Anda di halaman 1dari 3

OPINI HARIAN KOMPAS: KAMIS, 17 FEBRUARI 2005 1

KIAI BEJO, KIAI UNTUNG, KIAI HOKI


EMHA AINUN NADJIB
budayawan

Abstract— Ada kesombongan orang berkuasa. Ada kesom- Puluhan kali, bahkan mungkin ratusan atau ribuan kali,
bongan orang kaya. Ada kesombongan orang pandai. Juga ada para pejabat penunggang negara melakukan penipuan,
kesombongan orang saleh. penilapan dan pencurian besar-besaran atas harta rakyat
yang diamanatkan manajemennya kepada negara. Na-
mun, ribuan kali pula rakyat sukses mempertahankan diri
mereka dari kebangkrutan total.

K ITA awali dengan suatu identifikasi elementer. Se-


mua orang adalah rakyat, tetapi kalau ada pe-
nguasa, maka yang dimaksud dengan rakyat tentu
Meski demikian, siapa pun yang sedang berpamrih
ingin berkuasa dan ketika kemudian benar-benar sukses:
selalu dengan kemantapan dan keangkuhan luar biasa,
mereka yang dikuasai. Rakyat adalah yang miskin, rakyat menyatakan akan dan sedang menyelamatkan rakyat dari
adalah yang bodoh, dan rakyat adalah yang selalu belum kebangkrutan.
saleh.
Identifikasi yang lebih ke tingkat praktis, rakyat selalu
adalah pihak yang diatur pihak yang berkuasa. Kenyataan ***
ini punya peluang amat besar untuk bertentangan dengan KEMUDIAN konteks kesombongan orang pandai. Tak
asas hakiki demokrasi, serta amat mencurigakan dipan- ada subyek yang lebih nyata yang selalu diasosiasikan
dang dari rasionalitas dan proporsi manajemen kene- sebagai golongan penyandang kebodohan, melebihi rak-
garaan dan kebangsaan. Seorang polisi bisa terjebak yat. Rakyat adalah orang bodoh, karena setiap kali orang
untuk menganggap dirinya adalah penggenggam hukum, menjadi pandai, ia menjumpai dirinya bukan rakyat lagi.
dan rakyat adalah wilayah terapan hukum. Hampir setiap orang yang diam-diam menggolongkan
Kemudian konteks kesombongan orang kaya: dalam dirinya sebagai orang pandai, merancang dirinya se-
wacana pembangunan di hampir semua kalangan, se- bagai orang pandai, merancang diri untuk melakukan
lalu rakyat adalah pihak yang disebut harus dan sedang pemandaian atas rakyat. Pejabat memberi penerangan
diberdayakan dari kelemahan ekonomi, dientaskan dari terhadap kegelapan dan kebodohan rakyat. Calon-calon
kemiskinan, dan diselamatkan dari keterpurukan. sarjana mengajari rakyat selama kuliah kerja nyata. Kaum
intelektual menyebar aneka wacana untuk mendobrak
*** kesempitan wawasan rakyat. Duta-duta informasi dan
komunikasi menabur ilmu dan pengetahuan agar rakyat
PANDANGAN ini amat laknat terhadap kenyataan bahwa
melek dunia.
sebenarnya rakyat adalah pemilik kekayaan amat me-
Bahkan mahasiswa masuk kuliah hari pertama bisa
limpah dari tanah rahmat Tuhan bernama Republik In-
terjebak anggapan diam-diam di dalam dirinya, mulai
donesia. Namun, kekayaan rakyat itu dijadikan langganan
hari itu ia melangkah meninggalkan kebodohan rakyat
perampokan oleh tiap penguasa. Dan setiap penguasa
yang kemarin masih jadi bagian darinya. Kapan ada
selalu tidak tahu diri berlagak menjadi pahlawan yang
rezim tumbang, harus mahasiswa yang direkognasi se-
akan melakukan perubahan dari kondisi miskin rakyat
bagai pelaku utama. Sebab, agent of change mustahil
menuju tidak miskin.
pelakunya adalah rakyat.
Menurut parameter teknis statistik perekonomian
dunia, rakyat Indonesia memang rata-rata miskin, namun
kenyataannya rakyat adalah pengupaya ekonomi yang ***
luar biasa di bawah atmosfer kejahatan negaranya se- DAN akhirnya yang paling khianat, yang paling
hingga aneka upaya berekonomi kerakyatan itulah yang menyakitkan hari, yang mungkin Tuhan pun tidak rela:
berjasa mempertahankan negeri ii dari kebangkrutan to- adalah tradisi kesombongan orang saleh.
tal. Rakyat dikasih pengajian tiap hari seakan-akan raky-
Kegiatan utama kebanyakan pejabat adalah menga- atlah yang paling jahat hatinya dan paling kotor hidup-
caukan stabilitas kesejahteraan rakyat, menikusi admi- nya. Malam hari rakyat diulamai, pagi mereka dipastori,
nistrasi keuangan negara milik rakyat, mencuri dengan siang mereka dipendetai, sore mereka dibegawani. Rak-
berjemaah dan dengan modus-modus yang makin tidak yat dibimbing agar beriman seakan-akan rakyat adalah
kasatmata. Namun, ubet ekonomi rakyat, ”budaya kaki siswa-siswi taman kanak-kanak. Rakyat disantuni, diajari
lima” yang cair dan longgar, menciptakan semacam ”per- bagaimana menata kalbu, padahal tak ada pakar penang-
nafasan dalam” yang membuat rakyat terus survive meski gung derita yang tingkat keahlian dan kemampuannya
hampir tak ada suplai udara dari negara. melebihi rakyat.
OPINI HARIAN KOMPAS: KAMIS, 17 FEBRUARI 2005 2

Jika Quran menyebut ”berimanlah kepada Allah”, yang hati, cara berpikir dan tradisi perilaku budaya kita atas
dituju adalah rakyat, bukan ustadz atau ulama. ”Wahai mereka.
orang-orang kafir” –itu kemungkinan besar rakyat, mus- Dengan begitu, kita adalah serendah-rendahnya dan
tahil Pak Kiai. ”Dekatkanlah dirimu kepada orang salah” sehina-hinanya manusia sehingga karena itu pula kita
–maksud Tuhan tentu hendaknya rakyat mendekat-dekat memiliki keperluan untuk menghina mereka. Semakin
kepada ustadz, bukan ustadz mendekat-dekat dan bela- hina dan rendah jiwa seseorang, semakin tinggi kebu-
jar kepada umat. tuhannya untuk memperhinakan sesamanya. Memang
Bahkan dai, mubalig, ustadz, ulama, dijunjung-junjung, secara psikologis demikian itulah formula survival keji-
namun dengan parameter industri dan ukuran feodal- waannya.
isme, untuk akhirnya ditertawakan dan ditinggalkan rak- Bahkan kalau mereka pulang ke Tanah Air, sudah
yat yang memiliki feeling dan jenis pengetahuan sendiri disiapkan lembaga dan birokrasi yang khusus melakukan
tentang siapa ulama siapa pencoleng, siapa ustadz siapa dua pekerjaan hina. Pertama, menyiapkan terminal dan
bakul pasar. gate khusus untuk memperhinakan mereka. Kedua, kebi-
jakan memperhinakan diri sendiri dengan cara memeras
*** uang jerih payah mereka bekerja hina bertahun-tahun di
ADA semacam feodalisme naluriah dalam psikologi negeri orang.
kita, mungkin karena tak pernah sembuh dari trauma Pemerasan itu berlangsung eskalatif dari tahap ke
penjajahan fisik dan nilai yang tak pernah usai dalam tahap. Resmi maupun liar. Dan, puncak kehinaan kita
kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan kita. Kalau adalah memperlakukan para koruptor keluar masuk ban-
mendengar kata ”rakyat”, tanpa sengaja langsung ada dara sebagai raja, sementara TKI-TKW yang balik kam-
perasaan look down dan menemukan yang bernama pung menguras uang dari luar negeri untuk sumbangan
rakyat itu ada di dasar jurang dari peta nilai yang kita besar kepada devisa negara justru kita injak-injak marta-
kenal tetang kemanusiaan dan kebudayaan. batnya.
Saya menduga naluri feodalisme, kelas dan ”kasta”
itu tidak menjadi kikis misalnya oleh pengalaman in-
telektual atau kesadaran demokrasi atau egalitarianisme. ***
Misalnya, rakyat ”yang paling rakyat” adalah pembantu
rumah tangga. Tak sedikit contoh bagaimana seorang BANGSA yang hina melahirkan generasi demi
profesor doktor, pejabat tinggi, atau ulama memper- generasi hina, memilih dan menjunjung presiden
lakukan pembantu rumah benar-benar sebagai ”pem- dan menteri-menteri hina, mengutus dan menggaji
bantu rumah tangga” yang hampir berkonsep mirip perbu- perwakilan-perwakilan hina, sambil menyusu dan
dakan. Rumah tangga awam terbukti bisa lebih egaliter, mempekerjakan orang-orang yang hina, menikmati
santai, dan demokratis kepada pembantu rumah tangga. kerja dan makanan anak-anak terhina itu sambil terus
Salah satu latar belakangnya mungkin karena pe- memelihara di hati dan otak hinaan-hinaan atas mereka.
ningkatan pendidikan masih masih tidak mandiri dari Pada kenyataan hakikinya, rakyat adalah Ibu Bapak
stratifikasi kelas budaya. Makin tinggi tingkat pendidikan sejarah yang kita TKI-TKW-kan sepanjang masa. Rakyat
seseorang, makin menumbuhkan perasaan lebih ung- adalah TKI-TKW di genggaman tangan dan di bawah
gul dan lebih tinggi derajatnya sebagai manusia. Dunia injakan kaki para pemegang tongkat sejarah, baik tongkat
pendidikan tidak punya concern mendasar terhadap nilai kekuasaan politik, modal, wacana, dan informasi. Rakyat
kedewasaan sosial, kerendahan hati kemanusiaan, ke- yang ditipu terus-menerus. Yang dibodohi dari eras ke
matangan jiwa atau demokrasi kebudayaan. era. Yang dipecundangi dari periode ke periode. Yang
namanya disebut, dikomoditaskan ,diatasnamakan oleh
*** setiap yang sedang berkepentingan untuk menguasai
KARENA kecurangan feodal juga kemudian: TKI-TKW, mereka, kemudian melupakan dan melecehkan mereka
umpamanya, ”rakyat yang paling rakyat” lainnya, kita pan- begitu kekuasan itu tergenggam di tangannya.
dang sebagai faktor noda dan kehinaan sebagai bangsa. Yang tidak pernah digubris hak-hak dasarnya. Yang
TKW dijadikan suku cadang utama kalimat penghinaan kemudian posisinya dipakai sebagai mahkota kekuasaan,
atas diri kita sendiri. Kita nyeletuk dengan hati yang namun dalam praktik pundak mereka ditunggangi dan
merasa nyaman dan puas: negeri lain mengekspor kepala harkat demokrasi mereka dibenamkan ke bagian
produk-produk teknologi bergengsi peradaban tinggi, se- bawah rendaman cairan air liur teori-teori dan pidato-
mentara negara kita mengekspor TKI-TKW. pidato demokrasi.
Pekerjaan kita hanya menghina sambil pada saat Rakyat yang hanya punya satu kegiatan kenegaraan:
bersamaan memanfaatkan mereka di rumah tangga kita yaitu dikempongi oleh kekuasaan, gigi-gigi kekuatan se-
masing-masing. Kehidupan sehari-hari rumah tangga kita jarahnya dibikin rampal sehingga mulut kedaulatannya
amat bergantung pada mereka, upah yang dibayarkan kempong. Rakyat yang bisa dipukuli kapan saja, dikelabui
kepada mereka adalah jumlah gaji yang tidak pantas un- pagi hari diakali sore hari, dininabobo siang hari dicuri
tuk penghidupan manusia, plus bonus penghinaan dalam miliknya malam hari.
OPINI HARIAN KOMPAS: KAMIS, 17 FEBRUARI 2005 3

*** paham apakah pemerintahnya berhasil atau gagal. Se-


RAKYAT yang diperhinakan oleh gaya kepemimpinan makin tidak memiliki kepekaan dan sasmita apakah
yang memakai merah mereka sebagai gincu. Rakyat mereka dicintai atau tidak oleh pemerintahnya. Semakin
yang dibodohi sehingga akhirnya tidak lagi mengenal kehilangan ukuran apakah dari pemerintahnya mereka
kebodohan. Rakyat yang terus-menerus dan terlalu lama sedang memperoleh kesetiaan dan semangat pengab-
dihinakan sehingga akhirnya benar-benar menjadi hina dian, ataukah pengkhianatan dan proses-proses peng-
tanpa tersisa sedikit pun kesadaran dan pengetahuan hancuran.
bahwa mereka hina. Sungguh siapa saja yang duduk dalam struktur pe-
Jangankan membedakan mana kehinaan mana kemu- merintahan negeri ini adalah ”Kiai Bejo”, ”Kiai Untung”
liaan di dalam kompleksitas kehidupan berbangsa, atau ”Kiai Hoki”. Orang yang mendapatkan keuntungan
sedangkan sekedar bermain sepak bola kalau kalah tak meskipun tanpa bekerja. Salah satu pemeo membuat ru-
tahu kenapa kalah dan kalau menang salah menemukan mus: orang bodoh kalah oleh orang pandai, orang pandai
sebabnya kenapa menang. kalah oleh orang berkuasa, orang berkuasa kalah oleh
Visi, wawasan, ilmu, identifikasi, dan pemetaan, nilai- orang kaya, orang kaya kalah oleh orang bejo. Setiap Pe-
nilai dan realitas telah menjadi suatu jenis seni impre- merintah Indonesia tidak terlibat dalam konstelasi pemeo
sionis instan. Kehidupan intelektual yang menjadi mu- itu, sebab mereka sekaligus pandai, berkuasa, kaya dan
atan utama komunikasidan informasi sudah mengalami bejo.
aneka pecahan, pengepingan-pengepingan, syndrome of
disconnected awareness. Bahkan dalam mengomentari
pertandingan tinju, dalam satu ronde kita mengalami per-
gantian parameter sampai empat-lima kali, saking tidak
mendasar dan tidak menentunya prinsip ilmu pertinjuan
kita.
Bangsa yang sekaligus mengalami ketersesatan in-
telektual, politis, kultural, spiritual, bahkan ketersesatan
teknis untuk soal-soal yang sangat sederhana. Men-
cari Tuhan, yang didatangi dukun. Mencari ulama, yang
dikejar pedagang. Mencari orang pandai, yang ditunggu
pelawak. Mencari soto enak, pergi ke tukang tambal ban.
Mencari pemimpin, yang dijunjung bintang film. Mencari
bintang, yang diburu meteor. Plastik diwarnai keemasan,
emas dijadikan ganjal lemari. Nasi diperlakukan sebagai
kerupuk, terasi didewakan sebagai makanan utama.
Bangsa yang kehilangan paramater hampir disegala
bidang. Bangsa yang memilih langsung presidennya,
namun tanpa melewati pijakan substansi demokrasi.
Bangsa yang ditenggelamkan oleh air bah informasi
tiap hari, namun semakin tidak mengerti apa yang se-
harusnya mereka mengerti. Bangsa yang sudah kehi-
langan ukuran apakah mereka sedang maju atau mundur,
apakah mereka sedang dihina atau dimuliakan, apakah
mereka pandai atau bodoh, apakh mereka menang atau
kalah. Bangsa yang peta identifikasi dirinya makin terha-
pus, sebagai manusia, sebagai rakyat, atau bangsa.
Bangsa yang –sesekali– menjalankan hukum, namun
tanpa kesadaran dan hikmah hukum, tanpa kesanggu-
pan untuk mengapresiasikan nikmatnya berkebudayaan
hukum. Bangsa yang sangat tampat secara wadak
sedang menjalankan ajaran agama, namun hampir tak
terdapat pada perilaku dialektika berpikir agama, tak ada
kausalitas mendasar antara input dan output nilai agama.
Bahkan terdapat diskoneksi ekstrem antara praksis ke-
hidupan beragama dengan hakikat Tuhan.
***
YANG paling beruntung dalam kehidupan sepanjang
masa ada sejarah umat manusia adalah Pemerintah In-
donesia. Karena semakin hari rakyatnya semakin tidak