Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering kita jumpai pada kehamilan muda

dan terjadi pada 50% wanita yang hamil, terutama pada primigravida, kehamilan ganda dan mola hydatidosa. Tetapi kalau seorang ibu memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum hingga berat badan sangat turun, turgor kulit kurang, diuresis kurang dan timbul aceton dalam air kencing, maka keadaan ini disebut hyperemesis gravidarum dan memerlukam perawatan di rumah sakit. Hiperemesis gravidarum biasa terjadi pada primigavida, mola hidatidosa, diabetes, kehamilan ganda akibat peningkatan kadar HCG.

BAB II LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Umur Pendidikan Pekerjaan Agama Alamat Suku Tanggal Masuk RS IDENTITAS SUAMI Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Agama Alamat Suku II. ANAMNESIS Autoanamnesis dilakukan di kamar bersalin RSUD Karawang pada tanggal 03/05/2013 pukul 10.00 WIB A. Keluhan Utama Muntah sejak 2 minggu SMRS : : : : : : : Tn. E 40 tahun SMA Wiraswasta Islam Brontok Barat Sindangsari Kutawaluya Karawang Sunda : : : : : : : : : Ny. A Perempuan 36 tahun SMA Ibu Rumah Tangga Islam Brontok Barat Sindangsari Kutawaluya Karawang Sunda 3 Mei 2013

B. Keluhan Tambahan Mual muntah sejak 2 bulan SMRS, tidak bisa makan dan minum. C. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien G3P2A0 mengaku hamil 2 bulan datang ke kamar bersalin RSUD Karawang dengan muntah- muntah sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit. Muntah sehari 5-6 kali, muntahan berupa cairan dan makanan yang dimakan pasien. Sebelumnya pasien juga mengaku sering mual dan terkadang muntah sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit. Sejak 2 bulan lalu nafsu makannya menurun dan semakin parah 2 minggu belakangan. Setiap makan atau minum pasien merasa mual dan memuntahkan makanan dan makanan yang masuk. Pasien juga mengaku terjadi penurunan berat badan, sebelum hamil berat badan pasien 55 kg, sekarang turun menjadi 50 kg. Pasien sempat pingsan 1 hari smrs saat bekerja. Pasien sering merasa pusing dan lemas disertai pandangan yang kabur. Saat kehamilan anak pertamanya pasien juga mengalami mual muntah seperti sekarang dan sempat dirawat di rumah sakit. D. Riwayat Haid HPHT Taksiran Partus Usia Kehamilan Menarche Siklus Haid Lama Haid Banyaknya Dismenore ANC TT E. Riwayat Perkawinan Status Usia saat menikah Lama perkawinan Jumlah anak : : : : Menikah, 1x 18 tahun 18 tahun 2 orang : : : : : : : : : : 5 Maret 2013 12 Desember 2013 8-9 minggu 11 tahun Teratur (antara 28-30 hari) 4-5 hari 2 pembalut per hari (-) di bidan -

F. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas Yang Lalu G3P2A0 : I. II. III. Laki- laki/ 16 tahun/ psp di bidan/ 3800gr Perempuan/ 10 tahun/ psp dibidan/3900gr Hamil ini

G. Riwayat Penyakit Dahulu Darah Tinggi Asma Alergi (-) (-) (-) Kencing Manis (-)

Riwayat operasi (-) H. Riwayat Keluarga Berencana Pasien menggunakan kb suntik, terakhir 1 tahun yang lalu. I. Riwayat Kebiasaan Merokok (-) Minum Alkohol (-) Jamu-jamuan (-) Menggunakan narkoba ataupun konsumsi obat-obatan (-) III. PEMERIKSAAN FISIK A. STATUS GENERALIS Keadaan Umum Kesadaran Tanda vital Tekanan Darah Nadi Suhu Pernapasan Kepala Mata : : : : : : : : : 90/70 mmHg 104 x/menit 36.2C 16 x/menit Normochepali, deformitas (-) CA +/+, SI -/-, perdarahan retina -/4 Tampak Sakit Sedang Compos Mentis

Leher Thoraks Cor Pulmo Abdomen Ekstremitas atas Ekstremitas bawah B. STATUS OBSTETRI TFU DJJ : :

Kelenjar getah bening tidak teraba membesar, Tiroid tidak teraba membesar

: : : : :

BJ 1,BJ 2 normal, murmur (-), gallop (-) Suara nafas vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/Datar, BU (+) 2x/menit Akral hangat +/+, edema -/-, turgor kulit baik Akral hangat +/+, edema -/-, turgor kulit baik

belum teraba belum terdengar

C. STATUS GINEKOLOGI Genitalia Inspeksi Inspekulo VT : : : v/u tak ada kelainan, tenang portio licin livid, dengan ostium tertutup, fl (-), flx (-) Uterus agak membesar, Nyeri goyang portio (-), massa adnexa -/-, parametrium tenang, cavum douglasi tidak menonjol IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium tanggal 03/05/2013 a. Hematologi Hb Leukosit Trombosit Hematokrit HbsAg GDS : : : : : : 10,9 g/dl 11.300 /mm3 316.000 /mm3 37 % 97

b. Urine Warna Kekeruhan pH Protein Glukosa Keton Sedimen Epitel Leukosit Eritrosit Kristal Silinder Bakteri : : : : : : +2 15- 20 / lpb 0-1/ lpb : : : : : : kuning jernih 6,0 + negatif

c. USG (03/05/2013) Gestasi UK V. RESUME Wanita, 36 tahun, G3P2A0 hamil 8-9 minggu, datang dengan keluhan muntahmuntah sejak 2 minggu SMRS. Selain itu pasien juga mengeluh mual mual sejak 2 bulan SMRS. Os merasa nafsu makan berkurang sejak merasa mual dan muntah, pasien mengaku terjadi penurunan berat badan dari sebelum hamil sampai sekarang. Os mengaku haid terakhir pada tanggal 5 Maret 2013. Pada pemeriksaan fisik didapatkan: o Tanda vital: TD: 90/70mmHg, N: 104x/menit, P: 16 x/menit, S: 36.2 oC o Status generalis: dalam batas normal o Status obstetri o TFU : sulit dinilai o DJJ : belum terdengar : : + 8-9 minggu

o Status genikologi o Genitalia Inspeksi Inspekulo : : v/u tak ada kelainan, tenang portio licin livid, dengan ostium tertutup, fl (-), flx(-) Pada pemeriksaan penunjang didapatkan: USG (03/05/2013) Gestasi UK : : + 8-9 minggu

VI. DIAGNOSIS KERJA Hiperemesis Gravidarum pada G3P2A0 Hamil 8-9 minggu

VII. PROGNOSIS Ad vitam Ad fungsionam Ad sanationam : : : Dubia ad bonam Dubia ad malam Dubia ad bonam

VIII. PENATALAKSANAAN Observasi tanda vital Cek perburukan emesis Cek elektrolit IVFD RL: D5 : KaEn Mg 3 = 1:1:1/ 8 jam Drip neurobion 1 amp dalam 500cc RL Asam folat 1x 1 Ondansetron 3x1 amp Small frequent feeding

FOLLOW-UP 04/05/2013 S O : masih mual- mual, muntah (-) pasien mulai bisa makan. : T.100/60, N.96x.menit, S.36.5C, P.20x/menit St. Generalis: KU/Kes : Tampak sakit sedang/ CM Mata : CA -/-, SI-/Thoraks : Cor dan pulmo dbn Abdomen : dbn Extremitas: Akral hangat +/+, edema -/-, turgor kulit baik

St. Obstetri: TFU : belum teraba DJJ : belum terdengar

St. Ginekologi Lab (04/05/2013) Elektrolit : Natrium Kalium Chlorida A P : : : 139 mmol/L 4,0 mmol/L 102 mmol/L V/U: Tenang, perdarahan aktif (-)

: Hiperemesis Gravidarum pada G3P2A0 Hamil 8-9 minggu : Observasi tanda vital o Cek perburukan emesis o Cek DPL, UL o IVFD RL: D5 : KaEn Mg 3 = 1:1:1 o Drip neurobion 1 amp dalam 500cc RL 8

o Ondansetron 3x1 amp o Small frequent feeding FOLLOW-UP 05/05/2013 S O : mual- mual (-) , muntah (-) pasien mulai bisa makan. : T.110/70, N.100x.menit, S.36.5C, P.20x/menit St. Generalis: KU/Kes: Tampak sakit sedang/ CM Mata : CA -/-, SI-/Thoraks : Cor dan pulmo dbn Abdomen : dbn Extremitas: Akral hangat +/+, edema -/-, turgor kulit bagus

St. Obstetri: Tfu : belum teraba Djj : belum terdengar

St. Ginekologi A P V/U: Tenang, perdarahan aktif (-)

: Hiperemesis Gravidarum pada G3P2A0 Hamil 8-9 minggu : Observasi tanda vital o Cek perburukan emesis o Cek DPL, UL o Futrolit o Drip neurobion 1 amp dalam 500cc RL o Small frequent feeding

BAB III ANALISIS KASUS

a. Analisis Kasus Diagnosis Diagnosis hyperemesis gravidarum biasanya tidak sukar untuk didiagnosa atas dasar mual dan muntah pada wanita yang hamil muda. Pada kasus ini diagnosis hyperemesis gravidarum ditegakkan melalui anamnesis pasien. Berdasarkan hasil anamnesis didapatkan gejala mual- mual dan muntah pada wanita hamil 16 minggu. Pada pasien hiperemesis gravidarum bisa timbul mual dan muntah bisa disebabkan karena peningkatan kadar HCG ataupun karena villi korealis yang tumbuh ke pembuluh darah ibu. Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik, asam hidroksibutirik dan aseton dalam darah. b. Analisa Kasus Penatalaksanaan Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum dilakukan untuk mengurangi gejala mual dan muntah dan memperbaiki keadaan umum dan gizi pasien. Pada pasien dapat diberikan obat anti mual dan muntah. Terapi psikologik yang dilakukan, diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini. Dengan diperbaikinya faktor-faktor psikologik ini, wanita yang bersangkutan biasanya mengalami perbaikan bermakna selagi di rawat inap namun biasanya kambuh setelah dipulangkan. Penanganan yang positif terhadap masalah psikologis dan sosial akan bermanfaat. Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan glukose 5% dalam cairan fisiologis sebanyak 2-3 liter sehari. Bila perlu dapat ditambah kalium dan vitamin, khususnya vitamin B komplek dan vitamin C dan bila ada 10

kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intra vena. Dibuat daftar kontrol cairan yang masuk dan yang dikeluarkan. Selain itu pasien juga diajurkan makan secara bertahan, mulai dari makan kecil seperti roti- roti yang tidak merangsang munculnya mual dan muntah. c. Analisa Kasus Etiologi Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah ditemukan oleh beberapa sebagai berikut: 1. Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan karena pada kedua keadaan tersebut hormon khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan. Ditemukan peninggian yang bermakna dari kadar serum korionik gonadotropin total maupun -subunit bebasnya pada ibu dengan hiperemesis dibandingkan dengan yang hamil normal. 2. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organik. 3. Perubahan saluran cerna. Selama kehamilan, saluran cerna terdesak karena memberikan ruang untuk perkembangan janin. Hal ini dapat berakibat refluks asam (keluarnya asam dari lambung ke tenggorokan) dan lambung bekerja lebih lambat menyerap makanan sehingga menyebabkan mual dan muntah 4. Diet tinggi lemak. Risiko HG meningkat sebanyak 5 kali untuk setiap penambahan 15 g lemak jenuh setiap harinya 5. Helicobacter pylori. Penelitian melaporkan bahwa 90% kasus kehamilan dengan HG juga terinfeksi dengan bakteri ini, yang dapat menyebabkan luka pada lambung 6. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini, rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut akan kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat

11

memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup. 7. Faktor endokrin lainnya: hipertiroid, diabetes, dan lain-lain. Gejala mual-muntah dapat juga disebabkan oleh gangguan traktus digestivus seperti pada penderita diabetes melitus (gastroparesis diabeticorum). Hal ini disebabkan oleh gangguan motilitas usus pada penderita ini atau setelah operasi vagotomi. Pada pasien ini, etiologi dari hiperemesisgravidarumnya tidak diketahui namun penyebab yang paling memungkinkan adalah adanya faktor psikologis dari pasien.

12

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA

Mual dan muntah merupakan gejala yang wajar ditemukan pada kehamilan triwulan pertama. Biasanya mual dan muntah terjadi pada pagi hari sehingga sering dikenal dengan morning sickness. Sementara sebagian dari wanita hamil mengalami morning sickness, 1,52% mengalami hiperemesis gravidarum, suatu kondisi mual muntah pada wanita hamil yang lebih serius.(1)

I.

DEFINISI Hiperemesis gravidarum sendiri adalah mual dan muntah hebat dalam masa

kehamilan yang dapat menyebabkan kekurangan cairan, penurunan berat badan, atau gangguan elektrolit sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan membahayakan janin di dalam kandungan. Pada umumnya HG terjadi pada minggu ke 6 - 12 masa kehamilan, yang dapat berlanjut sampai minggu ke 16 20 masa kehamilan.(2,3) Keluhan mual dan muntah kadang-kadang begitu hebat dimana segala apapun yang dimakan atau diminum dimuntahkan kembali sehingga dapat mempengaruhi keadaan umum dan mengganggu aktivitas sehari-hari, terjadi penurunan berat badan, dehidrasi dan asetonuria.(2)

II.

ETIOLOGI Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti.(,3,4) Tidak ada bukti

bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor toksik juga tidak ditemukan kelainan biokimia, perubahan-perubahan anatomik yang terjadi pada otak, jantung, hati dan susunan syaraf, 13

disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat kelemahan tubuh karena tidak makan dan minum.(1) Hiperemesis tampaknya berkaitan dengan kadar gonadotropin korionik atau estrogen yang tinggi atau meningkat pesat. (7) Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah ditemukan oleh beberapa sebagai berikut: 8. Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan karena pada kedua keadaan tersebut hormon khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.(1,2,3) Ditemukan peninggian yang bermakna dari kadar serum korionik gonadotropin total maupun -subunit bebasnya pada ibu dengan hiperemesis dibandingkan dengan yang hamil normal.4 9. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organik. (1,2,6) 10. Perubahan saluran cerna. Selama kehamilan, saluran cerna terdesak karena memberikan ruang untuk perkembangan janin. Hal ini dapat berakibat refluks asam (keluarnya asam dari lambung ke tenggorokan) dan lambung bekerja lebih lambat menyerap makanan sehingga menyebabkan mual dan muntah.(1) 11. Diet tinggi lemak. Risiko HG meningkat sebanyak 5 kali untuk setiap penambahan 15 g lemak jenuh setiap harinya.(1) 12. Helicobacter pylori. Penelitian melaporkan bahwa 90% kasus kehamilan dengan HG juga terinfeksi dengan bakteri ini, yang dapat menyebabkan luka pada lambung 13. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini, rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut akan kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil.(1,2,3,6) 14. Faktor endokrin lainnya: hipertiroid, diabetes, dan lain-lain.3 Gejala mual-muntah dapat juga disebabkan oleh gangguan traktus digestivus seperti pada penderita

14

diabetes melitus (gastroparesis diabeticorum). Hal ini disebabkan oleh gangguan motilitas usus pada penderita ini atau setelah operasi vagotomi.(1) Hubungan psikologik dengan hiperemesis gravidarum belum diketahui pasti. Tidak jarang dengan memberikan suasana baru, sudah dapat membantu mengurangi frekuensi muntah.(1)

III.

PATOLOGI Dari otopsi wanita yang meninggal karena hiperemesis gravidarum diperoleh

keterangan bahwa terjadi kelainan pada organ-organ tubuh sebagai berikut1,3) 1. Hati. Tampak degenerasi lemak tanpa nekrosis yang terletak sentrilobuler. Kelainan lemak ini nampaknya tidak menyebabkan kematian dan dianggap sebagai akibat muntah yang terus-menerus. Tetapi separuh penderita yang meninggal karena hiperemesis gravidarum menunjukkan gambaran mikroskopik hati yang normal. 2. Jantung. Menjadi tampak lebih kecil daripada biasanya dan beratnya atrofi; ini sejalan dengan lamanya penyakit, kadang-kadang ditemukan perdarahan sub-endokardial. 3. Otak. Adakalanya terdapat bercak-bercak perdarahan pada otak dan dapat dijumpai kelainan seperti ensefalopati Wernicke yaitu dilatasi kapiler dan perdarahan kecil kecil didaerah korpora mamilaria ventrikel ketiga dan keeempat.
4. Ginjal. Tampak pucat dan degenerasi lemak dapat ditemukan pada tubuli kontorti.

IV.

PATOFISIOLOGI Ada yang menyatakan bahwa perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar

estrogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. Pengaruh fisiologik hormon estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan.(1,2). Hiperemesis gravidarum 15

yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Belum jelas mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita, tetapi faktor psikologik merupakan faktor utama, di samping pengaruh hormonal. Yang jelas, wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tidak suka makan dan mual, akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat.(1,2) Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik, asam hidroksibutirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan khlorida darah turun, demikian pula khlorida air kemih. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan mengurang pula dan tertimbunnya zat metabolik yang toksik. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, menambah frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan. Di samping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung (Sindrom MalloryWeiss), dengan akibat perdarahan gastrointestinal. Pada umumnya robekan ini ringan dan perdarahan dapat berhenti sendiri. Jarang sampai diperlukan transfusi atau tindakan operatif.
(1,2)

V.

GEJALA KLINIS Batas jelas antara mual dalam kehamilan yang masih fisiologik dengan hiperemesis

gravidarum tidak ada. Ada yang mengatakan, bisa lebih dari 10 kali muntah; akan tetapi bila keadaan umum penderita terpengaruh, sebaiknya ini dianggap sebagai hiperemesis gravidarum.(1,3) Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi ke dalam 3 tingkatan: Tingkat I. Ringan

16

Mual muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, intoleransi terhadap makanan dan minuman, berat badan menurun dan nyeri epigastrium. Frekuensi nadi meningkat sekitar 100 kali per menit, tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit berkurang, lidah kering, mata cekung, urin sedikit tetapi masih normal.(1,2,3)

Tingkat II. Sedang Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih mengurang lidah mengering dan tampak kotor, nadi 100-140x permenit, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterik. Berat badan turun dan mata cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oliguria dan konstipasi. Dapat pula tercium aseton dalam hawa pernapasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.(1,2,3) Tingkat III. Berat Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dari somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tensi menurun.(1,2,3) Komplikasi fatal terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wernicke, dengan gejala nistagmus, diplopia dan perubahan mental.(1,3) Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B komplek. Timbulnya ikterus menunjukkan adanya gangguan fungsi hati.(1) Literatur lain menyebutkan Wernicke encephalopathy dari defisiensi tiamin diikuti tanda-tanda dari keterlibatan sistem saraf pusat., meliputi bingung, gangguan penglihatan, ataksia, and nistagmus. Komplikasi ini ditemukan melalui pemeriksaan penunjang MRI.(8)

VI.

DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang khas dan jika perlu dilakukan

pemeriksaan laboratorium.(4). Diagnosis hiperemesis gravidarum biasanya tidak sukar. Harus ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah yang terus-menerus, sehingga mempengaruhi keadaan. Namun demikian harus dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit gastritis,

17

kolesistitis, pankreatitis, hepatitis, ulkus peptikum, pielonefritis, ulkus ventrikuli dan tumor serebri yang dapat pula memberikan gejala muntah.(1,4) Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan pasien lemah, apatis sampai koma, nadi meningkat sampai 100 kali per menit, suhu meningkat, tekanan darah turun, atau ada tanda dehidrasi lain. Pada pemeriksaan elektrolit darah ditemukan kadar natrium dan klorida turun. Pada pemeriksaan urin kadar klorida turun dan dapat ditemukan keton.(2) Kriteria Diagnosis:(5) a. Amenore yang disertai muntah hebat sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu b. Anamnesis: Tenggorokan terasa kering dan terus-menerus merasa haus, kulit menjadi keriput (dehidrasi), berat badan mengalami penyusutan c. Fungsi vital: nadi meningkat 100x permenit, tekanan darah menurun pada keadaan berat, subfebril dan gangguan kesadaran (apatis-koma). d. Fisik: dehidrasi, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan munurun, pada vaginal toucher uterus besar sesuai besarnya kehamilan, konsistensi lunak, pada pemeriksaan inspekulo serviks berwarna biru (livide) e. Pemeriksaan USG: untuk mengetahui kondisi kehamilan, kemungkinan adanya kehamilan kembar ataupun kehamilan mola hidatidosa. f. Laboratorium: penurunan relatif hemoglobin dan hematokrit, shift to the left, benda keton dan proteinuria. Hiperemesis gravidarum yang terus-menerus dapat menyebabkan kekurangan makanan yang dapat mempengaruhi perkembangan janin, sehingga pengobatan perlu segera diberikan.

VII.

PENCEGAHAN

Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan 18

gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan.(1,2,3,9) Makanan dan minuman seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau`sangat dingin. Defekasi yang teratur hendaknya dapat dijamin, menghindarkan kekurangan karbohidrat merupakan faktor yang penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.(1,2,3)

VIII. TATA LAKSANA Obat-obatan. Apabila dengan cara tersebut di atas keluhan dan gejala tidak mengurang maka diperlukan pengobatan. Tetapi perlu diingat untuk tidak memberikan obat yang teratogen. Sedativa yang sering diberikan adalah phenobarbital, vitamin yang dianjurkan yaitu vitamin B1 dan B6, antihistaminika juga dianjurkan seperti dramamin, avomin. Pada keadaan lebih berat diberikan antiemetik seperti metoklopramide, disiklomin hidrokhloride atau khlorpromazin.(1,2) Penanganan hiperemesis gravidarum yang lebih berat perlu dikelola di rumah sakit.1 Apabila muntah terus berlangsung perlu diambil langkahlangkah yang sesuai untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit lain, misalnya gastroenteritis, kolesistitis, pankreatitis, hepatitis, ulkus peptikum, pielonefritis, dan perlemakan hati pada kehamilan.(7) Hiperemesis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di rumah sakit. a. Yang menjadi pegangan untuk memasukkan pasien ke rumah sakit sebagai berikut: i. Semua yang dimakan dan diminum dimuntahkan, apalagi bila telah berlangsung lama ii. Berat badan turun lebih dari 1/10 dari berat badan normal iii. Dehidrasi, yang ditandai dengan turgor yang kurang dan lidah kering

19

iv. Adanya aseton dalam urine.(4) b. Kadang-kadang pada beberapa wanita, hanya tidur di rumah sakit saja telah banyak mengurangi mual muntahnya.(1,3) c. Isolasi. Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, cerah dan peredaran udara yang baik hanya dokter dan perawat yang boleh keluar masuk kamar sampai muntah berhenti dan pasien mau makan. Catat cairan yang masuk dan keluar dan tidak diberikan makan dan minum dan selama 24 jam. Kadangkadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.(1,2,3) Terapi psikologik. Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
(1,2)

Dengan diperbaikinya faktor-faktor psikologik ini, wanita yang bersangkutan biasanya

mengalami perbaikan bermakna selagi di rawat inap namun biasanya kambuh setelah dipulangkan. Penanganan yang positif terhadap masalah psikologis dan sosial akan bermanfaat.(7) Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan glukose 5% dalam cairan fisiologis sebanyak 2-3 liter sehari. Bila perlu dapat ditambah kalium dan vitamin, khususnya vitamin B komplek dan vitamin C dan bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intra vena. Dibuat daftar kontrol cairan yang masuk dan yang dikeluarkan.(1) Infus dilepas bila kondisi pasien benar-benar telah segar dan dapat makan dengan porsi wajar (lebih baik lagi bila telah dibuktikan hasil laboratorium telah normal) dan obat peroral telah diberikan beberapa saat sebelum infus dilepas. (10) Air kencing perlu diperiksa sehari-hari terhadap protein, aseton, khlorida dan bilirubin. Suhu dan nadi diperiksa setiap 4 jam dan tekanan darah 3 kali sehari. Dilakukan pemeriksaan hematokrit pada permulaan dan seterusnya menurut keperluan. Bila selama 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum bertambah baik dapat dicoba untuk diberikan minuman, dan lambat laun minuman dapat ditambah dengan makanan yang tidak cair. Dengan penanganan diatas, pada umumnya gejala-gejala akan berkurang dan keadaan akan bertambah baik.(1) Jika pasien dengan usaha di atas tetap muntah, makanan diberikan melalui sonde hidung.(4)

20

Penghentian kehamilan. Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatrik jika memburuk. Delirium, kebutaan, takikardi, ikterus, anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapuetik sering sulit diambil, oleh karena disatu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tidak boleh menunggu sampai terjadi gejala irreversibel pada organ vital.(1,3) Gejala-gejala untuk mempertimbangkan abortus terapeutikus, ialah:(4) a. Ikterus b. Delirium atau koma c. Nadi yang naik berangsur-angsur sampai di atas 130 kali/menit d. Suhu meningkat di atas 38 oC e. Uremi, proteinuri, silinder yang merupakan tanda-tanda intoksikasi.

IX.

PROGNOSIS Dengan penanganan yang baik prognosis hiperemesis gravidarum sangat memuaskan.

Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin. (1,2) Literatur lain menyebutkan, prognosis hiperemesi gravidarum umumnya baik, namun dapat menjadi fatal bila terjadi deplesi elektrolit dan ketoasidosis yang tidak dikoreksi dengan tepat dan cepat.(9)

21

BAB V KESIMPULAN Hiperemesis gravidarum sendiri adalah mual dan muntah hebat dalam masa kehamilan yang dapat menyebabkan kekurangan cairan, penurunan berat badan, atau gangguan elektrolit sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan membahayakan janin di dalam kandungan. Hiperemesis berkaitan dengan kadar gonadotropin korionik atau estrogen yang tinggi atau meningkat pesat. Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda,faktor hormon memegang peranan karena pada kedua keadaan tersebut hormon khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan. Ditemukan peninggian yang bermakna dari kadar serum korionik gonadotropin total maupun -subunit bebasnya pada ibu dengan hiperemesis dibandingkan dengan yang hamil normal, masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal,perubahan saluran cerna, Diet tinggi lemak. Risiko HG meningkat sebanyak 5 kali untuk setiap penambahan 15 g lemak jenuh setiap harinya, faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini, faktor endokrin lainnya: hipertiroid, diabetes, dan lain-lain.

22

Pengobatan yang dilakukan pada pasien dengan hiperemesis gravidarum didasarkan atas keparahan penyakitnya. Jika mual dan muntah terjadi terrus menerus pasien di rawat di RS untuk memantau perburukan emesis dan untuk menangani kelainan yang mungkin timbul.

DAFTAR PUSTAKA

1. Wibowo B, Soejoenoes A. Hiperemesis Gravidarum. Dalam: Wiknjosastro H. Ilmu Kebidanan. Edisi ketiga. Cetakan ketujuh. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2005. hal 275-279 2. Mansjoer A. Kapita Selekta Kedokteran Jilid Pertama. Edisi ketiga. Jakarta: Media Aesculapius FKUI. 2001. hal 259-260 3. Mochtar R. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC. 2004 4. Sastrawinata S, Martaadisoebrata D, Wirakusumah FF. Ilmu Kesehatan Reproduksi: Obstetri Patologi. Edisi kedua. Jakarta: EGC. 2004. hal 64-67 5. Achadiat CM. Prosedur tetap Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC: 2004. hal 72-74 6. Manuaba IBD. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta: EGC. 2001. hal 397-401 23

7. Hartanto H. Penyakit Saluran Cerna. Dalam: Cunningham FG. Obstetric Williams. Edisi ke-21. Jakarta: EGC. 2005. hal 1424-1425 8. Cunningham FG. Obstetric Williams. Edisi ke-22. McGraw-Hill Companies, Inc. 2007 9. Moeloek FA. Hiperemesis Gravidarum. Standar Pelayanan Medik: Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. 2006. hal 2122

24

Anda mungkin juga menyukai