Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH FARMAKOLOGI TOKSIKOLOGI MOLEKULER

MEKANISME ANTIBAKTERIAL CIPROFLOXACIN PADA Escherichia coli PENYEBAB INFEKSI SALURAN KEMIH

Disusun Oleh : Cornelia Melinda Juana M Simanjuntak Antonio Leonardo B.P Agriva Devally Avista Angelia Rosari Yudhytha Anggarhani Evan Gunawan Stefanus Indra G Sherly Damima (108114109) (108114110) (108114112) (108114113) (108114115) (108114116) (108114117) (108114118) (108114119)

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013

I. PENDAHULUAN Infeksi saluran kemih adalah infeksi yang terjadi di sepanjang saluran kemih, termasuk ginjal yang disebabkan oleh proliferasi suatu mikroorganisme. Infeksi saluran kemih dapat didiagnosa dari adanya bakteri pada urin. Dapat dikatakan infeksi apabila terdapat 100.000 atau lebih bakteri/ml urin, namun jika hanya terdapat 10.000 atau kurang bakteri/ml urin, hal itu menunjukkan bahwa adanya kontaminasi bakteri. Bakteriuria yang disertai gejala pada saluran kemih disebut bakteriuria bergejala, sedangkan yang tanpa gejala disebut bakteriuria tanpa gejala (Anonim,2003). Infeksi saluran kemih dapat terjadi pada 5% anak perempuan dan 1-2% anak laki-laki. Kejadian infeksi saluran kemih pada bayi baru lahir dengan berat lahir rendah mencapai 10-100 kali lebih besar dibanding bayi dengan berat lahir normal (0,1-1%). Sebelum usia 1 tahun, infeksi saluran kemih lebih banyak terjadi pada anak laki-laki. Sedangkan setelahnya, sebagian besar infeksi saluran kemih terjadi pada anak perempuan. Misalnya pada anak usia pra sekolah infeksi saluran kemih pada perempuan mencapai 0,8%, sementara pada laki-laki hanya 0,2% dan rasio ini terus meningkat sampai usia sekolah. Kejadian infeksi saluran kemih pada anak perempuan 30 kali lebih besar dibanding pada anak laki-laki. Pada anak laki-laki yang disunat, risiko infeksi saluran kemih menurun hingga menjadi 1/5 1/20 dari anak laki-laki yang tidak disunat. Pada usia 2 bulan 2 tahun, 5% anak dengan infeksi saluran kemih mengalami demam tanpa sumber infeksi dari riwayat dan pemeriksaan

fisik. Sebagian besar infeksi saluran kemih dengan gejala tunggal demam terjadi pada anak perempuan (Anonim,2003). Faktor resiko yang berpengaruh terhadap infeksi saluran kemih: Panjang urethra. Wanita mempunyai urethra yang lebih pendek dibandingkan pria sehingga lebih mudah Faktor usia. Orang tua lebih mudah terinfeksi dibandingkan dengan usia yang lebih muda. Wanita hamil lebih mudah terkena penyakit ini karena pengaruh hormonal akibat kehamilan. Hal ini dapat menyebabkan perubahan pada fungsi ginjal. Faktor hormonal seperti menopause. Wanita pada masa menopause lebih rentan terkena karena hormon estrogen menurun mengakibatkan selaput mukosa yang berfungsi sebagai pelindung mengalami penipisan. Gangguan pada anatomi dan fisiologis urin. Sifat urin yang asam dapat menjadi antibakteri alami tetapi apabila terjadi gangguan dapat menyebabkan menurunnya pertahanan terhadap kontaminasi bakteri. Penderita diabetes, orang yang menggunakan kateter dapat mengalami peningkatan resiko infeksi (Anonim,2003). Sebagian besar infeksi saluran kemih tidak dihubungkan dengan faktor risiko tertentu. Namun pada infeksi saluran kemih berulang, perlu dipikirkan kemungkinan faktor risiko seperti :

Kelainan fungsi atau kelainan anatomi saluran kemih Gangguan pengosongan kandung kemih (incomplete bladder emptying)

Konstipasi Operasi saluran kemih atau instrumentasi lainnya terhadap saluran kemih sehingga terdapat kemungkinan terjadinya kontaminasi dari luar.

Kekebalan tubuh yang rendah (Schaeffer,2002). Bakteri yang sering menyebabkan infeksi saluran kemih adalah jenis

bakteri aerob. Pada kondisi normal, saluran kemih tidak terdapat bakteri atau mikroba lain, tetapi uretra bagian bawah terutama pada wanita dapat terjangkit bakteri dengan jumlah sedikit pada bagian yang mendekati kandung kemih. Infeksi saluran kemih sebagian disebabkan oleh bakteri, namun tidak tertutup kemungkinan infeksi dapat terjadi karena jamur dan virus. Infeksi oleh bakteri gram positif lebih jarang terjadi jika dibandingkan dengan infeksi gram negatif. Salah satu contoh bakteri gram negatif penyebab infeksi saluran kemih, yaitu Escherichia coli (Schaeffer,2002). Eschericia coli adalah penyebab yang paling lazim dari infeksi saluran kemih dan merupakan penyebab infeksi saluran kemih pertama pada kira-kira 90% wanita muda. Gejala dan tanda-tandanya antara lain sering kencing, disuria, hematuria, dan puria. Nyeri pinggang berhubungan dengan infeksi saluran kemih bagian atas. Tak satupun dari gejala atau tanda-tanda ini bersifat khusus untuk bakteri E. coli. Infeksi saluran kemih dapat mengakibatkan bakterimia dengan tanda-tanda khusus sepsis (Schaeffer,2002) Pada awalnya, infeksi saluran kemih akibat bakteri E.coli dilakukan terapi dengan menggunakan antibiotik golongan Sulfonamide, namun akibat dari perkembangan pola penyakit, maka E.coli resisten terhadap antibiotik

golongan Sulfonamide. Hal serupa juga terjadi dengan penggunaan antibiotik Penicilin yang sudah mengalami resistensi terhadap E.coli. Oleh karena itu antibiotik golongan Quinolon contohnya Ciprofloxacin merupakan terapi yang paling efektif untuk mengobati infeksi tahap awal yang disebabkan oleh E.coli (Naber and Carson, 2004). II. INFEKSI SALURAN KEMIH 1. Rute Infeksi Pada umumnya bakteri yang menyebabkan infeksi saluran kemih biasanya berasal dari flora usus host (penderita). Bakteri memasuki saluran kemih melalui tiga rute yaitu asenden, desenden (hematogenous), dan jalur limfatik. Pada wanita, pendeknya uretra dan kedekatannya dengan daerah perirektal memungkinkan terjadinya kolonisasi bakteri pada uretra. Selain itu, penggunaan spermisida dan diafragma pada kontrasepsi dapat menyebabkan kolonisasi bakteri pada uretra (Dipiro, 2008). Ada 3 macam cara masuknya bakteri ke dalam saluran kemih(Dipiro, 2008): A. Infeksi Asenden (Ascending Infection) 1. Kolonisasi daerah uretra Kuman masuk melalui uretra adalah penyebab paling sering dari infeksi saluran kemih, baik pada pria maupun wanita. Pada keadaan normal bakteri dalam urine kandung kemih biasanya akan dikeluarkan sewaktu berkemih, tetapi keadaan ini tidak akan dijumpai bila ada urine stasis. Kuman yang berasal dari flora normal usus dan hidup secara komensal di dalam introitus vagina, preputium penis, kulit perineum dan sekitar anus cenderung lebih sering menyebabkan infeksi saluran kemih asenden (Purnomo, 2000). Infeksi Saluran Kemih lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan laki-laki karena perbedaan anatomi pada lokasi dan

panjangnya uretra, sehingga hal ini mendukung terjadinya infeksi asenden sebagai rute akut utama (Dipiro, 2008). 2. Masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih Beberapa faktor yang mempengaruhi masuknya mikroorganisme ke dalam kandung kemih adalah : i. Faktor anatomi Kenyataan bahwa infeksi saluran kemih lebih banyak terjadi pada wanita daripada laki-laki disebabkan karena : a) Uretra wanita lebih pendek dan terletak lebih dekat anus b) Uretra laki-laki bermuara saluran kelenjar prostat dan sekret prostat merupakan antibakteri yang kuat ii. Faktor tekanan urin pada waktu miksi Mikroorganisme naik ke kandung kemih pada waktu miksi karena tekanan urin. Selama miksi terjadi refluks ke dalam kandung kemih setelah pengeluarann urin. iii. Faktor lain, misalnya a) Perubahan hormonal pada saat menstruasi b) Kebersihan alat kelamin bagian luar c) Adanya bahan antibakteri dalam urin d) Pemakaian obat kontrasepsi oral 3. Multiplikasi bakteri dalam kandung kemih dan pertahanan kandung kemih Dalam keadaan normal, mikroorganisme yang masuk ke dalam kandung kemih akan cepat menghilang, sehingga tidak sempat berkembang biak dalam urin. Pertahanan yang normal dari kandung kemih ini tergantung tiga faktor yaitu : i. Eradikasi organisme yang disebabkan oleh efek pembilasan dan pemgenceran urin ii. Efekantibakteri dari urin, karena urin mengandung asam organik yang bersifat bakteriostatik. Selain itu, urin juga mempunyai tekanan osmotik yang tinggi dan pH yang rendah

iii. Mekanisme pertahanan mukosa kandung kemih yang intrinsik Mekanisme pertahanan mukosa ini diduga ada hubungannya dengan mukopolisakarida dan glikosaminoglikan yang terdapat pada permukaan mukosa, asam organik yang bersifat bakteriostatik yang dihasilkan bersifat lokal, serta enzim dan lisozim. Selain itu, adanya sel fagosit berupa sel neutrofil dan sel mukosa saluran kemih itu sendiri, juga IgG dan IgA yang terdapat pada permukaan mukosa. Terjadinya infeksi sangat tergantung pada keseimbangan antara kecepatan proliferasi bakteri dan daya tahan mukosa kandung kemih. 4. Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal Hal ini disebabkan oleh refluks vesikoureter dan menyebarnya infeksi dari pelvis ke korteks karena refluks internal. Refluks vesikoureter adalah keadaan patologis karena tidak berfungsinya valvula vesikoureter sehingga aliran urin naik dari kandung kemih ke ginjal. Tidak berfungsinya valvula vesikoureter ini disebabkan karena : a) Memendeknya bagian intravesikel ureter yang biasa terjadi secara kongenital b) Edema mukosa ureter akibat infeksi c) Tumor pada kandung kemih d) Penebalan dinding kandung kemih

B.

Infeksi Desenden (Hematogenous) Infeksi hematogen kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya tahan tubuh rendah, karena menderita suatu penyakit kronik, atau pada pasien yang sementara mendapat pengobatan imunosupresif.

Penyebaran hematogen dapat juga terjadi akibat adanya fokus infeksi di salah satu tempat. Penyebaran melalui aliran darah jarang terjadi, pada kasus-kasus tuberkulosis, abses ginjal dan abses perinefrik. Sebaliknya bakteri sering masuk kealiran darah pada penderita infeksi

akut, ginjal dan prostat. Bakteriemia karena komplikasi infeksi saluran kemih ini lebih sering terjadi pada penderita yang mengalami kelainan struktur dan fungsi saluran kemih (Purnomo, 2000). Bakteremia disebabkan oleh S.aureus yang menyebabkan abses renal. Organisme-organisme lainnya yang dapat menyebar secara hematogen meliputi Candida spp., Mycobacterium tuberculosis., Salmonella spp., dan enterococci (Dipiro, 2008). C. Infeksi Jalur Limfatik Infeksi saluran kemih melalui lymph, walau sangat jarang namun dapat terjadi. Kemungkinan bakteri patogen masuk melalui aliran lymph rektum atau koloni menuju prostat atau kandung kemih, dapat juga melalui aliran lymph peri-uterina pada wanita (Purnomo, 2000). Setelah bakteri mencapai saluran urin, ada tiga faktor yang menyebabkan terjadinya perkembangan infeksi, yaitu ukuran dari inokulum, virulensi dari mikroorganisme, dan kemampuan mekanisme pertahanan tubuh host (Dipiro, 2008).

2. Mekanisme Pertahanan Tubuh Host Saluran kemih dalam keadaan normal biasanya tahan terhadap invasi bakteri dan efisien terhadap eliminasi mikroorganisme yang mencapai kandung kemih. Pertahanan yang normal dari kandung kemih ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain pH yang rendah,osmolalitas yang rendah,konsentrasi urea yang tinggi,dan konsentrasi asam organik yang tinggi (Dipiro, 2008). Faktor virulensi yang penting adalah kemampuan bakteri dalam bertahan pada sel epithelial,mengadakan kolonisasi pada saluran kemih, infeksi pada kandung kemih, dan pilenofritis. Sel epithelial pada kandung kemih dilapisi oleh suatu mucus yang disebut glikosaminoglikan. Glikosaminoglikan ini berupa lapisan tipis mukopolisakarida yang bersifat hidrofilik dan bermuatan negatif. Apabila glikosaminoglikan ini berikatan

dengan uroepitelium maka akan menarik molekul air sehingga membentuk lapisan antara kandung kemih dan urin (Dipiro, 2008). Mekanisme pertahanan tubuh yang lainnya adalah adanya TammHorsfall yaitu suatu glikoprotein yang diproduksi oleh Henle dan tubulus distal yang dikeluarkan melalui urin dan berisi residu manosa. Residu manosa ini mengikat E.coli yang mengandung organela kecil pada permukaannya yang disebut dengan pili atau fimbria. Selain itu, mekanisme pertahanan tubuh juga dipengaruhi adanya sel fagosit berupa sel neutrofil dan sel mukosa saluran kemih itu sendiri, juga IgG dan IgA yang terdapat pada permukaan mukosa. Terjadinya infeksi sangat tergantung pada keseimbangan antara kecepatan proliferasi bakteri dan daya tahan mukosa kandung kemih (Dipiro, 2008). 3. Faktor Virulensi Bakteri Bakteri pathogen memiliki tingkat patogenitas yang berbeda dalam proses infeksi. Bakteri tersebut akan menempel pada sel epithelial kemudian membentuk kolonisasi. Mekanisme penempelan bakteri gram positif dan negative seperti E.coli adalah dengan menggunakan fimbria yaitu suatu rambut yang terdapat pada dinding selnya. Fimbria ini akan menempel di komponen glikolipid yang spesifik pada sel epithelial (Dipiro, 2008). Ditinjau dari jenis pili (fimbria), terdapat dua jenis bakteri yang mempunyai virulensi berbeda, yaitu bakteri tipe fimbria 1 dan tipe fimbria P. Bakteri tipe fimbria 1 akan terikat pada residu manosa yang terdapat pada glikoprotein. Glikosaminoglikan dan protein Tamm-Horsfall kaya akan residu manosa dengan cepat akan memerangkap bakteri dengan fimbria tipe 1,kemudian akan dibuang dari saluran kemih. Sedangkan bakteri tipe fimbria P mengikat reseptor glikolipid secara spesifik pada sel uroepitelial. Bakteri ini resisten untuk dibuang oleh glikosaminoglikan dan juga dapat memperbanyak diri terutama pada organ ginjal dan dengan adanya pielonefritis. Sekret IgA antibody mengandung reseptor yang akan memfasilitasi fagositosis pada bakteri tipe fimbria 1, tetapi pada bakteri

tipe fimbria P, jumlah reseptor sejret IgA antibody lebih sedikit sehingga mengakibatkan bakteri tersebut lebih resisten (Dipiro, 2008). Faktor virulensi lainnya adalah adanya produksi hemolisin dan areobactin. Hemolisin merupakan protein sitotoksik yang diproduksi oleh berbagai sel antara lain eritrosit, nuetrofil, dan monosit. Sedangkan aerobaktin memfasilitasi pengikatan dan pengambilan besi oleh E.coli yang mana besi tersebut digunakan untuk metabolism aerobic dan untuk memeperbanyak diri (Dipiro, 2008). III. CIPROFLOXACIN

Gambar 1. Struktur Ciprofloxacin (Skauge, 2006).

Ciprofloxacin merupakan antibiotik golongan fluoroquinolon generasi ketiga yang digunakan untuk mengobati atau mencegah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Ciprofloxacin juga digunakan untuk mengobati atau mencegah antrax pada individu yang terkena bakteri antrax. Untuk tablet extended-release hanya digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih. Antibiotik ini tidak akan memberikan efek pada pilek, flu, dan infeksi virus lainnya (Medline Plus, 2013). Ciprofloxacin memiliki aktifitas in vitro terhadap berbagai macam

mikroorganisme gram positif dan gram negatif. Mekanisme bakterisidal ciprofloxacin dengan cara menghambat enzim topoisomerase II (DNA gyrase) dan topoisomerase IV yang dibutuhkan bakteri untuk replikasi, transkripsi, repair, dan rekombinasi (Bayer, 2009).

1. Indikasi Mengobati infeksi pada kulit, paru-paru, saluran pernapasan, tulang dan sendi yang disebabkan oleh bakteri. Cipro juga digunakan untuk mengobati iSK yanmg disebabkan oleh bakkteri seperti E. Coli, dan diare yang disebabkan oleh E. Coli, C. Jejuni, shigella (Oqbru, 2008). First line untuk bakteri Bacillus anthracis, Citrobacter freundii,

Campylobacter jejuni,Enterobacter spp, Hafnia alvei, Salmonella typhi, Salmonella spp, Shigella (medscape, 2013). 2. Dosis Dewasa peroral tablet lepas segaera (immediate release) 250-750 mg 12 jam sekali Dewasa peroral extended release tablet 500-1000mg 24 jam sekali Dewasa i.v. 200-400 mg 8-12 jam sekali (Oqbru, 2008).

3. Hal-hal yang perlu diperhatikan Pasien dengan riwayat penyakit epilepsi, myasthenia gravis, dan alergi sinar matahari berlebihan (Bayer,2004) 4. ESO Mual (5%), nyeri perut (2%), diare (2%), peningkatan ALT/AST (2%), muntah (2%), sakit kepala (1%), peningkatan serum Cr (1%), ruam (1%), gelisah (1%) (Medscape, 2013). 5. Data farmakokinetik Konsentrasi tertinggi 1-2 jam setelah diminum, t1/2 4 jam (Bayer, 2004). Absorpsi Ciprofloxacin oral diserap dengan baik melalui saluran cerna. Bioavailabilitas absolut adalah sekitar 70%.

Distribusi Ikatan Ciprofloxacin terhadap protein serum adalah 20-40% sehingga tidak cukup untuk menyebabkan interaksi ikatan protein yang bermakna dengan obat lain. Setelah administrasi oral,

Ciprofloxacin didistribusikan ke seluruh tubuh, konsentrasi di jaringan seringkali melebihi konsentrasi serum terutama di jaringan genital termasuk prostat. Ciprofloxacin ditemukan dalam bentuk aktif di saliva, sekret nasal dan bronkus, mukosa sinus, limfe, cairan peritoneal, empedu dan jaringan prostat. Ciprofloxacin juga dideteksi di paru-paru, kulit, jaringan lemak, otot, kartilago dan tulang. Obat ini berdifusi ke cairan serebro spinal, namun konsentrasi di CSS adalah kurang dari 10% konsentrasi serum puncak. Ciprofloxacin juga ditemukan pada konsentrasi rendah di aqueous humor dan vitreus humor. Metabolisme Empat metabolit siprofloksasin yang memiliki aktivitas

antimikrobial yang lebih rendah dari Ciprofloxacin bentuk asli telah diidentifikasi di urin manusia sebesar 15% dari dosis oral. Ekskresi Waktu paruh eliminasi serum pada subjek dengan fungsi ginjal normal adalah sekitar 4 jam. Sebesar 40-50% dari dosis yang bentuk awal

diminum akan diekskresikan melalui urin dalam

sebagai obat yang belum diubah. Ekskresi Ciprofloxacin melalui urin akan lengkap setelah 24 jam. Dalam urin semua fluorokuinolon mencapai kadar yang melampaui konsentrasi hambat minimal

(KHM) untuk kebanyakan kuman patogen selama minimal 12 jam. Klirens ginjal dari siprofloksasin, yaitu sekitar 300 mL/menit, melebihi laju filtrasi glomerulus yang sebesar 120 mL/menit. Oleh karena itu, sekresi tubular aktif memainkan peran penting dalam eliminasi obat ini. Pemberian Ciprofloxacin bersama probenesid berakibat pada penurunan 50% klirens renal Ciprofloxacin dan peningkatan 50% pada konsentrasi sistemik.

Interaksi Obat Ciprofloxacin sediaan tablet bila diberikan bersama makanan akan mengalami terjadi keterlambatan absorpsi, sehingga konsentrasi puncak baru akan dicapai 2 jam setelah pemberian. Pada Ciprofloxacin sediaan suspensi, tidak terjadi keterlambatan absorpsi bila diberikan bersama makanan sehingga konsentrasi puncak

dicapai dalam 1jam. Bila diberikan bersama dengan antasid yang mengandung magnesium hidroksida atau aluminium hidroksida dapat mengurangi bioavailabilitas siprofloksasin secara bermakna. IV. MEKANISME DNA GYRASE

Gambar 2. Mekanisme katalisis DNA Gyrase (Heisig dan Torda, 2010).

Setelah holoenzim terbentuk dari komponennya, segmen T berada di atas segmen G. Setelah dua molekul ATP berikatan pada holoenzim, subunit B terdimerisasi dan menangkap segmen T. Dimer OH pada GyrA59 dan 5-phosphate pada DNA. Gyr A memperantarai pemecahan untai ganda ke segmen G dengan reaksi esterifikai antara Tyr122Pemecahan tersebut berlangsung pada sisi DNA bagian 5-GRYC-3. Hirdrolisis satu molekul ATP terjadi karena adanya segmen T yang ditransportasikan melalui gap yang terbentuk pada segmen G. Kemudian DNA pada segmen G yang sudah terputus disambung kembali, dan segmen T terlepas. Konformasi kompleks awal diperbaiki dengan hidrolisis molekul ATP yang kedua. Hasilnya, gyrase merubah relaxed DNA menjadi supercoil negative DNA yang memliki energi lebih tinggi yang memfasilitasi transkripsi, rekombinasi, dan replikasi DNA. Berdasarkan analisis X-ray, ikatan dan pemutusan DNA yang terjadi dipengaruhi oleh adanya ion Mg2+ yang terletak antara domain Toprim dan scissile fosfat (Heisig dan Torda, 2010).

V. MEKANISME MOLEKULAR CIPROFLOXACIN Mekanisme aksi dari obat

Ciprofloxacin menargetkan aksinya pada Gyrase. Ciprofloxacin

menghambat aktivitas enzim girase dengan menginhibisinya. Jenis

inhibisi dari obat ciprofloxacin ini yaitu inhibitor uncompetitive,

dimana obat hanya akan bereaksi beraksi bila terjadi ikatan kompleks antara DNA Gyrase dengan DNA. Bila berikatan dengan DNA Gyrase saja, obat ciprofloxacin tidak dapat beraksi (Heisig dan Torda, 2010).

Ciprofloxacin topoisomerase gyrase) yang

menghambat II (DNA

mengkatalis DNA bakteri

superkoiling

yang mengakibatkan kesalahan transkripsi dengan cara

mengacaukan replikasi DNA bakteri. CFX akan menempel pada kompleks DNA gyrase dan DNA yang sudah terbentuk terlebih dulu. Binding pocket untuk obat obat golongan floroquinolon adalah pada Asp426 dan Lys 447 pada gyrase B dimana terjadi ikatan dengan C-7 pada obat golongan quinolon. Sedangan untuk ciprofloxacin terdapat ikatan yang spesifik antara Gugus hidroksil dari ciprofloxacin yang mendonorkan atom hydrogen kepada Arg121, ser83 dari receptor gyraseA, gugus NH dari ciprofloxacin mendonorkan atom hydrogen pada gugus karboksil pada Asp87, akan tetapi asp87 yang paling kuat melekatnya antara ciprofloxacin pada gyrase A, hal ini ditunjukan ketika terjadi mutasi asp87 terjadi penurunan ikatan antara ciprofloxacin dengan gyraseA. Siklus ciprofloxacin yang berikatan dengan asam amino Asp87 dan Arg121 sebagai target kerja ciprofloxacin akan mengganggu metabolime sel normal dengan menghambat sintesis DNA pada proses transkripsi dan duplikasi sehingga terjadi kematian sel.

Gambar kerja ciprofloxacin pada gyrase A dan gyrase B Selain itu, secara umum sintesis DNA terjadi apabila girase A dan gyrase B bergabung, dengan adanya ciprofloxacin maka akan menghambat

penggabungan antara gyrase A dan gyrase B sehingga sintesis DNA pada bakteri E. coli tidak terjadi dan bakteri akan mati (Heddle and Maxwell, 2002).

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2013, Infeksi Saluran Kemih,

http://www.pantirapih.or.id/index.php?option=com diakses tanggal 15 Maret 2013. Bayer, 2009, Cipro, Bayer Healthcare Pharmaceutical, U. S. A. Bayer, 2004, Cipro, Bayer pharmaceuticals Corporation, U.S.A. Collin, F., Karkare, S., Maxwell, A., 2011, Exploiting bacterial DNA gyrase as a drug target: current state and perspective, Appl Microbiol Biothecnol, Switzerland, pp. 479-485. Medscape, 2013, Ciprofloxacin, http://reference.medscape.com/drug/cipro-xrciprofloxacin-342530#4, diakses pada tanggal 1 Mei 2013. Medline Plus, 2013, Ciprofloxacin, American Society of Health-System Pharmacists, Inc., Maryland. Bayer, 2004, Cipro, Bayer pharmaceuticals Corporation, U.S.A. Bayer, 2009, Cipro, Bayer Healthcare Pharmaceutical, U. S. A. Collin, F., Karkare, S., Maxwell, A., 2011, Exploiting bacterial DNA gyrase as a drug target: current state and perspective, Appl Microbiol Biothecnol, Switzerland, pp. 479-485. Heisig, P. dan Torda, A., 2010, The ternary gyrase-DNA-quinolone complex: from molecular Modelling tounder standing quinolone action and resistance, pp. 23, 26. HTA Indonesia, 2005, Penggunaan Ciprofloxacin di Indonesia, Jakarta.

Heddle. J and Maxwell. A., 2002, Quinolone-Binding Pocket of DNA Gyrase : Role of GyrB, Antimicrob. Agents Chemother. American Society for Microbiology, PP. 1813. Jonathan Heddle and Anthony Maxwell, 2002, Quinolone-Binding Pocket of DNA Gyrase: Role of GyrB, Antimicrobial Agents And

Chemotheraphy. Naber K.G., and Carson C., 2004, Role of fluoroquinolones in the treatment of serious bacterial urinary tract infections Drugs pp. 1359. Oqbru, Omudhome, 2008, Ciprofloxacin, Cipro, Cipro XR, Proquin XR, http://www.medicinenet.com/ciprofloxacin/page2.htm, diakses pada tanggal 1 Mei 2013. Subramanian, K., Selvakkumar, C., Sanathkumar V., Goswami, N., Meenakshisundaram, S., Arun, Lakshmi, B., 2009, Tackling multiple antibiotic Balakrishnan resistance in enteropathogenic Escherichia coli (EPEC) clinical isolates: a diarylheptanoid from Alpinia officinarum shows promising antibacterial and immunomodulatory activity against EPEC and its lipopolysaccharide-induced

inflammation, International Journal of Antimicrobial Agents. Schaeffer J.A., 2005, Infections of the urinary tract, Walsh PC. Campbell`s Urology Vol 1, 8th edition. WB Saunders Company, pp. 533-553.