Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG

Salah satu hal yang terpenting dalam suatu sistem tenaga listrik adalah pengamanan
terhadap peralatan listrik yang digunakan dari segala macam bentuk gangguan.
Bagaimanapun baiknya suatu sistem, gangguan tidak bisa sama sekali dihindarkan oleh
karena itu pengamanan sangatlah diperlukan. Gangguan kebanyakan merupakan hubung
singkat antar fasa atau fasa dengan tanah dan keduanya. Gangguan hubung singkat
semacam ini dapat menimbulkan arus yang besar dan dapat merusak peralatan, sehingga
diperlukan sistem proteksi untuk dapat melindungi peralatan dari gangguan-gangguan
atau keadaan abnormal lainnya yang mungkin terjadi dan untuk memperkecil akibat jika
terjadi gangguan.

Sistem proteksi selain harus mengamankan peralatan instalasi terhadap gangguan, juga
berfungsi melokalisir gangguan. Ini berarti apabila terjadi gangguan di suatu bagian
instalasi, sistem proteksi hanya akan men-trip PMT yang berdekatan dengan gangguan
sehingga interupsi pasokan daya hanya disekitar tempat terjadinya gangguan saja (tidak
meluas).

Peralatan yang umumnya digunakan untuk mengamankan suatu peralatan adalah relai.
Pengamanan yang dapat dilakukan oleh sebuah relai tidak hanya terhadap satu peralatan
saja tetapi juga bisa terhadap beberapa peralatan contohnya pengamanan terhadap
generator, transformator, motor listrik, saluran transmisi dan peralatan-peralatan lainnya.

Laporan Kerja Praktek 1


Gambar dibawah ini menunjukkan contoh penggunaan relai untuk mengamankan suatu
transformator.

Gambar 1.1 Relai Untuk Pengaman Transformator

Pada gambar diatas terdapat sebuah trafo yang menurunkan tegangan dari 150 kV
menjadi 20 kV. Untuk menjaga keandalan dari suatu sistem diatas maka dipasang relai-
relai yang terdiri dari :

Kode Relai Jenis Relai


B Relai Bucholz
T Relai Temperature
51/51 N Relai Arus Lebih
87 Relai Differensial

Untuk lebih memahami peralatan proteksi khususnya relai arus lebih maka kami telah
melaksanakan kerja praktek di PT. Kaliandra Setyatama. Kerja praktek ini dilaksanakan
sebagai persyaratan akademik untuk Program Strata Satu (S-1) STT-PLN Jurusan Teknik
Elektro.

I.2. MAKSUD DAN TUJUAN

Adapun maksud dan tujuan dari dilaksanakannya kerja praktek ini antara lain :

Laporan Kerja Praktek 2


1. Meningkatkan, mengembangkan dan memantapkan keterampilan yang membentuk
kemampuan mahasiswa sebagai bekal memasuki dunia kerja.

2. Menumbuhkan dan melatih sikap intelektual mahasiswa, dan memperluas wawasan


mahasiswa dalam pengorganisasian dan pengelolaan perusahaan serta penerapan dan
perkembangan teknologi yang terjadi.

3. Memahami karakteristik dan cara kerja dari relai arus lebih.

I.3. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK

Kerja Praktek ini dilaksanakan di PT. Kaliandra Setyatama yang bergerak di bidang
penjualan peralatan listrik dalam sistem tenaga listrik. Kerja praktek ini dilaksanakan dari
tanggal 17 Maret – 17 Mei 2008.

I.4. BATASAN PENULISAN

Laporan kerja praktek ini hanya dibatasi pada sistem proteksi dengan jenis relai generator
protection yang meliputi cara kerja fungsi dan karakteristiknya.

I.5. METODA PENULISAN

Laporan ini ditulis dengan metoda Deskriptif, yaitu menggambarkan dan menguraikan
hasil pengamatan yang dilakukan oleh penulis, studi literatur dari berbagai buku yang
berhubungan dengan relai, serta percobaan laboratorium dan diskusi dengan pembimbing
kerja praktek.

Laporan Kerja Praktek 3


I.6. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan laporan ini, secara garis besar adalah :

• BAB I. PENDAHULUAN
Dalam bab ini diuraikan hal-hal umum yang berkaitan dengan penulisan laporan
kerja praktek ini, yaitu : latar belakang, maksud dan tujuan dilaksanakannya kerja
praktek, waktu dan tempat pelaksanaan kerja praktek, batasan penulisan, metoda
penulisan dan sistematika penulisan.

• BAB II. DATA UMUM PERUSAHAAN


Dalam bab ini diuraikan tentang gambaran umum yang berkaitan dengan
perusahaan antara lain : sejarah dari PT. Kaliandra Setyatama dan struktur
organisasi perusahaan.

• BAB III. LANDASAN TEORI


Dalam bab ini berisi landasan teori yang memuat bahasan-bahasan tentang :
definisi dari relai pengaman, fungsi dari relai pengaman, syarat utama dari relai
pengaman, aplikasi relai dan tipe proteksi.

• BAB IV. PENGUJIAN RELAI DIFERENSIAL GENERATOR BE1 - 87G


Dalam bab ini dilakukan tinjauan dengan melakukan pengujian jenis relai proteksi
diferensial generator dan juga memuat bahasan-bahasan tentang : penjelasan dan
beberapa karakteristik dari proteksi generator dan berisi deskripsi, spesifikasi,
aplikasi, cara pengujian dan hasil dari pengujian.

• BAB V. PENUTUP
Dalam bab ini berisi kesimpulan dari hasil kerja praktek yang dilakukan untuk
dapat memahami relay diferensial generator BE1 – 87G.

Laporan Kerja Praktek 4


BAB II
DATA UMUM PERUSAHAAN

Laporan Kerja Praktek 5


II.1. SEJARAH UMUM PERUSAHAAN

PT. Kaliandra Setyatama merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang


perdagangan peralatan listrik pada sistem tenaga listrik (Trading and Engineering) yang
didirikan pada tahun 1992,.

PT. Kaliandra Setyatama merupakan salah satu anggota dari Kadin Dagang dan Industri
Indonesia (KADIN) dan Asosiasi Perusahaan Teknik Elektrik dan Mekanik (APTEK). PT.
Kaliandra Setyatama telah disertifikasi oleh Panitia Bersama Sertifikasi Propinsi DKI
Jakarta untuk melakukan bisnis yang meliputi bidang mecanical, electrical dan peralatan-
peralatan pada instansi pemerintah dan perusahaan-perusahaan diseluruh Indonesia.

Sebagai perwakilan dan distributor tunggal dari produk elektrik dan mekanik, kegiatan
utama dari perusahaan adalah sebagai supplier kepada kontraktor utama, perancang panel
dan juga kepada pengguna. PT. Kaliandra Setyatama juga memberikan beberapa training
kepada customers khususnya pelatihan programming, setting dan pengoperasian relai
pengaman dan annunciators. Desain kelistrikan untuk konstruksi Gardu Induk juga
merupakan kegiatan dari PT. Kaliandra Setyatama.

PT. Kaliandra Setyatama merupakan distributor utama dan perwakilan untuk beberapa
produk antara lain :

1. ARTECHE, SPAIN
Produsen alat-alat proteksi dan trafo instrumen pada sistem tenaga listrik.
2. STARTCO, CANADA
Khusus untuk alat proteksi motor yang mempunyai kapasitas daya (horse power) yang
besar.
3. MINILEC, INDIA
Produsen indikator dan aksesoris untuk peralatan listrik.

4. LUMEL, POLAND
Produsen Transducer, digital meters dan hardware untuk peralatan listrik.

Laporan Kerja Praktek 6


5. HAPAM, HOLAND
Khusus untuk pemisah tenaga (disconnecting switch) pada tegangan tinggi.
6. SAINT GOBAIN, SPAIN
Produsen gelas isolator untuk tegangan tinggi.
7. BASLER ELECTRIC, AMERICA
Produsen alat-alat proteksi dan trafo instrumen pada sistem tenaga listrik

II.2. PELANGGAN

Sebagai distributor tunggal dan perwakilan dari beberapa produk yang telah disebutkan
diatas PT. Kaliandra Setyatama mempunyai pengalaman dalam pemasangan, supervisi,
dan pelatihan dari produk yang diageni.
Pelanggan dari PT. Kaliandra Setyatama terdiri dari Perusahaan Listrik Negara (PLN),
perusahaan pembangkitan, industri minyak dan gas, perusahaan pembuat panel, industri
petrokimia, kontraktor listrik dan mekanik serta perusahaan-perusahaan industri.

II.3. FASILITAS PENGUJIAN DAN PELATIHAN

PT. Kaliandra Setyatama memberikan fasilitas dalam hal pelatihan dan pengujian relai
dan kontrol setelah dilakukan penjualan.
Peralatan pengujian dapat digunakan untuk menguji kemampuan relai, kontrol dan
annunciator sebelum peralatan tersebut dikirim kepada pelanggan.
PT. Kaliandra Setyatama juga menerima pelatihan kepada pelanggan yang berkeinginan
untuk mengetahui lebih banyak tentang bagaimana memprogram dan mengoperasikan
produk-produk relai, kontrol dan annunciator.

II.4. STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN

Laporan Kerja Praktek 7


Struktur organisasi dari PT. Kaliandra Setyatama terdiri dari Commissioner, Directors,
Manager dan Grup Pembantu Manager dalam bidang pemasaran, penjualan dan teknik.
Sebagai distributor dan perwakilan dari produk-produk yang diageni, organisasi PT.
Kaliandra Setyatama di fokuskan dalam penjualan, pemasaran dan teknik termasuk
fasilitas pelatihan untuk kontrol, relai dan alarm annunciators. Bagan struktur organisasi
dari PT. Kaliandra Setyatama seperti dibawah ini :

Gambar 2.1 Struktur Organisasi PT. Kaliandra Setyatama

BAB III

Laporan Kerja Praktek 8


LANDASAN TEORI

III.1. DEFINISI RELAI PENGAMAN

Definisi relai pengaman menurut The Institute Of Electrical And Electronic Engineering
(IEEE) adalah suatu peralatan elektrik yang didesain untuk mengartikan kondisi masukan
pada keadaan yang telah ditentukan dan setelah kondisi tersebut dispesifikasikan, yang
ditujukan untuk memberi respon yang dapat menyebabkan pengoperasian kontak didalam
suatu kesatuan rangkaian listrik.

Kondisi masukan biasanya berupa sinyal listrik, mekanik, atau besaran lainnya. Menurut
IEEE 100 - 1984 saklar yang terbatas dan peralatan sederhana lainnya bukan termasuk
relai. Relai digunakan dibeberapa aspek/bidang antara lain : perumahan, komunikasi,
transportasi, industri dan kelistrikan.

Tujuan utama dari sistem tenaga listrik adalah penyaluran tenaga listrik yang mempunyai
mutu dan keandalan yang tinggi dan ketika terjadi gangguan dapat meminimalkan akibat
dari gangguan tersebut, seperti kehilangan daya, tegangan turun dan tegangan lebih.
Karena gangguan tidak dapat dihindari maka untuk mencegahnya atau mengurangi akibat
dari gangguan tersebut digunakan relai.

Komponen dari relai dapat berupa elektromecanical, solid state dan digital numeric. Pada
awalnya relai yang digunakan menggunakan tipe elektromekanik lalu beralih ke tipe solid
state dan sekarang menggunakan teknologi relai digital numeric. Relai solid state dan
digital numeric digunakan dalam tegangan yang rendah, relai ini memiliki keuntungan
dibanding jenis elektromekanik antara lain keakuratan waktu, kepekaan frekuensi dan
sistem logika pemecahan terhadap masalah yang rumit. Sedangkan relai elektromekanik
memiliki kekurangan antara lain kurang akurat, sensitif dan sulit untuk dites dan dirawat.

Laporan Kerja Praktek 9


Gambar 3.1 Blok Diagram Relai

Relai menggunakan besaran listrik yang dihubungkan dengan sistem tenaga listrik
melalui trafo arus dan trafo tegangan. Peralatan ini memberikan perlindungan dari
tegangan yang tinggi pada sistem tenaga listrik dan mengurangi medan magnet pada
kumparan sekunder untuk dihubungkan dengan relai.

Gambar 3.2 Prinsip Kerja Relai

Pada gambar diatas dalam kondisi normal PMT menutup dan daya dapat disalurkan,
apabila terjadi gangguan maka relai akan merasakan gangguan tersebut melalui trafo arus
atau trafo tegangan dan akan memberikan sinyal kepada PMT untuk membuka sehingga
penyaluran daya terhenti. PMT harus dapat segera membuka apabila mendapat sinyal dari
relai untuk membuka, kejadian ini harus berlangsung dalam waktu yang sangat singkat
untuk mengurangi akibat dari gangguan tersebut.

Laporan Kerja Praktek 10


III.2. FUNGSI RELAI PENGAMAN

Secara garis besar fungsi peralatan proteksi (relai pengaman) adalah untuk
mengidentifikasi gangguan dan memisahkan bagian jaringan yang terganggu dari bagian
lain yang masih bekerja dengan normal serta sekaligus mengamankan bagian yang
bekerja dengan normal tersebut dari kerusakan atau kerugian yang lebih besar.
Relai pengaman mempunyai fungsi lainya yaitu :
• Mendeteksi adanya gangguan
• Memisahkan bagian yang terganggu dari bagian sistem yang masih beroperasi dengan
cara memerintahkan trip kepada PMT yang berhubungan.
• Memberitahukan adanya gangguan kepada operator, yaitu dengan cara membunyikan
alarm dan menyalakan lampu tanda gangguan.
• Relai proteksi mutakhir dapat memberi informasi jarak lokasi gangguan dan letak
gangguan.

III.3. SYARAT UTAMA RELAI PENGAMAN

Suatu relai pengaman harus memiliki beberapa syarat-syarat utama antara lain :

• Kepekaan (Sensitivity)
Relai harus cukup peka, sehingga selalu dapat mendeteksi adanya gangguan di daerah
pengamanannya meskipun dalam kondisi yang memberikan rangsangan minimum.

• Keandalan (Reliability)
Dapat dibagi atas dua :
- Dependability
Pengaman harus dapat diandalkan kemampuan bekerjanya. Tidak boleh gagal
bekerja, hanya bekerja jiika ada gangguan di daerah pengamanannya
- Security

Laporan Kerja Praktek 11


Pengaman tidak boleh salah bekerja, yaitu bekerja yang semestinya tidak harus
bekerja (gangguan ada di daerah lain atau tidak ada gangguan).
- Availability
Ketersediaan peralatan pengaman yang diartikan dengan kondisi siap kerja.
Kondisi ini dinyatakan dalam ratio (perbandingan) antara waktu siap kerja relai
pengaman dengan waktu total operasinya.

• Selektifitas
Pengaman harus dapat memisahkan bagian yang terganggu sekecil mungkin, yaitu
hanya seksi yang terganggu yang memang berada di daerah pengaman utamanya, jadi
relai harus dapat membedakan apakah gangguan itu ada di daerah pengamanannya
atau di luarnya.

• Kecepatan
Untuk memperkecil akibat gangguan maka bagian yang terganggu harus dipisahkan
secepat mungkin dari bagian sistem lainnya.
Untuk menciptakan selektifitas mungkin suatu pengaman terpaksa diberi waktu tunda
(time delay), namun waktu tunda itupun harus secepat mungkin (seperlunya). Selain
itu mengurangi kerusakan akibat gangguan hubung singkat, kecepatan relai pengaman
juga dapat memperkecil pengaruh ketidakstabilan sistem setelah triping terjadi.

Disamping syarat-syarat tersebut diatas, terdapat empat faktor utama yang mempengaruhi
kerja dari relai antara lain :
• Faktor Ekonomi.
• Karakteristik dari relai dan sistem tenaga listrik.
• Lokasi dari pemisah dan pengaman (PMT) dan peralatan-peralatan lain yang
berfungsi sebagai masukan (CT/PT).
• Tingkat dari gangguan.

Laporan Kerja Praktek 12


III.4. PENERAPAN RELAI

Dalam sistem tenaga listrik terdapat beberapa daerah pengamanan yang dibatasi oleh
suatu pemutus tenaga. Setiap bagian diamankan oleh relai proteksi dan setiap relai
proteksi mempunyai daerah pengamanannya sendiri – sendiri ( zone of protection ), yaitu
daerah yang diamankan bila terjadi gangguan didalamnya relai dapat mendeteksi
gangguan tersebut, dan dengan bantuan pemisah tenaga dapat memisahkan daerah
tersebut dari sistem lainnya sehingga mengurangi perluasan wilayah gangguan. Terdapat
beberapa bagian daerah pengamanan relai antara lain :

• Generator dan unit transformernya


• Transformator tenaga
• Rel
• Saluran (transmisi/distribusi)
• Peralatan-peralatan listrik (motor listrik dll)

Daerah pengamanan suatu jaringan tenaga listrik dapat ditunjukkan seperti gambar
dibawah ini

Gambar 3.3 Daerah Kerja Pengamanan

Laporan Kerja Praktek 13


Dapat kita lihat dari gambar diatas, terdapat tumpang tindih (overlapping) pada daerah
yang diarsir antara daerah pengamanan yang satu dengan yang lainnya, sebab jika tidak
diamankan seperti gambar diatas akan terjadi daerah kosong (gap) antara ujung daerah
pengamanan yang satu dengan yang lainnya, yaitu daerah dimana bila terjadi gangguan
didalamnya tidak ada relai yang akan mendeteksi gangguan tersebut, jadi pada daerah ini
tidak ada relay yang akan mengamankannya,hal ini disebut Dead Zone.
Gangguan di daerah overlapping akan dirasakan oleh kedua relai sekaligus, sehingga akan
terjadi pemisahan antara dua daerah kerja sekaligus dari bagian sistem lainnya, jadi
sebenarnya overlapping ini tidak diinginkan, tetapi terpaksa harus diterapkan untuk
menghindari Dead Zone.

III.5 TIPE PROTEKSI

Ada dua macam tipe proteksi yang dikenal yaitu sebagai proteksi utama (main) dan

proteksi cadangan (backup), dimana setiap tipe ini mempunyai fungsi dan cara kerja

masing-masing :

1. Proteksi Utama
Proteksi utama adalah proteksi yang akan bekerja pertamakali dan membebaskan
gangguan pada bagian yang diproteksi secepat mungkin. Keandalan yang dijaga
100 % tidak hanya dari skema proteksi tetapi juga dari CT, PT dan CB. Selain itu
sistem proteksi tidak dapat dijamin dengan hanya pemasangan proteksi utama
saja, oleh karena itu diperlukan suatu proteksi cadangan.

2. Proteksi Cadangan
Proteksi Cadangan ini akan bekerja, jika proteksi utama gagal bekerja. Pengaman

cadangan dibagi menjadi dua :

Laporan Kerja Praktek 14


• Pengaman Cadangan Lokal (Local Back up)
• Pengaman Cadangan Jarak Jauh (Remote Back up)
Pengaman cadangan lokal terletak ditempat yang sama dengan pengaman utamanya,

sedangkan pengaman cadangan jarak jauh terletak di seksi sebelah hulunya. Dalam

hal ini pasti terjadi overlapping antara daerah pengaman utama dengan daerah

pengaman cadangan pada seksi yang sama atau dengan seksi sebelah hulunya.

Untuk menghindari terpisahnya kedua seksi secara bersamaan, maka pengaman

cadangan diberi waktu tunda (time delay).

Laporan Kerja Praktek 15


BAB IV
PENGUJIAN RELAY DIFERENSIAL BE1 – 87G

IV.1. PENJELASAN RELAY DIFERENSIAL BE1 – 87G

relai diferensial Be1-87G adalah alat berangkaian satu atau tiga fasa solid-state yang di
desain dengan selektif kecepatan tinggi, perlindungan generator, motor dan reaksi shunt.

Pemilihan relai diferensial berdasarkan kemampuan dari relai tersebut untuk membedakan
antara gangguan didalam (yang dimana berada dalam area perlindungan) dan gangguan
di luar . Dalam keadaan beroperasi normal arus yang masuk kedalam area yang
terlindungi sama dengan arus yang keluar area yang terlindungi tersebut. Dengan arus net
operasi jaringan sama dengan nol. Kesalahan didalam membuat tidak stabil yang
mengakibatkan perbedaan arus yang masuk dengan arus yang keluar. Kesalahan di luar
mempunyai rata - rata pengaruh yang kecil terhadap kestabilan karena arus yang masuk
ke dalam area yang terlindungi masih sama dengan arus yang keluar. Oleh karena itu
dengan membandingkan dari kedua sisi area yang terlindungi dan mendeteksi kapan arus
tidak sama, sebuah relai diferensial mengisolasi element atau area dari sistem dengan
tidak melewati ketidak efektifan.

Relai diferensial Be1-87G bertipe trip lockout relai (86) yangmana bertujuan untuk
menge-tripkan breaker generator bersamaan dengan pemutus medan dan/atau breaker
netral.

Instantaneous Relai, Relai ini bekerja seketika (tanpa waktu tunda) begitu arus yang
mengalir melebihi nilai setting arusnya, relai akan bekerja dalam waktu beberapa milli
detik.

Laporan Kerja Praktek 16


IV.2. APLIKASI

Relai diferensial Be1-87G direkomendasikan untuk digunakan lebih spesifik dengan


transformator arus (ct) dengan kelas ketepatan C20 atau lebih baik atau T20 atau yang
lebih baik. Selain itu dapat digunakan untuk :

● Generator beberapa tegangan terminal dan rating 1000kVA atau dibawahnya


● Generator beberapa rating kVA dan sebuah tegangan terminal 5kV atau di bawahnya
● Generator tegangan terminal 2200 V atau lebih tinggi dan rating lebih dari 500 kVA
● Motor rata-rata 1500 tenaga kuda atau di bawahnya
● Sebagai proteksi utama pada reaksi shunt di jaringan transmisi
● Generator diferensial ground
.
Relay diferensial paling selektif dari kesalahan proteksi yang digunakan terhadap elemen
satuan atau individu atau juga terhadap elemen area dari system daya AC. Perbedaan tipe
dari relai diferensial dan system pengrelai-an dapat dikembangkan untuk mengambil
keuntungan dari perinsip diferensial.

Laporan Kerja Praktek 17


Sekema aplikasi tipikal satu fasa

Sekema aplikasi tipikal tiga fasa

Laporan Kerja Praktek 18


IV.2.1 Karakteristik pengendalian variable

Pada level arus tinggi, perbedaan yang tidak bias dihindarkan dalam karakteristik saturasi
antara trafo arus menunjuknan bahwa dibutuhkan kompensasi pada sensitifitas relai,
disain dari BE1-87G menyediakan pengendalian factor yang porposional terhadap arus
masuk pada saat pengendalian arus, lebih baik dari nominal (lima ampere untuk masukan
tipe satu dan satu ampere untuk masukan tipe dua) BE1-87G membandingkan arus pada
masukan dan keluaran pada area yang di proteksi. Semakin sedikit arus yang didapat
maka arus semangkin dapat dikendalikan. Ini membuat Be1-87G lebih sensitive terhadap
arus lemah pada gangguan didalam, dan membuat tidak sensitive terhadap gangguan di
luar dengan level arus yang lewat lebih besar.

Mengendalikan arus pada nominal (lima ampere untuk masukan tipe satu dan satu ampere
untuk masukan tipe dua) atau kurang, relai akan trip bila perbedaan arus melewati dari
setingan relai, tetapi pada saat mengendalikan arus lebih bagus dari nominal, semua
sensitivitas adalah kombinasi dari setingan panel depan dan factor pengendalian.

IV.2.2 Highlights desain

Beberapa dari keuntungan solid-state relai diferensial BE1 – 87G variable adalah sebagai
berikut:

● tujuh level sensitivitas pada setiap dari dua range masukan. Tujuh level ini
memungkinkan CT untuk mencocokan dan menyediakan fleksibilitas dengan adaptasi
kebutuhan untuk banyak kegunaan seperti proteksi kabel pemisah generator.

● Reaksi penstabilan mengecilkan ketidaksamaan performa dari CT, reaksi dapat di


letakan pada belakan relai atau terpisah dari be1-87g untuk fleksibilitas dari system
pemasangan.

Laporan Kerja Praktek 19


● Pengendalian variable karakteristik, pengendalian variable mengijinkan untuk
menaikan sensitivitas terhadap arus yang lemah, kesalahan dalam selama
menyediakan kemanana terhadap level yang tinggi dari arus yang lewat, yang
diakibatkan oleh gangguan luar.

● Satu atau tiga fasa BE1-87G beroperasi dalam 30 milidetik untuk level kesalahan 10
kali dari setingan sensitivitas, pengoperasian kecepatan tinggi ini mengecilkan
kemungkinan kerusakan terhadap alat yang diproteksi.

IV.2.3 Model dan nomor style

Karakteristik elektrikal dan cara kerja didalam relai yang sepesifik didefinisikan
kombinasi huruf dan nomor yang tertulis dengan ketentuan nomor style. Nomor style
bersamaan dengan nomor model menggambarkan pilihan penggunaan keistimewaan alat
dan terdapat pada panel depan, tertulis diluar dan didalam casing rakitan. Nomor model
BE1 – 87G didesain sebagai relai kelas 100. variabel diferensial relai.

Contoh nomor style


Gambar dibawah mengilustrasikan identifikasi nomor style dengan pilihan untuk relai
BE1 – 87 G. Sebagai contoh jika nomor style menunjukan BE1-87G G1E A1J AOCOF
Peralatan akan menunjukan :

BE1 – 87G Nomor model


G Sensing input tiga fasa
1 Jangkauan pemilihan sensing pada 0,1 0,15 0,2 0,4 0,5 0,8 atau 1,6 A
E Output relai normally open
A1 Timing isntanious
J Operasi power dari 125 Vdc atau 100/120 Vac
A Target oprasi internal ( satu per fasa )
0 No option 1 tersedia
C Push to energize outputs (tombol tekan)

Laporan Kerja Praktek 20


0 Tidak ada tambahan kontak output
F Semi flush mountimg

Gambar dibawah menunjukan tabel identifikasi nomor style BE1-87G

Tabel identifikasi nomor style

Laporan Kerja Praktek 21


IV.3. SPESIFIKASI UMUM

Relai BE1 – 87G tersedia dalam konfigurari satu fasa atau tiga fasa, dan dengan
keunggulan dan kemampuan :

IV.3.1 Sensing input arus

( 5 amper ) nilai nominal pasa 5 amper, dengan range 45 sampai 50 hertz. Maximum
arus perinput : 10 amper secara continyu, 250 amper untuk satu detik.

( 1 amper ) nilai nominal pasa 1 amper, dengan range 45 sampai 50 hertz. Maximum
arus perinput : 2 amper secara continyu, 50 amper untuk satu detik.

IV.3.2 Sensing burden arus

( 5 amper ) burden kurang dari 0.05 ohm per iput


( 1 amper ) burden kurang dari 0.25 ohm per iput

IV.3.3 Kontrol pickup

Pada panel depan dimungkinkan untuk mengontrol difrensial minimum ( menjalankan )


arus untuk dipilih. Sensitivitas ini konstan untuk mencegah arus yang kurang dari nilai
arus nominalnya (5 atau 1 amper). Karakteristik operasi aktual ditunjukkan dalam grafik
pembahasan selanjutnya.

( 5 amper ) minimum diferensial ( menjalankan ) arus = 0.1, 0.15, 0.2, 0.4, 0.5, 0.8,
atau 1.6 amper. Karakteristik operasi ideal digunakan pendekatan
matematik. Dimana :

Ir arus restrain ( arus yang digunakan ) didefinisikan sebagai sellisih dari arus input
(nominal)
Iop arus operasi

Laporan Kerja Praktek 22


Is arus seting ( dari panel depan )
Untuk Ir ≤ 5 amper : Iop = Is
Untuk Ir > 5 amper : Iop = Is + 0.5 ( Ir – 5 )

( 1 amper ) minimum diferensial ( menjalankan ) arus = 0.02, 0.03, 0.04, 0.08, 0.10,
0.16, atau 0.32 amper. Karakteristik operasi ideal digunakan pendekatan
matematik. Dimana :

Untuk Ir ≤ 1 amper : Iop = Is


Untuk Ir > 1 amper : Iop = Is + 0.5 ( Ir – 1 )

IV.3.4 Akurasi pickup

( 5 amper ) untuk Ir ≤ 5 amper, ± 5% dari operasi pickup karakteristik atau 25


miliamper atau yang lebih baik. Karakteristik operasi aktual ditunjukan
dalam format grafik dibawah.

Untuk Ir > 5 amper, sampai maximum 20 amper, ± 8% operasi pickup


karakteristik atau 150 miliamper atau yangg lebih baik. Karakteristik
operasi aktual untuk harga pickup antara 5 sampai 20 amper ditunjukan
dalam grafik dibawah.

Laporan Kerja Praktek 23


Gambar Sensing input Range 1 (5 amper), karakteristik operasi

Laporan Kerja Praktek 24


Akurasi pickup

( 1 amper ) untuk Ir ≤ 1 amper, ± 5% dari operasi pickup karakteristik atau 25


miliamper atau yang lebih baik. Karakteristik operasi aktual ditunjukan
dalam format grafik dibawah.

Untuk Ir > 1 amper, sampai maximum 4 amper, ± 8% operasi pickup


karakteristik atau 150 miliamper atau yangg lebih baik. Karakteristik
operasi aktual untuk harga pickup antara 1 sampai 4 amper ditunjukan
dalam grafik dibawah.

Laporan Kerja Praktek 25


Gambar Sensing input Range 2 (1 amper), karakteristik operasi

Laporan Kerja Praktek 26


IV.3.5 Power Supply

Power untuk rangkaian internal dikendalikan dari AC atau DC, sumber power external
diindikasikan pada tabel dibawah ini :

Tabel Power Supply

Laporan Kerja Praktek 27


IV.4. TAMPILAN RELAI BE1 – 87 G

Tabel dibawah ini menunjukan bagian – bagian operasi kontrol dari relai BE1 – 87G

BAGIAN INDIKATOR FUNGSI

A Sensitivity Switch Menentukan arus operasi. Terdapat 7


posisi dari A sampai G. Posisi switch
berhubungan dengan arus operasi yang
dibutuhkan untuk trip ketika arus restrain
≤ nominal ( 5 amper untuk range 1, 1
amper untuk range 2 ).

B Indikasi power LED mengidikasikan Power beroperasi.

C Target reset level Untuk mereset indikator magnetis

D Push to energize Tombol kontak seketika. Untuk mengecek


apakah relai berfungsi.

E Target indikator Indikator mgnet. Mengindikasikan relai


telah bekerja yang dikarenakan trip
gangguan.

Laporan Kerja Praktek 28


Gambar Bagian depan dari relai BE1 – 87 G

Gambar Bagian belakang dari relai BE1 – 87G

Laporan Kerja Praktek 29


1V.5. SETING DAN PENGUJIAN

Setting

Pengoprasian yang tepat dari relai akan ditentukan oleh peforma oprasional prosedur tes
pada percobaan ini. Pada percobaan ini relai tidak untuk dipasang dengan segera.

Persiapan percobaan

sebelum merangkai atau mengoperasikan relai ikuti petunjuk berikut :

1. arus minimum 2 amper untuk memastikan beroperasi.

2. relai ini merupakan peralatan solid state. Jika tes dengan pengkabelan terpisah
dibutuhkan, keluarkan relai dari casingnya.

3. jika hubungan kontak ditiadakan ( dicabut ), relai tidak terhubung dengan sirkuit
operasi dan tidak akan melengkapi sistim proteksi.

4. yakinkan jika tempat atau casimg dari relai tersambung dengan kabel pentanahan
atau earth grounding dengan mengunakan terminal pentanahan di bawah alat
tersebut, di rekomendasikan untuk memisahkan pentanahan pada setiap relai.

Laporan Kerja Praktek 30


Spesifikasi Relai pada percobaan

Nomor Style
Pada penjelasan diatas telah di jelaskan bahwa pada relai ini memiliki penomoran
tersendiri yang menunjukan karakteristik dari relai tersebut. Penomorannya adalah :

G1E A1J B0C0F


Dimana :

G Three phase current


1 Switch selectabel 0.1, 0.15, 0.2, 0.4, 0.5, 0.8, or 1.6 amperes
E One relay, NO
A1 Instaneous
J 125 Vdc or 100/120 Vac
B Current operated target
0 None
C Push to energize
0 None
F semi flush mounting

INPUT
Tegangan : 100 sampai 120 Volt ac ( 115 volt ac, pada percobaan ini )
Nilai arus nominal : 5 ampere
Frequensi : 50 Hz
Burden : < 0.05 ohm per fasa
Beban lebih : 10 amper secara kontinyu
250 amper dalam satu detik

Laporan Kerja Praktek 31


NILAI SETING
arus relai seting diset pada : 0.1, 0.15, 0.2, 0.4, 0.5, 0.8, dan 1.6 amper
setting pada Doble F 2500 Test Instrument
- Accuracy ± 0,5 %
- Phase Angle 180°
- Frequency
Range 25,00 to 600 Hz ( 50 Hz pada percobaan ini )
Accuracy ± 0,01 %
- Digital Timer
Range 0 – 999,99 milliseconds/seconds/cycles
MODE STOP (For Timing)
SENSE (For Real Time Monitoring)
START ( For Automatic Synchronizer Testing)

Pengujian

A. Peralatan tes

- Relai diferensial BE1 – 87G


- Power supplay 0 – 230 Volt ac
- Doble F 2500 Test Instrument
- Kabel - kabel

B. Prosedur tes

1. hubungkan kabel pada bagian belakang relai BE1-87G seperti gambar 1.


2. masukan power voltage ke terminal 3 dan 4 seperti gambar 2.
3. Buat rangkaian untuk fasa R dengan acuan seperti gambar 2.
4. seting sensitivitas switch ke A.
5. Masukan arus input 1(I1) ke terminal 7,6 dan arus input 2(I2) ke terminal 8,9.
6. Perlahan naikan arus input (I1) sampai relai trip, kemudian catat hasil pada tabel.

Laporan Kerja Praktek 32


7. Kemudian nyalakan timer pada besaran arus trip tersebut, untuk mengetahui
berapa lama relai bekerja sampai trip.
8. ulangi percobaan 4, 5, dan 6 untuk sensitivitas switch B sampai G.
9. lakukan langkah-langkah yang sama untuk fasa S dan T.

Laporan Kerja Praktek 33


Gambar 1 rangkaian kabel

Laporan Kerja Praktek 34


Gambar 2 rangkaian percobaan

Laporan Kerja Praktek 35


Tabel Percobaan Fasa R

Fasa Input I1 dan Arus setting Arus trip Arus operasi Waktu
I2 (amper) (amper) pada I1 I (trip) - I (input) (detik)
(amper)

Laporan Kerja Praktek 36


1 1.09 0.09 0.0857
2 2.1 0.1 0.0802
3 3.08 0.08 0.0951
4 0.1 4.11 0.11 0.0662
5 5.12 0.12 0.0656
6 6.41 0.41 0.0107
7 7.9 0.9 0.0035
1 1.16 0.16 0.0620
2 2.13 0.13 0.0711
3 3.14 0.14 0.0614
4 0.15 4.15 0.15 0.0689
5 5.15 0.15 0.0688
6 6.5 0.5 0.0094
7 7.99 0.99 0.0032
1 1.2 0.2 0.0545
2 2.2 0.2 0.0512
3 3.18 0.18 0.0591

R 4 0.2 4.2 0.2 0.0482


5 5.2 0.2 0.0523
6 6.5 0.5 0.0089
7 8.04 1.04 0.0011
1 1.38 0.38 0.0317
2 2.39 0.39 0.0227
3 3.38 0.38 0.0263
4 0.4 4.38 0.38 0.0161
5 5.4 0.4 0.0154
6 6.72 0.72 0.0017
7 8.2 1.2 0.0008
1 1.49 0.49 0.0093
2 2.46 0.46 0.0087
3 3.5 0.5 0.0087
4 0.5 4.49 0.49 0.0088
5 5.51 0.51 0.0074
6 6.85 0.85 0.0042
7 8.31 1.31 0.0007
Laporan Kerja Praktek 37
Tabel Percobaan Fasa S

Fasa Input I1 dan Arus setting Arus trip Arus operasi Waktu
I2 (amper) (amper) pada I1 I (trip) - I (input) (detik)
(amper)

Laporan Kerja Praktek 38


1 1.09 0.11 0.0845
2 2.1 0.1 0.0813
3 3.08 0.11 0.0953
4 0.1 4.11 0.11 0.0666
5 5.12 0.12 0.0654
6 6.44 0.44 0.0117
7 7.86 0.86 0.0041
1 1.14 0.14 0.0624
2 2.14 0.14 0.0712
3 3.15 0.15 0.0619
4 0.15 4.15 0.15 0.0686
5 5.15 0.15 0.0689
6 6.42 0.42 0.0097
7 7.94 0.94 0.0038
1 1.19 0.19 0.0555

S 2 2.2 0.2 0.0512


3 3.19 0.19 0.0581
4 0.2 4.2 0.2 0.0492
5 5.21 0.21 0.0532
6 6.52 0.52 0.0090
7 7.98 0.98 0.0012
1 1.38 0.38 0.0314
2 2.39 0.39 0.0233
3 3.38 0.39 0.0272
4 0.4 4.4 0.4 0.0160
5 5.42 0.42 0.0161
6 6.75 0.75 0.0017
7 8.21 1.21 0.0008
1 1.48 0.48 0.0088
2 2.51 0.51 0.0081
3 3.5 0.5 0.0081
4 0.5 4.5 0.5 0.0087
5 5.51 0.51 0.0076
6 6.86 0.86 0.0046
7 8.35 1.35 0.0007
Laporan Kerja Praktek 39
Tabel Percobaan Fasa T

Fasa Input I1 dan Arus setting Arus trip Arus operasi Waktu
I2 (amper) (amper) pada I1 I (trip) - I (input) (detik)
(amper)

Laporan Kerja Praktek 40


1 1.09 0.09 0.0855
2 2.1 0.1 0.0891
3 3.09 0.09 0.0954
4 0.1 4.1 0.1 0.0659
5 5.12 0.12 0.0651
6 6.4 0.4 0.0110
7 7.88 0.88 0.0035
1 1.14 0.14 0.0622
2 2.13 0.13 0.0712
3 3.13 0.13 0.0611
4 0.15 4.15 0.15 0.0682
5 5.15 0.15 0.0688
6 6.45 0.45 0.0095
7 4.95 0.95 0.0039
1 1.2 0.2 0.0544
2 2.2 0.2 0.0522
3 3.18 0.18 0.0594

T 4 0.2 4.19 0.19 0.0479


5 5.22 0.22 0.0536
6 6.51 0.51 0.0077
7 8.01 1.01 0.0013
1 1.4 0.4 0.0311
2 2.39 0.39 0.0236
3 3.39 0.39 0.0269
4 0.4 4.39 0.39 0.0154
5 5.44 0.44 0.0158
6 6.74 0.74 0.0013
7 8.22 1.22 0.0007
1 1.49 0.49 0.0094
2 2.45 0.45 0.0086
3 3.5 0.5 0.0087
4 0.5 4.48 0.48 0.0088
5 5.51 0.51 0.0075
6 6.86 0.86 0.0043
7 8.35 1.35 0.0008
Laporan Kerja Praktek 41
Grafik Hasil Pengujian Fasa R

Laporan Kerja Praktek 42


Grafik Hasil Pengujian Fasa S

Laporan Kerja Praktek 43


Laporan Kerja Praktek 44
Grafik Hasil Pengujian Fasa T

BAB V
PENUTUP

V.1. KESIMPULAN

Dari uraian yang telah dijelaskan pada Bab I sampai dengan Bab IV, dapat disimpulkan
antara lain :

• Relai harus mampu mendeteksi adanya gangguan dalam sistem dan dapat
memisahkan peralatan dari akibat gangguan dengan cara memerintahkan trip pada
breaker atau PMT.

• Relai harus memenuhi beberapa syarat-syarat utama, antara lain :


- Kepekaan (Sensitivity)
- Keandalan (Reliability)
- Selektifitas.
- Kecepatan.

• Dari hasil percobaan relai differinsial BE1-87G dapat disimpulkan bahwa relai
diferensial bekerja berdasarkan perbandingan arus yang berada didalam generator

Laporan Kerja Praktek 45


dengan arus yang berada diluar generator (ke beban). apabila terjadi gangguan disalah
satu sisi maka relai akan bekerja, karena arus pada kedua sisi tidak seimbang.

• Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa untuk arus pembatas 1 sampai 4 amper maka
arus operasinya sesuai dengan nilai arus setting ( steady ), namun untuk arus pembatas
lebih dari 5 amper maka arus operasinya berubah menjadi linear.

• Relai diferensial BE1 – 87G bekerja secara instaniuos dengan waktu kerja beberapa
milidetik, namun demikian jika arus pembatasnya (sensing) semakin besar maka arus
operasinya akan semakin besarpula dengan demikian relai akan bekerja semakin cepat
, hal ini memenuhi syarat utama dari sebuah relai yaitu kecepatan.

DI SUSUN OLEH

NANDANG SUNGKAWA 2004 – 11- 001

GEMA ABDI NAGRINA 2004 – 11 -033

2008

Laporan Kerja Praktek 46