak untuk merebus air, susu atau peralatan (2) Bayi sehat berarti keluarga mengeluarkan biaya lebih sedikit (hemat) dalam perawatan kesehatan dan berkurangnya kekhawatiran bayi akan sakit, (3) Penjarangan kelahiran karena efek kontrasepsi dari ASI ekslusif, (4) Menghemat waktu keluarga bila bayi lebih sehat (5) Pemberian ASI pada bayi (meneteki) berarti hemat tenaga bagi keluarga sebab ASI selalu siap tersedia .

F.

Faktor penyebab berkurangnya ASI a. Faktor Menyusui Hal-hal yang dapat mengurangi produksi ASI adalah tidak melakukan inisiasi, menjadwal pemberian ASI, bayi diberi minum dari botol atau dot sebelum ASI keluar, kesalahan pada posisi dan perlekatan bayi pada saat menyusui . b. Faktor Psikologi Ibu Persiapan psikologi ibu sangat menentukan keberhasilan menyusui. Ibu yang tidak mempunyai keyakinan mampu memproduksi ASI umunya produksi ASI akan berkurang. Stress, khawatir, ketidak bahagiaan ibu pada periode menyusui sangat berperan dalam mensukseskan pemberian ASI ekslusif. Peran keluarga dalam meningkatkan percaya diri ibu sangat besar. c. Faktor Bayi Ada beberapa faktor kendala yang bersumber pada bayi misalnya bayi sakit, prematur, dan bayi dengan kelainan bawaan sehingga ibu tidak memberikan ASI-nya menyebabkan produksi ASI akan berkurang . c. Faktor Fisik Ibu Ibu sakit, lelah, menggunakan pil kontrasepsi atau alat kontrasepsi lain yang mengandung hormon, ibu menyusui yang hamil lagi, peminum alkohol, perokok atau ibu dengan kelainan anatomis payudara dapat mengurangi produksi ASI .

G.

Faktor yang mempengaruhi ibu tidak memberikan ASI eksklusif 1. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil stimulasi informasi yang diperhatikan,

dipahami dan diingatnya. Informasi dapat berasal dari berbagai bentuk termasuk pendidikan formal maupun non formal, percakapan harian, membaca, mendengar radio, menonton televisi dan dari pengalaman hidup lainnya . Menurut Roesli (2005) , bahwa hambatan utama tercapainya ASI ekslusif yang benar adalah karena kurang sampainya pengetahuan yang benar tentang ASI ekslusif pada para ibu. Seorang ibu harus mempunyai pengetahuan yang baik

dalam menyusui. Kehilangan pengetahuan tentang menyusui berarti kehilangan besar akan kepercayaan diri seorang ibu untuk dapat memberikan perawatan terbaik untuk bayinya dan bayi akan kehilangan sumber makanan yang vital dan cara perawatan yang optimal. Pengetahuan yang kurang mengenai ASI ekslusif terlihat dari pemanfaatan susu formula secara dini di perkotaan dan pemberian atau nasi sebagai tambahan ASI di pedesaan . 2. Lingkungan Lingkungan menjadi faktor penentu kesiapan ibu untuk menyusui bayinya. Setiap orang selalu terpapar dan tersentuh oleh kebiasaan di lingkungannya serta mendapat pengaruh dari masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kebanyakan wanita di perkotaan, sudah terbiasa menggunakan susu formula dengan pertimbangan lebih modern dan praktis. Wanita yang berada dalam lingkungan modern di perkotaan lebih sering melihat ibu-ibu menggunakan susu formula sedangkan di pedesaan masih banyak dijumpai ibu yang memberikan ASI tetapi cara pemberian tidak tepat. jadi pemberian ASI secara Ekslusif di pengaruhi oleh lingkungan 3. Pengalaman Pengalaman wanita semenjak kecil akan mempengaruhi sikap dan penampilan wanita dalam kaitannya dengan menyusui di kemudian hari. Seorang wanita yang dalam keluarga atau lingkungan mempunyai kebiasaan atau sering melihat wanita yang menyusui bayinya secara teratur maka akan mempunyai pandangan yang positif tentang menyusui sesuai dengan pengalaman sehari-hari. Tidak mengherankan bila wanita dewasa dalam lingkungan ini hanya memiliki sedikit bahkan tidak memiliki sama sekali informasi, pengalaman cara menyusui dan keyakinan akan kemampuan menyusui. Sehingga pengalaman tersebut mendorong wanita tersebut untuk menyusui dikemudian harinya dan sebaliknya 4. Dukungan keluarga Lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan ibu menyusui bayinya secara esklusif. Keluarga (suami, orang tua, mertua, ipar dan sebagainya) perlu diinformasikan bahwa seorang ibu perlu dukungan dan bantuan keluarga agar ibu berhasil menyusui secara ekslusif.

Bagian keluarga yang mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap keberhasilan dan kegagalan menyusui adalah suami. Masih banyak suami yang berpendapat salah, yang menganggap menyusui adalah urusan ibu dan bayinya. Peranan suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (let down reflek) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu

A.

Perilaku inisiasi menyusu dini (IMD) dan Pemberian ASI Ekslusif Perilaku atau keterampilan adalah hasil dari latihan yang berulang, yang

dapat disebut perubahan yang meningkat atau progresif oleh orang yang mempelajari ketrampilan tersebut sebagai hasil dari aktivitas tertentu. Perilaku atau keterampilan dapat terwujud melalui hasil dari pengalaman, pengetahuan dan sikapnya. Terdapat tiga faktor utama yang dapat mempengaruhi perilaku individu atau masyarakat, yaitu: 1) faktor dasar (predisposing factors) yang meliputi: (a) pengetahuan individu; (b) sikap; (c) kepercayaan; (d) tradisi; (e) unsur-unsur yang terdapat dalam diri individu dan masyarakat dan; (f) faktor demografi; 2) faktor pendukung (enabling factors) yang meliputi: sumberdaya dan potensi masyarakat seperti lingkungan fisik dan sarana yang tersedia dan; 3) faktor pendorong

(reinforcing factors) yang meliputi sikap dan perilaku orang lain seperti teman, orang tua, dan petugas kesehatan. Begitu pula dengan perilaku pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini dan pemberian ASI Eksklusif baik oleh ibu maupun petugas kesehatan terutama bidan, semuanya sangat dipengaruhi oleh faktor faktor tersebut diatas. Faktor yang berpengaruh terhadap pelaksanaan IMD dan pemberian ASI Eksklusif terutama faktor sikap, motivasi, maupun pengetahuan, baik sikap, motivasi, dan pengetahuan ibu, maupun petugas kesehatan khususnya bidan. 1. Pengertian IMD Inisiasi menyusu dini dalam 30 menit pertama kelahiran merupakan salah satu dari 10 langkah menuju keberhasilan menyusui yang berdasarkan Inisiatif Rumah Sakit Sayang Bayi (Baby Friendly Hospital Initiative: BFHI) tahun 1992. Di dalam langkah keempat tertulis bantu ibu mulai menyusui dalam 30 menit

setelah bayi lahir dengan memfokuskan pada kemampuan alami yang ajaib bagaimana bayi memulai menyusu dengan cara bayi merangkak di dada ibunya yang disebut breast crawl dan penjelasannya yaitu Setiap bayi, saat diletakkan di perut ibunya segera setelah lahir mempunyai kemampuan untuk menemukan payudara ibunya dan mengambil minum pertamanya dengan kemampuannya sendiri. Tahun 2006 BFHI merevisi penjelasan langkah ke-4 ini menjadi Letakkan bayi dalam posisi tengkurap di dada ibunya, kontak kulit-ke-kulit dengan ibu segera setelah lahir paling sedikit selama 1 jam dan dorong ibu mengenali tandatanda bayi siap menyusu, dan bila perlu tawarkan bantuan. Dalam hal ini yang ditekankan adalah pentingnya kontak kulit-ke- kulit dan kesiapan bayi. 2. Manfaat IMD a. Manfaat Inisiasi Menyusu Dini (IMD) untuk Bayi (Bergstrom, 2007) 1). Menurunkan angka kematian bayi karena hypothermia 2) Dada ibu menghangatkan bayi dengan suhu yang tepat. 3) Bayi mendapatkan kolostrum yang kaya akan antibodi, penting untuk pertumbuhan usus dan ketahanan bayi terhadap infeksi 4) Bayi dapat menjilat kulit ibu dan menelan bakteri yang aman, berkoloni di usus bayi dan menyaingi bakteri pathogen 5) Menyebabkan kadar glukosa darah bayi yang lebih baik pada beberapa jam setelah persalinan 6) Pengeluaran mekonium lebih dini, sehingga menurunkan intensitas ikterus normal pada bayi baru lahir b. Manfaat Inisiasi Menyusu Dini (IMD) untuk Ibu 1) Ibu dan bayi menjadi lebih tenang. 2) Jalinan kasih sayang ibu dan bayi lebih baik sebab bayi siaga dalam 1-2 jam pertama. 3) Sentuhan, jilatan, usapan pada putting susu ibu akan merangsang pengeluaran hormon oxyitosin. 4) Membantu kontraksi uterus, mengurangi risiko perdarahan dan

mempercepat pelepasan plasenta

Dua studi terbaru yang melibatkan hampir 34.000 bayi yang baru lahir menunjukkan bahwa risiko kematian meningkat dengan peningkatan penundaan inisiasi menyusu. Di Ghana, neonatus 2,5 kali lebih mungkin meninggal saat inisiasi menyusu dimulai setelah 24 jam dibanding menyusui yang dimulai dalam satu jam pertama setelah lahir. Di Nepal, neonatus 1,4 kali lebih mungkin untuk meninggal jika pemberian ASI dimulai setelah 24 jam pertama. Para penulis memperkirakan bahwa sekitar seperlima dari semua kematian bayi (22% di Ghana dan 19% di Nepal) dapat dihindari jika ASI mulai diberikan dalam satu jam pertama kehidupan semua bayi yang baru lahir. Manfaat inisiasi menyusu dini khususnya bagi bayi prematur dan berat lahir rendah. IMD dan ASI ekslusif selama 6 bulan merupakan kontribusi utama dalam menurunkan mortalitas bayi dan anak-anak. Pentingnya IMD merupakan salah satu rekomendasi WHO. Berbagai studi juga telah melaporkan bahwa IMD terbukti meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif. Salariya et al menemukan bahwa bayi yang menyusu dalam 30 menit setelah lahir kemungkinan besar akan menyusu dalam jangka waktu yang lama. Ibu yang memberikan immediate breastfeeding 2 sampai 8 kali lebih besar kemungkinannya untuk memberikan ASI secara eksklusif sampai 4 bulan dibandingkan dengan ibu yang tidak immediate breastfeeding. kegagalan pelaksanaan ASI eksklusif telah dimulai sejak 3 hari pertama kelahiran yaitu pada saat makanan/minuman pralakteal diberikan. Studi kualitatif lainnya melaporkan faktor predisposisi kegagalan ASI eksklusif adalah karena faktor predisposisi yaitu pengetahuan dan pengalaman ibu yang kurang dan faktor pemungkin penting yang menyebabkan terjadinya kegagalan adalah karena ibu tidak difasilitasi melakukan IMD .

B. 1.

Manajemen Laktasi Pengertian Manajemen laktasi adalah tata laksana yang diperlukan untuk menunjang

keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaanya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya. 2. Periode dalam manajemen laktasi

a. Pada masa kehamilan (antenatal) Hal-hal yang perlu dilakukan pada masa kehamilan : 1) Memberikan komunikasi, informasi dan edukasi tentang keunggulan ASi, manfaat menyusui bagi ibu dan bayi, serta dampak negative pemberian susu formula. 2) Ibu memeriksakan kesehatan tubuh pada saat kehamilan, kondisi puting payudara dan memantau kenaikan berat badan saat hamil. 3) Ibu melakukan perawatan payudara sejak kehamilan berumur 6 bulan hingga ibu siap untuk menyusui, ini bermaksut agar ibu mampu memproduksi dan memberikan ASI yang mencukupi kebutuhan bayi. 4) Ibu senantiasa mencari informasi tentang gisi dan makanan tambahan sejak kehamilan trimester ke-2. Makanan tambahan saat hamil sebanyak 1 1/3 kali dari makanan yang dikonsumsi sebelum hamil . b. Pada masa segera setelah melahirkan Hal yang dilakukan segera setelah melahirkan : 1). Dalam waktu 30 menit setelah melahirkan, ibu dibantu dan dimotivasi agar mulai kontak dengan bayi (skin to skin contact) dan mulai meyusui bayi. Karena pada saat ini bayi dalam keadaan paling peka terhadap rangsangan, selanjutnya bayi akan mencari payudara ibu secara alamiah 1) Ibu nifas diberi kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) dalam waktu 2 minggu setelah melahirkan 2) Bayi harus disusui dengan cara yang benar, baik posisi maupun cara perlekatan bayi pada payudara ibu . c. Masa menyusui (Postnatal) Hal yang harus diperhatikan dalam manajemen laktasi setelah melahirkan: 1) Bayi hanya diberi ASI saja (Secara ekslusif) selama 6 bulan pertama usia bayi 2) Meyusui tanpa dijadwal atau setiap bayi meminta (on demand)

3) Bila bayi terpaksa dipisah dari ibukarena indikasi medik, bayi arus tetap mendapat ASI dengan cara memerah ASI untuk mempertahankan produksi ASI tetap lancar 4) Mempertahankan kecukupan gizi dalam makanan ibu menyusui seharihari. Ibu menyusui harus makan 1 kali lebih banyak dari biasanya dan minum minimal 10 gelas air per hari 5) Cukup istirahat, menjaga ketenangan pikiran dan menghindarkan kelelahan fisik yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat 6) Mengatasi bila ada masalah menyusui (payudara bengkak, bayi tidak mau menyusu, puting lecet, dll). 3. Tehnik menyusui yang benar Teknik menyusui yang benar, dapat kita amati melalui beberapa respon dari bayi, jika ibu menyusui dengan teknik yang tidak benar mengakibatkan puting susu menjadi lecet. Untuk mengetahui bayi telah menyusu dengan teknik yang benar, dapat dilihat antara lain (1) tubuh bagian depan menmpel pada tubuh ibu, (2) dagu bayi menempel pada payudara (3) dada bayi menempel pada dada ibu (4) mulut bayi terbuka lebar dengan bibir bawah yang terbuka (5) sebagian besar areola tidak tampak, (6) bayi menghisap dengan dalam dan perlahan (7) bayi tampak tenang dan puas pada akhir menyusu, (8) terkadang terdengar suara bayi menelan (9) puting susu tidak terasa sakit atau lecet .

BAYI BERAT LAHIR RENDAH

I. DEFINISI Menurut Departemen Kesehatan (1999) bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram, sehingga pertumbuhan dan pematangan (maturitas) organ dan alat-alat tubuh belum sempurna, akibatnya sering terjadi komplikasi yang berakhir dengan kematian. Berdasarkan alasan diatas, bayi berat badan lahir rendah digolongkan kedalam dua golongan : 1. Prematuritas murni Yaitu bayi yang lahir dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badan bayi sesuai dengan gestasi atau yang disebut Neonatus Kurang Bulan Sesuai untuk Masa Kehamilan (NKB-SMK). 2. Bayi small for gestational age (SGA) Yaitu berat bayi lahir tidak sesuai dengan masa kehamilan. SGA terdiri atas 3 jenis. a. Simetris (intrauterus for gestational age) Yaitu terjadi gangguan nutrisi pada awal kehamilan dan dalam jangka waktu yang lama. b. Asimetris (intrauterus growth reterdational) Yaitu terjadi deficit nutrisi pada fase akhir kehamilan. c. Dismaturitas Yaitu bayi yang lahir kurang dari berat badan yang seharusnya untuk masa gestasi dan si bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauteri serta merupakan bayi kecil untuk masa kehamilan. BBLR dapat juga dibagi menjadi 3 stadium. 1. Stadium I Bayi tampak kurus dan relatif lebih panjang, kulit longgar, kering, namun belum terdapat noda mekonium.

2. Stadium II Bila didapatkan tanda-tanda stadium I ditambah warna kehijauan pada kulit, plasenta, dan umbikulus hal ini disebabkan oleh mekonium yang tercampur dalam amnion kemudian mengendap ke dalam kulit, umbikulus dan plasenta sebagai akibat anoksia intrauterus.

3. Stadium III Ditemukan tanda stadium II ditambah kulit berwarna kuning, demikian pula kuku dan tali pusat.

Pertumbuhan alat-alat dalam tubuh bayi prematur kurang sempurna, karena itu bayi sangat peka terhadap gangguan pernafasan, infeksi, trauma kelahiran, hipotermi, dan sebagainya. Sedangkan bayi dismatur dapat lebih mudah hidup seteleh berada diluar rahim karena alat-alat dalam tubuh lebih berkembang dibandingkan bayi prematur dengan berat badan yang sama. Namun bayi akan lebih peka terhadap infeksi dan hipotermi dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan normal. Bayi dengan BBLR termasuk dalam kelompok neonatus resiko tinggi. Istilah neonatus resiko tinggi menyatakan bahwa bayi harus mendapatkan pengawasan ketat oleh para dokter dan perawat yang telah berpengalaman karena neonatus ini memilki kemungkinan lebih besar untuk mengalami kematian atau menjadi sakit berat dalam masa neonatal. Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian neonatus, maka perlu sekali kita mengenali neonatus dengan resiko tinggi sedini mungkin. BBLR merupakan salah satu dari tiga penyebab utama kematian neonatal di Indonesia. Makin rendah masa gestasi dan berat lahir bayi makin tinggi angka kematian bayi. Kehidupan bayi biasanya berakhir di ruang perawatan intensif neonatus sebagai akibat berbagai morbiditas neonatus.

II. EPIDEMIOLOGI

a. Epidemiologi Kematian Bayi BBLR Distribusi Frekuensi Kematian Bayi BBLR Bayi lahir dengan BBLR merupakan salah satu faktor resiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa perinatal. Selain itu bayi BBLR dapat mengalami gangguan mental dan fisik pada usia tumbuh kembang selanjutnya sehingga membutuhkan biaya perawatan yang tinggi. Frekuensi BBLR di Negara maju berkisar antara 3,6 10,8%, di Negara berkembang berkisar antara 10 43%. Rasio antara Negara maju dan Negara berkembang adalah 1 : 4. Menurut WHO, pada tahun 1995 hampir semua (98%) dari 5 juta kematian neonatal di negara berkembang atau berpenghasilan rendah. Lebih dari dua per tiga kematian adalah BBLR yaitu berat badan lahir kurang dari 2500 gram. Secara global diperkirakan terdapat 25 juta persalinan per tahun dimana 17% diantaranya adalah BBLR dan hampir semua terjadi di Negara berkembang. Berdasarkan hasil pengumpulan data indikator kesehatan propinsi yang berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan, proporsi BBLR pada tahun 2000 berkisar antara 0,91% (Gorontalo) dan 18,89% (Jawa Tengah), sedangkan pada tahun 2001 berkisar antara 0,54% (NAD) dan 6,90% (Sumatra Utara). Angka tersebut belum mencerminkan kondisi sebenarnya yang ada di masyarakat karena belum semua berat badan bayi yang dilahirkan dapat dipantau oleh petugas kesehatan, khususnya yang ditolong oleh dukun atau tenaga non kesehatan lainnya. Angka kematian bayi di Indonesia tercatat 51,0 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2003, masih terbilang tinggi bila di bandingkan dengan Negaranegara di bagian ASEAN. penyebab kematian bayi terbanyak adalah karena gangguan perinatal. Dari seluruh kematian perinatal sekitar 2 27% disebabkan karena kelahiran bayi BBLR. Sementara itu

prevalensi BBLR pada saat ini diperkirakan 7 14% yaitu sekitar 459.200 900.000 bayi.

III. ETIOLOGI Terjadinya BBLR merupakan hasil interaksi antara usia pertumbuhan dengan usia kandungan serta kemampuan janin untuk mencapai berat optimal saat lahir dan ditentukan oleh adanya persediaan zat-zat gizi yang cukup dalam arti kuantitas serta kualitas untuk kelanjutan tumbuh kembang anak dalam kandungan serta kemampuan ibu memelihara kehamilan sehingga cukup bulan. Secara garis besar kejadian BBLR maupun usia belum sesuai dengan masa gestasinya adalah sebagai berikut : a. Umur Ibu Tinggi rendahnya resiko dalam proses kehamilan dan persalinan sangat bergantung pada faktor usia ibu. Usia reproduksi yang optimal bagi seorang ibu adalah usia 20-35 tahun, dibawah dan diatas usia tersebut akan terjadi peningkatan resiko kehamilan dan persalinan. Pada usia yang muda, rahim dan panggul ibu seringkali belum tumbuh mencapai ukuran dewasa. Akibatnya keselamatan dan kesehatan janin dalam kandungan dapat terganggu. Keadaan mental ibu juga dinilai belum cukup dewasa sehingga belum mampu merawat diri dan kandungannya. Sementara itu, pada usia yang terlalu tua telah terjadi perubahan pada jaringan alat-alat kandungan dan jalan lahir tidak lentur lagi. Di sisi lain, ada kecendrungan ditemukan penyakit lain dalam tubuh ibu yang dapat mempengaruhi kehamilan. Usia ibu < 20 tahun beresiko 14 kali lebih besar dan usia > 35 tahun beresiko 4 kali lebih besar melahirkan bayi BBLR dibandingkan usia 20-35 tahun. b. Suku (Ras) Perbedaan kejadian BBLR pada suku bangsa lebih dikaitkan dengan kebiasaan dan pola makan yang telah dianut oleh masing-masing suku

bangsa tersebut. Hal ini sangat berpengaruh pada kondisi gizi ibu yang kemudian berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan janin. c. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan ibu dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan bayi. Dengan berbekal pendidikan yang cukup, seorang ibu dinilai lebih banyak memperoleh informasi yang dibutuhkan. Selain itu, ibu dengan tingkat pendidikan yang relatif tinggi labih mudah menyerap informasi atau himbauan yang diberikan. Dengan demikian mereka dapat memilih serta menentukan alternatif terbaik dalam melakukan perawatan dan pemeriksaan kehamilan sehingga dapat melahirkan bayi dengan berat badan lahir normal. d. Paritas Paritas merupakan jumlah persalinan yang pernah dialami ibu sebelum kehamilan/persalinan tersebut. Kejadian BBLR yang tinggi pada kelompok ibu dengan paritas rendah dihubungkan dengan faktor umur ibu yang masih terlalu muda, dimana organ-organ reproduksi ibu belum tumbuh secara sempurna dan kondisi psikis ibu yang belum siap. Sedangkan pada ibu dengan paritas tinggi, hal yang mungkin terjadi adalah gangguan-gangguan kesehatan seperti anemia, kurang gizi ataupun gangguan pada rahim. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan janin sehingga meningkatkan resiko terjadinya BBLR. e. Jarak Kehamilan Ibu hamil dengan jarak kelahiran dari anak terkecil < 2 tahun akan meningkatkan risiko terjadinya BBLR. Dalam kondisi seperti ini, ibu masih membutuhkan waktu untuk memulihkan kesehatan fisik dan rahimnya. Jarak kehamilan yang dekat dapat mempengaruhi daya tahan dan gizi ibu sehingga berpengaruh pula terhadap janin. f. Usia Kehamilan Pada kongres European Perinatal Medicine ke II disepakati ketentuan untuk keseragaman mengenai usia kehamilan yaitu: bayi kurang bulan (preterm) adalah bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37

minggu, bayi cukup bulan (aterm) adalah bayi dengan masa kehamilan 37 minggu sampai dengan 42 minggu, dan bayi lebih bulan (postterm) adalah bayi dengan masa kehamilan lebih dari 42 minggu. g. Riwayat Kehamilan Terdahulu Riwayat kehamilan dan persalinan seorang ibu memberikan gambaran tentang keadaan bayi yang sedang dikandungnya. Angka lahir mati atau krjadian BBLR cenderung meningkat pada ibu-ibu yang mempunyai riwayat kehamilan yang buruk. Saraswati, dkk (1998) menyebutkan bahwa ibu yang pernah mengalami keguguran akan berisiko 2,81 kali lebih besar untuk melahirkan bayi BBLR di bandingkan ibu yang tidak pernah mengalami keguguran. Sedangkan pada ibu yang pernah melahirkan bayi lahir mati beresiko 4,35 kali melahirkan bayi BBLR dibanding ibu yang tidak pernah melahirkan bayi lahir mati. h. Komplikasi Kehamilan Beberapa komplikasi kehamilan yang sering terjadi seperti

hiperemesis gravidarum, preeklamsi dan eklamsi, kehamilan ektopik, kelainan plasenta previa, solusio plasenta, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini,anemia, malaria, kardiovaskular dsb dapat menggangu kesehatan ibu dan pertumbuhan janin dalam kandungan sehingga meningkatkan resiko bayi lahir dengan BBLR. i. Pemeriksaan Antenatal (Antenatal Care) Semua ibu hamil diharapkan mendapatkan perawatan kehamilan oleh tenaga kesehatan. Untuk mendeteksi secara dini faktor resiko, maka semua ibu hamil perlu melakukan pemeriksaan antenatal. Pemerikasaan kehamilan paling sedikit harus dilakukan sebanyak empat kali selama masa kehamilan, yaitu satu kali pada triwulan I, satu kali pada triwulan II, dan dua kali pada triwulan III. Tidak hanya sabagai upaya deteksi dini, pemeriksaan antenatal melalui konseling dan penyediaan pelayanan juga merupakan medium yang mempromosikan perilaku kesehatan dan gizi yang baik selama hamil.

j. Status Gizi Bila makanan ibu selama hamil tidak tercukupi baik secara kuantitas maupun kualitas, maka akan berakibat pada kemunduran kesehatan janin. k. Kehamilan Kembar Adanya dua janin atau lebih dalam kandungan dapat meningkatkan resiko hambatan pertumbuhan pada salah satu atau kedua janin bila dibandingkan dengan kehamilan tunggal.

IV. PENATALAKSANAAN a. Penatalaksanaan Bayi BBLR Bayi Prematur Yang perlu diperhatikan adalah pengaturan suhu lingkungan, pemberian makanan, dan siap sedia dengan tabung oksigen. Pada bayi premature makin pendek masa kehamilan, makin sulit dan banyak persoalan yang akan dihadapi, dan makin tinggi angka kematian perinatal. Biasanya kematian disebabkan oleh gangguan pernafasan, infeksi, cacat bawaan, dan trauma pada otak. 1. Pengaturan suhu lingkungan Bayi dimasukkan dalam inkubator dengan suhu yang diatur: - Bayi berat badan dibawah 2 kg 35C - Bayi berat badan 2 kg sampai 2,5 kg 34C Suhu inkubator diturunkan 1C setiap minggu sampai bayi dapat ditempatkan pada suhu lingkungan sekitar 24-27C. 2. Makanan bayi berat badan lahir rendah Umumnya bayi prematur belum sempurna refleks menghisap dan batuknya, kapasitas lambung masih kecil, dan daya enzim pencernaan, terutama lipase, masih kurang. Maka makanan diberikan dengan pipet sedikit-sedikit namun lebih sering. Sedangkan pada bayi small for date sebaliknya kelihatan seperti orang kelaparan, rakus minum dan makan. Yang harus diperhatikan adalah terhadap kemungkinan terjadinya pneumonia aspirasi.

Bayi Kecil Untuk Masa Kehamilan (KMK) Pada umumnya sama dengan perawatan neonatus umumnya, seperti pengaturan suhu lingkungan, makanan, mencegah infeksi dan lain-lain, akan tetapi karena bayi ini mempunyai problem yang berbeda dengan bayi lainnya makan harus diperhatikan hal-hal berikut ini : a. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin serta menemukan gangguan pertumbuhan misalnya dengan pemeriksaan ultrasonografi. b. Memeriksa kadar gula darah. Bila terbukti adanya hipoglikemia harus segera diatasi. c. Bayi KMK membutuhkan lebih banyak kalori dari bayi premature. Bayi BBLR memiliki kamungkinan lebih besar untuk mengalami masalah kesehatan daripada bayi berat normal. Banyak bayi-bayi ini membutuhkan perawatan khusus di unit perawatan intensif bayi baru lahir (NICU). Masalah medis yang paling umum dijumpai pada bayi BBLR : a. Respiratory distress syndrome (RDS) Masalah pernapasan ini biasa terjadi pada bayi yang lahir sebelum minggu ke-34 kehamilan. Bayi dengan RDS mengalami kekurangan protein yang disebut surfaktan yang berfungsi untuk menjaga kantung udara kecil di paru-paru. Pengobatan dengan surfaktan membantu bayi bernapas lebih mudah. Bayi dengan RDS perlu tambahan oksigen dan bantuan pernapasan mekanik untuk menjaga paru-paru mereka. Untuk bayi yang lebih parah memerlukan bantuan ventilasi mekanik untuk bernafas sementara paru-paru mereka dewasa. b. Bleeding in the brain Pendarahan di otak (disebut perdarahan intraventricular atau ivh) adalah pendarahan di otak yang terjadi pada beberapa bayi prematur sangat rendah, biasanya dalam tiga hari pertama kehidupan. Perdarahan otak biasanya didiagnosis dengan USG. Kebanyakan perdarahan otak ringan dan berujung dengan masalah yang tidak serius. Perdarahan berat dapat menyebabkan tekanan pada otak yang dapat menyebabkan kerusakan otak. Dalam keadaan tersebut, ahli bedah dapat menyisipkan sebuah tabung ke

dalam otak untuk mengalirkan cairan dan mengurangi risiko kerusakan otak. Dalam kasus ringan, obat kadang-kadang dapat mengurangi penumpukan cairan. c. Patent ductus arteriosus (PDA) Patent ductus arteriosus (PDA): PDA adalah masalah hati yang sering terjadi pada bayi prematur. Sebelum lahir, arteri besar yang disebut ductus arteriosus memungkinkan darah tidak mengaliri paru-paru bayi. Ductus ini biasanya menutup setelah lahir sehingga darah dapat mengalir ke paruparu dan mengambil oksigen. Ketika ductus tidak menutup dengan benar, dapat menyebabkan gagal jantung. PDA dapat didiagnosis dengan bentuk khusus dari USG (echocardiography) atau tes imaging lainnya. Bayi dengan PDA diperlakukan dengan obat yang membantu menutup ductus, walaupun operasi mungkin diperlukan jika obat tidak bekerja. d. Necrotizing enterocolitis (NEC) Necrotizing enterocolitis (NEC) adalah Masalah usus yang berpotensi berbahaya, biasanya terjadi dua sampai tiga minggu setelah lahir. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan makan, komplikasi perut bengkak dan lainnya. Bayi dengan NEC diobati dengan antibiotik dan diberi makan secara intravena (melalui pembuluh darah) sambil menyembuhkan usus. Dalam beberapa kasus, operasi diperlukan untuk menghilangkan bagianbagian yang rusak dari usus e. Retinopati prematuritas (ROP) Retinopati prematuritas (ROP) adalah pertumbuhan abnormal dari pembuluh darah di mata yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan. Hal ini terjadi terutama pada bayi yang lahir sebelum 32 minggu kehamilan. Kebanyakan kasus sembuh dengan kehilangan penglihatan sedikit atau tidak ada. Pada kasus yang parah, dokter mata mungkin menangani dengan laser atau dengan cryotherapy (pembekuan) untuk mempertahankan penglihatan.

V. PROGNOSIS Kematian perinatal pada bayi berat badan lahir rendah 8 kali lebih besar dari bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Prognosis akan lebih buruk lagi bila berat badan makin rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oleh seringnya dijumpai kelainan komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi pneumonia, perdarahan intrakranial, dan hipoglikemia. Bila bayi ini selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan pada syaraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ yang rendah, dan gangguan yang lainnya. Bayi BBLR umumnya akan menemui masalah dalam proses

pertumbuhannya. Kalaupun ada yang mulus, dalam arti tumbuh menjadi anak pintar, mungkin sifatnya kasuistik saja. Penelitian juga membuktikan, anak BBLR akan lebih rentan mengalami penyakit-penyakit kronis seperti diabetes atau jantung koroner ketika ia tumbuh dewasa kelak. Bayi yang lahir dengan BBLR memiliki risiko untuk mengalami hambatan pertumbuhan pada tahun pertama kehidupannya. 10-30% bayi yang bertahan hidup berberat badan kurang dari satu kg saat lahir, menderita cacat mental. Bayi yang ringan untuk umur kehamilan tidak berjalan sebaik bayi yang tumbuh tepat bagi masa kehamilannya. Lebih daripada itu, akibat status gizi yang rendah, bayi ini juga akan mudah mengalami penyakit infeksi dibanding bayi seumurnya yang lahir dengan berat badan normal. Apabila bayi mengalami penyakit infaksi seperti diare, maka kemungkinan penurunan berat badan dapat dengan mudah terjadi. Dapat diduga kemudian, bayi ini akan mempunyai berat badan yang sangat rendah atau mengalami gangguan pertumbuhan yang berat.

VI. PENCEGAHAN

a. Pencegahan primer Pencegahan primer meliputi segala bentuk kegiatan yang dapat menghentikan kejadian suatu penyakit atau gangguan sebelum sebelum hal itu terjadi. Upaya yang dapat dilakukan sebagai pencegahan primer terhadap kejadian BBLR adalah dengan mencegah kehamilan bagi ibu

yang memiliki usia dan paritas resiko tinggi untuk melahirkan bayi dengan BBLR, memperhatikan jarak kehamilan, dan mencukupi asupan gizi ibu hamil baik secara kuantitas maupun kualitas, menghindari perilaku beresiko tinggi seperti merokokdan minum minuman yang mengandung alkohol karena dapat menghambat pertumbuhan janin. b. Pencegahan Sekunder Pencegahan ini lebih ditujukan pada kegiatan skrining kesehatan dan deteksi untuk menemukan penyakit atau gangguan kesehatan setiap individu dalam populasi. Setiap ibu hamil disarankan agar melakukan pemeriksaan antenatal minimal sebanyak empat kali yaitu satu kali pada trisemester I, satu kali pada trisemester II dan dua kali pada trisemester III. Dengan melakukan pemeriksaan antenatal, segala bentuk kelainan ataupun gangguan pada ibu dan janin dapat di deteksi sedini mungkin. Sehingga jika didapati keadaan yang sifatnya patologis segera dapat diambil tindakan yang tepat untuk mengatasinya. c. Pencegahan Tertier Tujuan utama dari pencegahan tertier adalah mencegah cacat, kematian, serta usaha rehabilitasi. Karena jika dibadingkan dengan bayi berat badan normal, bayi yang dilahirkan dengan BBLR memiliki resiko tinggi untuk meninggal, mangalami hambatan pertumbuhan otak (berupa gangguan psikomotorik, retardasi mental dll).

HIPOTERMI NEONATUS

Hipotermi pada neonatus adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan suhu tubuh yang disebabkan oleh berbagai keadaan terutama karena tingginya konsumsi oksigen dan penurunan suhu ruangan. Mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal sangat penting untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan bayi baru lahir terutama bagi bayi prematur. Pengaturan suhu tubuh tergantung pada faktor penghasil panas dan pengeluarannya, sedang produksi panas sangat tergantung pada oksidasi biologis dan aktifitas metabolisme dari sel-sel tubuh waktu istirahat . Suhu normal adalah suhu tubuh yang menjamin kebutuhan oksigen bayi secara individual (dapat terpenuhi dengan suhu bayi stabil dengan suhu aksila antara 36,50C 37,50OC. Hipotermi dapat terjadi karena kemampuan untuk mempertahankan panas dan kesanggupan menambah produksi panas sangat terbatas karena pertumbuhan otot-otot yang belum cukup memadai, lemak subkutan yang sedikit, belum matangnya sistem saraf yang mengatur suhu tubuh, luas permukaan tubuh relatif lebih besar disbanding dengan berat badan sehingga mudah kehilangan panas. Untuk mengukur hipotermi diperlukan termometer ukuran rendah yang dapat mengukur suhu hingga 250C. Hipotermi dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan mengakibatkan terjadinya hipoksemia dan berlanjut dengan kematian. Menurut diagnosis banding pada suhu tubuh hipotermi ada dua yakni : hipotermi sedang 320C 36,40C dan suhu tubuh kurang dari 320C disebut hipotermi berat.

1. Mekanisme Terjadinya Hipotermi Hipotermi pada bayi baru lahir timbul karena adanya penurunan suhu tubuh yang dapat terjadi melalui cara hipoksemin yaitu kadar O2 dalam darah. a. Evaporasi Adalah kehilangan panas karena penguapan cairan ketuban yang melekat pada permukaan tubuh bayi yang tidak segera dikeringkan.

Contoh : air ketuban pada tubuh bayi baru lahir tidak cepat dikeringkan serta bayi segera dimandikan. b. Konduksi Adalah kehilangan panas karena panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin seperti : meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakan di atas benda tersebut. c. Konveksi Kehilangan panas tubuh yang terjadi pada saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin. Kehilangan panas juga terjadi jika konveksi aliran udara dan kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan. d. Radiasi Kehilangan panas tubuh yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah dari suhu tubuh bayi karena benda tersebut akan menyerap radiasi panas tubuh bayi. Banyak faktor resiko dari hipotermi, antara lain bayi baru lahir tidak segera dikeringkan, terlalu cepat dimandikan, setelah dikeringkan tidak segera diberi pakaian, tidak segera didekap pada tubuh ibu, bayi baru lahir dipisahkan dari ibunya, tidak segera disusui ibunya, berat badan bayi baru lahir rendah, bayi tidak segera dibungkus dan bayi sakit.

2. Gejala Hipotermi Hipotermi memiliki gejala sebagai berikut : a. Bayi tidak mau menetek. b. Bayi tampak lesu atau mengantuk saja. c. Tubuh bayi teraba dingin. d. Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh bayi mengeras (sklerema). e. Bayi menggigil.

f. Suhu (aksila) bayi turun dibawah 360C. g. Kulit pucat.

3. Tanda Hipotermi Hipotermi sedang (stres dingin) : a. Aktifitas berkurang, letargis. b. Tangisan lemah. c. Kulit berwarna tidak rata (cutis marmorata). d. Kemampuan mengisap lemah. e. Kaki teraba dingin. Hipotermi lanjut : a. Bibir dan kuku kebiruan. b. Ujung kaki dan tangan berwarna merah terang. c. Pernapasan lambat dan tak teratur. d. Bagian tubuh lainnya pucat. e. Bunyi jantung lambat. f. Kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada punggung kaki dan tangan .

4. Penyebab Hipotermi Hipotermi dapat disebabkan oleh : a. Kehilangan panas yang berlebihan seperti lingkungan atau cuaca dingin basah atau bayi telanjang. b.Luas permukaan tubuh pada bayi baru lahir relatif besar sehingga penguapannya bertambah. c.Kurangnya metabolisme untuk menghasilkan panas tubuhnya masih rendah. d. Otot bayi masih lemah.

5. Pencegahan Hipotermi a. Keringkan bayi dengan seksama.

Pastikan tubuh bayi dikeringkan segera lahir untuk mencegah kehilangan panas disebabkan oleh evaporasi cairan ketuban pada tubuh bayi. Keringkan bayi dengan handuk atau kain yang telah disiapkan di atas perut ibu. b. Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat, serta segera mengganti handuk atau kain yang dibasahi oleh cairan ketuban. c. Selimuti bagian kepala Pastikan bagian kepala bayi ditutupi atau diselimuti setiap saat. Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yang relatif luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup. d. Tempatkan bayi pada ruangan yang panas Suhu ruangan atau kamar hendaknya dengan suhu 280C 300C untuk mengurangi kehilangan panas karena radiasi. e. Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya. Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas. Anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya segera setelah lahir. Pemberian ASI lebih baik ketimbang glukosa karena ASI dapat mempertahankan kadar gula darah. f. Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir. Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya (terutama jika tidak berpakaian) sebelum melakukan penimbangan terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering.

6. Penanganan Hipotermi a. Mengeringkan tubuh bayi dengan cepat mulai dari kepala dan seluruh tubuh. b. Tubuh bayi segera dibungkus dengan selimut, topi atau tutup kepala, kaos tangan dan kaki. c. Bayi diletakkan telungkup di dada ibu agar terjadi kontak kulit langsung ibu dan bayi. Untuk menjaga bayi agar tetap hangat dan bayi harus berada di dalam suatu pakaian atau yang disebut sebagai metode kanguru.

d. Bila tubuh bayi masih dingin, segera menghangatkan bayi di dalam inkubator atau melalui penyinaran lampu. e. Periksa suhu bayi setiap jam. f. Pemberian ASI sedini dan sesering mungkin. g. Jika bayi tidak dapat menyusui, berikan perasan ASI dengan menggunakan metode pemberian alternatif (dipompa).

JENIS JENIS SKOR PADA BBLR

1. SKOR APGAR Skor Apgar digunakan untuk menggambarkan kondisi bayi selama beberapa menit pertama kehidupan. Skor ini dinilai pada menit pertama dan kelima kehidupan. Jika skor masih di bawah 7 atau bayi memerlukan resusitasi maka penilaian ini diteruskan setiap 5 menit sampai normal atau sampai 20 menit. Tabel 1. Penilaian Skor APGAR Skor Apgar Tanda Denyut jantung Pernapasan Tonus otot Tidak ada Tidak ada Lemah < 100 x/menit Lambat, ireguler >100 x/menit Bagus,menangis 0 1 2

Sedikit fleksi pada Gerakan aktif ekstremitas

Kepekaan refleks Tidak ada

Meringis

Batuk, bersin, menangis

Warna

Biru atau pucat

Badan merah muda, ekstremitas biru

Merah muda

Atas dasar pengalaman klinis, skor Apgar dapat dibagi dalam beberapa rentang untuk menilai asfiksia neonatorum : 1. Vigarous baby Skor Apgar 7-10. 2. Mild-moderate asphyxia Skor Apgar 4-6. 3. Severe asphyxia Skor Apgar 0-3.

Skor Apgar dapat digunakan untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan resusitasi pada neonatus. Skor Apgar pada menit 15 dan 20 lebih bernilai dalam prognosis neonatus dibandingkan skor Apgar pada menit 1 dan 5. Tabel 2. Tindakan Resusitasi Tindakan resusitasi berdasarkan skor Apgar : Skor Apgar 8,9,10 5,6,7 2,3,4 0 Tidak ada Hanya masker O2 Bagging dan masker O2 Akselerasi jantung (RJP) Resusitasi

Penilaian Skor Apgar 1. Skor Apgar berguna dalam menilai kondisi bayi saat lahir 2. Skor Apgar saja tidak dapat dijadikan bukti adanya kerusakan neurologis yang disebabkan oleh hipoksia 3. Bayi yang lahir dengan asfiksia yang cukup berat sehingga dapat menyebabkan kerusakan neurologis akut harus menunjukan semua tanda di bawah ini: a. Ditemukan acidemia metabolik atau campuran (pH 7.00). b. Skor Apgar 0-3 selama lebih dari 5 menit c. Manifestasi neurologi seperti kejang, koma, atau hipotonik d. Bukti adanya disfungsi multiorgan Kita membedakan antara penggunaan terminologi depresi neonatus dengan asfiksia neonatorum. Depresi neonatus merupakan suatu kondisi dimana neonatus itu memiliki skor Apgar yang rendah, kurang dari 5 dalam menit pertama atau kurang dari 7 dalam menit ke-5. Bayi yang menunjukkan tanda-tanda tonus yang lemah, warna yang jelek, respons yang buruk, dan depresi. Asfiksia perinatal adalah kondisi dimana bayi memiliki manifestasi abnormalitas gas darah, dan pH lebih rendah dari 7,1 pada arteri dan 7,2 pada vena. Jadi asfiksia hanya dapat dinyatakan apabila benar-benar telah ditemui abnormalitas pada gas darah, karena

asfiksia berarti interupsi dari respirasi. Mayoritas bayi-bayi dengan skor APGAR yang rendah tidak memiliki pH darah yang rendah.

2. SKOR BALLARD Ballard score merupakan suatu versi sistem Dubowitz. Pada prosedur ini penggunaan kriteria neurologis tidak tergantung pada keadaan bayi yang tenang dan beristirahat, sehingga lebih dapat diandalkan selama beberapa jam pertama kehidupan. Penilaian menurut Ballard adalah dengan menggabungkan hasil penilaian maturitas neuromuskuler dan maturitas fisik. Kriteria pemeriksaan maturitas neuromuskuler diberi skor, demikian pula kriteria pemeriksaan maturitas fisik. Jumlah skor pemeriksaan maturitas neuromuskuler dan maturitas fisik digabungkan, kemudian dengan menggunakan tabel nilai kematangan dicari masa gestasinya.

MATURASI FISIK

Penjelasan : 1. Kulit Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur intrinsiknya bersamaan dengan hilangnya bertahap lapisan pelindung, yang kaseosa vernix. Oleh karena itu, mengental, mengering dan menjadi kusut dan / atau kulit, dan mungkin mengembangkan ruam sebagai pematangan janin berlangsung. Fenomena ini dapat terjadi di berbagai langkah pada janin individu tergantung di bagian atas kondisi ibu dan lingkungan intrauterin. Sebelum pengembangan epidermis dengan perusahaan stratum korneum, kulit transparan dan mematuhi agak ke jari pemeriksa. Kemudian menghaluskan, mengental dan menghasilkan pelumas, dengan vernix, yang menghilang menjelang akhir kehamilan. Pada jangka panjang dan pasca-panjang, janin dapat mengalihkan mekonium ke dalam cairan ketuban. Hal ini dapat menambahkan efek untuk mempercepat proses pengeringan, menyebabkan mengelupas, retak, dehidrasi, dan menanamkan sebuah perkamen, kemudian kasar, penampilan untuk kulit. Untuk tujuan penilaian, alun-alun yang menggambarkan kulit bayi yang paling dekat harus dipilih.

2. Lanugo Lanugo adalah rambut halus menutupi tubuh janin. Dalam

ketidakdewasaan ekstrim, kulit tidak memiliki apapun lanugo. Hal ini mulai muncul di sekitar minggu 24 sampai 25 dan biasanya berlimpah, terutama di bahu dan punggung atas, pada minggu 28 kehamilan. Penipisan terjadi pertama di atas punggung bawah, mengenakan pergi sebagai kurva tubuh janin maju ke posisinya matang, tertekuk. Daerah kebotakan muncul dan menjadi lebih besar dari daerah lumbo-sakral. Pada sebagian besar janin kembali tanpa lanugo, yaitu, bagian belakang adalah sebagian besar botak. Variabilitas dalam jumlah dan lokasi lanugo pada usia kehamilan tertentu mungkin disebabkan sebagian ciri-ciri keluarga atau nasional dan untuk

pengaruh hormonal, metabolisme, dan gizi tertentu. Sebagai contoh, bayi dari ibu diabetes khas memiliki lanugo berlimpah di pinnae mereka dan punggung atas sampai mendekati atau melampaui penuh panjang kehamilan. Untuk tujuan penilaian, pemeriksa memilih alun-alun yang paling dekat

menggambarkan jumlah relatif lanugo pada daerah atas dan bawah dari punggung bayi.

3. Garis Telapak Kaki Bagian ini berhubungan dengan kaki besar lipatan di telapak kaki. Penampilan pertama dari lipatan muncul di telapak anterior di bola kaki. ini mungkin berhubungan dengan fleksi kaki di rahim, tetapi dikontribusikan oleh dehidrasi kulit. Bayi non-kulit putih asal telah dilaporkan memiliki lipatan kaki sedikit pada saat lahir. Tidak ada penjelasan yang dikenal untuk ini. Di sisi lain, percepatan dilaporkan jatuh tempo neuromuskuler pada bayi hitam biasanya mengkompensasi ini, mengakibatkan pembatalan efek lipatan kaki tertunda. Oleh karena itu, biasanya tidak ada over-atau di bawah-perkiraan usia kehamilan karena ras ketika total skor dilakukan. Bayi sangat prematur dan sangat tidak dewasa tidak memiliki lipatan kaki terdeteksi. Untuk lebih membantu menentukan usia kehamilan ini bayi, mengukur panjang kaki atau tumit-jari jarak sangat membantu. Hal ini dilakukan dengan menempatkan kaki bayi pada pita pengukur metrik dan mencatat jarak dari belakang tumit ke ujung jari kaki yang besar. Untuk tumit-jari jarak kurang dari 40 mm, mencetak dua dikurangi (-2) diberikan; bagi mereka antara 40 dan 50 mm, skor minus satu (-1).

4. Payudara Tunas payudara terdiri dari jaringan payudara yang dirangsang untuk tumbuh dengan estrogen ibu dan jaringan lemak yang tergantung pada status gizi janin. pemeriksa catatan ukuran areola dan kehadiran atau tidak adanya stippling (diciptakan oleh papila berkembang dari Montgomery). Pemeriksa kemudian palpates jaringan payudara di bawah kulit dengan memegangnya

dengan ibu jari dan telunjuk, memperkirakan diameter dalam milimeter, dan memilih alun-alun yang sesuai pada lembar skor. Di bawah-dan over-gizi janin dapat mempengaruhi variasi ukuran payudara pada usia kehamilan tertentu. Efek estrogen ibu dapat menghasilkan ginekomastia neonatus pada kedua hari keempat kehidupan ekstrauterin.

5. Mata / Telinga Pinna dari telinga janin perubahan itu konfigurasi dan peningkatan konten tulang rawan sebagai kemajuan pematangan. Penilaian meliputi palpasi untuk ketebalan tulang rawan, kemudian melipat pinna maju ke arah wajah dan melepaskannya. Pemeriksa mencatat kecepatan yang pinna dilipat terkunci kembali menjauh dari wajah ketika dirilis, kemudian memilih alunalun yang paling dekat menggambarkan tingkat perkembangan cartilagenous. Pada bayi yang sangat prematur, pinnae mungkin tetap terlipat ketika dirilis. Pada bayi tersebut, pemeriksa mencatat keadaan pembangunan kelopak mata sebagai indikator tambahan pematangan janin. Pemeriksa tempat ibu jari dan telunjuk pada kelopak atas dan bawah, dengan lembut memindahkan mereka terpisah untuk memisahkan mereka. Bayi yang sangat belum dewasa akan memiliki kelopak mata menyatu erat, yaitu, pemeriksa tidak akan dapat memisahkan fisura palpebra baik dengan traksi lembut. Bayi sedikit lebih dewasa akan memiliki satu atau kedua kelopak mata menyatu tetapi satu atau keduanya akan sebagian dipisahkan oleh traksi cahaya ujung jari pemeriksa. temuan ini akan memungkinkan pemeriksa untuk memilih pada lembar skor dua dikurangi (-2) untuk sedikit menyatu, atau minus satu (-1) untuk longgar atau kelopak mata sebagian menyatu. Pemeriksa tidak perlu heran menemukan variasi yang luas dalam status kelopak mata fusi pada bayi individu pada usia kehamilan tertentu, karena nilai kelopak mata un-fusi dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang terkait dengan stres intrauterin dan humoral tertentu.

6. Genitalia Pria Testis janin mulai turun mereka dari rongga peritoneum ke dalam kantong skrotum pada sekitar minggu 30 kehamilan. Testis kiri kanan mendahului dan biasanya memasuki skrotum pada minggu ke-32. Kedua testis biasanya teraba di atas untuk menurunkan kanal inguinalis pada akhir minggu ke-33 untuk ke-34 kehamilan. Bersamaan, kulit skrotum mengental dan mengembangkan rugae lebih dalam dan lebih banyak. Testis ditemukan di dalam zona rugated dianggap turun. Dalam prematuritas ekstrim skrotum ini datar, halus dan muncul dibedakan seksual. Pada jangka panjang untuk pascapanjang, skrotum dapat menjadi terjumbai dan benar-benar dapat menyentuh kasur ketika bayi terletak terlentang. Catatan: Dalam kriptorkismus benar, skrotum pada sisi yang terkena tampak tidak berpenghuni, hipoplasia dan dengan rugae terbelakang dibandingkan dengan sisi yang normal, atau, untuk kehamilan tertentu, ketika bilateral. Dalam kasus seperti itu, sisi normal harus mencetak gol, atau jika bilateral, skor yang serupa dengan yang diperoleh untuk kriteria kematangan lain harus diberikan.

7. Genitalia Wanita Untuk memeriksa bayi perempuan, pinggul harus hanya sebagian diculik, yaitu, sekitar 45 dari horizontal dengan bayi berbaring telentang. Penculikan berlebihan dapat menyebabkan klitoris dan labia minora untuk tampil lebih menonjol, sedangkan adduksi dapat menyebabkan labia majora untuk menutupi atas mereka. Dalam prematuritas ekstrim, labia dan klitoris yang datar sangat menonjol dan mungkin menyerupai lingga laki-laki. Sebagai pematangan berlangsung, klitoris menjadi kurang menonjol dan labia minora menjadi lebih menonjol. Menjelang panjang, baik klitoris dan labia minora surut dan akhirnya diselimuti oleh labia majora memperbesar. Labia mayora mengandung lemak dan ukuran mereka dipengaruhi oleh nutrisi intrauterin. Lebih-gizi dapat menyebabkan labia majora besar di awal kehamilan, sedangkan di bawah-gizi, seperti pada retardasi pertumbuhan intrauterin atau pasca-jatuh tempo, dapat mengakibatkan labia majora kecil dengan klitoris

relatif menonjol dan labia minora larut kehamilan. Temuan ini harus dilaporkan seperti yang diamati, karena skor yang lebih rendah pada item ini dalam kronis stres atau pertumbuhan janin terhambat dapat diimbangi dengan skor lebih tinggi pada neuro-otot item tertentu.

MATURITAS NEUROMUSKULER

Penjelasan : 1. Postur Otot tubuh total tercermin dalam sikap yang disukai bayi saat istirahat dan ketahanan untuk meregangkan kelompok otot individu. Sebagai pematangan berlangsung, janin meningkat secara bertahap mengasumsikan nada fleksor pasif yang berlangsung dalam arah sentripetal, dengan ekstremitas bawah sedikit di depan ekstremitas atas. Bayi prematur terutama pameran dilawan nada ekstensor pasif, sedangkan istilah bayi mendekati menunjukkan nada fleksor semakin kurang menentang pasif. Untuk mendapatkan item postur, bayi ditempatkan terlentang (jika ditemukan rawan) dan pemeriksa menunggu sampai bayi mengendap dalam posisi santai atau disukai. Jika bayi ditemukan telentang manipulasi, lembut (fleksi jika diperpanjang, memperpanjang jika tertekuk) dari ekstremitas akan

memungkinkan bayi untuk mencari posisi dasar kenyamanan. Fleksi pinggul tanpa hasil penculikan di posisi katak-kaki seperti yang digambarkan dalam postur persegi # 3. Fleksi hip diiringi penculikan digambarkan oleh sudut lancip di pinggul di alun-alun postur # 4. Sosok yang paling dekat menggambarkan postur disukai bayi dipilih.

2. Jendela pergelangan tangan Pergelangan fleksibilitas dan / atau resistensi terhadap ekstensor peregangan bertanggung jawab untuk sudut yang dihasilkan dari fleksi pada pergelangan tangan. Pemeriksa meluruskan jari-jari bayi dan berlaku tekanan lembut pada dorsum tangan, dekat jari-jari. Dari pra-sangat panjang untuk pasca-panjang,

sudut yang dihasilkan antara telapak tangan dan lengan bawah bayi diperkirakan; > 90 , 90 , 60 , 45 , 30 , dan 0 . Alun-alun yang tepat pada lembar skor dipilih.

3. Gerakan lengan membalik Manuver ini berfokus pada nada fleksor pasif otot bisep dengan mengukur sudut mundur berikut perpanjangan sangat singkat dari ekstremitas atas. Dengan bayi berbaring telentang, pemeriksa tempat satu tangan di bawah siku bayi untuk dukungan. Mengambil tangan bayi, pemeriksa sebentar set siku dalam fleksi, maka sesaat meluas lengan sebelum melepaskan tangan. Sudut mundur yang lengan mata air kembali ke fleksi dicatat, dan alun-alun yang sesuai dipilih pada lembar skor. Bayi yang sangat prematur tidak akan menunjukkan apapun mundur lengan. # 4 persegi dipilih hanya jika ada kontak antara kepalan bayi dan wajah. Ini terlihat dalam jangka panjang dan bayi pasca. Perawatan harus diambil untuk tidak memegang lengan dalam posisi diperpanjang untuk jangka waktu lama, karena hal ini menyebabkan kelelahan fleksor dan menghasilkan skor yang palsu rendah karena untuk mundur fleksor miskin.

4. Sudut popliteal Manuver ini menilai pematangan nada fleksor pasif sendi lutut dengan pengujian untuk ketahanan terhadap perpanjangan ekstremitas bawah. Dengan berbaring telentang bayi, dan dengan popok kembali bergerak, paha ditempatkan lembut pada perut bayi dengan lutut tertekuk penuh. Setelah bayi telah rileks dalam posisi ini, pemeriksa lembut menggenggam kaki di sisi dengan satu tangan sementara mendukung sisi paha dengan lainnya. Perawatan diambil tidak untuk mengerahkan tekanan pada paha belakang, karena hal ini dapat mengganggu fungsi mereka. Kaki diperpanjang sampai resistensi pasti untuk ekstensi dihargai. Pada beberapa bayi, kontraksi hamstring dapat digambarkan selama manuver ini. Pada titik ini terbentuk pada sudut lutut oleh atas dan kaki bagian bawah diukur.

Catatan: a) Hal ini penting bahwa pemeriksa menunggu sampai bayi berhenti menendang aktif sebelum memperpanjang kaki. b) Posisi terang akan mengganggu kehamilan sungsang dengan ini manuver untuk 24 sampai 48 jam pertama usia karena kelelahan berkepanjangan fleksor intrauterin. Tes harus diulang setelah pemulihan telah terjadi; bergantian, skor yang sama dengan yang diperoleh untuk item lain dalam ujian dapat diberikan.

5. Scarf Sign (Tanda selendang) Manuver ini tes nada pasif fleksor tentang korset bahu. Dengan bayi terlentang berbaring, pemeriksa menyesuaikan kepala bayi untuk garis tengah dan mendukung tangan bayi di dada bagian atas dengan satu tangan. ibu jari tangan lain pemeriksa ditempatkan pada siku bayi. Pemeriksa dorongan siku di dada, penebangan untuk fleksi pasif atau resistensi terhadap perpanjangan otot fleksor bahu korset posterior. Titik pada dada yang siku bergerak dengan mudah sebelum resistensi yang signifikan dicatat. Tengara mencatat dalam rangka meningkatkan kematangan adalah: jilbab penuh di tingkat leher (-1); aksila kontralateral baris (0); baris puting kontralateral (1); proses xyphoid (2); baris puting ipsilateral (3), dan aksila ipsilateral baris (4).

6. Tumit ke Telinga Manuver ini mengukur nada fleksor pasif tentang korset panggul dengan tes fleksi pasif atau resistensi terhadap perpanjangan otot fleksor pinggul posterior. Bayi ditempatkan terlentang dan tertekuk ekstremitas bawah dibawa untuk beristirahat di kasur bersama bagasi bayi. Pemeriksa mendukung paha bayi lateral samping tubuh dengan satu telapak tangan. Sisi lain digunakan untuk menangkap kaki bayi di sisi dan tarik ke arah telinga ipsilateral. Para menebang pemeriksa untuk ketahanan terhadap perpanjangan fleksor panggul korset posterior dan catatan lokasi dari tumit mana resistensi yang signifikan adalah dihargai. Tengara mencatat dalam rangka

meningkatkan kematangan termasuk resistensi terasa ketika tumit pada atau dekat: telinga (-1); hidung (0); dagu tingkat (1); baris puting (2); daerah pusar (3), dan femoralis lipatan (4).

Jumlah skor pemeriksaan maturitas neuromuskuler dan maturitas fisik digabungkan, kemudian dengan menggunakan tabel nilai kematangan dicari masa gestasinya.

3. SKOR DOWN Melakukan pemeriksaan fisik yang esensial untuk menentukan skor Down agar dapat diketahui derajat distress pernapasan neonatus pada kasus. Berikut tabel kriteria penilaian skor Down:

Score < 4 No respiratory distress Score 4 -7 Respiratory distress Score > 7 Impending respiratory failure (Blood gases should be obtained)

BAB III PENUTUP

Bayi dengan BBLR termasuk dalam kelompok neonatus resiko tinggi. Istilah neonatus resiko tinggi menyatakan bahwa bayi harus mendapatkan pengawasan ketat oleh para dokter dan perawat yang telah berpengalaman karena neonatus ini memilki kemungkinan lebih besar untuk mengalami kematian atau menjadi sakit berat dalam masa neonatal. Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian neonatus, maka perlu sekali kita mengenali neonatus dengan resiko tinggi sedini mungkin. BBLR merupakan salah satu dari tiga penyebab utama kematian neonatal di Indonesia. Makin rendah masa gestasi dan berat lahir bayi makin tinggi angka kematian bayi. Kehidupan bayi biasanya berakhir di ruang perawatan intensif neonatus sebagai akibat berbagai morbiditas neonatus.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Lissauer, Tom and Avroy Fanaroff. At a Glance: Neonatologi. Penerbit Erlangga.

2.

AAP/ACOG: Guidelines for perinatal care. 3rd edition, 1992. ,Antepartum Care pp 49-66.

3. 4.

The American Journal of Medicine Dr. Dra. Nurhaedar Jafar, Apt,M.Kes. 2011. ASI EKSKLUSIF.Prodi Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat UNHAS.

5.

Pararibu, R. 2009. PENGETAHUAN IBU TENTANG PENCEGAHAN HIPOTERMI PADA BAYI BARU LAHIR. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara

6.

BUKU SAKU Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial. Pedoman Teknis Pelayanan Kesehatan Dasar. 2010. Jakarta : Kementrian Kesehatan

7.

Anonimous. 2011. Available From : http://www.turkishjournalpediatrics.org/ pediatrics/.

MIND MAP

Definisi, Epidemiologi, Etiologi, Patofisiologi, Penatalaksanaan, komplikasi

Cairan Amnion

BBLR

Ikterus Neonatorum

IMD